Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?


Wartaislami.com ~ Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini.

Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/8/2016).

Dalam agenda ini, mustasyar PBNU ini didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Ah. Rofi'uddin dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta guru besar, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (semangat mengajak), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah," terangnya. Menurut Gus Mus, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daa'iyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus mengimbau kepada umat Muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab tobat. Ia mengatakan bahwa tobat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertobat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam taushiyahnya, Gus Mus mengimbau agar umat Muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.

"Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul 'usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil 'alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi kayaknya malah jadi la'natan lil 'alamiin (laknat bagi seluruh alam)," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengaji, tekun belajar, dan memberi kontribusi pada NKRI. Ia juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia. (Munawir Aziz/Mahbib) via nu online
Rokok Cerutu Iringi Pejuang Kemerdekaan di Parakan

Rokok Cerutu Iringi Pejuang Kemerdekaan di Parakan


Sejarah tutur (sebagaimana istilahnya Gus Dur) keberadaannya dapat membantu memperkaya perspektif pembaca dalam memahami suatu peristiwa sejarah. Utamanya ialah bahwa sejarah tutur sering dapat mengeksplorasi suasana sebuah peristiwa dan sisi lain dari suatu sejarah yang kerap tidak tersorot dalam dokumentasi sejarah resmi.

Buku berjudul Cuplikan Sejarah Bambu Runcing karya KH. Muhaiminan Gunardho Parakan yang diterbitkan Kota Kembang, Yogyakarta (hanya untuk kalangan sendiri) itu barangkali dapat dikelompokkan ke dalam kategori sejarah tutur dimaksud. Walaupun hanya kumpulan cuplikan sejarah yang sudah tentu masing-masing fragmen cerita ditulis tidak secara komprehensif-holistik, bahkan satu sama lain di antara fragmen peristiwa di dalamnya terkesan kurang terkait secara padu. Namun cukup mengilustrasikan bagaimana sejarah singkat Bambu Runcing dan kota Parakan dalam konteks masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.      

KH. Muhaiminan Gunardho dalam salah satu fragmen dalam buku ini menggambarkan suasana kota Parakan. Tidak terhitung lagi banyaknya orang-orang yang datang ke Parakan siang malam, pagi sore berbondong-bondong tanpa henti-hentinya bagaikan barisan semut. Mulai dari stasiun, karena waktu itu diadakan kereta istimewa sampai Jetis, jembatan Galeh sampai jembatan Brangkongan, penuh pemuda beriringan memanggul Bambu Runcing, kelewang, sujen, dan botol-botol tempat air.

“Kereta api memuat penumpang bergelantungan sampai di atas atap. Dari stasiun para pemuda dengan beratur berbaris empat-empat menuju gedung Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Tidak sedikit rombongan yang berjalan kaki dari jalan Kedu, jalan Bulu, jalan Wonosobo, jalan Ngadirejo, semuanya menuju satu tujuan yaitu gedung BMT Kauman Parakan, tempat menyepuh Bambu Runcing,” tulis Kiai yang dulu cukup dekat dengan Gus Dur itu.

Masyarakat dan rakyat Parakan menyambut para pemuda pejuang tersebut dengan sangat ramah dan penuh suka cita. Mereka dianggap tak ubahnya saudara mereka sendiri. Pada saat seperti ini banyak masyarakat Parakan yang memberikan kemudahan kepada pengunjung, yaitu dengan menjual berbagai dagangan, seperti makanan dan minuman, juga Bambu Runcing, kenthes, angklek keris, botol, tambang, dan tutup botol.

Bila ada rombongan datang sore atau malam hari, selain menawarkan dagangan warga Parakan juga menawarkan penginapan secara rombongan. Sebab tidak semua rombongan yang datang sudah lengkap peralatannya. Ada yang sudah membawa perlengkapan dari daerah asalnya seperti Bambu Runcing, botol dan lainnya, tetapi tidak sedikit pula yang datang belum membawa perlengkapan apa-apa.

Para penjaja barang-barang ini berjajar memenuhi jalan menuju Masjid Kauman dan gedung BMT. Bambu Runcing dan kenthes yang dijual kebanyakan berasal dari pring gading (bambu kuning) yang sering juga dibuat sebagai gagang sapu.

Penjual sepatu juga ada, kebanyakan ukurannya besar sebab sepatu rampasan dari Belanda. Tidak ketinggalan pedagang rokok pun ikut menawarkan produk rokoknya. Yang unik serta mengesankan adalah ada pedagang rokok pada waktu itu yang tidak pernah lupa menjual rokok cerutu raksasa, panjang rokok ini sampai 1,5 meter.

Pada siang hari mulai pukul 08.00 sampai 16.00 di jalan Kauman gedung BMT dipenuhi orang, terdengar dari gedung itu sangat nyaring suara orang memanjatkan doa bersama-sama malafalkan:

بِسْمِ اللهِ بِعَوْنِ اللهِ٣× (Basmalah 3x)

الله ُيَا حَفِيْظُ ٣× (Allahu Ya Hafidz 3x)

اَلله ُاَكْـبَرُ ٣× (Allahu Akbar 3x)

إلهنا يا سيدنا أنت مولنا وانصرنا على القوم الكافرين ٣×

Begitu pula di antara rombongan pejuang yang sudah tiba di Parakan pun terjadi kesibukan berbeda-beda di antara mereka. Ada yang  mencari masjid, mencari warung, mencari penginapan, ada yang langsung mendaftar ke kantor BMT dan ada juga yang langsung menyepuhkan bambu runcingnya. Untuk menampung pendatang malam hari, tidak sedikit rumah-rumah pribadi dijadikan penginapan sementara. Bagi mereka soal di mana tidurnya tidak masalah. Asal ada dipan bahkan dengan menggelar tikar lantaipun mereka tidur pulas. Langgar dan masjidpun selalu penuh.

Keramaian Parakan, dengan sepuh Bambu Runcingnya, akhirnya tercium juga oleh penjajah yang merasa sangat tidak senang dengan kegiatan tersebut karena dianggap membahayakan posisinya. Maka mulailah mereka menyebar mata-mata. Akhirnya sejak itu untuk mengantisipasi dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, pengurus BMT mengeluarkan ketentuan siapapun yang akan bertemu atau rombongan penting yang akan masuk ke BMT, harus mendaftar terlebih dahulu. Beruntung Hubungan antara BMT dengan kepolisian Parakan waktu itu sangat erat. (M. Haromain) via nu online
Ini Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir

Ini Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir


Di antara ibadah yang disunahkan Rasulullah ialah shalat witir. Saking tegasnya kesunahan ini, sebagian ulama mewajibkan shalat witir seperti yang dikenal dalam madzhab Hanafi. Ketegasan anjuran ini diperkuat dengan kesaksian para sahabat. Beberapa orang sahabat seperti Abu Hurairah dan Abu Dzar diwasiatkan oleh Nabi SAW agar tidak meninggalkan shalat witir.

Menurut Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari’, pesan Rasulullah SAW ini memiliki hikmah. Di antara hikmahnya, agar para sahabat terbiasa witir, menunjukkan kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya pada malam hari. Witir sangat dianjurkan karena shalat termasuk kategori ibadah badaniyah yang paling mulia dan utama.

وأما في الوتر قبل النوم إشارة إلى أن ذلك في المواظبة عليه وفيه إمارة الوجوب ووقته في الليل وهو وقت الغفلة والنوم والكسل ووقت طلب النفس الراحة

Artinya, “Anjuran witir sebelum tidur mengisyaratkan agar sahabat membiasakannya, sekaligus tanda kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya malam hari. Sementara malam merupakan waktu paling baik untuk santai, tidur, dan istirahat.”

Sebenarnya, shalat witir lebih baik dikerjakan di akhir malam atau menjelang waktu shubuh. Namun bila khawatir tidak bangun pada waktu itu, Rasulullah SAW menganjurkan pelaksanaannya sebelum tidur. Hal ini dijelaskan oleh hadits riwayat Jabir, Rasulullah SAW berkata:

من خاف أن لايقوم من آخر الليل فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل، فإن صلاة آخر الليل مشهودة، وذلك أفضل

Artinya, “Siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witirlah terlebih dahulu. Sementara orang yang yakin bangun di akhir malam, kerjakanlah witir di akhir malam, sebab shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama,” (HR Muslim).

Menurut hadits ini, shalat di akhir malam disaksikan oleh para malaikat. Tentu makhluk agung itu tidak hanya sekedar melihat. Mereka sekaligus membawa rahmat untuk makhluk bumi.

Dalam hadits lain dikatakan, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya pada akhir malam, sehingga siapapun yang berdo’a kepada-Nya akan dikabulkan, (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah) via nu online
Dua Kiai Berbeda dalam Watak Bersatu dalam Totalitas

Dua Kiai Berbeda dalam Watak Bersatu dalam Totalitas


Wartaislami.com ~ Di antara para guru kami di pesantren adalah Kiai Ali Muchsin dan Kiai Arif Madani. Kiai Arif Madani adalah putra dari Kiai Madani Maarif, pengasuh Pondok Pesantren Sumber Bungur, Pakong Pamekasan. Sedangkan Kiai Ali Muchsin merupakan sang menantu.

Di antara keduanya (Kiai Ali Muchsin dan Kiai Arif Madani) terdapat perbedaan yang mencolok mengenai watak mereka. Dalam pandangan para santri termasuk penulis sendiri dahulu, Kiai Ali Muchsin identik dengan pribadi yang lurus, sabar tidak pemarah dan selalu sumringah. Berbeda dari Kiai Arif Madani yang identik dengan amarah, dan suara yang menggelegar. Oleh karenanya para santri sahabat-sahabat saya waktu dulu, jangankan mendengar suara beliau berbicara, mendengar suara sandal atau bangkiaknya saja sudah lari terbirit-birit.

Penulis mengaji kepada Kiai Ali Muchsin kitab Taqrib dan Tashil Nailil Amani. Ketika mengaji, Kiai Ali Muchsin fokus membaca kitab dan menerangkannya. Ia tidak pernah menghiraukan apa yang terjadi pada para santri, entah didengarkan atau tidak, entah tidur atau tidak, ia tidak peduli dan terus saja memabahas isi dalam kitab tersebut. Dalam kebanyakan kasus, pengajian Kiai Ali Muchsin sering dihadiri oleh mayoritas santri, meskipun tidak jarang di antara mereka ada yang tidur. Beberapa santri junior (masih baru) menggerutu jika mengikuti pengajian Kiai Ali Muchsin. Demikian pula penulis saat masih baru dulu.

Berbeda dari pengajian yang diselenggarakan Kiai Arif. Para santri dijamin tidak bisa tidur dan tidak mungkin ngantuk dalam pengajiannya. Di samping karena takut, juga karena Kiai Arif bisa membawa para santri pada suasana santai dengan guyonan yang biasa diselipkan ke tengah-tengah pengajian.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir sekarang, Kiai Ali Muchsin bukannya tidak alim dalam ilmu. Bahkan bisa dikatakan dirinya penuh totalitas jika harus membahas satu pasal saja dalam sebuah kitab. Dan mungkin sebenarnya hal inilah yang membuat para santri itu tidur, sebagian lagi menggerutu dan ada pula yang menganggapnya aneh.

Ketika membahas sebuah pasal pendek dari kitab Taqrib, Kiai Ali Muchsin bisa dengan asyiknya menjelaskan selama berjam-jam dan tanpa meleset dari pokok permasalahan. Bahkan suatu ketika di tengah-tengah pengajian ia menyempatkan izin kepada para santrinya untuk mengambil referensi lain di ‘ndalem’-nya sebagai bahan tinjauan.

“Sebentar ya para santri ya, saya ambilkan kitab lain yang membahas hal ini sebagai penjelasan tambahan,” kata Kiai Muchsin.

Mendengar perkataan itu, para santri mendesah pelan: “Hedeehh….! Nambah dua jam lagi pengajian ini.” Sejurus kemudian mereka merebahkan diri sepeninggal Kiai Muchsin dari mushalla tempat mengaji.

Kiai Muchsin pun keluar dengan tenang dan seakan-akan tidak melihat apa yang terjadi, tidak mendengar gerutu para santri dan tidak mengerti perasaan dongkol mereka. Lima belas menit kemudian ia membawa sebuah kitab yang dimaksud, di mana ketika itu saya tidak tahu namanya apa. Kiai Ali Muchsin pun menerangkan sejelas-jelasnya isi kitab lain tersebut. Sontak saja pengajian tersebut selesai sekitar dalam waktu “injury time”, lebih kurang 2 (dua) jam kemudian.

Dalam kondisi seperti itu, tidak jarang Kiai Arif Madani membantu ‘menertibkan’ para santri. Ia sering memantau kondisi pengajian Kiai Ali Muchsin, karena memang tidak jarang, di antara para santri yang mengaji di luar mushala (karena kondisi mushala yang sudah penuh) hanya tidur saja dan ‘guyon’ di antara mereka. Kiai Arif Madani menertibkan santri-santri yang demikian ini biasanya hanya dengan satu kali suaranya yang agak keras, atau suara sandal atau bengkiaknya. Dan seperti sudah berlangsung secara mekanis, para santri langsung berhamburan masuk ke dalam rauangan yang sudah penuh itu bahkan sampai-sampai melangkahi, atau bertindihan dengan santri-santri yang sedang tidur di dalam ruangan mushala. Kiai Arif Madani memang tidak pernah rela ada santrinya meremehkan pengajian, meremehkan kitab dan para guru.

Dalam kondisi seperti itu, Kiai Ali Muchsin masih dengan tenangnya menanggapi: “Ada apa, rek….?.” Subhanallah, Kiai Ali Muchsin…

Demikianlah, Kiai Ali Muchsin dan Kiai Arif Madani, berbeda dalam watak, bersatu dalam totalitas terhadap ilmu.



Sumber : nu online
close