Ini Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW

Ini Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW


Umat Islam meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali. Setelah meninggal kelak, kita percaya akan ada kehidupan lain yang berbeda dengan kehidupan dunia. Karenanya, kita dianjurkan untuk mempersiapkan bekal dan modal sebanyak-banyaknya guna menghadapi kehidupan di akhirat.

Dalam beramal pun kita berharap agar amalan yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Meskipun tidak pernah bertemu langsung dengannya, nasehat dan perilaku beliau terdokumentasi rapi dalam kitab-kitab hadits.

Amalan memang menjadi modal utama di akhirat, tetapi Islam tidak pernah meminta pengikutnya beramal melebihi kemampuannya. Beramallah sesuai dengan kemampuan. Semasa hidupnya, Rasul pun sering mengingatkan sahabatnya yang beramal berlebihan. Mereka beramal sebanyak-banyaknya hingga melupakan hak tubuhnya, yaitu istirahat.

Dalam Mustakhraj Abi ‘Awanah karya Abu ‘Awanah An-Naisaburi, dikisahkan bahwa seorang perempuan pernah berkunjung ke rumah ‘Aisyah. Ia datang dalam keadaan lemah dan mengantuk. Rasulullah pun melihat dan bertanya kepada ‘Aisyah:

“Siapa wanita ini?"

“Ini si fulanah, semalam dia tidak tidur,” Jawab ‘Aisyah.

“Lakukanlah amalan yang sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan, melainkan kalian yang suka bosan,” ujar Nabi SAW menasehati.

Setelah mendengar nasehat Nabi ini, ‘Aisyah selalu menyampaikan petuah Nabi ini kepara para sahabat yang lainnya. Karenanya, ketika ada orang bertanya kepada ‘Aisyah, terkait amalan apa yang disukai Nabi, ia langsung menjawab:

كان أحب العمل إليه الدائم

“Amalan yang paling disukainya adalah amalan yang dilakukan terus-menerus,” (HR Ahmad).

Amalan yang disukai Nabi SAW ialah amalan yang istiqamah, sekalipun amalan itu sederhana dan kecil. Apapun amalan yang kita lakukan akan disukai Nabi SAW selama dilakukan terus-menerus dan istiqamah. Sebagaimana diketahui, istiqamah beramal tentu tidak semudah mengucapkannya. Butuh usaha keras untuk mewujudkannya. Sebab itu, ada ulama yang mengatakan, “Jadilah kalian pencari istiqamah dan jangan mencari karamah.”

Sahabat Bilal pernah ditanya Rasulullah SAW setelah shalat Shubuh, “Wahai Bilal, apakah amalan yang paling sering kamu lakukan? Karena aku mendengar suara langkah kakimu di surga.” Bilal menjawab, “Aku tidak melakukan amalan apapun melainkan aku membiasakan shalat sunah setelah berwudhu’, baik siang ataupun malam,” (HR Al-Bukhari, Ishaq bin Rahaweh, dan lain-lain).

Kisah Bilal ini menunjukkan bahwa ia memperoleh surga karena keistiqamahannya dalam beramal. Meskipun amalan yang dilakukan Bilal terlihat sederhana, yaitu membiasakan shalat sunah setelah berwudhu’. Artinya, apapun amalan yang kita lakukan, akan mengantarkan kita pada keridhaan Allah SWT, selama dilakukan secara istiqamah. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)


Sumber : nu online
Ini Virus-Virus Yang Menyesatkan Manusia !

Ini Virus-Virus Yang Menyesatkan Manusia !


Wartaislami.com ~ Kali ini kita akan membahas kumpulan hal-hal yang membuat manusia menyimpang dan tersesat.

Sebagai seorang hamba yang sedang berjalan menuju Allah, kita harus mengenal secara detail tentang musuh dan rintangan yang akan kita hadapi dalam perjalanan ini.

Apa saja hal-hal yang membuat manusia menyimpang dan tersesat?

1. Setan

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

“Yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.” (QS.al-Hajj:4)

2. Hawa nafsu dan lemahnya akal.

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّه

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkankamu dari jalan Allah.” (QS.Shad:26)

3. Teman yang buruk.

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا – لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku.” (QS.al-Furqon:28-29)

4. Meneladani dan mengikuti orang yang tidak layak.

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu merekamenyesatkan kami dari jalan (yang benar).”(QS.al-Ahzab:67)

5. Para pendosa.

وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ

“Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.” (QS.asy-Syuara’:99)

6. Merasa tidak butuh.

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ — أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS.al-Alaq:6-7)

7. Mengikuti tren mayoritas yang bodoh.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS.al-An’am:116)

Inilah 7 virus yang menyebabkan manusia menyimpang dan tersesat dari jalan kebenaran. Dan masih banyak lagi faktor-faktor lainnya yang tidak disebutkan demi mempersingkat kajian.

Semoga bermanfaat….

Source: www.khazanahalquran.com
Tangisan Rasulullah Mendengar Keyakinan Umatnya

Tangisan Rasulullah Mendengar Keyakinan Umatnya


Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah SAW sedang asyik bertawaf di Kabah beliau mendengar ada seseorang di hadapannya bertawaf dan berzikir penuh kekhusuaan. Ia tidak memperhatikan orang-orang sekitarnya yang saling besenggolan orang itu tetap khusus berzikir dengan mengucapkan “Ya Karim… Ya Karim.

Di saat bersamaan baginda Rasulullah SAW sedang melakukan ibadah haji juga. Beliau terkesan dengan seseorang yang fokus dengan zikirnya di depan Ka’bah dan Rasulullah SAW menirunya mengucapkan “Ya Karim! Ya Karim!”.

Mendengarkan ucapannya ditiru, seseorang yang sedang khusus berzikir itu Ialu berhenti dan menaat ke salah satu Kabah. Ketika itu ia masih mengacuhkannya dan melanjutkan zikirnya lagi dengan khusus dengan masih membaca  “Ya Karim… Ya Karim…”

Rasulullah SAW yang mengetahui bawah orang yang sedang diikuti zikirnya itu sedikit mengusiknya namun Rasulullah tetap melanjutkan zikirnya yang sama dengan seorang Arab Badwi tadi yang membaca “Ya Karim..Ya Karim…”

Karena merasa seperti diolok-olokkan akhirnya seseorang itu menoleh ke belakang untuk yang kedua kalinya, kali ini ia menegurnya dan menyampaikan kenapa mesti mengikuti zikir yang dibacanya. Ia ingin mempermasalahkan lebih jauh terhadap orang itu atas tindakannya karena melihat seseorang dibelakangnya itu memiliki penmpilan yang berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya akhirnya ia tidak mempermasalahkannya dan hanya cukup mengatakan.

“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku,karena aku ini adalah orang Arab Badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum, lalu bertanya. “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”.

“Belum,” jawab orang itu.

Lanjut Rasulullah kepada orang Arab Badwi itu.  “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?” tanya Rasulullah.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemudengannya,” kata orang Arab Badwi itu lagi.

Mendengar perkataan yang penuh ke imanan dari mulut orang Arab Badwi itu Rasulullah SAW pun berkata lagi kepadanya. “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat,”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.“Tuan ini Nabi Muhammad?”

“Ya” jawab baginda Rasululla . lalu orang itu segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah. Melihat hal itu, Rasulullah menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya. “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi .

Maka orang Arab itu pula berkata: “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu.

“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullahbertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, makahamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,” jawab orang itu.

“Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!”

Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rasulullah  pun menangismengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab Badui itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda.

“Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurgananti!”. Betapa senangnya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangiskarena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Kisah pertemuan antara seorang Arab Badwi dengan Rasulullah SAW itu memberikan pelajaran bahwa ampunan Allah begitu besar. Dan selalu yakin bahwa sebesar apapun dosa yang kita lakukan Allah pasti mengampuninya asal kita mau minta ampun kepada Allah dengan tidak mengulangi perbuat yang dilarangnya. Mengenai hal ini telah Allah SWT sampaikan Surat Al-Hikmah  Ayat 29 yang artinya “Janganlah membesarkan dosa (dengan suatu) kebesaran (tertentu) di sisimu, (sedemikian rupa sehingga) menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah Ta’ala; karena sesungguhnya barangsiapa mengenal Rabb-nya, maka ia akan menganggap kecil dosanya di sisi kemuliaan-Nya.”

Manusia adalah tempat salah dan khilaf dalam arti yang sesungguhnya, yang dipasangkan dengan sifat Allah yang hadir dengan sifat Cinta Kasih dan Penuh Pemaafan. Allah Ta’ala hadir dengan sifat Cinta Kasih, lagi Maha Pengampun. Itu adalah pasangannya. Manusia sebagai tempat berbuat salah, dan Allah dengan sifat Cinta Kasih-Nya. Allah Ta’ala adalah Dzat yang mencintai kepemaafan. Di antara kita, wajib saling berwasiat. Jika Allah Maha Pemaaf, maka kita sebagai insan pun mesti pemaaf juga.

“Hai Anak Adam, selama kalian berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepada kalian atas semua dosa yang kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai Anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai ketinggian langit, kemudian kalian memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang telah kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai Anak Adam, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kalian datang kepada-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” — H.R. At-Tirmidzi

Source: www.republika.co.id
Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada


Wartaislami.com ~ KH A Mustofa Bisri mengingatkan kalangan kiai dan pesantren agar memainkan peran sebagai penjaga akhlak bangsa, dan tidak terjebak dalam peran-peran instrumental, seperti turut menjadi tim sukses calon dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada). Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikan hal tersebut pada pembukaan sarasehan “Pesantren dan Krisis Akhlak Bangsa” yang diselenggarakan Komunitas Majma’ Buhust An-Nahdliyyah di Magelang, Jawa Tengah, Ahad, (19/10) lalu. Di tengah merebaknya korupsi oleh para pejabat, peran kiai sebagai penjaga moralitas ditunggu sekaligus layak dipertanyakan secara kritis, apakah menjadi solusi atau justru bagian dari masalah bangsa. Menurut Gus Mus, situasi kebangsaan saat ini benar-benar telah krisis. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bukan saja melanda kalangan eksekutif dan legislatif namun juga Yudikatif. Penyelewengan penegak hukum merupakan pertanda masyarakat sedang menyongsong masa kehancuran. Berbagai kasus yang mencuat saat ini, bagi Gus Mus, juga mengindikasikan adanya upaya menghabisi orang-orang baik di negeri ini. Dalam sarasehan tersebut dibahas berbagai persoalan kebangsaan, kepesantrenan, dan ke-NU-an. Forum ini dihadiri sekitar 40 kiai dari DI Yogyakarta dan Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Majma’ Buhust An-Nahdiyyah adalah forum diskusi yang didirikan KH Mustofa Bisri (Rembang) dan KH Mahfudz Ridwan (Salatiga), yang aktif mengkaji berbagai topik ke-NU-an, kepesantrenan, dan kebangsaan. Turut hadir KH Abdul Ghofur Maimun  dari Sarang, KH Yahya Cholil Tsaquf (Rembang), KH Mahfudz (Maron), dan KH Mu’adz Thohir (Pati). Hadir pula kiai dari Magelang, yaitu KH Said, KH Aziz, dan Dr Thonthowi. Sedangkan dari Yogyakarta, tampak KH Asyhari Abta, KH Mu’tashim Billah, Dr Waryono Abdul Ghofur, Dr Sahiron, dan Kiai Jadul Maula. KH Muzammil (Bantul), KH Masduqi Mahfudz, KH Dr Tamyiz Mukharrom, KH Abdullah Hasan (Sleman), KH Munir (Kota Gede), Muhammad Mustafied (Mlangi), dan puluhan Kiai muda lainnya juga turut serta dalam kegiatan tersebut.

Source: www.nu.or.id
Ini Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Ini Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras


Seandainya pemuda ini berhenti belajar, yaitu dalam pengertian menerima begitu saja terhadap doktrin dan pemahaman Islam yang diajarkan para ustadznya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bercorak garis keras tempatnya dahulu menimba ilmu, dan tanpa mencari perbandingan pemahaman dari sumber yang lain, besar kemungkinan saat ini dia menjadi sosok ekstremis yang sinis pada dasar negara Pancasila dan bentuk NKRI serta tetap meyakini bahwa pengertian jihad dalam Al-Qur'an adalah melulu berarti perang fisik melawan non-Muslim.

Orang itu sebutlah Yanto (bukan nama sebenarnya). Lelaki asal Lamongan Jawa Timur ini pernah selama empat tahun dididik dan belajar di suatu lembaga pendidikan yang terletak di salah satu daerah di Salatiga, Jawa Tengah, yang berpaham tidak kompromis dengan tradisi lokal. Walau di lembaga pendidikan yang semula berbasis di Solo tersebut dia tempuh sampai lulus bahkan sempat menjalankan masa pengabdian selama kurang lebih satu tahun tapi kini pemikiran, sikap dan perilaku Yanto tidak ekstrem sebagaimana umumnya kelompok garis keras aliran Islam tertentu.

Padahal selama Yanto belajar di instansi pendidikan tersebut ia tidak lepas pula mendapatkan doktrin yang kontra dengan Pancasila bahkan Pancasila itu dianggap bagian dari taghut. Begitu pula pengertian tentang jihad yang ditekankan oleh guru-gurunya adalah berarti qitaal atau perang fisik, tanpa memberi alternatif tafsiran lain beserta konteks-konteks lapangan jihad yang lebar.

Tapi beruntung Yanto termasuk pelajar yang memiliki kebiasaan bertafakkur atau berefleksi pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang ia dapatkan di lembaga itu dirasanya janggal, terutama interpertasi makna jihad yang ekstrem. Dia pun coba membuka refrensi lain di luar yang diajarkan di lembaganya. Salah satunya ia membuka Tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Ternyata di kepustakaan yang ia telaah didapatinya bahwa arti jihad tidak sesempit yang diajarakan ustadznya. Ia memperoleh tafsiran jihad lebih luas.

Pada suatu hari sekitar tahun 2001 untuk lebih memantapkan keyakinannya, Yanto berinisiatif menemui kiai di luar madrasahnya yang sudah dikenal kealimannya. Akhirnya dia dengan mengajak salah satu temannya memutuskan sowan kepada KH. Maimun Zubair  Rembang untuk mengutarakan kebingungannya. Salah satu nasihat taktis yang sampai saat ini  tetap membekas di hati Yanto dari ucapan Mbah Maimun saat dia sowan adalah kalimat:    

"Islam dan kafir itu sama-sama Allah yang menciptakan. Kalau di dunia tidak ada yang kafir buat apa Allah menciptakan neraka segala, kok tidak cuma surga saja? Coba kenapa pula Allah menciptakan babi padahal babi diharamkan?"

Jawaban filosofis Mbah Maimun Zubair itu begitu mengena di benak Yanto dan makin menyadarkan akan kesalahan pemahaman term “jihad" yang selama ini ia peroleh dari ustadznya. Pun Yanto menjadi sadar jika ajarannya yang dahulu diserap tidak relevan diterapkan dalam kehidupam masyarakat yang plural seperti Indonesia ini.    

Usai sowan mencari perbandingan pemahaman jihad dari pada Mbah Maimun, Yanto tiap kali ada acara halaqoh atau diskusi kelompok di kelasnya sering berseberangan pendapat dengan kebanyakan kawan-kawannya yang umumnya tetap bersiskukuh pada anti Pancasila dan pro jihad perang. Meski Yanto tidak dikucilkan, tapi sejak dia sering berseberangan pendapat kemudian ia dianggap melakukan bughat.

Ketika Yanto  sudah dianggap bughat dalam komunitasnya, teman-temannya itu tidak menyerah untuk terus mempengaruhi Yanto agar kembali seideologi lagi sebagaimana semula. Bahkan kendati sudah pulang di rumah, lewat berbagai cara kawan-kawannya selalu berusaha mengajak supaya kembali berhalun "Islam ala Arab".

Pernah ia memutuskan kontak dengan teman-tema lamanya tersebut, ternyata ada saja orang baru dan nama asing yang mencoba menghubunginya, yang ujung-ujungnya mengajak berpaham Islam garis keras tersebut. Bahkan Ketika dia menikah dan ada salah satu kawan lamanya yang seangkatan dulu mengetahui dirinya akan menikah, ternyata temannya tersebut datang dan memberi kado. Isi kado itu tak lain adalah buku-buku dan majalah yang topik-topik isinya termasuk propaganda atau penyebaran semacam gerakan transnasional. Begitulah mereka memakai seribu satu modus demi menarik kembali anggota seideologinya yang sudah dicap melakukan bughat. (M. Haromain)


Sumber : nu online
Ini Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab

Ini Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab


Ulama Ahli Tafsir H Muhammad Quraish Shihab mengatakan, hijrah di masa sekarang harus dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang, bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama manusia.

"Hijrah itu meninggalkan yang buruk menuju yang baik," kata Quraish Shihab di Jakarta, Senin, menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 Hijriyah yang akan jatuh pada Ahad, 2 Oktober 2016.

Menurut Penulis Tafisr Al-Misbah ini, hijrah adalah ungkapan cinta tanah air yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bagi bangsa Indonesia hijrah harus dimaknai untuk lebih mencintai tanah air demi menciptakan negeri yang adil, damai, dan sejahtera.

Pernyataan itu sekaligus meluruskan pengertian hijrah yang digunakan kelompok ISIS dalam menjalankan misinya. ISIS menjadikan hijrah sebagai alat propaganda untuk menarik pengikutnya pindah ke Suriah untuk mendirikan khilafah.

Menurut mantan Menteri Agama ini, hijrah dipilih untuk Tahun Baru Islam karena hijrah memiliki tiga nilai penting yang harus dipahami umat Muslim. Pertama, ada kaitan antara hijrah dengan keamanan karena pada waktu itu terjadi teror atau ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.

Itu pun, kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Rasulullah menunggu perintah Allah. Sebelum perintah hijrah turun, sahabat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengajak Rasulullah untuk hijrah, tetapi ajakan itu tidak dilaksanakan.

Kedua, meskipun hijrah perintah langsung dari Allah, namun Rasulullah tetap melakukan perencanaan sebelum melakukan hijrah ke Madinah. Menurutnya, sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah lebih dulu hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia, red), meski negeri itu dipimpin seorang raja beragama Nasrani.

"Namun, karena raja itu baik dan adil, Rasulullah memerintahkan hijrah ke Habasyah, sebelum kemudian hijrah lagi ke Madinah. Dari situ dipetik makna bahwa dalam hijrah harus ada optimisme," ujar Guru Besar Tafsir itu.

Nilai ketiga, lanjut Quraish Shihab, dalam hijrah terdapat kebersamaan karena pada waktu itu terdapat anak, remaja, dan orang tua. Ia menegaskan, Tahun Baru Islam dimulai dari hijrah Nabi Muhammad SAW, bukan pada waktu Nabi meraih kemenangan.

"Karena kalau dasarnya kemenangan, orang biasanya akan merasa puas," tandasnya. (Red: Fathoni)



Sumber : nu online
Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam

Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam


Pada suatu malam, Rahmat, si santri yang rajin dan patuh sedang membaca kitab Ta’lim Mutaallim. Ia mendapati penjelasan bahwa seorang murid harus menghormati dan ta’dzim pada kiai, keluarga bahkan binatang dan properti kiainya.

Rahmat berpikir, mungkin sikap hormat ini juga akan mendatangkan apa yang disebut berkah. Dia juga teringat beberapa cerita seorang santri yang mempunyai ilmu laduni karena saking hormat kepada kiainya termasuk binatang miliknya.

Pada pagi harinya, saat menyapu halaman masjid, tiba-tiba Rahmat melihat seekor ayam jantan milik kiainya lewat di hadapannya.

Karena ingat penjelasan kitab yang semalam ia baca, Rahmat pun minggir teratur, menunduk serta memberi hormat pada binatang itu.

Beberapa teman santri hanya mlongo saja melihat kelakukan Rahmat yang begitu ta’dzim kepada ayam lewat, persis seperti ketika sang kiai melintas di hadapan para santri.

“Mat, ente sedang ngapain,” tanya salah satu santri bernama Ucup.

“Ini ayam milik kiai,” jawab Rahmat.

Seketika itu juga mereka serentak mengikuti gaya si Rahmat dengan hormat pada ayam kesayangan kiainya itu. (Fathoni)



Sumber : nu online
Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil

Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil


Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu.
<>
”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.

Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.

”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah.

”Nu’man.”

”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?”

”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

"Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah. (Mahbib Khoiron) via nu online
Ketika Hasan-Husain Menaiki Punggung Nabi

Ketika Hasan-Husain Menaiki Punggung Nabi


Menyayangi anak adalah sifat dan naluri yang dimiliki setiap orang tua. Tetapi, kasih sayang semacam apakah yang paling hakiki? Apakah dengan memanjakannya orang tua telah memenuhi tanggung jawabnya? Cerita dalam kitab Tanqih al-Qaul karya Syekh Nawawi al-Bantani berikut ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
<>
Suatu hari Abu Dzar dan sahabat-sahabat lainnya duduk berbicang dengan Rasulullah. Di tengah-tengah perbincangan, tiba-tiba kedua cucu beliau, Sayidina Hasan dan Husain, datang dan menaiki punggung kakeknya.

Setelah selesai bincang-bincang, Rasulullah pun meminta kepada kedua cucu kesayangannya untuk turun. “Wahai cucuku sayang, turunlah,” pinta Rasulullah.

Sayyinda Ali sebagai ayah menatap tajam kepada putra-putranya. Hasan dan Husain semakin takut dengan tatapan ayahnya tersebut, dan akhirnya keduanya turun dari punggung Rasulullah.

Rasulullah pun bertanya kepada kedua cucunya, “Kenapa kalian gemetar wahai cucuku?”

“Kami takut kepada ayah,” jawab polos Hasan dan Husain.

Sayidina Ali pun memberi pelajaran dengan memukul pelan paha kedua anaknya dan menasihati dengan nada sedikit tinggi, “Bersopan santunlah kalian ketika ada tamu, wahai putraku.”

Rasulullah pun berkata, “Wahai menantuku, Ali, janganlah kamu bentak Hasan dan Husain, karena mereka adalah buah hatiku.”

Ali pun langsung menundukan kepala dan berkata dengan penuh penghormatan, “Ya”.

Jibril datang dan menegur Nabi Muhammad. “Wahai Muhammad, tindakan Ali adalah benar.”

“Rawatlah, kasihlah nama yang bagus, dan perbaikilah gizi anak-anakmu, karena di akhirat nanti anak-anakmu akan memberi pertolongan,” pesan Malaikat Jibril.

Ketika mendengar teguran dan pesan tesebut, Rasulullah bersabda, “Wahai kaum muslimin, barang siapa yang diberi anak oleh Allah, maka wajib baginya mengajarkan sopan santun dan mendidiknya dengan baik. Bilamana hal itu dilakukannya, maka Allah akan menerima permohonan syafa’at anaknya. Tapi barang siapa yang membiarkan anaknya bodoh, tidak mengenal agama, suka melakukan pelanggaran serta tidak berakhlak, maka setiap pelanggaran dan dosa yang dilakukan anak-anaknya, orang tua ikut menanggungnya”. (Ahmad Rosyidi) via nu online
Ini Permintaan Rasulullah SAW dalam Doa Qunutnya

Ini Permintaan Rasulullah SAW dalam Doa Qunutnya


Rasulullah SAW tidak meninggalkan doa Qunut pada shalat Subuh dan shalat Witir pada paruh kedua Ramadhan. Dalam doa Qunut, Rasulullah SAW memohon petunjuk, ampunan, dan keselamatan kepada Allah SWT. Berikut ini doa Qunut yang dibaca Rasulullah SAW.

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّ مَاقَضَيْتَ، فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Allâhummahdinî fîman hadait, wa ‘âfinî fîman ‘âfait, wa tawallanî fîman tawallait, wa bârik lî fîmâ a‘thait, wa qinî syarramâ qadhait. Fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaik, wa innahû lâ yadzillu man wâlait, wa lâ ya‘izzu man ‘âdait. Tabârakta rabbanâ wa ta‘âlait. Fa lakal hamdu ‘alâmâ qadhait. Astaghfiruka wa atûbu ilaik.

Artinya, “Ya Allah, kumpulkan aku bersama orang-orang yang menerima petunjuk-Mu, selamatkan diriku ke dalam kelompok orang yang Kau lindungi dari bala dunia dan akhirat, sertakan daku bersama mereka yang Kau pelihara dari dosa, turunkan berkah-Mu untukku dalam semua anugerah-Mu, jauhkan diriku dari dampak buruk yang Kau gariskan. Karena sungguh Engkau yang memutuskan, bukan menerima putusan. Sungguh tiada hina orang yang Kaubimbing. Dan tiada mulia orang yang Kaumusuhi.

Hai Tuhan kami, Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi. Segala puji bagi-Mu atas segala putusan-Mu. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu.”

Doa Qunut Rasulullah SAW ini dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dalam karyanya Marâqil ‘Ubûdiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah. Ia menganjurkan orang yang shalat Subuh mengakhiri doa Qunutnya dengan shalawat untuk Rasulullah SAW.

Sebenarnya doa Qunut itu bisa berbentuk istighfar dan pujian kepada Allah SWT. Itu sudah cukup. Tetapi doa Qunut yang utama adalah lafal doa Qunut Rasulullah SAW di atas. Demikian disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkâr-nya seperti dilansir Syekh M Nawawi Banten. (Alhafiz K)



Sumber : nu online
Kabar dari Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun

Kabar dari Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun


Kabar Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali pernah bercerita dalam salah satu kitabnya, Ayyuhâl Walad, tentang seorang Bani Israil yang begitu taat beribadah kepada Allah. Hamba tersebut menunjukkan kesalehan tersebut hingga tujuh puluh tahun lamanya.

Suatu kali Allah mengutus Malaikat untuk memberi kabar kepadanya bahwa seluruh ibadah yang ia tunaikan itu tidak lantas membuatnya pantas masuk surga.

Saat pesan tersebut disampaikan, sang hamba ahli ibadah berujar, “Kami diciptakan Allah untuk beribadah maka sudah semestinya kami pun beribadah.”

Jawaban si hamba di atas selaras dengan bunyi ayat yang tercantum dalam Surat ad-Dzariyat ayat 56: “Wa mâ khalaqtul jinna wal insa illâ liya‘budûn (Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Ahli ibadah itu tak menunjukkan tanda-tanda protes atas kabar dari malaikat, melainkan sekadar menjelaskan bahwa ibadah 70 tahun yang ia lakukan sejatinya hanyalah wujud dari pelaksanaan perintah Allah sendiri.

Malaikat pun kembali kepada Allah dan berkata, “Ya Ilâhi, Engkau lebih tahu apa yang ahli ibadah itu katakan.”

Allah menjawab, “Apabila dia tak berpaling dari ibadah kepadaku, maka dengan kemurahan-Ku Aku pun tak akan berpaling darinya. Saksikanlah wahai malaikatmmalaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuninya.”

***

Ibadah sebesar apa pun memang tak akan bisa melunasi seluruh anugerah Allah kepada manusia, termasuk balasan surga. Ritual ibadah, betapapun intensifnya, masih terlalu murah untuk ditukar dengan semesta karunia yang tak terhitung: mulai dari kesehatan fisik, harta benda, keamanan, kemerdekaan, hingga kesempatan dan kemampuan beribadah itu sendiri. Hanya lantaran rahmat Allah-lah manusia layak meraih kemuliaan surgawi.


Namun demikian, hubungan tak sebanding antara ibadah manusia dan karunia Allah itu tak berarti mempersilakan setiap orang berbuat semaunya, lepas dari tanggung jawab ibadah. Sebab, “Siapa tak beramal, ia tidak memetik ganjaran,” kata Imam Al-Ghazali. Hal ini menunjukkan, rahmat Allah kepada hambanya menghendaki adanya ikhtiar manusia yang sedari awal dibekali hati dan nalar.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah juga pernah bertutur, “Siapa mengira bahwa tanpa kerja keras ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang melamun. Siapa menyangka bahwa dengan jerih payah ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang berdoa menuju ‘kaya’.” (Mahbib) via nu online
Ini 7 Kenyataan yang Membuat Hatimu Tenang !

Ini 7 Kenyataan yang Membuat Hatimu Tenang !


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.ar-Ra’d:28)

Harta termahal di dunia adalah ketenangan hati. Tanpa hati yang tenang maka harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi dan keluarga yang banyak pun tak akan berarti.

Kali ini kita akan menjawab pertanyaan, apa faktor-faktor yang membuat hati kita tenang?

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat hati kita tenang seperti dzikir yg disebutkan pada ayat diatas. Namun faktor yang paling utama dan paling berpengaruh adalah kesadaran dan ilmu.

Ilmu apa yang dimaksud? Kesadaran apa yang dimaksud?

Simak 7 hal beriku ini !

1. Seorang yang tau bahwa sekecil apapun amal perbuatannya akan dihisab maka hatinya akan tenang dan hatinya penuh harapan atas amal kebaikan yang ia lakukan.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS.al-Zalzalah:7)

2. Jika dia tau bahwa ia diciptakan karena kasih sayang dan rahmat Allah, maka hatinya akan tenang.

إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُم

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (QS.Huud:119)

3. Jika ia tau bahwa orang-orang dzalim itu selalu dalam pengawasan Allah, maka hatinya akan tenang.

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS.al-Fajr:14)

4. Jika dia tau bahwa Allah itu Maha Bijak dan Maha Mengetahui. Dan Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia, maka ia akan selalu berbaik sangka kepada orang lain.

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS.al-Baqarah:32)

5. Jika dia tau bahwa jalannya itu jelas dan masa depannya (akhirat) pasti lebih baik dari kehidupan di dunia, maka hatinya akan tenang.

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS.al-A’la:17)

6. Siapa yang tau bahwa kebaikannya akan dibalas 700 kali lipat atau bahkan tak terhingga, sementara keburukannya hanya akan dibalas sesuai dengan apa yang ia perbuat, maka hatinya akan tenang dan gembira.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (sedekah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang meninfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.al-Baqarah:261)

7. Siapa yang tau bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik maka hatinya tenang dengan kebaikan yang telah ia lakukan.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS.al-Baqarah:195)

Jika kita telah meyakini 7 hal ini. Insya Allah ketenangan hati itu akan menetap di hati kita masing-masing.

Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki hati yang tenang.

Source: www.khazanahalquran.com
Agama Saya Tidak Mencontohkan Mengenakan Helm

Agama Saya Tidak Mencontohkan Mengenakan Helm


Wartaislami.com ~ Suatu ketika, seorang polisi menghentikan seorang bapak pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm dimana bapak itu hanya mengenakan peci berwarna putih sebagai penggantinya. Tanpa pikir panjang, polisi meminta SIM dan STNK si bapak yang langsung ditolak dengan keras si bapak.

Polisi : (Mengeluarkan buku tilang) “Maaf, boleh saya melihat SIM dan STNK Anda?”

Pengendara : “Sebutkan apa kesalahan saya.”

Polisi : “Anda tidak mengenakan helm.”

Pengendara : “Saya tidak akan mengenakan helm karena itu tidak dicontohkan di agama saya.”

Polisi : (Sedikit bingung) “Maksud anda?”

Pengendara : “Rasulullah saja tidak pakai helm. Jadi jangan minta saya mengenakan sesuatu yang tidak dikenakan oleh beliau.”

Polisi : (Menutup bukunya dan tersenyum ramah) “Begitu ya pak?! Tapi setahu saya juga, Rasulullah juga tidak mengendarai sepeda motor. Dan pertanyaan saya pun sederhana, andai zaman itu sudah ada motor, apakah Anda yakin Rasulullah tidak akan memakai helm??”

Pengendara : (Tersentak dan terdiam seketika)

Polisi : “Anda dengan mudahnya mengharamkan yang anda benci, tapi menghalalkan yang Anda sukai seolah-olah Andalah penentunya. Alhamdulillah saya juga punya ilmu agama yang baik, dan saya percaya bahwa Rasulullah lebih menyukai umatnya yang melindungi kesehatannya dan keluarganya.”

Pengendara : “Apa maksud bapak? Apakah hanya karena helm berarti saya tak melindungi keluarga saya?”

Polisi : “Benar. Bahwa jika terjadi hal buruk yang mencelakai kepala anda akibat benturan, apakah keluarga anda tidak akan menerima akibatnya? Bagaimana perasaan takut dan tertekan yang akan mereka rasakan? Siapa yang nanti akan menafkahi mereka?”

Pengendara : “Allah yang akan menafkahi mereka.”

Polisi : “Lewat siapa? Bukankah rezeki yang diberikan Allah seringkali lewat orang lain? Dan bukankah rezeki yang mereka terima itu lewat anda? Jika anda cacat, maka aliran rezeki akan lewat orang lain, bisa jadi ‘ayah tiri anak-anak anda’. Dan apakah anda ikhlas dengan itu?”

Pengendara : (Sekali lagi terdiam sambil mengeluarkan SIM dan STNK)

Polisi : “Ini pesan saya buat anda pak, melindungi diri Anda sama halnya dengan melindungi keluarga Anda. Mungkin ini hanya sebuah helm, tapi bayangkan perasaan nyaman yang dirasakan istri anda saat melihat kepala suaminya terlindungi. Dan jika anda mencintai keluarga anda, maka anda pasti mengurangi resiko yang membahayakan anda. Hari ini saya tak menilang anda, anggaplah nasehat barusan sebagai surat tilang saya untuk Anda.”

Source: www.satuislam.org
Nabi Tak Pernah Berperang karena Beda Agama

Nabi Tak Pernah Berperang karena Beda Agama


Wartaislami.com ~ Nabi Muhammad SAW, pemimpin besar umat Islam, tidak pernah berperang karena masalah beda agama. Peperangan dengan orang-orang kafir pada masa Nabi tidak terjadi atas dasar agama, namun karena mereka telah menebar ‘fitnah’ sehingga menimbulkan chaos di kalangan masyarakat.

Demikian dikatakan KH Lukman Hakim, pemimpin (mursyid) Tarekat Sadziliyah Jakarta, saat memberikan Pengajian Ramadhan pada peringatan hari ulang tahun keempat Wahid Institut (WI), di kantor WI, Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta, Senin (8/9). Pengajian juga dihadiri oleh penggagas WI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).<>

”Illat atau penyebab peperangannya adalah karena mereka telah menebar ’fitnah’ yang menimbulkan chaosdi kalangan masyarakat, bukan karena masalah beda agama,” katanya.

Pimpinan umum majalah Sufi itu menyitir ayat 193 surat Al-Baqarah, ”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi”. Menurutnya, ayat ini sering disalahfahami oleh sekelompok umat Islam garis keras.

Fitnah yang dimaksudkan sebenarnya adalah perbuatan-perbutan yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Ditambahkan, pada masa pemerintahan Sahabat Abu Bakar, tentara Islam juga memerangi kelompok orang-orang yang murtad atau keluar dari Islam. Namun peperangan itu sebenarnya bukan karena mereka keluar dari Islam tetapi karena mereka tidak membacayar zakat.

“Waktu itu seorang sahabat yang vokal yakni Umar bin Khattab memprotes Abu Bakar, ‘kenapa engkau melakukan apa yang tidak Nabi lakukan?’ Abu Bakar menjawab, ‘aku perangi mereka karena tidak mau mematuhi tatanan yang telah ditetapkan pada masa Nabi masih hidup (membayar zakat) dan pasti akan menimbulkan fitnah sosial,” katanya.

Dalam pengajian bertajuk “Sufisme Islam untuk Perdamaian Dunia” pakar tasawuf itu berpesan bahwa upaya menempuh perdamaian itu pada saatnya akan berhadapan dengan kekerasan.

Gus Dur yang memberikan taushiah setelah pengajian itu hanya memberikan tanggapan singkat, “penolakan itu adalah pemberian itu sendiri,” katanya. “Al-man’u ‘ainul atho`,” kata Gus Dur mengutip salah satu kata mutiara dari Al-Hikam, kitab sufi karya ulama sufi terkemuka Syeikh Athoillah as-Sakandari.

Source: www.nu.or.id
Kampus ITS Tolak Ustadz Wahabi Syafiq Basalamah

Kampus ITS Tolak Ustadz Wahabi Syafiq Basalamah


Wartaislami.com ~ Kajian Islam yang rencananya diadakan Masjid Manarul Ilmi Kampus ITS Surabaya dengan mendatangkan da’i ekstremis berpaham Wahabi akhirnya dibatalkan.  Semula kelompok kajian berpaham Wahabi mendatangkan Ustadz Syafiq Riza Basalamah untuk ceramah di Masjid Manarul Ilmi, Minggu,11 September 2016.

Diberitakan di laman kopasus.sarkub.com, Jumat, 9 September 2016, pembatalan ini dilakukan kerjasama MWC NU Sukolilo Surabaya, pihak ITS dan Polsek Sukolilo. Ketua MWC: H. Wahyuddin, mengatakan, pembatalan ini merupakan langkah cepat yang dilakukan MWC NU Sukolilo Surabaya dengan mengadakan rapat bersama pihak – pihak yang terkait di kampus ITS Surabaya. Pihak MWC NU Sukolilo ditemani banser juga berkoordinasi dengan Polsek Sukolilo.

Menurut Wahyuddin  pergerakan wahabi/salafi di kampus, terutama ITS,  sudah sangat lama berkembang. Kelompok ini minta izin kepada ta’mir masjid untuk bisa mengadakan acara tersebut di Masjid Manarul Ilmi ITS. “Jadi, acara kajian ini bukan acaranya ta’mir Masjid ITS, tapi murni acaranya kelompok sekte wahabi/salafi yang bersarang di kampus ITS Surabaya,” kata Wahyuddin.


Syafiq dinilai sering menyinggung perasaan dan mencaci maki amalan dan tradisi masyarakat Indonesia. Selain itu ia dinilai dapat mengganggu stabilitas, ketenangan dan kesejukan dan merusak keharmonisan umat Islam. Ketentuan dan peraturan dari ta’mir Masjid Manarul Ilmi mengenai kajian yang diselenggarakan di tersebut, dilarang menghujat salah satu ormas lain apalagi sampai membid’ahkan, menyesatkan bahkan mengkafirkan.

“Sejauh ini pihak takmir masjid sebatas mengawasinya,” terangnya. Sebelumnya pada bulan Agustus 2016, penolakan kedatangan Syafiq juga pernah dilakukan Gerakan Santri dan Pemuda Rahmatan Lil Alamin (Gasper) Kabupaten Pamekasan. Syafiq rencananya ceramah di Masjid Ridwan, Jalan Diponegoro, Kelurahan Gladak Anyar, Kabupaten Pamekasan. Ribuan anggota Gasper menggelar unjuk rasa menolak kedatangan Syafiq sebagai sikap dan tindakan serius. Bahkan penolakan tersebut juga disampaikan kepada pihak Polres Pamekasan.

Da’i asal Jember ini dalam ceramahnya, banyak mencaci amaliah warga ahlusunnah wal jamaah. Salah satunya, dzikir bersama setelah solat jamaah dianggap bid’ah. Da’i asal Jember ini dalam ceramahnya, banyak mencaci amaliah warga ahlusunnah wal jamaah. Salah satunya, dzikir bersama setelah solat jamaah dianggap bid’ah

Source: www.muslimedianews.com
Kiai As’ad Beri Waktu 3 Hari Jepang Pergi, Atau Dihancurkan

Kiai As’ad Beri Waktu 3 Hari Jepang Pergi, Atau Dihancurkan


Perjuangan para kiai, termasuk Kiai As’ad Syamsul Arifin, dalam melawan penjajah, kerap kali diwarnai dengan kejadian yang aneh. Kejadian yang menurut akal sehat sulit diterima, tapi realitasnya memang terjadi. Itulah yang menjadi ending dari perjuangan Kiai As’ad menempuh perjalanan sejauh 45 kilometer untuk mengusir serdadu Jepang di bumi Garahan, Kecamatan Silo, Jember.

Semangat juang yang dimiliki Kiai As’ad dan rombongan untuk mengusir serdadu Jepang kian berlipat-lipat setelah berhasil memukul mundur begundal-begundal negeri matahari terbit saat terjadi pertempuran di sungai Kramat, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono.

Dengan selalu memohon pertolongan Allah, Kiai As’ad dan rombongan melanjutkan perjalanan hingga sampai di Desa Plalangan, Kecamatan Kalisat. Di desa tersebut, Kiai As’ad berhenti sebentar di sebuah rumah warga untuk meminta tiga ikat padi (dengan batangnya). Tiga ikat padi tersebut dibawa oleh seseorang benama Pak Ma’ruf.

“Pak Ma’ruf ini saksi hidup, dan beliaulah yang membawa tiga ikat padi itu hingga sampai di Garahan,” tutur Ketua Panitia Bidang Perlengkapan sekaligus tim pencari fakta Napak Tilas Nasional 2016, Ustadz Fauzi kepada NU Online di Jember, Selasa (13/9).

Kiai As’ad, Pak Ma’ruf dan rombongan pun menuju Garahan. Sampai di Dusun Pasar Alas, Desa Garahan, Kiai As’ad behenti di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat sunnah. Segala sesuatunya memang perlu dipersiapakan di situ, termasuk bermunajad kepada Allah. Sebab, markas Jepang sudah sangat dekat. Dan pertempuran diprediksi akan terjadi.

Dengan senjata seadanya plus keyakinan yang tinggi akan pertolongan Allah, mereka pun bergerak, memasuki Dusun Curah Damar, Desa Garahan, yang menjadi markas serdadu Jepang. Kiai As’ad memerintahkan agar pasukan resmi (tentara) tetap bersembunyi. Tidak keluar tapi tetap dalam kondisi siaga. Sedangkan Kiai As’ad dan para tentara Hizbulloh langsung menyatroni markas Jepang.

Saat itu, serdadu Jepang sudah ciut nyalinya. Tanpa buang waktu, Kiai As’ad langsung mengultimatum agar mereka segera angkat kaki, atau diserang habis. Serdadu Jepang mengulur waktu. Mereka bahkan meminta waktu 3 bulan lagi untuk meninggalkan markas, namun Kiai As’ad hanya memberi waktu tiga hari. Kiai As’ad tampaknya sadar bahwa waktu 3 bulan tersebut akan digunakan oleh Jepang untuk menyusun kekuatan dengan meminta bala bantuan dari luar Silo. Permintaan Jepang tersebut akhirnya turun menjadi 2 bulan, dan turun lagi menjadi 1 bulan, sebelum akhirnya setuju 3 hari.

Walaupun hanya 3 hari, tapi waktu tersebut sangat krusial. Sebab, segala kemungkinan bisa terjadi, apalagi Jepang terkenal licik. “Selama menunggu itulah, tiga ikat padi itu dilepas dan dilempar ke udara, dan jadilah tentara. Alhamdulillah di hari ketiga, Jepang benar-benar pergi,” lanjut Ustadz Fauzi.

Saat ini puing-puing dan bebatuan bekas bangunan markas Jepang tersebut, sebagian masih mengonggok di tengah kebun kopi yang menghijau. Itulah saksi bisu yang menandai kiprah Kiai As’ad dalam altar sejarah perjuangan bangsa Indonesia. (Aryudi A Razaq)  via nu online
Rumus Menghadapi Ahok Versi Gus Mus

Rumus Menghadapi Ahok Versi Gus Mus


Wartaislami.com ~ Sebagai seorang pemimpin sebuah ibu kota negara, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dari awal kepemimpinannya sebagai suksesor Jokowi banyak mendapat sorotan publik. Selain cara dia mereformasi birokrasi di DKI Jakarta, pria yang didukung Gus Dur saat maju dalam Pilkada Provinsi Bangka Belitung ini juga berkali-kali mendapat kecaman karena gaya komunikasinya yang kerap menabrak batas-batas kesantunan.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus kembali melontarkan penilaiannya terhadap tokoh yang dikenal bersih tetapi keras ini. Gus Mus menuliskan penilainnya dalam akun Facebook pribadinya pada 13 September 2016 lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini mengatakan secara gamblang bahwa sebagai 'virus', makhluk yang diciptakan Allah bernama Ahok --Gubernur DKI-- itu memang luar biasa. Ia 'menyerang' otak dan menghilangkan akal sehat banyak orang, termasuk mereka yang seharusnya sangat waras.

“Parahnya lagi; penyakit yang diakibatkannya, menular dengan cepat. Mewabah. Hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang selamat dari wabah ini,” tulis Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 ini.

Lalu adakah penangkalnya, kata Gus Mus, ada; yaitu sebagaimana penangkal 'virus-virus' lain yang menyerang penalaran: bersikaplah sedang-sedang saja dalam segala hal.

“Jangan berlebih-lebihan. Termasuk sedang-sedang saja dalam menyenangi dan tidak berlebih-lebihan dalam membenci,” tandasnya. (Fathoni)


Sumber : nu online
Siapa Bilang Shalat Lama itu Khusyu?

Siapa Bilang Shalat Lama itu Khusyu?


Pada suatu malam, Ujang dan Cecep melaksanakan shalat tahajjud di mushola. Saat yang bersamaan, di depan mereka berdua ada seorang santri senior bernama Walid sedang shalat juga. Shalat Walid terlihat khusyu karena dilakukan lama sekali.

“Eh Cep, khusyu bener tuh senior kita,” kata Ujang.

“Dari mana kamu tahu si Walid khusyu,” tanya Cecep menimpali.

“Lah itu buktinya shalat dia lama sekali,” cetus Ujang.

“Kamu jangan salah mengerti Jang, orang yang shalatnya lama itu bukannya khusyu, tapi berusaha untuk khusyu nggak bisa-bisa, makanya shalatnya lama,” papar Cecep.

Cecep kemudian menganalogikan (meng-qiyaskan) shalatnya si Walid dengan sinyal HP:

“Orang yang shalatnya lama itu mirip HP yang sedang mencari sinyal karena sinyalnya kecil, jadi sulit dipakai untuk komunikasi. Mending kaya kita yang biasa-biasa saja shalatnya, nggak lama tetapi juga nggak sebentar, itu baru namanya khusyu Jang,” terang Cecep panjang lebar, Ujang hanya mlongo, khusyu mendengarkan.

Ujang berkata: “Bener juga kamu Cep.” (Fathoni)



Sumber : nu online
Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis


Di suatu daerah terdapat seorang yang dalam waktu cukup lama dikenal sebagai ahli ibadah (‘abid). Suatu hari sekelompok orang datang kepadanya seraya memberi tahu bahwa di sekitar tempat itu ada segolongan orang yang menyembah pohon, bukannya menyembah Allah. Mendengar informasi demikian, Sang ‘abid marah. Kemudian dia mengambil kapaknya dan pergi menuju pohon dimaksud untuk menebangnya.

Tetapi Iblis yang menampakkan dirinya sebagai seorang Syekh menghadang langkah si ahli ibadah.

"Ke mana kamu akan pergi,” tanya Iblis.

"Aku akan menebang pohon yang disembah itu,” kata si ahli ibadah.

"Apa kepentinganmu dengan pohon itu? Kamu telah meninggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu sendiri, lalu kamu meluangkan waktu untuk selain itu,” selidik Iblis.

"Ini adalah bagian dari ibadahku juga,” jawab si ‘abid.

"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu untuk menebangnya."

Lalu Iblis menyerang sang ahli ibadah. Tanpa kesulitan sang ‘abid berhasil mengalahkan Iblis, membantingnya ke tanah dan akhirnya dapat menduduki dadanya.

"Lepaskanlah aku, agar aku dapat berbicara kepadamu,” pinta Iblis.


Sang ‘abid pun berdiri. Lalu Iblis berkata:

"Wahai si ‘abid, sesungguhnya Allah telah melepaskan urusan ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Kamu tidak akan menanggung dosa orang lain. Allah pun mempunyai para nabi di segala penjuru bumi. Seandainya Allah menghendaki, niscaya dia akan mengutus mereka kepada para penyembah pohon ini dan memerintahkan mereka untuk menebangnya."

"Aku tetap harus menebangnya,” tutur ahli ibadah bersikukuh.

Iblis pun kembali menyerang si ‘abid. Namun kembali dengan mudah si ‘abid dapat mengatasi perlawanan Iblis, dibantingnya ke tanah lalu diduduki dadanya. Akhirnya Iblis tidak berdaya dan berkata kepada sang ‘abid:

"Apakah kamu mau menerima penyelesaian antara aku dan kamu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu.

"Apa itu?” Tanya sang ahli ibadah.

"Lepaskanlah aku suapaya aku dapat mengatakannya.”

Sang ‘abid pun melepaskannya. Lalu iblis berkata:

"Kamu adalah seorang laki-laki miskin. Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanyalah beban yang memberatkan manusia. Barangkali kamu akan berbuat baik kepada kawan-kawanmu, membantu tetangga-tetanggamu, dan tidak lagi membutuhkan orang lain.

"Benar,” si ‘abid mengiyakan.

"Pulang dan tinggalkanlah urusan ini. Setiap malam aku akan meletakkan dua dinar di bawah kepalamu. Saat pagi hari kamu bisa mengambilnya lalu membelanjakannya untuk dirimu dan keluargamu, serta menyedekahkan untuk teman-temanmu. Hal itu akan lebih bermanfaat bagimu dan bagi kaum muslimin ketimbang menebang pohon yang disembah ini. Apabila kamu menebangnya, hal itu tidak akan membahayakan mereka dan tidak pula memberi manfaat atas teman-teman muslim kamu,” ujar Iblis menjelaskan.

Sang ‘abid merenungkan apa yang diucapkan Iblis, lalu berkata, "Syekh ini benar. Aku memang bukanlah seorang nabi sehingga aku tidak wajib menebang pohon ini. Lagi pula Allah pun tidak memerintahkan aku untuk menebangnya sehingga aku tidak akan berdosa apabila membiarkannya. Dan apa yang disampaikannya memang lebih banyak manfaatnya.”

Setelah itu, Iblis bersumpah dan berjanji kepada sang ‘abid akan memenuhi komitmennya itu. Sang ‘abid pun pulang ke tempat ibadahnya. Pada pagi harinya dia melihat dua dinar di bawah kepalanya. Dia pun mengambilnya. Begitu pula pada keesokan harinya. Tetapi pada pagi hari ketiga dan pagi hari setelahnya dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Merasa kecewa atas kejadian itu, ahli ibadah menjadi marah dan mengambil kapaknya. Iblis kembali menghadangnya dalam bentuk seorang Syekh.

"Mau ke mana kamu?”

"Aku akan menumbangkan pohon itu.”

"Demi Allah, kamu tidak akan mampu melakukannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan jalan menuju pohon itu.”

Sang ‘abid menyergap Iblis sebagaimana ia melakukannya pada kejadian pertama.

"Tidak mungkin,” kata iblis.

Lalu Iblis membekuk sang ‘abid dan membantingnya. Dalam sekejap dia menjadi seperti burung kecil di antara dua kaki Iblis. Iblis duduk di atas dadanya dan berkata, "Berhentilah dari urusan ini. Apabila tidak, aku akan membunuhmu.”

Kini sang ‘abid tidak memiliki kekuatan untuk melawan Iblis.

"Wahai Syekh, kamu sekarang telah mengalahkanku. Lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku mengapa dulu aku bisa mengalahkanmu, tapi sekarang kamu yang mengalahkanku,” tanya ahli ibadah.

"Karena pada kali pertama kamu marah, kamu melakukan itu karena demi Allah, dan niatmu adalah akhirat sehingga Allah menundukkanku untukmu. Tetapi kali ini kamu marah demi dirimu sendiri dan demi dinar-dinar yang aku hentikan untukmu,” pungkas Iblis.

Demikian kurang lebihnya (bukan terjemahaan harfiah) salah satu cerita israiliyat yang dilansir oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumid Din jilid empat ketika sang Hujjatul Islam itu memaparkan tentang "Keutamaan Ikhlas" dengan analogi cerita. Bila kini banyak orang berusaha mengambil pelajaran dan iktibar melalui jalan membaca cerita-cerita fiksi yang dikarang para sastrawan, maka dengan tujuan yang sama kisah israiliyat juga tidak dapat dianggap remeh apalagi yang disajikan oleh tokoh sekaliber Imam Al-Ghazali yang kami yakini lebih hebat daripada para sastrawan-penyair masa kini . (M. Haromain)  via nu online
Ini Sejumlah Pandangan Ulama Perihal Hukum Berjenggot

Ini Sejumlah Pandangan Ulama Perihal Hukum Berjenggot


Di antara keutamaan mengaji kitab hadits adalah kita dapat melihat kehidupan Nabi Muhammad SAW secara utuh, mulai dari kehidupan beragama, sosial, budaya, bahkan bentuk fisiknya. Namun pertanyaannya, apakah semua bentuk kehidupan Nabi SAW itu mesti kita amalkan?

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah” (Surat Al-Hasyar ayat 7). Sekilas ayat ini bermakna umum, artinya segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad harus diamalkan, baik yang bersifat duniawi maupun agama. Akan tetapi, menurut Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam kitabnya At-Turuqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah, ayat ini tidak berlaku umum, karena ada hadits yang mengkhususkan keumumannya.  

Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi SAW berkata:

إنما أنا بشر، إذا أمرتكم بشيء من دينكم فخذوه به، وإذا أمرتكم بشيء من رأيي فإنما أنا بشر

Artinya, “Sesungguhnya aku seorang manusia. Bila aku memerintahkan sesuatu yang berkaitan dengan agama maka patuhilah, namun bila aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, maka bagaimanapun aku juga seorang manusia,” (HR Muslim).

Berdasarkan hadits ini, Imam Muslim dalam Shahih Muslim memberi judul salah satu babnya dengan redaksi:

باب وجوب امتثال ما قاله شرعا دون ما ذكره من معايش الدنيا على سبيل الرأي

Artinya, “Kewajiban mengikuti perintah Rasul selama berkaitan dengan syariat, bukan sesuatu yang berkaitan dengan hal keduniawian yang berasal dari pendapat pribadi beliau.”

Dari kalimat ini dapat dipahami, tidak semua sesuatu yang berasal dari Nabi mesti diamalkan. Karena bagaimanapun beliau juga seorang manusia, yang memiliki pandangan pribadi, tinggal di sebuah komunitas yang memiliki sistem sosial dan budaya tersendiri.  Maka dari itu, Kiai Ali menyimpulkan bahwa hadits yang mengandung unsur budaya Arab tidak wajib untuk diamalkan.

Kedudukan Jenggot
Sebagian orang menganggap bahwa jenggot identik dengan Islam. Sehingga ada kesan tidak sempurna keislaman seseorang bila tidak berjenggot. Karena mereka meyakini Nabi SAW berjenggot dan kita harus menirunya. Selain itu ada hadits yang bersumber dari Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda:

أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى

Artinya, “Potonglah kumismu dan biarkan jenggotmu panjang,” (HR Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan:

خالفوا المشركين أحفوا الشوارب وأوفوا اللحى

Artinya, “Berbedalah dengan orang musyrik, potong kumismu dan biarkan jenggotmu panjang” (HR Muslim).

Hadits pertama mengindikasikan kewajiban memotong kumis dan memanjangkan jenggot. Sementara hadis kedua juga menyiratkan hal yang sama, namun di sana terdapat ‘illat atau alasan mengapa memanjangkan jenggot termasuk kesunahan.

Menurut Kiai Ali Mustafa, hadits tidak dapat dipahami sepotong-sepotong dan antara hadis dapat saling menafsirkan antara satu sama lainnya. Terlebih lagi, terkadang dalam satu tema yang sama, ada hadits yang diriwayatkan secara utuh dan ada yang tidak utuh. Karenanya, hadis yang redaksinya utuh seharusnya menjadi acuan untuk memahami hadis yang tidak utuh.

Dengan demikian, hadits kedua menjadi pedoman untuk memahami hadits pertama, karena redaksinya lebih lengkap. Implikasinya, aturan memanjangkan jenggot dan memotong kumis sangat terkait dengan anjuran mukhalafah lil musyrikin (berbeda dengan orang musyrik). Dalam pandangan Kiai Ali, yang menjadi perhatian utama dalam hadits ini adalah imbauan untuk berbeda dengan orang kafir, bukan aturan memanjangkan jenggotnya.

Akan tetapi perlu digarisbawahi, perintah Nabi SAW agar berbeda dengan orang kafir ini sangat terkait dengan konteks perperangan. Supaya bisa membedakan mana pasukan musuh dan umat Islam pada waktu perang, perlu diberikan simbol dan tanda pada masing-masing pasukan. Di antara tandanya adalah jenggot.

Karena itu, makna hadits ini tidak relevan dengan sendirinya pada masa sekarang. Dalam konteks dunia modern, jenggot tidak lagi menjadi simbol pembeda antara pasukan Muslim dan musuh. Selain itu, sebagian negara yang dihuni umat Islam, mereka dapat hidup berdampingan dengan orang non-Muslim. Sehingga tidak dibutuhkan lagi simbol pembeda antara orang Islam dengan non-Muslim.

Kiai Ali mengatakan:

ومع ذلك نحن نرى بأن ما يتعلق بالشعر من اللحية والشارب وشعر الرأس كل ذلك من باب لتقاليد والعادات وليس من باب الدين والعبادات

Artinya, “Maka dari itu, kami berpendapat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan rambut, baik jenggot, kumis, dan rambut bagian dari budaya dan adat, bukan agama dan ibadah.

Menurut Kiai Ali, jenggot bukanlah bagian dari agama atau kesunahan, tetapi bagian dari budaya. Berjenggot atau tidak bukanlah standar keislaman. Silakan berjenggot, tapi jangan menganggap orang yang tidak berjenggot sebagai orang yang tidak mengikuti sunah Nabi. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)  via nu online
Kala Seorang Syekh Cemburu pada Tuhannya

Kala Seorang Syekh Cemburu pada Tuhannya


Syekh Abu Utsman Sai’d bin Ismail al-Hirri, seorang ulama sufi asal Naisabur, pernah memergoki seorang pemuda mabuk dalam sebuah perjalanan. Bersama kecapinya, pemuda nakal ini berjalan sempoyongan menyusuri jalanan.
<>
Tahu bahwa Abu Utsman sedang menyaksikan tingkahnya, si pemuda segera merapikan rambut dan menyembunyikan kecapi kesayangannya. Entah karena khawatir akan berurusan dengan pihak berwajib atau sekadar rasa segan.

Abu Utsman segera menghampirinya. Pribadinya yang santun dan rendah hati menghapus segala rasa curiga dan takut pemuda mabuk itu. Abu Utsman menegaskan bahwa di antara mereka berdua adalah saudara.

Singkat cerita, si pemuda pun memutuskan hidup secara baru. Ia menyesali perbuatan masa lalunya dan menapaki jalan kebenaran sebagai murid Syekh Abu Utsman. Tobat si pemuda disambut Abu Utsman dengan memintanya mandi dan memberinya pakaian.

“Ya Allah, aku sudah melaksanakan kewajibanku. Selebihnya adalah urusan-Mu,” Abu Utsman bermunajat.

Abu Utsman betul-betul tak menyangka, sejenak kemudian, muridnya itu mendapat pengalaman mistik luar biasa. Suatu peristiwa rohani yang tak pernah ia alami sebelumnya. Sore harinya ia mengadu ke Syekh Abu Utsman al-Maghribi.

“Wahai Syekh, hatiku tengah terbakar api cemburu. Yang selama hidup kudambakan telah dilimpahkan kepada pemuda yang masih mengeluarkan bau anggur dari dalam perutnya ini. Maka kini aku pun mengerti bahwa manusia mampu berusaha tetapi Tuhan yang menentukan.” (Mahbib Khoiron)  via nu online
Orang Tua Bakal Menagih Doa dari Anak

Orang Tua Bakal Menagih Doa dari Anak




Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Metro, Lampung, KH Fachrudin Hudan mengatakan, sebagai anak yang tahu balas budi sepatutnya selalu mengirimkan doa kepada orang tua. Terlebih jika mereka sudah meninggal dunia.

"Ruh kita nanti ketika meninggal, akan bertemu dengan ruh orang tua kita yang telah mendahului kita. Dan ketika kita tidak mengirimkan doa, maka mereka akan menagih kepada kita tentang kiriman doa kita," katanya di RM Sate Sidodadi yang juga merupakan kediamannya, Sabtu (5/3).

Oleh karena itu, ia mengingatkan dan menekankan pentingnya mengirimkan doa setidak tidaknya dengan bacaan surat Al-Fatihah. "Kirimlah doa baik sendiri maupun dengan mengundang orang lain untuk membantu mendoakan. Minimal Fatihah, bacaan Qur’an, syukur syukur menghajikan mereka apabila belum menunaikan ibadah haji," terangnya.

Kiai Hudan juga berpesan agar selalu mendidik anak di zaman modern seperti ini dengan cara yang baik dan benar. Dengan cara seperti itu generasi penerus bisa selalu memegang teguh aqidah dan amaliyah Ahlussunnah wal-Jamaah yang pada zaman ini sudah semakin kuat dikikis oleh paham paham baru.

"Jangan sampai aqidah dan amaliyah baru sekarang ini meracuni anak kita sehingga membuat mereka anti-mengirim doa kepada orang tua. Hanya doa yang mereka harapkan “di sana”," tegasnya.

Kiai Hudan menambahkan, dalam kehidupan dunia yang sementara ini hendaknya tidak selalu mementingkan kepentingan sendiri. "Hidup ini sementara. Berbekallah untuk akhirat kita. Jangan selalu mementingkan kehidupan dunia dan mementingkan diri sendiri," imbaunya.

Ia juga berpesan agar para orang tua dapat menanamkan kepada para putra putrinya untuk senantiasa menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga dan tidak terlalu memanjakannya. "Kalau mereka kita manjakan dan selalu mencemarkan nama baik diri sendiri dan keluarga maka kita yang akan susah sendiri," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)  via nu online

Ini Tiga Hal yang Disunahkan Saat Pulang Haji

Ini Tiga Hal yang Disunahkan Saat Pulang Haji


Sebentar lagi jemaah haji Indonesia akan pulang ke tanah air. Setelah sekian hari mengerjakan ibadah, tentu mereka berharap agar hajinya diterima Allah SWT. Supaya haji diterima, para jemaah haji diharapkan menjalankan ibadah haji sesuai dengan aturannya dan mewujudkan substansinya dalam laku keseharian. Orang yang dapat melakukan ini disebut haji mabrur.

Sebuah hadits riwayat Ahmad menyebutkan, “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” Sebagai tambahan, Al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA yang pernah mendengar Nabi berkata, “Orang yang beribadah haji dan tidak melakukan perbuatan keji dan fasik, maka ia seperti seorang bayi yang baru lahir.” Itulah keistimewan yang diberikan Allah SWT kepada orang yang beribadah haji dengan baik dan sempurna.

Sesampai di tanah air, kita berharap agar jemaah haji ini tidak berhenti beramal saleh. Hendaklah memperbanyak hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Setidaknya, pada saat tiba di kampung halaman, ada beberapa hal yang dianjurkan untuk mengerjakannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Hasyiyatul Qalyubi wa Umairah:

يندب أن يحج الرجل بأهله وأن يحمل هدية معه وأن يأتي إذا عاد من سفر ولو قصيرة بهدية لأهله، وأن يرسل لهم من يخبرهم بقدومه إن لم يعلموا به وأن لا يطرقهم ليلا، وأن يقصد أقرب مسجد فيصلي فيه ركعتين سنة القدوم، وأن يصنع أهله له وليمة تسمى النقيعة، وأن يتلقوه كغيرهم، وأن يقال له إن كان حاجا أو معتمرا: تقبل الله حجك أو عمرتك وغفر ذنبك وأخلف عليك نفقتك.

Artinya, “Seseorang haji bersama keluarganya dianjurkan dan membawa hadiah saat pulangnya. Apabila pulang dari perjalanan, meskipun perjalanan yang tidak terlalu jauh, ia dianjurkan membawa hadiah untuk keluarganya, dan mengutus orang untuk memberi kabar kepada keluarganya bila mereka belum mengetahui kedatangannya. Sebaiknya, jangan mendatangi mereka (sampai di rumah) pada waktu tengah malam.

Dianjurkan pula mengerjakan shalat sunnah qudum dua raka’at di masjid terdekat. Bagi keluarganya, hendaklah mengadakan walimah, ini dinamakan naqi’ah, untuk menyambutnya. Apabila dia pulang haji, setiap orang dianjurkan menemuinya dan mengatakan, “Semoga Allah menerima haji dan umrahmu, dosamu diampuni, dan Allah SWT mengganti biaya perjalananmu.””

Berdasarkan keterangan ini, ada tiga hal yang dianjurkan pada saat pulang haji. Pertama, jemaah haji dianjurkan untuk membawa oleh-oleh buat keluarga yang ditinggalkannya. Anjuran ini tidak hanya berlaku bagi jema’ah haji, tapi siapapun yang usai melakukan perjalanan disunahkan membawa buah tangan untuk anak, istri, dan saudaranya.

Kedua, pada saat sampai di kampung halaman, jemaah haji disunahkan shalat du’a rakaat di masjid atau mushala terdekat. Kemudian yang terakhir, keluarganya atau masyarakat di lingkungan dianjurkan untuk mengadakan naqi’ah, yaitu perhelatan yang ditujukan untuk menyambut kedatangan orang yang baru tiba dari perjalanan jauh. Biaya pengadaan selamatan ini bisa saja dari pihak keluarga, masyarakat, atau orang yang baru pulang haji.

Setelah selamatan, orang yang menyambut kedatangan jemaah haji dianjurkan menjabat tangan dan mendoakan jamaah haji agar haji dan umrah mereka diterima oleh Allah SWT, dosanya diampuni Allah SWT, dan biaya perjalanan yang dikeluarkannya diganti oleh Allah SWT. Wallahu ‘alam (Hengki Ferdiansyah) via nu online
Wahabi kotori kesucian Makkah dan Madinah

Wahabi kotori kesucian Makkah dan Madinah


Wartaislami.com ~ Dua kota suci bagi umat Islam, Makkah dan Madinah di Arab Saudi, seolah perempuan genit. Bersolek dan terus merias diri.

Makkah dan Madinah kini telah menjelma menjadi metropolitan dengan pelbagai fasilitas modern dan nyaman. Pemerintah Arab Saudi beralasan semua proyek mempercantik Makkah dan Madinah ini demi keamanan dan kenyamanan jamaah.

Namun banyak pihak mengkritik kebijakan semacam itu. Apalagi pembangunan besar-besaran itu mengorbankan begitu banyak situs bersejarah semasa Nabi Muhammad dan sahabatnya masih hidup. Kita telah kehilangan rumah Aminah (ibu Rasulullah), kediaman Khadijah (istri Rasulullah), dan banyak lagi.

Dr. Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Research Foundation, termasuk yang paling keras mengecam kebijakan pemusnahan situs-situs berkaitan dengan Rasulullah itu. Semua dengan alasan buat menghindari syirik atau bidah. “Makkah tidak lagi sakral untuk beribadah,” kata sejarawan Makkah dan Madinah ini kepada merdeka.com dua pekan lalu. Dia mengingatkan umat Islam sudah terlambat menolong Makkah dari kehancuran, tapi belum telat buat mencegah hal itu terjadi di Madinah.

Sayang, dengan alasan keamanan, pengajar teologi Islam dan tasawuf ini menolak mengungkapkan informasi soal pribadi dan keluarganya. “Keamanan saya dan keluarga sangat penting,” ujarnya.

Berikut penjelasan Irfan al-Alawi saat dihubungi Faisal Assegaf melalui telepon selulernya.

Seberapa buruk kebijakan Arab Saudi dalam memodernisasi dua kota suci Makkah dan Madinah?

Bahaya dari memodernisasi terhadap Makkah dan Madinah adalah telah menjadikan dua kota itu seperti Las Vegas. Dalam 50 atau 60 tahun terakhir, kita telah kehilangan hampir 4.500 situs Islam bersejarah semasa hidup Nabi Muhammad, ahlul bait, dan para sahabat.

Dalam perkembangan sekarang, Anda melihat kini sudah berdiri sebuah gedung besar menghadap ke arah Kabah. Bangunan ini berdiri dengan meratakan sejumlah tempat bersejarah, termasuk rumah Abu Bakar sekarang menjadi Hotel Hilton. Dalam perkembangan terbaru, modernisasi di Makkah bakal menggusur rumah kelahiran nabi, diganti dengan perpustakaan dan istana imam Masjid Al-Haram.

Rezim Wahabi juga telah menghilangkan kediaman Khadijah dan diganti dengan toilet dan kamar mandi terbesar di Masjid Al-Haram. Saya juga prihatin ketika proses penggalian di rumah Khadijah sedang berlangsung sebab di sana terdapat ruangan tempat Fathimah dilahirkan dan Malaikat Jibril juga pernah bertamu ke sana.

Perpustakaan kini berdiri di dekat Masjid Al-Haram tadinya di sana terdapat rumah Aminah. Kami memiliki peta soal tempat-tempat bersejarah telah dilenyapkan, namun pemerintah Saudi membantah semua itu.

Saya pikir sangat penting bagi kaum muslim dari seluruh dunia untuk menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Sayangnya, umat Islam kadang lebih emosional terhadap apa menimpa Masjid Al-Aqsa di Yerusalem ketimbang bencana dialami Makkah dan Madinah. Kita mesti lebih mengkhawatirkan apa yang terjadi Makkah dan Madinah di bawah kontrol Bani Saud menyebut mereka sebagai Islam sejati.

Ketika tempat-tempat bersejarah di Makkah dan Madinah hilang, tidak ada yang protes. Ada begitu banyak petisi di Internet menentang rezim Wahabi di Saudi untuk melanjutkan kebijakan mengikis tempat-tempat bersejarah. Kita harus sadar soal apa yang telah terjadi di Makkah dan Madinah sejak 1924 sampai sekarang dan apa yang bakal terjadi di masa depan.

Pelbagai gedung besar dan megah sudah banyak bermunculan di hadapan Kabah. Karena Makkah sudah tidak bisa lagi ditolong, kita masih bisa mencegah agar musibah serupa tidak menimpa Madinah. Apalagi Saudi sudah menyiapkan rencana memodernisasi Madinah seperti di Makkah. Kita harus menghentikan rencana itu sebelum terlambat. Sekarang kita sudah terlambat menolong Makkah, namun kita belum telat mencegah bencana serupa terjadi di Madinah.

Bisa Anda sebutkan tempat paling bersejarah bakal dimusnahkan Saudi dalam proyek modernisasi di Madinah?

Tempat bersejarah paling penting di Madinah bakal dimusnahkan adalah lima masjid: Masjid Fath, Masjid Ali, Masjid Fathimah, Masjid Umar, Masjid Sulaiman Parsi. Rezim Bani Saud sedang membangun masjid sangat besar untuk menggantikan masjid-masjid itu. Masjid Fath tentu saja paling penting karena nabi pernah salat, berdoa, dan bertemu Malaikat Jibril di sana.

Pemerintah Saudi telah melarang jamaah haji dan umrah pergi dan salat di masjid itu. mereka diarahkan salat di masjid baru tengah dibangun di areal sama. Selama bertahun-tahun ada kekhawatiran rezim Wahabi ingin menghancurkan makam nabi, Abu Bakar, dan Umar. Mereka ingin memindahkan jenazah ketiga orang ini ke Baqi karena dianggap bisa menimbulkan syirik.

Di Madinah juga terdapat sebuah gua bersejarah di Gunung Uhud. Gua itu pernah menjadi tempat Rasulullah beristirahat setelah cedera dalam Perang Uhud. Namun pemerintah Saudi telah menutup gua itu dengan beton sehingga jamaah tidak bisa melihat ke sana.

Menurut Anda, pemerintah Saudi telah menyuap negara-negara muslim agar tidak bersuara menentang penghancuran tempat-tempat bersejarah di Makkah dan Madinah?

(tertawa) Tentu saja. Saya pikir OKI (Organisasi Konferensi Islam) telah menjadi boneka Saudi. Mereka melarang negara-negara muslim untuk bersuara menentang Arab Saudi. Saudi juga telah menyuap negara-negara muslim miskin sehingga mereka tidak memprotes dan terus melanjutkan penghancuran tempat-tempat bersejarah di Makkah dan Madinah. Mereka terus menyebarluaskan ideologi Wahabi tanpa henti.

Bisakah kita simpulkan Makkah tidak lagi sakral?

Memang benar Makkah sudah tidak sakral lagi buat beribadah karena sudah terlalu modern. Makkah kini telah menjadi seperti Manhattan dan Las Vegas. Sedangkan di Madinah alhamdulillah karena kondisi di sekeliling Masjid Nabawi belum terlalu modern.

Apakah Anda yakin pemerintah Saudi bakal berani memindahkan makam Nabi Muhammad dari dalam Masjid Nabawi?

12 tahun lalu, Muqbil bin hadi al-Wadii, mahasiswa Universitas Madinah, menulis sebuah tesis soal kubah dibangun di atas makam Nabi Muhammad disponsori oleh Syekh Hammad al-Ansari. Dalam tesis itu, Muqbil bilang makam suci nabi dan kubahnya adalah inovasi besar dan kedua hal itu mesti dihancurkan. Tesis ini memperoleh nilai sangat tinggi.

Muqbil adalah murid dari Muhammad bin Al-Uthaimin, Muhammad Nasiruddin al-Albani, dan mantan mufti agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.

Menurut perkiraan Anda, jika tidak ada tindakan tegas dari umat Islam sedunia, kapan semua tempat bersejarah di Makkah dan Madinah akan lenyap?

Petisi-petisi menuntut agar pemusnahan situs=situs bersejarah di kota suci itu tidak berhasil dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Yang perlu dilakukan kaum muslim adalah melobi menteri dan anggota parlemen mereka. Meski isu ini penting, tapi harus ditangani oleh kalangan ahli paham apa yang terjadi ketimbang warga muslim biasa tidak memiliki petunjuk dan tak kompeten.

Apakah polisi syarian Saudi melakukan diskriminasi antara keluarga kerajaan dengan warga negara biasa?

Polisi syariah (mutawa) tidak berdaya menghadapi kaum elite atau keluarga kerajaan. Namun mereka bertindak tegas terhadap warga muslim biasa dan jamaah. memang ada standar ganda dalam penerapan hukum syariah di Saudi.

Apakah Anda setuju Makkah dan Madinah di bawah otoritas muslim internasional?

Saya percaya dua kota suci itu mestinya dikelola oleh Ahlu Sunnah wal Jamaah seperti Kekhalifahan Usmaniyah berkuasa berabad-abad dengan menghormati tanah suci.

Source: www.merdeka.com
Keliru Mendaulat Imam

Keliru Mendaulat Imam


Suatu ketika, Gus Imam Masyhadi, Nganjuk, Jawa Timur sedang berada di salah satu masjid di daerahnya. Datang serombongan lelaki dari luar daerah. Nada-nadanya mereka sengaja menghampiri masjid itu untuk menunaikan ibadah shalat secara jamaah. Namun mereka terlambat, tidak mendapati jamaah bersama imam dan warga sekitar menjalankan jamaah.

Usai rombongan wudlu dan bersuci sebagaimana mestinya, mereka berkumpul di dalam masjid. Semua rombongan enggan menjadi imam. Gus Imam yang hafal Al-Qur'an dan dosen di salah satu perguruan tinggi, kebetulan sedang berpakaian ala preman. Disamping mereka tak ada yang mengenal, secara lahiriyah, pakaian Gus Imam tidak mencerminkan kekiaian.

Di tengah riuh keributan, datang lelaki dengan berpakaian rapi ala kiai, berbusana muslim dan bersurban. Sebut saja namanya Fulan. Tanpa berpikir panjang, para lelaki itu justru lebih memilih mendaulat Fulan yang sebelumnya belum pernah mereka kenal sama sekali. Pilihan mereka disambut antusias oleh Fulan ini. Bak gayung bersambut, Fulan menjadi imam dengan bacaan lumayan baik, bersuara keras tanpa menimbulkan kecurigaan di benak makmum.

Takbiratul Ihram dimulai, "Allaaaaaahu Akbar", fatihah berlanjut. Hingga Fulan yang jadi imam ini sampai membaca ayat terakhir fatihah, "waladl dloooooolliiiiin". Makmum menyahut serentak, "aaaaamiiiiiiin".

Mendapati makmum bersama-sama membaca amin, sang imam justru kepalanya kemudian menengok ke belakang dengan memutarkan kepala ke arah kanan. Tangan kanan Fulan lalu diangkat tinggi sembari memberi isyarat ibu jarinya yang paling besar.

Matanya melihat barisan makmum, ia berteriak "kooooommmpaaaaaak". Semua jamaah tertawa terpingkal-pingkal tanpa aba-aba. Semua shalat makmum seketika batal. Mereka baru sadar, Fulan yang mereka daulat jadi imam tadi adalah orang yang agak kurang waras. (Ahmad Mundzir)


Sumber : nu online
Kisah Abu Hurairah Kabur saat Ditemui Rasulullah

Kisah Abu Hurairah Kabur saat Ditemui Rasulullah


Nama Abu Hurairah cukup populer di kalangan umat Islam. Sahabat Rasulullah yang bernama asli Abdurrahman bin Shakhr ini termasuk periwayat hadits terbanyak dibanding sahabat-sahabat lainnya.

Bagaimana bisa Abu Hurairah meriwayatkan demikian banyak hadits sementara ia hanya bersama Rasulullah kurang dari empat tahun? Selain kegigihan belajar yang luar biasa, salah satu rahasiannya adalah kesediaan Abu Hurairah membuntuti Nabi kemana pun beliau pergi.

Namun demikian, meski terkenal sangat dekat dengan Rasulullah, Abu Hurairah pernah justru buru-buru lari menghindar, begitu matanya melihat utusan Allah itu hendak menghampirinya. Kenapa?

Pertanyaan itu pula yang barangkali terbesit di benak Nabi. Tapi akhirnya dalam beberapa saat Abu Hurairah menemui beliau.

“Di mana kau tadi Abu Hurairah?” Tanya Nabi.

“Tadi aku dalam kondisi junub hingga membuatku tak enak duduk-duduk bersamamu,” jawab Abu Hurairah. Rupanya sahabat Nabi yang satu ini buru-buru kabur untuk menunaikan mandi jinabat, menghilangkan hadats besar yang ditanggungnya.

Rasulullah segera membalas, “Subhanallah, sesungguhnya orang mukmin (dalam riwayat lain memakai redaksi ‘muslim’) tidak najis.”

Demikianlah adab Abu Hurairah kepada Rasulullah sebagaimana diceritakan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sikap Abu Hurairah ini mencerminkan akhlak dan niat penghormatan yang luar biasa. Ia tak hanya ingin tampil bersih tapi juga suci saat di hadapan Nabi. Padahal, kategori suci atau bebas dari hadats adalah hal yang tak tampak secara kasat mata.

Namun ada yang kurang dari niat baik Abu Hurairah ini. Dengan pernyataan “Orang mukmin tidak najis”, Rasulullah secara tersirat mengingatkan Abu Hurairah bahwa mandi jinabat boleh ditunda. Berhadats tidak sama dengan menanggung najis. Dan, tak sepatutnya ia mempersulit diri dengan buru-buru menghindar lalu mandi, apalagi Rasulullah yang hendak menemuinya sudah terlihat di depan mata. Hal ini adalah bagian dari penjelasan etika menghormati tamu. (Mahbib Khoiron)



Sumber : nu online
Ketika Subhan ZE Bertemu Jenderal Soeharto

Ketika Subhan ZE Bertemu Jenderal Soeharto


Saat ini, nama Subhan ZE sayup-sayup terdengar. Kisah tentang pemuda kelahiran Kepanjen, Malang Jawa Timur, yang besar dan tumbuh di Kudus, tidak banyak dikisahkan dalam ruang publik. Seolah, nama Subhan ZE hanya menjadi penghias dari gerakan politik NU pada masa transisi kekuasaan, dari Soekarno ke Soeharto. Bagaimana kisah-kisah Subhan ZE mewarnai panggung politik negeri ini?

Pada detik-detik menjelang tragedi 1965, Subhan ZE dekat dengan Harry Tjan Silalahi.  Subhan menggerakkan massa di bawah gerbong KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh), yang dikoordinasi bersama Harri Tjan dan beberapa rekan. Harry Tjan merupakan Sekretaris Jenderal Partai Katolik. Baik Subhan ZE maupun Harry Tjan sering bertemu Soeharto, yang pada waktu itu menjadi Pangkostrad/Pangkopkamtib.

Bersama Subhan ZE, Harry Tjan pada suatu kesempatan, menemui Soeharto di Markas Kostrad. Keduanya berdiskusi tentang kemungkinan aksi massa untuk mendukung Gestapu. Menjelang akhir pertemuan, Subhan menyampaikan aksi massa berikutnya dengan mengucapkan kata Insya Allah. Mendengar itu, Soeharto amat terganggu: "Mengapa harus pakai Insya Allah?". Ketika sudah keluar dari ruangan, Subhan yang berasal dari keluarga santri, berkomentar kepada Harry: "Wah, Soeharto ini memang abangan tulen". Kisah ini dilukiskan oleh Salim Haji Said, dalam bukunya 'Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto' (Mizan, 2016).

Kisah Subhan ZE memang unik. Ia berada di garda depan dalam gerakan politik menjelang 1965, akan tetapi tersingkir dari panggung republik ketika Soeharto tampil sebagai presiden. Subhan tidak sejalan dengan visi politik Orde Baru. Dalam dinamika sejarah, NU pernah mengalami masa rumit, terutama pada transisi Orde Lama menuju Orde Baru.

Ketika itu, Subhan ZE menggalang kekuatan untuk menurunkan presiden Soekarno dan membubarkan Partai Komunis Indonesia. Pihak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) mendukung penuh langkah Subhan, yang menggerakkan pemuda dan massa dalam komando KAP-Gestapu. Kalangan militer dan NU menjalin hubungan mesra, karena kepentingan yang sama. Namun, ironisnya hubungan manis antara militer dan NU berubah menjadi ketegangan politik, ketika Subhan ZE justru sering mengkritik Jenderal Soeharto, yang menjadi presiden menggantikan Soekarno.

Figur Subhan ZE sebagai representasi gerakan NU, menjadikan organisasi ini terkena dampaknya. Ketika pemerintah Orde Baru berusaha membatasi ruang gerak politik Subhan, NU juga terkena dampaknya. Betapapun, Subhan ZE berjasa besar dalam menggiring isu strategis serta bermain sebagai figur utama pada masa krusial dalam sejarah negeri ini. Subhan menjadi jaminan dari gerak politik pemuda, pada masa itu. Meski, jika dibaca pada konteks zaman sekarang, langkah Subhan tidak bisa menjadi stempel dari gerakan NU pada masa 1965, terutama sikapnya terhadap gerakan komunis dan PKI. Beberapa kiai NU, juga tidak serta merta mendukung langkah frontal yang dilakukan Subhan.

Karir Subhan ZE di Nahdlatul Ulama, bermula ketika ia memimpin Lembaga Pendidikan Maarif Cabang Semarang, pada 1953. Sejak itu, nama Subhan ZE melesat cepat menjadi bintang gemerlap yang disukai anak-anak muda NU, juga disegani aktifis muda dari organisasi lain. Pada saat Kongres NU di Medan pada 1956, Subhan diangkat menjadi Ketua Departemen Ekonomi PBNU.

Kemudian, pada 1962, ketika NU menyelenggarakan Kongres di Solo, ia menjadi Ketua IV PBNU. Pada rentang waktu itulah, menjadi masa keemasan Subhan ZE di pentas politik dan ormas negeri ini. Subhan ZE menjadi idola baru bagi pemuda-pemuda ketika negeri ini sedang mencari referensi, mencari panutan dalam gerakan kepemudaan.

Kisah-kisah Subhan ZE masih banyak yang tersimpan dalam memori, dalam laci sejarah bangsa ini. Meski telah ada beberapa buku yang mengulas, tapi sejarah hidup dan pemikiran Subhan ZE masih menjadi misteri. Sudah saatnya, ingatan akan Subhan ZE dibongkar, disegarkan kembali sebagai referensi politik pemuda santri masa kini. Tentu, dengan konteks zaman dan arah politik yang berbeda, namun dengan visi dan integritas yang sama: menjaga bangsa, menjaga marwah gerakan kita.***



Sumber : nu online
Tatkala Menganggap Diri Lebih Baik dan Benar

Tatkala Menganggap Diri Lebih Baik dan Benar


Ibrahim bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak sufi ini bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta.<> Bukan hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berseliweran, terdapat bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya. Beberapa saat, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir betapa musykilnya sepasang manusia ini, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.

Tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan sesiapa yang berdekatan, tak pandang bulu. Beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan. Sebagian mereka bisa melepaskan diri dari terjangan ombak. Namun nahas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang. Seketika, lelaki mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlarian menuju ke arah lima orang yang hanyut. Ia berusaha menarik satu-persatu lelaki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang, berdiri mematung di tempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya dan juga tidak bisa berenang.

Sementara si lelaki ini begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukannya kembali ke perempuan yang tadi sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Belum terjawab kebingungan Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja, ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.

“Tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan.”

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, lelaki ini melanjutkan, “Perempuan yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan minuman yang kami minum hanyalah air biasa.” Ia memberikan alasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian sederhana itu mampu menyadarkan sang ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Lelaki yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Jika seorang Ibrahim sang Sufi saja bisa terjebak dalam perangkap itu, bagaimana dengan kita manusia akhir zaman?

Betapa seringnya kita berada di posisi menjustifikasi manusia. Atas sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang teman yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beropini bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tak melihat kita. Di saat seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.

Penyebab retaknya ukhwah dengan sesama salah satunya disebabkan urusan salah persepsi. Lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersu’udzon. Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang terjadi adalah rasa kekecewaan terhadap semua orang. Sementara tanpa disadari hal ini juga membangkitkan rasa ego sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang superior, tanpa cela, dan antikritik. Sampai akhirnya menganggap diri sendiri adalah segalanya. Sang manusia sempurna dan pemilik kebenaran seorang diri, atau kelompoknya semata. Betapa berbahayanya.

Jauh-jauh hari Nabi SAW mengingatkan, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]. Pesan Nabi tidak sekadar nasihat biasa. Beliau mewanti-wanti supaya umatnya selalu menjaga diri. Betapa gelisahnya Nabi jika mengetahui ada diantara umatnya yang saling merendahkan sesama.

Berburuk sangka termasuk laku yang salah, pemantik dosa. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala apapun. Sementara jika ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmaisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia.

Bertemu dengan semua orang seharusnya menjadi cermin untuk diri kita untuk lebih baik lagi. Hal ini diawali dengan rasa saling percaya dan berbaik sangka. Ketika bertemu anak kecil, pikirkan bahwa bisa jadi ia jauh lebih baik dari kita, karena di umurnya yang sedikit, ia masih sedikit dosa dan salah. Ketika bertemu dengan orang tua, pikirkan bahwa ia jauh lebih baik dari kita, karena umurnya yang sudah sepuh, berarti ibadahnya pun jauh lebih banyak dibanding kita. Bertemu orang gila sekalipun ada kesempatan bagi kita berpikir positif, bisa jadi ia lebih baik dan lebih dulu masuk surga dibanding kita. Sebab, orang gila itu tidak dibebani syariat oleh Tuhan yang Maha Adil, sehingga ia tanpa cela. Terlebih ketika bertemu dengan manusia yang cacat fisiknya. Orang buta, tuli, bisu, bisa jadi mereka jauh lebih baik dari kita. Mereka tak pernah menggunakan inderanya untuk meliha, mendengar, dan mengucap dosa. Bukankah mereka lebih selamat di dunia dan akhirat? Lalu masihkah ada kesempatan kita merasa jauh lebih baik, lalu terbersit angkuh dan sombong, dan kemudian merendahkan manusia lainnya, bahkan kemudian menganggap bahwa pemilik kebenaran sempurna adalah sosok diri sendiri seorang? Wajarkah?

Wallahu a’lam bishawab.


Sumber : nu online
close
Banner iklan disini