Xinjiang, Kota Santri Negeri Tirai Bambu


Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menilai peran NU untuk menjadi rujukan Islam dunia sangatlah diharapkan masyarakat dunia. Hal ini ia rasakan saat berkunjung ke negara Cina beberapa hari lalu. Dalam lawatannya selama sepakan tersebut, ia menjelaskan bahwa muslim Cina merespon baik Islam Nusantara yang diusung oleh NU.

“Islam yang santun, ramah, berakhlak, dan melebur dengan kearifan lokal. Itu yang oleh muslim Cina direspon dengan sangat baik,” kata Kiai Said, Senin, (25/4) di Jakarta.

Kiai Said menuturkan bahwa Cina adalah negara besar yang perekonomiannya kuat, senjatanya canggih, dan teknologinya maju. “Namun demikian budayanya (Cina) kuat,” tegasnya.

Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah ini kemudian bercerita, masyarakat suku Uighur di Provinsi Xinjiang memakai tulisan huruf Arab dalam penulisan namun tetap menggunakan bahasa asli mereka, bahasa Uighur.

“Di mana-mana (papan nama di jalan-jalan) tulisannya arab, tapi bahasanya Uighur. Jadi, dia masih mempertahankan budaya. Luar biasa kan,” kenang Kiai Said.

Senada dengan Kiai Said, Muhammad Sofwan yang ikut dalam rombongan PBNU ini menjelaskan bahwa Provinsi Xinjiang merupakan pusat kebudayaan Islam di Cina. Ia menilai bahwa Xinjiang adalah provinsi yang menarik karena budaya Arab dan budaya setempat bisa berjalan dengan beriringan.

“Menariknya adalah melihat akulturasi budaya setempat, antara budaya Cina dan budaya Arab atau Islam khususnya,” ujar alumnus UIN Syarif Hidayatullah ini.

Sofwan menduga penyebaran Islam di Cina melalui jalur darat dimulai dari Provinsi Xinjiang ini. "Bisa dibilang Xinjiang ini adalah kota santrinya Tiongkok,” lanjutnya.

Xinjiang merupakan salah satu provinsi yang terletak di bagian barat laut negara Cina. Ada sekitar 23 juta jiwa penduduk Xinjiang dan 60 persennya adalah Muslim. (Muchlishon Rochmat/Zunus) via nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Xinjiang, Kota Santri Negeri Tirai Bambu"

Post a Comment

close