Maulid Nabi, Momentum Teladani Kesantunan Dakwah Rasulullah

Maulid Nabi, Momentum Teladani Kesantunan Dakwah Rasulullah


Wartaislami~ Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sempurna akhlaknya. Ia diutus khusus memiliki misi untuk menyempurnakan akhlak umat manusia di akhir zaman. Dalam sebuah dikutum hadis disebutkan “Innama Buistu Liutammima Makaarimal akhlaq”  yang berarti “sesungguhnya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak.”
Akhlak adalah cermin kepribadian seseorang. Baik buruk seseorang bisa diukur dari parameter akhlaknya. Nabi Mauhmmad, dalam diktum hadits yang lain disebutkan, akhlaknya adalah Al-Qur’an.

Sejalan dengan beberapa diktum hadits di atas dan juga didasari pemahaman bahwa Islam adalah yang selalu menancapkan spirit perjuangannya sebagai penebar kasih sanyang, maka sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa dakwah sekaligus ajakan untuk berbuat baik harus pula dilakukan dengan cara yang baik. Amar ma’ruf bil ma’ruf, bukan sebaliknya sebagaimana yang masih banyak terjadi di kalangan umat Islam “perkotaan” yang amar ma’ruf tapi dengan cara-cara yang munkar (amar ma’ruf bil munkar).

Dakwah Islam yang ramah tentu saja dengan menggunakan cara-cara yang tidak “marah”. Mengajak dengan penuh kasih sayang. JIka ada yang “tersesat”, sekali lagi dalam etika dakwah yang santun, seharusnya perilaku dan sikap kita adalah justru dengan cara memeluk dan merangkulnya untuk kemudian mengajaknya ke jalan yang kita yakini kebenarannya, bukan malah sebaliknya menyalahkan dan mencacimakinya.

Dalam konteks ini perlu untuk kita kemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah memaksa dan mengancam dalam berdakwah. Beliau selalu bersikap tulus lagi lemah lembut. Perilaku dakwah Nabi yang serba lemah lembut ini adalah cermin reflektif dari potongan sebuah ayat Al-Quran yang letaknya persis di tengah-tengah mushaf yang berbunyi “falyatalatthaf” yang artinya berperilakulah lemah lembut.

Dakwah sejati adalah dakwah yang bertujuan meraih simpati dan bukan dengan cara-cara anarki.

Teladan lain selain berdakwah yang ramah dari Nabi Muhamad SAW adalah diktum serta ajaran hijrahnya sungguh sangat monumental. Kodrat makhluk hidup adalah selalu berhijrah serta bertransformasi. Dalam Al-Qur’an dikenal sebuah kalimat minad dhulumati ilannur, dari kegelapan menuju cahaya yang benderang.

Tanaman yang ada di dalam rumah, ketika diletakkan di dekat jendela, pasti dalam perkembangannya ia akan menjulurkan batang pohonnya untuk terus menuju ke luar jendela. Terus menjulur menuju ke luar jendela adalah kodrat hijrah minad dhulumati ilannur itu sendiri.

Dalam konteks kehidupan beragama sebagai implementasi diktum hijrah ini yang perlu untuk kita lakukan bersama adalah selalu berhijrah dan bertranformasi untuk memperbarui pemahaman-pemahaman kita dalam beragama, baik dalam bentuk yang konseptual maupun implementatif.

Atas dasar pemahaman “hijrah” itulah para founding fathers NKRI membentuk negara ini bukan sebagai negara agama, tapi ruh serta nilai-nilai keislaman menjadi nadi dalam menjalankan aktivitas kebangsaan. Itu sebabanya tujuh kata dalam sila pertama (Piagam Jakarta) dihapuskan dengan tanpa ada pertumpahan darah sama sekali.

Alakullihal, yang utama dan terutama untuk dikedepankan dalam menjalani kehidupan beragama hari ini adalah akhlakul karimah. Umat Islam harus menjadikan akhlak sebagai panglima terrtinggi dalam beraktivitas sehari-hari. Islam adalah agama yang ramah, penebar kasih sayang, bukan agama marah dan penebar kebencian.

PBNU, dalam konteks peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini, mengajak segenap umat Islam untuk selalu meneladani sikap-sikap Nabi Muahammad SAW yang selalu mendahulukan akhlak di atas fiqih, selalu memiliki ruang dialog yang diskursif, selalu bersikap toleran terhadap perbedaan, dan selalu menjunjung tinggi martabat, harkat sekaligus nilai-nilai kemanusiaan.

Sumber : nu.or.id
Rais Aam PBNU Tidak Mengharamkan Ucapkan Selamat pada Perayaan Hari Besar Agama Lain

Rais Aam PBNU Tidak Mengharamkan Ucapkan Selamat pada Perayaan Hari Besar Agama Lain


Wartaislami.com ~ KH. Ma’ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak pernah melarang atau mengharamkan umat Islam untuk mengucapkan selamat Hari Raya pada umat agama lain.

Sekretaris Jenderal PBNU, Ahmad Helmy Faishal Zaini menyampaikan bahwa telah beredar informasi baik berupa link maupun grafis yang menyebutkan Kyai Ma’ruf mengharamkan ucapan selamat pada perayaan hari raya umat lain. Setelah bertabayun (kroscek) dengan Kyai Ma’ruf, Sekjen PBNU mengatakan informasi tersebut tidak benar.

Kyai Ma’ruf Amin mengatakan bahwa mengucapkan selamat pada perayaan hari besar antar agama itu merupakan langkah membangun ukhuwah basyariyah, persaudaraan sesama manusia.

“Jika umat Kristiani menyampaikan Selamat Hari Idul Fitri dan sebaliknya umat Islam menyampaikan Selamat Hari Natal pada umat Kristen, ataupun pada Hari Besar umat Hindu, Budha, itu merupakan bagian dari toleransi sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk saling menghormati dan menghargai tanpa saling mengganggu kepercayaan dan keyakinan masing-masing.” klarifikasi Kyai Ma’ruf Amin melalui Sekjen PBNU. Kamis, (17/12/2015)

Islam sendiri mengajarkan nilai-nilai toleransi dan moderasi (tawassuth, tasamuh, tawazun) agar harmoni kehidupan dan keberagamaan terus tercipta.

Helmy menegaskan bahwa orang-orang yang membuat dan menebarkan informasi tersebut telah menebarkan fitnah dan adu domba yang dapat mengancam perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu Helmi meminta aparat terkait menindak tegas mereka.

sumber : arrahmah.co.id
Inilah Toleransi yang diarjakan Nabi SAW

Inilah Toleransi yang diarjakan Nabi SAW


Wartaislami.com ~ Ketika waktu kebaktian tiba, beberapa orang delegasi Nasrani Najran langsung berdiri menghadap ke timur dan melakukan kebaktian di Masjid. Para sahabat terkejut dan heran dengan apa yang mereka lakukan. Ada terbesik dalam hati mereka untuk melarangnya. Namun seketika itu pula Nabi sontak berkata, “Biarkanlah mereka”. Kisah ini dituturkan Ibnu Hisyam dalam Sirah al-Nabawiyah.

Sikap Nabi ini merupakan cerminan dari misi Islam kerahmatan yang diembannya. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(QS: al-Anbiya ayat 107). Kata “semesta alam (‘alamin) di sini pemaknaanya tidak berati dikhususkan untuk orang Islam (lil muslimin) saja dan manusia pada umunya, namun ia memberikan efek kasih sayang kepada seluruh ciptaan Tuhan. Selama dia masih bisa dikategorikan makhluk Tuhan, maka tidak alasan untuk tidak menyangi dan mengasihinya.

Berdasarkan hal ini, perbedaan agama tidak membatasi Nabi SAW untuk senantiasa menghargai dan menghormati orang yang berbeda keyakinan dengannya. Bahkan fasilitas ibadah semisal masjid pun beliau pinjamkan kepada tamu yang berbeda agama dengannya. Adapun konflik dan perperangan yang terjadi di masa Nabi, sebagian besar disebabkan oleh faktor perbedaan agama, tetapi ada aspek lain yang mendorong kedua belah pihak berperang, seperti pembatalan perjanjian atau ancaman stabilitas keamanan.

Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Islam Between War and Peace menyatakan “Religion is not a reason for battle (agama bukan penyebab perang)”. Salah satu argumentasinya adalah fakta sejarah menunjukan Nabi Muhammad SAW memiliki mertua yang beragama Yahudi. Nama mertua Nabi itu adalah Huyay bin Akhtab al-Nadhari dan putrinya bernama Shofiyah, yang kemudian dijuluki Umm al-Mu’minin (ibu orang-orang beriman) setelah masuk Islam dan dinikahi Nabi SAW. Sekalipun mertua Nabi tetap setia dengan keyakinanya, Nabi SAW tidak pernah memeranginya karena alasan beda agama.

Dalam hadis riwayat ‘Aisyah dijelaskan, Nabi SAW pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum. Riwayat itu menyebutkan, Nabi SAW tidak sempat menembus gadaian itu sampai beliau wafat. Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami Nabi SAW semasa hidupnya berinteraksi dengan siapapun, baik muslim maupun non-muslim. Sekalipun beliau ditugaskan untuk menyebarkan misi agama, namun tidak pernah ditemukan fakta dakwa agama disampaikan dengan paksaan dan kekerasan.

Sebenarnya Nabi sudah memberikan tauladan dan kearifan dalam menyikapi perbedaan agama. Beliau adalah maha guru toleransi beragama. Ia tidak hanya berbicara dalam tatararan wacana, tapi sudah mempraktekkannya dalam banyak hal. Fakta sejarah menunjukan, kebanyakan sahabat masuk Islam bukan karena merasa terancam dan terpaksa, tetapi lebih kepada kesadaran dan ketakjuban melihat etika dan kearifan yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW.

Menghormati dan menghargai perbedaan memang tidaklah mudah. Setiap orang pasti memiliki ego, ambisi, dan kecenderungan untuk mengajak orang agar sesuai dengan keyakinan dan pikirannya. Oleh sebab itu, ego dan sikap ambisius itu perlu dinetralisir dan diminimalisir dengan belajar pada kearifan dan tauladan yang sudah dicontohkan Nabi SAW semasa hidupnya.


Oleh: Hengki Ferdiansyah. Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan Alumni Pesantren Ilmu Hadits Darus-Sunnah. Saat ini bekerja sebagai peneliti hadits di el-Bukhari Institute./muslimedianews.com


Klarifikasi Jadul Maula Soal Lukisan Gus Mus yang Terjual 2 Miliar

Klarifikasi Jadul Maula Soal Lukisan Gus Mus yang Terjual 2 Miliar


Wartaislami.com ~ Menanggapi tulisan mengenai “Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Milyar“, Jadul Maula mengatakan hal itu tidak benar, meski ada beberapa setting dan peristiwa nyata.

“Itu hanya cerpen yang ditulis oleh temen saya. Mengenai penjualan lukisan Gus Mus, itu memang benar dan cerita bahwa saya mengantar uang ke Gus Mus, itu juga benar, tetapi soal nilai lukisan yang sampai dua milyar, itu yang tidak benar,” kata Wakil Ketua Lesbumi Nahdlatul Ulama ini, Selasa (15/12).

Dalam tulisan tersebut, diceritakan bahwa Jadul Maula tengah menyelenggarakan sebuah Pameran Lukisan di Bantul, Yogyakarta.

Suasana sepi, Jadul Maula sudah kehabisan asa. Pengunjung sepi, hanya satu dua pengunjung dan tak satupun lukisan terjual.

Lalu datanglah sepasang suami istri yang tertarik pada goresan abstrak bertuliskan nama Gus Mus. Rupanya si suami tertarik pada lukisan Gus Mus itu, segera ingin membelinya. Si Suami yang rupanya pengusaha ini, menawar lukisan Gus Mus 1 miliar.

Jadul Maula diceritakan kemudian menghubungi Gus Mus, mengabari kalau lukisannya ditawar orang 1 miliar. Jadul Maula baru sempat bicara kalau lukisan Gus Mus ada yang mau membeli, Gus Mus mengiyakan jual saja dan telfon ditutup.

Belum sempat menjawab tawaran pertama, si Pengusaha memberikan tawaran kedua untuk lukisan itu. Lukisan itu akhirnya laku 2 milyar.

Cerita masih berlanjut. Jadul Maula yang menerima uang itu, berniat menyampaikan uang hasi penjualan lukisannya ke Gus Mus. Dengan uang dalam koper, Jadul Maula sowan ke Gus Mus, dan memberikan uang tersebut.



“Gini aja… Aku ambil sepuluh juta. Buat biaya nambal ruang pondok yang bocor. Kalian berlima masing-masing lima juta,” ujar Gus Mus dalam cerita.

“Sisanya untuk kepentingan umat.” lanjut Gus Mus dalam cerita

Lukisan Gus Mus Paling Mahal Laku 100 Juta

Beredarnya tulisan “Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Miliar”, juga mendapat perhatian akun Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri). Gus Mus dalam akun tersebut mengatakan dengan satire, menghubungkan beredarnya cerita itu dengan issu MKD, SN, dan MN yang disebutnya membosankan.

“Entah siapa yang menebarkan issu tentang ‘Nasib Lukisan seharga 2 Milyar Karya GM?’, apakah itu sengaja dibuat oleh novelis/cerpenis untuk pengalihan dari issu tentang MKD, SN, dan NM yang membosankan.?” tulis Gus Mus.

Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Milyar - Status FBBerkomentar pada status ini, Gus Mus juga menyampaikan bahwa paling mahal lukisan termahal karyanya Rp. 100 juta. Dan semua hasil penjualan sesuai persetujuan keluarga disumbangkan untuk kepentingan sosial.

Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Milyar - Komen FB

sumber: arrahmah.co.id
Sholat Yang Bawa HP Dibunuh

Sholat Yang Bawa HP Dibunuh


Wartaislami.com ~ Udin sebenarnya sudah berada di masjid dan siap menunaikan shalat Jum’at. Tapi tiba-tiba pulang setelah ada pengumuman pengurus ta’mir masjid perihal jamaah yang bawa telepon genggam.

Sesampai di rumah, ibunya bertanya: "Gak Jum’atan, Din?"

"Mboten, Buk (Tidak, Bu)!"

"Kenapa?"

“Karena saya bawa HP,” jawab Udin polos.

"Lah! Kenapa membawa HP kok tidak Jum’atan?" Sang ibu heran.

"Tadi pengurus ta’mir masjid kasih pengumuman, “Sing betho HP tolong dipatheni (Yang bawa HP harap dibunuh/dimatikan)". Ya, saya lari!”

“Hoh?”

(Ahmad Rosyidi)/nu.or.id
Ketika santri yang berpoligami ditanya oleh kyai nya

Ketika santri yang berpoligami ditanya oleh kyai nya


Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.

Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya... syukurlah kalau begitu.

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an...

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?
“Grrrrrrrr...” semua yang hadir di pendopo tertawa.


(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)/nu.or.id
Subhanallah, Masjid dan Gereja di Solo ini Harmoni Berdampingan

Subhanallah, Masjid dan Gereja di Solo ini Harmoni Berdampingan


Wartaislami.com ~ Indonesia terkenal akan keragaman suku, budaya, agama, dan  ras. Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa untuk terus hidup rukun berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sering kita dengan semboyan itu mengejawantah dalam slogan “NKRI Harga Mati”.

Keragaman itu tidak serta merta terus hadir dengan sendirinya. Dengan keragaman itu, bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk terus hidup dalam harmoni kebersamaan. Isu keagamaan kerap mewarnai pertikaian-pertikaian atau konflik-konflik antar warga dan atau kelompok. Baik itu dalam lingkup internal agama atau eksternal agama. Kasus-kasus bom di gereja, bom di masjid, pengrusakan keduanya, upacara keagamaan dilarang, kerap muncul di sekitar kita.

Semangat membangun harmoni dalam bingkai keberagaman itu perlu kita tiru dari masjid dan gereja di Solo ini. Dua tempat ibadah ini dibangun berdampingan, bahkan satu tembok dan satu halaman.

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah terletak di Jalan Gatot Subroto no 222, Solo. Gereja dan masjid ini sudah berdiri sejak dulu dan tidak pernah ada konflik sedikitpun. Masing-masing jemaah melaksanakan ibadahnya dengan khusyuk tanpa saling mengganggu satu sama lainnya.

Tidak ada sekat tembok yang kokoh, atau batas pagar halaman yang tinggi. Satu-satunya penanda atau pemisah bangunan tersebut hanyalah sebuah tugu lilin tua, yang merupakan simbol perdamaian kerukunan umat beragama. Saat hari raya masing-masing datang, mereka saling menghormati. Bila hari raya Idul Fitri menjelang, para jemaah gereja tidak mempermasalahkan bila masjid Al-Hikmah mengadakan takbiran dan salat Ied.

Begitu juga jemaah masjid, bila Natal akan datang, biasanya gereja akan berhias diri dan mereka tidak mempermasalahkan hal ini. “Kita merasa bangga, bisa hidup bersama meski dengan keyakinan berbeda,” ujar Sajadi, salah satu jamaah masjid, lansir merdeka.com, Rabu (18/07/2013).

GKJ Joyodiningratan didirikan tahun 1939, sementara musala Al Hikmah yang saat ini sudah berubah menjadi masjid didirikan tahun 1947. Selama itu, tidak pernah ada perselisihan, toleransi beragama memang sangat kental di sana.

“Selama puluhan tahun kami tak pernah ada konflik. Sebagai tanda kerukunan, kami mendirikan sebuah tugu lilin di antara bangunan gereja dan masjid,” ucap Sajadi lagi. Ketika hari raya masing-masing tiba, jemaah biasanya saling membantu dengan bersama membersihkan halaman atau bersama memperbaiki bangunan bila ada yang perlu direnovasi ringan. Karena harmonisasi yang baik ini, tak jarang dua rumah ibadah tersebut menjadi rujukan pemuka agama seluruh dunia. Ada yang datang dari Singapura, Malaysia, Belanda, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, juga dari Filipina, Jepang, Vietnam.



Memeluk satu agama adalah hak setiap manusia. Betapa indahnya bila semua makhluk beragama dapat saling menghargai dan hidup rukun seperti di Solo ini.

sumber: arrahmah.co.id
Reaksi mengejutkan gus mus, ketika lukisannya laku 2 milyar

Reaksi mengejutkan gus mus, ketika lukisannya laku 2 milyar


Wartaislami.com~ Pameran lukisan yang digelar di daerah Bantul itu lesu. Pengunjung sepi. Tinggal beberapa jam lagi pemeran yang digelar oleh anak-anak muda LKIS ini harus segera diakhiri. Hanya ada satu dua pengunjung datang, namun tak satupun lukisan terjual.
Muhammad Jadul Maula yang sehari-hari dipanggil Jadul, sang panitia penyelenggara yang sudah beberapa hari menjadi tuan rumah, seperti orang kalah perang. Asanya sudah habis. Ia sudah bersiap untuk kukut (Bahasa Jawa: mengemasi barang) ketika sepasang suami istri sekonyong-konyong datang melihat-lihat lukisan.

Sama seperti pengunjung lainnya. Pengunjung ini tak tertarik pada lukisan-lukisan yang telah dipajang, hingga akhirnya berhenti pada sebuah lukisan. Sebuah goresan abstrak berupa sketsa dengan pigura kecil seukuran buku.
“Ini karya Gus Mus?”

Jadul mengiyakan dan menjawab seperlunya. Dalam goresan sketsa itu memang tertera tanda tangan Kyai Mustofa Bisri yang dikenal dengan sebutan Gus Mus.

“Kami sangat tak’zim sama Gus Mus. Kami akan beli lukisan ini”.
Rupanya calon pembeli ini seorang pengusaha. Namun, Jadul tidak begitu bersemangat melayani. Ia hanya membatin, paling-paling orang ini akan menawar dengan harga yang tidak seberapa. Sebab, hanya sebuah lukisan kecil berisi sketsa yang tidak jelas maknanya.

Beberapa hari lalu, menjelang pameran, Jadul menelpon Gus Mus. Ia sudah lama kenal dekat kyai yang juga dikenal penyair itu. Ia biasa memanggil Gus Mus dengan sebutan Abah.

“Abah… masih punya stok lukisan?”, tanyanya lewat telepon.
“Lukisanku wis entek. Ini tinggal ada satu saja. Sketsa, kalau mau”, jawab Gus Mus.

Jadilah lukisan itu ikut meramaikan pameran. Jadul memajang lukisan karya Kyai Mustofa Bisri yang dikenal sebagai kyai sesepuh NU dari Rembang, Jawa Tengah, untuk melengkapi koleksi.

“Jadi bagaimana mas? Boleh saya beli lukisan ini?”
“Oh iya…. silahkan”.
“Saya beli satu ya. Satu milyar..!”
Sontak Jadul terperanjat. Sungguh tidak percaya, lukisan goresan sketsa yang hanya seukuran buku itu ditawar satu miliar rupiah.
Tubuhnya gemetar. Kalaupun jika semua luksian yang dipajang di pameran itupun terjual, mungkin tidak akan sampai sebesar itu.
Jadul segera menghubungi Gus Mus. Ia tidak berani membuat keputuan sendiri.
“Ono opo Dul. Ojo suwi-suwi aku lagi ngajar kitab kuning ini”, jawab Gus Mus di ujung sana.
“Abah… lukisannya ada yang mau beli”.
“Yo..wis jual aja”.
Gus Mus hanya menjawab singkat. Telepon terputus.
Padahal, Jadul belum selesai mengemukakan niatnya menyampaikan kabar bahwa lukisannya ditawar orang seharga satu miliar rupiah.
“Jadi apa kata Gus Mus?”
Pengusaha ini sepertinya tidak sabar dan ingin mendapat ketegasan. Namun, Jadul hanya diam tidak bisa menjawab karena sang pemilik lukisan sudah menutup telepon.
“Ya sudah… Dua ya? Dua milyar”.
Di tengah kebengongannya, Jadul hanya bisa mengiyakan tawaran pembeli itu. Saat ditawar satu miliar saja sudah gugup. Ini malah tambah lagi menjadi dua miliar. Duh Gusti…!
Selanjutnya pembeli menanyakan pembayaran lewat cek atau cash. Jadul, minta cash saja dan uang diambil di rumah pembeli itu yang sudah dimasukkan dalam satu koper perjalanan.
Karena jumlah uang yang tidak sedikit, akhirnya uang dalam koper itu diantar ke kediaman Gus Mus di Rembang oleh Jadul bersama empat kawannya. Hal ini untuk keamanan kalau-kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan di perjalanan.
Sampailah mereka di kediaman Gus Mus.
“Kamu kok bawa koper segala ke sini buat apa Dul?”
“Ini uang lukisannya Abah”.
“Wong duit saja kok dimasukkan koper?”
Jadul pun segera membuka koper itu.
“Walah… duitnya kok banyak sekali buat apa Dul?”
“Ya..ini Abah. Uang penjualan lukisan itu. Dua Milyar”.
“Uang sebanyak ini buat apa. Bikin aku pusing saja”.
“Terus gimaan Gus?”
“Gini aja… Aku ambil sepuluh juta. Buat biaya nambal ruang pondok yang bocor. Kalian berlima masing-masing lima juta,” ujar Gus Mus.
Jadul dan empat kawannya ini hanya diam sambil memandang satu sama lainnya. Mereka tidak percaya, kalau Gus Mus hanya akan memberi mereka lima juta.
Mereka sudah terlanjut berharap bahwa, Gus Mus akan mengambil setengah dari uang itu dan setengahnya pasti akan diberikan mereka. Atau, kalau pun tidak sebesar itu, mereka masih akan dapat jatah yang cukup besar.
Jadi uang sebanyak dua miliar itu, praktis hanya diambil Rp 35 juta saja.
“Terus sisanya buat apa Gus?”
“Sisanya, gunakan untuk kepentingan umat”. Jawab Gus Mus.
Dengan perasaan berat dan kecewa, mereka kembali ke Jogja dengan membwa uang sisa sebesar Rp 1,9 miliar yang bukan jatah mereka. Dalam perjalanan, mereka sempat tergoda oleh pikiran kotor. Bagaimana kalau uang yang mereka bawa itu dibagi saja berlima. Merekapun berdebat dan bersitegang.
“Sudah..sudah…sudah”, sergah Jadul.
“Apa kalian tidak takut kualat? Kalau kita ambil uang ini, kita pasti akan susah di kemudian hari. Sebab makan uang yang bukan hak kita”. Demikian Jadul.
Merekapun sadar. Akhirnya mereka sepakat dan memutuskan. Uang sisa penjualan lukisan sketsa karya Gus Mus dibelikan tanah tidak jauh dari terminal di kawasan ring road Jogja, yang diwakafkan untuk lokasi pembangunan sebuah lembaga pendidikan.
Saya tak bisa membayangkan, bila itu menimpa saya. Saya pasti akan mengambil dalam jumlah yang saya inginkan, untuk kepentingan saya sendiri mengingat itu adalah uang halal hasil penjualan karya saya.
Kok masih ada ya manusia seperti ini? Justru di tengah santernya saat ini kita lihat orang-orang yang seharusnya jadi panutan, ternyata banyak yang masih berebut materi bahkan dengan cara tidak wajar.

Sumber: Status Anab Afifi/Arrahmah.co.id
Ini Sindiran Pedas Cak Nun Yang Menusuk Ulu Hati Habib Riziq, Terkait Sampurasun

Ini Sindiran Pedas Cak Nun Yang Menusuk Ulu Hati Habib Riziq, Terkait Sampurasun


WartaIslami.com ~  Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan budaya dan agama ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. "Islam pun tidak dapat dilaksanakan secara kaffah (total) tanpa kebudayaan," katanya.

Cak Nun menyampaikan hal ini ketika memberikan ceramah Maulid Nabi Muhammad di hadapan ratusan pegawai pemerintah kabupaten, para guru, dan masyarakat umum di Pendopo Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu, 12 Desember 2015.

Menurut suami artis dan penyani Novia Kolopaking yang lebih akrab disapa Cak Nun itu, kebudayaan dan Islam itu harus berjalan beriringan. "Apa tidak sadar bahwa masjid, sajadah, baju merupakan produk budaya," kata ia menjelaskan.

Cak Nun menunjuk ihwal salam kebudayaan Sunda, Sampurasun yang merupakan produk budaya para leluhur suku Sunda. Ini kemudian diabadikan oleh para anak-cucunya dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang.

Cak Nun sedih Sampurasun diplesetkan jadi Campur Racun oleh pentolan Front Pembela Islam, Rizieq Shihab. "Tidak baik apa yang telah dirumuskan orang tua dahulu kemudian dijadikan plesetan hingga orang lain keliru menafsirkannya. Kelakuan itu bukanlah uswah (contoh yang harus diikuti). Tidak sopanlah," kata Cak Nun.

Ia mengatakan, dalam kehidupan menuju Allah, manusia melakukannya dengan dua cara. Pertama, Allah menghadirkan diri-Nya dalam kehidupan manusia. Kedua, manusia berusaha menghadirkan Allah. Cak Nun menyatakan, salam sunda Sampurasun adalah ikhtiar manusia untuk menghadirkan Allah.

Sebab, di dalamnya terdapat rumusan tentang cara memelihara kebahagian dan kebersamaan sesama manusia. "Maka tidak ada korelasi negatif dengan akidah. Jika masih saja ada pihak yang mempersoalkan, menurut saya, karena ada motif lain," ujarnya.

Cak Nun yang mempopulerkan syair Lir-ilr karya ulama Wali Songo itu juga mewanti-wanti agar setiap manusia tidak gampang memvonis bahwa seseorang itu kafir atau syirik karena yang bersangkutan tanding dengan persoalan kebudayaan. "Karena, iman itu di sini (sambil menunjuk letak hati)," katanya.

Cak Nun mengatakan, di dalam agama itu terdapat dua wilayah, yakni mahdhoh dan mu'amalah. "Mahdhoh berarti jangan melakukan apa pun kecuali yang diperintahkan (Allah dan Rasul), kalau disuruh jangan diubah. Muamalah, rumusnya apa saja kecuali yang dilarang, ya silakan lakukan," kata Cak Nun.

Menurut Cak Nun, soal syirik itu hak Allah. Yang mengetahui syirik, kufur hanya Allah, yang punya hak bukan manusia. "Patung dan konsep yang dibangun adalah muamalah. Asal tidak melanggar kaidah mahdhoh, yakni kita sembah-sembah, nggak ada masalah," kata Cak Nun.

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, alasan menghadirkan Cak Nun bukan dalam upaya melakukan pembelaan diri atau mencari pembenaran ihwal kontroversinya salam Sampurasun.

Tidak juga membela diri untuk buku karyanya berjudul Spirit Budaya dan Kang Dedi Menyapa yang dipersoalkan FPI, hingga akhirnya terjadi saling lapor ke Kepolisian Daerah Jawa Barat. "Pemikiran-pemikiran Cak Nun, sangat dibutuhkan buat menumbuhkan spirit dalam kehidupan dan meningkatkan etos kerja," kata Dedi menjelaskan.

Sumber : tempo.co
Inilah Kisah Syekh Ali Jaber dengan Ustadz Anti Maulid

Inilah Kisah Syekh Ali Jaber dengan Ustadz Anti Maulid


Wartaislami.com ~ Dalam sebuah cuplikan ceramah video di Youtube, Syekh Ali Jaber mengisahkan tentang dirinya sewaktu berjumpa dengan salah seorang ustadz anti maulid, membid'ah-bid'ahkan Maulid Nabi.  Syaikh Ali Jaber kemudian menghampiri dan bertanaya "Kenapa Maulid Bid'ah?" Jawaban dari ustadz tersebut adalah karena tidak ada dizaman Rasulullah

Syekh Ali Jaber bertanya lagi : "Jadi dasarnya itu saja ?". Jadi tidak ada didalam al-Qur'an maupun Hadits yang secara jelas melarang hal itu, maka Syekh Ali Jaber berkata lagi : "Antum dari kepala sampai ujung kaki, bid'ah. Karena antum tidak ada dizaman Rasul"

Diakhir kisahnya, Syekh Ali Jaber memberikan nasehat bahwa "Walaupun dalam masalah Maulid itu ada beda pendapat, tapi tidak salah kita saling shilaturahim, saling menasehati dan saling mengisi".




Berikut cuplikan video tersebut :

Profile Singkat Syekh Ali Jaber


Syaikh Ali Jaber, demikian sapaan akrab Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, lahir di kota Madinah Al-Muna­warah pada tanggal 3 Shafar 1396 H, bertepatan dengan tanggal 3 Febuari 1976 M. Ia menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah.

Tahun 1410 H/1989 M, ia tamat ibti­daiyah, tahun 1413 H/1992 M tamat tsa­nawiyah, tahun 1416 H/1995 M tamat aliyah. Tahun 1417 H/1997 M hingga saat ini ia mulazamah (melazimi) pela­jaran-pelajaran Al-Qur’an di Masjid Nabawi, Madinah.

Sedari kecil Ali Jaber telah menekuni membaca Al-Qur’an. Ayahandanyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Qur’an, karena dalam Al-Qur’an terdapat semua ilmu Allah SWT. Dalam mendidik agama, khusus­nya Al-Qur’an dan shalat, ayahnya sa­ngat keras, bahkan tidak segan-segan me­mukul bila Ali Jaber kecil tidak men­jalankan shalat. Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad SAW yang membolehkan memukul anak bila di usia tujuh tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius.

Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Se­bagai anak pertama dari dua belas ber­saudara, Ali Jaber dituntut untuk mene­ruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai ke­butuhannya sendiri. Tidak mengheran­kan, di usianya yang masih terbilang be­lia, sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Qur’an.

Sejak itu pula Syaikh Ali memulai ber­dakwah mengajarkan ayat-ayat Allah SWT di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam shalat di salah satu masjid kota Madinah.

Tahun 2008, ia melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebe­tulan ia menikahi seorang gadis shalihah asli Lombok, Indonesia, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah. Pada tahun yang sama, ia melaksana­kan shalat Maghrib di masjid Sunda Ke­lapa Jakarta Pusat. Selepas shalat ada salah seorang pengurus masjid memin­tanya untuk menjadi imam shalat Tara­wih di masjid Sunda Kelapa, karena saat itu hampir mendekati bulan Ramadhan.

Sejak itulah ia terus mendapat keper­cayaan masyarakat di sejumlah tempat di Indonesia. Demi menunjang komuni­kasinya dalam  berdakwah, ia pun mulai belajar bahasa Indonesia.


Oleh : Ibnu Manshur
Sumber : Majalah Al Kisah (Profile Syekh Ali Jaber)/muslimedianews.com

Dakwah Ramah, "Habib Umar bin Hafidz Ceramah dan Shalat Dalam Gereja"

Dakwah Ramah, "Habib Umar bin Hafidz Ceramah dan Shalat Dalam Gereja"


WartaIslami.com ~ Pernah Habib Salim, putera Habib Umar bin Hafidz, seraya bercerita panjang kemudian beliau berkata: "Ayahanda mengunjungi Denmark, kota yang dikenal paling membenci dan menghina Rasulullah Saw. Namun baru saja beliau keluar dari bandara, sudah disambut dengan pembacaan Maulid Nabi Saw. di bandara."

Habib Umar bin Hafidz pun berpaling kepada puteranya itu seraya berkata: “Kau lihat? Pernahkah kau melihat orang yang menyambutku di bandara dengan pembacaan Maulid? Sungguh di seluruh dunia belum pernah terjadi, tapi terjadi di sini, di Denmark, kota yang konon sangat membenci dan menghina Nabi Saw. Belum sampai aku di kotanya, baru di bandara saja lantunan Maulid Nabi Saw. dikumandangkan. Kau lihat bagaimana Allah Swt. Mahamemberi hidayah walau di tempat yang konon paling menghina Nabi Saw.?”

Di Jerman Habib Umar bin Hafidz menyampaikan ceramah (taushiyah) di salah satu forum, hadir diantaranya seorang missionaris Nasrani yang mencuri dengar. Lalu dilaporkannya hal itu pada pimpinan gereja, yaitu guru si missionaris Nasrani itu. Akhirnya pendeta besar memutuskan untuk mengundang Habib Umar bin Hafidz untuk datang ke gereja dan menyampaikan ceramah di sana. Seakan hal itu merupakan tantangan sekaligus pelecehan, kau yang berbicara kerukunan ummat beragama, apa berani masuk gereja?

Ternyata Habib Umar bin Hafidz setuju, datang, bahkan minta izin shalat di dalam gereja. Padahal telah kita pahami bahwa dari seluruh madzhab sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram, namun sebagian mengatakan boleh jika diharapkan akan berubah menjadi masjid.

Selepas Habib Umar bin Hafidz menyampaikan ceramahnya, maka pimpinan pendeta ditanya: "Bagaimana pendapatmu terhadap Islam?"

Dijawabnya: "Aku benci Islam, namun aku cinta pada orang ini."

"Jika kau mencintaiku, akan datang waktunya kau akan mencintai Islam," kata Habib Umar kemudian.

Lalu ada seseorang yang menegur Habib Umar bin Hafidz, bagaimana melakukan shalat di gereja? Beliau menjawab: "Aku melakukannya karena aku tahu tempat ini akan menjadi masjid kelak."

Kami bertanya, apa yang membuat Guru Mulia (Habib Umar bin Hafidz) masih di dalam bandara, apakah beliau ditahan dan dipersulit? "Ayahanda asyik dengan mereka, mereka tidak tahu Islam dan minta kejelasan. Justru ayahanda senang dan duduk dengan mereka memberi taushiyah serta penjelasan pada staf imigrasi change airport tentang indahnya Islam. Mereka yang awalnya curiga dan ingin menginterogasi, justru menjadi pendengar setia dan terlalu asyik duduk mendengar penyampaian lemah-lembut beliau hingga menghabiskan waktu 90 menit!" Jawab putera Habib Umar, Habib Salim bin Umar bin Hafidz.

Dokumentasi perjalanan Habib Umar bin Hafidz di Denmark (tahun 2010) bisa Anda lihat di sini: http://www.alhabibomar.com/NewsItem.aspx?SectionID=2&RefID=111 (Sumber kisah: Ust. Muchamad Khavis Maqmun/muslimedianews.com).


Sumber: www.muslimoderat.com
Gawat !! Terbongkar, Rencana ISIS Serang Komunitas One Day One Juz di Indonesia

Gawat !! Terbongkar, Rencana ISIS Serang Komunitas One Day One Juz di Indonesia


WartaIslami.com ~ Kelompok aktivis peretas (hacker) anonim mengungkap rencana ISIS untuk melakukan serangan teroris di Paris, Amerika Serikat, Indonesia, Italia dan Lebanon.

Laporan itu dipubliksakan oleh kelompok peretas anonim, Minggu (22/11/2015).

Informasi itu diperoleh bagian kelompok peretas anonim yang menamakan dirinya OpParisIntel.

Dalam pernyataannya, OpParisIntel mengklaim telah berhasil meretas dan menemukan rincian rencana serangan ISIS.

Dalam rencananya, serangan itu akan dilakukan ISIS seminggu setelah 130 orang terbunuh di Paris atau tepatnya, Minggu (22/11/2015), atau tepatnya hari ini.

Tempat-tempat yang masuk dalam rangkaian rencana penyerangan ISIS itu adalah:
1. Beberapa tempat di ibukota Perancis.
2. Acara WWE Survivor Series di Philips Arena di Atlanta.
3. Konser "A Five Finger Death Punch" di Milan.
4. Universitas Pastoral di Lebanon.
5. Seluruh Gereja Katolik di dunia pada perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, yang dirayakan pada Minggu (22/11/2015).
6. Komunitas Al-Jihad dan One Day One Juz di Karawang Indonesia.

One Day One Juz ( ODOJ ) adalah program yang diinisiasi oleh para Alumni Rumah Qur’an untuk memfasilitasi dan mempermudah kita dalam tilawah Al-Qur’an dengan targetan 1 juz sehari.

Dengan memanfaatkan Instant Messager, tilawah 1 juz sehari jadi lebih menyenangkan dan lebih termotivasi.

Lebih lanjut kelompok peretas anonim ini menyampaikan pula bahwa "tujuan serangan ISIS itu adalah untuk memastikan bahwa seluruh dunia, atau setidaknya orang-orang yang pergi ke acara ini, tahu bahwa benar-benar ada ancaman dan serangan yang mereka lakukan." (International Business Times).

Sumber : Tribunnews.com
Karena Hina Gus Dur, Voa-Islam.com Dilaporkan Ke Bareskrim

Karena Hina Gus Dur, Voa-Islam.com Dilaporkan Ke Bareskrim


WartaIslami.com ~ Asep Hadian Permana SH, warga Bandung, bersama teman-teman mewakili beberapa kelompok masyarakat sipil dari Jawa Barat melaporkan situs voa-islam.com ke pihak Dewan Pers, Bareskrim Polri, Menkominfo dan Presiden Republik Indonsia terkait dengan pemberitaan yang dilakukan oleh situs online https://www.voa-islam.com/. Dengan link http://www.voa-islam.com/read/opini/2015/11/09/40495/rizal-ramli-gus-dur-itu-wali-yang-kesepuluh/#sthash.FuZo1ttX.dpbs. Sayangnya, setelah pelaporan ini, situs tersebut tidak lagi bisa diakses.

Pada link berita tersebut (terlampir utuh di halaman selanjutnya) terdapat persoalan penghinaan, pelecehan, dan tulisan SARA yang selain sangat menyakitkan, juga sangat melecehkan martabat bangsa secara umum. Demikian rilis yang dikirimkan ke NU Online.

Asep menilai situs www.voa-islam.com selama ini sudah kita ketahui sangat merusak citra media massa.

“Karena itu melalui surat ini, kami juga bermaksud menggalang solidaritas gerakan untuk permasalahan ini dalam rangka membersihkan citra pers Indonesia yang selama ini dirusak oleh situs-situs yang tidak memakai standar kerja kode etik jurnalistik.”

Ia meminta Dewan Pers untuk, pertama menindak situs Voa-Islam sesuai ketentuan kode etik jurnalistik yang berlaku. Kedua, memberikan masukan kepada pelapor dan juga kepada pihak terkait, yaitu Kepolisian, Menteri Komunikasi dan Informasi, dan Presiden Republik Indonesia, agar memberikan tindakan sesuai ketentuan dari masing-masing kewenangan terkait dengan isi secara keseluruhan dari situs www.voa-islam.com tersebut.

Asep menambahkan terkait dengan laporan kepada Dewan Pers ini, pada saat yang sama pihaknya juga melaporkan pengaduan ini kepada pihak Bareskrim Polri mengingat kemungkinan besar bahwa pihak Dewan Pers mengalami keterbatasan dalam menangani perkara ini karena dari situs www.voa-Islam.com tersebut memang terdapat banyak sekali muatan-muatan yang bukan saja sudah jauh melenceng dari kode etik pers, melainkan juga melenceng dari koridor hukum/perundang-undangan.

“Bahkan kami menyakini tindakan www.voa-islam.com nyata secara terbuka sengaja memancing kekeruhan di kalangan antar umat dan golongan terutama untuk memancing emosi massa Nahdlatul Ulama mengingat berita-berita pelecehan tentang KH Abdurrahman Wahid tersebut dilakukan bukan untuk menyerang pribadi KH Abdurrahman Wahid mengingat beliau telah wafat,” katanya.

Ia berharap supaya pihak Dewan Pers menjalankan fungsinya sampai tahap batas maksimal dalam mengurus kasus ini.

“Kami berharap pihak Dewan Pers bisa mengeluarkan jawaban/penilaian terkait dengan laporan ini dalam waktu 3 hari sejak kami sampaikan laporan ini,” tegasnya.

Selanjutnya tujuan pelaporan ke Pihak Bareskrim Polri supaya laporan ini ditindaklanjuti secara cepat, tepat dan sesuai Undang-Undang/Peraturan hukum yang berlaku dalam waktu maksimal 3 hari setelah laporan ini kami sampaikan.

Sedangkan tujuan melaporan ke Menteri Komunikasi dan Informasi adalah dengan tujuan supaya pihak Kominfo segera memblokir situs www.voa-islam.com karena pihak Kementerian Kominfo sudah sangat mengetahui situs tersebut, dan situs-situs sejenis lainnya.

Ditambahkannya, tujuan melaporkan ke pihak Presiden Republik Indonesia (Bapak Ir. Joko Widodo) adalah supaya pemerintah Republik Indonesia mengetahui permasalahan dan laporan ini sebagai bagian dari upaya baik masyarakat dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dengan atau tanpa surat edaran dari Surat Edaran (SE) Kapolri soal penanganan ujaran kebencian atau hate speech sekalipun, pengaduan ini menurut kami sangat penting dilakukan agar tidak terjadi situasi yang memperkeruh keadaan antar ras, agama, dan golongan,” tandasnya.

Adapun dengan Surat Edaran (SE) Kapolri yang diberlakukan tersebut, tentu menjadi bagian pertimbangan lain agar niatan baik pihak Kapolri maupun pemerintah yang sedang ingin menjalankan tugasnya.

Berikut beberapa penggalan kalimat yang diajukan sebagai kasus:

"Abdurrahman alias si-Dur itu "

"Durahman itu doyan duit:"

"Konon kantor PBNU, di Jalan Kramat itu, juga tak lepas dari sumbangan dari para “taoke” Cina"

"Kerjanya Durahman mencari “wangsit” di makam-makam wali"

"Mungkin yang selalu mengenang Durahman sebagai “pahlawan” hanya "taoke" Cina, warga Cina, dan kalangan sekuler, pluralis, liberal, dan mungkin pengikut atheis termasuk Goenawan Muhamad. Tidak ada yang lain"

"Durahman pula yang pernah melukai hati umat Islam, dan mengatakan al-Qur'an, sebagi kitab suci yang paling “porno”

"Jombang yang disebut oleh Rizal Ramli, memang telah melahirkan tokoh setipe, seperti Abdurrhman Wahid, Nurcholis Madjid, dan MH.Ainun Najib"

"Seluruh dunia bersorak gembira ketika Gus Dur meninggal!". Red: Mukafi Niam(NU Online)
NU Gelar Pengadilan Sejarah dengan Tersangka Utama Pemerintah Belanda

NU Gelar Pengadilan Sejarah dengan Tersangka Utama Pemerintah Belanda


WartaIslami.com ~ Sejarawan sekaligus peneliti kasus pemberontakan PKI 1948 dan 1965, Agus Sunyoto, menyatakan sekarang pihaknya tengah merancang sebuah forum pengadilan semua pelanggaran HAM yang pernah terjadi dalam sejarah  Indonesia. Forum panel tersebut akan digelar dalam waktu dekat.

‘’Jadi kalau mereka bisa tersangkakan Indonesia sebagai pelaku kejahatan 1965, maka kami juga akan tersangkakan pemerintah Belanda. Bahkan kami akan posisikan Belanda sebagai pelaku utama akan semua tindakan biadabnya selama menjajah di Indonesia.Kita akan buktikan bahwa tidak hanya orang kulit putih saja yang bisa mengadili orang kuiit berwarna atas kasus kejahatan HAM. Kita akan meletakan keadilan dan sekaligus membuat terobosan baru atas forum pengadilan HAM yang tak hanya bisa digelar di negara orang-orang kulit putih,’’ kata Agus ketika dihubungi Republika.co.id, Sabtu (14/11).

Agus kini menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi NU). Dia sangat intens meneliti mengenai soal pembantaian para kiai dan santri pada Pemberontakan PKI 1948 dan peristiwa di seputaran kasus G30S/PKI.

Sampai hari ini, lanjut Agus Sunyoto, orang kulit putih atau negara-negara barat selalu merasa lebih beradab atau unggul dari negara-negara berkembang seperti Indonesia. Padahal justru merekalah yang membuat segala tindakan pelanggaran HAM yang terjadi di negara di dunia ketiga dengan melakukan penjajahan dan selalu ikut dalam setiap munculnya kekacauan yang terjadi di negara-negara tersebut.

‘’Jadi nantinya Belanda akan kami tuntut, tak hanya keterlibatannya dalam kasus Pemberontakan PKI 1948 di Madiun dan meletuskan G30S/PKI, NU juga akan menuntut seluruh aksi pelanggaran HAM mereka selama masa penjajahan, perang kemerdekaan, dan kasus serupa lainnya pasca pengakuan kemerdekaan,’’ ujarnya seraya mengatakan bahwa tuntutan NU ini menjadi  sangat serius rakyat Indonesia tahu bahwa sampai hari ini Pemerintah Belanda belum mengakui secara resmi atau de jure bahwa 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia.

Tak hanya menuntut pemerintah Belanda dalam forum pengadilan sejarah, Agus Sunyoto mengatakan, NU akan menulis kembali sejarah Indonesia yang sampai sekarang terlalu berbau kepentingan penjajahan Belanda (colonial minded). Ini dilakukan karena dalam benak bangsa Indonesia mulai tertanaman pemikiran bila negara penajah itu seolah tanpa dosa dan tangannya bersih dari noda darah aneka ragam pembunuhan yang telah mereka lakukan.

’’Nantinya sejarah baru itu kami akan ajarkan di sekolah dan pesantren milik Nahdlatul Ulama, seperti sekolah Ma’arif NU serta madrasah lainnya. Generasi muda NU akan diberi pemahaman bahwa apa yang terjadi di dalam kaum santri sampai saat sekarang ini — seperti munculnya situasi kemiskinan dan kebodohan—itu merupakan buah atau 'sumbangsih' yang nyata dari para penjajah barat, terutama negara Belanda,'' ujarnya.

Akibatnya, cara penulisan dan pengajaran sejarah yang masih banyak  mengekor pada ide sejarah ala era politik etis di tahun 1901, akan didekonstruksi. Di sana posisi peran penjajah, dalam hal ini Belanda, akan kami fokuskan. ''Jadi kami akan katakana kepada generasi penerus NU bahwa merekalah biang keladi dari semua kejahatan dan masalah sosial yang terjadi di Indonesia, yakni para kaum santri. Dan tekad kami sudah sangat bulat,’’ katanya.

Berbagai kalangan yang berkecimpung di dalam penuiisan sejarah, selama ini memang menemui kenyataan begitu dalamnya colonial minded di dalam sejarah Indonesia. Bahkan, pihak penjajah kadang dipresepsikan sebagai ‘tuan putih pengasih' yang ingin memperadabkan bangsa Indonesia.

Pada soal politik etis misalnya di dalam buku sejarang terkesan masih ditulis sebagai politik balas budi untuk mensejahterakan rakyat pribumi. Padahal bagi orang Indonesia politik ini hanyalah merupakan kebijakan 'gula-gula' basa-basi dengan memberian bantuan sekedarnya setelah meremukan dan menghisap kekayaan alam Nusantara, terutama Jawa, melalui tanam paksa. Bahkan dalam data sejarah dari Belanda kadang para pemimpin perjuangan rakyat di tulis sebagai seorang pemabuk dan mengidap penyakit raja singa (penyakit kelamin)

Sumber : republika.co.id via muslimoderat.com
Ustadz Maulana Koban Keserakahan Media

Ustadz Maulana Koban Keserakahan Media


WartaIslami.com ~ Saya kasihan kepada Ustad Maulana. Beliau adalah korban keserakahan media yang hanya berorientasi kepada rating dan jumlah iklan. Secara keilmuan, Maulana tidak punya kapasitas yang mumpuni untuk menjawab problematika umat yang serba kompleks. Tapi, yang namanya media, tidak peduli dengan kapasitas intelektual.

Media di Indonesia, khususnya televisi, menganut mazhab eye catching dan layak jual, dalam mengorbitkan seseorang. Media tidak peduli dengan visi pendidikan dari program-program yang ditayangkannya. Tayangan Indahnya Islam dengan guest star Ust. Maulana adalah tayangan yang disejajarkan dengan YKS atau program hiburan lainnya. Ini tidak bisa dilepaskan dari visi Televisi yang mengedepankan warna hiburan dari hampir semua tayangannya.

Kembali kepada ustad Maulana, beliau adalah orang yang polos, tidak memahami rintangan apa yang akan menghadangnya jika terus menuruti keinginan media yang menaunginya. Yang disayangkan, dengan kepolosannya itu, Maulana tidak berusaha membangun jejaring dengan para tokoh umat dan aktivis keislaman untuk menguatkan visi keislamannya.

Jawabannya tentang kepemimpinan--terlepas dari pro dan kontra---terkesan bukan murni dari pemahamannya terhadap masalah. Ironisnya, setelah ia terjebak oleh jawaban yang disampaikan, manajemen yang menaunginya seakan bersikap cuci tangan.

Dari kasus Maulana, kita bisa memahami bahwa menggeser substansi dakwah ke area hiburan dapat berakibat fatal.

Penulis : Ust. Abdi Kurnia Djohan / Muslimedianews.com
Hadirilah Habib Novel Alaydrus Solo Adakan Bedah Buku Terbaru Inilah Dalilnya - 15 November 2015

Hadirilah Habib Novel Alaydrus Solo Adakan Bedah Buku Terbaru Inilah Dalilnya - 15 November 2015


Hadirilah, Ikutilah, dan Syiarkanlah bersama Muslimin dan Muslimat dalam acara:

BEDAH BUKU "INILAH DALILNYA: PENJELASAN AL-QURAN DAN SUNNAH ATAS AMALAN KAUM SANTRI"

Bersama: HABIB NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS (Penulis Buku "Inilah Dalilnya", yang juga Pengasuh Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah Surakarta)

Yang insya Allah akan diadakan pada:

Hari, Tanggal: Ahad, 3 Shafar 1437 H/ 15 November 2015
Pukul: 08:30 WIB (Pagi)
Bertempat: di Markas Besar Ar-Raudhah, Jl. Dewutan No. 112 Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta (Lihat: Peta di Google Maps).

GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM DAN DOORPRIZE 3 LAPTOP - BELI BUKUNYA, RAIH PAHALA DAN HADIAHNYA...!!! ‪ 

Informasi dan kontak hubungi via Whatsapp: +6281904546363 atau Pin BB: 5A0E4BD2.

TENTANG BUKU "INILAH DALILNYA: PENJELASAN AL-QURAN DAN SUNNAH ATAS AMALAN KAUM SANTRI" BUAH KARYA SAYYIDIL HABIB NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS

Menabuh rebana, dzikir berjamaah, peringatan maulid Nabi, ziarah kubur, kenduri arwah, merupakan beberapa contoh amalan kaum santri yang telah mendarah daging dalam diri umat Islam tanah air. Dewasa ini ada sebagian orang yang mempertanyakan kebenaran amalan tersebut dan bahkan tidak jarang menghakiminya sebagai budaya BID'AH yang sesat dan pelakunya merupakan penghuni Neraka.

Buku ini lahir di tengah keinginan dan harapan yang besar dari masyarakat untuk mendapatkan jawaban yang obyektif. Dengan bahasa yang mudah dan lugas, buku ini membuktikan bahwa kaum santri tanah air merupakan kaum berilmu yang melandasi setiap langkah dan amalnya dengan AL-QURAN DAN SUNNAH.


Sumber : Ngaji Yuk Via Muslimedianews.com
Agus Sunyoto: Ada Usaha Sistematis Untuk "Menghilangkkan Walisongo"

Agus Sunyoto: Ada Usaha Sistematis Untuk "Menghilangkkan Walisongo"


WartaIslami.com ~ Perjuangan Walisongo merupakan fakta sejarah dalam penyebaran Islam di Nusantara, khususnya pulau Jawa. Keberhasilannya yang gemilang tak lepas dari strategi mereka melalui jalur kultural. Tak ada pertumpahan darah dan inkuisisi.

Karena itulah perjuangannya selalu dikenang. Makamnya selalu diziarahi oleh segenap muslim. Tapi perjuangan sembilan ulama tersebut, dianggap sepi oleh sekelompok orang. Hal itu terbukti dengan absennya Walisongo dari Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

Agus Sunyoto sebagai salah seorang sejarawan Nusantara merasa kuatir dengan kondisi ini. Menurutnya, lambat-laun sejarah Walisongo bisa hilang dari ingatan orang, atau bisa jadi dianggap dongeng belaka.

Kekuatiran Wakil Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi-NU) ini membuahkan buku berjudul “Walisongo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan” setebal 282 halaman.

Ketika Agus Sunyoto berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Rabu, (15/2)  Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya seputar penulisan buku itu. Berikut petikannya.

Belum lama ini mas Agus menulis buku Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Apa tujuan menulis buku itu?

Awalnya ketika saya membaca buku Ensiklopedi Islam terbitan Van Hoeve itu. Ternyata entri Walisongo tidak ada. Demak itu hanya disinggung dua. Kesultanan Demak dan masjid Demak. Itu pun singkat sekali. Yang muncul malah tiga serangkai Wahabi yang membawa faham Wahabi ke Indonesia. Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam.

Reputasi orang itu dalam sejarah perjuangan menyebarkan Islam itu bagaimana?

Yang menimbulkan pecahnya Perang Paderi. Reputasi apa? Orang yang berbeda pandangandipateni (dibunuh, red).

Kalau kita baca Ensiklopedi Islam itu, secara tidak langsung, kita diarahkan untuk menganggap bahwa Islam yang disebarkan Nusantara itu oleh Wahabi. Begitu, ya?

Iya. Dan itu yang dimasukkan. Itu kan golongan Sumatera Tawalib. Orang sana itu, madrasah-madrasah Wahabi itu, Persis itu masuk, al-Irsyad itu masuk. Resulusi Jihad itu nggak ada. Komite Hijaznya NU itu nggak ada.

Efeknya bagi masyarakat itu apa, Pak?

Ya lambat-laun Walisongo dianggap nggak pernah ada. Islam yang ada sekarang itu dianggap ahistori.

Indikasi apa itu mas?

Kita tinggal menunggu dua puluh tahun lagi. Kalau Walisongo itu sudah tidak ditulis di ensiklopedi, dua puluh tahun lagi, sudah jelas dianggap dongeng. Tidak ada kenyataannya. Tidak diakui. Eksistensinya tidak diakui.

Itu memang sistematis?

Iya sistematis. Ada usaha sistematis untuk menghilangkkan Walisongo.

Tujuan mereka itu apa?

Ya, mereka kan menganggap Walisongo itu tidak sefaham dengan mereka dan mereka membikin seolah-olah yang membawa (Islam) ke sini adalah Wahabi. Tapi itu artinya Islam baru berkembang 1803. Sebelum itu, nggak ada Islam berarti. Itu pemalsuan sejarah. Pemalsuan sejarah yang tidak cerdas!

Apa karena tipikal Walisongo yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya? Dan itu bersebrangan dengan faham mereka?

Iya. Mereka kan kalau perlu, semua yang bersebrangan faham dengan mereka kan dibunuh saja. Bahwa faham merekalah yang benar. Karena mereka menghalalkan segala cara. Kalau bukan golongan mereka, ya disingkirkan. Sayangnya mereka minoritas.

Dalam sejarah, Islam yang diterima di masyarakat itu selalu pendekatan budaya. Tidak cuma Walisongo. Di Sumatera ada tokoh Aria Damar. Dia kan asalnya penganut Shiwa Budha. Dakwah Islam di Palembang dan sekitarnya itu, ketika yang dakwah itu orang yang dari Arab Said Syarif Hidayatullah itu, itu nggak ada orang yang mau menerima.

Said Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati?

Bukan, mertuanya Ario Damar. Nah, ketika Ario Damar yang mengajak kepada orang-orang yang menganut Budha, baru mereka berkenan mengikuti Islam.

Strateginya bagaimana? Seperti Walisongo juga?

Iya.

Pendekatan budaya juga?

Iya. Begini, semua orang nggak mau ketika yang menyebarkan Islam itu Syarif Hidayatullah. Kenapa? Palembang itu pusatnya Sriwijaya beratus-ratus tahun. Di situ Budha. Bagaimana caranya bisa Islam? Baru bisa setelah Ario Damar yang menganut Shwa Budha itu memeluk Islam dan mengajak orang. Tetap dengan pendekatan kultural. Apa dengan mengajarkan ilmu, pertanian, kesenia. Banyak. Ario Damar itu kan raja muda di sana. Mesti lewat budaya, macam-macam.

Di daerah lain juga mesti yang diterima itu dengan pendekatan budaya? Sulawesi, Kalimantan juga?

Iya. Contohnya di Jawa. Sunan Ampel itu datang dari Campa, Vietnam. Dia nggak begitu paham budaya Jawa. Menikah dengan orang Jawa, melahirkan anak: Sunan Bonang, misalnya. Dia dididik sebagai keluarga bangsawan Jawa. Dari keluarga ibunya kan. Karena itu dia bisa menulis tembang macam-macam. Sunan Ampel nggak bisa. Nggak ada warisannya karena memang bukan orang Jawa.

Jadi, orang pribumi yang berkreasi?

Iya. Orang pribumi.

Mas, Kelebihan buku ini, menurut mas Agus sendiri dibanding dengan buku-buku lain yang menulis Walisongo.

Buku-buku Walisongo itu kan ditulis dalam bentuk dongeng, cerita-cerita, legenda. Nah, saya masukkan inskripsi-inskripsi yang ada di makam-makam, misalnya makam Malik Ibrahim, ada. Atau prasatinya. Kapan tokoh itu, siapa tokoh itu? Bukan berdasarkan dongeng.

Setiap makam itu ada inskripsinya ya?

Nggak. Nggak setiap makam ada. Tapi beberapa makam ada inskripsinya.

Itu kan ensiklopedi yang terbit tahun 1995, kenapa baru direspon sekarang?

Karena ngak tahu. Belum pernah baca itu. Baru tahun tahun 2010.

Bagaiamana ketemunya Van Hoeve  sama Wahabi? Persinggungannya itu?

Mungkin aja Van Hoeve nggak paham. Karena dia cuma penerbit. Orang-orang yang menulisnya. (Agus Sunyoto menyebutkan para penulisnya)

Suber : NU.or.id
Gus Mus "NU dan Muhammadiyah Bentengnya NKRI"

Gus Mus "NU dan Muhammadiyah Bentengnya NKRI"


WartaIslami.com ~ Berdirinya  Negara Kesatuan Repbulik Indonesia (NKRI) tidak lepas dari peran serta para ulama dan santri dalam memperjuangakan kemerdekaan Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang merupakan organisasi terbesar di Indonesia adalah bentengnya Indonesia, apabila keduanya rusak maka rusaklah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan  KH Musthofa Bisri  saat memberikan tausyiah dalam rangka Jauharul Muharam dan santunan kepada anak yatim Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Sawangan, Kamis (5/11).

“Untuk itu warga nahdliyin diharapkan selalu memberikan peran  di dalam berbangsa dan bernegara,” tegas Gus Mus.

Secara terpisah, wakil Rais Am PBNU, KH Said Asrori dengan anekdotnya mengatakan bahwa kepanjangan PBNU adalah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Pada acara warga nahdliyin rela berpanas-panasan di lapangan untuk mendengarkan tausiyah dari Kiai dari Rembang tersebut. Hadir juga  wakil Bupati Magelang, Zaenal Arifin dan wakil PWNU Jawa Tengah, KH Muzammil serta Muspika setempat.

Sumber : www.nujateng.com Via Metroislam.com
Makam Pahlawan Hilang, Muhammadiyah : "Ziarah Boleh dan Perlu"

Makam Pahlawan Hilang, Muhammadiyah : "Ziarah Boleh dan Perlu"


WartaIslami.com ~ Hilangnya makam Pahlawan Nasional Ki Bagus Hadikusumo di Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, membuat kaget banyak pihak. Hal ini baru terungkap setelah tokoh organisasi kemasyarakatan Islam tertua di Indonesia, Muhammadiyah, itu ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 5 November 2015.

Masalah makam tokoh yang terbengkalai membuat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bersuara dengan nada prihatin. Dia menyatakan ziarah kubur itu perlu dilakukan sebagai bentuk menghargai tokoh atas jasa-jasanya selama hidupnya. "Ziarah kubur kan sunnah juga, diperbolehkan. Yang tidak boleh mengeramatkan kuburan tersebut," katanya setelah acara refleksi sejarah pahlawan di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 10 November 2015.

Haedar lantas bercerita, Nabi Muhammad mengajarkan kalau ziarah kubur ingatlah akan kematian. Itu artinya, menurut dia, ziarah di makam dapat digunakan sebagai cara untuk mengenang atau meneladani perilaku si mati sekaligus mengikuti amalnya.

Makam Ki Bagus di Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, tak ada bekasnya lagi. Sudah ditumpuk beberapa makam. Bahkan, rencana memindahkan makam ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, menemui kendala karena tak diketahui pasti di mana pusaranya. Beliau diangkat menjadi pahlawan nasional dengan Keputusan Presiden 116/TK Tahun 2015.

Dia mengakui budaya atau tradisi kalangan Muhammadiyah memang tidak mengenali makam tokohnya. “Mungkin saking puritannya." Haedar berpendapat, sebaiknya pemahaman untuk berziarah dibiarkan mengalir tanpa paksaan. "Itu tradisinya tetapi sekarang mulai ada pemahaman bahwa ziarah kubur itu perlu juga," ucap Haedar. Tapi, dia mewanti-wanti agar ziarah jangan membuat orang mengeramatkan orang yang dalam kubur itu, sekalipun kiai.

Namun, dia menerangkan, kalangan Muhammadiyah tahu bahwa Ki Bagus dimakamkan di Yogyakarta. Apalagi, setelah Ki Bagus diangkat menjadi pahlawan nasional. Memang pada umumnya tokoh-tokoh Muhammadiyah dimakamkan di Pakuncen. "Tjokroaminoto juga makamnya di Pakuncen. Mungkin banyak orang juga tidak tahu makam Tjokroaminoto di situ," tutur Haedar. (Sumber: Tempo.co)
Memilih Pemimpin Non-Muslim, Ustadz Maulana Sesat??

Memilih Pemimpin Non-Muslim, Ustadz Maulana Sesat??


WartaIslami.com ~ Ustadz Maulana, yang kondang dengan pandu sorak “jamaaah, ooh jamaah” mengungkit isu yang sejak berabad-abad lalu sudah menjadi perkara ikhtilaf di kalangan ulama. Dikabarkan, dia menyatakan memilih pemimpin politik seperti mengangkat pilot yang nothing to do dengan agama. Sontak pernyataannya membuat kalangan yang selama ini meyakini ke-holistik-an Islam (syumûliyyatul Islâm) geram, meminta dia bertobat, dibumbui dengan ancaman-ancaman malapetaka yang akan menimpanya karena melecehkan agama dan menyampaikan pikiran sesat. Bagaimana mendudukkan persoalan ini dan bagaimana tafsir ayat QS. an-Nisa’ ayat 144 dan QS. al-Maidah ayat 51?

Beberapa poin berikut mudah-mudahan dapat membantu memahami masalah, menjernihkan pikiran dan meluruskan sikap:

1. Indonesia bukan negara Islam, yang secara formal menjadikan Islam sebagai dasar negara. Indonesia adalah negara-bangsa (nation-state), yang isinya (buat gampangnya saja) PBNU yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Konsep ini (sekali lagi buat gampangnya saja) disosialisasikan sebagai 4 Pilar oleh almarhum Pak Taufik Kiemas. Hubungan Islam dan politik, agama dan negara, Islam dan nasionalisme telah tuntas dibahas dan diputuskan oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada Munas dan Muktamar Situbondo tahun 1983-1984. NU menyatakan NKRI, dengan Pancasila dan Bhinka Tunggal Ika, merupakan bentuk dan capaian final perjuangan umat Islam.

Artinya, tidak perlu lagi berpikir dan memperjuangkan Negara Islam atau Negara Khilafah. Seluruh aspirasi umat Islam harus disampaikan dalam kerangka NKRI. Keputusan ini merupakan ijtihad penting yang memuluskan proses sintesis Islam-nasionalisme, yang di beberapa tempat, gagal dilakukan.

Oleh NU, NKRI disebut sebagai mu’ahadah wathaniyyah (perjanjian nasional) dan wajib bagi setiap Muslim memegangi janji sebagaimana ditegaskan QS. al-Isra’ ayat 34: ‘wa awfû bil ‘ahdi innal ‘ahda kâna masûla’ (penuhilah janji karena janji pasti dimintai pertanggungjawabannya). Keputusan NU adalah ijma’ yang diperoleh dari ijtihad jama’i para ulama NU. Ijma’, sebagaimana disepakati ulama, adalah sumber hukum ketiga setelah al-Quran, as-Sunnah, dan berikutnya Qiyas.

Jadi, jika ada yang menyatakan “Siapa yang mengikuti Pancasila akan binasa” dan “Pancasila tidak ada dalilnya, Khilafah jelas sumbernya,” itu sama halnya menganggap semua ulama NU bodoh, karena bersepakat dalam kebodohan. Ulama NU dianggap tidak tahu dalil karena menerima Pancasila. Padahal, resepsi NU terhadap Pancasila merupakan hasil pergumulan panjang, produk dari adu dalil dalam bahtsul masail yang alot.

2. Konsekuensi dari ijma’ ini adalah menerima dan menjalankan konstitusi sebagai norma yang mengatur kehidupan publik. Aspirasi-aspirasi publik umat Islam, kendatipun mayoritas, harus disampaikan dalam koridor konstitusi dan peraturan turunannya. Publik maksudnya adalah sektor yang mengatur banyak orang, yang majemuk, yang berbhineka, yang tidak dibedakan berdasarkan latar belakang suku, agama, ras dan golongan.

3. Konstitusi kita jelas tidak mendiskriminasi warga negara berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan. Secara politis, siapapun warga negara berhak memilih dan dipilih, apapun agama, keyakinan dan warna kulitnya. Dengan kaca mata ini, pernyataan Ustadz Maulana benar. Muslim di negara Pancasila boleh memilih pemimpin non-Muslim, asal dianggap tidak akan secara nyata menghalangi umat Islam menjalankan ibadah dan ajaran agama. Sejauh tidak menganjurkan kemunkaran dan menghalangi hak umat Islam menjalankan ibadah, umat Islam wajib patuh dan bahkan membela pemerintahan non-Muslim jika ada serangan dari pihak luar. Hal ini sebagaimana diputuskan oleh Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936. Rujukannya, waktu itu, kitab Bughyatul Mustarsyidîn, karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi.

4. Lalu bagaimana kita memahami ayat dari QS. an-Nisa ayat 144 dan QS. al-Maidah ayat 51 yang sering dikutip sebagai dalil keharaman memilih pemimpin non-Muslim? QS. an-Nisa' ayat 144 terjemahnya berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin.” QS. al-Maidah ayat 51 terjemahannya berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setiamu, mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.”

Terjemahan ini saya kutip dari mushaf terjemahan Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-Quran. Ada satu kata yang diterjemahkan secara berbeda, yaitu kata ‘awliyâ.’ Di QS. an-Nisa’ ayat 144 diterjemahkan sebagai pemimpin, di QS. al-Maidah ayat 51 diterjemahkan sebagai teman setia. Awliyâ adalah jamak (bentuk plural) dari kata waly. Menurut Kamus al-Munjid, waly berasal dari kata walâ-yaly-walyan wa wilâyatan artinya 'danâ minhu wa qaruba' (dekat dengan sesuatu). Musytaq dari kata ini adalah kata waly, bentuk pluralnya awliya’, artinya kekasih, teman dekat, penolong, tetangga, dan pengikut. Musytaq dari kata yang sama mawlâ, bentuk pluralnya mawâly, artinya penguasa, tuan, hamba, kekasih, sahabat, dan sekutu. Berbagai kata yang musytaq dari kata waly semua menunjukkan kedekatan, baik sebagai teman, tetangga, sekutu, pembantu maupun pemimpin.

Tentu subjektif sebagai keyakinan penafsir jika kata yang sama diberi penekanan arti yang berbeda, sebagaimana terjemahan di atas: awliya’ diterjemahkan sebagai pemimpin dalam QS. an-Nisa' ayat 144, dan diterjemahkan sebagai teman setia dalam QS. al-Maidah ayat 51. Begitu juga kata mawlâ. Dalam hadits yang sangat terkenal di Ghadir Khum, Rasul bersabda: “man kuntu mawlâhu fa ‘aliyyun mawlâhu” (barangsiapa menjadikan aku sebagai mawla-nya, maka Ali harus juga menjadi mawla-nya).

Orang-orang Syiah mengartikan mawla sebagai sebagai pemimpin politis. Dari pengertian ini muncul konsep imamah yang melekat di Sayyidina Ali Ra. dan keturunannya. Kelompok ekstrem Syiah bahkan menyatakan, imamah hanya melekat pada Ali dan keturunannya, karena itu kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu anhum batal. Bagi tafsir Sunni yang saya ikuti, mawla tidak harus diartikan sebagai pemimpin politis. Mawla berarti sangat luas, yaitu teman, kekasih, dan sahabat yang tidak harus selalu merujuk kepada definisi politis. Dalam doktrin Sunni, kepemimpinan al-Khulafa’ ar-Rasyidun (Abu Bakar, Umat, Utsman, dan Ali ) semua sah dan wajib ditaati.

5. Kembali kepada tafsir QS. an-Nisa’ ayat 144 dan QS. al-Maidah ayat 51, saya tidak banyak menemukan elaborasi penafsiran ayat ini dari kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir ath-Thabary karya Ibn Jarir ath-Thabary, Tafsir ad-Durr al-Mantsur karya Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir Fakhr ar-Razi, Tafsir al-Qurthuby, Tafsir Fath al-Qadir karya asy-Syaukani, dst. Saya temukan elaborasi yang agak panjang justru dari Tafsîr al-Manâr karya Rashed Ridha.

Dalam menafsirkan QS. an-Nisa’ ayat 144, Ridha menghubungkannya dengan QS. al-Maidah ayat 51, yaitu larangan tolong-menolong dengan orang kafir dalam perkara yang menafikan kemaslahatan umat Islam. Menurutnya, larangan berlaku pada kerjasama dan tolong-menolong dengan orang-orang kafir yang memerangi umat Islam. Adapun mengangkat non-Muslim dalam pemerintahan Islam sebagai pelayan/pemimpin (istikhdâm adz-dzimmiyyin fi al-hukûmah al-Islâmiyyah) tidak termasuk dilarang, karena para sahabat dan dinasti-dinasti Islam di zaman Umayyah dan Abbasiyyah juga melakukan hal yang sama (lihat Rashed Ridha, Tafsîr al-Manâr, Beirut: Darul Ma’rifah, 1993 juz 5 hal. 472-73).

Pandangan Ridha ini sejalan dengan putusan para ulama NU pada Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936. Sebuah hadits riwayat Muslim menguatkan pandangan ini. Rasul pernah menyuruh pulang seorang kafir yang menawarkan bantuan menjelang perang Badar. Dia dikenal sebagai pria hebat, ahli perang yang gagah berani. Rasul menyatakan: "farji’ falan asta’ina bi musyrikin." Konteksnya adalah perang. Mafhum mukhalafahnya, larangan tidak berlaku dalam situasi damai di luar perang. Jika seorang kafir berlaku baik dan dibutuhkan tenaganya, boleh direkrut sebagai mitra. Ini padangan Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, dan jumhur (lihat Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawâwî, Beirut: Dâr ats-Tsaqâfah al-Islâmiyyah, 1930, juz 12, hal. 198-99).

6. Saya perkirakan isu yang dilontarkan Ustadz Maulana, yang direaksi sangat keras oleh sebagian kalangan, akan mengalami eskalasi setahun ke depan, menjelang nominasi Ahok sebagai calon gubernur potensial pada pemilukada DKI 2017. Saya pribadi belum tentu mendukung Ahok, tetapi Ahok harus dibela dari perlakukan diskriminasi rasial sesuai amanat konstitusi. Terlahir sebagai seorang etnis keturunan Tionghio adalah takdir yang tidak bisa ditawar Ahok.

Karena itu, jika mau menyerang Ahok, seranglah pilihan kebijakan dan akhlaknya sebagai pejabat publik, bukan takdir primordial yang tidak bisa dipilihnya sendiri. Wallâhu a’lam. (Oleh: M. Kholid Syeirazi).

Sumber : Muslimedianews.com
Beginilah Cara Imam Abu Hanifah Bikin Orang-Orang Atheis Bungkam Tak Berkutik

Beginilah Cara Imam Abu Hanifah Bikin Orang-Orang Atheis Bungkam Tak Berkutik


WartaIslami.com ~  Di zaman Imam Abu Hanifah rahimahullah terdapat sekelompok kaum Sumaniyah yang atheis. Mereka mengingkari keberadaan Allah dan menyatakan alam tercipta secara kebetulan. Langit, bumi, gunung dan lautan menurut mereka juga ada secara kebetulan.

Suatu hari mereka berdebat dengan Abu Hanifah soal keyakinan ini. Karena perdebatan berlangsung lama dan tak kunjung selesai, Abu Hanifah minta debat ditunda beberapa hari. Mereka pun menentukan hari dan waktu debat berikutnya.

Tiba jam yang disepakati, Abu Hanifah belum tiba di lokasi. “Mana Abu Hanifah? Ia terlambat, tak menepati janji?” kata orang-orang Sumaniyah kepada kaum muslimin yang hendak menyaksikan perdebatan itu.

“Mengapa kamu terlambat? Kemarin kamu mengatakan Allah itu ada dan memperhitungkan semua amalmu, mana bukti semua kata-katamu?” seorang tokoh Sumaniyah segera mencerca dengan serentetan pertanyaan begitu Abu Hanifah datang.

“Wahai semuanya,” jawab Abu Hanifah yang ternyata sengaja datang terlambat, “Jangan terburu-buru menilaiku. Saat aku hendak menyeberangi sungai, aku tidak mendapatkan perahu. Tak ada satu pun perahu di sana.”

“Lalu bagaimana kau bisa kemari?”

“Ada sesuatu yang aneh terjadi”

“Aneh? Apa itu?”

“Aku berdiri di tepi sungai. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari barangkali ada perahu, sambil berharap semoga Allah memudahkanku datang kemari. Tiba-tiba, secara kebetulan ada angin berhembus kencang. Lalu ada petir besar menyambar. Jika ia menyambar rumah, mungkin rumah itu akan roboh. Tapi secara kebetulan petir itu menyambar sebuah pohon besar, lalu pohon tersebut terbelah menjadi dua. Secara kebetulan, robohnya ke sungai. Lalu secara kebetulan datanglah potongan besi dan ada dahan yang masuk ke sana membentuk kapak. Secara kebetulan kapak itu bergerak-gerak menghantam potongan pohon tersebut dan jadilah sebuah perahu. Tak berhenti di situ, ada dua ranting yang jatuh ke sungai dan menempel di sisi kanan dan sisi perahu, setelah itu perahu tersebut mendekat padaku dan aku naik. Begitu aku di atasnya, perahu itu mendayung sendiri dengan cepat hingga aku bisa tiba di sini. Nah, begitu ceritanya. Sekarang, mari kita lanjutkan diskusi kita, apakah alam semesta ini tercipta secara kebetulan atau tidak?”

“Tunggu sebentar! Kau ini waras atau tidak?” tanya mereka yang masih terheran-heran dengan cerita Abu Hanifah.

“Waras”

“Tapi ceritamu itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah perahu bisa tercipta dari petir yang menyambar secara kebetulan lalu terpotong secara kebetulan dari pohon dan ranting jatuh menempel di sisi kanan dan kiri perahu. Tidak mungkin. Untuk membuat perahu dibutuhkan orang yang mengerjakannya, memotong kayunya, memasang tali, membuat sampan dan seterusnya.”

“Subhanallah,” jawab Abu Hanifah, “Kalian mengatakan bahwa langit, bumi, gunung, laut, manusia, hewan, matahari, bulan dan bintang semuanya secara kebetulan; tapi mengapa kalian tak percaya bahwa ada satu perahu yang tercipta secara kebetulan?” jawaban itu membuat orang-orang atheis Sumaniyah terbungkam. Mereka tak berkutik.
Bagi Pembenci Syiah di Indonesia Wajib Baca Ini: Relasi Sunni-Syiah di Arab Saudi

Bagi Pembenci Syiah di Indonesia Wajib Baca Ini: Relasi Sunni-Syiah di Arab Saudi


WartaIslami.com ~ Fenomena dan gerakan anti-Syiah kembali marak di Indonesia. Syiah dikepung dari berbagai penjuru angin dengan berbagai dalil dan dalih: dari teologi-keagamaan (seperti ajaran-ajaran Syiah yang dianggap “menyimpang” dari kanon resmi Islam) sampai politik kekuasaan (misalnya bahaya laten revolusi Syiah bagi NKRI).

Jika dulu, pada masa Orde Baru, gerakan anti-Syiah didengungkan oleh negara karena kekhawatiran “virus revolusi politik” Syiah Iran tahun 1979 akan menular di Indonesia, kini gerakan anti-Syiah dikomandoi oleh sejumlah tokoh Muslim dan ormas Islam yang tidak hanya didasari oleh kekhawatiran berlebihan -dan mengada-ada- terhadap “efek domino” politik Syiah Timur Tengah di Indonesia tetapi juga dilandasi oleh tuduhan penyimpangan teologi-keagamaan Syiah.

Sayangnya, Syiah tidak hanya menjadi sasaran kritik sejumlah kelompok Islam konservatif tetapi juga target kekerasan fisik seperti terjadi di Sampang, Bogor, dan Lombok.

Banyak pihak menyebut Saudi-Wahabi sebagai “dalang” di balik gerakan anti-Syiah di Tanah Air. Tetapi menariknya, di Saudi sendiri gerakan anti-Syiah tidak sevulgar dan semarak di Indonesia. Tidak ada poster, spanduk, atau selebaran-selebaran provokatif kontra Syiah. Juga tidak ada pengajian-pengajian akbar anti-Syiah yang bergemuruh. Para khatib Jum'at memang sering menekankan umat Islam untuk menghindari praktek bid’ah dan khurafat serta menjalankan ajaran Islam yang “murni dan konksekuen” yang sebetulnya merupakan kritik terhadap Syiah tetapi tidak menyebut secara langsung kesesatan Syiah. Yang sering menyebut Syiah secara terang-terangan sebagai heretik, rafidhah, dan murtad adalah para ulama Wahabi ultrakonservatif.

Hal menarik lain di Arab Saudi dewasa ini adalah tidak adanya gerakan masif dari tokoh dan ormas Islam untuk memobilisasi massa guna menyerang kantong-kantong Syiah seperti terjadi di Indonesia. Kekerasan terhadap Syiah di Saudi lebih banyak dilakukan oleh “oknum” negara dan sayap ultraradikal Wahabi. Perlu dicatat tidak semua pengikut Wahabi adalah radikal dalam tindakan, meskipun mereka tentu saja radikal dan konservatif dalam pandangan dan pemikiran keislaman.

Ada banyak teman-teman saya yang Wahabi yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan keagamaan Syiah yang dinilai melecehkan Islam, al-Quran, Nabi Muhammad, dan para sahabat, serta dianggap menyimpang dari ajaran fundamental Islam. Tetapi mereka menolak untuk melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap komunias Syiah. Mereka bahkan menuding kekerasan anti-Syiah di distrik Dalwah di Saudi Timur, yang dilakukan oleh para penembak bertopeng pada November 2014, lalu dilakukan oleh ekstremis Islamic State (baca ISIS -Islamic State of Iraq and Syria) yang ingin mengusik stabilitas politik Saudi.

Pula, tidak semua rezim Saudi adalah anti-Syiah. Mendiang Raja Fahd (1921-2005) dan Raja Abdullah (1924-2015), misalnya, adalah sosok pemimpin liberal-moderat yang proaktif menggalang toleransi, perdamaian, dan rekonsiliasi terhadap Syiah. Raja Fahd pernah menginstruksikan untuk menghapus semua kata dan istilah yang mengandung nuansa penghinaan dan pelecehan terhadap Syiah dari buku-buku teks yang dipakai di sekolah-sekolah untuk kemudian diganti dengan istilah-istilah yang lebih toleran dan bersahabat.

Ia juga memerintahkan untuk menghilangkan segala kebijakan diskriminatif anti-Syiah, membolehkan pengikut Syiah Saudi di pengasingan untuk pulang, melepaskan para pemimpin Syiah dari tahanan, membolehkan warga Syiah untuk bekerja di lembaga-lembaga pemerintahan dan sektor swasta, serta aneka policy progresif lain untuk memperbaiki kondisi warga Syiah di Saudi.

Di universitas milik Kerajaan Saudi tempat saya mengajar saat ini, King Fahd University, juga banyak dijumpai para profesor Syiah dan beberapa diantaranya menduduki jabatan sebagai dekan atau ketua departemen seperti Samier al-Bayat, Badr al-Humaidi, Jaafer bin Moosa, dan lain sebagainya.

Raja Fahd bahkan pernah memecat Imam Masjid Nabawi di Madinah karena melakukan propaganda anti-Syiah pada waktu khutbah Jum’at ketika ada kunjungan Ayatullah Akbar Hashemi Rafsanjani.

Raja Abdullah juga menerapkan kebijakan yang tidak kalah spektakuler dengan pendahulunya, Raja Fahd, seperti membolehkan warga Syiah untuk menggunakan buku-buku Syiah di sekolah-sekolah mereka. Ia juga merevisi kurikulum nasional dan memasukkan materi-materi non-Wahabi ke dalam kurikulum agar para siswa bisa mempelajari dan memahami aneka ragam pandangan keislaman.

Raja Abdullah juga aktif menggalang dialog dengan para tokoh Syiah Saudi kharismatik seperti Syaikh Hassan as-Saffar. Singkatnya, almarhum Raja Abdullah, seperti ditulis Rob Sobhani dalam buku: King Abdullah of Saudi Arabia: A Leader of Consequence, dengan berbagai kebijakan pluralis-progresifnya di bidang pendidikan, perdamaian, politik-ekonomi, keagamaan, emansipasi perempuan. Berbagai upaya dan kebijakan yang seringkali mendapat protes, kritik, dan tantangan dari kubu konservatif-radikal Wahabi -turut membantu menciptakan stabilitas politik Arab Saudi meskipun berbagai negara Arab dan Timur Tengah diguncang kekacauan sosial dan revolusi politik sejak 2010.

Sejumlah tokoh dan ulama Syiah Saudi yang saya wawancarai seperti Syaikh Ibrahim al-Battat, Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Nasr as-Salman, dan Syaikh Humaidan al-Qatifi juga mengekspresikan rasa simpati dan hormatnya kepada Raja Abdullah yang menerapkan sejumlah kebijakan positif-konstruktif terhadap Syiah.
Upaya pembangunan perdamaian, relasi positif, dan rekonsiliasi Sunni-Syiah di Saudi -dan juga negara-negara lain di Arab dan Timur Tengah- bukanlah perkara mudah mengingat perseteruan kedua kelompok Islam ini sudah “mengerak” dan berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Syiah juga memiliki sejarah kelam di Arabia. Sejarah dan asal-usul Syiah di kawasan ini sering dikaitkan dengan sekte Qaramitah, sebuah kelompok agama sinkretik yang memadukan elemen-elemen Syiah Ismailiyah dengan mistisisme Persia, yang berpusat di al-Ahsa (Hasa) di Provinsi Ash-Syarqiyah.

Pada 899 M, kelompok ini pernah mendirikan sebuah negara utopis berbasis agama. Sekte vegetarian ini -karenanya sering disebut al-Baqliyyah- juga pernah melakukan pemberontakan terhadap Dinasti Abbasiyah. Pemimpin sekte ini, Abu Tahir al-Jannabi, pada tahun 930, pernah memimpin pengepungan kota Makah, mencuri dan memindahkan Hajar Aswad ke al-Ahsa, serta mengotori sumur Zamzam dengan tumpukan mayat.

Sekte Qaramitah sudah tenggelam dalam limbo sejarah. Kaum Syiah masa kini yang menempati Saudi adalah pengikut Imamiyah (Itsna 'Asyariyah) sebagai mayoritas yang kebanyakan tinggal di Provinsi Ash-Syarqiyah di ujung timur Saudi, khususnya Ahsa, Qatif, Khobar, dan Dammam yang merupakan daerah kaya minyak dan pusat industri.

Ada juga pengikut Syiah Imamiyah di Madinah yang menamakan diri Nakhawila. Pengikut Syiah lain, seperti Zaidiyah dan Ismailiyah, kebanyakan tinggal di Provinsi Najran di Saudi selatan yang berbatasan dengan Yaman. Tidak ada data statistik resmi tentang jumlah kaum Syiah di Saudi tetapi sejumlah pengamat memperkirakan sekitar 10% dari total warga negara Saudi yang kini berjumlah sekitar 20 juta jiwa (ditambah sekitar 10 juta kaum migran).

Mayoritas penduduk Saudi adalah pengikut Sunni non-Wahabi yang tersebar hampir merata di berbagai kawasan. Sementara itu pengikut Wahabi sebagian besar hanya terkonsentrasi di Provinsi Riyadh dan Qasim di Saudi bagian tengah.

Meskipun sekte Qaramitah yang brutal itu sudah menjadi sejarah masa lalu, tetapi memori masyarakat Islam Sunni modern di Saudi terhadap sejarah gelap sempalan Syiah Ismailiyah ini masih begitu kuat sekuat memori kaum Syiah kontemporer atas tragedi pembantaian Husein bin Ali oleh Khalifah Yazid I di Padang Karbala pada 680 M.

Sejak Perang Karbala itu, kecurigaan, ketegangan, konflik, dan kekerasan antara pengikut Sunni dan Syiah terus berlanjut hingga berdirinya Kerajaan Saudi modern pada tahun 1932. Tetapi satu hal yang penting untuk dicatat bahwa perseteruan dan perpecahan umat Islam ke dalam Sunni dan Syiah itu semula berakar pada konflik politik-kekuasaan, bukan teologi-keagamaan.

Memang perseteruan politik-kekuasaanlah yang membuat relasi kedua kelompok ini terus menegang dan meruncing. Dalam konteks sejarah Saudi modern, meskipun Ahsa sebagai salah satu basis Syiah sudah ditaklukkan oleh tentara Saudi sejak 1913, ketegangan dengan kelompok ini meruncing sejak Imam Khomeini sukses memimpin Revolusi Islam Iran dan menggulingkan Shah Pahlevi pada tahun 1979.
Merasa mendapat momentum, Iran sendiri berambisi mengekspor spirit dan ideologi revolusinya ke negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk Saudi. Seruan-seruan anti dan penggulingan “Dinasti Saudi-Wahabi” dan dukungan terhadap Republik Islam Iran pun ditebar melalui pamflet, kaset tape, dan radio. Salah satu tokoh Syiah Saudi dan dianggap sebagai “perpanjangan tangan Iran” -yang gencar mengkritik pemerintah adalah Nimr Baqr an-Nimr.

Kekerasan terhadap Syiah pun beberapa kali meledak yang berbuntut pada pemenjaraan dan penangkapan tokoh-tokoh Syiah yang di kemudian hari dibebaskan oleh Raja Fahd setelah naik tahta pada 1982. Hingga kini, Saudi dan Iran sama-sama berambisi menjadi “penguasa regional” Timur Tengah yang berbuntut pada perang di berbagai tempat. Perang di Yaman, Syria, atau Irak hanyalah contoh kecil dari “adu dominasi” dua negara ini.

Meskipun relasi harmoni kedua kelompok ini sering diusik oleh kepentingan politik, masyarakat akar rumput Sunni dan Syiah seringkali tidak memperdulikannya. Mereka biasa saja bergaul membaur dan bersenda gurau di pasar-pasar tradisional, kedai kopi, warung teh, rumah makan, dan ruang-ruang publik lain.

Di kawasan Al-Mobarroz, Ahsa, warga Sunni dan Syiah bahkan membangun masjid-masjid dan rumah-rumah mereka berjejer-jejer. Sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat juga menuturkan kepada saya kalau mereka sudah biasa bekerjasama dalam berbagai urusan sosial-kemasyarakatan.

Mereka juga saling membantu dan mengunjungi acara pengajian dan keagamaan yang diadakan masing-masing kelompok serta tidak sedikit dari mereka yang mempraktekkan kawin-mawin, sebuah traidisi yang sudah berlangsung ratusan tahun. Perbedaan pandangan keagamaan dan konflik elit tidak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dan mewujudkan perdamaian. (Oleh:Sumanto Al Qurtuby, Profesor Antropologi dan Sosiologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University).

Sumber : Muslimedianews.com
Inilah Kaidah Fiqih yang Paling Sering Disalahpahami

Inilah Kaidah Fiqih yang Paling Sering Disalahpahami


WartaIslami.comSatu kaidah dalam ushul fiqih yang barangkali dianggap orang sebagai menggiring fiqih kepada bentuk yang tidak kontekstual (muqtadhal hal), adalah:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

"Al-'ibrah bi'umum al-lafdzi la bikhushush as-sabab".

Kaidah ini banyak diterjemahkan begini, "Yang menjadi perhatian di dalam menetapkan hukum fiqih adalah rumusan (tekstual) suatu dalil, bukan sebab yang melatarbelakangi turunnya ketentuan (dalil) tersebut".

Menerjemahkan "La" dengan "bukan" seperti terjemahan di atas adalah salah. "La" di situ berarti "bukan hanya" (la li al-'athaf bukan la li al-istidrak). Jadi latarbelakang, asbab an-nuzul maupun asbab al-wurud (sebab turunnya ayat al-Quran dan al-Hadits), tetap menjadi pertimbangan penting dan utama.

Terjemahan yang benar dari kaidah itu adalah, "Suatu lafadz (kata atau rumusan redaksional sebuah dalil) yang umum ('amm), mujmal maupun muthlaq (yang berlaku umum) harus difahami dari sudut keumumannya, bukan hanya dari latarbelakang turunnya suatu ketentuan".

Dengan demikian ketentuan umum itu pun berlaku terhadap kasus-kasus cakupannya, meskipun mempunyai latarbelakang berbeda. Sebab jika dalil-dalil al-Quran maupun hadits hanya dipahami dalam konteks ketika diturunkannya, maka akan banyak sekali kasus yang tidak mendapatkan kepastian hukum. (Disadur dari buku Nuansa Fiqih Sosial karya KH. MA. Sahal Mahfudh).

Sumber : Muslimedianews.com
Target Wahabi Bukan Syi'ah Yang Sebenarnya Tapi NU Keseluruhan

Target Wahabi Bukan Syi'ah Yang Sebenarnya Tapi NU Keseluruhan


WartaIslami.com ~ Target utamanya bukanlah syiah yang sebenarnya, tetapi adalah NU keseluruhannya. Indonesia tanpa NU akan mudah sekali mereka kuasai, maka dari itu warga NU sengaja dibuat agar tidak percaya bahkan memusuhi NU itu sendiri.

Tak perlu menggunakan kecerdasan Master Strategi Ngisrael(Israel) segala jika hanya untuk membaca alur makar mereka.

Pertama kali mereka mencuatkan statemen; shufi itu sesat, identik dengan syiah dan syiah bukan islam. Kita tahu di NU terdapat pelindung para pelaku tarekat yang pada rprentasinya adalah tashowwuf, dibawah naungan JATMAN. Terahir racun ideologi mereka ditambah dosisnya dengan perkataan mereka aswaja ahli bid'ah pembuat ajaran baru yang bukan dari islam yang sesungguhnya. Perkataan ini akan bersayap bahwa aswaja atau nu keluar dari islam dan halal darahnya.

Jika nahdliyyin sepakat bahwa syiah adalah ajaran yang menyimpang dari ajaran yang mereka terima selama ini, tidak berarti mereka harus memusuhi syi'ah dengan cara melempar kotoran kepadanya, dan andai mereka bertoleransi dengan perbedaan itu, tak perlu juga dengan cara bertasyayyu' sehingga seakan akan nu dan syi'ah adalah sama.

Kita telah terajari sekian ratus tahun akan hak utama dan pertama dalam masalah keyakinan. Untuk itu tak perlu nahdliyyin membenci syiah sampai menggelapkan pandangan, tak perlu juga membela bela mereka demgan membabi buta.

Wahai saudaraku, belajarlah dengan berbagai kejadian di arab sana, kalian adalah orang orang yang terlahir dari rahim para ibu yang bijaksana, bacalah:

Pada 2009, Qatar mengajukan proposal agar Assad melegalkan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah dan Turki untuk menuju Eropa. Bashar al Assad menolak proposal ini dan pada 2011 ia justru menjalin kerjasama dengan Iraq dan Iran untuk membangun jalur pipa ke Timur. Qatar, Saudi dan Turki adalah pihak yang paling sakit hati dan dirugikan oleh keputusan ini. Khayalan mereka untuk mendapat pemasukan Milyaran dollar dari ekspor Migas buyar seketika. Apa kalian terkejut jika hari ini Saudi, Qatar dan Turki menjadi negara-negara yang paling getol mensponsori dan mempersenjatai para teroris yang hendak menggulingkan Assad.

Salam Gembos ToniBoster

Penulis : Gus Zainal
KH. Said Aqil Siradj Pernah Mengalahkan Seorang Nabi ?

KH. Said Aqil Siradj Pernah Mengalahkan Seorang Nabi ?


WartaIslami.com ~ Dalam sebuah forum tabbayun dan dialog terbuka yang digelar pada tahun 2009 silam, ada beberapa hal menarik yang disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj, diantaranya taubatnya "Nabiyullah" palsu bernama Ahmad Mushaddiq alias Abdus Salam.

Sosok Ahmad Musaddeq menjadi tenar pada tahun 2006 di Indonesia, bahkan di dunia internasional, karena mengaku sebagai Nabi alias Nabi palsu. Ia menafsirkan kitab suci dengan cara sendiri dan tidak mewajibkan umatnya solat, puasa dan ibadah wajibnya.

Namun, alhamdulillah, Ahmad Musaddeq bertaubat pada tahun 2007 setelah berdialog dengan ulama, yang tidak lain berdialog dengan Prof. KH. Said Aqil Siradj, MA. Hal ini juga pernah dimuat dalam majalah Ar-Risalah terbitan PBNU dan disampaikan juga dalam sebuah video Forum Tabayyun (Baca: Tabayyun Tingkat Tinggi : Ketika KH. Said Aqil Siradj Disidang Karena Isu Syi'ah).

Selain, itu ada hal-hal menarik lainnya yang disampaikan dalam video tersebut. Berikut diantara cuplikan perkataan KH. Said Aqil Siradj :

"... akhir-akhir ini saya juga disibukkan ngelayani meladeni wahhabi, di bekasi, di jakarta timur, dan di depok. Pernah saya ceramah di perumahan galaksi, ada spanduk "Hati-hati penceramah ini sesat !". 

Saya (tetap) datang, (saya bilang) siapa yang menulis spanduk itu, ayo debat dengan saya. Kalau saya kalah, saya ikut dia. tapi kalau saya menang, dia harus ikut saya. Tidak ada yang muncul. 
Dua hari kemudian datang kerumah, dua anak muda "Mohon maaf Kiai, saya disuruh Adian Husaini (Ketua DDII, penj)" 

... dan saya pernah mengalahkan "Nabiyullah" Musaddeq. Tiga jam diskusi di mabes polri, di saksikan oleh polisi, tapi polisi tidka ikut campur, hanya menonton. 9 Desember 2007. Alhamdulilah Mushaddiq (nabi palsu, penj) bertaubat. 

... saya juga pernah menengahi seminar Sunni - Syi'ah di Qatar . Hari pertama saling caci maki, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, Syaikh Ali Ash-Shobuni dengan ulama Syi'ah. Hari kedua saya menengahi. Alhamdulillah berhasil, dianggap berhasil. Akhirnya ditindak lanjuti di Istana Bogor. Namun karena Menlu abstain dari program PBB, maka yang datang bukan tokoh dari keduanya, bersamaan dengan itu, (juga) kala itu Indonesia ikut mengecam Iran.

KH. Said Aqil Siradj yang juga alumin Pondok Pesantren Lirboyo pernah menandatangi pernyataan di Lirboyo yang menegaskan bahwa dirinya akan mempertahankan Ahlussunnah wal Jama'ah dan dekat dengan pesantren, sebagaimana disampaikan dalam video http://www.youtube.com/watch?v=3p8iduJg2pc yang isinya sebagai berikut:

Saya sudah (pernah) tanda tangan di (Ponpes) Lirboyo, 1. Tetap akan mempertahankan Ahli Sunnah, 2. Minta maaf kepada ulama atas pendapat saya yang kontroversi, 3. Siap ditegur dan dinasehati oleh para ulama, 4. Akhlakul Karimah, 5. Dekat pada pesantren

Sumber : Muslimedianews.com Via Muslimoderat.com
close
Banner iklan disini