Jika Al-Ghazali Hidup Sekarang, Inilah yang Dilakukan untuk Perbaiki Indonesia

Jika Al-Ghazali Hidup Sekarang, Inilah yang Dilakukan untuk Perbaiki Indonesia



WartaIslami ~ Pimpinan Ma’had Aly for Islamic Studies Raudlatul Muhibbin KH Luqman Hakim menyebutkan, pangkal persoalan yang ada di Indonesia saat ini seperti kemiskinan, keterbelakangan, perselisihan, maraknya hoaks, dan lain sebagainya adalah pendidikan. Jika pendidikan suatu bangsa baik, maka bangsa tersebut akan baik. Begitupun sebaliknya.

“Kalau Al-Ghazali hadir hari ini di Indonesia, pertama kali yang dia luruskan adalah dunia pendidikan,” kata Kiai Luqman selepas mengisi acara Seminar Internasional Pemikiran Imam Al-Ghazali di Jakarta Pusat, Jumat (19/1).

Kiai Luqman mengkritik sistem pendidikan di Indonesia yang tidak memiliki filosofi pendidikan. Jika merunut pendapat Imam Al-Ghazali, filosofi pendidikan didasarkan pada kemanfaatan suatu ilmu (ilmun nafi) untuk kehidupan di dunia dan sekaligus akhirat. Menurutnya, hal pertama yang dilakukan Imam Al-Ghazali jika hidup hari ini untuk Indonesia adalah memperbaiki pendidikan Indonesia

“Teori ilmun nafi (ilmu yang bermanfaat) sudah lama. Yang ada hanya di pesantren, dalam pendidikan nasional tidak ada,” paparnya.

Imam Al-Ghazali, imbuhnya, juga akan mendeteksi penyakit daripada bangsa ini. Setelah diketahui jenis penyakitnya, maka ia akan memberikan terapi dan pengobatan untuk menyembuhkan bangsa ini. Al-Ghazali berpendapat bahwa sumber daripada penyimpangan atau kemaksiatan seperti hedonis, materialis, dan syahwat adalah menuruti hawa nafsu (ar-ridlo anin nafs). 

“Di Indonesia sudah ada industri yang memanjakan nafsu. Itu produk dari tiga tadi (hedonis, materialis, dan syahwat). Ini akan beranak pinak dan menjadi kekuatan destruktif bagi perkembangan karakter bangsa.

Ia menambahkan, Imam Al-Ghazali akan menggunakan pisau analisa ar-ridlo anin nafs untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada. Bahkan, di dunia modern seperti saat ini sekalipun.


Resource Berita : nu.or.id
Sejarah Nabi Muhammad : Wahyu Pertama yang Menggetarkan

Sejarah Nabi Muhammad : Wahyu Pertama yang Menggetarkan



WartaIslami ~ Dalam asuhan pamannya inilah Muhammad kecil tumbuh dewasa, anak yang membawa petunjuk telah menjadi seorang pemuda, berbekal kebenaran dan memancarkan cahaya. Dalam genggaman tangannya terdapat pelita hikmah, lisannya berisi berita gembira, dalam sorotan matanya tampak kesungguhan nyata, wajahnya bersinar menjanjikan kebahagiaan, dalam darahnya mengalir jiwa kepahlawanan sejati, menentang setiap kecongkakan dan keangkuhan. Kaum Quraisy mengenalnya dengan pengenalan yang sangat dalam, dia disebut al-Amin (orang yang jujur), dan semua Kabilah Arab telah rela memilihnya sebagai hakim dalam peletakkan Hajar aswad di Baitullah.

Setelah beranjak dewasa, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam nikah dengan seorang saudagar wanita kaya raya, bernama Khadijah binti Khuwailid. Dari pernikahan ini beliau dikarunia beberapa anak laki-laki dan perempuan, meskipun anak laki-lakinya wafat di masa kanak-kanak. Sejak sebelum menikah, Muhammad adalah seorang pria yang sering merenung, dan berpikir, kontemplasi (olah spritual), memikirkan fenomena alam dan lingkungan sekitarnya di tempat yang jauh dari keramaian.

Beliau berdoa kepada Tuhan agar menemukan sesuatu yang mencerahkan dirinya dan kaumnya. Kita mengetahui dari kariernya di belakang hari, bahwa Muhammad sangat prihatin akan keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Makkah. Kebiasaan ini terus berlanjut setelah beliau menikah. Bahkan pada bulan Ramadhan, hal itu lebih ditingkatkannya lagi, disertai dengan membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang membutuhkan. Hingga pada suatu malam di bulan Ramadhan, tahun 610 M, di sudut gua Hira, beliau dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama dari Allah, sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di gua Hira untuk bertahannuts. Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah isterinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan di bawahnya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi bercerita, “Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kepayahan.

Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” dan aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, “Bacalah!” Aku kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Kemudian Nabi pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid dengan hati gemetar ketakutan. Beliau memohon kepadanya, “Selimutilah aku!” Mereka menyelimuti beliau hingga hilanglah ketakutannya. Kemudian beliau bercerita kepada Khadijah, setelah diceritakannya apa yang baru dialaminya,ia berkata: “Sesungguhnya aku mencemaskan diriku.” Khadijah berkata, “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkaulah orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengusahakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran.”

Selanjutnya Khadijah pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Arab pemeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah. Ia pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Ia seorang tua yang buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini. Waraqah bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kaulihat?”

Lalu beliau menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata lagi kepada beliau, “Itulah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!” Maka Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia menjawab, “Ya, sebab setiap orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dan wahyu pun putus untuk sementara (fatrah al-wahy).

Menurut Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Jabir bin Abdillah al-Anshari menceritakan tentang terhentinya wahyu tersebut, bahwa Rasulullah bersabda:

بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas, maka aku lihat ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka takutlah aku padanya. Lalu aku pulang seraya berkata, “Selimutilah aku!” Lalu turunlah wahyu:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. al-Muddatsir, 74 :1-5).

Sesudah itu, wahyu pun turun terus-menerus.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 232). Pada wahyu yang kedua inilah, di usianya yang keempat puluh tahun, Muhammad diangkat sebagai Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi tatanan umat manusia secara keseluruhan. Dalam hadits lainnya, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin ra., bahwa Harits bin Hisyam r.a. telah bertanya kepada Rasulullah Katanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada engkau?” Beliau menjawab:

أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

“Kadang-kadang wahyu datang kepadaku seperti suara lonceng, itulah yang paling berat bagiku. Kemudian ia berhenti, dan aku sudah mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat datang kepadaku sebagai laki-laki, lalu ia berkata, maka aku mengerti apa yang diucapkannya.” Aisyah r.a. berkata: “Sungguh saya melihat wahyu turun kepada Nabi pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu berhenti, dari kening beliau mengalir keringat.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 4304).

Yang dimaksud dengan ungkapan “seperti suara lonceng” ialah seperti bunyi lonceng besi yang gemerincing terdengar terus-menerus, bunyi yang bukan perkataan yang tersusun dari huruf-huruf. Wahyu melalui bentuk seperti ini, menunjukkan – menurut pendapat yang paling kuat – hadirnya malaikat. Dan kehadiran malaikat (yang menyampaikan wahyu) semacam inilah yang paling berat dirasakan Nabi dibanding kehadirannya dalam bentuk lain (sebagai seorang pria). Hal ini dapat dimengerti, sebab – sebagaimana dijelaskan oleh Filosof Ibnu Khaldun – pada saat itu terjadi suatu proses di mana kemanusiaan (Nabi) yang bersifat materi (jasmaniyah) lepas terkelupas sama sekali untuk kontak dengan alam malaikat yang bersifat rohani (ruhaniyah).(Rasyid Ridha, 1984: 185). Orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun); Dari kalangan perempuan adalah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan pria dewasa adalah Abu Bakar bin Abi Quhafa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan masih banyak lagi yang lain, dari penduduk Makkah yang memeluk Islam. Mereka memilih Islam sebagai jalan hidup dengan tulus dan ikhlas.

Hari demi hari, dari waktu ke waktu, pengikut Nabi bertambah banyak. Mereka yang sudah Islam itu datang kepada beliau untuk menyatakan keislaman mereka sekaligus siap menerima ajaran-ajarannya. Gerak-gerik mereka itu tercium oleh kaum Quraisy yang ketika itu memegang otoritas penuh sebagai suku yang berkuasa di Makkah. Lebih-lebih setelah diketahui bahwa para pengikut Muhammad itu sangat membenci berhala-berhala dan dewa-dewa yang mereka sembah. Akhirnya, kaum paganisme ini mengobarkan api permusuhan kepada siapa saja yang masuk Islam. Akan tetapi, tumbuhnya agama Islam di perbukitan kota Makkah tidak dapat dibendung. Keimanan yang teguh dan keyakinan yang kuat menjadikan para pengikut Rasulullah rela berkorban demi mempertahankan agamanya. Hal itu membuat kaum musyrik Quraisy semakin membenci Muhammad dan ajarannya. Mereka mengira bahwa kata-kata Muhammad itu tidak lebih dari kata-kata pendeta atau filosof seperti Quss, Umayya, Waraqa, dan yang lain. Mereka sama sekali tidak menghiraukannya.

Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya Muhammad mengumumkan ajaran Islam yang masih disebarkan secara sembunyi-bunyi itu, bersamaan dengan turunnya wahyu:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (214) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syu’ara, 26: 214-216)

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15: 94)

Salah satu faktor yang mendongkrak perkembangan agama Islam secara pesat ini adalah keteledanan dari Nabi sendiri. Beliau sosok yang berbaik hati dan penuh kasih sayang. Beliau sangat rendah hati, berani membela yang benar, dan berperilaku sopan santun kepada sesamanya. Tutur kata beliau lemah lembut, selalu jujur dan berlaku adil kepada setiap orang. Tidak ada hak orang lain yang beliau langgar. Pandangan beliau terhadap orang yang lemah, miskin, papa, dan anak-anak yatim piatu, adalah bagaikan pandangan seorang bapak kepada anaknya sendiri yang penuh kasih sayang, lemah lembut, dan mesra. Itu semua menjadikan grand point untuk beliau dalam menjalankan misinya. (Husein Haikal, 1984:94-102).



Resource Berita : nu.or.id
Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah

Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah



WartaIslami ~ Membicarakan makna “salaf” tidak hanya terpaku pada satu makna. Sebagaimana yang kita tahu bahwa Bahasa Arab itu memiliki banyak makna dalam satu kata bakunya yang jika dikembangkan ke berbagai wazan, maka artinya pun beda, begitu juga denga perbedaan harakat.

Istilah ini sejak dulu sudah digunakan di Indonesia, contohnya pesantren salafiyah yang berarti metodenya masih menggunakan metode salaf dalam proses menyalurkan pengetahuan, yaitu sorogan dan bandongan atau dalam istilah ilmu hadits yaitu tahammul wal ada’ via qira’ah ‘ala syaikh (murid membaca kepada guru) atau sima’ min syaikh (guru yang membaca dan murid yang mendengarkan).

Akhir-akhir ini pula banyak kelompok yang mendakwahkan dirinya sebagai pengikut salafi. Jika ada sebagian orang desa mendengar istilah itu, maka langsung terbersit makna pesantren salafiyah yang tersebar di desa mereka, atau santri-santri pondok tersebut, padahal yang dimaksud bukanlah itu.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid (yang disusun oleh Dr Abdul Hamid Ali Izz Al-Arab, Dr Shalah Mahmud Al-‘Adily, dan Dr Ramadhan Abdul Basith Salim, ketiganya dosen Al-Azhar Mesir), kita perlu membedakan ketiga istilah di atas karena satu di antara tiga istilah itu berbeda dengan yang lainnya.

Adapun istilah “Salaf” yaitu para sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin yang hidup sampai batas 300 H. Merekalah sebaik-baiknya generasi, sebagaimana termaktub dalam hadits nabi SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud dari nabi SAW:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمَيْنُهُ وَ يَمَيْنُهُ شَهَادَتُهُ

Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelahnya lagi (atba’it tabi’in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannnya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”

Meskipun definisi mereka sampai batas 300 H, di sini ada catatan penting yaitu keselarasan mereka dengan Al-Quran dan Hadits. Jika hanya hidup pada rentang masa 300 H tetapi kontradiksi dengan kedua pedoman ini, maka tidak disebut sebagai salaf. Salah satu contohnya adalah sekte musyabbihah yang hidup pada masa itu.

Musyabbihah adalah kelompok tekstualis dalam membaca Al-Quran dan hadits yang meyakini bahwa Allah serupa dengan makhluk-Nya, yaitu memiliki anggota tubuh antara lain bertangan, berkaki, bermulut, bermata, dan seterusnya.

Adapun “salafi” adalah mereka (ulama maupun orang biasa) yang datang setelah 300 H dan dinisbahkan pada kaum salaf yang telah disebutkan di atas, juga menganut manhajnya (metode). Istilah ini dapat dikaitkan dengan semua orang yang yang mengikuti manhaj salaf, bahkan kita pun bisa, namun itu terjadi jika memang benar-benar perilaku dan manhajnya berdasarkan salaf, bukan hanya menyandang titel salafi tetapi perilakunya berbeda.

Terakhir adalah salafiyyah yang difondasikan dan disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751H) dari Al-Quran, Hadits, perbuatan serta perkataan ulama salaf dan mengodifikasikannya dalam bentuk kitab khusus dan prinsip yang tetap. Unsur-unsur dalam kitab kedua ulama itu memang sudah ada sebelumnya, namun masih berserakan terpisah, kemudian barulah dikumpulkan.

Setelahnya munculah Muhammad bin Abdil Wahhab (1206 H) yang menyebarkan apa yang disusun oleh kedua ulama tadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahumallah di jazirah arab, ia berpegang teguh pada beberapa risalah dan ikhtisar yang dikutip dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid, terdapat catatan yang menurut saya penting dari perkataan salah seorang peneliti di dalam kitab Al-Fikrul Islamy Al-Hadits karya Dr Abdul Maqshud Abdul Ghani, “Jika kita membandingkan antara pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah akidah hampir keduanya sama dan tidak berbeda, kecuali Ibnu Taimiyyah telah merinci pendapatnya dan menguatkannya dengan dalil-dalil dan hujjah, serta membantah pendapat orang yang berseberangan dengannya dengan dalil dan sanad. Sedangkan Muhamad bin Abdul Wahhab hanya mennyebutkan keterangannya secara singkat saja.”

Hal yang menonjol dari ketiganya hanya dari segi waktu dan pijakan dalam berpegang pendapat, jika salafy itu memang orang-orang yang menisbahkan dirinya sebagai pengikut manhaj salaf atau Ahlussunah wal Jamaah, salafiyyah lebih condongnya disebut usaha regenerasi, meskipun dalam beberapa realitanya tidak begitu.

Sebagai warga Indonesia, banyak istilah naturalisasi dari bahasa lain yang kita gunakan di kehidupan keseharian secara umum, seperti tadi pondok pesantren salafiyah. Lagi-lagi kita harus mencermati suatu istilah berdasarkan makna, substansi, dan intisarinya. Jangan terpaku pada sisi zahirnya saja. Adakalanya suatu istilah berbeda antara praktik dan substansinya. Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Alasan Kenapa Kitab Al-Ghazali Terus Hidup

Alasan Kenapa Kitab Al-Ghazali Terus Hidup



WartaIslami ~ Pimpinan Ma’had Aly for Islamic Studies Raudlatul Muhibbin KH Luqman Hakim mengatakan, karya-karya Al-Ghazali terus dikaji hingga hari ini meski kitab-kitabnya tersebut ditulis pada delapan abad lalu.

“Kita tidak pernah melihat karya di luar dunia Islam atau di dalam dunia Islam yang sehidup karya Al-Ghazali,” kata Kiai Luqman usai mengisi acara Seminar Internasional Pemikiran Imam Al-Ghazali di Jakarta Pusat, Jumat (19/1).

Menurut Kiai Luqman, salah satu alasan mengapa kitab-kitabnya terus dikaji hingga hari ini adalah karena Al-Ghazali menulis berdasarkan kebutuhan pembacanya. Seperti membuat klasifikasi kitab mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi.

“Anak remaja kalau belajar tasawuf kitabnya Bidayatul Hidayah. Naik dikit ada kitab Ayyuhal Walad, Kimyatus Sa’adah, dan Ihya’ Ulumiddin. Ketika orang hendak menjalani dunia sufi, kitabnya apa. Ia menulis utuh,” terangnya.

Kiai Luqman menambahkan, ada kitab Al-Ghazali yang bersifat amaliyah dan ada juga yang filosofis. Sehingga setiap kitabnya memiliki konsumennya masing-masing. Di samping itu, Al-Ghazali menulis suatu kitab dengan bahasa dan pembahasan yang menyentuh akar persoalan orang. Inilah yang menyebabkan kitab-kitab Al-Ghazali terus hidup.

“Kalau bahasa anak muda sekarang, orang mengatakan; ini (kitab-kitab Al-Ghazali) gue banget,” lanjutnya.

Al-Ghazali adalah satu dari sedikit ulama yang sangat produktif. Ia menulis banyak sekali kitab dengan berbagai macam genre, mulai dari fikih hingga tasawuf dan filsafat. Salah satu kitabnya yang paling masyhur dan fenomenal adalah Ihya Ulumiddin.


Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini