Ini Cara Kiai Umar Solo Didik Anak-anak Cinta NU


Oleh Muhammad Ishom*
Dalam dunia pendidikan, psikologi perkembangan merupakan hal sangat penting untuk mendidik anak-anak. Psikologi perkembangan adalah bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari perilaku individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang mempengaruhinya.

Bagi para pendidik atau guru, psikologi perkembangan membekali mereka petunjuk memilih materi dan metode pembelajran yang sesuai dengan kebutuhan anak anak. Mbah Umar cukup memperhatikan psikologi, khususnya psikologi perkembangan, dalam mendidik anak-anak mencintai NU di Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo dengan metode bermain layang-layang dan jamaah shalat tarawih 20 rakaat  untuk  anak-anak.

Layang-layang NU
Dahulu, sebelum berkembangnya permainan berbasis teknologi informasi sebagaimana marak sekarang ini seperti game online, layang-layang merupakan permainan yang sangat populer di kalangan anak-anak laki-laki.

Sebagai pendidik, Mbah Umar memahami hal ini. Para santri termasuk anak-anak kampung yang masih kanak-kanak diperbolehkan membawa mainan seperti layang-layang karena dunia anak-anak pada dasarnya adalah dunia bermain. Ini juga berlaku bagi adik-adik beliau yang masih anak-anak pada waktu itu seperti Mbah Kiai Nidzom dan Mbah Kiai Jisam. Tentu saja permainan itu hanya boleh dimainkan pada jam-jam atau hari-hari tertentu yang tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengaji mereka yang sudah ditetapkan.

Terbukti dengan memberikan kebebasan bermain, tapi tetap mengontrol kegiatan belajar dan mengaji mereka, para santri yang masih kanak-kanak dapat berkembang sesuai dengan usianya. Mereka bisa kerasan belajar dan tinggal di pondok meski jauh dari kedua orang tua. Mereka dapat meraih prestasi tertentu tanpa mengorbankan perkembangan jiwanya.

Mbah Kiai Nidzom dan Mbah Kiai Jisam meski suka bermain layang-layang, beliau dapat menyelesaikan tahfidz Qur’an pada Mbah Umar di usia anak-anak. Ketika ingin menambah ilmu-ilmu yang lebih luas dengan mondok di pesantren lain, Mbah Umar membolehkan beliau berdua membawa layang-layang dari rumah dan berharap kiai pengasuh di pesantren yang baru tidak melarangnya.

Toleransi Mbah Umar pada layang-layang tidak hanya sampai di situ. Ketika berlangsung masa kampaye Pemilu pada tahun 1971, dimana Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu partai kontestan Pemilu  pada saat itu, Mbah Umar menyediakan sejumlah uang untuk biaya pembuatan layang-layang berukuran besar. Pada waktu itu Mbah Umar nimbali dan memberikan sejumlah uang dengan berpesan supaya digunakan untuk membuat layang-layang besar bergambar NU lengkap dengan bintang sembilannya.

Di bagian bawah layang-layang terdapat ekor panjang yang dapat meliuk-liuk di udara dengan indahnya. Keindahan ini untuk lebih menarik perhatian banyak orang. Untuk menaikkan layang-layang tersebut diperlukan benang besar yang disebut kenur. Lewat kenur  ini sebuah alat yang disebut kupu-kupu karena bentuknya mirip seekor kupu-kupu dapat naik ke atas hingga batas tertentu akibat tekanan angin. Pada saat kupu-kupu membentur batas, saat itulah alat ini melepaskan kertas-kertas kecil bergambar NU hingga tampak bertaburan di udara. Pemandangan di langit menjadi semakin indah. Sorak gembira karena misi menerbangkan kupu-kupu  ke angkasa berhasil mencapai target. Selanjutnya kertas-kertas itu akan jatuh ke tanah dan diharapkan banyak orang memungutnya dan melihat gambar-gambar NU.

Tentu saja, gagasan Mbah Umar tersebut dapat terwujud bukan karena saya dapat mewujudkannya. Waktu itu saya baru duduk di kelas 2 SD.  Saya menghubungi Pak Anwari, salah seorang putra Mbah Rofi’i yang ketika itu sudah agak besar dan duduk di kelas 4 SD. Dengan dibantu beberapa teman yang juga masih kanak-kanak, Pak Anwari dalam waktu tidak terlalu lama dapat mewujudkan apa yang digagas Mbah Umar. Layang-layang tersebut dapat dinaikkan dengan baik ke udara di halaman masjid yang waktu itu di sekitarnya belum ada bangunan bertingkat sebagaimana sekarang.

Bisa jadi lewat layang-layang tersebut Mbah Umar secara pribadi bermaksud mengungkapkan dukungannya pada NU mengingat beliau sendiri adalah seorang PNS yang kemudian memilih pensiun dini. Di bawah tekanan pemerintah Orde Baru para PNS tidak memiliki kebebasan memilih partai tertentu kecuali Golkar. Bisa pula diartikan Mbah Umar bermaksud memberikan pendidikan politik kepada kami-kami yang masih kanak-kanak dengan permainan layang-layang yang kami buat sendiri sebagai media belajar.

Namun terlepas dari persoalan politik, apa sebenarnya yang lebih dimaksudkan Mbah Umar dari layang-layang tersebut kalau bukan menanamkan rasa cinta anak-anak kepada NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia secara dini, sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkreasi mewujudkan sebuah gagasan? Layang-layang besar tersebut tidak mungkin terwujud tanpa ada kerja sama yang baik di antara mereka. Bagaimana mungkin layang-layang itu dapat naik  ke udara dan beraksi dengan gagahnya dengan menyebarkan kertas-kertas kecil bergambar NU  jika tidak melibatkan banyak pihak? Begitulah Mbah Umar mendidik anak-anak mencintai NU dengan kreativitas bermain dan bekerja sama sesuai dengan tingkat perkembangan usia mereka.

Jamaah Tarawih Anak-anak
Sepanjang dekade 1970-an saya banyak berinteraksi dengan Mbah Umar. Selama kurun itu, banyak hal saya alami dan saksikan dari apa yang menjadi pemikian dan sikap Mbah Umar. Beliau tidak memiliki kebijakan untuk menyeragamkan atau menyatukan jamah-jamaah tarawih di pondok dalam satu jamaah besar di masjid. Beliau justru membagi jamaah tarawih menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tingkatan umur. Ada kelompok orang tua atau dewasa, kelompok remaja dan kelompok anak-anak.

Pembagian tersebut berlaku tidak saja untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan sehingga ada kelompok-kelompok jamaah tarawih berdasarkan jender. Ada kelompok jamaah tarawih hufadz putra, dan ada pula hufadz putri. Namun demikian ada satu kelompok jamaah tarawih di masjid yang inklusif yang tidak memandang jender. Kelompok ini berada di masjid dan biasanya diimami oleh Mbah Kiai Daris Ahmad Musthofa dengan target setiap hari dapat menyelesaikan bacaan Al-Qur’an  satu juz lebih secara bil-ghaib. Diharapkan sekitar seminggu sebelum berakhirnya bulan Ramadhan, bacaan Al-Qur’an sudah khatam 30 juz.

Setelah khataman, semua jamaah tarawih termasuk kelompok anak-anak disatukan di masjid karena  bacaan-bacaan surat di Al-Qur’an oleh imam sudah tidak panjang-panjang lagi. Umumnya hanya berkisar surat-surat pendek di Juz 30. Dalam keadaan seperti itu, kelompok anak-anak  dipandang cukup kuat untuk berjamaah shalat tarawih bersama kelompok hufadz maupun kelompok orang tua.

Kebijakan mengelompokkan jamaah-jamaah tarawih di lingkungan pondok berdasarkan tingkatan umur atau minat tertentu menunjukkan  adanya perhatian besar Mbah Umar terhadap psikologi perkembangan. Anak-anak yang masih usia SD dan MTs/SMP dibuatkan jamaah tarawih tersendiri, misalnya di ruang kelas madrasah. Pengurus pondok bertanggung jawab atas pelaksanaan jamaah tarawih ini. Imam shalat tarawih ditunjuk orang khusus dari kalangan pengurus atau kadang-kadang mereka bergiliran.

Keterlibatan pengurus pondok ini penting tidak saja untuk melatih mereka mengelola jamaah dan menyiapkan mereka menjadi pemimpin di masa depan ketika sudah pulang ke kampung halaman masing-masing, tetapi juga untuk memastikan jamaah shalat tarawih terlaksana dengan lebih tertib sebab anak-anak sesuai dengan usia perkembangan mereka seringkali belum bisa tertib sewaktu menjalankan shalat berjamaah. Tidak jarang mereka main sikut-sikutan, sontleng-sontlengan, idak-idakan, mengobrol dengan suara keras,  cekikikan dan bahkan tartawa terbahak-bahak. Dalam keadaan seperti itu, para pengurus pondok diharapkan dapat menertibkannya secara bijaksana.

Sifat dan kebiasaan anak-anak yang masih seperti itu menjadi salah satu alasan untuk membuatkan jamaah tarawih tersendiri bagi mereka. Mereka belum memungkinkan disatukan dengan kelompok orang tua di masjid karena bisa mengganggu kelancaran imam dalam melafalkan ayat-ayat Al-Quran secara bil ghaib. Imam sudah pasti membutuhkan suasana tenang agar dapat berkonsentrasi penuh. Apalagi panjangnya ayat-ayat yang dibacanya memakan waktu lama untuk berdiri pada setiap rakaat. Hal ini juga menjadi alasan kuat untuk tidak menyatukan mereka dengan kelompok orang tua. Bagaimanapun anak-anak belum cukup kuat untuk berdiri khusyu’ selama total waktu kira-kira satu jam lebih di masjid sebagaimana orang tua.

Alasan seperti itu juga menjadi pertimbangan mengapa surat atau ayat yang dibaca di kelompok jamaah anak-anak cenderung pendek-pendek, seperti surat An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Kautsar, dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang imam di kelompok ini  dalam beberapa raka’at hanya membaca satu ayat saja yang terdiri dari beberapa huruf seperti: “kaf-ha-ya-ain-shod”, “ain-sin-qof”, atau “alif-lam-mim”. Dalam keadaan lebih darurat, imam terkadang malahan hanya membaca satu ayat dengan dua atau satu huruf saja, seperti: “ya-sin”, “tho-ha” atau “nun”.  Selesai membaca satu ayat  itu imam kemudian segera ruku’.

Mbah Umar tidak pernah melarang ayat-ayat pendek itu dibaca imam dalam jamaah shalat tarawih kelompok anak-anak. Mbah Umar memahami betul ayat-ayat pendek itu lebih sesuai dan disukai anak-anak dari pada ayat-ayat panjang sebagaimana yang dibaca di kelompok hufadz atau orang tua. Habis Isyak yang merupakan waktu shalat tarawih adalah saat anak-anak mulai kelelahan dan mengantuk. Atau barangkali mereka masih ada tugas belajar berupa PR atau tugas membaca materi pelajaran tertentu.

Intinya adalah shalat jamaah tarawih untuk anak-anak tidak harus lama-lama, bahkan mungkin tidak perlu. Hal yang lebih mendasar bagi anak-anak adalah shalat tarawih itu dilaksanakan dalam 20 rakaat. Jumlah ini tentu lebih sesuai dan bahkan bersifat ideologis bagi segenap warga nahdliyin. Hal inilah yang ditanamkan Mbah Umar kepada  anak-anak di pondok sebagai bagian dari upaya beliau mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam ahlus sunnah wal jama’ah ala nahdliyin di kota Solo yang memang bukan basis NU sebagaimana kota-kota di Jawa Timur.

Kedua  hal sebagaimana telah saya uraikan diatas, yakni permainan layang-layang bergambar NU dan jamaah shalat tarawih 20 rakaat untuk  anak-anak, merupakan fakta-fakta yang membuktikan bahwa Mbah Umar memahami dan menerapkan psikologi perkembangan dengan baik dalam mendidik anak-anak mencintai NU. Beliau memang seorang pendidik yang handal dan bijaksana. Beliau tidak anti terhadap ilmu-ilmu di luar ilmu agama selama ilmu-ilmu itu terbukti memberikan manfaat yang jelas bagi kehidupan individu maupun masyarakat. Alhamdulillah hingga kini NU tetap eksis di Solo di tengah-tengah “gempuran” kelompok-kelompok baru  dengan munculnya Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dan gerakan Islam trans nasional seperti  Wahabi Salafi dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di kota ini.

Mbah K.H. A. Umar Abdul Mannan wafat pada hari Kamis 11 Ramadhan 1400 H/24 Juli 1980 M dalam usia 63 tahun di waktu sahur. Allahummaj’al qabrahu raudhatan min riyadhil jinan. Wala taj’al qabrahu khufratan min khufarin niran. Amin.


Sumber : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Ini Cara Kiai Umar Solo Didik Anak-anak Cinta NU"

Post a Comment

close