Karyanya Direstui Imam Al-Ghazali

Karyanya Direstui Imam Al-Ghazali


Wartaislami.com ~ Semua kitab karya KH Sholeh Darat berisi ajaran tasawuf. Meski membahas fiqih, isinya pun banyak ajaran tasawuf. Kitab kecil bab shalat dan wudhu, Lathaifut Thaharah waAsrarus Shalat, juga berisi ajaran tentang tasawuf. Juga kitab Majmu’ Syariat  maupun Pasolatan, ada tasawuf di dalamnya.

Terlebih dalam kitab yang memang membahas tentang tasawuf, seperti Munjiyat, Minhajul Atqiya fi Syarhi Ma’rifatil Adzkiya’, Tarjamah Al-Hikam, dan Syarah al-Burdah, penuh ajaran tentang pembersihan hati dan penghambaan sejati kepada Allah ta’âlâ.

Karena keahlian Mbah Sholeh Darat sebagai ahli tasawuf (selain keahlian di banyak bidang lain), beliau dijuluki Imam Al-Ghazali-nya Jawa. Sebab semua kitab karyanya selalu mengutip ajaran tasawufnya Imam Al-Ghazali. Dan memang beliau sendiri menyebut bahwa karya-karyanya itu memetik dari kitab tasawuf Al-Ghazali.

Kebiasaan  beliau usai mulang (mengajar) ngaji adalah menulis. Mengarang kitab. Mbah Sholeh di dalam kamar, duduk di lantai menghadapi meja. Dengan penerangan lampu teplok, lembar demi lembar kertas beliau goresi dengan pena tutul dengan tinta Bak buatan China. Menuliskan gagasan atau ulasannya di atas kertas itu.

Tinta yang diwadahi sebuah cupu kecil berbahan tembaga itu terbuat dari larutan batang Bak dengan air yang dicampuri minyak wangi. Menurut banyak narasumber, minyak yang dipakai adalah Misik. Terbukti di kitab tulisan tangan asli Mbah Sholeh Darat yang sampai kini masih terjaga dan disimpan oleh cicitnya, bau wangi Misik masih terasa jika dibuka lembaran-lembarannya.

Diriwayatkan, saat sedang tekun menulis kitab, suatu malam ada seorang tamu berbusana model Arab. Berjubah dan bersurban. Oleh para santri, tamu itu disalami lantas disuguhi minum wedang. Kemudian diantarkan bertemu Mbah Sholeh di ruang pribadi beliau. Kata perawi cerita ini, saat itu beliau sedang menulis kitab Munjiyat: Methik Saking Ihya Ulumiddin.

SI santri pun kembali ke ruang depan lalu menghabiskan minuman sang tamu yang masih tersisa. Lalu mereka kembali ke langgar untuk nderes pengajian pelajarannya.

Mereka mendengar sayup-sayup pembicaraan kiainya dengan sang tamu yang berbincang dalam bahasa Arab. Suara keduanya terdengar, tapi isi pembicaraan kurang jelas karena jarak dan dipisahkan dinding kayu di dalam ruangan.

Saat malam telah larut, sang tamu pamit pulang. Mbah Sholeh nguntapke (mengantarkan) sampai serambi rumahnya. Usai melambai di halaman langgar, si tamu itu melangkah ke arah jalan besar. Lantas menghilang di kegelapan malam.

Para santri yang penasaran lantas bertanya kepada gurunya.

“Itu tadi siapa, kiai? Rasanya belum pernah datang ke sini,” tanya seorang santri senior yang tadi menyuguhi wedang.

“Itu tadi Imam Al-Ghazali. Beliau merestui kitab yang kutulis,” jawab Mbah Sholeh kalem.

“Lhoh. Subhanallah. Masya Allah. Bukankah Imam Al-Ghazali sudah wafat ratusan tahun lalu?” ujar mereka takjub sambil bertanya-tanya.

“Ya itulah karomah beliau. Mari kita berdoa tawassul kepada Imam Al-Ghazali agar ilmu kita diberkahi,” pungkas Mbah Sholeh seraya menyuruh santrinya kembali ke langgar. (Ichwan)


Saya bertemu dengan beberapa kiai atau ustadz, umumnya yang sudah membaca atau mengajarkan kitab Munjiyat: Methik Saking Ihya Ulumiddin, disertai doa tawassul kepada Mbah Sholeh Darat dan Imam Al-Ghazali, mereka menjadi mudah dalam menjalani laku tasawuf. Atau minimal mendapat semangat belajar tasawuf.




Sumber :nu.or.id


Putri Pengasuh Pesantren Annuqayah Meninggal, Siapkan Kafannya Sendiri

Putri Pengasuh Pesantren Annuqayah Meninggal, Siapkan Kafannya Sendiri


Wartaislami.com ~ Keluarga besar Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur berduka. Salah seorang putri pengasuh Annuqayah, Nyai Khotibatul Ummah binti KH A Warits Ilyas, wafat akibat pendarahan setelah melahirkan putri pertamanya, Sabtu (6/2). Usai meninggal dunia, di kamar almarhumah ditemukan sebundel kain kafan lengkap dengan keterangan yang ia tulis-tangan sendiri; bahwa kain kafan itu telah dicuci dengan air Zamzam berikut kutipan ayat-ayat Al-Qur’an tentang kematian yang pasti akan datang.

Salah seorang kiai muda Annuqayah, M Mushthafa menjelaskan, kepergiannya sungguh mengejutkan. Berita wafatnya Neng Oot, panggilan akrab Khathibatul Ummah, hingga saat ini masih terasa sulit dipercaya. Tapi begitulah ajal: ia bisa datang kapan saja, dengan atau tanpa alasan yang jelas.
Untuk Pesantren Annuqayah, terang Kiai Mushthafa, kepergian Neng Oot adalah satu kehilangan besar. Dalam sekitar 10 tahun terakhir, Neng Oot punya peran penting dalam pengembangan kesehatan swadaya di Annuqayah dengan berkiprah di unit pengembangan obat-obatan herbal. Unit tersebut merupakan salah satu bidang garapan Biro Pengabdian Masyarakat Pesantren Annuqayah yang dipimpin Kiai Muhammad Zamiel El-Muttaqien.

MS",sans-serif;">"Beliau juga yang menghidupkan Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) Annuqayah Putri yang memberi layanan kesehatan dan penyuluhan bagi para santri putri," ungkap Kiai Mushthafa.
Selain itu, tambah Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) ini, beberapa tahun terakhir Neng Oot juga aktif mengupayakan agar kantin-kantin di lingkungan Annuqayah bisa terjamin kesehatannya. Proyeknya dimulai di kantin MA 1 Annuqayah Putri.

"Sekitar sepekan yang lalu, beliau kabarnya masih rapat dengan Yayasan Annuqayah untuk pengelolaan kantin sehat di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Sejauh yang saya tahu, saya menyaksikan komitmennya pada pengabdian dan juga pada kebersahajaannya bergaul dengan santri, famili, dan masyarakat umum. Semoga Allah memberinya tempat terbaik di surga," kata Kiai Mushthafa.

Sementara itu, keponakan Neng Oot, Muhammad Al-Faiz mengingatkan muara hidup Neng Oot pada kisah sultan Dinasti Ayyubiah yang sangat fenomenal, Salahuddin al-Ayyubi. Dalam satu versi sejarah dikisahkan bahwa Salahuddin al-Ayyubi, selalu membawa peti-peti terkunci ke tengah medan perang.

Peti-peti itu dijaganya betul-betul, hingga orang-orang terdekatnya mengira bahwa di dalamnya terdapat harta dan permata berharga. Namun, setelah Salahuddin mengembuskan napas terakhirmya, peti-peti itu dibuka, dan ketika itulah orang-orang sadar bahwa dugaan mereka selama ini salah. Bukan harta dan permata yang mereka lihat, melainkan sepucuk wasiat, kain kafan dan setumpuk tanah.
Dalam surat wasiat itu tertulis: "Aku mau dikafani dengan kain kafan ini, yang telah harum oleh air Zam-zam dan juga telah mengunjungi Kakbah serta pusara Rasulullah. Sedangkan tanah ini, berasal dari bekas perang. Buatlah batu bata darinya dan jadikan bantalku di dalam kuburanku."

Konon, sesuai wasiatnya, dari tanah itu dibuatlah 12 batu besar yang kini bersemayam di bawah kepala Salahuddin di dalam kuburannya, dan dengan itulah ia akan menemui Allah di hari kemudian.
"Demikianlah, kesadaran seseorang untuk mempersiapkan kematiannya, baik persiapan lahir maupun batin, tidak lain merupakan rahmat Tuhan yang amat besar. Sangat boleh jadi rahmat tersebut adalah rangkaian awal dari rahmat selanjutnya dalam dimensi yang lebih kekal. Kafa bil mauti wa'idhan. Cukuplah kematian memberi kita pelajaran, meniscayakan sebuah pertanyaan, ‘Apa yang sudah saya persiapkan?’” tukasnya. (nuo/ns/bangsaonline)


Tak Akui Pancasila, Warga Gebangkulon Tolak Khilafatul Muslimin

Tak Akui Pancasila, Warga Gebangkulon Tolak Khilafatul Muslimin


Wartaislami.com ~ Puluhan warga Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat mendatangi mushalla Al-Abbas yang berada di desa tersebut. Mereka menolak aktivitas jemaah Khilafatul Muslimin dan meminta mereka pergi dari mushalla itu.

Abdul Bari, salah satu warga, mengatakan para jamaah tersebut bukan berasal dari desanya, melainkan warga luar. Menurutnya, paham yang diterapkan oleh Jamaah Khilafatul Muslimin bertolak belakang dengan ideologi yang diakui warga setempat. "Salah satunya, mereka menginginkan pendirian khilafah dan menolak Pancasila," ujar Bari.

Untuk meluruskan permasalahan tersebut, saat ini sedang digelar pertemuan yang menghadirkan masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh ulama, dan instansi lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Gebang Kulon M. Toyib, berharap tidak lagi ada gejolak di masyarakat.
"Saya berharap pertemuan ini bisa menghasilkan keputusan akhir," ujar Toyib. Hingga berita ini diturunkan, pertemuan masih berlangsung.

Menanggapi tuduhan itu, pimpinan Khilafatul Muslimin, H. Salam, mengatakan aktivitasnya tak lebih dari syiar agama. "Kalau memang kami tak diterima di sini, kami akan pergi. Mungkin masyarakat di sini belum memahami tujuan kami," kata dia.

Siapakah Kelompok Sekte Khilafatul Muslimin?


Khilafatul Muslimin merupakan salah satu sekte asal Indonesia yang mengklaim diri sebagai khilafah penerus khilafah minhajin nubuwwah. Kelompok sekte ini didirikan pada 1997, tepatnya pada 18 Juli 1997 dengan mengangkat Abdul Qadir Hasan Baraja sebagai khalifah atau amirul mukminin mereka.

Jantung kekhalifahan kelompok Khilafatul Muslimin dipusatkan di kota pesisir pantai, Teluk Betung, Bandar Lampung. Guna menundukung pemerintahan kekhalifahan, mereka mendirikan Masjid Kekhalifahan Islam  yang beralamat di Jl. WR. Supratman Bumi Waras, Teluk Betung, Bandar Lampung, Indonesia.

Pada 13 Maret 2014, sang Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja bersama seseorang bernama Zulkifli Rahman yang disebut sebagai Amir Daulah Khilafatul Muslimin di Sumbawa melakukan peresmian lokasi pembangungan Universitas Kekhalifahan Islam. Universitas di Sumbawa inii yang katanya akan dijadikan pusat kegiatan pendidikan Khilafatul Muslimin dari seluruh dunia.

Dalam website resmi Khilafatul Muslimin yang beralamat di http://www.khilafatulmuslimin.com, kelompok ini mengajak umat Islam untuk berbaiat kepada pimpinan mereka, Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja. Mereka mengklaim beberapa orang telah menyatakan berbait kepada Khilafatul Muslimin sebagaimana dilansir dalam website mereka. Diantara orang yang dinyatakan telah berbaiat adalah Mantan Imam Laskar FPI Sumatera Utara, Pegawai Gubernur Sumatera Utara, PM OKP Pemuda Pancasila Sumatera Utara, dan lain sebagainya.

Dalam Maklumat Khilafatul Muslimin disebutkan siapapun yang tidak ikut berbaiat kepada Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja maka matinya termasuk sebagai orang yang mati dalam keadaan mati jahiliah.

"Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, sebaiknya orang-orang HTI segera mengambil bai'at terhadap Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja dari Khilafatul Muslimin. Demikian juga kelompok-kelompok lainnya yang memiliki tujuan sama dengan HTI. Agar nantinya mereka tidak termasuk orang yang mati dalam keadaan mati jahiliyah karena tidak mengambil bai'at pada Khalifah", tulis Maklumat Khilafatul Muslimin, 18 Juli 1997.

Tidak hanya itu, Khilafatul Muslimin juga beranggapan bahwa ormas Islam yang ada di Indonesia termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah aliran yang salah, bahkan termasuk HTI yang sama-sama punya jargon Khilafah.



Pada 14 Agustus 2014, Kapolres Kutai Kartanegara (Kukar) AKBP Abdul Karim berhasil mengungkap jaringan kelompok Khilafatul Muslimin di daerahnya. Dalam jumpa pers, Abdul Karim menyatakan ada 5 orang yang sudah berbaiat kepada Khilafatul Muslimin. Proses pembaiatan dilakukan di Masjid Al-Huda yang terletak di Jalan Silabel, KM 7, RT 12, Kelurahan Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kukar.

Lebih lanjut, Abdul Karim, mengungkapkan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap para pengikut Khilafatul Muslimin disebutkan para pengikutnya ini wajib menyumbangkan 10 persen dari penghasilannya untuk kelompok Khilafatul Muslimin.

Mungkin yang kita tahu di Indonesia, yang paling getol teriak-teriak khalifah di jalanan adalah kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ternyata jauh sebelum HTI berjualan khalifah, Khilafatul Muslimin di Bandar Lampung sudah lebih dahulu mendeklarasikah khilafah. Bahkan sebelum ISIS menyatakan diri sebagai khalifah, kelompok asli Indonesia ini telah punya khalifah.

Kalau sudah begini, khalifah mana yang mau diikuti? Khalifah vesi Khilafatul Muslimin, khalifah versi ISIS, atau khalifah versi HTI yang masih dalam dunia mimpi? Atau mungkin anda berminat mendirikan khalifah sendiri?


    Sumber: Metrotvnews Jabar/ MMN. via muslimedianews.com

Kiai NU Sudah Saatnya Dakwah di Dunia Maya

Kiai NU Sudah Saatnya Dakwah di Dunia Maya


Wartaislami.com ~ Di era digital seperti sekarang, kiai NU semestinya tidak hanya berdakwah di dunia nyata tapi harus mulai berdakwah di dunia maya. Karena daya jangkau yang lebih luas, praktis dan privasi yang kuat membuat dakwah di dunia maya ini menjadi sangat penting.

Demikian salah satu poin yang disampaikan oleh KH Maman Imanulhaq saat mengisi materi dalam kegiatan Pendidikan Kader NU di Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Ahad (28/2).

“Memperkuat  dakwah di hadapan jamaah majelis taklim, pesantren, dan publik secara langsung harus tetap dijalankan,” kata Kang Maman yang saat ini dipercaya sebagai Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini.

Keadaan zaman ini juga mengharapkan para kiai untuk menyapa dan menyentuh pengguna media sosial yang didominasi oleh anak-anak muda, kaum kosmopolitan, dan kelompok sekuler yang haus akan nilai spiritualitas yang rasional, toleran, dan damai.

“Kita harus mengakui bahwa kiai-kiai NU masih belum banyak mengisi ruang dakwah cyber,” tambahnya.

Untuk itu, kita mengharapkan para kiai untuk memanfaatkan jaringan internet, terutama media sosial agar ajaran-ajaran Islam yang moderat, toleran, damai dan rahmatan lil alamin dapat menyentuh jamaah yang ada di dunia maya.

“Adanya propaganda intoleransi, radikalisasi, terorisme, pornografi dan amoral di dunia maya itu karena kurang berperannya kelompok moderat di sana,” kata Pengasuh Pesantren Al-Mizan ini.

Menurut Kang Maman, sebuah postingan di media sosial dapat memberikan pengaruh terhadap sebuah kebijakan publik atau bisa juga dijadikan sebagai rujukan media massa.

“Saya pernah ngetwit kemudian banyak yang baca karena followers saya banyak, kemudian twit tersebut dijadikan sebagai rujukan kebijakan,” tambahnya.

Para kiai juga diharapkan menggandeng anak muda untuk mendokumentasikan pengajian kitab kuning di pesantren, ceramah di majelis dan tablig akbar para kiai NU yang berisi ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah, prinsip  ke-NU-an, dan nilai kebangsaan.

Tiga hal yang menjadi ciri khas kiai NU ini kemudian diunggah di medsos dan Youtube agar bisa diakses publik yang lebih luas di seluruh dunia.

Source: www.nu.or.id
Betapa Tawadhu'nya Romo yai Idris Marzuki Lirboyo dan Habib Munzir Al Musawa

Betapa Tawadhu'nya Romo yai Idris Marzuki Lirboyo dan Habib Munzir Al Musawa


Wartaislami.Com ~  Satu hari, Habib Munzir Allohu Yarham bersilaturrohim ke Al-Marhum Romo Yai Idris Marzuqi di kediaman komplek aula Al Muktamar untuk menyampaikan undangan Tabligh Akbar Majelis Rasulullah di Monas.


Dalam kesempatan itu sebenarnya Habib Munzir dalam kondisi kurang sehat dan soal undangan Tabligh Akbar sebetulnya bisa diamanatkan pada utusan atau dikirim via pos. Tapi demi ta’dzim pada Ayahanda Mbah Idris, demikian Habib Munzir biasa memanggil Al-Marhum Romo Yai Idris Marzuqi, maka dari Jakarta beliau memaksakan diri melakukan perjalanan darat sowan ke Lirboyo Kediri yang diteruskan ke Langitan Tuban untuk menyampaikan undangan acara tersebut pada Mbah Idris Lirboyo dan Mbah Faqih Langitan.

Di halaman kediaman, Al-Marhum Romo Yai Idris Marzuqi dengan penuh tawadhu’ dan penghormatan menyambut kedatangan Al-Marhum Al-Habib Munzir Al-Musawa dengan tanpa menggunakan alas kaki. Dalam kacamata adab, melepaskan alas kaki adalah simbol ketawadhuan dan penghormatan. Sebagamana Syaikh Ihsan Dahlan Jampes yang melepaskan sandal ketika mau sowan gurunya beberapa puluh meter sebelum sampai dalem Sang Guru. Seakan demi untuk menghormati kedatangan cucu Rosulillah SAW. Beliau Al-Marhum Romo Yai Idris melepaskan semua kebesaran sebagai Kyainya ribuan santri dan alumni yang telah menjadi para Kyai di Nusantara.

Di sisi lain tampak dalam gambar, Al-Habib Munzir berusaha bertabarruk mencium tangan Romo Yai Idris. Seakan beliau membuang semua kebesaran diri di hadapan ulama yang beliau anggap sebagai Guru. Padahal beliau adalah habib yang sangat alim dan mulia dengan jutaan muhibbin di Indonesia.
Habib dengan penuh ketawadlu’annya diterima di Lirboyo oleh Mbah Idris dan terlihat jelas bahwa perjumpaan itu adalah BERTEMUNYA DUA PRIBADI YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLOH. Sebagai bukti tawadlu’ yang luar biasa, selaku tamu justru dengan ta’dhimnya Habib Munzir menuangkan minuman untuk Mbah Idris. Setelah keperluan sowan dianggap cukup, Habib Munzir mohon pamit ke Mbah Idris untuk melanjutkan perjalanan menuju Langitan Tuban. Dan yang tidak pernah terbayangkan olehku adalah setelah saling sungkem tangan, Habib Munzir berjalan mundur dari hadapan Mbah Idris menuju pintu ndalem karena tidak ingin istidbar dan membelakangi Mbah Idris.

Atas hal itu, Mbah Idris dawuh, “Habib sing alim tur tawadlu’ niku medheni tur nyungkani.” (Habib yang alim nan tawadhu’ itu membuat segan dan sungkan)

Rasanya adem-ayem tur tentrem kalo melihat Habaib yang mengajarkan ta'dzim dan cinta terhadap Ulama dan Ulama yang mengajarkan cinta dan ta'dzim terhadap Habaib. Dan mungkin keakraban antara Habaib dan Ulama inilah yang paling ditakuti oleh sekelompok golongan. Sehingga mereka berusaha memisahkan dan merusaknya.setidaknya sudah ada beberapa kejadian yang mengarah kesana. Terbukti sudah mulai ada oknom-oknum yang tanpa merasa berdosa mengaku cinta Habaib tapi berani mengumpat Ulama. Sebagaimana ada oknum-oknum yg mengaku santri/pengikut Kyai tapi kok berani mengumpat Habaib.

Semoga kita semua termasuk orang-orang mencintai Ulama dan Habaib. Amin. Tidak hanya mencintai dengan rasa, namun semoga kita semua dapat meneladani Ulama dan Habaib. Amin.

Al-fatikhah ila Romo Yai Idiris wa Habib Munzir, Lahumal fatikhah.



Sumber: muslimoderat
Inilah Mantan Pimpinan Teroris, Bersyukur Disadarkan

Inilah Mantan Pimpinan Teroris, Bersyukur Disadarkan


Wartaislami.com ~ Mantan Pimpinan Teroris Asia Tenggara Nasir Abbas dalam orasi singkatnya di hadapan ratusan pengurus dan anggota Kosgoro Sulawesi Selatan mengungkapkan rasa syukurnya setelah disadarkan mengenai aksi brutalnya itu.
“Kesyukuran saya karena rencana besar saya untuk melakukan teror di Asia Tenggara pada tahun 2003 itu gagal setelah Pak Saud Usman menangkap saya,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam dialog kebangsaan di Balai Jenderal Muh Yusuf Makassar, Jumat.
Nasir Abbas mengatakan, dirinya merupakan guru dari Imam Samudra serta guru dari para teroris terkenal lainnya di Asia telah banyak menciptakan banyak kamp latihan bagi para pemuda.
Di hadapan seribuan pengurus dan anggota Kosgoro itu, dia menceritakan bagaimana rasanya saat memimpin kelompok Mujahiddin di beberapa wilayah di Asia Tenggara sebagai otak kelompok teroris.
Diungkapkannya, dirinya adalah Ketua Mantiqi III untuk mengatasi wilayah di Asia Tenggara, seperti, Sabah Malaysia, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan beberapa wilayah lainnya.
“Jadi wilayah-wilayah ini diamanahkan untuk saya untuk dijadikan sebagai tempat atau pintu masuk militer Jamaah Islamiyah. Jadi cara kerjanya itu, memanfaatkan konflik yang terjadi seperti di Poso,” katanya.
Pengakuan Nasir Abbas yang disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Jend (Purn) Ryamizard Ryacudu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, Agung Laksono serta Kepala BNPT Komjen Pol Saud Usman Nasution.
Dia mengaku, sejak remaja usia 18 tahun dirinya sudah dikirim ke Afghanistan mengikuti pelatihan militer selama enam tahun dan bergabung dengan beberapa kelompok radikal lainnya.
Nasir menyebutkan, Santoso adalah murid dari Imam Samudra yang dimana pada tahun 1992 di Afghanistan, dirinya bertemu langsung dengan Imam Samudra, Umar Patek, Dr Azhari, Ali Imron dan beberapa pelaku terorisme asal Indonesia lainnya yang masuk pada angkatan ke 10.
Melalui pengalamannya itu, dia kemudian membangun kamp pelatihan militer di beberapa negara seperti Filipina. Selama tiga tahun, dirinya mempersiapkan para relawan yang akan menjadi mujahidin.
Bukan cuma itu, para mujahidin yang telah melalui proses pelatihan militer dengan keras itu juga dibekali dengan senjata, amunisi, bahan peledak dan peralatan perang yang kemudian disimpan untuk dipasok di beberapa wilayah seperti Poso, Sulawesi Tengah.
Menurut Nasir yang merupakan warga asli Malaysia itu, dirinya ditangkap di wilayah Bantar Gebang, Bekasi, 17 April 2003. Pada saat itu, dirinya ingin memanfaatkan perjanjian Malino dengan menciptakan teror dan meledakkan beberapa tempat.
Namun, upayanya itu gagal saat dirinya diringkus oleh detasemen khusus anti teror dengan dipimpin langsung oleh Saud Usman Nasution yang sekarang menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).
Pria berkacamata ini dikenal sebagai instruktur pelaku Bom Bali I, 2002 di kamp mujahidin, Kamp Saddah di Afghanistan (awal 1990) dan Kamp Hudaibiyah di Mindanao.
Nasir masuk angkatan kelima pelatihan militer di Kamp Saddah. Tak heran jika Nasir merupakan tokoh teroris yang paling dicari di Asia Tenggara pada saat itu.

Source: www.nu.or.id




NU Jangan Mau “Dipinjam” Wahabi atau Syi’ah

NU Jangan Mau “Dipinjam” Wahabi atau Syi’ah


Wartaislami.com ~ Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi mengatakan, di antara karakteristik yang melekat pada sebuah agama adalah munculnya berbagai perbedaan yang melahirkan setidaknya dua kelompok, yaitu tekstual dan yang mengedepankan tokoh.

"Dalam agama Islam kelompok tekstual diwakili oleh Wahabi dan kelompok tokoh diwakili Syi’ah, Sayidina Ali, Hasan, Husain dan seterusnya. Pemikiran kedua kelompok ini enggak bakal ketemu, enggak bakal nyambung sehingga terjadi konflik," ungkapnya pada Pendidikan Kader NU di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Sabtu (27/2)

Ia menambahkan, posisi Ahlussunah wal-Jamaah pada umumnya, dan NU pada khususnya, berada di antara kedua kelompok tersebut sehingga sangat disarankan kepada warga NU untuk tidak terjebak dan terlibat dalam konflik keduanya.

"Posisi NU moderat, strategis. Jangan terprovokasi oleh Wahabi atau Syi’ah. Jangan mau dipinjam Wahabi atau Syiah karena kalau sampai NU ngurusi konflik mereka, mereka akan senang, nanti NU yang akan dikeroyok," tambahnya.

Untuk menyikapi konflik Wahabi -Syiah, sambung dia, bisa menggunakan teori kedokteran, yaitu teori patogin yang menyatakan bahwa di kanan-kiri tubuh kita banyak virus yang menyerang, virus-virus tersebut ada yang baik ada juga yang jahat.

"Apabila daya tahan tubuh kita baik, maka virus yang ada di kanan-kiri yang sebelumnya memusuhi akan menjadi bersahabat. Sebaliknya apabila daya tahan tubuh lemah, maka virus yang tadinya bersahabat akan menjadi musuh," terangnya.

Begitu pun dengan Wahabi-Syiah, sikap NU mestinya adalah memperkuat antibody supaya kuat dan kebal sehingga dengan terlibat dalam konflik keduanya hanya akan menguras energi.

"Jangan mau jadi Jongos Wahabi untuk gebukin Syiah, jangan mau jadi jongos Syiah buat gebukin Wahabi. Itu namanya gebukin gratisan. Kita harus hemat energi," tandasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi) via nu.or.id

Pesan-pesan Sejuk KH Agus Ali Masyhuri Pada Acara Haul Majemuk Pesantren Sukorejo

Pesan-pesan Sejuk KH Agus Ali Masyhuri Pada Acara Haul Majemuk Pesantren Sukorejo


Wartaislami.com ~ Peringatan Haul Majemuk Masyayikh dan Keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Suafiiyah Sukorejo, Jumat (26/02/2016) menjadi moment yang benar-benar menyejukkan. Tidak hanya karena lantunan sholawat, zdikir dan tahlil yang dipanjatkan sepanjang acara, tapi juga karena ceramah dan  pesan-pesan hikmah yang sejuk dan mendamaikan yang disampaikan KH Agus Ali Masyhuri.

Di hadapan para Kiai, Habaib dan ribuan kaum Muslimin yang hadir pada acara tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Tulangan Sidoarjo Jatim itu berpesan untuk tidak takut pada kematian tapi mengajak untuk menghargai kehidupan dengan mengisi waktu dengan kebaikan dan rasa syukur agar memperoleh kebahagiaan.

“Jangan takut kematian, tapi hargai kehidupan. Manfaatkan setiap detik yang kita miliki untuk kebaikan dan syukuri yg kita miliki agar kita bahagia, bukan bahagia yg membuat kita tersenyum tapi senyum yang membuat kita bahagia..” tegas Kyai yang biasa dipanggil Gus Ali dalam ceramahnya.

                 KH Agus Ali Masyhuri saat menyampaikan ceramahnya di hadapan ribuan hadirin

Dalam kesempatan itu Gus Ali juga menyampaikan gagasan untuk meredam radikalisme dan paham yang menyimpang yang lagi marak di tanah air. Menurutnya, radikalisme bisa dibendung dengan belajar yang sungguh-sungguh dan berguru kepada ahlinya yang memiliki sanad keilmuan yang jelas kepada Nabi Muhammad SAW.

Gus Ali menambahkan, orang memiliki paham yang menyimpang karena mereka tidak sungguh-sungguh belajar agama dan tidak belajar kepada guru yang memiliki sanad yang jelas kepada Rasulullah SAW.

“Ngaji sing temen, ndolek guru sing duwe sanad keilmuane nang kanjeng Nabi,” tambah Gus Ali.
Ribuan Alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo mengikuti acara        HaulKajemuk dengan penuh khidmat

Beliau beralasan, berguru kepada ahlinya dan memiliki jalur keilmuan sampai kepada Rasulullah harus dilalukan agar mendapat barokah dan mendapat tetesan keilmuan yang menyejukkan.
“Kita sebenarnya tidak cukup belajar hanya dengan membaca teks-teks buku atau kitab. Kita harus belajar langsung kepada ahlinya agar kita mendapat bimbingan dan menemukan teladan hidup dalam kehidupan”. Pungkas Gus Ali.

Mengenal Abu Aqila Al-Wahabi, Penyebar Fitnah Keji Terhadap Grand Syaikh Al-Azhar

Mengenal Abu Aqila Al-Wahabi, Penyebar Fitnah Keji Terhadap Grand Syaikh Al-Azhar


Wartaislami.com ~ Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Thayyeb ke Indonesia membuat angin segar bagi kalangan umat Islam ahlussunnah wal jama’ah. Pesan perdamaian dan ukhuwah islamiyah yang disebarkan oleh Grand Syaikh Al-Azhar diterima dengan baik oleh muslimin di Nusantara.

Sayangnya, pesan kebaikan yang digaungkan Grand Syaikh Al-Azhar ini masih saja ada yang tidak menyukainya. Sebagian kecil kelompok minoritas seperti Wahabi Salafi dan pengikut Ikhwanul Muslimin (kalangan Tarbiyah) berlomba-lomba untuk melakukan tuduhan keji dan fitnah kepada pemimpin tertinggi institusi Al-Azhar Mesir itu. Fitanh dan tuduhan yang mereka lakukan sebenarnya sudah berlangsung lama hingga sekarang.

Diantar fitnah yang ada, antara lain dengan memutarbalikan fakta ceramah Grand Syaikh Al-Azhar sebagaimana dilakukan oleh media-media propaganda wahabi seperti Arrahmah, Islamedia, dkk, dan ada pula yang mencatut dan memfitnah Pimpinan MUI seperti yang dilakukan oleh Irfan Helmi Wahabi, kader Persis yang menungganggi MUI Pusat.

Kali ini tuduhan dan fitnah yang menimbulkan kehebohan berhembus kembali. Tidak tanggung-tanggung, fitnah dan tuduhan kepada Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Thayyeb sungguh sangat biadab dan di luar batas kemanusian dan nilai-nilai keislaman. Ya, SANGAT BIADAB SEKALI..! Namanya Abu Aqila Al-Wahabi, si tukang fitnah dan pendusta yang tiada berakhlak. Semoga Allah memberikan petunjuk dan mengampuninya.

SIAPAKAH ABU AQILA  AL-WAHABI?

Abu Aqila Al-Wahabi, itulah nama kunyahnya. Dalam akun Facebooknya, Abu Aqila Al-Wahabi menuduh dan memfitnah Grand Syaikh Al-Azhar dengan sebutan “Paus Al-Azhar”. Demi memuluskan fitnhanya, Abu Aqila menampilkan foto palsu yang sungguh membuat hati setiap manusia ini sangat sedih. Tidak mungkin seorang yang muslim sampai melakukan hal yang sangat kotor ini, menyebarkan editan foto seolah-olah Grand Syaikh Al-Azhar berciuman dengan Paus. Na’udzubillah. Jika tidak bertobat, Abu Aqila Al-Wahabi niscaya suul khotimah, mati dihinakan oleh Allah karena menghina ulama besar ahlussunnah wal jamaah yang mempunyai nasab bersambung sampai SAW ini. Doakan saja agar Abu Aqila Al-Wahabi mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Status dan foto biadab Abu Aqila Al-Wahabi ini tersebar luas. Hingga tulisan ini dimuat, status Abu Aqila Al-Wahabi sudah mendapatkan 318 like (suka) dan 561 kali dibagikan. Wow, sungguh fantastis dosa fitnah yang dilakukan Abu Aqila Al-Wahabi. Tidak takutkah Abu Aqila Al-Wahabi dengan pengadilan Allah kelak?

Tulisan biadab Abu Aqila Al-Wahabi jelas bisa dilaporkan kepada penegak hukum karena sudah melanggar aturan Undang-Undang IT dan ia dapat setiap saat dijebloskan ke dalam jeruji penjara. Hukuman pun akan menjadi lebih berat karena kita tahu posisi Grand Syaikh Al-Azhar mempunyai kedudukan yang sama atau selevel dengan Perdana Menteri atau mungkin Wakil Presiden kalau di Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari, Abu Aqila Al-Wahabi dikenal sebagai Jinolog atau Tukang Ruqyah Wahabi. Abu Aqila Al-Wahabi yang mendapat julukan Ustadz ini sering dipanggil dan diundang dalam pelatihan ataupun seminar-seminar Wahabi Salafi terutama terkait masalah Ruqyah Wahabi. Berdasarkan info yang didapatkan dari profil Facebooknya, Abu Aqila yang lahir pada 6 Juli 1971 ini tinggal di kota Bekasi.

Diketahui Abu Aqila Al-Wahabi adalah simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dalam pemilu 2014 lalu, Abu Aqila Al-Wahabi mencoblos PKS.

Yang lebih menghebohkan lagi adalah ternyata Abu Aqila Al-Wahabi merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Padahal pondok tempat dimana Abu Aqila Al-Wahabi mengenyam pendidikan inilah yang sebenarnya mengundang Grand Syaikh Al-Azhar, tapi dia hinakan. Ini berarti sama saja Abu Aqila Al-Wahabi telah berkhianat kepada Pondok Modern Gontor dan para guru-gurunya yang sangat menghormati dan mengagumi Grand Syaikh Al-Azhar. Lebih lanjut, Abu Aqila menuslikan bahwa dirinya pernah mengikuti kuliah di Fakultas Syariah, Universitas Islam Madinah, negeri Wahabi Saudi.

Seperti disebutkan sebelumnya, Abu Aqila Al-Wahabi merupakan seoorang ustadz yang berjualan ruqyah wahabi. Abu Aqila Al-Wahabi menjadi pemilik dan direktur Klinik Syariah Bengkel Rohani. Bahkan tukang ruqyah wahabi ini sudah memiliki beberapa cabang klinik, diantaranya:

Bengkel Rohani – CIKARANG

Jl. Citanduy Raya Blok A No. 24

Ruko Pinangsia, Graha Asri

Cikarang BAru

Telp. 021-33647722, 89144433



Bengkel Rohani – RENGASDENGKLOK

Jl. Singaperbangsa No.1

    01/ RW. 04

(Samping SMK Ristek)

Kutawaluya – Kab. Karawang

Telp. 0267-4747123

Bengkel Rohani – BUARAN

Kompleks Rukan Buaran Persada Blok No.8

Jl. Jend. R. Soekamto

Jakarta Timur

Telp. 021-86612349, 021-8661325

Bengkel Rohani – DEPOK

Jl. Margonda Raya Ruko ITC Depok No. 42

Depok – Jawa Barat

Telp. 021-91214872, 7522815

Bengkel Rohani – CIPUTAT

Jl. Ir. H. Juanda No. 2A Ciputat

Tangerang Selatan – Banten

Telp. 021-7409637, 7440833

Bengkel Rohani – CILEUNGSI

Jl. Raya Rawa Hingkik No.9

Rawa Hingkik – Cileungsi – Bogor

Telp. 021-32234497

Bengkel Rohani – BANDUNG

Jl. Soekarno Hatta Ruko MTC

Blok C-28 Buah Batu

Bandung

Telp. 022-7536243

Bengkel Rohani – KOJA

Jl. Raya Koja Ruko Koja Baru No. 4A

(seberang Jakarta Islamic Center)

Jakarta Utara

Telp. 021-26793123

Bengkel Rohani – TANGERANG

Jl. Empu Panuluh Raya No. 46

Perumnas II

Karawaci – Tangerang – Banten

Telp. 021-5510466

Bengkel Rohani – VILLA NUSA INDAH

Ruko Villa Nusa Indah 2 Blok U-3

No. 6 Bojong Kulur, Gunung Putri

Bogor – telp. 021-49712322

Bengkel Rohani – BEKASI

   1. Raya Inspeksi Kalimalang

Ruko Niaga Kalimas I

Blok D 23-24

Bekasi Timur

Telp. 021-8835 7762, 021-8835 7763

Selain berjualan ruqyah wahabi, Abu Aqila Al-Wahabi juga mempunyai usaha biro haji dan umroh yang mempunyai nama yang sama yakni Bengkel Rohani.

Abu Aqila Al-Wahabi juga pernah menulis buku berjudul Kesaksian Raja Jin. Buku Kesaksian Raja Jin karya Abu Aqila adalah buku sesat. Di dalam buku tersebut, Abu Aqila Al-Wahabi menghina dan melecehkan ulama sekelas Imam Bukhori dan Imam Muslim. Abu Aqila Al-Wahabi berkata, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim SEBELUM MEREKA BERTOBAT”. Na’udzubillah… Abu Aqila Al-Wahabi begitu sombongnya seolah-olah dirinya lebih ‘alim dari Imam Bukhori dan Imam Muslim, sampai-sampai melecehkan keduanya dan merendahkan Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim.

Tidak heran, kalau Imam Bukhori Muslim saja direndahkan apalagi Imam-Imam yang lain. Apalagi kepada muslim yang lain. Apalagi kepada orang di luar muslim yang lain. Semoga kita dilindungi dari aqidah yang dianut Abu Aqila Al-Wahabi.

Bagi yang ingi berkonsultasi dengan ustadz wahabi Abu Aqila silahkan hubungi Nomor Abu Aqila Al-Wahabi: 087786611100 atau 085100234497




ABU AQILA AL-WAHABI PECINTA SELFI

Abu Aqila Al-Wahabi selfi dengan jidat hitam dan jenggotnya.  

 
Abu Aqila Al-Wahabi selfi di depan Ka’bah.   

Abu Aqila Al-Wahabi selfi di depan masjid. 


Abu Aqila Al-Wahabi selfi di dalam pesawat.  





Source: muslimedianews.com
Mantap !! MPR Dukung Gerakan Nasional Ayo ke Masjid

Mantap !! MPR Dukung Gerakan Nasional Ayo ke Masjid


Wartaislami.com ~ Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melakukan grand launching Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid (GNAKM), di Masjid Agung Trans Bandung, Jawa Barat Sabtu (27/2) malam.

Gerakan Nasional Ayo ke Masjid ini digagas Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI). JPRMI sendiri merupakan komunitas pemuda berjaringan.

Organisasi ini tersebar di 30 provinsi se-Indonesia, dengan jumlah pengurus JPRMI se-Indonesia mencapai 54.454 orang. Selain GNAKM, JPRMI juga memiliki program sekolah berbasis Masjid, hingga gerakan nasional solat subuh.

Ahmad  Heryawan mengatakan, Masjid merupakan tempat yang paling mulia di muka bumi. Karena itu Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid merupakan ajakan yang mulia pula.

"Karena itu GNAKM harus menjadi bagian dari upaya memecahkan persoalan bangsa Indonesia," katanya.

Sementara itu, Hidayat Nur Wahid menyatakan, gerakan ini merupakan hal yang positif. Gerakan ini bisa mengajak generasi muda untuk mendekatkan diri ke Masjid, serta menghindarkan kegiatan negatif yang selalu dituduhkan pada generasi muda seperti tawuran, narkoba, hingga LGBT.

Hidayat berharap, GNAKM bisa ditiru generasi muda agama lain, menjadi Gerakan Nasional Ayo Ke Tempat Ibadah. "Gerakan ini hendaklah didukung dan tidak patut dicurigai," ujar dia.

Karena itu, hidayat berharap media bisa mendukung GNAKM, dengan cara mengkomunikasikannya kepada masyarakat.




Sumber :repubika.co.id





Sekarang Zamannya Salah Paham dan Paham Yang Salah

Sekarang Zamannya Salah Paham dan Paham Yang Salah


Wartaislami.com ~ Mustasyar Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, KH Haizul Ma'ali mengungkapkan pandangannya terkait kemerosotan moral remaja dan perkembangan radikalisme saat ini.

Menurutnya, keimanan orang-orang Islam saat ini menurun, kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan agama pun ikut menurun. "Memang hal tersebut telah diterangkan di dalam Al-Qur’an, ‘Hai anak Adam kami telah menurunkan kepadamu busana untuk menutup kemaluanmu (kesusahanmu) dan yang bisa untuk jabatanmu,’" kutipnya, Kamis (25/2/2016).

Dia menambahkan bahwa kemauan pemuda sekarang condong untuk jabatan semata, kurang mempedulikan ketakwaannya. Padahal, bagi Kiai Haizul, pakaian paling bagus adalah ketakwaan, yaitu berupa agama.

"Dan yang menjadi ironis lagi, para orang tua juga mengikuti kehendak mereka," jelas Pengasuh Madrasah Banat Salafiyah Al-Ma'arif Desa Sidorejo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang tersebut.

Lebih lanjut Kiai Haizul Ma'ali mengungkapkan bahwa sekarang banyak yang salah paham dan paham salah. "Yang salah paham itu tidak sengaja, dan yang paham salah itu sengaja. Ini yang perlu kita kritisi dan kita benahi," terangnya saat ditemui kontributor NU Online di rumahnya di Rembang.

"Saat ini Allah telah mencoba kita, sampai berapa orang sepuh menahan kesepuhannya, dan sampai mana remaja bisa meninggalkan kegilaannya. Ada peribahasa pemuda gila, itu peribahasa zaman kuno dan terbukti sekarang," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Mahbib) via nu.or.id



Banyak Respon Positif dari Dunia Internasional, PBNU Diminta Ekspos Gagasan Islam Nusantara

Banyak Respon Positif dari Dunia Internasional, PBNU Diminta Ekspos Gagasan Islam Nusantara


Wartaislami.Com ~  Istilah Islam Nusantara yang digagas oleh PBNU mendapat respon positif dari publik internasional, hal ini ditandai dengan munculnya dukungan dari para tamu luar negeri dan Kedutaan Besar Negara Sahabat.

"Hampir tiap hari kita kedatangan tamu dari dubes-dubes, mereka tertarik dengan Islam Nusantara yang toleran, damai, mereka juga mendorong agar Islam Nusantara ini segera diekspos supaya dunia mengetahuinya," ungkap Sekjen PBNU, H. Helmy Faisal Zaini saat mengisi kegiatan Pendidikan Kader NU di Purwakarta, Jum'at (26/2).

Islam Nusantara, lanjut Helmy, bukanlah hal baru karena sejak Wali Songo berdakwah di bumi nusantara, sejak saat itu pula Islam Nusantara ada, sehingga tidak perlu dicurigai apalagi dipermasalahkan.

Ia pun menegaskan, Islam Nusantara menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan perdamaian sehingga dalam berdakwah tidak perlu menggunakan cara-cara kekerasan karena hal itu akan menjatuhkan keluhuran agama Islam dan menjauhkan umat Islam dari pergaulan internasional.

"Karena ada segelintir orang yang membunuh atau membom atas nama Islam, yang rugi umat Islam di dunia, misalnya umat Islam di Amerika, di Eropa, hanya karena berjilbab jadi dicurigai sebagai teroris," kata mantan Menteri PDT ini.

Dalam mencontohkan dakwah yang damai, ia pun menceritakan sosok Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang telah mengislamkan beberapa non muslim.

"Kemarin Kiai Said sudah mengislamkan lebih dari 20 warga Jepang," tambahnya.
Selain itu, kata dia, Kiai Said sering diundang pengajian oleh para TKI yang ada di Hongkong, Taiwan, dan beberapa negara lain. Dalam kesempatan itu ada seorang majikan yang ikut pertemuan itu.

"Kiai Said menyampaikan, kemudian diterjemahkan bahasa Mandarin. Akhirnya majikan itu tertarik, ternyata Islam itu toleran, Islam itu ramah, Islam itu melindungi, sehingga majikan ini masuk Islam," tandasnya.

Agar Islam Nusantara bisa diketahui dunia internasional, kata dia, pada bulan Mei mendatang PBNU berencana mengundang 30 ulama dari berbagai negara dalam sebuah pertemuan International Summit of The Moderate Islamic Leaders. (Aiz Luthfi/Zunus/NU Online)





Mancing Uang Rp 20 juta ala Habib Hasan Baharun Bangil

Mancing Uang Rp 20 juta ala Habib Hasan Baharun Bangil


Wartaislami.Com - Di pertengahan keheningan malam, Ustadz Segaf Baharun dibangunkan oleh ayahanda beliau Habib Hasan Bin Ahmad Baharun.
 “Segaf, ikut Abi, kita jalan-jalan,”
“Pertengahan malam ini kita jalan-jalan? Ngapain?”
“Kita mancing, ayo ikut aja Abi,”
 “Mancing? Mancing apa tengah malam?”
 “Kita mancing uang!!”
Ustadz Segaf Baharun bangkit dari ranjang menaati perintah, namun mimik wajah heran. Ustadz Segaf Baharun menemani ayahanda. Beliau jalan-jalan di tengah malam gelap menuju Pasar Bangil.

style="font-family: "Trebuchet MS",sans-serif;">Di pasar Bangil nampak jelas sejauh mata memandang di samping setiap beberapa bangunan, ada para fakir miskin tertidur, tukang becak lelap pulas dalam posisi duduk dan pemulung dengan karung-karung bawaannya. Habib Hasan Baharun mengeluarkan lembaran-lembaran uang lima ribuan yang keseluruhannya berjumlah Rp. 200.000. Masing-masing lembaran lima ribuan diselipkan di saku para fakir miskin, tukang becak, pemulung, yang terlelap pulas di setiap sudut pasar itu. Namun ternyata uang yang dibagikan belum habis. Beliau masih mencari mereka yang tidur pulas di Pasar Bangil hingga uang Rp. 200.000 seluruhnya dibagikan.

Tentunya lembaran lima ribuan nilai yang sangat besar ketika itu. Keesokan harinya, Habib Hasan Baharun memberikan kabar gembira kepada Ustad Segaf Baharun. Beliau menceritakan hasil “mancing uang” di Pasar Bangil semalam. Ternyata hari itu uang Rp. 200.000 digantikan Allah dengan rezeki dari berbagai penjuru. Jumlah keseluruhannya tidak kurang dari Rp. 20.000.000 yang keseluruhannya sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan pesantren dan para santri.

Acara “mancing uang” Habib Hasan Baharun tentunya adalah ketulusan beliau untuk peduli pada mereka yang membutuhkan dan keteguhan keyakinan beliau pada Ayat Allah:

 مثل الذين ينفق أموالهم فى سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل فى كل سنبلة مائة حبة, و الله يضاعف لمن يشاء و الله واسع علي




Sumber :muslimoderat.com
Debat Teologi KH Wahab Chasbullah dengan Gubernur Hindia Belanda

Debat Teologi KH Wahab Chasbullah dengan Gubernur Hindia Belanda


Wartaislami.com ~ Dalam suatu kesempatan diplomasi antara Van der Plas (Gubernur Hindia Belanda untuk wilayah Jawa Timur sebelum Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942) dengan KH A Wahab Chasbullah, diceritakan sebelum masuk ke pembicaraan inti, Van der Plas terlebih dahulu hendak menguji kecakapan Kiai Wahab Chasbullah dalam bidang teologi.

Ia mengajukan satu pertanyaan  dan lewat pertanyaan ini ia menduga Kiai Wahab akan terperangkap pada pertanyaan pembuka tersebut.

“Kiai, menurut Kiai lebih enak dan nyaman mana antara bernaung di bawah pohon hidup dengan bernaung di bawah pohon yang mati,” tanya Van der Plas.

Demi mendengar pertanyaan di atas, Kiai Wabab langsung paham, bahwa yang dimaksud dengan “pohon mati” dan “pohon hidup” dalam kalimat pertanyaan tersebut bukanlah arti harfiah atau makna hakiki yang dikehendaki Van der Plas, melainkan arti majazi, ada makna tersirat dalam kalimat tersebut yang sengaja disajikan secara implisit untuk menjebaknya di awal pembicaraan.

Kiai Wahab Chasbullah sebagai Kiai yang sekian lama nyantri di banyak pesantren termasuk berguru ilmu alat kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, pastilah beliau telah matang dalam menguasai ilmu mantiq (logika Aristoteles) dan balaghoh (susastra arab) sehingga tidak sulit bagi Kiai Wahab memahami esensi yang terkandung di balik kalimat pertanyaan tersebut.

Kiai Wahab dengan cepat mampu menafsirkan bahwa “pohon hidup” yang dikehendaki Van der Plas ialah Nabi Isa yang masih hidup sampai kini di langit. Hal ini sebagai representasi agama Kristen agamanaya pemerintah Hindia Belanda, dan “pohon mati” diinterpretasikan dengan Nabi Muhammad yang sudah wafat sebagai representasi agama Islam, agamanya mayoritas orang pribumi Nusantara.

“Saya lebih memilih beteteduh di pohon mati,” jawab Kiai Wahab mantap.

Mendengar jawaban Kiai Wahab, Van der Plas kaget, tak mengira sebelumnya bila Kiai Wahab akan menjawab demikian.

“Bagaimana bisa Kiai memilih berteduh di bawah pohon mati, apa argumentasinya?”

“Sejam saja saya berada di bawah pohon hidup di waktu malam sudah begitu tersiksa, ada gigitan nyamuk, hawa dingin, suasana senyap, semua itu membuat saya tidak tahan. Tapi tiap malam saya berteduh di pohon mati justru begitu nikmat dan nyamannya. Lihat dalam gedung ini, itu reng-reng di atas, balok-balok,  bukankah itu semua pohon mati,” jawab Kiai Wahab begitu taktisnya.

Baca Juga : Sepenggal Kisah tentang Persahabatan Pendiri NU dan Muhammadiyah
 
Fragmen cerita perdebatan di atas beberapa kali penulis dengar dari cerita almagfurlah KH Abdul Aziz Mansyur, Pengasuh Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang dan Pimpinan Badan Pembina dan Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo (BPK P2L) dalam beberapa kesempatan ceramahnya.

Meskipun belum ditemukan dalam literatur tertentu atau buku sejarah, tapi setidaknya fragmen seperti ini dapat kita golongkan sebagai sejarah lisan munurut Kuntowijoyo. Pasti almarhum KH Abdul Aziz Mansur yang wafat pada akhir tahun lalu punya referensi. Setidaknya pernah mendapat tuturan cerita di atas dari orang tua terdahulu yang menjumpai langsung zaman kolonialisme Belanda. (M Haromain) via nu.or.id

Sepenggal Kisah tentang Persahabatan Pendiri NU dan Muhammadiyah

Sepenggal Kisah tentang Persahabatan Pendiri NU dan Muhammadiyah


Wartaislami.com ~ Munculnya bibit-bibit paham radikalisme yang selalu mengatasnamakan gerakan pemurnian Islam di Indonesia, berpotensi mengganggu pilar-pilar persatuan bangsa. Kendari begitu, fenomena tersebut melahirkan hikmah tersendiri bagi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dua ormas Islam terbesar di republik ini mulai berangkulan dalam satu visi menjaga keutuhan NKRI dan bersatu membangun Negeri.

Bila menilik masa lalu, Kebersamaan NU dan Muhammadiyah sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan sebelum dua ormas Islam itu lahir di Indonesia, kedua pendirinya KH. Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan merupakan sahabat karib bahkan seperguruan dalam mempelajari dasar- ilmu Agama.

KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan dulu menimba ilmu bersama di bawah asuhan KH Saleh. Selama dua tahun mereka hidup bersama.

Keduanya adalah tokoh besar bangsa ini. Dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Nusantara. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Hasyim Asy’ari membentuk Nahdlatul Ulama (NU).

Kiai Ahmad Dahlan sangat karib dengan Kiai Hasyim As’ari. Dulu, keduanya pernah menimba ilmu dari guru yang sama, yaitu Kiai Haji Saleh Darat. Di pondok pesantren yang terletak di wilayah Semarang inilah, kedua tokoh ini bertemu.

Ahmad Dahlan kala itu berusia 16 tahun. Sementara Hasyim berusia 14 tahun. Ahmad Dahlan memanggil Haysim dengan sebutan “Adi Hasyim”. Sementara Hasyi memanggil Ahmad Dahlan dengan sebutan “Mas Darwis”, sebab, nama kecil Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis.

Di bawah bimbingan Kiai Saleh, keduanya mencecap ilmu dari kitab-kitab karya ulama besar. Mulai tasawuf, fikih, serta ilmu-ilmu lainnya. Mereka belajar di Semarang selama dua tahun. Selama itu pula keduanya konon tinggal sekamar.

Setelah dari Semarang, Ahmad Dahlan dan Hasyim menuntut ilmu ke Mekah, Arab Saudi. Keduanya mendapat referensi ulama-ulama besar dari sang guru yang dulunya juga belajar di sana.

Setelah pulang dari Saudi, Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari mengamalkan ilmu yang mereka dapat. Kiai Ahmad Dahlan kemudian mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Sementara Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mendirikan NU pada 31 Januari 1926. Kini, kedua organisasi itu menjadi wadar besar bagi umat muslim di Nusantara.

Buya Syafii Berharap Muhammadiyah dan NU Bersatu Bangun Negeri

Kini kedua Ormas Islam terbesar itu menyadari akan pentingnya kebersamaan dalam membangun bangsa agar tercipta kekuatan yang luar biasa. Mantan ketua umum Muhammadiyah Buya Syafi’i Ma’arif  dalam suatu kesempatan pernah menyinggung friksi yang pernah terjadi antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah.

“NU Muhammadiyah, dulu kita berdebat masalah khilafiyah maslah doa qunut, usolli, ziarah dan lain-lain yang itu sangat menghabiskan energi kita,” ujarnya di hadapan ribuan nahdhiyin saat itu.

Dia bersyukur saat ini friksi tersebut sudah tidak terjadi lagi, karenanya dia berharap agar para pemuda baik dari Muhammadiyah maupun NU harus bekerjasama untuk membangun bangsa ini.

“Anak muda Muhammadiyah dan NU harus saling share diskusi, kalau perlu saling buka rahasia,” ujarnya
Menurutnya saat ini yang paling penting bangsa ini harus dijaga, keutuhan persatuan harus dijaga dan sebagai umat mayoritas umat islam punya tanggung jawab yang sangat besar.

Baca Juga : Polisi Stres Bunuh Dua Anaknya: Pak Ustaz Tolong Mandikan Saya, Saya Mau Tobat, Mau Masuk Islam 
 
Dia menambahkan bahwa jumlah yang besar ini harus diimbangun dengan kualitas yang baik, sebab tanpa kualitas yang baik kuantitas tidak ada artinya.

Dia juga berharap Islam Nusantara yang selama ini didengungkan oleh kalangan Nahdliyin tidak hanya terbatas pada slogan saja dan harus diimplikasikan dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya Islam nusantara jangan berhenti jadi semboyan saja, Islam nusantara harus diberikan substansi.

(Dari berbagai sumber) via serambimata.com



Humor : Bulan dan Matahari, Mana yang Lebih Penting?

Humor : Bulan dan Matahari, Mana yang Lebih Penting?



Usai penjelasan fashal sholatul khusufaini (bab sholat gerhana matahari dan bulan), tiba-tiba Kang Burhan melempar tanya kepada santri-santri yang mengikuti kajiannya.

"Jadi, mana yang lebih penting bagi kita, matahari atau bulan?," tanya kang Burhan.

Otong yang ikut dalam kajian, langsung mengacungkan tangan dan menjawab, "Bulan Kang...."

"Kenapa Tong? coba jelaskan argumenmu," pinta kang Burhan.

"Bulan memberi kita cahaya di malam hari ketika kita membutuhkannya, tetapi..." Otong terdiam sehingga membuat santri lain pada penasaran.

"Tetapi apa Tong?," tanya serentak santri-santri lain yang membuat suasana ruangan riuh.


Otong pun melanjutkan penjelasannya, "Tetapi.... matahari memberi kita cahaya hanya pada siang hari disaat kita tidak membutuhkannya."

"Walah Tong Tong...." celetuk Kang Burhan sambil menutup kajiannya.

(Ahmad Rosyidi) via nu.or.id
KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, Pelajar Indonesia Pertama di Al Azhar Mesir

KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, Pelajar Indonesia Pertama di Al Azhar Mesir


Wartaislami.com ~ Lawatan Grand Syaikh Al Azhar Dr. Ahmad Muhammad Ath Thayyib ke Indonesia memiliki kesan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi para pelajar Indonesia yang pernah menimba ilmu di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Mengingat hubungan Indonesia dengan Mesir sudah terjalin sejak abad ke-19 Masehi. Namun tahukah anda, siapa generasi pertama pelajar Indonesia yang  menuntut ilmu di universitas kelahiran 911 Masehi ini?

Dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia – Mesir terbitan KBRI Kairo, disebutkan bahwa pada tahun 1850-an di komplek Masjid Al Azhar telah dijumpai komunitas orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi orang Indonesia). Selain Ruwak Jawi, di masjid ini juga terdapat tiga Ruwak lain, yakni Ruwak Atrak (Turki), Ruwak Syami (Suriah) dan Ruwak Maghorobah (Maroko).

Salah satu pelajar pertama Indonesia yang tinggal di Mesir dan tercatat di buku terbitan tahun 2010 ini adalah KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, kakek dari Syaikh Mahfudz Attarmasi.

KH Abdul Manan Dipomenggolo tinggal di Al Azhar Mesir sekitar tahun 1850 M. Selama di Negeri Piramid, beliau berguru kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al Bajuri. Jadi wajar di tahun-tahun itu ditemukan kitab Fath al-Mubin, syarah dari kitab Umm al-Barahin yang merupakan kitab karangan Grand Syeikh Ibrahim Bajuri mulai dibaca di beberapa pesantren di Indonesia.

Pengembaraan KH Abdul Manan Dipomengolo dalam menuntut ilmu di timur tengah kelak diikuti oleh generasi selanjutnya, yaitu KH Abdullah (Putra KH Abdul Manan Dipomengolo), Syaikh Mahfudz Attarmasi, KH Dimyathi Tremas, KH Dahlan Al Falaki Tremas (Ketiganya kakak beradik, Putra KH Abdullah) yang menuntut ilmu di Makkah.

KH Abdul Manan Dipomengolo telah berhasil meletakkan batu landasan sebagai pangkal berpijak ke arah kemajuan dan kebesaran serta keharuman pondok pesantren di Nusantara. Kegigihannya dalam mendidik putra-putranya sehingga menjadi ulama-ulama yang tidak saja menguasai kitab-kitab yang dibaca, lebih dari itu, juga berhasil menyusun berbagai macam kitab dan memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan dunia Islam, seperti Syaikh Mahfudz, seorang ulama besar Nusantara, Malaysia, dan Thailand yang pernah menjadi imam Masjidil Haram dan pemegang sanad Shoheh Bukhori-Muslim.

Maka sangat wajar bila nama KH Abdul Manan Dipomengolo, pelajar Indonesia pertama di Al Azhar Mesir dan pendiri Pesantren Tremas disebut sebagai peretas jejaring intelectual chains generasi ulama-ulama nusantara. (Zaenal Faizin) via nu.or.id
Membaca Kembali Al-Quran, Membaca Kembali Diri Kita

Membaca Kembali Al-Quran, Membaca Kembali Diri Kita


Wartaislami.com ~ Membaca kitab suci Qur’an mungkin bisa dibilang mudah. Kita tinggal meluangkan waktu; mau membacanya setiap habis shalat atau kapan pun jika luang. Akan tetapi, mengkaji isi serta menggali maknanya, ayat per ayat, menghubungkan surat satu ke surat berikutnya, itu yang tidak mudah. Tapi, saya terpantik ketika mengikuti kajian al-Qur’an dari kacamata materialisme historis yang diadakan oleh Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta pada Kamis malam (18/02) bersama Ustad Muhammad Fayyadl. Tema malam itu adalah belajar bagaimana menggali sejarah dari isi kitab suci al-Qur’an.

Sebenarnya agak berat mengkaji Qur’an jika ditinjau dari aspek historis atau sejarah. Hal itu juga diungkapkan sendiri oleh Ustadz Fayyadl. Beliau mengatakan, mengkaji kitab suci  itu tidak cukup hanya melihat dari satu kaca mata saja, apalagi menggunakan kaca mata kuda. Akan tetapi, harus melihatnya dari berbagai pendekatan. Banyak aspek yang dibicarakan, pun juga tidak bisa menggunakan satu ilmu semata, tetapi juga harus melakukan pendekatan dengan banyak ilmu-ilmu yang lain. Mulai aspek kebahasaannya, aspek metodenya yang meliputi asbab nuzul (konteks turunnya wahyu al-Qur’an), munasabah (korelasi antar ayat) dan juga mampu menangkap idea moral (semangat dan pesan penting) dari al-Qur’an itu sendiri.

Banyak yang telah dibicarakan oleh Fayyadl, tapi di sini saya ingin mengulas pada aspek sejarah bagaimana kitab suci Qur’an itu hadir di tengah-tengah kita. Ia mampu menjadi kitab yang membebaskan,  bukan membelenggu kita dengan pemahaman yang sempit. Di sisi lain, saya ingin melihat bagaimana Qur’an itu menjadi mukjizat.

Baca Juga : Polisi Stres Bunuh Dua Anaknya: Pak Ustaz Tolong Mandikan Saya, Saya Mau Tobat, Mau Masuk Islam
 
Barangkali di antara kita banyak yang beranggapan bahwa Qur’an itu tidak konsisten di dalam melakukan dialog dan memberikan informasi. Tidak teratur dan tema yang dibicarakan acap meloncat-loncat. Misalnya, ketika berbicara tentang tema kesempurnaan agama dan nikmat, setelah itu tiba-tiba meloncat ke masalah makanan.

Justru itu, karena ketidaksistematisannya, Qur’an memiliki nilai i’jaz (kemukjizatan) tersendiri. Maka tidak aneh jika sampai saat ini telah berjilid-jilid kitab dan bermilayaran buku yang tidak habisnya memberikan tafsir atas isi Qur’an. Pertanyaannya kemudian, bagaimana saya yang awam ini, atau mungkin pembaca yang mungkin tidak begitu menguasai bahasa Arab atau kosakata dari ayat al-Qur’an itu bisa menangkap pesan Tuhan yang multitafsir itu?

Ada dua aspek yang perlu diperhatikan oleh para pengkaji al-Quran. Pertama, tidak merasa ‘paling’ benar terhadap apa yang sudah ditafsirkan. Tidak merasa bahwa penafsiran yang telah dihasilkan itu adalah obyektif—seakan-akan penafsirannya itu dianggap yang paling menangkap pesan Tuhan. Menurut ustadz yang juga penulis buku Derrida tersebut, jika sudah beranggapan demikian, maka hal itu merupakan ‘keangkuhan’ dari sebuah penafsiran. Sekali lagi, kita mungkin boleh menafsirkan ayat-ayat Qur’an, namun jangan sampai menganggap bahwa penafsiran kita merupakan satu-satunya kebenaran. Absolut. Kedua, pemahaman konteks historisitas turunnya Qur’an (asbab nuzul).

Satu contoh bagaimana ayat tentang fawatihus suwar (pembuka surat), seperti: alif-lam-mim, ha-mim, ka-ha-ya-‘ain-shad, yaa-sin, nuun, dan lain-lain misalnya. Banyak sekali pendapat para ulama’ yang memperbicangkan status dari ayat tersebut. Ada yang berpendapat bahwa ayat itu hanya Allah saja yang tahu maknanya (yakni dengan menyatakan ‘Wallaahu a’lamu bimuradihi). Namun, sebagian mufassir mengartikan makna dari huruf per huruf. ‘alif’ ‘lam’ dan ‘mim’, ada maknanya tersendiri. Itu hanya baru satu ayat saja, belum lagi ayat yang berjumlah sekitar 6000 an itu jika dibabarkan. Demikian itulah salah satu dari sisi kemukjizatan (i’jaz) al-Qur’an.

Berbicara Qur’an dimensinya memang sangat banyak. Ada kaidah-kaidah tafsir yang harus dilalui dalam melakukan penafsiran. Namun tidak lantas kemudian dijadikan sebagai dalih bermalas-malasan mempelajarinya. Membaca saja tanpa kita tahu maksud dari arti ayatnya sudah dianggap sebagai ibadah, pahala. Bahkan, satu huruf pun menjadi amal jariyah kita untuk bekal di akherat kelak. Dan apa yang sudah dipaparkan oleh Fayyadl dalam memahami al-Qur’an, itu wujud bagaimana kita bisa harus menerapkan sifat ke hati hatian. Ikhtiyyat.

Problematika  Quran di Masa Kontemporer

Di tengah kehidupan dan keberagaman ini banyak orang yang mengaku sebagai nabi. Mulai dari Lia Eden, Ahmad Mushadeq, bahkan yang terakhir ada pria asal Jombang yang mengaku Nabi Isa. Saat ini juga, di mana-mana banyak orang begitu gencar mengampanyekan LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Banyak juga perilaku para pejabat yang melakukan korupsi, dan kongkalikong dengan konglomerat asing. Dan tanah di negara kita juga sampai saat ini banyak dikuasai oleh para ‘penjajah’, mulai dari Freeport, dengan emasnya, Aqua dengan airnya, begitu juga bangunan hotel-hotel dan mall yang marak di Jogja adalah sebuah bukti penjajahan kepada masyarakat. Penindasan kepada kaum lemah (mustadh’afin), yang kerapkali dilakukan oleh antara penguasa dan para cukong.

Belum selesai di situ, di tengah kehidupan kita juga masih banyak orang yang mudah menyesatkan dan menyudutkan yang lain. Agama dibuat jualan. Bahkan, jilbab menjadi komoditas pasar dengan label halal. Siapa lagi yang memberikan label itu kalau bukan ulama’ yang tujuannya tidak lain untuk jualan, meraup penghasilan? Tentu saja ini asumsi. Tapi, kata Imam Ghozali. Hal ini bisa dikategorikan sebagai ulama’ su’ (dunia) dan ulama’ khoir (akherat).

Pertanyaannya kemudian adalah apakah semua itu ada jawabannya di dalam al-Qur’an, dan bagaimana kita menyikapi segala problem di atas?

Mari kita membaca lagi, belajar lebih banyak lagi sebelum ayat kita dijadikan komoditas. Saya curiga, jangan-jangan, dengan seabrek permasalahan yang terjadi saat ini menjadi sebuah penanda jika Tuhan mengingatkan kembali kepada kita bahwa kitab suci bukan sekadar hanya sebagai hiasan, pajangan di rumah dan tidak pernah kita sentuh sama sekali.

Di akhir pengajian malam itu. Fayyadl mengatakan bahwa orang kafir Quraisy Makkah dulunya pernah mengalami masa fatrah (kekosongan) yaitu amnesia sejarah selama 500 tahun, sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Sehingga ia lupa apa yang sudah dikatakan oleh Taurat dan Injil. Di negara kita pun sama. Kita dicekoki dengan masa orde baru selama lebih dari 30 tahun. Banyak sejarah orang-orang penting seperti Soekarno, Syahrir, Tan malaka dan yang lain seolah terlupakan.

Maka dari itu kenapa kitab suci umat islam dinamai dengan Quran (dari akar kata qara yaqra’u qur’anan), agar tidak lain supaya dibaca terus menerus dan berulang-ulang. Maka. Tidak aneh jika wahyu pertama kita disuruh membaca. Iqra': bacalah! Agar kita tidak mudah kagetan dan bisa bangun dari tidur panjang yang jauh dari pertikaian dan peperangan. Wallahhua’lam.




    Oleh: Muhammad Autad An-Nasher, aktivis di Jaringan Gusdurian. Bisa dijumpai di akun twitter @autad. via muslimedianews

Polisi Stres Bunuh Dua Anaknya: Pak Ustaz Tolong Mandikan Saya, Saya Mau Tobat, Mau Masuk Islam

Polisi Stres Bunuh Dua Anaknya: Pak Ustaz Tolong Mandikan Saya, Saya Mau Tobat, Mau Masuk Islam


Wartaislami.com ~ Brigadir Petrus Bakus NRP 88080657, anggota Satuan Intelkam Polres Melawi mengaku bersalah dan ingin bertobat.

Pernyataan ini ia sampaikan usai membunuh dua buah hatinya kepada Ustaz Ali Murtadho, satu di antara tetangganya di Asrama Polres Melawi, Gg Darul Falah, Desa Pal, Kecamatan Nanga Pinoh.

Bagi Ustaz Ali mengenal Brigadir Petrus Bakus pribadi yang baik. Sebagai tetangga Brigadir Petrus selalu bersosialisasi.

"Setahu saya dia sangat sayang dengan kedua anaknya. Saya juga kaget mendengar kabar dia membunuh anaknya," kata Ustaz Ali Murtadho ditemui Tribun Pontianak, Jumat (26/2/2016).

Ustaz Ali mengungkapkan, usai membunuh kedua anaknya, Brigadir Petrus sempat berbincang-bincang dengannya di Surau Darul Fallah tak jauh dari TKP.

Kebetulan Ustaz Ali merupakan imam di surau ini.

Kepada Ustaz Ali, Petrus yang beragama Khatolik mengaku ingin bertobat dan memeluk Islam. Dia mengaku telah melakukan dosa besar karena membunuh kedua anaknya.

"Pak Ustaz tolong mandikan saya, saya mau tobat, saya mau masuk Islam. Saya mau pakai jubah putih Pak Ustaz. Saya jawab itu gampang, sekarang jubah putihnya belum ada," kata Ali Murtadho menirukan ucapan tersangka.

Ustaz Ali mengungkapkan, seusai kejadian tersangka langsung menyerahkan diri kepada kepolisian. Kebetulan rumah tersangka berdampingan dengan Kasat Intelkam Polres Melawi.

"Setelah membunuh itu bahkan dia seperti tidak merasa bersalah apapun. Tapi ya itu tadi bicaranya sudah ngelantur ndak karuan, jadi saya tidak terlalu serius menanggapinya," katanya.

Tamrin, warga Desa Kenual juga mengaku kenal dengan tersangka. Sebab sebelum tinggal di rumah dinas di Gang Darul Fallah, tersangka pernah tinggal di Kenual.

"Biasa saja sih dia orangnya. Saya sih tidak terlalu kenal dekat. Namun dengan tetangga juga tidak pernah ada masalah," katanya. (tribun pontianak/ali)



Sumber :tribunnews.com




Inilah Bangganya Menjadi Ibu Rumah Tangga

Inilah Bangganya Menjadi Ibu Rumah Tangga


Wartaislami.com ~ Ibu Rumah Tangga (IRT) dalam ‘urf secara umum akan digunakan ketika berhadapan dengan kata “profesi”. Dalam istilah ini, “profesi” bermakna hadir di luar rumah dan memberikan pekerjaan tertentu dalam waktu yang khusus dengan gaji yang sudah ditetapkan. IRT sebagaimana diketahui merupakan semacam kehadiran yang tidak berpendapatan dan bergaji di dalam lingkungan rumah, yang tidak seberapa memberikan faedah—dalam hal materi—yang berarti, yang pada umumnya dikenal sebagai pengangguran.

Karena itu, harus diketahui, ‘apakah Islam juga mengakui IRT sebagai pekerjaan yang tidak berfaedah dan bermanfaat atau justru sebaliknya?’

Dalam Islam, untuk menilai suatu tugas dan tanggung jawab perempuan, memiliki saksi atau dalil-dalil yang sangat banyak, di antaranya akan kita tunjukkan sebagai berikut: Suatu hari, Nabi SAW sedang duduk di dalam mesjid bersama beberapa sahabatnya, pada saat itu masuklah seorang perempuan bernama Asma, putri Yazid Anshari, ia menyampaikan beberapa pertanyaan:“Wahai Nabi! Saya adalah wakil dari semua perempuan-perempuan seluruh dunia dan kami beriman kepadamu. Adapun kami mempunyai beberapa pertanyaan yang merupakan pertanyaan dari seluruh kaum perempuan di dunia ini. Wahai Nabi! Kami adalah perempuan-perempuan yang dikelilingi oleh empat dinding rumah, kami di bawah pengawasan para laki-laki, kami juga memenuhi kebutuhan seksual mereka, kami melahirkan anak-anak mereka, kami menahan kesusahan sewaktu mengandung, tetapi kalian para laki-laki bebas dan merdeka. Kalian lebih teratas dari kami, kalian pergi shalat jumat dan berjamaah, menjenguk orang-orang yang sakit. Setiap tahun kalian pergi haji dan ketika kalian bepergian dan safar, kami juga yang harus menjaga harta dan anak-anak kalian.” Nabi SAW sangat memuji dan menghormati perempuan itu dan berkata kepadanya, “Pergi dan katakanlah kepada seluruh perempuan di dunia, bahwa kalian perempuan-perempuan hanya mempunyai satu tugas atau pekerjaan, yaitu menjadi istri yang baik bagi suaminya, dengan ini seluruh pekerjaan laki-laki akan sama dengan kalian.”

Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang bekerja karena Tuhan untuk kesenangan dan ketenangan keluarganya, dia seperti jihad di jalan Tuhan. Demikian juga seorang perempuan yang menjadi istri yang baik bagi suaminya, maka dia akan mendapat pahala jihad di jalan Tuhan.”

Dari dialog antara Nabi SAW dan Asma, dapat disimpulkan bahwa cara berfikir negatif akan pekerjaan-pekerjaan perempuan merupakan peninggalan dari pemikiran jahiliyah yang berkelanjutan pada zaman itu. Nabi SAW menjelaskan pandangan Islam tentang IRT, bahwa ditinjau dari dimensi nilai, tak ada satu pun perbedaan antara nilai pekerjaan laki-laki dan perempuan.

Dalam masyarakat Islam, adanya kebolehan perempuan bekerja di luar rumah tidak memiliki landasan yang begitu penting sehingga dianggap mampu menyelesaikan kebanyakan dari masalah-masalah keluarga. Meski demikian, hal ini tidak bermakna bahwa bekerja di luar rumah bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, kebanyakan dari perempuan, dikarenakan memandang IRT sebagai suatu perbudakan, menyebabkan mereka beralih bekerja di luar rumah untuk menunjukkan dirinya pada suatu kebebasan yang bermanfaat. Kita juga melihat bahwa kecenderungan ini di antara mereka, hari demi hari semakin bertambah.

Dalam teks-teks agama menjelaskan bahwa mementingkan/memandang penting pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah dan menghitungnya sebagai suatu kehormatan, akan menyebabkan perempuan—dalam berhadapan dengan keluarganya untuk melaksanakan tugas-tugas—merasakan keserasian dengan fitrah, cita rasa dan kemampuannya, dan dia tidak akan mengalami keraguan dan ancaman di dalamnya.

Profesi Perempuan

Pekerjaan atau profesi yang paling baik bagi perempuan adalah IRT dan mengatur perkara-perkara rumah tangga. Akan tetapi, sebagian perempuan cenderung atau merasa dharuri sibuk bekerja di luar rumah. Profesi-profesi yang paling baik dan paling sesuai dengan perempuan adalah profesi guru, dosen dan sejenisnya, atau perawat, dokter dan sejenisnya.

Disarankan kepada perempuan-perempuan yang ingin bekerja dan berprofesi di luar rumah untuk memprhatikan poin-poin penting di bawah ini:
1. Harus sepaham dengan suami dalam memilih profesi, dan tidak bekerja/tidak berprofesi tanpa izin dari suami sehingga tidak mengacaukan ketenangan keluarga.
2. Menjaga hijab islami dengan sempurna ketika di luar rumah dan di tempat kerja (kantor), sederhana dan tidak berhias sewaktu ke kantor dan menghindari percampuran dan pergaulan dengan laki-laki asing (non muhrim), menjauhi berhias dengan baju dan perhiasan-perhiasan.
3. Pada saat yang sama, perempuan yang bekerja di luar rumah jangan sampai lalai akan suami dan anak-anaknya dan melaksanakan tugas-tugas rumah tangga dengan baik, seperti membersihkan rumah, memasak dll. Adapun suami juga seharusnya membantu istrinya dalam perkara-perkara rumah tangga dan anak-anaknya.
4.Apabila memiliki anak kecil, sebaiknya dia dititipkan ke play grup yang meyakinkan atau menitipkannya pada seseorang yang penyayang dan amanah, atau membawanya ke tempat kerja. Jangan sama sekali meninggalkannya sendiri, karena hal ini sangat berbahaya dan akan menyebabkan ketakutan dan penyakit-penyakit jiwa (psikologi).

Secara keseluruhan, profesi perempuan yang bekerja di luar rumah akan menafikkan kesempatan dan waktu luangnya, baik dilihat dari dimensi waktu atau dari dimensi ruhiyah akan tugasnya sebagai seorang ibu sampai batas yang begitu sangat banyak. Seorang perempuan yang bekerja di luar rumah, dikarenakan dengan pergaulan dan berhadapan dengan orang-orang yang berbeda-beda, maka pikiran dan konsentrasinya akan bercerai berai. Hal ini tentu akan mengganggu tugas-tugas utamanya sebagai seorang ibu dan istri dikarenakan tugas tambahan di luar rumah yang sesungguhnya tidak sesuai dengan hati dan ruhiyah-nya.

Source: www.islaminesia.com
Kenapa Allah Menciptakan Alam Semesta?

Kenapa Allah Menciptakan Alam Semesta?


Wartaislami.com ~ Dahulu kala, saat alam semesta belum menjadi apa-apa, dan waktu belum ada, Allah sudah “duduk” di singgasana-Nya. Dia sudah memiliki seluruh keagungan, pujian, dan kesempurnaan. Setelah alam tercipta, hingga semodern sekarang, banyak manusia tidak ambil pusing untuk bertanya: “Urusan apa Dia menciptakan hal ini semua? Untuk apa Dia menciptakan surga dan neraka jika Dia mengetahui manusia akan beriman atau tidak beriman?”

Tentang surga dan neraka, jika keduanya tidak diciptakan, mungkin tata hidup manusia akan lebih kacau.  Untuk menguatkan logika, coba kita memakai jalan pemikiran ini: jika suami yang Anda cintai dibunuh orang, apakah Anda menerimanya? Jika harta Anda dicuri orang, apakah Anda menerimanya? Jika anak gadis Anda diperkosa orang, apakah Anda menerimanya? Jika anak balita Anda dijual orang, apakah Anda menerimanya? Jika anggota tubuh Anda, kaki misalnya, dipotong dan dicincang-cincang orang, apakah Anda menerimanya?

Jika Anda tidak bermasalah dengan kemaksiatan seperti itu, maka di dunia ini akan terjadi pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, penelantaran anak-anak, dan jual beli manusia, mutilasi, dan semua hal itu akan berjalan biasa-biasa saja. Jika surga-neraka tidak ada, manusia akan diuntungkan untuk melakukan kejahatan. Karena ketika manusia membunuh, mencuri, memerkosa, dan menjual anak, semua hal itu tidak akan diperhitungkan di akhirat, tidak akan dimasukkan ke neraka, apalagi dimasukkan ke surga.

Masih ada surga-neraka saja masih banyak kejahatan, bagaimana jika tidak diciptakan? Jadi surga-neraka sebenarnya diciptakan untuk kebaikan hidup kita sendiri di dunia. Lantas kenapa Allah masih saja menciptakan manusia jika mereka akan tetap melakukan kejahatan?

Tentang manusia sendiri saja, sudah berapa cabang ilmu yang lahir hanya dengan mempelajarinya? Antropologi, ilmu tentang manusia, terpecah menjadi antropologi biologis dan antropologi sosial budaya. Dan antropologis biologis masih dapat dipecah menjadi cabang-cabang ilmu lain seperti palaeoantropologi, somatologi, bioarkeologi, ekologi, paleopatologi, dan lain sebagainya. Biologi, ilmu tentang kehidupan, yang lahir pada masa sebelum masehi, hingga sekarang berkembang secara luar biasa dan melahirkan ilmu anatomi, fisologi , botani, teori-teori sel dan genetika, dan seterusnya. Biologi pun terpecah menjadi ranah-ranah yang lebih spesifik seperti: aerobiologi, agrikultur, bioinformatika, epidemiologi, hingga bioteknologi yang masih kontroversial karena mempelajari manipulasi materi hidup dan modifikasi genetik.

Harus diketahui lebih awal bahwa Allah tidak memerlukan alasan untuk menciptakan sesuatu, atau tidak menciptakannya. Apa yang sudah disebutkan di atas tadi, tentang ilmu antropologi dan ilmu biologi, sama sekali Allah tidak memerlukan alasan untuk menciptakan manusia sehingga lahir ilmu-ilmu itu. Namun Allah tidak membiarkan manusia begitu saja, dan oleh karena itu Dia menitipkan akal kepada manusia untuk berpikir. Sudah jamak diketahui bahwa kian hari kian banyak ilmuan dari segala bidang ilmu pengetahuan, dan hal ini adalah titik awal untuk mengetahui maksud Dia menciptakan alam semesta.

Kesimpulannya, makin hari makin muncul para ilmuwan dalam bidang-bidangnya, dan hasil akhirnya adalah: alam semesta diciptakan dengan ketelitian, lengkap dengan segala keteraturan di dalamnya yang amat sempurna. Jika terdapat satu saja hal yang tidak teliti di dalam alam semesta, niscaya ia tidak akan bekerja/berfungsi secara benar. Jadi, adakah yang masih menanyakan bahwa alam semesta ini diciptakan atas hal yang sia-sia? Jika alam saja diciptakan tanpa hal yang sia-sia, lantas adakah manusia diciptakan atas hal yang sia-sia?

Source: www.nu.or.id





Sedikit-Sedikit Sesat, Murtad, Neraka. Kang Said : Ajaran Wahabi Mirip Ajaran Teroris

Sedikit-Sedikit Sesat, Murtad, Neraka. Kang Said : Ajaran Wahabi Mirip Ajaran Teroris


Wartaislami.com ~ Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai bahwa pola pikir Islam Timur Tengah tidak cocok dan sesuai dengan budaya Nusantara, namun banyak ormas Islam transnasional yang ingin menerapkan pikiran-pikiran Islam Timur Tengah di bumi Nusantara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kiai Said saat memberikan sambutan dalam acara seminar “Keberagaman Beragama, Gerakan Takfir dan Deradikalisasi sebagai Tantangan Kerukunan Umat Beragama” yang diselenggarakan oleh International Center for Islam and Pluralism ((ICIP) bekerja sama dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dan Kedutaan Kanada di Lantai 8 kantor PBNU (22/2).

“Pikiran Timur Tengah itu tidak cocok dengan Nusantara, maka itu harus kita tolak,” tegas Kiai Said.

Kiai Said menuturkan bahwa gerakan radikal masuk ke Nusantara pertama kalinya diawali oleh Imam Bonjol dengan pasukan Padrinya. Meski Imam Bonjol beraliran Wahabi, ia tidak mencampuri urusan domestik seperti mengkafirkan dan membid’ah-bid’ahkan umat Islam lainnya. Ia lebih mengarahkan perlawanannya untuk menghadapi kolonial. Gerakan Wahabi semakin mencuat dan berkembang setelah era reformasi di mana komunikasi, teknologi informasi, dan transportasi berkembang sangat pesat.

“Wahabi bukan teroris, Wahabi antiteror. Tapi ajarannya sedikit lagi menjadi teroris. Sedikit-sedikit sesat,dlolal, neraka, murtad. Orang seperti itu sedikit lagi, tinggal tunggu kesempatan atau kemampuan atau keberanian, bisa jadi teroris,” papar Pengasuh Pesantren As-Tsaqofah tersebut.

Ada beberapa bukti yang disampaikan Kiai Said terkait eratnya hubungan antara Wahabi dan terorisme, di antaranya adalah pelaku pengebomam Masjid Polres Cirebon (Syarifuddin), pengebom Hotel Ritz Carlton (Syaifuddin), dan pengebom gereja Bethel di Solo (Ahmad Yusuf). Mereka bertiga adalah alumni Pesantren Assunnah Cirebon di bawah asuhan Kiai Salim Bajri.

Dijelaskannya, saat ini Wahabi menjamur di mana-mana dan memiliki yayasan-yayasan untuk melakukan kaderisasi, diantaranya adalah Yayasan As-Sofwah di Lenteng Agung, Yayasan Al Faruq Jember, Yayasan Al Fitroh Surabaya, Yayasan Umar bin Khattab di Mataram, Yayasan Ulil Albab di Bandar Lampung dan lainnya. Menurut Kiai Said, yayasan tersebut menerima dana dari orang-orang Arab Saudi yang diorganisir dan dikumpulkan jadi satu, bukan dari pemerintahan Arab Saudi.

Dengan masifnya perkembangan gerakan-gerakan Islam yang berlandaskan asas radikalisme. Kiai Said mengajak umat Islam di Indonesia untuk terus menerapkan Islam yang rahmatal lil ‘alamin.

Source: www.islaminesia.com



Inilah Sejarah Awal Mula di Lagukannya Al Qur'an (Langgam)

Inilah Sejarah Awal Mula di Lagukannya Al Qur'an (Langgam)


Wartaislami.Com ~ Kognisi dan psikomotorik umat Islam terhadap nagham tidak selazim ilmu tajwid. Kata nagham secara etimologi paralel dengan kata ghina yang bermakna lagu atau irama. Secara terminologi nagham dimaknai sebagai membaca Al Quran dengan irama (seni) atau suara yang indah dan merdu atau melagukan Al Quran secara baik dan benar tanpa melanggar aturan-aturan bacaan.

Keberadaan ilmu nagham, tidak sekedar realisasi dari firman Allah dalam suroh Al Muzzammil ayat 4,”Bacalah Al Quran itu secara tartil”, akan tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang berbudaya yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. Rasa yang melahirkan seni (termasuk nagham) merupakan bagian integral kehidupan manusia yang didorong oleh adanya daya kemauan dalam dirinya. Kemauan rasa itu sendiri timbul karena didorong oleh karsa rohaniah dan pikiran manusia.

Nagham merupakan salah satu dari sekian ekspresi seni yang menjadi bagian integral hidup manusia. Bahkan nagham ini telah tumbuh sejak lama. Ibnu Manzur menyatakan bahwa ada dua teori tentang asal mula munculnya nagham Al Quran. Pertama, nagham Al Quran berasal dari nyanyian nenek moyang bangsa Arab. Kedua, nagham terinspirasi dari nyanyian budak-budak kafir yang menjadi tawanan perang. Kedua teori tersebut menegaskan bahwa lagu-lagu Al Quran berasal dari khazanah tradisional Arab (tentu saja berbau padang pasir). Dengan teori ini pula ditegaskan bahwa lagu-lagu Al Quran idealnya bernuansa irama Arab. Sehingga apa yang pernah ditawarkan Mukti Ali dalam sebuah kesempatan pertemuan ilmiah tentang pribumisasi lagu-lagu Al Quran (misalnya menggunakan langgam es lilin dan dandang gulo) tidak dapat diterima. Pada Masa akhir ini sesuai dengan perkembangan maka melalui teori konvergensi asal bersesuaian dengan nahga arab klasik.

Meski kedua teori tersebut hampir benar adanya tapi tetap saja muncul permasalahan. Jika memang benar nagham Al Quran berasal dari seni Arab lalu siapakah yang pertama kali mengkonversikannya untuk lagu Al Quran ? Sampai di sini ketidakjelasan. Dan lagi, jika memang benar nagham Al Quran berasal dari nyanyian tentu dapat direpresentasikan dalam not balok atau oktaf tangga nada. Tapi kenyataannya tidaklah demikian, nagham Al Quran sangat sulit ditransfer ke dalam notasi angka atau nada. Dan karena sifat eksklusifisme inilah kemudian yang “memaksa” bahwa metode sima’i, talaqqi, dan musyahafah merupakan satu-satunya cara dalam mentransmisikan lagu-lagu Al Quran

Pada zamannya, Rasulullah SAW adalah seorang qari’ yang membaca Al Quran dengan suara indah dan merdu. Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrsikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditunggangi Nabi ketika Nabi melantunkan suroh Al Fath. Para sahabat juga memiliki minta yang besar terhadap ilmu nagham ini. Sejarah mencatat sejumlah sahabat yang berpredikat sebagai qari’, diantaranya adalah : Abdullah Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari. Pada periode tabi’in, tercatat Umar bin Abdul Aziz dan Safir Al Lusi sebagai qari’ kenamaan. Sedangkan periode tabi’ tabi’in dikenal nama Abdullah bin Ali bin Abdillah Al Baghdadi dan Khalid bin Usman bin Abdurrahman.

Kendati di masa awal Islam sudah tumbuh lagu-lagu Al Quran, namun perkembangannya tak bisa dilacak karena tak ada bukti yang dapat dikaji. Hal ini dimungkinkan karena pada saat itu belum ada alat perekam suara. Transformasi seni baca Al Quran berlangsung secara sederhana dan turun temurun dari generasi ke generasi. Sejarah juga tak mencatat perkembangan pasca tabi’in. Apresiasi terhadap seni Al Quran semakin tenggelam seiring dengan semakin maraknya umat Islam melakukan olah akal (berfilsafat), olah batin (tasawwuf), dan olah laku ibadah (berfiqh). Selain itu, barangkali ini yang paling mendasar bahwa dibutuhkan kemampuan khusus untuk masuk dalam kualifikasi qari’, terumata menyangkut modal suara. Modal ini lebih merupakan hak perogratif Allah untuk diberikan kepada yang dikehendaki-Nya.

Pada abad ke-20, kedua model lagu tersebut masuk ke Indonesia. Transmisi lagu-lagu tersebut dilakukan oleh ulama-ulama yang mengkaji ilmu-ilmu agama di sana yang pulang ke tanah air untuk mengembangkan ilmunya, termasuk seni baca Al Quran. Lagu Makkawi sangat digandrungi di awal perkembangannya di Indonesia karena liriknya yang sangat sederhana dan relatif datar. Lagu Makkawi mewujud dalam barzanji. Beberapa qari’ yang menjadi eksponen aliran ini adalah : KH Arwani, KH Sya’roni, KH Munawwir, KH Abdul Qadir, KH Damanhuri, KH Saleh Ma’mun, KH Muntaha, dan KH Azra’i Abdurrauf.

Memasuki paruh abad 20, seiring dengan eksebisi qari’ Mesir ke Indonesia, mulai marak berkembangan lagu model Mishri. Pada tahun 60-an pemerintah Mesir mensuplai sejumlah maestro qari’ seperti Syeikh Abdul Basith Abdus Somad, Syeikh Musthofa Ismail, Syeikh Mahmud Kholil Al Hushori, dan Syeikh Abdul Qadir Abdul Azim. Animo dan atensi umat Islam Indonesia terhadap lagu-lagu Mishri demikian tinggi. Hal ini disebabkan karakter lagu Mishri yang lebih dinamis dan merdu. Keadaan ini cocok dengan kondisi alam Indonesia. Sejumlah qari’ yang menjadi elaboran lagu Mishri adalah : KH Bashori Alwi, KH Mukhtar Lutfi, KH Aziz Muslim, KH Mansur Ma’mun, KH Muhammad Assiry, dan KH Ahmad Syahid.

Seni baca Al Quran baru menampakkan geliatnya pada awal abad 20 M yang berpusat di Makkah dan Madinah serta di Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang sangat aktif mentransfer ilmu-ilmu agama (termasuk nagham) sejak awal 19 M. Hingga hari ini Makkah dan Mesir merupakan kiblat nagham dunia. Masing-masing kiblat memiliki karakteristik tersendiri. Dalam makkawi dikenal lagu Banjakah, Hijaz, Mayya, rakby, Jiharkah, Sikah, dan Dukkah. Sementara pada Misri terdapat Bayyati, Hijaz, Shoba, Rashd, Jiharkah, Sikah, dan Nahawand.

Nagham Yang sangat sering ditampilkan Qari /Qari’ah dimasa kini:
1. Nagham bayati yang terdiri dari  bayati qoror, bayati  nawa, bayati jawab, bayati jawabul jawab
2. Nagham shaba yang terdiri dari shoba Asli, shoba jawab, shoba ajami salalim su’ud, shoba ajami salalim nuzul. Shoba bastanjar
3. nagham Hijaz yang terdiri dari hijaz asli, hijas kard, hijaz kard-kurd, hijaz kurd
4.Nagham nahawand yang terdiri nahawand asli , nahawand usysyaq
5. Naghan sikka yang terdiri diri sikka asli,sikka ramal, sikka misri, sikka turki
6. nagham ras yang terdiri dari ras asli, ras alan nawa, ras syabir

Nagham ini bisa dikembangkan dengan bermacam variasi, yang dikembangkan dengan banyak mendengarkan bacaan syeh Mustopha Ismail,syeh mustopa Ghalwas  dan lainnya dan juga dengan banyak mendengarkan lagu-lagu padang pasir dari sumber aslinya, seperti lagu-lagu ummi kulsum, Muhammad Abdul Wahhad dan lannya. Kita dapat mengembangkan sendiri dan bisa juga dengan memasukkan irama lainya yang munasabah(sesuai). via muslimoderat

KH Mahrus Aly, Santri Hebat yang diambil Menantu Pendiri Lirboyo

KH Mahrus Aly, Santri Hebat yang diambil Menantu Pendiri Lirboyo


Wartaislami.Com ~ KH. Mahrus Aly lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Sa’id, tahun 1906 M. Beliau adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahiran. Sifat kepemimpinan beliau sudah nampak saat masih kecil. Sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga. Beliau diasah oleh ayah sendiri, KH Aly dan sang kakak kandung, Kiai Afifi.

Saat berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah, asuhan Kiai Mukhlas, kakak iparnya sendiri. Disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni. Selain itu KH. Mahrus Aly juga belajar silat pada Kiai Balya, ulama jawara pencak silat asal Tegal Gubug, Cirebon. Pada saat mondok di Tegal inilah KH. Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 M.

Di tahun 1929 M, KH. Mahrus Aly melanjutkan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah asuhan KH. Kholil. Setelah 5 tahun menuntut ilmu di pesantren ini (sekitar tahun 1936 M) KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni KH. Mahrus Aly berniat tabarukan di Pesantren Lirboyo. Namun beliau malah diangkat menjadi Pengurus Pondok dan ikut membantu mengajar. Selama nyantri di Lirboyo, beliau dikenal sebagai santri yang tak pernah letih mengaji. Jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabarukan dan mengaji di pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang, asuhan Kiai Dalhar dan juga pondok pesantren di daerah lainnya seperti; Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Sarang dan Lasem,Rembang.

KH. Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidak lama, hanya sekitar tiga tahun. Namun karena alimnya kemudian KH. Abdul Karim menjodohkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab, tahun 1938 M. Pada tahun 1944 M, KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman di sebelah timur Komplek Pondok. Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan tambuk kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Di bawah kepemimpinan mereka berdua, kemajuan pesat dicapai oleh Pondok Pesantren Lirboyo. Santri berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly, bahkan ditangan KH. Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti).

KH. Mahrus Aly ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan ini nampak saat pengiriman 97 santri pilihan Pondok Pesantren Lirboyo, guna menumpas sekutu di Surabaya, peristiwa itu belakangan dikenal dengan perang 10 November. Hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH. Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di sekitar Kediri.

KH. Mahrus Aly mempunyai andil besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlatul Ulama, bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah Jawa timur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mustasyar PBNU pada tahun 1985 M.

Senin, 04 Maret 1985 M, sang istri tercinta, Nyai Hj. Zaenab berpulang ke Rahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama diderita. Sejak saat itulah kesehatan KH. Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH. Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan. Banyak yang menyarankan agar KH. Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya. Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 Mei 1985 M, kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bhayangkara Kediri, beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo, Surabaya. Delapan hari setelah dirawat di Surabaya dan tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985 M, KH. Mahrus Aly berpulang ke rahmatullah. Beliau wafat diusia 78 tahun. (al Fatihah…)

Kisah selengkapnya bisa Anda lihat di buku Tiga tokoh Lirboyo. via muslimoderat

close
Banner iklan disini