NU, Organisasi Langit yang Dipandu Tuhan


Wartaislami.com ~ "Wa alamat, wa bi al-najm hum yahtadun". Bunyi ayat studi kita ini menunjuk pertanda yang ditebar Tuhan melalui alam ciptaan-Nya. Tidak cukup itu, Tuhan menunjuk bintang (al-Najm) secara khusus, meski sesungguhnya sudah include dalam makna kata "'alamat". Penyebutan secara khusus ini menunjuk betapa bintang punya kelebihan yang mencolok di atas benda alam yang lain.

Ditilik dari sejarahnya, seputar tahun 1920 para kiai salaf gelisah banget terhadap kelompok islam yang memusuhi amaliah ulama, al-salaf al-shalih. Belum sempat mereka wadul, kiai Khalil Bangkalan sudah memberi jawaban ilahiah berupa surah al-Taubah: 32 yang intinya, para pembenci al-salaf al-shalih itu tidak akan berhasil, karena Allah turun tangan sendiri mengatasi mereka. Bisa-bisa malah besar. Makin dimusuhi, makin disayang Tuhan. Di sini, kiai Khalil mengindentikkan amalan NU dengan "nur Allah" (cahaya Allah).

Wejangan itu memang memantapkan kiai Hasyim Asy'ari dan kawan-kawan, tapi tidak cukup efektif sekedar memberi pengajian, fatwa, bergerak sendiri-sendiri tanpa ada wadah yang mengikat. Ternyata, dari kejauhan kiai Khalil sudah membaca itu, kemudian mengirim sebuah tongkat disertai ayat nomor 11 s.d. 21 surah Thaha kepada kiai Hasyim Asy'ari melalui kurir, kiai As'ad Syamsul Arifin. Isyaratnya, kiai Khalil telah merestui kiai Hasyim mendirikan jam'iyah.
Tidak hanya tongkat dan ayat al-Qur'an yang dikirimkan, melainkan juga sebuah tasbih. Begitu kiai Hasyim memegang tasbih tersebut, beliau menatap ke depan dengan pandangan sangat seirus dan kedua mata berkaca-kaca.

Sambil merunduk sang kiai melafalkan dua nama Tuhan terbaik dari 99 al-Asma' al-Husna, :" Ya Jabbar, ya Jabbar, ya Jabbar. Ya Qahhar, ya Qahhar, ya Qahhar. Kita tahu, bahwa dua asma ini berkonotasi kadigdayan yang luar biasa. Ahli kanoragan dan aji-aji kesaktian mesti berwirid asma ini. Tidak sekedar berucap itu, kiai Hasyim juga berikrar memberi ultimatum: "wahai, barang siapa yang memusuhi NU, memusuhi para kiai akan hancur…"
Begitulah, bahwa jamiyah Nahdlatul Ulama bukanlah perkumpulan biasa, bukan partai politik atau organisasi profit. Sebuah jam'iyah jauh-jauh dikonsultasikan dulu kepada Tuhan secara serius dan religious, sehingga apa yang diisyaratkan Tuhan diyakini sebagai jawaban ilahiah, meski bukan wahyu.
Tidak ada nafsu emosional sedikit pun dalam pendirian jamiyah ini, semua kiai yang terlibat melakukan suluk total, tajrid dan tafwidl. Makanya, jawaban didapat bukan wisik, bukan wangsit, melainkan langsung kalamullah, al-Qur'an al-Karim.

Dengan jawaban berupa Tek wahyu dan dilakukan oleh kiai-kiai bersih, maka tingkat akurasinya sangat kuat. Meski bukan wahyu, tapi setidaknya ada di bawah level itu. Hal itu merujuk sabda nabi sendiri, bahwa ulama itu pewaris para nabi, kepercayaan para rasul, lentera yang menerangi umat dll. Dan nyatanya begitu. Dari mana asal penduduk negeri ini mengerti soal iman, soal islam, soal shalat, soal agama jika bukan para kiai yang mengajari.

Sengaja dipilih kata Ulama sebagai idhafah merangkai kata Nahdlah, karena ulama hanya punya kepentingan kepada Tuhan saja, lain tidak. Jika dipakai lainnya, politikus -misalnya-, maka Jamiyah ini berpotensi dijual untuk kepentingan politik. Begitu halnya dipakai kata "al-Tujjar" (pedagang), bisa jadi ditawarkan untuk kepentingan bisnis.

Andai semua pengurus bermoral bejat dan abai terhadap NU, andai semua warga tak lagi peduli kepada NU, demi Allah tidak berarti NU mati. Tuhan akan turun tangan menjaga NU. Hal itu karena NU adalah "nur Allah", cahaya-Nya seperti diisyaratkan pada ayat al-Taubah: 32 yang difatwakan kiai Khalil di atas. Dan cahaya Tuhan tidak bisa dipadamkan dan tidak akan pernah bisa padam.

Makanya, jangan berbuat jahat dalam muktamar jamiyah milik Tuhan ini. Karena bisa jadi cahaya keimanan yang ada di dada anda dipadamkan oleh Allah SWT.  (bangsaonline.com)

0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "NU, Organisasi Langit yang Dipandu Tuhan"

Post a Comment

close