Berikut Ciri-Ciri Istri Yang Shalihah

Tanya Jawab oleh Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pak Ustadz, perkenalkan, saya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Bekasi dan kini sudah dikaruniai dua anak laki-laki. Alhamdulillah, selama ini saya cukup rajin mengikuti majlis-majlis ta’lim di sekitar rumah saya, dan ka­renanya, alhamdulillah, saya jadi banyak mengerti ihwal agama Islam.

Akan tetapi, Pak Ustadz, karena basic saya bukan seorang santri, terkadang saat mendapat keterangan dan penjelasan para ustadz, masih banyak yang saya kurang mengerti atau kurang dapat saya terima. Di antaranya adalah yang saya dengar suatu ketika dari ceramah seorang ustadz bahwa istri-istri yang ada sekarang ini bila diukur dengan kriteria yang dijelaskan oleh Nabi SAW, bisa dikatakan 85% di antara mereka telah durhaka kepada suami.

Pak Ustadz, benarkah penjelasan itu? Dan tolong jelaskan pula seharus­nya para istri sekarang ini harus bagai­mana dan apa yang bertolak belakang dengan sifat-sifat serta kriteria yang Nabi SAW sebutkan?

Atas jawaban Ustadz, kami ucapkan banyak terima kasih. Semoga Allah SWT merahmati Pak Ustadz sekeluarga. Amin.

Wa ‘alaikumussalam wr. wb.

Semoga Allah SWT juga merahmati Anda sekeluarga. Amin ya Rabbal ‘alamin. Memang benar apa yang disampaikan Pak Ustadz itu bahwa pada zaman sekarang ini kebanyakan istri terhitung durhaka kepada suaminya, yaitu jika dilihat dengan kriteria istri shalihah dalam pandangan Nabi SAW. Adapun masalah kebenaran persentase yang disebutkan, saya tidak mengetahui secara pasti, namun boleh jadi benar. Yang jelas, angka itu menggambarkan betapa di zaman sekarang ini kebanyak­an istri memiliki sifat-sifat tercela ter­hadap suami di dalam rumah tangga mereka.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata:

Pernah ditanyakan kepada Rasulul­lah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Siapa­kah wanita yang paling baik?”
Jawab beliau, “Yaitu yang paling me­nyenangkan jika dilihat suaminya, men­taati suami jika diperintah, dan tidak me­nyelisihi suami pada diri dan hartanya se­hingga membuat suami membenci­nya.” (HR An-Nasa’i No. 3231 dan Ahmad 2/251).
Mari kita renungkan kriteria istri shalihah yang telah disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadits tersebut:

1. Wanita yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya. Artinya, ia akan selalu berusaha untuk terlihat cantik dengan bersolek untuknya, selalu men­jaga sikap dan perangainya se­hingga hal itu selalu menghibur suami­nya, berusaha bersikap manja dan menggairahkan pada saat ter­tentu, sehingga hal itu akan menye­nangkan suaminya. Itulah di antara yang dimaksudkan Nabi SAW dalam hadisnya.

Tetapi kenyataan yang ada saat ini banyak yang bertolak belakang de­ngan hal itu. Kebanyakan istri merias diri atau bersolek ketika mereka akan keluar rumah, apalagi ketika akan menghadiri suatu undangan, pesta, atau arisan, sementara pe­nampilannya di depan suaminya bia­sa saja tanpa dandan dan bersolek. Perlu diketahui pula, dalam Islam para suami diwajibkan untuk mem­belikan alat-alat kecantikan untuk is­trinya, seperti pemerah bibir, parfum, dan yang lainnya, dan itu adalah untuk suaminya, dan diharamkan jika digunakan untuk keluar rumah.

Banyak pula para istri sekarang kalau dengan orang lain baik akhlaq­nya, baik tutur katanya, selalu meng­hiasi wajahnya dengan senyuman ceria, akan tetapi jika di hadapan suaminya seakan hal itu adalah se­suatu yang tidak pantas dilakukan.

Banyak di antara para istri sekarang ini bukannya bersifat manja dan meng­gairahkan untuk suaminya akan tetapi menghadapi suami de­ngan cemberut wajah, berbicara ka­sar dan menyakitkan, serta meng­hina dan merendahkannya.

2. Wanita yang selalu mentaati suami­nya jika diperintah (asalkan bukan dalam kemaksiatan). Mari kita belajar ketaatan kepada para istri sahabat Nabi SAW, karena mereka adalah anak didik Nabi SAW.
Pernah salah satu sahabat Nabi SAW, ketika akan melakukan beper­gian, berpesan kepada istrinya agar menetap di rumahnya hingga ia kem­bali, hingga suatu waktu datanglah saudaranya memberitahukannya bahwa ayahnya dalam keadaan sakit keras, maka dimintanya untuk men­jenguknya, akan tetapi ditolaknya, mengingat pesan suaminya.

Kemudian datanglah saudaranya tersebut untuk kedua kalinya yang memberi kabar bahwa ayahnya se­karang dalam keadaan kritis dan memintanya untuk melihatnya, akan tetapi lagi-lagi lagi ditolaknya dan ia pun hanya bisa menangis mende­ngar kabar tentang kondisi ayahnya (padahal menurut sebagian riwayat rumah ayahnya tersebut berada di atas rumahnya), akan tetapi ia tidak mendatanginya karena mengingat pesan suaminya.

Kemudian datanglah saudaranya tersebut untuk ketiga kalinya dan memberitahunya bahwa ayahnya telah meninggal dunia, sahabat wanita tersebut hanya menangis dan tidak mendatanginya karena meng­ingat pesan suaminya.

Tatkala suaminya datang, kejadian itu dilaporkan kepada Mabi SAW.

Subhanallah, tahukah apa jawaban Nabi SAW? Nabi SAW bersabda, “Ayahnya sekarang berada di surga tertinggi dan diampuni atas semua dosanya dikarenakan putrinya yang mentaati perintah suaminya, menjadi istri yang shalihah.”

Namun lihatlah fenomena yang ter­jadi sekarang. Bukannya para istri mentaati suaminya, tapi justru ba­nyak yang suka memerintah suami­nya, layaknya sebagai pembantu atau bawahannya. Enggan dan acuh tak acuh serta tidak menghargai suaminya.

3. Wanita yang tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya se­hingga membuat suami benci ke­padanya. Saat ini, yang banyak terjadi adalah bukannya seorang istri meng­orbankan hartanya untuk sua­minya dan melawan ke­senangan dirinya demi kese­nangan suami, tapi justru yang ada para istri memeras harta suaminya, bahkan mem­pro­teksinya supaya ia dapat mendikte pengeluaran suami, dan tidak dapat mem­berikan hartanya kepada siapa pun yang dikehendaki­nya.
Sekarang mari kita bercermin dari seorang wanita shalihah yang tidak ada duanya di tengah umat ini, satu-satunya wanita yang mendapatkan salam lang­sung dari Allah SWT, satu-satunya ham­ba Allah SWT yang akan mendapatkan surga khusus yang tak akan didapatkan siapa pun dari penghuni surga nanti. Dialah Sayyidatuna Khadijah RA, istri Nabi SAW yang sangat beliau cintai.

Sayyidah Khadijah pada mulanya ada­lah seorang wanita karier yang suk­ses hingga dikatakan bahwa ia memiliki 11 tempat usaha. Ia adalah wanita yang sangat cantik, walaupun umurnya sudah 40 tahun, masih dapat memikat Nabi SAW, yang dikenal sangat tampan dan rupawan. Ia adalah seorang wanita dari kalangan bangsawan qabilah Qu­raisy akan tetapi semua sifat itu tidak mencegahnya untuk mengatakan ke­pada Nabi SAW pertama kali bertemu dengannya setelah perkawinannya di­langsungkan, ”Wahai Muhammad, kini engkau adalah suamiku, dan mulai seka­rang semua hartaku adalah hartamu dan rumahku ini adalah rumahmu, sedang­kan diriku ini adalah hamba sahayamu.”

Adakah di antara para istri sekarang ini yang mau untuk mengatakan seperti perkataan itu, sekaligus membuktikan­nya dalam kehidupannya sehari-hari se­bagaimana hal itu dilakukan Sayyidatuna Khadijah RA?

Inilah pertanyaan yang harus men­jadi bahan renungan para istri zaman ini jika mereka berharap diri mereka dapat ter­hitung sebagai istri yang shalihah un­tuk suaminya.

Wallahu a’lam bish shawab.
(Fiqhun-Nissa’/majalah-alkisah.com/fiqihnikah.net)
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Berikut Ciri-Ciri Istri Yang Shalihah"

Post a Comment

close