Perlu Dinamisasi Pembelajaran Tilawatil Qur'an



Wartaislami ~ Seorang qori muda berbakat asal Jepara pernah bertanya kepada saya bagaimana agar bisa melantunkan Al-Qur'an dengan penuh penjiwaan alias memiliki dzauq, yaitu pembacaan yang melibatkan perasaan, penghayatan dan emosi?

Sebenarnya tak hanya dalam pelantuan wahyu Ilahi saja yang memerlukan kemampuan hidupnya rasa emosi dan hati, tapi juga deklamasi puisi, peran drama dan sebangsanya. Pasalnya keberlangsungan akivitas seperti itu tanpa dibarengi dengan hadirnya dzauq, meski sudah bermodal suara merdu dan persiapan lagu bagus, tetap sulit tampil sempurna.

Menurut saya, pertanyaan itu bisa dianalogikan pada bagaimana agar bisa shalat khusuk dan khidmat. Yaitu selain perlu mengerti makna dari ayat-ayat yang dibaca; tilawah merupakan bagian dari ibadah yang sudah semestinya menghadirkan rasa khusuk. Bukankah teks-teks Al-Qur'an sangat sakral lantaran ia adalah kalamullah? Dari sudut pandangan ini saja sudah bisa diketahui bahwasanya membaca Al-Qur'an dengan sendirinya menuntut datangnya dzauq, berbeda sekali ketimbang karaoke dan sejenisnya yang kegiatan bersifat profan.

Saya pun sangat memaklumi esensi pertanyaan kawan di atas yang sebenarnya telah menjadi problem klasik siapa saja. Karena memang selama ini pembelajaran tilawatil Qur'an di mana-mana; baik di pesantren, sekolah umum hingga perguruan tinggi, sistem dan metodenya masih monoton, stagnan, tidak dinamis, bahkan obyek yang dipelajarinya sangat sempit, yaitu melulu yang diajarkan sebatas penguasaan lagu-lagu an sich. Pengajaran tilawah macam ini merupakan pengajaran yang masih parsial (sepotong-potong), tidak komprehnsif atau menyeluruh. Sebagai akibatnya pembelajaran Tilwatatil Qur'an menjadi begitu kering. Kurang menggigit.

Seyogianya para guru dan ustadz pengajar Tilawatil Qur'an di samping mengajarkan praktek atas lagu-lagu normatif Tilawatil Qur'an yang jumlahnya tujuh, juga mendesak untuk disertai pemberian materi sejarah dan filosofi di balik lagu-lagu tersebut. Selanjutnya para qori perlu dipahamkan pentingnya menyusun format komposisi lagu yang koheren dan klop dengan ayat-ayat yang dibacanya. Maksudnya komposisi lagu tilawah tidak dicukupkan hanya memenuhi rumus-rumusnya lagu belaka, tapi kesesuaian pilihan lagu dengan konteks makna ayat-ayatnya juga tak kalah pentingnya. Misalnya lagu nahawand cocoknya disematkan pada ayat-ayat tentang taubat atau ancaman dosa (tandzir). Lagu hijaz pasnya dimasukkan pada ayat-ayat yang berisi kabar gembira (tabsyir); demikian seterusnya.

Jujur untuk merealisasikan model pembelajaran seperti itu tidak gampang. Soalnya ilmu Tilawatil Qur'an belum memiliki metodologi (manhaj) yang memungkinkan untuk bisa mengembangkannya. Padahal tiap cabang ilmu dapat berkembang dinamis sebab punya metodologinya. Ilmu fiqih punya usulul fiqh dan qowaidul fiqh sehingga fikih bisa fleksibel sesuai konteks zaman wal makan. Ketiadaan metodologi itu pula barangkali alasan mengapa kreativitas dalam dunia tilawah menjadi lambat. Setidaknya jika dikomparasikan dalam ranah sastra arab misalnya yang terlihat lebih dinamis. Kita tahu perkembangan penyusunan syi'ir Arab saat ini tidak terpaku lagi pada uslub atau gaya syi'ir Jahiliah Umru'il Qois, sang maestro puisi yang sangat masyhur itu. Melainkan sudah sekian lama merambah gaya syi'ir moderen walaupun style tradisional tidak ditinggalkan.

Kalaupun ada qori yang mampu membuat inovasi dan terobosan dalam memperkaya variasi lagu seperti qori internasional Mu'min Ainul Mubarok, itu lebih didapat oleh faktor otodidak dan kerja keras individual dalam mengasah kemungkinan kreativitas lahirnya variasi baru yang sebelumnya belum ada. Jadi tidak diperoleh dari bagusnya pembelajaran.

Akhirnya bagaimana pun dalam belajar Tilawatil Qur'an jangan sampai  qori terpedaya pada tujuan semu yaitu mengejar popularitas dan juara MTQ sebagai prioritas utama (nihayah). Yang mafhumnya jika tidak ada MTQ atau undangan tampil, lantas berhenti belajar Al-Qur'an. Namun komitmennya lebih karena menjalani proses pendalaman kitab suci yang merupakan tugas tiap muslim. Memang tidak salah dan wajar, tiap orang butuh berekspresi sesuai minatnya masing-masing. Setidaknya dalam perspektif psikologi teori motivasinya Abraham Maslow meyatakan tiap-tiap individu butuh untuk beraktualisasi diri. Bagi qori salah satu bentuk aktualisasinya ialah unjuk kebolehan dalam bertilawatil Qur'an.

Alhasil sebenarnya tugas membangun metodologi dalam ilmu tilawah ini utamanya adalah menjadi tugas mereka yang telah mendapat sebutan qori nasional dan internasional dan tentunya para ulama dalam bidang ini.



M. Haromain, aktivis Forum Intlektual, santri NU Temanggung dan alumnus Universitas Sains Al-Qurán (Unsiq) Wonosobo

Sumber: nu.or.id

0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Perlu Dinamisasi Pembelajaran Tilawatil Qur'an"

Post a Comment

close