Pertama Dalam Sejarah, MPR RI Berdzikir dan Bersholawat Bersama Habib Syech

Pertama Dalam Sejarah, MPR RI Berdzikir dan Bersholawat Bersama Habib Syech


Wartaislami.com ~ Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menyelenggarakan pengajian dan shalawat akbar bersama Sayyidil Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, pada Senin malam Selasa (29/08/2016), bertempat di Lapangan Bola Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Acara yang mengambil tema “MPR Berdzikir” ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 MPR RI sekaligus Hari Kemerdekaan RI ke-71.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan seluruh Wakil Ketua MPR RI seperti Oesman Sapta; EE Mangindaan; Mahyudin dan Hidayat Nurwahid, Sekjen MPR RI Ma’ruf Cahyono, perwakilan DPR RI, Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad, dan pimpinan lembaga negara serta pejabat pemerintahan lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua MPR Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa acara MPR Berzikir merupakan acara dzikir pertama yang pernah dilaksanakan oleh MPR RI. Karena itu, ia mendoakan, semoga semua yang hadir, terutama Habib Syech selalu dianugerahi kesehatan dan mendapat kebaikan serta kemuliaan karena hadir pada acara tersebut.

Zulkifli juga mengajak agar bangsa Indonesia membuktikan pada dunia, bahwa Indonesia adalah negeri yang damai, meski terdapat berbagai keberagaman. Ia menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Meski demikian, dapat hidup harmonis dalam demokrasi nan indah.

“Demokrasi dan Islam di Indonesia adalah wujud harmoni yang saling memberikan warna, tidak ada pertentangan diantaranya, melainkan keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Zulkifli.

Untuk itu, Zulkifli mengajak serta semua pihak untuk mengingat sekaligus merenungkan tujuan awal dari berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, dapat menjalankan amanah yang dititipkan rakyat dengan sebaik-baiknya.

“Saya berharap kegiatan MPR Berdzikir ini dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk mengingat sekaligus merenungkan tujuan kita berbangsa dan bernegara,” tutur Zulkifli.


Sementara itu Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf yang didampuk memimpin jalannya MPR RI Berdzikir dan Bersholawat terlebih dahulu mengajak kepada para jamaah untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ajakan tersebut langsung disambut para jamaah dengan berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dikomando oleh Pengasuh Majelis Ahbaabul Musthofa Solo itu. Hingga acara selesai, puluhan ribu jamaah yang hadir pun larut dalam lantunan indah sholawat yang dibawakan Habib Syech.

Source: www.elhooda.net
Kisah Mbah Kastari, Kiai Kampung Penuh Kesahajaan

Kisah Mbah Kastari, Kiai Kampung Penuh Kesahajaan


Kastari bin Maulana Maghribi Wonobodro merupakan sesepuh Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal.

Mbah Kastari, demikian biasa masyarakat memanggil, lahir di Kendal 15 Juli 1935 dan wafat di tahun 2002. Menurut cerita, Mbah Kastari merupakan keturunan ke-11 Syeikh Maulana Maghribi Wonobodro.

Mbah Kastari bukan tokoh populer, bukan kiai besar, atau pengasuh pesantren yang memiliki ribuan santri. Ia hanya dikenal di Desa Pagerdawung, selebihnya tidak banyak yang tahu.

"Mbah yai itu baik banget, Ngajar ngajinya juga mudah dipahami. Jika ada santri yang salah tidak pernah dimarahi kecuali pernah anak kakak saya nggak bisa ngaji akhirnya dimarahi karena beliau merasa malu bisa mendidik anak orang kok cucu sendiri ngak bisa, mungkin itu pikir beliau," kenang Sajidi, putra ketiga Mbah Kastari.

Kehidupan sehari-hari Mbah Kastari berjalan selayaknya masyarakat pada umumnya. Bertani, ngajar ngaji, juga menjadi Imam sholat.

Mbah Kastari terkenal akan kesederhanaan, juga kerendahan hatinya. Ketua Ta'mir Masjid At-Taqwa Desa Pagerdawung, KH Solihin mengungkapkan, Mbah Kastari adalah pribadi yang bersahaja.

"Simbah Kiai Kastari itu sangat sederhana. Rendah hati juga. Saya saja masih ingat kerendahan hatinya dulu. Sayang ya orang sebaik dia harus pergi terlebih dahulu," tutur Kiai Solikin.

Kehidupan beliau sangat sederhana, bahkan terkadang kekurangan. Tidak pernah keluar sedikitpun kata "kurang" yang keluar dari mulutnya, justru malah sebaliknya beliau selalu bersyukur.

"Alhamdulillah Gusti Allah wes maringi nikmat. Sitik gak popo daripada raono (Alhamdulillah Gusti Allah sudah memberikan nikmat, Sedikit tidak apa-apa daripada tidak ada," kata Sajidi, menirukan wejangan Mbah Kastari.

Dalam sebuah pengajian, Mbah Kastari pernah menuturkan tentang sosok kiai. Baginya, kiai adalah penyematan gelar yang berat untuk dipikul.

"Kiai itu apa? Semua itu ada aturanya kenapa seorang diangap sebagai kiai. Kalian terlebih saya pribadi jangan berharap dipangil kiai. Jadi kiai itu berat, Jalani aja, sampaikan apa yang kamu tahu dan berharaplah hanya kepada Allah SWT," katanya.

Sebelum wafat, Mbah Kastari jatuh sakit selama dua pekan. Sebenarnya beliau tahu apa penyebab sakitnya, namun untuk mencegah kepanikan anak-anaknya beliau hanya diam dan tetap berkata bahwa beliau sedang sakit biasa.

Karena kesehatannya semakin menurun, anak pertamanya Muryati bertanya kepada beliau tentang penyakitnya. Dan, semua tercengang. Ternyata yang diderita selama ini adalah akibat “diguna-guna” oleh orang yang tidak suka dengan dirinya. 
Setelah mendengar ceritanya, anak-anak beliau hendak membalas perlakuan seseorang kepada ayahnya itu, tetapi dengan tegas Kiai Kastari melarangnya dan menyampaikan pesan yang ternyata itu adalah pesan terakhir sebelum kepergianya.

"Anak anakku, mati ini adalah urusan Allah SWT , Lauhul Mahfuz tidak pernah salah. Mungkin ini adalah pelajaran bagi bapakmu ini yang penuh dosa ketika hidup di dunia. Bapakmu ini ikhlas nak biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Kita berdoa aja kepada Allah, jangan balas keburukan dengan keburukan, balaslah dengan kebaikan. Bapakmu sudah ikhlas, jika nanti bapak meninggal jangan pernah ungkit-ungkit masalah ini. Berikan senyuman, bapak sudah ihlas, Lillahhita'ala. Doakan bapak agar selalu berada di jalan Allah dan mati juga dijalan Allah"

Itu adalah pesan terakhir Kiai Kastari kepada putra-putrinya, juga  kepada santrinya. Semoga kisah ini bisa bermanfaat bagi kita semua bahwa keburukan tidak perlu dilawan dengan keburukan. Sebaliknya, keburukan harus dihadapi dengan kebaikan. Karena di situ letak ujian manusia. (IMS/Zunus) via nu online
Diusir Wasit, Bukannya Marah Malah Cium Tangan

Diusir Wasit, Bukannya Marah Malah Cium Tangan


Saat ini perhelatan Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 sedang ramai bergulir di semua provinsi yang terbagi dalam beberapa Region. LSN yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga ini lain daripada yang lain meskipun peraturan permainan sepak bola sama pada umumnya.

Saat itu sedang berlangsung pertandingan antara kesebelasan Pondok Pesantren Nurul Islam Jember dengan Pesantren Al-Asyariah. Nurul Islam yang merupakan juara bertahan LSN 2015 mendapat perlawanan sengit dari Al-Asyariah.

Ketika skor masih imbang 2-2, pemain benomor punggung 15 bernama Aldo dari kesebelasan Al-Asyariah menekel salah satu pemain Nurul Islam. Wasit menilai, perbuatan Aldo termasuk ke dalam pelanggaran berat sehingga ia pun menghadiahkan kartu merah untuk Aldo.

Sial bagi Aldo saat timnya membutuhkan tenaga untuk mengungguli sang juara bertahan. Namun, wasit cukup terkejut dengan tingkah Aldo yang seketika itu langsung mencium tangan wasit justru ketika ia harus menerima kenyataan diusir sang wasit.

Wasit pun langsung membalas tingkah Aldo dengan membelai kepalanya lewat tangan kirinya seolah ia menyesal harus mengusir pemain tersebut.

Budaya cium tangan di ajang LSN memang bukan hal baru. Karena setiap akan dimulai kick off pun, para pemain satu per satu menyalami wasit dan asistennya sembari cium tangan. Bahkan, untuk menjaga moralitas santri yang dikenal santun dan anti kekerasan, Panitia Pelaksana LSN 2016 seperti di Region Jawa Tengah II bersama para manajer klub menyepakati bahwa setiap pemain yang mendapat kartu kuning harus mencium tangan wasit. Namanya juga santri! (Fathoni) via nu online
Ketika Pahala Ceramah Mbah Bisri Musthofa untuk Para Santrinya

Ketika Pahala Ceramah Mbah Bisri Musthofa untuk Para Santrinya


Wartaislami.com ~ KH Bisri Mustofa (1914-1977) selain diakui sebagai kiai penulis dan penerjemah kitab yang cukup produktif. Ia juga merupakan orator (muballigh) ulung yang sering mengisi pengajian di berbagai daerah dalam pelbagai kesempatan. Karena penyampaian materi ceramahnya yang menarik, pidatonya diminati khalayak luas.

Meski permintaan ceramah di luar daerah begitu padat namun Kiai Bisri karena kasih sayang dan kecintaanya yang besar kepada para santrinya, penulis Tafsir Al-Ibris ini senantiasa berusaha agar kegiatan dakwah di masyarakat tidak mengganggu aktivitasnya dalam mengajar santri di pesantren.  
Seperti pernah disampaikan putranya, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam suatu pidatonya, kendati jadwal sudah diatur, ada saja permintaan atau undangan dari panitia pengajian yang kadang-kadang waktunya berbenturan dengan jadwal Kiai Bisri mengajar santri di pesantren. Sekali lagi, sebetulnya sudah menjadi prinsip bagi menantu Mbah Kiai Kholil Harun Kasingan Rembang tersebut bahwa jadwal mengajar santri di pondok pesantren yang diasuhnya jangan sampai absen atau kosong. Sehingga, beliau mengatur agar saat mengisi pengajian di masyarakat tidak berbarengan dengan jadwal mengajar di pesantren.

Ketika undangan ceramah ternyata bersamaan dengan jadwal ngajar di pesantren, Kiai Bisri selalu berkata kepada mereka dengan terang-terangan bahwa beliau dengan terpaksa menolak karena tidak mau mengecewakan para santri yang sudah dititipkan orang tuanya kepadanya yang pada saat bersamaan mereka berhak mendapatkan pelajaran.

Tapi tamu pengundang terkadang tidak menyerah dalam membujuk supaya sahabat karib KH Mahrus Ali Lirboyo ini berkenan dapat rawuh sesuai waktu yang ditargetkan panitia, sementara mereka tidak sabar bila menunggu waktu-waktu longgar yang tentu sulit didapatkan karena padatnya agenda mengisi pengajian di tempat lain.

Agar maksudnya tercapai, pihak pengundang umumnya mengajukan alasan, "Kiai, bukankah para santri sudah setiap hari belajar dengan panjenengan, jadi kesempatan mereka masih begitu banyak, sementara kesempatan untuk kami masyarakat yang jauh hanya sekali-kali saja dapat memperoleh pengajian dari Kiai Bisri."

Akhirnya karena didesak dan atas dasar alasan di atas, Kiai Bisri Mustofa pun mengalah dan bersedia memenuhi undangan ceramah dari perwakilan penitia tersebut.

Dalam sebuah acara pengajian di daerah Cirebon di sela-sela pembicaraannya, Mbah Bisri berdoa memohon pada Allah agar pahala ngajinya di tempat itu supaya diberikan kepada santrinya di pondok yang malam itu beliau tinggalkan. "Pengajian saya di tempat ini meninggalkan jadwal ngaji bersama santri di pondok, maka dari itu pahala ngajiku di sini berikanlah ya Allah kepada santri-santriku di pondok yang saya tinggalkan," doa Mbah Bisri. (M. Haromain) via nu online

Fatwa Ulama Kharismatik Banten Ini 'Tampar' Ormas Anti Pancasila yang Hidup Nyaman di Indonesia

Fatwa Ulama Kharismatik Banten Ini 'Tampar' Ormas Anti Pancasila yang Hidup Nyaman di Indonesia


Wartaislami.com ~ KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.

Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil iabadzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiro'ah ia tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari fan Ilmu Al-Qur'an Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.
Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :

قاعدة كلية أقامها من قبلنا لإصلاح من بين سابنج وميروكى

Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :

ألحاتيئي ومن نحا نحوهم ليس إلا أنهم قوم مسلمون أقاموا في بلدتنا التي قاعدتها فنجاسيلا ويريدون إزالتها محقرين ومهينين بانيها ومدعين بأنهم ط

اغوت, وذلك نوع من البغي, والبغي كبيرة. فلما كان كذلك فحرام في الجملة                                                              

Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam  pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.



<strong>M. Hubab Nafi’ Nu’man,</strong> Santri Abuya Muhtadi, Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak NU

(KBAswaja/Ibn Yaqzan)

Gus Mus: Islam Itu Damai, Guyub dan Ora Petentengan

Gus Mus: Islam Itu Damai, Guyub dan Ora Petentengan


Wartaislami.com ~ Di depan ratusan jamaah Pengajian Pitulasan di Kudus, KH. Mustafa Bisri menggambarkan kondisi dunia Islam akhir-akhir ini yang, menurutnya, “memperihatinkan”. Pria yang akrab disapa Gus Mus ini mencontohkan perang saudara sesama Muslim di Timur Tengah yang tak kunjung selesai. Timur Tengah yang selama ini sebagai referensi umat Islam semakin jauh dari visi rahmatan lil ‘alamin, katanya.

“Sampean (kalian) jangan bingung, mana yang Islam mana yang bukan Islam. Sana kok membunuh orang, sini kok membunuh orang juga. Sana kok ngebom, sini kok ngebom. Itu Islam sesama Islam, apa non-Islam dengan non-slam?” kata Gus Mus dalam pengajian yang diadakan di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah, Ahad (12/7) malam.

Arab Saudi di antara negara yang merepresentasikan dunia Islam namun membuat banyak orang bingung, katanya. Meskipun menjadi kiblat umat Islam sedunia dan menyimpan segudang sejarah Islam, kenyataannya banyak yang tidak simpati dengan sikap politik Arab Saudi yang angkat senjata memerangi negara muslim lainnya.

“Pokoknya yang anti Islam semakin lama semakin meningkat gara-gara umat Islam yang tidak mencerminkan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, tapi justru laknatan lil ‘alamin,” sindir Gus Mus sebagaimana dikutip oleh situs resmi Nahdhatul Ulama.

Menurut Gus Mus, perhatian dunia pada Islam kini beralih ke Indonesia. Salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini telah menjadi referensi alternatif dalam memandang Islam. Karena itu, orang-orang yang geger mendengar istilah “Islam Nusantara”, menurut Gus Mus, ialah orang yang tidak pernah ngaji.

“Kalau pernah ngaji pasti tahu prinsip idhofah (penyandaran) mempunyai berbagai makna, dalam arti mengetahui kata Islam yang disandarkan dengan kata Nusantara,” jelasnya. Kiai asal Rembang ini mencontohkan istilah “air gelas”. Apakah maksudnya airnya gelas, air yang di gelas, air dari gelas, ataukah gelas dari air. Bagi orang yang pernah ngaji, tentunya paham persoalan ini, katanya.

Islam Nusantara, bagi Gus Mus, ialah Islam yang diajarkan Walisongo sejak dulu dan masih eksis di Indonesia hingga kini. “Islam ngono iku seng digoleki wong kono (Islam seperti itu yang dicari orang sana), Islam yang damai, guyub (rukun), ora petentengan(tidak mentang-mentang), dan yang rahmatan lil ‘alamin,” terangnya. Rais ‘Aam NU ini menambahkan,  Wali Songo memiliki ajaran Islam yang benar-benar mencerminkan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad. “Walisongo tidak hanya mengajak bil lisan, tapi jugabil hal, tidak mementingkan formalitas, tapi inti dari ajaran Islam,” tegas Gus Mus.

Source: www.islamindonesia.id
Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?


Wartaislami.com ~ Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini.

Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/8/2016).

Dalam agenda ini, mustasyar PBNU ini didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Ah. Rofi'uddin dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta guru besar, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (semangat mengajak), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah," terangnya. Menurut Gus Mus, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daa'iyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus mengimbau kepada umat Muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab tobat. Ia mengatakan bahwa tobat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertobat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam taushiyahnya, Gus Mus mengimbau agar umat Muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.

"Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul 'usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil 'alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi kayaknya malah jadi la'natan lil 'alamiin (laknat bagi seluruh alam)," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengaji, tekun belajar, dan memberi kontribusi pada NKRI. Ia juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia. (Munawir Aziz/Mahbib) via nu online
Rokok Cerutu Iringi Pejuang Kemerdekaan di Parakan

Rokok Cerutu Iringi Pejuang Kemerdekaan di Parakan


Sejarah tutur (sebagaimana istilahnya Gus Dur) keberadaannya dapat membantu memperkaya perspektif pembaca dalam memahami suatu peristiwa sejarah. Utamanya ialah bahwa sejarah tutur sering dapat mengeksplorasi suasana sebuah peristiwa dan sisi lain dari suatu sejarah yang kerap tidak tersorot dalam dokumentasi sejarah resmi.

Buku berjudul Cuplikan Sejarah Bambu Runcing karya KH. Muhaiminan Gunardho Parakan yang diterbitkan Kota Kembang, Yogyakarta (hanya untuk kalangan sendiri) itu barangkali dapat dikelompokkan ke dalam kategori sejarah tutur dimaksud. Walaupun hanya kumpulan cuplikan sejarah yang sudah tentu masing-masing fragmen cerita ditulis tidak secara komprehensif-holistik, bahkan satu sama lain di antara fragmen peristiwa di dalamnya terkesan kurang terkait secara padu. Namun cukup mengilustrasikan bagaimana sejarah singkat Bambu Runcing dan kota Parakan dalam konteks masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.      

KH. Muhaiminan Gunardho dalam salah satu fragmen dalam buku ini menggambarkan suasana kota Parakan. Tidak terhitung lagi banyaknya orang-orang yang datang ke Parakan siang malam, pagi sore berbondong-bondong tanpa henti-hentinya bagaikan barisan semut. Mulai dari stasiun, karena waktu itu diadakan kereta istimewa sampai Jetis, jembatan Galeh sampai jembatan Brangkongan, penuh pemuda beriringan memanggul Bambu Runcing, kelewang, sujen, dan botol-botol tempat air.

“Kereta api memuat penumpang bergelantungan sampai di atas atap. Dari stasiun para pemuda dengan beratur berbaris empat-empat menuju gedung Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Tidak sedikit rombongan yang berjalan kaki dari jalan Kedu, jalan Bulu, jalan Wonosobo, jalan Ngadirejo, semuanya menuju satu tujuan yaitu gedung BMT Kauman Parakan, tempat menyepuh Bambu Runcing,” tulis Kiai yang dulu cukup dekat dengan Gus Dur itu.

Masyarakat dan rakyat Parakan menyambut para pemuda pejuang tersebut dengan sangat ramah dan penuh suka cita. Mereka dianggap tak ubahnya saudara mereka sendiri. Pada saat seperti ini banyak masyarakat Parakan yang memberikan kemudahan kepada pengunjung, yaitu dengan menjual berbagai dagangan, seperti makanan dan minuman, juga Bambu Runcing, kenthes, angklek keris, botol, tambang, dan tutup botol.

Bila ada rombongan datang sore atau malam hari, selain menawarkan dagangan warga Parakan juga menawarkan penginapan secara rombongan. Sebab tidak semua rombongan yang datang sudah lengkap peralatannya. Ada yang sudah membawa perlengkapan dari daerah asalnya seperti Bambu Runcing, botol dan lainnya, tetapi tidak sedikit pula yang datang belum membawa perlengkapan apa-apa.

Para penjaja barang-barang ini berjajar memenuhi jalan menuju Masjid Kauman dan gedung BMT. Bambu Runcing dan kenthes yang dijual kebanyakan berasal dari pring gading (bambu kuning) yang sering juga dibuat sebagai gagang sapu.

Penjual sepatu juga ada, kebanyakan ukurannya besar sebab sepatu rampasan dari Belanda. Tidak ketinggalan pedagang rokok pun ikut menawarkan produk rokoknya. Yang unik serta mengesankan adalah ada pedagang rokok pada waktu itu yang tidak pernah lupa menjual rokok cerutu raksasa, panjang rokok ini sampai 1,5 meter.

Pada siang hari mulai pukul 08.00 sampai 16.00 di jalan Kauman gedung BMT dipenuhi orang, terdengar dari gedung itu sangat nyaring suara orang memanjatkan doa bersama-sama malafalkan:

بِسْمِ اللهِ بِعَوْنِ اللهِ٣× (Basmalah 3x)

الله ُيَا حَفِيْظُ ٣× (Allahu Ya Hafidz 3x)

اَلله ُاَكْـبَرُ ٣× (Allahu Akbar 3x)

إلهنا يا سيدنا أنت مولنا وانصرنا على القوم الكافرين ٣×

Begitu pula di antara rombongan pejuang yang sudah tiba di Parakan pun terjadi kesibukan berbeda-beda di antara mereka. Ada yang  mencari masjid, mencari warung, mencari penginapan, ada yang langsung mendaftar ke kantor BMT dan ada juga yang langsung menyepuhkan bambu runcingnya. Untuk menampung pendatang malam hari, tidak sedikit rumah-rumah pribadi dijadikan penginapan sementara. Bagi mereka soal di mana tidurnya tidak masalah. Asal ada dipan bahkan dengan menggelar tikar lantaipun mereka tidur pulas. Langgar dan masjidpun selalu penuh.

Keramaian Parakan, dengan sepuh Bambu Runcingnya, akhirnya tercium juga oleh penjajah yang merasa sangat tidak senang dengan kegiatan tersebut karena dianggap membahayakan posisinya. Maka mulailah mereka menyebar mata-mata. Akhirnya sejak itu untuk mengantisipasi dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, pengurus BMT mengeluarkan ketentuan siapapun yang akan bertemu atau rombongan penting yang akan masuk ke BMT, harus mendaftar terlebih dahulu. Beruntung Hubungan antara BMT dengan kepolisian Parakan waktu itu sangat erat. (M. Haromain) via nu online
Ini Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir

Ini Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir


Di antara ibadah yang disunahkan Rasulullah ialah shalat witir. Saking tegasnya kesunahan ini, sebagian ulama mewajibkan shalat witir seperti yang dikenal dalam madzhab Hanafi. Ketegasan anjuran ini diperkuat dengan kesaksian para sahabat. Beberapa orang sahabat seperti Abu Hurairah dan Abu Dzar diwasiatkan oleh Nabi SAW agar tidak meninggalkan shalat witir.

Menurut Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari’, pesan Rasulullah SAW ini memiliki hikmah. Di antara hikmahnya, agar para sahabat terbiasa witir, menunjukkan kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya pada malam hari. Witir sangat dianjurkan karena shalat termasuk kategori ibadah badaniyah yang paling mulia dan utama.

وأما في الوتر قبل النوم إشارة إلى أن ذلك في المواظبة عليه وفيه إمارة الوجوب ووقته في الليل وهو وقت الغفلة والنوم والكسل ووقت طلب النفس الراحة

Artinya, “Anjuran witir sebelum tidur mengisyaratkan agar sahabat membiasakannya, sekaligus tanda kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya malam hari. Sementara malam merupakan waktu paling baik untuk santai, tidur, dan istirahat.”

Sebenarnya, shalat witir lebih baik dikerjakan di akhir malam atau menjelang waktu shubuh. Namun bila khawatir tidak bangun pada waktu itu, Rasulullah SAW menganjurkan pelaksanaannya sebelum tidur. Hal ini dijelaskan oleh hadits riwayat Jabir, Rasulullah SAW berkata:

من خاف أن لايقوم من آخر الليل فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل، فإن صلاة آخر الليل مشهودة، وذلك أفضل

Artinya, “Siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witirlah terlebih dahulu. Sementara orang yang yakin bangun di akhir malam, kerjakanlah witir di akhir malam, sebab shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama,” (HR Muslim).

Menurut hadits ini, shalat di akhir malam disaksikan oleh para malaikat. Tentu makhluk agung itu tidak hanya sekedar melihat. Mereka sekaligus membawa rahmat untuk makhluk bumi.

Dalam hadits lain dikatakan, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya pada akhir malam, sehingga siapapun yang berdo’a kepada-Nya akan dikabulkan, (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah) via nu online
Dua Kiai Berbeda dalam Watak Bersatu dalam Totalitas

Dua Kiai Berbeda dalam Watak Bersatu dalam Totalitas


Wartaislami.com ~ Di antara para guru kami di pesantren adalah Kiai Ali Muchsin dan Kiai Arif Madani. Kiai Arif Madani adalah putra dari Kiai Madani Maarif, pengasuh Pondok Pesantren Sumber Bungur, Pakong Pamekasan. Sedangkan Kiai Ali Muchsin merupakan sang menantu.

Di antara keduanya (Kiai Ali Muchsin dan Kiai Arif Madani) terdapat perbedaan yang mencolok mengenai watak mereka. Dalam pandangan para santri termasuk penulis sendiri dahulu, Kiai Ali Muchsin identik dengan pribadi yang lurus, sabar tidak pemarah dan selalu sumringah. Berbeda dari Kiai Arif Madani yang identik dengan amarah, dan suara yang menggelegar. Oleh karenanya para santri sahabat-sahabat saya waktu dulu, jangankan mendengar suara beliau berbicara, mendengar suara sandal atau bangkiaknya saja sudah lari terbirit-birit.

Penulis mengaji kepada Kiai Ali Muchsin kitab Taqrib dan Tashil Nailil Amani. Ketika mengaji, Kiai Ali Muchsin fokus membaca kitab dan menerangkannya. Ia tidak pernah menghiraukan apa yang terjadi pada para santri, entah didengarkan atau tidak, entah tidur atau tidak, ia tidak peduli dan terus saja memabahas isi dalam kitab tersebut. Dalam kebanyakan kasus, pengajian Kiai Ali Muchsin sering dihadiri oleh mayoritas santri, meskipun tidak jarang di antara mereka ada yang tidur. Beberapa santri junior (masih baru) menggerutu jika mengikuti pengajian Kiai Ali Muchsin. Demikian pula penulis saat masih baru dulu.

Berbeda dari pengajian yang diselenggarakan Kiai Arif. Para santri dijamin tidak bisa tidur dan tidak mungkin ngantuk dalam pengajiannya. Di samping karena takut, juga karena Kiai Arif bisa membawa para santri pada suasana santai dengan guyonan yang biasa diselipkan ke tengah-tengah pengajian.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir sekarang, Kiai Ali Muchsin bukannya tidak alim dalam ilmu. Bahkan bisa dikatakan dirinya penuh totalitas jika harus membahas satu pasal saja dalam sebuah kitab. Dan mungkin sebenarnya hal inilah yang membuat para santri itu tidur, sebagian lagi menggerutu dan ada pula yang menganggapnya aneh.

Ketika membahas sebuah pasal pendek dari kitab Taqrib, Kiai Ali Muchsin bisa dengan asyiknya menjelaskan selama berjam-jam dan tanpa meleset dari pokok permasalahan. Bahkan suatu ketika di tengah-tengah pengajian ia menyempatkan izin kepada para santrinya untuk mengambil referensi lain di ‘ndalem’-nya sebagai bahan tinjauan.

“Sebentar ya para santri ya, saya ambilkan kitab lain yang membahas hal ini sebagai penjelasan tambahan,” kata Kiai Muchsin.

Mendengar perkataan itu, para santri mendesah pelan: “Hedeehh….! Nambah dua jam lagi pengajian ini.” Sejurus kemudian mereka merebahkan diri sepeninggal Kiai Muchsin dari mushalla tempat mengaji.

Kiai Muchsin pun keluar dengan tenang dan seakan-akan tidak melihat apa yang terjadi, tidak mendengar gerutu para santri dan tidak mengerti perasaan dongkol mereka. Lima belas menit kemudian ia membawa sebuah kitab yang dimaksud, di mana ketika itu saya tidak tahu namanya apa. Kiai Ali Muchsin pun menerangkan sejelas-jelasnya isi kitab lain tersebut. Sontak saja pengajian tersebut selesai sekitar dalam waktu “injury time”, lebih kurang 2 (dua) jam kemudian.

Dalam kondisi seperti itu, tidak jarang Kiai Arif Madani membantu ‘menertibkan’ para santri. Ia sering memantau kondisi pengajian Kiai Ali Muchsin, karena memang tidak jarang, di antara para santri yang mengaji di luar mushala (karena kondisi mushala yang sudah penuh) hanya tidur saja dan ‘guyon’ di antara mereka. Kiai Arif Madani menertibkan santri-santri yang demikian ini biasanya hanya dengan satu kali suaranya yang agak keras, atau suara sandal atau bengkiaknya. Dan seperti sudah berlangsung secara mekanis, para santri langsung berhamburan masuk ke dalam rauangan yang sudah penuh itu bahkan sampai-sampai melangkahi, atau bertindihan dengan santri-santri yang sedang tidur di dalam ruangan mushala. Kiai Arif Madani memang tidak pernah rela ada santrinya meremehkan pengajian, meremehkan kitab dan para guru.

Dalam kondisi seperti itu, Kiai Ali Muchsin masih dengan tenangnya menanggapi: “Ada apa, rek….?.” Subhanallah, Kiai Ali Muchsin…

Demikianlah, Kiai Ali Muchsin dan Kiai Arif Madani, berbeda dalam watak, bersatu dalam totalitas terhadap ilmu.



Sumber : nu online
90th Tetap Eksis, Ini Rahasia Pondok Modern Gontor

90th Tetap Eksis, Ini Rahasia Pondok Modern Gontor


Wartaislami.com ~ Di tengah perkembangan zaman yang penuh kompleksitas ini, Pondok Modern Darussalam Gontor masih mampu hadir dan berkiprah hingga menginjak usia 90 tahun. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengungkapkan kunci sukses dari eksistensi Gontor dari sejak pertam kali didirikan hingga saat ini.

“Salah satu rahasianya adalah keikhlasan dari para pendiri Pondok Modern Gontor serta pengelola Gontor,” ungkap Wakil Ketua MP RI, Hidayat Nur Wahid, kepada Republika, Ahad (21/8).

Kemampuannya untuk terus menjaga keikhlasan ini, Hidayat menambahkan, membuat Gontor tidak terjebak pada konflik ataupun kepentingan kelompok.

Kunci sukses Gontor masih tetap eksis juga disebabkan karena kemampuan Gontor untuk berkomunikasi secara efektif dengan pihak pemerintah tanpa harus terkooptasi dengan kepentingan politik pemerintah. “Ini menjadi nilai lebih dari Gontor sehingga Gontor tidak terkesan ekslusif,” kata Hidayat.

Hidayat yang juga alumnus Pondok Modern Gontor ini menyebutkan ada banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan ketika menempuh pendidikan selama lima tahun di Pondok Modern Gontor. Kedisplinan yang ditanamkan Gontor sangat berperan dalam membentuk karakternya sehingga bisa sukses di tengah masyarakat.

Selain itu, Hidayat menambahkan, Pondok MOdern Gontor juga mengajarkan pentingnya berorientasi kepada keumatan. Menurutnya, alumni Gontor bertanggungjawab terhadap Islam dan umat Islam di manapun mereka berada.

Salah satu yang dilakukan Pondok Modern Gontor adalah dengan menyebar para santri untuk menjadi imam dan khatib di sekitar Gontor sebagai pembelajaran bagi mereka untuk terjun di masyarakat agar tidak canggung untuk berdakwah apaun profesi mereka nantinya.

Hidayat berharap Pondok Modern Gontor bisa terus menjaga segala amanah dan kepercayaan publik. Dia menilai menjaga amanah dan kepercayaan publik merupakan modal dasar agar Pondok Modern Gontor bisa terus eksis dan berkiprah di tengah masyarakat.

Dia juga berharap Gontor tidak henti melakukan dalam pengembangan dan pembenahan. Sebab, tantangan dan tuntutan zaman ke depan semakin komplek dan kompetitif. Untuk itu, dia menyimpulkan, Pondok Modern Gontor harus bisa menyipkan para kadernya untuk menghadapi tantangan kedepan.

Source: www.republika.co.id
KH. Ridwan Mujahid: Pendiri NU Asal Semarang

KH. Ridwan Mujahid: Pendiri NU Asal Semarang


M. Rikza Chamami
Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo

Mengenang kembali sosok pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Semarang bernama KH Ridwan Mujahid sangat dibutuhkan. Belum banyak orang mengetahui sosoknya. KH Ridwan Mujahid berasal dari Kauman Semarang. Sebagaimana disebutkan oleh Agus Tiyanto, KH Ridwan Mujahid adalah keturunan dari Kyai Lasem yang sama dengan kerabat KH Makshum dan KH Baidlawi yang bersambung nasabnya hingga Mbah Sambu. Makam KH Ridwan Mujahid berada di Pemakaman Umum Bergota (tepatnya di selatan Makam KH Sholeh Darat, satu area makam keluarga H. Abu Bakar Kauman).

Dalam buku “Kemelut di NU Antara Kyai dan Politisi” karya Abdul Basith Adnan disebutkan peran besar KH Ridwan Mujahid. Jasanya dalam membentuk organisasi ulama pesantren bersama KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dilupakan. Ulama yang semula berkumpul untuk membahas persoalan negeri Hijaz bernama Komite Hijaz, berubah nama dengan Nahdlatul Ulama.

Usaha mengenalkan NU di Semarang bagi KH Ridwan Mujahid awalnya tidak mudah. Namun berkat ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah yang ditinggalkan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (KH Sholeh Darat), maka NU mudah dikenal dan diikuti oleh warga Semarang. Sehingga ketika NU diresmikan pada tahun 1926, masyarakat Semarang dan sekitarnya mudah menerima dan mengakar dalam sanubari (Amirul Ulum: 2014).

KH Ridwan Mujahid adalah salah satu murid KH Sholeh Darat. Perkenalan KH Ridwan Mujahid dengan KH M Hasyim Asy’ari lebih karena keduanya merupakan murid KH Sholeh Darat saat mondok di Pesantren Darat Semarang. Maka perjuangan mendirikan NU merupakan hasil dari kerjasama para murid sesepuh ulama Nusantara semisal: KH Cholil Bangkalan, KH Sholeh Darat Semarang, KH Nawawi Banten, KH Mahfudz Termas dan ulama lainnya.

Murid KH Sholeh Darat lainnya yang berjuang menegakkan ahlussunnal wal jama’ah di Semarang antara lain: KH Ridwan bin Mujahid, Kyai Sya’ban bin Hasan, Kyai Thahir Mangkang, Kyai Sahli Kauman, Kyai Ali Barkan, Kyai Abdullah Sajad dan lain-lain. Anasom dalam papernya “KH. Saleh bin Umar dan Pondok Pesantren Darat” menyebutkan bahwa salah satu karya KH. Ridwan Mujahid Semarang adalah “I’anatul ‘Awam fi Mufhimmati Syara’ Al-Islam”.

KH Ridwan Mujahid selain dikenal sebagai Kyai yang berjuang dalam pengembangan organisasi NU juga dikenal mengembangkan dakwah di Pesantren. Salah satu muridnya yang juga bersama-sama mendirikan NU adalah KH Ma’shum Ahmad Lasem Rembang. Dengan demikian semakin nyata, bahwa perjuangan keagamaan, dakwah dan pesantren menjadi semangat yang dimiliki oleh KH Ridwan Mujahid.

Keakraban KH Ridwan Mujahid dengan para pendiri NU lainnya sudah tidak asing. KH Ridwan Mujahid bersama ulama Jawa Tengah lainnya, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus turut serta hadir dalam deklarasi pendirian NU pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah Kertopaten Surabaya.

Diantara ulama yang hadir dalam pendirian NU di Surabaya berasal dari Semarang, Kudus, Tegal, Jombang, Sidoarjo, Pasuruhan, Bangkalan Madura, Gresik, Bangil,  Mojokerto dan Mesir. Mereka antara lain: KH Abdul Wahab Chasbullah, KH M Hasyim Asy’ari, KHR Muntaha (menantu KH Cholil Bangkalan), Kyai Mas Nawawi, KHR Asnawi, KH Kamal Hambali, KH Ridwan Mujahid, KH Muhammad Zubair Gresik, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri dan lain-lain.

Oleh para pendiri NU, KH Ridwan Mujahid diamanahi sebagai Musytasyar Syuriyah dalam struktut Pengurus NU periode pertama bersama dengan: KH Muhammad Zubair Gresik, KHR Muntaha Bangkalan Madura, KH Mas Nawawi Sidogiri, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus. Adapun Rois Akbar dipegang oleh KH M Hasyim Asy’ari dan Katib KH Abdul Wahab Chasbullah.
Keberadaan KH Ridwan Mujahid dalam struktur NU semakin membawa daya tarik bagi masyarakat Semarang. Maka KH Ridwan Mujahid mengajak KH Abdullah dan KH Showam untuk mendirikan NU Kota Semarang. Tepat tanggal 24 April 1926, pengurus NU Cabang Kota Semarang berdiri dan dilantik oleh Katib Syuriyah KH Abdul Wahab Chasbullah yang berpusat di Surabaya. Lokasi pelantikan berada di Alun-Alun Kota Semarang yang berada di depan Masjid Agung Kauman Semarang.

Keberadaan resmi NU Cabang Semarang ini menjadi titik perjuangan para Kyai dalam mengenalkan Islam ahlussunnah wal jama’ah. Dan pergerakan NU Kota Semarang menjadi ringan karena ditopang oleh murid-murid KH Sholeh Darat yang sudah lebih dulu mengenalkan ahlussunnah wal jama’ah sebelum NU lahir dan berdiri di Semarang.

Walapun sudah dilantik dan  resmi berdiri di Semarang, oleh karena NU belum memiliki gedung, maka koordinasi NU masih secara tradisional dari Masjid ke Masjid. Diantara Masjid yang sering digunakan untuk koordinasi NU adalah Masjid Nahdlatul Ulama di Jomblang Kecamatan Candisari Kota Semarang. Zainul Milal Bizawie (2016) mencatat sejak 1916 sudah berdiri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya dan mempunyai Cabang di Semarang yang bernama Madrasah Akhul Wathan. Oleh Choirul Anam (2015) lokasi Madrasah Cabang Nahdlatul Wathan di Semarang berada di Jomblangan Kidul.

Dalam catatan Amirul Ulum disebutkan bahwa NU Kota Semarang hingga tahun 1950-an masih menempati sekretariat di rumah-rumah pengurus. Diantara tempat yang dijadikan bascamp koordinasi pengurus NU adalah di rumah KH Irhas (Ketua Syuriyah tahun 1950-an). Pada tahun 1970-an NU Semarang memiliki gedung di Jalan Sudirman dari hasil wakaf. Dan menurut Anasom sejak  2008 hingga sekarang, NU Semarang menempati gedung di Jalan Puspogiwang Semarang.

Kematangan organisasi KH Ridwan Mujahid dalam berkhidmah kepada NU ditunjukkan dengan kesiapan Semarang sebagai tuan rumah Muktamar NU keempat. Muktamar NU keempat adalah pertama kalinya Muktamar yang digelar di luar Kota Surabaya. Dikisahkan bahwa dalam kegiatan Muktamar NU keempat ini, KH Ridwan Mujahib berperan kuat dalam mensukseskan.

Muktamar NU keempat digelar pada 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M di Hotel Arabistan Kampung Melayu Semarang. Muktamar di Semarang tergolong sukses karena dihadiri 1.450 peserta terdiri dari 350 Kyai, 900 pengawal Kyai dan 200 pengurus Tanfidziyah. Saat Muktamar keempat di Semarang sudah terdaftar: 63 Cabang (13 Jawa Barat, 27 Jawa Tengah dan 23 Cabang Surabaya dan Madura).

Penutupan Muktamar Semarang juga sangat meriah karena digelar di Alun-Alun Semarang dengan dihadiri 10.000 jama’ah. Muktamar Semarang dihadiri langsung oleh Rais Akbar KH M Hasyim Asy’ari dinilai sebagai tonggak awal perkenalan NU daerah-daerah di luar Surabaya (Choirul Anam: 2015).

Melihat sepak terjang yang tidak kenal lelah dari KH Ridwan Mujahid, maka semangat ini patut ditiru oleh para generasi muda saat ini dalam memperjuangkan NU. Termasuk belum terungkapnya kisah-kisah lain dari KH Ridwan Mujahid masih perlu diperdalam. Sehingga dibutuhkan waktu lagi untuk melacak kiprahnya dalam semangat mendirikan NU dan menyebarkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.*)

Photo: Masjid Besar Semarang,  www.kitlv.nl


Sumber : arrahmah.co.id
Merdeka Versi Cak Nun

Merdeka Versi Cak Nun


Wartaislami.com ~ Bagi Budayawan Emha Ainun Najib, kemerdekaan merupakan energi untuk dikelola demi menemukan batas. Ketidaktahuan pada ilmu kemerdekaan membuat seseorang lebih berkonsentrasi pada ‘bebas’ dan bukan pada ‘batas’. Padahal setiap manusia termasuk di Indonesia, bertempat tinggal di ruang-ruang yang mereka ukur dan untuk itu mereka mendirikan tembok-tembok. Manusia, kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini, bertahan dalam ukuran dan ukuran adalah batas.

“Indonesia itu sudah diberi batas sejak persiapan kemerdekaan, kemudian ada konstitusi, dan segala macam. Itu semuanya kan lingkaran batas,” kata Cak Nun di depan hadirin yang memadati lokasi kajian Mocopat Syafaat  Yogyakarta, (17/8).

Sayangnya, Indonesia tidak mempertahankan kembali batas yang telah diberikan itu. Jebolan Alberta University Kanada yang juga putra Cak Nun, Sabrang ‘Noe’, mengeksplorasi lebih lanjut dengan analogi lingkaran yang digambar di atas papan tulis. “Mengapa lingkaran di papan tulis itu ada? Karena ada garis batasnya kan?” tanyanya memantik diskusi.

Keberadaan lingkaran itu hanya konsep di benak manusia akibat melihat batas yang berupa garis di atas papan tulis. “Kalau kita pegang,  aslinya ya papan tulis. Jadi keberadaan, kuncinya adalah batas,” kata pria yang telah menyelesaikan dua jurusan studinya sekaligus ini;  fisika dan matematika.

“Jika kita ngomong negara A atau B, pasti ada batas seperti batas teritorial. Lebih dalam lagi, kalau dikatakan kedaulatan manusia menentukan nasibnya sendiri, itu kanjuga batas.”

Contohnya, jika benar 80 persen dari undang-undang di Indonesia itu merupakan intervensi dari luar negeri, berarti batas sudah ditembus.  “Nah, kalau batas sudah ditembus, sudah hilang, apakah keberadaan (negara) itu masih ada?” katanya sembari mencontohkan lingkaran di papan tulis dihapus hingga garisnya terputus-putus dan tidak utuh lagi.

Kalau pun dikatakan masih ada, yang tersisa hanya imajinasi dari bentuk utuh yang secara aktual tidak lagi demikian. “Untuk mengetahui apakah kita merdeka,  kita harus tahu batas kita yang tertembus. Apa yang sudah hilang dari batas kita? Apakah kita sudah tahu batas budaya, regulasi, hingga batas ekonomi kita seperti apa?”

Diskusi dinamis yang berlangsung pada 17 Agustus malam itu berawal dari tulisan Cak Nun soal kemerdekaan. Kemerdekaan manusia, masyarakat dan bangsa, kata Cak Nun adalah kemerdekaan untuk menemukan batas. Ketepatan batas itu berpedoman pada titik akurat dari kesejahteraannya, kesehatan dan keselamatannya. “Terlalu membatasi” atau “tidak terbatas” sama-sama mengandung ranjau atas kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan.

Di usia kemerdekaan ini ke-71 ini, Cak Nun melihat Indonesia – dengan sederet persoalan bangsa yang berimbas pada rakyat kecil, – seakan di tengah badai, bahkan di tengah air bah yang luar biasa.

“Anda harus gravitatif. Anda harus Seimbang. Orang yang kuda-kudanya kuat, tidak mudah miring, tidak gampang dijegal orang lain. Seluruh mesin berfikir Anda kuda-kudanya harus kuat, sedemikian rupa hingga menjadi batinmu,” kata Cak Nun sembari mengapresiasi acara yang akan dibuat KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri bertajuk ‘Tegak di Tengah Badai’.

Source: www.islamindonesia.id
Gus Mus: “Bencilah Perilakunya, Jangan Benci Orangnya”

Gus Mus: “Bencilah Perilakunya, Jangan Benci Orangnya”


Wartaislami.com ~ KH Mustofa Bisri memang kerap memberikan nasihat yang mengena dan relevan bagi situasi kekinian. Setelah beberapa waktu lalu melontarkan nasihat terkait dengan orang jujur yang lebih sehat daripada pembohong, pada #FatwaJum’at kali ini (19/8) Gus Mus kembali melontarkan nasihat yang berharga: “Bencilah perilakunya yang tidak baik. Jangan membenci orangnya. Karena orang masih bisa memperbaiki diri dan menjadi baik.”

Penggalan nasihat tersebut sejatinya merupakan pegangan orang-orang muslih (pelaku kebaikan) dari sejak dahulu. Para nabi, terutama Nabi Muhammad, selalu menaruh harapan pada perbaikan seseorang. Bahkan saat beliau sedang diserang oleh penduduk Taif dengan lemparan batu dan kotoran, doa yang beliau sampaikan adalah doa yang sarat akan positivisme dan optimisme. Beliau berdoa: “Ya Allah, berilaku petunjuk pada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Dari penggalan doa itu Nabi Muhammad sesungguhnya sedang mengajarkan suatu prinsip yang menyatakan bahwa apapun perilaku buruk yang datang dari manusia, jika ada petunjuk dan pengetahuan, maka mungkin sekali perilaku itu akan berubah menjadi indah. Di sinilah letak harapan kita pada perbaikan terhadap keadaan, terutama yang menyangkut manusia lain.

Dalam berhubungan dengan keburukan perilaku manusia, kita harus percaya bahwa perilaku buruk itu bukan bagian dari esensinya. Karena esensi manusia sebenarnya–sebagaimana kata Al-Qur’an–bersifat fitrah, suci dan sesuai dengan fitrah Allah. Artinya suatu saat perilaku itu dapat berubah dan manusia yang telah kita benci perilakunya itu menjadi manusia yang kita sukai dan sayangi.

Pandangan optimistik terhadap manusia inilah yang dapat memberi harapan bagi hubungan yang sehat di antara sesama manusia di satu sisi, dan di sisi lain memberi harapan pada mereka yang berjuang memperbaiki situasi yang ada. Tanpa secercas prasangka baik ini, maka seseorang akan menjadi pesimistik dan tentu saja tidaklah mungkin menjadi muslih yang dapat memperbaiki situasi yang ada.

Source: www.islamindonesia.id
Kiprah Ibu di Balik Si Kecil yang Hafal Al-Qur’an

Kiprah Ibu di Balik Si Kecil yang Hafal Al-Qur’an



Ada salah seorang pengajar tahfidz al-Qur'an di sebuah masjid bercerita.

Suatu ketika datang kepada saya seorang bocah kecil yang hendak daftar ikut halaqah, halaqah menghafal Al-Qur'an. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu hafal sebagian dari Al-Qur’an?

Dia menjawab, “Ya.”

Saya menyuruhnya untuk membaca Surat al-Naba' ('Amma). Ia pun membacanya dengan baik dan lancar.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apakah kamu hafal Surat al-Mulk (Tabaarak)? Dia pun menganggukkan kepalanya.

Saya dibuatnya terheran dan kagum dengan hafalannya yang lancar dan fasih meskipun umurnya masih sangat muda.

Kemudian saya menyuruhnya untuk membaca Surat al-Nahl (juz 14). Ia pun membaca dengan lancar dan sempurna. Semakin bertambah kekaguman saya dengan anak kecil ini. Subhanallah. Maha suci Allah.

Saya pun ingin mengujinya dengan surat-surat panjang. Apakah kamu hafal Surat al-Baqarah (juz 1)?

Ia pun dengan tenang menjawab, “Ya.”

Subahanallah wa Masya Allah, Tabarakallah!

Sungguh saya terpana atas kekuatan hafalan dan kefasihannya.

Sungguh menakjubkan!

Saya pun meminta kepadanya untuk datang lagi besok hari bersama dengan orang tuannya.

“Seperti apakah bapak itu? Pikir saya. Terlintas dalam pikiran saya bahwa orang tuanya adalah orang yang berpenampilan rapi, berwibawa layaknya seorang syekh dan aura wajahnya tampak bersinar.

Ketika mereka datang, sungguh sangat mengherankan. Lamunanku sirna. Saya memandangnya dengan seksama dan tidak terlihat pada penampilannya yang menunjukkan bahwa orang ini berpegang teguh dengan sunnah Nabi.

Segera ia (bapaknya) menghampiri saya seraya berucap, “Saya tahu bahwa Anda heran dan kaget jika saya adalah bapak dari anak ini!”

Lagi-lagi dia memutuskan lamunan saya dan kebingungan saya atas keadaan ini. Belum hilang rasa ketakjuban saya, ia pun kemudian bercerita bahwa di belakang kesuksesan anak ini terdapat seorang perempuan.

“Saya ingin mengabarkan kepadamu bahwa di rumah kami ada tiga anak laki-laki kami. Semuanya hafal Al-Qur'an. Sementara anak perempuan kami yang masih berumur empat tahun sudah hafal juz 'Amma.”

Saya sangat kagum. Saya pun kemudian bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu?”

Kemudian dia bercerita. “Yang paling penting adalah apabila anak mulai bisa berbicara, saat itu pula diajarkan menghafal Al-Qur'an dan mendorongnya untuk itu dengan melakukan perlombaan: barangsiapa yang hafal terlebih dahulu maka ia berhak memilih menu makan malam saat itu; barangsiapa yang muraja'ah (mengulang hafalannya) terlebih dahulu dengan baik maka ia berhak memilih tempat yang akan dikunjungi pada saat libur mingguan; dan barangsiapa yang khatam Al-Qur'an terlebih dahulu maka ia berhak memilih tempat rekreasi dan refreshing yang akan dikunjungi pada saat liburan panjang. Dengan demikian, terciptalah sebuah persaingan di antara anak-anak kami, baik dalam hal muraja'ah maupun menghafal. Itulah kehebatan seorang perempuan yang shalehah, yang mana apabila ia baik maka akan baik seisi rumah. Itulah sosok ibu.”

Ada hikmah penting dari kisah ini. Perempuan dengan segala kelebihan dan kelemahannya, ia merupakan kunci kesuksesan bagi anak-anaknya. Perempuan yang baik akan melahirkan generasi yang baik, begitu pula sebaliknya. (Baca juga: Kisah Nyata Ucapan Ibu Berbuah Petaka untuk Anaknya)

Perempuan dengan tetesan air matanya saat berdoa, dapat menyibak langit, membuka satir (penghalang) antara dia dengan Tuhannya. Maka tidak heran ketika Rasulallah menyuruh kita untuk selalu berbakti kepada perempuan yang melahirkan kita.

Perempuan dengan segala kelemahannya adalah seorang pendidik sejati, walau tidak bergelar strata pendidikan tertentu. Karena dengan sentuhan tangannya yang lembut, ia dapat menciptakan manusia yang unggul dan dengan kearifan bahasa dan tutur katanya yang santun. Ia juga dapat membangkitkan semangat jiwa anak-anaknya. Pesan-pesannya selalu terpatri dalam relung jiwa anak-anaknya.

Bagi perempuan yang shalehah, kesuksesan anaknya, tak membuatnya congkak dan sombong. Ia hanya menebarkan senyum dan air mata haru. Kepedihan rasa sedih yang ia rasakan karena anaknya, tidak membuatnya lemah dan terpuruk dalam kehinaan. Ia selalu menundukkan kepala, bersujud menengadah kepada Tuhannya. Untaian doanya tidak pernah putus, untaian kasih sayangnya tidak pernah habis dan bertepi.



Sumber : nu online
Cinta Pahlawan Versi KH Bisri Mustofa

Cinta Pahlawan Versi KH Bisri Mustofa


M. Rikza Chamami
Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo

Indonesia memiliki banyak pahlawan yang berjuang gigih meraih kemerdekaan. Tentunya perjuangan itu bukan hal sederhana. Mereka rela mengorbankan nyawa, jiwa, raga dan harta demi untuk bangsanya. Maka, mencintai para pahlawan merupakan satu hal yang penting ditanamkan. Salah satu pemikiran yang disampaikan oleh KH Bisri Mustofa adalah tentang cinta kepada para pahlawan.

KH Bisri Mustofa (selanjutnya disebut Mbah Bisri) merupakan salah satu ulama Nusantara yang lahir di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915. Ayahnya adalah pedagang kaya bernama H Zainal Mustofa (Djojo Mustopo) bin H Yahya (Podjojo) yang dikenal tekun dalam beragama dan sangat mencintai Kyai. Ibunya bernama Hj. Chodijah binti E. Zajjadi bin E. Sjamsuddin yang berdarah Makassar.

Nama Bisri Mustofa dipakai sejak pulang dari ibadah haji. Sebelumnya ia bernama Mashadi. Pernikahan H Zainal Mustofa dengan Hj. Chodijah melahirkan empat anak: Mashadi (Bisri), Salamah (Aminah), Misbach dan Ma’shum. Pendidikan Mbah Bisri dimulai dengan mengaji kepada KH Cholil Kasingan dan H. Zuhdi (kakak tiri). Mbah Bisri juga menjalankan Sekolah Jawa (Sekolah Ongko 2) selama tiga tahun dan dinyatakan lulus dengan mendapat sertifikat.

Mbah Bisri sempat mondok di Pesantren KH Chasbullah Kajen Pati. Waktu belajar banyak dihabiskan di Pondok Kasingan Rembang belajar dengan Kyai Suja’i (Kitab Alfiyyah) dan dan KH Cholil (Kitab Alfiyyah, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Iqna’, Jam’ul Jawami’, Uqudun Juman dan lain lain). Mbah Bisri sempat berniat mengaji di Pondok Pesantren Termas dibawah asuhan KH Dimyati, tapi niat itu gagal karena tidak mendapat restu KH Cholil.

Mbah Bisri juga pernah mengikuti khataman Kitab Bukhori Muslim yang dimulai pada 21 Sya’ban 1354 H bersama KH Hasyim Asya’ri di Tebuireng Jombang. Di tengah pengajian itu, tepatnya 10 Ramadan 1354 H, KH Hasyim Asy’ari jatuh sakit dan digantikan oleh KH Ilyas (Kitab Muslim) dan KH Baidlawi (Kitab Tajrid Bukhari).

Mbah Bisri juga memiliki dua guru dari sistem mengaji candak kulak (musyawarah kitab dan hasilnya dipakai mengajar) dengan Kyai Kamil dan Kyai Fadlali di Karanggeneng Rembang. Proses belajar tetap ia jalankan karena merasa haus ilmu, Mbah Bisri memilih mukim di Makkah setelah menunaikan ibadah haji tahun 1936. Di Makkah, Mbah Bisri berguru dengan:  Syaikh Bakir, Syaikh Umar Chamdan Al Maghrabi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawie dan Syaikh Abdul Muhaimin.

Berbekal keilmuan itulah, Mbah Bisri kemudian berkembang menjadi figur ulama Nusantara yang dikenal sangat ‘alim. Rasa sayangnya KH Cholil seorang guru dari Mbah Bisri ditunjukkan dengan menjadikannya sebagai menantu. Mbah Bisri dinikahkan dengan putri KH Cholil bernama Ma’rufah pada 17 Rajab 1354 H/Juni 1935 M. Dari pernikahannya ini, Mbah Bisri memiliki anak: Cholil (lahir 1941), Mustofa (dikenal dengan sebutan Gus Mus, lahir 1943), Adieb (lahir 1950), Faridah (lahir 1952), Najichah (lahir 1955), Labib (1956), Nihayah (lahir 1958) dan Atikah (lahir 1964). Pada tahun 1967, Mbah Bisri menikah dengan Hj Umi Atiyah yang berasal dari Tegal dan melahirkan satu anak bernama Maemun (Ahmad Zainal Huda: 2005).

Ilmu yang dimiliki Mbah Bisri diajarkan di Pondok Kasingan dan Pondok Rembang yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Taman Pelajar Islam). Mbah Bisri dikenal memiliki tiga kemampuan: articulation, documentation dan organizing. Artikulasi dikuasai Mbah Bisri dalam teknik orasi dan pidato dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Kemampuan dokumentasi ditunjukkan dengan hasil karya tulisnya yang sangat banyak (276 kitab dan buku). Dan semangat organisasi dijalankan sebagai wadah perjuangan, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Diantara pokok pemikiran Mbah Bisri dalam mencintai pahlawan, ia abadikan dalam bentuk syi’iran Jawa “Ngudi Susilo” dengan menggunakan tulisan pegon, yaitu:
Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng * Jare ora kebangsaan ingkang majeng
Sawang iku Pangeran Diponegoro * Imam Bonjol Tengku Umar kang kuncoro
Kabeh podo belo bongso lan negoro * Podo ngagem destar pantes yen perwiro
Gujeng serban sasat gujeng Imam Bonjol * Sak kancane he anakku aja tolol
Timbang gundul apa ora luweh bagus * Ngagem tutup sirah koyo Raden Bagus

Memakai blangkon, surban dan sarung jadi pembicaraan. Dianggap tidak memiliki jiwa kebangsaan yang maju.
Lihatlah Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Tengku Umar yang sudah terkenal.
Semuanya dari mereka nyata-nyata membela bangsa dan negara dengan menggunakan pakaian kebesaran, nampak seperti Perwira.
Memakai surban sebagaimana Imam Bonjol. Dan janganlah menjadi orang bodoh.
Daripada tidak memakai penutup kepala, nampak kurang bagus. Maka pakailah penutup kepala agar seperti Raden Bagus (priyayi).

Dari pemaknaan syi’ir Jawa ini dapat diambil pemahaman bahwa mencintai para pahlawan itu empat pola yang harus dilakukan: mengikuti jejak cinta bangsa dan negara, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa, berilmu pengetahuan dan tidak sombong. Empat makna cinta terhadap perjuangan para pahlawan bangsa ini menjadi sangat penting bagi generasi sekarang.

Pertama, mengikuti jejak cinta bangsa dan negara. Para pahlawan yang telah gugur dalam medan perang benar-benar merasakan perjuangan nyata. Berbeda dengan generasi sekarang yang sudah secara instan menikmati kemerdekaan dan kenyamanan hidup di Indonesia. Maka cinta terhadap tanah air menjadi salah satu bagian dari menghormati para pahlawan pendahulu.

Kedua, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa. Wibawa seseorang, salah satunya memang dapat dilihat dari cara berpakaian. Oleh sebab itu, nasehat Mbah Bisri yang ditulis ini menjadi tauladan bahwa orang yang berpakaian rapi, maka nampak gagah dan siap menjadi pemimpin. Termasuk jenis pakaian yang berbeda blangkong/surban/sarung atau lainnya tidak menjadi pemisah rasa persatuan. Keanekaragaman pakaian itu menandakan potensi lokal yang harus dihargai. Yang paling penting adalah tidak merendahkan pakaian kebesaran yang dimiliki oleh orang lain.

Ketiga, berilmu pengetahuan menjadi salah satu bagian dari mencintai para pahlawan. Sebab tanpa ilmu pengetahuan, maka manusia akan menjadi bodoh. Maka Mbah Bisri berpesan: “Jangan jadi orang tolol/bodoh”. Sebab dengan kebodohan, orang akan gampang ditipu. Dan salah satu alasan penjajah Indonesia mampu berkuasa ratusan tahun karena penduduknya saat itu tidak memiliki ilmu pengetahuan. Penderitaan bangsa kita jangan sampai terulang lagi hanya karena banyak orang bodoh di Indonesia.

Dan keempat, tidak sombong. Setelah mengenang para pahlawan dan menambah ilmu pengetahuan, maka rasa kebangsaan harusnya semakin kuat. Jangan sampai perilaku itu berubah menjadi sombong (tidak menutup kepala).
Kesombongan yang dimiliki oleh bangsa ini juga akan melahirkan ego-sektoral dengan melemahkan kelompok lain. Maka pesan tidak sombong ini menjadi penting agar hidup bersama-sama dengan penuh kerukunan mudah tercapai.

Pesan-pesan ulama Nusantara yang demikian ini memang perlu sekali dipahami secara baik. Dengan kekuatan bahasa sastra yang indah dan dapat dilagukan ini, menjadikan kita paham siapa sebenarnya KH Bisri Mustofa. Ia tak lain adalah figur Kyai dengan multitalenta dengan segudang nasehat-nasehat bagi generasi muda. Keberadaan kitab Ngudi Susilo ini juga hingga sekarang masih dipelajari di Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah sebagai buku pegangan belajar akhlak. Wallahu a’lam.*) via arrahmah.co.id
“Jika Celana di Atas Mata Kaki Tapi Sombong Bagaimana?”

“Jika Celana di Atas Mata Kaki Tapi Sombong Bagaimana?”


Wartaislam.com ~ Seruan ‘potong celana’ atas dasar tafsir hadist “Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka,” menuai beragam komentar di media sosial. Khususnya, setelah redaksi menurunkan artikel “Nabi Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak, Bukan Potongan Celana,” Sabtu (13/8).

Karena hadist ini, sebagian Muslim berpendapat bahwa, “Nasib seorang laki-laki di akhirat kelak juga ditentukan oleh celananya,” katanya sembari menyerukan untuk potong celana.

Berikut sejumlah tanggapan warga internet atau yang biasa disebut ‘netizen’:

“Seorang Muslim berada di neraka satu tempat dengan Hitler dan Stalin. Mereka bertanya kepada si Muslim, “Hei Kamerad! Berapa banyak manusia yang kau bunuh?” Si Muslim menjawab, “Tidak ada, saya masuk neraka gara gara tidak potong celana”. Hitler dan Stalin pun tertawa terbahak bahak mendengar penyebab si Muslim masuk neraka,” tulis akun Arya Wastukencana.

“Banyak hadist yang melarang isbal. Muslimin yg meninggikan celana atau sarungnya karena perintah Rasulullah ﷺ ko’ dihina, direndahkan, diolok-olok. Takutlah kepada siksa Allah Subhanahu wa ta’ala,” kata Thabit A. Thalib

“Pengumpul hadist cenderung menjadi Tuhan. Pencari hadits untuk tahu maknanya, (itu) beda. Syukur (jika) sering ketemu yang ke-2,” kata @RFirm

“Mungkin panjang celana jadi salah satu ukuran akhlak pada masa itu” kata @syattar

“Termasuk meluruskan akhlak orang-orang Islam yang suka nyinyirin Islam? Tapi permisif sama kafir?” kata @AdangWahyu3

“Kalaulah masalah fikih dipahami hanya berdasarkan faedah atau sebab akibat yang dipahami oleh seseorang, maka apakah boleh kita memakan daging babi apabila cacing pita yang ada di daging babi bisa di bersihkan? Karena mungkin sudah ada alat yang dapat membersihkan cacing pita. Tentu saja tidak boleh.
Dan memang ada ulama yang berpendapat hukum isbal itu makruh. Sekarang apa maksud makruh itu? Makna dari makruh adalah sesuatu yang dibenci. Bahwa hampir seluruh para ulama menghindari perkara isbal walaupun mereka berpendapat makruh. Sekarang ada yang berpendapat kalau tidak sombong tidak mengapa? Berarti mereka lebih hebat dari ulama fikih.” kata Maulana Agus Syahputra

“Isbal dengan kesombongan, tempatnya neraka. Tapi jika celana di atas mata kaki tapi sombong bagaimana..,?” tanya Cakra Danadyaksa

“Hadits tidaklah begitu lugu…harus melihat konteks…kita tidak harus tekstual…baru kebenaran ditemukan..jika tidak ada larangan pakaian dibawa mata kaki bagaimana ketika berdesak-desakan saat umrah atau haji…pasti akan merepotkan diri sendiri…belum lagi persoalan kebersihan yang dulunya di Arab berserakan kotoran hewan.” kata Lawna Rain

“Dalilnya kan sudah jelas yang di neraka itu kainnya. Orangnya di surga atau neraka ya Hanya Allah Yang Mengetahui dan itu urusannya Allah. Sampai kapan kaum yang suka mengkafirkan dan suka mengklaim surga neraka ini ikut campur urusannya Allah.” kata Muchib

“Saya bersyukur belajar agama kepada orang Islam yang santun dan berakhlak. Disitulah saya menjadi malu dan justru ingin lebih belajar lagi, bukan belajar kepada orang yang main hakim “sesat, bid’ah, kafir, dsb”. Alhamdulillaah ya Alloooh.” kata Putra Pratama Alexander Thaij

“Kan kalimatnya kain yang berada di bawah mata kaki berada di neraka, artinya yang berada di neraka itu kainnya bukan orangnya. Problem orang beragama itu ada pada proses bagaimana dia memahami kalimat kalimat teks.” kata Arya Wastukencana

Dan akun Juno Waskito menanggapi dengan kalimat singkat, “Surga sebatas mata kaki.”

Source: www.islamindonesia.id
TIGA LANGKAH MERDEKA DARI KEBUTAAN BERAGAMA

TIGA LANGKAH MERDEKA DARI KEBUTAAN BERAGAMA


Oleh: Alamsyah M. Dja'far

Inilah tiga langkah agar kita terhindar dari “kebutaan beragama” di era media sosial. Kebutaan beragama kira-kira bisa ditamsilkan dengan kisah populer ini: orang dengan mata tertutup atau buta memahami gajah yang belum dikenal sebelumnya. Ada yang memegang belalai, kuping, badan, dan anggota tubuh gajah lainnya. Merekapun sangat yakin dengan apa yang dipahami, tak menerima pandangan yang lain, bahkan menyalahkan yang lain. mereka merasa hanya pandangannya yang benar. Anehnya dalam isu-isu keagamaan, yang terpapar kebutaan ini seringkali mereka berpendidikan tinggi dan kelas profesional: bankir, arsitek, sekretaris perusahaan, mahasiswa di kampus-kampus umum.

Saya tidak mengambil kiat ini dari masa kemarin atau lusa. Saya mengambilnya dari sebuah buku dan perkataan seseorang yang hidupnya terpaut sekitar 800-an tahun dengan kita, manusia-manusia yang kalau tak punya pulsa internet seperti ikan kehabisan air.

Namanya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, pengarang Ta’lim al-Muta’allim. Kata sebagian besar para santri, gara-gara kitab ini yang bikin mereka terbirit-birit mencium tangan kiai bolak-balik, berlomba-lomba merapikan sandal kiai sebelum akan digunakan, atau memperlakukan kitab-kitab kuning setaraf al-Quran.

Tiga langkah itu bisa disingkat “Tiga Em”: Mudzakarah, Munadzarah, Mutharahah. “M pertama” berarti sikap kita untuk membiasakan diri bertukar pandangan, mengingat-ingat informasi yang diperoleh, merenungkannya, dan membaginya dengan teman berdiskusi atau mengobrol. “M kedua” bobotnya lebih tinggi. Di sini kita sudah dapat mempertanyakan atau meragukan informasi keagamaan yang diterima. Di sini Anda bisa mempertanyakan artikel yang dilempar di grup whatapps atau blackbery, meski diakhirnya ada perintah: “sebarkan, berpahala, demi agama kita; jika anda sebarkan ini 33 kali maka sekian pahala yang akan didapat.”
“M ketiga” bobotnya lebih “berat” lagi. Bahkan Imam Az-Zarnuji mengutip sebuah kata mutiara “mutharahah sa’atin khairn min tikrari syahrin (mutharah sesaaat lebih baik dibanding mengulang-ulang pelajaran sebulan). Di level ini kita harus mentradisikan diri untuk menguji kebenaran dari informasi yang ada dan saat bersamaan menunjukan kelemahan-kelemahan informasi dan pandangan-pandangan yang muncul. Misalnya anda bisa menunjukan kelemahan pandangan yang hanya memaknai kata “auliya” sebagai “pemimpin politik” untuk menyimpulkan larangan memilih kepala daerah nonmuslim. Padahal, ada makna lain yang bisa dilihat seperti “teman” atau “sekutu”.

Level ketiga inilah yang mungkin bisa disebut puncak dari berpikir kritis: critical thinking. Berpikir kritis ini adalah -- saya ambil criticalthinking.org --  sebagai the intellectually disciplined process of actively and skillfully conceptualizing, applying, analyzing, synthesizing, and/or evaluating information gathered from, or generated by, observation, experience, reflection, reasoning, or communication, as a guide to belief and action. Silakan terjemahkan sendiri! []


Sumber : arrahmah.co.id
Cara Kiai Abdul Malik Kenang Detik Proklamasi

Cara Kiai Abdul Malik Kenang Detik Proklamasi

Wartaislami.com ~ Sebuah kisah nyata yang dilakukan Syekh Abdul Malik bin Ilyas, seorang Mursyid Thariqah Syadziliyah dari Banyumas ini, barangkali dapat menggugah semangat nasionalisme kita atau untuk mengingatkan kepada mereka, yang mengatakan mengenang para pahlawan atau Hari Kemerdekaan sebagai hal yang dilarang dalam agama.

Syekh Abdul Malik, bahkan, dengan segala keadaan yang terbatas di tengah hutan dan cara yang sederhana, tapi tetap memberikan perhatian tersendiri akan momentum detik-detik proklamasi, yang biasa diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

Kisah ini diceritakan oleh murid Syekh Abdul Malik, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Yahya, dalam sebuah pengajian.

Pernah suatu ketika kiai yang berasal dari daerah Purwokerto Banyumas tersebut mengajak Habib Lutfi jalan-jalan. Di tengah perjalanan di antara daerah Bantarbolang-Randudongkal, Kiai Abdul Malik tiba-tiba menyuruh untuk menghentikan perjalanannya.

“Pak Yuti, berhenti dulu,” perintah Kiai Malik kepada Suyuti, supir, untuk menghentikan mobil.

“Nggih Mbah,” jawab supir. Mobil pun menepi untuk berhenti.

“Ke tempat yang adem saja, biar enak untuk gelaran,” kata Kiai Malik.

Waktu itu sekitar pukul 09.45 WIB. Setelah mendapat tempat untuk beristirahat, tikar digelar dan termos juga dikeluarkan. Kiai Malik mengeluarkan rokok khasnya, klembak menyan, kemudian diraciknya sendiri sebelum dinikmati Sesekali dia mengeluarkan jam dari kantongnya, sembari berkata, “Dilut maning (sebentar lagi),”

Sang murid pun heran, ada apa gerangan yang berulang kali diucapkan gurunya ‘dilut maning’ itu.

Namun, setelah pukul 09.50 WIB, rokok yang belum habis tadi tiba-tiba dimatikan. Kemudian berkata, ”Ayo Pak Yuti, Habib mriki (ke sini)!”

Setelah itu Kiai Malik membacakan hadroh al Fatihah untuk Nabi, Sahabat dan seterusnya sampai disebutkan pula sejumlah nama pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Kiai Mojo, Jenderal Sudirman dan lain sebagainya.

Sampai ketika tepat pukul 10.00 WIB, Mursyid Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyyah ini terdiam beberapa saat dan kemudian berdoa Allahummaghfirlahum warhamhum. Setelah selesai, Habib Luthfi yang penasaran dengan apa yang dilakukan gurunya, kemudian bertanya kepada Syekh Malik, “Mbah, wonten napa ta (ada apa)?”

“Anu, napa niki jam 10, niku napa namine, Pak Karno Pak Hatta rumiyin moco napa (pukul 10 dulu Pak Karno Pak Hatta dulu membaca apa) ?” tanya Kiai Malik.

“Proklamasi, Mbah,” jawab Habib Luthfi.

“Ya niku lah, kita niku madep ngormati (ya itulah kita berhenti sejenak menghormati),” jawab Kiai Malik.

Betapa dalamnya cara para Kiai dan sesepuh kita di dalam menghormati dan menanamkan karakter nasionalisme.

“Sampai begitu mereka, kita ini belum ada apa-apanya, makanya sampai sekarang saya etok-etoke meniru, setiap tanggal 17 Agustus kita baca Al Fatihah. Rasa mencintai dan memiliki. Tanamkan kepada anak-anak kita!” tegas Habib Luthfi mengakhiri kisahnya. (Nuonline/Abdul Wahab)



Ini Alasan mistis Soekarno pilih 17 Agustus 1945

Ini Alasan mistis Soekarno pilih 17 Agustus 1945


Wartaislami.com ~ 17 Agustus 1945 merupakan waktu yang sakral bagi bangsa Indonesia. Saat itu, Presiden RI pertama, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang sekaligus menjadi tonggak baru perjalanan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku itu.

Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch Hatta, mengumandangkan proklamasi tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing.

Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan. Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik.

Alasan itu disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta ‘diculik’ oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang.

‘Penculikan’ itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel Jepang.

“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.

Mendengar pernyataan Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?” tanya Sukarni.

Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi.

Kemudian pada sore harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada, proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB.

Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.

Source: www.merdeka.com
Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno


Oleh Ren Muhammad

Kiai Muhammad Muchtar Mu’thi bin KH Abdul Mu'thi, dari Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kurang lebih lima bulan jelang kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, keduanya telah menemui empat orang ulama tasawuf yang mukasyafah (terbuka mata batinnya). Empat ulama tasawuf itu adalah Syeikh Musa dari Sukanegara, Cianjur; KH Abdul Mu'thi dariPloso (ayahanda Kiai Muchtar); Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; dan Hadratusysyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama).

Kesimpulan dari pertemuan Sukarno dengan empat ulama tasawuf tersebut adalah:

Akan ada berkat Rahmat Allah yang besar turun di Indonesia, pada Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Bila meleset, harus menunggu tiga abad lagi.

Titimangsa itu sama persis dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Nama Hatta kerap diabaikan sebagai bagian penting sejarah Proklamasi. Padahal dialah yang menyusun teks Proklamasi itu dan Sukarno yang membacanya. Hal ini bisa kita temukan dalam tulisan Hatta di otobiografinya, Untuk Negeriku, yang ia rampungkan penulisannya sebelum wafat pada 1980. Atas sumbangsih Hatta itulah, maka menjadi sah julukan yang diembannya sebagai dwitunggal RI.

Ungkapan Kiai Muchtar di atas, sejajar dengan yang dikatakan Prof. Mansur Suryanegara saat diwawancarai situs Eramuslim pada 11 Syawal 1434 H/17 Agustus 2013, yang menguraikan siapa saja ulama penyokong pembacaan Proklamasi.

“Pertama. Syeikh Musa, ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Kedua. Drs. Sosrokartono, kakaknya RA Kartini. Ketiga. KH Abdul Mukti, dan keempat, KH Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Kiai Hasyim pada waktuitu juga mengatakan bahwa presiden pertama Indonesia adalah Bung Karno, dan hal itu telah disetujui angkatan laut Jepang.” Dari deretan nama tersebut, hanya Syeikh Musa saja yang belum terjelaskan dengan baik dalam catatan sejarah. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait hal ini.

Prof. Mansur Suryanegara masih memberi tambahan data lagi selain peran empat orang pembesar di atas. “Jadi ketika 10 Ramadhan atau 18 Agustus 1945, Pancasila sebagai dasar negara dikukuhkan oleh tiga orang, KH Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodimejo (keduanya dari Muhammadiyah). Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila sebagai adicita negara, dan UUD ‘45 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI takkan mencapai kata sepakat, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula, Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakilnya. Jadi negara ini yang memberi kesempatan Proklamasi seperti itu adalah ulama.”

Terkait hubungan Sukarno dengan RMP Sosrokartono, memang sangat sedikit buku sejarah yang mencatatnya. Bagi Sukarno, Sosrokartonoyang poliglot itu, tak hanya sekadar guru bahasanya, melainkan juga guru spiritual yang memang ia akui. Posisi penting Sosrokartono itu bisa kita amini ketika Sukarno dan tiga pembelanya di Landraad (Pengadilan) Bandung pada 18 Agustus 1930, ketika membacakan “Indonesia Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat), yang ia susun di Penjara Banceuy, mendatangi rumah sekaligus balai pengobatan Sosrokartono—semalamsebelum putusan pengadilan dijatuhkan.

Kedatangan mereka secara diamdiam itu, ternyata telah diketahui lebih dulu oleh Sosrokartono melalui mukasyafah-nya. Di dalam rumah, telah disediakan empat bangku kosong. Sedang Sosrokartono telah duduk mendahului tamunya. Sebelum para tamu yang gelisah itu angkat bicara, tuan rumah seketika berujar.

“Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.”

Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat di antara tiga kawan seperjuangannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, yang hanya diganjar hukuman separuh dari waktu yang harus dilalui Sukarno. Meski mereka berupaya mengajukan banding ke Raud van Justitie (Pengadilan Tinggi), namun hasilnya nihil. Hukuman Sukarno telah mantap dikukuhkan.

Di sebuah rumah panggung di Jalan Pungkur No. 7, Bandung (sekarang tepat di seberang terminal Kebon Kalapa), pernah berdiri rumah pengobatan bernama Pondok Darussalam. Rumah inilah yang menjadi pelabuhan terakhir Sosrokartono setelah pengembaraannya di Eropa selama 27 tahun.

Rumah panggung itu terbuat dari kayu berdinding bambu. Dibangun memanjang membentuk huruf L. Sosrokartono diminta menempati gedung itu oleh RM Suryodiputro, adik Ki Hajar Dewantara.

Gedung inilah yang menjadi saksi kesaktian Sosrokartono mengobati pasiennya hanya dengan mencelupkan telunjuk ke dalam air di gelas. Jari telunjuk itu adalah simbolisasi dari huruf alif (١) yang jadi ciri khasnya saat mengobati orang sakit. Kenapa huruf alif?

Ja’far Ash-Shadiq ra (dalam Schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: ”Tuhan membuat huruf Hijaiyyah sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat... Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.”

Kemampuan ajaib Sosrokartono inilah yang membuat ia digelari persoonlijke magnetisme oleh seorang dokter yang anak kerabatnya disembuhkan Sosrokartono ketika masih melanglang buana di Eropa.

Menurut Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap bahasa, sastra, dan budaya Jawa, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, “Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa, Bandung. Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa.”Para guru di sekolah Taman Siswa itu antara lain, Ir. Sukarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario SH, dan Mr. Usman Sastroamijoyo.

RMP Sosrokartono juga ikut aktif dalam kegiatan politik saat zaman pergerakan nasional Indonesia. Kegiatan Sosrokartono dapat dilihat dari laporan para pejabat kolonial Belanda.Dalam laporan rahasia yang dibuat Van Der Plas pejabat Adviseur Voor Inlandse Zaken tertulis, kalau (Doctorandus) Drs. Sosrokartono termasuk pelopor gerakan nasional Indonesia dan tidak dapat dipercaya oleh pemerintah kolonial Belanda.

Ada lagi laporan dari Komisi Istimewa yang terdiri Herwerden dan Toxopeus langsung kepada Ratu Wilhelmina, yang berisi kalau Sosrokartono penganjur swadesi dan sangat berbahaya bagi berlangsungnya ketenteraman dan kedamaian di Hindia Belanda.

Kelak, gedung ini juga pernah dipakai oleh Partai Nasional Indonesia pimpinan Sukarno, dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdul Rachim, mertua Bung Hatta.Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, menuturkan ingatannya, “Darussalam tak pernah sepi. Tamunya beragam. Sedari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia juga pernah melihat Sukarno datang menemui Sosrokartono.

Saat itu Sosrokartono sedang menggoreskan huruf alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Sukarno muda, entah untuk apa. Saat itu, Sukarno dan kawan seperjuangannya sudah kerap datang ke Darussalam guna belajar bahasa pada Sosrokartono.

Hubungan mesra Sukarno dengan para ulama tasawuf sebelum kemerdekaan, juga bisa kita lacak dari laporan Jose Hendra untuk Majalah Historia pada Rabu, 1 Juni 2016, yang berjudul Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang.

Syeikh Abbas Abdullah adalah tokoh yang memberi wejangan kepada Sukarno terkait sila pertama Pancasila. Kala itu, ia berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syeikh Abbas.

“Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya landasan bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan sungguh benar tercapai. Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat (1981).

Syeikh Abbas, yang juga dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi takkan membawa hasil yang diharapkan.

Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan, tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syeikh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian, “Di hadapan guru dan siswa DFA—usaishalat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syeikh Abbas mengatakan kedatangan Sukarno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Persisnya, Syeikh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan,”ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang ia dapat dari keluarga Syeikh Abbas dan masyarakat setempat.

Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia Sumatera Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syeikh Mustafa Abdullah.Kebesaran kedua syeikh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu.

Syeikh Abbas dan Syeikh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Makkah, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Syeikh Abbas juga berkawan dekat dengan Syeikh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lain, Syeikh Abbas mendirikan Madrasah Sumatera Thawalib.

Pada 1930, Syeikh Abbas mengubah Sumatera Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syeikh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatera Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.Sementara sekolah tetap menjadi basis untuk menggapai dan mengisi kemerdekaan.

“Wajar Sukarno menemui Syeikh Abbas, karena ia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatera Barat. Menurut Fachrul, perjumpaan Sukarno dengan Syeikh Abbas hanya berlangsung sebentar. Ia datang sekitar pukul satu siang, lalu balik sore hari. Sukarnoberada di Padang ketika era transisi Belanda ke Jepang. Ia berada di Sumatera Barat selama lima bulan, sedari Februari 1942 hingga Juli 1942.

Ketika sudah menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno masih terus melakukan kontak dengan para ulama kawakan, terutama dari barisan Nahdliyin. Dua di antaranya yang paling terkenal rapat dengan Sukarno adalah KH.Abdul Wahab Chasbullah dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Kemerdekaan Indonesia yang masih terus dirongrong Belanda dengan membonceng tentara Sekutu, membuat Sukarno dan para tetua bangsa kita, resah dan cemas. Maka Sukarno, Mohammad Hatta, dan Jenderal Sudirman pun meminta wejangan pada KH Wahab terkait hukummempertahankan kemerdekaan pada awal Oktober 1945.

KH Wahab yang mumpuni di bidangushul fiqih menyatakan, bahwa kemerdekaan yang telah diraih bangsa ini wajib dipertahankan. Guru Bangsa, HOS Cokroaminoto, juga merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang pernah urun rembuk dengan Kiai Wahab terkait persoalan kebangsaan yang tengah dihadapi bersama.

Kiai Wahab dan Kiai Hasyim memang memiliki hubungan darah yang cukup erat. Secara silsilah, dua kiai sepuh ini merupakan keturunan dari Kiai Sikhah. Anak buah Pangeran Diponegoro yang kemudian masuk ke Kabupaten Jombang saat Perang Jawa meletus. Mereka berdua pernah satu pesantren namun beda angkatan, yakni ketika nyantri di pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura.

Sejauh yang bisa kita telusuri, mungkin hanya Sukarno satusatunya presiden dunia yang berhubungan baik dengan para ulama. Bahkan kecenderungan itu sudah ia lakukan tanpa sadar sejak masih usia belia, saat keluarganya menetap di Pojokkrapak, Jombang. KH Abdul Mu’thi yang pernah ia temui sebelum kemerdekaan, misal, adalah sahabat kental sekaligus guru ayahnya, Raden Sukeni. Wajar bila sosok kharismatik itu didatangi lagi oleh Sukarno ketika ia harus mengambil keputusan besar bagi bangsa ini: mendirikan satusatunya negara tauhid di dunia.

HOS Cokroaminoto yang juga induk semang sekaligus cermin utama bagi Sukarno, juga pegiat tasawuf. Sebelum tampil sebagai Raja Jawa Tak Bermahkota, ia sudah lebih dulu belajar pada Kiai Ageng Muhammad Besari (Hasan Besari I) yang adalah buyutnya sendiri. Kiai Hasan Besari, adalah panglima perang Pangeran Diponegoro yang sangat ditakuti Belanda. Jadi antara Kiai Hasan Besari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Hasyim, terjadi hubungan unik. Ketiganya, punya keterkaitan dengan Pangeran Diponegoro. Mereka bertiga adalah kiai pejuang yang tangguh pada zamannya.

Atas dasar itulah, menjadi sah jika sebelum dan semasa menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno cenderung menampung semua aspirasi yang berdatangan ke kursi kekuasaannya. Peran sebagai Manusia Indonesia (bukan Nusantara) Pertama, ia jalankan sesuai fungsi. Anak-anak republik yang baru lahir, punya hak yang sama untuk tumbuh. Barisan agamis, nasionalis, sosialis, komunis, ia gandeng erat. Corak tasawuf dalam kepemimpinannya bahkan masih terasa ketika Suharto berusaha mengudeta pemerintahan. Demi alasan menghindari perang saudara, Sukarno angkat kaki secara sukarela dari Istana Negara, dan kembali pada fitrah kebangsaannya menjadi rakyat jelata.




Sumber : nu online
Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama "Mbah Hasyim"

Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama "Mbah Hasyim"


Wartaislami.com ~ Tidak banyak yang diingat Tondo, ketika diminta menceritakan perjalanannya menjadi seorang pejuang puluhan tahun lalu. Yang diingat hanya Mbah Hasyim Tebuireng (Kiai Hasyim Asy'ari), sebagai salah satu tokoh pemimpin perang.

Veteran yang konon berusia lebih dari 100 tahun asal Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan ini, menyebut, tokoh pendiri ormas Nahdatul Ulama itu adalah tokoh agama asal Pesantren Tebuireng, Jombang yang memimpin kelompok santri dan warga sipil.

"Menang atau kalahnya perang apa kata Kiai Hasyim," kata dia yang didampingi Sutrisno, salah satu putranya, Selasa (16/8/2016) malam.

Tondo tidak ingat lagi siapa pimpinan perangnya saat itu. Dia hanya ingat bahwa dia ikut bergerilya dari Madiun ke Surabaya.

"Senjatanya pakai pasir batu, dan bambu runcing," kata Tondo.

Meski sudah sepuh, Tondo masih terlihat sehat. Hanya saja saat berkata-kata terdengar kurang jelas, karena semua giginya sudah tanggal.

Tondo tercatat pernah menerima penghargaan Bintang Gerilya dari Kodam V Brawijaya pada 1983.

Sutrisno, satu dari 11 putra Tondo dari lima isterinya, mengatakan, ayahnya selalu bersemangat saat melihat banyak bendera merah putih yang selalu dipasang saat perayaan HUT kemerdekaan.

"Bapak saya selalu tidak bisa tidur dan banyak bercerita soal perang," jelasnya.

Kemarin, Tondo dan 60 veteran lainnya di Jawa Timur mendapat layanan bedah rumah dari Kodam V Brawijaya bekerjasama dengan sejumlah BUMN.

Menurut Pangdam V Brawijaya, Mayjen I Made Sukadana, yang diberikan untuk para veteran sebenarnya belum sepadan dengan apa yang mereka telah lakukan untuk bangsa.

"Tapi bedah rumah veteran adalah salah satu aksi nyata kami sebagai bentuk perhatian kepada para veteran," ungkap dia. (Kompas.com/Mahbib) via nu online
close
Banner iklan disini