Wahid Hasyim dan Modernisasi Pendidikan Tradisional



Oleh Siti Muyassarotul Hafidzoh
Tema Islam Nusantara yang diangkat Nahdlatul Ulama (NU) dalam Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015 lalu sangat terkait dengan agenda pendidikan nasional kita. Tema ini mungkin saja “besar” di media, tetapi tak bisa membumi dan terealisasikan di masyarakat kalau tidak dibarengi dengan strategi pendidikan yang dijalankan. Tanpa internalisasi dalam dunia pendidikan, tema ini bisa menguap dan “selesai” setelah muktamar.

Untuk itu, warga NU dan bangsa Indonesia bisa belajar kepada sosok KH Abdul Wahid Hasyim. Walaupun menjadi putra KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU, Wahid Hasyim tidaklah kemudian langsung mengikuti organisasi yang didirikan sang ayah. Wahid muda berpikir dengan serius, sehingga menjatuhkan pilihannya kepada NU. Wahid muda sangat energik, sehingga menjadi penggerak gerakan modernisasi pendidikan pesantren di Indonesia. Berkat kegigihannya, kaum pesantren bukan saja cerdas membaca kitab kuning, tetapi juga lincah dalam membaca literatur berbagai keilmuan dan tangkas dalam menjawab problem kebangsaan dan kenegaraan.

Ini dibuktikan sendiri oleh Kiai Wahid  pada 29 April 1945, dimana Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk. Jumlah anggotanya ada 62 orang dari perwakilan seluruh elemen bangsa Indonesia. Saat memulai pertama kali sidang pada 28 Mei 1945, mata para anggota BPUPKI tertuju pada seorang anak muda berpeci yang pemikiran dan gagasannya begitu cerdas. Dialah Wahid Hasyim, anggota termuda setelah BPH Bintoro. Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sedangkan Bintoro 27 tahun.   

Yang membuat anggota BPUPKI tercengang tak lain karena sosok Wahid Hasyim mewakili kalangan kaum Islam tradisionalis yang waktu itu masih dikenal konservatif, miskin informasi dan jauh dari pemikiran modern. Tetapi dalam sidang BPUPKI, ia justru tampil sebagai anak muda paling brilian. Pemikirannya yang brilian sampai membuat Soekarno memasukkan sebagai anggota Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara, yang kemudian Panitia Sembilan ini menghasilkan Piagam Jakarta. Dialah anggota Panitia Sembilan termuda.

Transformasi pendidikan tradisional

Perhatian serius Kiai Wahid bagi pendidikan kelas bawah sangat nyata. Kala pulang dari Mekkah tahun 1932, dia bukannya ikut serta mengajar di pesantren ayahnya, KH Hasyim Asy’ari, tetapi ia malah mendirikan sekolah klasikal yang mengajarkan ilmu umum kepada santri-santri Tebuireng. Santri sudah diajarkan bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Prancis. Selain bahasa asing itu, santri juga diajari aljabar (matematika), ilmu bumi (geografi), dan sejarah. Lompatan gagasan dan gerak anak muda sampai tidak bisa ditentang sang ayah yang merupakan guru para kiai pula Jawa pada awal abad ke-20.   

Jasanya atas perkembangan pendidikan kelas bawah sangat besar. Pada tahun 1944, ia dengan berani mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Itulah sekolah tinggi Islam pertama di Indonesia. Kemudian pada pada tahun 1950, kala ia menjabat Menteri Agama, ialah yang pertama kali mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang sekarang menjadi UIN, IAIN dan STAIN. Semua itu ia jalani untuk meningkatkan kualitas umat Islam Indonesia. Wahid Hasyim menginginkan umat Islam semakin berkualitas untuk memimpin kemajuan Indonesia.

Selain menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam Kementerian Agama, selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: pertama, mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta. Kedua, menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1950. Ketiga, merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia.

Walaupun dia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan umum, hanya sekolah dari pesantren ke pesantren saja, tetapi melihat rekam jejaknya dalam memperjuangkan Republik Indonesia, dia bukanlah sosok sederhana dengan atribut pendidikannya. Dia justru menjadi orang pertama yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan kelas bawah di pesantren dan pendidikan Islam Indonesia. Tak salah kalau Soekarno selalu menjadikan ia sebagai referensi bagi kebangkitan dan kemajuan Islam Indonesia.

Kecerdikan dan kecerdasan Wahid Hasyim dalam mengembangkan pendidikan kelas bawah di pesantren tak lain karena semangatnya yang begitu luar biasa dalam mengembangkan pengetahuan. Kesungguhan ini salah satunya lahir karena beliau sejak kecil dididik seorang ayah yang sangat teguh mengajarkan agama dan keteladanan. Peran sang ayah tak bisa dipungkiri sangat menancap kuat dalam diri seorang Wahid Hasyim. Terlebih saat itu Mbah Hasyim merupakan pemimpin tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Wahid Hasyim sama sekali tidak terbuai dengan kebesaran yang ayah yang dikenal sebagai ahli hadits. Dia justru menjadikan kebesaran ayahnya sebagai tantangan dalam dirinya sendiri untuk mencipta sesuatu yang genuine yang diberikan Allah kepadanya untuk berjuang kepada agama dan negara. Benar sekali, akhirnya ia justru menjadi “juru bicara” sang ayah yang selalu mewakili Mbah Hasyim dalam berbagai pertemuan di Jakarta. Peran Wahid Hasyim sebagai “juru bicara” sang ayah begitu besar, sehingga memperlihatkan kepada publik umat Islam Indonesia bahwa kaum pesantren begitu maju dan modern.

Saat ini, menjadi tantangan serius bagi NU untuk menggugah kembali semangat Wahid Hasyim dalam membangun masyarakat kelas bawah. Data Kementerian Agama (2013) menjelaskan, sampai saat ini Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU sudah memiliki tidak kurang 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai pelosok negeri, mulai PAUD, TK, SD, MI, MTs, SMP, MA, SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Belum lagi pondok pesantren yang jumlahnya ribuan, bahkan banyak sekali yang tidak terdata.

NU harus mendorong seluruh lembaganya agar semakin berkualitas, sehingga mimpi Kiai Wahid Hasyim bisa segera terealisasikan untuk membangun negeri tercinta ini.***

Penulis adalah Guru MTs Al-Quran, Pesantren Binaul Ummah Wonolelo Pleret Bantul, Yogyakarta dan alumnus Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.  via nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Wahid Hasyim dan Modernisasi Pendidikan Tradisional"

Post a Comment

close