Gus Mus Memasak Sendiri, Belajar dari Kebersahajaan Sang Teladan Hidup


Wartaislami.com ~ Sejenak kita coba mengingat sentuhan kita pada pesantren. Membayangkan pesantren, tergambar sosok Kyai atau Gus-gus yang senantiasa didampingi para santri ndalem siap melayani kebutuhan mereka, taruhlah misalnya membawakan handphone dan sebagainya.

Benarkah hal itu? Tak sepenuhnya benar, tapi memang hal demikian banyak sekali dapat kita saksikan di pondok-pondok pesantren, terlebih di Jawa. Bahkan berulang kali penulis temui, mereka para santri yang sudah jadi ‘orang’ pun akan tetap melakukan penghormatan sedemikian rupa apabila mereka bertemu Kyai atau keluarganya. Dengan seksama mereka menyiapkan sendal atau sepatu kyai, biasanya juga Gus-nya, mengambilkan makan atau minum, dan tidak berani makan minum satu meja dengan kyai atau Gus-nya itu. Di satu sisi, itu merupakan bentuk keta’dhiman santri pada kyai atau putera kyai, di sini lain barangkali kita melihatnya sebagai sesuatu yang tak lazim di zaman sekarang ini.

Nah, yang demikian telah menjadi hal umum terjadi di Pesantren. Namun seorang kyai besar di Rembang, Jawa Tengah memberi contoh dan mengingatkan kita pada untuk tak berlarut pada sikap di atas. Yang sekali lagi, tentu ada nilai positifnya bila diterapkan dan dilandasi tujuan awalnya, membimbing dan menempa diri santri, bukan memposisikan santri ndalem atau santri sekedar sebagai pelayan Kyai atau keluarga Kyai.

Dalam postingan Akun Harun Al Rasyid, nampak KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) sedang memasak sendiri.

“MESKI MEMILIKI RIBUAN SANTRI…BELIAU TAK PERNAH MEMANFAATKAN TENAGA SANTRI SAAT BELIAU BISA MELAKUKAN SENDIRI.
GUSMUS MEMANG UNIK, BELIAU INGIN NGASIH KITA CONTOH KEHIDUPAN YANG SEDERHANA DAN BIASA-BIASA SAJA SERTA KEBIASAAN INI TAK CUMAN SEKALI ATAU SAAT MAU SELFI AJA. HEEEE… hal biasa bagimu Gus, luar biasa bagi kami yg masih belajar hidup” tulis Harun Al Rasyid

Gus Mus memberikan teladan untuk melepas egosentris, ke-Kyai-an atau nge-Gus-nya, memilih memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa bantuan santri-santrinya. Hal ini perlu untuk kembali mengingatkan agar senantiasa mengangkat harkat martabat para santri, para pencari ilmu itu. Memperlakukan mereka bukan sebagai pelayan, tetapi dilandasi kesadaran membangun kembali konsep pembimbingan dan pendidikan para santri pada keikhlasan, keteguhan, ketundukan, dan penempaan diri santri untuk melayani masyarakat di kemudian hari. Kebiasaan Gus Mus yang dalam banyak hal, misalnya tak memerintah santrinya memasak untuk beliau, tentu menjadi hal positif yang bisa dilakukan Kyai atau Gus-gus lain, yang terbiasa memposisikan diri sebagai ‘tuan’ bagi para santrinya. Bisalah, dilakukan setidaknya sesekali, untuk kembali mengingat kembali makna tujuan dari proses itu.



Red. Khayun Ahmad Noer via arrahmah.co.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Gus Mus Memasak Sendiri, Belajar dari Kebersahajaan Sang Teladan Hidup"

Post a Comment

close