Ini Kisah Kampung Toleran di Selatan Jakarta


Wartaislami ~ Jika tuan menelan sebuah ujaran mentah-mentah, itu seperti mengubur akal sehat. Tuan bisa buktikan itu sendiri. Tapi ini cerita penulis sendiri yang pernah tersesat dan enggan mengulangi kebodohan serupa.
Peristiwa ini terjadi sewaktu di pesantren dulu penulis terbuai untuk berjihad. Memerangi orang-orang kafir, murtad, begitu tafsirannya. Ittikad ini kemudian menyeret untuk hadiri tabligh akbar buatan Forum Solidaritas Umat Islam dalam rangka penolakan pendirian gereja KHBP Cinere pada 2012 silam.

Saat itu bertebaran kabar; akan ada kristenisasi akbar di Depok! Dada siapa yang tidak bergelora? Entah siapa yang memulai itu. Yang jelas, itu dikabarkan dari mulut ke mulut dan tiap hari kian membesar. Dibeberkan pula bahwa Depok sudah ngantongi banyak gereja. Untungnya penulis tipe manusia penakut. Hanya bisa duduk manis saja, cukup. Sesekali tersentak teriakan Allahu Akbar!

Rendelnya gereja di Depok memang penulis benarkan. Pancoran Mas, salah satu daerah di Depok, saja ada 42 gereja. Bahkan di masa Hindia Belanda (1816-1942) ada nama Jalan Kerkstraat –dalam bahasa belanda– artinya jalan Gereja. Kini nama itu berubah menjadi Jalan Pemuda. Immanuel, gereja tertua di Depok juga berdiri di sana.

Meski begitu, setelah mengalami banyak pergulatan, penulis menyadari bahwa ujaran itu ternyata tidak benar. Apalagi selepas penulis melakukan penelitian di sana pada Oktober lalu. Di Depok istilah ‘kampung kristen’ menjadi penanda kampung-kampung di Jalan Pemuda. Jalan yang membelah dari Jalan Kartini menuju Jalan Sersan Anning, Kelurahan Depok, Pancoran Mas. Tapi, penulis lebih senang menyebutnya kampung toleran. Sebab, kampung ini melahirkan bibit-bibit unggul kebhinekaan.

Kampung Toleran

Penduduk muslim di kampung ini sebenarnya mayoritas dan berbanding lurus dengan jumlah gereja yang juga mayoritas.  Komposisinya mencapai 44 persen (6.606 jiwa) dari total pemeluk Kristen sekecamatan Pancoran Mas. Sementara Umat Islam mencapai 83 persen (40.902) dengan jumlah masjid 71 dan mushalla 229.

Komposisi ini ternyata menjadi barang antik dan mahal. Kampung ini menyulap perbedaan suku dan agama menjadi keindahan. Menghadirkan persaudaraan universal yang sedemikian kokoh. Bahkan ujaran kebencian di sini bak anjing menggonggong kabilah berlalu.

Hal itu terlihat, misalnya bila hari-hari besar keagamaan, Idul Fitri, Idul Adha dan Natal. Masyarakat biasa untuk pergi bernatal ke rumah keluarga Kristen atau berlebaran di tetangga yang Muslim. Khusus hari Natal yang kerap berdekatan dengan Tahun Baru, para tukang becak atau ojek bakal ketiban rezeki nomplok. Mereka kebanjiran pelanggan untuk menghantar pergi dan pulang dari gereja.

Selain itu, ada satu hal yang abadi dari wajah toleransi di kampung ini, yakni tradisi membakar sate dari daging kurban bersama-sama oleh warga Muslim-Kristen. Daging kurban dibagi rata kepada warga, baik muslim maupun nonmuslim dan diatur oleh para ketua Rukun Tetangga. Tradisi ini terus berlangsung hingga hari ini.

Dalam urusan bertetangga, prinsip kesetaraan adalah hal yang paling utama. Tak menilai agama apa yang dianut dan dari mana asal mereka. Warga senantiasa bergotong royong dalam segala hal. Misalnya ketika ada tetangga tertimpa musibah seperti sakit, mereka dengan spontan membesuk secara bergiliran.

Kebiasaan ini tidak hanya bagi mereka yang sudah dewasa. Sedari kecil mereka sudah terbiasa dengan toleransi antar sesama. Anak-anak yang muslim biasa menunggu temannya selesai kebaktian di sekitar gereja. Setelah itu mereka akan bermain besama. Begitupun teman-temannya yang Kristen. Mereka biasa menunggu di sekitar mushalla. Karena itu mereka juga hafal surat Al-Fatihah dan adzan.

Bukan Sekali Jadi

Tentu saja jalinan toleransi antarwarga ini  bukan tercipta begitu saja. Mereka melalui proses panjang, melalui tradisi-tradisi yang dirayakan bersama. Sudah sejak lama, antar warga ini terjalin persaudaraan, kawin-mawin dan patron-client.

Semakin jelas, bukan? Adalah suatu kebodohan belaka jika melihat banyaknya gereja disamakan dengan gencarnya arus kristensiasi. Padahal, tafsir terbuka pada dasarnya membuka keran toleransi tersebut.

Toh, agama jika dirumuskan sebagai ‘pertemuan spiritual di dalam perbedaan’ bukan sarana untuk ‘merezimkan kebenaran’ maka kita akan lebih indah melihat segala sesuatu. Tantangan utamanya, jika konsep toleransi bisa menyebar di desa lain, bisa jadi adalah upaya membangun metode pengajaran yang lebih terbuka. Tentu hal ini tidak mudah dan butuh komitmen tinggi dari pemerintah. Kitab kita dalam hidup bernegara adalah undang-undang, bukan? Bukan kitab agama-agama.

Itu sebabnya kampung toleran perlu ada di mana-mana. Agar keindahannya tak hanya di selatan pinggiran Jakarta saja. Tapi, meluas hingga ke pelosok Indonesia. Kepentingannya jelas: menghentikan adu domba.



Nur Hidayat adalah Koordinator Umum Forum Kajian Sosial dan Keagaam Piramida Circle Jakarta.

Sumber : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Ini Kisah Kampung Toleran di Selatan Jakarta"

Post a Comment

close