Kiai Said: Hukuman Kebiri Tidak Melanggar HAM

Kiai Said: Hukuman Kebiri Tidak Melanggar HAM


Menanggapi sebagian kelompok masyarakat yang menolak hukuman kebiri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa mereka kerap kali beralasan karena hukuman tersebut melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

“Sekarang begini, apakah para pemerkosa keji itu tidak melanggar HAM, apalagi memerkosa hingga mati, apa itu tidak melanggar HAM. Masa mereka hanya ingin memelihara kehidupan orang yang telah memulai duluan dalam melanggar HAM. Jadi, hukuman kebiri untuk para pelaku kejahatan seksual tidak melanggar HAM, apalagi sampai menyebabkan korbannya meninggal,” jelas Kiai Said, Kamis (26/5) di Jakarta.

Kiai Said menilai bahwa pelaku kejahatan atau kekerasan seksual bukan hanya layak dihukum kebiri melainkan juga patut dihukum mati. Menurutnya, karena kejahatan tersebut bukan hanya merusak tatanan moral, tetapi tatanan kehidupan manusia.

Ditanya soal hukuman kebiri untuk pelaku kejahatan seksual, Kiai Said secara tegas mendukung dan menyetujui. “Setuju banget, itu masih ringan, bahkan layak dihukum mati,” tegasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa “Barang Siapa yang merusak kehidupan, maka harus dibunuh (dihukum mati), disalib, dipotong kedua tangan dan kakinya, atau dibuang ke laut”.

Dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak tersebut menyatakan bahwa pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak dihukum kurungan maksimal seumur hidup hingga hukuman mati dan denda 5 miliar. Selain itu, kebiri kimia disertai rehabilitasi dan pemasangan alat pendeteksi elektronik (chip), serta pengumuman identitas pelaku. (Fathoni) via nu online
Mantap !! Ulil, Bocah Asal Sleman Ini Punya Cita-Cita Jadi Kiai NU

Mantap !! Ulil, Bocah Asal Sleman Ini Punya Cita-Cita Jadi Kiai NU


Wartaislami.Com ~ Kesehariannya tidak lepas dari sarung dan kopiah. Kemeja lengan panjang juga menjadi kesukaan bocah 10 tahun ini. Satu lagi, Ahmad Ulil Albab juga gemar warna hijau yang menambah ciri khas warga Mlangi Nogotirto Gamping Sleman ini merupakan generasi penerus Nahdlatul Ulama (NU).

"Saya juga ingin jadi kiai. Sebab kiai itu pintar. Ilmunya banyak," ucap siswa kelas 4 SDNU Yogyakarta ini polos kepada KRjogja.com, Jumat (20/05/2016).

Bukan tanpa bekal ketika Ulil mengatakan demikian. Selain bersekolah berlatar belakang agama kuat, ia juga nyantri di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum SDNU Yogyakarta. Putra sulung 3 bersaudara pasangan Ichsanuddin-Nuraini ini juga memiliki kemampuan lebih dalam hafalan dan suara merdu.

Kemerduan suara tersebut yang mengantarkan bocah kelahiran Sleman, 12 Oktober 2005 ini menyabet Juara III Bintang Vokalis di ajang Fesival Seni Islami Kemenag Sleman beberapa waktu lalu. Ulil juga kerap meraih juara I Lomba Adzan yang digelar beberapa lembaga Islami lainnya.

"Kebetulan Ulil juga vokal utama Hadroh Nahdlatussibyan SDNU Yogyakarta. Malahan saat tampil di Muktamar ke-33 NU di Jombang, Ulil sempat jadi sorotan karena suaranya," imbuh pendamping Ponpes Nahdlatul Ulum SDNU Yogyakarta Khaiman Dwi Harjoko.

Selain dalam hal suara, Ulil juga memiliki hafalan yang cukup bagus. Setidaknya Ulil sudah hafal Juz 30, Surat Al Baqarah dan Surat Yaasiin.

"Ulil juga punya prestasi akademik bagus. Kami coba fasilitasi dengan mengundang guru vokal untuk memaksimalkan kemampuan anak didik kami," ucap urusan kesiswaan SDNU Yogyakarta, Siti Mafrudah. (M-5) via dutaislam.com




Memakmurkan Masjid NU Untuk Tangkal Wahabi Nyasar

Memakmurkan Masjid NU Untuk Tangkal Wahabi Nyasar


Wartaislami.Com ~ Siapa bilang Ansor dan Banser hanya jaga gereja saja. Fitnah itu hanya dihembuskan oleh mereka yang tidak suka gerakan NU meluas ditiru oleh masyarakat Indonesia yang mendambakan kerukunan antar umat beragama saja.

Buktinya, sebanyak 10 sahabat Ansor PAC Gunung Putri pada Minggu (22/5/2016) pagi kemarin melakukan gerakan Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah di Masjid Al-Muttaqien, Komplek TNI AL TWP Jalayudha, Ciangsana, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Mereka menjaga masjid dan sekaligus membersihkan masjid.

Gerakan bakti sosial ke masjid yang disinergikan dengan Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, PRNU Ciangsana dan Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja ini mengusung motto “Dari Rumah-Nya, Kita Makmurkan Bumi-nya”. Setiap hari Sabtu dan Minggu, sahabat Ansor melakukan itu. Di Ciangsana, pagi itu adalah minggu kedua dilaksanakan.

Al-Muttaqien merupakan masjid ahlussunnah wal jamaa’ah terbesar dan termegah di Desa Ciangsana. Beberapa ulama dan tokoh yang pernah hadir mengisi serangkaian pengajian akbar antara lain: Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, Ketum PBNU Kyai Said Aqil Siroj dan H. Rhoma Irama.

Gerakan BBM Berkah ini bagian dari dakwah NU dalam rangka menjaga masjid-masjid warga NU dari ancaman wahabi serta sebagai wahana silaturahim memperkuat soliditas jama'ah NU, khususnya di kecamatan Gunung Putri, Bogor.

Mayoritas ibadah ubudiyah warga kecamatan Gunung Putri, menurut Ustad Zainudin, Ketua GP PC Ansor PAC Gunung Putri, adalah Ahlussunnah Wal Jama'ah ala NU. "Kita akan coba sapa, ketok dari pintu ke pintu setiap DKM/Takmir Masjid untuk kemudian selanjutnya bersama-sama bersinergi dalam Dakwah ala an-Nahdliyah," katanya.

Kolonel (Purn) Hasbullah, Ketua DKM Masjid Al-Muttaqien pun merasa terbantu dengan program BBM Berkah ini. Ia mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat Ansor Gunung Putri, Bogor.

"Kita selalu mendukung gerakan teman-teman muda NU Gunung Putri yang memiliki inisiatif dan kreatifitas mengembangkan NU di wilayah Bogor Timur ini. Semoga ini menjadi contoh untuk wilayah-wilayah yang lain," ujar KH. Ali Abdillah, Pembina PAC Ansor Gunung Putri. via [dutaislam.com/gusjohn]





Masih Banyak yang Tak Tahu, Puisi soal Tahlil Ini Bukan Karya Gus Mus

Masih Banyak yang Tak Tahu, Puisi soal Tahlil Ini Bukan Karya Gus Mus


Puisi berjudul “Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana” yang dibuat KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) pada tahun 1987 memiliki versi tiruannya. Puisi “aspal” yang dibuat belakangan ini mengambil judul dan stuktur kalimat yang mirip karya Gus Mus namun mengulas makna yang amat berbeda.

Puisi versi tiruan ini berisi sindiran kepada orang-orang yang gemar memvonis bid’ah, sesat, kafir, atau musyrik, terhadap sejumlah amalan ibadah semacam tahlil, shalawatan, ziarah, dan lainnya.

Meski sudah diklarifikasi berkali-kali, puisi ini masih tersebar di dunia maya, termasuk media sosial, dalam bentuk teks juga poster yang menyertakan foto Gus Mus. Bahkan, Senin (23/5) kemarin, puisi tiruan tersebut dibacakan oleh seorang mahasiswa dan dikenalkan sebagai karya Gus Mus di sela acara bedah buku "Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh di Indonesia" di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan.

Ienas Tsuroiya, putri Gus Mus, yang hadir dalam acara itu pun lantas meluruskan di hadapan forum. Menurutnya, hingga kini pencipta puisi itu belum diketahui. Puisi yang dibaca mahasiswa dengan sangat ekspresif itu adalah puisi yang meniru salah satu puisi Gus Mus yang terkenal sampai ke Negeri Jiran, "Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana".

Jauh sebelum itu, Gus Mus memberitahukan melalui media sosial Twitter dan Facebook bahwa puisi itu bukan karyanya, tanpa menyinggung konten dari puisi tersebut

“Sudah berapa kali aku, anak-anakku, kawan-kawan dekatku mengklarifikasi bahwa itu BUKAN puisiku. Tapi terus saja ada yang menyebarkannya dengan memasang fotoku. Mengapa yang membuat puisi ini tidak berani mengakui sebagai karyanya atau menggunakan nama samaran apalah tanpa membawa nama dan fotoku,” tulisnya di akun Facebook pribadinya.

Berikut puisi tiruan yang diatasnamakan Gus Mu situ:

    Aku Pergi Tahlil, kau bilang itu amalan Jahil
    Aku Baca Shalawat Burdah, kau bilang itu bid’ah
    Lalu aku harus bagaimana…?
    Aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik
    Aku ikut majlis dzikir, kau bilang aku kafir
    Lalu aku harus bagaimana…
    Aku sholat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat
    Aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
    Lalu aku harus bagaimana…?

            Aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah
            Aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan
            Lalu aku harus bagaimana…?
            Aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membwa kebaikan
            Aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi

            Ya Sudahlah… aku ikut kalian…

    Kan ku pakai celana cingkrang, agar kau senang
    Kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
    Kan ku hitamkan jidad, agar dikira ahli ijtihad
    Kan sering ku menghujat, biar dikira hebat
    Kan sering ku mencela, biar dikira mulia
    Ya sudahlah…
    Aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah…

Hingga berita ini dimuat, puisi tersebut masih bisa ditemukan dengan mudah di sejumlah blog dan media sosial. Beberapa turut meluruskan, tapi lebih banyak yang menganggapnya sebagai karya Mustasyar PBNU itu. (Mahbib) via nu online

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya


"Anak ada empat, laki-laki semua, dan sudah dewasa, kenapa (masih) harus nyangkul sendiri?" Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang guru SD Negeri sekaligus petani yang sedang merapikan cangkul untuk persiapan ke sawah. Sebut saja namanya Suja.

Pertanyaan Sabtu (21/5) malam itu dijawab oleh Suja dengan sebuah kisah masa lalu yang tidak bisa dilupakannya. "Ini karena kesalahan saya," jawab warga Kabupaten Subang, Jawa Barat ini.

Suja mengungkapkan, bapaknya yang bernama Saeful Bahri adalah seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di luar jam mengajar, sang ayah memiliki aktivitas lain, yaitu mengurus sawah miliknya.

Suja mengisahkan, waktu kecil ia sering disuruh sang ayah untuk membantu mengurus sawah. Bagi Bahri yang kian sibuk, pekerjaan itu merepotkan, apalagi jika musim panen tiba, karena harus memanggul karung padi, menjemur, sampai memasukannya kembali ke dalam karung.

Namun sayangnya Suja sering menolak perintah Bahri tersebut. Suja hanya bersedia melakukan semua itu dengan satu syarat yang diajukan.

"Kalau dikasih uang sama almarhum bapak, baru saya mau ngurus padi. Kalau enggak dikasih ya enggak," sesal Suja di Subang.

Suja sama sekali tidak akan bergerak untuk membantu bapaknya jika tidak ada uang. Jika uang sudah diberi, Suja akan langsung bekerja.

"Almarhum pernah bilang sama saya, ‘kamu jangan begitu, siapa tahu nanti kalau sudah berkeluarga kamu juga punya sawah’," kisah Suja menirukan ucapan ayahnya, sambil merapikan cangkul buat persiapan besok ke sawah.

Beberapa tahun kemudian Suja berkeluarga dan saat ini dikaruniai empat orang anak. Ternyata, apa yang diucapkan oleh bapaknya puluhan tahun yang lalu terbukti, Suja punya sawah.

"Eehh... sekarang, anak saya susah kalau disuruh bantu-bantu ngurus sawah, mereka mau bantu kalau dikasih duit. Kalau enggak ya enggak bakalan mau. Ini karena kesalahan saya dulu," ucap Suja penuh sesal.

Ia pun mengingatkan agar selalu berusaha berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika kita bisa berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, kelak anak-anak kita akan berbakti dan berbuat baik kepada kita, begitu pun jika sebaliknya. (Aiz Luthfi) via nu online

Suluk Matan Memperkuat Aswaja dan NKRI

Suluk Matan Memperkuat Aswaja dan NKRI


Wartaislami.Com ~ Suluk Mahasiswa Ahluth Thariqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN) dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 21-22 Mei 2016 di LPBA-MASA (Lembaga Pengajaran Bahasa Arab-Masjid Agung Sunan Ampel) Surabaya. Acara dihadiri sekitar 30 anggota dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan diikuti beberapa pelajar dari Malaysia. Acara ini sebagai runtutan acara Haul Mbah Ampel ke- 567.

Ketua Panitia Suluk MATAN (SULTAN) Muhammad Zulfan Badrunaja dari PP Nurul Khoir Wonorejo Rungkut Surabaya, yang akrab dipanggil dengan Gus Zulfan menyampaikan: "Acara Suluk MATAN memiliki tema -mencerdaskan akal, memuliakan hati- yang memang baru pertama kali dilaksanakan di Surabaya sebagai jawaban atas beberapa keresahan kaum muda dan mahasiswa NU untuk memahami lebih jauh dunia Thoriqoh".

Kegiatan ini juga mendapat suport dari Gus M. Ghozi Ubaidillah dan Gus Achnaf dari PP. Tahsinul Akhlaq Rangkah Surabaya, Gus Ahmad Miftahul Haq dari PP Al Isma'iliyah Ngelom Sepanjang Sidoarjo, Gus M. Nadzim dari PP. Taqwimul Ummah Jemursari Surabaya, Gus M. Fuad Najib dari LPBA Surabaya, dan Ketua MATAN Jatim Gus Ahmad Farih Sulaiman dari Pesantren Denanyar Jombang.

Ketua LPBA dan Ketua Yayasan Sunan Ampel, Gus Hifni Nawawi mendukung penuh kegiatan ini yang telah memberikan kontribusi besar pada masyarakat dan NU untuk terus mengembangkan spiritualitas masyarakat melalui jalan Thoriqoh sebagai bukti konkrit pergerakan MATAN.

Adapun rangkaian acara Suluk MATAN adalah: K.H. Abdurrahman Navis (Ketua Aswaja Centre PWNU Jatim: Materi Ke-ASWAJA-an), Dr. Wasith (Pengasuh Ma'had Aly UIN Sunan Ampel: Sejarah Indonesia), Bapak Hakim Jayli, M.Si. (Dirut TV9: Entrepreneur I), Djohan dari PT Djarum, TBK: Entrepeneur II) Abdulloh Hamid, M.Pd. (Pengurus Pusat MATAN: ke-MATAN-an) K.H. Zaid bin Muhammad (Muqoddam Thoriqoh Tijani Ampel Surabaya: Ke-Thoriqoh-an).

Adapun tindak lanjut acara ini antara lain membentuk relasi antara MATAN dengan LPBA-MASA, PT Djarum, TV9, PWNU Jatim, dan berbagai pihak lainnya. Kemudian mengadakan kegiatan rutinan MATAN Surabaya, memperkuat paham ASWAJA dan NKRI, membentuk kader-kader muda baru Thoriqoh di area Surabaya dan Sidoarjo. [dutaislam.com/afr]



Wali Band Jadi Duta Ayo Mondok

Wali Band Jadi Duta Ayo Mondok


Wartaislami.Com ~ Silaturahim Nasional Ayo Mondok dihadiri oleh 500 delegasi santriwan-santriwati Pondok Pesantren seluruh Indonesia di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Taman Candra Wilwatikta Jalan Prigen-Pandaan Kabupaten Pasuruan, Jumat, 13 Mei 2016.

Tidak hanya sejumlah delegasi tersebut, bupati Pasuruan, Gus Irsyad Yusuf, juga mengirim surat undangan kepada seluruh sekolah tingkat atas se- Pasuruan untuk turut memeriahkan pembukaan Silatnas yang juga dimeriahkan Wali Band itu.

Ribuan pengunjung yang hadir dari kalangan masyarakat umum, pelajar, parawali (sebutan untuk penggemar Wali Band), dan beberapa banom NU di lingkungan Pasuruan turut andil meramaikannya.

Gus Irsyad dalam sambutannya menyampaikan rasa berterima kasihnya kepada segenap elemen yang telah ikut serta menyukseskan agenda nasional pertama RMI NU atas ide dan gagasan Kiai Said Aqil Siradj yang bertajuk kembali ke pesantren saat menjadi Ketum Tanfidziyah hasil muktamar Makassar silam.

“Saya sangat berterima kasih kepada Pengurus Pusat RMI NU yang telah memercayakan kabupaten Pasuruan sebagai tempat berlangsungnya agenda besar ini. Saya bertekad menjadikan kabupaten Pasuruan sebagai kabupaten seribu pesantren yang menghasilkan santri berkualitas untuk kebaikan umat, bangsa, dan negara,” Tegasnya.

Sambutan Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo tidak kalah menarik, beliau menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya agenda yang sangat membantu pemprov Jawa Timur dalam menagkal radikalisme dengan sentuhan para ulama terhadap para santrinya. “Hari ini kita diancam oleh kelompok radikalis yang telah masuk di sekitar kita dengan agenda merongrong NKRI. Oleh karena itu saya atas nama pribadi dan atas nama pemerintahan berharap penuh kepada PBNU untuk turut membantu pemerintah menangkal itu semua,” tegasnya.

Saat beberapa sambutan usai, giliran Wali Band yang menghibur para peserta dengan beberapa tembang andalannya memikat hati para hadirin. Dalam hal ini, Wali Band yang digawangi Faang dkk memang jauh-jauh hari telah ditawari menjadi Duta Ayo Mondok oleh panitia pelaksana yakni Gus Lukman HD didorong oleh bupati Pasuruan Gus Irsyad serta Pengurus Pusat RMI sendiri.

Walhasil, manajemen Wali Band bersedia sepenuh hati menjadi duta ayo mondok. Faang sendiri, sang vokalis, mengaku pernah nyantri enam tahun. “Para santri, jangan pernah minder menjadi santri, saya jelek-jelek gini pernah cuma numpang tidur di pesantren selama enam tahun, walaupun hanya sebentar, kitab kuning saya banyak namun sudah dimakan rayap, hahaha”. Tegasnya sambil bernada canda. (Hamzah-red)


Source: KBAswaja
Seputar Bid'ah dan Inovasi Beragama

Seputar Bid'ah dan Inovasi Beragama


Oleh Munandar Harits Wicaksono

Islam sebagai agama, dianggap penting karena memiliki dua rujukan yang dengan keduanya manusia diatur sedemikian rupa. Al-Qur’an, sebagai rujukan yang pertama merupakan sebutan untuk lafadh yang Tuhan turunkan kepada Nabi Muhammad di mana bacaannya mengandung sisi i'jaz (melemahkan; mukjizat) bagi penentangnya dan bernilai ibadah dengan membacanya. Sementara hadits, sebagai rujukan kedua adalah ucapan Nabi Muhammad pasca ia diangkat Tuhan menjadi utusannya.

Keduanya merupakan wasilah Tuhan memperkenalkan diri-Nya, mengingatkan manusia mengenai hakikat hidup, dan tak luput mengatur segala aspek mulai dari skala mayor dan urgen seperti perkara ketuhanan, konsep interaksi dengan sesama manusia, hingga perkara kecil nan sepele seperti halnya berpakaian dan lain-lain.

Di masa awal pembentukan syariat, keberadaan Nabi Muhammad sebagai penyambung lidah Tuhan sangat dibutuhkan. Hadits sebagai ucapannya punya kedudukan tidak hanya sebagai penjelas, tapi dalam berbagai masalah menjadi pijakan hukum atas hukum yang belum tersebut dalam Al-Qur’an. Maka ketika muncul suatu masalah yang belum diketahui hukumnya, mudah saja orang di masa itu akan segera bertanya kepada beliau. Kemudian dalam beberapa kasus Tuhan akan mengklarifikasi maupun memperkuat jawaban Rasulullah tersebut.

Meskipun demikian, Islam di masa itu tidak serta-merta menetapkan hukum sepihak semacam diktator. Dalam berbagai kesempatan Nabi Muhammad mengatakan, "Permudahlah, jangan mempersulit!" Bahkan ucapan itu diulang-ulang sampai tiga kali, menunjukkan betapa kuatnya anjuran tersebut.

Hal ini jelas kontradiktif dengan apa yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini. Kita dihadapkan pada fenomena merebaknya pemikiran-pemikiran kaku yang sangat enggan berinovasi dalam beragama. Menggunakan dalih hadits "Setiap perbuatan bid'ah atau yang tidak dicontohkan Muhammad adalah sesat" mereka seenaknya sendiri menyalah-nyalahkan golongan lain.

Padahal, hadits yang diucapkan ini sejatinya masih sangat global. Dalam redaksi bahasa Arab lafadh kullun yang memiliki makna setiap (seperti dalam hadits di atas) memiliki 2 padanan makna. Terkadang lafadh kullun ini digunakan untuk makna jam' , yang berarti ia tidak menerima pengecualian. Kadang pula ia bermakna jami' dimana ia menerima pengecualian.

Berkaca pada hal tersebut, para cendikiawan muslim moderat memberikan definisi yang relevan dengan makna bid'ah yang dikehendaki Nabi. Salah satu definisi yang adil menyebutkan bid'ah adalah sebuah ajaran baru yang dibuat-buat untuk menandingi syariat.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah semisal acara 40 hari memperingati kematian yang di dalamnya terdapat kandungan silaturahim, membaca Al-Qur’an bersama dan segala perbuatan baik lainnya dibuat untuk menandingi syariat? Tentu tidak.

Seperti inilah yang kami maksudkan sebagai fenomena pemikiran kaku dan enggan berinovasi di atas. Hal ini diperparah dengan masyarakat kita yang cenderung hanya melihat cover dan mengabaikan substansi sebenarnya. Padahal, sejatinya sudah menjadi maklum bersama, mengingat Wali Songo di masa penyebaran Islam di Tanah Jawa juga membungkus ajaran-ajarannya dengan budaya.

Satu yang menarik terkait inovasi dalam beragama adalah sebuah riwayat hadits yang disebutkan dalam kumpulan hadits Imam Nawawi dalam kitab Riyadlush Shalihin. Disebutkan suatu ketika seorang Baduwi melakukan tawaf mengelilingi ka'bah menyebutkan kata-kata yâ karîm (yang tentu tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad) berulang kali. Heran akan hal tersebut, Nabi Muhammad menghampirinya bersamaan dengan turunnya Jibril. Lalu terjadilah percakapan yang sejatinya melibatkan 4 subjek. Tuhan, Jibril, Muhammad dan orang Baduwi tadi.

Singkat cerita, Tuhan melalui Jibril, disampaikan oleh Muhammad, bertanya pada Baduwi tersebut, "Apakah kau kira dengan mengucapkan yâ karîm (wahai Yang Maha Mulia), Tuhan akan mengampuni dosa dan memperingan timbangan burukmu?" Secara spontan baduwi itu menjawab "Kalau Tuhan berani menimbang amalanku, akan kutimbang balik Ia!" Mendengar jawaban tersebut Nabi Muhammad kaget bukan kepalang. Lantas ia bertanya, "Bagaimana bisa?" Baduwi segera menjawab "kalau Tuhan menimbang amalan burukku, akan kutimbang pula rahmat dan kasih sayangNya. Saya yakin rahmat-Nya jauh lebih besar daripada dosa saya." Lalu apa kata Tuhan? Tuhan justru berkata "Muhammad, sampaikan pada Baduwi itu, aku tidak akan menimbang-nimbang amal buruknya."

Menarik. Ada dua poin utama dalam hadits tersebut yang bisa kita ambil kesimpulan. Yang pertama adalah bagaimana baduwi tersebut melakukan sebuah perbuatan yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhanmad. Ia berinovasi dengan melakukan perbuatan yang membuat Rasulullah terheran-heran, namun secara substansial ia menyetujuinya.

Poin kedua adalah terkait pola pikir inovatif Baduwi tersebut. Bagaimana ia dengan cerdas justru hendak menggugat Tuhan. Pola pikir seperti inilah yang mati suri dalam masyarakat kita dewasa ini. Kita terlampau asyik dalam pola pikir jumud yang tidak kunjung usai. Padahal, justru dengan pola pikir inovatif dan sedikit “nakal” seperti inilah Islam bisa maju dan berkembang. Selama, ia tidak keluar dari batas koridor kewajaran.[]

Penulis adalah Alumnus MAPK Surakarta tahun 2013/2014. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Al Ahqoff, Tarim, Hadramaut, Yaman. Menyukai puisi, sastra dan sedikit kopi. Bisa dihubungi lewat akun twiter @munandarharits1 via nu online
Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada


Ini adalah halaman muka dari naskah kitab Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah karangan KH Muhammad Ma’shum ibn Salim al-Safuthani al-Samarani, seorang ulama Nusantara asal Seputon, Semarang (Jawa Tengah). Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh ‘Isa al-Babi al-Halabi di Mesir pada tahun 1303 H (1886 M). Naskah ini menjadi koleksi Robarts Library, University of Toronto, Kanada.

“Tasywiqul Khallan” merupakan hasyiah (komentar panjang) atas syarh (penjelasan) “Mukhtashar Jiddan” (karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, w. 1866 M) atas matan (teks) al-Ajurumiyyah, kitab monumental gramatika Arab (nahw) karangan Muhammad ibn Jurum al-Shanhaji, w. 1323 M.

Halaman muka kitab mengisyaratkan jika KH. Muhammad Ma’shum mengarang hasyiah ini saat ia masih berusia muda. Tertulis di sana: “Ta’lif al-syab an-najib wal-fadhil al-labib” (karangan seorang pemuda cendikia, pemilik keutamaan yang cerdas).

Dalam kata pengantarnya, KH. Muhammad Ma’shum mengatakan jika ia mengarang kitab ini karena permintaan beberapa koleganya yang hendak memahami kitab al-Ajurumiyyah dan syarh-nya, Mukhtashar Jiddan, secara lebih mendalam. Para kolega itu meminta KH Muhammad Ma’shum untuk menuliskan komentar dan penjelasan panjang atas dua kitab (matan dan syarh) tersebut, agar lebih mudah difahami.

KH Muhammad Ma’shum mulai menulis hasyiah ini di Mekkah saat ia pergi haji dan merampungkanya di Semarang. Dalam menulis hasyiah ini, KH. Muhammad Ma’shum merujuk pada beberapa referensi utama, yaitu (1) Hasyiah al-Sanwani ‘ala Syarh al-Syaikh Khalid al-Azhari ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, (2) Syarh al-Astarabadi ‘ala Kafiyah Ibn al-Hajib, dan (3) Mughni al-Labib karangan Ibn Hisyam.

Sayangnya, belum banyak informasi lebih terkait biografi KH. Muhammad Ma’shum beserta karya-karyanya. Dalam kata pengantarnya, beliau menyebutkan jika Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah “syaikh syaikhi” (guru dari guruku).

Menimbang tahun kepengarangan kitab tersebut (1303 H/ 1886 M), maka bisa diperkirakan jika KH. Muhammad Ma’shum ini satu generasi dengan santri-santri Jawi yang belajar di Mekkah pada masa itu, seperti KH. Hasyim Asy'ari Jombang (w. 1366 H), KH. Mukhtar Atharid Betawi (w. 1349 H), KH. Abdul Karim ibn Ahmad Khatib Minang (w. 1357 H), KH. Abdul Rasyid Bugis (w. 1361 H), KH. Wahyuddin Abdul Ghani Palembang (w. 1360 H), KH. Jamaluddin Khaliq Patani (w. 1355 H), dan lain-lain.

Meski demikian, kitab Hasyiah Tasywiqul Khullan banyak dicetak ulang dan diterbitkan kembali oleh banyak penerbit, baik di Arab atau pun Nusantara, seperti Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubra (Kairo, 1326 H/ 1908 M), al-Maktabah al-‘Ilmiyyah (Kairo, 1358 H/ 1940 M), Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (Beirut, 2003), dan Maktabah al-Hidayah (Surabaya).

Matn al-Ajurumiyyah terhitung sebagai kitab pegangan wajib bagi pelajaran gramatika Arab (nahw) tingkatan pemula di pesantren-pesantren tradisional (NU) di Indonesia. Matn (teks) tersebut sangat popuker dan banyak yang menulis pejelasan (syarh) atasnya, diantaranya adalah syarh yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarromah sekaligus mahaguru bagi para santri dan ulama asal Nusantara di akhir abad ke-19 M. Maka tidaklah mengherankan jika kitab-kitab karangan beliau banyak diaji dan dikaji di dunia pesantren hingga sekarang.

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan sezaman dan sejawat dengan Syaikh Nawawi Banten, yang juga mahaguru para santri dan ulama Nusantara di Makkah. Jika Syaikh Zaini Dahlan menulis Syarh Mukhtashar Jiddan atas teks al-Ajurumiyyah, maka Syaikh Nawawi menulis Kasyf al-Maruthiyyah yang merupakan syarh atas teks yang sama.

Pada bulan Ramadhan tahun 1999 dulu, saya khatam mengaji kitab Syarh Mukhtashar Jiddan karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan ini di pesantren HM Putra Lirboyo Kediri (Jawa Timur) dari bacaan (qira’ah) KH. Imam Yahya Mahrus. Di akhir pengajian, KH. Imam Yahya memberikan sanad (mata rantai keilmuan) kitab tersebut yang menyambung sampai pengarangnya: KH. Imam Yahya Mahrus, dari KH. Mahrus Ali, dari KH. Abdul Karim, dari KH. Kholil Bangkalan, dari Syaikh Nawawi al-Bantani, dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. (A. Ginanjar Sya’ban) via nu online
Kominfo Minta Youtube Blokir Video Anak Indonesia yang Dilatih ISIS

Kominfo Minta Youtube Blokir Video Anak Indonesia yang Dilatih ISIS


Kementerian Komunikasi dan Informatika telah meminta Youtube untuk memblokir video anak-anak Indonesia yang dilatih militer oleh kelompok bersenjata ISIS yang telah beredar di aplikasi tersebut dan menyebar secara viral di dunia maya.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail Cawidu melalui pesan singkat, Kamis.

"Setelah kami memperhatikan konten video tersebut, maka Kominfo telah meminta kepada Youtube untuk memblokir video tersebut. Video yang kominfo minta diblokir ada dua link masing-masing berdurasi 15 menit dan dua menit," katanya.

Sebelumnya beredar sebuah video di media sosial yang berisi tentang pelatihan anak-anak di bawah umur di camp ISIS di Hasakeh, Suriah.

Dalam video tersebut sejumlah anak berlatih menembak di bawah pengawasan para ekstremis. Selain itu mereka juga belajar berkelahi satu sama lain.

Mereka diduga merupakan anak-anak yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Dalam video yang berdurasi 15 menit itu, terlihat ada adegan ekstremis ISIS bernama Abu Naser al-Indonisi yang menyerukan kepada segenap anak untuk menegakkan kekhalifahan. Naser juga mengatakan pihaknya akan menumpas para pemimpin thagut di Indonesia dan Malaysia.

Video tersebut juga memperlihatkan anak-anak melempar sejumlah paspor dan membakarnya sebagai simbol bahwa mereka tidak lagi melekat sebagai warga negara di negaranya. (Antara/Mukafi Niam) via nu online
 Pengakuan

Pengakuan


Oleh Mamam Imanul Haq
Jika Imam Syafi’i merasa mendapat bencana saat melihat betis gadis yang tak sengaja tersingkap.
Aku malah merasa mendapat nikmat meski tak diungkap.

Jika Umar menginfakkan kebun yang membuatnya ketinggalan shalat ashar.
Aku malah biasa saja berulang kali tertinggal meski azan terdengar.

Jika Urwah bin Zubair tak terganggu salatnya saat pisau bedah mengamputasi kaki.
Aku bahkan terganggu hanya karena nyamuk yang menggigit ibu jari.

Jika Nabi Ibrahim as. sangat menyesal karena pernah berbohong meski seumur hidup hanya tiga kali.
Aku malah santai saja meski jumlah dustaku sudah tak terhitung lagi.

Jika ‘Aisyah menyesali mengatakan “Shafiyah Si Pendek” yang bisa mengubah warna lautan.
Lalu bagaimana dengan gunjingan dari mulutku? Mungkin bisa membuat seluruh samudra menjadi busuk dan pekat kehitaman.

Jika Umar bin Abdul Azis bergetar menahan istrinya berbicara di ruangan yang diterangi pelita minyak yang dibiayai negara.
Aku malah keasyikkan menggunakan fasiltas perusahaan seakan milikku saja.

Jika serpihan pagar kayu rumah orang yang dijadikan tusuk gigi bisa membuat “Sang Kyai” tertahan untuk masuk surga.
Aku malah woles saja menikmati mangga hasil jarahan kebun tetangga.

Sudah begitu … pede pula meminta surga.

Astaghfirullah!
Memang hari ini dunialah yang nyata dan akhirat hanya cerita.
Namun sesudah mati, akhiratlah yang nyata dan dunia tinggal cerita.

Ya, Allah ampuni hamba!

*judul asli I'tiraf Saat Macet



Sumber :nu online
Paus Puji Terpilihnya Muslim Jadi Walikota London

Paus Puji Terpilihnya Muslim Jadi Walikota London


Paus Fransiskus mengkritik negara-negara Barat yang mencoba mengekspor merek demokrasi mereka ke negara-negara seperti Irak dan Libya tanpa menghormati budaya politik asli.

Saat berbicara kepada surat kabar Katolik Roma Prancis, La Croix, Paus Fransiskus juga menyatakan Eropa seharusnya lebih menyatukan migran dan memuji pemilihan wali kota Muslim London sebagai contoh keberhasilan.

"Saat dihadapkan dengan terorisme kelompok bersenjata Islamis saat ini, kita harus mempertanyakan cara model demokrasi yang terlalu Barat diekspor ke negara-negara tempat kekuasaan kuat seperti di Irak, atau Libya, di mana ada struktur suku," katanya.

"Kita tidak bisa maju tanpa memperhitungkan budaya-budaya ini," kata Paus.

"Seperti kata seorang Libya baru-baru ini, 'Kami dulu punya satu Gaddafi, sekarang kami punya lima puluh'," kata Fransiskus merujuk pada mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, yang digulingkan dan terbunuh pada 2011.

Paus Fransiskus sering menyerang apa yang ia sebut "budaya penjajahan", dengan negara-negara Barat berusaha memaksakan nilai-nilai mereka pada negara berkembang sebagai imbalan bagi bantuan keuangan.

Paus mengatakan bahwa bahwa meminggirkan migran tidak hanya salah tapi juga sesat dalam memerangi terorisme.

Ia mencontohkan serangan kelompok bersenjata di Brussels pada Maret ketika tiga pengebom bunuh diri menewaskan 32 orang, yang "terorisnya warga Belgia, anak migran, tapi berasal dari daerah minoritas".

Sebaliknya, Paus memuji pemilihan seorang Muslim bernama Sadiq Khan sebagai wali kota London bulan ini.

"Di London, wali kota baru itu dilantik di katedral dan mungkin akan diterima oleh Ratu. Ini menunjukkan pentingnya bagi Eropa mendapatkan kembali kemampuannya untuk menyatukan," katanya seperti dilansir kantor berita Reuters.

Sepuluh hari lalu, Paus mengecam Eropa atas apa yang ia lihat sebagai respons tidak memadai terhadap arus masuk migran yang lari dari perang dan kemiskinan di Timur Tengah dan Afrika. (Antara/Mukafi Niam) via nu online
KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka

KH Dimyati Romly Wafat, Masyarakat dan Jamaah Thariqah Berduka


Raut wajahnya berbinar saat menerima kami, pegiat media NU. Pagi itu, sesuai jadwal yang disepakati kami diterima di ruang tamu, kediamannya di kawasan Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso Peterongan Jombang, Jawa Timur.

Tidak perlu ada protokoler yang ribet untuk bertemu beliau. Sehingga wawancara berjalan sangat cair dengan diselingi canda khas pesantren. KH Ahmad Dimyati Romly yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan PPDU menjelaskan kepada kami apa saja yang telah disiapkan jelang pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, yang kebetulan pesantren ini menjadi salah satu tuan rumah.

"Kami sangat bangga serta tersanjung karena dipercaya sebagai tuan rumah yang akan menyambut peserta Muktamar NU dari berbagai kawasan di tanah air bahkan luar negeri," katanya. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan untuk dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi hajatan lima tahunan tertinggi di NU tersebut.

Salah satu yang dilakukan antara lain memanggil para alumni PPDU yang sedang kuliah di sejumlah kampus di tanah air. Disamping melayani kebutuhan para kiai peserta muktamar, keberadaan alumni yang masih muda tersebut sebagai "tenaga pemasaran" sekaligus mengenalkan keberadaan pesantren dengan kelebihan yang dimiliki kepada peserta.

Meskipun wawancara berlangsung hampir dua jam, namun Kiai Dim, sapaan beliau masih tampak bugar. Suaranya terdengar jelas karena dilakukan dengan penuh semangat. Kedekatan kepada siapa saja tanpa membedakan derajat dan status sosial dibenarkan KH Zaimuddin Wijaya As'ad. "Beliau dekat kepada siapa saja," katanya saat dihubungi, Rabu (18/5). Senyampang masih sehat, undangan dari mana saja akan dihadiri, lanjut Gus Zu'em, sapaan akrabnya.

Bendahara Umum PPDU ini kemudian menceritakan bahwa Kiai Dim kendatipun sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang demikian dihormati ribuan jamaah, tidak eksklusif. "Kedekatan dengan umat adalah kelebihan dari beliau," ungkap Gus Zu'em.

KH Ahmad Dimyathi Romly meninggal dunia, Rabu (18/5) sekitar pukul 13.00 WIB di RS Airlangga Jombang. Rais Syuriyah PBNU ini meninggalkan 7 orang anak. Kiai Dim akan dikebumikan di komplek makam keluarga di Pesantren Darul Ulum Jombang. (Ibnu Nawawi/Fathoni) via nu online

Merusak Tahlil Berarti Merusak Bangsa Indonesia

Merusak Tahlil Berarti Merusak Bangsa Indonesia

Wartaislami.com ~ Ada sejarah yang tidak banyak orang tahu tentang keterkaitan Jepara dengan dakwah Nabi Muhammad SAW. Dulu, kabupaten di pesisir utara itu pernah jadi perhatian Nabi waktu masih hidup. Ada 41 sahabat yang diutus beliau untuk lawatan politik dan dakwah ke nusantara. Sayyid Jafar bin Abi Thalib adalah nama yang diutus ke kerajaan Ratu Shima kala itu.

Sahabat Ali bin Abi Thalib yang jadi salah satu utusan pun sempat mampir dan menginjakkan kaki ke tanah Jepara sebelum kembali pulang ke Madinah bersama 40 rombongan lain. Ketika berkuasa, Khalifah Muawiyah pun pernah mengutus delegasi ke Jepara, yang kemudian bisa mempengaruhi Ratu Shima menerapkan hukum potong tangan. Namanya Abi Saffan.

Sejarah itu diungkapan oleh KH. Hisyam Zamroni, dalam sambutan sebagai wakil ketua PCNU Jepara pada acara haul Kiai Kathi, di Komplek makam Kiai Kathi, Jl. Kiai Kathi, Dusun Telahap, Desa Kecapi Rt. 12 Rw. 02, Tahunan, Jepara, Rabu (11/05/2016) malam.

Apa yang disampaikannya itu ternyata membuat Habib Musthafa al-Aydrus dari Bangilan, Tuban, Jawa Timur, yang kala itu jadi pembicara, mengaku ikut tertarik membincang sejarah Nabi, sahabat, hingga sejarah NU dan bangsa Indonesia.

Habib Musthafa mengapresiasi perhatian pengurus NU Jepara yang mau ikut mendukung dan nguri-nguri tradisi ulama salaf semacam acara haul Kiai Kathi. Jika pengurus NU mau mengawal hal-hal laiknya haul dan lainnya, itu bagian dari kecintaan NU kepada wali Allah.

Kepada ribuan hadirin, Habib Musthafa menantang warga NU Jepara untuk membuat spanduk besar bertuliskan “Kami warga NU Jepara Menolak Wahabi”. Menurutnya, spanduk itu penting untuk menyatakan sikap agar warga NU tidak mudah disusupi oknum wahabi yang sering merusak tradisi leluhur.

Ia juga menghimbau kepada warga NU yang benar-benar mengaku NU agar memasang foto Hadzratussyaikh KH Hasyim Asy’ary  di tiap-tiap ruang tamu. Gunanya, ketika ada misionaris wahabi datang, ia akan putar balik sendiri, pulang tanpa diantar.

Jika NU sudah dimasuki wahabi, bukan tidak mungkin Indonesia akan hancur. Sebab, dari dulu NU adalah penjaga tradisi yang hingga kini terbukti membentuk karakter umat Islam di Indonesia dan menjadi bangsa Indonesia 100 persen.

“Merusak tahlilan seperti yang dilakukan wahabi berarti merusak Bangsa Indonesia. Karena Indonesia sudah mengenal tahlilan dan shalawatan sebelum Indonesia merdeka. Dan yang mengamalkan itu semua adalah NU,” ujar Habib Musthafa.

Source: www.dutaislam.com

Syaikh Syahruddin Kragan, Murid Sunan Bonang Penakluk Berandal Galengsong

Syaikh Syahruddin Kragan, Murid Sunan Bonang Penakluk Berandal Galengsong


Ratusan warga mengikuti haul Syaikh Syahruddin yang diselenggarakan di Desa Pandangan Kulon Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (16/5) sore. Menurut cerita, Syaikh Syahrudin merupakan salah satu murid dari Raden Mahdum Ibrahim atau kesohor dengan sebutan Sunan Bonang.

Ketua panitia pelaksana, Abdul Hakim mengungkapkan, pada tahun 1479 M Lasem merupakan sebuah kadipaten yang dipimpin Adipati Raden Wirobodro. Saat itu rakyat Lasem masih memeluk agama Budha.

Setelah Raden Mahdum Ibrahim datang menyebarkan Islam, lanjut Hakim, beliau kemudian memiliki beberapa murid di pesisir utara, diantaranya Mbah Imron yang makamnya berada di Kecamatan Bulu Kabupaten Tuban, dan Muhammad Thohir yang ada di Desa Plawangan Kecamatan Kragan. "Dua lagi yaitu Mbah Syakur dan Mbah Muhammad Syahruddin," terang Hakim.

Menukil buku Babat Tanah Jawi dan Darmo Gandul Runtuhnya Mojopahit karangan Empu Santi Bodro, mayoritas masyarakat di Desa Bonang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang pada mulanya memeluk agama Budha kemudian berpindah ke Islam setelah Sunan Bonang melakukan dakwah.

Dari situ timbul konflik dan terjadi pemberontakan yang dipimpin Berandal Galengsong. "Akhirnya Mbah Syahruddin ditugaskan oleh gurunya (Sunan Bonang) untuk melawan pemberontak tersebut. Akhirnya pemberontak tersebut meninggal ditangan Mbah Syahruddin," terang Hakim yang juga menjabat sebagai Wakil PAC Ansor Kragan Bidang Antar Lembaga.

Acara haul Syaikh Syahruddin ini dihadiri oleh KH Muhammad Idror Maimoen sebagai pembicara, dan diikuti ratusan jamaan dari berbagai desa. (Aan Ainun Najib/Zunus) nu online
Karomah Mbah Kholil: Hafal Alfiyah Semalam

Karomah Mbah Kholil: Hafal Alfiyah Semalam

Wartaislami.Com ~ Salah satu Karomah syaikhona mbah kholil Bangkalan adalah bisa semalam menghafal Kitab Imriti, Asymuni dan Al-Fiyah Ibnu Malik sekaligus.


Ketika Kiai Kholil masih muda, dia mendengar bahwa di Pasuruan ada se­orang kiai yang sangat sakti mandra­guna. Namanya Abu Darin. Kholil muda ingin sekali belajar kepada Abu Darin. Sema­ngat untuk menimba ilmu itu begitu meng­gebu-gebu pada dirinya sehingga jarak tempuh yang begitu jauh dari Bang­kalan di Pulau Madura ke Pasuruan di Pulau Jawa tidak dianggapnya sebagai rintangan berarti, meski harus berjalan kaki.

Namun apa daya, sesampainya Kholil muda di Desa Wilungan, Pasuruan, tem­pat kiai Abu Darin membuka pesantren, ternyata Kiai Abu Darin sudah wafat. Dia meninggal hanya beberapa hari sebelum kedatangan Kholil muda. Habislah ha­rapannya untuk mewujudkan cita-cita­nya berguru kepada kiai yang mempu­nyai ilmu tinggi tersebut.

Dengan langkah gontai karena capai fisik dan penat mental, hari berikutnya Kho­lil berta’ziyah ke makam Kiai Abu Da­rin. Di depan pusara Kiai Darin, Kholil membaca Al-Qur’an hingga 40 hari. Dan pada hari yang ke-41, ketika Kholil te­ngah ketiduran di makam, Kiai Abu Darin hadir dalam mimpinya.

Dalam kesempatan itu almarhum mengatakan kepada Kholil, “Niatmu untuk belajar sungguh terpuji. Telah aku ajarkan ke­padamu beberapa ilmu, maka peliharalah”. Kholil lalu terbangun, dan serta merta dia sudah hafal kandungan kitab Imrithi, Asymuni, dan Alfiyah, kitab utama pesantren itu. Subhanallah. [dutaislam.com/ed]





Jika Banser Hanya Jaga Gereja, Nusaibah Justru Muslim Pertama yang Memegang Kunci Gereja

Jika Banser Hanya Jaga Gereja, Nusaibah Justru Muslim Pertama yang Memegang Kunci Gereja


 Wartaislami.Com ~ Ketika natal dan paskah tiba, Banser NU siap dengan pakaian rapihnya menuju gereja untuk mengamankan Gereja. Hal ini sudah berlangsung lama, Banser  turun untuk melindungi gereja ketika perayaan hari besar Kristen. Tak hayal, di Indonesia ini dianggap nyeleneh, “Islam ko jagain gereja.” Maka Banser menjadi bulan-bulanan NU Garis Lurus dan Jonru, dan menuduh jika Banser itu liberal.

Mereka tidak membaca sejarah, bahwa ada yang lebih dari Banser, yaitu keluarga Nusaibah.
Semenjak Umar bin Khattab menaklukkan Yerusalem, Umar menjanjikan bahwa warga Kristen aman dan darah mereka dilindungi, tempat ibadah mereka tidak diganggu dan tidak dijadikan masjid.

 Bahkan ketika Uskup Sophronius menawarkan shalat di gereja makam suci, Umar menolak dengan alasan takut diubah kaum muslimin menjadi masjid. Akhirnya, Uskup menyerahkan kunci gereja makam suci ditangan Umar, dan Umar langsung menyerahkan kepada Abdullah bin Nusaibah al-Maziniyya dari suku al-Khazraj.

Akhirnya dari keluarga Nusaibah lah, kunci gereja makam suci dipegang dari zaman Umar bin Khattab sampai sekarang.

Hal ini berguna, karena sekte Kristen banyak, dan mereka saling mengklaim, gereja itu punya mereka, sehingga jika sekte Kristen memegang kunci itu maka bisa jadi sekte Kristen yang lainnya tidak boleh masuk. Keluarga Nusaibahlah yang menjadi penengah sehingga semua sekte Kristen bisa beribadah di sana.

Bahkan ketika Paskah, keluarga Nusaibah menerima Api Kudus dan keluarga Nusaibah membawa api kudus itu ke para jemaat di gereja makam suci, hal ini sudah berlangsung ratusan tahun.

Dari fakta ini, Banser bukanlah apa-apa dibanding keluarga Nusaibah. Banser hanya menjaga gereja ketika perayaan hari besar umat Kristen, anggota Banser tidak ada yang menjadi pemegang kunci gereja, bahkan Banser tidak pernah menerima api kudus dalam liturgi.

Keluarga Nusaibah melebihi Banser, dan ini sudah dilakukan sejak abad ke-7 sampai abad ke-21. Apakah NU Garis Lurus dan Jonru akan menyebut keluarga Nusaibah liberal dan sesat? [dutaislam.com/ luqman]



Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah


Bukan karena latah jika NU saat ini ikut berteriak soal pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. Sebab, pergerakan NU memang mempunyai benang  sejarah  yang cukup kuat dengan beridrinya NKRI. Demikian dikemukakan oleh Menpora RI, Imam Nahrawi saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "Pancasila Final, NKRI Harga Mati, Khilafah No" di auditorium Universitas Islam Jember (UIJ), Sabtu (14/5).

Menurut Menpora, NU sebagai salah satu ormas yang memiliki sejarah dan turut andil dalam pendirian NKRI, maka seharusnya mempertahankan NKRI. "Oleh karena itu, mari kita pertahankan sejarah itu dengan baik. Jangan sampai ada oknum yang tidak memiliki sejarah, lalu mengatakan Indonesia harus diubah," ujarnya.

Imam Nahrawi meminta agar NU tetap kuat dan solid  mengawal NKRI dan Pnacasila. NKRI, katanya, adalah harga mati, dan siapapun tidak boleh menentangnya. Ini bukan karena adanya gejala atau gerakan yang mengancam Pancasila dan NKRI belakangan ini, namun karena hal tersebut sudah menjadi sikap bangsa yang tidak bisa ditawar lagi. "Yang terpenting saat ini adalah eksekusinya seperti apa karena NKRI adalah memang sudah harga mati tidak boleh siapapun menantang. Apabila ada yang menantang maka harus keluar dari NKRI," ujar Menpora.

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan UIJ, Abdullah Syamsul Arifin (Gus A`ab) mengatakan bahwa NU sejak lama berkomitmen mengawal dan menjaga Republik Indonesia dan siap menghadapi siapapun yang akan mengotak-atik NKRI. Terkait dengan ormas yang menentang NKRI, PCNU Jember sudah mengambil langkah, diantaranya mendorong pemerintah pusat, Kemenkumham dan Kemendagri untuk membubarkan ormas-ormas penentang NKRI dan Pancasila.

"Pemkab Jember kami harap membuka forum untuk menutup kegiatan ormas penentang Pancasila dan merongrong NKRI," jelas Gus A'ab yang juga Ketua PCNU Jember itu. (Aryudi A Razaq/Zunus) via nu online
Membaca akar Konflik NU vs PKI

Membaca akar Konflik NU vs PKI


Oleh Amin Mudzakkir
Wartaislami.Com ~ Belakangan beredar kesan seolah-olah Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sungguh berbenturan. Kesan ini dikuatkan oleh terbitnya buku Benturan NU & PKI, 1948-1965 (Depok: Langgar Swadaya Nusantara, 2014) yang dianggap merupakan suara resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Buku ini terbit bukan tanpa alasan. Suara-suara yang menggambarkan keterlibatan NU, khususnya Barisan Ansor Serbaguna (Banser), dalam aksi pembunuhan massal anggota PKI selama Prahara 1965 terasa memojokan—misalnya, Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965 (Jakarta: Tempo Publishing, 2013). Seolah-olah NU sedemikian brutalnya. Merespons hal ini, tidak sedikit orang NU yang meradang.

Masalahnya, jika NU terlibat dalam pembunuhan massal anggota PKI selama Prahara 1965, apakah NU kemudian diuntungkan? Dengan ungkapan lain, apakah setelah tragedi itu NU keluar sebagai pemenang? Dengan mengajukan pertanyaan seperti ini, saya melihat kita bisa mendudukan perkaranya secara seimbang. Bagi kalangan internal NU, pertanyaan tersebut penting diajukan untuk mengevaluasi keterlibatannya dalam Prahara 1965. Jangan-jangan NU, seperti juga PKI, pada dasarnya adalah sama-sama korban dari suatu ambisi politik yang merendahkan martabat kemanusiaan?

Konteks Pra-1965
Setidaknya terdapat dua kelompok utama dalam perdebatan mengenai Prahara 1965 di Indonesia. Kelompok pertama selalu menekankan cerita-cerita tentang serangan kasar PKI, yang memuncak di Madiun 1948, terhadap lawan-lawannya. Kelompok kedua selalu menonjolkan kepiluan anggota PKI yang dibantai setelah kekalahan telak dan cepat Gerakan 30 September (Gestapu)/Gerakan 1 Oktober (Gestok).

Menurut saya, kedua kelompok tersebut menawarkan fakta yang sama-sama valid, sehingga jika sekarang kita berbicara tentang rekonsiliasi, maka ia harus mencakup periode sebelum dan setelah 1965. PKI jelas pihak yang kalah, korbannya paling banyak, efeknya masih membekas hingga sekarang. Meski demikian, lawan-lawan politik PKI dari kalangan sipil, termasuk NU, tidak bisa dikatakan sebagai pemenang. Mereka adalah korban dari manipulasi dan ambisi politik biadab penguasa militer Orde Baru yang secara cerdik memanfaatkan situasi tidak menentu pada masa itu.

Selain dinamika aktor seperti dijelaskan di atas, struktur politik ekonomi pada tataran internasional dan domestik turut menghadap-hadapkan warga sipil pada posisi saling berseberangan. Kita tahu Perang Dingin pada waktu itu memberi pengaruh kuat, sehingga situasi menjadi sangat konfliktual. Perseteruan bukan hanya antara blok Barat (AS-Kapitalis) dan blok Timur (US-Komunis), tetapi juga terjadi di kalangan komunis, yaitu antara Moskow dan Peking. Dua blok komunis internasional ini saling berebut pengaruh. PKI di bawah Aidit lebih dekat dengan Peking, berbeda dengan PKI sebelumnya di bawah Musso yang menginduk ke Moskow.

Pada tingkat lokal, perseteruan di antara individu dan kelompok sosial semakin memanas setelah munculnya isu aksi sepihak. Berdasarkan UU No. 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, pemerintah berkewajiban mendistribusikan lahan kepada para petani tuna tanah. UU ini sendiri adalah respons terhadap proyek nasionalisasi aset-aset peninggalan Belanda di Indonesia. Namun kenyataannya program reforma agraria tersebut kurang berjalan mulus sehingga menimbulkan banyak sengketa. Dalam situasi ini, PKI sering melakukan agitasi yang dipandang berlebihan oleh lawan-lawan politiknya.

Perseteruan melebar hingga ke urusan kebudayaan. Harap diingat pada masa itu Indonesia belum lama merdeka dan berbagai pihak memperebutkan tafsir mengenai bagaimana Indonesia seharusnya. Dari kalangan Muslim muncul Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) dan Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) yang sering berseteru dengan para aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Perseteruan tersebut kadang berlangsung keras. Secara simbolis salah satu puncak perseteruan itu mengemuka dalam penandatanganan Manifesto Kebudayaan oleh beberapa aktivis yang dekat dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang telah dibubarkan oleh Sukarno.

Dalam situasi yang semakin memanas menjelang 1965, orang-orang percaya bahwa pilihannya adalah ‘membunuh’ atau ‘dibunuh’. Situasi ini diperparah dengan kelambanan Sukarno beberapa saat setelah terjadinya peristiwa pembunuhan enam orang petinggi Angkatan Darat pada malam 1 Oktober 1965. Dia tidak segera mengeluarkan keputusan tegas mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dan harus bagaimana mengatasinya. Melihat kondisi yang tidak menentu ini, Soeharto sebagai Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) melakukan aksinya dengan sangat efektif. Dia segera mengamankan ibukota dan memerintahkan tentara, khususnya Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD ) di bawah Sarwo Edhie Wibowo, untuk menumpas keberadaan PKI di beberapa daerah.

1965 sebagai Titik Balik
Peristiwa 1965 adalah titik balik dalam sejarah Indonesia. Setelah terjadi pembunuhan enam orang jenderal dan seorang kapten Angkatan Darat di Jakarta, suatu prahara terjadi dengan meminta korban jiwa berkisar antara 300 ribu hingga 2,5 juta orang. Masalahnya, hingga hari ini Prahara 1965 itu masih diselubungi tabir kelam. Dalam historiografi resmi yang disusun selama Orde Baru, narasi yang ditampilkan dibatasi pada peristiwa pembunuhan para jenderal pada tanggal 1 Oktober 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dituduh sebagai pelakunya.

Akan tetapi, prahara sesungguhnya justru terjadi setelah itu. Sejak Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Sukarno, pembunuhan terhadap siapa saja yang dituduh terlibat PKI berlangsung massif. Pembunuhan massal ini dilakukan secara terorganisasi oleh militer (Angkatan Darat) dengan bantuan beberapa kelompok sipil. Ladang pembantaian terbesar berada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara selama kurun akhir 1965 hingga pertengahan 1966.

Anggota PKI yang tidak dibunuh dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik tanpa melewati proses pengadilan. Jumlahnya mencapai 15.000 orang. Pada tahun 1979 secara berangsur para tapol tersebut dibebaskan. Meski demikian, mereka tidak pernah memperoleh hak sebagai warga negara sepenuhnya. Selain itu, terdapat juga kaum eksil di luar negeri yang jumlahnya ribuan orang. Ketika peristiwa 1965 meletus, mereka sedang bertugas sebagai mahasiwa atau utusan Indonesia di organisasi-organisasi internasional. Oleh karena alasan yang sama dengan korban di dalam negeri, secara sewenang-wenang mereka dicabut paspornya. Akibatnya mereka tidak bisa pulang, sehingga hidup ‘kelayapan’ di luar negeri tanpa status kewarganegaraan (stateless).

Anggota PKI yang masih tersisa kemudian hidup dalam stigma sebagai pengkhianat bangsa. Secara moral mereka dianggap nista. Bagian tragisnya adalah hal ini mendera juga anak keturunan mereka. Mereka menjadi warga negara kelas dua yang mengalami diskriminasi dalam banyak perkara.

NU sebagai Korban
Salah satu pertanyaaan historis yang terabaikan hingga sekarang adalah apa yang terjadi dengan kelompok-kelompok sipil yang terlibat dalam pembunuhan massal PKI selama periode 1965-1966? Jika pertanyaan ini berhasil dijawab, maka kita setidaknya akan mengerti siapa yang diuntungkan oleh adanya itu. Tidak hanya itu, pertanyaan tersebut juga akan menggiring kita pada asumsi lain: bahwa kelompok-kelompok sipil yang terlibat dalam aksi tersebut juga adalah korban manipulasi tentara dan tumbal politik rezim Orde Baru yang baru berdiri.

Satu hal yang cukup pasti pasca-1965 adalah berdirinya negara Orde Baru yang telah berhasil menyingkirkan habis semua kekuatan pendukung Sukarno. Dalam hal ini posisi NU cukup dilematis. Sementara pada satu sisi NU adalah bagian dari skema nasionalis-agama-komunis-nya Sukarno mewakili unsur agama, pada sisi yang lain beberapa tokoh NU juga terlibat dari aksi-aksi penggulingan Sukarno di ujung masa kekuasaannya. Mengetahui posisi NU yang lentur seperti itu, Soeharto berhati-hati. Di awal periode kekuasaannya, dia hanya percaya pada tiga penyokong utamanya: tentara (ABRI), birokrasi, dan Golkar.

Bahkan bisa dikatakan, rezim Orde Baru pada periode awal kekuasaannya menunjukkan sikap Islam-fobia, selain tentu saja komunis-fobia yang warisannya masih awet hingga sekarang. Partai-partai Islam dibonsai ke dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam situasi ini, peran politik NU yang pada Pemilu 1955 merupakan partai ketiga terbesar dipangkas sedemikian rupa. Pada Pemilu 1971 dan 1974, orang-orang NU yang masih membandel dipangggil tentara dan dipaksa untuk mencoblos Golkar. Sayangnya cerita-cerita kelam pada periode ini belum banyak didokumentasikan.

Dengan demikian, NU sebagai sebuah lembaga tidak mendapatkan apa-apa terkait dengan keterlibatannya dalam pembunuhan massal 1965. Banser hanya dijadikan alat tentara. Beberapa cerita yang berkembang menyebutkan bahwa di beberapa daerah anggota Banser terpaksa ikut aksi pembunuhan massal bersama RPKAD karena dipaksa. Kalau tidak melakukan itu, dia akan segera dituduh terlibat pemberontakan PKI.

Kemungkinan Rekonsiliasi
Jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998 membuka lembaran sejarah baru bagi para keluarga korban 1965. Mereka berharap adanya rehabilitasi terhadap hak kewarganegaraan mereka yang terampas selama ini. Bersama dengan itu, muncul berbagai penyelidikan yang menunjukkan adanya pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius selama periode itu.

Pada masa kepresidenan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pemerintah Indonesia membuat terobosan penting. Secara pribadi Gus Dur meminta maaf kepada para keluarga korban Prahara 1965 dan mengajak semua kalangan, termasuk warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk melakukan rekonsiliasi atau islah. Posisi Gus Dur yang selain presiden juga pemimpin NU membuat pernyataan ini sangat berpengaruh. Namun tindakan Gus Dur tersebut banyak disalahpahami termasuk oleh beberapa mantan anggota PKI sendiri. Dengan ajakan rekonsiliasi itu, Gus Dur sejatinya ingin mengingatkan bahwa kita—warga sipil—adalah sama-sama merupakan korban. Tidak ada yang diuntungkan oleh tragedi yang brutal itu kecuali para petualang politik kekuasaan yang membangun karir di atas piramida korban manusia.

Pada 2004 Undang-Undang No. 27 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) disahkan. Namun pada 2006 undang-undang tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Secara pribadi Susilo Bambang Yudhoyono ketika masih menjabat presiden sempat mewacanakan kemungkinan permohonan maaf negara terhadap para korban Prahara 1965, meski hal itu tidak pernah terrealisasi. Belakangan Presiden Jokowi juga menyatakan hal yang kurang lebih serupa, tetapi lagi-lagi baru sebatas wacana.

Sebagai penutup, menurut saya, rekonsiliasi 1965 tidak bisa tidak harus berlandaskan pada suatu kesadaran baru mengenai sejarah 1965 itu sendiri. Apa yang disebut korban tidak hanya anggota PKI, tetapi juga semua warga sipil yang kehilangan hak kewarganegaraannya di sekitar peristiwa itu. Oleh karena itu, sejarah 1965 harus dipahami secara luas sebagai perubahan dan kelanjutan periode sejarah sebelumnya. Memotong penafsiran historiografis hanya pada tahun 1965, baik hanya fokus pada periode sebelumnya maupun sesudahnya, akan berdampak fatal.

Sumber: NU Online


Kiai Muhaiminah, mengubah Jagung jadi Lebah untuk usir Belanda

Kiai Muhaiminah, mengubah Jagung jadi Lebah untuk usir Belanda


Wartaislami.Com ~ Markas Besar Oelama (MBO) dikenal sebagai kumpulan para kiai yang siap bertempur bersama di Tentara Hizbulloh, Pasukan Sabililah dan Mujahiddin.
MBO di bawah komando KH Wahab Chasbullah ini memiliki kiai pilih tanding yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Salah satunya adalah Kiai Muhaiminah dari Pondok Bambu Runcing, Temanggung, Jawa Tengah.

Menurut Sejarawan NU Choirul Anam, Kiai Muhaiminah ini adalah kiai yang kharismatik. "Dalam perang melawan sekutu beliau memiliki senjata berupa jagung. Namun ketika segenggam jagung itu dilempar bisa menjelma menjadi ribuan lebah," tutur Cak Anam kepada Okezone.
Cak Anam mengaku sempat bertemu dengan kiai ini sekitar setahun yang lalu. Saat itu, Cak Anam bertandang ke Pondok Bambu Runcing. Saat bertemu di ponpes tersebut, Cak Anam diberi sebilah keris yang saat ini tersimpan di Museum NU di Gedung Astranawa, Jalan Gayung Sari, Surabaya.
Selain Kiai Muhaiminah ada juga prajurit Sabilililah yang bernama Hasyim Latif. Dalam perjuangan melawan sekutu, Hasyim Latif memiliki kenuragan yang cukup tinggi. Ketika berhadap-hadapan dengan Belanda, Hasyim Latif pernah diberondong peluru oleh tentara Belanda.
"Rupanya berkat pertolongan Allah, Hasyim Latif tidak terluka sedikit pun. Hanya, baju yang dipakainya itu bolong-bolong karena terjangan peluru Belanda. Saat ini baju Hasyim Latif tersimpan di Museum NU," katanya.

Kata Cak Anam, KH Wahab Chasbullah juga memiliki keistimewaan. Secara batin, Kiai ini memiliki kanuragan yang cukup tinggi. Mbah Wahab juga tidak mempan oleh peluru milik Belanda. Jas milik Mbah Wahab Chasbullah tersimpan di Museum NU terlihat bolong-bolong karena ditembus peluru belanda.
"Jasnya masih ada di Museum. Termasuk tongkat milik Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy'ari). Tongkat ini ketika ditancapkan musuh tidak berani mendekat," jelas Cak Anam.
Kata Cak Anam semua lini barisan santri dan ulama berjuang mati-matian untuk mempertahakan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menyayangkan, banyak sejarah yang dihilangkan terkait perjuangan ulama dan kaum santri ini. Ia berharap ada rekontruksi sejarah dang mengungkap fakta-fakta yang ada.

"Saya punya data semuanya dan bukti-bukti. Bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari pergerakan Islam. Termasuk 10 November ini, peran ulama dan santri sangat besar. Saat itu, pemerintah pusat sudah tidak berdaya menghadapi tekakan dunia international hingga Bung Karno menyatakan semua terserah rakyat Surabaya," pungkasnya.







Sumber :okezone.com
 Ini Ulama Punjere Bumi, Mbah Maimun Zubair Sarang, Rembang

Ini Ulama Punjere Bumi, Mbah Maimun Zubair Sarang, Rembang

Wartaislami.com ~ Pada tahun 1945 beliau memulai pengembaraannya ke Pondok Lirboyo Kediri, selama kurang lebih lima tahun, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim (Mbah Manaf), KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi. Menginjak usia 21 tahun, beliau meneruskan pengembaraanya ke Makkah Al-Mukarromah, selama kurang lebih 2 tahun berkutat dengan ilmu-ilmu agama didalam bimbingan Sayyid ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.


 KH. Maimun Zubair adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.

Beliau lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair Dahlan. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat, salah seorang murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky, dua ulama yang kesohor pada saat itu. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian.

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari kecil beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahandanya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam-macam ilmu Syara’ lainnya.

Pada usia sekitar 17 tahun, beliau sudah hafal diluar kepala kiab Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Sekembalinya dari Tanah suci, beliau masih mengasah dan memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Seperti KH. Baidlowi lasem (mertua beliau), KH. Ma’shum lasem, KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang di isi ribuan santri putra dan putri yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Karangmangu Sarang Rembang. Kemudian sekitar tahun 2008 beliau kembali mengibarkan sayapnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan pengasuhannya kepada putranya KH. Ubab Maimun


 Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya,. banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun. Pada umur 25 tahun, beliau menikah dan selanjutnya menjadi kepala pasar Sarang selama 10 tahun. Beliau juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun. Tapi rupanya tenaga dan pikiran beliau masih dibutuhkan oleh negara sehingga beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode.

Dalam dinia politik beliau tergolong kiyai yang adem-ayem. Di saat NU sedang ramai mendirkan PKB (1998) mbah mun lebih memilih diam dan istiqomah di PPP, partai dengan gambar Ka’bah.

Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah kiyai dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Dan telah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.

PP Al-Anwar Sarang Rembang

PP Al-Anwar yang berada di kampung Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah didirikan oleh KH. Maimun Zubair pada tahun 1967. Pondok ini pada mulanya adalah sebuah kelompok pengajian yang dirintis oleh KH. Ahmad Syuaib dan KH. Zubair Dahlan. Kelompok pengajian tersebut pada awalnya dilaksanakan di mushalla. Pada perkembangan selanjutnya kedua perintis tersebut mendirikan tiga komplek bangunan, yaitu komplek A, B dan C.

Komplek B dikembangkan oleh KH. Abdul Rochim Ahmad menjadi PP Ma’hadul Ulumis Syar’iyah. Sedang komplek A dikembangkan menjadi PP Al-Anwar oleh KH. Maimun Zubair, putra KH. Zubair Dahlan. Latar belakang pendirian pondok di samping untuk melanjutkan kegiatan pengajian, juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar yang umumnya berpenghasilan rendah sebagai nelayan.

Perkembangan jumlah santri PP. Al-Anwar yang cukup pesat, menuntut adanya pembangunan di bidang fisik. Pada tahun 1971 musholla direnovasi dengan menambahkan bangunan diatasnya yang kemudian disebut dengan Khos Darussalam, juga dibangun sebuah kantor yang berada sebelah Selatan ndalem syaikhina. Seiring dengan bertambahnya santri maka pembangunan secara fisik pun terus dilakukan. Tercatat pada tahun 1973 dibangun Khos Darunna’im, tahun 1975 Khos Nurul Huda, tahun
1980 Khos AF, dan masih banyak lagi pembangunan fisik yang yang lain. terakhir dibangunnya gedung serbaguna PP. Al-Anwar berlantai lima pada tahun 2004 dan juga pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid PP. Al-Anwar yang setelah selesai pengerjaannya digunakan sebagai tempat pertemuan (Multaqo) alumni Sayyid Muhammad Alawy al Maliki Makkah al Mukarromah.

Pada tahun 1977, KH. Maimun Zubair mengembangkan pesantren dengan mendirikan PP putri Al-Anwar. berawal dari sebidang tanah yang dimiliki dan hasil pembelian tanah milik tetangga, beliau termotivasi akan kondisi masyarakat sekitar pada saat itu yang belum rutin mengerjakan sholat 5 waktu serta minimnya kemampuan mereka dalam membaca Al Qur’an. Sebagai langkah awal, lalu dibangunlah sebuah musholla di belakang rumah yang semula berdindingkan anyaman bambu.

Lambat laun masyarakat menunjukkan perubahan, mereka mulai suka pergi ke musholla untuk mengikuti segala kegiatan yang dilaksanakan disana, mulai dari sholat jama’ah hingga dzibaiyyah yang dilakukan setiap malam jum’ah, dan juga banyak dari anak-anak mereka yang akhirnya mulai menetap di musholla. Hingga sekarang (Tahun 2008) PP. Putri Al-Anwar mengalami perkembangan yang pesat dengan 500 santri yang menetap dan dengan fasilitas 29 kamar, perpustakaan, 6 auditorium.

Perkembangan pesantren yang diasuh tokoh yang sangat antipati terhadap penggunaan istilah kitab salaf dengan nama kitab kuning (karena dinilai merupakan suatu penghinaan terhadap kitab salaf) ini sangat signifikan. Pada tahun 2007 Jumlah santri Al-Anwar mencapai lebih dari 2000 Santri, yang berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, baik Jawa maupun luar jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, Lampung, bahkan Papua. Dan juga dari berbagai latar belakang pendidikan mulai dari SD/MI, SLTP, SLTP sampai Sarjana.

Pada tahun 1995 KH. M. Najih Maimoen, putra KH. Maimun Zubair yang juga alumni dari pesantren Abuya Sayyid Muhammad Alawy Makkah Al Mukarromah merintis pendirian khos Darussohihain di bawah pengawasan Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliky. Dan juga didirikan Khos yang khusus sebagai wadah bagi santri-santri putri yang berkeinginan untuk menghafal Al qur’an pada tahun 1996 di bawah asuhan Ibu Nyai Hj. Mutamimah Najih Maimoen.

Sistem Pendidikan

Sistim pendidikan yang diterapkan di pesantren Al-Anwar adalah sistim salafiyah di mana para santri diwajibkan mengikuti pengajian Masyayeh atau ustadz baik dengan pendekatan sistem bandongan (bersama-sama) maupun sorogan (individual). juga diharuskan bagi santri untuk mengikuti pendidikan Muhadloroh atau Madrasah Ghozaliyyah, sampai tingkat aliyah, dan melanjutkan pada PPTM (Ma’had ‘Aly) yang mana jenjang pendidikannya adalah dua tahun.

Kegiatan lain yang juga harus diikuti santri adalah Mudzakaroh meliputi mudzakaroh Fatchul Qorib, Fatchul Mu’in, Ibnu ‘Aqil, Aljauharul Maknun dll. Mudzakaroh merupakan suatu bentuk pembahasan secara mendalam pada kitab yang dikaji, juga penerapannya pada permasalahan-permasalahan yang ada. Dan juga masih banyak lagi kegiatan yang lain.

Pada perkembangannya PP. Al-Anwar terbagi menjadi dua Yaitu PP. Al-Anwar I yang dikhususkan bagi santri yang ingin mendalami ilmu-ilmu agama secara murni dan PP. Al-Anwar II sebagai wadah bagi santri-santri yang ingin mempelajari sains dan tehnologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama. Letaknya pun terpisah, PP. Al-Anwar I terletak di desa Karangmangu Sarang Rembang sedang PP. Al-Anwar II ini terletak di Dusun Kalipang Gondanrejo Sarang Rembang Kurang lebih 3 km dari desa Karangmangu ke arah barat.

Pada perkembangan selanjutnya, di bawah naungan LP Ma’arif NU, pada 15 september 2003 PP Al-Anwar juga mendirikan pendidikan formal, yakni MTs (Madrasah Tsanawiyah) Al-Anwar. Tujuan yang mendasar dari didirikannya MTs tersebut tidak hanya untuk mempelajari ilmu–ilmu umum saja, tapi juga ilmu agama dengan memasukkan pelajaran salaf guna memberikan bekal para muridnya untuk memperoleh keseimbangan antara Imtaq dan Iptek, sehingga pada akhirnya tujuan akhir kebahagian dunia akhirat dapat dicapai.

Tahun 2006 MTs Al-Anwar telah meluluskan sekitar 121 siswa. Dan saat ini MTs Al-Anwar memiliki siswa 247 orang dari kelas 1 sampai dengan kelas 3. Sampai saat ini MTs Al-Anwar terus berusaha untuk berbenah diri untuk selalu mensukseskan apa yang dikehendaki Syaikhina dengan selalu pro aktif dalam segala aspek demi tercapainya tujuan tersebut.

Tidak berhenti sampai disitu, pada 21 September 2006 Ponpes Al-Anwar juga membuka Madrasah Aliyah Al-Anwar yang pada tahun pertama, jumlah siswanya sebanyak 74 orang terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas putra 45 siswa dan 29 siswi.
Namun meskipun demikian, konsep Salaf yang diusung oleh Program pendidikan berbasis formal ini sangat kental dan memang menjadi satu harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Hal inilah yang membuat Al-Anwar berbeda dengan lembaga pendidikan formal Lainnya, yang memang menjadi agenda utama dari didirikannya MTs–MA Al-Anwar Sarang ini. Dan juga nantinya menurut rencana akan juga didirikan program pendidikan lanjutan setingkat perguruan tinggi.

Prasarana dan segala hal yang dibutuhkan untuk menunjang hal tersebut di atas kini terus diupayakan oleh pihak PP Al-Anwar, baik dalam bentuk bangunan fisik maupun non fisik. Dalam segi prasarana fisik kini masih taraf penyelesaian untuk pengadaan asrama putra dan putri yang nantinya diharapkan, semua siswa dan siswi yang ada bisa menempati asrama tersebut dengan tujuan lebih terawasinya para siswa tersebut selama 1x 24 jam.

Pengadaan asrama ini juga menitiktekankan pada efektifitas pendalaman ilmu–ilmu salaf, karena nantinya juga akan diasuh oleh para ustadz di bawah naungan pengasuh PP Al-Anwar Sarang. Diharapkan para siswa pada akhirnya betul-betul dapat terkondisikan dan selalu dalam pengawasan, dengan tujuan nantinya para siswa ini mampu terbiasa hidup disiplin, terampil, dan selalu menjadikan akhlaqul karimah sebagai nafas dalam kehidupannya.

Dalam segi non fisik juga terus diupayakan mengevaluasi sistem pembelajaran dan memberikan pengawasan ekstra ketat pada siswa. Berbagai langkah dalam menangani kendala-kendala yang ada. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa PP Al-Anwar tidaklah merubah karakter salafiyyah yang dimiliki tapi masih getol untuk mempertahankannya juga tidak menutup mata terhadap tuntutan zaman yang sarat dengan kemajuan dalam segala bidang utamanya dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan lainnya, namun dalam kaitan tersebut PP Al-Anwar tetap menjadikan pelajaran–pelajaran salaf sebagai pondasi sehingga merupakan menu wajib yang harus ada dalam semua tingkat pendidikan yang ada.




Sumber : arrahmah.co.id


Hikmah Rasa Syukur Seorang Narapidana

Hikmah Rasa Syukur Seorang Narapidana


"Bagaimana kabarmu di penjara?" Tanya seorang sufi lewat sebuah surat kepada sahabatnya.

Sahabatnya menjadi tahanan sebuah kerajaan lantaran suatu kesalahan. Para sipir sekali waktu datang bersama seorang Majusi lalu merantainya secara bergandengan dengan teman sufi itu. Apesnya, si Majusi sedang didera penyakit mules. Sehingga, tiap kali si Majusi hendak buang hajat, sahabat sufi tersebut terpaksa menemani di sebelahnya. Selalu. Bau busuk yang menusuk hidung dan gerak serbaterbatas akibat rantai besi itu tentu sangat mengganggu.

Sang sufi paham dengan keadaan sahabatnya ini dan karenanya ingin memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.

"Aku bersyukur kepada Allah," balas surat si narapidana kepada sang sufi.

"Sampai kapan kau bersyukur? Memangnya ada yang lebih buruk dari keadaanmu sekarang?"

"Seandainya ikat pinggang si Majusi digandengkan dengan perutku tentu keadaannya akan lebih parah. Saudaraku, sebetulnya aku berhak mendapatkan hukuman lebih dari ini."

Lanjut si narapidana, "Jika memang Tuhan mengampuniku melalui takdir semacam ini, bukankah syukur wajib kupanjatkan?"

Ia lalu menjelaskan tentang rasa takut terhadap pedihnya sanksi di neraka seandainya dirinya tak memperoleh ampunan. Demikian kisah yang tercatat dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Ada cara pandang unik yang dimiliki si narapidana. Ia menilai hukuman yang diterimanya saat itu selayak karunia kebaikan. Sebuah pola pikir yang hanya bisa diraih bila seseorang mempunyai pengertian lebih luas tentang anugerah dan musibah. Anugerah tak mesti sebuah kenikmatan, dan tak semua kesengsaraan bisa disebut musibah.

Orang dengan kacamata masa depan akan berpikir tentang pendidikan jiwanya dalam menyesali kesalahan, melapangkan hati menanggung risiko, dan membenahi diri, hingga tentang nasib kehidupan akhirat di masa mendatang. Dengan demikian, mengeluhkan atau menghindari tanggung jawab hukum, terlebih dengan membuat kesalahan baru (misalnya dengan menyuap penegak hukum), adalah sebuah kepicikan. (Mahbib) via nu online
Inilah Ulama-ulama yang Bermakam Lebih dari Satu

Inilah Ulama-ulama yang Bermakam Lebih dari Satu


Tim Ekspedisi Islam Nusantara selama perjalanan sebulan di pulau Jawa, menemukan makam ulama yang dipercayai penduduk memiliki memiliki makam lebih dari satu.

Makam Sunan Bonang misalnya, dipercayai ada di Lasem (Jawa Tengah) dan di Tuban (Jawa Timur). Tim ekspedisi mendatangi keduanya melakukan tahlilan di kedua tempat tersebut.

Di tuban, tim ekspedisi berziarah ke makam Sunan Geseng yang dipercayai sebagai salah satu murid Sunan Kalijaga. Ketika di Yogyakarta, tim ekspedisi menemui makam bernama Sunan Geseng juga. 

Begitu juga perjalanan di Sumatera. Tim Ekspedisi Islam Nusantara  menemukan makam Syekh Abdurrauf Singkil berada di Indragiri Hulu.

Menurut Saharan Sepur hal itu dikarenakan Syekh Abdurrauf Singkil pernah menjadi mufti Kerajaan Indragiri. Beberapa minggu sebelumnya, tim ekspedisi berziarah ke makam Syekh Abdurrauf Singkil di Banda Aceh yang letaknya di tepi Selat Malaka.

Ketika tim ekspedisi berada di Kampar, mendapatkan kabar ada makam Syekh Burhanuddin Kuntu. Tim pun menjelajah ke sana. Ketika sampai, ternyata yang dimaksud adalah Syekh Burhanuddin yang selama ini dikenal Syekh Burhanuddin Ulakan (Padang Pariaman, Sumatera Barat).

Rencananya lusa (Sabtu 14 Mei), tim ekspedisi akan berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Jadi apakah Syekh Burhanuddin Kuntu yang dimakamkan di Kuntu (Kampar) adalah Syekh Burhanuddin yang dimakamkan di Ulakan? (Abdullah Alawi) via nu online
Rahasia Allah mengirimkan Wali yang Nyeleneh

Rahasia Allah mengirimkan Wali yang Nyeleneh

Wartaislami.Com ~ Habib Ahmad bin Hasan al-Athas berkisah dalam sebuah kitab, bahwa semua habib terkemuka di Yaman saat ini pasti murid dari muridnya Habib Ahmad bin Hasan, termasuk Habib Umar bin Hafidz, Habib Abu Bakar al-Adni, Habib Salim asy-Syathiri.

Alkisah, ada seorang wali madjdzub (nyeleneh) yang mempunyai rental kendaraan (keledai) khusus perempuan. Anehnya setiap penumpang perempuannya sampai tujuan ia menciumnya. Konon semua perempuan yang pernah diciumnya kelak tidak pernah berzina seumur hidupnya.
Singkat cerita ada seorang ulama (baca; wali syariat) yang mengingkarinya. Ia menarik wali majdzub ke masjid, menghajarnya habis-habisan. Tiba-tiba ilmu wali syariat itu hilang. Keduanya lalu melapor pada Syaikh Ali al-Khawas. Syaikh Ali al-Khawas kemudian yang memintakan maaf pada wali majdzub, dan kembalilah ilmu sang wali syariat.

Jika Anda sangsi dengan kisah ini mari kita buka kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam al-Quran. Nabi Musa menghadapi kaum yang nakal, bayangkan saat Nabi Musa mandi pakaiannya mereka curi. Barangkali karena itu syariat Nabi Musa salah satu syariat paling tegas. Anda tahu hukuman penyembah patung sapi Musa Samiri? Dihukum dengan saling membunuh satu sama lain. Ketegasan hukum Nabi Musa bisa dijumpai dalam Perjanjian Lama: 10 perintah Tuhan (10 of God's Commandment).

Allah mempertemukan Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Selama kebersamaan keduanya, Nabi Khidir melanggar 3 dari 10 perintah Tuhan itu; membunuh anak kecil, merusak perahu dan meruntuhkan dinding milik orang lain (membangun dinding tanpa imbalan padahal sangat butuh, red.). Melalui Khidir Allah memperlihatkan pada Nabi Musa bahwa ada dimensi lain dalam syariatNya selain hukum.

Mahaguru al-Habib M. Luthfi bin Yahya mengatakan, bahwa wali majdzub, Nabi Khidir, -selanjutnya kita mungkin bisa menyebut Gus Mik dll. yang ada dalam setiap generasi- untuk menjaga keseimbangan agar syariat tidak berubah menjadi hukum yang rigid dan mengekang. Ketika Islam diaplikasi hanya sebagai fikih, maka Allah mengutus wali-waliNya yang kadang nyeleneh untuk menjaga keseimbangan antara Islam dan Ihsan.

Saat ini makin banyak orang yang berambisi memformalkan syariat, bahkan atas nama amar ma'ruf nahi munkar, menjadi hakim antara satu dan lainnya di masyarakat. Mereka mendistorsi banyak unsur dari Islam, menafikan bahkan mengingkari, seolah-olah Islam (al-Quran dan as-Sunnah) melulu soal jilbab, jenggot, celana dengan segala rigiditas yang miskin dan kering pengalaman spiritual. (Oleh: Ust. Ahmad Tsauri via fanspage IlmuTasawuf.com) via muslimoderat
Inilah Kesan Wartawan Non-Muslim Asal Malaysia tentang NU

Inilah Kesan Wartawan Non-Muslim Asal Malaysia tentang NU

Di sela-sela perhelatan International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil), Amy Chew wartawan asal Malaysia, menceritakan kesan dan pengalamannya kepada NU Online, tentang kehidupan umat Islam, khususnya NU, di Indonesia.

“Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 1998. Saya sampai ke Jakarta 6 minggu sebelum Pak Harto (Presiden Soeharto) lengser. Jadi saya waktu itu banyak meliput aksi demonstrasi setiap harinya,” papar Amy memulai ceritanya, Selasa (10/5), di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Amy yang saat itu menjadi wartawan Reuters meneruskan, suatu hari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menggelar istighotsah di Istora Senayan. Teman-teman Amy memintanya agar berangkat pagi-pagi, karena massa Gus Dur sangat besar.

Amy sampai di lokasi 45 menit sebelum acara. Waktu itu Istora Gelora Bung Karno (dulu bernama Istora Senayan) sudah dipadati warga, keadaan pun susah untuk dilewati.

“Saya sampai mencopot sandal ketika jalan,” tutur perempuan ini dengan wajah berbinar-binar mengingat semua pengalamannya.

Amy sebenarnya belum tahu sosok Gus Dur seperti apa dan belum mengenal secara dekat. Informasi tentang Gus Dur Amy dapatkan  dari membaca surat kabar.

Amy melihat sajadah-sajadah  peserta istighotsah sudah terhampar di tanah. Orang-orang itu sangat ramah dan menerima Amy dengan mengatakan, “Silakan silakan.”

Keramahan itu membuat Amy sangat tersentuh. Sampai ketika akhirnya Amy bertemu Gus Dur di atas panggung, Amy sungguh terharu.

Menurut Amy, bagaimana sosok pemimpin bisa dinilai dari warganya. Amy mendapati warga NU sangat ramah dan sangat inklusif. Mulai dari situ Amy, tahu. “Oh, ini yang namanya Gus Dur.”

Amy tinggal di Indonesia selama 12,5 tahun. Ia sering meliput acara Gus Dur, dan mendengar pidato Gus Dur. Dari situ ia semakin mengenal Gus Dur dan NU.  Menurutnya, cara NU dalam beragama sungguh indah.

“Buat saya walau saya nonmuslim, cara NU beragama mencerminkan asas nilai-nilai agama Islam yang ramah dan inklusif, penuh kepedulian terhadap orang lain,  bersikap baik walaupun kepada warga nonmuslim,” kata Amy.

Gus Dur turun langsung ke lapangan atau mengerahkan Banser untuk membantu warga nonmuslim dalam kesusahan atau dalam keadaan terancam, misalnya setelah aksi pengeboman gereja pada Natal tahun 2000.

“Saya masih ingat Gus Dur mengerahkan Banser untuk mengamankan gereja. Saya rasa sampai hari ini pun NU seperti itu, semua orang bisa berpartisipasi dan kehidupan beragama dan kehidupan Islam menjunjung tinggi  nilai kekeluargaan, kemasyarakatan, dan persahabatan. Ini bukan hal yang saya baca, tapi sesuatu yang saya alami sendiri.”

Itu sebabnya jika  ada orang bertanya tentang NU, Amy menjawab bahwa NU bukan untuk dipelajari, tapi untuk dialami.

Ketika ditanya kesannya sebagai warga Malaysia bila NU hadir di sana, misalnya melalui Muslimat NU seperti yang sudah berjalan beberapa waktu, Amy merasa sangat senang mendengarnya.

“Saya menyambut kehadiran NU dengan baik karena NU membantu memperkaya Islam, Islam  Nusantara yang amat ramah dan inklusif mencakup nilai-nilai yang ada di Nusantara. Saya menyambut kehadiran NU di  Malaysia,” paparnya. (Kendi Setiawan/Mahbib) via nu online
Ulama' Ndeso Dari Denanyar Tapi Pemikirannya Mendunia

Ulama' Ndeso Dari Denanyar Tapi Pemikirannya Mendunia


Wartaislami.com ~ Nahdlatul Ulama' (Nahdlatul Oelama') atau sering disingkat NU, NO kala saya kecil mendengar dari orang-orang yang menyebutnya. Saya kecil, apa itu NU tak paham yang pasti seperti sesuatu yang luar biasa. Kalender-kalender berwarna hijau dengan logonya yang khas membuat saya kecil akrab sampai saat ini. Sampai dewasa, ternyata NU memang sesuatu yang luar biasa. Sebuah Organisasi Islam yang didirikan dengan tujuan menjaga dan terus mengamalkan amalan Nabi Muhammad SAW (Nabi dan Rosul /  Rasul yang diyakini umat Islam sebagai nabi dan rasul / rosul terakhir setelah nabi Isa AS) dan ajaran para Khulafaur Rosyidin / Rasyidin (Abu Bakar As Shidhiq, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thollib) atau sering disebut Ahlussunnah wal Jama'ah atau disingkat Aswaja.

Istilah Aswaja atau Ahlussunnah wal Jama'ah ini saya pelajari lebih dalam justru menginjak sekolah Madrasah Aliyah, Sekolah di bawah naungan Kementerian Agama, Madrasah Aliyah Negeri Denanyar tepatnya. Lebih jauh mempelajari apa itu Ahlussunnah wal Jama'ah membuat saya semakin kagum dengan Madrasah dan Yayasan Pondok yang saya sekolahi. Terletak di Desa Denanyar Jombang, sebuah desa kurang lebih 3 - 4 kilometer ke barat dari jantung kota Jombang tepatnya Ringin Contong Jombang.

Pondok pesantren Mamba'ul Ma'arif adalah nama pondok tersebut, didirikan oleh seorang Kyai Kharismatik kelahiran Jawa Tengah, Kyai Bisri Syansuri Denanyar Jombang yang juga termasuk kakek dari Presiden Indonesia ke 4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yaitu kakek dari ibu. Beliau salah satu pendiri Organisasi terbesar di Indonesia bahkan di dunia bersama Kyai Hasyim Asy'ari Tebu Ireng dan Kyai Wahab Hasbullah Tambak Beras.

Beberapa waktu lalu, istilah Islam Nusantara sempat menggetarkan jagad nusantara bahkan dunia. Pro dan Kontra saling datang menjelang Muktamar NU di Jombang pada Agustus 2015 silam, sampai saat ini. Satu hal yang mencengangkan dunia, istilah ini sampai dibahas di organisasi dunia yang berpusat di Amerika Serikat, PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) atau dalam istilah internasionalnya sering disebut UNO (United Nations Organization).

Islam Nusantara, intinya merupakan Islam yang berada di bumi Indonesia sejak ratusan tahun lamanya. Manakala di tanah Arab, tanah di mana Islam lahir, dengan ras satu (Arab) justru banyak terjadi konflik dan gencatan senjata, ramai perang dan hidup serba ketakutan. Tapi berbeda di Indonesia, ribuan suku, ras bahkan agama lain juga ada di negeri ini justru saling hidup rukun dan aman tentram. Satu catatan merah yang membuat dunia Barat melirik negeri ini, ribuan suku tapi tetap bersatu padu, gotong royong bahkan rakyatnya yang sangat ramah, berbeda sekali dengan pemberitaan-pemberitaan buruk yang selama ini terjadi dan didengar dunia Barat bahwa Islam itu keras apalagi radikal.

Mayoritas Islam di Indonesia merupakan penganut madzab Imam Syafi'i dalam berfiqih, Imam Ghozali dalam bertasawuf, dan Imam-Imam lain seperti Al Asy'ari Al Maturidiyyah yang semuanya itu merupakan Islam dalam balutan Ahlussunnah wal Jama'ah, yang tentunya NU (Nahdlatul Ulama' | Nahdlatul Oelama') adalah penjaga setia amalan-amalannya.

Seandainya dulu NU tidak didirikan, mungkin saat ini masyarakat sulit dalam bersatu meski inti ajaran mereka sama, dan syukur Alhamdulillah kita memiliki tokoh-tokoh yaitu Kyai yang hebat yang kuat dalam perjuangannya mendirikan NU.



    sumber mediashareaswaja.blogspot.co.id



Sufi Moderat dari Masa ke Masa, Syekh Ibnu Atha’illah Assakandari

Sufi Moderat dari Masa ke Masa, Syekh Ibnu Atha’illah Assakandari


Wartaislami.Com ~ Nama lengkapnya adalah Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu.

Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili.

Ibnu Atha’illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab Al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibnu Ibad Ar-Rasyid-Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibnu Ajiba.
Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.
Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara Ibnu Atha’illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at.
Ibnu Atha’illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

Ia dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah pendirinya Abu Al-Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abu Al-Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha’illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara.
Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarikat saja. Buku-buku Ibnu Atha’illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab Al-Hikam.
Kitab Al-Hikam ini merupakan karya utama Ibnu Atha’illah, yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara.

Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.
Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.

Adapun pemikiran-pemikiran tarikat tersebut adalah: Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan, dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi.

“Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya,” kata Ibnu Atha’illah.
Kedua, tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), serta pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat.
Ketiga, zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain daripada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. “Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahwu) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi,” ujarnya.
Keempat, tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang salik, kata Atha’illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta.

Kelima, berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik.
Keenam, tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Syekh Atha’illah, tasawuf memiliki empat aspek penting yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh.
Ketujuh, dalam kaitannya dengan ma’rifat Al-Syadzili, ia berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan; mawahib, yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut; dan makasib, yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, dzikir, wudhu, puasa ,sahalat sunnah dan amal shalih lainnya. [] Republika

close
Banner iklan disini