Ini Hukum Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang

Ini Hukum Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang


Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa zakat fitrah tidak boleh diberikan kepada penerima zakat (mustahiq) dalam bentuk uang. Meskipun seperti itu, praktiknya di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang kurang memahami kesepakatan ulama ini.

Menyikapi fenomena itu, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan Jawa Tengah, memberikan penjelasan terkait zakat dengan menggunakan uang atau melalui uang. Terma melalui uang artinya alat tukar tersebut hanya sebagai perantara sehingga penyaluran zakat tetap dalam bentuk makanan pokok.

Di sini panitia menjelaskan bahwa konsep-konsep tersebut sesuai dengan ketentuan syariat, tapi masyarakat tetap dimudahkan yaitu bisa berangkat dari rumah dengan membawa uang menuju stand/pos zakat setempat.

Pertama, panitia zakat menyuplai beras dengan membeli atau bermitra kepada salah satu toko penyedia beras di mana setiap muzakki yang datang membawa uang akan dilayani jual beli murni dengan beras yang disediakan oleh panitia terlebih dahulu. Setelah muzakki menerima beras, transaksi penerimaan zakat baru kemudian dijalankan sebagaimana biasanya.

Sementara ini, ada beberapa tempat yang sudah menjalankan sistem jual beli mirip seperti di atas, namun kesalahannya terletak pada beras yang dibuat transaksi jual beli bukan beras murni persediaan panitia, tapi beras yang telah diterima panitia dari hasil zakat beras orang lain yang terlebih dahulu datang kemudian beras zakat itu dijual kembali kepada muzakki lain yang datang kemudian. Menjual beras zakat seperti ini tidak diperbolehkan.

Kedua, panitia yang tidak resmi mendapat SK dari pemerintah tidak dinamakan sebagai amil, mereka hanya berlaku sebagai relawan saja. Artinya semua operasional tidak boleh dibebankan/diambilkan dari zakat. Panitia seperti ini bisa mengambil untung dari hasil jual beli beras yang memang murni untung jual beli untuk kepentingan operasional.

Contoh, panitia mengumumkan, masyarakat yang ingin menyalurkan zakat melalui panitia dengan membawa beras silahkan datang dengan membawa beras 2,5 kg (ada pendapat yang 2,7 kg, silakan memilih). Bagi yang ingin membawa uang, besar nominalnya adalah Rp. 25.000,-

Jika sekarang beras standar diasumsikan dengan besaran harga Rp. 8.400,-/kg, maka setiap kali ada muzakki yang datang membawa uang, panitia akan untung Rp. 4.000,-/muzakki. Dengan 4 ribu inilah roda operasional panitia berjalan tanpa mengganggu harta zakat sama sekali. Jika ada 100 orang saja yang datang membawa uang, maka uang Rp. 400.000 sudah cukup untuk operasional panitia yang meliputi pembelian kantong plastik, konsumsi, transport dan lain sebagainya.

Ketiga, karena ini menyangkut jual beli murni, jual beli tidak diperkenankan digelar di masjid. Panitia harus mendirikan stand tersendiri di bagian yang terpisah dari masjid atau diselenggarakan di ruang serbaguna, madrasah, pesantren atau rumah warga.

Keempat, secara umum Syafi’iyyah memandang bahwa kiai atau ustadz bukan bagian dari sabilillah, mustahiq zakat. Mereka tidak berhak menerima zakat kecuali jika kebetulan mereka termasuk golongan/ashnaf lain selain sabilillah. Seperti kebetulan mereka fakir atau miskin, maka mereka berhak menerima zakat atas nama dia sebagai fakir miskin bukan kapasitasnya sebagai kiai atau ustadz. Hanya ada satu pendapat lemah dari kutipan Imam Qaffal yang mengatakan guru mengaji dan sejenisnya termasuk sabilillah yang berhak menerima zakat.

Dengan solusi alternatif demikian, harapannya, masing-masing antara masyarakat dan panitia saling dimudahkan dengan tetap konsisten mengikuti pendapat Syafi’iyyah.

Referensi:

Zakat harus dengan makanan pokok
كاشفة السجا لنووي الجاوي - (ج 1 / ص 270)
وواجب الفطرة لكل واحد صاع من غالب قوت بلد المؤدى عنه وإن كان المؤدي بغيرها من جنس واحد

Zakat fitrah tidak boleh dijual-belikan
المجموع الجزء السادس ص : 175
( فرع ) قال أصحابنا لا يجوز للإمام ولا للساعى بيع شىء من مال الزكاة من غير ضرورة بل يوصلها إلى المستحقين بأعيانها لأن أهل الزكاة أهل رشد لا ولاية عليهم فلم يجز بيع مالهم بغير إذنهم فإن وقعت ضرورة بأن وقف عليه بعض الماشية أو خاف هلاكه أو كان فى الطريق خطر أو احتاج إلى رد جبران أو إلى مؤنة النقل أو قبض بعض شاة وما أشبهه جاز البيع للضرورة كما سبق فى آخر باب صدقة الغنم إنه يجوز دفع القيمة فى مواضع للضرورة قال أصحابنا ولو وجبت ناقة أو بقرة أو شاة واحدة فليس للمالك بيعها وتفرقة ثمنها على الأصناف بلا خلاف بل يجمعهم ويدفعها إليهم وكذا حكم الإمام عند الجمهور وخالفهم البغوى فقال إن رأى الإمام ذلك فعله وأن رأى البيع وتفرقة الثمن فعله والمذهب الأول قال أصحابنا وإذا باع فى الموضع الذى لا يجوز فيه البيع فالبيع باطل ويسترد المبيع فإن تلف ضمنه والله أعلم .
روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 337)
 الثَّالِثَةُ: لَا يَجُوزُ لِلْإِمَامِ وَلَا لِلسَّاعِي أَنْ يَبِيعَ شَيْئًا مِنَ الزَّكَاةِ، بَلْ يُوَصِّلُهَا بِحَالِهَا إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ، إِلَّا إِذَا وَقَعَتْ ضَرُورَةٌ، بِأَنْ أَشْرَفَتْ بَعْضُ الْمَاشِيَةِ عَلَى الْهَلَاكِ أَوْ كَانَ فِي الطَّرِيقِ خَطَرٌ، أَوِ احْتَاجَ إِلَى رَدِّ جِيرَانٍ، أَوْ إِلَى مُؤْنَةِ نَقْلٍ، فَحِينَئِذٍ يَبِيعُ.

Jual-beli tidak diperbolehkan di masjid
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الشراء والبيع في المسجد، وأن تنشد فيه الأشعار» (رواه الترمذي وأبو داود وغيرهما)

Syafiiyyah sepakat zakat tidak boleh menggunakan uang
المجموع شرح المهذب - (ج 5 / ص 428)
{ الشرح } اتفقت نصوص الشافعي رضى الله عنه انه لا يجوز اخراج القيمة في الزكاة وبه كذا في الاصل والصواب عليهن قطع المصنف وجماهير الاصحاب وفيه وجه ان القيمة تجزئ حكاه وهو شاذ باطل ودليل المذهب ما ذكره المصنف (وأما) إذا اخرج سنا اعلي من الواجب كبنت لبون عن بنت مخاض ونظائره فتجزئه بلا خلاف لحديث ابى السابق ولما ذكره المصنف (وأما) إذا اخرج تبيعين عن مسنة فقد قطع المصنف بجوازه وهو المذهب وبه قطع الجماهير وفيه وجه سبق في باب زكاة البقر والله تعالي اعلم

Titik khilafiyah zakat dengan uang antara Syafiiyah dengan Hanafiyyah
المبسوط - (ج 4 / ص 141)
( قَالَ ) : فَإِنْ أَعْطَى قِيمَةَ الْحِنْطَةِ جَازَ عِنْدَنَا ؛ لِأَنَّ الْمُعْتَبَرَ حُصُولُ الْغِنَى وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِالْقِيمَةِ كَمَا يَحْصُلُ بِالْحِنْطَةِ ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يَجُوزُ ، وَأَصْلُ الْخِلَافِ فِي الزَّكَاةِ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ الْأَعْمَشُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ : أَدَاءُ الْحِنْطَةِ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءِ الْقِيمَةِ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى امْتِثَالِ الْأَمْرِ وَأَبْعَدُ عَنْ اخْتِلَافِ الْعُلَمَاءِ فَكَانَ الِاحْتِيَاطُ فِيهِ ، وَكَانَ الْفَقِيهُ أَبُو جَعْفَرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ : أَدَاءُ الْقِيمَةِ أَفْضَلُ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى مَنْفَعَةِ الْفَقِيرِ فَإِنَّهُ يَشْتَرِي بِهِ لِلْحَالِ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ ، وَالتَّنْصِيصُ عَلَى الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ كَانَ ؛ لِأَنَّ الْبِيَاعَاتِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ بِالْمَدِينَةِ يَكُونُ بِهَا فَأَمَّا فِي دِيَارِنَا الْبِيَاعَاتُ تُجْرَى بِالنُّقُودِ ، وَهِيَ أَعَزُّ الْأَمْوَالِ فَالْأَدَاءُ مِنْهَا أَفْضَلُ .

Kutipan Al Qaffal yang memperbolehkan zakat diberikan kepada kiai, ustadz
تفسير المنير الجزء الأول ص 244
ونقل القفال عن بعض الفقهاء فهم أجازوا صرف الصدقات الى جميع الوجوه الحير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعماره المسجد للأن قوله في سبيل الله عام في الكل.

(Ahmad Mundzir) via nu online
Menjelang Dini Hari, Gus Mus Terbitkan Puisi Mistisisme

Menjelang Dini Hari, Gus Mus Terbitkan Puisi Mistisisme


KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus kembali melucurkan sebuah puisi melalui akun facebook pribadinya Ahmad Mustofa Bisri. Puisi berjudul Aku Melihatmu itu diunggah pada Selasa (28/6) sekitar pukul 23.46 Wib. Dalam kurun tiga jam, lebih dari 2.500 netizen menyukainya, dan telah dibagikan sebanyak 315.

Berikut ini puisi karya pengasuh Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, Jawa Tengah.


AKU MELIHATMU

aku melihatmu
tersenyum bersama embun pagi
aku melihatmu
bernyanyi bersama burung-burung
aku melihatmu
bergerak bersama mentari bersama angin dan mega-mega
aku melihatmu
terbang bersama sekumpulan burung gereja
aku melihatmu
berenang bersama ikan-ikan dan lumba-lumba

aku melihatmu
meratap bersama mereka yang kelaparan
aku melihatmu
merintih bersama mereka yang kehausan
aku melihatmu
mengaduh bersama mereka yang kesakitan

aku melihatmu
berdendang bersama ibu yang meninabobokkan anaknya
aku melihatmu
melangkah bersama hamba yang berjuang menggapai citanya

aku melihatmu dalam gelap
aku melihatmu dalam terang
aku melihatmu dalam ramai
aku melihatmu dalam senyap
aku melihatmu
kau melihatku.

Ramadan 1437

(Zunus Muhammad) via nu online

Tarawih Sehat

Tarawih Sehat


Usai shalat Tarawih, sebagian jamaah duduk-duduk melepas penat di teras mushala. Dengan santai, mereka ngobrol banyak hal, termasuk mengomentari imam yang memimpin Tarawih super kilat.

"Tarawihnya cepet ya Kang, 15 menit rampung," kata Marno membuka pembicaraan.

"Iya, saya malah seneng cepet kok, Lek Marno,"jawab Udin yang berbadan tambun.

"Kok bisa padahal tubuhmu gemuk, apa gak berat?"ujar marno lagi.

"Bukan Lek, bagiku Tarawih cepet seperti olahraga sangat menyehatkan," sahut Udin.

"Kok bisa, Kang?” tanya Marno.

"Saya tiap malam usai Tarawih selalu berkeringat. Berat badanku juga turun, dan tubuhku sedikit sudah 'ngotak', tambunnya berkurang. Hehe," jawab Udin.

"Oo begitu, syukurlah kang. Berarti sampeyan dapat berkahnya tarawih. Sudah dapat pahala, bisa menurunkan berat badan pula," kata Marno yang dijawab Udin, “Alhamdulillah”. (Qomarul Adib) via nu online
8 Hadiah Allah untuk Orang-Orang yang Sabar

8 Hadiah Allah untuk Orang-Orang yang Sabar


Wartaislami.com ~ Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa Allah swt memberikan 8 macam pahala dan kemuliaan bagi orang-orang yang sabar. Apa saja 8 hal tersebut?

1.) Kecintaan dari Allah.

وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah Mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Ali Imran:146)



2.) Pertolongan dari Allah.

إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al-Baqarah:153)



3.) Kamar-kamar di surga.

أُوْلَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka.” (QS.al-Furqan:35)



4.) Pahala yang tak terbatas.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS.az-Zumar:10)



5.) Kabar gembira dari Allah.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.al-Baqarah:157)



6 dan 7.) Salawat dan rahmat dari Allah.

أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan-nya.” (QS.al-Baqarah:157)



8.) Petunjuk dari Allah.

وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al-Baqarah:157)

Sungguh besar pahala dan kemuliaan yang dimiliki orang-orang yang sabar. Mari kita melatih diri untuk bersabar dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Karena dunia ini adalah tempatnya ujian, sementara akhirat adalah tempat menuai segala amal perbuatan.

Source: www.khazanahalquran.com
Ini Yang Lebih Dikhawatirkan Nabi Daripada Syirik

Ini Yang Lebih Dikhawatirkan Nabi Daripada Syirik


Oleh Sumanto Al-Qurtuby

Wartaislami.Com ~ Tiba-tiba saya teringat dua buah Hadis Nabi Muhammad yang sayup-sayup mulai tak terdengar lagi lantaran tertutup oleh ulah (sejumlah) umat Islam yang hiruk-pikuk mengurusi "agama simbol" atau "agama gincu".

Hadis ini juga "nyaris lenyap" karena terhalangi oleh tingkah-polah sebagian kelompok Islam yang begitu heroik dan gegap-gempita menyerbu obyek-obyek mati yang dianggap sebagai "sumber syirik" (penyekutuan Tuhan) yang bisa mengotori kesucian serta menodai kemurnian dan keesaan Tuhan.

Oleh sejumlah kelompok Islam puritan-reformis ekstrim yang "kami tauhiden" (ketauhid-tauhidan atau "ketuhan-tuhanan"), obyek-obyek seperti kuburan, patung (patung orang atau binatang), batu nisan, dunia klenik, obyek-obyek yang dikeramatkan orang (seperti pohon, sungai, keris, binatang, gunung, batu, dlsb), atau bahkan gambar / foto / lukisan orang dan binatang itu semua bisa menyebabkan orang tersungkur ke dalam kekafiran dan kemusyrikan, dan karenanya wajib hukumnya untuk dimusnahkan dari muka bumi.

Karena itu, Anda jangan kaget kalau mereka di sejumlah tempat begitu bersemangat untuk merusak patung-patung (tentu saja tidak semua patung mereka obrak-abrik: misalnya patung polisi atau patung-patung di markas TNI ya mereka nggak berani he he).

Gambar-gambar atau foto orang atau binatang juga mereka musnahkan (tentu saja tidak semuanya: duit apa saja termasuk "duit Arab" yang ada foto dan gambarnya ya tetap saja mereka simpan he he). Bagi mereka, tidak ada "duit sekuler" atau "uang liberal". Semua uang bagi mereka adalah "religius" jadi tidak perlu dibakar dan dilenyapkan he he.

Eh sampai lupa belum menyebutkan bunyi Hadisnya. Hadisnya (yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim) kira-kira begini bunyinya: "Dan sesungguhnya demi Allah, saya tidak khawatir kalian akan berbuat syirik sepeninggalku. Akan tetapi saya justru takut kalian akan berebut dunia."

Dalam Hadis lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya, saya tidak takut kalian berbuat syirik. Yang saya khawatirkan atas kalian adalah dunia. Kalian akan saling berlomba-lomba di dunia, dan saling bunuh. Maka kalian akan hancur sebagaimana hancurnya umat sebelum kalian."

Saya kira dua Hadis ini adalah "tamparan telak" buat sejumlah kaum Muslim yang begitu bergemuruh memburu obyek-obyek yang dianggap atau dituduh sebagai "biang kerok" syirik tetapi pada saat yang bersamaan, mereka justru tanpa sadar telah melakukan atau mempraktikkan tindakan syirik itu sendiri, yaitu "memberhalakan dunia".

Mereka benci setengah mati dengan kuburan tetapi cinta setengah mati dengan mall, hotel, supermarket, dlsb. Mereka hancurkan obyek-obyek spiritual yang dikeramatkan oleh umat tetapi pada saat yang sama mengeramatkan obyek-obyek modern. Mereka takut dengan "dunia klenik tradisional" tetapi mereka gandrung dengan "dunia klenik modern": teknologi.

Mereka mengaku anti-syirik dan pantang "menyekutukan Tuhan" tetapi mereka telah menuhankan obyek-obyek lain: pemimpin, raja, sultan, klerik, jabatan, kekuasaan, uang, harta, kekayaan, dlsb. Inilah yang saya maksud sebagai "syirik modern" sebagai lawan dari "syirik tradisional". "Cinta dunia" adalah "syirik modern".

Saya memandang "gerakan anti-syirik" (baca "syirik tradisional") yang dipropagandakan sejumlah kelompok Islam ekstrim-konservatif itu sebagai tindakan lebay, "genit", dan hipokrit untuk menutupi borok-borok mereka yang "gandrung" dengan duniawi. Betul kata Nabi di atas bahwa beliau tidak khawatir dengan perbuatan syirik, bahkan Tuhan pun tidak peduli orang mau berbuat syirik kek, kapir kek, karena memang Tuhan tidak butuh disembah dan tidak butuh sesembahan. Karena itu, jangan dikit-dikit bilang syirik, salah-salah kita sendiri yang justru terjerumus ke dalam kesyirikan.

Source: KBAswaja




Subhanallah, Inilah Kisah Rasulullah Melihat Keindahan Malam Lailatul Qadar

Subhanallah, Inilah Kisah Rasulullah Melihat Keindahan Malam Lailatul Qadar


Umat Islam meyakini bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Malam ganjil yang diyakini datang di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini merupakan waktu yang diharapkan oleh seluruh umat Islam. Karena apabila kita melakukan amal kebaikan pada malam itu, seolah-olah kita telah melakukan ibadah yang nilainya setara dengan 1.000 bulan atau 83 tahun.

Keinginan untuk mendapatkan hikmah dan berkah Lailatul Qadar ini bukanlah sesuatu yang tidak beralasan. Rasulullah Saw sendiri menyeru kepada umatnya untuk menyongsong malam seribu bulan ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Malam yang istimewa itu masih merupakan tanda tanya, dan tidak diketahui secara pasti kapan datangnya. Namun, menjelang akhir Ramadhan, Rasulullah SAW biasanya lebih fokus beribadah, terutama sepuluh malam terakhir. Hal ini sebagaimana yang disebutkan ‘Aisyah:

“Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan memilih fokus beribadah, mengisi malamnya dengan dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah,” (HR Al-Bukhari).

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah Saw sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.

Ketika Rasulullah berdiri shalat, para sahabat juga menuanaikan shalat. Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya.

Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan.

Disaat Rasulullah Saw dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah Saw dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak.

Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah Saw dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi.

Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah Saw mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika.

Anas bin Malik, sahabat Rasulullah Saw bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya”.

Apa yang dilakukan Rasulullah Saw ini menunjukkan betapa banyak hikmah dan rahasia di balik malam seribu bulan. Semoga malam yang tersisa di bulan Ramadhan ini mampu kita manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. (Zunus Muhammad) via nu online
Inilah Cara Rasulullah SAW Temukan Lailatul Qadar

Inilah Cara Rasulullah SAW Temukan Lailatul Qadar


Sudah hampir separuh ibadah puasa kita lalui. Itu artinya sebentar lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita. Belum tentu di tahun berikutnya, kita mendapati kesempatan yang sama, yaitu mengerjakan puasa di siang hari dan diberi kesehatan untuk menyemarakkan malamnya dengan beribadah. Karenanya, gunakanlah sisa waktu Ramadhan ini dengan sebaik mungkin. Perbanyaklah ibadah dan amal saleh.

Menjelang akhir Ramadhan, Rasulullah SAW biasanya lebih fokus beribadah, terutama sepuluh malam terakhir. Hal ini sebagaimana yang disebutkan ‘Aisyah,

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Artinya, “Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan memilih fokus beribadah, mengisi malamnya dengan dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah,” (HR Al-Bukhari).

Berdasarkan hadits ini, dapat disimpulkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang terbaik untuk beribadah. Sebagian ulama mengatakan, Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhannya beribadah pada sepuluh malam terakhir dibandingkan malam sebelumnya.

Menurut Ibnu Bathal, hadits ini menginformasikan kepada kita bahwa malam lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terkahir Ramadhan. Karenanya, Rasulullah SAW lebih fokus beribadah pada malam tersebut dan menganjurkan umatnya untuk melanggengkan ibadah di malam sepuluh terakhir.

Karena kita tidak tahu secara pasti kapan terjadinya malam lailatul qadar, usahakan setiap malam di sepuluh terakhir diisi dengan memperbanyak ibadah. Usahakan tidak ada satu malam pun yang tidak dihiasi dengan ibadah, supaya malam lailatul qadar tidak terlewatkan. Semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu dengan malam terbaik itu. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah) via nu online

Akibat Salah bangku Pesawat

Akibat Salah bangku Pesawat


Pesawat Solo ke Jakarta bersiap akan take-off dengan membawa penumpang arus balik, tapi tertunda gara-gara Udin yang baru pertama kali naik pesawat dengan tiket ekonomi, tapi ngotot ingin duduk di kelas bisnis.
Agus yang pemilik kursi bisinis meminta kepada Udin: “Maaf pak… Ini kursi saya.”
“Panjenengan siapa…?” Tanya balik Udin
Agus: “Saya penumpang yang duduk di sini Pak!”
 “Penumpang..? Saya juga, sama-sama bayar..! Sama-sama penumpang, kenapa kau mau ngatur-ngatur saya?” ujar Udin dengan mengelak
Tak mau ribut, lalu Agus lapor ke pramugari.
Pramugari : “Maaf Pak Udin..dari tiket bapak mesti nya Bapak duduk di belakang.”
“Anda siapa?” Tanya balik Udin
Pramugari : “Saya pramugari..”
 “Pramugari itu apa?” Tanya lagi Udin
Pramugari : “Pramugari itu yang melayani penumpang.”
“Walah Jebule… pelayan toh!!! Saya kira siapa tadi, udah lah kau urus aja kerjaanmu saja, nggak usah ngatur-ngatur saya. Pokoknya saya tetap duduk di sini. Anda mau apa…??!!”
Tiga menit kemudian, Udin tiba-tiba bangkit sambil ngomel-ngomel, Udin pun pindah ke belakang. Agus merasa takjub, dia lalu bertanya kepada Pramugari.
 “Apa sih yang mbak bicarakan, kok tiba-tiba dia bisa pindah kursi?” Tanya Agus
 “Aku bilang “Bapak Udin mau kemana?”
Udin jawab “ke Jakarta”, terus Aku (pramugari) bilang “Bapak, duduknya salah, kalau ke Jakarta, duduknya di belakang, yang di depan ini turunnya di Medan!!!”


Sumber : nu online
KH Masduqie Mahfudz: Berkat Shalawat, Semua Permintaan Dituruti

KH Masduqie Mahfudz: Berkat Shalawat, Semua Permintaan Dituruti


Wartaislami.Com ~ KH. Achmad Masduqie Mahfudz mempunyai pengalaman bagus dari tentang shalawat Nabi. terjadi pada tahun 1956, ketika masih menjadi murid SLTA di Jogjakarta. Suatu ketika, beliau habis berkelahi dengan jin di sebuah masjid di Gandean, namun kalah. Karena kalah, selama tiga hari rasanya tetap ingin makan, tapi tidak bisa buang air.

Di hari ke empat, tubuh beliau sudah panas sekali. Di hari ke empat itu, beliau juga sempat pesan ke adiknya bahwa nanti kalau mati jangan dibawa pulang ke Jepara, dikubur di Jogja saja. Beliau berpesan begitu, karena beliau datang ke Jogja itu niatnya mondok. Kalau nanti wafat di Jogja dan dibawa pulang ke Jepara dan dikubur di Jepara, maka nanti hilang syahid-nya.

Ketika itu, adik beliau berkata, "mari kita pergi ke kyai itu, kyai yang mas biasa ngaji di hari ahad”
Lalu beliau menerima ajakan adiknya. Pergilah beliau bersama adiknya dengan naik becak dan sampai di rumah pak kyai sudah jam satu malam. Pintu rumah kyai masih terbuka. Tapi jam segitu pak kyai sudah tidak bisa melayani tamu, karena kebisaan kyai ketika sudah lewat jam 10 malam, kyai sudah khusus ibadah kepada Allah saja.

Masduqie muda-pun tertidur di rumah kyai itu. Baru saja jam 3 malam, beliau terbangun terasa mau buang air di rumah pak kyai itu. Setelah itu, puaslah beliau karena sudah bisa buang air.

Pagi hari, jam tujuh, beliau bisa ketemu dengan pak kyai. Badan beliau saat ketemu kyai panas sekali. Beliau berkata kepada pak kyai, "pak kyai, saya sakit”. Pak kyai hanya tersenyum. Ketika pak kyai tersenyum itu, panas beliau hilang.

Pak kyai dawuh, "mas, sampean gendeng mas"

Kok gendeng yai?”, tanya Masduqie muda

“Iya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang sampean habis. Pokoknya kalau sampean pengin sembuh, sampean tidak boleh pegang kitab apa saja,” jawab kyai.

Jangankan baca, pegang saja tidak boleh. Padahal pada saat itu, Masduqie muda dua bulan lagi akan mengikuti ujian akhir.

“Yai, dua bulan lagi saya ujian, lho gimana saya kok enggak boleh pegang buku”, Masduqie muda matur kepada pak kyai.

Seketika itu pak kyai menanggapinya dengan marah-marah, "yang bikin kamu lulus itu gurumu? Apa bapakmu? Apa mbahmu?"

"Pada hakikatnya Allah yai,”

“Lha iya gitu!” timpal pak kyai

“Lalu bagaimana syariatnya yai?” tanya Masdqie muda lagi.

“Tiap hari, kamu harus baca shalawat yang banyak” jawab kyai lagi.

Masduqie muda kembali bertanya, "banyak itu berapa yai?"

Pak kyai-pun menjawab, "ya paling sedikit seribu, habis baca 1000 shalawat, minta dengan berkat shalawat yang saya baca, saya minta lulus ujian dengan nilai bagus."

Ya sudah, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku, karena memang ingin sembuh. Paman beliau berkata marah-marah, "Bagaimana kamu ini? dari Jepara ke sini, kamu kok nggak belajar?” Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Pokoknya karena beliau dilarang kyai untuk pegang kitab atau buku, beliau nurut saja.

Menjelang ujian, pelajaran bahasa Jerman, bukunya, ternyata diganti oleh gurunya dengan buku yang baru. Karena masing dilarang pegang buku, maka beliau tetap taat pada kyai.

Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil guru bahasa Jerman.

Pak Guru: kamu her
Masduqie muda: Berapa nilai saya pak?
Pak Guru: Tiga!
Masduqie muda: Iya pak. Kapan pak?
Pak Guru: Seminggu lagi

Namun setelah seminggu, Masduqie muda tidak langsung mendatangi guru bahasa Jerman, karena larangan pegang buku belum selesai. Baru setelah selesai, Masduqie muda mendatangi pak guru.

Masduqie muda: Pak, saya minta ujian pak.
Pak Guru: Ujian apa?
Masduqie muda: Ya ujian bahasa jerman pak.
Pak Guru: Lha kamu bodoh apa?
Masduqie muda: Lho kenapa pak?

Pak Guru: Nilai delapan kok minta ujian lagi, kamu itu minta nilau berapa?
Masduqie muda: Lho, ya sudah pak, barang kali bisa nilai sepuluh.

Jadi angka 3, karena shalawat, mungkin menjadi angka 8. Setelah itulah, beliau tidak pernah meninggalkan baca shalawat. Itu satu pengalaman shalawat KH. Masduqie Mahfudz saat muda


******************

Pengalaman shalawat beliau lagi, yakni ketika beliau harus dinas di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada suatu hari, ada tamu jam 5 sore, dan bilang ke Kyai Masduqie, "Saya disuruh oleh Ibu, disuruh minta air tawar." Kyai Masduqie mengaku bahwa saat itu beliau masih bodoh. Maka seketika itu beliau menjawab,"ya silahkan ambil saja, air tawar kan banyak itu di ledeng-ledeng itu.”

“Bukan itu pak, air tawar yang dibacakan doa-doa yang buat orang sakit itu pak,” si tamu berkata pada Kyai Masduqie. Beliaupun menjawab, "Ooo, kalau itu ya tidak bisa sekarang. Ambilnya harus besok habis sholat shubuh persis."

Beliau menjawab begitu, karena beliau mau tanya istri beliau dulu perihal abah istri beliau yang sering nyuwuk-nyuwuk dan tanya doanya. Ternyata istri beliau tidak tahu tentang doa yang dibaca abahnya di rumah.

Padahal Kyai Masduqie sudah janji. Kebetulan, habis Isya waktu harus wiridan membaca dalail, beliau menemukan hadits tentang shalawat. Inti hadits tersebut kurang lebih, "siapa yang baca shalawat sekali, Allah kasih rahmat sepuluh. Baca shalawat sepuluh, Allah kasih rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah kasih rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali Allah mengabulakn permintaanya."

Ketemulah hadits tersebut sebagai jawabannya. Lalu belaiu pun bangun malam hari, ambil air wudhu. Ambil air segelas, lalu membaca shalawat seribu kali. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad. Setelah beliau selesai membaca seribu shalawat, beliau berdoa, "Allahumaj’al hadzal ma’ dawa an liman syarabahu min jami’il amrodh". Arti doa tersebut,” ya allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segalai penyakita bagi peminumnya”. Lalu meniupkan ke air gelas dan baca shalawat satu kali lagi.

Di pagi hari, diberikanlah air tersebut kepada orang yang memintanya tadi itu. Setelah tiga hari, ada berita dari orang tersebut bahwa orang yang kena penyakit meminum air doa tadi itu sudah sembuh. Padahal sakitnya itu sudah empat bulan tidak sembuh. Dokternya sudah tidak sanggup menangani. Dokter telah menyarankan untuk mencari obat di luar. Lalu katanya Kyai Masduqie itu selama tiga hari mengelus-elus perutnya. Masa ngelus-ngelus perut? Padahal kan yang kena penyakit itukan perempuan. Selain itu, padahal Kyai Masduqie selama tiga hari di rumah saja. Berkat shalawat, penyakitnya sembuh.

Sejak itulah, di tempat Kalimantan timur itu, terkenal ada guru agama yang pinter nyuwuk. Ya Kyai Masduqie itu. Sampai penyakit apa saja, datang ke rumah beliau. Kalau tidak beliau bacakan shalawat, ya istri beliau mengambilkan air jeding, karena sudah dipakai untuk wudhu. Ya sembuh juga penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kyai Masduqie ketika dinas di Kalimantan.

Suatu ketika, beliau harus ke Samarinda naik kapal milik pribadi Gubernur Bapak Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Di tengah-tengah perjalanan laut, di Tanjung Makaliat kapalnya kena angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah kapalnya. Kyai Masduqie sadar, wudhu, lalu naik ke atas kapal. Beliau ajak adzan malaikat penyebul angin itu. Lalu berhentilah angin tersebut. Itu pengalaman sholawat Kyai Masduqie.

"Kalau ada penyakitnya aneh-aneh, datang ke Mergosono, insya Allah saya bacakan sholawat seribu kali, kalau ndak mempan sepuluh ribu kali, insya Allah qabul," kata Kyai Masduqie saat pengajian di Majlis Riyadul Jannah.

“Berkat sholawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangun pondok sampai tingkat tiga, nggak pernah minta sokongan dana masyarakat, mengedarkan edaran, nggak pernah. Modalnya hanya sholawat saja. Uang yang datang ya ada juga, tapi nggak habis-habis. Itu berkat sholawat,” lanjut Kyai Masduqie dalam pengajiannya.

Putra beliau Sembilan orang bisa membaca kitab semua, sarjana semua. Modalnya itu adalah sholawat Nabi. Kalau putra beliau ada yang mau ujian, di samping putranya juga disuruh baca sholawat, beliau juga membacakan sholawat untuk kelancaran dan kesuksesan putranya yang mau ujian itu.

Kyai Masduqie dawuh, "Berkat sholawat Nabi SAW, semua yang saya inginkan belum ada yang tidak dituruti oleh Allah. Belum ada permintaan yang tidak dituruti berkat sholawat Nabi itu. Semua permintaan saya terpenuhi berkat sholawat”.

Shollu ‘alan Nabi Muhammad. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad. Ditulis berdasarkan pengajian KH. Achmad Masduqie Mahfudz di Majlis Riyadlul Jannah.

Source: dutaislam.com



Mbah Wahab Hasbullah: Warga NU Jadilah Seperti “Ikan Yang Hidup"

Mbah Wahab Hasbullah: Warga NU Jadilah Seperti “Ikan Yang Hidup"


Oleh Moh. Yusuf

Wartaislami.Com ~ Mbah Wahab Hasbullah adalah inspirator sekaligus pendiri dan penggerak utama Nahdlatul Ulama (NU). Sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Sejak pertama kali NU di lahirkan, tujuannya adalah untuk berkhidmah demi agama Islam ala Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dengan demikian, NU memandang bahwa seluruh lapisan masyarakat adalah lapangan dedikasinya.

Lapangan itu meliputi berbagai hal yang bersentuhan langsung dengan masyarakat banyak, baik dalam lapangan politik, ekonomi, kesejahteraan umum, kesehatan, pendidikan, dakwah, serta bidang-bidang yang lainnya.

Mbah Wahab Hasbullah selalu memberikan pesan serta arahan kepada warga NU dalam beramal dan berdedikasi. Warga NU harus tetap kuat memegang teguh prinsip-prinsip yang sudah digariskan oleh para kiai dan ulama dalam perjuangan NU. Toleransi kepada siapapun dari berbagai golongan dalam hidup yang majemuk di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sangatlah di butuhkan.

Namun, toleransi terhadap berbagai golongan tersebut janganlah sampai mengorbankan prinsip-prinsip sendiri, lebih-lebih jika itu bersentuhan dengan keyakinan beragama. Menurut Mbah Wahab Hasbullah, seseorang yang tidak teguh memegang prinsip maka ia akan mudah dihantam dan di jungkir balikkan oleh keadaan.

“Jadilah ikan yang hidup!” demikian patuah beliau dalam berbagai kesempatan yang sering beliau ucapkan di tengah-tengah warga NU. “Ikan, selagi ia hidup, masih mempunyai ruh atau nyawa, walaupun hidup seratus tahun di lautan yang mengandung garam, ikan itu akan tetap terasa tawar dagingnya, ia tidak akan pernah menjadi asin. Sebab, karena ia mempunyai ruh, karena ia hidup dengan seluruh jiwanya. Sebaliknya, jika ikan itu sudah mati, sudah tidak ada ruh di dalam dirinya, tiga menit saja ikan itu ditaruh di dalam panci yang bergaram, ikan itu akan menjadi asin rasanya”.

Disadur dari beberapa buku antara lain “Mbah Wahab Hasbullah: Kiai Nasionalis Pendiri NU” yang ditulis oleh KH. Saifuddin Zuhri dan “KH. Wahab Hasbullah: Biografi Singkat 1888-197” yang di tulis oleh Muhammad Rifa’I. Juga diambil dari Majalah Aula NU No 11 tahun XXXIII “Mbah Wahab Hasbullah Inspirator, Pendiri, dan Penggerak NU”

Moh. Yusuf, staf pengajar STAI Ma’arif Kendal Ngawi

Sumber :dutaislam.com



Allah dan Malaikat Bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW

Allah dan Malaikat Bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW


Wartaislami.com ~ Kalau kita menelaah sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, kita akan banyak mendapati contoh teladan tentang keagungan seorang manusia. Yang selama hidupnya mempraktikkan hidup penuh kasih sayang, ramah tamah, toleransi, dan jauh dari sifat-sifat serakah serta mau menang sendiri.

Sejak masanya yang paling awal, Nabi SAW menerapkan konsepsi bahwa semua manusia itu bersaudara, harus dihormati sebagaimana adanya, dan dinilai menurut diri mereka sendiri.

Sifat-sifat, perilaku, dan kepribadian Nabi SAW itu kini banyak diungkapkan kembali kaum Muslimin di berbagai pelosok Tanah Air untuk memperingati maulid (kelahiran)-nya. Yang justru banyak dipertanyakan mengapa umat Islam sekarang ini tidak terlihat adanya kasih sayang dan kecintaan sesama umat, seperti yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. Seolah-olah kaum Muslimin sudah kehilangan vitalitas untuk mencontoh kehidupan pemimpin besarnya itu.

Karena itu, sangatlah disayangkan bahwa kasih sayang dan persaudaraan yang dengan gemilang telah dipraktikkan Nabi SAW dan para sahabatnya kurang tercermin dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslimin sekarang ini. Bahkan, yang terlihat berbagai praktek kekerasan, seperti pembunuhan dan main hakim sendiri yang sudah sangat membahayakan dan memprihatinkan semua pihak.

Tentu saja, segala perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan perilaku Nabi sehari-hari. Apalagi bila diingat Nabi SAW diutus Allah ke dunia ini sebagai rahmatan lil alamin dan membawa pesan-pesan universal.

Haruslah diingat prinsip-prinsip keadilan, keamanan, kejujuran, kedermawanan, dan kerja keras seperti dicontohkan Nabi SAW, merupakan gagasan di setiap zaman. Segala prinsip dan cita-cita tersebut dapat diterima, bahkan tengah diperjuangkan oleh seluruh umat manusia di jagad ini. Prinsip-prinsip yang didambakan manusia baik masa kini, masa lalu, dan juga di masa mendatang.

Apa yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa risalah Nabi, sejarah, dan sunahnya, tetap relevan hingga sekarang dan tidak pernah kadaluarsa. Apalagi untuk memperjuangkannya Nabi telah memberikan seperangkat konsep, cita-cita, dan sistem untuk memecahkan problem-problem yang dihadapi manusia modern.

Sekali lagi, dalam situasi negara yang terpuruk seperti sekarang, mencontoh kehidupan Nabi bisa membantu kita dalam menghadapi berbagai krisis. Kalau Nabi Musa diberikan mukjizat seperti tongkatnya dapat membelah lautan, dan Isa dapat menghidupkan orang mati, tapi mukjizat Nabi Muhammad saw terletak pada pribadinya sendiri. Karena, perilaku Nabi menghimpun segala kesempurnaan yang optimal.

Dalam kaitan ini, Dr Mustafa Mahmud mengatakan, “Muhammad saw sendirilah yang dalam kelakuan, perangai, dan tingkah laku hidupnya merupakan mukjizat yang berjalan di atas permukaan bumi.”

Bukankah sifat-sifat Nabi yang pemurah, penyabar, pengasih, selalu bermanis durja, merupakan pribadi yang menjelmakan mukjizat, kata sejarawan Mesir kontemporer itu.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya melimpahkan shalawat kepada Nabi. Wahai sekalian manusia, bershalawatlah kalian kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Oleh: Alwi Sahab

Source: www.republika.co.id
Percayalah, Tidak Ada Sesuatu yang Mustahil !

Percayalah, Tidak Ada Sesuatu yang Mustahil !


Wartaislami.com ~ Ada salah satu kalimat dalam Al-Qur’an yang tak asing ditelinga kita yaitu kalimat (كُن فَيَكُونُ) “Kun Fayakun”. Ketika Allah telah berkehendak untuk jadi maka terjadilah.

Kalimat ini disebutkan 8 kali didalam Al-Qur’an dan pengulangan ini bertujuan untuk menunjukkan dan meyakinkan kita tentang luasnya kekuasaan Allah swt.

وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Apabila Dia hendak Menetapkan sesuatu, Dia hanya Berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah sesuatu itu.” (QS.al-Baqarah:117)

Namun yang dimaksud dengan perkataan Kun Fayakun dalam ayat-ayat ini bukanlah perkataan verbal yang keluar dari lisan. Perkataan Kun Fayakunmaksudnya adalah kehendak Allah swt untuk mewujudkan sesuatu. Jika Dia berkehendak untuk terwujud, maka terwujudlah. Bukan berarti sebuah perkataan yang harus terucap.

Dan kalimat ini termuat dalam 8 tempat berikut ini :

QS.al-Baqarah 117, QS.Ali Imran 47, QS.Ali Imran 59, QS.al-An’am 73, QS.an-Nahl:40, QS.Maryam 35, QS.Yasiin 82, QS.Ghofir 68.

Lalu apa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ayat diatas?

Jika kekuasaan dan kemampuan Allah meliputi segala sesuatu dan segala sesuatu akan terjadi dengan kehendak-Nya, lantas kenapa kita masih bersedih dan mudah putus asa? Ketahuilah bahwa seorang yang memiliki Allah tidak menyimpan kata mustahil dalam kamus hidupnya.

Ketika putus asa itu datang dan berkata, “Mustahil keinginanmu akan terwujud !”. Maka ceritakan kepadanya tentang kebesaran dan kekuasaan Tuhan Pemilik Alam Semesta.”
وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Apabila Dia hendak Menetapkan sesuatu, Dia hanya Berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah sesuatu itu.” (QS.al-Baqarah:117)

Tidak ada sesuatu yang mustahil. Semua akan terjadi dengan kehendak-Nya. Maka dekatkan diri kepada Allah swt. Karena Allah berfirman dalam Hadist Qudsi-Nya,

“Hamba-Ku taatlah kepada-Ku maka kalian akan menjadi seperti-Ku. Ketika berkata (كُن) terjadi ! maka terjadilah (فَيَكُونُ).”

Source: www.khazanahalquran.com
Prof Quraish Shihab: Cendekiawan itu Memiliki Fungsi Dzikir dan Fikir

Prof Quraish Shihab: Cendekiawan itu Memiliki Fungsi Dzikir dan Fikir



Wartaislami.com ~ Mantan Menteri Agama, Quraish Shihab mengatakan, seorang cendekiawan memiliki dua fungsi yaitu dzikir dan fikir. Keduanya merupakan fungsi utama yang ada pada diri cendekiawan.

“Orang cendekiawan adalah orang yang mengetahui inti permasalahan,” kata Quraish, saat memberikan tausiyah ramadhan pada acara buka puasa bersama dan silaturahmi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di kediaman BJ Habibie, Kuningan Jakarta, Rabu (15/6).

Hadir dalam acara tersebut tokoh nasional seperti Akbar Tanjung, Priyo Budi Santoso, Sandiaga Uno dan Irman Gusman. Acara juga dihadiri oleh pengurus ICMI.

Quraish menjelaskan dzikir sebagai salah satu fungsi seorang cendekiawan yaitu selalu mengucapkan dan ingat kepada Allah. Itu artinya dzikir berkaitan dengan keimanan. Kemudian fikir, Quraish melanjutkan, bukan akal jika di dalam al-Quran. Namun, fikir memiliki asal kata mengupas yang tertuju pada alam materi.

“Islam datang menggabungkan antara dzikir dan fikir,” ucap Quraish.

Kedua hal tersebut menurut Quraish sangat penting. Keduanya memiliki saling keterkaitan. “Ilmu pengetahuan membuat anda cepat ketujuan. Iman menunjukkan arah ke tujuan,” kata mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah itu.

Source: www.republika.co.id


Hukum Berkumur dan Sikat Gigi saat Puasa

Hukum Berkumur dan Sikat Gigi saat Puasa


Kebersihan gigi dan mulut merupakan bagian dari keimanan. Demikian halnya dengan aroma mulut yang sedap bagian dari kebaikan itu sendiri. Islam menuntut kebersihan gigi dan mulut umatnya agar bersih dan segar melalui siwak, dan lainnya.

Hanya saja pada saat puasa anjuran untuk membersihkan gigi dan mulut perlu diatur waktunya. Pasalnya, pembersihan gigi dan mulut di siang hari perlu dihindari karena menyalahi keutamaan.

Hal ini disampaikan Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain sebagai berikut.

ومكروهات الصوم ثلاثة عشر: أن يستاك بعد الزوال

Artinya, “Hal yang makruh dalam puasa ada tiga belas. Salah satunya bersiwak setelah zhuhur,” (Lihat Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtadi’in, Cetakan Al-Maarif, Bandung, Halaman 195).

Kenapa bersiwak atau berkumur termasuk makruh. Karena pembersihan mulut di saat puasa merupakan tindakan menyalahi yang utama. Utamanya adalah mendiamkan mulut dan aromanya yang kurang sedap apa adanya. Aroma ini yang lebih disukai Allah di hari Kiamat kelak.

Al-Habib Abdulah bin Husein bin Thahir dalam karyanya Is‘adur Rafiq wa Bughyatut Tashdiq menyebutkan sebagai berikut.

ويكره السواك بعد الزوال للصائم لخبر "لخلوف" أي لتغير "فم الصائم يوم القيامة أطيب عند الله من رائحة المسك".

Artinya, “Bagi orang berpuasa, makruh bersiwak setelah zhuhur berdasarkan hadits, ‘Perubahan aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari Kiamat daripada wangi minyak misik,’” (Lihat Is‘adur Rafiq, Cetakan Al-Hidayah, Surabaya, Juz I, Halaman 117).

Untuk itu, pengaturan berkumur dan sikat gigi mesti diatur. Sekurangnya kedua aktivitas itu bisa dilakukan sebelum zhuhur tiba demi mengejar keutamaan. Wallahu a’lam. (Alhafiz K) via nu online
1001 Kisah Pohon Kurma

1001 Kisah Pohon Kurma


Pohon kurma tumbuh sejak zaman dahulu. Konon, pohon ini sudah tumbuh sebelum manusia diciptakan. Ada kisah yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam turun ke bumi ia mendapati bumi ini dihuni oleh barbagai macam tumbuhan. Salah satunya adalah pohon kurma.

Kurma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun. Pohon kurma diyakini berasal dari sekitar teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir.

Bukti arkeologis pernah ditemukan dari mumi yang ditutupi oleh tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Selain itu ditemukan juga sebuah pohon kurma utuh di sebuah kuburan kuno di daerah Shakra dan kuburan itu sudah ada sejak 3200 tahun SM (Alvarez-Mon 2006).

Penduduk jazirah Arab kuno telah memanfaatkan hampir keseluruhan pohon kurma, dari mulai batangnya yang digunakan sebagai tiang-tiang rumah. Pelepah kurma digunakan sebagai atap rumah dan bahan tikar, di samping khasiat buahnya yang banyak mengandung vitamin dan karbohidrat. Kurma adalah makanan yang bisa disimpan sepanjang tahun sebagai penunjang kebutuhan pokok.

Namun bagi umat Islam, kurma lebih dari sekedar buah. Menikmati kurma saat berbuka puasa adalah sunah. Bahkan dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Rumah yang tidak ada kurmanya seperti rumah yang tidak ada makanan”.

Nah, dari sekian banyak cerita tentang kurma, terdapat kisah menggelitik antara Nabi Muhammad dengan menantunya, Ali bin Abi Thalib.

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang kumpul bersama. Buah kurma tersaji di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Sahabat Ali yang duduk persis di samping Nabi tanpa sadar telah menghabiskan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain, termasuk milik Rasulullah.

Karena merasa malu atau keisengan sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasulullah. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Nabi.

"Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak."

Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. "Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu." Jawaban Nabi langsung mengundang tawa dari para sabahat lainnya. (Zunus) via nu online
Saat Habib Luthfi Didatangi Ulama Jin dan Setan Nganggur

Saat Habib Luthfi Didatangi Ulama Jin dan Setan Nganggur


Wartaislami ~ Risalah Nabi Muhammad Saw. bukan diperuntukkan bagi manusia saja melainkan juga jin. Di dunia manusia ada para ulama dan wali Allah, maka di dunia jin juga sama. Tapi sehalus-halusnya jin masih jauh lebih kasar dibanding manusia yang paling kasar sekalipun. Hal demikian karena berbeda dimensinya.

Suatu waktu Habib Luthfi bin Yahya didatangi oleh sekelompok kiai atau ulama jin. Nampak di wajah mereka bersinar terang meskipun rupa kaki mereka berbeda-beda menyerupai kaki hewan-hewan. Dalam dunia jin mereka pun punya santri dan murid yang banyak. Kedatangan mereka kala itu meminta sang habib memberikan ijazah atau amalan.

"Habib, kedatangan kami di sini minta ijazah amalan khusus."

"Lho kalian kan ulama, kiai, kenapa perlu memintanya kepada saya?" Jawab Habib Luthfi.

"Karena kami tak bisa menanganinya, banyak dari kami (kaum jin) yang kesurupan manusia."

Di waktu yang lain Habib Luthfi didatangi sekelompok setan yang jumlahnya cukup banyak. Mereka melakukan demo kepada habib menuntut supaya diberikan pekerjaan. "Banyak dari kami yang jadi pengangguran!" Protes mereka.

"Memangnya kenapa kalian jadi pengangguran?" Tanya Habib Luthfi.

"Kami protes kepada Habib, karena pekerjaan-pekerjaan yang selama ini kami jalankan sekarang sudah dirampas/dilakukan oleh kaummu (manusia)." [dutaislam.com/ ab-ed]



Inilah Empat Cara Iblis Menjerumuskan Manusia, Waspadalah!

Inilah Empat Cara Iblis Menjerumuskan Manusia, Waspadalah!


Al-Qur’an mengisahkan bahwa ketika dikeluarkan dari surga, Iblis meminta kepada Allah agar dapat menggoda anak cucu Adam menjadi temannya di neraka kelak. Iblis berkata, “Aku sungguh-sungguh akan mendatangi (menggoda) mereka dari arah depan dan arah belakang mereka, arah kiri dan arah kanan mereka. Dan sungguh mereka tidak akan menjadi hamba-Mu yang bersyukur”(QS 7:17).

Menurut Al-Kattani, ayat ini berbicara mengenai tahapan strategi Iblis dalam menyesatkan manusia. Iblis menjebak manusia secara bertahap. Dimulai dari tawaran yang paling kasar dan sulit hingga ke tahapan yang paling halus dan mudah. Namun, justru di jebakan yang paling halus dan mudah inilah manusia banyak yang terperangkap.

Menurut al-Kattani “arah depan” ialah jebakan menyekutukan Allah dan melakukan dosa-dosa besar. Ini adalah tawaran yang paling sulit untuk dituruti manusia. Pada tahapan ini, Iblis menawarkan kekufuran, mengajak orang untuk menolak agama, keberadaan Tuhan, risalah para Rasul dan kebenaran kitab suci.

Ketika gagal,  godaan dari “arah belakang” pun disodorkan Iblis, yaitu jebakan melakukan dosa-dosa kecil, lebih mudah untuk diikuti dari tawaran sebelumnya. Iblis merayu manusia bahwa berbuat dosa itu manusiawi dan lagi pula, kata dia, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itu, masih ada kompensasi bertobat. Untuk orang-orang yang rawan godaan Iblis ini. (Baca juga: Masuk Neraka Gara-gara Air Wudhu?)

Nabi SAW mewanti-wanti: “Jangan meremehkan dosa kecil, karena dosa-dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya.” Dalam suatu riwayat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Dosa paling besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Jika gagal merayu manusia dari arah depan dan arah belakang, Iblis mendisain godaan ketiga, jebakan dari “arah kanan”. Arah kanan, masih menurut al-Kattani, ialah tawaran untuk melakukan hal-hal yang mubah namun dapat melalaikan yang wajib. Olahraga pagi itu mubah namun jika dapat melalaikan kita dari masuk kantor tepat waktu, kita terjebak pada godaan ketiga Iblis ini. (Baca: Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci)

Jebakan yang terakhir datang dari arah kiri. Ini tawaran yang paling halus. Iblis menawarkan kita dengan ibadah-ibadah yang utama, tetapi melalaikan kita dari hal-hal yang lebih utama. Berzikir itu utama. Bila kita sibuk berzikir, membersihkan diri atau tafakur di sudut rumah kita, lalu kita mengabaikan masalah-masalah sosial, maka kita melupakan hal yang lebih utama. Ketika kita meributkan perbedaan kecil dalam ibadah dan melupakan kualitas ekonomi kita, kita telah terjebak pada jebakan yang datang dari arah kiri ini. (Lihat juga: Kisah Orang Tekun Ibadah yang Masuk Neraka)

Diriwayatkan, ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, para malaikat menjadi kasihan kepada manusia, lalu mereka berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin manusia dapat terhindar dari jebakan Iblis?”

Allah menjawab masih tersisa dua arah: atas dan bawah, “Jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam doa dengan penuh rendah hati atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyukan, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR Thabrani).

Abdul Aziz, alumni PP Ilmu Hadis Darussunnah Ciputat. [Sindikasi Media] via nu online

Ada Sunan di Amerika Serikat

Ada Sunan di Amerika Serikat


Oleh Hasanudin Ali

Wartaislami.Com ~ Pemakaman Muhammad Ali hari Jumat lalu masih membekas di benak saya, pemakaman yang luar biasa karena dihadiri tokoh penting dunia, seperti mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Raja Yordania, Raja Abdullah. Atas permintaan mendiang Ali pula pemakamannya menghadirkan tokoh berbagai lintas agama di Amerika.

Ketokohan Muhammad Ali tentu tidak disangsikan lagi baik didalam ring tinju maupun diluar ring tinju. Kali ini saya akan fokus pada kiprah dan apa peran Ali di luar ring tinju, yakni dalam kemanusian, perdamaian, dan tentu saja kaitannya dengan agama Islam yang dianutnya.

Muhammad Ali sejak muda memang menentang perang, dia menolak wajib militer dan dengan tegas tidak mau dikirim untuk berperang di vietnam. Dia menolak berperang dan membunuh karena dilarang oleh Islam. Bahkan Ali mengatakan, “Saya tidak punya masalah dengan Vietcong. Tak ada Vietcong yang pernah memanggil saya negro,” ujarnya.

Penolakan Ali menyebabkan dia kehilangan semua gelar juara dunia yang diraihnya. Pemerintah Amerika Serikat bahkan mencabut semua lisence pertandingan tinjunya yang berakibat dia hampir bangkrut saat itu, untung beberapa sejawat tinju masih rela membantu kehidupan Ali.

Sejarah keislaman Muhammad Ali pada awalnya adalah bentuk perlawanan terhadap politik warna kulit di Amerika yang mensegrasi warga kulit hitam dalam kehidupan warga Amerika. Bergabung dengan kelompok Islam militan Nation of Islam awal tahun 1960 besama Malcolm X, Ali mengenal Islam melalui pendiri Nation of Islam Elijah Muhammad.

Namun perubahan keislaman Ali berubah semenjak Elijah Muhammad meninggal 1975, dia lebih mengedepankan Islam sebagai sebuah gerakan spiritual dibanding sebagai gerakan politik. Muhammad Ali membawa pesan perdamaian ke seluruh penjuru di dunia, bertemu dengan tokoh-tokoh pemimpin dunia untuk menegaskan dunia akan lebih damai tanpa perang.

Banyak yang menduga pesan perdamaian Islam yang dibawa Ali karena pengaruh ajaran Sufi, sebuah aliran mistik dalam Islam. Meski Ali tidak pernah mengklaim mengikuti aliran sufi tertentu, beberapa rekaman foto dan video menunjukkan Ali pernah berinteraksi dengan beberapa Imam Sufi.

Dalam sebuah rekaman video terlihat Ali pernah berkunjung ke rumah Syaikh Hisyam Kabbani, pemimpin Tarekat Naqsyahbandi di Amerika, dan terlihat juga dia mengikuti beberapa ritual tarekat itu. Ali sebagaimana diceritakan putrinya, Hanna Yasmeen Ali, banyak terinspirasi dan mengkoleksi banyak buku Hazrat Inayat Khan, seorang guru sufi terkemuka di Barat.

Melihat kerumunan orang yang berjajar di pinggir jalan melepas kepergian Muhammad Ali, saya jadi teringat proses pemakaman Gus Dur yang juga di sepanjang jalan menuju Jombang dipenuhi warga yang ingin melepas kepergian Gus Dur. Tak bisa di pungkiri, kedua tokoh ini memiliki kesamaan, yakni sama-sama tokoh anti kekerasan, membawa pesan damai Islam kepada seluruh umat manusia.

Sebagaimana kita mengenal bahwa dalam tasawwuf kita mengenal Wali, seseorang yang pada level tertentu memiliki karomah, maka mungkin saja seorang Muhammad Ali adalah seorang Wali yang dikirim di tanah Amerika. Dan kalau di Indonesia kita mengenal beberapa Wali dalam Walisongo sebagai seorang Sunan, seperti Sunan Ampel, Sunan Kudus, dll, maka seorang Muhammad Ali barangklali termasuk seorang Sunan Amerika. Wallua’alam bisshowab.


Sumber :dutaislam.com
Agar Nasihat Anda Diterima, Tirulah Mbah Khalil Bangkalan

Agar Nasihat Anda Diterima, Tirulah Mbah Khalil Bangkalan


Wartaislami.Com ~ Dikisahkan, pada suatu ketika Imam Abu Hanifah dengan cepat menutup pengajiannya, lalu membubarkan jamaahnya dan meminta mereka kembali lagi besok seperti biasanya. Ketika esok harinya pengajian mau dimulai, salah seorang santri beliau bertanya, "Kenapa guru kemarin menutup pengajian lebih awal?"

"Anakku, kemarin aku membubarkan pengajian karena saat itu kita tiba pada pembahasan mengenai pembebasan budak. Saat itu aku belum membebaskan budak, akhirnya kumerdekakan dulu budak-budakku sebelum aku memulai pengajian bab itu pada hari ini."

Di Bangkalan, awal abad ke duapuluh, seorang ayah mengajak anaknya yang kecanduan gula-gula (permen) sowan ke Syaikhona Kholil, salah satu mahaguru ulama Nusantara. Ia meminta agar Kiai Kholil 'nyuwuk' dan menasehati anaknya agar tidak lagi suka makan permen.

"Baiklah. Sampeyan kembali lagi ke sini tiga hari lagi ya."
"Tidak jadi disuwuk hari ini, yai?"
"Nggak. Kembali lagi kesini sama anakmu ya."

Tiga hari kemudian, pasangan ayah-anak ini kembali. Kiai Kholil sudah siap dan segera mendoakan agar anak tersebut berhenti mengkonsumsi permen. Beliau juga bercengkerama dengan bocah tersebut selazimnya beliau mencandai cucunya. Tak lupa, beliau juga menasehati agar bocah tadi berhenti mengkonsumsi permen.

Si ayah rupanya gelisah, mau minta suwuk air kok hanya dinasehati saja. Kalau sekadar nasehat dirinya sudah setiap hari nasehati anaknya yang bandel tadi.

"Sampeyan tahu pak, mengapa saya minta kembali lagi ke sini setelah tiga hari?" tanya Kiai Kholil bertanya tiba-tiba, seolah membaca kegelisahan tamu di hadapannya.

Tamunya menggeleng sembari berkata tidak.

"Aku harus mengatur diriku sendiri terlebih dulu dengan cara berpuasa mengkonsumsi makanan manis-manis selama tiga hari ini sebelum aku menasehati putramu. Ini agar nasehatku bisa diterima dan dipercaya anakmu."

***


Mencari seorang yang alim itu banyak, tapi yang alim dan amil itu sulit. Sesulit mencari seorang profesor marketing yang punya perusahaan raksasa. Kisah di atas adalah dua contoh bagi kita: sebelum menangani orang lain, hendaknya kita membereskan diri kita terlebih dulu. Sebab, tidak mungkin kan apabila membersihkan lantai tapi sapunya masih kotor?

Alim dan amil saat ini langka. Sebab ini perpaduan sempurna dua kemampuan spesial: bidang intelektual yang disertai dengan amaliah lahiriah dan konsistensi karakter kepribadian. Dulu kita punya Baharuddin Lopa, Jaksa Agung dengan karakter kuat. Beliau menguasai ilmu di bidang hukum sekaligus konsisten dengan ucapannya yang selaras dengan perilakunya.

Ada pula Hoegeng, polisi jujur di Indonesia selain patung polisi dan polisi tidur. Kalau kita baca biografi keduanya, ketemulah kesesuaian antara ilmu dan perilaku, antara pikiran dan ucapan, dan antara tindakan dan kenyataan.

Anda bisa menemukan orang-orang langka ini pada tetangga, guru, atau mungkin orang "kecil" di sekitar anda. Mereka yang berusaha membabat ketamakan dalam diri mereka, mengerdilkan nafsunya, dan senantiasa siap menanggung konsekuensi atas tindakannya.

Alim dan amil, bagi saya, adalah level tertinggi dari sebuah proses menjadi manusia sesungguhnya. Dan, itu berat, soddara!




Sumber :dutaislam.com
Bahayanya Sifat Kikir dan Keutamaan Shadaqah

Bahayanya Sifat Kikir dan Keutamaan Shadaqah


Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh. Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".<>

Perempuan itu menjawab: "Wahai Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri. Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".

"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang yang kikir waktu hidup di dunia. Dan tempat ini adalah tempat golongan orang2 yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku shadaqahkan selama hidupku di dunia. Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab, "Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."

"Wahai Rasulullah, kemudian akupun mendatangi ayahku yang pada saat itu sedang menuang air di telagamu.., dan aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, ibuku saat ini sedang menderita dan ayah tahu bahwa ibu rajin beribadah dan selalu taat pada ayah, berikanlah seteguk air dari telaga ini untuk ibu.." Ayahku menjawab, "Wahai anakku, air telaga ini haram bagi orang2 yang kikir seperti ibumu.."

"Wahai Rasulullah, karna belas kasihanku kepada ibuku maka akupun nekat mengambilkan segelas air dari telagamu itu untuk kuberikan kepada ibuku. Akan tetapi pada saat kuberikan air itu kepada ibuku, tiba-tiba terdengarlah olehku suara tanpa rupa, "Semoga Allah melepuhkan tanganmu." Kemudian akupun terbangun dan aku melihat tangan kananku ini melepuh, wahai Rasulullah.."

Rasulullah bersabda, "Begitu bahayanya sifat kikir ibumu itu.." Kemudian Beliau pun berdoa kapada Allah, maka sembuhlah tangan perempuan itu.

Demikianlah kisah tentang bahayanya sifat kikir dan keutamaan shadaqah. Semoga kita dapat memetik manfaatnya. (J. Mu'tashim Billah - Mustofa Hasyim)  via nu online
TIGA TUJUAN DIWAJIBKANNYA IBADAH SHAUM

TIGA TUJUAN DIWAJIBKANNYA IBADAH SHAUM


Setiap perintah yang Allah wajibkan dan larangan yang Allah sampaikan pasti memiliki tujuan. Shalat misalnya bertujuan untuk "mengingat" Allah dan dengan mengingat Allah membuat hati kita "tenteram".
Didalam Al Quran Allah berfirman :
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
_Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku maka sembahlah aku; dan tegakkanlah shalat untuk *mengingatku*_ (QS. Thaha : 14)
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
_Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah membuat ketenteraman hati._
Artinya....tujuan shalat :
Shalat untuk Zikir
Zikir untuk Thuma'ninah
Jadi,
Shalat untuk Thuma'ninah
Bagaimana kalau hati masih gundah gulana, tidak tenteram? padahal shalat telah dilakukan tiap waktu?
Berarti ada question mark yg harus kita jawab sendiri?
Sekarang bagaimana dengan Tujuan Puasa?
Bila kita baca Surah Al Baqarah ayat 183 sd 186, maka akan tampak ada 3 tujuan utama kenapa puasa diwajibkan?
*Pertama*, niscaya engkau menjadi orang2 yang bertaqwa. (لعلكم تتقون) sebagaimana terkandung dalam firmanNya :
يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون.
_Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa (Ramadlan) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa_. (QS. Al Baqarah: 183)
Bertaqwa sering diartikan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Suatu perbuatan yang maha sulit. Kita memang berupaya menuju ke kesempurnaan takwa meski sulit untuk merealisasikannya. Ibadah puasa akan memandu kita menuju itu dengan bertahap.
Yang paling penting dalam beribadah adalah konsistensi dan prosesnya bukan hasilnya. Ketika proses ibadah yg kita lakukan didasrkan dengan ikhlas dan tawakkal, maka Allah akan mencatat setiap progres yg telah kita kerjakan, sehingga kita sering berdoa :
يا الله بها ... ياالله بها .... يا الله بحسن الخاتمة ...
_Ya Allah...dengan ibadah yang telah kami upayakan dan lakukan jadikanlah aku orang yang baik di akhir (khusnul khatimah)_
Jangan pernah menghitung-hitung apalagi sering menyebut perbuatan baik yang telah kita lakukan, karena kita tidak pernah mengetahui apakah Allah akan menerima atau menolaknya.
Serahkan semua upaya dari ibadah dan amal baik yg telah kita lakukan sesuai panduan shalat. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku kuserahkan sepenuhnya kepadaMu ya Allah. Kabulkan permohonanku....Amiin

Kedua, tujuan ibadah puasa yg kedua adalah agar kita pandai bersyukur. Di dalam Al Quran dinyatakan, ........niscaya engkau menjadi orang2 yang pandai bersyukur (لعلكم تشكرون) sebagaimana firman Nya :
يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون
.........Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya , hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu , agar kamu bersyukur. (QS Albaqarah : 185)
Bila kita ingin punya rumah, maka orang lain juga menghendakinya;
Bila kita ingin punya kendaraan, maka orang lain juga menginginkannya;
Bila kita ingin punya uang yg cukup, maka orang lain juga mengharapkannya;
Bila kita ingin makan makanan lezat, maka orang lain juga ingin hal yang sama.
Kita diminta untuk puasa di siang hari, sementara banyak saudara kita yg dengan ikhlas puasa sepanjang dan berhari-hari.
Kita diminta untuk menahan keinginan dalam beberapa saat, sementara jutaan saudara kita yg dengan terpaksa menahan keinginannya seumur hidup.
Kita selalu merasa kurang dengan pemberian yang ada;
Kita selalu merasa dahaga dengan beragam minuman yg tersedia;
Kitapun selalu merasa tidak puas dengan karunia yang ada.
Percayalah....
Tidak akan merasa kenyang anak cucu Adam kecuali dia sudah diletakkan di liang lahat.
Karenanya Rasulullah berpesan :
انظروا الى من هو اسفل منكم ولا تنظروا ا لى من هو فوقكم...ذالكم ان لا تزدروا نعمة الله عليكم ....
_Lihatlah orang lain yg (posisi) ekonominya lebih rendah dari engkau dan jangan melihat yg diatasmu. Yang demikian itu akan membuat dirimu pandai bersyukur atas limpahan nikmat Allah_
Semoga puasa kita tahun ini lebih konkrit memberikan kontribusi langsung kepada sesama dengan berlatih terus untuk menjadi orang yang pandai berbagi karena bersyukur atas karunia Nya. Amiin


*Ketiga*, tujuan ibadah puasa yang ketiga adalah agar kita pandai bersikap seimbang dalam hidup.
Di dalam Al Quran dinyatakan, niscaya mereka menjadi orang2 yang selalu dalam kebenaran karena mendapatkan petunjuk (لعلهم يرشدون) sebagaimana firman Nya :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖأُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖفَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
_Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran_ (QS. Al Baqarah : 186).
Imam Suyuthi dalam tafsirnya mengartikan
لعلهم يرشدون
dengan
لعلهم يهتدون اى لمصالح دينهم ودنياهم
Maksudnya *berada dalam kebenaran* itu adalah *mendapatkan petunjuk agar selalu mampu bersikap seimbang dalam urusan agama dan dunia*.
Ya keseimbangan. Keseimbangan adalah sunnatullah atau hukum alam yg telah ditentukan Allah. Kita dituntut untuk berlaku seimbang dalam semua aspeknya. Hukum keseimbangan itu berlaku dimana-mana.
Jika kita menekan sebuah benda sebesar 10 Newton ke kanan, maka untuk mencapai keadaan seimbang benda itu sesungguhnya menekan kita sebesar 10 Newton ke kiri.
Artinya, _jika kita memaksa siapapun dengan tekanan atau pemaksaan, maka Allah akan membuat keseimbangan di alam ini dengan menahan sejumlah usaha yg telah kita lakukan yang berlawanan arah dengan cara Allah_.
Dalam Al Quran, Surat Ar Rahman dinyatakan bahwa Allah telah menetapkan hukum kesetimbangan pada langit dan tata surya lainnya; maka manusia diperintahkanlah agar menjaga keseimbangan.... dengan antara lain "jangan berlaku curang dalam timbangan" ketika jual beli karena itu melanggar keseimbangan alam.
Keseimbangan juga harus diterapkan dalam upaya pemenuhan kebutuhan material dan spiritual; duniawi dan ukhrawi; lahir dan batin. Islam mengajarkan kita agar tetap beribadah dengan khusyu tetapi jangan lupa dengan urusan dunia dan begitu juga sebaliknya.
Allah berfirman :
وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا
_Dan carilah apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu dari negeri akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia_. (QS. Al-Qashash : 77)
Keseimbangan amal duniawi dan ukhrawi juga diingatkan banyak ulama dalam kalimatnya :
لا تترك أن تعمل في الدنيا للآخرة حتى تنجو من العذاب لأن حقيقة نصيب الإنسان من الدنيا أن يعمل للآخرة
_Janganlah engkau abaikan beramal di dunia untuk akhirat, hingga engkau bisa selamat dari adzab. Sesungguhnya bagian manusia di dunia yang sebenarnya adalah ketika dia beramal untuk akhiratnya_.
Atau pernyataan yang sering kita dengar,
اعمل لدنياك كانك تعيش ابدا #
واعمل لاخرتك كانك تموت غدا
*Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok*.
Semoga kita mampu menyeimbangan pemenuhan kehidupan ini dengan prinsip keseimbangan dan keadilan. Semoga.


Dr. H. Fathurin Zen SH, M.Si
Dosen Program S3 Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta


Sumber :santrionline.net
Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali


Ramadhan sudah mendatangi kita. Otomatis kewajiban puasa pun mesti dilakukan bagi orang yang memenuhi persyaratan. Puasa menjadi pembeda bulan Ramadhan dengan bulan lainnya. Bulan ini menjadi mulia dengan sendirinya karena terdapat kewajiban puasa di dalamnya.

Ibadah puasa tentu berbeda dengan ibadah lainnya. Ia sangat bersifat rahasia. Tidak ada yang mengetahui kelangsungan puasa seseorang, kecuali pelakunya dan Allah SWT. Meskipun ada orang yang terlihat makan sahur dan buka puasa bersama kita, itu bukan jaminan bahwa dia telah berpuasa seharian. Bisa saja di waktu siang dia makan tanpa sepengetahuan orang.

Karenanya, puasa dikatakan amanah. Sebuah amanah haruslah dilangsungkan dan dikerjakan. Terlebih lagi yang memberi amanah itu Allah SWT. Pemberian amanah puasa ini tentu bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah dan rahasia di dalamnya.

Tidak semua orang mengerti tujuan dari ibadah puasa. Makanya, tak heran bila ada yang puasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah yang dilakukan. Oleh sebab itu, al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan puasa:

إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر

Artinya, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

Tiga tingkatan ini disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya. Inilah puasa orang awam. Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.

Hal ini berbeda dengan tingkatan kedua, yaitu puasanya orang-orang shaleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.

Selanjutnya puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga  memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Dari tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Semoga puasa kita tidak bersifat formalitas, tetapi juga bermanfaat dan berdampak positif. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah) via nu online
Hakikat Bid'ah menurut Muallim Syafii Hadzami

Hakikat Bid'ah menurut Muallim Syafii Hadzami


Hingga kini perkara bid’ah masih saja diperselisihkan. Baik dalam teori maupun praktiknya. Sebagian orang menganggap bid’ah sebagai sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Dan sebagian yang lain memposisikan bid’ah sebagai suatu kreatifitas yang dibolehkan selama tidak menerjang rambu-rambu al-Qur'an dan as-sunnah.<>

Mengenai perkara bid’ah ini Muallim Syafi’i Hadzami ulama Betawi menerangkan dengan cukup panjang dalam bukunya Taudhihul Adillah juz tiga. Muallim Syafi’i memulai tulisannya dengan menukil perkataan As-Syatibi dalam kitabnya al-I’tisham begini kalimatnya:

أصل مادة بدع للاختراع على غير مثال سابق ومنه قوله تعالى بديع السموات والأرض اى مخترعهما من غير مثال سابق وقوله تعالى قل ما كنت بدعا من الرسل اى ما كنت اول من جاء بالرسالة من الله الى العباد بل تقدمنى كثير من الرسل ويقال ابتدع فلان بدعة اذا ابتداْ طريقة لم يسبق اليها. وهذا امر بديع يقال فى الشيئ المستحسن الذى لا مثل له فى الحسن.

Kata bada’a pada mulanya menunjukkan arti mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Seperti dalam firman Allah ‘بديع السموات والأرض’ (Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi) maksudnya Dialah Allah yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya. Begitu pula firman-Nya dalam ayat ‘قل ما كنت بدعا من الرسل’(katakanlah Muhammad “bukanlah aku ini Rasul yang diutus mula-mula/pertama kali) maksudnya bahkan sebelumku (Muhammad) telah banyak Rasul yang diutus Allah swt.Ddalam bahasa Arab kata bid’ah juga sering digunakan seperti kalimat ‘ إبتدع فلان بدعة’ (si fulan telah merintis satu jalan yang belum pernah didahului orang lain). Atau juga dalam kalimat ‘هذا أمر بديع’ (ini adalah perkara yang indah) yaitu perkara yang indah dan belum pernah ada tandingannya.

Demikian Muallim Syafi’i Hadzami memulai keterangan tentang arti bid’ah dari sisi kebahasaan. Karena kata bid’ah itu berasal dari bahasa Arab maka yang menjadi rujukan juga penggunaan kata tersebut dalam keseharian masyarakat Arab. Selanjutnya dijabarkan bahwa kata bid’ah digunakan untuk menunjuk suatu hasil atu karya.  Sedangkan proses pekerjaannya (berkreasi) dikatkan ibda’.

Dengan demikian bid’ah merupakan hasil pekerjaan yang bisa terkena hukum, bukan hukum itu sendiri. Karena pada hakikatnya hukum syar’i itu cuma lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Tidak ada bid’ah di dalamnya. Jadi sangat tidak tepat jika dikatakan “yang begini atau begitu hukumnya bid’ah”. Intinya keterangan ini menegaskan bahwa bid’ah bukanlah termasuk hukum syar’i.

 Adapun secara istilah Muallim Syafi’i Hadzami memberi pemahaman bid’ah sebagaimana dipergunakan dan difahami kebanyakan orang Indonesia sebagai suatu amalan yang tidak ada dalil syara’nya. Bid’ah biasa dijadikan pembanding dengan sunnah yaitu sesuatu yang ada dalil syar’inya.

Selanjutnya Muallim Syafi’i Hadzami menjelaskan rincian macam bid’ah dengan diawali pendapat Imam Syafi’i katanya

البدعة بدعتان بدعة محمودة و بدعة مذمومة فما وافق السنة فهو محمود وماخالفها فهو مذموم

Bida’ah itu ada dua macam. Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Maka mana-mana yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji, dan mana-mana yang menyalahinya itulah yang tercela

Ini merupakan dalil pertama yang digunakan oleh Muallim Syafi’i Hadzami menunjukkan adanya dua macam bid’ah. Penunjukan dalil ini tidaklah sembarangan, mengingat otoritas Imam Syafi’i sebagai salah satu peletak dasar madzhab syafi’i yang telah diakui secara mufakat hasil ijtihadnya.

Guna menguatkan dan menjelaskan rincian bid’ah ini, Muallim Syafi’i Hadzami mengambil satu pendapat lagi dari Al-Baihaqi sebagaimana tersebut dalam manakibnya:

المحدثات ضربان ما احدث يخالف كتابا اوسنة او اثرا او اجماعا فهذه بدعة الضلالة وما احدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه بدعة غير مذمومة

Segala yang diadakan itu ada dua macam. Sesuatu yang diadakan padahal menyalahi kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Sedangkan apa-apa yang baik yang  diadakan yang tidak bertentangan dengan tersebut (kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’) maka itulah bid’ah yang tidak tercela.

Sampai di sini semakin jelas bahwa pemahaman tentang bid’ah sebagai sesuatu kreasi baru tidaklah sesederhana pemahaman hitam dan putih. Karena tidak semua yang baru itu dapat dianggap sesat. Mengingat banyak hal-hal baru yang tidak ada di zaman Rasulullah saw juga baik.

Dalam rangka menklasifikasikan bid’ah Muallim Syafi’i Hadzami memperjelas dengan pendapat Al-Hadidi dalam Syarah Nahjul Balaghah menyatakan yang artinya demikian “lafald bid’ah dipakai untuk dua pengertian. Salah satunya yang untuk menunjukkan sesuatu yang melanggar al-Qur’an dan as-sunnah semisal puasa di hari idul adha ataupu pada hari-hari tasyriq. Karena puasa pada hari-hari tersebut dilarang. Pengertian kedua, kata bid’ah digunakan untuk menunjuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dasar nash, namun syara’ membiakannya. Dan kemudian biasa dilakukan oang-orang Islam setelah wafatnya Rasulullah saw. Adapun hadits yang berbunyi “ كل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار “ setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan masuk neraka dapat diperuntukkan terhadap makna bid’ah yang pertama. Sedangkan perkataan sayyidina Umar as. Sehubungan dengan shalat tarawih berjama’ah yang berbunyi “ إنها لبدعة ونعمت البدعة هي  “ sesungguhnya yang demikian ini bid’ah dan inilah sebaik-baik bid’ah. Dapat diaterapkan pada pemahaman makna bid’ah yang kedua.

Demikianlah pendapat Muallim Syafi’i Hadzami mengenai arti bid’ah sebagaimana diterbitkan dalam bukunya Taudhihul Adillah jilid ke III. Sesungguhnya pengambilan berbagai rujukan ini merupakan bukti betapa luasnya pengetahuan agama Muallim Syafi’i di satu sisi. Dan pada sisi lain menunjukkan ketawadhu’annya sebagai seorang alim yang tidak mau menunjukkan pendapat sendiri selagi masih ada rujukan para ulama.


Sumber :nu online
close
Banner iklan disini