Ada Sunan di Amerika Serikat


Oleh Hasanudin Ali

Wartaislami.Com ~ Pemakaman Muhammad Ali hari Jumat lalu masih membekas di benak saya, pemakaman yang luar biasa karena dihadiri tokoh penting dunia, seperti mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Raja Yordania, Raja Abdullah. Atas permintaan mendiang Ali pula pemakamannya menghadirkan tokoh berbagai lintas agama di Amerika.

Ketokohan Muhammad Ali tentu tidak disangsikan lagi baik didalam ring tinju maupun diluar ring tinju. Kali ini saya akan fokus pada kiprah dan apa peran Ali di luar ring tinju, yakni dalam kemanusian, perdamaian, dan tentu saja kaitannya dengan agama Islam yang dianutnya.

Muhammad Ali sejak muda memang menentang perang, dia menolak wajib militer dan dengan tegas tidak mau dikirim untuk berperang di vietnam. Dia menolak berperang dan membunuh karena dilarang oleh Islam. Bahkan Ali mengatakan, “Saya tidak punya masalah dengan Vietcong. Tak ada Vietcong yang pernah memanggil saya negro,” ujarnya.

Penolakan Ali menyebabkan dia kehilangan semua gelar juara dunia yang diraihnya. Pemerintah Amerika Serikat bahkan mencabut semua lisence pertandingan tinjunya yang berakibat dia hampir bangkrut saat itu, untung beberapa sejawat tinju masih rela membantu kehidupan Ali.

Sejarah keislaman Muhammad Ali pada awalnya adalah bentuk perlawanan terhadap politik warna kulit di Amerika yang mensegrasi warga kulit hitam dalam kehidupan warga Amerika. Bergabung dengan kelompok Islam militan Nation of Islam awal tahun 1960 besama Malcolm X, Ali mengenal Islam melalui pendiri Nation of Islam Elijah Muhammad.

Namun perubahan keislaman Ali berubah semenjak Elijah Muhammad meninggal 1975, dia lebih mengedepankan Islam sebagai sebuah gerakan spiritual dibanding sebagai gerakan politik. Muhammad Ali membawa pesan perdamaian ke seluruh penjuru di dunia, bertemu dengan tokoh-tokoh pemimpin dunia untuk menegaskan dunia akan lebih damai tanpa perang.

Banyak yang menduga pesan perdamaian Islam yang dibawa Ali karena pengaruh ajaran Sufi, sebuah aliran mistik dalam Islam. Meski Ali tidak pernah mengklaim mengikuti aliran sufi tertentu, beberapa rekaman foto dan video menunjukkan Ali pernah berinteraksi dengan beberapa Imam Sufi.

Dalam sebuah rekaman video terlihat Ali pernah berkunjung ke rumah Syaikh Hisyam Kabbani, pemimpin Tarekat Naqsyahbandi di Amerika, dan terlihat juga dia mengikuti beberapa ritual tarekat itu. Ali sebagaimana diceritakan putrinya, Hanna Yasmeen Ali, banyak terinspirasi dan mengkoleksi banyak buku Hazrat Inayat Khan, seorang guru sufi terkemuka di Barat.

Melihat kerumunan orang yang berjajar di pinggir jalan melepas kepergian Muhammad Ali, saya jadi teringat proses pemakaman Gus Dur yang juga di sepanjang jalan menuju Jombang dipenuhi warga yang ingin melepas kepergian Gus Dur. Tak bisa di pungkiri, kedua tokoh ini memiliki kesamaan, yakni sama-sama tokoh anti kekerasan, membawa pesan damai Islam kepada seluruh umat manusia.

Sebagaimana kita mengenal bahwa dalam tasawwuf kita mengenal Wali, seseorang yang pada level tertentu memiliki karomah, maka mungkin saja seorang Muhammad Ali adalah seorang Wali yang dikirim di tanah Amerika. Dan kalau di Indonesia kita mengenal beberapa Wali dalam Walisongo sebagai seorang Sunan, seperti Sunan Ampel, Sunan Kudus, dll, maka seorang Muhammad Ali barangklali termasuk seorang Sunan Amerika. Wallua’alam bisshowab.


Sumber :dutaislam.com
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Ada Sunan di Amerika Serikat"

Post a Comment

close