Kenapa Kiyai Hasyim Asy’ari Tidak Mendirikan Nahdlatul Wahabi ?


Wartaislami.com ~ Sejarah kelahiran NU tidak dapat dilepaskan dari dua Aspek, ketegangan Antara kelompok Modernisme yang diwakili oleh Muhammadiyah dan Ulama “Tradisional”, dimana Muhammadiyah sangat dipengaruhi oleh pemikiran Islam Muhammad Abduh yang dengan konsep pemurnian Islam, sehingga seluruh Tradisi keagamaan yang dikembangkan oleh kelompok Ulama Tradisional dianggap bid’ah dan sesat.

Faktor Internasional ikut andil besar , dimana dalam dunia Islam muncul dua isu penting kala itu yakni penghapusan sistem kekhalifaan di Turki, dan direbutnya Mekah oleh Abdul Aziz Ibnu saud yang membawa paham Wahabi (Muhammad bin Abdul Wahab).

Kongres umat Islam yang dilaksanakan di Mekah juga akan dihadiri oleh perwakilan Islam dari Indonesia, namun kelompok Islam Modernis (Muhamadiyah) meninggalkan Ulama Tradisional dan tidak mengakomodir aspirasi kelompok Tradisional yang notabene adalah pengikut ajaran Ulama Salafus Shalih.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran kekhawatiran Ulama Tradisional, maka diambilah inisiatif untuk mengumpulkan para ulama terkemuka dalam rangka menyikapi persoalan tersebut yang dilaksanakan di Rumah KH. Wahab Chasbullah atas restu KH. Hasyim Asy’ari.Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 31 Januari menghasilkan dua kesepakan penting, Sebagai berikut :

1. Membentuk Panitia Hijaz yang bertujuan mengirim delegasi ke Mekah mengikuti kongres Umat Islam dan meminta kepada penguasa Mekah untuk menghormati Tradisi keagamaan yang ada di Indonesia, adapun delegasi yang diutus adalah KH. Wahab Chasbullah.

2. Membentuk Organisasi yang mangakomodir kepentingan Islam Tradisional yang diberi namaNahdlatul Ulama (NU).

Dalam Konteks berdirinya NU ada dua tokoh penting yang memiliki peran berbeda tetapi saling mempengaruhi yakni : KH. Wahab Chasbullah sebagai inisiator, dan tokoh yang paling sentral, namun semua gerakan KH. Wahab Cahsbullah tidak akan berhasil tanpa legitimasi dari KH. Hasyim As’yari sebagai ulama yang sangat berpengaruh, oleh karena itu KH. Hasyim Asy’aridi pilih sebagai Rais Akbar NU. Inilah seklumit sejarah berdirinya NU, NU lahir untuk menangkal faham radikal dan wahabisme.

NU dan Radikalisme, ini poin penting kenapa N ada di Negrei Ini

Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan pembaharuan dan Perubahan Sosial secara drastis dan ekstrim. Radikalisme dalam Islam sesungguhnya sudah muncul sejak masa kekhalifaan Ali Bin Abi thalib yang berimplikasi munculnya Firqah-firqoh dalam Islam.

Di Indonesia Radikalisme semakin marak pada Era Reformasi yang ditandai munculnya berbagai kelompok dengan mengatasanamakan Agama melakukan tindakan terorisme dan Kekerasan.
Jika melihat perkembangan Islam di Indonesia saat ini, maka dapat dilihat dari berbagai Tipologi :

1. Tipologi Substantifistik, yakni tipe yang memperjuangkan Nilai-nilai, bukan simbol, karena harus dibedakan antara Ajaran Agama dan Simbol, tidak semua yang datang dari Arab adalah Ajaran Islam. Oleh karena itu sempat muncul istilah-istilah yang sangat Populer dalam NU “Pribumisasi Islam”, NU mewakili tipe Substantifistik karena memang dalam NU dikenal Paham Tawasut, Tasamuh dan Amar Ma,ruf Nahi Munkar Oleh karena itu NU pernah menjadi Organisasi Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai satu-satunya azaz dalam kehidupan berbangsa tahun 1985.

2. Tipologi Formalistik, merupakan tipologi yang memperjuangkan simbol-simbol Agama. Tipologi ini ada yang ekstrim dan tidak Ekstrim. Yang ekstrim inilah yang sering disebut dengan Radikalisme dengan konsep perjuanganya adalah : negara Islam, Pemerintahan Islam, Hukum Islam, sedangkan yang bukan Islam adalah Musuh yang harus diberantas.

Dalam tataran Global NU harus mengembangkan sayapnya di dunia internasional

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita tengah berada di zaman Tekhnologi, batas satu wilayah ke wilayah lainya terasa dekat dan singkat. Oleh karena itu meskipun organisasi keagamaan NU harus mampu merespon perkembangan tersebut, karena perkembangan dan perubahan Sosial sangat berpengaruh terhadap kehidupan beragama. Adapun yg harus dilakukan oleh NU saat ini adalah :

Dari Aspek Agama, NU harus mengembangkan prinsip Multikulturalisme dalam rangka mengantisipasi berkembangnya Radikalisme di Indonesia, disisi lain Tradisi keagamaan NU yang telah mapan seperti “tahlilan, Pengajian, selapanan “harus terus dipertahankan sebagai kekayaan Khazanah NU, Karakter NU dan alat perekat Warga NU.
Dalam Konteks Hubungan Negara, bagi NU NKRI adalah sesuatu yang sudah final, meskipun NU adalah Organisasi keislaman terbesar di Indonesia, NU tidak boleh mentolelir adanya upaya pendirian negara Islam termasuk upaya menghidupkan kembali.

Syariat Islam, dan menjadi bagian terdepan untuk menjaga keutuhan berbangsa, karena bagi NU Indonesia bukanlah negara Agama tetapi Warganya Wajib beragama.
Dalam Konteks Pemberdayaan Ekonomi, NU sesungguhnya didirikan oleh para Kyai yang selain sebagai tokoh Agama juga merupakan para pedagang yang menguasai Siklus Ekonomi masyarakat seperti KH. Wahab Chasbullah, oleh karena itu di era kekinian NU harus juga memperhatikan aspek Pemberdayaan ekonomi umat agar Warga Nahdiyin bisa lepas dari keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan.

Pada awalnya berdirinya NU diidentikan sebagai kaum Tradisional, namun saat ini sudah tidak tepat lagi karena sudah banyak warga NU dan generasi Muda NU yang mampu menyelesaikanPendidikan S2 bahkan S3 di dalam maupun diluar negeri, ini yang harus terus dikembangkan, termasuk menghidupkan kembali kembali Lembaga Pendidikan NU tanpa mengabaikanPondok Pesantren sebagai Jiwa NU, saat ini juga sudah banyak berdiri PCINU di berbagai negara ini sebagai wujud cita cita NU mengenalkan Islam rahmat lil alamiin bukan islam yang penuh amarah.

Penutup:

Sejarah panjang NU tidak dapat dilepaskan dari komitmen Keumatan dan kebangsaan, oleh karena itu perjuangan NU hari ini adalah perjuangan bagi Kemaslahatan umat dalam bingkai negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sekaligus untuk membendung ajaran Baru wahabisme dan Syi’ah Rafidhoh masuk ke Indonesia. Karena NKRI negri Ahlu sunnah wal jamaah bukan negri Wahabi atau Syia,ah rafidhoh.

(Oleh : Drs. H. Mahbub Daryanto, M.Pd.I / Jambi.kemenag.go.id)



Source: www.islam-institute.com

0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Kenapa Kiyai Hasyim Asy’ari Tidak Mendirikan Nahdlatul Wahabi ?"

Post a Comment

close