Tuduhan bahwa Barat Membenci Islam adalah Kebohongan Keji


Wartaislami.com ~ Selama ini kita mungkin sering mendengar khotbah bahwa Barat adalah musuh Islam.

Kita mungkin sering mendengar ceramah atau membaca tulisan yang menyatakan Barat bercita-cita menghancurkan Islam dengan segenap daya upaya.

Saya katakan di sini, itu omong kosong.

Kalau Barat memang sejahat itu dengan mudah mereka akan menghancurkan negara-negara Islam atau negara-negara dengan penduduk Islam yang besar dengan menggunakan kekuatan militer mereka. Kalau terjadi perang militer Barat versus Islam, ya Islam akan hancur lebur.

Karena itu, marilah kita tidak begitu saja mempercayai kebohongan semacam itu.

Yang benar, Barat tidak satu. Tentu saja ada bagian dari Barat yang membenci Islam. Donald Trump adalah salah satu contohnya. Namun ada banyak bagian dari Barat yang tidak membenci Islam.

Saya baru saja membaca berita dari Koran Tempo (19 Januari 2016) tentang perdebatan di Parlemen Inggris mengenai perlu tidaknya Inggris mencekal Donald Trump masuk ke Inggris.

Perdebatan ini terjadi karena adanya petisi yang ditandatangani 571 ribu warga yang meminta Pemerintah Inggris mencekal salah seorang calon presiden dari Partai Republik Amerika Serikat ini. Kata akhir belum tercapai. PM Inggris sendiri, David Cameron, menolak permintaan itu dengan alasan bahwa itu justru akan meningkatkan popularitas Trump untuk Pemilu AS.

Namun yang penting buat kita, petisi ini dibuat karena Trump dianggap menghina Islam dengan pernyataan di masa kampanye bahwa bila dia jadi Presiden AS, dia akan menolak imigran Muslim. Menurut para pendukung petisi itu, pernyataan Trump itu merupakan ujaran kebencian yang mendiskriminasi umat Islam.

Yang marah pada Trump bukan saja orang Inggris. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga sudah menyatakan pemerintahnya akan mencekal Trump. Alasannya sama: Trump dianggap menghina Islam.

Baik Inggris dan Kanada adalah bagian dari Barat. Mereka bukan bagian dari dunia Islam. Mereka tidak ada urusannya dengan Trump. Dan, toh, mereka marah pada sikap Trump yang membenci Islam.

Dalam hal arus pengungsi akibat perang di Timur Tengah –terutama Suriah– sikap Barat terhadap Islam juga menunjukkan kecenderungan serupa. Negara-negara Eropa –dengan Jerman sebagai negara yang paling baik hati– menampung lebih dari satu juta pengungsi dari daerah konflik tersebut. Eropa tidak membedakan antara pengungsi Muslim dan non-Muslim. Lebih dari itu, pengungsi itu bukan saja ditampung namun juga diberi jaminan kesejahteraan.

Padahal, banyak dari rakyat Eropa yang sebenarnya marah pada kebaikan hati pemerintah mereka. Kelompok-kelompok anti-imigran di Jerman, misalnya, membakar bangunan yang sudah disediakan pemerintah sebagai tempat penampungan awal. Bahkan Kanselir Angela Merkel disambut dengan demonstrasi dari kelompok ekstrem kanan ketika mengunjungi fasilitas penampungan pengungsi.

Kekuatiran rakyat Eropa itu sebagian didasarkan pada anggapan bahwa bukan hanya kehadiran para imigran akan membebani ekonomi mereka, tapi juga karena ketakutan akan radikalisme agama yang mungkin dibawa oleh orang-orang Islam tersebut. Apalagi kaum imigran dari Timur Tengah selama ini dikenal sebagai kalangan yang sulit sekali beradaptasi dengan kultur Eropa yang –ironisnya– kerap dituduh sebagai kebudayaan kaum kafir.

Namun terlepas dari kekhawatiran tersebut, pemerintah-pemerintah Eropa tetap menerima para pengungsi dengan alasan bahwa tindakan itu adalah kewajiban moral. Eropa percaya bahwa para pengungsi adalah manusia yang harus dilindungi hak asasinya untuk hidup damai dan terpenuhi kebutuhan pokoknya. Agama pengungsi sama sekali tidak relevan.

Jadi, kita bisa melihat bahwa ungkapan Barat membenci Islam adalah kebohongan yang sangat nyata. Ada Barat baik, ada Barat jahat. Ini sama saja dengan fakta bahwa ada orang Islam baik, dan ada orang Islam jahat.

Umat Islam baik harus berhadapan dengan orang Islam jahat; sebagaimana orang Barat baik berhadapan dengan orang Barat jahat.

Pada akhirnya, dunia akan menjadi baik bila semua orang baik bersatu melawan orang jahat. Identitas agama sama sekali tidak relevan.[]

Oleh: Ade Armando (Pemimpin Redaksi Madina Online  dan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia)




Source: www.madinaonline.com
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Tuduhan bahwa Barat Membenci Islam adalah Kebohongan Keji"

Post a Comment

close