Nilai Hamdalah di Mata Sujiwo Tejo


Sebuah pertanyaan menggelitik dilontarkan oleh Sujiwo Tejo dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman, Sabtu (16/4), di rumah Adab Indonesia Mulia, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Saat itu presiden Jancukers ini mempertanyakan pemahamaan orang tentang makna kata-kata.

“Coba menurut kalian, ketika ada sebuah bunga yang indah dan ada seseorang yang berucap hamdalah ketika melihatnya; sedangkan seseorang lagi hanya diam saja, namun dia tergerak untuk meneliti ataupun mulai membuat syair terkait bunga tersebut, manakah di antara mereka yang lebih mewujudkan syukur?” ujar Sujiwo Tejo kepada para hadirin.

Pertanyaan itupun dijawab beragam; ada yang tampak ragu-ragu, namun ada juga yang menjawab dengan lantang. Di situlah Sujiwo Tejo menegaskan, ketika ucapan hamdalah itu tanpa disertai dengan kebaikan yang berlanjut dalam menambah keimanan, tentu sangat disayangkan. Bisa jadi kata-kata itu hanya menjadi terulang tanpa arti.

“Meski mungkin tidak mengucapkannya secara langsung, tapi inspirasi untuk berbuat kebaikan yang lebih seperti penyair dengan membuat syair, peneliti dengan melakukan penelitian, maupun pelukis dengan membuat lukisan, tentu bisa menjadi sebuah pengamalan syukur yang lebih bermakna sekalipun tanpa kata yang terlontar,” ujar budayawan yang identik dengan topinya tersebut.

Hal itulah yang terkadang dikhawatirkan terjadi, ketika umat hanya mengatakan sesuatu berulang-ulang tanpa disertai dengan pemahaman. Bahkan lambat laun menjadi lupa akan arti yang ada di dalamnnya. Sehingga kata-kata itu berubah menjadi sekadar nada tanpa makna.

Lebih jauh lagi, Sujiwo Tejo mengaku begitu mengagumi kata-kata Sosrokartono yang dinilai memiliki kedalaman makna yang tak sekadar nada. Seperti kata: trimah mawi pasrah. Suwung pamrih, tebih ajrih. Langgeng tan ana susah, tan ana seneng. Anteng mantheng sugeng jeneng.

Bahkan, lantaran sangat menikmatinya, secara spontan Sujiwo Tejo menjadikan kalimat itu sebuah lirik dalam sebuah nyanyian. Presiden Jancukers itu mengajak para hadirin untuk ikut berdendang. Suasana dialog itu pun menjadi kian menghangat.

Jangan sekadar Kulit

Dr. Ilyas salah seorang narasumber lainnya menambahkan, dengan adanya fenomena semacam itulah yang seharusnya ditanggapi secara bijak. Jangan sampai melihat sesuatu hanya dari kulitnya saja namun harus bisa melihat sesuatu yang terkandung di dalamnya.

“Tetaplah positive thinking terhadap sesuatu, jangan hanya karena berpakaian bagus lantas dianggap orang baik dan hanya karena terlihat buruk maka dianggap buruk. Siapa tahu di balik hal yang dinilai buruk justru terdapat kebaikan yang di dalamnya,” imbuh dosen di salah satu universitas yang ada di Semarang itu.

Padahal, menurut Anis Sholeh Baasyin, saat ini untuk menentukan kebenaran justru semakin sulit. Tidak jarang sebuah kebenaran justru dikalahkan oleh sebuah kesalahan yang diamini berjamaah.

“Hal itu terjadi lantaran kita tidak dibiasakan melihat sisi dalamnya, namun terlanjur terbiasa hanya melihat dari sisi luar. Bahkan apa yang dibenarkan banyak orang menjadi pembenaran sejati. Padahal tidak selalu seperti itu,” tegas Anis.

Menurut Anis, Islam mengajarkan orang untuk merdeka mulai dari dirinya sendiri. Karena umat Islam hanya memiliki satu Tuhan. Dengan begitu tentu tidak perlu takut pada siapapun meskipun berbeda dengan kebanyakan orang, karena yang ditakutkan hanya satu Tuhan semata.

“Seperti korupsi, meski saat ini sudah menjadi bahaya laten dan semakin massif, tentu kita tidak akan ikut terjebak di dalamnya karena selalu sadar bahwa di manapun kita sembunyi, Allah selalu melihatnya,” ujarnya.

Diskusi berlangsung hingga Ahad (17/4) sekitar pukul 03.00. Pagelaran musik dari Sampak GusUran kian mencairkan situasi dialog yang dihadiri lebih dari 500 orang itu.

Selain Sujiwo Tejo dan Dr. Ilyas, Kyai Budi dan juga Bambang Sadono turut meramaikan dialog tersebut. (Red: Mahbib) via nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Nilai Hamdalah di Mata Sujiwo Tejo"

Post a Comment

close