Kang Said: Nabi Dirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam


Wartaislami ~ Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj berpendapat, agama tidak perlu dikonstitusikan. Tapi  agama penting diamalkan oleh pemeluknya di dalam negara itu.

Baginya, negara yang secara formal berdasarkan Islam tapi selalu konflik, masyarakatnya banyak korupsi, lebih buruk ketimbang negara yang secara formal tidak berdasarkan Islam tapi  bebas dari ketidakdamaian, hukum tegak,  penduduknya dikenal dengan santun dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Nabi Muhammad sendiri, sambungnya, membangun negara di Yastrib (nama awal Madinah) bukan Negara Islam melainkan Negara Madinah, yakni negara yang beradab. Di sana sudah ada berbagai suku dan agama yang berbeda hidup berdampingan. Ada kaum Muhajirin dari Mekkah, kaum Ansor, Yahudi dan berbagai suku.

"Nabi sudah mengajarkan tidak boleh menyakiti dan menzalimi umat non-muslim. Mereka hidup berdampingan satu sama lain," kata Kang Said, sapaan akrabnya, di hadapan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (9/1), dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Kiai asal Cirebon ini juga menjelaskan bahwa Islam dan nasionalisme harus bersinergi. Sehingga keutuhan sebuah bangsa dapat berlangsung terus. Negara yang hanya berlabel Islam, tidak menjamin akan adanya keutuhan di antara anak-anak bangsa tersebut.

Kang Said memberikan contoh, negara Afganistan yang terdiri dari 100 persen penduduk Muslim kini diliputi suasana saling bermusuhan dan berkonflik karena rendahnya rasa nasinalisme. Begitu pula negara Somalia, yang seluruh masyarakatnya beragama Islam juga mengalami nasib yang menyedihkan pula karena sesama warganya terus berkonflik.

"Kondisi yang menyedihkan saat ini Irak. Ibukotanya Bagdad yang pernah menjadi pusat peradaban Islam kedua dunia dulunya, kini kondisinya amat menyedihkan. Bayangkan di sana terjadi ledakan bom di mana-mana. Ledakan bom di mall, bahkan yang ironisnya  ledakan bom di masjid. Mana ada ajaran Islam membolehkan ledakan bom di masjid, membunuh orang di masjid. Saking tidak amannya lagi di kawasan Irak, banyak warganya melarikan diri ke Eropa. Mereka mencari tempat yang lebih aman untuk hidup. Mereka harus meninggalkan tanah airnya, sekalipun penuh risiko dan tantangan," katanya.

Kang Said juga menyinggung soal situasi di Syiria yang sudah dilanda perang saudara sejak 4 tahun belakangan. Perang tersebut telah berdampak pada banyaknya warga yang terbunuh dan kerugian yang luar biasa. "Dari contoh tersebut, konflik antar warga dalam satu negara terjadi karena tidak adanya rasa nasionalisme/kebangsaan di antara warganya. Mereka tidak mencintai tanah airnya,” ujarnya.

Berbeda dari konsep  yang sudah diajarkan para kiai dan ulama terdahulu di Indonesia. Mereka, katanya, berpendapat Islam harus diperjuangkan tapi tanah air pun harus dibela mati-matian keutuhannnya. Konsep ini sudah dipikirkan oleh pendiri NU KH Hasyim Asy'ari, jauh sebelum kelahiran Negara Indonesia.

"Ketika bangsa Belanda datang lagi ke Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, maka KH Hasyim Asy'ari mengumpulkan sejumlah kiai-kiai dari Sumatera, Jawa, Madura, dan lain-lainnya pada pertengahan Oktober 1945. Hasilnya, 22 Oktober 1945 keluar  Resolusi Jihad yang menyebutkan, setiap umat Islam wajib membela tanah air dari serangan bangsa Belanda  yang kembali ingin menjajah. Mereka yang tewas dalam pertempuran melawan bangsa penjajah, adalah mati sahid. Sedangkan orang yang turut membantu musuh (Belanda), adalah pengkhianat tanah air. Hukumnya, boleh dibunuh," papar Kang Said.

Acara dihadiri Pemimpin Pesantren Nurul Yaqin Syekh H Ali Imran Hasan, Ketua Yayasan Pesantren Nurul Yaqin Idarussalam, Ketua PWNU Sumbar Maswar, Bupati Padang Pariaman terpilih Ali Mukhni, warga, alumni, dan ratusan santri Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. (Armaidi Tanjung/Mahbib)


 Sumber : nu.or.id

2 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

2 Responses to "Kang Said: Nabi Dirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam"

  1. mayoritas akan kelihatan kuat dan berwibawa manakala bisa mengayomi minoritas, bukan menindas atas nama agama sbgamana gerombolan teroris di mousul dan aleppo

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada bukti bahwa mayoritas di indonesia menindas yg minoritas, mayoritas di indonesia ini sudah terlalu sabar menghadapi provokasi minoritas yg seakan tdk pernah puas utk menguasai mayoritas

      Delete

close