Sedekah Pohon untuk Anak Cucu

Sedekah Pohon untuk Anak Cucu


Wartaislami.com ~ Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan.

Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَرَسَ غَرْساً، لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ آدَمِيٌّ، وَلاَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ، إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

Artinya: “Siapa yang menanam tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan anak Adam (manusia) atau makhluk Allah lainnya, niscaya baginya (pahala) sedekah “ (HR. Muslim)

Sabda tersebut menggerakkan para sahabat Nabi untuk melakukan penghijauan. Diceritakan, Abu Darda radliyallahu ‘anhu pernah menanam pohon zaitun ketika usianya sudah senja. Padahal, untuk menghasilkan buah pohon tersebut membutuhkan waktu cukup lama.

Abu Darda pun ditegur seseorang perihal kegiatannya ini. “Kenapa Engkau menanam pohon zaitun, padahal pohon tersebut lama berbuah sementara usiamu sudah tua, wahai Abu Darda?”

“Tidak menjadi persoalan pohon yang saya tanam berbuah ketika saya sudah meninggal, tapi nanti yang menikmati anak cucu saya,” jelas Abu Darda.

Abu Darda pun melanjutkan penjelasannya,  “Anak cucu saya akan mendoakan, dan doanya sampai ke kuburan saya.” (Ahmad Rosyidi)

(Disarikan dari kitab Ahubbuhum Anfa’uhum karya Dr.  Imad Ali Abd Abdusam’i Husani)


Sumber :nu.or.id

Dua Ayat yang Membuat Rasulullah Menangis Tersedu-sedu

Dua Ayat yang Membuat Rasulullah Menangis Tersedu-sedu


Wartaislami.com ~  Segala sesuatu yang ada di alam raya nan luas ini pada hakikatnya adalah bukti kemahakuasaan dan kemahabesaran Allah SWT, sekaligus menjadi bukti dan tanda-tanda akan keberadaan-Nya (wujud). Orang-orang yang selalu berpikir dan memahami alam ini dengan saksama, akan menemukan bahwa dirinya sendiri adalah bagian yang amat kecil, jika dibandingkan dengan kekuasaan-Nya yang luas tak terbatas.

Allah SWT berfirman: ''Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, benar-benar ada tanda-tanda bagi ulul albab. Mereka itulah yang selalu menyebut nama Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau ketika berbaring. Dan, orang-orang yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Mereka kemudian berkata, 'Wahai Tuhan kami, segala yang Engkau ciptakan ini tidak ada yang sia-sia. Mahasuci Engkau, karena itu, lindungilah kami dari siksa api neraka'.'' (QS 3: 191-192).

Ayat ini turun ketika Nabi SAW sedang shalat Tahajud pada malam hari. Setelah selesai shalat, beliau langsung tersungkur menangis karena tidak kuasa ketika memahami betapa dalamnya makna yang terkandung dalam ayat ini. Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskannya.

Hal inilah yang dikatakan oleh Nabi SAW ketika ditanya oleh istrinya, Aisyah, karena heran melihat Nabi SAW menangis, tidak seperti biasanya. Ada dua hal yang membuat Nabi SAW menangis. Pertama, kesadaran beliau, betapa besarnya kekuasaan Allah SWT di alam semesta raya ini. Fenomena alam yang mencakup pergantian siang dan malam, keteraturan alam raya dan isinya, menjadi tanda-tanda bahwa Allah yang mengatur itu semua dengan baik.

Kedua, kesadaran bahwa rahasia-rahasia yang ada di alam ini tidak akan pernah terkuak, selain dengan pengamatan dan penelitian yang saksama melalui proses tafakur (berpikir). Alam raya adalah kenyataan yang dapat kita lihat sehari-hari. Masih banyak sekali pengetahuan baru yang masih menjadi misteri di alam ini.

Dengan proses tafakur, rahasia-rahasia itu akan terungkap lebih jauh. Umat manusia akan mampu memperoleh petunjuk Ilahi, jika tafakur itu dapat memberikan kesadaran bahwa ternyata manusia itu adalah sebagian dari makhluk-makhluk Allah SWT yang terkecil di alam ini. Sehingga dengan itu, serta-merta mereka mengakui dengan tulus dan penuh kesadaran, bahwasanya apa yang diciptakan-Nya tidaklah sia-sia.

Semuanya memiliki kegunaan yang begitu besar bagi umat manusia. Kesadaran ini kemudian menjadikan diri manusia untuk selalu mengingat Allah SWT dalam keadaan apa pun. Bahkan, dalam setiap desah napasnya, yang keluar adalah nama Allah. Karena tahu bahwa Dia selalu mengawasi manusia melalui alam ciptaan-Nya. Manusia adalah makhluk lemah dan tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Dengan begitu, tidak ada yang perlu untuk disombongkan. Kesadaran manusia untuk selalu tafakur terhadap alam semesta dan zikir atau mengingat keagungan dan kekuasaan Allah dalam segala hal, itulah yang menjadi ciri-ciri orang yang Allah SWT sebut sebagai ulul albab, sebagaimana sosok Nabi Muhammad SAW.



Sumber :republika.co.id
Tekankan Kualitas, Gus Mus TV Gandeng Ahli Film Hollywood

Tekankan Kualitas, Gus Mus TV Gandeng Ahli Film Hollywood


Wartaislami.com ~ Untuk memberikan kualitas yang terbaik dalam produksi film, Terkait produksinya, kru Gus Mus TV mendapatkan pelatihan khusus dari seorang ahli film Hollywood.

Katib Am Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengelola Production House (PH) GusMusTV KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus mendapatkan bantuan dari sejumlah orang profesional di dunia perfilman, salah satunya adalah Dominic Jackson seorang yang sudah mahir di dunia perfilman Hollywood yang saat ini sedang bekerja untuk angkatan laut Amerika.

“Pak Dominic bersedia jauh-jauh dari Jerman tempat dia bekerja sekarang, datang ke sini dan melatih santri-santri selama 10 hari untuk mengenal teknologi ini. Dengan teknologi yang sudah disediakan itu, selanjutnya kru tinggal mengembangkan keterampilan melalui latihan-latihan,” jelasnya kepada NU Online di kediamanya, Kelurahan Leteh, Rembang baru-baru ini.

Gus Yahya, sapaan akrabnya menambahkan, selain Dominic Jackson, sahabat Gus Dur bernama C. Holland Taylor ikut andil pula dalam berdirinya Gus Mus TV ini. “Dia dulunya pengusaha, tapi sekarang aktif ikut mendukung dakwah Islam rahmatan lil alamin. Bahkan beliau mendirikan organisasi baru bersama Gus Mus di Amerika yang diberi nama Baiturrahmah, dan mereka inilah yang kemarin membantu mengadakan peralatan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua III Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) Rembang M Zaim Cholil Mumtaz yang menjadi penerjemah Dominic dan salah satu kru Gus Mus TV mengatakan, banyak hal yang diajarkan dalam dunia perfilman, mulai dari setting kamera, cara mengambil gambar, dan editing video.

Dia berharap, kader IPNU mampu memberikan sumbangsih yang konsisten dalam hal operasional Gus Mus TV. “Kami dari IPNU cukup bersyukur bisa ambil bagian dalam pelatihan pembuatan film ini. Ada begitu banyak ilmu dan pengalaman baru yang bisa kami dapatkan selama pelatihan. Bagi kader IPNU, semoga tetap konsisten memberi sumbangsih ide dan tenaga untuk menampilkan hasil yang terbaik, sehingga keberhasilan dakwah bil film adalah keberhasilan IPNU juga,” katanya.

Source: www.nu.or.id
Serukan Kebebasan Beragama, Obama Kunjungi Masjid Baltimore

Serukan Kebebasan Beragama, Obama Kunjungi Masjid Baltimore


Wartaislami.com ~ Presiden Barack Obama akan melakukan kunjungan ke masjid Amerika Serikat. Ini adalah kunjungan pertamanya ke masjid di Amerika selama menduduki jabatannya sebagai Presiden Amerika.

Juru bicara Gedung Putih menjelaskan kunjungan tersebut dalam rangka menyerukan kebebasan beragama, menyusul adanya retorika anti Islam di Amerika Serikat. Selain itu jubir Gedung Putih juga mengatakan bahwa Presiden Obama akan mengadakan ramah tamah dengan masyarakat sekitar dan memberikan komentarnya mengenai kebebasan beragama.

“Kunjungan tersebut akan dilakukan pada Rabu (3/2) di Masjid Baltimore. Dan dia juga telah mengunjungi masjid di luar Amerika Serikat ketika melakukan perjalanan ke luar negeri,” kata juru bicara tersebut, Sabtu (30/1).

Berdasarkan informasi dari Reuters, Presiden dari Partai Demokrat yang menjabat pada tahun terakhirnya itu mengecam politisi yang menghembuskan semangat anti Islam. Kecaman itu dia tujukan kepada kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, yang kerap melontarkan retorika kontroversial anti Islam.

Trump menyerukan larangan kedatangan imigran Muslim, setelah adanya peristiwa penembakan di San Bernardino, California yang menewaskan 14 orang pada Desember tahun lalu. pelaku diduga merupakan kelompok militan Muslim. Berdasarkan survei dari Gallup pun menyebutkan bahwa saat ini Amerika Serikat sedang darurat terorisme.



Source: www.republika.co.id

Kang Said: Baju Putih, Peci Putih, Kok Garang! Baju Hitam Peci Hitam Kok Santun

Kang Said: Baju Putih, Peci Putih, Kok Garang! Baju Hitam Peci Hitam Kok Santun


Wartaislami.com ~ Saat membuka Rapat Pimpinan Nasional Pencak Silat NU Pagar Nusa, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj melontarkan sindiran kepada sekelompok orang yang kerap melakukan aksi kekerasan dan tak mencerminkan sama sekali simbol-simbol keagamaan yang mereka kenakan.

“Saya heran, Banser itu seragamnya loreng dan Pagar Nusa bajunya hitam-hitam, pakaian serem-serem tapi santun, ramah. Ada orang, baju sudah putih, peci putih, tapi garangnya minta ampun. Sweeping sana sweeping sini. Jadi, baju itu tidak bisa diandalkan,” katanya dengan nada humor di hadapan perwakilan Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa dari berbagai daerah di Jakarta, Jum’at (29/1) petang.

Kiai yang biasa dipanggil Kang Said ini mengapresiasi Pagar Nusa yang punya komitmen tinggi dalam menjaga ulama dan NKRI serta senantiasa siaga dan memperkuat diri dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk. Menurutnya, Muslim yang kuat lebih utama ketimbang Muslim yang lemah.

“Tapi, (kehebatan pencak) ini bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk difâ’ul haqq, membela kebenaran. Tapi semua ada waktunya, tidak asal,” tuturnya.

Kapan kekuatan itu digunakan? Kata Kang Said, ketika prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah dirusak; prinsip yang menjunjung tinggi sikap moderat dan meyakini bahwa cinta tanah air tak bertentangan dengan Islam.

Doktor jebolan Universitas Ummul Qura ini juga mengungkapkan, berdasarkan bocoran yang ia terima, ISIS menargetkan dapat menguasai Indonesia pada tahun 2017 dan mendirikan khilafah pada tahun 2022. Menurutnya, tragedi bom di Jalan MH Thamrin beberapa waktu lalu merupakan penanda bagi gejala ini. Kang Said medesak Pemerintah bersikap tegas dalam menangani radikalisme di Tanah Air.



Source: www.aljazera-news.com

Selamat harlah ke-90 NU

Selamat harlah ke-90 NU


Wartaislami.com ~ Pada Ahad, 31 Januari 2016 NU menginjak usia ke-90. Sebuah pencapaian yang patut kita syukuri bahwa NU telah berhasil melewati berbagai tantangan zaman. Sebuah usia yang sudah cukup tua untuk perjalanan hidup manusia, tetapi untuk ukuran organisasi, banyak diantaranya telah mencapai usia ratusan tahun. Kita harus mampu bertahan seperti mereka. Banyak organisasi besar yang berdiri era pra kemerdekaan, tetapi kini hanya tinggal sejarah. NU bisa belajar dari kegagalan-kegagalan mereka dalam mempertahankan hidup organisasi. NU harus terus mampu melewati semua tantangan zaman dan terus berperan dengan baik bagi umat dan bangsa.

Banyak hal yang patut kita syukuri. NU lahir dengan basis komunitas pesantren, tapi kini para kader NU bukan hanya pandai membaca kitab kuning. Tak sulit mencari kader NU yang pintar membuat bahasa pemrograman komputer, ahli nuklir atau ahli dalam berbagai bidang sains lainnya. Prinsip dakwah bagi NU bukan hanya dengan menjadi dai di panggung, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan. NU juga berhasil memberi warna dalam perjalanan negeri ini melalui para tokoh publik yang mengelola negara.

Kini NU juga memiliki sejumlah layanan sosial. Rumah sakit, klinik kesehatan, perguruan tinggi, panti asuhan, dan lainnya merupakan bukti nyata peran NU di masyarakat. Tak diragukan lagi, NU menjadi garda terdepan dalam melindungi kelompok minoritas. NU secara tegas telah berulang kali akan menjaga keberadaan NKRI karena NU turut mendirikan Indonesia.
Islam Indonesia yang bisa hidup secara damai juga merupakan salah satu kontribusi yang diberikan oleh NU sebagai kelompok moderat dan toleran yang menjadi penopang kehidupan beragama yang harmonis. Karena itulah, dunia Internasional juga menoleh ke Indonesia dan NU sebagai representasi dari Islam yang damai.

Dengan banyak pencapaian, bukan berarti NU bisa berbangga diri. Masih banyak problem yang harus diselesaikan. Sejumlah problem masih sama sebagaimana ketika NU didirikan, hanya berbeda bentuknya saja. Kelompok Islam radikal yang intoleran terharap kelompok lain, yang dengan gampang mengkafirkan atau bahkan membunuh orang lain atas nama agama, merupakan ancaman nyata. Para pendiri NU dengan Komite Hijaznya, merupakan salah satu upaya untuk menjaga kebebasan bermazhab. Ini merupakan salah satu problem yang dari dulu hingga sekarang masih sama.

Jika dahulu NU berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini tugas NU adalah bagaimana mengisi kemerdekaan tersebut. Telah banyak rakyat yang Indonesia masuk kelompok kelas menengah. Untuk bisa naik haji di daerah tertentu antriannya kini lebih dari 20 tahun. Pergi umrah pun merupakan hal yang lumrah. Ini merupakan bukti nyata peningkatan kesejahteraan. Meskipun begitu masih banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Masyarakat belum merasakan keadilan, mahalnya rasa aman, dan lainnya. Meningkatnya ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin juga problem baru yang harus mendapat perhatian serius.

Kemajuan teknologi juga merubah kehidupan dunia secara drastis. Hidup sudah tidak akan pernah sama lagi dengan zaman ketika NU didirikan. Basis sosial NU yang didasarkan atas kekompakan dan keguyuban tergerus oleh urbanisasi dan industrialisasi. Karena itu, NU membutuhkan pendekatan baru untuk merangkul masyarakat urban. Ini tentu bukan persoalan mudah mengingat akar tradisi NU adalah masyarakat agraria.

Teknologi baru membuat perubahan peran para tokoh masyarakat. Dahulu, masyarakat menanyakan banyak hal pada kiai yang merupakan tokoh panutan. Kini, dunia yang telah terkoneksi dengan internet menjadikan dunia maya sebagai sumber rujukan hampir semua hal, termasuk ketika masyarakat bertanya persoalan agama. Ada banyak sisi positif dari internet, ada pula dampak negatif yang harus diantisipasi jika kita tidak mampu mengelola dengan baik.

Kemampuan NU bertahan dari berbagai perubahan zaman, adalah kelenturannya dalam mensikapi berbagai tantangan baru. Tapi kita tidak hanya ingin NU sekedar mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Kita menginginkan NU mampu mewarnai perubahan dunia dengan nilai-nilai Islam yang ramah, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ini memerlukan kerja keras, kekompakan, keiklasan, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Selamat hari lahir ke-90.
Source: www.nu.or.id

Terbaru! Puisi Habib Luthfi untuk Sang Nabi (Saw.)

Terbaru! Puisi Habib Luthfi untuk Sang Nabi (Saw.)


Wartaislami.com ~ Berikut adalah sebagian puisi yang disampaikan oleh Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya dalam acara Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. di PP Ma'hadut Tholabah Babakan, Lebaksiu, Tegal, 30 Januari 2016:

Kabut hitam menyelimuti dunia yang fana
Terik matahari memanas di padang sahara
Tangan-tangan yang kekar mengucurkan madu
Ternyata tipuan belaka

Suara kendang betalu-talu
Dupa mewangi mengepul yang memabuk kasih
Mawar-mawar yang indah menjadi layu
Putik-putik bunga berserakan merana sambil bertanya apa salahku

Rumah yang suci dipagari batu-batu yang dianggap dewata
Namun Engkau Mahakekal Mahakasih lagi Penyayang
Engkau turunkan perahuMu penuh dengan air Telaga Kautsar
Mengulurkan tangan kasih sayang yang abadi

Beruntunglah atas manusia yang mau meneguknya
Karena secercah air Telaga Kautsar akan menjadi pelita hati yang abadi

(Sya'roni As-Samfuriy)




Sumber :muslimedianews.com
KH Maimoen Zubair: Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari adalah Sang Anak Emas Zaman

KH Maimoen Zubair: Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari adalah Sang Anak Emas Zaman


Wartaislami.Com ~ Syaikhul Islam KH Maimun Zubair bercerita : Jika kita telusuri sejarahnya, diantara pondok pesantren di Indonesia ini ada saling kait-mengait. Dari situ kita bisa mengetahui bahwa Alloh itu ternyata mempunyai mahluq "ZAMAN". Jadi yang dimaksud dari maqolah " الإنسان ابناء الزمان " adalah, Alloh itu menciptakan "ZAMAN" bagi orang yang baik-baik. Dan kebaikan "ZAMAN" ini harus diketahui oleh kita.

Pada zaman Mbah Hasyim Asy'ari, orang gak bakalan bisa menjadi kyai besar tanpa adanya Mbah Hasyim Asy'ari. Satu contoh di daerah Lasem, disana itu Kyainya besar-besar, ada Kyai Masduki, Mbah Kyai Kholil, Mbah Kyai Ma'shum, Mbah Kyai Baidhowi malah lebih alim. Dari empat Kyai itu yang paling erat hubungannya dengan Kyai Hasyim Asy'ari adalah Mbah Kyai Ma'shum. Maka tidak heran jika beliau santrinya paling banyak. Tidak ada dalam sejarahnya, pondok pesantren yang diasuh Mbah Kyai Baidhowi Lasem itu santrinya banyak, paling pool hanya خمسين (50), dikarenakan hal itu memang sudah wayahe (waktunya), itu menurut saya, jelas Syikhul Islam Nusntara ini lebih lanjut.

Jadi waktu itu yang menjadi "ابناء الزمان "nya adalah Mbah Kyai Hasyim Asy'ari. Pondok yang ada di Sarang juga begitu, seumpama Mbah saya (KH Ahmad bin Syuaib) tidak ngaji ke Mbah Hasyim Asy'ari, yah habis pondok Sarang. Begitu juga pondok Lirboyo, jika Mbah Manab tidak mondok ke Tebuireng yah habis santrinya. Pengasuh pondok Ploso, pondok Rejoso Peterongan, pondok Buntet Cirebon juga mengaji pada Mbah Kyai Hasyim Asy'ari. Lha sekarang Abna' az-Zaman itu berada dimana?? Wallohu A'lam, saya sendiri tidak tahu, kata Syaikhul Islam menutup ceritanya.

Boleh jadi memang, pada zaman Hadhrotussyaikh Hasyim Asyari ada Ulama ataupun Kyai yang lebih alim atupun lebih besar dan banyak keramatnya dibanding Hadhrotussyaikh, akan tetapi hampir semua mata dan telinga Masyarakat maupun Ulama pada masa itu selalu tertuju pada dawuh, sikap,kebijakan, dan apa saja yang dilakukan Hadhrotussyaikh, karena beliaulah "SANG ANAK EMAS ZAMAN" dimasanya. Wallohu A'lam.

(Sumber: Buku PESANTREN LIRBOYO)
-----
Dikutip dari FB Ustadz AN Ang-hab





Sumber :muslimoderat.com
Ini 10 Nasehat Rasulullah kepada Fatimah yang Harus diteladani Para Isteri

Ini 10 Nasehat Rasulullah kepada Fatimah yang Harus diteladani Para Isteri


Wartaislami.Com ~ Puteri Beliau, yang Telah dipersunting Sayyidina Ali Bin Abi Thalib yg Sangat Miskin, yg Ketika itu Juga Sedang Mengeluh Kepada Ayahnya Rasulullâh SAW Karena Tangannya yang Dulunya Halus kini Berubah Menjadi Kasar dan Lecet-lecet Karena Setiap Hari Harus Menumbuk Gandum Sendiri, Mengolah & Memasaknya.

Ada 10 WASIAT Beliau Rasullullah Kepada Puterinya :
1.Wahai Fatimah.
Sesungguhnya Wanita yang Membuat Tepung untuk Suami dan Anak-anaknya, Kelak ALLAH akan Tetapkan baginya Kebaikan dari Setiap Biji Gandum yg Diadonnya, dan Juga ALLAH akan Melebur Kejelekan serta Meningkatkan Derajatnya.
2. Wahai Fatimah..
Sesungguhnya Wanita yg Berkeringat Ketika Menumbuk Tepung Untuk Suami dan Anak-anaknya, Niscaya ALLAH Akan Menjadikan Antara Neraka dan Dirinya Tujuh Tabir Pemisah.
3.Wahai Fatimah.
Sesungguhnya Wanita yg Meminyaki Rambut Anak-anaknya lalu Menyisirnya dan Kemudian Mencuci Pakaiannya, Maka ALLAH Akan Tetapkan Pahala Baginya Seperti Pahala Memberi Makan Seribu Org yg Kelaparan & Memberi Pakaian Seribu Org yg Telanjang.
4. Wahai Fatimah..
Sesungguhnya Wanita yg Membantu Kebutuhan Tetangga-tetangganya, maka ALLAH akan Membantunya untuk dapat Meminum Telaga Kautsar pada hari Kiamat Nanti.
5.Wahai Fatimah..
Yang lebih Utama dari Seluruh KEUTAMAAN di atas adalah Keridhaan Suami Terhadap Istri.
Andaikata Suamimu Tidak Ridho Kepada-Mu, Maka Aku Tidak akan Mendoakan Mu. Ketahuilah Fatimah, Kemarahan Suami adalah Kemurkaan ALLAH.
6.Wahai Fatimah..
Disaat Seorang Wanita HAMIL, Maka Malaikat Memohonkan Ampunan Baginya, dan ALLAH Tetapkan baginya Setiap Hari Seribu Kebaikan, Serta Melebur Seribu Kejelekan.
Ketika Seorang Wanita Merasa Sakit Akan Melahirkan, Maka ALLAH tetapkan Pahala baginya sama dengan Pahala Para Pejuang ALLAH.
Disaat Seorang Wanita Melahirkan Kandungannya, Maka Bersihlah Dosa-dosanya Seperti Ketika Dia Dilahirkan dari Kandungan Ibunya.
Disaat Seorang Wanita Meninggal karena Melahirkan, Maka Dia tidak akan Membawa Dosa Sedikit pun, Didalam Kubur akan Mendapat Taman yg indah yg Merupakan Bagian dari Taman Surga.
ALLAH Memberikan padanya pahala yg sama dg Pahala Seribu Org yg Melaksanakan Ibadah Haji & Umrah, dan Seribu Malaikat memohonkan ampunan Baginya Hingga Hari Kiamat.
7.Wahai Fatimah..
Disaat Seorang istri Melayani Suaminya Selama Sehari Semalam, dgn Rasa Senang dan Ikhlas, Maka ALLAH akan Mengampuni Dosa-dosanya Serta memakaikan Pakaian padanya dihari Kiamat berupa Pakaian yg Serba Hijau, dan Menetapkan Baginya Setiap Rambut pada Tubuhnya Seribu Kebaikan.
ALLAH Pun Akan Memberikan Kepada-Nya Pahala Seratus Kali Ibadah Haji & Umrah.
8.Wahai Fatimah..
Disaat Seorang istri Tersenyum dihadapan Suaminya, Maka ALLAH akan Memandangnya dg pandangan penuh Kasih.
9.Wahai Fatimah..
Disaat Seorang istri Membentangkan Alas Tidur untuk Suaminya dgn Rasa Senang Hati, Maka Para Malaikat yg Memanggil dari Langit Menyeru Wanita itu agar Menyaksikan Pahala Amalnya, dan ALLAH Mengampuni Dosa-dosanya yg Telah Lalu dan yg Akan Datang.
10.Wahai Fatimah..
Disaat Seorang Wanita Meminyaki Kepala Suami & Menyisirnya, Meminyaki Jenggotnya dan Memotong Kumisnya serta Kuku-kukunya, Maka ALLAH akan Memberi Minuman yg dikemas Indah Kepada-Nya, yg didatangkan dari Sungai-sungai Surga.
ALLAH pun Akan Mempermudah Sakaratul Maut Baginya, Serta Menjadikan Kuburnya Bagian dari taman Surga. ALLAH Pun Menetapkan Baginya Bebas dari Siksa NERAKA Serta dapat Melintasi Shirathal Mustaqim dg Selamat.
Fatimah Pun Menangis Karena Merasa MALU..Sejak itu, Beliau Tidak Pernah lagi Mengeluh.
Subhaanallah, Wasiat ini Merupakan Mutiara Termahal Nilainya, khususnya bagi Setiap Istri yang Mendambakan Kesalehan.
Betapa Agung dan Mulianya Posisi Wanita dalam Rumah Tangga Ketika ia Rela dan Ikhlas Menjalani Fitrahnya

Semoga Bermanfaat





Sumber :muslimoderat.com
Kiai Hasan Genggong, dapat Mengetahui Habaib dari Bau Keringatnya

Kiai Hasan Genggong, dapat Mengetahui Habaib dari Bau Keringatnya


Wartaislami.Com ~ Di Jawa Timur ada Kiai namanya Kiyai Moh. Hasan. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo. Beliau itu termasuk wali Allah yang luar biasa. Kalau beliau mau kedatangan Ahli Bait, keturunan nabi, Habib, beliau lari menjemput sambil berkata ada raihatul musthafa, ada bau harum badan Rasulullah Saw. Padahal kuturunan nabi itu entah baru sampai dimana.

Diantara Karamahnya. Suatu ketika, saat ada seorang haji mau sowan kepada Kiai Hasan. Pak haji ini menyewa mobil, kebetulan yang jadi sopirnya Ahli Bait (Habib/Syarif). Cuma haji ini tidak tahu kalau itu adalah Ahli Bait.
Di dalemnya, Kiayi Hasan bilang sama anak-anaknya: tolong kamar tidur dirapikan kita mau kedatangan Habib. Habibnya siapa? Tanya putra kiyahi Hasan. Nanti saya tunjukan kalau sudah datang, jawab kiyahi Hasan.

Setelah haji itu tiba dirumah kiyahi Hasan, kiyahi Hasan bertanya pada haji itu, Haji supirmu dimana? Sopir kuleh asaren kiyai, Sopir saya tidur Kiyai, Jawab Haji. Kiyahi balik bertanya, e'ka'emmah (dimana)? Di Mobil Kiyahi, jawab Haji. Saya mau dekati dia boleh ya, kiyahi meminta ijin.
Yik bungoh Yik (Habib bangun Bib). Sopir itu kaget, karena seumur-umur tidak ada yang manggil sayyid, atau Habib. Ternyata sang sopir bermarga al Jufri.

Kiyahi Hasan ditanya: darimana tahu sopir itu Habib? Dari bau keringatnya, bau keringat kangjeng Nabi, kata kiyai Hasan.
Itu hebatnya ulama-ulama kita dahulu, sejauh itu pandangannya, dari hormatnya pada Ahli Bait Nabi. Dan tokoh-tokoh itu bukan satu dua, Imam Subki, Qadhi Iyadh tahu bagaimana kedudukan Ahli Bait an Nabi dan juga ulama-ulama lain, ujar Al Habib M. Lutfi bin Ali Yahya.




Sumber :muslimoderat.com
KH Abdul Karim Lirboyo Tidak bisa di Foto

KH Abdul Karim Lirboyo Tidak bisa di Foto


Wartaislami.Com ~ Cerita KH Ahmad Idris Marzuki : Saya masih ingat saat Mbah Abdul Karim naik haji yang kedua (1952), saya diajak satu mobil dengan beliau, waktu itu banyak wartawan yang menjepret kamera ingin mengambil gambar beliau, mengetahui hal tersebut, beliau ngendiko (berkata)begini : "Sudah, fotonen kalau bisa".

Ternyata tak ada satupun foto yang jadi. Makanya tidak seorangpun yang mempunyai foto Mbah Abdul Karim kecuali saat beliau memberikan izin untuk difoto. Wallahu A'lam.







Sumber :muslimoderat.com
Al-Qur’an Tidak Bicara Sendiri

Al-Qur’an Tidak Bicara Sendiri


Wartaislami.com ~ Dalam ‘Tarikh al-Tabari’ diceritakan, Khalifah Ali pernah mengadakan pertemuan dengan pihak Khawarij. Di situ beliau sengaja membawa Al-Qur’an. Ketika berada di hadapan mereka, Ali lalu berseru kepada Al-Qur’an yang dibawanya: “Bicaralah ke kita!” Kontan saja mereka yang hadir heran dan bingung melihat ulah Sang Khalifah tersebut. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang benda mati bisa berbicara, begitu kira-kira pikir mereka. Ali akhirnya menukas: “Wa hadza al-Qur’an innama huwa khatthun masthur bayna daffatayn la yanthiqu. Innama yatakallamu bihi al-Rijal.” Artinya: “Dan Al Qur’an tidak lain hanyalah teks tertulis yang diapit dua sampul. Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri. Manusialah yang berbicara melaluinya.”

Judul di atas saya petik dari pernyataan Ali bin Abi Thalib ketika terlibat adu pendapat dengan kaum Khawarij, sebelum akhirnya kelompok itu membunuhnya. Sekte Khawarij, sebagaimana umum diketahui, mengaku sebagai penegak hukum Allah yang paling murni, dengan slogannya la hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali hukum Allah).

Atas dasar itulah mereka lalu mengkafirkan kubu Khalifah Ali dan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan, lantaran kedua pihak sama-sama menempuh tahkim (arbitrase) demi mengakhiri Perang Shiffin. Arbitrase semacam itu, bagi Khawarij, sama halnya dengan berhukum dengan aturan buatan manusia dan mengabaikan aturan Allah. Dan berpedoman dengan hukum manusia buat Khawarij adalah suatu tindakan kufur. Pelakunya layak dibunuh. Maka pada tanggal 17 Ramadan 40 Hijriyah, seorang aktivis Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam membunuh Khalifah Ali. Ada juga dua aktivis Khawarij lain yang mencoba membunuh Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan ‘Amru bin ‘Ash, tapi digagalkan.

Mengapa Khawarij yang begitu getol membela kedaulatan hukum Allah justru akhirnya menebar takfir (pengkafiran) yang berujung pada pembunuhan? Di sini mungkin ada baiknya kita menyimak “polemik” antara Ali dengan pihak Khawarij beberapa saat setelah kelompok ini menyatakan keluar dari kubu pengikut Ali. ( Pemisahan diri inilah yang menyebabkan mereka kemudian disebut “Khawarij”: kelompok sempalan).

Dalam ‘Tarikh al-Tabari’ diceritakan, Khalifah Ali pernah mengadakan pertemuan dengan pihak Khawarij. Di situ beliau sengaja membawa Al-Qur’an. Ketika berada di hadapan mereka, Ali lalu berseru kepada Al-Qur’an yang dibawanya: “Bicaralah ke kita!” Kontan saja mereka yang hadir heran dan bingung melihat ulah Sang Khalifah tersebut. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang benda mati bisa berbicara, begitu kira-kira pikir mereka. Ali akhirnya menukas: “Wa hadza al-Qur’an innama huwa khatthun masthur bayna daffatayn la yanthiqu. Innama yatakallamu bihi al-Rijal.” Artinya: “Dan Al Qur’an tidak lain hanyalah teks tertulis yang diapit dua sampul. Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri. Manusialah yang berbicara melaluinya.”

Dengan pernyataan tersebut, Ali dengan jitu mematahkan tuduhan kaum Khawarij yang mengkafirkan tahkim yang mereka anggap sebagai berhukum dengan aturan manusia, bukan hukum Allah. Tapi dari mana kita mengetahui hukum Allah? Dari Al-Qur’an, bukan? Masalahnya, “Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri. Manusialah yang berbicara melaluinya,” Artinya, hukum Allah tidak bisa muncul begitu saja dari rahim Al-Qur’an tanpa adanya campur tangan manusia yang merumuskannya.

Selain itu, Ali sejatinya mengukuhkan peran pembacaan sebagai sarana yang tak terelakkan manakala kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an memang Kalam Ilahi yang Qadim, tapi sekaligus juga “teks tertulis yang diapit di antara dua sampul.” Sebagai teks, Al-Qur’an hanya bisa berbunyi melalui laku pembacaan, entah itu berupa penterjemahan, penafsiran, pantakwilan atau yang lain. Dan perlu diingat, pembacaan terhadap Al-Qur’an tidak setara statusnya dengan Al-Qur’an itu sendiri, karena manusia sebagai pembaca tidak bersifat qadim.

Karakter tekstual Al-qur’an yang meniscayakan kehadiran manusia sebagai pembacanya, inilah yang ditampik oleh Khawarij. Karena bagi mereka, Al-Qur’an bisa bicara sendiri. Artinya, di mata mereka, pembacaan mereka terhadap Al-Qur’an sesungguhnya bukanlah pembacaan, melainkan Al-Qur’an itu sendiri. Dengan begitu, mereka bukan hanya tidak mengakui keragaman penafsiran terhadap Al-qur’an, melainkan juga menolak ide tentang tafsir itu sendiri. Bagi kaum Khawarij, yang berlaku hanyalah ini: atau mengikuti Al-qur’an atau menentangnya. Hukum Allah versus hukum manusia. Inilah saya kira yang menyebabkan mengapa mereka begitu mudah mengkafirkan para sahabat Nabi yang berbeda dengan mereka.

Yang perlu diingat, faktor pendorong gerakan Khawarij justru bukan kehendak untuk berkuasa, melainkan kehendak untuk kesalehan. Ini tercermin, misalnya, dari komposisi pengikutnya, yang justru banyak berasal dari para qurra’ yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Al-Qur’an.

Namun latar belakang mereka yang kebanyakan dari kultur Arab badui yang nomaden membuat mereka sulit mencerna pandangan Ali bahwa “Qur’an tidak bicara sendiri. Manusia yang berbicara melaluinya.” Akibatnya, gerakan menegakkan kedaulatan Allah dari Khawarij akhirnya justru tercatat dalam lembaran hitam sejarah Islam. Tidak heran kalau Ali bin Thalib menyebut pembelan Islam versi Khawarij sebagai al haqq urida bihi al-bathil (kebenaran yang dipakai untuk tujuan yang bathil). []

Akhmad Sahal, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika-Kanada dan kandidat PhD Universitas Pennsylvania.
*Tulisan ini sebelumnya dimuat di situs jakartabeat.com, dimuat ulang untuk tujuan pendidikan dan telah berijin penulisnya.via arrahmah.co.id
القواعد السَّبعة / Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara

القواعد السَّبعة / Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara


Wartaislami.com ~ 7 Strategi Kebudayaan Islam Nusantara atau yang dikenal al Qowa'id as Sam'ah  / القواعد السَّبعة(Saptawikrama) akan diterjemahkan ke dalam 10 bahasa daerah (Bugis, Sunda, Jawa, Minang, Aceh, Papua, Dayak, Using, Banyumas, Madura dan Batak) serta ke dalam beberapa bahasa asing seperti, Jepang, Cina, Inggris, Perancis, Belanda dan Arab.

1. Menghimpun dan mengosolidasi yang berbasis adat istiadat, tradisi dan budaya Nusantara.

2. Mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta'lim) yang berkaitan erat dengan realitas di tiap satuan pendidikan, terutama yang dikelola oleh lembaga pendidikan formal (ma'arif) dan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI).

3. Membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistemologis keilmuan.

4. Menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhineka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.

5. Menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.

6. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk membangun gerakan Islam Nusantara.

7. Mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global.

Jakarta, 28 Januari 2016 / 17 Rabi'ul Akhir 1438 H





Sumber :muslimedianews.com
Gus Mus Memasak Sendiri, Belajar dari Kebersahajaan Sang Teladan Hidup

Gus Mus Memasak Sendiri, Belajar dari Kebersahajaan Sang Teladan Hidup


Wartaislami.com ~ Sejenak kita coba mengingat sentuhan kita pada pesantren. Membayangkan pesantren, tergambar sosok Kyai atau Gus-gus yang senantiasa didampingi para santri ndalem siap melayani kebutuhan mereka, taruhlah misalnya membawakan handphone dan sebagainya.

Benarkah hal itu? Tak sepenuhnya benar, tapi memang hal demikian banyak sekali dapat kita saksikan di pondok-pondok pesantren, terlebih di Jawa. Bahkan berulang kali penulis temui, mereka para santri yang sudah jadi ‘orang’ pun akan tetap melakukan penghormatan sedemikian rupa apabila mereka bertemu Kyai atau keluarganya. Dengan seksama mereka menyiapkan sendal atau sepatu kyai, biasanya juga Gus-nya, mengambilkan makan atau minum, dan tidak berani makan minum satu meja dengan kyai atau Gus-nya itu. Di satu sisi, itu merupakan bentuk keta’dhiman santri pada kyai atau putera kyai, di sini lain barangkali kita melihatnya sebagai sesuatu yang tak lazim di zaman sekarang ini.

Nah, yang demikian telah menjadi hal umum terjadi di Pesantren. Namun seorang kyai besar di Rembang, Jawa Tengah memberi contoh dan mengingatkan kita pada untuk tak berlarut pada sikap di atas. Yang sekali lagi, tentu ada nilai positifnya bila diterapkan dan dilandasi tujuan awalnya, membimbing dan menempa diri santri, bukan memposisikan santri ndalem atau santri sekedar sebagai pelayan Kyai atau keluarga Kyai.

Dalam postingan Akun Harun Al Rasyid, nampak KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) sedang memasak sendiri.

“MESKI MEMILIKI RIBUAN SANTRI…BELIAU TAK PERNAH MEMANFAATKAN TENAGA SANTRI SAAT BELIAU BISA MELAKUKAN SENDIRI.
GUSMUS MEMANG UNIK, BELIAU INGIN NGASIH KITA CONTOH KEHIDUPAN YANG SEDERHANA DAN BIASA-BIASA SAJA SERTA KEBIASAAN INI TAK CUMAN SEKALI ATAU SAAT MAU SELFI AJA. HEEEE… hal biasa bagimu Gus, luar biasa bagi kami yg masih belajar hidup” tulis Harun Al Rasyid

Gus Mus memberikan teladan untuk melepas egosentris, ke-Kyai-an atau nge-Gus-nya, memilih memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa bantuan santri-santrinya. Hal ini perlu untuk kembali mengingatkan agar senantiasa mengangkat harkat martabat para santri, para pencari ilmu itu. Memperlakukan mereka bukan sebagai pelayan, tetapi dilandasi kesadaran membangun kembali konsep pembimbingan dan pendidikan para santri pada keikhlasan, keteguhan, ketundukan, dan penempaan diri santri untuk melayani masyarakat di kemudian hari. Kebiasaan Gus Mus yang dalam banyak hal, misalnya tak memerintah santrinya memasak untuk beliau, tentu menjadi hal positif yang bisa dilakukan Kyai atau Gus-gus lain, yang terbiasa memposisikan diri sebagai ‘tuan’ bagi para santrinya. Bisalah, dilakukan setidaknya sesekali, untuk kembali mengingat kembali makna tujuan dari proses itu.



Red. Khayun Ahmad Noer via arrahmah.co.id
Penjelasan Habib Luthfi bin Yahya Terkait Hakikat Makna Pujian Alhamdulillah

Penjelasan Habib Luthfi bin Yahya Terkait Hakikat Makna Pujian Alhamdulillah


Wartaislami.com ~ Salah satu hadits menyebutkan bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW melihat salah seorang sahabatnya memiliki sisa umur yang tinggal 15 hari. Maka oleh Rasulullah SAW., sahabat tersebut diajak berkunjung ke rumah-rumah sahabat lain untuk meminta maaf dan meminta doa. Tepat 15 hari kemudian, malaikat Izrail (pencabut nyawa) tak kunjung datang, malah malaikat Jibril yang menemui Baginda Nabi.

“Karena engkau mengajak sahabat itu bersilaturahmi kepada para sahabat, maka umurnya dipanjangkan Allah menjadi 30 tahun,” tandas Jibril kepada Baginda Nabi.

Umur adalah rejeki Allah, hanya Allah sendiri yang menuliskannya. Jika manusia mendapat rejeki, sudah seharusnya ia bersyukur. Banyak orang yang mengucap Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah), tapi hanya selesai di bibir saja. Memang mengucapkannya mudah, sebagai ucapan terimakasih kepada Allah, namun sadar atau tidak ucapan seperti itu tidak sebanding jika disejajarkan dengan segala rejeki yang diberikan oleh Allah. Jangankan kepada Allah, mengucapkan terimakasih kepada sesama manusia saja masih tidak imbang jika dibanding bantuan yang diberikan. Manusia memang tidak bisa sepersis apa membalas jasa yang bukan sekadar ucapan terimakasih.

Di dalam kalimat Alhamdulillah terdapat 4 (empat) macam kata: segala-puji-milik-Allah. Lillah artinya milik Allah, bukan bagi Allah. Karena pujian (al-hamd) itu memang hanya milik Allah. Pujian manusia itu tidak akan pernah berpengaruh apapun kepada Allah (tidak untung jika dipuji dan tidak rugi jika tidak dipuji), meskipun manusia dahulu kala tidak diciptakan oleh Allah, maka Allah sudah memiliki pujian mutlak. Tidak perlu manusia agar pujian itu menjadi milik Allah.

Setelah manusia diciptakan Allah, ia diperintah untuk menghamba kepada-Nya. Ibadah tidak hanya untuk tahu Allah, tapi mengenal Allah. Tahu tidak sama dengan kenal. Kita dekat dengan Walikota/ Gubernur, jika mengenal Walikota/ Gubernur beneran maka kita akan mengetahui apa yang dilakukan Walikota/ Gubernur itu, bagaimana cara Walikota/ Gubernur membangun sebuah kota/ daerah, dari atas sampai bawah, dan seterusnya. Sejauh mana cinta kita kepada kota/ daerah harusnya mengetahui kinerja Walikota/ Gubernur tadi. Kemudian ke level atasnya lagi, kita mengenal Presiden Indonesia, apa yang dilakukannya, apa yang ia tempuh untuk membangun Indonesia, maka kita akan ke level selanjutnya untuk mengenal Indonesia. Setelah mengenal Indonesia, maka kecintaan kita akan Negara ini menjadi lebih besar.

Logika ini berlaku untuk mengenal Allah. Mengenal Allah berarti mengenal bahwa Dia adalah pemilik segala kesempurnaan (maushufun bikulli kamalin), Yang Suci dari segala hal yang cacat (munazzahun ‘an kulli naqsin), berwenang melakukan yang Dia suka (ja`izun lahu fi’lu kulli mumkinin), atau tidak melakukannya (aw tarkuhu), dan kesuciannya tidak berkurang tergantung makhluk-Nya. Seharusnya kan jika sudah mengetahui ini, maka kita harus lebih mengenal Allah. Jika sudah mengenal Allah, maka kecintaan kita kepada Allah akan muncul; dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (imtisal al-awamir wa-jtinab al-nawahi).

Pujian ada 4 (empat) macam: pertama, pujian Allah kepada Allah (qadim ‘ala qadim); Kedua, pujian Allah kepada makluk (qadim ‘ala hadits); Ketiga, pujian makhluk kepada Allah (hadits ‘ala qadim); Keempat, pujian makhluk kepada makhluk (hadits ‘ala hadits).

Pujian (hamd) yang disebutkan di atas adalah yang pertama, dan pujian kedua dapat diambil dari firman Allah: Qul in kuntum tuhibbunAllah, fattabi’uni (“Katakankah, Hai kekasihku (Muhammad): ‘jika kalian mencintai Allah, maka ikutlah aku!’”). Siapa “aku” dalam kalimat “ikutilah aku” ini? Tidak lain adalah: laqad ja`akum rosulun min anfusikum (sungguh benar-benar telah datang kepada kalian seorang rasul dari golongan kalian). “Ikutilah aku” di sini adalah orang yang dipuji Allah dengan: azizun ‘alaihi ma ‘anittum (berat terasa olehnya penderitaanmu), harishun ‘alaikum (sangat menginginkan [keimanan dan keselamatan] bagimu), bil-mu`minina ra`ufun Rahim (amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin).

Pujian (hamd) yang keempat, yaitu makhluk kepada makhluk, dapat dilihat dari wujud cinta yang hakiki dari contoh agung umat manusia. Ketika Baginda didatangi Izrail (malaikat pencabut nyawa), beliau bertanya “Apakah sesakit ini rasanya dicabut nyawa?” dan di akhir perkataan Baginda Nabi berkata: “Cukuplah biar aku saja yang menanggung rasa sakit ini, dan jangan sampai umatku merasakannya pula.” Mari kita lihat Rasulullah, berapa kali beliau mengucap ummati, ummati, ummati (umatku, umatku, umatku) hingga harapannya adalah tidak ada satupun umat dan anak cucunya masuk neraka dan tercerai-berai?.

Baginda Nabi sangat mengkhawatirkan umatnya, kita semua, jangan sampai terpecah. Kadar bobot keimanan seseorang ditakar dari kadar kecintaannya kepada Baginda Nabi. Jika bobotnya kurang, umat Islam akan menipis imannya. Jika sudah menipis, dimasukkan apa saja jadi gampang, dan mau dihancurkan jadi mudah. Artinya, jika ingin menghancurkan umat Islam maka hal ini sangat mudah; yaitu dengan melunturkan kecintaannya kepada Nabi. Maka dirobohkanlah sosok Baginda Nabi bahwa ia adalah makhluk yang biasa (naudzubillah), sehingga meyakini bahwa ia adalah bukan sosok yang luar biasa , kemudian menjadi tidak ada. Sehingga pujian (hamd) yang ketiga, yaitu pujian makhluk kepada Allah (hadits ‘ala qadim) akan terputus, karena hanya melalui Baginda Nabilah manusia dapat mengetahui bagaimana cara yang benar memuji Allah sebenar-benarnya pujian.

Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN)/ habiblutfi.net.via elhooda.net

Menikmati Shalat

Menikmati Shalat


Wartaislami.com ~ Satu waktu, Rasulullah SAW masuk masjid. Lalu, seorang lelaki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai, ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda, “Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

Lelaki itu kembali shalat seperti shalat sebelumnya. Setelah shalatnya yang kedua, ia mendatangi Nabi SAW dan memberi salam. Rasulullah SAW menjawab, “Wa’alaikassalam.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

Sehingga orang itu mengulangi shalatnya lagi, total jadi tiga kali. Lelaki itu berkata, “Demi Zat yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya!”

Rasul yang mulia itu lalu bersabda, “Bila engkau melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu, rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh shalatmu.”

Subhanallah, sahabatku, inilah dalil bolehnya mengulangi shalat sampai merasakan kekhusyukan. Sungguh shalat yang yakin ditatap Allah dan sadar bahwa sedang berhadapan dengan Allah (QS asy-Syuaro: 218-220) sehingga setiap bacaan menjadi doa dan terasa sedang berdialog dengan-Nya akan membuat shalat kita thumakninahdan khusyuk, tenang, damai, sejuk, nyaman, nikmat, indah, bahagia dan buahnya adalah akhlak mulia (QS al-Ankabut: 45).

Dalam shalat, kita dituntut sebisa mungkin untuk mendirikannya dengan khusyuk. Sebab dengan khusyuk, amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT, terhapus dosa-dosa kita, dan segala perilaku serta ucapan kita terjaga dari kemungkaran dan kefasikan.

Khusyuk menjadi bukti keikhlasan seorang hamba. Karena hanya mereka yang ikhlas beribadah karena Allah dan shalat karena-Nya yang dapat melakukan khusyuk secara sempurna. Tanpa keikhlasan, maka seseorang hanya melakukan kekhusyukan palsu atau yang sering disebut kekhusyukan dusta.

Lalu, bagaimana caranya agar mudah khusyuk dalam shalat? Pertama, menghadirkan hati. Sadarlah bahwa dirinya sedang bermunajat, sedang berdiri berhadapan langsung dengan Sang Maha Kuasa, berdialog tanpa batas apa pun.

Maka dalam keadaan seperti itu, yakinlah bahwa Allah sedang melihat, memperhatikan dan mengawasi gerak-gerik shalat kita. Maka alangkah bodohnya kita, jika kita sedang berhadapan langsung seperti itu, kita tidak merasa takut atau bergetar dengan keberadaan-Nya di hadapan kita.

Kedua, anggaplah saat itu adalah shalat yang terakhir. Agar makin khusyuk, anggaplah bahwa shalat tersebut adalah yang terakhir kali kita lakukan karena bisa jadi usai shalat Allah mencabut nyawa kita.

Atau bayangkan, pada saat kita sedang mengambil wudhu tiba-tiba datang malaikat maut menghampiri kita dan mengabarkan bahwa usai shalat nanti dia akan mencabut nyawa kita. Subhanallah. Kita lanjut di kesempatan lain.


Source: www.republika.co.id
[Habib Luthfi bin Yahya] Ambil dan Makanlah walau Sebutir Nasi yang Jatuh

[Habib Luthfi bin Yahya] Ambil dan Makanlah walau Sebutir Nasi yang Jatuh


Wartaislami.Com ~ Kiai-Kiai kita dulu, jika ada satu butir nasi saja yang jatuh, langsung diambil dan dimakan. Sebab, terkadang karena satu butir nasi bisa menimbulkan rasa sombong. Letak kesombongan ada di hati. Kadang-kadang, satu butir nasi saja jatuh, kita agak malu untuk mengangkatnya kembali: “Ah, cuma sebutir kok. Biarin saja lah. Masih punya beras yang banyak.”

Padahal, satu butir nasi itu bisa sampai di piring kita karena proses yang teramat panjang: ditanam, tanahnya dibajak, memakai sapi/kerbau/traktor, petaninya berkeringat di tengah terik matahari sehari penuh, mengairi, dicangkul, sampai panen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sesudah jadi beras pun, harus didistribusikan ke pasar, sampai ke warung beras, dibeli ibu kita sampai ke dapur, dibersihkan, ditanak sampai matang, dan tersaji di hadapan Anda.

Ada banyak tangan yang memiliki andil dalam sebutir nasi. Kiai-kiai kita mengajarkan untuk menghargai prosesnya. Baginda Rasul pun mendidik kita untuk bersyukur ketika hendak menyantap makanan: “Allahumma barik lana fima razaqtana (Ya Allah, berkahilah makanan yang Engkau rizkikan kepada kami)”, dan disambung dengan doa, “Waqina adzab al-Nar (dan jaga kami dari siksa api neraka).”
Dalam rizki yang sangat kecil (sebutir nasi) saja kita lupa untuk bersyukur, bagaimana bisa kita akan bersyukur untuk hal-hal yang besar?

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya





Sumber:muslimoderat.com
Aisyah bin Abu Bakar disebut Laki-laki Arab

Aisyah bin Abu Bakar disebut Laki-laki Arab


Wartaislami.com ~  Sebuah pertanyaan menarik diajukan Abu Abdullah al Husein bin Ahmad bin Sa’dan, seorang menteri pada dinasti Buwaihi (373-375 H):

“Apakah ada perempuan yang menjadi laki-laki ?”.

Abu Hayyan al Tauhidi menjawab :

“Abu Sa’id al Sairafi (أبو سعيد السّيرافيّ) menceritakan kepadaku bahwa Aisyah binti Abu Bakar al-Shiddiq pernah disebut sebagai laki-laki Arab (Rajulah al Arab/رجلة العرب)”.

(Kata ini tentu saja tidak sama dengan “mutarajjilah” (perempuan yang berperilaku laki-laki), melainkan mempunyai kecerdasan dan keberanian seperti umumnya laki-laki). Atau lebih tepatnya memiliki karakter “maskulinitas”. “Sayangnya”, kata Abu Sa’id, “orang asing (non Arab) kemudian menenggelamkan predikat ini dari sirkuit sejarah, sehingga tidak banyak orang mengenal Aisyah disebut kaumnya demikian.

Demi Tuhan, dia benar-benar begitu. Saya pernah mendengar orang mengatakan :

“Kalau saja ayahnya punya anak laki-laki seperti dia (Aisyah) niscaya dia tidak akan bisa berbuat apa-apa di hadapannya (Aisyah)”.

Sang menteri bertanya lagi :

“Apakah anda punya informasi tentang pandangan-pandangannya?”.

“Sangat banyak. Dia bicara banyak tentang hukum-hukum agama. Pendapat-pendapatnya sangat diperhatikan dan ditransmisikan," jawab Abu Hayyan.

Diriwayatkan bahwa Aisyah pernah menyampaikan tentang al Akhlaq al Karimah (budi perkerti luhur). Katanya :

“Ada 10 akhlak karimah : jujur dalam ucapan, terbuka terhadap orang lain, menjaga amanat (kepercayaan), silaturrahim, menyampaikan kebaikan, memperhatikan tetangga, menyayangi teman, membayar layak para pekerja, menjamu tamu dan paling penting adalah memiliki rasa malu (untuk berbuat jahat)."

(Abu Hayan al Tauhidi , al Imta’ wa al Muanasah / الإمتاع والمؤانسة, III/199-200).





Sumber :muslimedianews.com
Dites soal Tajwid, Ustadz ISIS Kebingungan

Dites soal Tajwid, Ustadz ISIS Kebingungan


Wartaislami.com ~  Terdakwa simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Ahmad Junaedi kebingungan saat dites kemampuan membaca Alquran. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat pun dibuat heran dengan jawaban terdakwa yang bertugas membantu ISIS sebagai guru mengaji di Suriah.

Pada persidangan dengan agenda mendengar keterangan terdakwa kemarin, anggota majelis hakim Syahlan sempat menanyakan tentang tajwid, cara membaca Alquran dengan lafal yang benar.

"Mim mati ketemu mim, apa itu namanya?" tanya Syahlan kepada Junaedi di Ruang Sidang Soerjadi, PN Jakarta Barat, kemarin.

Junaedi tak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak. Junaedi meminta Syahlan mengulang pertanyaannya. Syahlan kembali menanyakan hingga tiga kali.

"Mim mati bertemu mim, hukumnya apa?" kata Syahlan dengan nada tinggi. Junaedi gelagapan menjawab, "Ikhfa."

 Mendengar jawaban itu, Syahlan tampak kecewa. Dia lalu merebahkan tubuhnya ke sandaran bangku.

Tak lama kemudian, Junaedi mengoreksi jawabannya. Dia menjawab, idgham mimi. Namun Syahlan tak menanggapi jawaban terdakwa lagi.

Junaedi berangkat ke Suriah pada 21 Maret 2014 bersama 17 orang lainnya. Dia pergi bergabung dengan milisi ISIS di Suriah atas bujukan Abu Jandal, warga Malang yang menjadi petinggi ISIS. Junaedi diongkosi sepenuhnya oleh Abu Jandal yang sudah dikenalnya sejak 2012.

"Saya punya keahlian mengajar mengaji Alquran," kata Junaedi di hadapan majelis hakim.

Abu Jandal memang meminta Junaedi mengajar mengaji anak-anak korban perang di Suriah. Dia sempat menolak ajakan itu. Tapi tiga kali dibujuk Abu Jandal, Junaedi akhirnya memenuhi permintaan itu karena merasa punya keahlian mengaji yang bisa disumbangkan.

"Di Muaskar (tempat pelatihan di Suriah) saya juga pernah mengajar ngaji, setiap bakda subuh," kata Junaedi.

Penasihat hukum Junaedi, Asludin Hatjani, mengatakan kliennya tertarik berangkat ke Suriah karena diiming-imingi penghasilan yang besar. Junaedi pun rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang bakso dan bergabung dengan kelompok militan ISIS.

"Pertemuan pertama dia menolak, pertemuan kedua dia menolak, dan pada pertemuan ketiga dia dijanjikan akan ada pekerjaan di sana dengan penghasilan besar tapi tidak disebutkan jumlahnya," kata Asludin.

Junaedi mengaku ditipu Abu Jandal. Penghasilan yang dia terima di Suriah bahkan lebih kecil bila dibandingkan dengan pendapatannya di Indonesia. Sebagai pedagang bakso keliling, Junaedi memperoleh penghasilan antara Rp2-2,5 juta per bulan. Sementara selama di Suriah dia hanya dibayar Rp600 ribu per bulan.

"Saya merasa menyesal, merasa tertipu karena janji yang tidak sesuai. Janjinya mau digaji dengan gaji besar, tapi ternyata tidak. Dibayar 8 ribu lira atau sekitar Rp600 ribu," kata Junaedi.

Dalam kasus ini, Junaedi didakwa terlibat dalam organisasi ISIS. Dalam dakwaannya dia diduga melanggar Pasal 15 Jo Pasal 7 Undang-Undang Pemberantasan Terorisme. (agkcnn)




Sumber :muslimedianews.com

[Habib Lutfi] yang Lebih Tawadlu dan Bersih Hatinya Lebih diunggulkan daripada yang Lebih Alim

[Habib Lutfi] yang Lebih Tawadlu dan Bersih Hatinya Lebih diunggulkan daripada yang Lebih Alim


Wartaislami.Com ~ Dalam fanpage Habib Muhammad Luthfi bin Yahya menerangkan bahwa yang lebih lebih alim belum tentu yang diunggulkan:

Imam Nawawi berumur lebih muda dari Imam Rafi’I, namun tidak lantas membuat pendapat (qoul) Imam Rafi’I lebih unggul (rajih) daripada pendapat Imam Nawawi yang lebih muda. Ibnu Hajr Al-Haitamy berkata: “Jika terdapat pendapat yang berbeda antara Imam Nawawi dan Imam Rafi’I, maka pendapat yang dipegang (al-‘ibrah) adalah yang disahihkan Imam Nawawi.”

Kenapa?
Karena Imam Nawawi memiliki qulb (hati) yang spiritualitasnya lebih tinggi dibanding Imam Rafi’i. Imam Nawawi menjadi wali quthb (pemimpin para wali) selama 3 tahun 4 bulan, jadi batin syariahnya lebih luar biasa. Sampai pada di sini kita dapat melihat bahwa para ulama jaman dahulu memiliki pandangan yang jauh lebih dalam untuk menggolongkan mana yang qoul rajah, arjah, shahih, ashah, dan mu’tamad. Tidak hanya mengelompokkannya sesuai tingkat kealiman (karena para ulama alimhya sudah luar biasa), namun sampai pada mempertimbangkan tingkat spiritualnya.

Di kalangan para ulama, Imam Suyuthi bertemu dengan Baginda Rasulullah 70 kali yaqodzhoh (mata telanjang). Semua itu karena tingkat martabat kewalian beliau yang agung di hadapan Allah. Sebenarnya Imam Suyuthi sudah pada tingkat mujtahid muthlak seperti Imam Syafi’I yang kita kenal dengan bapak Madzhab Syafi’I, tapi beliau lebih memilih bermadzhab Syafi’i. Imam Suyuthi lebih memilih ittiba’ (mengikuti) madzhab Imam Syafi’I daripada mendirikan madzhab baru, karena lebih baik mengikuti dan mengembangkan yang sudah ada daripada membuat yang baru.

Sikap rendah hati (tawadlu’) seperti ini sudah jarang di jaman sekarang. Seperti ketika di seminar/muktamar, kita malah rebutan: “Pendapat saya yang ini lebih benar”.




Sumber :muslimoderat.com
[Surat dari Warga NU] Ustadz Idrus Ramli dimohon Ahkiri Perselisihan Dengan KH Said Aqil Sirodj

[Surat dari Warga NU] Ustadz Idrus Ramli dimohon Ahkiri Perselisihan Dengan KH Said Aqil Sirodj

                                                         Foto : Ustadz Muhammad Idrus Ramli

Wartaislami.Com ~ Ungkapan mendalam dan tetap ingin menjaga Nu dari perpecahan tulisan ini semoga sampai kepada Ustadz Muhammad Idrus Ramli, sebagai warga Nu kami wajib mengungkapkan apa yang menjadi keresahan kita terhadap perselisihan dua tokoh NU Idrus Ramli dan Ketua PBNU Said Aqil Sirodj, semoga tulisan dapat mejadi bahan renungan bersama bahwa sebuah perselisihan tidak mendapatkan apa-apa kecuali kehacuran.
Bismillahir rohmanir rohiim
Assallamu'alaykum waroh matullahi wabarokatuh
Fauzan Adzlim Purnama,Tulisan ini saya tujukan untuk Ketua Umum Nu Garis Lurus (NUGL) Ustadz Muhammad Idrus Ramli
Tidak mengurangi rasa Hormat saya Ustadz ada beberapa unek-unek yang akhir-akhir mengganjal di benak saya sabagai seorang Warga Nahdliyyin dari sejak umur 4 tahun saya ngaji Iqro di Musholah depan Rumah saya di Sragen jawa tengah umur saya sekarang sudah hampir 40 tahun Dan sayapun pernah berguru dengan Kyai Ma'ruf Islamuddin seorang kyai NU karismatik di daerah saya mungkin njenengan juga mengenalnya.
Betapa bangganya saya bisa mengingat massa-massa kecil bersama teman-teman saya ngaji di bimbing seorang yang ramah Ustadz Muhadi namanya dari Jombang yang sekarang sudah almarhum, sesekali di saat ngaji beliau selingi Humor yang saat ini terkenal dengan Humor Ala NU, kebanggaan yang luar biasa yang pernah saya dapatkan kala itu.
Akhir-akhir ini saya merasa sedih dengan munculnya fenomena NUGL dimana njenengan di daulat menjadi Imam Besarnya dan sayapun merasa risih dengan persilihan njenengan dangan ketua PBNU Kyai Said Aqil Sirodj, yang mengganjal dalam benak saya apakah kita dulu di didik Guru Kita untuk saling beselisih dengan saudara seiman kita tentu tidak, saya yakin Ulama dan para Kyai NU tidak akan pernah mengajarkan muridnya untuk berebut kekuasaan.
Saya yang faqir ilmu ini sedih melihat apa yang sedang di pertontonkan oleh orang-orang yang saya fikir dari segi keilmuan sudah mumpuni tapi tidak dapat memberi contoh yang baik bagi Ummat, lebih menyadihkan membuat Nama tandingan NU GARIS LURUS,
Kami hanya butuh NU yang dapat menentramkan Hati jama'ahnya dan membimbing kami dengan pemahaman Islam yang di wariskan Baginda Nabi Muhammad SAW tidak lebih dari itu.
Menurut pemahaman yang saya dapat dari mangaji, Para Imam seperti kalianlah yang kelak di hari perhitungan yang akan membawa kami menuju jalan dimana kami akan di mintai pertanggung jawaban di hadapan Allah dan Nabi Kami Muhammad saw, Apakah kalian akan membawa kami masuk keneraka atau kesurga itu tanggung jawab anda anda sebagai para ulama pewaris Nabi.
Saya hanya ingin bertanya Pada Ustadz dengan memelihara perselisihan ini apakah akan membawa kabaikan bagi kita? sebagai seorang yang yang di beri karunia Ilmu oleh Allah apakah pantas mengedapankan perslisihan pribadi daripada keutuhan Ummat?
kita tahu saat ini Ummat Islam dalam massa yang di mana mendapat Ujian yang sangat luar biasa beratnya. Terutama Nu yang saat ini terus di upayakan untuk di hancurkan oleh kekuatan jahat WAHABI mungkin Ustadz Idrus lebih Faham dari pada saya.
Saya Pernah bangga dimana melihat njenengan bak pahlawan Islam saat itu dimana njenengan begitu gigihnya melawan gerakan Wahabi yang ingin memporak porandakan Ahlu sunnah wal jamaah, njenangan dengan Ilmu yang njenengan miliki mempu membuat mereka tidak berkutik, tapi pada akhinya anda sendiri yang membuat NU terpecah belah .
Untuk apa Kehormatan NU begitu mudahnya di gadaikan oleh ambisi-ambisi yang tidak ada manfaatnya untuk warga Nahdliyyin, kami hanya butuh Ulama yang dapat membawa kami ke TELAGA Rasulullah hanya itu yang kami butuhkan, dan kamipun sabagai ummat berkawajiban menlindungin Ulama-ulama kami karena merekalah pewaris Nabi dan sebagai pentunjuk menuju jalan illahi saat ini.
Dari lubuk hati yang paling dalam dari saya warga Nahdliyyin yang fakir Ilmu ini mohon akhiri perselisihan antara njenengan dan Kyai Sadi yang menurut kami tidak ada manfaatnya ini, ummat sudah capek dengan kondisi Ummat Islam saat ini , demikan unek unek yang mengajal selama ini sudah saya ungkapkan jika ada kata kata yang kurang berkenan mohon di bukakan pintu maaf yang seluas-luasnya .
Akhir sallam wassalamu'alaykum waroh matullahi wabarokatuhu.
Oleh: Fauzan Adzlim Purnama
Jakarta Jum,at 29 januari 2016




Sumber: Aljazera-news.com via muslimoderat.com

Ini Kekuatan Sumur Zam-Zam Mampu Tenggelamkan Dunia

Ini Kekuatan Sumur Zam-Zam Mampu Tenggelamkan Dunia


Wartaislami.Com ~ Zamzam adalah air yang dianggap sebagai air suci oleh umat Islam. Zamzam merupakan sumur mata air yang terletak di kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Kabah, berkedalaman 42 meter. Menurut riwayat, mata air tersebut ditemukan pertama kali oleh Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Safa dengan bukit Marwah, atas petunjuk Malaikat Jibril, tatkala Ismail, putera Hajar, mengalami kehausan di tengah padang pasir, sedangkan persediaan air tidak ada.

Ada banyak keunikan tentang air zamzam ini, diantaranya mata airnya yang tidak pernah kering meskipun dipompa terus-menerus oleh jutaan orang dari penjuru dunia. Namun juga punya kontrol yang luar biasa sehingga airnya tidak sampai meluber, padahal jika dengan hitungan matematis mungkin saja bumi sudah tenggelam oleh pancaran mata airnya yang deras. Berikut penjelasannya.

Permukaan air ZamZam adalah sekitar 10.6 kaki di bawah permukaan tanah. Adalah sebuah mukjizat dari Allah SWT bahwa ketika sumur Zam Zam dipompa terus menerus selama 24 jam tanpa henti dengan tingkat sedotan 8 ribu liter/detik, permukaan sumur akan turun hingga 44 kaki di bawah permukaan tanah.

TETAPI, ketika pemompaan berhenti, permukaan sumur segera kembali pada 13 kaki di bawah permukaan tanah setelah 11 menit.
8 ribu liter/detik
Berarti 8,000 x 60 = 480,000 liter/menit
Berarti 480,000 x 60 = 28.8 juta liter/jam
Berarti 28,800,000 x 24 = 691.2 juta liter/hari
Jadi ada 690 juta liter air ZamZam dipompa dalam 24 jam tetapi sumurnya terisi kembali hanya dalam waktu 11 menit !!!

Ada dua mukjizat di sini.
Pertama, bahwa sumur ZamZam terisi kembali dengan segera, & kedua bahwa Allah SWT memiliki kontrol absolut yang luar biasa untuk tidak mengisi sumur Zam Zam secara berlebihan sebab jika tidak terkontrol, dunia bisa-bisa TENGGELAM oleh luapan air Zam Zam yang demikian besar!
Kejadian ini sesungguhnya adalah terjemahan dari kata Zam Zam, yang berarti "Stop!!! Stop!!!", demikian kata Hajirah Alaih As Salaam.





Sumber :muslimoderat.com



Syekh Ihsan Dahlan, Ulama Sufi Monumental dari Kediri yang Mendunia

Syekh Ihsan Dahlan, Ulama Sufi Monumental dari Kediri yang Mendunia


Wartaislami.Com ~ Beliau terkenal sebagai seorang ulama yang pendiam dan tak suka publikasi. Salah satu ulama yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah nusantara pada abad ke-19 (awal abad ke-20) adalah Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi begitulah orang mengenalnya. Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes (kini Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya makin terkenal setelah kitab karangannya Siraj Al-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan, dari karyanya ini pula, ia dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat.

Semasa hidupnya, Kiai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi. Tetapi, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih, hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya. Karena itu, karya-karya tulisannya tak sebatas pada bidang ilmu tasawuf dan akhlak semata, tetapi hingga pada persoalan fikih.

Dilahirkan sekitar tahun 1901, Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra dari seorang ulama yang sejak kecil tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya KH Dahlan bin Saleh dan ibunya Istianah adalah pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Jampes. Kakeknya adalah Kiai Saleh, seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat, yang masa muda hingga akhir hayatnya dihabiskan untuk menimba ilmu dan memimpin pesantren di Jatim.

Kiai Saleh sendiri, da lam catatan sejarahnya, masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jabar) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, salah seorang dari sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Air.

Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang kiai Mesir, tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.

Keturunan Syekh Ihsan al-Jampesi mengenal sosok ulama yang suka menggeluti dunia tasawuf itu sebagai orang pendiam. Meski memiliki karya kitab yang berbobot, namun ia tak suka publikasi. Hal tersebut diungkap KH Abdul Latief, pengasuh Ponpes Jampes sekaligus cucu dari Syekh Ihsan al-Jampesi.

Membaca dan menulis

Semenjak muda, Syekh Ihsan al-Jampesi terkenal suka membaca. Ia memiliki motto (semboyan hidup), ‘Tiada Hari tanpa Membaca’. Buku-buku yang dibaca beraneka ragam, mulai dari ilmu agama hingga yang lainnya, dari yang berbahasa Arab hingga bahasa Indonesia.

Seiring kesukaannya menyantap aneka bacaan, tumbuh pula hobi menulis dalam dirinya. Di waktu senggang, jika tidak dimanfaatkan untuk membaca, diisi dengan menulis atau mengarang. Naskah yang ia tulis adalah naskah-naskah yang berisi ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan kedudukannya sebagai pengasuh pondok pesantren.

Pada tahun 1930, Syekh Ihsan al-Jampesi menulis sebuah kitab di bidang ilmu falak (astronomi) yang berjudul Tashrih Al-Ibarat, penjabaran dari kitab Natijat Al-Miqat karangan KH Ahmad Dahlan, Semarang. Selanjutnya, pada 1932, ulama yang di kala masih remaja menyukai pula ilmu pedalangan ini juga berhasil mengarang sebuah kitab tasawuf berjudul Siraj Al-Thalibin. Kitab Siraj Al-Thalibin ini di kemudian hari mengharumkan nama Ponpes Jampes dan juga bangsa Indonesia.

Tahun 1944, beliau mengarang sebuah kitab yang diberi judul Manahij Al-Amdad, penjabaran dari kitab Irsyad Al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 H), ulama asal Malabar, India. Kitab setebal 1036 halaman itu sayangnya hingga sekarang belum sempat diterbitkan secara resmi.

Selain Manahij Al-Amdad, masih ada lagi karya-karya pengasuh Ponpes Jampes ini. Di antaranya adalah kitab Irsyad Al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa Al-Dukhan, sebuah kitab yang khusus membicarakan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam.

Kitab yang berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati al-Qahwati wa al-Dukhan (kitab yang membahas kopi dan rokok) ini tampaknya ada kaitannya dengan pengalaman hidupnya saat masih remaja.

Di kisahkan, sewaktu muda, Syekh Ihsan terkenal bandel. Orang memanggilnya ‘Bakri’. Kegemarannya waktu itu adalah menonton wayang sambil ditemani segelas kopi dan rokok. Kebiasannya ini membuat khawatir pihak keluarga karena Bakri akan terlibat permainan judi. Kekhawatiran ini ternyata terbukti. Bakri sangat gemar bermain judi, bahkan terkenal sangat hebat. Sudah dinasihati berkali-kali, Bakri tak juga mau menghentikan kebiasan buruknya itu.

Ny. Isti’anah neneknya merasa sangat prihatin dan sedih dengan tingkah polah Bakri, hingga suatu hari Ny. Isti’anah mengajaknya berziarah ke makam KH Yahuda leluhur Bakrie di Lorog Pacitan. Di makam inilah, Ny. Isti’anah mencurahkan segala rasa kekuatiran dan keprihatinnya atas kebandelan cucunya itu.

Selepas berziarah itu, suatu malam Syekh Ihsan (Bakri) bermimpi didatangi seseorang yang berwujud seperti kakeknya sedang membawa sebuah batu besar dan siap dilemparkan ke kepalanya.”Hai cucuku, kalau engkau tidak menghentikan kebiasaan burukmu yang suka berjudi, aku akan lemparkan batu besar ini ke kepalamu,” kata kakek tersebut.

Ia bertanya dalam hati, ”Apa hubungannya kakek denganku? Mau berhenti atau terus, itu bukan urusan kakek,” timpal Syekh Ihsan.Tiba tiba, sang kakek tersebut melempar batu besar tersebut ke kepala Syekh Ihsan. Ia langsung terbangun dan mengucapkan istighfar. ”Ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku. Ya Allah, ampunilah dosaku.”

Sejak saat itu, Syekh Ihsan menghentikan kebiasaannya bermain judi dan mulai gemar menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya di Pulau Jawa. Mengambil berkah dan restu dari para ulama di Jawa, seperti KH Saleh Darat (Semarang), KH Hasyim Asyari (Jombang), dan KH Muhammad Kholil (Bangkalan, Madura).

Tawaran Raja Mesir

Di antara kitab-kitab karyanya, yang paling populer dan mampu mengangkat nama hingga ke mancanegara adalah Siraj Al-Thalibin . Bahkan, Raja Faruk yang sedang berkuasa di Mesir pada 1934 silam pernah mengirim utusan ke Dusun Jampes hanya untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, beliau menolak dengan halus permintaan Raja Faruk lewat utusannya tadi dengan alasan ingin mengabdikan hidupnya kepada warga pedesaan di Tanah Air melalui pendidikan Islam.

Dan, keinginan Syekh Ihsan al-Jampesi tersebut terwujud dengan berdirinya sebuah madrasah dalam lingkungan Ponpes Jampes di tahun 1942. Madrasah yang didirikan pada zaman pendudukan Jepang itu diberi nama Mufatihul Huda yang lebih dikenal dengan sebutan ‘MMH’ (Madrasah Mufatihul Huda).

Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Jampes terus didatangi para santri dari berbagai penjuru Tanah Air untuk menimba ilmu. Kemudian, dalam perkembangannya, pesantren ini pun berkembang dengan didirikannya bangunan-bangunan sekolah setingkat tsanawiyah dan aliyah.

Kitab Karangan Syekh Ihsan

Berbagai kitab karangan Syekh Ihsan adalah:
Tashrih al-Ibarat. Kitab ini ditulis pada tahun 1930, yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Natijat al-Miqatkarangan K.H. Ahmad Dahlan, Semarang. Kitab ini mengulas tentang ilmu falak (astronomi).
Siraj al-Thalibin. Kitab ini ditulis pada tahun 1932, yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Minhaj al-Abdidinkarangan Imam al-Ghazali. Kitab ini mengulas tentang ilmu tasawuf.
Manahij al-Amdad. Kitab ini ditulis pada tahun 1944, yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Irsyad al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyadkarangan Syekh Zainuddin Al-Malibari. Kitab ini mengulas tentang ilmu tasawuf.
Irsyad al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa al-Dukhan, merupakan kitab yang khusus membicarakan
Umat Muslim yang pernah menuntut ilmu agama di pesantren tentu pernah mendengar atau bahkan memiliki sebuah buku berbahasa Arab berjudul Siraj al-Thalibin karya Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi. Kitab tersebut merupakan syarah Minhaj Al-Abidin karya Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan filsuf besar di masa abad pertengahan.

Kitab Siraj al-Thalibin disusun pada tahun 1933 dan diterbitkan pertama kali pada 1936 oleh penerbitan dan percetakan An Banhaniyah milik Salim bersaudara (Syekh Salim bin Sa’ad dan saudaranya Achmad) di Surabaya yang bekerja sama dengan sebuah percetakan di Kairo, Mesir, Mustafa Al Baby Halabi. Yang terakhir adalah percetakan besar yang terkenal banyak menerbitkan buku-buku ilmu agama Islam karya ulama besar abad pertengahan.

Siraj al-Thalibin terdiri atas dua juz (jilid). Juz pertama berisi 419 halaman dan juz kedua 400 halaman. Dalam periode berikutnya, kitab tersebut dicetak oleh Darul Fiqr–sebuah percetakan dan penerbit di Beirut, Lebanon. Dalam cetakan Lebanon, setiap juz dibuat satu jilid. Jilid pertama berisi 544 halaman dan jilid kedua 554 halaman.

Kitab tersebut tak hanya beredar di Indonesia dan negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, tetapi juga di negara-negara non-Islam, seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia, di mana terdapat jurusan filsafat, teosofi, dan Islamologi dalam perguruan tinggi tertentu. Sehingga, kitab Siraj al-Thalibin ini menjadi referensi di mancanegara.

Tidak hanya itu, kitab ini juga mendapatkan pujian luas dari kalangan ulama di Timur Tengah. Karena itu, tak mengherankan jika kitab ini dijadikan buku wajib untuk kajian pascasarjana Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, sebuah lembaga perguruan tinggi tertua di dunia.

Kitab ini dipelajari beberapa perguruan tinggi lain dan digunakan oleh hampir seluruh pondok pesantren di Tanah Air dengan kajian mendalam tentang tasawuf dan akhlak. Menurut Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, seperti dikutip dari situs NU Online, kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum Muslim di Afrika dan Amerika.

Karya fenomenal ulama dari Dusun Jampes, Kediri, ini belakangan menjadi pembicaraan hangat di Tanah Air. Ini setelah sebuah penerbitan terbesar di Beirut, Lebanon, kedapatan melakukan pembajakan terhadap karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi. Perusahaan penerbitan dengan nama Darul Kutub Al-Ilmiyah ini diketahui mengganti nama pengarang kitab Siraj al-Thalibin dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Bahkan, kitab versi baru ini sudah beredar luas di Indonesia.

Dalam halaman pengantar kitab Siraj al-Thalibin versi penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, nama Syekh Ihsan al-Jampesi di paragraf kedua juga diganti dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1941, masih satu generasi dengan Syeh Ihsan al-Jampesi yang wafat pada 1952. Sementara itu, keseluruhan isi dalam pengantar itu bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal. Penerbit juga membuang taqaridh atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asyari (Jombang), Syekh KH Abdurrahman bin Abdul Karim (Kediri), dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah (Kediri).

Kitab tersebut menawarkan konsep tasawuf di zaman modern ini. Misalnya, pengertian tentang uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari uzlah di era sekarang adalah bukan lagi menyepi, tapi membaur dalam masyarakat majemuk, namun tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawian.

Wafatnya Sang Sufi Monumental Indonesia

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU. (moslemforall.com)


Inilah Rahasia Dahsyatnya dzikir "La Haula wa La Quwwata illa Billah"

Inilah Rahasia Dahsyatnya dzikir "La Haula wa La Quwwata illa Billah"


Wartaislami.Com ~ 'Auf bin Malik Al-Asyja'i pergi menemui RosuluLLAH saw. Dan berkata : "Ya RosuluLLAH sesungguhnya anakku Malik pergi bersamamu berperang di jalan ALLAH dan ia blm pulang, apa yg harus saya perbuat? Padahal seluruh pasukan sdh pulang."

RosuluLLAH saw bersabda : "Ya 'Auf perbanyaklah kamu dan istrimu mengucapkan لا حول ولا قوة إلا بالله."
Auf pulang ke rumah dan istrinya sendiri menanti anaknya yang belum datang. melihat suaminya datang istrinya bertanya : "Wahai 'Auf apa yg diberikan RosuluLLAH saw ?"
Auf menjawab : "Beliau mewasiatkan untukku dan kamu juga agar kita banyak mengucapkan لا حول ولا قوة إلا بالله"
Apa jawaban istri yg sholehah dan sabar ini ?
"Ya sungguh benar RosuluLLAH saw."

Akhirnya mereka berdua duduk terus berdzikir dg لا حول ولا قوة إلا بالله. Sampai saat malam yang gelap tiba, seketika ada yang mengetuk pintu, dan Auf berdiri membuka pintu, ternyata yang datang adalah anaknya Malik membawa banyak sekali domba sebagai gonimah.
Maka Auf bertanya : "Apa ini?"
Malik menjawab: "Sesungguhnya musuh menangkapku dan mengikatku dengan rantai besi dan mengikat dua kakiku, maka ketika malam tiba saya berusaha keras untuk kabur tapi tidak bisa, karena kuatnya ikatan di kedua tangan dan kaki. Tiba-tiba ikatan borgol yang dari besi perlahan-lahan longgar sehingga ikatan di kedua tangan dan kaki bisa lepas. Maka saya bisa datang sekarang dengan kambing-kambing orang Musyrikin ini.
Maka Auf berkata : "Wahai ananda bukankah jarak antara musuh dan kita jauh sekali? Bagaimana kamu bisa datang dalam waktu satu malam?"
Malik jawab: "Wahai ayahanda, demi ALLAH ketika ikatan itu lepas saya merasa ada Malaikat yang membawa saya.

SubhanaLLAHAL 'adzim
Maka Auf mendatangi RosuluLLAH saw untuk memberi kabar beliau. Tapi sebelum Auf memberi kabar beliau. RosuluLLAH saw mengatakan kepada Auf : "Wahai Auf bergembiralah bahwa ALLAH swt menurunkan ayatnya tentang urusanmu: ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعل الله لكل شيئ قدرا Ketahuilah sesungguhnya لا حولا ولا قوة إلا بالله Adalah harta terpendam dibawah singgasana 'Arsy Ar-Rahman. Ia adalah obat bagi 99 penyakit, yang paling ringan adalah penyakit gundah.






Sumber :muslimoderat.com
Mantap !! “Ngaji” 2 Juz, Boleh Makan Gratis di Warteg Joni Abadi

Mantap !! “Ngaji” 2 Juz, Boleh Makan Gratis di Warteg Joni Abadi


Wartaislami.com ~ Jika biasanya Anda menikmati makanan diiringi lantunan musik, hal berbeda disuguhkan Warteg Keliling “Joni Abadi”.

Di warteg ini, pengunjung akan menikmati santap siang ataupun malam dengan lantunan ayat suci Al Quran.

Uniknya lagi, lantunan ayat suci Al Quran yang diperdengarkan bukan dari MP3, melainkan dari suara pengunjung di warteg tersebut.

Jika calon pengunjung mengaji hingga dua juz, maka mereka tidak perlu membayar makanan yang disantap alias gratis.

“Pengunjung yang mengaji dua juz bisa memilih makanan apa pun di warteg saya tanpa membayar (gratis),” tutur pemilik Joni Abadi, Ricky Ricarvy Irawan (31), kepada Kompas.com, Kamis (28/1/2016) malam.

Biasanya, dalam sehari, ada lima hingga enam orang yang mendapatkan bonus makan gratis lewat ayat suci yang diperdengarkan.

Sebelum makan siang, mereka membuka Al Quran kecilnya dan duduk di pinggir jalan untuk mengaji. Surat yang dibaca bebas. Bisa dilakukan tadarus bareng atau masing-masing.

Posisi duduk pun bebas. Mau di kursi yang sudah disediakan, atau kursi permainan yang ada di trotoar Lapang Ciujung, Jalan Supratman, Kota Bandung, tempat Joni Abadi ini biasa nongkrong.

“Saya fasilitasi di sini bisa nongkrong sambil baca Al Quran. Jadi selain berjualan, insya Allah saya ingin sambil syiar atau trip dakwah,” ungkap Ricky.

Karena warteg keliling ini baru buka dua bulan, sampai sekarang, yang mengaji di tempatnya masih teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Pemuda Hijrah ataupun One Day One Juz.


Dokumentasi Warteg Joni AbadiPemilik warteg keliling Joni Abadi, , Ricky Ricarvy Irawan (31) bersama pesepakbola nasional Eka Ramdani.
Kehadiran mereka untuk melancarkan strategi penjualan wartegnya membuahkan hasil. Beberapa pengunjung biasanya ada yang tertarik hingga akhirnya mereka ikut mengaji bersama.

“Kalau berbicara keuntungan memang kecil. Namun, saya berbisnis tidak hanya untuk mencari untung, tetapi keberkahan. Alhamdulillah jika nantinya warteg ini bisa membuat orang jadi suka mengaji,” imbuhnya.

Ricky percaya bahwa musik dan alunan ayat suci Al Quran itu memengaruhi aspek psikologis. Jika mendengar musik sedih, secara tidak langsung akan membuat hati jadi galau.

Daripada galau berkelanjutan, lebih baik mengaji atau mendengarkan alunan ayat suci Al Quran. “Kalau mendengarkan ayat-ayat Al Quran, hati menjadi tenang, selalu mengingatkan kita pada Allah. Sharingpahalalah,” ucapnya.

Ide warteg keliling

Tepat 1 Maret 2015, usaha yang dirintisnya bertahun-tahun bangkrut. Ketika tidak memiliki uang, maka tempat makan yang dicarinya adalah warteg.
Idenya pun muncul. Ricky ingin membuat warteg dengan konsep food truck. Karena Ricky dalam posisi yang sangat bangkrut, ia pun mendapat kepercayaan dari investor berupa mobil VW.

Ia memilih mobil ini karena lebih eye catching untuk menarik pengunjung. “Buat modal, saya dapat pinjaman dari beberapa orang teman. Pinjaman tanpa bunga,” tutur dia.

Meski berkonsep food truck, makanan yang ditawarkan tak jauh beda dari warteg lainnya. Ada kentang mustofa, kikil, daging ayam, telur, dan lainnya.

Harga makanan di sini berkisar antara Rp 6.000-Rp 15.000. Pada Senin, Rabu, dan Sabtu malam, Ricky membuka wartegnya di Masjid Al Latief, Jalan Saninten, Kota Bandung.

Ketika ditanya apa arti nama Joni Abadi, Ricky mengatakan, Joni itu merupakan nama mobil, sedangkan Abadi merupakan nama warteg konvensional.

“Kan warteg itu ada yang namanya Bahari atau Tegal Abadi, saya menggunakan nama Abadi, disandingkan dengan nama mobilnya, jadi Joni Abadi,” tutup dia.
Source: www.kompas.com

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar!

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar!


Wartaislami.com ~ Masyarakat mesti membentengi diri dari ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Namun demikian, mereka tak perlu mengucilkan para mantan anggotanya. Eks Gafatar adalah korban dari dangkalnya pemahaman agama yang tidak boleh diperlakukan diskriminatif.

Demikian pandangan KH Hendri Sutopo, penasehat Yayasan Kodama, dalam acara Mujahadah Rutin Malam Selasa Kliwon di Masjid Kodama Bantul, DI Yogyakarta.

“Eks Gafatar jangan dikucilkan. Karena bisa jadi mereka korban. Pemahaman sepenggal atas Al-Qur’an bisa membuat seseorang salah paham terhadap agama. Lebih parahnya, bisa berbuat radikal dan takfir (gemar memvonis kafir). Ini tugas pesantren untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat,” jelasnya, Senin (25/1) malam.

Kiai yang pernah dibimbing Alhamrhum KH Ali Maksum Krapyak tersebut menilai, kebanyakan orang-orang yang ikut Gafatar itu disebabkan punya problem ekonomi dan keluarga. Masalahnya, imbuh Hendri, mereka tidak mau berkonsultasi kepada para kiai terkait masalahnya itu.

“Mereka tidak mau diskusi bareng-bareng. Sehingga saat ada yang mendoktrin untuk melakukan sesuatu, mereka langsung ikut,” tuturnya.

Menurutnya, Yayasan Kodama yang juga bergerak di bidang sosial harus memiliki konsep deradikalisasi yang jelas. Para kiai harus menerangkan deradikalisasi dalam setiap pengajian di desa maupun kota.

Sebelum pengajian, acara Mujahadah dipimpin KHR Chaidar Muhaimin Afandi, Pengasuh Pondok Pesantren Padang Jagat Al-Munawwir Krapyak. Tampak hadir dalam forum tersebut H Suharto Djuwaini, Wakil Ketua PWNU DIY. (Suhendra/Mahbib) via nu.or.id



Wali Aswaja vs Wali Wahabi

Wali Aswaja vs Wali Wahabi


Wartaislami.com ~ SEPERTI BIASA DI WARKOP POJOK MAKAM, SI SARKUB & SI SARKAM ASYIK NGOPI DAN KEBUL KEBUL UDUD KLOBOT (ROKOK JAMAN DULU) SESEKALI TERDENGAR TAWA CEKIKIAN SAMBIL BANTING KARTU DOMINO.
“mbah….apa sih bedanya ulama aswaja dg ulama wahabi?..”, tanya sarkam

“Ulama aswaja spt wali songo itu gemar mengislamkan org kafir, kalau ulama wahabi lebih gila lagi mengkafirkan orang islam”, ujar sarkub sambil sedot klobot.

“kalau bedakan wali aswaja dg wali wahabi, gimana mbah..?” celetuk sarkam.

“aaah…..gampang kang.. Sampean kirim tawasul aja, kalau nyampe berarti wali aswaja kalau nyangkut berarti wali wahabi… maklum sinyal cingkrang yoo lemot”, jawab sarkub.

“hahahahaaa……”, sarkam terpingkal pingkal sampe sarung mlorot.. (ARN)

Sumber : Sarkub
Cinta dan Badai Ujian

Cinta dan Badai Ujian


Wartaislami.com ~ Suatu hari saya pernah membaca salah satu postingan teman di fb. Postingan yang  sangat singkat, padat tetapi penuh makna. Diakhir kalimat beliau menyebutkan; ‘jika anda ingin dicintai, maka bersiaplah untuk diuji’. Saya tidak tengah memikirkan cinta kepada makhluk ciptaanNya, karena saya yakin berbicara tentang cinta pada makhluk tidak akan ada spasinya, saya yakin itu! Akan tetapi  saya ingin menasehati diri saya sendiri tentang sekuat apakah selama ini energi cinta yang terbangun untuk Nya;penguasa Langit dan Bumi.

Apakah kerikil-kerikil tajam yang berubah  menjadi badai  besar nan dahsyat lalu menghantam  kita adalah episode perdana cerita cinta kita padaNya ?Atau inikah yang disebut sebenar-benarnya cinta? Ketika jiwa telah bersiap untuk ‘menikmati ujian’ dan meyakini bahwa jatuh sejatuh-jatuhnya, seperih-perihnya, sesakit-sakitnya, sekemelut-kemelutnya adalah bukti cinta Allah pada kita. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”  (QS Al-Baqarah:214)


 Bersiap untuk dicintai adalah  ‘manifestasi kerelaan’ untuk menikmati setiap detik-detik ujian. Ketika sakit, bangkrut, dikhianati, ditipu,diancam,dicibir,miskin dan ujian semisalnya. Bersiap untuk dicintai adalah perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan raga, tetapi menyuburkan  nurani. Bersiap untuk dicintai adalah romantika hidup antara kamu dan PenciptaMu. Bersiap untuk dicintai adalah sekelumit pengorbanan sepanjang nafas mengalir. Seperti titah  Rabb Tuhanmu yang disebutkan didalam Alquran dan diceritakan dalam perjalanan hidup para nabi, tentang kecintaan keimanan dan kesabaran mereka yang melangit. Semisal nabi Ayyub a’laihissalam yang mendapatkan ujian kematian anak-anyaknya dan penyakit berat yang dideritanya, Ibrahim a’laihissalam yang dibakar hidup-hidup oleh Namrud, Musa a’laihissalam yang berjuang dengan berat lagi panjang melawan Fir’aun dan kerasnya hati Bani Israil, Nuh a’laihissalam yang harus menahan derita dihina kaumnya bahkan keluarganya, lalu dicap orang gila karena merakit kapal di atas bukit. Dengan kekuasaan Allah, ketegaran nabi Nuh a’laihissalam juga mendatangkan pertolongan dan kehancuran bagi kaumnya, atau Nabi kita Al-Amin shallallahu’alaihi wasallam yang bertubi-tubi diuji oleh Allah dihina,dilempar,diancam, diusir serta berbagai ujian nabi-nabi lainnya.

Barangkali kita tidak akan sekuat atau setangguh mereka para Nabiullah. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang Allah utus dizamannya. Akan tetapi nilai-nilai dari ‘perjalanan   cinta’ mereka itulah yang hari ini menjadi ‘PR besar’ kita menghadapi ujian dan tantangan hidup. Kita bersiap untuk dicintai, maka Allah meminta kita untuk bersiap untuk diuji dengan berbagai kekurangan, kesempitan, kesakitan dan ujian lainnya. Sebagaimana  Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  pernah ditanya tentang siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab; “Para nabi, kemudian yang serupa, lalu yang serupa, maka seseorang diuji berdasarkan tingkat dien-nya.” (HR. Tirmidzi).

Semakin cinta,semakin diuji.

Penulis : Fauziah Ramdani via muslimedianews.com



Inilah Kisah Nyata Putri Nasrani Masuk Islam karena Menyaksikan Nabi SAW

Inilah Kisah Nyata Putri Nasrani Masuk Islam karena Menyaksikan Nabi SAW


Wartaislami.com ~ Dua kisah berikut merupakan ini Kisah nyata yang saya dapatkan dari Al Habib Jailani Assyatiri kemarin jam 06.30 tanggal 26-Robiul Awwal 1437 di Rubat Tarim Yaman.

Kisah pertama dari Habib Jailani pada saat maulid di Rubat Tarim.  Beliau berkata : "aku mendapat kisah ini dari Sayyid Muhammad al-Maliki, beliau dari abahnya Sayyid Alwi Al-Maliki, bahwa di Palestina saat Sayyid Alwi menghadiri maulid disana beliau terheran heran karena ada orang yang sejak awal pembacaan maulid dia berdiri". Lantas Sayyid Alwi memanggilnya ; "Duhai tuan apa yang anda lakukan, mengapa anda berdiri sejak awal maulid?". Lalu ia menjawab : "Begini ceritanya duhai Sayyid Alwi, dahulu aku pernah hadir maulid lalu aku berjanji tak akan berdiri saat Mahallul Qiyam sampai akhir maulid, sebab menurutku itu bidah, lalu tiba-tiba disaat mahallul qiyam Rasulullah hadir dan lewat disebelahku lantas beliau berkata: "Kamu tak usah berdiri kamu duduk saja ditempatmu." Aku pun ingin berdiri namun terasa susah untuk berdiri, maka sejak itulah aku sering sakit dan bahkan organ-organku bermasalah sehingga aku bernadzar jikalau Allah menyembuhkan penyakitku maka aku berjanji setiap ada maulid aku akan berdiri dari awal maulid hingga akhir, dan Alhamdulillah dengan izin Allah aku diberikan kesembuhan duhai Sayyid." Sayyid Alwi pun mempersilahkan ia melaksanakan nadzarnya.

Kisah kedua juga diceritakan habib Jailani disaat maulid nabi di Rubat Tarim.  Kisah ini bermula kebiasaan peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam di Lebanon.  Sebagaimana tradisi yang mereka rayakan secara turun temurun, selalu dimeriahkan dengan menembakan senjata api ke atas untuk menunjukan kegembiraan (hampir mirip dengan tradisi pernikahan di arab pada umumnya). Ketika itu, seorang putri beragama Nasrani bani Ghatas ikut melihat perayaan tersebut, disaat seorang dari mereka melepaskan senjata ternyata peluru yang dilepaskan nyasar ke arah putri tersebut dan menembus tepat dikepalanya. Putri tersebut pun langsung bersimbah darah dan jatuh ketanah, ibunya yang melihat kejadian itu berteriak histeris "binti. . binti... binti (putriku,  putriku,  putriku)".

Maka dengan segera anaknya dilarikan ke rumah sakit Ghasan Hamud, tetapi pihak rumah sakit tak bisa berbuat apa apa sebab pendarahannya parah di otak dan mereka pun menyerah. Mereka menyarankan agar segera dirujuk ke RS. Amerika yang lebih kompeten, tapi ternyata kondisinya sudah sangat parah dan sudah diambang ajal mereka pun tak bisa berbuat banyak.

sementara ibunya Karena panik penuh kecewa dan marah dia menjerit-jerit dan berteriak dan berkata :

يا محمد اين انت يا محمد?? وانت تدعى النبوة? انظر ماذا فعل امتك الى بنتي في يوم احتفال مولدك!!!!
"Di manakah engkau hai Muhammad yang mengaku sebagai Nabi..?!! (tentu teriakan ini bermaksud menghardik beliau) Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku karena merayakan hari kelahiranmu!.”

Dokterpun memastikan bahwa anaknya telah mati dan ketua dokter disana mempersilahkan ibunya untuk melihat terakhir kalinya. Ibu Nasrani itu dengan lemas dan dipapah masuk ke ruangan. Tapi lihatlah apa yang terjadi, ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, ternyata dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur dalam kondisi bugar sambil berteriak :"Ibu , ibu, . ibu...tutuup pintu dan jendela ibu!, jangan biarkan dia boleh keluar!".

Antara percaya dan tidak, si ibu bingung lantas bertanya; "siapa duhai putriku?". Sambil lalu si ibu mendekati anaknya untuk memastikan kondisi anaknya. Allahu Akbar !!! Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal, kondisi anaknya begitu sehat dan bugar serta tidak ada bekas luka tembakan sama sekali dikepalanya, apalagi bercak darah. Lalu ibunya terheran mengapa semua bekas senjata hilang dalam sekejab, iapun bertanya "Putriku, apa yang terjadi?“. Putrinya menjawab sambil tersenyum kegirangan "Ibu, ibu... dia datang mengelus kepalaku sambil tersenyum.“

“Siapa dia sayang...?“
“Muhammad.., Muhammad.., ibu..“ jawab anak itu. "Aku bersaksi duhai Ibu bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah".

Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh Nabi Agung Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam..! Inilah Nabi Muhammad Saw, dia selalu hadir dengan kelembutan dan memberikan cahaya penerang bagi kegelapan dari kekafiran.

Maka ibu, anak dan semua dokter Nasrani yang menyaksikan keajaiban tersebut saat itu juga mengikrarkan syahadat (masuk Islam).   Tak lama kemudian segenap dokter pun berkumpul di rumah sakit menyaksikan kejadian itu, lalu segenap dokter dan ibunya bersyahadat dan memutuskan masuk Islam, bahkan tidak sampai disitu setelah pulang kerumah dan para tetangga yang mengatahui hal ini semuanya bersyahadat dan memustuskan masuk Islam.

Semoga dua kisah ini menjadikan kita untuk selalu mencintai dan meyakini Rasulullah Saw dan merayakan maulidnya.

Oleh-Oleh Dari Ceramah Habib Jailani As-Syatiri di Rubat Tarim
Oleh : Moh. Nasirul Haq (Santri Rubat Syafi'ie Mukalla Yaman, Januari 2016) via muslimedianews.com




close
Banner iklan disini