Ini Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci

Ini Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci


Perjalanan haji Abdullah bin Mubarak ke Tanah Suci terhenti kala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik dan Abdullah seperti tahu, itik itu adalah bangkai.

"Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?" tanya Abdullah memastikan.

"Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku."

Ulama hadits yang zuhud ini heran, di negeri Kufah bangkai ternyata menjadi santapan keluarga. Ia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran.

Abdullah pun pergi tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya.

"Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka."

Hati Abdullah bergetar. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal.

"Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu."

Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah bin Mubarak masih berada di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana sampai para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan oran-orang. "Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini," katanya meyakinkan para penyambutnya.

Sementara itu, kawan-kawannya yang berhaji menyuguhkan cerita lain. "Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat kau di Arafah?"

Yang lain ikut menanggapi, "Bukankah kau yang memberi minum kami di suatu tempat sana?"

"Bukankah kau yang membelikan sejumlah barang untukku," kata satunya lagi.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung. "Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini."

Hingga malam harinya, dalam mimpi Abdullah mendengar suara, "Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji." Demikian diceritakan kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi. (Mahbib) via nu.or.id
Syariat, Tarekat dan Hakekat adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisah pisahkan

Syariat, Tarekat dan Hakekat adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisah pisahkan



Wartaislami.Com ~ Tidak benar jika mengaku bertarekat tetapi meninggalkan syariat, karena tarekat adalah buah dari syariat. Jadi, kalau bertarekat harus melalui pintunya dahulu, yaitu syariat.
Syariat lah yang mengatur kehidupan kita, dengan menggunakan hukum. Dari mulai akidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada ALLAH, Malaikat, Kltab ALLAH, Rasul, hari akhir serta takdir baik dan buruk. Dan syariat pula mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Serta keutamaan shalat, juga hubungan antara manusia, seperti jual-bell, pernikahan, dan lain-lainnya.

Setelah menjalankan syariat dengan balk, kita bertarekat, sebagai jalan menuju kepada ALLAH ﷻ. Jadi, jika diartikan secara sederhana jalan menuju kepada ALLAH disebut tarekat. Bertarekat perlu dibimbing oleh para Mursyid, yang akan mengantar murid darl mengerti sampai mengenal ALLAH hingga nantinya "dikenal" ALLAH ﷻ, yang artinya dekat dan disayang oleh ALLAH ﷻ. Amalan utama tarekat adalah berdzikir.

Dan juga, yang juga perlu dipahami, pengertlan tarekat tidak terbatas hal itu. Yang dltuntut oleh tarekat di jalan ALLAH adalah perilaku yang mulia dari para pengikut tarekat. Terutama mem-bersihkan kotoran-kotoran yang ada dl dalam batin dan lahirnya, sehingga secara lahir dan batin kita bersih dalam menuju ke jalan ALLAH.

Sebagai contoh berwudhu. Wudhu adalah peraturan syariat, guna menjalankan shalat dan lain-lainnya. Biasanya kita hanya berwudhu untuk mendapatkan keutamaan wudhu, serta sebagai syarat untuk menjalankan shalat.
Sedangkan tarekat menuntut buah (hasil) dari wudhu di dalam kehidupan kita. Berapa kali kita membasuh muka ketika berwudhu, berapa kali kita membasuh tangan setiap hari untuk menjalankan ibadah. Dari situ kita coba aplikasikan dalam kehldupan kita masing-maslng.
Darl hasil wudhu, kita cari buahnya yaitu lebih berakhlak, lebih rendah hati, lebih beradab, sehingga ada peningkatan dari hari ke hari. Itulah buahnya (hasilnya), sehingga kita semakin dekat kepada ALLAH. Sebab, justru di hadapan ALLAH, kita semakin menundukkan kepala. Karena semua itu adalah pemberian-NYA semata-mata. Kalau bukan karena pemberian-NYA, bagaimana bisa mengerti segala yang kita miliki ini.

Begitu juga, kita pun diberi pemahaman oleh ALLAH terhadap junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ atas limpahan rahmat kepadanya, sehingga kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah kita selalu memuji Rasulullah ﷺ dengan tujuan supaya kita lebih dekat kepada Rasulullah. Dengan begitu, sosok Rasulullah akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki kehidupan hingga akhir hayat.
Bertarekat akan memupuk sikap rendah hati kita kepada Para Wali, Ulama serta Guru-Guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran syariat dan tarekat. Itu baru dari segi membersihkan muka secara lahiriah dan bathiniah, hal itu akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu diperingatkan untuk tidak mengambil yang bukan milik kita apalagi melakukan korupsi, misalnya yang sangat merugikan rakyat. Sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari. Kalau kita bisa mempelajari banyak hal dari wudhu saja, insyaALLAH masalah korupsi itu bisa diberantas. Lalu telinga kita yang digunakan untuk mendengarkan suatu yang baik. Kita tidak akan menyampaikan yang kita dengar kalau informasi itu justru akan memancing masalah atau memanaskan situasi, apalagi menimbulkan perpecahan dan kekacauan. Tentu saja, hal itu berlaku pula bagi mata kita, kedua kaki kita, dan anggota badan lainnya. Itulah hasil karya, hasil didikan, yang mendapatkan bimbingan dari ALLAH.

Mengapa kita harus berwudhu ketika akan mendirlkan shalat !? Berwudhu tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakikatnya juga membersihkan kotoran batiniah. Al-Qur'an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemungkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudhu dan shalat itu secara tarekat.

Bagi para murid yang ingin belajar tarekat, saya anjurkan, mulailah dari seorang guru yang dipercaya. Tapi sebaliknya, bagi guru yang ingin ditaati muridnya, cobalah didik para murid itu seperti timba yang mendekati sumurnya, bukan sumuryang mendekati timbanya. Maka akan terbentuklah kewibawaan guru terhadap muridnya. Bagi murid, saya anjurkan untuk belajar hanya pada satu guru.
Sebagai contoh mudahnya, kalau air teh dicampur susu lalu dicampur lagi dengan kopi atau lainnya, meskipun halal, apa jadinya? Bagaimana rasanya? Jadi kalau ingin minum teh, minum saja teh tanpa dicampur dengan lainnya. Nikmati minum teh dengan gula, kemudian cari manfaatnya bagi tubuh. Begitu juga kalau ingin minum kopi, susu, atau lainnya. Itu hanya sebagai perumpamaan. Jadi, kalau ingin belajar tarekat, jangan sekadar melihat organisasi itu besar Meski organisasi tarekat itu kecil, kalau lebih berpengaruh terhadap jiwa kita, sehingga iebih mendekatkan diri kepada ALLAH, tidak perlu ragu lagl untuk mengikutinya.
.
- Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rois Am Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah) - via muslimoderat

Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah

Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah


Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online yang terhormat. Pada Rabu (20/4) siang, saya menyaksikan acara Aswaja TV yang salah satu poin bahasannya adalah "Tidak semua bid‘ah itu adalah dhalalah (sesat)."

Saya mau meminta penjelasan lebih lanjut perihal kriteria seseorang boleh membuat bid'ah hasanah. Berikutnya saya mohon diberikan contoh-contoh yang termasuk bid'ah hasanah. Demikian mohon penjelasannya. Terima kasih. (Sukron Ma'mun)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman dan pembaca di mana pun berada, semoga selalu dirahmati Allah swt. Pada kesempatan ini kita mencoba melihat hadits-hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan bid‘ah. Kita akan mengawalinya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai berikut ini.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ: يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»،

Artinya, “Dari Jabir bin Abdullah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW dalam khothbahnya bertahmid dan memuji Allah SWT. Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan jalan hidupnya, maka tiada yang bisa menunjuki orang tersebut ke jalan yang benar. Sungguh, kalimat yang paling benar adalah kitab suci. Petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. seburuk-buruknya perkara itu adalah perkara yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid‘ah. Setiap bid‘ah itu sesat. Setiap kesesatan membimbing orang ke neraka,’” (Lihat Ahmad bin Syu‘aib bin Ali Al-Khurasani, Sunan An-Nasai, Maktab Al-Mathbu‘at Al-Islamiyah, Aleppo, Cetakan Kedua, tahun 1986 M/ 1406 H).

Untuk memahami hadits riwayat An-Nasai, kita perlu menyandingkannya dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan di Shahih Bukhari sebagai berikut.

وقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وكل بدعة ضلالة" وهو من العام الذي أريد به الخاص بدليل قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المخرج في "الصحيح": "من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد". وقد ثبت عن الإمام الشافعي قوله: المحدثات من الأمور ضربان أحدهما: ما أحدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً، فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة. رواه البيهقي في "المدخل".

Artinya, “Ucapan Rasulullah SAW ‘Setiap bid‘ah itu sesat’ secara bahasa berbentuk umum, tapi maksudnya khusus seperti keterangan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, ‘Siapa saja yang mengada-ada di dalam urusan kami yang bukan bersumber darinya, maka tertolak’. Riwayat kuat menyebutkan Imam Syafi’i berkata, ‘Perkara yang diada-adakan terbagi dua. Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunah Rasul, pandangan sahabat, atau kesepakatan ulama, ini yang dimaksud bid‘ah sesat. Kedua, perkara baru yang baik-baik tetapi tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum tersebut, adalah bid‘ah yang tidak tercela,’” (Lihat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, Halaman 206).

Imam Syafi’i dalam keterangan di atas jelas membuat polarisasi antara bid‘ah yang tercela menurut syara’ dan bid‘ah yang tidak masuk kategori sesat. Pandangan Imam Syafi’i kemudian dipertegas oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut.

وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة: ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa,’” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali pada Syarah Shahih Bukhari).

Perihal hadits Rasulullah SAW itu, Guru Besar Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Syariah Universitas Damaskus Syekh Mushtofa Diyeb Al-Bugha membuat catatan singkat berikut ini.

(أحدث) اخترع. (أمرنا هذا) ديننا هذا وهو الإسلام. (ما ليس فيه) مما لا يوجد في الكتاب أو السنة ولا يندرج تحت حكم فيهما أو يتعارض مع أحكامها وفي بعض النسخ (ما ليس منه). (رد) باطل ومردود لا يعتد به]

Artinya, “Siapa saja yang mengada-ada (membuat hal baru) di dalam urusan (agama) kami (agama Islam) yang bukan bersumber darinya (tidak terdapat dalam Al-Quran atau sunah, tidak berlindung di bawah payung hukum keduanya atau bertolak belakang dengan hukumnya), maka tertolak (batil, ditolak, tidak diperhitungkan),’ (Lihat Ta’liq Syekh Mushtofa Diyeb Al-Bugha pada Jamius Shahih Al-Bukhari, Daru Tauqin Najah, Cetakan Pertama 1422 H, Juz IX).

Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam, ulama madzhab Syafi’i abad 7 H kemudian membuat rincian lebih detail perihal bid‘ah beserta contohnya seperti keterangan sebagai berikut.

الْبِدْعَةُ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إلَى: بِدْعَةٍ وَاجِبَةٍ، وَبِدْعَةٍ مُحَرَّمَةٍ، وَبِدْعَةٍ مَنْدُوبَةٍ، وَبِدْعَةٍ مَكْرُوهَةٍ، وَبِدْعَةٍ مُبَاحَةٍ، وَالطَّرِيقُ فِي مَعْرِفَةِ ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ: فَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْإِيجَابِ فَهِيَ وَاجِبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ التَّحْرِيمِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَنْدُوبِ فَهِيَ مَنْدُوبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَكْرُوهِ فَهِيَ مَكْرُوهَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمُبَاحِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ، وَلِلْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ أَمْثِلَةٌ.

Artinya, “Bid‘ah adalah suatu perbuatan yang tidak dijumpai di masa Rasulullah SAW. Bid‘ah itu sendiri terbagi atas bid‘ah wajib, bid‘ah haram, bid‘ah sunah, bid‘ah makruh, dan bid‘ah mubah. Metode untuk mengategorisasinya adalah dengan cara menghadapkan perbuatan bid‘ah yang hendak diidentifikasi pada kaidah hukum syariah. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kewajiban, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah wajib. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut keharaman, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah haram. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kesunahan, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah sunah. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kemakruhan, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah makruh. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kebolehan, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah mubah. Bid‘ah wajib memiliki sejumlah contoh,” (Lihat Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Cetakan kedua, Tahun 2010, Juz II, Halaman 133-134).

Contoh bid‘ah wajib antara lain mempelajari ilmu nahwu (gramatika Arab) sebagai perangkat untuk memahami Al-Quran dan Hadits, mendokumentasikan kata-kata asing dalam Al-Quran dan Hadits, pembukuan Al-Quran dan Hadits, penulisan ilmu Ushul Fiqh. Sementara contoh bid‘ah haram adalah hadirnya madzah Qadariyah, Jabariyah, Murjiah, atau Mujassimah. Contoh yang dianjurkan adalah sembahyang tarawih berjamaah, membangun jembatan, membangun sekolah. Contoh bid’ah makruh adalah menghias mushhaf dengan emas. Sedangkan contoh bid’ah mubah adalah jabat tangan usai sembahyang subuh dan ashar, mengupayakan sandang, pangan, dan papan yang layak dan bagus. Contoh bid‘ah di Indonesia antara lain peringatan tahlil berikut hitungan hari-harinya, peringatan Isra dan Miraj dan lain sebagainya yang kesemuanya bahkan dianjurkan oleh agama. Contoh-contoh ini dapat dikembangkan sesuai tuntutan kaidah hukumnya seperti diterangkan Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Semoga pengertian dan pembagian bid‘ah di atas dapat menurunkan intensitas kontroversi di masyarakat perihal bid‘ah. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb


(Alhafiz Kurniawan) via nu.or.id
NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Musthofa

NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Musthofa


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut berduka cita yang sangat mendalam atas wafatnya Rais Syuriyah NU periode 2010-2015 KH Ali Musthofa Yakub, Kamis (28/4) pagi. Untuk itu pihak PBNU menginstruksikan pengurus seluruh wilayah dan cabangnya untuk melaksanakan shalat ghaib dan menggelar tahlilan untuk almarhum Kiai Ali Musthofa.

“Kami juga mengharapkan pengurus wilayah dan cabang untuk meneruskan instruksi ini kepada pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di mana pun berada,” kata Rais Aam NU KH Maruf Amin di Jakarta, Kamis (28/4) siang.

Ucapan belasungkawa berdatangan dari pelbagai pengurus wilayah dan cabang NU di Indonesia. Salah satunya pengurus NU Serang. Mereka berdoa semoga Allah menerima amal baik almarhum KH Ali Musthofa Yakub dan mengampuni segala dosa dan keslahannya.

Almarhum Kiai Ali Musthofa dikenal sebagai kiai yang gigih melanjutkan pendidikan hadits yang menjadi fokus gurunya Hadlratus Syekh KHM Hasyim Asyari di tengah masyarakat. Kiai Ali Mushtofa mengabdikan dirinya untuk pengembangan agama Islam takhssus hadits, salah satu kajian langka di Indonesia.

Almarhum yang juga alumnus Pesantren Tebuireng Jombang ini kemudian mendirikan Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah di Pisangan Barat, Ciputat, Tangerang Selatan yang menjadi pusat kajian hadits di Indonesia. (Alhafiz K) via nu.or.id
Inilah Pesan Terakhir Kiai Ali Mustafa Ya'qub kepada Santrinya

Inilah Pesan Terakhir Kiai Ali Mustafa Ya'qub kepada Santrinya


Tak banyak yang tahu bahwa Prof Dr KH. Ali Mustafa Yaq'ub belum lama ini berulang tahun. Pria yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal ini, terhitung tanggal 2 Maret ini genap berusia 64 tahun. Dengan kata lain, beliau telah melampaui usia Nabi. Hal yang tentu patut disyukuri tidak hanya oleh beliau dan para santrinya, tapi juga umat Islam Indonesia yang diberi anugerah oleh Allah salah satu putra terbaik bangsa ini. Namun, hari ini, Kamis (28/4) Allah Swt memanggilnya. Ini jelas kehilangan besar untuk bangsa dan umat Islam Indonesia.

Selama 64 tahun perjalanan hidup beliau, banyak yang sudah dicapai dan diraihnya. Pakar hadits terkemuka Indonesia ini telah banyak meninggalkan jejak dan tinta emas. Pak Kiai–begitu para santrinya biasa memanggil–merintis karier keulamaannya sejak menjadi pengasuh Pesantren al-Hamidiyyah Depok, lalu mendirikan Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah di Ciputat, Tangerang Selatan.

Nama beliau mulai dikenal publik setelah menjadi kolumnis tetap di Harian Pelita dan Majalah Amanah. Melalui tulisannya yang tajam dan kritis dalam merespons permasalahan umat, terutama dengan sudut pandang hadits, nama Pak Kiai semakin menarik perhatian khalayak.

Keulamaan dan kecendekiaan beliau terus menyita perhatian publik ketika beliau ditunjuk sebagai salah satu anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Puncaknya saat beliau diangkat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni. Posisi beliau sebagai imam besar ini pulalah yang mengantarkan beliau untuk mendampingi Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berkunjung ke Masjid Istiqlal beberapa tahun lalu.

Ada yang unik dari sosok beliau. Tiap kali menempati amanah tertentu, beliau selalu disukai oleh media. Singkatnya, beliau dapat dikatakan sebagai media darling. Tak heran bila sosoknya selain pikiran-pikiran segarnya, selalu menghiasi media massa, baik cetak, elektronik, maupun media online. Beliau juga di antara sedikit ulama yang rutin diundang dalam acara Indonesia Lawyers Club di salah satu televisi nasional.

Ternyata tugas dan amanah yang beliau emban di ruang publik, tak serta-merta melupakan tugas beliau sebagai pengasuh International Institute for Hadith Sciences Darussunnah, yang mempunyai cabang di Malaysia. Terbukti mahasantri dari pesantren yang diasuhnya selalu langganan menjadi lulusan terbaik di kampus-kampus tempat mereka berkuliah, seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Capaian para santri beliau ini tak lepas dari “tangan dingin” yang selalu mengajarkan prinsip hidup yang jadi modal penting santri dalam hidup di masyarakat. Berikut lima hal yang selalu diajarkan beliau pada para santrinya:

1. Jangan Mati Sebelum Punya Buku
Ada pesan Pak Kiai yang selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan di hadapan para santri. Pesan itu sangat melekat dan seperti afirmasi positif yang beliau tanamkan di benak para santri.
Wa la tamuttunna illa wa antum katibun. Jangan mati kecuali sudah bisa menulis buku. Pesan ini seperti sugesti yang terus beliau suntikkan pada para santri. Tak heran bila banyak santri beliau yang kemudian mempunyai karya berupa buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka nasional dan bahkan internasional. Ini tak lain karena selain berpesan, beliau juga mencontohkan dengan terus berkarya. Tiap tahun selalu saja ada karya beliau yang diluncurkan ke publik.

2. Selalu Shalat Berjamaah
Pesan ini juga selalu beliau tekankan pada para santri. Bahkan, pada suatu kesempatan beliau secara berseloroh akan membakar kamar-kamar santri yang penghuninya tidak shalat berjamaah. Apa yang beliau sampaikan itu dengan mendasarkannya pada hadits Nabi yang akan membakar rumah-rumah sahabat yang tidak shalat berjamaah.
Beliau sangat memperhatikan hal ini. Bahkan, untuk penentuan lulusan terbaik di pesantren yang diasuhnya, beliau tidak hanya memperhatikan aspek akademiknya, tetapi juga memperhatikan aspek spiritualnya, termasuk shalat berjamaahnya.

3. Bermanfaat untuk Umat
Pak Kiai selalu menekan pada para santri agar jadi orang yang berilmu, tapi yang tidak di menara gading. Ilmunya yang hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Masyarakat sekitar tak ada yang merasakan kemanfaatan dari ilmunya. Pak Kiai selalu menasihati para santri agar tak meniru orang-orang yang mencari ilmu untuk mendapat gelar dan pekerjaan.
Karena, menurut beliau, ilmu sejatinya untuk dimanfaatkan, terutama untuk orang-orang di sekeliling. Pada banyak kesempatan di pengajian santri, beliau selalu mengutip hadis: “Jika ada satu orang saja yang mendapat hidayah gara-gara dirimu, itu lebih baik daripada onta yang paling mahal harganya,” (HR Bukhari).

4. Kemampuan Berbahasa Asing
Kemampuan berbahasa asing tak pelak menjadi prasyarat penting dalam memenangkan percaturan dalam berbagai bidang dewasa ini. Pesan tersebut seperti menjadi isyarat penting terkait peran umat Islam Indonesia di kancah internasional, mengingat minimnya ulama dan cendekiawan Muslim kita yang mampu berkiprah secara internasional, bukan karena tidak punya kualitas, tapi lebih karena terkendala persoalan bahasa. Pak Kiai yang sering berdakwah ke banyak negara, termasuk ke Amerika Serikat, menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing ini.

5. Ikhlas dalam Mengabdi dan Berbuat
Soal keikhlasan dalam mengabdi dan berbuat, tidak hanya Pak Kiai pesankan melalui nasihat dan petuah, tapi beliau praktikkan langsung. Ini dibuktikkan dengan pesantrennya yang selama sepuluhan tahun lebih menggratiskan biaya pendidikan. Bahkan, beliau terkadang juga membiayai makan sehari-hari para santri. Beliau pun tak pernah membebani santri dengan banyak sumbangan untuk pembangunan dan pengembangan pesantren. (Moch Syarif Hidayatullah) via nu.or.id
Secuil keju haram yang merusak manisnya Ibadah

Secuil keju haram yang merusak manisnya Ibadah


Wartaislami.Com ~ Tak ada yang ragu soal kealiman dan kezuhudan Abu Yazid al-Busthami. Tokoh sufi ternama abad ke-9 ini termasuk hamba dengan ketaatan yang utuh. Kehidupan Abu Yazid nyaris penuh dengan aktivitas ibadah. Namun, ada yang janggal di hatinya ketika bertahun-tahun beribadah tapi ia tak pernah merasakan kenikmatan dan kelezatan beribadah.

Mengapa?

Abu Yazid telah berikhtiar maksimal. Totalitas adalah prinsip baginya dalam menghamba kepada Allah subhânahu wata‘alâ. Lalu, kenapa kejanggalan itu terjadi? Pertanyaan ini terus mengganggu pikirannya hingga Abu Yazid menghadap ibunya dan memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Ibunda, aku selama ini aku tak menemukan manisnya ibadah dan ketaatan. Ingat-ingatlah, apakan Ibunda pernah mengonsumsi makanan haram saat aku masih berada dalam perut atau ketika aku masih menyusu?”

Sang ibunda diam agak lama. Ia berusaha mengingat-ingat seluruh peristiwa seperti apa yang dikatakan anaknya.

“Wahai anakku,” jawab ibu Abu Yazid kemudian, “Saat kau masih dalam perut, Ibunda suatu kali pernah naik ke atas atap. Ibunda melihat sebuah ember berisi keju dan karena berselera Ibunda mencicipinya seukuran semut tanpa seizin pemiliknya.”

“Pasti gara-gara ini,” kata Abu Yazid. Ia lantas memohon kepada ibunya untuk menemui si pemilik keju dan memberi tahu masalah yang terjadi.

Sang ibunda pun menuruti permintaan Abu Yazid: mendatangi pemilik keju itu dan menceritakan perbuatannya yang mencuil keju hanya sebesar semut lalu memakannya.

“Keju itu sudah halal untukmu,” kata pemilik keju kepada sang ibunda yang segera ia kabarkan kepada anaknya, Abu Yazid al-Busthami. Sejak saat itu Abu Yazid dapat merasakan manisnya ketaatan dan beribadah kepada Allah.

Kisah yang terekam dalam kitab an-Nawâdir karya karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi ini memberi pesan tentang pentingnya membersihkan diri dari hal-hal haram, baik dari segi substansi ataupun karena cara memperolehnya. Sudahkah semua barang yang kita makan dan kita manfaatkan didapatkan dari proses yang sepenuhnya halal?

Terputusnya ibadah dari rasa manisnya yang dialami Abu Yazid juga menunjukkan bahwa selalu ada keterkaitan antara penyimpangan perbuatan fisik seseorang dan suasana ruhaninya. Dan, penyimpangan tersebut tak mesti bersumber dari dirinya sendiri, tapi bisa juga dari orang tuanya. Kenyataan ini pula yang memberi peringatan para orang tua agar sangat berhati-hati dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya: pastikan semua halal, dengan demikian kehidupan akan berkah. Wallahu a’lam. (Mahbib/NU Online)
KISAH–Kiai yang Belajar Jalan di atas Air

KISAH–Kiai yang Belajar Jalan di atas Air


Wartaislami.com ~  Alkisah di sebuah desa sederhana hidup seorang remaja bersama ayahnya yang menjual susu.

Remaja ini bertugas mengantarkan susu kepada para pelanggan. Di antara yang terdapat pada daftar pelanggan susu adalah seorang kiai terpandang.

Rumah kiai itu terletak di seberang sungai. Saban hari remaja ini harus menyeberanginya terlebih dahulu untuk mengantarkan susu.

Sekali waktu remaja ini terlambat mengantarkan susu kepada kiai. Kiai pun kesal dan menanyakan alasan kelambatannya.

“Sungainya luas dan perahu yang tersedia hanya satu. Aku harus mengantri agar dapat menyebarang dan membawa bejana susu ini. Padahal aku sudah berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terlambat,” jawab sang pemudi.

“Apa? Kau menjadikan sungai sebagai alasan keterlambatanmu mengantarkan susu? Toh, orang-orang mampu berjalan di atas sungai hanya lantaran menyebut-nyebut nama ‘Allah’,” bantah kiai terpandang itu.

Petuah kiai itu pun langsung merasuk ke dalam kalbunya. Sejak itu remaja sederhana ini selalu datang tepat waktu dan tak pernah terlambat sekali pun.

Setelah sekian lama, sang kiai mulai bertanya-tanya rahasia mengapa remaja ini tidak pernah lagi terlambat. Dengan santai remaja ini menjawab, “Aku hanya menjalankan petuah Kiai kepadaku. Aku berjalan di atas air sambil menyebut nama ‘Allah’ di dalam hatiku.”

Sang kiai heran dan memintanya untuk membuktikannya. Dia pun berjalan bersamanya hingga ke tepi dan mulai berjalan di atas air tanpa takut. Di dalam hatinya hanya ada kecintaan dan keikhlasan kepada Allah.

Lagi-lagi sang kiai semakin takjub dan bertanya, “Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya mengikuti kata-kata Anda kepadaku. Aku mengulang-ulang kata ‘Allah’ dan menyeberangi sungai dengan selamat,” jawab sang pemudi.

Setelah mendengarnya, tanpa ragu sang kiai mengikuti remaja itu. Kiai itu lalu berusaha untuk berjalan di atas air dengan menyebut nama ‘Allah’ dengan lisannya. Namun sayangnya dia tidak berhasil. Kiai itu pun tercebur ke dalam air dan berteriak meminta tolong.

Remaja pengantar susu itu terheran melihatnya dan berkata, “Apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda menyebut-nyebut nama ‘Allah’ namun menyingsingkan baju karena takut air? Apakah ini yang disebut yakin kepada Allah, wahai Kiai?”

Source: www.islamindonesia.id
Ketika Abu Yazid al-Busthami Tak Merasakan Manisnya Ibadah

Ketika Abu Yazid al-Busthami Tak Merasakan Manisnya Ibadah


Tak ada yang ragu soal kealiman dan kezuhudan Abu Yazid al-Busthami. Tokoh sufi ternama abad ke-9 ini termasuk hamba dengan ketaatan yang utuh. Kehidupan Abu Yazid nyaris penuh dengan aktivitas ibadah. Namun, ada yang janggal di hatinya ketika bertahun-tahun beribadah tapi ia tak pernah merasakan kenikmatan dan kelezatan beribadah.

Mengapa?

Abu Yazid telah berikhtiar maksimal. Totalitas adalah prinsip baginya dalam menghamba kepada Allah subhânahu wata‘alâ. Lalu, kenapa kejanggalan itu terjadi? Pertanyaan ini terus mengganggu pikirannya hingga Abu Yazid menghadap ibunya dan memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Ibunda, aku selama ini aku tak menemukan manisnya ibadah dan ketaatan. Ingat-ingatlah, apakan Ibunda pernah mengonsumsi makanan haram saat aku masih berada dalam perut atau ketika aku masih menyusu?”

Sang ibunda diam agak lama. Ia berusaha mengingat-ingat seluruh peristiwa seperti apa yang dikatakan anaknya.

“Wahai anakku,” jawab ibu Abu Yazid kemudian, “Saat kau masih dalam perut, Ibunda suatu kali pernah naik ke atas atap. Ibunda melihat sebuah ember berisi keju dan karena berselera Ibunda mencicipinya seukuran semut tanpa seizin pemiliknya.”

“Pasti gara-gara ini,” kata Abu Yazid. Ia lantas memohon kepada ibunya untuk menemui si pemilik keju dan memberi tahu masalah yang terjadi.

Sang ibunda pun menuruti permintaan Abu Yazid: mendatangi pemilik keju itu dan menceritakan perbuatannya yang mencuil keju hanya sebesar semut lalu memakannya.

“Keju itu sudah halal untukmu,” kata pemilik keju kepada sang ibunda yang segera ia kabarkan kepada anaknya, Abu Yazid al-Busthami. Sejak saat itu Abu Yazid dapat merasakan manisnya ketaatan dan beribadah kepada Allah.

Kisah yang terekam dalam kitab an-Nawâdir karya karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi ini memberi pesan tentang pentingnya membersihkan diri dari hal-hal haram, baik dari segi substansi ataupun karena cara memperolehnya. Sudahkah semua barang yang kita makan dan kita manfaatkan didapatkan dari proses yang sepenuhnya halal?

Terputusnya ibadah dari rasa manisnya yang dialami Abu Yazid juga menunjukkan bahwa selalu ada keterkaitan antara penyimpangan perbuatan fisik seseorang dan suasana ruhaninya. Dan, penyimpangan tersebut tak mesti bersumber dari dirinya sendiri, tapi bisa juga dari orang tuanya. Kenyataan ini pula yang memberi peringatan para orang tua agar sangat berhati-hati dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya: pastikan semua halal, dengan demikian kehidupan akan berkah. Wallahu a’lam. (Mahbib) via nu.or.id

Xinjiang, Kota Santri Negeri Tirai Bambu

Xinjiang, Kota Santri Negeri Tirai Bambu


Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menilai peran NU untuk menjadi rujukan Islam dunia sangatlah diharapkan masyarakat dunia. Hal ini ia rasakan saat berkunjung ke negara Cina beberapa hari lalu. Dalam lawatannya selama sepakan tersebut, ia menjelaskan bahwa muslim Cina merespon baik Islam Nusantara yang diusung oleh NU.

“Islam yang santun, ramah, berakhlak, dan melebur dengan kearifan lokal. Itu yang oleh muslim Cina direspon dengan sangat baik,” kata Kiai Said, Senin, (25/4) di Jakarta.

Kiai Said menuturkan bahwa Cina adalah negara besar yang perekonomiannya kuat, senjatanya canggih, dan teknologinya maju. “Namun demikian budayanya (Cina) kuat,” tegasnya.

Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah ini kemudian bercerita, masyarakat suku Uighur di Provinsi Xinjiang memakai tulisan huruf Arab dalam penulisan namun tetap menggunakan bahasa asli mereka, bahasa Uighur.

“Di mana-mana (papan nama di jalan-jalan) tulisannya arab, tapi bahasanya Uighur. Jadi, dia masih mempertahankan budaya. Luar biasa kan,” kenang Kiai Said.

Senada dengan Kiai Said, Muhammad Sofwan yang ikut dalam rombongan PBNU ini menjelaskan bahwa Provinsi Xinjiang merupakan pusat kebudayaan Islam di Cina. Ia menilai bahwa Xinjiang adalah provinsi yang menarik karena budaya Arab dan budaya setempat bisa berjalan dengan beriringan.

“Menariknya adalah melihat akulturasi budaya setempat, antara budaya Cina dan budaya Arab atau Islam khususnya,” ujar alumnus UIN Syarif Hidayatullah ini.

Sofwan menduga penyebaran Islam di Cina melalui jalur darat dimulai dari Provinsi Xinjiang ini. "Bisa dibilang Xinjiang ini adalah kota santrinya Tiongkok,” lanjutnya.

Xinjiang merupakan salah satu provinsi yang terletak di bagian barat laut negara Cina. Ada sekitar 23 juta jiwa penduduk Xinjiang dan 60 persennya adalah Muslim. (Muchlishon Rochmat/Zunus) via nu.or.id
Kiai Abbas Buntet, Mengubah Kacang Jadi Tentara Usir Belanda

Kiai Abbas Buntet, Mengubah Kacang Jadi Tentara Usir Belanda


Wartaislami.Com ~ Banyak cerita heroik dan mistis para kiai dari berbagai Pondok Pesantren yang ikut berjuang di jaman kemerdekaan dulu. Salah satunya cerita dari Kyai Abbas Djamil Buntet, salah seorang kiai asal Cirebon yang sangat kesohor kesaktiannya.

Konon, Kiai Abbas bisa mengubah kacang hijau menjadi puluhan tentara yang gesit untuk menghadapi pasukan Belanda. Kisah itu dicerikan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Gus Reza Ahmad Zahhid, yang merupakan anak dari almarhum KH Imam Yahya Mahrus saat memperingati Hari Santri Nasional, Kamis, 22 Oktober 2015.

Cerita Kiai Abbas bisa mengubah kacang menjadi tentara berawal dari adanya kesepakatan tiga orang Kyai, yaitu Kiai Abdullah Faqih dari Ponpes Langitan Tuban, Kiai Mahrus Aly dari Lirboyo Kediri, dan termasuk Kiai Abbas. Mereka sepakat untuk menggerakan para santri ikut mengusir para penjajah. Ketiganya berada di bawah komando Kiai Hasyim Asya’ari.

Para kiai sakti itu berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang untuk membahas strategi merebut Kota Surabaya dari penjajah. Dalam rapat kecil yang digelar 22 Oktober 1945 itu, Kiai Abbas Djamil ditunjuk sebagai Panglima Angkatan Laut. Mereka sepakat melakukan jihad dengan para santri untuk mengusir penjajah dari Tanah Air dengan menyerbu Surabaya pada 9 November 1945. Namun serangan itu kemudian mundur satu hari setelahnya.

Menurut Gus Reza, suatu waktu dalam perjalanan menuju Surabaya, Kiai Abbas meminta para santrinya membekali diri dengan butiran kacang hijau. Tak berani bertanya, para santri manggut saja dengan mengantongi butiran kacang hijau itu di sakunya.

Tiba di Semarang, rombongan Kiai Abbas dan para santri ternyata dihadang pasukan Belanda bersenjata lengkap. Tak ada raut cemas, Kiai Abbas hanya meminta beberapa butir kacang hijau kepada santrinya dan dilemparkan ke depan rombongan. Dalam sekejap butiran kacang hijau itu berubah menjadi tentara yang dengan cepat menggempur penghadang.

Gus Reza mendapatkan cerita itu saat berkunjung ke Cirebon dan bertatap muka dengan santri tua anak buah Kiai Abbas yang ikut dalam pertempuran itu. Menurut Gus Reza, kisah itu kini masih sangat hidup di kalangan para santri. (ed Muslimoderat.com/tempo.co)


Mengapa Allah Mengharamkan Bangkai?

Mengapa Allah Mengharamkan Bangkai?






Wartaislami.com ~ Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena dianggap kotor. Keharaman binatang juga terkait dengan alasan ibadah, yaitu untuk mendekatkan diri kepada berhala dan karena mengikuti waham (kepercayaan yang salah).

Di balik sikap itu, mereka juga menunjukkan perilaku yang kontradiktif. Mereka menghalalkan binatang yang kotor seperti bangkai dan darah yang mengalir. Ada pula yang mengonsumsi makanan yang berlebihan, ada yang melarang secara keras.

Islam datang memberikan pandangan baru dalam masalah makanan hewani. Agama ini mengajarkan manusia untuk mengambil yang baik-baik dari segala yang telah dihamparkan Allah SWT di muka bumi. Walaupun begitu, Allah memberikan batasan berupa empat hal yang diatur dalam QS al-An’am: 145. Keempat hal tersebut, antara lain, bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi yang dianggap kotor. Allah juga mengharamkan binatang yang disembelih dengan nama selain-Nya.

Ulama kontemporer Yusuf Qaradhawi menjelaskan dalam kitab Halal dan Haram, bangkai diartikan sebagai makanan yang kematiannya tidak disebabkan adanya usaha manusia. Secara naluri, bangkai dipandang sebagai barang yang kotor.

Asal-usul kematian binatang yang ditemukan dalam bentuk bangkai juga tidak jelas. Suatu binatang bisa saja mati karena penyakit, umur sudah tua, atau mengonsumsi makanan beracun. Dengan kata lain, bangkai tidak dapat dijamin keamanannya untuk dikonsumsi.

Diharamkannya bangkai menyimpan hikmah agar manusia tidak tamak. Dengan mengharamkan bangkai bagi manusia, Allah menyediakannya sebagai makanan bagi makhluk lain seperti burung dan binatang pemangsa lain. Ini juga memberikan isyarat agar manusia senantiasa memperhatikan binatang yang dimiliki dan tidak membiarkannya sakit, mati, lalu menjadi bangkai.

Selain itu, naluri manusia yang sehat pasti tidak akan rela memakan bangkai, dengan sendirinya ia akan menganggapnya kotor. Para ahli di kalangan mereka pasti akan beranggapan bahwa makan bangkai adalah suatu perbuatan buruk yang dapat menurunkan derajat manusia.

Oleh karena itu, seluruh agama samawi memandang bangkai tersebut suatu makanan yang dikategorikan haram. Mereka tidak boleh makan kecuali yang telah disembelih sesuai dengan syariat.

Selanjutnya, binatang yang mati dengan sendirinya pada umumnya mati karena suatu sebab tertentu. Bisa jadi, karena penyakit yang mengancam, umurnya sudah tua, atau karena makan tumbuh-tumbuhan yang beracun dan sebagainya sehingga keamanannya tidak dapat dijamin.

Source: www.republika.co.id
Tanggapi Isu Pemurtadan, NU: Pemeluk Agama Lain Banyak Jadi Mualaf

Tanggapi Isu Pemurtadan, NU: Pemeluk Agama Lain Banyak Jadi Mualaf


Wartaislami.com ~ Rais Syuriah PBNU Masdar Farid Mas’udi mengatakan data yang dirilis oleh Irjen Pol (Purn) Anton Tabah tentang adanya dua juta Muslim yang murtad setiap tahun harus jelas perinciannya. Dengan demikian, akan lebih tepat untuk menanggapi data tersebut.

“Banyak faktor seseorang migrasi agama, bisa karena kemiskinan, perkawinan, pertemanan dan pekerjaan,” jelas dia, Ahad (24/4). Tteapi jumlah umat non muslim yang bertambah bisa saja karena adanya perpindaha penduduk non muslim dari luar negeri ke Indonesia.

Meski demikian, dia menjelaskan, tetap saja ini masalah yang menarik untuk disikapi dengan serius. Meski demikian hidayah itu adalah pemberian Allah SWT meskipun banyak orang menghendaki mereka mendapatkan hidayak untuk memeluk Islam.

Migrasi keagamaan tidak hanya terjadi dari Islam ke agama lain, tetapi juga dari agama lain ke Islam. Dia menjelaskan, agama lain juga sering mengeluhkan banyak umatnya yang memeluk Islam.

Terkait berkurangnya jumlah pemeluk agama, negara tidak bisa bertanggung jawab secara langsung. Ini jelas merupakan tanggung jawab keluarga dan umat itu sendiri untuk menjaga keutuhan umat.

Dia mengatakan, sesama umat Islam memang memiliki tanggung jawab moral untuk memelihara keutuhan umat. Hanya saja umat perlu memperbaiki citra Islam agar tidak ada lagi yang memandang Islam radikal dan dekat dengan ekstrimisme.

Menurut dia, Islam merupakan agama yang nyaman dan damai, dan ini yang perlu terus menerus digaungkan. Sehingga mereka yang rawan aqidah semakin yakin untuk memeluk Islam. n Ratna Ajeng Tejomukti

Source: www.republika.co.id
Ketika Anak Bertanya “Dimana Allah?” Beginilah Jawabnya

Ketika Anak Bertanya “Dimana Allah?” Beginilah Jawabnya


Wartaislami.Com ~ Risalah kecil ini kami buat mengingat beberapa hari yang lalu ada anak salah seorang kakak kami bertanya kepada kakaknya: “Kak Ridha, Allah itu dimana?” Lalu si kakak yang masih berumur 6 tahun ini menjawab: “Allah itu ghaib sayaaang, gak bisa ditanya dimana tempat-Nya.” Sungguh bijak jawaban kakak ini, lebih bijak daripada orang-orang dewasa yang mengatakan Allah di atas langit. Allah bisa dijumpai dengan pesawat jet yang canggih. Laa haula wala quwwata illa Billah.
Kami kira bukan adik kakak ini saja yang sering menanyakan Allah kepada ibunya, tetapi anak-anak anda juga pasti melakukan hal yang serupa, begitu pula dengan anak kami nanti. Kira-kira apa yah yang akan kita jawab ketika anak kita bertanya; “Dimana Allah?“
Kami pikir ini sangat penting, mengingat pendidikan anak mesti kita lakukan sejak dini, terlebih pendidikan tentang Allah. Subhanallah, alangkah bahagianya kita jika tidak hanya ilmu membaca al-Qur’an saja yang kita tanamkan kepada anak-anak sejak dini, tetapi ilmu tentang Allah jauh lebih penting, agar kelak anak-anak kita bukan hanya menjadi seorang hamba yang Qur’ani tetapi juga mejadi seorang insan yang robbani.
وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ
“Tetapi jadilah hamba yang mengenal Tuhan…” (Qur’an Surat Al-Baqarah: 79)
Bahagianya kita jika sedari kecil anak-anak kita tidak diajarkan pemahaman yang rusak dan aqidah yang menyimpang tentang Allah. Kata Kak Ulfah: “Kalau kita kenalkan Allah sampai Allah dicintai dan ditakuti anak-anak akan aman, tidak berani berbuat jahat baik dalam keadaan sendiri ataupun ramai… karena cinta dan takut kepada Allah adalah kunci segala kebaikan..^^.”
Jangan seperti kami kecil dulu, yang mana jami kira Allah tempatnya di langit, Allah itu seperti Superman, kalau hujan turun kami kira Allah lagi mandi, kalau ada guntur kami kira Allah sedang geser kursi dan sebagainya. Jadi kalau mau berbuat jahat, pasti Allah tidak akan tahu karena Allah sama kayak kita. Wal ‘iyadzubillah min hadzal fahm. Makanya sekecil apapun kita hindarkan pikiran tersebut karena  Allah itu Maha Suci dan Maha Tinggi atas segala bentuk dan penyerupaan (tasybih). Jadilah seperti Ridha di atas, seorang gadis enam tahun yang bijak, yang aku yakin bukan hasil didikan biasa yang juga dari orang biasa, tapi ini adalah hasil tarbiyah dari kedua orang tua yang luar biasa.
Untuk memudahkan kita-kita yang awam, maka kami membuat format artikel ini dalam bentuk dialog. Silahkan simak dialog yang terjadi antara seorang ibu dengan anaknya di bawah ini:

-M U L A I-

Anak: “Ma, Allah itu dimana ci?”
Ibu: “Allah tidak bisa ditanya dengan ‘DIMANA’ sayaaang.., karena Allah tidak bertempat. Bahkan Allah sudah ada sebelum tempat diadakan“.
Anak: “Yang ngadakan tempat ciapa Ma?
Ibu: “Allah dong sayaaang….”
Anak: “Tapi tadi pagi, adek waktu maulid di cekolah dengal Pak Ustad celita kalau dulu ada calah ceolang cahabat Nabi Muhammad yang punya budak Mah, budaknya ini diculuh jaga kambing, eh tak taunya kambingnya dimakan cama cligala. Padahal cahabat itu udah belcumpah akan menjadikan kambing itu cebagai hadiah untuk Nabi. Telus cahabat itu malah-malah (red: marah-marah) Ma, budaknya didamplat.(red: damprat)”
Ibu: “Terus?”
Anak: “Ci Cahabat itu kecal bangat Mah,. Telus dia mau menjadikan budaknya itu caja cebagai ganti menebus cumpahnya yang gak jadi dilakcanakan gala-gala kambingnya uda dimakan cligala.”
Ibu: “Terus-terus?” *si ibu penasaran*
Anak: “Ci budak akhilnya mendatangi Nabi Muhammad dan ngelapol, kalau dia ingin menebus cumpah, Ma.”
Ibu: “Terus Nabi Muhammad bilang apa?”
Anak: “Nabi Muhammad nyuluh manggil budaknya itu. Pas uda datang, Nabi nanyain budak itu Ma.”
Ibu: “Nabi nanya apa Dek?”
Anak: “Nabi nanya: ‘Dimana Allah?’ Telus budak itu menjawab: ‘Di langit’.”
Ibu: “Terus budak itu dibebasin?”
Anak: ” Iya Mah, budak itu dibebacin cama Nabi gala-gala bilang Allah di langit.
Ibu: “Adek sayaaang…, dalam agama kita, syarat budak dibebaskan untuk menebus sumpah adalah budaknya harus budak yang mukmin, maksud mamah budak yang beriman, gak boleh budak yang kafir. Jadi Nabi bukan ingin menanyakan tempatnya Allah dimana, tapi ingin menguji iman si budak tersebut, apakah dia beriman atau tidak.”
Anak: “Tapi kenapa nanyanya pakai ‘dimana Allah’ Mah?”
Ibu: “Karena Rasulullah ingin menguji iman si budak, apakah si budak meyakini Tuhannya adalah Tuhan yang ada di langit; Tuhan yang selalu orang-orang Islam panjatkan doa kepada-Nya itu, atau tuhan yang ada di bumi; tuhan-tuhannya orang-orang musyrik. Kalau tuh budak jawabnya; di bumi, habislah perkara, bukan mukminlah dia, tak jadi bebaslah dia. Tapi kalau ntuh budak jawabnya di langit, selamatlah tuh budak, maka bebaslah dia”
Anak: “Owh jadi ditanya ‘dimana’, hanya cebagai paladokci (red: paradoksi) aja ya Ma? *Duh nih bocah celat-celat tau pula’ dia komparatif*
Ibu: “Kamu pinter sayang, betul sekali. Agar si budak hanya tinggal menjawab apakah yang di bumi atau yang di langit. Tapi maksud Nabi bukan mau menanyakan tempat, namun ada yang lebih penting dari itu; yaitu Tuhan kamu Allah apa berhala? Begitu sayang.”
Anak: “Mamah ngalang (red: ngarang) ah.” *Gubraaaaaaaaaaaaak ^%$%%(^%$%#*
Ibu: “Bukan ngarang sayaaang…, itu yang diajarin Papa. Lihat dong buktinya; terakhir di akhir dialog, Nabi tanya dirinya siapa kan sama budak itu?”
Anak: “Eh iya Mah betul, adek lupa, telakhil Nabi bilang cama budak itu: Aku ini ciapa? Telus budak itu jawab: Engkau adalah utusan Allah.”
Ibu: “Naaaaaah, itu dia, itukan bukti bahwa sebenarnya Nabi ingin menanyakan syahadat si budak itu, bukan nanyakan tempat Allah dimana dengan sebenar-benar tempat. Sekarang mama tanya sama adek, pasangan dua kalimat syahadat: Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah apa?”
Anak: “Asyhadu an Laa ilaha illAllah”
Ibu: “Nah itulah dia bukti iman, yang menjadi syarat seseorang itu beriman apa tidak, bukan tempat Allah ada dimana. Tahu tempat Allah dimana; bukan syarat iman Dek. Adek kalau mau tahu seseorang itu beriman apa tidak, adek mesti tanya siapa Tuhannya dan siapa Rasulnya? Bukan tanya dimana tempat Tuhannya.
Anak: “Hmmm, tapi adek belum puas. Kila-kila, mamah punya bukti laen gak untuk menguatkan pelkataan mamah.” *Nih bocah mirip ane waktu kecil banget Gan, kritis bangat*
Ibu: “Owh tentu. Bentar yah mama buka kitab dulu. Nah ini dia:
Hadits-hadits ini sama seperti hadits yang adek ceritakan, cuman berbeda jalur periwayatan dan redaksi saja, tapi maksudnya sama, menceritakan budak yang menjaga kambing itu:
عن ابن جريج قال: أخبرنى عطاء أن رجلا كانت له جارية فى غنم ترعاها وكانت شاة صفى- يعنى غزيرة فى غنمه تلك- فأراد أن يعطيها نبى الله صلى الله عليه وسلم فجاء السبع فانتزع ضرعها فغضب الرجل فصك وجه جاريته فجاء نبى الله صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له وذكر أنها كانت عليه رقبة مؤمنة وافية قد هم أن يجعلها إياها حين صكها، فقال له النبى صلى الله عليه وسلم: إئتنى بها! فسألها النبى صلى الله عليه وسلم: أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. وأن محمدا عبد الله ورسوله؟ قالت: نعم. وأن الموت والبعث حق؟ قالت: نعم. وأن الجنة والنار حق؟ قالت: نعم. فلما فرغ، قال: اعتق أو أمسك!
Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikhabarkan oleh `Atha`, bahwasanya seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang dipekerjakannya untuk mengembalakan kambingnya dan kambing-kambing ini merupakan kambing pilihan – yakni dari kambingnya yang banyak itu-. Kemudian ia bermaksud memberikannya (kambing tersebut) kepada Nabi Saw. Lalu tibalah binatang buas dan menerkam kambingnya. Si laki-laki kemudian marah dan menampar wajah budak perempuan. Si lak-laki lantas mendatangi Nabi Saw dan menyebutkan semua yang terjadi kepada Nabi Saw. Ia juga menyebutkan bahwa ia mesti membebaskan seorang budak yang beriman sebagai kafarah dan ia bermaksud untuk menjadikan budak ini sebagai budak yang dibebaskannya ketika ia menamparnya itu. Maka Rasul Saw berkata kepadanya: “Datangkanlah ia kepadaku!”. Rasul Saw kemudian menanyainya (budak wanita): “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “kematian serta kebangkitan adalah sesuatu yang haq?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “surga dan neraka adalah haq?” Ia menjawab: “Iya”. Ketika selesai dialog tersebut, Rasul Saw. mengatakan: “Bebaskanlah ia atau tetap bersamamu!” (Hadits riwayat Mushannaf Abdur Razzaq)
Terus mamah masih punya hadits satu lagi, yang ini riwayat Imam Malik:
وَحَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ لَهُ سَوْدَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَإِنْ كُنْتَ تَرَاهَا مُؤْمِنَةً أُعْتِقُهَا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَعْتِقْهَا ».
Disampaikan kepadaku oleh Imam Malik: dari Syihab dari `Ubaidillah Bin Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud bahwasanya seorang laki-laki dari kalangan Anshar mendatangi Rasul Saw. Ia memiliki seorang budak wanita berkulit hitam dan berkata: Wahai Rasul Saw, sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman, jikalau engkau melihatnya beriman, maka bebaskanlah ia. Maka Rasul Saw berkata kepadanya (budak wanita): “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?! Ia menjawab: “Iya”. Rasul Saw kemudian mengatakan: “Bebaskanlah ia”.
Anak: “Hiufth panjang bangat Mah. Oleng pala adek baca na”
Ibu: “Yeee, kan adek tadi yang minta dalil. Ckckckck. Nah jadi riwayat yang adek ceritakan tadi harus kita gabungkan dengan riwayat yang ada sama mamah. Setelah kita gabungkan, baru kita ambil kesimpulan. Adeeek, baca hadits itu gak boleh separoh-separoh, gak boleh satu rriwayat saja, tapi harus membaca dan menggabungkan semua riwayat yang berkenaan, agar kita gak salah dan sepihak dalam menyimpulkan. Begitu papah adek bilang.
Adek: “Owh… ai ci.. ai ci… (red:i see.. i see)”

-T A M A T-

Nah begitulah saudara-saudariku yang budiman, artikel ini sengaja kami buat dalam bentuk tanya jawab agar lebih mudah dipahami bagi yang awam. Lalu sebenarnya bagaimana bunyi redaksi hadits yang diceritakan oleh si Adek yang bersumber dari ustadnya tadi. Berikut saya cantumkan:
حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ
بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتِهِمْ قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ قَالَ قُلْتُ وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ قَالَ كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ قَالَ وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Diriwayatkan dari Atho’ bin Yassar dari Mu`awiyah Bin Hakam Al Sulamiy: Ketika saya shalat bersama Rasulullah Saw. ada seorang laki-laki yang bersin, lantas saya mendo`akannya dengan mengucapkan yarhamukaLlah. Semua orang yang shalat lantas melihat kepadaku dan aku menjawab: “Celaka kedua orangtua kalian beranak kalian, ada apa kalian melihatku seperti itu?!” Kemudian mereka memukulkan tangan mereka ke paha-paha mereka. Aku tahu mereka memintaku untuk diam, maka akupun diam. Ketika telah selesai Rasul Saw. menunaikan shalat, demi ayah dan ibuku, aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang guru yang lebih baik cara mendidiknya daripada Rasul saw.. Demi Allah, beliau tidak menjatuhkanku, tidak memukulku, dan juga tidak mencelaku. Beliau hanya berkata: “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada perkataan manusia di dalamnya. Di dalam shalat hanyalah terdiri dari tasbih, takbir dan bacaan al Qur`an.” Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul saw.. Aku kemudian menjawab: “Wahai Rasul Saw. sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang islam. Dan sesungguhnya diantara kami masih ada yang mendatangi para dukun. Beliau berkata: “Jangan datangi mereka!” Aku kemudian menjelaskan bahwa diantara kami masih ada yang melakukan tathayyur (percaya terhadap kesialan dan bersikap pesimistis). Beliau mengatakan: “Itu hanyalah sesuatu yang mereka rasakan di dalam diri mereka, maka janganlah sampai membuat mereka berpaling (Kata Ibnu Shabbah: maka janganlah membuat kalian berpaling). Kemudian ia melanjutkan penjelasan: Aku berkata: dan sesungguhnya diantara kami ada yang menulis dengan tangan mereka. Rasul Saw. berkata: dari kalangan Nabi juga ada yang menulis (khat) dengan tangan, barangsiapa yang sesuai apa yang mereka tulis, maka beruntunglah ia. Dia kemudian berkata: saya memiliki seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing di sekitar bukit Uhud dan Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku memperhatikan ia mengembala, ketika itu seekor srigala telah memangsa seekor kambing. Aku adalah seorang anak manusia juga. Aku bersalah sebagaimana yang lain. Kemudian aku menamparnya (budak wanita) dengan sekali tamparan. Maka kemudian aku mendatangi Rasul Saw.. Rasul Saw. menganggap itu adalah suatu hal yang besar bagiku. Akupun berkata: “Apakah aku mesti membebaskannya?” Rasul Saw. menjawab: “Datangkanlah ia kesini!”. Kemudian akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapan Rasul Saw.. Rasul Saw. kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia (budak wanita) menjawab: “Di langit”, Rasul Saw. bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu Rasul Saw. bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia adalah seorang yang beriman” (Hadits Riwayat Imam Muslim).
Hadits ini riwayat Muslim, walaupun dia kuat secara sanad tetapi lemah secara matan. Karena hadits ini adalah hadits idhtirob, yaitu hadits yang berbenturan redaksinya terhadap redaksi hadits dari jalur periwayatan yang lain. Coba lihat hadits Muslim ini yang menggunakan redaksi: “Dimana Allah” dan bandingkan dengan dua hadits lain di atasnya yang menggunakan redaksi “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?”
Secara konteks, jelas pertanyaan: “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” lebih tepat daripada pertanyaan “Dimana Allah” dalam membuktikan iman seorang hamba. Artinya apa? Ada kemungkinan besar terjadi perubahan lafal oleh salah satu perawi dalam hadits Muslim. Sebagaimana telah masyhur bahwa Imam Muslim juga terkadang meriwayatkan hadits dengan makna dan bukan dengan teks
Dan jika ditimbang dengan ushul-ushul aqidah kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang disimpulkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, sangat mustahil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menanyakan tempat Allah dimana, sebab Rasulullah adalah orang yang faham betul bahwa laisa kamitslihi syai’un itu berlazimkan Allah tiada bertempat sebagaimana makhluk bertempat.
Toh kalaupun memang benar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya seperti itu, bukan berarti Rasulullah ingin mengetahui tempat Allah sebagaimana yang sudah dijelaskan si ibu di atas tadi, tetapi hanya ingin menguji iman budak tersebut, apakah menyembah Allah atau menyembah berhala.
Lalu kenapa Imam Muslim dengan pedenya menuliskan dalam shohihnya dengan redaksi “dimana Allah”? Apa beliau tidak takut dibilang menyamakan Allah dengan makhluk?!
Jawabnya karena Imam Muslim adalah seorang salaf, salaf itu fitrahnya lurus, hatinya bersih, lughahnya fashih, akalnya baligh dan bashirohnya jernih. Ketika mereka mendengar Allah ‘di langit’, ‘tangan’ Allah, ‘wajah’ Allah, ‘bayangan’ Allah dan sebagainya sebagaimana yang terdapat di dalam nash-nash Al-Quran dan Sunnah, mereka tidak memaknakannya secara dzohir, tetapi mereka memaknakannya sesuai dengan yang diridhoi Allah dan yang layak bagi Allah. Inilah yang menyebabkan mereka diam dan tidak banyak komen, karena mereka semua masing-masing sudah tahu bagaimana seharusnya bermua’ammalat terhadap nash-nash mutasyabihat; cukup mengimani saja, yakini datangnya dari Allah, tak perlu ditafsir2kan.
يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ
“…mereka berkata kami beriman dengan ayat-ayat mutasyabihat…” (Ali Imran:7)
Jadi tidak norak sebagaimana yang terjadi pada sekelompok kaum muslimin saat ini dimana mereka begitu menggembor-gemborkan ayat-ayat mutasyabihat. Sampai-sampai mau masuk kuliahpun ujian seleksinya yang ditanyanya adalah: “Dimana Allah?”. Mau dapat beasiswa juga ditanyanya, “Dimana Allah?”, sampai-sampai mau melamar anaknya nanti juga takutnya entar ditestnya: “Dimana Allah?”
Harooom… haroooom… harooom ya Akhi…!!!
Kalimat tanya “Dimana Allah?” ini tidak dimasyru’kan dalam syariat. Ini adalah bid’ah terbesar yang pernah ada dimuka bumi.
وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار
“Setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat di neraka” (Hadits Riwayat Imam Muslim).
Jangan tergelincir dengan dzohir teks hadits budak riwayat Muslim di atas. Para ulama dan ustadz sudah memberikan tabayunnya. Bukalah mata kepala kita, buka mata hati kita. Jangan baca satu riwayat saja, jangan baca satu pendapat saja, jangan ikut satu kelompok saja!
Kita bukan salaf, tapi hanya bisa mencontoh apa yang mereka perbuat. Namun amal ibadah kita tak akan mampu mengimbangi amal ibadah salaf. Hasil mujahadah kita tak akan mampu menyamai hasil mujahadah salaf. Begitu pula pemahaman kita terhadap nash-nash Al-Quran tidak akan mampu menyamai pemahaman mereka terhadap nash-nash Al-Quran. Kita hanya mampu membaca Al-Quran sampai kerongkongan saja, sementara mereka sampai kepada hati yang terdalam. Kita memahami ‘wajah’ Allah hanya sebatas wajah saja, sementara mereka memahami wajah Allah bukan hanya wajah itu, tapi lebih daripada itu, wajah dalam artian sesuatu yang tak terdefinisikan lagi dan tak terungkapkan, maka mereka banyak yang diam, tidak banyak komplain dan berkata kepada orang: “Serahkan saja kepada Allah maknanya” seolah-olah mereka ingin mengatakan hanya Allah yang mampu mengungkapkan maknanya sebab itu ‘kata-kata’ Allah.
كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
“…semuanya itu adalah dari Tuhan kita” (Qur’an Surat Ali Imran: 7)
Kita hanya mampu imroruha kama ja’at (melewatinya sebagaimana ia datang), jadi jangan diapa-apakan, jangan ditafsirkan, jangan ditakyif, jangan ditasybih dan juga jangan dita’thil, sebab: tafsiruha qiro’atuha (tafsirnya adalah bacaannya) bukan makna dzohir lughawinya.
Apapun yang terlintas di benak kita, maka kembalikanlah kepada ayat-ayat yang muhkamat. Ayat muhkamatlah sebagai ummul Qur’an, tempat kita kembali kepada ‘ibu’ kita ketika kita menemukan problem dan merasakan kesamaran di dalam ayat-ayat mutasyabihat. Ayat muhkamat tempat kita berpedoman dalam membangun ushul-ushul aqidah kita. Adapun ayat-ayat mutasyabihat hanya untuk menguji kita, cukup imani saja. Dan di antara ayat muhkamat itu adalah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak serupa dengan-Nya segala sesuatu dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat” (Quran Surat Asy-Syura: 11)
Mafhum dari ayat Asy-Syura di atas adalah Allah tidak sama dengan apapun dalam bentuk apapun, maka imamnya ahlul bait Imam Ja’far Shodiq radhiyallahu ‘anhu jauh-jauh hari sudah mengajarkan kepada kita semua suatu rumus agar kelak kita tidak terombang-ambing dalam kebingungan kepikir akan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu rumus:
كل ما خطر ببالك فالله بخلاف ذالك
“Segala apa yang terlintas di benak kamu, maka Allah tidak sama dengan itu”.
Wallahu a’lam.
Oleh: Ustadz Haris F. Lubis, Sufi Medan, 25 Maret 2011, Kairo Mesir/ Muslimedianews.

Harlah NU, Mengaji Jurus Kiai Wahab Chasbullah

Harlah NU, Mengaji Jurus Kiai Wahab Chasbullah


Oleh: Munawir Aziz

Belajar kepada Kiai Wahab Chasbullah adalah belajar tentang semangat pergerakan kebangsaan yang tidak pernah pudar. Kiai Wahab atau Mbah Wahab, yang lahir pada 31 Maret 1888 merupakan salah satu tokoh penting dalam historiografi Indonesia, pesantren dan NU. Perannya dalam mengokohkan nilai-nilai Islam Indonesia dan menegakkan NKRI tidak bisa dilupakan. Pada momentum Hari Lahir Nahdlatul Ulama, pada 16 Rajab, sosok Kiai Wahab perlu direnungkan sebagai inspirasi.

Gerak perjuangan Kiai Wahab menjadi renungan di tengah tantangan Islam di negeri ini, dan konteks internasional.Tantangan tentang relasi Islam dan kebangsaan menjadi isu dinamis dalam diskursus global. Mencuatnya radikalisme keagamaan, sebagaimana ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dan jaringan al-Qaeda, merupakan tantangan bagaimana umat muslim berdialog dengan konsep kenegaraan dan kebangsaannya. Apalagi, perkembangan Islam di kawasan Asia dan Timur Tengah, tidak bisa dilepaskan dari dinamika etnik dan lintas ideologi. Untuk itulah, merenungkan jejak langkah Mbah Wahab Chasbullah pada momentum hari lahir Nahdlatul Ulama, tentu menjadi inspirasi berharga.

Kiprah kiai-kiai pejuang dari pesantren tidak banyak tertulis dalam historiografi Indonesia. Tentu saja, politik pengetahuan menjadi instrumen utama untuk menganalisis terpinggirnya peran kiai dan tokoh pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pada abad XIX, santri menjadi barisan terdepan dalam Perang Jawa (1825-1830), yang dikomando Pangeran Dipanegara. Laskar pimpinan Kiai Maja, Kiai Hasan Besari dan Sentot Ali Basya, menyelaraskan gerakan perlawanan Dipanegara selain laskar ksatria yang Pangeran Sastradilaga. Perjuangan santri tidak banyak ditulis dalam politik ingatan, justru ditenggelamkan sebagai mitos dan ilusi.

Pada masa revolusi, jaringan santri-kiai berperan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan dan melawan serdadu kolonial. Seruan fatwa Jihad Kiai Hasyim Asy’arie (1871-1947) menggerakkan ribuan santri untuk berjuang bersama pada November 1945 di Surabaya dan peristiwa Palagan Ambarawa, Semarang (Bizawie, 2013). Lagi-lagi, peran sejarah santri ini tersisih dari naskah sejarah Indonesia modern.

Kiprah Kebangsaan Kiai Wahab

Kiai Wahab Chasbullah merupakan tokoh penting dalam perjalanan kaum pesantren menegakkan Indonesia. Ia bersama hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, menjadi garda depan dalam pembentukan jaringan pesantren pasca Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin Pangeran Dipanegara, yang menjadi jejaring lahirnya Nahdlatul Ulama.

Kiai yang lahir pada 1888, di Tambakberas, Jombang ini merupakan santri tulen berjiwa aktivis, tidak pernah tinggal diam melihat wajah rakyat Indonesia yang terhimpit kuasa penjajah. Ia juga tidak rela melihat komunitas santri direndahkan oleh rezim kolonial dan tradisi feodal elite priyayi negeri ini. Kiai Wahab Chasbullah menahkodai NU selepas wafatnya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, pada 1947. Kiai Wahab memimpin NU hingga tahun 1971. Rentang waktu sekitar 23 tahun tentu saja menjadi perjalanan panjang Kiai Wahab memimpin NU, di samping kiprahnya pada usia muda.

Kiai Wahab mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan pada 1916, untuk membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia. Selanjutnya dua tahun kemudian, pada 1918, ia bersama beberapa tokoh pergerakan nasional, semisal Dr. Soetomo mendirikan Tasywirul Afkar (gerakan pemikiran), untuk mengokohkan dinamika pemikiran kebangsaan. 

Kemudian, untuk menopang pergerakan dan perjuangan kebangsaan, Kiai Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar pada 1918. Gerakan ini, dimaksudkan untuk mengokohkan pondasi ekonomi bagi gerakan-gerakan sosial-kebangsaan yang diperjuangkan Kiai Wahab. Nahdlatut Tujjar dipimpin langsung oleh Kiai Hasyim Asy’arie, sedangkan Kiai Wahab sebagai sekretarisnya.

Dengan demikian, strategi gerakan Kiai Wahab terasa komplit dan seimbang. Ia membangun wawasan kebangsaan melalui Nahdlatul Wathan, dengan ditopang Tasywirul Afkar sebagai dinamika pemikiran. Selanjutnya, Nahdlatut Tujjar menjadi penggerak energi dan penopang basis ekonomi bagi gerakan sosial-kebangsaan ini.

Benteng Islam Nusantara

Kiai Wahab Chasbullah juga menjadi pionir dalam membentengi ekspansi Wahabi mellaui internasional. Ketika aliran Wahabi dari Najed Arab mulai menguasai Makkah pada 1924 dan Madinah pada 1925, Kiai Wahab bergerak mengkonsolidasi jaringan pesantren di Indonesia untuk menyuarakan aspirasi tentang Islam yang moderat dan toleran ala ahlussunnah wal-jama’ah, yang menjadi dasar gerakan NU.

Gerakan konsolidasi ini, dikuatkan dengan lahirnya NU pada 31 Januari 1926, yang kemudian mengirim Kiai Wahab dan Syekh Ghonaim al-Misri untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibn Saud. Diplomasi Kiai Wahab ini kemudian diterima dengan baik oleh Raja Abdul Aziz, sehingga makam Nabi Muhammad tidak jadi dibongkar, serta ulama-ulama dari empat mazhab dibebaskan.

Kiai Wahab, dengan demikian tidak hanya bergerak dalam perjuangan Islam di negeri ini, ia telah berperan dalam jaringan diplomasi internasional. Peran Kiai Wahab inilah yang perlu menjadi inspirasi dalam momentum Hari Lahir Nahdlatul Ulama. Peran Kiai Wahab bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Saifuddin Zuhri dan jaringan ulama lainnya, tentu menjadi catatan penting dalam konteks dan historiografi Islam Nusantara.

Kiai Wahab mengajarkan kepada kita, agar seimbang dan kokoh dalam mengelola pergerakan;dengan membangun semangat kebangsaan (melalui Nahdlatul Wathan), mengembangkan pemikiran-pemikiran strategis (Tasywirul Afkar) dan menguatkan pondasi ekonomi sebagai energi pergerakan (lewat Nahdlatut Tujjar). Spirit Kiai Wahab inilah, yang seharusnya menjadi aspirasi bagi penerus dan pemimpin Nahdlatul Ulama, pada saat ini maupun mendatang. Bergerak dengan nyali, menyusun konsep strategis serta mengeksekusi lewat totalitas dan keikhlasan. Semoga.

Penulis adalah penulis buku ‘Pahlawan Santri’ (Pustaka Compass, Mei, 2016), Wakil Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU, dapat disapa via @MunawirAziz via nu.or.id


Ini Tiga Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Bertasawuf

Ini Tiga Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Bertasawuf


Guru Besar bidang Tasawuf UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Dr H Mukhtar Solihin mengatakan, ada tiga alasan seseorang harus bertasawuf, “Pertama, tasawuf merupakan basis fitri setiap manusia. Ia merupakan potensi Ilahiyah yang berfungsi mendesain peradaban dunia. Tasawuf dapat mewarnai segala aktivitas sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan,” kata Mukhtar Solihin saat mengisi FGD bertema “Thoriqoh dalam Pandangan Mbah Hasyim Asy’ari” di kantor PWNU Jawa Barat, Sabtu, (23 /4).

Kedua, tasawuf berfungsi sebagai alat pengendali, agar dimensi kemanusiaan tidak ternodai oleh modernisasi yang mengarah dekadensi moral dan anomali nilai, sehingga tasawuf mengantarkan pada “supreme morality” (keunggulan moral).

Ketiga, tasawuf relevansi dengan problem manusia, karena tasawuf secara seimbang memberi kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. Selain itu, tasawuf dapat membentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki, dan dapat memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Ia bisa diamalkan tiap muslim lapisan manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah (Ka’bah), dan secara rohaniah mereka berlomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju Tuhan yang Satu, Allah SWT.

Dalam diskusi yang diinisiasi oleh Pergunu, Lakpesdam dan Lesbumi NU Jawa Barat dalam rangka Harlah ke-93 NU ini, Mukhtar Solihin juga menjelaskan periodesasi perkembangan tasawuf. Menurutnya sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu, tahap Khanaqah, tahap Thariqah dan tahap Tha’ifah.

Tahap Khanaqah (pusat pertemuan sufi) terjadi sekitar abad ke 10 M, di mana seorang syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat. Syekh ini menjadi mursyid (pimpinan) yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan kolektif. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.

Berikutnya tahap Thariqah berkembang sekitar abad ke 13 M. Di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan. Pada periode ini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan di sini tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.

Tahap selanjutnya yakni Tha’ifah terjadinya sekitar abad ke 15 M. Pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap Tha’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Terdapatlah tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Syadziliyah, dan sebagainya. (Awis Saepuloh/Zunus) via nu.or.id

Slametan Muncul Pertama Kali di Desa Singkal

Slametan Muncul Pertama Kali di Desa Singkal


Orang-orang bersila di atas tikar, duduk melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauknya, serta segala macam minuman. Kemudian bacaan-bacaan tahlil, tahmid, dan tasbih, serta doa-doa dipanjatkan kepada Allah SWT demi keselamatan. 

Orang-orang bersila semacam itu, di Jawa sering disebut slametan atau kenduri. Awal mula kegiatan tersebut dimulai dari Desa Singkal, Nganjuk, Jawa Timur, masa Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim yang lahir sekitar 1465 M.

Menurut sejarawan KH Agus Sunyoto, Sunan Bonang melakukan slametan sebagai perlawanan terhadap bhairawa tantra, orang (laki-laki) yang mengamalkan ajaran Tantrayana.

Aliran Tantrayana berasal dari India Selatan. Aliran ini tersebar ke Indonesia dan dianut hanya sebatas beberapa orang saja karena upacara-upacaranya dirahasiakan dan bersifat amat mengerikan. Aliran ini menjalankan “lima keharusan” dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya.

Lima keharusan itu disebut pancamakara atau batara lima atau malima, antara lain: harus melakukan mamsa, makan daging mayat dan minum darah. Madya atau menenggak minuman keras, mabuk-mabukan. Matsya, makan ikan gembung beracun, Maithuna,  bersetubuh secara berlebihan. Mudra atau samadhi yaitu tarian melelahkan hingga jatuh pingsan.

Aliran tersebut bertujuan mencari kesaktian sehingga penganutnya mampu mengalahkan Sunan Bonang ketika ia berada di Kediri. Ia terluka. Kemudian, pulang ke Ampel, Surabaya. “Setelah sembuh kemudian menjadi imam pertama kali di Masjid Agung Demak. Kemudian Sunan Bonang merancang taktik macam-macam dakwah,” kata pengasuh Pesantren Tarbiyatul Arifin Malang ini.  

Kemudian Sunan Bonang melanjutkan kembali dakwahnya ke Kediri, tapi tidak sampai masuk ke wilayah itu, melainkan bertahan di perbatasan. Tepatnya di desa Singkal.  Sunan Bonang menamakan desa itu dengan “singkal” sebagai simbol yang artinya tanah bajakan.

“Simbol beliau memulai membajak untuk menebar benih Islam. Orang dulu kan berpikirnya simbolik begitu,” lanjutnya. 

Di desa itu, ia memulai dakwah dengan meniru upacara yang dilakukan aliran Tantrayana. Praktiknya sama yaitu orang-orang duduk melingkar. Tapi yang di tengah-tengah mereka bukan korban manusia, melainkan makanan dan minuman halal. Itulah yang kemudian sekarang disebut slametan atau kenduri.

Slametan dan kenduri, menurut Agus Sunyoto adalah untuk menyelamatkan penduduk desa-desa di sekitar Kediri dari agar tidak jadi korban pancamakara aliran Tantrayana. “Untuk selamet ya harus slametan. Itu logika yang tak pernah lepas dari masyarakat Jawa. Bentuknya membuat lingkaran seperti yang dilakukan bhairawa tantra,” jelasnya. 

Dari desa Singkal itulah slametan menyebar ke seluruh pedalaman. Kemudian ke wilayah pantura dan daerah-daerah lain. Upacara tersebut masih dilakukan sampai sekarang dalam situasi-situasi tertentu. (Abdullah Alawi) via nu.or.id
Menjadi Lebih Arab Tidak Lantas Menjadi Lebih Islami

Menjadi Lebih Arab Tidak Lantas Menjadi Lebih Islami


Wartaislami.com ~ Alih-alih mengadopsi budaya dan tradisi Arab, muslim di Asia Tenggara mesti memelihara tradisinya sendiri. Menjadi lebih Arab tidak lantas menjadi lebih islami. “Orang Melayu tidak harus meninggalkan cara mereka berpakaian atau cara mereka berbicara dan menggantinya dengan cara Arab hanya agar terlihat lebih islami,” demikian kata direktur Kalam Research and Media yang juga menjabat sebagai Duta Besar Libya untuk Uni Emirate Arab, Dr Arif Ali Nayid, saat berbicara di Singapore Jumat lalu.

Dr Nayid, yang oleh lembaga think-tank Yordania, The Royal Al-Bayt, dimasukkan dalam daftar 50 intelektual muslim paling berpengaruh di dunia, mengatakan bahwa Arabisasi Islam dan praktek-praktek kultural di Asia Tenggara hanya akan memicu kontroversi.

Di Indonesia dan juga Malaysia, mulai ada kegelisahan umum terkait Arabisasi budaya ini, yang sering disamakan dengan islamisasi. Padahal itu dua hal yang berbeda. Untuk menjadi muslim yang baik seseorang tidak harus menjadi Arab–hidup dalam budaya Arab, dan dengan hidup dalam gaya dan budaya Arab seseorang tidak lantas menjadi muslim yang baik.

Di Malaysia, Sultan Johor minggu lalu mengingatkan agar warga Malaysia memelihara budayanya, alih-alih mengadopsi budaya Arab. Banyak kalangan di Indonesia juga mulai menaruh keprihatinan atas Arabisasi dalam cara berpakaian kaum muslim yang marak beberapa tahun belakangan ini, padahal Indonesia punya budaya sendiri yang juga tak bertentangan dengan nilai-nilai islam. Gus Dur jauh-jauh hari telah menyadari bahaya dari Arabisasi budaya ini, dan mengusulkan sebuah model pribumisasi Islami, yang penerapan nilai-nilai Islam yang bersesuaian dengan konteks lokal.

Lebih jauh Dr Nayid mengatakan bahwa untuk menjadi muslim yang baik pertama-tama seseorang harus menjadi muslim Indonesia yang baik, muslim Malaysia yang baik, muslim Singapore yang baik. “Tetap memelihara budaya lokal tidak berarti bertentangan dengan universalits Islam,” kata Dr Nayid.



Sumber : islami.co
Kekerasan Rumah Tangga oleh Suami dalam Islam

Kekerasan Rumah Tangga oleh Suami dalam Islam

 Wartaislami.com ~ Kata "Nusyuz" dalam Al-Quran lazimnya dipahami sebagai bentuk praktik kedurhakaan istri terhadap suami. Padahal sebenarnya nusyuz bisa dilakukan masing-masing pihak. Karenanya kalangan laki-laki perlu mempelajari kembali bentuk-bentuk nusyuz, kekerasan, dan penanganannya agar tidak mengundang murka Allah, keretakan rumah tangga, dan bisa mengarah pada kriminal.

Berikut ini adalah keterangan Imam An-Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin terkait nusyuz yang dilakukan para suami.

“Bentuk nusyuz (durhaka) kedua ialah di mana pelakunya adalah suami. Nusyuz yang dilakukan suami harus dianalisa terlebih dahulu. Kalau suami tidak menunaikan kewajibannya terhadap istri seperti nafkah atau pembagian giliran (bagi yang terlanjur poligami), pemerintah dalam hal ini pengadilan berhak menekan suami untuk menunaikan kewajibannya,” (Lihat An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin).

Lebih lanjut Imam An-Nawawi mengatakan, kalau suami berperangai buruk terhadap istri, menyakiti istri, dan memukulnya tanpa sebab, pemerintah wajib menghentikan tindakan aniaya suami tersebut. Kalau suami mengulangi tindakan aniayanya, pemerintah wajib menjatuhkan sanksi untuknya.

Sebagaimana pernah disinggung bahwa Islam melarang keras suami memukul istri terlebih lagi pukulan pada anggota vital tubuh istri, dan pukulan di wajah istri di mana keindahan wanita berpusat di sini.

Keterangan Imam An-Nawawi di atas mengisyaratkan bahwa pasangan muda-mudi yang akan melanjutkan ke jenjang perkawinan perlu mempelajari hukum positif atau UU yang berlaku di Indonesia terutama yang mengatur kehidupan berumah tangga. Hal ini dimaksudkan agar setiap pasangan suami-istri ke depan dapat menghindarkan diri dari tindakan aniaya satu sama lain.

Salah-salah sikap, seorang suami bisa masuk penjara atas pemukulan, kekerasan, atau bentuk aniaya lainnya terhadap istri dengan dakwaan pasal kekerasan dalam rumah tangga. Demikian sebaliknya.

Calon-calon suami juga perlu mempelajari sikap keseharian Rasulullah SAW dalam berumah tangga, sikap terhadap istri, anak, cucu, bahkan tetangga. Pelajaran itu diharapkan berlanjut pada keteladanan mereka kepada Rasulullah SAW. (Alhafiz Kurniawan) via muslimedianews
Disunnahkan Puji pujian Setelah Adzan

Disunnahkan Puji pujian Setelah Adzan

Ustadz Ma’ruf Khozin (Dewan pakar Aswaja NU Center)

Pertanyaan:
Ketika ada waktu antara adzan dan iqamah biasanya muadzin melantunkan puji-pujian, syair doa dan sebagainya. Adakah dalil-dalil yang memperbolehkan hal itu?

Jawaban:
Memang ada 2 hal yang kadang dibaca bersama jelang iqamat, yaitu doa atau pujian, seruan mengajak berjamaah dan sebagainya. Terkait dengan doa yang dibaca, dijelaskan dalam sebuah hadis:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ (رواه أبو داود رقم 521 والنسائي في “عمل اليوم والليلة” رقم 67 وابن خزيمة في “صحيحه” رقم 425 ورواه الترمذي 3594)
“Tidak akan ditolak sebuah doa yang dibaca antara adzan dan iqamat” (HR Abu Dawud No 521, dinilai sahih oleh Ibnu Khuzaimah). Pada intinya doa yang dibaca adalah karena waktu tersebut adalah waktu mustabah.
Sementara melantunkan syair di dalam masjid, apabila dalam syair tadi mengandung pujian yang benar, petuah-petuah, etika, atau ilmu-ilmu yang bermanfaat adalah boleh. Seorang sahabat Hassan bin Tsabit telah benar-benar melantunkan syair-syair pujian kenabian di masjid Madinah di hadapan Rasulullah Saw dan para sahabat. Berikut riwayatnya:
وَفِي صَحِيْحِ الْبُخَارِيْ اَنَّ عُمَرَ  مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ وَحَسَّانُ يُنْشِدُ فِيْهِ الشِّعْرَ فَلَحِظَ اِلَيْهِ فَقَالَ كُنْتُ أُنْشِدُ فِيْهِ وَفِيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَنْشُدُكَ بِاللهِ أَسَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ  يَقُوْلُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ قَالَ نَعَمْ (رواه البخاري رقم 3212 ومسلم رقم 6539)
“Umar lewat di masjid sementara Hassan membaca syair. Hassan melirik kepadanya dan berkata: Saya membaca syair di masjid, dan di dalamnya ada orang yang lebih baik daripada anda. Kemudian Umar menoleh ke Abu Hurairah, lalu bertanya: Saya bersumpah untukmu demi Allah, apakah kamu mendengar Rasulullah bersabda: Kabulkan saya, Ya Allah, kokohkan Hassan dengan malaikat Jibril? Abu Hurairah menjawab: Ya, saya mendengarnya”) HR al-Bukhari No 3212 dan Muslim No 6539.
(Dewan Pakar ASWAJA NU Center PWNU Jawa Timur, Ustadz Ma’ruf Khozin) via muslimoderat
Bulan Rajab dan Landasan Kebenaran Tawasul

Bulan Rajab dan Landasan Kebenaran Tawasul


Bulan ini, mengingatkan saya pada dialog antara Nabi Besar Muhammad SAW yang masih hidup dengan Nabi Musa AS yang sudah wafat pada peristiwa Isra’ Mi’raj. Bahkan dialog ini sangat intensif dan serius. Betapa Shalat yang diwajibkan untuk yang pertama sekali adalah 50 kali dalam sehari, tapi berkat kekhawatiran Nabi Musa AS kepada umat Nabi Muhammad SAW atas ketidakmampuan mereka akan tanggung jawab itu, beliau menyarankan kepada Nabi Besar Muhammad SAW untuk memohon kepada Allah SWT guna memberikan “diskon”.

Allah SWT pun memberikan keringanan. Tidak serta merta langsung memberikannya dari 50 ke 5 waktu, tetapi dengan sedikit demi sedikit, dari dikurangi 5 waktu sampai akhirnya menjadi jumlah akhir 5 waktu. Semua itu adalah berkat kegigihan Nabi Musa AS memberikan masukan positif kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Dari kisah sahih di atas dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang sudah wafat ratusan tahun itu masih bisa berbicara, berdialog aktif dengan orang yang masih hidup. Artinya, apabila kita berziarah kepada Nabi, wali dan ulama kemudian kita bertawasul kepada mereka, tentu mereka mendengar dan akan mendoakan kepada Sang Khaliq yang Maha Mendengar dan Maha Kuasa.

Tentang fakta bahwa orang mati bisa berdialog dengan yang orang masih hidup, bisa disimak dari hadits berikut:

عن أبى هريرة قال النبي صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ، أخرجه أبو داود : 2/218 ، رقم 2041 ، والبيهقى : 5/245 ، رقم 10050

Rasulullah SAW berdsabda,“Tidak ada salah seorang yang memberikan salam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku, sehingga aku menjawab salam.” (HR Imam Dawud dan Baihaqi)

Dan hadits:

قال النبي صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ الرَّجُلِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلَّا رَدَّ اللَّهُ رُوحَهُ حَتَّى يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Nabi SAW bersabda, “Tidak ada salah seorang muslim yang lewat kuburan seseorang yang ia kenal di dunia, kemudian ia memberikan salam kepadanya, kecuali Allah mengembalikan ruhnya, sehingga ia menjawab salam.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menanggapi hadits di atas (Majmu’ Fatawa: XXVII/395) mengatakan:

فَإِذَا كَانَ رَدُّ السَّلاَمِ مَوْجُودًا فِي عُمُوْمِ الْمُؤْمِنِينَ فَهُوَ فِي أَفْضَلِ الْخَلْقِ أَوْلَى

“Jika menjawab salam ada pada orang-orang mukmin awam, maka tentu itu lebih utama terhadap lebih utama-utamanya makhluq.”

Bagi yang ingin lebih detail mengetahui bahwa orang yang sudah meninggal dunia masih dapat mendengar, silakan membaca kitab Majmu’ Fatawa-nya Syaikh Ibnu Taimiyah atau Syaikh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah.

Dari semua itu tidak ada salahnya kita bertawassul kepada orang yang sudah berada di dalam kubur, apalagi mereka itu orang-orang pilihan Allah SWT, kekasih Allah SWT, bahkan pilihan-Nya yang terkasih junjungan Nabi Agung Muhammad SAW.

Oleh KH Muhammad Hanif Muslih, Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak via nu.or.id
Laku Spiritual KH Wahid Hasyim

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim


Dibalik kiprah dalam karir politiknya yang cemerlang, pemikirannya yang progresif, dan sebagai tokoh ulama yang alim, pada diri KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) menyimpan pula kepribadian yang terpuji dan karakter yang mulia. Salah satu di antara kesukaan yang telah menjdi kebiasaan yang melekat pada putra Hadhratussyekh KH M Hasyim Asyari ini adalah gairahnya dalam membaca dan menghafal Al-Qur'an.

Ayahanda Gus Dur ini selain suka berpuasa sunah yang sering dilakukannya adalah membaca Al-Qur'an dan berdzikir di malam hari. Kegemaran membaca dan menghafal Al-Qur'an membuatnya secara tetap menyisihkan sebagian waktunya untuk membaca atau menghafal Al-Qur'an di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang pemimpin nasional. Kesibukannya sepanjang hari yang penuh dengan acara-acara politik, perjuangan, dan kemasyarakatan tidak menghalanginya untuk mencari celah waktu agar dapat membaca dan menghafal Al-Qur'an.

Laku spiritual tersebut selalu dilakukannya, baik ketika sedang menghadiri persidangan kabinet, berdiskusi, atau sedang menyetir mobil sekalipun. Dengan demikian setiap hari selalu ada waktu yang disempatkannya untuk untuk meneruskan hafalan Al-Qur'annya.  Bila sudah khatam seluruh Al-Qur'an, maka diulangi lagi dari permulaan.  Selain itu bacaan Al-Qur'an yang hendak dihafal dibacanya pula dalam tiap kali shalat. Meskipun beliau bukan seorang hafiz, tetapi boleh dikatakan hampir hafal seluruh isi Al-Qur'an.

Dalam kaitan dengan Al-Qur'an ini, ada satu hal yang menarik pada diri KH Wahid Hasyim. Telah menjadi kebiasaannya apabila sedang sakit, ia tak cuma diobati dengan obat-obatan dari dokter, melainkan seringkali mendengarkan bacaan-bacaan Al-Qur'an. Kebetulan yang menjadi salah satu juru tulisnya adalah seorang yang bernama Khairi Abdurrahman yang tinggal di daerah Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur.

Suatu waktu Khairi ini ditanya Kiai Wahid siapa kiranya yang bisa dipanggil untuk membaca Al-Qur'an ketika beliau menderita sakit. Kemudian Khairi Abdurrahman bertanya kepada istrinya yang berasal dari Serang. Ketika itu kebetulan di sana banyak terdapat ahli dalam membaca Al-Qur'an. Ternyata salah seorang di antara kerabatnya sendiri  adalah seorang tokoh qira'at yang kemudian menjadi sangat terkenal di Jakarta, yaitu KH Tubaghus Manshur Ma'mun.  Maka dipanggilkah kiai tersebut ke Jakarta untuk membacakan Al-Qur'an kepada KH Wahid Hasyim yang sedang sakit. Itulah awal mula kedatangan ahli Al-Qur'an terkemuka ini ke ibu kota. Jadi kedatangannya terkait dengan kehidupan KH Wahid Hasyim.   

Kecintaan membaca  dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang telah mengakar kuat pada karakter KH Wahid Hasyim ini bila ditelusuri merupakan salah satu kebiasaan yang dahulu juga telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Dalam sejarahnya, Rasulullah senang mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari orang lain sebagaimana beliau juga senang membacanya sendiri.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Bacakanlah Al-Qur'an untukku. Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Ya Rasululluah, haruskah aku membacakannya kepada Anda, sedangkan Al-Qur'an sendiri diturunkan kepada Anda?"

Rasulullah menjawab, "Benar aku ingin mendengarkannya darimu”. Maka Abdullah bin Mas'ud membacakan Surat An-Nisa'. (M. Haromain)

Disarikan dari: Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim, penerbit: Yayasan KH A Wahid Hasyim, 2007.  via nu.or.id
Yang Lebih Buruk dari Fir’aun dan Iblis

Yang Lebih Buruk dari Fir’aun dan Iblis


Dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i dikisahkan, suatu kali Iblis mendatangi Fir’aun dan berkata, “Apakah kau mengenaliku?”

“Ya,” sahut Fir’aun.

“Kau telah mengalahkanku dalam satu hal.”

“Apa itu?” Tanya Fir’aun penasaran.

“Kelancanganmu mendaku sebagai tuhan. Sungguh, aku lebih tua darimu, juga lebih berpengetahuan dan lebih kuat ketimbang dirimu. Tapi aku tidak berani melakukannya.”

“Kau benar. Tapi aku akan bertobat,” kata Fira’un.

“Jangan buru-buru begitu,” bujuk Iblis la’natullah ‘alaih, “Penduduk Mesir sudah menerimamu sebagai tuhan. Jika kau bertobat, mereka akan meninggalkanmu, merangkul musuh-musuhmu, dan menghancurkan kekuasaanmu, hingga kau tesungkur dalam kehinaan.”

“Kau benar,” jawab Fir’aun, “Tapi, apakah kau tahu siapa penghuni muka bumi ini yang lebih buruk dari kita berdua?”

Kata Iblis, “Ya. Orang yang tidak mau menerima permintaan maaf orang lain. Ia lebih buruk dariku dan darimu.” (Mahbib/Sindikasi Media)




* Dari kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i (Surabaya: Al-Haramain), h. 57
 Uraian Gus Mus Mengapa Ulama Nusantara Jarang Dikenal di Timur Tengah?

Uraian Gus Mus Mengapa Ulama Nusantara Jarang Dikenal di Timur Tengah?

Wartaislami.com ~ Suatu malam di Tanah Suci pada tahun 1987, saya bersama Kiai Sahal Mahfudz, Gus Dur, dokter Fahmi Saifuddin dan Abdullah Syarwani, sowan dengan niat sulaturrahim dan ngaji ke kediaman tokoh alim dan penulis kenamaan di Timur Tengah berkebangsaan Indonesia, asy-Syaikh Yasin bin Isa al-Faddani al-Makky, rahimahullah.

Diantara yang menjadi pembicaraan dalam kesempatan silaturrahim itu adalah mengenai tokoh-tokoh ulama Indonesia yang menurut Syaikh Yasin―begitu panggilan akrab tokoh yang sangat dihormati ini―kualitas keulamaan mereka tidak banyak dikenal di dunia Islam karena tidak ada yang memperkenalkan mereka. Tulisan tentang mereka hampir tak ada. Syaikh Yasin sendiri mempunyai rencana menulis Thabaqat al-'Ulama al-Indonesia. Kitab tentang tokoh-tokoh ulama Indonesia. Bahkan satu jilid diantaranya telah rampung beliau tulis.

Namun ya itu, kata beliau, "kesulitannya adalah memperoleh bahan-bahan bagi penulisan tokoh-tokoh kiai tersebut. Dari kalangan pesantren sendiri, jarang sekali dijumpai tulisan tentang tokoh ulama".

"La coba saja," kata beliau, "anak-anak mereka sendiri dimintai bahan tentang orangtua mereka, nggak kunjung mengirimkannya!"

Memang. Entah mengapa budaya menulis, khususnya menulis sejarah kehidupan tokoh-tokohnya sendiri tidak berkembang di kalangan pesantren. Padahal semua menyadari pentingnya. Padahal khazanah mereka sarat dengan kitab-kitab tarikh kehidupan tokoh, baik tentang seorang tokoh maupun tentang sejumlah tokoh macam tarajim dan thabaqat-thabaqat.

Buku atau kitab tentang tokoh NU bisa dihitung dengan jari. Yang paling lengkap barangkali "Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasim dan karangan Tersiar" yang disusun oleh H. Aboebakar, Kepala Bagian "D" Kementrian Agama berdasarkan SK Menteri Agama RI (waktu itu, KH. Mohammad Ilyas).

Buku terjemah atau biografi lainnya yang saya ketahui adalah tentang KH. A. Wahab Chasbullah oleh Prof. KH. Saifuddin Zuhri; tentang KH. Bisri Syansuri oleh Gus Dur; tentang KH. Ma'shoem Lasem oleh Sayyid Haidar; tengtang KH. R. Asnawi, Kudus yang disusun oleh keluarga dalam rangka haul beliau.

Riwayat hidup Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari justeru saya temukan belakangan dalam kitab cetakan Kuwait dan disusun oleh Sayyid Muhammad Asad Syihab dengan judul agak panjang: Al-'Allamah Asy-Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari Wadhi' al-Binati Istiqlali Indonesia (Al-Allamah Kiai Muhammad Hasjim Asj'ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia).

Berbicara tentang "budaya tulis-menulis" di kalangan NU, mungkin Pak Saifuddin Zuhri termasuk, kalau tidak satu-satunya, pengecualian. Beliau bukan saja penulis yang produktif, tapi juga aktif merekam sejarah tentang tokoh-tokoh kiai pesantren. Dari tangan beliau lahir banyak tulisan yang bukan saja sangat bermanfaat bagi NU dan warganya, tapi juga bangsa Indonesia secara umum. Fajazaahullahu 'anna ahsanal jaza.

Dari tangan beliau, muncul buku-buku antara lain: Almaghfurlah K.H. Abdul Wahab Chasbullah Bapak dan Pendiri NU yang sudah disinggung di atas, Guruku Orang-orang dari Pesantren, dan Berangkat dari Pesantren, sebuah otobiografi beliau sebagai pelaku dan pembuat di republik kita ini. Maka tidaklah mengherankan―bahkan mungkin sudah seharusnya―jika sekarang ini, sebuah yayasan bernama Yayasan Saifuddin Zuhri menerbitkan suatu buku kumpulan tokoh-tokoh pesantren, tokoh-tokoh NU.

Barangkali seperti apa yang ingin ditulis Syaikh Yasin, Allah yarhamuh―seperti juga thabaqat-thabaqat yang lain―apa yang ingin dipersembahkan oleh Yayasan Saifuddin Zuhri adalah kumpulan biografi para tokoh dengan satu kriteria dasar, dalam hal ini adalah ke-kiaian (baca:ke-ulama-an, dan ke-Indonesia-an di NU).

Kiai mengenal banyak buku-buku atau kitab kumpulan tokoh-tokoh dengan satu kriteria dasar yang ― galibnya bisa dilihat dari judulnya ― seperti Thabaqat-nya Syaikh Yasin itu. Ambil contoh Asad al-Ghabah oleh Ibn al-Atsir tentang para sahabat Nabi; Tarikh al-Khulafa oleh al-Hafifdz Jalaluddin as-Suyuthi dengan kriteria dasar ke-khalifah-an; Thabaqat ash-Shufiyah oleh Abu Abdurrahman as-Sulami dengan kriteria dasar ke-sufi-an; Jamharat al-Auliya oleh as-Sayyid Mahmud Abu al-Faidh al-Manuti al-Husaini dengan kriteria dasar ke-wali-an; The 100, Rangking of the Most Influental Persons in History oleh Michael H. Hart (diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaidi dengan judul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah) dengan kriteria dasar ke-berpengaruh-an (?) dalam sejarah; The Dictators oleh Jules Archer dengan kriteria dasar, tentu saja, ke-diktator-an; dan masih banyak lagi.

Kecuali bila kita akan menulis semua tokoh kia dan ini tentu tidak mungkin, maka kriteria dasar ke-kiai-an itu saja tentulah tidak cukup. Apalagi meskipun sudah dipersempit dengan tambahan "NU", kriteria kiai ternyata tidak sejelas, misalnya, kriteria sahabat Nabi, kriteria khulafa, atau diktator.

Karena itu Yayasan Saifuddin Zuhri telah menetapkan kriteria-kriteria lain, disamping kriteria ke-kiai-an tersebut, antara lain pernah menjadi pengurus syuriah, mustasyar NU atau jabatan struktural lain di dalam NU pada tingkat nasional atau lokal; sudah wafat dan diutamakan yang memimpin pesantren dan seterusnya.

Namun demikian, dengan menampilkan "hanya" 26 tokoh kiai, boleh jadi masih saja akan timbul pertanyaan seperti: kenapa hanya duapuluh enam? dan kenapa mereka itu yang ditampilkan?

Kalau benar akan ada pertanyaan demikian ya biar saja. Agaknya kita harus memaklumi kesulitan Yayasan Saifuddin Zuhri dan para penulisnya yang hampir seluruhnya angkatan muda. Rentang waktu yang cukup panjang dan sedikitnya literatur yang tersedia, merupakan alasan yang cukup masuk akal sebagai jawaban.

Barangkali bisa menjadi salah satu bukti bahwa dari 26 tokoh yang ditampilkan kali ini, uraian yang relatif lebih luas justeru menyangkut mereka yang hidup belakangan. Bandingkan misalnya, uraian tentang KH. Bisri Syansuri (1886-1980) dan KH. Machrus Ali (1906-1985) yang mencapai masing-masing 20 dan 21 halaman dengan misalnya, KH. Ridlwan Abdullah (1884-1962) yang hanya 12 halaman dan KH. Abbas, Buntet yang hanya 9 halaman saja.

Disamping itu, mungkin yang lebih penting lagi: tampaknya yayasan dan para penulisnya ― karena alasan yang barangkali sama ― juga mengalami kesulitan untuk menangkap "sudut pandang" yang tepat dalam membidik sosok masing-masing tokoh yang ditampilkan. Dan inipun, bila benar, juga bisa dimaklumi. Satu dan lain hal karena rata-rata tokoh yang ditampilkan memang memiliki tidak hanya satu "sudut keistimewaan" yang menonjol. Contoh yang segera dapat kita lihat adalah sosok tokoh KH. Hasyim Asy'ari. Beliau tidak hanya pendiri NU dan tokoh sentral yang memberi inspirasi perjuangan para kiai; apalagi sekadar pembela kaum bermadzhab. Mereka yang membaca Muqaddimah Qanun Asasi NU saja, akan segera tahu bahwa beliau lebih dari semua. Bahkan Sayyid Muhammad Asad Shihab ― konon kakek dari Dr. Quraish Shihab ― menulis biografi beliau dalam bahasa Arab seperti yang disebutkan di atas.

Namun itu semua bagi saya tidak mengurangi arti penting dari usaha penerbitan ini. Bahkan menurut saya, yang lebih penting dan pantas sekarang adalah mensyukuri terbitnya buku ini. Buku yang sudah lama dinanti dan sudah sering diusulkan oleh banyak warga NU sendiri di berbagai kesempatan. Penyempurnaan berikutnya akan dapat dilakukan atau malahan untuk itu, saya yakin, akan mendapat bantuan dari berbagai pihak yang telah membacanya.

Dengan demikian keteladanan para tokoh NU yang selama ini hanya menjadi "buah bibir" sepenggal-sepenggal dalam konteks mau'idhah atau nostalgia, akan dapat dibaca dan dipelajari dengan lebih intens dalam porsi yang lebih utuh.

Sekali lagi, kita semua sungguh mensyukuri dan sangat menghargai upaya dari pihak Yayasan Saifuddin Zuhri yang tak ternilai ini. Semoga ini dicatat Allah pula sebagai amal jariah yang lestari.

Dan mudah-mudahan buku ini masih akan "bersambung" bahkan menjadi semacam "serial tokoh NU" yang akan menyempurnakan manfaatnya bagi generasi NU khususnya dan masyarakat ramai pada umumnya. Wallahu Yuwaffiquna ila ma fiehi khairul Islami wal muslimin. (Kata Pengantara KH. A. Mustofa Bisri dalam buku Menapak Jejak Mengenal Watak: Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama via fp IlmuTasawuf.com). via muslimedianews


close
Banner iklan disini