“Jika Celana di Atas Mata Kaki Tapi Sombong Bagaimana?”


Wartaislam.com ~ Seruan ‘potong celana’ atas dasar tafsir hadist “Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka,” menuai beragam komentar di media sosial. Khususnya, setelah redaksi menurunkan artikel “Nabi Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak, Bukan Potongan Celana,” Sabtu (13/8).

Karena hadist ini, sebagian Muslim berpendapat bahwa, “Nasib seorang laki-laki di akhirat kelak juga ditentukan oleh celananya,” katanya sembari menyerukan untuk potong celana.

Berikut sejumlah tanggapan warga internet atau yang biasa disebut ‘netizen’:

“Seorang Muslim berada di neraka satu tempat dengan Hitler dan Stalin. Mereka bertanya kepada si Muslim, “Hei Kamerad! Berapa banyak manusia yang kau bunuh?” Si Muslim menjawab, “Tidak ada, saya masuk neraka gara gara tidak potong celana”. Hitler dan Stalin pun tertawa terbahak bahak mendengar penyebab si Muslim masuk neraka,” tulis akun Arya Wastukencana.

“Banyak hadist yang melarang isbal. Muslimin yg meninggikan celana atau sarungnya karena perintah Rasulullah ﷺ ko’ dihina, direndahkan, diolok-olok. Takutlah kepada siksa Allah Subhanahu wa ta’ala,” kata Thabit A. Thalib

“Pengumpul hadist cenderung menjadi Tuhan. Pencari hadits untuk tahu maknanya, (itu) beda. Syukur (jika) sering ketemu yang ke-2,” kata @RFirm

“Mungkin panjang celana jadi salah satu ukuran akhlak pada masa itu” kata @syattar

“Termasuk meluruskan akhlak orang-orang Islam yang suka nyinyirin Islam? Tapi permisif sama kafir?” kata @AdangWahyu3

“Kalaulah masalah fikih dipahami hanya berdasarkan faedah atau sebab akibat yang dipahami oleh seseorang, maka apakah boleh kita memakan daging babi apabila cacing pita yang ada di daging babi bisa di bersihkan? Karena mungkin sudah ada alat yang dapat membersihkan cacing pita. Tentu saja tidak boleh.
Dan memang ada ulama yang berpendapat hukum isbal itu makruh. Sekarang apa maksud makruh itu? Makna dari makruh adalah sesuatu yang dibenci. Bahwa hampir seluruh para ulama menghindari perkara isbal walaupun mereka berpendapat makruh. Sekarang ada yang berpendapat kalau tidak sombong tidak mengapa? Berarti mereka lebih hebat dari ulama fikih.” kata Maulana Agus Syahputra

“Isbal dengan kesombongan, tempatnya neraka. Tapi jika celana di atas mata kaki tapi sombong bagaimana..,?” tanya Cakra Danadyaksa

“Hadits tidaklah begitu lugu…harus melihat konteks…kita tidak harus tekstual…baru kebenaran ditemukan..jika tidak ada larangan pakaian dibawa mata kaki bagaimana ketika berdesak-desakan saat umrah atau haji…pasti akan merepotkan diri sendiri…belum lagi persoalan kebersihan yang dulunya di Arab berserakan kotoran hewan.” kata Lawna Rain

“Dalilnya kan sudah jelas yang di neraka itu kainnya. Orangnya di surga atau neraka ya Hanya Allah Yang Mengetahui dan itu urusannya Allah. Sampai kapan kaum yang suka mengkafirkan dan suka mengklaim surga neraka ini ikut campur urusannya Allah.” kata Muchib

“Saya bersyukur belajar agama kepada orang Islam yang santun dan berakhlak. Disitulah saya menjadi malu dan justru ingin lebih belajar lagi, bukan belajar kepada orang yang main hakim “sesat, bid’ah, kafir, dsb”. Alhamdulillaah ya Alloooh.” kata Putra Pratama Alexander Thaij

“Kan kalimatnya kain yang berada di bawah mata kaki berada di neraka, artinya yang berada di neraka itu kainnya bukan orangnya. Problem orang beragama itu ada pada proses bagaimana dia memahami kalimat kalimat teks.” kata Arya Wastukencana

Dan akun Juno Waskito menanggapi dengan kalimat singkat, “Surga sebatas mata kaki.”

Source: www.islamindonesia.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "“Jika Celana di Atas Mata Kaki Tapi Sombong Bagaimana?”"

Post a Comment

close