Agar Keluarga Sakinah

Agar Keluarga Sakinah


Assalamu ‘Alaikum WR. WB.

Buya Yahya, kami mau nanya bagaimana cara menjadikan keluarga sakinah?

Wa’alaikum Salam WR. WB.


Untuk mewujudkan keluarga sakinah harus ada ilmu yang dimiliki sang pelaku. Ada kebahagiaan yang disebabkan prilaku dzohir dan ada kebahagiaan yang sebabnya adalah batin. Yang sebabnya prilaku dzohir di antaranya adalah setiap pasangan hendaknya:

1. Siap melaksanakan kewajiban dan tidak banyak menuntut. Sekali anda menuntut itu artinya anda telah mengajari pasangan anda untuk menuntut. Menuntut tidak ada pahala yang ada adalah sabar.
2. Mudah meminta maaf, meminta maaf akan menyuburkan keindahan karna minta maaf adalah pengakuan dari kesalahan sekaligus ikrar untuk tidak mengulangi kesalahan. Bersalah lalu tidak meminta maaf adalah bom waktu bagi pasangan yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi pemberontakan serta dendam yang amat bertentangan dengan keindahan dan kebahagiaan.
Sebab yang sifatnya batin diantaranya adalah :

1. Banyak memohon kepada Allah.
2. Tingkatkan kedekatan kepada Allah.
3. Jadikan pernikahan sebagai sarana tolong menolong dalam berbakti kepada orang tua dan menyambung silaturohmi dengan saudara.

Kelengkapan masalah ini telah telah kami hadirkan dalam bentuk cd durasi 2 jam dengan judul Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga. Wallahu a’lam bisshowab (fb Buya Yahya)
Anti Kasta, Wali Songo Mengajarkan Kesetaraan ( Islam Nusantara 3 )

Anti Kasta, Wali Songo Mengajarkan Kesetaraan ( Islam Nusantara 3 )

Ilustrasi Google.com
WartaIslami.com ~ Jakarta, Jejak Wali Songo di Nusantara, khususnya di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) masih terpatri di benak masyarakat hingga kini. Perubahan yang diajarkannya sudah tentu melahirkan pro-kontra, khususnya dari pihak kerajaan.
Di hadapan para dosen Pascasarjana STAINU, sejarawan NU KH Agus Sunyoto mengemukakan banyak fakta sejarah. Para dosen pun terkaget-kaget dengan temuan Wakil Ketua PP Lesbumi ini.

“Para kawulo oleh Wali Songo diajari untuk menyebut kata ganti diri ingsun, bukan kulo. Padahal waktu itu, ingsun hanya digunakan oleh para raja. Nah, tiba-tiba masyarakat kok menyebut diri mereka ingsun. Aparat marah betul termasuk Sultan Trenggono pun marah dengan konsep itu karena dianggap mengubah (tradisi),” papar Agus.

Yang lebih ekstrem, lanjut Agus, mereka lalu dijatuhi hukuman. Ajaran lainnya, tidak boleh membayar pajak ala Syekh Siti Jenar, juga dilarang kerajaan. Siti Jenar menganggap Islam tidak pernah mengajarkan bayar pajak. Memang, pajak waktu itu sangat berat. Orang miskin pun diwajibkan membayar juga.
“Kalau dia tidak punya rumah dan tidak punya uang, lalu bayarnya dengan apa? Dia tiga empat kali harus bekerja membabat rumput alun-alun keraton. Atau dia menjaga rumahnya pejabat tanpa dibayar, karena itu merupakan gantinya bayar pajak,” tuturnya.
Menurut Agus Sunyoto, konsep tersebut berkembang di daerah pantai utara. Karena pada 1870 saat pemerintah Hindia Belanda memberlakukan UU Agraria mereka mendapati di Yogyakarta dan Surakarta tidak mengenal hak milik.

“Jadi, ternyata tanah itu milik Keraton semua. Orang ndak punya hak milik. Ini menunjukkan perubahan Wali Songo hanya diikuti penduduk pesisir, sementara masyarakat pedalaman masih menggunakan konsep lama,” tandasnya.

Hingga sekarang, lanjut Agus, orang pedalaman masih menyebut dirinya kawulo. Kalau nyebut ingsun justru dianggap tidak tahu tataran atau tatakrama. Sebaliknya di Cirebon, Jawa Barat menggunakan kata ingsun. Begitu juga di Giri, Gresik, Jawa Timur. “Perubahan ini sebelumnya nggak pernah ada. Konsep masyarakat baru ada pada zaman Wali Songo,” tandasnya.

Menurut Agus, Wali Songo konsisten mengawal perubahan sosial terhadap struktur masyarakat kuno yang membagi masyarakat ke dalam tujuh lapis (kasta). Dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. “Itu khas Nusantara, tidak ada duanya di dunia,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib, NU Online)
Geliat Islam Pada Periode Wali Songo ( Islam Nusantara 2 )

Geliat Islam Pada Periode Wali Songo ( Islam Nusantara 2 )




WartaIslami.com ~ Jakarta, Peran Wali Songo di Indonesia (baca: Nusantara) dalam mendakwahkan Islam menjadi objek riset yang menarik. Jika dilacak, Sunan Ampel sekeluarga datang ke Nusantara pada 1440-an atau tujuh tahun setelah akhir kedatangan Laksamana Muhammad Cheng Ho pada 1433. Praktis, diasumsikan Sunan Ampel sejak awal sudah berdakwah.

“Tapi belum terlalu kuat dan luas dakwahnya. Saya menghitung kira-kira dakwah Islam terorganisasi yang disebut Wali Songo terbentuk sekitar tahun 1470-an, yaitu 30 tahun setelah kedatangan Sunan Ampel di Jawa. Saat itu putra-putranya, antara lain, Sunan Bonang dan para santrinya dewasa,” tutur KH Agus Sunyoto di hadapan para dosen Pascasarjana STAINU Jakarta, Selasa.

Sejarawan NU ini didaulat mempresentasikan risetnya pada rapat kurikulum Islam Nusantara yang menghadirkan para dosen dan pemangku kebijakan Pascasarjana STAINU Jakarta. Rapat yang juga dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tersebut digelar di ruang media center lantai 5 gedung PBNU.

“Kalau kita mulai tahun 1470 dimulai dakwah sistematis Wali Songo, maka kita akan melihat hasil dari dakwah itu. Tahun 1513, atau 40-50 tahun setelah dakwah Wali Songo, seorang berkebangsaan Portugis datang ke Jawa. Dia mencatat seluruh Pantai Utara Jawa dikuasai para adipati beragama Islam. Bahkan, di Demak saat itu merupakan pusat Islam,” ungkap Agus Sunyoto.

Rupanya, lanjut Agus, tahun 1513 Raden Patah sudah meninggal. Karena para peneliti itu menyebut di situ rajanya Raja Patiunus, anaknya Raden Patah. Lalu, pada 1522 seorang berkebangsaan Italia, Antonio Gutapeta, datang juga ke Jawa. Dia mencatat bahwa seluruh Jawa muslim.
“Artinya, kalau kita melihat, dakwah Wali Songo dari tahun 1470 sampai 1513 (40 tahunan), bagaimana bisa mengislamkan seluruh tahah Jawa. Itu yang sampai sekarang jadi misteri bagi para sejarawan, termasuk satu peneliti yang menyatakan bahwa dakwah Islam di Jawa itu paling tidak jelas. Kenapa? Karena nggak masuk akal,” ujar Agus Sunyoto disambut senyum simpul para dosen.
Dalam tempo begitu singkat, tambah Agus, Wali Songo mampu mengubah masyarakat dari tidak Islam menjadi pemeluk Islam. Gerakan dakwah apakah yang dilakukan. “Kita kesampingkan aja bagaimana pola dan sistem dakwahnya. Yang jelas, kita menemukan satu fakta bahwa gerakan para wali dalam proses islamisasi ternyata melahirkan satu produk pengetahuan baru. Ini merupakan kelanjutan dari Majapahit,” tuturnya.

Wakil Ketua Lesbumi ini menilai, sebelum dakwah para wali secara terorganisasi Islam tidak bisa dianut masyarakat pribumi karena sejak awal orang-orang di Nusantara tergolong masyarakat yang sudah tinggi ilmu pengetahuan dan teknologinya.

“Kita ambil contoh aja, abad pertama masehi, orang Nusantara sudah mengenal kalender. Kalender Jawa itu sekarang usianya 1948 M. Sementara, kalender hijriyah baru 1436 H. Ada selisih 500 tahun. Memang, teknologinya sudah maju,” cetusnya.

Ketika terjadi islamisasi, lanjut Agus, justru pada saat pengetahuan yang dikembangkan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit jatuh akibat perang berkepanjangan.

“Di situlah generasi Islam era Wali Songo membangun peradaban termasuk ilmu-ilmu pengetahuan baru,” tegasnya.

Manunggaling Kawulo-Gusti

Lebih lanjut Agus Sunyoto memberi contoh misalnya dalam Sosiologi. Masyarakat Majapahit saat itu hanya mengenal dua jenis komunitas yang ada di wilayah. Pertama, golongan Gusti, yaitu masyarakat yang tinggal di keraton. Mayoritas beragama Hindu. Sementara di Sriwijaya beragama Budha.

Kedua, masyarakat di luar keraton yang disebut kawulo, artinya budak. Mayoritas dari mereka beragama Kapitayan, bukan Hindu bukan pula Budha. Kapitayan itu agama Nusantara yang oleh orang Belanda disebut sebagai agama Animisme-Dinamisme.

“Jadi, mereka tidak mengenal dewa-dewi. Sebaliknya, mereka hanya mengenal persembahan ke punden-punden dan pemujaan kepada leluhur. Mereka menjadikan cungkup sebagai tempat ziarah. Ini bedanya dengan Hindu dan Budha. Nah, ziarah itu akar asli Nusantara,” papar Agus.

Pada era Wali Songo, kata Agus, muncul fenomena baru terutama ajaran Syekh Siti Jenar, yakni Manunggaling Kawulo-Gusti. Antara golongan gusti dan kawulo sebenarnya satu. Melalui dukuh-dukuh yang masuk kawasan Lemah Abang dibentuk sebuah komunitas baru bukan lagi bernama kawulo, tapi masyarakat.

“Istilah ini diambil dari kata musyarakah yang berarti orang sederajat yang bekerja sama. Konsep ini ndak ada di Timur Tengah. Ini ndak ada kesukuan, tapi orang kerja sama. Nggak peduli suku apapun, agama apapun, yang penting dia bukan kawulo. Nah, di komunitas ini lalu diperkenalkan istilah baru seperti ‘hak’ dan ‘milik’. Pelan-pelan, bahasa Arab itu pun masuk,” urainya.

Padahal, lanjutnya, kawulo atau budak itu tidak memiliki hak dan milik. Rumah, anak dan istri milik kaum gusti. “Jadi, kalau ada gusti berburu lewat kampung lalu ada wanita cantik, diambil aja. Nggak peduli itu anak atau istri orang. Tapi kalau di Lemah Abang mereka pasti melawan,” ungkapnya. (Musthofa Asrori/Mahbib, NU Online)

800 Tahun, Islam Tidak Diterima Pribumi Secara Massal ( Islam Nusantara 1 )

800 Tahun, Islam Tidak Diterima Pribumi Secara Massal ( Islam Nusantara 1 )


WartaIslami.com ~ Jakarta,Jika menelusuri proses islamisasi di Nusantara, maka kita akan menemukan satu fakta mengejutkan. Pada rentang waktu 800 tahun, Islam tidak bisa diterima pribumi secara massal. Islam hanya dipeluk oleh orang-orang nonpribumi. Yang pribumi hanya satu dua orang saja, jumlahnya tidak banyak.

Hal tersebut disampaikan Sejarawan NU KH Agus Sunyoto di hadapan para dosen STAINU Jakarta saat mempresentasikan temuannya pada rapat kurikulum Pascasarjana Islam Nusantara. Rapat tersebut digelar di ruang media center lantai 5 gedung PBNU, Selasa.

“Kalau kita berpijak pada catatan utusan Dinasti Tang, di Kerajaan Kalingga 674 M sudah ada saudagar dari Timur Tengah yang datang ke Jawa. Setelah itu, tidak pernah ada satu sumber pun yang menyatakan bahwa Islam diterima pribumi secara massal sampai tahun 1292 sebelum ada Kerajaan Majapahit,” ujar Agus mengawali presentasi.

Menurut Agus, Marcopolo ketika pulang dari Tiongkok lewat laut, singgah di Pelabuhan Perlak, Aceh. Marcopolo mencatat penduduk di kota itu, persisnya di sekitar Selat Malaka, Aceh Timur, dihuni oleh sebagian etnis Tionghoa. Semuanya beragama Islam.

“Sementara penduduk setempat masih menyembah pohon, roh, dan batu. Bahkan, sebagian yang tinggal di pedalaman ada yang masih makan manusia. Artinya, Aceh belum Islam waktu itu. Itu kesaksian Marcopolo,” tuturnya.

Seratus tahun kemudian, lanjut Agus, Cheng Ho datang ke Nusantara saat perpindahan dari Dinasti Yuan ke Dinasti Ming. Pada tahun 1405, Cheng Ho mencatat Raja Mahapahit saat itu Wikramawardhana. Dia singgah di pelabuhan Tuban, yaitu pelabuhan besar milik Majapahit. Di situ dia menemukan etnis Tionghoa tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka semuanya muslim.

Lebih lanjut Agus menceritakan, Cheng Ho kemudian singgah di pelabuhan Gresik. Ia pun kaget, ternyata ada 1000 keluarga Tionghoa yang semuanya muslim. Kemudian, di Surabaya juga ada seribuan keluarga Tionghoa beragama Islam.

“Itu terjadi pada 1405 ketika Cheng Ho pertama kali datang ke Nusantara. Dia sendiri bolak-balik ke Jawa hingga tujuh kali. Kunjungan terakhirnya pada 1433. Saat itu, Cheng Ho mengajak juru tulis bernama Ma Huan.

“Dalam catatan Ma Huan, di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa dihuni tiga kelompok masyarakat. Pertama, etnis Tionghoa semua beragama Islam. Lalu, dari Barat, yaitu Arab dan Persia yang juga beragama Islam. Ketiga, pribumi. Masih menurut catatan Ma Huan, semua penduduk pribumi di sepanjang pantai utara Jawa semuanya kafir. Mereka menyembah roh, batu, dan pohon,” paparnya.

Dari fakta itulah, Agus Sunyoto beralasan Islam belum diterima warga pribumi secara massal. “Artinya, dari tahun 674 M sampai 1433, hampir 800 tahun, Islam tidak dianut pribumi,” simpulnya. (Ali Musthofa Asrori/Anam, NU Online)
Berikut Ciri-ciri Kedurhakaan Se­orang Istri Kepada Suaminya

Berikut Ciri-ciri Kedurhakaan Se­orang Istri Kepada Suaminya

Ilustrasi Sumber Google
Ciri-ciri kedurhakaan se­orang istri kepada suaminya amat ba­nyak dan beragam bentuknya. Di antara­nya sebagai berikut: istri yang suka mencaci-maki suami, suka memarahi suami, suka mengangkat suara di depan suami, suka membuat suami jengkel, berwajah cemberut di depan suami, menolak ajakan suami untuk berhu­bung­an intim, membenci keluarga suami, tidak mensyukuri (mengingkari) kebaik­an dan pemberian suami, tidak mau mengurusi rumah tangga suami, membantah/ membangkang perintah suami, keluar rumah tanpa izin suami, selingkuh dengan bentuk apa pun, suka berkeluh kesah dan tidak puas dengan penghasil­an suami.

Menjadi istri shalihah adalah ibadah yang cukup banyak namun tergolong ibadah yang paling besar dalam men­jaring pahala ridha Allah SWT, sekaligus merupakan kewajiban yang paling besar yang harus dilakukan setelah kewajiban terhadap Allah SWT dan kepada Nabi SAW. Sebaliknya, ancaman serta peri­ngatan Nabi SAW terhadap istri yang dur­haka kepada suaminya sangat ba­nyak, di antaranya:
“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas ke­baikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya.” [HR An-Nasa’i dalam Al-Kubra (9135 & 9136), Al-Bazzar da­lam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2771)]
“Telah diperlihatkan neraka kepada­ku, kulihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan, mereka telah kufur (ingkar)!”

Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, ‘Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu’.” 
[HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya (29), dan Muslim dalam Shahih-nya (907)].

“Aku mendatangi Rasulullah SAW untuk suatu keperluan.
Beliau bertanya, ‘Siapakah ini? Apakah sudah bersuami?’
‘Sudah,’ jawabku.
‘Bagaimana hubunganmu dengan­nya?’ tanya Rasulullah SAW.
‘Aku selalu mentaatinya sebatas kemampuanku.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Perhati­kanlah selalu bagaimana hubunganmu de­nganya, sebab suamimu adalah sur­gamu, dan nerakamu’.”
[HR An-Nasa’i dalam Al-Kubra (8963), Ahmad dalam Al-Musnad (4/341/no. 19025), dan lainnya]

“Sekiranya aku memerintahkan se­seorang untuk sujud kepada lainnya, nis­caya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.”
[HR At-Tirmidzi dalam As-Sunan (1159), dan lainnya].

“Ada dua orang yang shalatnya tidak melampaui kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai ia kembali, dan perempuan yang durhaka kepada sua­mi­nya sampai ia mau rujuk (taubat).”
[HR Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghir (478), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7330)].

“Ada tiga orang yang shalatnya tidak melampaui telinganya: hamba yang lari sampai ia mau kembali, perempuan yang bermalam sedang suaminya ma­rah kepadanya, dan seorang pemimpin kaum sedang mereka benci kepadanya.”
[HR At-Tirmidzi (360)].

“Jika seorang suami mengajak istri­nya ke tempat tidur lalu sang istri eng­gan, dan suami bermalam dalam keada­an marah kepadanya, para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi.”
[HR Al-Bukhari kitab Bad’ al-Khalq (3237), dan Muslim kitab An-Nikah (1436)].

“Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, seorang istri tak akan memenuhi hak Rabb-nya sampai ia mau memenuhi hak suaminya. Walaupun sua­minya meminta dirinya (untuk ber­jima’) sedang ia berada dalam sekedup, ia (istri) tak boleh menghalanginya.”
[HR Ibnu Majah dalam kitab An-Nikah (1853)].

Semoga apa yang telah saya tulis­kan di sini dari peringatan-peringatan yang disampaikan dalam hadits-hadits Nabi SAW di atas menjadi sebab para istri di zaman ini berubah arah persen­tasenya, sehingga 85% istri itu menjadi istri-istri yang shalihah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh : Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.
(Fiqhun-Nissa’/majalah-alkisah.com/fiqihmikah.com)

Tentang Mengqadha Shalat Yang Terlewatkan Karena Haid

Tentang Mengqadha Shalat Yang Terlewatkan Karena Haid

Ilustrasi Sumber google.com
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz, perkenalkan, saya Hurriyah, yang saat ini baru masuk di bangku se­kolah menengah atas. Setahu saya, se­tiap muslimah yang kedapatan haidh ti­dak terbebani kewajiban mengqadha sha­latnya. Tapi salah seorang kawan saya, yang saya ketahui dia itu rajin mengaji, saat berbincang-bincang ringan di sekolah mengatakan bahwa adakala­nya seseorang setelah suci dari haidh­nya ia harus mengqadha shalat.

Ustadz, benarkah yang dikatakan ka­wan saya itu? Mohon penjelasannya ya, Ustadz. Karena, terus terang, saya sung­guh tak ingin ada satu pun kewajiban shalat saya yang tak saya penuhi.

Wa ‘alaikumussalam wr. wb.

Memang benar yang disampaikan kawan Anda. Namun sebenarnya apa yang diqadha itu adalah shalat-shalat yang kewajibannya sudah terbebani ke Anda ketika Anda tidak sedang meng­alami haidh, baik sesaat sebelum haidh maupun sesaat setelah haidh.

Sedangkan kita semua mengetahui bahwa termasuk dalam hal-hal yang diharamkan pada wanita haidh adalah menunaikan ibadah shalat. Kadangkala haidh itu datang di waktu shalat sebelum dia menunaikan ibadah shalat tersebut, maka, nanti jika ia telah suci, wajib bagi­nya mengqadha shalat tersebut.

Begitu pula jika berhentinya haidh sebelum keluarnya waktu shalat, maka wajib atasnya cepat-cepat bersuci lalu menunaikan shalat tersebut dan shalat sebelumnya jika bisa dijama’, seperti shalat Zhuhur dan Ashar.

Lebih jelasnya : Permasalahan Datang Dan Hilangnya Mani’
Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh : Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.
( Fiqhun-Nissa’/majalah-alkisah.com/fiqihnikah.net )
Permasalahan Datang Dan Hilangnya Mani’

Permasalahan Datang Dan Hilangnya Mani’

Datangnya Mani’

Masalah datangnya mani’ yaitu sese­orang yang ketika masuk waktu shalat ia termasuk orang-orang yang wajib melaksanakan shalat tersebut (karena tidak ada mani’ pada dirinya), lalu datang satu mani’ padanya, seperti haidh, gila, dan lain-lain, sebelum ia menunaikan shalat tersebut.

Adapun hukum kondisi tersebut ada­lah jika datangnya mani’ tersebut setelah waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat fardhu di waktu itu, seperti lima menit atau lebih, maka wajib atasnya jika sudah terlepas dari mani’ tersebut meng­qadha shalatnya.

Misalnya, seorang wanita datang haidh­nya pukul 12.30 siang, berarti sete­lah masuk shalat Zhuhur sekitar sete­ngah jam, sudah pasti waktu itu cukup untuk melaksanakan shalat Zhuhur, bah­kan lebih, maka nanti jika ia suci wajib atasnya mengqadha shalat Zhuhur ter­sebut.

Adapun yang dimaksud dengan mani’ adalah enam perkara berikut ini: haidh, nifas, gila, pingsan, masa kanak-kanak (sebelum baligh), dan kekafiran.

Hilangnya Mani’

Masalah hilangnya mani’, yaitu sese­orang yang ketika waktu shalat tidak wa­jib atasnya melaksanakan ibadah shalat tersebut, dikarenakan pada dirinya ada mani’. Lalu sebelum keluar waktu shalat tersebut, ia terlepas dari mani’ itu (misal­nya suci dari haidhnya atau sadar dari gilanya). Hukumnya adalah, apabila misal­nya tersisa dari waktu shalat ter­sebut kadar waktu membaca takbiratul ihram atau lebih, wajib baginya menunai­kan shalat tersebut ada’an (shalat pada waktunya) jika masih ada waktu, atau qadha’an (shalat setelah keluar waktu­nya) jika sudah keluar waktu shalat ter­sebut.
Begitu pula wajib mengqadha shalat jika bisa diqadha. Misalnya seseorang suci dari haidh jam lima sore, berarti masih tersisa waktu ashar ada’an dan mengqadha shalat Zhuhur-nya, karena shalat Zhuhur bisa dijama’ dengan shalat Ashar.

Lebih jelasnya perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Sebelum keluarnya waktu shalat Zhuhur satu menit atau lebih ia suci, maka wajib ia mengqadha shalat Zhuhur saja dan tidak wajib meng­qadha shalat Subuh, karena shalat Subuh tidak bisa dijama’ dengan shalat Zhuhur.

Sebelum keluarnya waktu shalat Ashar satu menit atau lebih ia suci dari haidhnya, maka wajib atasnya mengqadha shalat Ashar dan shalat Zhuhur, karena shalat Zhuhur bisa dijama’ dengan shalat Ashar.

Sebelum keluarnya shalat Maghrib satu menit atau lebih ia telah suci dari haidhnya, maka wajib ia mengqadha shalat Maghrib saja dan ia tidak wajib mengqadha shalat Ashar-nya, kare­na shalat Ashar tidak bisa dijama’ dengan shalat Maghrib.

Sebelum keluarnya shalat Isya satu menit atau lebih ia telah suci dari haidh­nya, maka ia wajib mengqadha shalat Isya dan shalat Maghrib, ka­rena shalat Maghrib bisa dijama’ dengan shalat Isya.
Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh : Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.

(Fiqhun-Nissa’/majalah-alkisah.com/Fiqihnikah.net)
Berikut Ciri-Ciri Istri Yang Shalihah

Berikut Ciri-Ciri Istri Yang Shalihah

Tanya Jawab oleh Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pak Ustadz, perkenalkan, saya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Bekasi dan kini sudah dikaruniai dua anak laki-laki. Alhamdulillah, selama ini saya cukup rajin mengikuti majlis-majlis ta’lim di sekitar rumah saya, dan ka­renanya, alhamdulillah, saya jadi banyak mengerti ihwal agama Islam.

Akan tetapi, Pak Ustadz, karena basic saya bukan seorang santri, terkadang saat mendapat keterangan dan penjelasan para ustadz, masih banyak yang saya kurang mengerti atau kurang dapat saya terima. Di antaranya adalah yang saya dengar suatu ketika dari ceramah seorang ustadz bahwa istri-istri yang ada sekarang ini bila diukur dengan kriteria yang dijelaskan oleh Nabi SAW, bisa dikatakan 85% di antara mereka telah durhaka kepada suami.

Pak Ustadz, benarkah penjelasan itu? Dan tolong jelaskan pula seharus­nya para istri sekarang ini harus bagai­mana dan apa yang bertolak belakang dengan sifat-sifat serta kriteria yang Nabi SAW sebutkan?

Atas jawaban Ustadz, kami ucapkan banyak terima kasih. Semoga Allah SWT merahmati Pak Ustadz sekeluarga. Amin.

Wa ‘alaikumussalam wr. wb.

Semoga Allah SWT juga merahmati Anda sekeluarga. Amin ya Rabbal ‘alamin. Memang benar apa yang disampaikan Pak Ustadz itu bahwa pada zaman sekarang ini kebanyakan istri terhitung durhaka kepada suaminya, yaitu jika dilihat dengan kriteria istri shalihah dalam pandangan Nabi SAW. Adapun masalah kebenaran persentase yang disebutkan, saya tidak mengetahui secara pasti, namun boleh jadi benar. Yang jelas, angka itu menggambarkan betapa di zaman sekarang ini kebanyak­an istri memiliki sifat-sifat tercela ter­hadap suami di dalam rumah tangga mereka.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata:

Pernah ditanyakan kepada Rasulul­lah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Siapa­kah wanita yang paling baik?”
Jawab beliau, “Yaitu yang paling me­nyenangkan jika dilihat suaminya, men­taati suami jika diperintah, dan tidak me­nyelisihi suami pada diri dan hartanya se­hingga membuat suami membenci­nya.” (HR An-Nasa’i No. 3231 dan Ahmad 2/251).
Mari kita renungkan kriteria istri shalihah yang telah disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadits tersebut:

1. Wanita yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya. Artinya, ia akan selalu berusaha untuk terlihat cantik dengan bersolek untuknya, selalu men­jaga sikap dan perangainya se­hingga hal itu selalu menghibur suami­nya, berusaha bersikap manja dan menggairahkan pada saat ter­tentu, sehingga hal itu akan menye­nangkan suaminya. Itulah di antara yang dimaksudkan Nabi SAW dalam hadisnya.

Tetapi kenyataan yang ada saat ini banyak yang bertolak belakang de­ngan hal itu. Kebanyakan istri merias diri atau bersolek ketika mereka akan keluar rumah, apalagi ketika akan menghadiri suatu undangan, pesta, atau arisan, sementara pe­nampilannya di depan suaminya bia­sa saja tanpa dandan dan bersolek. Perlu diketahui pula, dalam Islam para suami diwajibkan untuk mem­belikan alat-alat kecantikan untuk is­trinya, seperti pemerah bibir, parfum, dan yang lainnya, dan itu adalah untuk suaminya, dan diharamkan jika digunakan untuk keluar rumah.

Banyak pula para istri sekarang kalau dengan orang lain baik akhlaq­nya, baik tutur katanya, selalu meng­hiasi wajahnya dengan senyuman ceria, akan tetapi jika di hadapan suaminya seakan hal itu adalah se­suatu yang tidak pantas dilakukan.

Banyak di antara para istri sekarang ini bukannya bersifat manja dan meng­gairahkan untuk suaminya akan tetapi menghadapi suami de­ngan cemberut wajah, berbicara ka­sar dan menyakitkan, serta meng­hina dan merendahkannya.

2. Wanita yang selalu mentaati suami­nya jika diperintah (asalkan bukan dalam kemaksiatan). Mari kita belajar ketaatan kepada para istri sahabat Nabi SAW, karena mereka adalah anak didik Nabi SAW.
Pernah salah satu sahabat Nabi SAW, ketika akan melakukan beper­gian, berpesan kepada istrinya agar menetap di rumahnya hingga ia kem­bali, hingga suatu waktu datanglah saudaranya memberitahukannya bahwa ayahnya dalam keadaan sakit keras, maka dimintanya untuk men­jenguknya, akan tetapi ditolaknya, mengingat pesan suaminya.

Kemudian datanglah saudaranya tersebut untuk kedua kalinya yang memberi kabar bahwa ayahnya se­karang dalam keadaan kritis dan memintanya untuk melihatnya, akan tetapi lagi-lagi lagi ditolaknya dan ia pun hanya bisa menangis mende­ngar kabar tentang kondisi ayahnya (padahal menurut sebagian riwayat rumah ayahnya tersebut berada di atas rumahnya), akan tetapi ia tidak mendatanginya karena mengingat pesan suaminya.

Kemudian datanglah saudaranya tersebut untuk ketiga kalinya dan memberitahunya bahwa ayahnya telah meninggal dunia, sahabat wanita tersebut hanya menangis dan tidak mendatanginya karena meng­ingat pesan suaminya.

Tatkala suaminya datang, kejadian itu dilaporkan kepada Mabi SAW.

Subhanallah, tahukah apa jawaban Nabi SAW? Nabi SAW bersabda, “Ayahnya sekarang berada di surga tertinggi dan diampuni atas semua dosanya dikarenakan putrinya yang mentaati perintah suaminya, menjadi istri yang shalihah.”

Namun lihatlah fenomena yang ter­jadi sekarang. Bukannya para istri mentaati suaminya, tapi justru ba­nyak yang suka memerintah suami­nya, layaknya sebagai pembantu atau bawahannya. Enggan dan acuh tak acuh serta tidak menghargai suaminya.

3. Wanita yang tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya se­hingga membuat suami benci ke­padanya. Saat ini, yang banyak terjadi adalah bukannya seorang istri meng­orbankan hartanya untuk sua­minya dan melawan ke­senangan dirinya demi kese­nangan suami, tapi justru yang ada para istri memeras harta suaminya, bahkan mem­pro­teksinya supaya ia dapat mendikte pengeluaran suami, dan tidak dapat mem­berikan hartanya kepada siapa pun yang dikehendaki­nya.
Sekarang mari kita bercermin dari seorang wanita shalihah yang tidak ada duanya di tengah umat ini, satu-satunya wanita yang mendapatkan salam lang­sung dari Allah SWT, satu-satunya ham­ba Allah SWT yang akan mendapatkan surga khusus yang tak akan didapatkan siapa pun dari penghuni surga nanti. Dialah Sayyidatuna Khadijah RA, istri Nabi SAW yang sangat beliau cintai.

Sayyidah Khadijah pada mulanya ada­lah seorang wanita karier yang suk­ses hingga dikatakan bahwa ia memiliki 11 tempat usaha. Ia adalah wanita yang sangat cantik, walaupun umurnya sudah 40 tahun, masih dapat memikat Nabi SAW, yang dikenal sangat tampan dan rupawan. Ia adalah seorang wanita dari kalangan bangsawan qabilah Qu­raisy akan tetapi semua sifat itu tidak mencegahnya untuk mengatakan ke­pada Nabi SAW pertama kali bertemu dengannya setelah perkawinannya di­langsungkan, ”Wahai Muhammad, kini engkau adalah suamiku, dan mulai seka­rang semua hartaku adalah hartamu dan rumahku ini adalah rumahmu, sedang­kan diriku ini adalah hamba sahayamu.”

Adakah di antara para istri sekarang ini yang mau untuk mengatakan seperti perkataan itu, sekaligus membuktikan­nya dalam kehidupannya sehari-hari se­bagaimana hal itu dilakukan Sayyidatuna Khadijah RA?

Inilah pertanyaan yang harus men­jadi bahan renungan para istri zaman ini jika mereka berharap diri mereka dapat ter­hitung sebagai istri yang shalihah un­tuk suaminya.

Wallahu a’lam bish shawab.
(Fiqhun-Nissa’/majalah-alkisah.com/fiqihnikah.net)
Ketika Manusia Berharap Syafa’at dari Para Nabi

Ketika Manusia Berharap Syafa’at dari Para Nabi

Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Imam Abi Laits as-Samarqandi, dikisahkan pada Hari Kiamat nanti, sekelompok manusia ada yang merasa sangat kesusahan dengan keadaan yang dialaminya.

Mereka kemudian mendatangi Nabi Adam a.s. berharap sang “Abal Basyar” dapat memberikan pertolongan. “Isyfa’ lana (syafa’atilah kami)!” teriak mereka.

Namun, sayangnya jawaban yang keluar tidak sesuai harapan mereka, “Aku tidak berani menempati maqam memberikan syafa’at kepada kalian! Aku pernah dikeluarkan dari Surga, sebab kesalahanku,” ungkap Nabi Adam a.s.

“Pada hari ini, tidak ada hal yang lebih menyusahkan dibanding diriku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi Ibrahim!”

Kemudian mereka beralih, menuju kepada Nabi Ibrahim a.s, sang Khalilullah (kekasih Allah). Jawaban serupa didapatkan mereka setelah menemui Nabi Ibrahim a.s.

“Aku tidak berani. Aku pernah berbohong tiga kali!*

“Pergilah engkau kepada Nabi Musa!”

Kepada Nabi Musa, mereka kembali menitipkan harapan. “Mintakan kami syafa’at dari Allah, agar Allah segera memberikan keputusan kepada kami,” pinta mereka.

Namun, kembali kekecewaan yang mereka dapatkan. “Sewaktu di dunia, aku pernah membunuh seseorang. Maka, pada hari ini, tidak ada hal yang paling kupikirkan dibanding diriku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi Isa!”

Untuk ke sekian kali, mereka belum jua mendapat jawaban. Tibalah kepada Nabi Isa a.s.

“Wahai, Isa! Sudikah anda memintakan syafa’at untuk kami?”

“Aku dan ibuku dijadikan sesembahan, dianggap sebagai Tuhan selain Allah. Maka, pada hari ini, tidak ada hal yang paling kupikirkan, dibanding diriku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi Muhammad, sang penutup para nabi!”

Kemudian mereka mendatangi Nabi Muhammad saw. untuk meminta syafa’at.

“Na’am, ana laha! Akulah yang memiliki hak untuk memberikan syafa’at, sehingga Allah memberikan izin dan ridha kepada orang yang kuberikan syafa’at,” jawab Rasulullah saw.

Maka, kepada siapa lagi kita menggantungkan harapan untuk mendapat syafa’at di Hari Akhir nanti? Sudah semestinya pula, kita berharap untuk mendapatkan syafa’at dari al-musthofa, sembari mendendangkan syair pujian untuk beliau: Isyfa’ lana/ Ya habibana/ Laka syafa’at/ wa hadza mathlabi/ Ya Nabi//. (Ajie Najmuddin, NU Online)

*Nabi Ibrahim pernah ‘berbohong’ tiga kali : 1. Ketika diajak untuk pergi ke kuil, kemudian ia berbohong bisa sakit kalau berangkat ke kuil. 2. Usai menghancurkan berhala, kemudian ditanya raja Namrud, siapa yang menghacurkan berhala, dijawab : yang menjawab berhala adalah berhala yang laing besar. 3. Ketika ditanya raja Namrud, perihal istrinya, dijawab : ini saudara perempuan saya.

Inilah Orang Marah Yang Dicintai Allah

Inilah Orang Marah Yang Dicintai Allah

Ilustrasi Sumber Google
Suatu hari seorang kaya raya memanggil budaknya. Ia membutuhkan sesuatu. Perutnya berbunyi. Alarm di mana tubuh si orang kaya ini membutuhkan pasokan logistik. Mulutnya bau. Ia lapar. Karna lapar juga menyerang orang kaya. Kekayaannya terikat (muqayyad). Tiada kekayaan absolut (mutlaq). Artinya, orang kaya maupun orang miskin, pejabat maupun jelata, sama-sama faqir.

Memahami perintah sang tuan, si budak membawakan makanan dalam sebuah nampan lebar. Tanpa pikir panjang, ia jalani kewajiban sebagaimana biasanya. Tetapi hari itu yang tanpa mendung apalagi hujan, mengubah nasibnya.

Di tengah membawa nampan lebar itu, kakinya menabrak bibir permadani tebal. Ia tersandung. Ia jatuh bersama nampan di tangannya. Sajian berupa aneka makanan lezat di atas nampan, berhamburan. Dentuman nampan logam mulia, berdebam datar di atas permadani mewah dan tebal.

Sementara wajah sang tuan merah. Geram. Ia jengkel bukan kepalang. Mengetahui tuannya mendongkol, sang pelayan berdiri tegap setelah membenahi hamburan isi nampan. Lalu terjadilah dialog sebagai berikut.

“Tuanku paduka yang mulia, dengan segenap hormat hamba harap paduka berpegang pada firman Allah SWT,” kata sang budak sedikit gugup memulai permohonan maaf.

Tuannya berkata dengan suara tinggi, “Apa yang pernah Allah firmankan?”

“Dia pernah berfirman...” lalu ia membaca pecahan ayat 134 Surat Ali Imron yang menerangkan sifat orang yang bertakwa. “والكاظمين الغيظ ” artinya (orang bertakwa ialah ... dan mereka yang menahan amarah).

“Baik, aku tahan marahku,” jawab sang tuan dengan warna wajah kembali normal. Suara masih tinggi.

“Tuanku, Allah juga berfirman, (dan mereka yang memaafkan kesalahan orang lain) والعافين عن الناس”.

“Oke, kumaafkan kesalahanmu,” tanggap sang tuan dengan suara dingin.

“Terima kasih paduka, (Allah mencinta mereka yang berbuat baik) والله يحب المحسنين”, tutup sang budak masih gugup.

Semua firman yang dibacanya merupakan kepingan-kepingan ayat 134 pada surat Ali Imron. Setelah itu, dengan wajah semringah sang tuan memerdekakan budaknya. Ia pun membekali budaknya dengan uang sebanyak 1000 dinar.

Dengan menahan marah dan memaafkan kesalahan budaknya dalam bekerja, sang majikan berhak meraih hangatnya cinta dari Allah SWT. Demikian uraian Syekh Ahmad bin Syekh Hijazi dalam Al-Majalisus Saniyah perihal wasiat Rasulullah SAW berkali-kali kepada seorang sahabat, “La taghdhob!” (jangan marah). Wallahu A’lam. (Alhafiz K, Nu Online)
Bau Busuk di Makam Sang Penegak Hukum

Bau Busuk di Makam Sang Penegak Hukum

Ilustrasi Sumber : google
Dalam kitab Nashâihul ‘Ibâd, Syaikh Nawawi al-Bantani mengungkap kisah seorang pencuri kain kafan dan seorang hakim dalam sebuah negara. Drama keduanya bermula ketika hakim yang dikenal sangat saleh itu merasakan detik-detik akhir usianya.

Sang hakim gundah, terutama soal nasibnya nanti selepas prosesi pemakaman dirinya: akankah kain kafannya selamat dari tindak pencurian sebagaimana banyak kasus yang menimpa tetangganya saat itu? Ia tahu siapa yang biasa melakukannya. Maka dipangillah tukang nyolong kain mayat tersebut.

“Aku telah menyiapkan sejumlah uang seharga kain kafanku. Ambilah, tapi tolong jangan koyak kuburanku.” Si pencuri kain kafan mendengarkan dengan baik pesan sang hakim. Ia menyanggupi permintaannya.

Si pencuri ternyata tak sungguh-sungguh memegang janjinya setelah hakim itu meninggal dunia. Di benaknya terlintas godaan mencuri kain kafan sang hakim. Istrinya sempat meredam niat buruknya ini, tapi gagal. Proses penggalian kubur pun berlangsung. Dalam aksi nekatnya inilah tukang curi kain kafan mendapatkan pengalaman ajaib.

Telinganya seperti mendengar suara dua malaikat. Ia seolah dibimbing merekam peristiwa yang tak lazim dapat ditangkap indra itu.

“Ciumlah bau kakinya (hakim),” ujar malaikat satu kepada yang lain.

“Tidak ada yang aneh. Dia tidak menggunakan kedua kakinya untuk maksiat.”

Penciuman terus berlanjut pada kedua tangan dan mata. Hasilnya sama. Tak ditemukan kejanggalan karena si hakim mampu menjaga tangan dan penglihatannya dari perbuatan haram. Malaikat lalu mulai memeriksa kedua telinga si hakim. Satu telinga masih luput dari masalah, tapi tidak untuk telinga bagian lain.

“Apa yang kau temukan?” tanya mailakat satu kepada yang lain.

“Sebuah bau busuk.”

“Kau tahu bau apa ini? Ini bau perbuatan si hakim yang cenderung mendengarkan satu pihak ketimbang yang lain dalam penyelesaian kasus sengketa dua pihak. Tiup!”

Begitu tiupan diembuskan, api tiba-tiba memenuhi kuburan. Dan sejak peristiwa itulah pencuri kain kafan mengalami kebutaan.

Syaikh Nawawi tak mencantumkan riwayat secara rinci perihal kisah dramatis ini. Beliau hanya menyebutnya berasal dari cerita sebagian ulama terdahulu. Syaikh Nawawi mengulasnya ketika menjelaskan balasan kehidupan setelah mati.

Cerita di atas setidaknya berpesan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh sikap tidak adil dalam penegakan hukum tak hanya menimpa pada orang lain tapi juga diri sendiri. Citra positif di mata orang lain sebagai orang saleh tak akan mampu mengapus risiko dan tanggung jawab akibat kebusukan perilaku yang disembunyikan. Bukankah pengadilan sebenarnya justru terjadi setelah kehidupan di dunia ini? (Mahbib, NU Online)
Inilah Yang Membuat Orang Tidak Terkalahkan

Inilah Yang Membuat Orang Tidak Terkalahkan


Seorang bijak bestari suatu kali memanggil anak-anaknya. Pada saat mendekati ajalnya itu ia seperti hendak memberi pesan bermakna kepada mereka untuk yang terakhir kalinya. Ayah yang bijaksana ini memulai nasihatnya dengan sebuah perintah mengumpulkan sejumlah tongkat.

“Patahkan tongkat-tongkat ini!” Pintanya kepada putra-putranya setelah beberapa tongkat kayu berukuran mungil tersebut terkumpul.

Tak satu pun dari mereka yang berhasil mematahkan tongkat yang terbendel menjadi satu itu. Sang ayah lalu membagi tongkat itu satu per satu kepada masing-masing anaknya. Begitu perintah serupa dilonntarkan, kayu-kayu itu pun dengan ringan bisa dipatahkan.

“Seperti itulah kalian nanti sepeninggal Ayah. Kalian tak terkalahkan sepanjang bersatu. Namun bila kalian tercerai-berai, musuh akan menggoyahkan kalian.”

Sang ayah bijak tersebut melanjutkan bahwa perjuangan menegakkan agama atau peradaban juga semacam itu. Usaha mulia tersebut akan keropos kala para pejuangnya terpecah-pecah. Musuh tak akan sanggup mencengkeram mereka manakala persatuan menjadi bentengnya.

“Begitu pula manusia dalam jiwanya. Apabila seluruh kekuatan diri bersepakat menegakkan agama Allah, setan dari jenis jin dan manusia tidak akan mampu menggodamu lantaran pertolongan iman dan kemampuan mengendalikan diri.”

Demikian Syaikh Nawawi al-Bantani bercerita dalam kitab al-Futûhât al-Madaniyyah fisy Syu’abil Îmâniyyah ketika menyinggung salah satu cabang iman, yakni tentang persatuan. Penjelasan ini membawa kita pada ingatan sejarah perjuangan ulama dan pahlawan lainnya melawan kaum penjajah di negari ini.

Sebagaimana ajaran Syaikh Nawawi tentang persatuan, ulama saat itu rela berkorban segalanya untuk kemerdekaan dalam semangat keimanan. Jargon “hubbul wathan minal iman (cinta Tanah Air bagian dari iman)” menggema di mana-mana. Nafas kebebasan yang kita raih saat ini menjadi bukti bahwa persatuan menjadi pagar kuat bagi serangan luar, dan membuahkan kondisi yang dicita-citakan.

Syaikh Nawawi mengurai cabang iman (syu’abul îmân) hingga tujuh puluh tujuh. Selain rukun iman, di antara ke-77 cabang tersebut adalah berdamai dengan sesama manusia, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri, dan mencegah kemungkaran dengan cara-cara bijaksana. (Mahbib, NU Online)
close
Banner iklan disini