Quraish Shihab: Hormati Pendapat Tak Berarti Menerimanya

Quraish Shihab: Hormati Pendapat Tak Berarti Menerimanya


Pakar tafsir Al-Qur’an Quraish Shihab mengajak kalangan pesantren dan seluruh masyarakat untuk senantiasa menghormati perbedaan dan mengembangkan budaya Islam yang damai. Ia  menegaskan, menghormati pendapat yang berbeda bukan berarti menerimanya.

Ia menyampaikan hal itu saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12), bersama keluarga besar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Forum dialog digelar di Aula Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng dan diikuti oleh ratusan kiai dan pengajar Al-Qur’an dari seluruh Jawa Timur.

"Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki budaya yang sangat plural. Karena itu, semua pendapat yang berbeda, harus kita hormati. Dan, menghormati pendapat yang berbeda itu bukan berarti menerimanya," kata ayah dari presenter Najwa Shihab ini.

Quraish lalu mencontohkan bagaimana muslimah Indonesia zaman dulu hanya mengenakan kerudung yang diselempangkan di kepala, dan tetap menampakkan sebagian rambut mereka. Berbeda dengan jilbab yang dikenakan perempuan zaman sekarang, yang menutupi seluruh kepala.

Menurut dia, para ulama zaman dahulu membiarkan praktik tersebut bukan tanpa dasar. Pasalnya, setiap pemikiran dan praktik keagamaan tidak bisa dilepaskan dari budaya yang berlaku di masyarakat. "Pasti para ulama waktu itu mempertimbangkan konteks budaya yang berkembang di masyarakat," ujarnya.

Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an ini pun mengajak kalangan pesantren untuk menjadikan konteks budaya sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan pemikiran dan studi Al-Qur’an. "Dalam konteks studi dan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an, jangan sampai penafsiran kita tidak sejalan dengan budaya yang berkembang di masyarakat," imbuhnya.

Meski demikian, menurut lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini, penghormatan terhadap perbedaan juga dibatasi pada budaya dan pendapat yang mengarah pada kedamaian. "Semua pendapat yang berbeda, dari mana pun datangnya, selama bercirikan kedamaian, harus kita hormati. Pendapat yang berbeda dengan kita, tapi tidak bercirikan kedamaian, (harus) kita tolak," tegasnya.

Sebelum mengakhiri dialog, Quraish menegaskan bahwa penjelasannya soal jilbab bukan berarti mengajak yang sudah berjilbab untuk melepaskan jilbab mereka. "Saya hanya tersinggung kalau orang tua kita yang dulu hanya berkerudung dianggap tidak menutup aurat. Sebab, ibu saya dulu juga tidak berjilbab (seperti orang sekarang)," ujarnya disambut tawa hadirin.

Tampak hadir dalam forum dialog tersebut, Pengasuh PP Roudhotu Tahfidhil Qur’an Perak Jombang KH Masduqi, Mudir Madrasatul Qur’an Tebuireng KH Syakir Ridwan dan Mudir Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng Nur Hannan.

Quraish Shihab yang datang bersama istri dan sebagian anak cucunya serta didampingi Direktur PSQ Mukhlis M Hanafi disambut hangat oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid beserta Nyai Hj. Farida Salahuddin. (Red: Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Om Telolet... Eh, Om Shalawat Om

Om Telolet... Eh, Om Shalawat Om


Fenomena kalimat “Om telolet om” yang cukup populer di media sosial belakangan ini, juga menjadi perhatian para tokoh, tak terkecuali Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf.

Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa tersebut mengajak para jamaahnya untuk memperbanyak sholawat dengan meminjam dari kalimat tersebut.

“Saya berharap Ahbabul Musthofa dan Syecher Mania mengajak yang lainnya : Om shalawat om! Om shalat om!. Kita ajak kebaikan kepada semua,” tutur Habib Syech, pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19 yang dihelat d Masjid Agung Surakarta, Sabtu (24/12) malam.

Ditambahkan Habib Syech, yang juga Mustasyar PWNU Jateng itu, dengan memperbanyak membaca shalawat akan membuat sehat rohani dan jasmani. “Kalau ruh-ruh kita pegal, padha shalawato (bershalawatlah)! Insyaallah, kalau ruh sudah sehat, jasad juga ikut sehat,” kata dia.

Menurutnya, orang yang sehat ruhnya, walaupun sakit jasadnya, akan tetapi hatinya tetap merasa bergembira.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan


Oleh Achmad Sahri

Sebuah koran pada tanggal 7 Oktober 2016 memberitakan tujuh dari 25 santri Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hilang setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di Bengawan Solo. Sebelumnya, sejak Januari 2016, koran Tempo telah memuat dua berita tentang santri tenggelam, yaitu: Hanyut Setelah Cuci Jeroan Kurban, 3 Santri Ditemukan Tewas (14 September 2016) dan Lima Santri Tewas Tenggelam di Sungai Waduk Cangklik (20 Januari 2016).

Kabar tentang kurangnya jaminan keamanan santri saat mereka beraktivitas di lingkungan luar pondok pesantren seperti ini bisa menjadi pertimbangan yang memberatkan di tengah gencarnya gerakan “Ayo-Mondok” yang digalakkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan diamini oleh Kementerian Agama agar orang tua mau mengirimkan anaknya untuk belajar di pondok pesantren.

Kurikulum pondok pesantren saat ini sebenarnya sudah jauh lebih variatif daripada pesantren zaman dulu. Selain ilmu agama, santri kontemporer juga dibekali dengan ilmu dunia yang diharapkan dapat bermanfaat untuk masa depan mereka. Beberapa pesantren, sejak beberapa dekade terakhir juga membuka sekolah kejuruan atau memiliki kegiatan ekstra-kulikuler yang memungkinkan santri mereka belajar ilmu non-agama dan ketrampilan praktis lainnya seperti otomotif, tata boga, tata busana, bela diri dan sebagainya.

Namun ketrampilan bertahan hidup di alam terbuka seperti renang dan search and rescue (SAR) di perairan (seperti bagaimana mencari dan menyelamatkan orang tenggelam) sangat minim diajarkan di pesantren, jika tidak boleh dikatakan tidak ada.

Anjuran tentang renang
Benarkah renang merupakan sunnah Nabi? Kalau kita telusuri, memang ada beberapa hadits Nabi SAW yang menyinggung perihal renang ini, salah satunya adalah hadits dari Jabir bin Abdillah r.a yang redaksionalnya kurang lebih: "Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah (mengingat Allah) merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang” (HR. An-Nasa’i).

Kalau kita perhatikan teks hadits tersebut, mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia. Hanya saja Rasulullah SAW tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan dalam bentuk perbuatan. Para ulama umumnya menyebut perintah belajar berenang merupakan perintah dari Umar bin Al-Khattab r.a yang berbunyi: “Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda", sehingga umumnya para ulama sampai kepada kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum berenang adalah sesuatu yang mubah (dibolehkan).

Butuh praktik
Tidak seperti ilmu-ilmu agama yang umumnya dipelajari, dikaji dan didiskusikan dengan membedah kitab tertentu, renang apalagi search and rescue (SAR) di perairan, karena merupakan ketrampilan praktis, tidak hanya selesai pada tataran dipelajari atau dikaji di majelis atau ruang kelas. Renang dan SAR perairan memerlukan praktik dan latihan yang disiplin dan terjadwal untuk dapat dikuasai.

Sebagai bagian dari kurikulum, jika ke depan akhirnya perlu diajarkan di pesantren, materi ajar seperti buku atau referensi juga perlu diformulasikan. Tentunya yang sejalan dengan lingkup lingkungan pesantren. Tak ketinggalan, guru ‘ngaji’ tentang renang dan SAR perairan ini juga perlu disiapkan. Guru ngaji ini selain harus memahami teknik praktis tentang renang dan SAR perairan, mereka juga harus memahami ketentuan syar’i agar berenang tidak menyalahi ketentuan syariat, seperti misalnya bagaimana menyikapi aurat.

Sulitnya realisasi praktik renang islami
Memang agak sulit untuk menerapkan praktek renang islami, dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur dalam satu tempat, apalagi jika proses pembelajaran renang dilakukan di kolam renang umum yang tidak membedakan pengunjung berdasarkan jenis kelamin, sebab konsepnya memang dibuat untuk umum, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan berenang dalam satu kolam renang. Kalaupun harus dipisah, pengadaan infrasutruktur kolam renang menjadi berlipat biayanya.

Saat ini, sebagian kalangan sudah mulai sepakat paling tidak sampai ke level memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan sebagai syarat kebolehan. Pengaturan waktu berenang antara laki-laki dan perempuan juga sempat menjadi usulan. Tujuannya bukan sekadar terjaganya aurat, tetapi juga agar tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Satu hal lain yang juga penting adalah belajar berenang diutamakan dilakukan sejak usia dini. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, karena belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan saat usia kanak-kanak, sehingga nasehat Umar bin Al-Khattab r.a untuk mengajarkan anak-anak kita berenang sejak kecil menjadi sangat tepat. Kedua, anak yang masih kecil belum terikat dengan aturan membuka aurat dan keharusan menjaga pandangan.

Jadi, apakah sudah saatnya santri juga perlu ‘ngaji’ renang dan search and rescue perairan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Sumber : nu.or.id
Tak Mau Pergi, Kiai As’ad Tampar Komandan Jepang

Tak Mau Pergi, Kiai As’ad Tampar Komandan Jepang


Kisah pengusiran serdadu Jepang dari bumi Garahan, Jember tak lepas dari keberanian dan wibawa Kiai As’ad Syamsul Arifin selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia. Saat itu, begitu pasukan gerilya tiba di markas serdadu Jepang, Kiai As’ad langsung menemui komandan serdadu negara matahari terbit itu, dan memberikan ultimatum; segera angkat kaki atau dihancurkan.

Namun dia rupanya masih berkelit, bahkan minta waktu 3 bulan untuk pergi. Kiai As’ad tidak mau dikibuli, dan hanya memberi waktu 3 hari pada Jepang untuk pulang ke negaranya.

Saat hari ketiga habis, Kiai As’ad kembali menemui komandan Jepang. Tapi dia masih belum juga mau pergi dengan baragam alasan, Kiai As’ad pun marah. Dan tanpa babibu, beliau menampar muka sang komandan. Sejurus kemudian, Kiai As’ad menggebrak meja yang ada di depan sang komandan, dan meja itu pun patah jadi dua.

Cerita tersebut diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshoamd saat memberikan sambutan dalam acara “Jember Bershalawat Dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tasyakuran Pemberian Gelar Pahlawan Nasional KHR. As’ad Syamsul Arifin” di alun-alun Jember, Senin malam (19/12).

Menurut Kiai Muhyiddin, kisah ditamparnya Komandan Jepang tersebut menunjukkan betapa Kiai As’ad mempunyai wibawa dan keberanian yang luar biasa. Bisa dibayangkan, seorang komandan yang begitu dihormati  anak buahnya, tiba-tiba ditampar di depan mereka, dan dia tidak melawan. “Itu karena Kiai As’ad biasa berpuasa, tirakat sehingga mudah mendapatkan  pertolongan dari Allah,” ucapnya.

Setelah sambutan Kiai Muihyiddin, lantunan shalawat benar-benar membaha di langit Jember. Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin yang memimpin pembacaan shalawat dan diiringi oleh musik hadrah, cukup piawai juga. Sesekali ia menerangkan kehebatan Rasulullah SAW.

Kendati hujan rintik-rintik masih turun, namun peserta shalawat yang memadati separuh lapangan, tak beringsut dari tempat duduknya. Mereka tetap khidmat bershalawat hingga hampir memasuki paruh malam.

Acara tersebut juga dihadiri oleh cucu Kiai As’ad,   Uswatun Hasanah. Bahkan kakak Ra Azaim Ibrahimy tersebut juga sempat memimpin lantunan shalawat. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Sumber : nu.or.id
Kisah Luqman al-Hakim: Dua Daging Terbaik sekaligus Terburuk

Kisah Luqman al-Hakim: Dua Daging Terbaik sekaligus Terburuk


Dalam kitab an-Nawâdir, Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi menyuguhkan sebuah renungan dalam kisah Luqman an-Naubi al-Hakim bin Anqa’ bin Baruq. Ia adalah penduduk asli Ailah, sebuah kota Islam kuno yang sekarang masuk kota bernama Aqaba, sebelah selatan Yordania, dekat perbatasan Israel.

Cerita dimulai ketika Luqman al-Hakim menerima seekor kambing dari tuannya. Sang tuan meminta Luqman menyembelih kambing tersebut dan mengantarkan bagian paling buruk, paling kotor, dari tubuh kambing itu.

Ya. Luqman menggorok leher kambing, mengulitinya, dan mengiris-irisnya sesuai kebutuhan. Ia pun secara khusus mengambil bagian lidah dan hati kambing lalu mengantarkannya kepada sang tuan.

Tuannya memberinya kambing lagi. Tugasnya sama: kambing harus menyembelih. Namun kali ini sang tuan menginginkan Luqman membawakannya bagian yang paling bagus, paling menyehatkan.

Luqman menjalankan tugasnya lagi dengan baik. Kambing disembelih, lantas dibawakannya lagi bagian lidah dan hati. Luqman menyodorkan hal yang sama untuk dua permintaan yang saling berlawanan.

Tuannya pun bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Luqman. Jawab Luqman, “Wahai tuanku, tak ada yang lebih buruk ketimbang lidah dan hati bila keduanya buruk, dan tidak ada yang lebih bagus dari lidah dan hati bila keduanya bagus.”

Kisah ini mengungkap pesan bahwa hal paling krusial dalam hidup ini adalah terjaganya hati dan lidah. Lebih dari sekadar daging fisik, keduanya adalah kiasan dari nurani dan perkataan manusia. Keduanya memberi pengaruh yang amat menentukan bagi orang lain dan lingkungan sekitar, entah dalam wujud yang manfaat atau merugikan. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Ungkapan Fenomenal Hadratussyekh Satukan Islam dan Nasionalisme

Ungkapan Fenomenal Hadratussyekh Satukan Islam dan Nasionalisme


Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, hubbul wathan minal iman, artinya cinta tanah air sebagian dari iman. Ungkapan tersebut muncul dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.

Ungkapan tersebut, menurut Kiai Said sangat fenomenal di kalangan umat islam Indonesia. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap bahwa ungkapan itu adalah hadits.

"Ungkapan ini terkenal sedunia,” ungkapnya saat berceramah di pelantikan PWNU Jawa Barat yang digelar di Pesantren Ashidiqiyyah Karawang, Sabtu (17/12)

Menurut Kiai Said, tidak ada ulama besar di dunia ini yang berani menyatakan hubbul wathan minal iman. Namun KH Hasyim Asy'ari berani mengungkapkannya.

“Nasionalisme KH Hasyim Asy'ari berbeda dengan nasionalisme Eropa maupun nasionalisme sekuler Arab," tegas Pengasuh Pesantren Atsaqofah itu sambil menyebut tokoh Eropa dan ulama Timur Tengah.

Menurut Kiai Said, lahirnya ungkapan hubbul wathan minal iman ini tidak lepas dari konsep Islam Nusantara yang telah berhasil mengawinkan antara nasionalisme dan Islam di Indonesia berbeda dengan di beberapa negara Timur Tengah yang mempunyai kesulitan dalam menyatukan keduanya.

"Makanya kiai-kiai bikin pesantren yang terkenal nama desanya, bukan nama pesantrennya; Lirboyo, Lasem, Rembang, Krapyak, Buntet, Cipasung, Kempek," tambahnya.

Ditambahkannya, menyatunya nasionalisme dan Islam di Indonesia bisa dilihat dari bangunan masjid, kantor pemerintah dan alun-alun yang saling berdekatan. Masjid menjadi simbol ulama, kantor pemerintah sebagai umaro dan alun-alun simbol rakyat.

Ketiga komponen tersebut, kata dia, mesti bersatu dalam membangun dan menjaga PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945).

Kiai Said pun memberikan ucapan selamat kepada KH Muhammad Nuh Addawami dan KH Hasan Nuri Hidayatullah yang dipercaya menjadi Rais dan Ketua PWNU Jawa Barat.

Ia berharap PWNU Jawa Barat tetap istiqomah dalam memngawal dan menjaga NKRI dan paham Ahlussunah wal-Jamah di tanah Sunda.

Dalam kesempatan itu, selain dihadiri oleh beberapa pengurus PBNU dan PCNU se-Jawa Barat, juga turut hadir beberapa Anggota DPR RI, DPRD dan Pangdam Siliwangi dan Kapolda Jawa Barat. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Nabi Muhammad Mataharinya Dunia

Nabi Muhammad Mataharinya Dunia


Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Setelah mengikuti acara Maulid Nabi semalam, tiba-tiba di benak saya terngiang sebuah syair pemujaan atas Nabi dalam kitab Al-Barzanji: anta syamsun, anta badrun, anta nuurun fauqa nuuri (engkau Nabi laksana matahari, laksana rembulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya).

Tak hanya di syair itu. Nasida Ria, grup musik legendaris asal Semarang, membuat lagu berjudul "Nabi Muhammad Mataharinya Dunia" sebaga berikut:

"Di langit ada matahari
Bersinar menerangi bumi
Di langit ada matahari
Bersinar menerangi bumi
Cahayanya yang tajam
Menembus kegelapan
Menerangi seluruh alam

Di bumi ada para Nabi
Utusan Robbul Izzati
Di bumi ada para Nabi
Utusan Robbul Izzati
Membawa kebenaran
Menjaga kedholiman
Petunjuk jalan keselamatan

Nabi Muhammad Nabi akhiruzzaman
Rahmat bagi umat di seluruh alam
Nabi Muhammad mataharinya dunia
Yang bersinar abadi sepanjang Zaman

Nabi Muhammad bagai purnama
Di tengah malam gelap gulita
Nabi Muhammad bagai pelita
Cahayanya di atas cahaya
Wahai Kaum Muslimin Muslimat
Sampaikan Shalawat Salam"

Kemudian saya berpikir, terus menerus berpikir, bagaimana Nabi Muhammad SAW, pemimpin umat Islam itu "disamakan" dengan matahari. Dan perlahan, satu persatu ingatan dan gagasan tafsiran terkumpul dalam pikiran.

Ingatan saya pertama kali langsung kepada kata Guru Bangsa Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun. Dalam situs caknun.com, ayah dari vokalis grup band Letto ini perbah menulis yang sedikit terkait matahari:

"Jangan terlalu membebani sekolahan, kampus, dosen-dosen dan skripsi atau keseluruhan dunia ilmu pengetahuan dengan harapan-harapan dan impian-impian. Jangan minta terlalu banyak kepada semua itu.

Kalau mencari ilmu, kearifan dan kemuliaan hidup, jangan andalkan itu semua. Lebih baik berharap kepada bagaimana caramu sendiri melihat dan memperlakukan matahari setiap pagi, dedaunan, tetangga, pasar atau impian-impian aneh setiap malam.

Mintalah ilmu kepada pemilikNya di setiap butiran udara."

Kemudian, dalam buku Tuhan Pun Berpuasa, yang terbit pertama kali pada 1996 oleh Penerbit Zaituna, Yogyakarta yang kemudian disuguhkan kembali oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2012, Cak Nun menulis:

"Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak. Allah memancarkan cahaya matahari tanpa menghitungnya dengan penghianatan yang kita lakukan atas-Nya setiap hari."

Dari sini saya berpikir, bahwa peran Nabi Muhammad di hari ini – di alam modern ini -begitu nyata – seperti matahari – meski kadang kita semua tak menyadarinya, apalagi mensyukurinya.

Sebagai contoh, dalam sehari-hari, selain hal-hal yang ubudiyyah seperti shalat dan muamalah seperti dalam jual beli, kita juga diajari bagaimana beriman. Percaya bahwa yang menentukan rizki, pembuat sakit, sedih, kecewa, kalah, dan lain sebagainya, itu datang dari Allah SWT. Dengan demikian, sebenarnya, hati dan mental kita memiliki kekuatan dan kepasrahan kepada-Nya.

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari menjelaskan, bahwa himmah, kemauan dan cita-cita kita takkan mampu menembus benteng takdir. Hal ini, tak bisa dianggap sepele. Orang yang tidak meyakini dan menggunakan ini dalam kehidupan sehari-hari, bisa stres dalam menjalani dan menghadapi hidup yang penuh persoalan ini.

Inilah mungkin, yang tak kelihatan – seperti matahari – yang dimiliki oleh umat Islam, meski ia kuang mampu, hidup seadanya dan seba pas-pasan, sudah bisa bersyukur dan memiliki orentasi akhirat, sehingga perilaku hidupnya seimbang, tak mau menyakiti apalagi mendhalimi orang lain. Ini berbeda misalnya, dengan beberapa selebitis – baik papan atas nasional maupun intenasional – yang di puncak kariernya bunuh diri. Beberapa tokoh dan pablik figur di luar artis, juga banyak yang demikian, minimal strees dan yang paling parah putus asa: bunuh diri.

Iman dan keyakinan yang diajarkan Nabi ini, seakan menjadi lentera yang menerangi dada kau muslimin, agar tak gelap menghadapi dunia. Kehadiran Nabi Muhammad saw, laiknya matahari, menerangi umat manusia setiap pagi, dengan iman, ilmu berikut perkembangannya, spiritualismenya, dan yang lebih utama adalah akhlaknya.

Kemudian, ketika malam hari, dalam syair tersebut, dikatakan Nabi laiknya bulan purnama. Ia menerangi malam yang gelap gulita. Ia cahaya di atas cahaya, yang menerangi manusia dari kegelapan: kekejaman, kesadisan, kesewenang-wenangan, penindasan, eksploitasi alam, dan lain sebagainya. Kehadirannya di dunia melebihi cahaya apapun di dunia.

Dan, mungkin inilah mengapa Allah SWT – Tuhan Semesta Alam – tidak shalat ketika meyuruh orang beiman shalat, tidak haji ketika menyuruh umat Islam yang mampu naik haji, tidak berzakat ketika menyuruh umat Islam zakat. Selain karena shalat adalah doa, sedangkan Allah dzat yang dimintai doa, zakat adalah membersihkan sedangkan Allah Dzat yang Maha Bersih dan haji adalah bertamu sedangkan Allah adalah Tuan Rumahnya. Maka, ketika memerintahkan orang beriman bershalawat kepada Nabi, Allah sudah, sedang dan senantiasa bershalawat kepadanya (yushalluna 'alan Nabii) – redaksinya menggunakan fiil mudlari'.
Artinya, betapa Allah tidak pernah berhenti bershalawat kepada kekasih-Nya, yang diibaratkan penyair sebagai mataharinya dunia.

Sedangkan kita, seperti kata Cak Nun, bahkan jarang sekali mensyukuri bagaimana matahari terbit di tiap pagi, apalagi mensyukuri nikmat-nikmat lain yang tak terhitung yang Allah beri.

Jika demikian, bisa dimisalkan bahwa matahari dunia kadang terjadi gerhana. Cahaya Nabi tertutup oleh kekuasaan, oleh jabatan, oleh nafsu, oleh kesenangan, oleh kecanggihan, oleh kemewahan, oleh permusuhan, oleh perbedaan dan oleh hal lain yang menutupi cahayanya sampai ke bumi. Ajaran, keteladanan, cinta dan sinar Nabi tertutupi, sehingga kita kadang berjalan di kegelapan, tanpa tahu arah dan tujuan, atau tahu tujuan tetapi berjalan tidak sesuai arah.

Di sini, kita menemukan signifikansi pembacaan sejarah Nabi, peringatan Maulid Nabi, mempelajari kembali sang Nabi, agar gerhana segera berakhir dan cahayanya menjadi terang kembali sampai ke bumi. Selain itu, kita juga percaya bahwa syafaat-nya – hak prerogatifnya – bisa menyelamatkan kita semua. Dan, bagi siapa yang menyenandungkan pujian kepadanya, akan menentramkan hati sehingga diliputi ketenangan, kebahagiaan dan cinta.

Shallu 'alan Nabii Muhammad!

Sumber : nu.or.id
Jubah Warisan Rasulullah

Jubah Warisan Rasulullah


Orang tua itu terserang penyakit aneh. Sebagian tubuhnya lumpuh. Ia bermunajat pada ilahi sambil mengucurkan air mata memohon kesembuhan. Tak lupa ia ciptakan sejumlah syair pujian untuk kanjeng Nabi, dengan maksud memohon syafaat.

Malam itu rasa kantuk tak dapat lagi ditahan. Hanya rasa kantuk inilah yang menghalangi bibirnya untuk meneruskan membaca syair cinta untuk Rasul.

Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi tersebut orang tua itu sempat berdialog dengan Nabi. Ia membacakan syair-syair pujiannya untuk Nabi, namun sampai pada bait ke-51: “fama balaghul ilmi fihi annahu basyarun…” [The extent of what we know of him is this: He is a man…] ia tidak sanggup meneruskannya. Konon Rasul menyuruhnya meneruskan “wa annahu khayru khalqillahi kullihimi” [And yet, without exception, he is the best of God’s creation].

Kemudian Nabi memberikan jubah (burdah) kepada orang tua itu. Nabi mengusap bagian tubuh yang mengalami kelumpuhan. Ketika esok paginya orang tua ini terbangun, tiba-tiba ia bisa berjalan dan pulih seperti sedia kala. Dengan ceria ia berjalan-jalan di pasar sambil membacakan syair-syair pujian untuk Rasul.

Orang tua itu bernama Imam Bushiri, yang lahir pada tahun 1212 (sekitar 800 tahun yang lalu). Syair pujian yang diciptakan oleh Bushiri kemudian dikenal dengan Kasidah Burdah.

Inilah puisi cinta untuk Rasul yang sangat terkenal di dunia Islam, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa (Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia).

Dalam bulan Rabi’ul Awwal ini dapat dipastikan Ummat Islam dari berbagai penjuru dunia akan membaca kasidah burdah ini sebagai ekspresi rasa cinta mereka kepada kanjeng Nabi.

Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.

Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf.

Dalam khazanah sufi, jubah merupakan simbol yang sangat penting. Sejarah jubah milik Nabi juga menarik untuk diketahui.

Pada mulanya, burdah (jubah atau mantel) milik Nabi Muhammad SAWdiberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam). Ka’ab yang semula kafir kemudian bertobat dan menggubah syair pujian untuk Nabi. Berdasarkan ungkapan pertama dalam bait pertamanya, syair itu terkenal dalam literatur sastra sebagai syair Banat Su’ad.

Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan jubahnya dan memberikannya kepada Ka’ab, sebagai simbol bahwa dosa-dosa Ka’ab telah diampuni oleh Allah.

Beberapa tahun kemudian, jubah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat ied dan diteruskan secara turun temurun.

Melalui jubah Nabi, Ka’ab diampuni dosa-dosanya, dan Bushiri disembuhkan dari penyakitnya.

"Duh Gusti, di bulan Rabi’ul Awwal ini, saksikanlah bahwa kami mencintai Muhammad SAW dan izinkan kami mencium jubah Rasulullah SAW “Maula ya shalli wa sallim daiman abada, ‘Ala habibika khairil khalqi kullihimi.”

Sumber : nu.or.id
Sejarah Peringatan Maulid Nabi

Sejarah Peringatan Maulid Nabi


Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut sebagai Maulid Nabi telah menjadi semacam tradisi bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal menjadi momen untuk membangkitkan dan menjaga semangat Nabi dalam diri umat.

Kendati telah menjadi semacam tradisi, memang masih terjadi silang pendapat tentang kapan sebenarnya Maulid Nabi mulai diperingati umat Islam. Jika ditelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan pada masa sahabat, tabiin, hingga tabiit tabiin, dan empat imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad).

Mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Mereka pula kalangan yang paling bersemangat dan menghayati setiap ajaran-ajaran yang diwariskan olehnya.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa Maulid Nabi pertama kali muncul pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (1193 M). Shalahuddin disebut menganjurkan umatnya untuk melaksanaan perayaan Maulid Nabi guna membangkitkan semangat jihad kaum Muslim. Kala itu, Shalahuddin dan umat Islam memang berada dalam fase berperang melawan pasukan atau tentara Salib.

Kendati demikian, pendapat tersebut juga masih diperdebatkan. Mereka yang menolak bahwa Shalahuddin sebagai pelopor maulid beralasan, tidak ditemukan catatan sejarah yang menerangkan perihal Shalahuddin menjadikan Maulid Nabi sebagai bagian dari perjuangannya dalam Perang Salib.

Menurut beberapa pakar sejarah Islam, peringatan dan perayaan Maulid Nabi dipelopori oleh Dinasti Ubadiyyun atau disebut juga Fatimiyah (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Al Maqrizi, salah satu tokoh sejarah Islam mengatakan, para khilafah Fatimiyah memang memiliki banyak perayaan sepanjang tahun.

Antara lain perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Ali Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Syaban, perayaan malam pertama Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, perayaan malam Al Kholij, perayaan hari Nauruz (tahun baru Persia), dan lainnya. (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syekh Bakhit Al Muti’iy, seorang mufti dari Mesir, dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal.44) juga menyebut, yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid, salah satunya adalah Maulid Nabi adalah Al Mu’izh Lidnillah (keturunan Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyah) pada 362 Hijriah.

Selain mereka, dalam beberapa buku sejarah juga disebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah memang yang menginisiasi perayaan Maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya, pemerintahan Fatimiyah berdiri pada 909 Masehi di Tunisia. Enam dekade kemudian, mereka memindahkan pusat kekuasaan ke Kairo, Mesir. Dua tahun setelah masuknya Shalahuddin al-Ayubbi ke Mesir, yakni sekitar tahun 1171, Dinasti Fatimiyah runtuh.

Adanya perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin. Salah satu sejarawan tersebut adalah yang telah disebutkan sebelumnya, yakni al-Maqrizi (1442) dan al-Qalqashandi (1418).

Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A’sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da’i al-Du’at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Acara tersebut diterangkan dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran dan khutbah oleh tiga penceramah.

Kendati terdapat sumber referensi yang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah yang pertama kali menghelat Maulid Nabi, tetapi hal tersebut juga masih diperdebatkan. Sebab, Ibn Jubair ketika melakukan perjalanan hajinya melalui Mesir pada tahun 1183, tidak menyebutkan ada kebiasaan maulid di sana.

Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla).

Sumber : metroislam.com
Inilah Pesan Para Kiai Sepuh di Hadapan Presiden Joko Widodo

Inilah Pesan Para Kiai Sepuh di Hadapan Presiden Joko Widodo


Para ulama sepuh menggelar pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor di di Jalan Kramat Raya, No 65A, Jakarta, Ahad (11/12) sore. Acara yang dimotori PP GP Ansor ini dirangkai dengan Maulid Nabi dan mengusung tema “Indonesia dari Mata Bathin Kiai”.

Sebelumnya, GP Ansor telah melakukan silaturahim dan memohon sumbangsih pemikiran para kiai dalam menanggapi kondisi Indonesia belakangan ini. Hingga akhirnya para kiai berkumpul secara terbatas dan menghasilkan beberapa rekomendasi untuk Presiden.

Pertemuan tersebut dihadiri antara lain Wakil Rais 'Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Katib 'Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf; para Mustasyar PBNU Abuya Muhtadi Dimyathi, KH Dimyati Rois, TGH Turmudzi Badruddin; Rais Syuriyah PBNU KH Abdullah Kafabihi Mahrus, Katib Syuriyah PBNU KH Abdul Ghafur Maemun, pengasuh Pesantren Al-Aziziyah Jombang KH Abdul Aziz Masyhuri, dan kiai lainnya.

KH Yahya Cholil Staquf di hadapan Jokowi dan disaksikan ribuan kader GP Ansor dari DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, membacakan beberapa butir nasihat para kiai itu. Sebelumnya ia menjelaskan beberapa ulama sepuh yang dijadwalkan hadir seperti KH Maemun Zubair, KH Ahmad Mustofa Bisri, dan KH Ma'ruf Amin terpaksa tak datang karena ada halangan tertentu.

Berikut teks lengkap nasihat para kiai sepuh untuk Presiden Joko Widodo:

Bismillahirrahmanirahim

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وبه تتنزل الرحمات وبذكر أصفيائه تتنزل البركات وتنتشر الطمأنينات والسكينات في نفوس  لأبناء والطوائف. والصلاة والسلام على من هو سر الوجود الذي بحضوره حقيقيا ومعنويا تزيد البركات وتعم الروحانيات فيما لنا وفيما حولنا

Para kiai berterima kasih atas perkenan Bapak Presiden RI Ir. H. Joko Widodo  untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan para kiai dan menyampaikan  penghargaan atas langkah-langkah Pemerintah yang senantiasa mengedepankan  hikmah dan kebijaksanaan dalam mengatasi masalah-masalah bangsa dewasa ini.  Lebih-lebih dengan masalah-masalh mendasar yang dirasakan oleh rakyat,  termasuk berkurangnya rasa saling percaya diantara sesama warga Bangsa.

Para kiai segenap warga bangsa untuk memperbaharui dan mengukuhkan  kembali semangat kebersamaan, saling menenggang, saling menjaga, saling  membantu dan gotong royong. Hal ini penting bukan hanya dalam kaitannya  dengan berbagai keragaman dasar seperti agama, suku, dan ras, tapi juga dalam  kaitannya dengan keseluruhan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara,  termasuk dalam bidang-bidang ekonomi, politik dan hukum. Dalam hal ini,  keadilan adalah kunci, tapi harus pula dilambari dengan semangat persaudaraan  sebangsa yang kokoh.

Para kiai berharap kepada Pemerintah, khususnya Bapak Presiden sebagai  pemimpin bangsa, agar memimpin upaya yang sungguh-sungguh untuk merajut  kembali hubungan silaturahmi diantara elemen-elemen bangsa, dan  mengembangkan strategi kenegaraan serta pembangunan berbagai bidang, sedemikian rupa sehingga dapat dirasakan langsung dan nyata oleh rakyat sebagai  peningkatan jaminan perlindungan bagi kepentingan-kepentingan dan kebutuhan- kebutuhan dasar mereka.    

Para kiai senantiasa siap dan telah terus-menerus mendampingi, ngemong, dan  membantu rakyat, dalam kegelisahan-kegelisahan mereka dan upaya-upaya  mereka untuk memperjuangkan berbagai kepentingan, agar senantiasa berjalan  dalam panduan cita-cita bangsa dan akhlaqul karimah.    

Para kiai mengimbau kepada Pemerintah, khususnya Bapak Presiden sebagai  pemimpin Bangsa untuk memperhatikan berbagai kegelisahan maupun tuntutan  rakyat itu dengan pandangan rahmat dan kasih sayang. Para kiai senantiasa  menyediakan diri lahir-batin, kapan pun Pemerintah membutuhkan saran-saran  dan sumbangan-sumbangan pemikiran. Para kiai akan sangat berbahagia apabila  Pemerintah, khususnya Bapak Presiden, berkenan menjalin hubungan silaturahmi  yang erat, berkesinambungan dan berkelanjutan yang dadasari oleh keikhlasan,  saling percaya dan saling menghormati untuk bersama-sama memikirkan dan  mengupayakan kemasalahatan bagi seluruh rakyat dan bangsa yang kita cintai ini.  Para kiai mengajak untuk meneguhkan kembali semangat keikhlasan serta iman  dan taqwa sebagai landasan niat kita dalam segala upaya mengatasai masalh- masalah Bangsa, agar kita dapat mengharapkan pertolongan dan berkah dari Allah  Subhaanahu Wa Ta’aalaa.

Semoga Allah SWT menjadikan pertemuan pada hari ini bermanfaat bagi seluruh  Bangsa tanpa kecuali, bersesuaian dengan firman-Nya: “rahmatan lil ‘aalamiin”.  Semoga Allah SWT mengaruniakan bagi bangsa ini ruh persatuan dan kesatuan  yang sejati, dan menghindarkan kita semua dari perpecahan.

اللهم أنزل علينا منك رحمة تغنينا بها عن رحمة من سواك، وارحمنا وارحم الإندونيسيين حتى تكون لنا بلدة طيبة وأنت رب غفور. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وسلم تسليما كثيرا. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

(Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Dua Kisah Calon Ahli Neraka yang Masuk Surga

Dua Kisah Calon Ahli Neraka yang Masuk Surga


Imam al-Ghazali bertutur tentang dua kisah mengenai harapan akan ampunan ilahi dalam kitab Ihya. Izinkan saya kisahkan ulang di sini.

Yahya bin Aktsam yang sudah wafat hadir dalam mimpi sahabatnya. Ditanyakan bagaimana keadaannya. Yahya berkata: “Tuhan menyebutkan semua dosaku“.

Yahya ketakutan dan berkata: “Bukankah ada riwayat bahwa Engkau seperti dugaan hambaMu? Dan aku berbaik sangka Engkau tak akan menghukumku“.

Yahya bacakan sanad riwayat tersebut di depan Tuhan. Tuhan membenarkan ucapannya. Dan karena berbaik sangka padaNya itulah maka Yahya diampuni.

Ana ‘inda zhanni abdi bi (Aku sebagaimana persangkaan hambaKu saja). Marilah kita berprasangka baik bahwa Allah akan ampuni dosa-dosa kita. Sebesar apapun dosa kita, berbaiksangkalah Allah akan ampuni. Jangan putus asa dari rahmat dan kasih sayangNya.

Kisah kedua yang dituturkan Imam al-Ghazali tentang harapan akan ampunan ilahi. Ada orang dari Bani Israil yang dimasukkan neraka selama 1000 tahun

Dia terus menjerit memanggil Tuhan. Lantas Jibril diperintahkan membawanya kepada Allah. Allah bertanya: “Bagaimana tempatmu?“. “Jelek“, jawabnya.

Tuhan menyuruh dia kembali masuk neraka. Dia berjalan keluar dan tiba-tiba membalik badannya kembali kepada Tuhan. Lalu ditanya, “Kenapa balik badan?“.

Dia menjawab, “Karena aku benar-benar berharap Engkau tak kembalikan aku ke neraka setelah sejenak aku dikeluarkan“.

Tuhan lalu perintahkan dia masuk surga karena ternyata dia masih punya harapan akan rahmat ilahi. Subhanallah.

Imam al-Ghazali mengajak kita utk memohon keselamatan lewat ampunan dan kasih sayang Allah. Mereka yang penuh dosa namun masih berharap padaNya akan dipeluk oleh kasih sayangNya.

Para ustadz, teruslah menebar harapan akan ampunan ilahi. Jangan tutup pintu surga saat kami masih terus berprasangka baik padaNya

Para ulama, jangan renggut harapan kami akan ampunanNya. Kami pernah berlari meninggalkanNya tapi kami masih bisa membalik badan kepadaNya

Para habib, jangan pandang kami seperti manusia hina. Kalaupun kami pantas masuk neraka, kami tetap berharap dan berprasangka baik kepadaNya

Mari kita tutup dengan doa: Allahumma innaka ‘afuwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna Ya Karim

Sumber : nu.or.id

Saat Santri Berhasil Mengocok Perut Sang Presiden

Saat Santri Berhasil Mengocok Perut Sang Presiden


Kemurnian seorang santri tak terelakkan. Bahkan saking polosnya, kehidupan mereka penuh dengan humor segar yang dapat membuat setiap orang terpingkal-pingkal.

Ceritanya, saat itu Presiden RI Joko Widodo berkesempatan hadir dalam acara peringatan Isra Mi'raj di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah asuhan KH M. Yusuf Chudlori pada Mei 2016 lalu. Kala itu, Jokowi juga lengkap mengenakan sarung dan peci, identitas khas santri.

Kegiatan tersebut tak hanya dihadiri oleh ribuan santri Tegalrejo, tetapi masyarakat sekitar yang sangat antusias dengan kehadiran sang Presiden.

Alakullihal, Jokowi mengakhiri sambutannya dengan membagikan 5 sepeda kepada santri. Sepeda itu diberikan kepada santri yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Presiden.

"Tadi saya bawa 5 sepeda, sepeda akan saya berikan kepada santri yang bisa jawab pertanyaan saya. Tunjuk jari, saya juga bingung mau tanya apa ke santri, suruh ngaji pintar semua. Ya sudah, tanya hal-hal yang umum saja," ucap Jokowi dengan senyum khasnya.

"Itu, ya..." ujar Jokowi menunjuk ke arah santri berbaju putih yang mengacungkan jari.

"Bismillahirohmanirrohim, nama saya Muhammad Azka Fikri dari Pekalongan," ujarnya mantap sambil pringisan dan menyapa hadirin dengan mengangkat kedua tangannya.

"Sebutkan tiga saja nama menteri gak apa-apa, nama pendeknya saja, gak apa-apa boleh," ujar Jokowi mengajukan pertanyaan.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, dia menjawab, "nomor satu, Bu Megawati.” Geeerrrrr..... Sontak jawaban pertama  itu membuat Jokowi dan ribuan hadirin terpingkal-pingkal.

“Nomor dua, Ahok,” jawabnya makin bikin Presiden dan hadirin mengocok perut.

“Nomor tiga, Prabowo," ucap dia dengan percaya diri seolah tak sadar dengan jawabannya itu sehingga volume ketawa Jokowi dan ribuan hadirin makin kencang mengocok perut.

"Sudah, ambil sepedanya," ujar Jokowi sambil terpingkal-pingkal tak mau ambil pusing.

Sebelum nyelonong ke arah sepeda, santri itu pun menyalami hadirin dengan gaya kiss bye sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Ternyata, dia lupa belum salim (cium tangan) dengan sang Presiden. Akhirnya dia balik lagi dan salim kepada Jokowi. Momen tersebut tak pelak membuat hadirin dan Presiden tak henti-hentinya mengocok perut.

(Fathoni Ahmad)

Sumber : nu.or.id
Mengapa Kita Memulai Sesuatu dengan Menyebut Nama Allah?

Mengapa Kita Memulai Sesuatu dengan Menyebut Nama Allah?


Ketika membuka Al-Qur’an, kita akan disambut dengan ayat pertama yaitu :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-fatihah:1)

Dan dalam setiap surat pun selalu diawali dengan Bismillah, kecuali dalam surat Bara’ah.

Hal ini memberi isyarat kepada kita untuk selalu memulai segala aktifitas dengan nama Allah dan tak lupa untuk selalu meminta pertolongan kepada-Nya.

Tapi kenapa harus demikian? Mengapa kita harus memulai segala sesuatu dengan nama Allah? Simak alasan berikut ini,

Kita adalah makhluk yang sangat terbatas dihadapan ciptaan Allah yang begitu agung. Sebesar apapun perbuatan kita pada hakikatnya sangat kecil dan perlahan akan sirna. Namun jika perbuatan kecil itu kita hubungkan dengan Dzat Allah yang tak terbatas, suci dan kekal, maka perbuatan itu akan menjadi agung dan kekal pula.

Sebesar apapun kemampuan yang kita miliki, sebenarnya kita hanyalah makhluk yang lemah. Bagai setetes air ditengah samudra yang luas.

Namun jika setetes air itu menyatu dengan samudra kekuasaan Allah yang begitu agung maka terasa air itu akan menjadi besar dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Tetesan itu kekuatan baru yang dapat merubah segalanya.

Inilah alasan pentingnya memulai setiap perbuatan kita dengan nama Allah.

Rasulullah saw bersabda,

كل أمر ذي بال لا يُبدأ فيه بـ : بسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

“Segala sesuatu yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim maka telah terputus.”

Semoga bermanfaat.

Sumber :metroislam.com
Yang Dilakukan Imam Syafi’i saat Ziarahi Makam Abu Hanifah

Yang Dilakukan Imam Syafi’i saat Ziarahi Makam Abu Hanifah


Perkembangan dunia fiqih tak bisa dilepaskan dari Abu Hanifah atau yang bernama lengkap Nu’man bin Tsabit. Ia bisa dikatakan sebagai perintis ilmu fiqih yang madzhabnya diikuti jutaan umat Islam hingga kini. Ulama yang juga kerap disapa Imam Hanafi ini menginspirasi banyak ulama sesudahnya, tak terkecuali Muhammad bin Idris atau Imam Syafi’i yang juga amat berpengaruh dalam tradisi keilmuan hukum Islam sampai sekarang.

Keduanya, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i, adalah ulama fiqih generasi awal. Meski alim di bidang yang sama, gagasan kedua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah ini tak selalu sejalan. Perbedaan pendapat terjadi dalam banyak hal furu’ (cabang), seperti qunut, rukun shalat, wudhu, dan sejenisnya. Ajaran masing-masing pun di kemudian hari menjadi madzhab tersendiri: produk pemikiran Abu Hanifah disebut madzhab hanafi sementara produk pemikiran Imam Syafi’i disebut madzhab syafi’i.

Imam Hanafi wafat lebih dulu daripada Imam Syafi’I dan saat itulah cerita mengesankan tentang kebesaran pribadi ulama dimulai. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam karyanya, kitab at-Tibyân, mengisahkan, suatu kali Imam Syafi’i berziarah ke kuburan Abu Hanifah. Tak seperti peziarah pada umumnya, Imam Syafi’i rela menginap di area makam hingga tujuh hari.

Selama tinggal di area makam tersebut, Imam Syafi’i tak henti-hentinya membaca Al-Qur’an. Tiap kali khatam, ia selalu menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an itu kepada Imam Abu Hanifah. Yang unik tentu saja adalah tata cara shalat Imam Syafi’i yang lain dari biasanya. Pengarang kitab induk usul fiqh ar-Risâlah ini tak membaca qunut tiap sembahnyang shubuh selama mukim di qubbah makam Abu Hanifah. Padahal dalam madzhab syafi’i, qunut hukumnya sunnah ab’adl (kalau lupa/tertinggal disunatkan sujud sahwi). Hal ini didasarkan pada hadits “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan qunut shubuh sampai beliau berpisah dari dunia (wafat)” (HR. Ahmad dan Abd Raziq). Mengapa?

Jawab Imam Syafi’i:

لأن الإمام أبا حنيفة لا يقول بندب القنوت في صلاة الصبح، فتركته تأدبا معه

“Karena Imam Abu Hanifah menolak kesunahan membaca qunut dalam shalat subuh. Saya tak membaca qunut sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau.”

Menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, kenyataan tersebut menunjukkan keluhuran budi para ulama salaf dalam menyikapi perbedaan (ikhtilâf). Kenyataan serupa juga terjadi pada generasi sahabat Nabi, perbedaan pemikiran tak menjadikan mereka saling mencaci dan saling bermusuhan. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Cara Mbah Ngis Buat Pencuri Menangis

Cara Mbah Ngis Buat Pencuri Menangis


Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (w. 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—berhati lembut hingga beliau tidak mau mempermalukan orang lain di depan orang banyak. Sikap itu dapat kita lihat misalnya ketika menghadapi seorang anak sekolah yang sering mengambil jajanan di warungnya. Sebagai anak Mbah Ngis, Pak Udin tidak senang mendengar ada muridnya yang suka mengambil dagangan ibunya tanpa bayar. Tetapi Mbah Ngis menolak mentah-mentah menyebutkan namanya ketika Pak Udin menanyakan nama anak itu. Mbah Ngis khawatir Pak Udin akan memarahi anak itu di dalam kelas sehingga diketahui seluruh temannya.

“Jangan… Jangan tanya namanya. Akan aku coba atasi sendiri supaya masalah ini tidak didengar banyak orang,”  kata Mbah Ngis kepada Pak Udin.

“Kalau saya tahu namanya kan saya bisa menasihatinya di kelas saat memberikan pelajaran, Bu,”, kata Pak Udin pada Mbah Ngis untuk meyakinkan bahwa Pak Udin bisa membantu karena ia adalah  guru di sekolah itu.

“Nah, itu yang aku khawatirkan,” kata Mbah Ngis.

Mbah Ngis kemudian menceritakan bahwa sebenarnya beliau bisa menangkap basah anak itu cukup dengan menahan tangannya ketika mengambil barang. Memang wajahnya tidak tampak karena bersembunyi di balik teman-temannya yang berjubel di saat istirahat sekolah. Tetapi Mbah Ngis memilih diam dan pura-pura tidak tahu.

“Mengapa tidak langsung ditangkap saja bu... dan kemudian dinasihati baik-baik supaya kapok?” tanya Pak Udin pada Mbah Ngis.

Mbah Ngis menjawab bahwa semula beliau pernah berpikir seperti itu. Tapi selalu beliau urungkan karena membayangkan betapa malunya anak itu kalau ditangkap basah di depan teman-teman sendiri. Mbah Ngis justru merasa kasihan sama anak itu. Apalagi menurut Mbah Ngis, ini juga menyangkut nama baik kedua orang tuanya.

“Hahaha,” tawa Pak Udin lirih.  “Gimana sih, Bu? Ibu kasihan sama dia, sedangkan dia tidak kasihan sama kita,” tanya Pak Udin pada Mbah Ngis, setengah memprotes.

Mbah Ngis menjawab bahwa usul putranya itu cukup bagus, tetapi masih ada cara yang lebih bagus dan lebih bijak. Cara itu adalah menasihatinya pada saat dia jajan sendirian sehingga tidak ada orang tahu. Bagaimanapun menurut Mbah Ngis, tidak baik mempermalukan anak di depan orang banyak.

“Tapi maksud Ibu kan baik?!” Kata Pak Udin berargumentasi.

Namun, argumen tersebut tampak patah begitu saja oleh jawaban Mbah Ngis bahwa justru karena Mbah Ngis punya maksud baik, maka caranya pun juga harus baik. Mbah Ngis sekali lagi mengatakan akan menasihati anak itu ketika sepi tak ada orang lain. Mbah Ngis berharap akan dipertemukan Allah SWT dengan anak itu ketika tak ada orang lain selain dia dan Mbah Ngis.

Harapan Mbah Ngis akhirnya terkabul. Suatu hari di siang yang sepi anak itu jajan sendirian di warung Mba Ngis. Ketika transaksi sudah selesai, Mbah Ngis meminta waktu untuk berbicara. Mbah Ngis mengatakan bahwa Mbah Ngis cukup tahu semua ketidakjujuran anak itu selama ini dengan sebelumnya meminta maaf karena mengganggu waktunya. Anak tersebut mencoba menyangkal dengan pura-pura tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Mbah Ngis.

“Masak kamu tidak tahu?” Tanya Mbah Ngis dengan tatapan mata agak tajam. “Apa aku harus mengungkapkan semuanya?”

Anak itu terdiam agak lama. Sejurus kemudian ia mengatakan bahwa ia paham dengan apa yang dimaksudkan Mbah Ngis. Tak lama setelah itu, ia menundukan kepala. Ia tidak mengira sama sekali kalau selama ini ternyata Mbah Ngis menyimak dan tahu semua masalah ketidakjujurannya. Anak itu akhirnya menangis di depan Mbah Ngis dan berjanji tidak akan mengulangi.

“Ya wis... sing wis ya wis... Ojo dibaleni maneh. Tak dongakke kowe dadi bocah sing becik lan sukses tembe mburune” (Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Jangan diulangi lagi. Saya doakan kamu jadi anak yang baik dan sukses di kemudian hari),” kata Mbah Ngis sambil menenangkannya dan meminta agar ia mengusap air matanya.

Sumber : nu.or.id
Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said


Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Rabiul Awwal diperingati umat Islam Indonesia dan di negara-negara lain. Istilah kegiatan tersebut, sebagian orang menyebutnya “maulid”. Sebagian lagi “maulud”. Maulid nabi atau maulud nabi? Mana yang benar?

“Dua-duanya benar,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di halaman gedung PBNU, Jakarta, Sabtu malam (3/12).

Menurut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, ketika sebagian orang menyebut maulid nabi, berarti yang dihormati adalah hari kelahirannya. Sementara ketika menyebut maulud berarti isim maf’ul. Dengan demikian yang diperingati, dimuliakan adalah bayi yang dilahirkan, yaitu Nabi Muhammad SAW.

“Dua-duanya boleh,” ungkapnya lagi.

Sampai berita ini ditulis ceramah Kiai Said masih berlangsung di hadapan hadirin yang memenuhi halaman dan masjid An-Nahdlah. Hadir pada kesempatan tersebut Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman, Katib Syuriyah KH Nurul Yaqin Ishaq danH Sa’dullah Affandy, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Imam Pituduh dan H Andi Najmi, Ketua LD PBNU KH Maman Imanul Haq Faqih, dan lain-lain

Sumber : nu.or.id
Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam


"Jika Tuhan hendak menampakkan Karunia-Nya kepadamu, maka Dia ciptakan amal dan kemudian dinisbatkannya kepadamu.” (Al-Hikam - Ibn Athaillah)

Seringkali kita terpesona dengan cara Allah menuntun kita membuka jalan menuju ladang amal kebaikan. Dibentangkannya kesempatan untuk kita menunaikan janji, mengabdi dan mengamalkan apa yang telah Tuhan ajarkan sebelumnya kepada kita.

Tuhan bekerja dengan cara-Nya, lantas semua kesuksesan itu dinisbatkan kepada kita. Seolah-olah itu semua hasil kerja keras dan perjuangan kita. Sebenarnya itu hanyalah Karunia-Nya kepada kita karena Dia-lah yang menciptakan amal untuk kemudian kita turut mengerjakannya.

Maka pada setiap amal pekerjaan kita, niatkanlah sebagai bentuk pengabdian kita untuk-Nya. Mengapa demikian? Amal itu bermula dari-Nya dan kita kembalikan hanya kepada-Nya. Dia-lah yang Awal dan Dia pula yang Akhir. Inilah teologi amal.

Ibn Athaillah: "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan.”

Cara kita menyambungkan niat kita dengan Allah sebelum melakukan aktivitas menentukan nilai keberhasilan. Segala amal perbuatan tergantung niat. Begitu pesan Nabi dalam Hadits shahih.

Begitu niat sudah kita pasang efeknya dahsyat karena semua gerak panca indera mengikuti niat tersebut. Hati dan pikiran menjadi fokus. Begitu hebatnya nilai sebuah niat, langsung tercatat sebagai sebuah kebajikan meskipun kelak tak jadi dilaksanakan

Ibn Athaillah: "Janganlah cita-citamu tertuju pada selain Allah. Harapan seseorang tak akan dapat melampaui yang Maha Pemurah".

Pasang niat yang baik di awal, dan tujukan semua akhir kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha Pemurah. Seberapa pun besar harapan yang kita tujukan padanya, semua akan berada dalam jangkauan rahmat-Nya. Rahmat-Nya meliputi semuanya. Maka janganlah berputus asa baik di awal perbuatan, di tengah maupun di akhir karena sudah kita letakkan harapan di Tangan-Nya

"Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan siapa yang mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya." Ibn Athaillah kembali mengajarkan kita bahwa sebaiknya kita ikat nikmat pemberian Allah itu dengan rasa syukur.

Pemberian Allah yang kita ikat dengan rasa syukur, akan semakin kuat nilainya, dan terus bertambah. Sebaliknya, kufur nikmat akan menghapusnya. Komplit sudah amalan kita jika niat sudah mantap di awal, tujuan amal hanya kepada Allah dan syukur mengikat nikmat di akhir.

Sumber : nu.or.id
Pencemar Nama Baik NU Pamekasan Siap Minta Maaf Terbuka

Pencemar Nama Baik NU Pamekasan Siap Minta Maaf Terbuka


Kantor PCNU di Jalan R Aziz Pamekasan disesaki banyak orang, Ahad (4/12). Mereka terlihat tegang karena sedang berlangsung sidang pencemaran nama baik NU.

Dari sederet orang tersebut, terdapat pria berkopiah putih duduk tertunduk lesu. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Dialah Moh Hotib, pria asal Kabupaten Pamekasan yang beberapa hari sebelumnya tidak mampu mengontrol jempolnya. Melalui satu perangkat media sosial (medsos), dia merangkai kata-kata yang mengarah pada pencemaran nama baik Nahdlatul Ulama.

Perilaku tak terpuji Hotib tergolong hate speech (ujaran kebencian). Dia pun terancam diperkarakan hingga berujung penjara. Banyak warga Nahdliyin terbakar emosi hendak menyikapinya "secara adat".

Untungnya, pimpinan Pengurus Cabang NU Pamekasan mampu mendinginkan situasi. Dilangsungkanlah sidang bernuansa kekeluargaan di kantor PCNU yang dihadiri Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim, Ketua Lakpesdam NU Taufiqurrahman, Wakil Ketua PCNU Sohebuddin, Ketua Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Mahrus Miyanto, pengurus terus tanfidziyah PCNU, lajnah, lembaga, GP Ansor, dan warga Nahdliyin.

KH Taufiq Hasyim menegaskan, sidang tersebut bertujuan guna memperjelas akar persoalan; mengetahui secara langsung maksud Hotib melakukan ujaran kebencian terhadap NU.

"Sebenarnya bisa saja langsung melaporkan saudara Hotib ke aparat. Apalagi kami sudah MoU dengan Polres Pamekasan terkait ujaran kebencian. Tapi kami tempuh jalur kekeluargaan dulu. Dilangsungkanlah sidang yang disaksikan semua pihak," ujar Pengasuh Pesantren Sumber Anom, Pegantenan, Pamekasan tersebut.

Melalui sidang dan komunikasi kekeluargaan, tambah Kiai Taufiq, diharapkan ada efek jera bagi pelaku. Niat Kiai Taufiq bersama pengurus NU lainnya ialah untuk memberi pelajaran terdidik terhadap siapa pun yang bertindak salah.

Selama sidang berlangsung, Hotib menampakkan penyesalan atas perbuatannya. Dia menyatakan siap melakukan ap apun supaya tindakan negatifnya dapat pengampunan dari NU.

Berhubung NU merupakan organisasi warga Nahdliyin yang berasal dari ragam profesi, akhirnya dalam sidang tersebut menghasilkan beberapa keputusan yang tertuang hitam di atas putih berkekuatan hukum atau bermaterai dan ditandatangani Moh Hotib.

Beberapa poin keputusan tersebut meliputi Hotib wajib minta maaf secara terbuka di media cetak dan online. Selain itu, sowan ke mustasyar dan Rais Syuriyah PCNU Pamekasan. Selanjutnya, akan ada rencana tindak lanjut setelah Moh Hotib sowan ke masyaikh. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Sumber :nu.or.id
Habib Luthfi: Orang Bertakwa Pengayom, Bukan Pemecah Belah Bangsa

Habib Luthfi: Orang Bertakwa Pengayom, Bukan Pemecah Belah Bangsa


Rais Aam Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengatakan kandungan merah putih menjadi kehormatan bangsa. Untuk itu perlu disyukuri dengan lita'arafu, saling kenal-mengenal. Perbedaan menjadi berkah karena orang yang paling mulia yang di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa.

“Orang yang bertakwa tentunya menjadi pengayom, penyejuk, bukan pemecah belah. Mari kita perkokoh NKRI, dengan bangga menjadi bangsa Indonesia, NKRI Harga Mati,” tutur Habib Luthfi ketika mengisi taushiyah dalam kegiatan istighotsah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (2/12).

Diakui Habib, saat ini banyak berusaha memecah belah bangsa yang tentunya membikin keresahan dan kegelisahan masyarakat, juga membuat kekhawatiran aparat keamanan. Tetapi upaya pemecahbelahan bangsa Indonesia tidak akan terjadi kalau kita semua menjaga persatuan, menguatkan barisan antara ulama dan umara.

“Kita harus malu pada Sang Merah Putih karena bendera bangsa Indonesia didapat dengan tetesan darah, nyawa bahkan anggota keluarga, akankah kita cuma lesu tak berbuat untuk mempertahankan NKRI?” tegasnya.

Kegiatan istighosah tersebut diprakarsai Polres Brebes sebagai upaya menjaga kebhinnekaan dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Karena ditengarai, menurut Kapolres Brebes Luthfi Sulistiawan, semangat persatuan dan kesatuan mulai luntur yang mengakibatkan menurunya semangat kebangsaan.

Kapolres juga menjelaskan, kalau sekarang Polri tengah mengembangkan polisi masyarakat. Dalam artian peran serta masyarakat sangat dikedepankan. Termasuk dengan peran ulama dan umara yang bersatu, akan memperkokoh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. (Wasdiun/Fathoni)

Sumber :nu.or.id
Inilah Keutamaan Memuliakan Bulan Maulid

Inilah Keutamaan Memuliakan Bulan Maulid


Bulan Rabiul Awwal, di berbagai tempat diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan atas bulan kelahiran nabi. Memuliakan kelahiran Nabi Muhamma SAW. ini, sungguh banyak keutamannya.

“Sayyidina Ustman bin Affan r.a. berkata, 'iapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid nabi. Maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar',” terang Pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy KH Abdul Karim Ahmad, pada acara putaran perdana Jamaah Mahabbah Rosul Putri (Jamuri) Surakarta di Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Surakarta, Kamis (1/12).

Selain itu, dipaparkan Gus Karim, Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karomallahu wajhah juga mengatakan, "Siapa yang membesarkan majlis Maulid Nabi dan karenanya diadakan majlis membaca maulid, maka dia tidak akan keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan masuk ke dalam surga tanpa hisab."

“Untuk itu, mari di bulan Maulid ini, kita ikut memuliakannya, salah satunya ya dengan ikut kegiatan sholawat bersama Jamuri ini. Kalaupun belum hafal, tidak apa-apa, yang penting bibir ikut bergerak,” tutur Gus Karim, disambut tawa para jamaah.

Sementara itu, Ketua Jamuri Surakarta, Nyai Hj Sechach Wal’afiyah, pada bulan Rabiul Awwal 1438 H, Jamuri Surakarta siap menggelar estafet kegiatan maulid selama satu bulan penuh.

“Insyallah selama bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. ini, Jamuri akan kembali mengadakan kegiatan estafet maulid, pembacaan kitab Al-Barzanjiy, yang diselenggarakan berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya,” terang Nyai Sechach. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Ini Petuah KH Maimoen Zubair Terkait Kondisi Bangsa Indonesia Saat Ini

Ini Petuah KH Maimoen Zubair Terkait Kondisi Bangsa Indonesia Saat Ini


Keshalehan vertikal kepada Allah lahir dari penguatan keshalehan sosial kepada seluruh umat manusia. Sebab itu menurut Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair, habluminallah mesti diperkuat dan habluminannas harus dijaga dengan baik.

Hal itu diungkapkan oleh Mbah Maimoen untuk merespon sebagian kelompok di Indonesia yang masih gencar menggunakan isu perbedaan agama untuk sebuah kepentingan politik dan golongan. Tentu hal ini bisa memecah belah kerukunan bangsa yang selama ini terjaga dengan baik.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini, perbedaan tak perlu dibesar-besarkan karena bisa memicu konflik SARA. Sebab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hidup rukun harus dijaga dengan baik di tengah kemajemukan.

“Perbedaan tak perlu dibesar-besarkan sehingga kita bisa hidup rukun. Yang penting kita umat Islam itu habluminallah harus dikuatkan dan habluminannas harus dijaga dengan baik,” tegas Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

Kiai sepuh kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 ini mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan pentingnya menjunjung dan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Hal ini mengingat kerap kali ditemukan orang atau kelompok yang terus berupaya memecah belah bangsa dan menganggu stabilitas negara dengan berbagai upaya.

Sentimen SARA sering dihembuskan sebagai pemicu efektif terhadap kekacauan yang selama ini terjadi. Lain daripada itu, membawa-bawa agama dalam kepentingan politik juga menambah daftar kegagalpahaman sebagian kelompok dalam memaknai dasar negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan segala penguatnya.

“Pada masa sekarang ini, sudah tidak ada khalifah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional,” ujar Mbah Maimoen.

Sebab itu ia menuturkan, jika hanya Islam, tidak akan mampu mempersatukan perbedaan di Indonesia. Menurutnya, nasionalisme harus disinergikan dengan keislaman sehingga beda tapi sama, sama tapi beda.

“Dalam perbedaan ada titik-titik kebersamaan. Agama mengajarkan perbedaan tetapi ada titik persamaan, yaitu seluruh agama mengajarkan kebaikan,” jelasnya. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kekuatan Kiai Ali Maksum Seusai Dipukul Linggis

Kekuatan Kiai Ali Maksum Seusai Dipukul Linggis


Suatu ketika, KH Ali Maksum (Allah yarham), pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta tengah menyampaikan ceramah pada sebuah acara peringatan haul.

Di tengah ia ceramah, tiba-tiba muncul orang yang membawa sesuatu yang dibungkus kain surban berwarna putih, naik ke atas panggung. Secara cepat pula, orang tersebut memukulkan benda yang ternyata linggis itu ke Mbah Ali dengan membabi buta. Kurang jelas, apa motif orang tersebut sehingga berani memukul tokoh yang dihormati tersebut, di depan publik.

Yang terjadi setelah peristiwa pukulan linggis tadi, membuat Mbah Ali jatuh tersungkur dan mengalami luka yang parah. Bahkan, Ketika itu, kiai yang pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU itu mesti opname hampir dua bulan karena luka parah.

Namun, justru di sinilah letak kekuatan Simbah Kiai Ali, usai menerima serangan pukulan linggis. Ketika dirawat di rumah sakit, salah satu santrinya yang kala itu ikut menunggu, KH Abdul Karim, masih ingat pesan yang disampaikan oleh Kiai Ali.

“Beliau berkata : “kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel (semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci),” kenang kiai yang akrab disapa Gus Karim itu, menirukan ucapan dari sang guru.

Kekuatan yang diperlihatkan KH Ali Maksum, bukanlah kekuatan kebal menerima pukulan linggis, melainkan kekuatan meredam amarah dan kebencian kepada sang pelaku. Kekuatan memaafkan inilah yang lebih "ampuh", daripada sekedar kekuatan fisik.

Teladan sikap memaafkan KH Ali Maksum ini pula, barangkali yang kemudian ikut mengalir dan mengilhami kepada para santrinya, yang termasuk di antaranya yakni KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). (Ajie Najmuddin, kisah ini bersumber dari penuturan KH Abdul Karim Ahmad, Pengasuh Pesantren Alqur’aniyy Solo, 25/11/2016)

Sumber : nu.or.id
Wahai Bangsaku Relakah Negerimu Terpecah-belah?

Wahai Bangsaku Relakah Negerimu Terpecah-belah?


Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menegaskan untuk tidak berbasa-basi mengakui negara Indonesia sebagai tanah air. Ia mengatakan hal itu di lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah pada Rabu (30/11).

“NKRI harga mati, bukan basa-basi,” katanya pada Apel Kebhinekaan yang diikuti oleh aparat keamanan TNI dan Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan masyarakat umum sebagaimana diberitakan Tribun Jateng.

Habib Luthfi kemudian meminta hadirin untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah air dimana pun berada. “Kita hidup di Amerika, Indonesia tanah airku. Kita hidup di Timur Tengah, Indonesia tanah airku, kita hidup di negeri China, Indonesia tanah airku. Kita hidup di mana pun, Indonesia tanah airku,” tegasnya di video yang diunggah di Youtube hari ini oleh akun Syaroni As-Samfuriy.

Kemudian habib asal Pekalongan tersebut mengajak untuk memahami keistimewaan laut. Menurutnya, ketika mendengar laut, yang terpikir adalah air, ikan, dan perahu. “Berapa anak sungai di Indonesia kalau musim kemarau, kalau musim penghujan; berapa juta kubik per detik mengalir ke laut dengan membawa limbah, membawa macam-macam.”

Meski demikian, kata dia, benda-benda yang masuk ke laut tidak mampu mengubah rasa asinnya laut. Itu merupakan kehebatannya. “Ikan yang ada di laut tidak perlu diasini karena dia hidupnya sudah di tempat yang asin. Anehnya masih membutuhkan yang asin. “

Berarti, lanjutnya, ikan itu tetap tawar, tapi bisa bergaul dengan yang asin. Hal itu menandakan kerukunan yang sulit dipisahkan dari laut.

Kemudian ia mengimbau kepada TNI, Polri, anak-anak muda untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Semua kalangan jangan mudah dipecah-belah.

Menurutnya, pecah-belah itu bisa dilakukan dengan tekanan ekonomi. Tapi jika tekanan ekonomi tidak mempan, yang paling berbahaya adalah membenturkan artarumat bergama. “Wahai bangsaku, yang membanggakan, relakah negerimu berpecah-belah?”

Menurut Tribun Jateng, pada apel tersebut, hadir Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Kajati Jateng, Rektor Universitas Diponegoro Semarang, serta musisi Iwan Fals. (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Menghujat dan Mencaci-maki Ulama

Menghujat dan Mencaci-maki Ulama


Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Dewasa ini di media sosial banyak lahir penghujat dan penista baru. Dan yang mereka hujat bukanlah orang sembarangan, melainkan orang-orang yang berpengaruh, seperti ulama dan presiden. Sebagai contoh, Kiai Said Aqil Siroj dihujat dengan tuduhan fatwa-nya karena duit, Prof Quraish Shihab dituduh Syiah dan Gus Mus dihina dengan umpatan yang, tak tega saya menulisnya di sini. Belum lagi, orasi Ahmad Dhani yang menghujat presiden, pemimpin 255 juta rakyat Indonesia, dengan umpatan yang sungguh mengerikan.

Tak hanya itu, KH Maemoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, ulama sepuh yang dikenal 'alim, dihormati jutaan umat dan dijuluki "kitab kuning berjalan," pun tak luput dari sasaran umpatan. Padahal, banyak kiai yang menyebut bahwa Mbah Moen adalah "paku bumi" Nusantara hari ini. Tak hanya dalam negeri, ulama-ulama luar negeri pun mengakui. Beliaulah yang "menjaga" keberlangsungan ajaran Rasulullah, ditengah ulama-ulama 'alim yang sudah menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi.

Umpatan, celaan, hinaan dan nistaan itu sesungguhnya adalah bentuk ketidakmampuan memahami apa itu yang disebut kritikan dan apa itu hujatan. Kritikan, adalah koreksi atas perilaku, tindakan atau kebijakan seseorang dengan argumen yang ilmiah dan logis, dengan bahasa yang santun, konstruktif dan proporsional. Hal ini beda dengan umpatan, celaan, hinaan dan nistaan, yang menilai sesuatu atas dasar kebencian, kata-kata kasar dan tidak dengan argumen logis dan ilmiah. Umpatan dan sejenisnya itu merupakan ketidakmampuan seseorang melawan dengan terhormat, kecuali dalam keadaan yang genting dan menyakitkan menghadapi musuh, semisal dalam perang dan penindasan.

Kebebasan di alam demokrasi, selain membawa kita masyarakat Indonesia menuju kebebasan berpikir, bukan berarti tanpa ancaman. Kebebasan itu disalahpahami dengan hak untuk melakukan apa saja: bicara, menulis dan bertindak semau-maunya. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, kebebasan adalah kemampuan untuk memahami batasan. Seperti halnya mutiara kata Arab, yang sering disampaikan guru saya KH Achmad Chalwani: hurriyatul mar'i mahduudun bi hurriyati ghairih; kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Seiring dengan cepatnya arus informasi karena globalisasi, hampir tak ada sekat dan jarak di muka bumi ini. Semua orang dapat mengungkapkan apa saja di internet, khususnya media sosial. Hal ini bak pisau bermata dua: mengandung kemanfaatan disatu sisi, juga kemafsadatan di sisi lain. Informasi positif, konstruktif dan mencerahkan bisa menyebar dengan cepat. Namun demikian, hal-hal negatif, dari pornografi, fitnah, agitasi, propaganda, hasutan dan hujatan, tak bisa dibendung. Inilah sebuah zaman, yang meminjam istilah novelis Okky Madasari, membuat iri generasi sebelum kita. Meski demikian, hemat saya, bisa juga hal ini dimaknai sebuah kemuduran, yang membuat generasi dahulu menangis pedih melihatnya.

Seiring meningkatnya ilmu pengetahuan, dengan demokrasi yang kebablasan, orang kini tak lagi bisa membedakan mana roti mana kotoran. Semua manusia dianggap sama. Slogan dan terapan one man one fote dalam demokrasi kita, di satu sisi menegakkan hak setiap orang, namun di sisi lain menyamaratakan "kualitas" seseorang. Padahal tetap saja ada perbedaannya. Nabi Muhammad memang manusia seperti halnya kita, tetapi ia juga bukan manusia biasa. Ibarat ia adalah batu intan permata, dan kita batu kali biasa. Dan ulama adalah pewaris para nabi, yaitu ulama yang benar-benar mengikuti akhlak nabi.

Media adalah legitimasi yang ampuh di jaman demokrasi liberal. Siapa pun yang tampil di televisi dan bisa sedikit dalil atau motivasi, langsung dipanggil ulama atau minimal ustadz dan ustadzah. Untuk dianggap ustadz di media, mesti menjadi preman dulu, mesti non-muslim yang belakangan masuk Islam, baru kemudian publik memiliki ketakjuban dan perhatian. Sedangkan kiai-kiai dan ribuan orang alim yang lahir dari pergulatan kitab-kitab bertahun-tahun, dan lahir dari rahim masyarakat, karena tidak dilegitimasi televisi misalnya, tidak diakui sebagai ulama. Di media, kebenaran dianggap ucapan siapa pun yang sesuai dengan yang mereka suka. Bahkan, umpatan dan celaan bisa datang dari seorang anak ingusan kepada para pemimpin negeri dan ulama.

Di tengah kebenaran yang serba kabur ini, kita perlu kembali berpegang kepada akhlak nabi, yang sebagian tercermin pada akhlak para ulama – yang benar-benar ulama – meski ia jarang tampil di media. Kita perlu mengingat kembali, visi nabi diutus ke dunia: menyempurnakan akhlak manusia (liutammima makaarimal akhlak). Jika kita belum bisa jadi orang alim, minimal kita cinta dengan orang alim. Jika kita belum bisa menjadi orang yang shaleh, minimal kita cinta dengan orang shaleh. Jika kita belum mampu menjadi orang berakhlak, minimal kita cinta dengan orang yang berakhlak. Bukan justru menghujatnya, menghinanya, mencacinya, dengan kata-kata kasar yang melukai umatnya.

Kita boleh tak sepakat dengan siapapun, kepada tokoh, ulama, nabi, bahkan Allah pun boleh untuk tidak disepakati, dengan membebaskan manusia memilih agama sesuai kehendaknya. Namun ketidaksepakatan itu bukan berarti boleh untuk tidak menghormatinya, apalagi mencelanya. Semua manusia harus dihormati sebagai manusiannya, dan boleh tidak disukai perilakunya. Mengkritik seseorang, tokoh, ulama, perlu dengan argumen yang logis serta dengan santun agar tidak dosa, yaitu ketika melukai hatinya. Jika asal misuh, mengumpat, mencerca, itu bukan kritikan tetapi penghinaan. Padahal, Allah SWT, Sang Pencipta sendiri berfirman: Walaqad karramna baani Aadam; sungguh kami (Allah) memulyakan anak keturunan Adam (QS. Al-Isra:70). Jika Sang Penciptanya saja menghormati manusia – ciptaan-Nya – waraskah kita jika saling mencela sesama manusia?

Sumber: nu.or.id
Pria Ini Bersyahadat Karena Lihat Keramahan Seorang Tua Muslim

Pria Ini Bersyahadat Karena Lihat Keramahan Seorang Tua Muslim


Kepala Perpustakaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Syatiri menuntun seorang pria asal Manado membaca dua kalimat syahadat di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (11/16) siang. Menurut H Syatiri, pria ini ingin menemukan ketenangan dalam agama Islam.

Sehari-harinya pria ini menjalani kehidupan di jalan bersama anak-anak jalanan.

“Ia masuk Islam atas kesadaran sendiri. Berdasarkan perjalanan spiritualnya ia berjumpa dengan orang tua. Ia sangat kagum dengan akhlak orang tua  yang dijumpainya sehingga membuatnya nyaman dan tenang,” kata H Syatiri.

Sebelumnya pria ini merasa gelisah dan ingin menemukan ketenangan. Ketika bertemu dengan orang tua beragama Islam yang tidak dikenal namanya, ia mendapatkan ketenangan. Orang tua tersebut, lanjutnya, berpakaian putih, mengenakan sorban, dan bertutur lembut. Perilaku dan cara bicara orang tua itu menyentuh hatinya.

“Setelah masuk Islam, ia berharap mendapatkan gemblengan atau pengajaran Islam secara berkelanjutan. Ke depan, Ia ingin mendalami Islam dan mengamalkannya dengan baik,” sambung H Syatiri.

Ke depan ia akan dibina oleh pengurus Lembaga Takmir Masjid PBNU.

“Saya serahkan ke LTM PBNU yang mudah-mudahan akan memfasilitasi keinginannya. Bisa masuk pesantren,” pungkasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Sumber :nu.or.id
Ini Pesan KH Maimoen Zubair saat Disowani Banser

Ini Pesan KH Maimoen Zubair saat Disowani Banser


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair menuturkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan. Ia mengatakan bahwa Indonesia walaupun di dalamnya ada perbedaan agama, prinsip bhinneka tunggal ika harus tetap dijaga.

"Mari kita jaga bersama keadaan dan keutuhan Indonesia. Mari kita buat Indonesia ini menjadi lebih baik. Mari kita minta kepada Allah, agar Indonesia dikuatkan," ajaknya di hadapan puluhan kader Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Rembang saat sowan di kediamannya, Ahad (27/11) sore.

Ia mengatakan bahwa keberislaman di Indonesia sekarang sudah cukup ramai. Dulu, kisanya, ketika ia masih kecil, orang sembahyang hanya sepuluh persen. Baca syahadat hanya ketika akan kawin. Tapi sekarang anak kecil sudah bisa baca syahadat.

"Ini suatu hal yang harus disyukuri Indonesia," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersebut.

Mbah Moen, sapaan akrabnya menambahkan, bahwa Nabi diutus untuk mengurusi keseluruhan, bukan hanya terfokus pada suatu perkara saja.

"Indonesia ini di dalam perbedaan agama itu harus tetap bhinneka tunggal ika. Tidak hanya negara Islam, karena negara Islam sekarang sudah tidak ada. Khalifah itu sudah habis, yakni khalifah yang pertama Khulafaur Rasyidin, kedua Muawwiyah, Abbasiyah dan terakhir Khulafa' Usmaniyyah," tutur kiai kharismatik tersebut.

Ia berpesan kepada rakyat Indonesia agar tetap menjaga kondisi bangsa. Menjaga dari kesemrawutan bangsa. "Islam itu rahmatan lil 'alamin. Islam itu harus ada ulama, apalagi bangsa. NU juga harus bisa mengaji kitab, baca Qur’an, tahu artinya," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?

Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?


Salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang III KH Abdul Ghofur Maimoen menyesalkan hujatan murtad terhadap Banser dalam menjaga gereja, padahal fikih Islam, penghormatan terhadap warga nonmuslim sudah selesai.

"Siapa yang berani mengatakan Sayyidina Umar murtad?" ujar pria karib dipanggil Gus Ghofur itu, di Batam Kepulauan Riau, Ahad (27/11).

Doktor Ushuluddin  Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir itu menegaskan, Sayyidina Umar ketika memimpin kekhalifahan tidak membakar gereja karena dalam fiqih Islam, umat Islam juga menjaga warga negara yang nonmuslim.

"Sayyidina Umar bin Khotob tidak merusak tempat ibadah nonmuslim. Siapa yang berani mengatakan beliau murtad. Kalau ada Banser menjaga gereja itu mengikuti fikih Islam dan juga Sayyidina Umar," kata dia pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Gus Ghofur menambahkan, di media sosial (medsos) banyak yang mencibir  Ansor dan Banser. Bahkan ada yang menghujat ketika Banser Riyanto yang menjaga gereja mati karena bom, bukan bersimpati.

"Saya salah satu pimpinan Banser. Kalau ada apa-apa dengan Banser, saya ikut bertanggung jawab. Apa yang dilakukan Banser dalam kerangka menjaga NKRI. Kalau kita bangga dengan Indonesia, itu tidak menjadi soal karena nabi-nabi juga melakukan itu. Anak turun Nabi Ibrahim melahirkan bangsa-bangsa besar, dan mereka bangga dengan bangsanya," ujarnya didamping Ketua Bidang Kaderisasi PP GP Ansor Ruchman Basori.

Islam, demikian Gus Ghofur lagi, disampaikan melalui Nabi Muhammad karena nabi memang hebat dan tahu rumusan masalah.

"Banser tidak akan lagi menjaga gereja jika ada jaminan kelompok radikal tidak lagi meneror gereja. Tapi sebaliknya, kalau teror terhadap gereja masih ada, maka Banser akan tetap menjaga gereja karena dalam fikih Islam itu sudah clear," pungkasnya pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Hukum Shalat di Jalan Umum Menurut Imam al-Nawawi

Hukum Shalat di Jalan Umum Menurut Imam al-Nawawi


Hampir semua ibadah yang diperintahkan Allah SWT memiliki dampak positif dan kemaslahatan bagi manusia. Kemaslahatan tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakannya, tetapi juga berdampak pada orang lain. Ibadah shalat misalnya, di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS: al-‘Ankabut: 45). Apabila tujuan shalat ini terwujud nyata dalam perilaku orang Islam, tentu ini akan memberikan kenyamanan dan ketenangan terhadap orang lain.

Dikarenakan tujuan ibadah baik dan mulia, mestinya pelaksanaan ibadah juga mengindahkan kemaslahatan orang lain. Lakukanlah ibadah sebagaimana mestinya dan usahakan tidak mengusik kenyamanan orang lain. Jangan mentang-mentang kita ingin beribadah, tapi malah menganggu aktifitas orang lain. Misalnya, membaca al-Qur’an itu amalan yang baik, tapi akan lain cerintanya bila kita membacanya malam hari dengan suara keras dan menggunakan pengeras suara pula, ini tentu akan memancing hujatan dan makian banyak orang.

Begitu pula shalat, alangkah baiknya shalat dilakukan di tempat yang tidak menganggu aktivitas orang lain atau tempat yang sudah dikhususkan penggunaannya untuk shalat. Berdasarkan alasan ini, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab memakruhkan pelaksanaan shalat di jalan umum. Kemakruhan ini tentu tidak berdampak pada pembatalan shalat. Beliau mengatakan:  

ولا يصلي في قارعة الطريق لحديث عمر رضى الله عنه "سبع مواطن لاتجوز فيها الصلاة وذكر قارعة الطريق" ولأنه يمنع الناس من الممر وينقطع خشوعه بممر الناس فإن صلى فيها صحت صلاته لأن المنع لترك الخشوع أو لمنع الناس من الطريق
وذلك لا يوجب بطلان الصلاة

“Janganlah shalat di jalan umum karena hadis dari ‘Umar menyebut bahwa ada tujuh tempat yang dilarang malakukan shalat, salah satunya adalah jalan umum. Shalat di jalan umum dilarang karena menghalangi jalan orang lain dan kekhusyukan shalat terganggu lantaran orang lalu-lalang. Kendati demikian, shalat yang dilakukan di jalan umum tetap sah, karena larangan di sini disebabkan oleh hilangnya kekhusyukan dan menganggu jalan orang lain. Kedua hal ini tentu tidak berdampak pada pembatalan shalat”

Menurut Imam al-Nawawi, ada dua alasan dimakruhkan shalat di jalan umum: pertama, menghalangi perjalanan orang lain, terlebih lagi bila shalat diselenggarakan di jalan raya atau umum; kedua, menganggu kosentrasi dan kekhusyukan shalat. Laiknya jalan raya pada umumnya tidak pernah sepi dari kendaraan ataupun pejalan kaki. Hal ini tentu berakibat pada ketidakfokusan pikiran. Shalat di masjid saja susah khusyuknya, apalagi di jalan umum.

Beliau menambahkan, bila shalat dilakukan di jalan yang tidak dilewati banyak orang, seperti jalan di hutan ataupun padang sahara, maka shalat di sana diperbolehkan. Beliau mengatakan:

وذكر الأصحاب علة ثالثة وهي غلبة النجاسة فيها قالوا وعلى هذه العلة تكره الصلاة في قارعة الطريق في البراري وإن قلنا العلة فوات الخشوع فلا كراهة في البراري إذ لم يكن هناك طارقون

“Sebagian ulama  menambahkan bahwa bahwa ‘illah dilarang shalat di jalan adalah karena ada najis. Oleh sebab itu, mereka juga memakruhkan shalat di jalan yang terdapat di padang sahara (meskipun di sana tidak ada orang lewat). Namun bila kita mengatakan ‘illahnya karena hilangnya kekhusyukan, maka tidak dimakruhkan shalat di padang sahara, karena tidak ada (jarang) orang yang lewat.”

Dengan demikian, seyogyanya pelaksanaan shalat tidak menganggu kenyamanan orang lain. Terlebih lagi, dalam konteks Indonesia, masjid dan mushola masih banyak dan luas. Beda halnya bila masjid sudah tidak mampu menampung banyak jemaah atau tidak ada masjid sama sekali, sebagaimana muslim di daerah minoritas. Dalam kondisi ini tentu menggunakan jalan sebagai tempat shalat menjadi salah satu alternatif. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

Sumber : nu.or.id
Para Wali Menyatukan Umat, Kita Malah Memecah-Belah Umat

Para Wali Menyatukan Umat, Kita Malah Memecah-Belah Umat


Acara bertajuk “Dzikir Akbar dari Yogyakarta untuk Indonesia” bersama Maulana al-Habib Luthfi bin Ali bin Yahya (Senin, 21 November 2016) ini diselenggarakan oleh Madrasah Diniyah al-Quran Kraton Yogyakarta. Acara berlangsung dengan penuh khidmat, sejak pukul 20.00 WIB ba’da Isya hingga selesai dini hari. Turut hadir dalam acara tersebut para ulama, kiai, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, TNI, POLRI beserta keluarga Kraton Yogyakarta.

“Jangan terus-terusan mencari perbedaan, carilah persamaan agar kita bisa maju dan negara bisa makmur,” tutur Habib Luthfi mengawali ceramahnya. “Lihatlah bangsa lain sudah makmur dan mapan, kita malah masih mencari perbedaan. Membahasnya melulu beda tahlil, maulid, shalat, dlsb. Ayo berpikir,” lanjutnya.

Jika kita bersatu-padu menyongsong negri ini, niscaya akan makmur dan maju. “Ojo kakean ngurusi perbedaan lan nggolek salahe wong (Jangan banyak ngurusi perbedaan dan mencari-cari kesalahan orang)”, tegas Habib Luthfi. “Apa kita ndak malu sama para auliya? Mereka sudah sedo (wafat), tapi mampu menyatukan bangsa.”

Sunan Ampel, makamnya ramai diziarahi dari berbagai daerah. Itu menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Lihat Sunan Gunung Jati, makamnya selalu ramai bahkan dari berbagai belahan bumi sowan, ziarah. Beliau sudah sedo, tapi bisa menyatukan umat dalam satu wadah. Ada yang dzikirnya pelan, keras, panjang, pendek bahkan ada non-muslim. Tapi mereka khusyuk tanpa menganggu yang lain. “Ingat, kita merdeka karena bersatu. Jika kita bersatu, kita bisa membangun bangsa kita ini.”

Habib Luthfi kembali mengingatkan, “Sultan Agung Yogyakarta, makamnya ramai yang ziarah dari berbagai kalangan. Bukan aturan sebenarnya memakai blangkon atau kebaya dll. yang berhubungan dengan nuansa kraton, tapi untuk mengingatkan bahwa kita itu bangsa Indonesia yang punya budaya, kebetulan kita di tanah Jawa budayanya ya gitu.”

“Apa kita tidak malu kepada wali-wali Allah? Sudah wafat tetapi bisa menyatukan bangsa, mengingatkan sejarah bangsa, menyetarakan kaum. Jangan cari perbedaan. Panjenengan tau apa hasil yang saya bawa dari ziarah? Malu. Iya malu. Malu kepada yang sudah sedo. Mereka yang sudah wafat mampu menyatukan umat, kita yang masih hidup malah memecah-belah umat!” tukas Maulana Habib Luthfi bin Yahya menyayangkan

Source: metroislam.com
Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bid'ah Besar

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bid'ah Besar


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) merasa prihatin ketika ada rencana Shalat Jumat di Jalan Raya pada 2 Desember 2016 oleh kelompok yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini memberikan pernyataan melalui akun twitter pribadinya @gusmusgusmu, Rabu (23/11) sebanyak 7 cuitan.

"Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jumat-an di jalan raya. Mudah-mudahan tidak benar," cuit Gus Mus.

"Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada bid'ah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran," sambung Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 ini.

Gus Mus mempertanyakan apa dalil Al-Qur’an dan haditsnya melakukan shalat Jumat di jalanan. Dia juga mempertanyakan apakah Rasullullah SAW, para sahabat dan tabi'in pernah melakukan atau membolehkan salat Jumat di jalan raya.

"Kalau benar, apakah shalat tahiyyatal masjid diganti shalat tahiyyatat thariq atau tahiyyatasy syari?" tanyanya.

Jika shalat Jumat di jalan protokol Jakarta itu benar akan dilakukan, lanjut Gus Mus, dia mengimbau umat Islam yang percaya dirinya tidak punya kepentingan politik apapun agar memikirkan hal itu dengan jernih.

"Setelah itu silakan Anda bebas untuk melakukan pilihan Anda. Aku hanya merasa bertanggung jawab mengasihi saudaraku. In uriidu illal ishlãha mãs tatha'tu wamã taufiiqii illa biLlãhil 'Aliyyil 'Azhiim," tulisnya.

"Artinya kurang lebih: Aku hanya berniat (ber)baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung," imbuh Gus Mus menjelaskan artinya.

Sampai berita ini ditulis, tweet Gus Mus tersebut direspon oleh ribuan netizen jika diakumulasi, baik dalam bentuk retweet, like, mention, dan reply. Dalam pantauan NU Online, pernyataan Gus Mus ini juga dijadikan rujukan oleh berbagai media online nasional untuk diterbitkan. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini