Surat Terbuka Seorang Santri Pada Yth. Kepala BNN, Komjen Budi Waseso


Assalamu’alaikum Pak Buwas..
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang. Sebagai salah satu elemen bangsa Indonesia, adalah suatu kewajiban bagi santri untuk selalu mendoakan bangsa ini dan pemimpin-pemimpinnya, supaya mendapatkan rahmat dan hidayah dari Gusti Allah SWT.

Oh iya Pak, di kalangan kaum santri ada sebuah qaul kaidah masyhur yang bunyinya “layarifil mahabbah illaa bil ma’rifah”. yang artinya, “seseorang tidak akan bisa mencintai, kecuali ada saling perkenalan terlebih dahulu”

Nah dari qaul inilah Pak, saya ingin memperkenalkan diri, dengan harapan akan tumbuh rasa cinta bapak pada kami, para santri. tentunya dalam konteks cinta seorang pemimpin kepada warga bangsanya. Bukan yang macem-macem lho Pak, hehehe.

Perkenalkan, nama saya Abdul Wahab. Kawan-kawan santri biasa menyebut saya Kang Wahab.

Saya bukanlah siapa-siapa, atau bahkan untuk mengenal saya pun rasanya tak perlu bagi Bapak yang merupakan salah satu orang terhormat di jajaran orang penting negeri ini. Saya sadar, saya hanyalah pelayan dari sebuah Distro yang bernama “Distro Kang Santri”. Sebuah usaha yang di kelola oleh beberapa kawan santri. Dan kebetulan saya juga lumayan aktif di sebuah komunitas santri Sarkub (sarjana kuburan), yang mencoba untuk sedikit memberi kontribusi, mengenalkan-mendakwahkan Islam yang toleran-damai-indah dari Sabang sampai Merauke. Mudah-mudahan dakwah Islam ramah yang kami usung, selalu mendapat bimbingan dan doa dari para Kiai dan Habaib kami dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama, dan juga restu dari seluruh masyarakat di nusantara. aamiin.

Khusus mengenai setatus, Pak..saya ini bukanlah seorang jomblo. Saya hanya lagi mencoba menjauh dari kepalsuan cinta..cieeee. Tapi ya herannya, kawan-kawan itu seneng banget manggil saya “Jomblo” :'(. menyedihkan ya Pak, hehehe. Tapi walaupun saya jomblo, jomblo saya adalah jomblo berkualitas. Saya sangat cinta Indonesia, dan saya sangat hafal Pancasila, walau latar belakang pendidikan saya adalah dari pesantren, yang notabene bagi sebagian orang masih memandang sebelah mata. Hanya karena memang dominan ilmu agama yang kami pelajari di pesantren. Tapi semangat kami sebagai santri, murid para Kiai tidak akan pernah luntur untuk membela NKRI. Dari dulu hingga sekarang, NKRI akan selalu ada di hati kaum santri. Semboyan “hubbul wathon minal iimaan” adalah salah satu pengajaran penting dari Kiai-kiai kami di pesantren. Dalam pendidikan formal , saya hanya lulusan Paket B Pak. Pengin sekali sebenarya bisa melanjutkan sekolah SMA bahkan bisa kuliah seprti teman teman, tapi apalah daya ,keinginan itu kandas setelah melihat kondisi eknomi keluarga Pak.

Nuwun sewu sebelumnya njih Pak. Sengaja saya buat surat terbuka ini kagem Pak Buwas, terus terang sebagai satu bentuk keprihatinan saya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Hati ini mak-jleb rasanya seakan tertusuk linggis, manakala membaca sebuah berita yang berjudul : “Komjen Buwas : Saat Ini Ada Ekstasi Dipakai Zikir Di Pesantren”. Berita tersebut dimuat oleh situs berita detik.com, pada Jum’at, 04 Maret 2016.

—“Narkotika sudah masuk ke kalangan santri terutama di daerah Jatim. Santri, dia zikir dari pagi ke pagi pakai ekstasi, bukan cuma santrinya tapi kyainya juga,” ungkap Komjen Budi di kantornya, Jl MT Haryono, Cawang, Jaktim, Jumat (4/3/2016).—

Dan bukan hanya di detik.com saja, berita terkait hal tersebut juga muncul di banyak media online yang lain.

Ya Allah, Pak..seandainya Bapak tahu bagaimana perasaan saya saat membaca berita-berita itu, pastilah bapak akan segera mencarikan seorang gadis untuk saya nafkahi..hehe. Serius Pak, galau tingkat dewa menghinggapi hati ini.
Seandainyapun mungkin, maka akan saya cabut gunung Jayawijaya dari akarnya, dan akan saya gendong menuju pangkuan bapak, sebagai wujud ketidak-terimaan saya.

Sakit hati sebagai santri belum hilang, waktu Pak Luhut Panjaitan juga pernah mengatakan hal yang hampir sama. Ini menunjukkan bahwa masih banyak dari bangsa ini belum mengenal betul, seperti apa sebenarnya kaum santri, kiai dan pondok pesantrennya.

Bagaimana tidak kaget, wong bapak bilang begini, “Santri, dia zikir dari pagi ke pagi pakai ekstasi, bukan cuma santrinya tapi kyainya juga”.

Masya Allah, sebagai seorang yang pernah hidup di pesantren, jelas saya gelisah membaca tulisan itu. Saya menilai, pernyataan tersebut kesannya meng-generalisasi, karena tanpa ada pernyataan pengkhususan atau pengecualian. Kalau toh memang benar ada pesantren yang seperti itu, tolonglah ada pernyataan bahwa tidak semua santri, kiai dan pesantren seperti itu. Tolong disampaikan pesantren mana yang melakukan hal semacam itu. Hal ini dimaksudkan, agar masyarakat juga tidak gelisah ketika akan menyerahkan pendidikan anaknya ke pesantren.

Saya berharap, bapak sudi mengklarifikasi pernyataan tersebut. Atau tidak lagi mengeluarkan statemen seperti itu. Saya mohon, Pak..ini mungkin kali pertama dan sekali ini saja saya memohon kepada bapak. Saya khawatir ini akan merubah mindset khalayak tentang kami, kalau tidak ada klarifikasi. Karena memang akan menimbulkan kesan seperti menuduh kami para santri adalah pemakai narkoba.

Memanglah kami juga disebut kaum sarungan, Pak. Mungkin masih banyak orang memandang kaum santri sebelah mata. Tetapi bukan berarti kami orang yang tidak peka, apalagi bodoh, sehingga tidak bisa membedakan mana ekstasi dan mana terasi, hehehe. Apalagi di pesantren, kami juga diajarkan hukum-hukum fiqh agama termasuk soal keharaman dan mudharatnya penggunaan narkoba. Lagi pula, jangankan untuk membeli atau mengkonsumsi ekstasi, untuk sekedar makan sehari-haripun dan kehidupan yang sangat sederhana, kami alami di pesantren.

Yang jelas, jangan hanya karena nila setitik, bapak, apalagi nantinya masyarakat, beranggapan susu sebelanga menjadi rusak semua.

Satu lagi, yang barangkali bapak belum ketahui, logika pemikiran dalam pendidikan di pesantren adalah logika berpikir kaum sufi. Logika yang berbanding terbalik dibanding logika berpikir yang diterapkan di sekolah umum. Di sekolah umum, seorang siswa dididik dan dilatih agar terbiasa mencapai kenyamanan dan kenikmatan hidup bersifat jasmaniah, seperti memakan makanan yang lezat-sehat-bergizi, pakaian bagus nyaman dipakai, tidur di kasur empuk minimal 8 jam sehari, dan hal-hal bersifat mapan dengan konsep ideal lainnya. Sementara, kami di pesantren, sejak awal diajari untuk terbiasa tidur diatas lantai dengan alas keras dan kasar, makan bersama-sama dengan lauk seadanya, antri bergiliran saat mandi, berwudlu, mengisi bak mandi, dan mencuci pakaian sendiri dengan air secukupnya.

Kami para santri biasa dididik untuk tidak berlebih-lebihan dalam hidup, apalagi mencari kenyamanan untuk semua aspek kehidupan. Di sepertiga malam terakhir, disaat enak-enaknya orang lain berbalut kehangatan selimut dalam mimpi, kami biasa dibangunkan pengurus pondok yang memukul lonceng keras-keras, untuk segera menuju pancuran air wudlu dan berkumpul di mushola untuk sembahyang tahajjud berjama’ah. Jika ada yang tidak mengikuti jama’ah, baik itu disengaja maupun tidak akan mendapat ta’zir (hukuman) di keesokan harinya. Hukuman dapat berupa kerja bakti membersihkan aula, mengisi bak mandi, menggantikan teman piket, menghapal surat-surat penting dalam al-Qur’an, atau digundul kepalanya bagi santri putra. Beragam ta’zir bersifat mendidik diberlakukan agar santri disiplin dan bertanggungjawab dalam urusan agama dan ibadah.
Sembahyang tahajjud yang dilanjut dengan wirid dan tafakkur, hingga adzan shubuh berkumandang. Sederet aktivitas menggempur sehari-hari waktu kami. Dan dari sekian banyak aktivitas, dapat dikatakan 80%nya merupakan aktivitas olah ruhani. Selebihnya barulah olah pikir alias olah akal. Hal ini berpedoman bahwa ilmu itu bersifat intuitif yang tersembunyi di dalam dada; “shodrun” kami menyebutnya. Ketika hati seorang hamba telah tersingkap, maka secara otomatis ilmu Tuhan akan dengan mudah merasuk dalam diri orang tersebut. Semua kecenderungan buruk dari nafsu seperti ingin nyaman, malas, gampang marah, iri hati, suka membual, kikir, hasut harus dihindari. Para santri harus membiasakan berakhlak karimah seperti jujur, suka bershodaqoh, saling menolong, tidak menyakiti, menghindari berbagai tindak laku yang tergolong maksiat, dan ta’dzim kepada guru. Dan itu semua kami lakukan tanpa NARKOBA!

Saya minta pada bapak jangan hanya mengawasi pondok pesantren kami sebagai sarang narkoba dan teroris, tapi juga mbok ya lihatlah pondok pesantren sebagai tempat penyemaian benih penjaga NKRI, tempat penyemaian benih pemimpin masa depan bangsa.
Sangat tidak mungkin, kalau kami akan merugikan bangsa ini lewat kekonyolan manusia yang kecanduan narkoba.

Ingatlah kami akan lelucon teladan kami, almaghfurlah KH.Abdurrahman Wahid yang pernah mengatakan :
“di Indonesia ini hanya ada 3 polisi dan penegak hukum yang baik, yaitu Pak Hugeng almarhum (karena beliau sudah meninggal), Patung Polisi dan Polisi Tidur”. Semoga lelucon ini hanya sekedar lelucon saja njih Pak, tentang track-record para penegak hukum kita. hehehe

Saya mewakili segenap santri nusantara menyatakan siap hidup sehat tanpa narkoba.
Kami berdoa bahwa semua akan indah pada waktunya, jika Tuhan memberkati.

Jaya negeriku
Jaya bangsaku
Jayalah Indonesiaku..

SANTRI
Siswa Anti NarkoTika Republik Indonesia

Mangga Ngopi Rumiyin pak. [KBA NEWS]
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Surat Terbuka Seorang Santri Pada Yth. Kepala BNN, Komjen Budi Waseso"

Post a Comment

close