Subhanallah, Masjid dan Gereja di Solo ini Harmoni Berdampingan


Wartaislami.com ~ Indonesia terkenal akan keragaman suku, budaya, agama, dan  ras. Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa untuk terus hidup rukun berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sering kita dengan semboyan itu mengejawantah dalam slogan “NKRI Harga Mati”.

Keragaman itu tidak serta merta terus hadir dengan sendirinya. Dengan keragaman itu, bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk terus hidup dalam harmoni kebersamaan. Isu keagamaan kerap mewarnai pertikaian-pertikaian atau konflik-konflik antar warga dan atau kelompok. Baik itu dalam lingkup internal agama atau eksternal agama. Kasus-kasus bom di gereja, bom di masjid, pengrusakan keduanya, upacara keagamaan dilarang, kerap muncul di sekitar kita.

Semangat membangun harmoni dalam bingkai keberagaman itu perlu kita tiru dari masjid dan gereja di Solo ini. Dua tempat ibadah ini dibangun berdampingan, bahkan satu tembok dan satu halaman.

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah terletak di Jalan Gatot Subroto no 222, Solo. Gereja dan masjid ini sudah berdiri sejak dulu dan tidak pernah ada konflik sedikitpun. Masing-masing jemaah melaksanakan ibadahnya dengan khusyuk tanpa saling mengganggu satu sama lainnya.

Tidak ada sekat tembok yang kokoh, atau batas pagar halaman yang tinggi. Satu-satunya penanda atau pemisah bangunan tersebut hanyalah sebuah tugu lilin tua, yang merupakan simbol perdamaian kerukunan umat beragama. Saat hari raya masing-masing datang, mereka saling menghormati. Bila hari raya Idul Fitri menjelang, para jemaah gereja tidak mempermasalahkan bila masjid Al-Hikmah mengadakan takbiran dan salat Ied.

Begitu juga jemaah masjid, bila Natal akan datang, biasanya gereja akan berhias diri dan mereka tidak mempermasalahkan hal ini. “Kita merasa bangga, bisa hidup bersama meski dengan keyakinan berbeda,” ujar Sajadi, salah satu jamaah masjid, lansir merdeka.com, Rabu (18/07/2013).

GKJ Joyodiningratan didirikan tahun 1939, sementara musala Al Hikmah yang saat ini sudah berubah menjadi masjid didirikan tahun 1947. Selama itu, tidak pernah ada perselisihan, toleransi beragama memang sangat kental di sana.

“Selama puluhan tahun kami tak pernah ada konflik. Sebagai tanda kerukunan, kami mendirikan sebuah tugu lilin di antara bangunan gereja dan masjid,” ucap Sajadi lagi. Ketika hari raya masing-masing tiba, jemaah biasanya saling membantu dengan bersama membersihkan halaman atau bersama memperbaiki bangunan bila ada yang perlu direnovasi ringan. Karena harmonisasi yang baik ini, tak jarang dua rumah ibadah tersebut menjadi rujukan pemuka agama seluruh dunia. Ada yang datang dari Singapura, Malaysia, Belanda, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, juga dari Filipina, Jepang, Vietnam.



Memeluk satu agama adalah hak setiap manusia. Betapa indahnya bila semua makhluk beragama dapat saling menghargai dan hidup rukun seperti di Solo ini.

sumber: arrahmah.co.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Subhanallah, Masjid dan Gereja di Solo ini Harmoni Berdampingan"

Post a Comment

close