32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?


Wartaislami.com ~ Usai melaksanakan pengajian bahtsul masail di kantor MWCNU Dawuan, Subang, Jawa Barat yang digelar tiap Sabtu, Ketua MWCNU setempat, Ajengan Toto Ubaidillah Haz mengutip sebuah keterangan yang menyatakan bahwa di liang kubur jasad seorang hafidh (penghafal) Al-Qur'an akan tetap utuh.

Mengenai hal ini, pria yang akrab disapa Kang Toto itu mengisahkan pertemuannya dengan Bu Supaedah. Ia adalah anak seorang hafidh Al-Qur'an yang saat ini berprofesi menjadi bidan di sebuah klinik. Pertemuan itu terjadi beberapa waktu lalu saat Kang Toto mengantar anaknya berobat. Dalam pertemuan itu keduanya berdialog cukup serius.

"Pak Ustadz, kira-kira kemana kalau mau mesantrenin anak ya?" tanya bidan Supaedah

Pria yang akrab disapa Kang Toto itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Memangnya ibu maunya di pesantren daerah mana?"

Bidan Supaedah menjawab bahwa ia asli Cirebon dan menginginkan anak-anaknya bisa masuk pesantren yang ada di daerah Cirebon supaya bisa dekat dengan keluarga besarnya. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa pesantren yang diinginkannya adalah pesantren tahfidh Al-Qur'an.

"Kalau pesantren Al-Qur'an ada di Kaliwadas Cirebon, Pesantrennya Uwa saya almarhum KH Nashir, nama pesantrennya An-Nashr. Ada juga di Ambit, Kecamatan Waled pesantrenya KH Abdul Basith, pesantren itu dikelola anak-anak dari Pesantren Rawamerta, Karawang," jawab Kang Toto yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Dakwah NU Subang.

Namun benak Kang Toto sedikit termenung, karena biasanya para orang tua menginginkan anaknya mengikuti dan melanjutkan jejak orang tuanya, tapi bu bidan yang satu ini malah menginginkan anaknya masuk ke pesantren Al-Qur'an, bukan ke sekolah kesehatan.

"Kenapa ibu mau masukin anak ke pesantren? Enggak dimasukin ke kedokteran atau yang sesuai dengan profesi ibu?"

Bidan Supaedah kemudian menjawabnya dengan sebuah kisah nyata yang dialami keluarganya. Suatu hari, dengan alasan tertentu makam ayah Bidan Supaedah yang telah wafat 32 tahun yang lalu hendak dipindahkan, proses pemindahannya disaksikan oleh seluruh keluarga. Saat makam dibongkar, semua orang terkejut menyaksikan jasad penghuni makam itu masih utuh sempurna dan tidak hancur.

"Anak-anak saya bertanya, Mah, kenapa jasad kakek tidak hancur? Kok masih utuh? Kan kakek sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" ungkap Supaedah menirukan pertanyaan anak-anaknya.

Dengan berlinang air mata, Supaedah kemudian menjawabnya dengan sejarah sosok sang kakek yang belum diketahui oleh cucu-cucunya itu.

"Jasad kakek kalian tidak hancur dan masih utuh karena kakek kalian semasa hidupnya adalah seorang hafidh Al-Qur'an, kakek kalian kiai pengamal Al-Qur'an, Nak..."

Sejak saat itu, anak-anak Bidan Supaedah ingin menjadi penghafal Al-Qur'an dan minta dimasukan ke pesantren supaya bisa seperti kakeknya di kemudian hari. "Menurut informasi, sekarang anak-anaknya bu bidan itu sudah masuk pesantren Al-Qur'an"pungkas Kang Toto kepada NU Online, Sabtu (30/7). (Aiz Luthfi/Mahbib) via nu online

Kisah Sedih Turis Muslim Diusir dari Masjid

Kisah Sedih Turis Muslim Diusir dari Masjid


Setelah selesai salat, Harris mengaji. Ketika tengah asyik membaca surat An-Nisa ayat 37 surat, tiba-tiba orang Korea tadi masuk dan menyuruh Harris keluar. "Get Out! We are closing!"

Wartaislami.com ~ Banyak yang tidak menyadari bahwa isu 'masjid ditutup' sebenarnya tidak hanya terjadi di negara asing,. Bahkan di Malaysia dan Indonesia juga.

Kebanyakan masjid-masjid di kedua negara ini yang mengunci pintu utamanya rapat-rapat, setelah menggelar salat jamaah.

Mungkin langkah ini diambil karena ingin menghindari pencurian. Namun bagaimana dengan para musafir yang ingin menunaikan kewajiban mereka?

Wisatawan asal Malaysia, Irshad Harris, membagikan pengalaman sewaktu ingin menunaikan salat Subuh di sebuah daerah di Seoul, Korea Selatan.

Pengalaman Harris sedikit sebanyak membuka mata dan pikiran tentang rumah Allah SWT yang harus selalu terbuka luas untuk umat-Nya. Mudah-mudahan kisah ini menjadi pelajaran buat kita semua

Inilah jawabannya kenapa Islam masih tidak berkembang di Korea Selatan. Harris tiba di Seoul Station tepat jam 04:32 pagi dan melanjutkan perjalanan ke Yongsan Station untuk menaruh tas bawaan. Dia memang punya rencana kembali ke stasiun tersebut petang nanti.

Setelah menaruh tas bawaan di Yongsan Station, Harris bergegas ke Itaewon Station dengan harapan dapat salat berjamaah Subuh di Masjid Itaewon.

Setelah berputar-putar di kota Itaewon yang suhunya mencapai -7 derajat Celcius, Harris belum juga menemukan Masjid Itaewon. Hingga jam 07:15, Harris belum juga menemukan masjid hingga bertemu seorang perempuan Korea yang sepertinya akan berangkat kerja.

"Itaewon Mosque?", tanya Harris, yang dijawab perempuan itu, "Islam Temple? This way and turn right."

Tepat jam 07:30 Harris sampai di Masjid Itaewon. Tak tahu kenapa dia ingin menangis macam melihat Kabah, mungkin karena sudah terlalu letih dan kedinginan.

Dan, di sinilah timbulnya kekecewaan Harris. "Aku punya semangat ingin salat di Masjid Itaewon, bahkan dari Seoul Station aku sudah ambil wudu."

"Satu demi satu anak tangga masjid aku naiki, tak henti-henti mengucap Alhamdulillah. Kemudian terlihat dua orang di depan pintu masjid sedang mengobrol. Seorang warga Korea dan satu lagi seperti orang Pakistan. Mungkin mereka imam dan muazin."

Setelah Harris memberi mereka salam, tiba-tiba salah seorang dari mereka (yang orang Korea) memberitahu bahwa masjid tutup. Harris terkejut.

"Aku katakan 'Subuh prayer'. Dia menjawab 'okay, pray only'. Aku pun melangkah masuk masjid, memang kosong dan yang paling menyenangkan di dalam hangat. Aku lihat ada 2 sajadah di ruang depan, mungkin mereka berdua saja yang salat subuh di masjid pagi ini."

Setelah selesai salat, Harris membuka smartphone dan membaca Alquran, dimulai dari surat An-Nisa ayat 1. Ketika tengah asyik membaca ayat 37, tiba-tiba orang Korea tadi masuk dan menyuruh Harris keluar.

Harris mengira itu hanya gurauan, ternyata memang benar disuruh keluar. Harris hanya bisa pasrah, tapi Harris ingin menuntaskan ayat 37 yang tergantung tadi. Sayangnya, tidak bisa.

Pria Korea itu mengunci pintu masuk yang paling dekat dengan Harris. Dia juga menarik Harris ke dekat pintu dan dengan nada marah menyuruhnya pergi, "Get Out! We are closing!"

Harris hanya bisa memandang mukanya dan rasa-rasanya ingin pukul pria itu. Harris bahkan tak sempat memasang sepatu karena pria itu terus berteriak 'get out!'

Selesai memasang sepatu dalam suhu yang dingin itu, Harris melanjutkan kembali perjalanan ke Itaewon Station sambil menyeka air mata. "Akulah orang yang paling kecewa hari ini," katanya.

Inilah kekecewaan terbesar Harris terhadap Islam di Korea Selatan. Ternyata, gelar 'Islam Temple' terhadap masjid di Korea merupakan kesalahan besar. Karena masjid memang hanya sekadar kuil di mata rakyat Korea dan tempat wisata.

Kebetulan sehari sebelumnya, Harris pergi ke Haedong Yonggusa Temple dan tidak diusir. Dan hari itu, dia pergi ke masjid, dihalau seperti anjing kurap.

Inilah jadinya bila rumah Allah dibuat seperti rumah sendiri, sedang Allah paling senang menerima tamu di rumah-Nya yang bersih lagi suci untuk beribadah. Kita manusia malah mengusir dan melarang orang ke masjid pada waktu-waktu tertentu. Tidak heran orang Korea menyebut masjid Islam Temple.

"Dan bagi aku, inilah salah satu penyebab Islam lambat berkembang di bumi Korea. Bukanlah niatku untuk memperburuk masjid, tetapi sebagai pelajaran juga buat seluruh masjid di Malaysia," katanya.



Sumber :dream.co.id
Bermula dari Protes Suara Masjid yang Terlalu Berisik, Sejumlah Wihara Dirusak Massa!

Bermula dari Protes Suara Masjid yang Terlalu Berisik, Sejumlah Wihara Dirusak Massa!


Akibat sikap kurang toleran dari etnis tertentu membuat aksi perusakan kian merajalela. Sebanyak delapan wihara yang berada di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara dirusak warga pada Jumat malam 29 Juli.

Dilansir CNN Indonesia, peristiwa berawal dari salah satu warga yang protes karena merasa terganggu dengan suara dari rumah ibadah masjid yang berada tepat di depan rumahnya. Dari sini, kerusuhan pun terjadi. Massa yang mengetahui kejadian tersebut langsung marah dan bertindak anarkis.


Tak berapa lama setelah aksi protes tersebut, pengurus tempat ibadah masjid mendatangi rumah warga untuk membicarakan soal protes yang dilakukannya. Warga tersebut dan suaminya pun segera diamankan ke Polsek Tanjung Balai Selatan.

Emosi warga kian tak terbendung karena dipicu postingan seorang netizen yang menyebutkan tentang sikap protes aktivitas agama tersebut, beberapa kelompok masyarakat di Tanjung Balai kemudian berkumpul dan mendatangi rumah pelaku. Massa awalnya sempat membubarkan diri, namun karena masih tersulut emosi mereka kembali ke rumah pelaku dan ingin membakar rumahnya. Beruntung aksi tersebut tak jadi dilakukan.


Karena massa sudah semakin banyak dan semakin emosi, massa lalu bergerak menuju Wihara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Massa kemudian berupaya membakar wihara namun dihadang oleh personel Polres Tanjung Balai. Lalu dilakukan pelemparan dengan menggunakan batu sehingga wihara tersebut mengalami kerusakan. Tidak berhenti disitu saja, massa yang semakin emosi kemudian mendatangi wihara lain di kota Tanjung Balai. Akibat kerusuhan tersebut, sebanyak delapan wihara dilaporkan dirusak warga.

Aksi pembakaran dilakukan oleh sejumlah pemuda.


Aksi perusakan sejumlah tempat ibadah terjadi di Kota Tanjung Balai ini dilakukan sejumlah pemuda sekitar pukul 23.00 WIB. Kabid Humas Polda Sumatera Utara Kombes Rina Sari Ginting mengatakan bahwa aksi pengrusakan ini terjadi begitu saja.

Detail kejadian awalnya adalah seorang warga Tionghoa bernama Meliana (41) meminta untuk menegur Nazir Almakshum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid. Menurut Nazir, teguran tersebut telah disampaikan beberapa kali.


Lalu sekitar pukul 20.00 WIB, Nazir menemui Meliana di kediamannya. Ketika itu terjadi cek-cok mulut sehingga suasana memanas. Nazir pun langsung diamankan ke kantor lurah setempat. Meliana dan suaminya dibawa ke Polsek Tanjung Balai Selatan.

Setibanya di Polsek Tanjung Balai Selatan dilakukan pertemuan yang melibatkan Ketua Majelis Ulama Indonesia Tanjung Balai, Ketua FPI Tanjung Balai, Camat dan sejumlah tokoh masyarakat. Ketika pertemuan tersebut, massa mulai menumpuk dari berbagai elemen dan melakukan orasi. Semuanya sudah diminta untuk membubarkan diri. Bukannya membubarkan diri, jumlah massa semakin banyak. Rina menyebutkan hal ini dikarenakan adanya pancingan dari media sosial Facebook.

Massa yang begitu banyak itu kemudian melakukan tindakan anarkis di luar kendali polisi. Mereka merusak dan membakar sejumlah wihara yang ada di kota itu. Polisi yang jumlahnya saat itu tidak seberapa tak mampu berbuat banyak karena massa begitu brutal dan anarkis di sejumlah titik kota.


Sumber :idntimes.com
Kisah: Keajaiban Doa Ibu Menurut Rasulullah saw

Kisah: Keajaiban Doa Ibu Menurut Rasulullah saw


Wartaislami.com ~ Ibu adalah penentu keberuntungan seorang anak. Ia bagai cahaya yang terang dalam rumah tangga. Surga berada dibawah telapak kakinya dan kerelaan Allah pun bergantung pada kerelaannya. Setiap dari kita mungkin pernah merasakan ditinggal oleh seorang ibu. Ditinggal pergi keluar kota atau ditinggal selama-lamanya. Seketika rumah yang biasanya terang kini nampak gelap dan suram. Karena ibu adalah matahari yang tak pernah bosan menyinari anak-anaknya.

Allah pun menempatkan posisi ibu begitu tinggi di sisi-Nya. Bahkan Dia menggandengkan perintah tauhid dengan perintah berbakti kepada orang tua.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً -٢٣-

“Dan Tuhan-mu telah Memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS.Al-Isra’: 23)



Bahkan dalam masalah bakti kepada orang tua, Allah selalu Menyebut ibu terlebih dahulu sebelum ayah.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ -١٤-

“Dan Kami Perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS.Luqman 14)



Kisah

Suatu hari, Rasulullah saw sedang duduk berbincang dengan para sahabatnya. Lalu datanglah seorang pemuda untuk menghadapnya. Rasul pun mempersilahkan, lalu pemuda itu berkata, “Wahai Rasulullah, tolong doakan aku ! Aku sudah tak mampu lagi menahan beban dan berbagai masalah yang kuhadapi.”

Rasulullah bertanya, “Apakah kau masih memiliki orang tua?”

Ia menjawab, “Ibuku telah meninggal tapi ayahku masih hidup.”

Rasul pun menjawab, “Mintalah doa kepada ayahmu !”

Pemuda itu menerima perintah dari Rasulullah dan langsung pergi menemui ayahnya. Setelah ia keluar, Rasulullah bersabda dihadapan sahabatnya.

“Andai ibunya masih hidup maka semua masalahnya akan selesai.”

Sungguh beruntung setiap anak yang masih memiliki ibu. Jangan sia-siakan keberuntungan besar yang masih kita miliki. Bahagiakan ibu, buat ia tersenyum karena kita. Karena senyumannya adalah doa yang paling mustajab bagi anak-anaknya.

Source: www.khazanahalquran.com
Inilah Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW

Inilah Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW


Jihad dengan peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah Muhammad SAW adalah peperangan untuk mempertahankan hak kehidupan masyarakat Muslim yang diserang lebih dahulu. Selain itu perang juga dilakukan untuk membela kaum yang lemah.

Ini berbeda pada zaman sekarang di mana soal keamanan dunia sudah diatur oleh PBB sehingga tidak mungkin lagi terjadi penyerangan terhadap umat Muslim seperti pada masa dahulu.

Demikian disampaikan Prof Dr Ahmed Ad-Dawoody dalam diskusi Tashwirul Afkar yang digagas Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) bertajuk Tantangan Hukum Humaniter Internasional dan Hukum Islam tentang Konflik Bersenjata Kontemporer di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (29/7) sore.

Ahmed memaparkan hal yang perlu ditunjukkan umat Islam adalah mempertahankan esksistensi diri umat Islam, namun bukan untuk menyerang kaum non-Muslim. Tentang jihad banyak ayat yang membicarakan dalam perspektif hukum Islam. Salah satunya pada Al-Quran Surat At-Taubah ayat 9.

Sayangnya, kata Ahmed, para penafsir melakukan hal yang mereka anggap sebagai aksi jihad melihat ayat ini hanya secara sepotong-sepotong. Padahal dalam menafsirkan suatu ayat seseorang harus paham tata aturan bahasa Arab dan aturan penafsiran lainnya. Itu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.

Ahmed menambahkan, suatu hukum harus menyesuaikan waktu (masa) dan tempat. Aturan tentang perang juga perlu mengaitkan dengan disiplin ilmu lainnya.

Aturan hukum tentang perang menjadi hal yang penting dalam hubungan umat Islam baik dengan sesama umat Islam, umat Islam dan non-Muslim, umat Islam dalam suatu negara, dan antarnegara. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)  via nu online
MBAH MAIMUN: KONFERENSI BELA NEGARA PARA ULAMA MENYATUKAN KEKUATAN LAHIR DAN BATIN

MBAH MAIMUN: KONFERENSI BELA NEGARA PARA ULAMA MENYATUKAN KEKUATAN LAHIR DAN BATIN


Wartaislami.com ~ Pekalongan (28/07) – KH Maimun Zubair, salah seorang tokoh ulama kharismatis pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, menyatakan harapan optimis atas pelaksanaan Konferensi Internasional Bela Negara yang diselenggarakan selama tiga hari (27-29 Juli) di Pekalongan.

Beliau sampai di lokasi penginapan pada Selasa sore, kemudian melanjutkan ramah tamah di kediaman Habib Luthfi bin Yahya. Kemudian paginya, Rabu (27/07) beliau mengikuti pembukaan konferensi di Gedung Junaid, Buaran, Pekalongan.

Dalam sebuah kesempatan di kamar penginapan,Tim Media Jatman Event sempat menanyakan pendapat Mbah Maimun –demikian beliau disapa- tentang urgensi konferensi para ulama sufi ini. Berikut ini pernyataan dari beliau;

“Saya mengharapkan agar tidak terjadi apa yang disebut dengan fanatik ashobiyyah. Tetapi Islam bangkit dari hal-hal yang kadang menimbulkan pertentangan.

Nabi ‘lahir’ didukung oleh Bani Hasyim dan Bani Mutthalib, tetapi kebangkitan Islam (secara meluas ke berbagai negeri) terjadi di masa sahabat, ada Muhajirin dan ada Anshar. Padahal para sahabat Muhajirin dan Anshar dengan Bani Hasyim kadang timbul perselisihan. Untuk itulah Islam membutuhkan pandangan yang luas, tidak sempit.

Lebih-lebih di Indonesia, harus lepas dari teroris dan aliran-aliran keras.

Keamanan itu penting, kalau di dalam Al-Qur’an; Wattiini wazzaytuuni wa thuuri siiniina wa haadzal BALADIL AMIIN (Demi buah Tin dan buah Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota ini yang aman).

Barangkali dengan ini para ulama bisa mengamankan, bersama menteri pertahananan, yang bisa menyatukan antara kekuatan lahir dan kekuatan batin.”

Demikian pandangan dan harapan dari beliau, bisa juga disaksikan di link video ini; JATMAN 2016 Sebagai Awal Kebangkitan Islam

Source: www.jatmanevent.id
Masya Allah, Menteri ESDM Baru Ternyata Guru Mengaji di AS, Lihat Videonya

Masya Allah, Menteri ESDM Baru Ternyata Guru Mengaji di AS, Lihat Videonya


Wartaislami.com ~ Isu reshuffle sudah menyeruak sejak beberapa waktu lalu. Namun baru di penghujung Juli ini Presiden Joko Widodo akhirnya mengumumkan perombakan susunan Kabinet Kerja. Beberapa nama yang sudah tak asing lagi di jagat pemerintahan seperti Sri Mulyani dan Wiranto kembali hadir mengisi struktur kementerian.

Namun beberapa nama baru yang tak banyak diketahui publik juga muncul. Dan salah satu yang menarik perhatian adalah sosok Dr Archandra Tahar yang dipilih untuk menggantikan Sudirman Said sebagai Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Nama Archandra Tahar bisa dibilang tak terlalu terkenal bagi publik Indonesia. Ia bahkan belum pernah menduduki jabatan strategis di BUMD atau BUMN manapun di tanah air. Lantas keistimewaan apa yang dimiliki figur yang satu ini hingga Presiden Jokowi memilihnya sebagai Menteri ESDM?

Archandra Tahar adalah ahli perminyakan yang telah memiliki tiga hak paten di bidang pengembangan migas lepas pantai. Di antaranya, teknologi McT (Multi Column TLP) Floating Platform yang kini digunakan oleh Pertamina di L-Parigi, Cimalaya, Karawang.

Sebelumnya ia tak banyak dikenal masyarakat Indonesia lantaran tinggal dan berkiprah di Amerikat Serikat. Archandra merupakan lulusan S1 Teknik Mesin ITB. Setelah lulus pada 1994, ia bekerja di Andersen Consulting. Dua tahun berikutnya ia melanjutkan kuliahnya ke jenjang S2 di Texas A&M University Ocean Engineering, Amerika Serikat. Dan kemudian meneruskan ke jenjang S3 di universitas yang sama.

Di tahun-tahun berikutnya, ia melanglang buana di Negeri Paman Sam dan menjadi konsultan di berbagai perusahaan internasional. Terakhir, ia menjadi Presiden Petroneering, sebuah perusahaan konsultan migas yang didirikannya.

Meski selama ini menetap di Amerika, Archandra kerap berkontribusi menyumbangkan tenaga dan ide untuk tanah air. Ia merupakan sosok di balik keberhasilan Presiden Jokowi menarik kembali Blok Masela agar dikuasai Indonesia, dengan memutuskan eksplorasi harus dilakukan  onshore  bukan  offshore.

Tak hanya memiliki segudang prestasi dan kontribusi di bidang perminyakan, ternyata doktor yang satu ini juga dikenal sebagai sosok muslim yang taat. Ia aktif dalam dunia dakwah dan pendidikan keagamaan. Bahkan, di tengah aktivitasnya yang padat, Archandra masih secara rutin mengajar ngaji.

Di Amerika Serikat, Archandra aktif berdakwah dan menjadi guru mengaji di Islamic Family Academy (IFA) Houston. IFA Academy Houston adalah organisasi yang digagas oleh komunitas muslim di Amerika Serikat sejak tahun 2006. Lembaga nirlaba ini aktif melayani bimbingan ibadah dan ke-Islam-an, khususnya kepada anak-anak.

Sebagai salah seorang pendiri IFA, secara rutin setiap hari Sabtu, Archandra bersama istrinya turun tangan langsung mengajarkan anak-anak secara sukarela membaca Alquran dan memberi kajian tentang Islam.

Ini Video Archandra Tahar Mengajar Ngaji :


Sumber :dream.co.id
Cak Nun: Puncak Agama adalah Keindahan

Cak Nun: Puncak Agama adalah Keindahan


Wataislami.com ~ Mustofa W. Hasyim,  penulis puisi hingga cerita anak-anak sejak tahun 70-an ini, kembali tampil bersama Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng di Mocopat Syafaat, Bantul (17/7). Bahasanya sederhana, kultural, sarat makna, namun tak jarang mengundang tawa setiap tampil membacakan puisinya. Apalagi, salah satu anggota dewan kebudayaan kota Yogyakarta ini, dikenal dengan gayanya yang gagap.

“Indahnya Pak Mustafa di situ. Bayangkan kalau tidak gagap, kan tidak indah,” kata Cak Nun memuji penyair yang telah lama dia kenal itu.

Keindahan, menurut Cak Nun, bukan sebatas apa yang tampak oleh kasat mata. Keindahan begitu luas. Lebih luas daripada kebenaran, lebih luas dari kebaikan, katanya

“Itulah keindahan. Puncak Agama adalah keindahan. Kalau engkau tidak bisa menemukan keindahan di dalam hubunganmu dengan Allah, hubunganmu dengan sesama manusia, maka engkau hanya tulang belulang di kehidupan.”

Dalam kesempatan berbeda, penulis ‘Lautan Jilbab’ ini juga sempat mengurai gradasi nilai kebaikan, kebenaran dan keindahan. Orang yang berniat shalat itu sudah dinilai baik, tapi agar shalatnya sah atau benar ia harus mengikuti fikih. Orang yang punya niat dan telah benar cara shalatnya, belum tentu diterima shalatnya, apalagi jika hatinya tidak khusyu. Nah, ketika terjadi hubungan intim antara hati yang shalat dan Sang Kekasih, itulah keindahan.

Tanpa menemukan keindahan yang ‘pasca-indra’ ini, bagi Cak Nun manusia hanyalah tulang belulang dari kehidupan. Padahal, “engkau bukan hanya tulang belulang, bukan hanya anatomi, (tapi) engkau juga darah dan daging, engkau juga aliran darah, engkau juga urat saraf,  engkau juga getaran-getaran, engkau juga adalah cinta, dan cinta itu tidak ada bendanya.”

Jika cinta itu ada bendanya, dimanakah bendanya cinta? Apakah di hatimu? Tidak bisa, katanya. Seperti ombak di lautan, ketika seseorang diminta untuk mengambilnya, yang bisa diambil hanya air, bukan ombak.

“Maka jangan dipikir hidup itu hanya air laut itu. Jangan dipikir hidup itu hanya yang engkau bisa lihat. Namun hidup adalah yang berpendar-pendar di atas panca indra.”

Source: www.islamindonesia.id
Habib Luthfi: Sampai Kapan Umat Islam Terus Ribut Masalah Khilafiyah?

Habib Luthfi: Sampai Kapan Umat Islam Terus Ribut Masalah Khilafiyah?


Wartaislami.com ~ Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan keynote speech pada sesi seminar dengan pemateri Syekh Muhammad Al-Syuhumi (Libya) dan Syekh 'Aun Mu'in Al-Qaddumi (Yordania) serta dimoderatori Habib Ali Al-Bahr dalam Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela Negara, Rabu (27/7) di Hotel Santika Pekalongan.

Pengasuh Majelis Dzikir dan Shalawat Khanzuz Pekalongan ini mengatakan bahwa strategi dakwah di setiap negeri-negeri Islam jelas berbeda. Terikat pada jenis madzhab yang dipegang oleh tiap negara tersebut. Tiap negara punya kekurangan dan kelebihan. Di antara negara itu sendiri terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa, adat istiadat yang berbeda.

“Peranan apa yang harus kita lakukan di dalam dakwah bagi negeri masing-masing? Apakah bisa kita mampu membangun intelektualitas, terutama berdasar Qur’an dan Hadits yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan masa kekinian,” urai Habib Luthfi.

Kalau kita bicara tentang khilafiyah, lanjutnya, tentu akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Kita melulu bertikai tentang Hanafi, Hanbali, Syafi'i. Sampai kapan? Kita berputar-putar dalam perdebatan, sementara negeri lain sudah maju. Baik dalam ilmu kedokteran, pertanian, nuklir, teknologi, belum lain-lainnya. “Padahal semua ilmu tersebut ada di dalam kitab suci kita sendiri, Al-Quran,” tegasnya.

“Betapa lucunya, ketika kita makan obat, kita baca bismillah. Sedangkan yang membuat obat tersebut mungkin tidak paham apa itu bismillah. Bagaimana kita bisa demikian? Lalu sampai kapan kita akan terus menerus bertengkar tentang perbedaan,” imbuhnya.

Dengan begitu, menurut Habib Luthfi, fakultas terbesar dalam kedokteran harusnya ada di Indonesia, Suriah, atau di mana pun negara kaum muslimin. Sampai kita harus paham ilmu atom, ilmu-ilmu sains lain, yang semuanya sebenarnya ada di dalam Qur’an. “Saya selalu saja sedih jika mendengar pertikaian pendapat umat Islam atas hal-hal khilafiyah. Kita malu. Malu kepada siapa? Kepada Allah dan Rasulullah. Ini suatu pukulan yang harus kita sadari,” tuturnya.

“Maka kami harapkan konferensi ini menghasilkan manfaat, berupa kesadaran dan gerakan tentang peran besar kaum muslimin dengan sebaik-baiknya, yang bisa kita bawa kembali ke tempat masing-masing. Karena hal tersebut merupakan bentuk bela negara,” tandas Habib Luthfi. (Fathoni)


Sumber : nu online
ULAMA TAREKAT DAN BELA NEGARA

ULAMA TAREKAT DAN BELA NEGARA

Wartaislami.com ~ Sering kita dengar banyak orang yang salah dalam memahami arti bela negara. Kebanyakan mereka mengasumsikan bela negara dengan kewajiban militer. Rakyat diorganisir, dilatih, diberi seragam dan dipersiapkan untuk berperang melawan bangsa lain.

Bela negara masih diidentikan dengan tentara dan perang. Atau bela negara diartikan hanya sebatas  melawan musuh, menjaga batas territorial, dan mewujudkan keamanan dan keselamatan seluruh warga negara saja. Pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya salah. Memang itu juga bagian dari bela negara, atau bela negara dalam arti sempit.

Padahal arti bela negara itu sendiri sangat luas. Membangun ekonomi nasional itu termasuk bela negara. Memberantas narkoba juga bagian dari bela negara, karena narkoba merusak otak dan syaraf generasi muda, anak-anak bangsa. Bagaimana generasi yang akan datang bisa membangun negara kalau mereka dirusak mental dan otaknya.

Kita mencintai hasil karya produksi dalam negeri, hasil karya bumi pertiwi, kita tingkatkan buah-buahan Indonesia supaya setaraf dengan buah-buahan dari luar negeri, kita punya kefanatikan tidak memberikan income kepada orang lain, tapi kami berikan kepada saudara kami sebangsa terlebih dahulu, itu juga bagian dari bela Negara. Sangat luas.

Tidak harus dengan sesama Muslim, saling membantu dengan non-Muslim pun kita termasuk bela negara. Yang non-Muslim, meski mereka beda agama, tapi tetap saudara sebangsa dan setanah air. Kalau mereka sesama Muslim, berarti mereka saudara kita: saudara seagama, sebangsa dan setanah air.

Mereka –saudara yang non-Muslim- kalau sakit, kami pun berusaha merasakan itu sakit, karena mereka saudara sebangsa setanah air kami.

Nah, bagaimana kita menguntungkan perdagangan sebangsa setanah air kita dulu. Untuk apa, ya untuk negara dan bangsa ini. Kalau kita berpikir mengutamakan beli dari Malaysia dulu karena di sana mayoritas Muslim, oke. Tapi berilah keuntungan negara kami terlebih dahulu.

Meninggalkan korupsi termasuk bela negara. Dengan meninggalkan korupsi, kita sudah membantu masyarakat dan bangsa dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Bela negara juga dapat dilakukan degan cara melindungi warga dari berbagai model pemikiran dan pemahaman yang menyebabkan timbulnya perpecahan, disintegrasi, pengkafiran dan pelanggaran terhadap hak orang lain. Sebab pemikiran yang melenceng punya kecenderungan untuk melakukan pengrusakan, penumpahan darah, perampasan harta dan merendahkan harkat kehormatan manusia yang lain.

Pemikiran dan pemahaman yang melenceng ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan tentara asing yang merebut tanah air kita.

Arti bela negara memang sangatlah luas. Termasuk para kiai mendidik para santri untuk mempersiapkan mental generasi mendatang, para ulama tarekat melestarikan ajaran salafus shalih di tengah masyarakat, semua termasuk ke dalam bingkai bela negara. Pokoknya apa saja yang bernilai sumbangsih dalam membangun dan mengokohkan negara ini, termasuk bagian dari  bela negara. Dan ini hukumnya wajib bagi setiap kita sebagai anak bangsa.

Nasionalisme Ulama

Jangan diragukan lagi nasionalisme para ulama. Mereka, terlebih ulama tarekat, sudah sangat jelas keberpihakannya pada negara ini. Bahwa mereka para ulama, para habaib, para mursyid, para kiai, secara lahir batin mencintai negara ini dengan setulus hati. Bukti-bukti sejarah tidak bisa dibantah lagi. Mereka tidak pernah bughat (memberontak). Justru mereka rela berkorban untuk negeri ini.

Bahkan diakui oleh Belanda, salah satu pilar utama kekuatan bangsa ini sehingga sulit ditaklukkan sepenuhnya adalah karena kuatnya ngaruh ulama tarekat di tengah masyarakat.

Perang besar di Surabaya pada 10 November 1945 - insya Allah - tidak akan terjadi sedahsyat itu dan rakyat  tidak akan berani senekad itu, kalau tidak ada semangat perjuangan yang dikobarkan oleh para uiama lebih-lebih para ulama tarekat.

Para ulama yang memberi gemblengan batin untuk berani mati syahid adalah para pengamal tarekat Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai subchi Parakan yang ahli suwuk bambu runcing, Pangeran Diponegoro, adalah para pengamal tarekat. Bahkan Pangeran Diponegoro adalah seorang mursyid tarekat.

Kesetiaan para ulama tarekat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini di era sekarang juga dapat dilihat dari keputusan mereka yang dikenal dengan Sembilan Konsensus Ulama Thariqah yang diputuskan di Pekalongan pada 16 Januari lalu. Betapa mereka sangat mencintai negeri ini.

Pada keputusan keempat misalnya, mereka meyakinl bahwa bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan al-Quran dan al- Hadits. Sedangkan keputusan ketujuh, mereka menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama.

Para ulama tarekat menyadari, aksi terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama, selain berpangkal pada keyakinan yang salah pada ajaran agama itu sendiri, seringkali juga disebabkan dari kepentingan dan hawa nafsu pribadi ataupun pimpinan kelompok mereka. Padahal ajaran agama itu sendiri adalah santun dan membawa kedamaian bagi umat dan alam semesta.

Pentingnya tanah air, dalam pandangan ulama tarekat, dapat kita lihat dari syair Iraq yang dibacakan oleh Habib Ali al-Bahar seusai pembacaan konsensus. "Kalau kita kehilangan emas, kita bisa mendapatkannya kembali di pasar emas. Kalau kita kehilangan kekasih, tahun depan kita bisa bertemu kekasih kembali. Tapi kalau kita kehilangan tanah air, di mana kita bisa mendapatkannya?"

Itulah sikap kita para ulama tarekat. Sampai kapan pun akan tetap setia kepada tanah air kita. Karena dengan adanya tanah air yang merdeka, kita bisa beribadah dengan bebas. Di atas tanah air ini pula kita dapat melakukan dakwah dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah dengan damai. Kita benar-benar mencintai tanah air dan bangsa kita ini. Kalau ada pihak-pihak lain yang merugikan bangsa ini, tentu kita tidak akan tinggal diam. Semoga tulisan ini bermanfaat.

*Rais Am Jam'iyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah, dimuat di Majalah AULA, hal. 54-55, edisi Juli 2016.




Sumber : santrionline.net
Gus Mus: Tuhan, Islamkah Aku?

Gus Mus: Tuhan, Islamkah Aku?


Kamis malam (28/1) bertempat di Gedung kesenian Jakarta, KH Mustofa Bisri menerima tantangan dari pianis senior Jaya Suprana. Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang itupun tak mengelak. Tantangan pendiri Musium Rekor Indonesia (MURI) itu dibalas oleh kiai yang biasa disapa Gus Mus. "Lu Semau Lu, Gue Semau Gue," katanya.

Malam itu Gus Mus kembali ke medan sastra dengan membaca beberapa bait puisi. Menurut alumni Universitas Al Azhar Mesir ini, puisi yang ia baca terbagi dalam tiga kategori, yakni sebagai warga dunia, sebagai muslim, juga sebagai warga Indonesia.

Berikut ini salah satu bait puisi berjudul "Puisi Islam" :

Islam agamaku nomor satu di dunia
Islam benderaku berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya

Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku

Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandangku
Tempat aku menusuk kanan kiri

Islam media massaku
Gaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam sana sini

Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku

Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara

Islam bursaku
Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi

Islam makananku

Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci
Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati

Islam kaosku
Islam pentasku

Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa saja

Tuhan Islamkah aku?

(Red: Zunus)

Foto: Page Facebook 'Ahmad Mustofa Bisri'.


Sumber : nu online
Inilah Semangat Mbah Maimoen Hadir di Arena Konferensi Internasional Bela Negara

Inilah Semangat Mbah Maimoen Hadir di Arena Konferensi Internasional Bela Negara


Wartaislami.com ~ Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair sudah hadir untuk mempersiapkan diri dalam kegiatan Konferensi Internasional Bela Negara di Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu-Jumat (27-29/7). Dibantu oleh panitia ketika turun dari mobil yang ditumpanginya, Mbah Maimoen tiba di Hotel Santika Pekalongan tempat yang telah disediakan oleh panitia untuk undangan VIP.

“Beliau tadi tiba sekitar pukul 15.00 WIB langsung dari Rembang ke sini menaiki mobil,” ujar Sekretaris PCNU Pekalongan H Muhtarom yang ikut mengawal proses kedatangan tamu, baik ulama nasional dan internasional.

Mbah Moen, sapaan akrabnya memang terkenal salah satu ulama sepuh di kalangan NU dan masyarakat Indonesia tetapi masih mempunyai semangat tinggi ketika berbicara urusan negara dan umat.

Hal ini dibuktikan ketika hadir di arena Muktamar Ke-33 NU di Jombang setahun lalu. Meskipun beliau hadir dengan menggunakan kursi roda namun tetap berdiri ketika sesi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa dipapah oleh siapapun, seketika itu beliau berdiri. Momen ini diabadikan oleh putri sulung Gus Dur Alissa Wahid yang menyaksikan kejadian tersebut lewat akun twitternya.

Semangat yang sama juga Mbah Moen tunjukkan ketika membakar semangat anak-anak muda NU di arena Muktamar tersebut. Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang ini memberikan materi tantangan kaum muda NU di masa depan yang semakin kompleks karena tidak hanya menghadapi kelompok-kelompok yang membahayakan keutuhan negara, tetapi juga dunia teknologi yang makin berkembang pesat. Kini semangat serupa ditunjukkan oleh ulama kharismatik itu dalam kegiatan dengan esensi Bela Negara tersebut.

30 menit setelah Mbah Maimoen hadir, Menteri Pertahanan RI Riyamizard Riyacudu juga tiba di tempat yang sama untuk membuka acara pembukaan konferensi, Rabu (27/7) yang dihadiri sekitar 65 ulama internasional dari 40 negara.

Dengan tema "Bela Negara: Konsep dan Urgensinya dalam Islam", kegiatan yang diselenggarakan oleh Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini bertujuan untuk membahas dan mengkaji optimalisasi peran elemen bangsa dan potensi sumber-sumber ekonomi untuk mewujudkan kemajuan, kesejahteraan dan kemandirian bangsa. Selain itu, membahas hubungan dan kerja sama antar-negara, serta jaringan internasional ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. (Fathoni) via nu online
Syahid Opo Sangit

Syahid Opo Sangit

Wartaislami.com ~ Setiap kali ada terduga teroris tewas, maka saat itu juga akan bertebaran berita di masyarakat yang menyebut korban mati syahid. Berbagai parameter dijadikan dasar opini, antara lain tersungging senyum di bibirnya, berkeringat, aroma wangi yang menyeruak, hingga burung merpati yang beterbangan di waktu pemakaman.

Saya teringat ketika masih aktif melaksanakan liputan di lapangan pernah mewawancarai petugas kamar jenazah. Menjadi tugas mereka pada proses pemulasaran melakukan make up mayat sehingga tampak lebih segar dipandang, dan menaburkan wewangian untuk mengurangi aroma busuk. Jadi, jika ada jenazah yang tampak tersenyum atau menebarkan aroma wangi belum tentu si mayat mati dalam kondisi syahid.

Definisi paling mudah untuk syahid adalah kematian yang datang pada saat membela agama Allah SWT. Umat Islam mengenal Hadis Riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang menyebut ada 6 (enam) keistimewaan yang didapatkan orang-orang yang mati syahid, yaitu diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur keluar, melihat tempatnya di dalam surga, dilindungi dari azab kubur, terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memberikan syafaat bagi 70 orang kerabatnya.

Melihat seluruh keistimewaan untuk orang yang mati syahid, saya berpendapat itu adalah hak prerogatif Tuhan untuk memberikannya, dan terlalu berani jika ada manusia yang menilainya. Artinya, syahid atau tidak kematian seseorang adalah keputusan Tuhan.

Sangit

Saya teringat dengan guyonan yang ada di masyarakat, khususnya di Jawa, ketika ada seseorang yang ramai dikabarkan mati syahid, yaitu "mati syahid opo sangit?" (mati syahid apa sangit?). Saya tidak akan mengulas lagi definisi syahid untuk menjelaskan kalimat guyonan tersebut. Lalu, bagaimana dengan makna sangit?

Sangit adalah salah satu kata dalam bahasa Jawa yang berarti aroma yang ditimbulkan akibat kebakaran. Tidak ditemukan kata sangit dalam bahasa Indonesia, namun terdapat istilah Walang Sangit yang bisa didefinisikan, yaitu jenis belalang yang menjadi hama dalam pertanian padi. Wikipedia menjelaskan, Walang Sangit bekerja menghisap cairan tanaman dari tangkai bunga (paniculae) dan juga cairan buah padi yang masih pada tahap masak susu sehingga menyebabkan tanaman kekurangan hara dan menguning (klorosis), dan perlahan-lahan melemah.

Melihat definisi sangit dalam konteks Walang Sangit, tentu bukan sebuah sifat positif. Walang Sangit adalah hama yang menyerang tanaman padi sehingga mengakibatkan kematian yang bisa berujung gagal panen dan kerugian.

Tidak ada korelasi apapun antara syahid dan sangit. Tapi guyonan di masyarakat (Jawa) itu setidaknya menjadi gambaran bagaimana seseorang bisa dikategorikan mati syahid apa sangit. Terlepas bahwa penentuan syahid adalah hak prerogatif Tuhan, setidaknya bisa diketahui jika seseorang yang selama hidupnya berbuat kebaikan maka layak diganjar kematian syahid. Sebaliknya, jika kehidupan seseorang selalu diisi dengan perbuatan jahat, bahkan kematian datang ketika masih melakukan kejahatan, maka tak salah jika muncul anggapan dia mati sangit.

Jika guyonan "syahid opo sangit" ini kita terapkan pada kasus kematian terduga teroris, perlu kita lihat terlebih dahulu bagaimana korban semasa hidupnya. Yang terbaru misalnya, Santoso, dia dikenal sebagai pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok yang sudah menyatakan berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Catatan di kepolisian menunjukkan Santoso memiliki riwayat kejahatan yang tidak sedikit, antara lain penembakan di salah satu bank di Palu, Sulawesi Tengah, pembunuhan terhadap beberapa anggota kepolisian, peledakan bom di markas kepolisian, dan pembunuhan warga sipil di sejumlah desa di Sulawesi Tengah.

Sekali lagi, kita tanggalkan dulu penentuan status syahid adalah hak prerogatif Tuhan, pantaskah dengan catatan kejahatan tersebut terduga teroris (Santoso) disebut mati syahid? Jika ada yang menyebut Santoso tengah berjuang di jalan Tuhan, agama apa yang membenarkan seorang penganutnya melakukan pembunuhan?

Kita semua tentu sepakat, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghuchu, dan atau aliran agama apapun, sama sekali tidak mengajarkan pembunuhan bisa dilakukan sebagai pembenaran atas sebuah tindakan.

Glorifikasi

Indonesia sudah mengadopsi keputusan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menyebut terorisme adalah extraordinary crime. Dibutuhkan sebuah penanganan khusus untuk kejahatan tersebut. Dewan Pers juga sudah menetapkan hal serupa dan menerbitkan Pedoman Peliputan Terorisme, rambu-rambu bagi pelaku Jurnalistik dalam melaksanakan peliputan isu-isu terorisme.

Salah satu poin dalam Pedoman Peliputan Terorisme adalah larangan melakukan glorifikasi, yaitu mengagung-agungkan sosok terduga pelaku terorisme dengan tujuan mencegah masyarakat pembaca berita memiliki opini positif kejahatan tersebut dan melakukannya di kesempatan lainnya.

Membuat dan menyebarluaskan kabar kematian terduga teroris syahid dengan segala parameternya adalah bagian dari glorifikasi. Semua Jurnalis harus sadar dan menghindarinya, sementara masyarakat pembaca sudah semestinya terliterasi sehingga menghindari mem-viral kabar dimaksud di media sosial.

*) Samsul Hadi adalah Koordinator Bidang Media Massa, Hubungan Masyarakat, dan Sosialisasi Sub Direktorat Kewaspadaan Direktorat Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

(Detic.com/Abdul Wahab)


Raih Berkah Bisnis Tempe dengan Filosofi Dzikir

Raih Berkah Bisnis Tempe dengan Filosofi Dzikir


Wartaislami.com ~ Kendati baru sekitar satu tahun merintis dari nol dalam usaha memproduksi tempe, kini Abdullah (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda santri yang kedua orang tuanya telah tiada ini sudah bisa merekrut dua karyawan. Dengan dibantu dua orang tersebut, sekarang saban harinya pemuda kelahiran Temanggung 1985 ini sudah berani mengolah sedikitnya 50 kilogram kedelai untuk diproses menjadi tempe. Saat jumlah kedelai yang diolahnya baru lima kiloan di awal-awal membuka usaha dia mengerjakan sendiri semua proses kerja pembuatan tempenya itu, mulai dari belanja kedelai di pasar, mematangkan kedelai, meracik campuran ragi, hingga mendistribusikannya ke konsumen.

Munculnya inspirasi membuka usaha produksi tempe ini tidak ia peroleh dari pelatihan atau pembinaan dari suatu instansi tertentu, melainkan atas penemuan kesadarannya sendiri setelah beberapa tahun lamanya dirinya ditempa di perantauan dengan pekerjaan yang tidak pasti dan seringnya menjadi kuli bangunan. Meski tempo itu Abdullah senantiasa giat bekerja serabutan di Jakarta, dia merasa jiwanya gersang jika sepanjang tahun bekerja tanpa jeda, maka tiap bulan Ramadhan ia memanfaatkannya untuk libur bekerja, lalu sepanjang satu bulan itu ia pergunakan mengikuti ngaji pasaran di salah satu pesantren di daerah Cirebon. Saat menimba ilmu dalam momen bulan Ramadhan inilah dirinya acap mendapatkan nasihat dari kiainya supaya tahun berikutnya mencari pekerjaan di kampung halamannya saja, syukur-syukur bisa membuka suatu usaha di desanya.

Bagi alumni dari salah satu pondok pesantren di Kaliwungu Kendal ini usaha membuat tempe itu dapat disebut sebagai suatu karya juga. Oleh karena itu menurutnya dalam memproduksi tempe seyogiayanya tidak sebagaimana seorang tukang yang umumnya mekanis cara kerjanya. Melainkan perlu juga adanya penjiwaan laiknya sastrawan dalam menulis puisi atau novelnya.

"Yang dimaksud dengan penjiwaan ialah ketika mengolah dan memproses bahan mentah berupa kedelai ia niatkan bertasbih seraya membayangkan dirinya selaku khalifahnya Allah sedang menjalankan perintah mengelola ciptaan Tuhan. Berkarya membuat bahan-bahan yang masih mentah menjadi produk yang siap dinikmati orang merupakan manifestasi dari ungkapan tasbih. Berkarya dalam bidang apa saja perlu menghidupkan rasa seninya," tutur lajang yang kedua orang tuanya kini sudah tiada itu.

Yang kedua, lanjutnya,  setelah tasbih yaitu tahap tahlil. Esensi dari tahlil adalah mentauhidkan Allah. Bila diterapkan dalam konteks berkarya ialah setelah seseorang berusaha dengan maksimal menciptakan karyanya, hasil akhirnya dipasrahkan pada Allah juga. Artinya siap berhasil, siap pula gagal. Dengan demikian seorang pengusaha tidak mudah frustasi jika mengalami kegagalan, karena tugasnya berkarya sudah ia tunaikan, soal keberhasilan bukan wewenangnya tapi otoritasnya Tuhan. Dengan modal tauhid ini pula seseorang menjadi berani memulai dalam karya apa saja, dan tidak takut gagal.

"Yang ketiga istighfar. Yaitu mengevaluasi terhadap hasil produknya, membenahi kelemahahan-kelamahan dan kekurangan selama ini dan terus berusaha membuat produknya semakin baik kualitasnya dari waktu ke waktu. Itulah hakikat istighfar diterapkan dalam suatu usaha atau pekerjaan."

Bahkan, menurut Abdullah, dalam suatu usaha yang terpenting bukan seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan dari produk karyanya. Melainkan proses seni dalam berkarya itu sendirilah yang terpenting. Dalam proses pembuatan tempe tersebut misalnya, selalu ia tanamkan dalam benaknya bahwa ia tidak semata sedang bekerja mencari uang, tetapi dalam rangka melayani bagi siapa pun orangnya yang membutuhkan tempe.

Dengan konsepsi macam itu, maka dia dalam membuat tempe berusaha menghasilkan produk yang bermutu, agar para konsumen maupun dirinya sama-sama mendapatkan manfaat. Karena produk yang jelek meskipun laku dijual namun membawa kerugian para pembelinya. Dia tidak hanya berharap tempenya laku, tapi sekaligus berharap dapat memuaskan pelanggannya. (M. Haromain/Mahbib)

*) Ditulis dari kisah nyata seorang wirausahawan muda yang nama dan fotonya tidak mau dipublikasikan

Kendati baru sekitar satu tahun merintis dari nol dalam usaha memproduksi tempe, kini Abdullah (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda santri yang kedua orang tuanya telah tiada ini sudah bisa merekrut dua karyawan. Dengan dibantu dua orang tersebut, sekarang saban harinya pemuda kelahiran Temanggung 1985 ini sudah berani mengolah sedikitnya 50 kilogram kedelai untuk diproses menjadi tempe. Saat jumlah kedelai yang diolahnya baru lima kiloan di awal-awal membuka usaha dia mengerjakan sendiri semua proses kerja pembuatan tempenya itu, mulai dari belanja kedelai di pasar, mematangkan kedelai, meracik campuran ragi, hingga mendistribusikannya ke konsumen.

Munculnya inspirasi membuka usaha produksi tempe ini tidak ia peroleh dari pelatihan atau pembinaan dari suatu instansi tertentu, melainkan atas penemuan kesadarannya sendiri setelah beberapa tahun lamanya dirinya ditempa di perantauan dengan pekerjaan yang tidak pasti dan seringnya menjadi kuli bangunan. Meski tempo itu Abdullah senantiasa giat bekerja serabutan di Jakarta, dia merasa jiwanya gersang jika sepanjang tahun bekerja tanpa jeda, maka tiap bulan Ramadhan ia memanfaatkannya untuk libur bekerja, lalu sepanjang satu bulan itu ia pergunakan mengikuti ngaji pasaran di salah satu pesantren di daerah Cirebon. Saat menimba ilmu dalam momen bulan Ramadhan inilah dirinya acap mendapatkan nasihat dari kiainya supaya tahun berikutnya mencari pekerjaan di kampung halamannya saja, syukur-syukur bisa membuka suatu usaha di desanya.

Bagi alumni dari salah satu pondok pesantren di Kaliwungu Kendal ini usaha membuat tempe itu dapat disebut sebagai suatu karya juga. Oleh karena itu menurutnya dalam memproduksi tempe seyogiayanya tidak sebagaimana seorang tukang yang umumnya mekanis cara kerjanya. Melainkan perlu juga adanya penjiwaan laiknya sastrawan dalam menulis puisi atau novelnya.

"Yang dimaksud dengan penjiwaan ialah ketika mengolah dan memproses bahan mentah berupa kedelai ia niatkan bertasbih seraya membayangkan dirinya selaku khalifahnya Allah sedang menjalankan perintah mengelola ciptaan Tuhan. Berkarya membuat bahan-bahan yang masih mentah menjadi produk yang siap dinikmati orang merupakan manifestasi dari ungkapan tasbih. Berkarya dalam bidang apa saja perlu menghidupkan rasa seninya," tutur lajang yang kedua orang tuanya kini sudah tiada itu.

Yang kedua, lanjutnya,  setelah tasbih yaitu tahap tahlil. Esensi dari tahlil adalah mentauhidkan Allah. Bila diterapkan dalam konteks berkarya ialah setelah seseorang berusaha dengan maksimal menciptakan karyanya, hasil akhirnya dipasrahkan pada Allah juga. Artinya siap berhasil, siap pula gagal. Dengan demikian seorang pengusaha tidak mudah frustasi jika mengalami kegagalan, karena tugasnya berkarya sudah ia tunaikan, soal keberhasilan bukan wewenangnya tapi otoritasnya Tuhan. Dengan modal tauhid ini pula seseorang menjadi berani memulai dalam karya apa saja, dan tidak takut gagal.

"Yang ketiga istighfar. Yaitu mengevaluasi terhadap hasil produknya, membenahi kelemahahan-kelamahan dan kekurangan selama ini dan terus berusaha membuat produknya semakin baik kualitasnya dari waktu ke waktu. Itulah hakikat istighfar diterapkan dalam suatu usaha atau pekerjaan."

Bahkan, menurut Abdullah, dalam suatu usaha yang terpenting bukan seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan dari produk karyanya. Melainkan proses seni dalam berkarya itu sendirilah yang terpenting. Dalam proses pembuatan tempe tersebut misalnya, selalu ia tanamkan dalam benaknya bahwa ia tidak semata sedang bekerja mencari uang, tetapi dalam rangka melayani bagi siapa pun orangnya yang membutuhkan tempe.

Dengan konsepsi macam itu, maka dia dalam membuat tempe berusaha menghasilkan produk yang bermutu, agar para konsumen maupun dirinya sama-sama mendapatkan manfaat. Karena produk yang jelek meskipun laku dijual namun membawa kerugian para pembelinya. Dia tidak hanya berharap tempenya laku, tapi sekaligus berharap dapat memuaskan pelanggannya. (M. Haromain)

*) Ditulis dari kisah nyata seorang wirausahawan muda yang nama dan fotonya tidak mau dipublikasikan

Sumber :nu online
Gus Mus Jelaskan Dua Golongan Perusak Agama

Gus Mus Jelaskan Dua Golongan Perusak Agama


Wartaislami..com ~ Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri mengatakan, ada dua golongan yang dapat merusak agama. Pertama, orang yang berpura-pura zuhud. Kedua, berbuat kebatilan demi agama.
<>
Poin pertama kata kiai yang akarab disapa Gus Mus, bahwa ada orang yang mengaku meninggalkan dunia, tapi perilakunya malah rakus dengan harta. Ada pula yang selalu santai-santai dalam setiap perbuatannya.

“Zuhud seng bener iku wong seng menghargai awakke dewe lan nolak kerendahan, lan pakaiannya oraselalu tembel-tembelan (zuhud yang benar itu orang yang menghargai dirinya sendiri serta menolak kerendahan, bukannya malah suka memakai pakaian  compang-camping),” tuturnya saat mengaji kitab Idhatun Nasyiin di pondok pesantren Roudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Poin kedua, lanjut Gus Mus, orang yang melakukan kebatilan dengan mengatasnamakan agama.Senengane ngafir-ngafirno, bid’ahno-bid’ahno, fasiq-fasiqno wong liyo, koyo yok yok oo. (Sukanya mengkafirkan-kafirkan, mengbid’ah-bid’ahkan, mengfasiq-fasiqkan orang lain, seperti benar sendiri),” terangnya, Senin sore (7/06).

Gus Mus mengutip dari Syekh Al-Gholayaniy, agama sekarang ibarat sosok tanpa nyawa, lafal tanpa makna. Sehingga orang terkadang tidak bisa membedakan antara nafsu dan semangat agama.

“Agama itu menerangi, bukan membenci. Agama itu mengajak, bukan menyepak. Agama itu rahmat, bukan kebencian. Agama itu tidak hanya teriak Allahu akbar di pinggir jalan,” tambah putra almarhum KH. Bisri Mustofa ini.

Gus Mus mengungkapkan, bahwa tidak sedikit masyarakat awam yang tertipu dengan penampilan-penampilan orang yang mengaku tokoh agama, tetapi perilakunya jauh dari ajaran agama.

“Jangan lihat jenggotanya, jubahnya, Allahu Akbarnya, tapi lihat perilakunya,” sindirnya disambut tawa santri-santri yang mengikuti pengajian kitab menjelang berbuka puasa di pesantren setempat.

Agama yang benar, tambah Gus Mus, yakni agama yang menjadi pelita bagi peradaban dan pengamalannya sebagai pembimbing kemanusiaan. Makanya, agama dapat membuat orang bahagia, sedangkan yang bikin celaka orang adalah meninggalkan agama.

Untuk itu, Pengasuh Pondok Pesantren Roudltut Thalibin ini mengajak bercermin kepada cara dakwah Nabi dengan akhlakuk karimah, kasih sayang bukan dengan kebencian. Karena dakwah itu mengajak, bukan mentakut-takuti. “Jangan kasih jalan bagi orang-orang yang mengaku tokoh agama tapi tidak mengerti agama,” tegasnya.

Source: www.nu.or.id
Ini Pandangan Habib Umar bin Hafidz Tentang Ziarah Maqam Auliya

Ini Pandangan Habib Umar bin Hafidz Tentang Ziarah Maqam Auliya


Ada yang bertanya :

“Ya Habib, Kenapa ziarah maqam Auliya’? Sedangkan mereka tiada memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada Allah !”

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz menjawab :

“Benar wahai saudaraku, aku juga sama pegangan denganmu bahwa mereka tiada mempunyai kekuasaan apa-apa. Tetapi sedikit perbedaan ku dengan dirimu, karena aku lebih senang menziarahi mereka (para auliya’) karena bagiku mereka tetap hidup dalam membangkitkan jiwa yang mati ini kepada cinta Tuhan.”

Beliau melanjutkan:

“Tapi aku juga heran, kenapa engkau tiada melarang aku menziarahi ahli dunia, mereka juga tiada kuasa apa-apa. Malah mematikan hati. Yang hidupnya mereka bagiku seperti mayat yang berjalan. Kediaman mereka adalah pusara yang tiada membangkitkan jiwa untuk cinta pada Tuhan.”

Kematian dan kehidupan di sisi Allah adalah jiwa. Banyak mereka yang dilihat hidup tapi sebenarnya mati, banyak mereka yang dilihat mati tapi sebenarnya hidup, banyak yang menziarahi pusara terdiri dari orang yang mati sedangkan dalam pusara itulah orang yang hidup.

Aku lebih senang menziarahi maqam kekasih Allah dan para syuhada walaupun hanya pusara, tetapi ia mengingatkan aku akan kematian kerena ia mengingatkan aku bahwa hidup adalah perjuangan. Karena aku dapat melihat jiwa mereka ada kuasa cinta yang hebat sehingga mereka dicintai oleh Tuhan lantaran kebenarannya cinta.
Wahai saudaraku ziarahilah maqam auliya’, karena pada maqam mereka ada cinta, lantaran cinta Allah pada mereka seluruh tempat tinggal mereka dicintai Allah.

Cinta tiada mengalami kematian, ia tetap hidup dan terus hidup dan akan melimpah kepada para pencintanya.

Aku berziarah karena sebuah cinta mengambil semangat mereka agar aku dapat mengikuti mereka dalam mujahadahku, mengangkat tangan di sisi maqam mereka bukan meminta kuasa dari mereka, akan tetapi memohon kepada Allah agar aku juga dicintai Allah sebagaimana mereka dicintai Allah.”


Sumber :arrahmah.co.id
Ini Ngaji 12 Prinsip Hidup Islami Ala Kiai Semar Badranaya

Ini Ngaji 12 Prinsip Hidup Islami Ala Kiai Semar Badranaya


Wartaislami.com ~ Dalam sebuah kesempatan, Kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib pernah menegaskan bahwa tokoh sentral dalam panakawan yakni Semar, bukanlah badut sebagaimana yang selama ini terlanjur dikenal banyak orang. Dan karena Semar bukan badut melainkan justru gagasan tentang Nabi Muhammad, maka dia bukanlah sosok yang layak dijadikan bahan tertawaan, melainkan sebaliknya mesti dijadikan panutan, terutama oleh manusia Muslim Jawa.

Jika kita telusuri, baik dari cerita tutur turun-temurun maupun transkrip kuno, manusia Jawa percaya bahwa Semar adalah kakek moyang pertama atau perwujudan dari manusis Jawa yang pertama. Dialah sosok yang mengemban “tugas khusus” dari Gusti Kang Murbeng Dumadi  atau Tuhan Yang Maha Esa, untuk terus hadir dengan keberadaannya pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yang dia kehendaki.

Konon salah satu di antara sekian makna nama Semar adalah haseming samar-samar. Disebut demikian karena Semar dianggap samar wujudnya; dia berwajah laki-laki, tapi perawakannya seperti perempuan dengan perut dan dada besar. Rambutnya putih dengan kerutan di wajah,  menandakan dia sudah lanjut usia, namun sebaliknya, rambutnya juga berbentuk kuncung seperti umumnya ciri khas anak-anak. Bibir Semar tampak tersenyum, tapi matanya menandakan tangis. Pakaiannya sarung kawung khas para abdi, tapi di setiap saat krusial para Ksatria Pandawa, justru dari lisannya ditunggu pitutur tingkat tinggi berupa solusi.

Selain samar wujudnya, kadang samar pula pitutur dan piwulang Kiai Semar. Konon hanya manusia berakal atau mereka yang mau berpikir menggunakan akalnya lah yang akan mampu memahami, baik secara tersirat maupun tersurat setiap tuntunan yang disampaikan, baik melalui ucapan maupun tindakannya.

Di satu sisi, para mistikus Jawa menyebut Semar sebagai lambang gelap gulita, lambang misteri, lambing ketidaktahuan mutlak, yakni ketidaktahuan kita mengenai Tuhan. Namun di sisi lain, tokoh yang di kalangan para dalang juga dikenal dengan nama Kiai Lurah Semar Badranaya atau Nur Naya ini, dipercaya sebagai pemilik cahaya tuntunan khas seorang penuntun dan pemimpin, yang berkelayakan menjalankan tugas menuntun manusia dengan cahaya ilmunya, ke jalan yang benar, sesuai kehendak Tuhan.

Di antara sekian banyak tuntunan yang diajarkan Kiai Semar, berikut ini 12 prinsip hidup yang setidaknya dapat kita kaji dan ambil manfaatnya bagi kehidupan kita sebagai manusia Jawa, sekaligus umat Islam di Indonesia.

Pertama: Eling lan bekti marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Prinsip ini mengandung maksud bahwa manusia yang sadar akan dirinya hendaknya selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesempatan bagi dirinya untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini.

Kedua: Percoyo lan bekti marang Utusane Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Prinsip ini mengandung makna bahwa manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing-masing, karena sudah pasti bahwa semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah anjuran pada kebaikan.

Ketiga: Setyo marang Khalifatullah lan Penggede Negoro.

 Prinsip ini berarti bahwa setiap manusia yang tinggal di suatu wilayah, maka sudah selayaknya bahkan berkewajiban untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang dikeluarkan oleh para pemimpinnya yang baik, benar dan bijaksana.

Keempat: Bekti marang Bhumi Nusantoro.

 Prinsip ini menekankan agar setiap manusia yang tinggal dan hidup di bumi Nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlakukan bumi ini dengan baik, sebab bumi inilah yang telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.

Kelima: Bekti marang Wong Tuwo.

 Prinsip ini mengingatkan setiap manusia bahwa dirinya tidak serta-merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantaraan Ibu dan Bapaknya. Maka hendaknya hormatilah, muliakanlah keduanya yang telah memelihara dan membesarkan kita dengan kasih sayang dan pengorbanan tulusnya.

Keenam: Bekti marang Sedulur Tuwo.

 Prinsip ini mengajak kita agar senantiasa sadar diri untuk menghormati saudara yang lebih tua dari sisi umur dan lebih mengerti daripada kita dari sisi ilmu, pengetahuan dan kemampuannya.

Ketujuh: Tresno marang kabeh Kawulo Mudo.

 Prinsip ini mengajari kita agar selalu menyayangi mereka yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kita kepada mereka, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

Kedelapan: Tresno marang Sepepadaning Manungso.

 Prinsip ini mengajarkan satu pemahaman substansial bahwa sejatinya semua manusia itu sama, meski berbeda warna kulit, bahasa, budaya dan agamanya. Maka sudah selayaknya kita hormati sesama manusia dengan kesadaran bahwa mereka semua memiliki harkat dan martabat yang sama sebagaimana halnya kita juga.

Kesembilan: Tresno marang Sepepadaning Urip.

Prinsip ini menuntun kita agar tak hanya menghormati sesama manusia, melainkan juga semua makhluk ciptaan-Nya. Sebab semua makhluk yang diciptakan Allah adalah makhluk yang keberadaannya maujud karena kehendak Allah yang Kuasa. Maka dengan menghormati semua ciptaan Allah, sama artinya kita telah menghargai dan menghormati Allah sebagai penciptanya.

Kesepuluh: Hormat marang Kabeh Agomo.

 Prinsip ini menekankan sikap toleransi, dalam artian hendaknya kita hormati semua agama atau aliran kepercayaan yang ada, dan otomatis termasuk juga para penganutnya.

Kesebelas: Percoyo marang Hukum Alam.

Prinsip ini menggugah kesadaran kita bahwa selain menurunkan kehidupan, Allah juga telah menurunkan Hukum Alam sebagai hukum sebab-akibat. Maka disini berlaku kaidah alamiah bahwa barang siapa yang menanam maka dia pula yang akan menuai hasilnya. Siapa yang berbuat kebaikan, pasti akan berbuah kebaikan, sebaliknya bagi mereka yang berbuat jahat, sudah pasti akan tertimpa laknat. Inilah yang dalam kepercayaan manusia Jawa kadang disebut sebagai Hukum Karma.

Keduabelas: Percoyo marang Kepribaden Dhewe tan Owah Gingsir.

Prinsip ini menanamkan keinsyafan bahwa setiap manusia ini pada dasarnya rapuh dan hatinya berubah-ubah, maka hendaklah setiap diri kita menyadarinya agar dapat menempatkan diri di hadapan Allah dan selalu mendapat perlindungan dan rahmat-Nya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

***

Itulah 12 prinsip hidup yang diajarkan oleh Kiai Semar Badra Naya kepada manusia Jawa yang hidup di bumi Nusantara. Keduabelas prinsip hidup dan ajaran adiluhung yang kesemuanya dapat dirangkum ke dalam tiga konsep hubungan universal, yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dengan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dengan seluruh alam semesta ciptaan-Nya.

Dengan lebih memahami 12 prinsip hidup sebagaimana telah diuraikan di atas, semoga kita semua, baik sebagai manusia Jawa, manusia Indonesia, maupun manusia beragama yang hidup di bumi Nusantara, pada akhirnya dapat saling menghormati satu sama lain, karena kita sadar bahwa begitulah hendaknya kita bersikap dalam hidup. Hidup secara baik dan benar, yang didasari penghormatan, kepatuhan dan ketaatan kita kepada Sang Pemberi Hidup.

Source: www.islamindonesia.id
Inilah Bedanya Walisongo dan ”Wali Jenggot”

Inilah Bedanya Walisongo dan ”Wali Jenggot”


Wartaislami.com ~ Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Achmad Hasyim Muzadi menyampaikan perbedaan dakwah antara Walisongo dan ”Wali Jenggot”.

Wali Jenggot ini sepertinya dialamatkan kepada kelompok-kelompok Islam yang suka memanjangkan jenggot, bercelana cingkrang dan ketika berdakwah suka mengkafir-kafirkan sesama Muslim.

”Bedanya Walisongo dan Wali Jenggot itu kalau berdakwah, dulu Walisongo kalau ketemu orang kafir kemudian diislamkan, nah Wali Jenggot ini kalau ketemu orang Islam, dikafirkan,” ucapnya, sambil disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan ribuan hadirin acara temu balung pisah warga NU se-Jawa Tengah di Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Minggu, (17/7/16).

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini mengaku heran dengan kelompok yang senang mengkafir-kafirkan sesama Muslim.  ”(kalau orang semua dikafirkan) Akhirnya orang kafir semua. Apa enggak takut kalau di surga sendirian?” sindirnya, sontak pernyataan ini pun disambut gelak tawa para hadiri.

Kiai Hasyim menegaskan, NU tidak pernah menganggap musuh kepada kelompok sesama Muslim juga non-Muslim. ”NU itu bersaudara dengan firqoh umat lain. Tapi firqoh umat lain jangan memimpin orang NU,” tandasnya.

Tidak Diperalat

Pada kesempatan itu Kiai Hasyim juga berpesan supaya warga NU tidak mudah diperalat untuk kepentingan Pemilu. Hal itu, katanya, salah satu yang membuat orang berpandangan bahwa NU itu sederhana.

”Orang NU harus menunjukan bahwa NU itu luar biasa, supaya tidak dipandang sederhana oleh orang. Misalnya hanya dilihat dari sisi kuantitasnya saja. Kalau mau pemilu NU hanya dilihat banyaknya saja,” jelasnya.

Acara balung pisah ini bertepatan dengan halal bi halal Idul Fitri 1437 hijriyah. Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shodaqoh menyampaikan, warga NU se-Jateng sedang mempunyai gawe besa yakni mendirikan Pesantren NU.

Pesantren ini masih dalam tahap pembebasan tanah. Sehingga itu, pada kesempatan balung pisah juga digelar gerakan wakaf. Gerakan wakaf ini untuk membantu membebaskan tanah yang berada di dekat Kampus Unnes, Sekarang, Gunung Pati, Semarang.

”Bagi yang akan mendermakan sebagian hartanya melalui wakaf, panitia sudah siap, di luar,” kata Kiai yang akrab disebut Gus Ubed ini. Kiai Hasyim pun menyambut pernyataan itu. ”Sami kalih gawean kulo ngadegke pondok (sama dengan pekerjaan saya mendirikan pesantren). Kulo nyumbang selawe juta (Rp. 25 Juta) mawon enggeh. Kulo titipkan ke pak Abu Hapsin,” tandas Kiai Hasyim.

Source: www.nujateng.com
Gus Mus Difitnah soal Dewan Revolusi Nasional

Gus Mus Difitnah soal Dewan Revolusi Nasional


Wartaislami.com ~ Di zaman media sosial memudahkan segalanya, tapi kecanggihan teknologi ini ternyata juga sering disalahgunakan dengan hal-hal yang tidak benar. Di antaranya yang sering terjadi adalah pencatutan nama atau fitnah. Kali ini menimpa ulama kharismatik KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Pengasuah Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Remabng itu mendapat fitnah tentang adanya Naskah Pengantar Deklarasi Dewan Revolusi Nasional (DRN) 2016 dengan mencatut nama beliau yang diunggah di akun facebook atas nama Bambang Tri.

Ternyata hal itu tidak benar dan merupakan fitnah. Gus Mus yang telah dicatut namanya dan dijadikan objek fitnahan tersebut membantahnya dalam akun facebooknya. Gus Mus menjawab:

“Lha kok ya ada yang tega-teganya bikin beginian dan ada yang percaya lagi. Salahku apa, kok orang-orang termasuk yang gak kenal aku menyangkut-pautkan aku dalam kepentingan mereka,” tutur Gus Mus dalam akun facebooknya.

Hal senada juga diutarakan oleh putri beliau, Ienas Tsuroiya, yang prihatin atas fitnah yang menimpa beliau. Apalagi, keluarga masih dalam keadaan berduka selepas wafatnya Bu Nyai Fatma.

"Nggak habis pikir saya, kok ada orang yang setega ini. Tolonglah, Abah saya masih dalam suasana duka. Kenapa diperlakukan seperti ini,” keluh Ienas di laman facebook pribadinya.

Gus Mus pantas marah, karena ini bukan sekali dua kali beliau difitnah. Apalagi, hal ini ditengarai mengarah kepada salah satu pasangan calon yang kalah dalam pilpres tahun 2014 lalu.

“YA ALLAH, Ampunilah mereka, ALLAHUMMAHDIHIM,"  ucap Gus Mus. (Sindikasi Media/Fathoni)

Sumber : nu online
Abah Afandi, Kedalaman Ilmu Kitab Kuningnya Diakui Para Kiai

Abah Afandi, Kedalaman Ilmu Kitab Kuningnya Diakui Para Kiai


Wartaislami.com ~ Salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’I yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Beliau adalah pengasuh Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu, Jawa Barat.

Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren besar, salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas  Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962.  Ia siswa angkatan pertama Madrasah Muallimin Pesantren Tambakberas yang didirikan oleh Mbah KH Fattah Hasyim Idris pada tahun 1953.

Selain itu, di luar madrasah, Abah Afandi beliau juga aktif mengikuti pengajian kitab- kitab pada Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah dan Mbah Yai Fattah Hasyim.

Semasa hidup, Mbah Yai Wahab Chasbullah dan Mbah Yai Fattah Hasyim sering mengunjungi muridnya yang bernama Afandi itu di desa Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu Jawa Barat.

Untuk kitab aJ-Jurumiyah (kitab dasar ilmu nahwu), Abah Afandi diajar langsung oleh Mbah Yai Wahab diulang sampai empat kali khataman. Mbah wahab bilang: “Afandi, kalau mengaji kitab aJ-Jurumiyah cuman sekali saja, itu belum sempurna, sedikitnya empat kali khatam”.


Menurut cerita abah saya (Mbah Kiai Fatah), saat menuntut ilmu di Pesantren Tambakberas Jombang, selain sebagai santri yang sungguh-sungguh, rajin dan tekun, kelebihan lain Abah Afandi (muda) juga terletak di lisannya yang fasih, tutur katanya jelas dan suaranya keras ketika mengajar, sehingga tidak aneh jika beliau disenangi oleh para santri.

Setiap Mbah Kiai Fattah mengaji, maka pasti menyuruh santri bernama Afandi asal Indramayu itu untuk membaca kitab yang diajarkan. Mbah Yai Fattah hanya mendengarkan dan kemudian menjelaskan isi dari kitab yang dibaca oleh Afandi muda.

Karena itulah kalangan santri dan kiai Tambakberas waktu itu, Abah Afandi mendapat sebutan “qori”, yaitu santri yang selalu ditugaskan oleh Mbah Yai Fattah sebagai “tukang baca kitab” yang diajarkan oleh guru-guru dan kiainya. Demikian, cerita paman saya, KH. Moh. Faiq Hasyim Idris Pondok Pesantren Kedunglo Kediri, Jawa Timur.

Beberapa tahun sebelum wafatnya Almaghfurlah KH Chudori, yang akrab di sapa Pak Chudori, wali kelas Abah Afandi waktu sekolah di Madrasan Muallimin Tambakberas, dalam beberapa kesempatan beliau bercerita, ”Bertahun-tahun saya mengajar di Madrasah Muallimin, belum menemukan siswa yang pemahaman dan penguasaan kitab kuningnya sangat luar biasa seperti Afandi. Ia belum ada yang menandingi dalam matangnya pemahaman nahwu, sharaf, mantiq, dan balaghahnya,” tutur Pak Chudori.

Atas prestasinya dalam belajar, meski masih muda dan masih menjadi siswa Madrasah Muallimin, Abah Afandi selalu dipercaya oleh guru-gurunya setiap ada ujian untuk mengoreksi lembaran-lembaran jawaban para santri seangkatannya.

Karena kemampuan penguasaan kitabnya Abah Afandi yang diakui oleh teman-temannya waktu itu, banyak teman-teman sesama santri yang minta mengaji kitab tertentu pada Abah Afandi kala muda itu di pesantren Tambakberas.

Awalnya hanya satu-dua santri, di dalam bilik atau kamar santri, namun seiring waktu, jumlah santri yang ikut pun bertambah, sehingga peserta meluber di teras-teras depan asrama santri,

Melihat antusiasme para santri yang mengikuti pengajian kepada santri bernama Afandi itu, Mbah KH Fattah Hasyim dan Mbah KH Wahab Chasbullah (sesepuh Pesantren Tambakberas waktu itu) diam- diam memperhatikannnya, dan atas izin dua kiai sepuh tersebut, akhirnya santri Tambakberas bernama Afandi kala itu, dipersilakan mengaji di masjid Pesantren Tambakberas. Pesertanya pun membeludak.

Tidak sedikit para santri yang diajar oleh Abah Afandi sewaktu di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, di kemudian hari menjadi kiai besar, seperti Almaghfurlah KH Masruri Abdul Mughni, yang pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah selama dua periode dan pengasuh Pesantren al-Hikmah Dua Benda Sirampog, Brebes, Jawa Tengah dengan tujuh ribu santri, dan kini menjadi besannya Abah Afandi.

Waktu Abah Afandi berdiskusi dengan saya di Pesantren Gedongan, Astana Japura, Ender Cirebon ( asuhan buyut KH Said Aqil Siroj) Abah Afandi dengan tawaduknya bilang, “Dulu waktu di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang yang mengajar saya, tetapi ketika pulang yang menjadi kiai dia (Kiai Masruri). Pondoknya besar, santrinya ribuan,” tuturnya .

Hal ini mengingatkan saya kepada gurunya Abah Afandi, yaitu Mbah KH Abdul Fattah Hasyim Idris. Ketika mondok di Tebuireng Jombang, beliau juga sering ditugasi “mbadali” ngaji di masyarakat. Di samping itu juga ditugasi mengajar di kelas sifir awal dan seterusnya sebagai guru kelas.

Karena disenangi murid-muridnya, ketika beliau Mbah yai Fattah pindah ke Denanyar Jombang memenuhi panggilan sang mertua, yakni KH Bisri Syansuri, sekitar 25 muridnya ikut pindah ke Denanyar. Pada akhirnya, mereka juga ikut boyongan ke Tambakberas ketika beliau diminta Pak Denya, KH Abdul Wahab Chasbullah untuk kembali ke Tambakberas membantu pamannya, KH. Hamid Chasbulloh.

Antara Abah Afandi dan Mbah Kiai Fattah Hasyim ada kesamaan dan perbedaan. Keduanya sama-sama dipercaya oleh kiainya untuk mengajar santri-santri junior. Keduanya sama-sama digemari murid-muridnya. Keduanya sama-sama mempunyai lisan yang fasih, tutur kata yang jelas, suara yang keras, dan seterusnya.

Perbedaanya, yang paling nampak, adalah ketika boyong, dari Tebuireng ke Denanyar dan dari Denanyar ke Tambakberas, diikuti oleh murid-muridnya. Tidak demikian dengan beliau Abah Afandi ketika beliau boyong dari Jombang ke kampungnya di Indramayu, tidak diikuti oleh murid-muridnya. (Baca: Kembali ke Semangat Awal Pendiri NU)

Di antara rutinitas Mbah Yai Fattah adalah membangunkan santri di sepertiga malam, agar para santri shalat Tahajjud. Tetapi, di kala itu, setiap melewati bilik atau kamar yag ditempati oleh santri bernama Afandi, Mbah Yai Fattah tidak akan menggedor pintu tesebut. Karena kalaupun pintu diketuk atau dibuka, sudah dipastikan santri dalam kamar tersebut sedang muthalaah (mempelajari) kitab-kitab. Bukan sedang tidur seperti umumnya santri-santri yang lain.

Dalam kesehariannya, setelah Abah Afandi menetap di kampungnya hingga wafatnya, beliau menjadi rujukan para kiai pecinta kitab kuning, baik dari Indramayu maupun daerah sekitarnya, yang bertanya tentang masalah-masalah “kelas berat” yang berkaitan dengan kitab kuning papan atas.

Bahkan Abah Afandi oleh Mbah Yai Wahab, waktu masih di Pesantren Tambakberas mau dinikahkan dengan seorang gadis putri kiai besar yang tak lain adalah sahabat dekatnya dan pengasuh pesantren di Jawa Tengah.

“Afandi, saya pilih kamu untuk menjadi menantu seorang kiai, yang mencari menantu ahli kitab kuning,” kata Mbah Wahab dalam bahasa Jawa Timur-an.

Tetapi saat ditawari itu, Abah Afandi malah menangis.

Mbah Wahab pun menanggapi dengan becanda, “Lho mau saya nikahkan dengan gadis cantik, putrinya kiai, pesantrennya besar, kok malah kamu menangis?”

Afandi menjawab, “Mohon maaf, Mbah Yai. Saya sudah menikah”.

Mbah Wahab menimpali, “Oh, ya sudah, berarti belum jodoh,” tuturnya.

Karena memang Abah Afandi waktu itu sudah menikah dengan seorang gadis bernama Sofiyah putri KH Habib Hasan, pilihan orang tuanya yang menjadi pendamping hingga akhir hayatnya. Keduannya sudah melalui akad nikah, meskipun waktu itu belum tinggal serumah, karena masing-masing masih belajar di pesantren. Abah Afandi di Jombang, sedangkan istrinya belajar di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
   
KH DR (HC) Fuad Hasyim Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat, salah satu kerabat terdekat Abah Afandi, dalam beberapa kesempatan ia pernah bilang, “Abah Afandi ini ‘mutiara yang terpendam’. Beliau seorang kiai yang luar biasa penguasaan kitab kuningnya, dan sangat tawaduk, sahabat dekatnya Gus Dur, namun sungguh sayang beliau kurang begitu dikenal oleh masyarakat luas secara nasional.”

Hal itu, lanjut Kiai Fuad, kiranya disebabkan karena Abah Afandi menetap di Indramayu, sedangkan sudah terkenal bahwa masyarakat Indramayu kurang bisa menghormati para kiai. Padahal penghormatan masyarakat luas kepada kiai tertentu itu tergantung bagaimana masyarakat sekitar tempat kiai itu menetap member penghormatan. “Contoh paling sederhana: Masayarakat sekitar memanggil ‘gus’ maka masyarakat luas di luar daerahnya juga akan memangil ‘gus’. Kalau masyarakat sekitar memanggil ‘Mbah Yai’, maka masyarakat luas di luar daerahnya pun pasti akan memanggil demikian pada kiai itu. Selain itu, di Indramayu juga ada mitos susah jadi kiai,” tutur Kiai Fuad.

Abah Afandi juga meninggal dunia dengan warisan karya tulis berjudul “Risalah al-Muin, fi Aqaid al-Khamsin”. Kitab ini mengulas penjelasan soal ilmu tauhid.

Oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas, Jombang.


Sumber : nu online
Hijab Yahudi, Panggilan Ilahi dan Praktik Kesederhanaan

Hijab Yahudi, Panggilan Ilahi dan Praktik Kesederhanaan


Wartaislami.com ~ Hijab itu bukan hanya "sangat Islami" tetapi juga "sangat Yahudi". Bukan hanya Al-Qur'an yang berisi anjuran berhijab, Kitab Talmud Yahudi yang sudah ada berabad-abad sebelum Al-Qur'an juga memuat pesan tentang hijab. Karena itu bukanlah sebuah keanehan jika ada sejumlah umat Yahudi yang bersikukuh untuk berhijab.

Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh kecil dimana sekelompok perempuan Yahudi Sekte Lev Tahor di Kanada (di Ontario dan Quebec) lengkap dengan "busana Muslimah", eh salah maap, "busana Yahudi" maksud ane. Coba perhatikan dengan seksama, mirip kan para saudari-saudari Yahudi ini dengan "ukhti-ukhti" Muslimah? Lev Tahor yang dalam Bahasa Hebrew berarti "hati yang suci" merupakan salah satu sekte ultra ortodoks Yahudi pimpinan Rabbi Shlomo Helbrans yang gencar menentang Zionisme dan aneksasi Israel atas Palestina.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengikut sekte Lev Tahor ini juga sangat sederhana dan "apa adanya" dalam menjalani hidup serta jauh dari hiruk-pikuk kemewahan duniawi, sebuah praktek keagamaan yang mengingatkan saya pada komunitas Kristen Amish dan Old Order Mennonites di Amerika.

Beberapa kelompok Yahudi ortodoks memandang berhijab merupakan "panggilan ilahi" yang harus ditaati oleh semua umat Yahudi. Bruria Keren, seorang tokoh dan pemimpin agama Yahudi ortodoks di Israel bahkan mengklaim asal-usul "tradisi hijab" berasal dari Yahudi dan karena itu bagi siapa saja yang mengenakan hijab berarti telah meniru-niru Yahudi. Ia menyerukan semua umat perempuan Yahudi untuk berhijab bukan hanya demi memenuhi "panggilan ilahi" tetapi juga sebagai lambang kesederhanaan serta proteksi dari kemungkinan kejahatan atas kaum perempuan.  

Di Israel juga terdapat sekelompok Yahudi yang bernama Sekte Burqa Heredi yang bahkan lebih ketat dalam berhijab. Jika kaum perempuan Yahudi Lev Tahor masih membuka wajah mereka, maka kaum perempuan Yahudi Heredi Burqa menutup rapat wajah mereka dengan "frumka" persis seperti perempuan Saudi yang mengenakan burqa atau niqab. Karena mengenakan busana yang ekstrim ini, maka sejumlah media menyebut mereka "Yahudi Taliban".
Sejumlah tokoh Yahudi dari sekte Heredi ini seperti Rabbi Yitzchok Tuvia Weiss menyatakan bahwa penggunaan tata busana ini dalam rangka untuk menegakkan "syariat Yahudi" sekaligus kembali ke ajaran orisinal Talmud tentang wasiat berhijab sebagai simbol kesahajaan bagi perempuan. Menarik untuk diperhatikan, sebagaimana Sekte Lev Tahor, sekte Heredi Burqa ini juga menentang keras gerakan Zionisme dan upaya kekerasan Israel atas Palestina.  

Jika diperhatikan dengan seksama, ada perbedaan mendasar antara "hijab Yahudi" dengan tren "hijab Muslimah". Jika gerakan "hijab Yahudi" itu sangat sederhana dan jauh dari kesan kemewahan, maka kaum "hijabers" Muslimah di kota-kota besar khususnya terkesan sangat modis dan mewah. Jika perintah hijab itu (baik dalam Yahudi maupun Islam) ide dasarnya adalah untuk kesahajaan, bukankah sebuah "penyimpangan ajaran" namanya jika berhijab hanya untuk pamer model mode, desain, dan busana teranyar? Alih-alih ingin mengikuti ajaran Islam, malah justru terjerembab ke dalam praktek-praktek yang jauh dari norma-norma keislaman dan "pesan moral" Al-Qur'an itu sendiri.

Prof. Sumanto Qurtuby, Guru besar di Arab Saudi


Sumber :arrahmah.co.id
Ketika Kiai Diprotes karena Beli Mobil Mewah Ratusan Juta

Ketika Kiai Diprotes karena Beli Mobil Mewah Ratusan Juta


Alkisah seorang ulama kharismatik di daerahnya—sebut saja Kiai Iman—membeli sebuah mobil mewah seharga hampir 500 juta rupiah. Padahal, di rumahnya sudah ada mobil yang juga cukup mahal, kira-kira 200-an juta rupiah. Dipakailah mobil mewat itu untuk mudik Lebaran sebagaimana lazimnya para perantau.

Suatu ketika seorang tamu datang ke kediaman Kiai Iman untuk bersilaturahim dan halal bihahal dengannya. Melihat dua mobil mewah terparkir di depan rumah, si tamu pun tak betah menahan tanya.

"Mohon maaf, Kiai, itu mobil mewah punya Kiai?

"Ya, itu mobil saya. Kenapa? Tanya balik Kiai Iman.

"Enggak apa-apa, Kiai. Ngomong-ngomong harganya berapa, kok keren banget?” Si tamu makin kepo.

Kiai pun menjawab, "Ah itu mobil murah, cuma 475 juta.”

Mendengar jawaban sang kiai tamu pun tercengang. Mungkin benaknya memberontak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya: mana mungkin seorang kiai yang kesibukanya mengajar di pesantren mampu membeli mobil dengan harga fantastis?

Entah apa yang dipikirkan, si tamu tiba-tiba memberanikan diri untuk menegur sang kiai. "Mohon maaf, Kiai, Anda ini seorang kiai kenapa Anda mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?”

"Kok bisa?” Sahut Kiai Iman.

"Ya jelas, karena Kiai membeli mobil mewah, padahal sudah punya mobil mahal.”

"Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya, kenapa kalau saya shalat malam orang tidak ingin seperti saya. Kalau saya zikir malam kenapa mereka tak ingin seperti saya. Kalau saya berbuat baik kenapa orang tak ingin berbuat baik seperti saya.”

Mendengar jawaban sang kiai, si tamu pun terdiam. Tampak merenung dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Iman. Ia pun seperti sadar bahwa dirinya terkena wabah iri terhadap hal-hal duniawi bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi. (Baca: Masuk Neraka Gara-gara Air Wudhu?)

Cinta dunia sesungguhnya tak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki. Zuhud seseorang bergantung pada sikap batinnya. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah masuk cinta dunia (hubbud dunya). (Ahmad Asmu'i)



Ditulis dari kisah nyata dalam momen sowan Lebaran 1437 H


Sumber : nu online
Heboh !! Kiai sepuh dan kharismatik KH Maimoen Zubair mencium tangan KHA Hasyim Muzadi

Heboh !! Kiai sepuh dan kharismatik KH Maimoen Zubair mencium tangan KHA Hasyim Muzadi


Wartaislami.com ~ Ada pemandangan menarik dalam acara Halal Bihalal “Ngumpulke Balungpisah Warga NU” di Fakultas Kedokteran Unwahas Semarang, Ahad 17 Juli 2016. Kiai sepuh dan kharismatik KH Maimoen Zubair mencium tangan KHA Hasyim Muzadi. Peristiwa itu terjadi saat Mbah Moen – panggilan Kiai Maimoen Zubair – baru datang ke acara para kiai NU itu. Tiba-tiba Mbah Moen menghampiri Kiai Hasyim Muzadi dan langsung mencium tangannya. Karuan saja para kiai dan warga NU yang datang ke acara tersebut tercengang. Maklum, Mbah Moen dikenal kiai kharismatik dan lebih sepuh daripada Kiai Hasyim Muzadi.

Yang juga menarik, ketika Mbah Moen memberi tausiah kepada warga NU di atas podium, Kiai Hasyim Muzadi mau pamit mau pulang. Mantan ketua umum PBNU dua periode itupun menghampiri Mbah Moen yang lagi ceramah. Kiai Hasyim Muzadi langsung mencium tangan Mbah Moen dan pamit pulang lebih dulu.

Para kiai yang hadir tentu saja berdecak kagum. “Itu saya kira akhlak kiai NU yang saling menghormati,” komentar salah seorang kiai yang hadir dalam acara itu.
Ketika menyampaikan tasuhiyah, Mbah Moen bercerita bahwa Kiai Hasyim Muzadi adalah paman atau pak lek dari jalur ibunya. Karena itu Mbah Moen sangat menghormati.
Meski demikian para kiai yang hadir tetap terkagum-kagum pada akhlak dua kiai bertaraf nasional itu.

Sementara Kiai Hasyim Muzadi dalam ceramahnya mengatakan bahwa silaturahmi antar eksponen dan komponen Nahdlatul Ulama yang tersebar di mana-mana sangat diperlukan. ”Karena keluasan dan kedalaman konsep keagamaan dalam Nahdlatul Ulama tidak cukup dilakukan oleh Kelompok sektoral di kalangan warga nahdliyin tapi harus bersama-sama,” katanya.

Menurut beliau, keutuhan manhaj keagamaan NU yang disebut sebagai al-wasatiyah sebenarnya berlaku pada bidang tauhid, ibadah, muamalah (sosial) yang menyangkut bidang hukum, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan tata sosial. Belum lagi sistem hubungan antara pemikiran NU dalam hubungannya dengan penataan negara serta sumbangan NU pada dunia Internasional.
”Oleh karenanya, perlu terus disinergikan antara kelompok-kelompok sektoral sehingga sambung menyambung antara satu dengan yang lain dalam komponen Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah,” tegas anggota Wantimpres itu.

Ia menegaskan, dihitung dari kurun pendiri Nahdlatul Ulama sekarang ini sudah masuk usia 100 tahun. Berarti ke depan masuk abad baru dalam perjuangan NU. Maka tugas paling pokok pengkaderan. ”Inilah perlunya inventarisasi Dan modifikasi ajaran NU yang komprehensif untuk dituangkan dalam abad baru yang sama sekali berubah.” tegasnya.

Bagaimana caranya agar nilai NU tetap murni tetapi pengembangan nya disesuaikan dengan abad yang berubah tersebut. ”Jangan ada perubahan yang merusak nilai NU, jangan pula nilai NU tidak dikembangkan dalam abad yang baru,” katanya.

Menurutnya, dengan perhatian abad dan keterbukaan Indonesia, NU pasti menjadi lahan keroyokan oleh ideologi lain baik yang datang secara lokal, Nasional Dan internasional, sehingga jika tidak hati-hati NU akan rusak disitu. (ma)


Resource :www.ahbaburrosul.org
Amalan Malam Hari Raya Ied Wasiat KH Abdul Karim Lirboyo

Amalan Malam Hari Raya Ied Wasiat KH Abdul Karim Lirboyo


Wartaislami.Com ~ Berikut ini amalan pada malam Hari Raya (Idul Adlha dan Idul Fitri), seperti disebut dalam kitab Kanzun Najah Was Surur, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dan riwayat dawuh Syaikh Abdul Karim Lirboyo (Mbah Manab) oleh Syaikhina KH.Maimoen Zubair.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب” رواه الطبراني في الكبير والأوسط.

Dari Ubadah Ibn Shomit r.a. Sungguh Rosulullah SAW bersabda: Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha, hatinya tidak akan mati, di hari matinya hati. HR.Thobaroni

عن أبي أمامه رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “من قام ليلتي العيدين محتسباً لم يمت قلبه يوم تموت القلوب”. وفي رواية “من أحيا” رواه ابن ماجه

Dari Abi Umamah r.a, dari Nabi SAW, bersabda: Barangsiapa menegakkan dua malam Hari Raya dengan hanya mengharap Allah, maka hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati. HR. Ibnu Majah.

Bagaimana cara menghidupkan/ menegakkan dua hari raya itu? Telah disebutkan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dengan mengamalkan beberapa amalan:

1. Syaikh Al Hafni berkata: Ukuran minimal menghidupkan malam bisa dengan Sholat Isya’ berjama’ah dan meniatkan diri untuk jama’ah Sholat Shubuh pada besoknya. Atau memperbanyak sholat sunnah dan bacaan-bacaan dzikir.

2. Syaikh Al Wanna’i dalam risalahnya: Barangsiapa membaca istighfar seratus kali (100×) setelah Sholat Shubuh di pagi Hari Raya, maka akan dihapus dosa-dosanya di dalam buku catatannya, dan pada hari kiamat akan aman dari siksa.

3. Masih dari Syaikh Al Wanna’i: Barangsiapa membaca ,

سبحان الله وبحمده

Subhaanallah wa bihamdihi 100× pada hari raya, dan menghadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka para ahli kubur berkata,”Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, rahmatilah ia, dan jadikanlah ia ahli surga”.

4. Syaikh Al Fasyni berkata dalam Tuhfatul Ikhwan: Dari Sahabat Annas, dari Nabi SAW, dawuh (yang artinya): Hiasilah dua hari raya dengan tahlil, taqdis, tahmid dan takbir”. Nabi juga dawuh: Barangsiapa yang membaca:

سبحان الله وبحمده

Subhaanallah wabihamdihi 300× dan ia menghadiahkan untuk muslimin yang sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Allah akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya jika ia meninggal.

5. Syaikh Az Zuhri berkata: Sahabat Anas r.a. berkata, Nabi SAW dawuh (yang artinya): Barangsiapa di dua hari raya mengucapkan:

لا اله الا الله وحده لا شريك له، له الملك و له الحمد يحي و يميت و هو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيئ قدير

sebanyak 400× sebelum Sholat ‘Ied, maka Allah SWT akan menikahkannya dengan 400 bidadari, seakan memerdekakan 400 budak, dan Allah SWT mewakilkan para malaikat untuk membangun kota-kota dan menanam pohon-pohon untuknya di hari kiamat.

Beliau Syaikh Az Zuhri berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Sahabat Anas r.a. Dan Anas r.a. dahulu juga berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi SAW.”

Diriwayatkan dari Syaikhina Wa Murobbi Ruuhina KH.Maimoen Zubair, dari Syaikh Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, beliau berkata:

“Sak makendut-makendute santri ojo nganti ora ngurip-urip malem rioyo loro, kanthi sholat ba’diyah Isya’ rong rakaat ditambah sholat witir sak rakaat”.

Artinya: “Senakal-nakalnya santri jangan sampai tidak menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fithri dan Idul Adlha) dengan melaksanakan sholat sunah minimal dua rokaat setelah Isya’ dan satu rokaat witir”


Sumber: dutaislam.com
close
Banner iklan disini