Maulid Nabi, Momentum Teladani Kesantunan Dakwah Rasulullah

Maulid Nabi, Momentum Teladani Kesantunan Dakwah Rasulullah


Wartaislami~ Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sempurna akhlaknya. Ia diutus khusus memiliki misi untuk menyempurnakan akhlak umat manusia di akhir zaman. Dalam sebuah dikutum hadis disebutkan “Innama Buistu Liutammima Makaarimal akhlaq”  yang berarti “sesungguhnya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak.”
Akhlak adalah cermin kepribadian seseorang. Baik buruk seseorang bisa diukur dari parameter akhlaknya. Nabi Mauhmmad, dalam diktum hadits yang lain disebutkan, akhlaknya adalah Al-Qur’an.

Sejalan dengan beberapa diktum hadits di atas dan juga didasari pemahaman bahwa Islam adalah yang selalu menancapkan spirit perjuangannya sebagai penebar kasih sanyang, maka sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa dakwah sekaligus ajakan untuk berbuat baik harus pula dilakukan dengan cara yang baik. Amar ma’ruf bil ma’ruf, bukan sebaliknya sebagaimana yang masih banyak terjadi di kalangan umat Islam “perkotaan” yang amar ma’ruf tapi dengan cara-cara yang munkar (amar ma’ruf bil munkar).

Dakwah Islam yang ramah tentu saja dengan menggunakan cara-cara yang tidak “marah”. Mengajak dengan penuh kasih sayang. JIka ada yang “tersesat”, sekali lagi dalam etika dakwah yang santun, seharusnya perilaku dan sikap kita adalah justru dengan cara memeluk dan merangkulnya untuk kemudian mengajaknya ke jalan yang kita yakini kebenarannya, bukan malah sebaliknya menyalahkan dan mencacimakinya.

Dalam konteks ini perlu untuk kita kemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah memaksa dan mengancam dalam berdakwah. Beliau selalu bersikap tulus lagi lemah lembut. Perilaku dakwah Nabi yang serba lemah lembut ini adalah cermin reflektif dari potongan sebuah ayat Al-Quran yang letaknya persis di tengah-tengah mushaf yang berbunyi “falyatalatthaf” yang artinya berperilakulah lemah lembut.

Dakwah sejati adalah dakwah yang bertujuan meraih simpati dan bukan dengan cara-cara anarki.

Teladan lain selain berdakwah yang ramah dari Nabi Muhamad SAW adalah diktum serta ajaran hijrahnya sungguh sangat monumental. Kodrat makhluk hidup adalah selalu berhijrah serta bertransformasi. Dalam Al-Qur’an dikenal sebuah kalimat minad dhulumati ilannur, dari kegelapan menuju cahaya yang benderang.

Tanaman yang ada di dalam rumah, ketika diletakkan di dekat jendela, pasti dalam perkembangannya ia akan menjulurkan batang pohonnya untuk terus menuju ke luar jendela. Terus menjulur menuju ke luar jendela adalah kodrat hijrah minad dhulumati ilannur itu sendiri.

Dalam konteks kehidupan beragama sebagai implementasi diktum hijrah ini yang perlu untuk kita lakukan bersama adalah selalu berhijrah dan bertranformasi untuk memperbarui pemahaman-pemahaman kita dalam beragama, baik dalam bentuk yang konseptual maupun implementatif.

Atas dasar pemahaman “hijrah” itulah para founding fathers NKRI membentuk negara ini bukan sebagai negara agama, tapi ruh serta nilai-nilai keislaman menjadi nadi dalam menjalankan aktivitas kebangsaan. Itu sebabanya tujuh kata dalam sila pertama (Piagam Jakarta) dihapuskan dengan tanpa ada pertumpahan darah sama sekali.

Alakullihal, yang utama dan terutama untuk dikedepankan dalam menjalani kehidupan beragama hari ini adalah akhlakul karimah. Umat Islam harus menjadikan akhlak sebagai panglima terrtinggi dalam beraktivitas sehari-hari. Islam adalah agama yang ramah, penebar kasih sayang, bukan agama marah dan penebar kebencian.

PBNU, dalam konteks peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini, mengajak segenap umat Islam untuk selalu meneladani sikap-sikap Nabi Muahammad SAW yang selalu mendahulukan akhlak di atas fiqih, selalu memiliki ruang dialog yang diskursif, selalu bersikap toleran terhadap perbedaan, dan selalu menjunjung tinggi martabat, harkat sekaligus nilai-nilai kemanusiaan.

Sumber : nu.or.id
Rais Aam PBNU Tidak Mengharamkan Ucapkan Selamat pada Perayaan Hari Besar Agama Lain

Rais Aam PBNU Tidak Mengharamkan Ucapkan Selamat pada Perayaan Hari Besar Agama Lain


Wartaislami.com ~ KH. Ma’ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak pernah melarang atau mengharamkan umat Islam untuk mengucapkan selamat Hari Raya pada umat agama lain.

Sekretaris Jenderal PBNU, Ahmad Helmy Faishal Zaini menyampaikan bahwa telah beredar informasi baik berupa link maupun grafis yang menyebutkan Kyai Ma’ruf mengharamkan ucapan selamat pada perayaan hari raya umat lain. Setelah bertabayun (kroscek) dengan Kyai Ma’ruf, Sekjen PBNU mengatakan informasi tersebut tidak benar.

Kyai Ma’ruf Amin mengatakan bahwa mengucapkan selamat pada perayaan hari besar antar agama itu merupakan langkah membangun ukhuwah basyariyah, persaudaraan sesama manusia.

“Jika umat Kristiani menyampaikan Selamat Hari Idul Fitri dan sebaliknya umat Islam menyampaikan Selamat Hari Natal pada umat Kristen, ataupun pada Hari Besar umat Hindu, Budha, itu merupakan bagian dari toleransi sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk saling menghormati dan menghargai tanpa saling mengganggu kepercayaan dan keyakinan masing-masing.” klarifikasi Kyai Ma’ruf Amin melalui Sekjen PBNU. Kamis, (17/12/2015)

Islam sendiri mengajarkan nilai-nilai toleransi dan moderasi (tawassuth, tasamuh, tawazun) agar harmoni kehidupan dan keberagamaan terus tercipta.

Helmy menegaskan bahwa orang-orang yang membuat dan menebarkan informasi tersebut telah menebarkan fitnah dan adu domba yang dapat mengancam perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu Helmi meminta aparat terkait menindak tegas mereka.

sumber : arrahmah.co.id
Inilah Toleransi yang diarjakan Nabi SAW

Inilah Toleransi yang diarjakan Nabi SAW


Wartaislami.com ~ Ketika waktu kebaktian tiba, beberapa orang delegasi Nasrani Najran langsung berdiri menghadap ke timur dan melakukan kebaktian di Masjid. Para sahabat terkejut dan heran dengan apa yang mereka lakukan. Ada terbesik dalam hati mereka untuk melarangnya. Namun seketika itu pula Nabi sontak berkata, “Biarkanlah mereka”. Kisah ini dituturkan Ibnu Hisyam dalam Sirah al-Nabawiyah.

Sikap Nabi ini merupakan cerminan dari misi Islam kerahmatan yang diembannya. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(QS: al-Anbiya ayat 107). Kata “semesta alam (‘alamin) di sini pemaknaanya tidak berati dikhususkan untuk orang Islam (lil muslimin) saja dan manusia pada umunya, namun ia memberikan efek kasih sayang kepada seluruh ciptaan Tuhan. Selama dia masih bisa dikategorikan makhluk Tuhan, maka tidak alasan untuk tidak menyangi dan mengasihinya.

Berdasarkan hal ini, perbedaan agama tidak membatasi Nabi SAW untuk senantiasa menghargai dan menghormati orang yang berbeda keyakinan dengannya. Bahkan fasilitas ibadah semisal masjid pun beliau pinjamkan kepada tamu yang berbeda agama dengannya. Adapun konflik dan perperangan yang terjadi di masa Nabi, sebagian besar disebabkan oleh faktor perbedaan agama, tetapi ada aspek lain yang mendorong kedua belah pihak berperang, seperti pembatalan perjanjian atau ancaman stabilitas keamanan.

Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Islam Between War and Peace menyatakan “Religion is not a reason for battle (agama bukan penyebab perang)”. Salah satu argumentasinya adalah fakta sejarah menunjukan Nabi Muhammad SAW memiliki mertua yang beragama Yahudi. Nama mertua Nabi itu adalah Huyay bin Akhtab al-Nadhari dan putrinya bernama Shofiyah, yang kemudian dijuluki Umm al-Mu’minin (ibu orang-orang beriman) setelah masuk Islam dan dinikahi Nabi SAW. Sekalipun mertua Nabi tetap setia dengan keyakinanya, Nabi SAW tidak pernah memeranginya karena alasan beda agama.

Dalam hadis riwayat ‘Aisyah dijelaskan, Nabi SAW pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum. Riwayat itu menyebutkan, Nabi SAW tidak sempat menembus gadaian itu sampai beliau wafat. Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami Nabi SAW semasa hidupnya berinteraksi dengan siapapun, baik muslim maupun non-muslim. Sekalipun beliau ditugaskan untuk menyebarkan misi agama, namun tidak pernah ditemukan fakta dakwa agama disampaikan dengan paksaan dan kekerasan.

Sebenarnya Nabi sudah memberikan tauladan dan kearifan dalam menyikapi perbedaan agama. Beliau adalah maha guru toleransi beragama. Ia tidak hanya berbicara dalam tatararan wacana, tapi sudah mempraktekkannya dalam banyak hal. Fakta sejarah menunjukan, kebanyakan sahabat masuk Islam bukan karena merasa terancam dan terpaksa, tetapi lebih kepada kesadaran dan ketakjuban melihat etika dan kearifan yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW.

Menghormati dan menghargai perbedaan memang tidaklah mudah. Setiap orang pasti memiliki ego, ambisi, dan kecenderungan untuk mengajak orang agar sesuai dengan keyakinan dan pikirannya. Oleh sebab itu, ego dan sikap ambisius itu perlu dinetralisir dan diminimalisir dengan belajar pada kearifan dan tauladan yang sudah dicontohkan Nabi SAW semasa hidupnya.


Oleh: Hengki Ferdiansyah. Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan Alumni Pesantren Ilmu Hadits Darus-Sunnah. Saat ini bekerja sebagai peneliti hadits di el-Bukhari Institute./muslimedianews.com


Klarifikasi Jadul Maula Soal Lukisan Gus Mus yang Terjual 2 Miliar

Klarifikasi Jadul Maula Soal Lukisan Gus Mus yang Terjual 2 Miliar


Wartaislami.com ~ Menanggapi tulisan mengenai “Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Milyar“, Jadul Maula mengatakan hal itu tidak benar, meski ada beberapa setting dan peristiwa nyata.

“Itu hanya cerpen yang ditulis oleh temen saya. Mengenai penjualan lukisan Gus Mus, itu memang benar dan cerita bahwa saya mengantar uang ke Gus Mus, itu juga benar, tetapi soal nilai lukisan yang sampai dua milyar, itu yang tidak benar,” kata Wakil Ketua Lesbumi Nahdlatul Ulama ini, Selasa (15/12).

Dalam tulisan tersebut, diceritakan bahwa Jadul Maula tengah menyelenggarakan sebuah Pameran Lukisan di Bantul, Yogyakarta.

Suasana sepi, Jadul Maula sudah kehabisan asa. Pengunjung sepi, hanya satu dua pengunjung dan tak satupun lukisan terjual.

Lalu datanglah sepasang suami istri yang tertarik pada goresan abstrak bertuliskan nama Gus Mus. Rupanya si suami tertarik pada lukisan Gus Mus itu, segera ingin membelinya. Si Suami yang rupanya pengusaha ini, menawar lukisan Gus Mus 1 miliar.

Jadul Maula diceritakan kemudian menghubungi Gus Mus, mengabari kalau lukisannya ditawar orang 1 miliar. Jadul Maula baru sempat bicara kalau lukisan Gus Mus ada yang mau membeli, Gus Mus mengiyakan jual saja dan telfon ditutup.

Belum sempat menjawab tawaran pertama, si Pengusaha memberikan tawaran kedua untuk lukisan itu. Lukisan itu akhirnya laku 2 milyar.

Cerita masih berlanjut. Jadul Maula yang menerima uang itu, berniat menyampaikan uang hasi penjualan lukisannya ke Gus Mus. Dengan uang dalam koper, Jadul Maula sowan ke Gus Mus, dan memberikan uang tersebut.



“Gini aja… Aku ambil sepuluh juta. Buat biaya nambal ruang pondok yang bocor. Kalian berlima masing-masing lima juta,” ujar Gus Mus dalam cerita.

“Sisanya untuk kepentingan umat.” lanjut Gus Mus dalam cerita

Lukisan Gus Mus Paling Mahal Laku 100 Juta

Beredarnya tulisan “Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Miliar”, juga mendapat perhatian akun Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri). Gus Mus dalam akun tersebut mengatakan dengan satire, menghubungkan beredarnya cerita itu dengan issu MKD, SN, dan MN yang disebutnya membosankan.

“Entah siapa yang menebarkan issu tentang ‘Nasib Lukisan seharga 2 Milyar Karya GM?’, apakah itu sengaja dibuat oleh novelis/cerpenis untuk pengalihan dari issu tentang MKD, SN, dan NM yang membosankan.?” tulis Gus Mus.

Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Milyar - Status FBBerkomentar pada status ini, Gus Mus juga menyampaikan bahwa paling mahal lukisan termahal karyanya Rp. 100 juta. Dan semua hasil penjualan sesuai persetujuan keluarga disumbangkan untuk kepentingan sosial.

Gus Mus dan Lukisannya yang Laku 2 Milyar - Komen FB

sumber: arrahmah.co.id
Sholat Yang Bawa HP Dibunuh

Sholat Yang Bawa HP Dibunuh


Wartaislami.com ~ Udin sebenarnya sudah berada di masjid dan siap menunaikan shalat Jum’at. Tapi tiba-tiba pulang setelah ada pengumuman pengurus ta’mir masjid perihal jamaah yang bawa telepon genggam.

Sesampai di rumah, ibunya bertanya: "Gak Jum’atan, Din?"

"Mboten, Buk (Tidak, Bu)!"

"Kenapa?"

“Karena saya bawa HP,” jawab Udin polos.

"Lah! Kenapa membawa HP kok tidak Jum’atan?" Sang ibu heran.

"Tadi pengurus ta’mir masjid kasih pengumuman, “Sing betho HP tolong dipatheni (Yang bawa HP harap dibunuh/dimatikan)". Ya, saya lari!”

“Hoh?”

(Ahmad Rosyidi)/nu.or.id
Ketika santri yang berpoligami ditanya oleh kyai nya

Ketika santri yang berpoligami ditanya oleh kyai nya


Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.

Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya... syukurlah kalau begitu.

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an...

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?
“Grrrrrrrr...” semua yang hadir di pendopo tertawa.


(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)/nu.or.id
Subhanallah, Masjid dan Gereja di Solo ini Harmoni Berdampingan

Subhanallah, Masjid dan Gereja di Solo ini Harmoni Berdampingan


Wartaislami.com ~ Indonesia terkenal akan keragaman suku, budaya, agama, dan  ras. Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa untuk terus hidup rukun berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sering kita dengan semboyan itu mengejawantah dalam slogan “NKRI Harga Mati”.

Keragaman itu tidak serta merta terus hadir dengan sendirinya. Dengan keragaman itu, bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk terus hidup dalam harmoni kebersamaan. Isu keagamaan kerap mewarnai pertikaian-pertikaian atau konflik-konflik antar warga dan atau kelompok. Baik itu dalam lingkup internal agama atau eksternal agama. Kasus-kasus bom di gereja, bom di masjid, pengrusakan keduanya, upacara keagamaan dilarang, kerap muncul di sekitar kita.

Semangat membangun harmoni dalam bingkai keberagaman itu perlu kita tiru dari masjid dan gereja di Solo ini. Dua tempat ibadah ini dibangun berdampingan, bahkan satu tembok dan satu halaman.

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah terletak di Jalan Gatot Subroto no 222, Solo. Gereja dan masjid ini sudah berdiri sejak dulu dan tidak pernah ada konflik sedikitpun. Masing-masing jemaah melaksanakan ibadahnya dengan khusyuk tanpa saling mengganggu satu sama lainnya.

Tidak ada sekat tembok yang kokoh, atau batas pagar halaman yang tinggi. Satu-satunya penanda atau pemisah bangunan tersebut hanyalah sebuah tugu lilin tua, yang merupakan simbol perdamaian kerukunan umat beragama. Saat hari raya masing-masing datang, mereka saling menghormati. Bila hari raya Idul Fitri menjelang, para jemaah gereja tidak mempermasalahkan bila masjid Al-Hikmah mengadakan takbiran dan salat Ied.

Begitu juga jemaah masjid, bila Natal akan datang, biasanya gereja akan berhias diri dan mereka tidak mempermasalahkan hal ini. “Kita merasa bangga, bisa hidup bersama meski dengan keyakinan berbeda,” ujar Sajadi, salah satu jamaah masjid, lansir merdeka.com, Rabu (18/07/2013).

GKJ Joyodiningratan didirikan tahun 1939, sementara musala Al Hikmah yang saat ini sudah berubah menjadi masjid didirikan tahun 1947. Selama itu, tidak pernah ada perselisihan, toleransi beragama memang sangat kental di sana.

“Selama puluhan tahun kami tak pernah ada konflik. Sebagai tanda kerukunan, kami mendirikan sebuah tugu lilin di antara bangunan gereja dan masjid,” ucap Sajadi lagi. Ketika hari raya masing-masing tiba, jemaah biasanya saling membantu dengan bersama membersihkan halaman atau bersama memperbaiki bangunan bila ada yang perlu direnovasi ringan. Karena harmonisasi yang baik ini, tak jarang dua rumah ibadah tersebut menjadi rujukan pemuka agama seluruh dunia. Ada yang datang dari Singapura, Malaysia, Belanda, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, juga dari Filipina, Jepang, Vietnam.



Memeluk satu agama adalah hak setiap manusia. Betapa indahnya bila semua makhluk beragama dapat saling menghargai dan hidup rukun seperti di Solo ini.

sumber: arrahmah.co.id
Reaksi mengejutkan gus mus, ketika lukisannya laku 2 milyar

Reaksi mengejutkan gus mus, ketika lukisannya laku 2 milyar


Wartaislami.com~ Pameran lukisan yang digelar di daerah Bantul itu lesu. Pengunjung sepi. Tinggal beberapa jam lagi pemeran yang digelar oleh anak-anak muda LKIS ini harus segera diakhiri. Hanya ada satu dua pengunjung datang, namun tak satupun lukisan terjual.
Muhammad Jadul Maula yang sehari-hari dipanggil Jadul, sang panitia penyelenggara yang sudah beberapa hari menjadi tuan rumah, seperti orang kalah perang. Asanya sudah habis. Ia sudah bersiap untuk kukut (Bahasa Jawa: mengemasi barang) ketika sepasang suami istri sekonyong-konyong datang melihat-lihat lukisan.

Sama seperti pengunjung lainnya. Pengunjung ini tak tertarik pada lukisan-lukisan yang telah dipajang, hingga akhirnya berhenti pada sebuah lukisan. Sebuah goresan abstrak berupa sketsa dengan pigura kecil seukuran buku.
“Ini karya Gus Mus?”

Jadul mengiyakan dan menjawab seperlunya. Dalam goresan sketsa itu memang tertera tanda tangan Kyai Mustofa Bisri yang dikenal dengan sebutan Gus Mus.

“Kami sangat tak’zim sama Gus Mus. Kami akan beli lukisan ini”.
Rupanya calon pembeli ini seorang pengusaha. Namun, Jadul tidak begitu bersemangat melayani. Ia hanya membatin, paling-paling orang ini akan menawar dengan harga yang tidak seberapa. Sebab, hanya sebuah lukisan kecil berisi sketsa yang tidak jelas maknanya.

Beberapa hari lalu, menjelang pameran, Jadul menelpon Gus Mus. Ia sudah lama kenal dekat kyai yang juga dikenal penyair itu. Ia biasa memanggil Gus Mus dengan sebutan Abah.

“Abah… masih punya stok lukisan?”, tanyanya lewat telepon.
“Lukisanku wis entek. Ini tinggal ada satu saja. Sketsa, kalau mau”, jawab Gus Mus.

Jadilah lukisan itu ikut meramaikan pameran. Jadul memajang lukisan karya Kyai Mustofa Bisri yang dikenal sebagai kyai sesepuh NU dari Rembang, Jawa Tengah, untuk melengkapi koleksi.

“Jadi bagaimana mas? Boleh saya beli lukisan ini?”
“Oh iya…. silahkan”.
“Saya beli satu ya. Satu milyar..!”
Sontak Jadul terperanjat. Sungguh tidak percaya, lukisan goresan sketsa yang hanya seukuran buku itu ditawar satu miliar rupiah.
Tubuhnya gemetar. Kalaupun jika semua luksian yang dipajang di pameran itupun terjual, mungkin tidak akan sampai sebesar itu.
Jadul segera menghubungi Gus Mus. Ia tidak berani membuat keputuan sendiri.
“Ono opo Dul. Ojo suwi-suwi aku lagi ngajar kitab kuning ini”, jawab Gus Mus di ujung sana.
“Abah… lukisannya ada yang mau beli”.
“Yo..wis jual aja”.
Gus Mus hanya menjawab singkat. Telepon terputus.
Padahal, Jadul belum selesai mengemukakan niatnya menyampaikan kabar bahwa lukisannya ditawar orang seharga satu miliar rupiah.
“Jadi apa kata Gus Mus?”
Pengusaha ini sepertinya tidak sabar dan ingin mendapat ketegasan. Namun, Jadul hanya diam tidak bisa menjawab karena sang pemilik lukisan sudah menutup telepon.
“Ya sudah… Dua ya? Dua milyar”.
Di tengah kebengongannya, Jadul hanya bisa mengiyakan tawaran pembeli itu. Saat ditawar satu miliar saja sudah gugup. Ini malah tambah lagi menjadi dua miliar. Duh Gusti…!
Selanjutnya pembeli menanyakan pembayaran lewat cek atau cash. Jadul, minta cash saja dan uang diambil di rumah pembeli itu yang sudah dimasukkan dalam satu koper perjalanan.
Karena jumlah uang yang tidak sedikit, akhirnya uang dalam koper itu diantar ke kediaman Gus Mus di Rembang oleh Jadul bersama empat kawannya. Hal ini untuk keamanan kalau-kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan di perjalanan.
Sampailah mereka di kediaman Gus Mus.
“Kamu kok bawa koper segala ke sini buat apa Dul?”
“Ini uang lukisannya Abah”.
“Wong duit saja kok dimasukkan koper?”
Jadul pun segera membuka koper itu.
“Walah… duitnya kok banyak sekali buat apa Dul?”
“Ya..ini Abah. Uang penjualan lukisan itu. Dua Milyar”.
“Uang sebanyak ini buat apa. Bikin aku pusing saja”.
“Terus gimaan Gus?”
“Gini aja… Aku ambil sepuluh juta. Buat biaya nambal ruang pondok yang bocor. Kalian berlima masing-masing lima juta,” ujar Gus Mus.
Jadul dan empat kawannya ini hanya diam sambil memandang satu sama lainnya. Mereka tidak percaya, kalau Gus Mus hanya akan memberi mereka lima juta.
Mereka sudah terlanjut berharap bahwa, Gus Mus akan mengambil setengah dari uang itu dan setengahnya pasti akan diberikan mereka. Atau, kalau pun tidak sebesar itu, mereka masih akan dapat jatah yang cukup besar.
Jadi uang sebanyak dua miliar itu, praktis hanya diambil Rp 35 juta saja.
“Terus sisanya buat apa Gus?”
“Sisanya, gunakan untuk kepentingan umat”. Jawab Gus Mus.
Dengan perasaan berat dan kecewa, mereka kembali ke Jogja dengan membwa uang sisa sebesar Rp 1,9 miliar yang bukan jatah mereka. Dalam perjalanan, mereka sempat tergoda oleh pikiran kotor. Bagaimana kalau uang yang mereka bawa itu dibagi saja berlima. Merekapun berdebat dan bersitegang.
“Sudah..sudah…sudah”, sergah Jadul.
“Apa kalian tidak takut kualat? Kalau kita ambil uang ini, kita pasti akan susah di kemudian hari. Sebab makan uang yang bukan hak kita”. Demikian Jadul.
Merekapun sadar. Akhirnya mereka sepakat dan memutuskan. Uang sisa penjualan lukisan sketsa karya Gus Mus dibelikan tanah tidak jauh dari terminal di kawasan ring road Jogja, yang diwakafkan untuk lokasi pembangunan sebuah lembaga pendidikan.
Saya tak bisa membayangkan, bila itu menimpa saya. Saya pasti akan mengambil dalam jumlah yang saya inginkan, untuk kepentingan saya sendiri mengingat itu adalah uang halal hasil penjualan karya saya.
Kok masih ada ya manusia seperti ini? Justru di tengah santernya saat ini kita lihat orang-orang yang seharusnya jadi panutan, ternyata banyak yang masih berebut materi bahkan dengan cara tidak wajar.

Sumber: Status Anab Afifi/Arrahmah.co.id
Ini Sindiran Pedas Cak Nun Yang Menusuk Ulu Hati Habib Riziq, Terkait Sampurasun

Ini Sindiran Pedas Cak Nun Yang Menusuk Ulu Hati Habib Riziq, Terkait Sampurasun


WartaIslami.com ~  Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan budaya dan agama ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. "Islam pun tidak dapat dilaksanakan secara kaffah (total) tanpa kebudayaan," katanya.

Cak Nun menyampaikan hal ini ketika memberikan ceramah Maulid Nabi Muhammad di hadapan ratusan pegawai pemerintah kabupaten, para guru, dan masyarakat umum di Pendopo Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu, 12 Desember 2015.

Menurut suami artis dan penyani Novia Kolopaking yang lebih akrab disapa Cak Nun itu, kebudayaan dan Islam itu harus berjalan beriringan. "Apa tidak sadar bahwa masjid, sajadah, baju merupakan produk budaya," kata ia menjelaskan.

Cak Nun menunjuk ihwal salam kebudayaan Sunda, Sampurasun yang merupakan produk budaya para leluhur suku Sunda. Ini kemudian diabadikan oleh para anak-cucunya dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang.

Cak Nun sedih Sampurasun diplesetkan jadi Campur Racun oleh pentolan Front Pembela Islam, Rizieq Shihab. "Tidak baik apa yang telah dirumuskan orang tua dahulu kemudian dijadikan plesetan hingga orang lain keliru menafsirkannya. Kelakuan itu bukanlah uswah (contoh yang harus diikuti). Tidak sopanlah," kata Cak Nun.

Ia mengatakan, dalam kehidupan menuju Allah, manusia melakukannya dengan dua cara. Pertama, Allah menghadirkan diri-Nya dalam kehidupan manusia. Kedua, manusia berusaha menghadirkan Allah. Cak Nun menyatakan, salam sunda Sampurasun adalah ikhtiar manusia untuk menghadirkan Allah.

Sebab, di dalamnya terdapat rumusan tentang cara memelihara kebahagian dan kebersamaan sesama manusia. "Maka tidak ada korelasi negatif dengan akidah. Jika masih saja ada pihak yang mempersoalkan, menurut saya, karena ada motif lain," ujarnya.

Cak Nun yang mempopulerkan syair Lir-ilr karya ulama Wali Songo itu juga mewanti-wanti agar setiap manusia tidak gampang memvonis bahwa seseorang itu kafir atau syirik karena yang bersangkutan tanding dengan persoalan kebudayaan. "Karena, iman itu di sini (sambil menunjuk letak hati)," katanya.

Cak Nun mengatakan, di dalam agama itu terdapat dua wilayah, yakni mahdhoh dan mu'amalah. "Mahdhoh berarti jangan melakukan apa pun kecuali yang diperintahkan (Allah dan Rasul), kalau disuruh jangan diubah. Muamalah, rumusnya apa saja kecuali yang dilarang, ya silakan lakukan," kata Cak Nun.

Menurut Cak Nun, soal syirik itu hak Allah. Yang mengetahui syirik, kufur hanya Allah, yang punya hak bukan manusia. "Patung dan konsep yang dibangun adalah muamalah. Asal tidak melanggar kaidah mahdhoh, yakni kita sembah-sembah, nggak ada masalah," kata Cak Nun.

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, alasan menghadirkan Cak Nun bukan dalam upaya melakukan pembelaan diri atau mencari pembenaran ihwal kontroversinya salam Sampurasun.

Tidak juga membela diri untuk buku karyanya berjudul Spirit Budaya dan Kang Dedi Menyapa yang dipersoalkan FPI, hingga akhirnya terjadi saling lapor ke Kepolisian Daerah Jawa Barat. "Pemikiran-pemikiran Cak Nun, sangat dibutuhkan buat menumbuhkan spirit dalam kehidupan dan meningkatkan etos kerja," kata Dedi menjelaskan.

Sumber : tempo.co
Inilah Kisah Syekh Ali Jaber dengan Ustadz Anti Maulid

Inilah Kisah Syekh Ali Jaber dengan Ustadz Anti Maulid


Wartaislami.com ~ Dalam sebuah cuplikan ceramah video di Youtube, Syekh Ali Jaber mengisahkan tentang dirinya sewaktu berjumpa dengan salah seorang ustadz anti maulid, membid'ah-bid'ahkan Maulid Nabi.  Syaikh Ali Jaber kemudian menghampiri dan bertanaya "Kenapa Maulid Bid'ah?" Jawaban dari ustadz tersebut adalah karena tidak ada dizaman Rasulullah

Syekh Ali Jaber bertanya lagi : "Jadi dasarnya itu saja ?". Jadi tidak ada didalam al-Qur'an maupun Hadits yang secara jelas melarang hal itu, maka Syekh Ali Jaber berkata lagi : "Antum dari kepala sampai ujung kaki, bid'ah. Karena antum tidak ada dizaman Rasul"

Diakhir kisahnya, Syekh Ali Jaber memberikan nasehat bahwa "Walaupun dalam masalah Maulid itu ada beda pendapat, tapi tidak salah kita saling shilaturahim, saling menasehati dan saling mengisi".




Berikut cuplikan video tersebut :

Profile Singkat Syekh Ali Jaber


Syaikh Ali Jaber, demikian sapaan akrab Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, lahir di kota Madinah Al-Muna­warah pada tanggal 3 Shafar 1396 H, bertepatan dengan tanggal 3 Febuari 1976 M. Ia menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah.

Tahun 1410 H/1989 M, ia tamat ibti­daiyah, tahun 1413 H/1992 M tamat tsa­nawiyah, tahun 1416 H/1995 M tamat aliyah. Tahun 1417 H/1997 M hingga saat ini ia mulazamah (melazimi) pela­jaran-pelajaran Al-Qur’an di Masjid Nabawi, Madinah.

Sedari kecil Ali Jaber telah menekuni membaca Al-Qur’an. Ayahandanyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Qur’an, karena dalam Al-Qur’an terdapat semua ilmu Allah SWT. Dalam mendidik agama, khusus­nya Al-Qur’an dan shalat, ayahnya sa­ngat keras, bahkan tidak segan-segan me­mukul bila Ali Jaber kecil tidak men­jalankan shalat. Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad SAW yang membolehkan memukul anak bila di usia tujuh tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius.

Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Se­bagai anak pertama dari dua belas ber­saudara, Ali Jaber dituntut untuk mene­ruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai ke­butuhannya sendiri. Tidak mengheran­kan, di usianya yang masih terbilang be­lia, sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Qur’an.

Sejak itu pula Syaikh Ali memulai ber­dakwah mengajarkan ayat-ayat Allah SWT di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam shalat di salah satu masjid kota Madinah.

Tahun 2008, ia melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebe­tulan ia menikahi seorang gadis shalihah asli Lombok, Indonesia, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah. Pada tahun yang sama, ia melaksana­kan shalat Maghrib di masjid Sunda Ke­lapa Jakarta Pusat. Selepas shalat ada salah seorang pengurus masjid memin­tanya untuk menjadi imam shalat Tara­wih di masjid Sunda Kelapa, karena saat itu hampir mendekati bulan Ramadhan.

Sejak itulah ia terus mendapat keper­cayaan masyarakat di sejumlah tempat di Indonesia. Demi menunjang komuni­kasinya dalam  berdakwah, ia pun mulai belajar bahasa Indonesia.


Oleh : Ibnu Manshur
Sumber : Majalah Al Kisah (Profile Syekh Ali Jaber)/muslimedianews.com

close
Banner iklan disini