Para Kiai NU Se Jatim Inginkan Gubernur yang NU Sejak Lahir

Para Kiai NU Se Jatim Inginkan Gubernur yang NU Sejak Lahir


WartaIslami ~ Seperti diprediksi banyak pihak, surat kiai sepuh ke ketua DPW PKB Jatim terkait Pilgub Jatim 2018, subtansinya adalah meminta partai yang dilahirkan oleh ulama dan kiai NU supaya mendukung dan mengusung Saifullah Yusuf sebagai Cagub PKB dalam Pilgub Jatim mendatang.

Terbukti, saat Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar bersama jajaran DPP PKB melakukan silaturrahim sekaligus tabayyun (klarifikasi) ke kiai-kiai yang ada di wilayah Mataraman dan Tapal Kuda, bulat menyatakan hanya satu nama yang didukung kiai NU yaitu Saifullah Yusuf yang saat ini menjabat Wagub Jatim.

“Hasil silaturrahim dan tabayyun dengan 100 kiai di wilayah Mataraman yang dipusatkan di PP Lirboyo Kediri, para kiai mengusulkan nama Gus Ipul ke DPP PKB,” ujar KH Anwar Iskandar pemangku PP Al Amien Kediri saat dikonfirmasi Rabu (24/5) kemarin.

Menurut pimpinan musyawarah 21 kiai sepuh Jatim ini, DPP PKB bisa menerima usulan para kiai dan berjanji akan segera memproses untuk menjadi keputusan partai. “Pertemuan di PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang dihadiri sekitar 100 kiai di wilayah Tapal Kuda juga mengusulkan satu nama yaitu Gus Ipul,” beber Kiai Anwar Iskandar.

“Dari modal 21 kiai ditambah 100 kiai di Lirboyo Kediri dan 100 kiai di Genggong Probolinggo, maka total kiai yang sudah menyatakan dukungan ke Gus Ipul ada sebanyak 221 kiai,” dalih Gus War sapaan akrabnya.

Direncanakan, silaturrahim dan tabayyun Cak Imin sapaan akrab Muhaimin Iskandar dengan kiai-kiai NU akan dilanjutkan di Ponpes Bumi Sholawat pimpinan KH Agoes Ali Mashuri pada Kamis (25/5/2017). “Besok di Sidoarjo di Pondok Pesantren Gus Ali akan diikuti sekitar 1000 kiai dari wilayah Pantura,” tambah Kiai Anwar Iskandar.

Kendati demikian, pihaknya tidak berani memastikan dalam pertemuan DPP PKB dengan kiai-kiai wilayah Pantura di Sidoarjo nanti juga akan memunculkan satu nama, yaitu Gus Ipul. “Bisa jadi muncul nama lain,” kata kiai asal  Kediri ini.

Yang jelas, lanjut Gus War dalam pertemuan di Kediri dan Probolinggo, Ketum DPP PKB Cak Imin juga akan mengupayakan keputusan (deklarasi) Cagub yang akan diusung PKB di Pilgub Jatim pada awal ramadan mendatang. “Kami yakin dan optimis keinginan kiai-kiai ini akan disetujui. Saya tak mau berandai-andai keputusan DPP PKB nanti berbeda dengan keinginan kiai-kiai. Jangan jauh-jauh nanti bisa masuk angin,” kelakarnya.

Ia juga mengapresiasi sikap sejumlah DPC PKB Kabupaten/Kota di Jatim yang ngotot dan meminta DPP PKB mengusung Abdul Halim Iskandar sebagai Cagub PKB di Pilgub Jatim mendatang. “Beda dengan keinginan kiai itu boleh-boleh saja. Tapi saya dari sebelah kiri, atas nama ulama dan kiai sebagai pendiri partai PKB atau bapaknya PKB khan gak apa-apa ngomong menyampaikan aspirasi ke anak-anaknya,” tegas Gus War.

“Kalau anak-anak ngotot berbeda, ya ngak apa-apa, biar keduanya diusulkan ke Jakarta. Siapa nanti yang diputuskan DPP PKB, ya terserah, kiai-kiai khan hanya mengusulkan,” tambah KH Anwar Iskandar.

Pertimbangan para kiai mengusung nama Gus Ipul sebagai Cagub PKB paling tidak ada tiga alasan. Pertama, Gus Ipul sudah 9 tahun belajar ke Pakde Karwo (Gubernur Jatim). Kedua, berdasarkan hasil survey, elektabilitasnya tertinggi, dan ketiga, sejak belum lahir sudah  NU dan pendidikannya juga NU murni.

“Jatim itu khan daerah yang mayoritas NU dan pesantren tapi belum pernah sekalipun ada gubernur yang pyur (asli) sejak lahir NU. Kiai-kiai menginginkan gubernur Jatim ke depan NU sejak lahir,” tegasnya. Namun untuk pasangan Cagub dari PKB, kiai Anwar Iskandar mengaku belum ada pembicaraan sebab masih fokus untuk Jatim 1 atau calon gubernur.

Terpisah, juru bicara DPC-DPC PKB Kabupaten/Kota se Jatim, Masúd Zuremi menegaskan bahwa kedatangan perwakilan DPC PKB se Jatim ke kantor DPW PKB Jatim adalah menindaklanjuti hasil pertemuan di Hotel Singgasana Surabaya beberapa waktu lalu yang menegaskan DPC PKB se Jatim tetap mendukung Abdul Halim Iskandar sebagai Cagub PKB di Pilgub Jatim mendatang.

“Kami sudah sosialisasi hingga ke tingkat ranting bahwa Cagub PKB adalah Abdul Halim Iskandar selaku ketua DPW PKB Jatim karena dia menjadi kader terbaik yang dimiliki PKB Jatim,”  ujar Ketua DPC PKB Kabupaten Jombang di dampingi ketua DPC PKB Kab. Lamongan, Kab. Bojonegoro, Kota Batu, dan Kota/Kab Mojokerto.

Pertimbangan lainnya, kata Zuremi sebelum memutuskan mendukung Holopis Kuntul Baris, DPC-DPC hingga ke tingkat ranting juga sudah minta masukan fatwa dan doá dari kiai-kiai yang ada di daerahnya. “Kami akan mendatangi DPP untuk menyampaikan dan meminta langsung ke Ketum DPP PKB, Cak Imin supaya merekomendasi Pak Halim sebagai Cagub PKB,” pungkasnya diamini ketua DPC PKB lainnya.




Resource Berita :muslimoderat.net,
Pujian KH Cholil Bisri Membuat Banser Jatuh Pingsan

Pujian KH Cholil Bisri Membuat Banser Jatuh Pingsan


WartaIslami ~ KH Cholil Bisri semasa hidupnya terkenal pandai berpidato dan menulis. Putra pertama pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang KH Bisri Mustofa ini juga terkenal pintar berpolitik dan juga ahli ilmu hikmah.

Khusus soal ilmu hikmah, Mbah  Cholil, sapaan akrab beliau ketika menggantikan sang ayah mengasuh pesantren, sejak muda sudah masyhur sebagai pendekar sakti. Banyak santri maupun masyarakat mengetahui kesaktian Mbah Cholil meskit tidak pernah sengaja dia tunjukkan.

Kisah tentang ilmu kanuragan beliau bertebaran di khalayak melalui jalur tutur tinular. Yakni dari mulut ke mulut. Umumnya dibumbui cerita jenaka atau kejadian penuh tawa. Seperti kisah berikut ini.

Suatu hari, pada masa PKB belum berdiri, Mbah Cholil diundang menjadi pembicara dalam suatu pengajian di Ponpes yang diasuh KH Dimyati Rois, di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

Sebagaimana berlaku dalam aturan protokoler di pondok Kaliwungu tersebut, jika ada kiai naik panggung, harus dikawal anggota Banser sejak beranjak dari kursi tamu sampai ke atas pangung. Dan si Banser harus berdiri selama sang pembicara berpidato.

Protokol itu pun berlaku kepada Mbah Cholil. Begitu pembaca acara mempersilakan beliau memberikan mauidhah hasanah, seorang Banser langsung berdiri tegap dengan sikap sempurna di depan beliau.

Tangan diangkat ke kening, menghormat ala militer, lalu menawarkan tangannya untuk menggandeng Mbah Cholil. Yang ingin digandeng tidak bersedia. Mbah Cholil bangkit sendiri dan berjalan ringan menuju pangung.

Si Banser pun berjalan di belakangnya dengan langkah formal khas militer. Lalu, begitu sang pembicara telah tepat berdiri di depan podium yang telah dipasangi microfon, si Banser pun berdiri dengan sikap istirahat di belakangnya. Badan tetap tegap, mata lurus menatap ke depan agak mendongak, tangan diselempangkan di belakang pinggang.

Tanpa dinyana si Banser, Mbah Cholil yang telah memegang mic tidak mengucap salam untuk memulai pidatonya. Malah berbalik arah memandangi si Banser.

Spontan hadirin tersenyum-senyum. Lalu meledak tawa saat melihat si Banser salah tingkah. Tubuhnya tetap tegak diam, tetapi raut mukanya tegang . Campur baur antara tersipu malu dan bangga dipandangi oleh kyai dalam jarak yang begitu dekat.

Hadirin tambah terpingkal pingkal kala mbah Cholil tersenyum lalu menggelengkan kepala, tanda mengagumi si Banser. Tentu saja si Banser tambah tegang. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes deras di pipinya. Bahkan lalu mengalir dari dua pelipisnya, kanan kiiri. Jambang dan jenggotnya yang tipis pun jadi basah oleh lelehan keringat dingin itu.

Tapi karena Banser sudah dilatih model disiplin militer, tubuhnya sama sekali tidak bergeming. Kepalanya juga tetap diam tak bergerak. Wajahnya tetap mendongak dengan mata tidak balas menatap orang yang sedang memandanginya.

Situasi menjadi semakin rumit karena Mbah Cholil berlama-lama memandangi wajah di Banser. Blingsatan tak karuan dia. Suara hatinya mungkin ingin menundukkan kepala, lalu membungkukkan badan dan segera mencium tangan sang kyai di depannya itu. Tapi karena dia berposisi sebagai Banser yang menjalankan tugas protokoler, tak ada yg bisa dia lakukan selain tetap di posisinya tanpa bergerak.

Di tengah derai tawa hadirin yang tak habis-habis, Mbah Cholil tambah semangat mengerjai si Banser. Beliau memandangi tidak hanya dari muka. Ditolah-toleh baret dan emlem si Banser, diamati baju seragamnya, diperhatikan pula sabuk dan celananya.

Hadirin seolah lupa bahwa mbah Cholil akan berpidato. Mereka justru menikmati pemandangan jenaka itu, terpingkal pingkal menertawakan ketegangan yang dialami si Banser yang sedang dikerjai.
Sampai akhirnya, Mbah Cholil berkata: “Gantheng tenan Banser iki”… (Tampan betul Banser ini).

Seketika lunglailah tubuh si Banser. Di puncak ketegangannya itu, dia bagai disambar geledek kala dipuji ketampanannya, pingsan.

Bukannya bergegas menolong, panitia maupun hadirin malah bertambah keras tertawanya.
“Hahahaa…. Gerrr…Hahaha”…..

Si Banser yang pingsan itu dibiarkan saja tergeletak, Mbah Cholil lantas pidato sesuai topik yang digelar malam itu.

Tidak diceritakan, apakah si Banser segera siuman dan kembali berdiri di panggung mengawal kiai Cholil atau tidak. [dutaislam.com/ich]

Keterangan:

Sumber cerita ini adalah Gus Bisri Adib Hattani, keponakan KH Cholil Bisri. Diceritakan kepada Kang Ichwan (penulis) usai mengikuti Bahsul Masail PWNU Jateng di Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang, Senin (01/05/2017) malam.




Resource Berita : Dutaisalam.com
PBNU: Nabi Muhammad, Sahabat, Tabi’in Gunakan Rukyatul Hilal

PBNU: Nabi Muhammad, Sahabat, Tabi’in Gunakan Rukyatul Hilal


WartaIslami ~  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengaku bangga terhadap Lembaga Falakiyah NU yang terus mempertahankan rukyatul hilal dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal.

"Suumu li ru'yatikum bukan li ra'yikum. Kalau li ra'yikum sesuai dengan pendapat kamu, yaitu hisab. Kalau li ru'yatikum sesuai dengan matamu," kata Kiai Said pada pidato peluncuran website Lembaga Falakiyah di lantai 8 Gedung PBNU, Rabu (24/5).

Menurutnya, Lembaga Falakiyah dengan menggunakan mata (rukyat) itu tidak menjadikan kita terbelakang, melainkan mendorong agar kita semua cerdas.

"Zaman semene (sekarang) kok masih pake mata, melihat. Justru itu mencerdaskan kita semua," katanya.

Ia menjelaskan bahwa mempertahankan praktek ibadah penentuan awal ramadhan dan lebaran dengan menggunakan rukyat merupakan kesepakatan sahabat, tabi’in, ulama.

"Nabi Muhammad selama hidupnya rukyat terus, sahabat rukyat terus, khulafaurrasyidin rukyat semua, tabi’in rukyat semua," katanya.

Hadir pada acara tersebut Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Wasekjen PBNU H. Imam Pituduh, Hj. Nurhayati Said Aqil siraj dan lain-lain.

(Husni Sahal/Abdullah Alawi/NU Online)


Resource Berita :muslimoderat.net
Megengan, Tradisi Sunnah Muslim Nusantara Menyambut Ramadhan

Megengan, Tradisi Sunnah Muslim Nusantara Menyambut Ramadhan


WartaIslami ~ KH. A Mustofa Bisri mengatakan bahwa sekarang sedang nge-trend orang pintar baru. Mereka memiliki setidaknya dua ciri utama. Pertama, setiap bebicara menuntut adanya dalil. “Sedikit-sedikit ada dalilnya, bahkan menuntut untuk adanya perincian dalil, misalnya ayat berapa, surat berapa, apakah hadis shohih atau dhaif,” ujarnya.

Cari dalilnya megengan? Ya nggak ada! Mereka berlagak ahlil dalil tapi tidak mampu mengimplementasikannya. Dianggapnya tradisi megengan itu merupakan sebuah fenomena dari masyarakat sesat karena dianggap tidak berdasar dalil.

Begitulah bedanya yang paling mencolok antara muslim tekstualis/literalis dengan muslim Nusantara/kontekstualis-substansialis.

Muslim Nusantara justru pandai mengemas pesan-pesan wahyu yang bisa dikemas. Tradisi megengan merupakan salah satu hasil kemasan dari pesan wahyu dalam Hadits :

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النار

Man fariha bi dukhuulir Ramadlaana, Harromalloohu jasadahuu 'alan Naari (Barangsiapa yang bersukaria dalam menyonsong datangnya bulan Ramadlan, niscaya Allah haramkan jasadnya dari jilatan api neraka).

Pesan wahyu agar umat Islam bersukaria dalam menyongsong bulan Ramadlan itu oleh muslim Nusantara dikemas dalam bentuk tradisi megengan dengan agenda pokok :

- Kaum laki-laki muslim melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan seperti masjid/mushalla, makam, bahkan bersih-bersih seluruh kampung,

dengan saling berucap : مرحبا يا رمضان (Marhababan Ya Romadlon = Selamat datang bulan Ramadlan). 

Ini sebagai tanda dan bentuk bersukaria untuk menyambut bulan Ramadlan sebagaimana ditekankan dalam Hadits tersebut di atas.

- Sedang para ibu, kaum wanita mulimah menyiapkan kue-kue untuk diantar ke tetangga kanan kiri dengan berucap pula seperti yang diucapkan kaum laki-laki tadi. Hal itu pun sebagai tanda dan bentuk bersukaria demi menyongsong bulan Ramadlan yang mulia. Ditambah lagi dengan mengantar kue ke tetangga kanan kiri adalah ungkapan solidaritas sosial, shadaqah yang juga merupakan perintah agama.

Lesbumi PBNU (fb)


Resource Berita :muslimoderat.net
close
Banner iklan disini