Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah


Uwais al-Qarni, pemuda saleh asal Yaman, pernah kecewa berat saat jauh-jauh pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah ternyata tak membuahkan hasil. Ketika itu ia hanya bertemua dengan istri beliau, A’isyah radliyallâhu ‘anhâ karena Nabi sedang keluar ke medan pertempuran.

Uwais juga tak mungkin menunggu orang yang sangat dirindukannya itu berlama-lama lantaran di Yaman ia sedang meninggalkan sang ibunda yang renta dan sakit-sakitan. Uwais memang terkenal sebagai pemuda dengan pengabidan kepada orang tua yang luar biasa. Rasulullah sendiri memberi catatan khusus kepadanya dan menyebut Uwais sebagai “penghuni langit”.

Dalam kesempatan lain, pasca-wafatnya Nabi, ia pergi ke Madinah dalam suatu momen ibadah haji. Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali, melalui cerita Abu Sulaiman, dikisahkan bahwa ketika Uwais sampai di pintu masjid Madinah, Uwais merima kabar bahwa di masjid tersebut Nabi dimakamkan. Seketika itu ia pinsan.

Saat siuman, Uwais berujar, “Keluarkan aku dari sini. Aku merasa tidak enak di negeri tempat bersemayamnya Rasulullah.”

Di sini Uwais kembali menunjukkan rasa cinta dan hormatnya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Rasa tidak nyamannya, atau lebih tepatnya perasaan malu, muncul lantaran ia sesungguhnya tidak berkenan menginjak tanah suatu daerah yang di dalamnya terdapat jasad mulia Rasulullah. Uwais memosisikan Nabi yang sudah wafat selayak ketika beliau masih hidup.

Imam al-Ghazali di kitab yang sama lantas menjelaskan tentang adab berziarah ke makan Rasulullah. Al-Ghazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. Rasa ta'dhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau.

Rasulullah, kata Imam al-Ghazali, mengetahui kedatangan para peziarah makamnya dan mendengar shalawat dan salam yang disampaikan kepada beliau. Sebuah hadits riwayat Nasa'i menjelaskan bahwa Allah mengutus malaikat yang bertugas menyampaikan salam kepada Nabi dari umatnya. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
“Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia”

“Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia”


Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berpendapat, seseorang boleh saja meyakini kebenaran akan agamanya sendiri, namun tidak selayaknya ia gemar menghakimi agama orang lain.

Menurutnya, penghakiman atau penilaian terhadap sebuah agama atau keyakinan hanya bisa dilakukan di akhirat, bukan di dunia. Karena itu dalam Al-Qur’an ada istilah “yaumiddîn” yang bagi Kiai Masdar lebih pas diterjemahkan dengan arti “hari agama”, bukan “hari pembalasan”.

“Karena pada waktu itulah agama-agama akan diadili oleh Allah,” tuturnya dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa” di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/10) malam.

Kiai alumni Pesantren Krapyak ini mengatakan, hal tersebut juga selaras dengan kandungan makna kalimat basmalah yang dalam dunia pesantren di Jawa arrahman diberi arti kang moho welas asih ing donyo lan akherat (yang maha welas asih di dunia dan akhirat) dan arrahîm diartikan kang moho welas asih ing akherat beloko (yang maha welas asih di akhirat saja).

Terjemahan itu, kata Kiai Masdar, menunjukkan kecerdasan pesantren dalam memberi makna arrahman dan arrahim yang kerap diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “yang maha pengasih lagi maha pemurah”. Terjemahan yang terakhir ini, menurutnya, membuat perbedaan makna antarkedua asmaul husna itu semakin kabur. Terjemahan ala pesantren membawa konsekuensi bahwa dalam kehidupan di dunia semua orang memiliki kesetaraan dalam menerima rahmat dari Allah, meski diakhirat kelak rahmat sejati orang mukminlah yang akan mendapatkannya.

“Pandangan pesantren tentang kehidupan beragama itu sudah sangat jelas. Keanekaragaman adalah sebuah keniscayaan. Tidak suka menghakimi orang lain,” ujarnya yang dalam kesempatan itu juga mengutip Surat al-Maidah ayat 48 bahwa Allah bisa saja menghendaki umat yang seragam, tapi hal itu tidak dilakukan sebagai ujian bagi manusia.

Indonesia, lanjut Kiai Masdar, memiliki keistimewaan dibanding negara-negara lainnya. Umat Islamnya paling banyak namun keanekaragamannya juga paling banyak. “Hampir seluruh agama besar di Indonesia hidup, belum lagi keyakinan-keyakinan lokal yang jumlahnya bisa ratusan,” katanya.

Dengan kemajemukan yang demikian itu, ia berpendapat bahwa penting bagi umat Islam di Indonesia untuk menjaga diri dari sikap gemar menghakimi keyakinan dan keagamaan lain. Kemudian fokus pada kualitas dan kapasitas diri sendiri.

Malam itu hadir juga Rais Syuriyah PBNU KH Zakky Mubarak, Katib Syuriyah H Nurul Yakin Ishaq, dan hadirin dari berbagai komunitas dan organisasi. (Mahbib)


Sumber : nu.or.id
Ini Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November

Ini Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November


Pesan Moral

Berpecah adalah Musuh Utama Ukhuwah: Jaga Ukhuwah untuk Indonesia yang Aman dan Damai

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur kepada Allah SWT, Indonesia terus berkembang menjadi sebuah negara yang hidup berdasarkan kepada nilai-nilai luhur bangsa dimana masyarakatnya dapat hidup aman-tenteram saling menghormati, dan rukun berdampingan secara harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Hari ini, Indonesia dikenal publik Internasional sebagai negara yang patut dijadikan percontohan dan teladan, terutama dalam menjadikan faktor kebhinnekaan (keanekaragaman) justru sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia telah berhasil meletakkan hubungan agama dengan negara secara ideal.

Agama tidak lagi dipertentangkan dengan negara. Nilai agama melebur dengan budaya lokal yang baik, melahirkan spirit wathoniyah (nasionalisme yang tumbuh subur dengan berkembangnya nilai keagamaan). Sebagaimana yang disampaikan Hadlratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama yakni:

حب الوطن من الإيمان

“Cinta tanah air adalah bagian dari Iman”

Tidak begitu halnya yang terjadi di beberapa negara, terutama di negara-negara Teluk ataupun di negara-negara sekuler.

Hari ini negara-negara teluk seperti Irak, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Yaman dan lainnya, memasuki suatu babakan baru yang disebut sebagai “failed-state”, negara gagal, diakibatkan keliru menerapkan hubungan agama dan negara, sehingga keduanya dipertentangkan satu sama lain yang akibatnya menimbulkan kekacaubalauan.

Ratusan ribu bahkan jutaan manusia menjadi korban atas peperangan yang timbul akibat kesalahpahaman. Sementara di negara-negara sekuler yang hanya mengedepankan rasionalitas tanpa agama justru melahirkan titik balik suatu peradaban yang tidak lagi “memanusiakan manusia”.

Dewasa ini, kita tengah menghadapi suatu diskursus publik yang luas, terutama dalam penyikapan masyarakat atas pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu, yang menimbulkan kontroversi di hampir seluruh kalangan. Bahkan sebagian kalangan mengatasnamakan “Aksi Bela Islam II” akan menggelar aksi besar tanggal 4 November mendatang.

Mencermati eskalasi dan perkembangan keadaan terkini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama ini menegaskan:

1. Mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pererat tali silaturahim antar komponen masyarakat. Berpecah adalah musuh utama dari ukhuwah. Ukhuwah adalah modal utama kita di dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur. Jaga Ukhuwah Wathoniyah(persaudaraan setanah air) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia), agar Indonesia terbebas dari ancaman perpecahan.
واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا

“Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan jangan berpecah-belah (QS: Ali-Imran, 103)”

2. Kepada seluruh pengurus NU dan warga NU untuk secara pro-aktif turut menenangkan situasi, menjaga agar suasana yang aman dan damai tetap terpelihara dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan provokasi dan hasutan. PBNU melarang penggunaan simbol-simbol NU untuk tujuan-tujuan di luar kepentingan sebagaimana menjadi keputusan jamiyyah NU.

3. Mengimbau kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan dan langkah sesuai dengan prosedur hukum dan perundangan yang berlaku, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Upaya ini harus dilakukan guna menghindarkan terjadinya yang cenderung menimbulkan kegaduhan dan anarki.

4. Kepada para pihak yang hendak menyalurkan aspirasi dengan berunjuk rasa, PBNU mengimbau agar tetap menjaga akhlakul karimah dengan tetap menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan lalu lintas dan dapat menjaga keamanan masyarakat demi keutuhan NKRI.

5. Mari tengadahkan tangan mohon petunjuk dan berdoa semoga Indonesia selalu diberi kesejukan dan kedamaian dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan dari Allah SWT.
اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعودالسلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دارالسلام

حسبناالله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصي

Jakarta, 28 Oktober 2016/27 Muharram 1438

وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ

وَالسَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

DR KH Ma’ruf Amin

Rais Aam PBNU



KH Yahya C. Staquf

Katib Aam PBNU

Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

DR HA. Helmy Faishal Zaini

Sekretaris Jenderal PBNU

Source: www.nu.or.id
KH Maimoen Zubair: Islam tak akan Roboh karena Hormati Pemeluk Agama Lain

KH Maimoen Zubair: Islam tak akan Roboh karena Hormati Pemeluk Agama Lain


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimun Zubair menyerukan kepada masyarakat muslim untuk tetap menjaga suasana kondusif hubungan antarpemeluk agama di Indonesia.


“Kita jangan bercekcok dengan agama lain. Agama Islam adalah agama yang sebagian besar dipeluk rakyat Indonesia,” katanya di hadapan ribuan waraga yang memadati lapangan Jladri, Sendangmulyo, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, dalam acara “Sarang Bershalawat”, akhir pekan lalu.


Menurut Mbah Maimun, Islam adalah agama yang kuat dan tak akan roboh karena menghormati pemeluk agama lain.

“Islam itu ibarat pohon kurma, yang kuat dan tidak akan tumbang. Akarnya, kuat tertancap di bumi dan cabangnya ada di langit. Buah kurma juga pemberi buah-buah tanpa memandang musim, baik itu musim kemarau maupun musim hujan,” ungkapnya.

Selain mengajak umat Islam agar tetap berpegang teguh pada Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, ini juga berharap Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menjadi lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya.


Acara “Sarang Bershalawat” dihadiri Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dan Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz. Habib Syech disambut antusias ribuan penggemarnya yang datang dari berbagai kota.
Sumber : www.muslimoderat.net
Inilah Keutamaan Orang Pemberi Maaf

Inilah Keutamaan Orang Pemberi Maaf


Sejarah menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap Islam bukan karena paksaan ataupun perperangan. Kebanyakan orang simpati dan tertarik dengan Islam dikarenakan keelokan laku pendakwahnya. Perihal ini sejak dulu sudah dicontohkan Nabi Muhammad SAW; beliau dikenal sebagai orang yang paling baik akhlak dan perangainya.

Sebab kebaikannya itu, Nabi SAW tidak hanya disegani oleh kawan, tetapi lawan pun pada saat itu menghormati dan menyanjung etika beliau. Tak jarang orang yang membencinya beralih menghormati dan menjadi pengikut setianya. Ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad SAW. Kebencian tidak pernah ia balas dengan amarah dan dendam. Malah beliau menyambut murka orang kafir Quraisy dengan kasih sayang dan penuh maaf.

Aisyah RA pernah ditanya terkait watak pribadi Rasulullah, ia pun menjelaskan:

كان أحسن الناس خلقا، لم يكن فاحشا ولا متفحشا، ولا سخابا في الأسواق، ولا يجزي بالسيئة السيئة، ولكن يعفو ويصفح

Artinya, “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan,” (HR Ibnu Hibban).

Di antara sifat Rasulullah SAW ialah suka memberi maaf. Beliau acapkali memaafkan orang yang membenci dan menyakiti perasaannya. Memaafkan kesalahan orang bukanlah perkara mudah. Pada saat itulah keimanan seorang diuji. Apakah ia akan memperturutkan egonya atau mengalahkan amarahnya dengan memberi maaf. Allah SWT berfirman:

فمن عفا وأصلح فأجره على الله

Artinya, “Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah SWT” (QS: Asy-Syura: 40.

Sementara dalam hadits disebutkan:

وما زاد الله عبد بعفو إلا عزا

Artinya, "Tidaklah Allah SWT menambahkan sesuatu kepada orang yang memaafkan kecuali kemuliaan,” (Al-Muwatta’ karya Imam Malik).

Memberi maaf bukan berati pengecut, sebab Allah SWT memuliakan orang yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan Allah sudah menyiapkan segudang pahala untuk orang tersebut. Pastinya, tidak ada kerugiaan bila kita berbuat baik. Memang pada saat memberi maaf, amarah kita tidak terlampiaskan. Tetapi sesungguhnya pada saat itulah keislaman kita tampak. Andaikan Nabi SAW seorang pemarah dan pendendam, mungkin pemeluk agama Islam tidak sebanyak sekarang ini.

Dengan memberi maaf, paling tidak kita sudah mencoba untuk mengikuti perilaku Nabi SAW. Mengikuti etika dan kesopanan yang beliau ajarkan tentu lebih utama ketimbang mengikuti model pakaian Nabi saja. Saking sopan dan lembutnya Nabi SAW, sahabat Al-Bara bin ‘Azib, seperti dikutip dari Syamailul Muhammadiyah, menggambarkan wajah Rasulullah SAW laiknya bulan, bukan seperti pedang. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)


Sumber : nu.or.id
Gara-gara Burung dan Semut, Rasulullah Tegur Para Sahabat

Gara-gara Burung dan Semut, Rasulullah Tegur Para Sahabat


Dalam sebuah momen perjalanan bersama Rasulullah, para sahabat pernah menyaksikan seekor humarah (semacam burung emprit) bersama dua anaknya. Entah dengan alasan apa, mereka tiba-tiba mengambil kedua anak burung itu. Tentu saja sang induk berontak dan mengepak-ngepakkan sayapnya.

Rasulullah yang saat itu sedang membuang hajat tak tahu apa yang dilakukan para sahabatnya. Ketika kembali, beliau pun seperti terkejut lalu berseru, “Siapa yang mengusik burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung itu kepada induknya!”

Belum lama Nabi berhenti menasihati, beliau melihat lagi peristiwa ganjil: sebuah sarang semut hangus terbakar.

“Siapa yang telah membakar sarang ini?”

“Kami,” aku para sahabat Nabi.

“Sungguh, tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Tuhan pencipta api,” sabda Rasulullah. Demikian cerita yang termaktub dalam hadits riwayat Abu Dawud.

Para sahabat memang bukan orang-orang yang maksum atau terbebas dari dosa. Tapi, dari kekeliruan merekalah Rasulullah memberikan sejumlah pelajaran kepada umatnya. Tingkah para sahabat yang mengganggu induk burung dan anak-anaknya, serta menghanguskan kerajaan semut membuat Rasululah merasa perlu untuk menegur.

Peringatan Rasulullah kepada para sahabatnya adalah bukti betapa Islam sangat menghargai binatang dan kehidupannya. Islam mengizinkan manusia membela diri tatkala diserang binatang yang mengancam keselamatan fisik dan jiwanya. Namun, Islam melarang pemeluknya untuk berbuat semena-mena, baik untuk melampiaskan amarah ataupun keisengan belaka.

Binatang, sebagaimana manusia, adalah makhluk Allah rabbul ‘âlamîn. Bahkan, binatang-binatang dianugerahi kemampuan untuk bertasbih—dengan caranya sendiri. “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Ash-Shaffat: 1). Jika terhadap binatang saja manusia dilarang keras berlaku lalim, apalagi terhadap sesama manusia? (Mahbib)


Sumber: nu.or.id
NU Pecahkan Dua Rekor Dunia MURI di Peringatan Hari Santri 2016

NU Pecahkan Dua Rekor Dunia MURI di Peringatan Hari Santri 2016


Di peringatan Hari Santri Nasional 2016, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berhasil memecahkan 2 rekor dunia MURI untuk pembacaan serentak 1 miliar shalawat Nariyah dan kirab terjauh (2000 km).

Kirab Resolusi Jihad NU menempuh jarak dari Banyuwangi ke Jakarta. PBNU menerjunkan sekitar 150 Tim Kirab Resolusi Jihad yang singgah dari tempat bersejarah satu ke tempat bersejarah lain.

Antusisme masyarakat dalam menyambut Kirab Resolusi Jihad juga cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan berjejernya masyarakat dan santri di sepanjang jalan untuk menyapa Tim Kirab yang diketuai oleh Wasekjen PBNU Isfah Abidal Aziz.

“Kirab menggunakan kendaraan dengan jarak terjauh selama ini di dunia hanya dilakukan oleh NU dengan Kirab Resolusi Jihadnya,” ujar Ketua Umum MURI Jaya Suprana saat menyerahkan piagam Rekor Dunia MURI kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sabtu (22/10) dalam apel akbar dan upacara Hari Santri Nasional di Monas Jakarta.

Demikian juga dengan gerakan pembacaan 1 miliar shalawat nariyah secara serentak yang diinisiasi oleh PBNU. Pembacaan shalawat serentak hanya berlangsung satu malam dengan beberapa jam saja.
Warga NU ramai-ramai mengisi masjid, mushola, majelis taklim, madrasah, pesantren dan kantor-kantor pengurus untuk membaca shalawat nariyah yang bertujuan untuk mendoakan bangsa dan negara Indonesia agar tetap aman, makmur, damai, dan berkeadilan.

Pembacaan shalawat yang diyakini memiliki banyak keberkahan ini juga dilakukan oleh para pengurus PCINU di 24 negara.

“Belum pernah ada muslim di dunia ini yang membaca shalawat hingga 1 miliar secara bersamaan, NU luar biasa sudah melakukannya,” terang Jaya Suprana.

Rekor Dunia MURI ini membuktikan karakter santri dan NU sebagai elemen bangsa yang terus bekerja keras dalam membangun spirit kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik di segala bidang kehidupan. Ikhtiar spiritual seperti pembacaan shalawat nariyah juga tidak semata kepentingan kelompok, tetapi demi menjaga keutuhan dan kemakmuran bangsa. (*)


Sumber : tribunnews.com
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar


Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.

Bantahan dari Ilmu Sharaf Dasar

Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) الذي yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata محمّد.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Pertama, تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ .

Dalam kacamata ilmu sharaf, kata تَنْحَلُّ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْحَلَّ. Bentuk ini mengikuti wazan انْفَعَلَ yang memiliki fungsi/faedah لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (dampak dari فَعَلَ). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

كَسَرْتُ الزُّجَاجَ فَانْكَسَرَ

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (انْكَسَر) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

حَلّ اللهُ  العُقَدَ فَانْحَلَّ

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasan lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan انْفَعَلَ mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ.

Hal ini mengingatkan kita pada doa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

Senada dengan penjelasan di atas, تَنْفَرِجُ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْفَرَجَ, yang juga mengikuti wazan انْفَعَلَ. Faedahnya pun sama لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (dampak dari فَعَلَ).

Ketika dikatakan تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ maka dapat diandaikan bahwa فَرَجَ اللهُ الكُرَبَ فَانْفَرَجَ. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusaha, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ

Kata تُقْضَى adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata الْحَوَائِجُ menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

تَقْضِي اللهُ الْحَوَائِجَ

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”

Keempat, تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)


Sumber : nu.or.id
ULAMAKU, ULAMAMU, DAN ULAMA KITA

ULAMAKU, ULAMAMU, DAN ULAMA KITA


Oleh Sulhan Yusuf

Wartaislami.com ~  Pekan ini, penuh dengan hari-hari yang melelahkan ruang pikir, bahkan memabukkan ranah zikir. Gegaranya, persamuhan di Indonesia Lawers Club (ILC), yang mengusung tema, “Setelah Ahok Minta Maaf”, menyisakan keributan yang menyalak-nyalak, khususnya di media daring. Pangkalnya, tatkala di acara itu, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, yang diwakili oleh K.H.Tengku Zulkarnaen, membacakan putusan fatwa MUI, yang mendakwa Ahok selaku penista al-Qur’an dan penghina ulama, lalu melaporkan ke polisi. Sontak saja, bukan hanya di arena ILC menyulut perdebatan, protes pada institusi MUI tak terelakkan. Berlanjut di media sosial, ada yang meminta MUI dibubarkan saja. Bagi saya, ini sejenis deinstitusi MUI.

Beberapa hari sebelumnya, di Makassar, sekelompok orang yang mengatasnamakan beberapa ormas Islam, mendatangi MUI Sul-Sel. Tujuannya, memaksa ketua MUI, Anregurutta K.H. Sanusi Batjo, Lc. Untuk menandatangani surat pelarangan perayaan Assyura. Permintaan itu bernada intimidasi, setidaknya, menurut kesaksian seseorang yang kemudian membabarkannya di media luring dan daring. Lumrah diketahui, bahwa ketua MUI sul-Sel adalah seorang ulama sepuh, yang amat dihormati, dan tidak sedikit yang mensakralkannya. Tetapi, di mata pengintimidasi, rupanya tidak berlaku sakralitas. Bagi saya, ini serupa desakralisasi MUI.

Ada apa dengan MUI? Soalnya, bila kasus yang menimpa MUI Pusat itu, para pengeritiknya dinilai sebagai orang yang tidak beres keislamannya, sebab telah menohok institusi MUI, yang merupakan perwakilan begitu banyak ulama. Sementara yang melanda MUI Sul-Sel, para penohoknya disemati sebagai kelompok yang merasa paling islami, sebab mereka mewakili umat Islam, yang memburu para penyesat dan penista agama Islam.

Deinstitusi dan desakralisasi MUI, dua-duanya merupakan gejala ketakberdayaan MUI. Untunglah, meski MUI dianggap representasi ulama, tetapi kenyataannya tidaklah benar demikian adanya. Ulama yang berbeda dengan MUI pun tidak sedikit, yang tersebar di seantero negeri. Bukan itu saja, tidak setiap putusan MUI itu mengikat umat Islam secara keseluruhan. Buktinya, tidak semua fatwa MUI diikuti, kadang terselip penolakan. Sebagai misal, penentuan awal puasa dan lebaran, terkadang ada umat tidak bersetuju dengan putusan MUI. Sehingga, di internal umat Islam berlaku, ulamaku belum tentu ulamamu, begitu juga sebaliknya, tetapi ada juga ulamamu adalah juga ulamaku, itulah ulama kita. Dan, MUI pun belum tentu menjadi ulama kita.

Dalam kelelahan pikir dan kemabukan zikir, saya membaringkan diri di ruang baca, sepetak surga yang sering saya dakukan. Tertumbuklah mata saya pada sebuah buku, di antara ribuan buku, yang berjudul Ulama Bugis, karangan Abd. Kadir Ahmad, yang merupakan hasil penelitian desertasi doktoralnya. Saya lalu mendaras buku itu, mencoba mencari tahu, seperti apa sesungguhnya sosok ulama, yang setidaknya diidealkan oleh masyarakat Bugis.

Merujuk pada Kadir Ahmad, diulaskannya bahwa ulama dalam khasanah Bugis disebutgurutta. Panggilan gurutta diberikan kepada seseorang yang ahli dalam agama. Guruttaadalah sebutan umum untuk ulama. Di bawah gurutta terdapat para ustaz, dan di atas peringkat gurutta terdapat anregurutta atau to-panrita. Seorang anregurutta, memiliki kompetensi keagamaan (ilmu), kompetensi sosial (amal) dan kompetensi kepribadian (akhlak). Menyatunya tiga kompetensi itu dalam diri anregurutta, akan menampakkan adanya fenomena kharismatik. Karenanya, kharisma anregurutta akan melahirkan kesakralan terhadapnya.

Kharisma yang dimiliki anregurutta, didentifikasi pula sebagai sosok ulama makaramaqatau memiliki karamah, berupa kelebihan yang dimiliki, di atas jangkauan kemampuan orang kebanyakan. Walau misalnya seorang anregurutta tidak memiliki karamah, namun ada panggilan lain yang dilekatkan padanya, berupa sebutan panrita maniniq, yang dimaksudkan sebagai ulama yang memiliki sikap hati-hati dan konsisten. Dari konteks inilah, biasanya, ulama tersebut menjadi rujukan untuk memperoleh barakkaq (berkah).

Idealisasi ulama di masyarakat Bugis ini, bukan berarti tidak ada sosok historisnya. Tersebutlah semisal Anregurutta K.H. As’ad pendiri pesantren As’adiyah dan Anregurutta K.H. Ambo Dalle pendiri pesantren DDI. Ulama-ulama kharismatik inilah, semasa hidupnya, merupakan para anregurutta yang memandu kehidupan bermasyarakat di tanah Bugis. Lalu, masihkah ada ulama yang semodel ini? Saya tidak bisa memahamkan, bahwa ulama yang mewakili MUI di ILC itu, bisa jadi rujukan. Tapi, saya bisa memastikan bahwa ulama yang diintimidasi di MUI Sul-Sel itu adalah sosok yang dimaksud, karena masyarakat telah menobatkannya sebagai anregurutta, yakni Anregurutta K.H. Sanusi Batjo LC, serona persona ulama kita.



Sumber : metroislam.com
Buya Syafii Maarif: Jangan Memperalat Tuhan untuk Tujuan Pragmatis Politik

Buya Syafii Maarif: Jangan Memperalat Tuhan untuk Tujuan Pragmatis Politik


Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005, Prof Ahmad Syafii Maarif mengingatkan para politisi yang bertarung dalam pesta demokrasi agar tidak mencatut dan ‘memaksa’ Tuhan untuk berpihak pada tujuan politik sesaat. Termasuk tidak mempergunakan ayat-ayat kitab suci untuk saling menjatuhkan dan membela kepentingan politik tertentu.

“Kalau memperalat Tuhan untuk tujuan politik yang kotor itu tidak bisa dibenarkan.  Sepanjang sejarah  demokrasi kita, ayat Quran, Tuhan dibajak oleh politisi-politisi yang tidak mau naik kelas menjadi negarawan. Seperti dipaksa Tuhan berpihak kepadanya,” kata Syafii Maarif saat dimintai tanggapan soal kegaduhan pernyataan Ahok terkait Surat Al Maidah:51 pada acara program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan salah satu TV swasta, bertajuk “Setelah Ahok Minta Maaf” , Selasa (11/10).

Buya Syafii tidak melarang sama sekali para politisi untuk mengutip ayat. Namun hendaknya tidak mempergunakan ayat kitab suci untuk tujuan yang kotor. “Ini (mengutip ayat) mungkin bisa dipahami. Tapi kalau ini hanya untuk sekadar membela kepentingan politik sesaat, ini yang merusak kita. Merusak demokrasi yang sudah kita bangun selama 18 tahun,” tutur Buya Syafii.

Para politisi, kata Buya seharusnya memikirkan nasib rakyat yang masih mengalami kesenjangan di berbagai daerah. Bukan hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya dengan mempergunakan segala macam cara, termasuk menggunakan kitab suci. “Berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat, jangan omong, tapi tindakan,” imbau Syafii Maarif.

Guru bangsa itu mengajak segenap elemen bangsa, khususnya para politisi, untuk lebih peduli pada kepentingan rakyat yang lebih luas dan tujuan jangka panjang. “Suatu tujuan demokrasi yang ideal masih sulit karena kualitas politisi kita masih jauh dari ideal. Tapi paling tidak kalau kita mencintai bangsa ini, terkapar dalam perjalanan, mari kita perbaiki diri. Jangan berbohong,” katanya.

Kebrobrokan politik Indonesia, menurut Buya juga dipengaruhi oleh kualitas dan kapasitas politisi serta banyaknya praktek politik transaksional untuk tujuan-tujuan pragmatis. “Politik uang kita luar biasa. Itu sudah menjadi rahasia umum, semua orang tahu. Imbauan saya tidak cukup. Tapi mari kita dari niat hati yang baik, mengubah diri untuk memperbaiki keadaan,” tukas Buya Syafii.

Dalam kesempatan itu, Buya Syafii meminta semua pihak untuk tidak memperpanjang kegaduhan terkait ucapan Gubernur DKI Jakarta Ahok soal surat Al-Maidah ayat 51 saat berdialog dengan warga Kepulauan Seribu.  “Ahok sudah minta maaf, kalo sudah minta maaf yah diselesaikan saja. Dan saya rasa Ahok bukan orang jahat lah. Diselesaikan dengan baiklah dengan fair tanpa ada kampanye hitam” ucap Buya Syafii Maarif


Sumber : metroislam.com
Ini Cara Kiai Umar Solo Didik Anak-anak Cinta NU

Ini Cara Kiai Umar Solo Didik Anak-anak Cinta NU


Oleh Muhammad Ishom*
Dalam dunia pendidikan, psikologi perkembangan merupakan hal sangat penting untuk mendidik anak-anak. Psikologi perkembangan adalah bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari perilaku individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang mempengaruhinya.

Bagi para pendidik atau guru, psikologi perkembangan membekali mereka petunjuk memilih materi dan metode pembelajran yang sesuai dengan kebutuhan anak anak. Mbah Umar cukup memperhatikan psikologi, khususnya psikologi perkembangan, dalam mendidik anak-anak mencintai NU di Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo dengan metode bermain layang-layang dan jamaah shalat tarawih 20 rakaat  untuk  anak-anak.

Layang-layang NU
Dahulu, sebelum berkembangnya permainan berbasis teknologi informasi sebagaimana marak sekarang ini seperti game online, layang-layang merupakan permainan yang sangat populer di kalangan anak-anak laki-laki.

Sebagai pendidik, Mbah Umar memahami hal ini. Para santri termasuk anak-anak kampung yang masih kanak-kanak diperbolehkan membawa mainan seperti layang-layang karena dunia anak-anak pada dasarnya adalah dunia bermain. Ini juga berlaku bagi adik-adik beliau yang masih anak-anak pada waktu itu seperti Mbah Kiai Nidzom dan Mbah Kiai Jisam. Tentu saja permainan itu hanya boleh dimainkan pada jam-jam atau hari-hari tertentu yang tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengaji mereka yang sudah ditetapkan.

Terbukti dengan memberikan kebebasan bermain, tapi tetap mengontrol kegiatan belajar dan mengaji mereka, para santri yang masih kanak-kanak dapat berkembang sesuai dengan usianya. Mereka bisa kerasan belajar dan tinggal di pondok meski jauh dari kedua orang tua. Mereka dapat meraih prestasi tertentu tanpa mengorbankan perkembangan jiwanya.

Mbah Kiai Nidzom dan Mbah Kiai Jisam meski suka bermain layang-layang, beliau dapat menyelesaikan tahfidz Qur’an pada Mbah Umar di usia anak-anak. Ketika ingin menambah ilmu-ilmu yang lebih luas dengan mondok di pesantren lain, Mbah Umar membolehkan beliau berdua membawa layang-layang dari rumah dan berharap kiai pengasuh di pesantren yang baru tidak melarangnya.

Toleransi Mbah Umar pada layang-layang tidak hanya sampai di situ. Ketika berlangsung masa kampaye Pemilu pada tahun 1971, dimana Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu partai kontestan Pemilu  pada saat itu, Mbah Umar menyediakan sejumlah uang untuk biaya pembuatan layang-layang berukuran besar. Pada waktu itu Mbah Umar nimbali dan memberikan sejumlah uang dengan berpesan supaya digunakan untuk membuat layang-layang besar bergambar NU lengkap dengan bintang sembilannya.

Di bagian bawah layang-layang terdapat ekor panjang yang dapat meliuk-liuk di udara dengan indahnya. Keindahan ini untuk lebih menarik perhatian banyak orang. Untuk menaikkan layang-layang tersebut diperlukan benang besar yang disebut kenur. Lewat kenur  ini sebuah alat yang disebut kupu-kupu karena bentuknya mirip seekor kupu-kupu dapat naik ke atas hingga batas tertentu akibat tekanan angin. Pada saat kupu-kupu membentur batas, saat itulah alat ini melepaskan kertas-kertas kecil bergambar NU hingga tampak bertaburan di udara. Pemandangan di langit menjadi semakin indah. Sorak gembira karena misi menerbangkan kupu-kupu  ke angkasa berhasil mencapai target. Selanjutnya kertas-kertas itu akan jatuh ke tanah dan diharapkan banyak orang memungutnya dan melihat gambar-gambar NU.

Tentu saja, gagasan Mbah Umar tersebut dapat terwujud bukan karena saya dapat mewujudkannya. Waktu itu saya baru duduk di kelas 2 SD.  Saya menghubungi Pak Anwari, salah seorang putra Mbah Rofi’i yang ketika itu sudah agak besar dan duduk di kelas 4 SD. Dengan dibantu beberapa teman yang juga masih kanak-kanak, Pak Anwari dalam waktu tidak terlalu lama dapat mewujudkan apa yang digagas Mbah Umar. Layang-layang tersebut dapat dinaikkan dengan baik ke udara di halaman masjid yang waktu itu di sekitarnya belum ada bangunan bertingkat sebagaimana sekarang.

Bisa jadi lewat layang-layang tersebut Mbah Umar secara pribadi bermaksud mengungkapkan dukungannya pada NU mengingat beliau sendiri adalah seorang PNS yang kemudian memilih pensiun dini. Di bawah tekanan pemerintah Orde Baru para PNS tidak memiliki kebebasan memilih partai tertentu kecuali Golkar. Bisa pula diartikan Mbah Umar bermaksud memberikan pendidikan politik kepada kami-kami yang masih kanak-kanak dengan permainan layang-layang yang kami buat sendiri sebagai media belajar.

Namun terlepas dari persoalan politik, apa sebenarnya yang lebih dimaksudkan Mbah Umar dari layang-layang tersebut kalau bukan menanamkan rasa cinta anak-anak kepada NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia secara dini, sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkreasi mewujudkan sebuah gagasan? Layang-layang besar tersebut tidak mungkin terwujud tanpa ada kerja sama yang baik di antara mereka. Bagaimana mungkin layang-layang itu dapat naik  ke udara dan beraksi dengan gagahnya dengan menyebarkan kertas-kertas kecil bergambar NU  jika tidak melibatkan banyak pihak? Begitulah Mbah Umar mendidik anak-anak mencintai NU dengan kreativitas bermain dan bekerja sama sesuai dengan tingkat perkembangan usia mereka.

Jamaah Tarawih Anak-anak
Sepanjang dekade 1970-an saya banyak berinteraksi dengan Mbah Umar. Selama kurun itu, banyak hal saya alami dan saksikan dari apa yang menjadi pemikian dan sikap Mbah Umar. Beliau tidak memiliki kebijakan untuk menyeragamkan atau menyatukan jamah-jamaah tarawih di pondok dalam satu jamaah besar di masjid. Beliau justru membagi jamaah tarawih menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tingkatan umur. Ada kelompok orang tua atau dewasa, kelompok remaja dan kelompok anak-anak.

Pembagian tersebut berlaku tidak saja untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan sehingga ada kelompok-kelompok jamaah tarawih berdasarkan jender. Ada kelompok jamaah tarawih hufadz putra, dan ada pula hufadz putri. Namun demikian ada satu kelompok jamaah tarawih di masjid yang inklusif yang tidak memandang jender. Kelompok ini berada di masjid dan biasanya diimami oleh Mbah Kiai Daris Ahmad Musthofa dengan target setiap hari dapat menyelesaikan bacaan Al-Qur’an  satu juz lebih secara bil-ghaib. Diharapkan sekitar seminggu sebelum berakhirnya bulan Ramadhan, bacaan Al-Qur’an sudah khatam 30 juz.

Setelah khataman, semua jamaah tarawih termasuk kelompok anak-anak disatukan di masjid karena  bacaan-bacaan surat di Al-Qur’an oleh imam sudah tidak panjang-panjang lagi. Umumnya hanya berkisar surat-surat pendek di Juz 30. Dalam keadaan seperti itu, kelompok anak-anak  dipandang cukup kuat untuk berjamaah shalat tarawih bersama kelompok hufadz maupun kelompok orang tua.

Kebijakan mengelompokkan jamaah-jamaah tarawih di lingkungan pondok berdasarkan tingkatan umur atau minat tertentu menunjukkan  adanya perhatian besar Mbah Umar terhadap psikologi perkembangan. Anak-anak yang masih usia SD dan MTs/SMP dibuatkan jamaah tarawih tersendiri, misalnya di ruang kelas madrasah. Pengurus pondok bertanggung jawab atas pelaksanaan jamaah tarawih ini. Imam shalat tarawih ditunjuk orang khusus dari kalangan pengurus atau kadang-kadang mereka bergiliran.

Keterlibatan pengurus pondok ini penting tidak saja untuk melatih mereka mengelola jamaah dan menyiapkan mereka menjadi pemimpin di masa depan ketika sudah pulang ke kampung halaman masing-masing, tetapi juga untuk memastikan jamaah shalat tarawih terlaksana dengan lebih tertib sebab anak-anak sesuai dengan usia perkembangan mereka seringkali belum bisa tertib sewaktu menjalankan shalat berjamaah. Tidak jarang mereka main sikut-sikutan, sontleng-sontlengan, idak-idakan, mengobrol dengan suara keras,  cekikikan dan bahkan tartawa terbahak-bahak. Dalam keadaan seperti itu, para pengurus pondok diharapkan dapat menertibkannya secara bijaksana.

Sifat dan kebiasaan anak-anak yang masih seperti itu menjadi salah satu alasan untuk membuatkan jamaah tarawih tersendiri bagi mereka. Mereka belum memungkinkan disatukan dengan kelompok orang tua di masjid karena bisa mengganggu kelancaran imam dalam melafalkan ayat-ayat Al-Quran secara bil ghaib. Imam sudah pasti membutuhkan suasana tenang agar dapat berkonsentrasi penuh. Apalagi panjangnya ayat-ayat yang dibacanya memakan waktu lama untuk berdiri pada setiap rakaat. Hal ini juga menjadi alasan kuat untuk tidak menyatukan mereka dengan kelompok orang tua. Bagaimanapun anak-anak belum cukup kuat untuk berdiri khusyu’ selama total waktu kira-kira satu jam lebih di masjid sebagaimana orang tua.

Alasan seperti itu juga menjadi pertimbangan mengapa surat atau ayat yang dibaca di kelompok jamaah anak-anak cenderung pendek-pendek, seperti surat An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Kautsar, dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang imam di kelompok ini  dalam beberapa raka’at hanya membaca satu ayat saja yang terdiri dari beberapa huruf seperti: “kaf-ha-ya-ain-shod”, “ain-sin-qof”, atau “alif-lam-mim”. Dalam keadaan lebih darurat, imam terkadang malahan hanya membaca satu ayat dengan dua atau satu huruf saja, seperti: “ya-sin”, “tho-ha” atau “nun”.  Selesai membaca satu ayat  itu imam kemudian segera ruku’.

Mbah Umar tidak pernah melarang ayat-ayat pendek itu dibaca imam dalam jamaah shalat tarawih kelompok anak-anak. Mbah Umar memahami betul ayat-ayat pendek itu lebih sesuai dan disukai anak-anak dari pada ayat-ayat panjang sebagaimana yang dibaca di kelompok hufadz atau orang tua. Habis Isyak yang merupakan waktu shalat tarawih adalah saat anak-anak mulai kelelahan dan mengantuk. Atau barangkali mereka masih ada tugas belajar berupa PR atau tugas membaca materi pelajaran tertentu.

Intinya adalah shalat jamaah tarawih untuk anak-anak tidak harus lama-lama, bahkan mungkin tidak perlu. Hal yang lebih mendasar bagi anak-anak adalah shalat tarawih itu dilaksanakan dalam 20 rakaat. Jumlah ini tentu lebih sesuai dan bahkan bersifat ideologis bagi segenap warga nahdliyin. Hal inilah yang ditanamkan Mbah Umar kepada  anak-anak di pondok sebagai bagian dari upaya beliau mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam ahlus sunnah wal jama’ah ala nahdliyin di kota Solo yang memang bukan basis NU sebagaimana kota-kota di Jawa Timur.

Kedua  hal sebagaimana telah saya uraikan diatas, yakni permainan layang-layang bergambar NU dan jamaah shalat tarawih 20 rakaat untuk  anak-anak, merupakan fakta-fakta yang membuktikan bahwa Mbah Umar memahami dan menerapkan psikologi perkembangan dengan baik dalam mendidik anak-anak mencintai NU. Beliau memang seorang pendidik yang handal dan bijaksana. Beliau tidak anti terhadap ilmu-ilmu di luar ilmu agama selama ilmu-ilmu itu terbukti memberikan manfaat yang jelas bagi kehidupan individu maupun masyarakat. Alhamdulillah hingga kini NU tetap eksis di Solo di tengah-tengah “gempuran” kelompok-kelompok baru  dengan munculnya Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dan gerakan Islam trans nasional seperti  Wahabi Salafi dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di kota ini.

Mbah K.H. A. Umar Abdul Mannan wafat pada hari Kamis 11 Ramadhan 1400 H/24 Juli 1980 M dalam usia 63 tahun di waktu sahur. Allahummaj’al qabrahu raudhatan min riyadhil jinan. Wala taj’al qabrahu khufratan min khufarin niran. Amin.


Sumber : nu.or.id
Heroisme Santri Lirboyo dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan

Heroisme Santri Lirboyo dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan


Resolusi Jihad  yang menekankan wajibnya perang sabil melawan penjajah kolonial sebagai hasil keputusan dalam konferensi para ulama yang tergabung dalam Jam'iyah NU (kala itu masih bernama Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama, HBNO).

Konferensi tersebut diikuti oleh para konsul khususnya dari Jawa dan Madura yang dipimpin oleh Hadhratussyekh Hasyim Asyari pada 21-22 0ktober 1945 bertempat di kantor HBNO Jalan Bubutan Surabaya.

Spirit pertemuan itu benar-benar menggerakkan dan menyuntikkan semangat semua komponen bangsa ini untuk ikut berjuang memberi andil mempertahankan kemerdekaan bangsa saat Belanda hendak kembali menjajah dengan memboncengi Pasukan Sekutu.

Pertempuran Surabaya yang memuncak pada 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai hari pahlawan merupakan suatu rangkaian peristiwa yang dimulai pada hari kedua tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal AWS. Mallaby saat mendarat untuk pertamakali di Surabaya pada 25 Oktober 1945.  

Sebagai respons dari resolusi jihad di atas, terutama kaum santri dari pelbagai pesantren dari banyak daerah kian tergerak untuk terlibat dalam aksi peperangan membela tanah air. Salah satu pesantren yang tempo itu begitu intens terlibat dan terjun ke medan perang berjuang untuk tanah air menghadapi musuh baik di era penjajahan Belanda maupun Jepang adalah Pesantren Lirboyo Kediri, di samping pesantren lain seperti Tebuireng, Buntet Cirebon, dan lain-lain.

Dengan mengendarai truk dan hanya bersenjata sederhana, Para Santri Lirboyo di bawah komando langsung KH Mahrus Aly berangkat menuju Surabaya menghadapi pasukan Sekutu yang kian hari makin mengganggu stabilitas keamanan dan kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan. Tercatat nama-nama merereka yang dikirim antara lain: Syafi'i Sulaiman, Agus Jamaludin, Masyhari, Ridlwan, Baidhowi, dan Damiri.

Mereka kesumanya berasal dari Kediri. Ada lagi Abu Na'im Mukhtar dari Salatiga, Khudhari dari Nganjuk, Sujairi dari Singapura, Zainudin Blitar, Jawahir Jember, Agus Suyuti Rembang, dan masih banyak lagi santri lainnya. Sebelumnya, KH Mahrus Ali yang mengkoordinir pasukan santri dan laskar Hizbullah tersebut juga salah satu Kiai yang ikut menghadiri dan menyepakati tercetusnya Resolusi Jihad di gedung HBNU Bubutan Surabaya.

Pengiriman pertama ini berjumlah 97 santri. Di surabaya mereka kemudian tergabung dengan Laskar Hizbullah. Selama 8 hari di Surabaya semua santri tersebut menjalankan puasa yang telah diijazahkan oleh Kiai Mahrus. Pada momen perang ini rombongan santri Lirboyo tersebut berhasil merebut sembilan pucuk senjata dari pasukn musuh, dan semuanya dapat kembali dalam keadaan selamat.

Keberhasilan ini tentu tak lepas pula dari restu dan doa KH Abdul Karim dan menantunya KH Marzuki Dahlan yang dari pondok senantiasa memberikan dukungan batin dan spiritual melalui aneka mujahadah yang dipinpin langsung beliau berdua untuk mendoakan bukan hanya bagi santri Lirboyo tapi untuk para pejuang bangsa secara umum.

Sebelum pertempuran Surabaya meletus, tepatnya pasca Bung Karno dan Bung Hatta memplokamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 agustus 1945, Perjuangan para santri Lirboyo telah mulai bergelora.

Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, Mayor Mahfud yang merupakan mantan Sudanco PETA (semacam komandan seksi) di daerah Kediri menyampaikan berita gembira kemerdekaan itu kepada KH Mahrus Aly, dilanjutkan dengan pertemuan para santri di serambi Masjid Pondok Pesantren Lirboyo.

Di sana diumumkan bahwa rakyat Indonesia yang telah sekian abad lamanya dijajah oleh pihak asing, sekarang telah resmi merdeka. Santri Lirboyo dalam kesempatan yang sama itu, sepakat melucuti senjata Jepang di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri (kini Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya) yang letaknya sekitar 1,5 Km dari arah timur Pondok Pesantren Lirboyo.

Pada malam hari dengan peralatan seadanya berangkatlah 440 santri mengadakan pernyerbuan di bawah komando KH. Mahrus Aly, Mayor Mahfudh dan Abdul Rakhim Pratalikrama.

Adalah Syafii Sulaiman yang di kemudian hari menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Santri yang masih berusia 15 tahun itu, diutus oleh Kiai Mahrus untuk menyusup ke markas Dai Nippon guna mempelajari keadaan dan memantau kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa cukup, Syafii segera melapor kepada Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudh.

Invasi para santri itu berhasil. Atas kebijaksanaan Kiai Mahrus, satu truk senjata hasil lucutan Jepang itu dibawa ke Pondok Lirboyo dan setelahnya diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang hingga kini (saat buku disusun, red) masih tersimpan di Markas Brawijaya Kediri.


Sumber : nu.or.id
Ini Kisah Nabi Minta Suaka kepada Raja Nonmuslim

Ini Kisah Nabi Minta Suaka kepada Raja Nonmuslim


Ketika amarah kafir Quraisy tak terbendung lagi, Nabi Muhammad SAW meminta sebagian sahabatnya untuk hijrah ke negeri Habasyah. Ini adalah negeri aman dan damai, meskipun dipimpin oleh Raja nonmuslim. Nabi meminta sahabat hijrah lantaran beliau tidak sanggup melihat siksaan dan ancaman yang dilancarkan orang kafir Mekah. Terlebih lagi, paman beliau Abu Thalib tampaknya tidak mampu menahan kemarahan kaumnya itu.

    Rasul berkata kepada sahabatnya:

لو خرجتم إلى أرض الحبشة، فإن بها ملكا لا يظلم أحد وهي أرض صدق حتى يجعل الله لكم فرجا مما أنتم فيه

"Kalau kalian pergi ke Habasyah, di sana ada seorang raja yang tidak zalim. Habasyah negeri yang tepat, sampai Allah SWT memberikan jalan keluar bagi kalian dari kondisi yang kalian hadapi saat ini.” (Al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir)

Berdasarkan catatan Ibnu Katsir dalam Bidayah wa al-Nihayah, Utsman bin ‘Affan dan istrinya Ruqayyah termasuk orang yang pertama hijrah ke Habasyah. Berikutnya disusul oleh Rombongan Ja’far bin Abu Thalib dan beberapa sahabat lainnya. Sesampai di sana para sahabat merasa nyaman. Tidak ada yang menganggu ketenagan mereka.

Akhirnya kepergian mereka ke Habasyah tercium oleh Kafir Mekah.  Mereka pun mengutus ‘Amr bin ‘Ash dan ‘Umarah bin Walid untuk menemui Raja Najasyi. Mereka membawa hadiah dan meminta Raja Najasyi mengusir kaum muslimin dari negeri tersebut.

Sesampai di Habasyah, kedua orang utusan ini langsung menemui Sang Raja dan bersujud kepadanya. Mereka berucap:

“Sesungguhnya sekelompok orang dari negeri kami menetap di daerahmu. Mereka tidak menyukai kami dan agama kami.”

“Di mana mereka sekarang?"

“Di negeri tuan” Jawab keduanya

“Kalau begitu, bawalah mereka menghadap pada saya” Pinta Raja Najasyi.

Pengawal kerajaan pun mencari para sahabat dan meminta mereka menghadap Sang Raja. Mendengar undangan tersebut, Ja’far bin Abi Thalib berkata kepada para sahabat, “Serahkan kepada saya, biar saya yang menjadi juru bicara kalian.” Sahabat lain pun menyetujuinya.

Setiba di istana, Ja’far mengucapkan salam dan tidak sujud kepada Raja, sebagaimana yang dilakukan utusan kafir Mekah. Orang-orang kerajaan pun, begitu juga dua utusan tadi, berseteru:

“Mengapa kalian tidak sujud.”

“Sesungguhnya Kami tidak sujud kecuali kepada Allah SWT,” Jawab Ja’far mantap.

“Maksudnya?"

“Sesungguhnya Allah mengutus seorang Rasul kepada kami. Rasul tersebut memerintahkan kepada kami untuk tidak sujud melainkan hanya kepada Allah dan memerintahkan kepada kami untuk shalat dan membayar zakat.”

“Wahai Raja, mereka berbeda dengan anda terkait ‘Isa bin Maryam” Ungkap ‘Amr bin ‘Ash.

“Apa yang kalian tahu tentang ‘Isa dan ibunya,” tanya Raja penasaran.

“Baiklah, kami mengatakan sebagaimana dikatakan Allah SWT, ‘Isa adalah manusia (yang diciptakan Allah dengan) kalimat dan ruh dari Allah yang dititipkan kepada Maryam, seorang gadis perawan yang tidak disentuh oleh lelaki manapun”

Mendegar jawaban Ja’far ini, Raja Najasyi mengangkat tangkai kayu dan beseru, “Wahai orang-orang Habasyah! Wahai para pendeta! Demi Allah, mereka tidak menambahkan sedikitpun tentang Nabi ‘Isa walau sepanjang tangkai kayu ini.”

“Selamat untukmu dan orang-orang yang datang bersamamu. Saya bersaksi bahwa dia (Muhammad) adalah utusan Allah. Ia adalah rasul yang dikisahkan dalam Injil dan dikhabarkan oleh Nabi ‘Isa. Tinggallah kalian di sini sampai kapanpun. Andaikan saya bukan seorang raja, saya akan datang menemuinya dan membawa kedua sandalnya,” ucap Raja.

Beliaupun akhirnya, menolak hadiah yang dibawa utusan kafir Quraisy.

Semasa hidupnya, Raja Najasyi belum pernah bertemu Nabi Muhammad SAW. Pada saat beliau meninggal, Nabi memohon ampun untuknya dan meminta kaum muslimin untuk melaksanakan shalat ghaib. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)


Sumber : nu.or.id
Akhirnya Habib Taufiq Assegaf kasih Pencerahan soal Nusron Wahid dan Ahok

Akhirnya Habib Taufiq Assegaf kasih Pencerahan soal Nusron Wahid dan Ahok


WartaIslami.com ~ Habib Taufiq Assegaf akhirnya menanggapi soal kisruh Nusron Wahid dan pernyataan Ahok yang diduga telah melakukan penistaan agama.

Pada awal video, Habib Taufiq menyerukan “Alif lam mim” dan menanyakan arti potongan ayat tersebut kepada hadirin.

Ia pun turut menjelaskan kalau itu merupakan ayat yang menjelaskan bahwa “Allah Maha Mengetahui”.

Selanjutnya, Ia mengutarakan kalau akan repot bila semua ayat hanya dapat ditafsirkan oleh Allah SWT.

Selain itu, Ia turut membahas soal Ahok yang telah meminta maaf kepada seluruh umat Islam dan membiarkan supaya hukum yang melanjutkan.

Berikut lampiran video selengkapnya:




Sumber : okterus.com
Ketika Rasulullah Hadapi Lobi-lobi Politik untuk Kasus Hukum

Ketika Rasulullah Hadapi Lobi-lobi Politik untuk Kasus Hukum


Wartaislami.com ~ Suatu kali masyarakat Quraisy dibuat canggung dengan kasus pencurian oleh seorang perempuan bangsawan dari subklan Bani Makhzum. Mereka gelisah karena dalam kesadaran kolektif penduduk Arab kala itu, bangsawan adalah simbol kehormatan suku. Aib bangsawan adalah aib masyarakat Quraisy secara umum.

Akibat suasana serbabingung dan malu tersebut, mereka pun ragu-ragu ketika hendak melaporkanya kepada Rasulullah. Di dalam hati mereka terbesit keinginan, si bangsawan pencuri mendapatkan dispensasi hukuman.

Hingga akhirnya masyarakat Quraisy meminta bantuan kepada Usamah bin Zaid yang dikenal sangat dekat dan dicintai Rasulullah. Usamah merupakan putra Zaid bin Haritsah, budak yang dimerdekakan Nabi yang kemudian menjadi pelayan setia beliau.

Usamah pun mengantarkan perempuan bangsawan itu menghadap Nabi. Seperti paham dengan gelagat Usamah, dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa wajah Rasulullah saat itu memerah dan berujar, “Kamu mau meminta keringanan hukum Allah?”

Usamah menyesali tindakannya, “Mintakan ampun atas dosaku, wahai Rasulullah!”

Sore harinya, Rasulullah berdiri dan berpidato di depan khalayak, "Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran apabila ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara apabila ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya."

Perempuan bangsawan itu pun akhirnya menerima sanksi potong tangan. Perempuan ini didakwa mencuri karena ia meminjam harta orang lain, lalu mengingkari perbuatannya. Ini adalah bagian dari tindakan korupsi. Siti Aisyah menceritakan, setelah peristiwa hukuman tersebut, si perempuan bangsawan bertobat secara sungguh-sungguh dan menikah.

Rasulullah dalam paparan peristiwa di atas menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang tegas dan adil. Hukum diposisikan setara di hadapan semua orang, entah bangsawah ataupun rakyat biasa. Tidak ada diskriminasi atau pandang bulu dalam memutuskan perkara hukum, meski “lobi-lobi politik” lewat Usamah sempat dilakukan.

Hal ini menjadi renungan bersama bahwa hukum tak semestinya hanya keras saat berhadapan dengan rakyat kecil, tapi lembek kala bersentuhan dengan para ejabat, pengusaha, politisi, ataupun orang-orang terpandang lainnya. Dalam bahasa populer disebut, hukum jangan tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. (Mahbib) via nu.or.id
Gus Mus: Jangan Biarkan Kebencian dan Dendam Merusak Fitrah Muliamu

Gus Mus: Jangan Biarkan Kebencian dan Dendam Merusak Fitrah Muliamu


Wartaislami.com ~ Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan bahwa fitrah manusia sesungguhnya mulia. Tetapi kemuliaan tersebut akan rusak bilamana manusia memelihara kebencian dan dendam.

Hal ini diungkapkan oleh kiai yang akrab dipanggil Gus Mus ini dalam Tweet Jum’atnya di akun twitter pribadinya, Jumat (14/10).

Gus Mus juga menjelaskan bahwa kebencian dan dendam dapat merusuhkan suasana hati. Suasana hati di sini bukan hanya suasana hati sang pembenci dan pendendam, tetapi suasana orang yang dibenci dan didendami yang akhirnya berdampak pada tidak kondusifnya kehidupan sosial-masyarakat.

“Jangan biarkan kebencian dan dendam merusakkan fitrah muliamu dan merusuhkan suasana hatimu,” tulis Gus Mus.

Secara jelas, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah ini menggarisbawahi sifat dasar kemuliaan seseorang yang harus terus dijaga demi mewujudkan suasana hati yang damai, tenang, dan tentram.

Jika suasana hati damai, hal ini akan berdampak pada lingkungan di mana masyarakat tinggal. Secara luas akan terwujud apa yang disebut Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Negeri yang baik dengan Allah Yang Maha Pengampun) sehingga akan terwujud negara yang damai, adil, dan makmur yang diberkahi dan diampuni Allah.

Gus Mus secara rutin memberikan kalam hikmah setiap Jumat datang yang secara konsisten diberi tajuk Tweet Jum’at. Tweet Jum’at Gus Mus ini hanya satu-dua kalimat, namun memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat. Terbukti dengan ribuan respon yang mengalir deras dari tweetnya itu, baik yang me-retweet, like, dan me-replay. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Apakah yang Didapatkan Seseorang Ketika Membaca Ayat Kursi?

Apakah yang Didapatkan Seseorang Ketika Membaca Ayat Kursi?


Wartaislami.com ~ Sejak kecil kita telah dibiasakan oleh orang tua atau guru kita untuk menghafalkan ayat kursi. Ya, ayat ini sudah sangat populer diantara kaum muslimin disetiap generasi.

Ayat ini terletak dalam Surat Al-Baqarah pada ayat ke-255. Disebut ayat kursi karena ada kalimat kursi didalamnya,

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.”

Namun sebab pemberian namanya bukan hanya karena ada kalimat kursi,karena nama ini diberikan langsung oleh Sang Penerima Al-Qur’an, Nabi Muhammad saw. Ya, beliau lah yang memberi nama ayat ini sehingga diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga hari ini.

Ayat ini adalah ayat yang termulia dan teragung menurut Rasulullah saw. Kenapa begitu agung?

Karena tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan Nama-Nama Allah sebanyak ayat kursi. Disebutkan bahwa Nama Allah disebut sebanyak 16 kali dalam ayat ini. Baik Nama secara langsung atau berbentuk Dhomir.

Dan sebelum masuk dalam tafsiran ayat kursi, kita akan mengupas keutamaan dan pahala membaca ayat ini terlebih dahulu. Agar kita dapat lebih bersemangat dan lebih menghayati ketika membaca ayat teragung ini.



Keutamaan Ayat Kursi

1. Rasulullah saw bersabda,

“Aku diberi ayat kursi dari sebuah penyimpanan dibawah Arsy yang tidak pernah diberikan kepada para nabi sebelumku.”



2. Rasulullah saw bersabda,

“Segala sesuatu ada puncaknya dan puncak dari Al-Qur’an adalah ayat kursi.”



3. Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang membaca ayat kursi disetiap selesai solatnya maka yang akan mengambil nyawanya adalah Sang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan (Allah swt). Dan ia bagaikan seorang yang berjuang dijalan Allah bersama para nabi hingga mati syahid.”

Yang dimaksud yang Mengambil nyawanya adalah Allah secara langsung bukan berarti tidak didatangi oleh Malaikat Izrail. Karena Rasulullah saw pun didatangi oleh Izrail. Yang dimaksud oleh hadist ini adalah bahwa Allah Akan Memberi keutamaan yang khusus di akhir hayat seseorang yang rajin membaca ayat kursi setelah solat.



4. Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang membaca ayat kursi satu kali maka Allah akan Menyingkirkan 1000 bencana dari bencana dunia dan 1000 bencana dari bencana akhirat. Yang paling ringan dari bencana dunia adalah kemiskinan dan yang paling ringan dari bencana akhriat adalah adzab kubur.”



5. Imam Ali bin Abi thalib berkata,

“Aku mendengar Nabi kalian bersabda diatas mimbarnya bahwa barangsiapa yang membaca ayat kursi disetiap selesai solatnya maka tidak akan ada yang menghalanginya masuk ke surga kecuali kematian. Dan tidak ada yang mampu konsisten dengannya kecuali orang-orang yang siddiq dan ahli ibadah.

Dan siapa yang membacanya ketika hendak tidur maka Allah akan Menjaganya beserta tetangga serta tetangga dari tetangganya.”

Yang dimaksud tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian adalah bahwa pemisah dirinya dengan surga hanyalah kematian. Ia hanya menunggu kematian datang untuk segera masuk kedalam surga Allah swt. Karena alam kubur dapat menjadi taman dari taman-taman surgawi atau jurang dari jurang-jurang neraka.



6. Rasulullah saw bersabda,

“Tidaklah ayat ini dibaca disebuah rumah kecuali setan pergi dari rumah itu selama 30 hari. Dan tidak ada seorang pun dari penyihir lelaki maupun wanita yang dapat memasukinya selama 40 malam.

Wahai Ali, ajarkanlah ayat ini kepada keturunanmu, keluargamu dan tetangga-tetanggamu. Karena tidak ada satu ayat pun yang turun yang lebih agung dari ayat ini.”

Masih banyak lagi keutamaan dan pahala membaca ayat kursi.

Source: www.khazanahalquran.com
Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Sempat Beda Pendapat soal Model Dakwah

Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Sempat Beda Pendapat soal Model Dakwah


Para tokoh utama penyebar Islam di seluruh Indonesia, Wali Songo dikenal inklusif (terbuka) dalam menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam ke masyarakat Nusantara. Mereka bukan tanpa resisten dalam melakukan misi dakwahnya, karena masyarakat kala itu kental dengan budaya dan tradisi yang telah mengurat dan mengakar.

Budaya yang unik dan tradisi yang telah berjalan turun-temurun menjadi tantangan sekaligus potensi tersendiri dalam misi dakwah para wali sembilan itu. Sebagai tantangan, sebab para wali tidak mungkin memberangus budaya dan tradisi masyarakat begitu saja, sedangkan potensi memungkinkan dakwah para wali memiliki instrumen ampuh dalam menyemayamkan agama Islam melalui budaya.

Salah satu anggota Wali Songo yang akrab dengan tradisi dan budaya dalam menyebarkan Islam adalah Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Bahkan salah satu murid Sunan Bonang ini kerap menciptakan tembang dan karya-karya seni lain untuk menarik minat masyarakat secara tidak langsung untuk mempelajari Islam.

Namun demikian, model dakwah yang digagas oleh Sunan Kalijaga itu tidak serta merta mendapat dukungan dari para wali lain. Suatu ketika, dalam rapat dewan wali untuk membahas strategi dakwah Islam, Sunan Ampel yang kala itu menahkodai Wali Songo sempat tidak setuju menggunakan instrumen tradisi dan budaya masyarakat dalam menyebarkan Islam (Choirul Anam, 2010).

Kekhawatiran ini dipahami betul oleh Sunan Kalijaga, karena Sunan Ampel tidak ingin ajaran Islam tercampur dengan budaya dan tradisi masyarakat. Seketika itu pula Sunan Kalijaga memberikan argumentasinya bahwa Islam tidak akan tercampur dengan budaya dan tradisi, melainkan Islam akan memberikan ruh terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat tersebut.

Artinya, Islam 100 persen tetap pada ajarannya dan masyarakat pun tetap dapat menjalankan tradisinya dengan bingkai nilai-nilai Islam. Inilah yang disebut bahwa Islam tidak akan mencerabut akar tradisi dan budaya masyarakat. Karena jika diandaikan agama adalah sebuah pohon, maka budaya dan tradisi adalah tanahnya. Pohon tidak akan berkembang besar, tinggi, dan berbuah jika tidak ada media tanam.

Melalui akulturasi budaya, masyarakat saat itu juga dapat memahami Islam secara substantif, bukan berdasarkan simbol dan ayat-ayat suci yang hanya dipahami secara tekstual. Kontekstualisasi ajaran Islam yang digagas oleh Sunan Kalijaga dan sunan-sunan lain melalui instrumen budaya akhirnya mendapat respon positif dewan wali sehingga agama Islam terus berkembang dan menjadi agama mayoritas di negeri ini.

Menilik sejarah panjang penuh dengan keindahan tersebut, betapa harus sadarnya masyarakat dan bangsa ini terkait peneguhan identitas diri. Islam yang dibawa oleh Wali Songo tidak mengajarkan kemarahan, tetapi keramahan; tidak memukul, tetapi merangkul; tidak mengejek, tetapi mengajak; tidak eksklusif (tertutup/kaku), tetapi inklusif (terbuka/luwes); dan tidak menggurui, namun menjamui.



Sumber : nu online
Kiai Said: Kok Sepi Bahas UU Minuman Beralkohol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai

Kiai Said: Kok Sepi Bahas UU Minuman Beralkohol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai


Wartaislami.com ~ Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) bertanya sejauh mana proses pembahasan UU tentang minuman beralkohol di DPR. Kang Said memandang UU tentang minuman beralkohol sudah demikian mendesak. Pasalnya banyak korban sudah berjatuhan karena minuman beralkohol ini.

“Pembahasan UU minuman beralkohol sudah sampai di mana? Kok macet? Kalau UU tembakau, kencang dan cepat luar biasa,” kata Kang Said bertanya kepada pengurus harian Fraksi PKB dalam acara peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren di Jakarta, Senin (10/10) siang.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini menyayangkan betapa semangatnya anggota DPR dan sejumlah kalangan dalam membahas UU terkait rokok dan tembakau. Sementara pembahasan UU minuman beralkohol tampak berjalan di tempat dan sepi.

Minuman beralkohol, kata Kang Said, jelas jauh lebih berbahaya dibandingkan rokok. Fakta sudah menunjukkan bahwa banyak meninggal tiba-tiba disebabkan oleh minuman beralkohol itu.

“Belum ada orang mati tiba-tiba karena mengisap tembakau. Tetapi orang lagi minum-minum tiba-tiba mati, ini sudah banyak kejadiannya. Kalau orang merokok lama-lama juga mati, itu pasti. Semua orang juga lama-lama mati,” kata Kang Said memecahkan tawa hadirin.

Tampak pada peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren ini Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua Umum PKB H Muhaimin Iskandar, Ketua FPKB Hj Ida Fauziah, dan sejumlah pengurus lembaga dan banom NU serta anggota DPR dari fraksi PKB.

Ia berpesan agar pembahasan UU terkait minuman beralkohol dipercepat. “Jangan sampai korban berjatuhan lagi,” tandas Kang Said



Sumber : nu online
Ketika Sayyidina Umar Mencium Istrinya saat Berpuasa

Ketika Sayyidina Umar Mencium Istrinya saat Berpuasa


Pada suatu waktu di bulan Ramadhan, Sayyidina Umar bin Khattab tak tahan untuk tidak mencium istrinya. Sesaat Umar ingat bahwa ini bulan Ramadan, maka hebohlah Umar dan bergegas menemui Nabi SAW dan melaporkan kepada Nabi, "Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa".

Rasulullah kalem menanggapi Umar, beliau SAW balik bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?" Umar menjawab, "Seperti itu tidak mengapa." Kemudian Rasulullah bersabda, "Lalu apa masalahnya?" (HR Ahmad)

Saya terpesona membaca riwayat ini. Rasulullah menjawab dengan sekaligus mengajarkan logika. Mencium dianalogikan dengan kumur-kumur. Artinya, tidak sampai meminum air kan? Mencium tidak sama dengan menggauli isteri. Nabi bisa saja menjawab dengan mengatakan, "Tidak apa-apa" secara tegas. Tapi tidak! Kakek Hasan dan Husain ini memilih memberi jawaban dengan logika.

Kelak madzhab Umar yang sering bertumpu pada ra'yu (pertimbangan akal, red) mempengaruhi pandangan para ulama di Kufah (Iraq), termasuk Imam Abu Hanifah. Jadi, menggunakan ra'yu bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan Rasul sendiri yang mengajarkannya.

Kedudukan Umar di sisi Rasul memang istimewa. Dalam riwayat Bukhari-Muslim diceritakan mimpi Rasulullah sebagai berikut: "Ketika tidur, aku bermimpi bahwasanya aku diberi segelas susu. Setelah itu, aku pun langsung meminum sebagian susu tersebut, hingga aku merasakan kesegaran sampai ke ujung kuku. Kemudian aku berikan sisa susu tersebut kepada Umar bin Khattab." Para sahabat bertanya, "Ya Rasul, apa arti mimpi tersebut?" Rasulullah menjawab, "Ilmu".



Sumber : nu online
Habib Lutfi: “Jika Nabi Manusia Biasa, Lalu Kita Ini Apa?”

Habib Lutfi: “Jika Nabi Manusia Biasa, Lalu Kita Ini Apa?”


 Di hadapan ribuan jamaah Nadliyyin di Pekalongan beberapa waktu lalu, Habib Luthfi bin Yahya menekankan pentingnya kecintaan pada Nabi Muhammad dalam meningkatkan keimanan pada Allah. Salah satu tujuan peringatan maulid Nabi, menurut Ketua Umum Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah ini, adalah untuk membangkitkan cinta kita kepada beliau.

“Sekarang ini krisis mahabbah, bukan krisis orang alim,” katanya di hadapan ribuan jamaah yang memadati area acara.

Cinta yang telah tertanam di hati setiap mukmin seharusnya diupayakan tumbuh mekar. Karena mekarnya cinta, menurut Habib Lutfi, akan meningkatkan kekuatan iman seseorang.

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kata ulama kelahiran pekolangan ini mengutip ayat Al-Qur’an (QS Ali Imran: ayat 31)

Ayat di atas, menurut Habib Lutfi, sudah cukup menjadi jawaban mengapa kita seharusnya mencintai Nabi. Orang yang paling mencintai Allah dan dicintai Allah ialah yang diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan ‘fattabiunii’ (ikutilah aku). Tentu manusia pilihan Allah ini bukanlah sebagaimana umumnya manusia biasa. Dia adalah manusia luar biasa.

“Jika Nabi manusia biasa, lalu kita ini apa?” tanya Habib Lutfi kritis, menyindir ucapan sebagian orang yang ingin memposisikan Nabi sebagai manusia biasa yang tak perlu terlalu dicintai.

Sedemikian luar biasanya Nabi sehingga orang-orang yang mengikutinya diberi ‘garansi’. Di sini, kata Habib Lutfi, pentingnya peringatan maulid dan haul yang dilakukan untuk membangkitkan kecintaan pada Nabi. Di depan ribuan jamaah maulid, habib yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya ini kemudian mengupas sejumlah tafsir yang mengungkap mengapa Muhammad bukan manusia biasa.

Allah bukan hanya memuji akhlaknya yang agung dengan ayat ‘Wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim’, yang berarti:
Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung. Tapi Allah dalam Al-Qur’an juga tidak pernah memanggilnya dengan menyebut nama langsung; ‘Ya Muhammad’ atau ‘Ya Ahmad’.

Ayat yang menyatakan ‘saya adalah manusia (basyar) seperti kalian’, juga tidak boleh dilepaskan dengan kelanjutannya yaitu ‘yuhaa ilayya…’ (diwahyukan kepadaku…). Menurut Habib Lutfi, wahyu tidak akan diturunkan kepada manusia biasa kecuali kepada dia yang berkedudukan sebagai rasul, nabi dan maksum.

Tidak ada masalah dengan kata ‘basyar’, sebagaimana batu juga memiliki derajat; krikil, intan dan permata. Semuanya sama-sama dikatakan batu, namun nilai satu truk krikil belum tentu sebanding dengan satu permata.

Selain membedah sejumlah kitab tafsir, Habib Lutfi juga menjalaskan kedudukan Nabi Muhammad dengan ayat yang ditafsirkan ayat lainnya. Dan begitu seterusnya sehingga ayat yang satu memiliki hubungan dengan ayat lainnya. Oleh sebab itu, bagi Habib Lutfi, menafsirkan Al-Qur’an tidaklah mudah.

“Memahami kandungan dan rahasia makna ayat Al-Qur’an memerlukan kejernihan hati dan penyucian jiwa. Orang yang menafsirkan Al Qur’an tergantung (tingkat) kejernihan sanubari dan jernihnya akal seseorang,” ungkap Habib Lutif lantang.

Dalam dunia tasawuf, Habib Lutfi menjelaskan bahwa cinta ialah maqam spritual kedua setelah maqam ridha. Seseorang tidak akan bisa mencapai maqam ridha kecuali dengan mahabbah (cinta). Orang yang telah mencapai maqam cinta, derita seperti sakit sekalipun akan dia terima tanpa mengeluh.

Pria berusia 68 tahun ini lalu berkisah tentang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad perihal sejauhmana seseorang dikategorikan mukmin. Nabi Muhammad lalu menjawab, “Yaitu ketika orang itu telah mencintai Allah.” Berdasarkan ayat sebelumnya jawaban atas pertanyaan sahabat ini meniscayakan kecintaan pada Nabi. Sambil mengutip sebuah hadist, Habib Lutfi kembali menegaskan bahwa kadar keimanan seseorang tergantung pada kecintaan pada nabi.

Source: www.islamindonesia.id
Jangan Takut Syirik

Jangan Takut Syirik


Almarhum Hamid Jabbar terkenal terkenal dengan puisi-puisi relijius, serta istiqomah dengan puisi berisi kritik-kritik sosial. Selain itu, ia terkenal juga sebagai seniman dengan tingkah polah eksentriknya.

Suatu hari, ia pergi ke Baghdad untuk mengikuti festival puisi. Selain Jabbar, ada Taufik Ismail, Gus Mus, Abdul Hadi, Sutardji Calzoum Bachri.

<>Di satu kesempatan, mereka berziarah ke kuburan Syekh Abdul Qodir al-Jilani. Adalah Gus Mus yang mengajak teman-temannya ziarah.

Di kuburan, Gus Mus berdoa sebagaimana lazimnya. Sutardji, Taufik, dan Abdul Hadi, berdiri sambil ngobrol-ngobrol. Tapi Jabbar, keluar tingkah eksentriknya. Jabbar, penyair kelahiran Minang itu menempelkan dadanya ke dinding kuburan. Lalu thowaf beberapa kali.

Taufik yang sama-sama kelahiran Minang kaget dengan tingkah koleganya, dan terus melihat tingkah Jabbar. Jabbar tahu dirinya jadi perhatian Taufik.

“Apa lihat-lihat? Jangan takut aku syirik!” Lontar Jabbar untuk Taufik, sambil terus mengelilingi kuburan. (Hamzah Sahal) via nu online
Menepis Anggapan Syirik Bacaan Shalawat

Menepis Anggapan Syirik Bacaan Shalawat


Oleh Zulfan Syahansyah

--Apa betul Nabi SAW yang mempermudah perkara sulit? Apa benar Muhammad yang menghilangkan kesusahan? Apa betul Beliau yang memenuhi segala kebutuhan? Dan apa karena Nabi juga semua keinginan bisa tercapai?<>

Bukankah semua itu kuasa Allah SWT semata! Hanya Allah yang berkuasa atas apa yang tersebut di atas. Bukan Muhammad. Jadi, kenapa ada bacaan shalawat yang maknanya seperti itu?! Tidakkah itu mengandung unsur syirik?  Demikian kiranya unsur syirik yang mereka maksud dalam redaksi kalimat shalawat.

Sebagai umat nabi Muhammad, sepatutnya kita menjadikan beliau sebagai panutan serta suri tauladan dalam kehidupan ini. Nabi muhammad SAW sangat layak, bahkan mungkin wajib kita cintai. Hal ini setidaknya karena dua hal. Karena kecintaan nabi kepada kita umatnya yang bahkan masih terus beliau dengungkan hingga menjelang ajal. Maka wajar jika kita juga mencintai beliau. Kita sambut kecintaan beliau dengan kecintaan tulus pula. Orang bilang ini adalah cinta bersambut.

Sedangkan alasan lain kenapa kita wajib mencintai nabi adalah karena kecintaan kita kepada beliau merupakan kunci keberhasilan dalam menjalankan hidup, baik di Dunia maupun di Akhirat kelak. Karena dengan kecintaan kita kepada nabi –dengan makna cinta yang positif- secara tidak langsung kita akan bisa mengikuti ajaran atau risalah yang beliau emban. Ajaran atau risalah nabi yang merupakan wahyu ilahi inilah yang selanjutnya menjadi petunjuk bagi kita dalam meniti jalan yang luru, atau shirat al-mustaqim.

Untuk alasan ini, tidak sedikit ulama terdahulu meluapkan kecintaan mereka pada nabi, bahkan dengan desahan nafas mereka. Tidak jarang dalam kesendirian, mereka merasakan kehadiran nabi. Dalam kediaman mereka, tidak jarang bibir spontan melafatkan kalimat pujian akan nabi muhammad. Maka tidak heran dari ulama-ulam seperti ini, tercipta sebuah lantunan shalawat yang maknanya sangat mendalam. Kalimat-kalimat yang tercipta dari luapan kecintaan hati kepada baginda nabi Muhammad SAW. Kalimat-kalimat tersebut lantas kita sebut dengan shalawat. Ada shalawat al-Fatih, Nariyyah dan shalawat-shalawat lainnya.

Iya, shalawat seperti al-Fatih, Nariyyah dan sejenisnya ini lantas menjadi satu simbul bacaan bagi kaum muslim yang berusaha menunjukkan kecintaan mereka kepada nabi. Bacaan shalawat-shalawat tersebut bahkan menjadi semacam "amalan wajib" bagi sebagian aliran thariqah. Ada Qadiriyyah-Naksabandiyyah, ada Tijaniyyah, ada Sadziliyyah dan banyak lagi tariqah lainnya. Para pengikut tariqah tersebut begitu lancar dan fashih melafatkan bacaan shalawat yang menjadi amalan harian mereka.

Hanya saja, dan ini yang mungkin perlu difahami bersama, kalimat-kalimat shalawat tersebut tercipta melalui bahasa hati. Terangkum dengan luapan kecintaan pera ulama yang mengarangnya terhadap rasul. Jadi ia bukan kalimat pujian berbahasa Arab biasa. Untuk bisa memahaminya, perlu menghadirkan hati. Kalimat-kalimat tersebut tidak cukup hanya diterjemahkan dengan bahasa lisan, dengan pemaknaan kata perkatanya semata. Karena jika hal ini terjadi, yang terkesan justru kalimat-kalimat tersebut mengandung unsur syirik.

Karena memaknai kalimat shalawat dengan terjemahan leterleg inilah, para pengamal bacaan shalawat mendapat kritikan tajam dari kelompok muslim yang terang-terangan menolak bacaan-bacaan shalawat tadi. Alasannya itu tadi, para pengkritik ini tidak atau belum bisa memaknai kalimat shalawat dengan hati. Mereka menterjemahkan shalawat dari terjemahan sempit.

Sebagai contoh, berikut sebagian redaksi kalimat shalawat Nariyyah:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به القرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب

"Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam atas nabi Muhammad yang karenanya (nabi Muhammad) terurai segala ikatan, semua kesusahan jadi hilang, segala kebutuhan bisa terpenuhi, semua keinginan bisa tercapai...."

Perhatikan redaksi kalimat yang di-bold. Bagi pengkritik shalawat Nariyyah, makna bacaan tersebut dianggap mengandung unsur syirik. Apa betul nabi yang mempermudah perkara sulit? Apa benar Muhammad yang menghilangkan kesusahan? Apa betul Beliau yang memenuhi segala kebutuhan? Dan apa karena nabi juga semua keinginan bisa tercapai? Bukankah semua itu kuasa Allah semata! Hanya Allah yang berkuasa atas apa yang tersebut di atas. Bukan Muhammad. Jadi, kenapa bacaan shalawat seperti itu?! Demikian kiranya unsur syirik yang mereka maksud, setidaknya sebagaimana terkutip dalam akun facebook yang menamakan akunnya: PECINTA SUNNAH PEMBENCI BID'AH MENITI JEJAK SHALAFUS SHALIH.

Serupa dengan redaksi shalawat Nariyyah, dalam shalawat al-Fatih juga tidak luput dari kecaman kelompok ini. Apa betul Muhammad yang membuka segala hal yang terkunci (الفاتح لما أغلق)?, penutup dari apa yang telah lalu (الخاثم لما سبق)? Penolong kebenaran dengan kebenaran (ناصر الحق بالحق)? Dan apa Muhammad juga yang memberi hidayah/ petunjuk kejalan yang lurus (الهادي إلى صراطك المستقيم)? Bukankah semua itu juga kuasa Allah semata?!

Kalimat-kalimat tersebut, jika diterjemahkan secara kasat mata, sepintas memang nampak unsur syirik. Bahkan penulis pun pernah beranggapan demikian. Tapi setelah sekian lamanya berusaha memahami maknanya, sambil lalu tetap berkeyakinan bahwa tidak mungkin ulama-ulama yang karena kecintaan mereka kepada nabi akan menghasilkan ajaran syirik, penulis lantas menemukan jawaban realistis.

Mula-mula, mari kita cermati satu hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Bagi muslim Sunni (Ahlussunnah waljama'ah), tidak mungkin meragukan keabsahan hadis dari Abu Hurairah. redaksi hadis kurang lebih demikian:

قال رسول الله: إن الله تعالى قال: من عاد لي وليا فقد أذنته بالحرب، وما تقرب عبدي بشيئ أحب إليّ مما افترضته عليه، وما يزال عبدي يتقرب إليّ بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التى يبطش بها، ورجله التى يمشي بها، وإن سألنى لأعطينه، ولئن استعاذني لأعيذنه

"Rasul bersabda: Allah SWT berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)Ku, maka Aku mengizinkannya untuk diperangi. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan tetap saja hamba-Ku (berusaha) lebih mendekati Aku dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan jika sampai Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi pendengarannya, yang bisa digunakan hambaku untuk mendengar; Aku menjadi penglihatannya untuk digunakannya melihat; menjadi tangannya untuk memegang; menjadi kakinya untuk berjalan; dan jika dia meminta, pasti akan Aku beri; dan ketika dia memohon perlindungan, pasti akan Aku lindungi"

Kesimpulan hadis di atas, seorang hamba yang sudah menjadi kekasih Allah, segala urusannya menjadi urusan Allah. Jika pengelihatan seseorang sudah menjadi pengelihatan Allah, adakah sesuatu yang tidak nampak baginya? Jika tangan seseorang telah dianggap "tangan Tuhan", adakah perkara yang tidakk bisa ditanganinya? Adakah keinginan kekasih Allah yang tidak bisa tercapai? Semuanya akan dibantu langsung oleh Allah. Demikian makna hadis di atas.

Sampai disini, mungkin masih tersisa pertanyaan: Apa hubungan antara hadis ini dengan bacaan shalawat tadi? Di mana korelasi kalimat yang bernada syirik dalam shalawat tadi dengan jaminan Allah bagi hambanya yang telah menjadi kekasih (wali) Allah? Bukankah segala kesulitan jadi mudah, kesusahan jadi hilang, kebutuhan terpenuhi, terbuka segala sesuatu yang terkunci, semuanya bisa teratasi jika seorang hamba menjadi kekasih Allah.

Aha, pada titik inilah peran nabi Muhammad nampak. Peran beliau ini bukan bualan para ulama. Bukan ocehan para perawi hadis, tapi justru Allah sendiri yang menampakkan peran rasul untuk jalan menjadi kekasih Allah. Hal ini ditegaskan langsung dalam Al-Qur'an, di surah Ali Imran: 31:

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحييكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

"Katakan (hai Muhammad kepada manusia), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (nabi Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampunkan segala dosa-dosa kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Sampai di sini jelas sudah, bahwa kunci menjadi kekasih Allah yang keistimewaannya telah dijelaskan di atas, adalah dengan cara mengikuti jejak rasul, dan mengamalkan sunnah-sunnahnya. Dan tidaklah mungkin kita bisa mengikuti jalan rasul jika kita tidak mencintai beliau. Artinya, kita bisa menjadi kekasih Allah setelah kita mampu menjadi kekasih rasul. Mustahil bisa langsung menjadi kekasih Allah tanpa menyandang kekasih rasul. Nabi Musa saja yang hanya ingin melihat Allah tidak kuasa, apa lagi kita! Bukankah sepasang kekasih saling bermesraan?! Lantas, jika melihat saja tidak bisa, bagaimana mau bermesraan?!

Maka, ungkapan-ungkapan "mesra" dalam shalawat tadi adalah wujud kemesraan hati para ulama terdahulu kepada rasul. Ujung-ujungnya, sebenarnya mereka juga "bermesraan" dengan Allah. Karenanya, hakekat yang "pembuka segala yang terkunci", "penghilang kesusahan", "pemudah segala hal yang sulit", semua itu hakekatnya kembali kepada Allah. Allah lah yang berkuasa melakukan segala urusan tadi. Tapi, dengan perantaraan kita mencintai Rasulullah. Wallahu A'lam bissawab...

Dengan alasan ini, masihkah kita akan menyalahkan mereka pencipta kalimat-kalimat mesra (shalawat) sebagai pembuat ajaran yang mengandung unsur syirik???



Sumber : nu online
Allahu Akbar, Allah Memenangkan Palestina, Bendera Palestina Berkibar di Kantor PBB

Allahu Akbar, Allah Memenangkan Palestina, Bendera Palestina Berkibar di Kantor PBB


Alhamdulillaah Allah Menangkan Palestina. Bendera Palestina dikibarkan di kantor PBB setelah voting disetujui 115 negara, abstain 45 negara dan menolak 9 negara termasuk Amerika, Israel dan Australia.

Allahu Akbar!!!

Demikian postingan sejarah setahun lalu dari pemilik akun facebook, Nur Efendi di foto yang menunjukkan pengibaran bendera Palestina di markas PBB. Postingan ini menjadi viral dan hingga malam tadi sudah di-share 6.772. Berbagai komentar ucapan syukur dari netizen pun mengalir.
Muhammad Yunus Azis misalnya berkomentar, "Alhamdulillah kebangkitan islam kini kembali. Allahuakbar terima kasih pak Nur infonya"

Kemudian Lia Marliana, alhamdulillaah..smoga menjadi awal yg baik.

Ya, setahun yang lalu, sejarah tercipta bagi Palestina, saat bendera kebangsaannya berkibar di Markas PBB untuk pertama kalinya, Rabu (30/9/2015). Pengibaran bendera ini dilakukan tak lama setelah Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato dalam Majelis Umum PBB, yang menyerukan solusi bagi dua negara, yaitu Palestina dan Israel.

both;"> Mahmoud Abbas bersama Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon memimpin seremoni pengibaran bendera negara Palestina di Rose Garden. Dengan demikian, PBB secara resmi mengakui Palestina sebagai negara pemantau non-anggota yang benderanya berkibar di Markas PBB. Selain Palestina, negara pemantau non-anggota lain yang benderanya dapat dikibarkan di Markas PBB adalah Vatikan.

"Dalam momen bersejarah ini, saya menyerukan kepada rakyat kami di mana pun, kibarkan bendera milik rakyat Palestina tinggi-tinggi karena ini merupakan simbol dari identitas kami," kata Abbas dalam seremoni itu. "Ini merupakan hari yang membanggakan," ucapnya.

Israel dan Amerika Serikat sebelumnya sempat menentang pengibaran bendera Palestina di Markas PBB. Alasannya, pengibaran bendera tidak berdampak langsung terhadap perdamaian. Meski begitu, Ban Ki-moon menyebut pengibaran bendera itu hal penting yang bisa memicu aksi untuk perdamaian.

"Sekarang saatnya untuk menghadirkan kepercayaan bagi rakyat Israel dan Palestina untuk penyelesaian perdamaian, dan pada akhirnya, realisasi dua negara untuk dua rakyat," ucap Sekjen PBB asal Korea Selatan itu.

Momen pengibaran bendera itu juga dirayakan oleh masyarakat Palestina yang berada di kota Ramallah, Tepi Barat, yang menyaksikan melalui televisi. Saat Abbas terlihat memberikan pidato di televisi, masyarakat Palestina pun terdiam untuk mendengarkan pidato Abbas.

Palestina bisa mengibarkan benderanya di Markas PBB setelah proses pemungutan suara dalam Sidang Majelis Umum PBB. (Baca: Bendera Palestina Akan Dikibarkan di Markas Besar PBB)
Proses pemungutan suara itu disetujui 119 suara, dengan Israel dan AS berada di antara delapan negara yang tidak setuju dengan langkah tersebut. Israel menentang keras langkah tersebut dan mendesak negara-negara anggota agar memilih tidak setuju dengan pengibaran bendera Palestina. (Tribun/Dudung)



Sumber : arrahmah.co.id
close
Banner iklan disini