Presiden Jokowi Sudah Miliki E-Kartanu

Presiden Jokowi Sudah Miliki E-Kartanu


Wartaislami.com ~ Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkunjung ke Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/3). Ihwal pertemuan tersebut, PBNU mengundang presiden Joko Widodo untuk hadir dan membuka acara International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) yang akan diselenggarakan pada 9-11 Mei 2016 mendatang.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa pada pertemuan nantinya akan membahas permasalahan di dunia Islam seperti terorisme, radikalisme, termasuk mengenai kemerdekaan Palestina.

Kang Said mendukung sikap pemerintah yang menolak ajakan Israel untuk menjalin hubungan diplomatik. Ia menilai bahwa selama Israel masih mendzolimi Palestina, pemerintah harus menolak ajakan tersebut.

“Selama Israel masih menggusur desa-desa di Palestina, rumah-rumah warga Palestina, kita belum menyetujui adanya hubungan bilateral,” jelas Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqofah, Jakarta Selatan ini.

Menurutnya, jika Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sebelum Palestina merdeka, maka akan terjadi goncangan politik luar negeri. “Itu harus didahului dengan pendekatan informal, lobi-lobi informal. Kalau terus formal (pendekatannya) ya enggak bisa, bisa menggoncangkan konstelasi politik,” terangnya.

Selain itu, ia juga meminta presiden Jokowi untuk lebih tegas menindak kegiatan, kampanye atau apapun yang mendukung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia.

"(PBNU) mengusulkan pemerintah tegas lagi menolak LGBT karena sikap NU sudah jelas, tegas, dan keras menolak LGBT. Pemerintah malah kurang tegas dalam hal ini. RRC (Republik Rakyat China) sudah melarang, Singapura melarang, Indonesia harus tegas melarang LGBT," tegasnya.

Pada pertemuan tersebut, Kang Said juga memberikan Elektronik Kartu Anggota NU (e-Kartanu) kepada Presiden Jokowi. Saat menerima Kartanu tersebut, Jokowi terlihat senang dan tersenyum sumringah. E-Kartanu atas nama Ir H Joko Widodo dengan nomor anggota 3107300000001.

Pengurus PBNU yang hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya KH Ma’ruf Amin (Rais Aam PBNU), KH Maksoem Makfoedz (Waketum PBNU), Helmy Faisal Zaini (Sekjen PBNU), Bina Suhendra (Bendum PBNU), Anggia Ermarini (Ketum Fatayat NU), Yaqut Cholil Qoumas (Ketum PP GP Ansor), dan Harfiq Hasnul Qolbi (Ketua LPNU). (Muchlishon Ahmad/Fathoni) via nu.or.id
Teguran dari Habib Abu Bakar Assegaf untuk Kelompok yang menambah nama dan logo NU

Teguran dari Habib Abu Bakar Assegaf untuk Kelompok yang menambah nama dan logo NU



Wartaislami.Com ~ Teguran untuk Kelompok Garis Lurus dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan:

Untuk ikhwani yang menamakan diri "NU Garis Lurus" hafidzokumullah...

أوصيكم وإيايا بتقوى الله       

Sebagai salah seorang nahdhiy, saya sangat yakin antum semua adalah pecinta NU sebagai jam'iyyah mubarakah diinan wajtima'an. Dan karena didorong oleh ghiroh dakwah yang tinggi, antum selama ini gigih mengkritisi pemikiran dan pemahaman yang menurut antum menyimpang dari manhaj assalafusshalih. Terutama akhir-akhir ini pemikiran-pemikiran DR KH Said Aqil Siradj.

Namun demikian, atas dasar kecintaan kita terhadap NU, akan lebih baik jika ketidaksepakatan dengan pemangku jabatan di NU tersebut dituangkan dalam kritik dengan bahasa yang lebih santun dan elegan tanpa membawa-bawa NU secara jam'iyyah atau lembaga.

Menamakan diri sebagai NUGL dan membuat logo NU dengan penambahan NUGL, menambah nama dan logo jam'iyyah yang kita cintai ini dari yang sudah disepakati oleh ulama'ana almutaqoddimin. Padahal, untuk membuat nama dan logo NU itu mereka sepakati dengan hasil istikharah dan isyaroh robbaniyyah. Karena mereka, Syaikhona Kholil, KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah wa man fi thobaqotihim bukan ulama sembarangan. Keilmuan, kewara'an serta keihlasan perjuangan mereka untuk umat sudah teruji. Mereka orang-orang yang tsiqoh, yang tak akan kita jumpai dari generasi saat ini. رضي الله عنهم وجزاهم عن الأمة خير ماجزى به عباده الصالحين.

Disamping itu, ini bisa menimbulkan faksi dalam tubuh NU serta membuka peluang yang lain akan membuat istilah-istilah baru dengan membawa-bawa nama NU. Tidak tertutup kemungkinan nanti akan ada yang bikin istilah NU Garis Miring, NU Garis Netral sampai NU Tanpa Garis dan seterusnya.

Jika ini terjadi, maka ini sama sekali tidak menguntungkan NU, nahdhiyyin dan kelompok aswaja. Yang diuntungkan justru kelompok-kelompok di luar NU, seperti wahhabiyyah wa khulafaaihim.

Silahkan mengkritik, tapi tetaplah santun. Tanpa menyerang person dengan umpatan dan caci maki. Jangan gunakan cara-cara orang di luar NU dan tanpa membuat istilah NU yang baru (tanpa bikin bid'ah).

Manfaatkan NU semaksimal mungkin utk memberikan manfaat kepada umat dan menjaga aqidah mereka dari ahlul bid'ah waddhalalah. Mari kita teladani cara-cara ulama salaf dalam ber-ikhtilaf. Dan mari kita berusaha menjadi khoiru kholaf likhoiri salaf.

وما توفيقي إلا با الله. عليه توكلت وإليه أنيب

Ttd,

Abu Bakar Hasan Assegaf
Wakil Rais Syuriah PCNU Kab. Pasuruan

Ed: dutaislam.com/ab via muslimoderat

Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama hingga Rasulullah SAW

Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama hingga Rasulullah SAW


 Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama – Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah. 1. Jalur Imam Malik
Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)
Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).
Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama
2. Jalur Imam Abu Hanifah
Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).
Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)
Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama


Transmisi Sanad Sebagai Ruh Agama Islam

Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah). Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i
Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H). Thabqah II
Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H). Thabqah III
al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H). Thabqah IV
al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H). Thabqah V
al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H). Thabqah VI
Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H). Thabqah VII
Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H). Thabqah VIII
Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H). Thabqah IX
Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H). Thabqah X
Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H). Thabqah XI
Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H). Thabqah XII
Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyar al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H). Thabqah XIII
Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H). Thabqah XIV KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

Ditandatangani Oleh:
Rais Am Dr. KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz
Ketua Umum Dr. KH. Said Aqil Siraj

Diterbitkan Oleh Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama
Referensi:
1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”

Oleh: Aswaja Nu Center Jatim
Habib Ali Zaenal Abidin, Ulama dari Indonesia yang memikat Jutaan Muslim Malaysia

Habib Ali Zaenal Abidin, Ulama dari Indonesia yang memikat Jutaan Muslim Malaysia



Wartaislami.Com ~  Saya menyebut beliau sebagai HABIB MUNZIRNYA MALAYSIA. Usia beliau 1 tahun lebih muda dari Habib Munzir, namun beliau berhasil mendapatkan hati di tengah jutaan umat muslim di Malaysia.

Beliaulah HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL HAMID. Di Indonesia sendiri belum begitu populer layaknya Habib Munzir Al Musawa, padahal beliau lahir di Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia, pada tanggal 12 April 1974.

Awal mula beliau nyantri di Darullughoh Wad Da'wah bersama Habib Hasan bin Ahmad Baharun, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Pada tahun 1993 beliau bersama Habib Munzir Al Musawa, Habib Jindan bin Novel bin Jindan, Habib Sholeh Al Jufri, dan segenap angkatan pertama Darul Musthofa dibawa menuju Guru Mulia Sayyidil Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Hadhromaut, Yaman.

Kemudian setelah itu melanjutkan studi Sarjana ke Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1996 dan berguru ke beberapa Ulama diantaranya Prof. Dr. Syaikh Ali Al Jumu'ah.

Pada tahun 2002 beliau melanjutkan studi Magister Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia, dan saat ini sedang menyelesaikan Gelar Doktoral di kampus yang sama.

Pembentukan karakter Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid dilakukan oleh para guru-guru mulia beliau terutama Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, dan beberapa guru mulia lain yang pernah mendidik beliau.

Dakwah dengan akhlak dan adab, metode yang santun dan berwibawa, dan penguasaan medan ilmu dakwah membuatnya mendapat kehormatan dari Kerajaan Diraja Malaysia.

Sewaktu beliau hendak kembali ke Indonesia, beliau ditarik kembali oleh Habib Abdul Qodir Al Jufri untuk mengambil alih Majelis Darul Murtadaza agar tetap di Malaysia dan menikah disana dikaruniai 3 orang puteri.

Gaya bahasa yang khas meski beliau dari Indonesia namun mampu beradaptasi menggunakan Bahasa Melayu dalam berdakwah di Malaysia dan Singapura.

Yang membuat saya lebih berdecak kagum lagi adalah Tim Dakwah di belakang beliau, baik dari Majelis Darul Murtadza maupun dari Cocombee Multimedia.

Sajian dakwah yang kreatif dan persuasif mampu menghipnotis jutaan penggemarnya di negeri Jiran. Ketika beliau berdakwah di Indonesia beliau masih fasih berbahasa Jawa, dan beliau penerjemah utama ketika ada ulama dari Hadhromaut, Yaman, berkunjung ke Malaysia dan Singapura.

Dakwahnya bisa menyentuh semua kalangan dari rakyat, pejabat, sampai konglomerat. Seperti halnya Almarhum Habibana Munzir bin Fuad Al Musawa yang bisa menarik hati semua kalangan dari rakyat, pejabat, konglomerat, Presiden, sampai Duta besar negara-negara sahabat pun mengagumi Habib Munzir.

Sayang seribu sayang, hingga detik ini belum ada yang bisa menggantikan peran Habib Munzir bin Fuad Al Musawa yang dicintai jutaan penggemarnya dari rakyat, pejabat tinggi negara, sampai konglomerat, yang tersebar ke seluruh nusantara dengan kesucian hati melalui dakwah yang santun, bermartabat, dan menggunakan berbagai media dalam berdakwah bahkan sampai ke tempat pedalaman Papua.

Semoga oase dakwah yang santun dan bermartabat tetap menjadi pilihan hati umat Islam di Indonesia TANPA ada cacian, hinaan, hujatan, vonis sesat, kafir, dan berbagai bentuk cercaan lain dari kelompok yang tidak sependapat dengannya. Amiin...

Oleh: Imron Rosyadi via muslimoderat


Bahkan VOC Tidak Berani Menggusur Kompleks Masjid Luar Batang

Bahkan VOC Tidak Berani Menggusur Kompleks Masjid Luar Batang


Wartaislami.Com ~ Sejarawan Jakarta, Alwi Shahab, mengungkapkan, sebenarnya sudah ada beberapa kali upaya penggusuran dari kompleks masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Bahkan, upaya penggusuran itu sempat ingin dilakukan oleh aparat pemerintah Belanda, VOC, saat masih menguasai Jakarta, yang dulu masih bernama Batavia.
Namun, rencana penggusuran itu akhirnya harus batal. Hal ini terkait ketokohan ulama asal Hadramaut, Yaman, Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Pasalnya, Habib Husein lah yang mendirikan dan masjid tersebut, hingga akhirnya dimakamkan di sekitar kompleks masjid tersebut.
''Itu dari dulu, udah mau ada rencana digusur, oleh VOC. Tapi akhirnya tidak berani Belanda. Tidak hanya Belanda, orang-orang pas jaman Bung Karno dan seterusnya, juga tidak berani. Hal ini karena, rakyat sudah sangat percaya dengan kewalian dari Habib Husein,'' ujar pria yang akrab disapa Abah Alwi tersebut, saat ditemu Republika, Selasa (29/3).
Abah Alwi pun menilai, jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berniat menggusur Masjid Luar Batang atau merelokasi penduduk yang tinggal di Kampung Luar Batang, maka akan muncul pertentangan yang cukup besar. Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan pembongkaran terhadap Kampung Luar Batang, termasuk di dalamnya memugar kompleks masjid Luar Batang.

''Kalau sampai digusur, bisa ribut itu. Tidak peduli seberapa besar kuatnya Ahok (Gubernur DKI Jakarta), pasti akan ditentang,''lanjut Alwi.

Lebih lanjut, Alwi menjelaskan, sejak abad ke-18, Masjid Luar Batang memang telah menjadi tempat ibadah yang begitu dihormati umat Islam, tidak hanya dari Jakarta tapi dari seantero Indonesia. Bahkan, tidak jarang tokoh-tokoh nasional dan ulama-ulama asal Betawi, selalu menyempatkan diri untuk setidaknya berziarah ke makam Habib Husein ataupun beribadah di masjid Luar Batang.

''Banyak ulama-ulama Betawi, seperti KH Abdullah Syafei, justru datang ke Masjid Luar Batang. Begitu juga menteri-menteri dan tokoh nasional. Itu lantaran begitu sentralnya peran Masjid Luar Batang,'' ujar Abah Alwi.

Tidak hanya itu, upaya renovasi sebelumnya juga pernah dilakukan, tepatnya pada saat Fauzi Bowo masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, Alwi mengingatkan, setiap upaya renovasi dari Masjid Luar Batang itu tidak menanggalkan dan meninggalkan aspek historis dari kompleks masjid dan makan Luar Batang tersebut.

Terkait ketokohan dari Habib Husein, Abah Alwi menjelaskan, Habib Husein datang ke Batavia pada 1746. Pada saat itu, Habib Husein tiba di Kampung Baru, yang saat ini berubah menjadi Kampung Luar Batang. Meski pada saat itu, Habib Husein diperkirakan masih berusia 25 tahun, namun wibawa dan karomah yang dianggap dimiliknya langsung mendapatkan perhatian dari masyarakat setempat.
Pun dengan sikapnya yang menentang penjajahan VOC di Indonesia. Dukungan dari masyarakat setempat inilah yang membuat VOC dianggap tidak berani dengan Habib Husein.
''VOC tidak berani. VOC menganggap dia sebagai seorang yang dipercaya oleh penduduk. Jadi VOC tidak mau mengangkat-angkat ataupun menjelek-jelekan wilayah Kampung Luar Batang,'' ujar Abah Alwi.

Reportase: Republika.co.id

Wahid Hasyim dan Modernisasi Pendidikan Tradisional

Wahid Hasyim dan Modernisasi Pendidikan Tradisional



Oleh Siti Muyassarotul Hafidzoh
Tema Islam Nusantara yang diangkat Nahdlatul Ulama (NU) dalam Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015 lalu sangat terkait dengan agenda pendidikan nasional kita. Tema ini mungkin saja “besar” di media, tetapi tak bisa membumi dan terealisasikan di masyarakat kalau tidak dibarengi dengan strategi pendidikan yang dijalankan. Tanpa internalisasi dalam dunia pendidikan, tema ini bisa menguap dan “selesai” setelah muktamar.

Untuk itu, warga NU dan bangsa Indonesia bisa belajar kepada sosok KH Abdul Wahid Hasyim. Walaupun menjadi putra KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU, Wahid Hasyim tidaklah kemudian langsung mengikuti organisasi yang didirikan sang ayah. Wahid muda berpikir dengan serius, sehingga menjatuhkan pilihannya kepada NU. Wahid muda sangat energik, sehingga menjadi penggerak gerakan modernisasi pendidikan pesantren di Indonesia. Berkat kegigihannya, kaum pesantren bukan saja cerdas membaca kitab kuning, tetapi juga lincah dalam membaca literatur berbagai keilmuan dan tangkas dalam menjawab problem kebangsaan dan kenegaraan.

Ini dibuktikan sendiri oleh Kiai Wahid  pada 29 April 1945, dimana Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk. Jumlah anggotanya ada 62 orang dari perwakilan seluruh elemen bangsa Indonesia. Saat memulai pertama kali sidang pada 28 Mei 1945, mata para anggota BPUPKI tertuju pada seorang anak muda berpeci yang pemikiran dan gagasannya begitu cerdas. Dialah Wahid Hasyim, anggota termuda setelah BPH Bintoro. Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sedangkan Bintoro 27 tahun.   

Yang membuat anggota BPUPKI tercengang tak lain karena sosok Wahid Hasyim mewakili kalangan kaum Islam tradisionalis yang waktu itu masih dikenal konservatif, miskin informasi dan jauh dari pemikiran modern. Tetapi dalam sidang BPUPKI, ia justru tampil sebagai anak muda paling brilian. Pemikirannya yang brilian sampai membuat Soekarno memasukkan sebagai anggota Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara, yang kemudian Panitia Sembilan ini menghasilkan Piagam Jakarta. Dialah anggota Panitia Sembilan termuda.

Transformasi pendidikan tradisional

Perhatian serius Kiai Wahid bagi pendidikan kelas bawah sangat nyata. Kala pulang dari Mekkah tahun 1932, dia bukannya ikut serta mengajar di pesantren ayahnya, KH Hasyim Asy’ari, tetapi ia malah mendirikan sekolah klasikal yang mengajarkan ilmu umum kepada santri-santri Tebuireng. Santri sudah diajarkan bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Prancis. Selain bahasa asing itu, santri juga diajari aljabar (matematika), ilmu bumi (geografi), dan sejarah. Lompatan gagasan dan gerak anak muda sampai tidak bisa ditentang sang ayah yang merupakan guru para kiai pula Jawa pada awal abad ke-20.   

Jasanya atas perkembangan pendidikan kelas bawah sangat besar. Pada tahun 1944, ia dengan berani mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Itulah sekolah tinggi Islam pertama di Indonesia. Kemudian pada pada tahun 1950, kala ia menjabat Menteri Agama, ialah yang pertama kali mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang sekarang menjadi UIN, IAIN dan STAIN. Semua itu ia jalani untuk meningkatkan kualitas umat Islam Indonesia. Wahid Hasyim menginginkan umat Islam semakin berkualitas untuk memimpin kemajuan Indonesia.

Selain menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam Kementerian Agama, selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: pertama, mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta. Kedua, menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1950. Ketiga, merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia.

Walaupun dia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan umum, hanya sekolah dari pesantren ke pesantren saja, tetapi melihat rekam jejaknya dalam memperjuangkan Republik Indonesia, dia bukanlah sosok sederhana dengan atribut pendidikannya. Dia justru menjadi orang pertama yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan kelas bawah di pesantren dan pendidikan Islam Indonesia. Tak salah kalau Soekarno selalu menjadikan ia sebagai referensi bagi kebangkitan dan kemajuan Islam Indonesia.

Kecerdikan dan kecerdasan Wahid Hasyim dalam mengembangkan pendidikan kelas bawah di pesantren tak lain karena semangatnya yang begitu luar biasa dalam mengembangkan pengetahuan. Kesungguhan ini salah satunya lahir karena beliau sejak kecil dididik seorang ayah yang sangat teguh mengajarkan agama dan keteladanan. Peran sang ayah tak bisa dipungkiri sangat menancap kuat dalam diri seorang Wahid Hasyim. Terlebih saat itu Mbah Hasyim merupakan pemimpin tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Wahid Hasyim sama sekali tidak terbuai dengan kebesaran yang ayah yang dikenal sebagai ahli hadits. Dia justru menjadikan kebesaran ayahnya sebagai tantangan dalam dirinya sendiri untuk mencipta sesuatu yang genuine yang diberikan Allah kepadanya untuk berjuang kepada agama dan negara. Benar sekali, akhirnya ia justru menjadi “juru bicara” sang ayah yang selalu mewakili Mbah Hasyim dalam berbagai pertemuan di Jakarta. Peran Wahid Hasyim sebagai “juru bicara” sang ayah begitu besar, sehingga memperlihatkan kepada publik umat Islam Indonesia bahwa kaum pesantren begitu maju dan modern.

Saat ini, menjadi tantangan serius bagi NU untuk menggugah kembali semangat Wahid Hasyim dalam membangun masyarakat kelas bawah. Data Kementerian Agama (2013) menjelaskan, sampai saat ini Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU sudah memiliki tidak kurang 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai pelosok negeri, mulai PAUD, TK, SD, MI, MTs, SMP, MA, SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Belum lagi pondok pesantren yang jumlahnya ribuan, bahkan banyak sekali yang tidak terdata.

NU harus mendorong seluruh lembaganya agar semakin berkualitas, sehingga mimpi Kiai Wahid Hasyim bisa segera terealisasikan untuk membangun negeri tercinta ini.***

Penulis adalah Guru MTs Al-Quran, Pesantren Binaul Ummah Wonolelo Pleret Bantul, Yogyakarta dan alumnus Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.  via nu.or.id
 Syekh Mahfudh Tremas, Ulama Islam Nusantara Yang Mendunia

Syekh Mahfudh Tremas, Ulama Islam Nusantara Yang Mendunia

Syekh Mahfudh Tremas, Ulama Islam Nusantara Yang Mendunia

Syekh Mahfudh Tremas dilahirkan di Desa Tremas pada tahun 1285 H/ 1842 M. Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Muhammad Mahfudh At-Tarmasi ibn Abdullah ibn Abdul Manan ibn Demang Dipomenggolo. Beliau terkenal dengan nama “Syekh Mahfudh At-Tarmasi Al-Jawi”

Wartaislami.com ~ Syekh Mahfudh Tremas dilahirkan di Desa Tremas pada tahun 1285 H/ 1842 M. Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Muhammad Mahfudh At-Tarmasi ibn Abdullah ibn Abdul Manan ibn Demang Dipomenggolo. Beliau terkenal dengan nama “Syekh Mahfudh At-Tarmasi Al-Jawi”.

Syekh Mahfudh merupakan keturunan ulama yang juga bangsawan. Demang Dipomenggolo yang merupakan kakek buyut Syekh Mahfudh adalah bangsawan yang sangat agamis. Hal ini terlihat, pada saat Pacitan diperintah oleh Bupati yang gemar mensyiarkan Islam bernama Mas Tumenggung Jayakarya I, Ki Demang Dipomenggolo mendirikan pesantren di Desa Semanten yang diasuh olehnya sendiri. Sedangkan Putra Ki Demang Dipomenggolo, Syekh Abdul Manan adalah pendiri Pondok Pesantren Pacitan pada tahun 1830 M.

Sepeninggal Syekh Abdul Manan, Syekh Abdullah ayahanda Syekh Mahfudh Tremas menggantikan beliau sebagai pengasuh Pondok Pesantren Pacitan. Saat Syekh Mahfudh Tremas lahir, Pondok Pesantren Pacitan sudah berusia 12 tahun.

Syekh Mahfudh At-Tarmasi merupakan ulama Jawa terkemuka, alumnus Pesantren Tremas Pacitan yang banyak mengarang kitab penting dan mengajar di Masjidil Haram Mekkah pada paruh abad ke 19. Prof. Azyumardi Azra

Sejak kecil, Syekh Mahfudh sudah dididik secara disiplin tentang ilmu keagamaan. Beliau dipersiapkan Syekh Abdullah untuk menggantikannya kelak sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tremas. Syekh Mahfudh bersama dengan adiknya Dimyathi, dikirim oleh Syekh Abdullah ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama pada tahun 1872 M. Adapun ulama-ulama yang menjadi guru besar Syekh Mahfudh Tremas sewaktu menetap di tanah suci adalah:
1. Syekh Ahmad Al-Minsyawi, seorang ulama pakar ilmu qiraat sab’ah.
2. Syekh ‘Amr bin Barkat Asy-Syami, ulama besar dari syam murid Syekh Ibrahim Al-Bajuri.
3. Syekh Mushtafa bin Muhammad bin Sulaiman al-‘Afifi, seorang ulama pakar gramatika Arab dan ilmu Ushul Fiqh.
4. Imam Al-Hasib As-Sayyid Husein bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, seorang pakar hadits yang sangat zuhud dan wira’i.
5. Syekh Sa’ad bin Muhammad Bafashil al-Hadhrami, seorang pakar ilmu fiqih yang menjabat Mufti Syafiiyyah Mekkah saat itu.
6. Syekh Muhammad Asy-Syarbini Ad-Dimyathi, pakar fiqih dan ilmu qiraah yang berasal dari Dimyath Mesir.
7. Syekh Al-Jalil Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Ad-Daniyyi Al-Madany, seorang sufi besar Madinah di zamannya.
8. Syekh Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha, seorang ulama yang mndaat julukan “Syaikh al-Masyayikh” (gurunya para ulama) di zamannya.

Pada paruh abad ke 19, ada beberapa ulama Nusantara yang diakui kapabelitas dan integritasnya, sehingga mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk mengajar di Masjidil Haram. Mereka adalah: Syekh Mahfudh Tremas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mukhtarom Banyumas, Syekh Bakir Banyumas, Syekh Asy’ari Bawean, dan Syekh Abdul Hamid Kudus.

Adapun Syekh Mahfudh Tremas, ulama seluruh dunia pada masanya (dan sampai sekarang) mengakui keluasan ilmu, lebih-lebih dalam bidang Ilmu-ilmu Al-Quran dan Ilmu-ilmu Hadits. Di kalangan kyai Jawa, waktu itu, Syekh Mahfudh sudah dikenal sebagai muhaddits atau pakar hadits. Beliau diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang sah dalam transmisi intelektual pengajaran Shahih Bukhari. Beliau berhak mengijazahi santri-santrinya yang berhasil menguasai Shahih Bukhari. Ijazah ini berasal dari Imam Bukhari sendiri yang ditulis sekitar seribuan tahun yang lalu dan diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai karya Imam Bukhari tersebut. Selain menjadi seorang isnad (mata rantai) dalam bidang hadits, Syekh Mahfudh juga menjadi seorang isnad (mata rantai) dalam bidang bacaan al-Quran Qiraat Imam Ashim. Seluruh mata rantai riwayat qiraat Imam Ashim yang tersebar di Jawa, selalu melewati pintu mata rantai dua ulama Jawa yang terkenal ahli di bidang ilmu Qiraat, yaitu Syekh Mahfudh atau Syekh Munawwir Krapyak.

Syekh Mahfudh terkenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam menulis karya dari berbagai disiplin keilmuan. Berikut adalah beberapa karya yang telah ditinggalkan oleh Syekh Mahfudh:
1. As-Siqayah Al-Mardhiyyah, kitab tentang fiqih Syafiiyyah.
2. Al-Minhatul Al-Khairiyyah, kumpulan 40 hadits pilihan.
3. Mauhibatu Dzil-Fadl, syarah Mukhtashar Bafadhl.
4. Minhaju Dzawinnazhar, kitab tentang ilmu hadits.
5. Al-Badrul Munir, kitab tentang Qiraat Imam Ibn Katsir.
6. Tanwirush Shadr, kitab tentang Qiraat Imam Abu ‘Amr.
7. Insyirahul Fuad, kitab tentang Qiraat Imam Hamzah.
8. Ta’mimul Manafi, kitab tentang Qiraat Imam Nafi’.
9. Al-Fawaid at-Tarmisiyah, kitab tentang sanad-sanad Qiraah Asy’ariyyah.
10. Unyatut Thalabah, kitab tentang syarah nadzam Qiraat Asy’ariyyah.
11. Kifayatul Mustafid, kitab tentang sanad-sanad (mata rantai keilmuan).
12. Is’aful Mathali’, kitab tentang Ushul Fiqih.
13. Bughyatul Adzkiya’, kitab tentang keramat para wali.
14. Nailul Ma’mul, kitab tentang Ushul Fiqih.
15. Tsulatsiyyat al-Bukhari, kitab tentang Hadits.
16. Inayah al-Muftaqar, kitab membahas tentang Nabi Khidir.
17. Hasyiyatu Takmilati Minhajil Qawim, kitab tentang ilmu Faraidh.


Sebagian besar karya-karya Syekh Mahfudh Tremas telah dicetak dan tersebar di seantero dunia. Setelah bermukim di Mekkah dan mengajar di Masjidil Haram selama kurang lebih 42 tahun, pada tahun 1920 M, Syekh Mahfudh Tremas berpulang ke rahmatullah. Beliau wafat dengan meninggalkan warisan ilmiah yang luar biasa berharga. Beliau wafat dan dimakamkan di Mekkah sesuai dengan cita-citanya, tepatnya di pemakaman Ma’la, berdekatan dengan Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah.

Kepada Syekh Mahfudh Tremas, Samudera Tanah Jawa yang mendunia, al-Fatihah…
Syekh Mahfudh At-Tarmasi Al-Jawi
Pesantren Tremas
Syekh Mahfudh Tremas dilahirkan di Desa Tremas pada tahun 1285 H/ 1842 M. Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Muhammad Mahfudh At-Tarmasi ibn Abdullah ibn Abdul Manan ibn Demang Dipomenggolo. Beliau terkenal dengan nama “Syekh Mahfudh At-Tarmasi Al-Jawi”.
Pondok Pesantren Tremas Pacitan
Pacitan, Jawa Timur
Indonesia
DOB: 1285 H/ 1842 M 00:00:00.000

Bahan Bacaan:

    Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren.
    Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Pada Abad XVII dan XVIII.
    Zaenal Ma’murin, Pondok Pesantren Tremas Dalam Perspektif Sejarah.

#GerakanIslamCinta @KBAswaja
Nyai Dlomroh, Wanita Hebat Dibalik Suksesnya Pondok Lirboyo

Nyai Dlomroh, Wanita Hebat Dibalik Suksesnya Pondok Lirboyo



Wartaislami.Com ~  KH. Abdul Karim (1856-1954) lahir di desa Diyangan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Beliau belajar ilmu agama atau ngaji di banyak pesantren dan yang paling lama ngaji kepada Syaikhona Kholil Bangkalan kurang lebih selama 23 tahun.
Pada usia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada akhirnya KH. Hasyim Asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kyai Sholeh dari Banjarmelati Kediri, pada tahun 1908 M.

KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo.

Ketika santrinya semakin banyak, KH. Abdul Karim didatangi oleh utusan dari Magelang tempat kelahiran beliau yang memintanya untuk pulang ke Magelang dan mendirikan pesantren di sana serta disediakan masjid, rumah dan tanah yang bisa menunjang kehidupan beliau. KH. Abdul Karim menyerahkan keputusan kepada Nyai Dlomroh untuk menjawabnya.
Nyai Dlomroh pun menjawab dengan ucapan yang ditujukan kepada KH. Abdul Karim:
“Kyai, kalau njenengan pulang ke Magelang silahkan, tapi pulangkan saya ke bapak saya. Tapi bila njenengan tetap di sini maka njenengan fokus ngaji dan ngopeni santri, sementara untuk urusan ma’isyah (kebutuhan sehari-hari) saya yang menyanggupi.”

Demikianlah, akhirnya KH. Abdul Karim tetap berada di Lirboyo dan Nyai Dlomroh setiap harinya berangkat ke pasar Bandar untuk berjualan kebutuhan dapur yang kulakan (membeli) dari daerah pegunungan Besuki dan juga usaha jualan kain batik yang langsung dibatik dengan tangan beliau sendiri.

Seiring waktu, beliau mulai menyewa sawah yang ternyata sukses sehingga bisa untuk modal membeli sawah sendiri, bahkan bisa membeli tanah yang berada di sekitar tempat tinggal beliau.
Alhasil, semua tanah komplek asrama santri Pondok Pesantren Lirboyo yang lama dan yang kemudian ditinggali oleh putri-putri dan cucu beliau di Lirboyo adalah hasil dari jerih payah Bu Nyai Dlomroh.
Semoga amal jariyah beliau diterima oleh Alloh Swt dan kita mendapatkan berkah dari pancaran keikhlasan dan ilmu dari KH. Abdul Karim dan istrinya serta para putra dan cucu penerusnya.

Sumber: Post FM – Fiqh Menjawab fiqhmenjawab.net via muslimoderat

KH Hanif Muslich: Jika Pejabat Berdzikir, Negara Ini Akan Tentram

KH Hanif Muslich: Jika Pejabat Berdzikir, Negara Ini Akan Tentram


 CERAMAH: Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Hanif Muslich (duduk di kursi) menyampaikan ceramah malam lailatul ijtima’ PWNU Jawa Tengah, di Kantor PWNU NU, Jalan Dr. Cipto 180 Semarang, Rabu, (23/3) malam. Foto: Ceprudin

Wartaislami.com ~ Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Hanif Muslich mengandaikan, jika banyak pejabat negara yang selalu berdzikir, negara ini akan tentram. Hematnya, berdzikir kepada Allah SWT merupakan sarana untuk mencapai kedamaian dunia dan akhirat.

”Jika pejabat negara ini banyak yang berdzikir kepada Allah SWT, maka negara ini akan tentram dan damai. Tidak ada kisruh-kisruh lagi,” katanya, pada ceramah malam lailatul ijtima’ PWNU Jawa Tengah, di Kantor PWNU Jawa Tengah, Jalan Dr. Cipto 180 Semarang, Rabu, (23/3) malam.
Pada malam pertemuan rutinan warga NU se-Jawa Tengah ini dihadiri anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Mujib Rohmat. Selain itu, hadir Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shadaqoh, Kiai NU asli Mangkang, KH Hadlor Ikhsan, Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abu Hapsin, Sekjen PWNU Jawa Tengah, KH Arja Imroni, dan segenap warga wilayah Semarang dan sekitarnya.
Menurut Kiai Hanif, bertoriqoh merupakan upaya untuk menentramkan batin. Jika warga negara dan pejabatnya banyak mengingat Allah dan Rasulnya Nabi Muhammad, maka negara juga akan lebih tentram. Untuk itu, ia mendorong kepada warga NU umumnya kepada semua elemen masyarakat untuk mengutamakan berdzikir.

Kiai Hanif menyatakan, keutamaan bersholawat dan berdzikir tidak hanya untuk menentramkan jiwa. Berdzikir dengan meny ebut nama Allah dengan bersholawat juga dipercaya bisa menunda datangnya hari kiamat.
”Jika di dunia ini masih ada orang yang terus membaca sholawat dan dzikir kepada Allah, Insya Allah tidak akan datang hari kiamat. Ini bukan kata saya lho, tapi ini ada rujukannya. Karena itu, mari kita bersholawat,” tandasnya. [Ceprudin/003/nujateng.com] via muslimoderat

Subahanallah, ini Keutamaan Surat Al-Ikhlas yang Menakjubkan

Subahanallah, ini Keutamaan Surat Al-Ikhlas yang Menakjubkan


Wartaislami.com ~ Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a :
Pada suatu pagi Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.

Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.
Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”
“Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya.” jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?”
“Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat.” jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?”
Kemudian Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.”

“Siapakah dia, wahai Jibril?” tanya Rasulullah SAW.
“Dialah Muawiyah…!!!” jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?”
Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas.”

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut.”
SubhanAllah..
Walhamdulillah..
Wala ilaha illallah..
Wallahu akbar.

Rasulullah SAW bersabda : ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur’an?” Lalu Nabi SAW bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (H.R. Muslim no. 1922)

Sumber: FP Madrasah Rasulullah via arrahmah.co.id
Inilah Kisah KH Abdul Karim Lirboyo Jadi Kuli Santri Barunya

Inilah Kisah KH Abdul Karim Lirboyo Jadi Kuli Santri Barunya


Ketika krisis keteladanan melanda generasi suatu bangsa maka menjadi begitu penting membaca dan mengenang kembali para tokoh yang dahulu dikenal memiliki karakter, akhlak, dan kepribadian yang terpuji nan luhur serta patut diteladani generasi sesudahnya. Di antara tokoh dimaksud yang memiliki sejarah hidup mulia dan perlu dikenalkan kepada generasi muda adalah akhlaknya para kiai, di samping tokoh-tokoh pahlawan bangsa.

Pada suatu hari (diperkirakan tahun 1920-an) datanglah seorang pemuda yang baru turun dari dokar di dekat area pondok. Dia membawa perbekalan lumayan banyak dari rumah, sehingga merasa berat untuk dibawanya sendiri. Kemudian pemuda calon santri baru itu melihat ada orang tua yang sedang berkebun. Versi lain mengatakan sedang memperbaiki pagar tembok. Melihat didekatnya ada orang tua, pemuda itu bertanya dengan bahasa Jawa halus: 

"Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulong kaleh njenengan, nopo nggeh purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong anda, apa berkenan)?” Tanya pemuda itu.

"Nggeh, nopo!" Jawab orang tua di kebun itu.

"Niki kulo mbeto kelopo, beto beras, kulo bade mondok teng kilen niko. Tulong jenengan beta'aken (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu. Tolong anda bawakan),” pinta pemuda tersebut.

"Oh, nggeh mas, kulo purun (Ya mas, saya mau),” balas orang tua.

Lalu dengan senang hati orang tua itu membantu membawakan bekal berupa beras dan kelapa milik pemuda tadi sampai di kompleks kamar santri. Para santri lama yang menyaksikan peristiwa itu terheran-heran: kiainya mengangkatkan barang milik calon santri barunya.

Akhirnya betapa malunya pemuda santri baru tersebut setelah mengetahui ternyata orang yang kemarin dia perintah membantu membawakan barang perbekalannya itulah yang menjadi imam shalat di masjid. Ternyata orang yang mengimami shalat tersebut adalah kiai pengasuh pesantren. Karena kesederhanaan penampilannya, sang pengasuh pesantren disangka orang desa atau petani kampung yang sedang bekerja.

Orang yang membantu mengangkatkan barang pemuda calon santri di atas adalah KH. Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. (M Haromain) 

Fragmen kisah ini disarikan dari arsip wawancara dengan para alumni Pesantren Lirboyo oleh tim penyusun buku Sejarah Pesantren Lirboyo (2010); Lebih khususnya narasumber cerita ini adalah KH Ahmadi, Ngadiluweh dan almaghfurlah KH. A. Idris Marzuki.  via nu.or.id
Gus Muwaffiq: IPNU-IPPNU Generasi Gila!

Gus Muwaffiq: IPNU-IPPNU Generasi Gila!


Wartaislami.Com ~ Sebelum sempat turun dari mobil, pria berbadan kekar itu meminta waktu dua menit untuk istirahat sejenak. Beberapa penerima tamu dari fasilitator Latihan Kader Utama (Lakut) PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah, menunggunya disamping mobil berplat AB itu. Tak lama kemudian, ia turun dari mobil dengan napas terengah, berjalan menuju ruang pemateri di gedung diklat milik Kemenag Provinsi Jawa Tengah.

Namanya Kiai Ahmad Muwaffiq. Orang biasa memanggilnya Gus Muwaffiq atau Cak Afiq. Ia merupakan tokoh NU yang banyak mengader anak-anak muda NU, khususnya IPNU-IPPNU dan PMII. Siang itu, ia masih seperti biasanya: berambut gongdrong dengan kopiah putih, memakai jubah dan sorban hijau keabu-abuan. Suaranya sedikit serak, setelah beberapa hari ini sibuk keliling Jateng, Jatim dan beberapa titik di luar Jawa untuk memenuhi berbagai undangan ceramah, seminar dan pengisian kanuragan Pagar Nusa, salah satu badan otonom NU yang mengonsolidasikan para pendekar. Kali ini, di tengah kesibukannya, ia menyelakan waktu untuk datang ke Semarang, mengisi pengaderan generasi muda NU yang digelar selama empat hari, 24–27 Maret 2016.

Tak lama berselang, ia memasuki forum. Dengan muka sedikit pucat dan suara serak-serak karena jarang tidur kecuali di mobil, ia menyampakan materi. Sedikitnya 50 peserta menyimak dengan seksama, paparan dari mantan asisten Gus Dur ini. Beberapa panitia dan fasilitator pun turut menyimak. Di pojok kanan forum, seorang panitia yang menjadi notulen, sibuk mencatat apa-apa yang disampaikan.

“Kalian semua ini telah memilih untuk menjadi orang gila, tak normal dan tak wajar. Wajarnya pemuda-pemudi hari ini ya tidak begini, tidak di tempat yang seperti ini, tapi di mall, kafe, jalan-jalan, tempat pacaran, dan berselfie ria atau berbagai kemewahan lain yang dunia modern tawarkan. Dan kalian tidak memilih itu. Kalian memilih menjadi orang yang gila, terasing dan beda dari generasi yang ada,” papar Cak Afiq, usai membuka dengan salam.

Lebih lanjut Cak Afiq memaparkan bahwa Iblis sekarang bingung, karena metodologinya dalam menggoda manusia berupa kejahatan sudah dipakai oleh manusia itu sendiri. Namun, sesuai kesepakatannya dengan Tuhan, ia tak berhenti menggoda untuk menyesatkan dan menjerumuskan manusia. “Kalau dulu alat Iblis adalah kemungkaran, sekarang memakai alat kesalehan,” katanya.

“Kalian, yang cowok-cowok, saya yakin tidak mau dengan wanita yang memakai baju terbuka, apalagi tatoan. Kemudian Iblis menawarkan cewek yang berkerudung, sampai kemudian pacaran dan dengan tanpa sadar pegang-pegangan, dan lain-lain. Itu sama saja, hanya bungkusnya yang berbeda. Sesama Muslim enggan mengkafirkan (memvonis kafir), maka kemudian Iblis memakaikan jubah dan sorban, sampai akhirnya orang itu merasa benar sendiri, menganggap yang lain salah lalu mengkafirkan. Itu sama saja. Iblis tidak lagi menggiring ke arah maksiat dengan keburukan, namun dengan kebaikan,” imbuhnya menasehati para generasi muda.

“Kalian memilih menjadi manusia yang penuh dengan derita, yaitu memikul tanggung jawab keumatan. Kalian memilih menjadi yang tegak di antara tongkat-tongkat yang bengkok. Kalian memilih melewati jalan yang ditempuh oleh para ulama dan pelayan umat. Jika bisa istiqamah, kalian kelak akan menjadi sandaran tongkat-tongkat yang bengkok itu, karena kalian lurus. Namun ini berat, teramat berat. Bisa jadi, di antara 50 peserta ini, satu persatu akan jatuh berguguran, hingga nanti mungkin yang masih istiqamah tinggal lima. Namun saya doakan semoga semuanya kuat,” imbuhnya, menyadarkan posisi dan tanggung jawab peserta. Masih dengan nada rendah, ia kembali melanjutkan.

“Menjadi pelayan agama dan umat itu tidak mudah, harus rela mengorbankan kepentingan, kesenangan dan waktu diri sendiri dan bahkan keluarga untuk orang lain. Dulu anak-anak Gus Dur bahkan pangkling dengan bapaknya, karena saking jarangnya bertemu. Usai ada tamu, ada acara keluar, ada seminar, ada menghadiri pertemuan, sampai anaknya pernah mengeluh: ‘Pak, tolong beri aku selimut, aku dingin lama ditinggal Bapak’, dan Gus Dur menjawab, ‘Kita dahulukan dulu kepentingan umat’. Begitu juga dengan keadaan hidup para kiai dan ulama, siapa saja datang kepada mereka: mulai dari orang terbelit hutang, orang minta doa cepat dapat jodoh, ibu melahirkan, orang sunat, orang menikah, orang meninggal, orang punya masalah, pejabat, calon anggota dewan, pencuri, gali maling semua diterima oleh kiai bahkan masing-masih diberi (ayat) Al-Quran (sebagai doa),” paparnya panjang lebar.

Tak terasa, aku yang memoderatorinya terenyuh, mataku berkaca-kaca. Kulihat, beberapa peserta sejenak tertunduk. Suasana di siang itu begitu hening.

“Lihat makam para wali itu, sudah meninggal ratusan tahun saja, orang-orang masih berduyun-duyun datang kesana. Kita bisa bayangkan bagaimana dulu hidupnya, menjadi tempat sandaran banyak orang. Itu baru para wali, bagaimana dengan Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika semua orang dulu bengkok, beliau menjadi satu-satunya orang yang lurus dan menjadi tempat bersandar banyak orang. Semua orang mendatanginya, minta petunjuk, pencerahan, pengayoman, lindungan dan solusi atas pelbagai persoalan.”

Untuk menghadapi tanggungjawab itu semua, katanya, jangan kebanyakan tidur. Seburuk-buruk orang itu ialah banyak tidurnya. “Nabi Muhammad mendapat Islam itu mau melek 15 tahun. Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mendapat thariqah itu melek 25 tahun. Sunan Kalijaga mendapat derajat kewalian itu menjaga tongkat 3 tahun. Syekh Hasan Syadzili melek 20 tahun. Mbah Hasyim sebelum mendirikan NU berjalan tiga tahun di Kali Brantas, dari hilir sampai hulu. Ibu Nyai Dlomroh, istri kyai Manap(KH Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo), 7 tahun tidak pernah tidur. Kalau sekarang Lirboyo besar seperti itu ya wajar. Ibu Nyai Chudlori Tegalrejo, malamnya tidak pernah tidur.” Ungkapnya, membuat para beberapa peserta yang kantuk tergugah semangat. Aku sendiri menjadi begitu malu kepada generasi terdahulu. Dengan fasilitas seadanya, orang dulu begitu hebat dan banyak melahirkan pemikiran dan karya yang bermanfaat.

Kemudian ia menjelaskan, bahwa hari ini semua amaliyah kita orang NU diinvestigasi. Namun karena metodologinya tidak pas, maka semua investigasi itu tidak nyambung. “Al-Qur’an itu ibarat sumur, ibarat air sumur: bisa dibikin es-teh atau sirup. Mencari es-teh tidak bisa ke sumur karena itu produk olahan air sumur. Maka mencari Pancasila di dalam Al-Qur’an jelas sia-sia karena tidak ada,” ungkapnya memberi logika.

Cak Afiq lalu memetakan bahwa sebenarnya gerakan-gerakan di luar NU (pada hakikatnya) tidak begitu mengganggu NU, karena mereka justru menghancurkan diri sendiri secara nilai dan ideologi mereka, yang tidak sesuai dengan ajaran baginda Nabi Muhammad SAW. “Seperti ketika dulu mereka tidak mau tahlilan karena menganggap itu bukan ajaran Islam. Baru ketika mereka menemukan dalilnya, mereka sedikit naik pangkat namun penuh gengsi: mau tahlil namun tidak mau tahlilan. Padahal, orang Jawa: apapun yang sudah dipakai atau dilaksanakan akan diberi akhiran ‘an’. Tahlil – tahlilan, yasin – yasinan, sarung – sarungan, dan lain sebagainya. Jadi, kalau mau tahlil tapi tidak mau tahlilan, ibarat orang punya celana tapi tidak mau memakainya,” jelasnya disambut gerrrr dari peserta.

“Maaf, pada kesempatan kali ini, saya baru menyampaikan muqaddimah. Karena minimnya waktu, saya tidak bisa menjelaskan panjang-lebar terkait dengan gerakan aswaja. Silakan cari waktu lain yang saya longgar, insyaallah saya siap menjelaskannya. Satu atau dua hari, insyaallah akan lebih tuntas,” imbuhnya. Tak lama kemudian, Cak Afiq berpamit meninggalkan forum dan berangkat menuju Magetan, Jawa Timur.

Usai acara Lakut selesai, para peserta dalam Rencana Tindak Lanjut bersepakat untuk mengundangnya kembali. Adapun tempat tuan-rumahnya adalah di IPNU-IPPNU Kabupaten Klaten, dengan tentatif waktu sebelum bulan puasa. Semoga pemaparan yang lebih dalam lagi dengan mantan Sekjend Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara itu ke depan bisa terwujud. Amin.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah (2013-2016) via muslimoderat



Lulusan Madrasah Aliyah Bisa Gunakan Beasiswa ini untuk Kuliah di Luar Negeri

Lulusan Madrasah Aliyah Bisa Gunakan Beasiswa ini untuk Kuliah di Luar Negeri

Beasiswa Kementerian Agama RI untuk Lulusan Pendidikan Madrasah Aliyah. Beasiswa luar Negeri untuk jenjang pendidikan S1.


Wartaislami.com ~ Upaya meningkatkan mutu dan daya saing lulusan madrasah, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah akan memberikan Beasiswa Biaya Hidup kepada lulusan madrasah. Lulusan madrasah tingkat Aliyah dengan beasiswa ini dapat melanjutkan studi S1-nya di sejumlah universitas yang terakreditasi di luar negeri, baik Asia, Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Program ini diharapkan akan dapat memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu dan daya saing lulusan pendidikan madrasah.

“Beasiswa yang diberikan ini hanyalah beasiswa biaya hidup dengan standar negara yang dituju, meliputi biaya transportasi Pulang-Pergi (negara asal-perguruan tinggi tujuan), asuransi kesehatan, visa dan biaya hidup,” jelas Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan saat ditemui di Kantor Kementerian Agama, Senin (28/03) lansir Pinmas Kemenag.

Menurutnya, program Beasiswa Biaya Hidup ini, rencananya akan mulai disosialisasikan dan dipublikasi pada 1-30 April 2016 melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama di setiap provinsi. Selain itu juga akan diumumkan melalui laman www.pendis.kemenag.go.id atau madrasah.kemenag.go.id.

Pendaftaran Beasiswa Biaya Hidup ini akan dilakukan secara online pada 1-15 Mei 2016. Sedangkan penyerahan berkas/dokumen asli dan verifikasinya dilakukan pada pertengahan Mei. Wawancara akan dilakukan di akhir Mei. Bagi mereka yang terpilih akan diberangkatkan pada bulan September 2016.

“Kami akan segera melakukan sosialisasi, mengingat persyaratan-persyaratan baik yang umum maupun yang khusus harus dipenuhi oleh peserta tidaklah mudah,” kata M Nur Kholis Setiawan yang juga merupakan lulusan madrasah dan pernah studi di Belanda dan Jerman.

“Persyaratan itu antara lain, memiliki Letter of Acceptance (LoA) baik yang Unconditional maupun Conditional, serta memiliki surat jaminan beasiswa tuition fee (bebas SPP) dari pihak peguruan tinggi,” tambahnya. (hamam/mkd/mkd/kay) via arrahmah.co.id


Kang Said: Berkah itu Sedikit Tapi Bermanfaat

Kang Said: Berkah itu Sedikit Tapi Bermanfaat


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang biasa disapa Kang Said mengajak kepada pemegang kebijakan perguruan tinggi untuk mengambil nilai-nilai yang baik dari pesantren terutama konsep keberkahan. Perguruan tinggi tidak perlu ragu mengamalkan keberkahan model pesantren.

“Pesantren itu tidak melulu jorok dan kemproh. Ada nilai-nilai dari pesantren yang perlu diadopsi oleh perguruan tinggi seperti ta’dib. Jangan hanya mengadopsi kurikulum dari Barat,” jelasnya saat sambutan pada simposium nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (28/3) siang.

Kang Said mengajak para peserta untuk tidak melupakan dan meninggalkan nilai-nilai yang telah didapat di pesantren. “Kalau kita masih merasa mahasiswa yang mempertahankan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, mari kita jangan lupa akar kita yaitu nilai-nilai pesantren,” tutur Kang Said.

“Mudah-mudahan kita tidak luntur, tidak terpengaruh baik itu tarikan ekstrem kanan maupun tarikan kiri liberal,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa selain mengajarkan nilai-nilai akhlak yang mulia, spiritual, moral, dan mental, pesantren juga mengajarkan keberkahan.

“Apa itu berkah? Berkah itu sedikit tapi bermanfaat, dari pada banyak tapi tidak ada gunanya,” kata kiai lulusan Pesantren Lirboyo ini.

Ia menghubungkan konsep berkah dan peran ulama di Indonesia yang meski memiliki pemahaman agama terbatas, namun mereka mampu membimbing dan mengarahkan umatnya sehingga tidak terjadi konflik dan perpecahan.

“(Ulama di Indonesia itu) Yatafaqqohu-nya (memahami agama) lumayan, tapi wayundziru qoumahum-nya (mengingatkan umatnya) maksimal. Sementara ulama Timur Tengah memahami agama maksimal, namun tidak bisa berbuat apa-apa melihat rakyatnya perang saudara,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K) via nu.or.id
Benarkah Tuduhan Bahwa NU Menghalalkan Zina di Tempat Pelacuran?

Benarkah Tuduhan Bahwa NU Menghalalkan Zina di Tempat Pelacuran?



Wartaislami.Com ~ Dibeberapa media dan jejaring sosial tersebar pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa NU (Nahdlatul Ulama) menghalalkan perzinahan ditempat pelacuran (lokalisasi). NU dikatakan mendukung hal-hal yang haram berupa praktek zina.

Pernyataan yang dilontarkan pada NU tersebut bermula dari tulisan hasil Bahtsul Masa-il LKNU (Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama) yang dipublikasikan dalam Situs Resmi NU Online pada 27 Januari 2014. (Baca : NU Online : Dasar Hukum yang Membolehkan Lokalisasi atau di MMN di Dasar Hukum Kebolehan Lokalisasi).
Pada publikasi dalam Situs Resmi NU Online, terdapat beberapa poin yang penting untuk digaris bawahi, diantaranya adalah :

    Lokalisasi hadir sebagai solusi pemerintah untuk mengurangi dampak negatif perzinahan, bukan menghalalkannya. Dengan dilokalisir, efek negatif perzinahan dapat dikelola dan dikontrol sehingga tidak menyebar ke masyarakat secara luas, termasuk penyebaran virus HIV. Dengan kontrol yang ketat dan penyadaran yang terencana, secara perlahan keberadaan lokalisasi akan tutup dengan sendirinya karena para penghuninya telah sadar dan menemukan jalan lain yang lebih santun.
    Tujuan ini akan tercapai manakala program lokalisasi dibarengi dengan konsistensi kebijakan dan usaha secara massif untuk menyelesaikan inti masalahnya. Kemiskinan, ketimpangan sosial, peyelewengan aturan, dan tatatan sosial harus diatasi.
    Mereka yang melakukan praktik perzinahan di luar lokalisasi juga harus ditindak tegas. Jika saja prasyarat tersebut dilakukan, tentu mafsadahnya lebih ringan dibanding kondisi yang kita lihat sekarang.

Jauh sebelumnya, hasil Bahtsul Masail LKNU tentang Penanggulangan HIV-AIDS tersebut sudah dipublikasikan secara online oleh beberapa situs, diantaranya LKNU Lampung (www.lknulampung.org) dengan arsip yang lebih lengkap.

Banyak hal yang dibahas berkaitan dengan HIV/AIDS dalam rumusan Bahtsul Masail tersebut. Diantaranya terkait siapa yang berkewajiban menghilangkan penyakit HIV, posisi Jam’iyyah NU dan Negara dalam konteks HIV/AIDS, hukum penggunaan dan sosialisasi kondom untuk pencegahan HIV&AIDS, pandangan NU terhadap hak-hak Odha, pandangan NU terhadap lokalisasi sebagai sarana untuk meminimalisir penularan HIV dan inveksi menular seks lainnya di masyarakat, dan lain sebagainya.

Dalam rumusan Bahtsul Masail tersebut, secara jelas dan terang bederang menyatakan bahwa  lokalisasi hadir sebagai solusi pemerintah, dalam hal ini adalah penguasa, yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif perzinahan, bukan menghalalkannya atau membolehkannya.

Terkait kebenaran dan maksud dari hasil Bahtsul Masail tersebut. MMN mendapatkan konfirmasi melalui salah satu pengurus PCNU Surabaya. Bahwa telah dilakukan konfirmasi kepada KH Ramadlan Khatib dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang juga anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

KH Ramadlan Khatib mengatakan bahwa para pengidab AIDS boleh dilokalisasikan untuk deteksi dan pencegahan penularan, bukan lokasisasi untuk pekerja seks komersial (WTS).

"Tidak benar. Yang saya ikuti hasilnya adalah PARA PENGIDAP AIDS BOLEH DILOKALISASIKAN UNTUK DETEKSI DAN PENCEGAHAN PENULARAN, BUKAN LOKALISASI UNTUK WTS", demikian SMS yang dikirim kepada salah satu pengurus NU Surabaya (8/2/2014) yang diperoleh oleh MMN.


    Redaktur : Ibnu Manshur/muslimedianews.com


Hubungan NU, Kiai dan Kitab Kuning Tidak Bisa Dipisahkan

Hubungan NU, Kiai dan Kitab Kuning Tidak Bisa Dipisahkan



Jamiyyah Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang didirikan oleh ulama pondok pesantren di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926. Oleh karena sejak awal NU didirikan oleh ulama pondok pesantren, maka organisasi terbesar di dunia yang bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan dan sosial ini hingga kapan pun sama sekali tidak bisa dipisahkan dari para kiai atau ulama dan para santri pondok pesantren.

Memisahkan peran para kiai dan santri dari tubuh NU sama dengan membunuh NU karena mencabut roh dari tubuhnya, dan sama dengan memisahkan mereka dari kitab-kitab kuning, yakni referensi primer ilmiah keagamaan di dunia pondok pesantren.

Demikian pernyataan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin yang akrab dipanggil Gus Ishom saat menjelaskan tentang hubungan antara NU, Kiai dan Kitab Kuning, Ahad (27/03).

Ulama muda ini menduga kuat, bahwa dipilihnya nama Nahdlatul Ulama yang berbahasa Arab - yang dalam Bahasa Indonesia berarti "Kebangkitan Ulama"- juga diambil dari kitab kuning yang sangat populer di dunia pesantren.

Kata "Nahdlah" menurutnya sangat mungkin diilhami oleh satu bait syair ke 435 dalam kitab Alfiyyah Ibnu Mālik dalam Bab A'māl Ism al-Fā'il.

"Selain itu kata nahdlah juga mungkin diilhami oleh kata bijak dari al-Syaikh 'Abd al-Karīm Ibn 'Athaillah al-Sakandari dalam kitab Ilmu Tashawuf terkenal, al-Hikam yang bermakna Janganlah kau pergauli orang yang hāl (suasana hati)-nya tidak membangkitkan-mu dan ucapannya pun tidak menunjukkanmu kepada Allah," jelasnya.

Sehingga menurutnya nasihat Ibnu Athaillah tersebut patut dijadikan pedoman, bahwa pada hakikatnya berorganisasi di lingkungan NU hanya bermanfaat jika teman-teman sepergaulan mampu menciptakan suasana batin dan perkataan yang membangkitkan semangat untuk meraih cita-cita tertinggi, yakni selalu dekat dengan Allah SWT.

Dan hal tersebut tutur Kiai kelahiran Pringsewu Lampung ini, akan menciptakan perilaku anggota yang ada didalamnya untuk senantiasa sejalan dengan aturan agama, tidak kurang dan tidak pula berlebihan. Dan pada akhirnya Hadits Nabi yang berarti "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya" akan benar benar menjadi kenyataan. (Muhammad Faizin/Fathoni) via nu.or.id

MUI Susun Kriteria Fatwa Sesat, Gus Mus: MUI itu sebenarnya makhluk apa?

MUI Susun Kriteria Fatwa Sesat, Gus Mus: MUI itu sebenarnya makhluk apa?


Wartaislami.com ~ Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin, beberapa hari lalu menyatakan sedang menyusun beberapa fatwa ajaran sesat. Fatwa ini, kata Ketua MUI, nantinya akan disosialisasikan hingga ke MUI daerah demi mencegah perkembangan ajaran sesat.

“Sehingga jika ditemukan di daerah, MUI daerah bisa langsung memfatwakan kelompok tersebut sesat, tidak perlu harus menunggu dari pusat,” kata Ma’ruf Amin seperti dikutipRepublika, Selasa 22 Maret 2016.

Dilansir dari Islamindonesia.id, pernyataan Ma’ruf pun menuai respon kontroversial, khususnya di media sosial. Seperti diketahui, sebagian tokoh masyarakat, termasuk KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri, sejak lama mempertanyakan otoritas MUI sebagai lembaga fatwa di Indonesia.

“MUI itu sebenarnya makhluk apa? Enggak pernah dijelaskan. Ujuk-ujuk (tiba-tiba) dijadikan lembaga fatwa, aneh sekali,” kata Gus Mus dalam sebuah pertemuan di Semarang, 30 Maret tahun lalu.

Status MUI, menurut Pengasuh Ponpes Raudlatu Thalibin Rembang ini,  belum jelas dan membingungkan. “Instansi pemerintah? Ormas? Orsospol? Lembaga pemerintahankah? Tidak jelas, kan? Tapi ada anggaran APBN. Ini jadi bingungi (membingungkan),” katanya.

Bukan hanya itu, menurut Gus Mus, ketidakjelasan ini juga berdampak pada istilah ‘ulama’ yang bisa disalahgunakan. Di MUI, katanya, asal bisa jadi pengurus MUI maka akan disebut sebagai ulama, meski hanya menjadi sekretaris maupun juru tulis.

“Ya, juru tulis itu akan disebut ulama. Mosok pengurus majelis ulama tidak ulama,” sindir pria jebolan Al Azhar Mesir ini seperti dikutip Tempo.co.

Terkait MUI yang suka mengeluarkan fatwa haram pun pernah dikritisi oleh Tio Pakusadewo tahun lalu. Saat itu MUI mengeluarkan fatwa haram untuk BPJS. Tio pun mempertanyakan kewenangan MUI yang mengeluarkan fatwa haram itu, sementara MUI bukan Nabi.

“Bagaimana kalau saya mengharamkan MUI di Indonesia? MUI itu manusia semua isinya, emang mereka nabi,” ujar Tio, saat ditemui di Kedai Filosofi Kopi, kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat 31 Juli 2015.

“Orang Indonesia kadang ngga masuk akal, apa hak dia (sebut BPJS Haram), siapa yang mengangkat dia (MUI),” sambungnya.

Selain status kelembagaan, informasi keuangan MUI ini juga dipertanyakan oleh masyarakat. Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP), Abdulhamid Diporamono, menilai tidak ada keterbukaan program dan laporan keuangan di lembaga itu secara periodik. Adalah wajar, kata Abdulhamid, apabila masyarakat mempertanyakan keterbukaan informasi MUI yang mensertifikasi banyak jenis barang.

“Jika makin banyak obyek yang disertifikasi maka akan semakin banyak pula uang masuk ke MUI,” katanya.

Dalam siaran persnya kemarin 27 Maret 2016, KIP meminta MUI membuka laporan keuangannya ke publik. Abdulhamid mengatakan MUI perlu membuka laporan keuangannya karena lembaga itu mendapatkan dana dari pemerintah dan masyarakat.

Source: www.satuislam.org
Jenis Nikmat Apakah yang Paling Tinggi?

Jenis Nikmat Apakah yang Paling Tinggi?



Allah SWT telah menganugerahkan kenikmatan kepada manusia dalam kehidupannya di dunia. Saking banyaknya kenikmatan-kenikmatan yang diperoleh tersebut, bisa dipastikan tidak bakal bisa dihitung satu persatu oleh manusia. Namun nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada kita ini bisa dihitung bedasarkan kategorinya menjadi 5 jenis seperti yang diterangkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin.

Demikian kata Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim di depan Jamaah Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang memadati Aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (27/3).

Lebih lanjut Alumni Pesantren Pandanaran Yogyakarta ini menjelaskan kategori nikmat yang dianugerahkan kepada manusia meliputi pertama yaitu nikmat harta benda atau kekayaan. "Nikmat ini merupakan nikmat yang paling rendah. Namun pada prakteknya dizaman sekarang ini justru ini yang paling diburu oleh manusia," ujarnya.

Jenis nikmat yang kedua adalah nikmat kesehatan. Nikmat kesehatan ini menurut Taufiq tidak bisa diukur dan lebih berharga dibandingkan dengan nikmat kekayaan. "Saking bernilainya nikmat ini, harta kekayaan manusia bisa habis untuk mengembalikan nikmat kesehatan yang diberikan oleh Allah," terangnya.

Nikmat yang ketiga adalah kenikmatan telah diberikan kelengkapan anggota tubuh dan panca indera. Kenikmatan ini menurut taufiq sangat patut disyukuri karena bila sampai kehilangan salah satu kelengkapan tubuh maka bisa dipastikan kelancaran dalam beraktifitas akan terganggu.

"Ingat jangan sampai kita mengomersilkan anggota tubuh kita dengan menjualnya untuk kepentingan materi dan ingat juga jika anggota tubuh kita tidak ada spare part-nya. Jaga baik-baik," candanya diikuti senyum para jamaah.

Selanjutnya nikmat yang keempat adalah nikmat diberikannya ruh atau nyawa dalam badan kita. Taufiq menjelaskan bahwa dengan adanya ruh inilah manusia dapat beraktifitas. "Kita dapat menikmati dunia ini serta masih dihargai oleh orang lain karena masih ada ruh ditubuh kita," jelasnya.

Dari 4 jenis nikmat tersebut yang paling tinggi adalah nikmat yang kelima yaitu nikmat iman dan Islam. "Kita harus bersyukur telah dilahirkan dalam Islam dan keimanan. Karena nikmat inilah yang akan menjadi bekal bagi kehidupan yang paling abadi yaitu kehidupan di akhirat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)



Sumber :nu.or.id
Pesan Kyai Mimun Zaubair Untuk Guru, Dosen dan Kyai

Pesan Kyai Mimun Zaubair Untuk Guru, Dosen dan Kyai


Wartaislami.com ~ Dalam setiap kesempatan, baik di hadapan para santrinya, para tamu dari berbagai kalangan dan profesi serta pengajian-pengajian umum, KH. Maimun Zubair selalu menyampaikan pesan-pesan bijak dan menyentuh. Salah satu pesan Ulama sepuh yang  akrab dipanggil Mbah Mun yang patut untuk direnungkan adalah nasehat beliau kepada para guru, dosen bahkan Kiai.

Mbah Mun menasihati para guru, dosen dan Kiai tak hanya mengandalkan bayaran dari profesinya. Beliau juga mengingatkan kepada para Kiai agar tidak selalu berharap pemberian orang lain. Oleh karena itu, mereka harus memiliki usaha sampingan.

“Nak, kamu kalau jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetep usaha, harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain, karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah”. Demikian Pesan Mbah Mun.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang itu juga memberikan lima nasihat penting untuk kita terkait dengan berbagai aspek kehidupan. Berikut kelima nasihat itu:

1. Ojo kakehan suudzon mundak peteng ati lan rekoso urip (jangan sering buruk sangka biar hatimu tidak gelap dan tidak hidup sengsara)

2. Benci ojo nemen-nemen mundak nyanding (jangan terlalu benci nanti malah nempel)

3. Kudu wani ngetoke gagah senajan rasane kudu nangis (harus berani tampil kuat meski sebenarnya pengen nangis)

4. Aku seneng karo wong sing ora patio weruh donyo (aku suka dengan orang yang tidak begitu mengurusi harta dunia)

5. Yen duwe karep kok durung istitho’ah ojo dipikir nemen-nemen mundak cepet mati (kalau punya keinginan tapi kok belum mampu maka jangan terlalu dipikir supaya tidak cepat mati)

6. Santri yen wes muleh kudu wani istiqomah (santri kalau sudah pulang kampung dari tempat belajar/pondok pesantren harus berani istiqomah)

Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Kita juga diberi kemampuan untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

Sumber Prapatanjaini via serambimata.com
Rektor Al Ahgaf Yaman: Tanpa NU, Indonesia Bisa Hancur

Rektor Al Ahgaf Yaman: Tanpa NU, Indonesia Bisa Hancur


Wartaislami.Com ~ Utuhnya Republik Indonesia saat ini tidak terlepas dari peran Nahdlatul Ulama (NU). Tanpa NU, Indonesia bisa mengalami kerusakan. Sebab, sejak berdiri NU merupakan organisasi besar di Indonesia yang hingga kini konsisten menyuarakan sekaligus menggerakkan spirit cinta tanah air.

Demikian disampaikan Habib Abdullah Muhammad Baharun saat mengisi Seminar Internasional di Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (26/3).

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Konfercab PCNU Pamekasan yang akhirnya ditempatkan di Pesantren Kebun Baru Pamekasan, Ahad (27/3).

Rektor Al-Ahqoff Yaman ini menyebut NU sebagai rumahnya sendiri. Sebab, paham keagamaan dan kebangsaan yang dikristalkan NU menurutnya sudah lama mendarah daging dalam dirinya.

"NU bukan hal baru lagi bagi saya. Sudah sejak lama saya berhubungan dengan NU. NU menjadi benteng utama dalam merawat dan menguatkan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Sudah sejak lama, bahkan mulai masa penjajahan, NU sudah ada untuk menyebarkan paham tersebut. Keberadaan negara Indonesia yang penuh dengan keberagaman mampu dipertahankan oleh NU," terangnya.

Habib Abdullah juga menegaskan, segala upaya sebagian kelompok yang hendak memisahkan diri dari Republik Indonesia jelas menyalahi aturan agama. Pihaknya pun yakin, sekalipun berhasil memisahkan diri dari bangsa Indonesia gerakan itu akan mengalami kehancuran.

Habib Abdullah berharap semua itu menjadi pelajaran tersendiri bagi segenap ulama yang terlibat dalam Konfercab NU Pamekasan. Ia mengimbau agar konfercab dijadikan wasilah saja.

"Sementara tujuannya ialah penguatan organisasi demi kemaslahatan umat. Selama ini ulama-ulama Madura dijadikan panutan oleh wilayah lainnya. Sehingga, setelah terpilihnya ketua baru nantinya diharapkan agar segenap ulama di Kabupaten Pamekasan memiliki spirit baru dalam membina umat," tandasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K/NU Online)

Pak Syihab yang Dekat dengan Kiai

Pak Syihab yang Dekat dengan Kiai


Salah satu anggota keluarga saya ada seseorang namanya Syihabuddin. Ia adalah suami dari sepupu saya dari jalur ayah. Bagi saya pribadi, sosok seperti Pak Sihab (begitu kalangan keluarga saya biasa memanggil) adalah orang yang unik. Aktivitasnya sehari-hari banyak dihabiskan dalam dunia pendidikan, meskipun ia juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan juga organisasi politik. Namun masyarakat mengenalnya sebagai orang pendidikan. Ia merupakan pegawai negeri sipil dalam lingkungan pendidikan.

Dalam dunia pendidikan ini, karir Pak Syihab sudah sangat lama dan sudah dituakan dalam dunia pendidikan formal kelas kabupaten. Banyak di antara guru-guru di kabupaten Pamekasan tempat tinggal saya yang dulunya juga adalah murid Pak Syihab. Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, adalah salah satu muridnya. Hari-harinya banyak diisi dengan mengajar dan mengajar. Senin sampai Jumat di tempat dinas. Sabtu mengajar di Perguruan Tinggi Swasta setempat. Minggu ia buat mengajar di sebuah madrasah di pelosok desa.

Dalam bidang yang ia tekuni itu Pak Syihabuddin sangat dihormati bawahannya. Meskipun tidak pernah marah murid-murid semuanya sungkan pada dirinya, demikian juga para guru dan staf bawahannya. Seringnya ketika melihat anak didiknya yang melanggar atau nakal Pak Syihab hanya melempar senyum saja pada si anak dan seketika anak itu langsung malu dan sungkan. Si anak pun menjadi jera. Pak Syihab merupakan sosok yang berkharisma. Hal demikian ini membuat posisinya sebagai kepala madrasah sering dimutasi dengan tujuan promosi dan memperbaiki kualitas madrasah yang lain.

Dalam posisinya sebagai pemimpin, Pak Syihab lebih mengutamakan contoh daripada instruksi. Bayangkan, ketika ada anak buahnya lembur, ia juga lembur, menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya sendiri. Ketika guru atau stafnya pulang semua barulah ia pulang juga. Jadi dirinya selalu pulang terakhir sendiri.

Keteladanan Pak Syihab sebagai Kepala Madrasah sangat berkesan bagi bawahannya. Salah seorang guru madrasah yang dipimpin Pak Syihab pernah bercerita kepada penulis. Bahwasanya ketika Pak Syihab harus menghadiri rapat di Kementerian Agama yang jaraknya sekitar 22 (dua puluh dua) KM dari madrasahnya, Pak Syihab tidak langsung pulang ke rumah yang jaraknya dekat dengan kantor kemag tersebut. Melainkan masih menyempatkan diri kembali ke madrasahnya dan memantau apa masih ada salah seorang guru atau staf yang masih di situ. Waktu itu padahal sudah sore.

Dalam kehidupan beragama, Pak Syihab ini tidak seperti keluarga besar kami. Rupanya ia tidak mau tahlilan, memang ia duduk sebagai salah satu pengurus Muhammadiyah setempat. Namun demikian bukan berarti Pak Syihab lalu menunjukkan rasa anti terhadap keluarga kami. Dan keluarga besar kami pun baik kepada dirinya dan keluarganya. Ketika perayaan Idul Fitri keluarga kami ke makam para kakek dan nenek kami, Pak Syihab pun juga ikut. Tapi jika kami baca tahlil Pak Syihab hanya berdoa di samping makam mendoakan ahli kubur. Kesimpulan saya, berarti Pak Syihab bukan tidak percaya sampainya doa melainkan hanya tidak mau tahlilan.

Meskipun demikian bukan berarti Pak Syihab anti pada kiai. Dirinya juga sering silaturahim pada kiai dan meminta doanya. Bahkan dalam banyak hal jika ia harus mengambil kebijakan atau menghadapi masalah dalam pekerjaannya, ia menghadap kiai-kiai. Dulu, dikabarkan ia juga pernah nyantri di Pesantren.

Di daerah Pamekasan, Pak Syihab memiliki ikatan silaturahim dan emosional dengan para kiai ternama di sana. Bahkan ketika ia hendak perpisahan karena harus mutasi dari MTs Negeri tempat kami, Pak Syihab kirim salam pada Kiai Madani, ia mohon maaf dalam perpisahan tidak bisa memberi kabar sang kiai karena pastilah dirinya (Pak Syihab) tidak kuat menahan air mata karena haru. Rupanya Pak Syihab mendapat tempatnya tersendiri dalam hati Pak Kiai. Demikian pula denga kiai yang lain.

Awal tahun yang lalu Pak Syihabuddin wafat. Kewafatannya ini sebagaimana pribadinya memunculkan peristiwa yang unik pula karena dihadiri oleh kalangan kiai-kiai NU dan Pengurus Muhammadiyah Pamekasan Madura. Pada acara pemulasaraan jenazah Pak Syihab, semula para Pengurus Muhammadiyah menginginkan diselenggarakan saja oleh pengurus Muhammadiyah dan diperlakukan ‘ala Muhammadiyah.’ Saya tidak tahu bagaimana pemulasaraan mayat ala Muhammadiyah. Namun ketika itu seorang kiai (kalau tak keliru) namanya Kiai Hamid Mannan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pamekasan melakukan interupsi.

“Maaf saya menyanggah. Saya kira jenazah Kiai Syihab ini harus saya laksanakan ala NU dan nanti harus ditahlili. Mengapa? Karena Almarhum adalah sahabat saya, dan ia pernah mondok di pesantren bersama saya. Jadi saya merasa wajib menghormati Almarhum,” katanya.

Mendengar interupsi itu maka masyarakat yang hadir langsung melaksanakan pemulasaraan terhadap jenazah Pak Syihab dan dilaksanakan ala NU serta di tahlili. Alhamdulillah mungkin itulah berkah kedekatan dengan Kiai. Kepada beliau Al-Fatihah. (R. Ahmad Nur Kholis) via nu.or.id

Rektor Universitas Lebanon : Waspada, Kafirisasi Kini Menuju Indonesia

Rektor Universitas Lebanon : Waspada, Kafirisasi Kini Menuju Indonesia



Wartaislami.com ~ Rektor Universitas Lebanon, Syekh Abdul Nasser Jabir menilai perlunya kewaspadaan akan bahaya kafirisasi yang belakangan marak terjadi di dunia. Hal itu di anggap ancaman besar dan bisa menghancurkan kerukunan umat Islam.

Syekh Abdul Nasser menuturkan, “Waspada akan kafirisasi karena akan menimbulkan kehancuran, seperti yang terjadi di Timur Tengah” dikutip dari republika.com.

Hal itu disampaikan saat melakukan kunjungan ke Indonesia dan bertemu tokoh Islam yang ada di Indonesia. Syekh Abdul Nasser Jabri juga melakukan pertemuan dan mendatangi langsung kantor Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta.

Syekh Abdul Nasser menilai, pergerakan kafirisasi kini mulai menjalar di India, Malaysia, dan menuju Indonesia.

Hal itu disampaikan dihadapan tokoh Majelis Ulama Indonesia, PP Muhamdiyah dan Pengurus Besar Nahdatul Ulama saat ia melakukan kunjungan di organisasi keislaman tersebut.

Source: www.islaminesia.com

Luar Biasa, Harlah Muslimat NU Pecahkan Dua Rekor Muri Sekaligus

Luar Biasa, Harlah Muslimat NU Pecahkan Dua Rekor Muri Sekaligus



Muslimat NU telah berusia genap 70 tahun. Puncak peringatan hari lahir (harlah) yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, kali ini jauh lebih meriah dibandingkan sebelumnya. Tak tanggung-tanggung dalam satu acara organisasi kaum ibu ini memecahkan dua rekor Muri (Musium Rekor Indonesia) sekaligus.

Pertama, lautan manusia berjilbab hijau dengan jumlah 50 ribu peserta yang dalam kurun waktu 10 detik berubah menjadi putih. Seketika Stadion kebanggaan Aremania ini menjadi putih. Tak lama dari itu, seluruh peserta secara serentak menabuh rebana mengumandangkan shalawat Nabi diiringi oleh paduan suara Muslimat dan el-Kiswah Surabaya. Seluruh pejabat yang hadir juga tak ketinggalan menabuh rebana. Aksi ini tercatat sebagai rekor kedua yang dipecahkan Muslimat NU pada acara akbar ini. Suasana Stadion Gajayana semakin semarak setelah 1941 pelajar dan santri NU se-Malang membentuk konfigurasi harlah ke-70 Muslimat NU.

Wakil Ketua Umum dan Direktur Utama MURI Aylawati Sarwono dan Senior Manager MURI Awan Rahargo hadir menyaksikan pemecahan rekor ini.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, agenda pemecahan rekor tidak bertujuan mencari sensasi belaka. Namun pemecahan rekor tersebut menyampaikan pesan bahwa Muslimat NU senantiasa menguatkan UKM dan industri kreatif yang diinisiasi kaum perempuan. "Kemandirian adalah ciri khas Muslimat NU," tandasnya.

Puncak Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU dihadiri oleh puluhan ribu anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia. Harlah Ke-70 Muslimat NU yang bertema "Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera" kali ini bertujuan untuk membuka sarana silaturahmi dan konsolidasi nasional Muslimat NU dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Presiden Jokowi hadir bersama menteri kabinet kerja, tampak dideretan terdepan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, Gubernur Jatim Soekarwo, Istri Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid Sinta Nuriyah, dan Yenni Wahid. (Rof Maulana/Mahbib) via nu.or.id
Mengapa Kita diharuskan Bermadzhab? tidak Langsung Merujul Al Qur'an dan Hadits

Mengapa Kita diharuskan Bermadzhab? tidak Langsung Merujul Al Qur'an dan Hadits



Wartaislami.com ~ Al-Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab Al-Mizan al-Kubra (1/34) menulis:
“Jika tuanku yang mulia Ali al-Khawwash rahimahullah ditanya oleh seseorang tentang mengikuti madzhab tertentu sekarang ini, apakah wajib atau tidak, maka beliau menjawab, ‘Anda harus mengikuti suatu madzhab selama Anda belum sampai mengetahui inti agama, karena khawatir akan jatuh pada kesesatan’. Dan begitulah yang harus diamalkan oleh orang pada zaman ini.”[1]

Inilah yang sering dilupakan oleh sebagian umat Islam saat ini. Mereka mempropagandakan agar umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, langsung mengambil hukum darinya tanpa melalui ijtihad para ulama, sedangkan mereka belum sampai mengetahui inti agama. Imam Ali al-Khawwash telah mengingatkan kita agar mengikuti suatu madzhab selama kita belum mencapai tingkat mujtahid. Seorang yang awam, jika langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, lalu mengeluarkan hukum dari keduanya tanpa mempertimbangkan bagaimana para ulama mujtahid memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi rujukannya itu, maka sangat dimungkinkan fatwa yang dikeluarkanya sesat dan menyesatkan.

Tidak Semua Sahabat Nabi Ahli Fatwa

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya (hal. 216) berkata, “Tidaklah semua sahabat itu ahli fatwa, dan agama pun tidak diambil dari mereka semua. (Agama) hanya diambil secara khusus dari sahabat-sahabat yang menghafal Al-Qur’an dan memahami kandungannya, yang mengetahui dengan baik persoalannasikh dan mansukh, mutasyabbih dan muhkam, dan penunjukan (pemahaman)-nya sebagaimana yang mereka terima dari Rasulullah Saw atau dari orang-orang yang (langsung) mendengar dari beliau, dan mereka dikenal dengan sebutan al Qurra’…”

Keterangan Ibnu Khaldun ini memperlihatkan bahwa meskipun para sahabat adalah orang-orang yang berjumpa dengan Rasulullah Saw (langsung ataupun tidak), namun setelah wafatnya beliau, tidaklah secara otomatis mereka semua menjadi ahli agama Islam yang berhak mengeluarkan fatwa. Dari ribuan sahabat yang ditinggalkan Nabi (saat haji wada’ beliau berhaji bersama sekitar 124 ribu sahabat), hanya sekitar 130 orang saja yang menjadi rujukan saat dibutuhkan fatwa, itu pun dengan jumlah fatwa yang berbeda-beda; ada yang banyak fatwanya (sering berfatwa), ada yang sedang-sedang saja, dan ada pula yang berfatwa sesekali saja. Dari sekitar 130 orang sahabat itu, yang paling sering berfatwa hanya 7 orang saja, yakni Sayidina Umar bin Khaththab ra, Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, Sayidina Abdullah bin Mas’ud ra, Sayidina Abdullah bin Abbas ra, Sayidina Zaid bin Tsabit ra, Sayidina Abdullah bin Umar ra, dan Sayidah Aisyah ra. 

Perhatikanlah keadaan para sahabat yang demikian itu, ternyata tidak semua mereka mampu mengeluarkan saripati hukum syariat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Saat Rasulullah Saw wafat, beliau meninggalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bertebaran tertulis pada tulang, pelepah, tembikar, batu atau apa saja yang bisa ditulis. Sementara Hadits-hadits Nabi belum ditulis dan masih tersimpan di dalam dada para sahabat dengan jumlah yang berbeda-beda.

Itulah sebabnya saat mereka membutuhkan fatwa hukum, yang menjadi rujukan mereka adalah sahabat yang memiliki pengetahuan luas tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan kata lain, para sahabat pun meminta fatwa kepada sahabat yang lain dan ini menjadi bukti bahwa tidak semua sahabat ‘berani’ kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa melalui sahabatyang termasuk golongan ahli fatwa.

Dari sahabat golongan ahli fatwa inilah muncul apa yang kita kenal dengan Madzhab (Qaul) ash-Shahabi. Dengan keluasan ilmu, mereka berijtihad dan mengajarkan hasil ijthad mereka itu kepada murid-muridnya dan terus berlanjut dari generasi ke generasi hingga memunculkan madzhab yang cukup banyak; dan yang bertahan hingga saat ini hanyalah empat madzhab, yakni madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali.

Pengertian Madzhab dan Sebab Munculnya

Secara bahasa, madzhab artinya jalan (thariqah).[2] Sedangkan secara istilah, madzhab adalah hukum dalam berbagai masalah yang diambil, diyakini dan dipilih oleh para imam mujtahid.[3] Karena madzhab berkaitan dengan hukum, maka madzhab tidak mungkin terbentuk pada persoalan-persoalan yang hukumnya sudah jelas (qath’i).

Tatkala suatu persoalan dipertanyakan hukumnya dan tidak ada penjelasan secara qath’i di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentangnya, di sinilah muncul ijtihad para mujtahid setelah mempertimbangkan secara mendalam sumber-sumber hukum Islam yang berlaku, lalu hasil ijtihad itu mereka ajarkan dan disebarluaskan serta diamalkan oleh para pengikutnya. Walhasil, muncullah madzhab sebagaimana yang kita kenal saat ini. Dengan demikian, madzhab pada hakikatnya adalah hasil penelitian secara mendalam yang dilakukan oleh para ulama mujtahid untuk mengetahui hukum Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an, Al-Hadits serta dalil-dalil lainnya.

Mengapa Hanya Empat Madzhab?

Dalam kitab Sullam al-Wushul dituliskan: “Nabi Saw bersabda, ‘Ikutilah as- sawad al-a’zham (mayoritas umat Islam)’. Dan ketika madzhab-madzhab yang benar telah tiada, dengan wafatnya para imamnya, kecuali empat madzhab yang pengikutnya tersebar luas, maka mengikutinya berarti mengikuti mayoritas, dan keluar dari madzhab yang empat itu berarti keluar dari mayoritas.”[4] 

Sebenarnya madzhab yang boleh diikuti tidaklah terbatas hanya pada empat madzhab saja. Masih banyak madzhab lainnya yang diterima umat Islam, seperti madzhab dua Sufyan (Ats-Tsauri dan Uyainah), madzhab Ishaq bin Rahawaih, madzhab Az-Zhahiri dan madzhab Al-awza’i.[5] NamunAhlussunnah wal Jama’ah hingga saat ini hanya menerima dan mengamalkan fatwa-fatwa dari para imam madzhab yang empat. Setidaknya ada dua faktor yang menyababkan itu terjadi.

Pertama, kreativitas murid-murid imam madzhab yang empat. Para murid ini mengumpulkan pendapat-pendapat imamnya, lalu menulis dan membukukannya sehingga terkodifikasikan dengan baik. Para murid ini pun adalah orang-orang yang terpercaya sehingga yang mereka tuliskan adalah yang benar-benar berasal dari para imam mereka. Mereka pun secara jujur menyampaikan mana yang hasil ijtihad para imam dan mana pula yang hasil ijtihad mereka sebagai murid. Walhasil, validitas sumber fatwa-fatwa yang dituliskan itu tidak diragukan lagi.

Kedua, madzhab yang empat ini telah teruji ke-shahihan-nya, karena metode istinbath yang jelas dan sistematik. Hal ini menjadikan fatwa-fatwa yang muncul dari empat madzhab ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sayyid Alawi bin Ahmad as-Seggaf berkata, “…Para tokohnya (tokoh madzhab yang empat) telah mencurahkan kemampuan mereka untuk meneliti setiap pendapat serta menjelaskan setiap sesuatu yang memang pernah diucapkan oleh mujtahidnya atau yang tidak pernah dikatakan, sehingga para pengikutnya merasa aman (tidak merasa ragu atau khawatir) akan terjadinya perubahan, distorsi pemahaman, serta mereka juga mengetahui pendapat yangshahih dan yang dhaif.”[6] 

Nah, alasan-alasan inilah setidaknya yang menyebabkan kaumAhlussunnah wal Jam’ah memilih untuk menerima dan mengamalkan fatwa-fatwa dari madzhab yang empat; sedangkan madzhab-madzhab lainnya hilang seiring berjalannya waktu karena tidak ditopang oleh faktor-faktor sebagaimana yang dimiliki oleh madzhab yang empat.

Mengapa Harus Bermadzhab?

Jawaban sederhana dari sub judul di atas adalah karena kita belum memiliki kemampuan untuk menjadi seorang mujtahid (orang yang berhak berijtihad). Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahkan seorang Muslim sekaliber para sahabat pun tidak seluruhnya menjadi mujtahid. Sebagian besar dari mereka justru meminta fatwa kepada sahabat-sahabat lainnya yang tergolong mujtahid, yang jumlahnya sangat sedikit.

Jika demikian kenyataannya, bagaimana dengan kita saat ini? Akankah setiap kita berijtihad dengan langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang untuk mengetahui arti ayat Al-Qur’an yang kita baca ataupun Al-Hadits harus membuka terjemahnya? Kalau seperti itu kemampuan kita, layakkah kita mengajak umat Islam ini untuk tidak bermadzhab dan mendorong mereka untuk langsung mengeluarkan hukum dari kedua sumber utama hukum Islam itu?

Untuk menjadi seorang mujtahid tidaklah mudah. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Beberapa di antaranya, harus menguasai seluk beluk Al-Qur’an, termasuk di dalamnya tentang ayat-ayat hukum, asbabun nuzul, nasikh – mansukh, mujmal – mubayyan, al-‘am wa al-khash, dan sebagainya. Seorang mujtahid juga harus menguasai seluk beluk Hadits, termasuk di dalamnyaasbabul wurud, rijal al-hadits, dan sebagainya. Juga harus menguasai persoalan-persoalan yang sudah menjadi ijma’, memahami qiyas, menguasai ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharf, balaghah, dan sebagainya. Juga harus menguasai ilmu ushul fiqh dan disiplin ilmu lainnya yang cukup banyak.[7]

Jika persyaratan yang demikian itu belum kita miliki, maka sudah selayaknya kita bermadzhab. Bahkan, ulama sekaliber Imam Bukhari, Imam Nawawi, Imam Al-Ghazali, dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani saja masih bermadzhab. Apabila dibandingkan keadaan kita dengan para ulama besar tersebut, layakkah kita melepaskan diri dari bermadzhab?

Kenyataan bahwa para ulama besar saja bermadzhab menjadi jawaban telak atas ajakan kelompok anti madzhab untuk meninggalkan pendapat para ulama dan merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam menetapkan suatu hukum. Bagaimana mungkin kita akan meninggalkan pendapat ulama, sedangkan untuk menentukan sebuah Hadits itu shahih ataudhaif saja kita harus merujuk kepada para ulama Hadits. Kita meyakini ke-shahih-an Hadits-hadits yang terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari tentu bukan karena hasil penelitian kita, namun semata-mata kita bersandar kepada fatwa Imam Bukhari atas status Hadits-hadits  tersebut. Dengan cara seperti itukah kita akan menolak pendapat para ulama, lalu mengajak langsung kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits? Sungguh ajakan dan propaganda yang terdengar manis namun menimbulkan banyak hal pahit di tengah kehidupan umat Islam. Maka, jalan yang paling selamat adalah memilih bermadzhab dengan salah satu dari empat madzhab yang ada. Wallaahu a’lam. (J. Rinaldi)



Source: www.muslimoderat.com
KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa

KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa


Oleh Munawir Aziz
Jaringan ulama santri berjuang secara gigih dalam memperjuangkan negeri. Perjuangan para kiai dan santri pesantren dimulai embrionya sejak berabad silam. Catatan sejarah menunjukkan, bahwa jaringan pesantren berkontribusi penting dalam perlawanan kolonial pada masa Perang Jawa (1825-1830). Para kiai pesantren menjadi tulang punggung laskar pendukung Dipanegara dalam Perang Jawa.

Akan tetapi, fakta sejarah ini terkesan hanya samar-samar dituliskan. Narasi pengetahuan dan ilmu sosial di Indonesia, belum memberikan ruang yang lebar bagi aksi para kiai-santri dalam berjuang melawan penjajah serta mengawal kemerdekaan Indonesia. Dari riset tentang Perang Jawa mutakhir, yang tampil justru para ksatria yang dianggap berjuang dengan gagah. Sedangkan, para kiai-santri dikesampingkan dalam peranan menghadapi tentara Belanda (Carey, 2007; Djamhari, 2004).

Pada titik ini, jaringan ulama-santri perlu dibangkitkan kembali dalam narasi sejarah dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penulisan ulang, dengan sudut pandang yang berimbang, serta memberi ruang bagi kisah-kisah para kiai pesantren perlu dihadirkan untuk dipahami pembaca.

Kisah para Kiai dalam jaringan Perang Jawa, memunculkan nama Kiai Hasan Tuqo serta putranya Syekh Abdurrauf yang menjadi panglima perang pada masa itu. Perjuangan Kiai Hasan Tuqo dan Syekh Abdurrauf, diteruskan oleh cucunya, Kiai Dalhar bin Abdurrahman yang berjuang dalam mengawal santri berjuang pada masa kemerdekaan. 

Kiai Dalhar lahir di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang. Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870. Nama kecilnya adalah Nahrowi, nama pemberian orang tuanya.

Nasab Kiai Dalhar tersambung pada trah Raja Mataram, Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Pada waktu perjuangan Perang Jawa, Kiai Abdurrauf membantu Dipanegara berjuang di tanah Jawa. Kiai Abdurrauf dikenal sebagai salah satu Panglima Perang Dipanegara, membantu laskar pada Perang Jawa. Dari silsilah Kiai Hasan Tuqo, tersambung kepada Raja Amangkurat III (memerintah 1703-1705), atau Amangkurat Mas. Kiai Hasan Tuqo memiliki nama ningrat, yakni Raden Bagus Kemuning.

Pada waktu itu, Kiai Hasan Tuqo tidak senang berada di kawasan Keraton, serta memilih untuk memperdalam ilmu agama. Kiai Hasan Tuqo kemudian memilih menyepi di kawasan Godean, Yogyakarta. Nama desa Tetuko sampai sekarang masih masyhur sebagai petilasan Kiai Hasan Tuqo.

Pada waktu Perang Jawa (1825-1830) meletus, Pangeran Dipanera dibantu oleh barisan kiai yang berjuang untuk melawan Belanda. Di antaranya, tercatat nama Kiai Modjo, Kiai Hasan Besari, Kiai Nur Melangi, serta Kiai Abdurrauf. Putra Kiai Hasan Tuqo, Kiai Abdurrauf inilah yang mendapat tugas sebagai panglima Perang Dipanegara, yang menjaga kawasan Magelang. Pada kisaran awal abad 19, kawasan Magelang menjadi jalur penting dalam ekonomi dan politik, karena menjadi titik pertemuan dari kawasan Yogykarta menuju Temanggung dan Semarang di daerah pesisiran. Kiai Abdurrauf menjadi panglima untuk menjaga wilayah Magelang, serta memberi pengaruh penting penganut Dipanegara di kawasan ini.

Demi menjaga kawasan Magelang dan mendukung pergerakan Dipanegara, Kiai Abdurrauf bertempat di kawasan Muntilan, yakni di Dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Muntilan.  Di kawasan ini, Kiai Abdurrauf mendirikan pesantren untuk mengajar ilmu agama kepada pengikutnya dan warga sekitar. Dukuh Santren di Desa Gunungpring menjadi saksi perjuangan dakwah dan militer Kiai Abdurrauf.

Rihlah ilmiyyah Kiai Dalhar

Kiai Dalhar mewarisi semangat dakwah dan perjuangan dari ayah dan kakeknya. Sejak kecil, beliau haus akan ilmu agama, dengan mengaji dan belajar di pesantren. Pada umur 13 tahun, Nahrowi (Dalhar kecil) mulai belajar mondok. Ia mengaji kepada Mbah Kiai Mad Ushul di kawasan Mbawang, Ngadirejo, Salaman, Magelang. Di pesantren ini, Kiai Dalhar belajar ilmu tauhid selama 2 tahun.

Setelah itu, Dalhar kecil melanjutkan mengaji di kawasan Kebumen. Ayahnya menitipkan Kiai Dalhar di pesantren Sumolangu, di bawah asuhan Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau dikenal sebagai Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani. Ketika mengaji di pesantren Sumolangu, Kiai Dalhar mengabdi di ndalem sang Syaikh selaam delapan tahun. Hal ini, merupakan permintaah Kiai Abdurrahman kepada Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani.

Pada tahun 1314 H/1896, putra Syaikh Abdul Kahfi at-Tsani berniat untuk belajar di Makkah. Sang Syaikh memerintah Kiai Dalhar agar menemani putranya, yakni Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani. Di Makkah, dua pemuda pengabdi ilmu ini, diterima oleh Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani, yang merupakan kerabat dari Syaikh Ibrahim al-Hasani. Syaikh Sayyid Muhammad Babashol, pada waktu itu merupakan Mufti Syafi'iyyah Makkah. Di rubath kawasan Misfalah, Kiai Dalhar bersama Syaikh Muhammad al-Jilani al-Hasani bermukim selama mengaji di Makkah.

Pada tahun pertama Kiai Dalhar mengaji di Makkah, terjadi peristiwa penyerangan Hijaz oleh tentara Sekutu. Tanah Hijaz yang masuk dalam kuasa Turki Utsmani diserang oleh tentara sekutu. Syekh Muhammad al-Jilani mendapat tugas untuk berjuang membantu perlawanan tanah Hijaz, setelah 3 bulan mengaji. Sedangkan, Kiai Dalhar beruntung dapat terus mengaji selama 25 tahun di tanah suci.

Di tanah Hijaz, nama "Dalhar" menemukan sejarahnya, yakni pemberian dari Syaikh Sayyid Muhammad  Babashol al-Hasani, hingga tersemat nama Nahrowi Dalhar. Kiai Dalhar memperoleh ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani.

Dari jalur thariqah inilah, Kiai Dalhar dikenal sebagai mursyid, sufi, ulama 'alim, sekaligus penggerak perjuangan pada masa kemerdekaan di Indonesia. Kiai Dalhar menurunkan ijazah thariqah syadziliyyah kepada 3 orang muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dhimyati Banten, dan Kiai Ahmad Abdul Haq.

Ketika mengaji di Makkah, secara istiqomah Kiai Dalhar tidak pernah buang hadats di tanah suci. Ketika ingin berhadats, Kiai Dalhar memilih pergi di luar tanah Suci, sebagai bentuk penghormatan. Inilah bentuk ta'dzim sekaligus sikap istiqomah Kiai Dalhar yang telah teruji.

Kiai Dalhar dikenal menulis beberapa kitab, di antaranya: Kitab Tanwir al-Ma'ani, Manaqib Syaikh as-Sayyid Abdul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar as-Syadzili al-Hasani, Imam Tariqah Saydziliyyah. Kiai Dalhar juga menjadi rujukan beberapa kiai yang kemudian menjadi pengasuh pesantren-pesantren ternama. Di antara murid Kiai Dalhar, yakni Kiai Ma'shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dhimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek.

Gus Miek juga dikenal dekat dengan Kiai Dalhar. Dalam catatan Ibad (2007: 31), Gus Miek bisa membina hubungan dengan Mbah Jogoroso, Kiai Ashari, Gus Mad putra Kiai Dalhar, Kiai Mansyur dan Kiai Arwani. Kemudian, mata rantai berlanjut, dari Kiai Ashari, Gus Miek membina hubungan dengan Kiai Abdurrahman bin Hasyim (Mbah Benu) dan Kiai Hamid Kajoran. Lalu, dari Kiai Hamid Kajoran, Gus Miek berinteraksi dengan Mbah Juneid, Mbah Mangli dan Mbah Muslih Mranggen.

Perjuangan kebangsaan

Ketika era perjuangan melawan rezim kolonial, peran Kiai Dalhar tidak bisa dilupakan. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma', doa dan ijazah kekebalan, serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa. Dikisahkan, ketika para pejuang menggempur Belanda di kawasan Benteng Ambarawa, dimudahkan oleh Allah dengan semangat dan kekuatan. Dorongan doa dan semangat yang diberikan Kiai Dalhar serta beberapa kiai lainnya, menambah daya juang para santri untuk bertempur mengawal kemerdekaan.

Pertempuran laskar santri dan pemuda melawan tentara sekutu, meletus pada 21 November 1945. Atas desakan laskar dan tentara rakyat, yang dikomando oleh Jendral Soedirman, tentara sekutu mundur ke Semarang. Namun, mundurnya Sekutu juga membuat ribut di Ambarawa, yang kemudian disebut Palagan Ambarawa. Pada perang ini, Laskar Hizbullah dari Yogyakarta dan kawasan sekitar, bersatu dengan beberapa tentara rakyat mengepung Ambarawa. Laskar Hizbullah Yogyakarta mengirim Batalyon Bachron Edrees, tepatnya di kawasan Jambu dan Banyubiru.

Front Ambarawa dikepung dari beberapa penjuru. Kawasan Selatan dikepung pasukan gabungan dari Surakarta dan Salatiga. Utara ditempati pasukan Kedu dan Ambarawa, dari sisi Timur hadir pasukan Divisi IV BKR Salatiga. Pihak Belanda dan tentara Sekutu bermarkas di Kompleks Gereja Margo Agung, serta pos militer di perkebunan. Laskar santri di bawah komando Bachron Edress berhasil mengakses front Ambarawa. Laskar-laskar santri dan pemuda yang bertempur di Ambarawa, sebagian besar sowan ke Kiai Dalhar Watucongol dan Kiai Subchi Parakan untuk minta doa sebelum bergerilya.

Mbah Kiai Dalhar mencatatkan sejarah dalam jaringan ulama Nusantara, sebagai rujukan keilmuan, perjuangan serta sufisme dalam tradisi pesantren. Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959. Jasad Kiai Dalhar dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang. Kisah perjuangan dan keteladanan Kiai Dalhar menjadi bukti betapa penting jaringan ulama-santri dalam mengawal negeri, menjemput kemerdekaan Indonesia[]. 

Penulis adalah Wakil Sekretaris LTN PBNU, Peneliti Islam Nusantara.

Referensi:
Carey, Peter. The Power of Propechy, Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855. Leiden: KITLV. 2007.
Djamhari, Saleh As'ad. Strategi Menjinakkan Dipanegara: Stelsel Benteng, 1827-1830. Depok: Komunitas Bambu. 2004.
Hadi, Murtadho. Jejak Spiritual Abuya Dimyathi. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2009
__________________. Suluk Jalan Terbatas Gus Miek. Yogyakarta: LKIS. 2007.
Ibad, Muhammad Nurul. Pelajaran dan Ajaran Gus Miek. Yogyakarta: LKIS. 2007
Tim Buku PWNU Jawa Timur. Peranan Ulama Pejuang Kemerdekaan. Surabaya: PWNU Jawa Timur.
Thomafi, Muhammad Luthfi. Mbah Ma'shum Lasem. Yogykarta: LKIS. 2007


Sumber :nu.or.id
close
Banner iklan disini