Wahai Bangsaku Relakah Negerimu Terpecah-belah?

Wahai Bangsaku Relakah Negerimu Terpecah-belah?


Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menegaskan untuk tidak berbasa-basi mengakui negara Indonesia sebagai tanah air. Ia mengatakan hal itu di lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah pada Rabu (30/11).

“NKRI harga mati, bukan basa-basi,” katanya pada Apel Kebhinekaan yang diikuti oleh aparat keamanan TNI dan Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan masyarakat umum sebagaimana diberitakan Tribun Jateng.

Habib Luthfi kemudian meminta hadirin untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah air dimana pun berada. “Kita hidup di Amerika, Indonesia tanah airku. Kita hidup di Timur Tengah, Indonesia tanah airku, kita hidup di negeri China, Indonesia tanah airku. Kita hidup di mana pun, Indonesia tanah airku,” tegasnya di video yang diunggah di Youtube hari ini oleh akun Syaroni As-Samfuriy.

Kemudian habib asal Pekalongan tersebut mengajak untuk memahami keistimewaan laut. Menurutnya, ketika mendengar laut, yang terpikir adalah air, ikan, dan perahu. “Berapa anak sungai di Indonesia kalau musim kemarau, kalau musim penghujan; berapa juta kubik per detik mengalir ke laut dengan membawa limbah, membawa macam-macam.”

Meski demikian, kata dia, benda-benda yang masuk ke laut tidak mampu mengubah rasa asinnya laut. Itu merupakan kehebatannya. “Ikan yang ada di laut tidak perlu diasini karena dia hidupnya sudah di tempat yang asin. Anehnya masih membutuhkan yang asin. “

Berarti, lanjutnya, ikan itu tetap tawar, tapi bisa bergaul dengan yang asin. Hal itu menandakan kerukunan yang sulit dipisahkan dari laut.

Kemudian ia mengimbau kepada TNI, Polri, anak-anak muda untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Semua kalangan jangan mudah dipecah-belah.

Menurutnya, pecah-belah itu bisa dilakukan dengan tekanan ekonomi. Tapi jika tekanan ekonomi tidak mempan, yang paling berbahaya adalah membenturkan artarumat bergama. “Wahai bangsaku, yang membanggakan, relakah negerimu berpecah-belah?”

Menurut Tribun Jateng, pada apel tersebut, hadir Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Kajati Jateng, Rektor Universitas Diponegoro Semarang, serta musisi Iwan Fals. (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Menghujat dan Mencaci-maki Ulama

Menghujat dan Mencaci-maki Ulama


Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Dewasa ini di media sosial banyak lahir penghujat dan penista baru. Dan yang mereka hujat bukanlah orang sembarangan, melainkan orang-orang yang berpengaruh, seperti ulama dan presiden. Sebagai contoh, Kiai Said Aqil Siroj dihujat dengan tuduhan fatwa-nya karena duit, Prof Quraish Shihab dituduh Syiah dan Gus Mus dihina dengan umpatan yang, tak tega saya menulisnya di sini. Belum lagi, orasi Ahmad Dhani yang menghujat presiden, pemimpin 255 juta rakyat Indonesia, dengan umpatan yang sungguh mengerikan.

Tak hanya itu, KH Maemoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, ulama sepuh yang dikenal 'alim, dihormati jutaan umat dan dijuluki "kitab kuning berjalan," pun tak luput dari sasaran umpatan. Padahal, banyak kiai yang menyebut bahwa Mbah Moen adalah "paku bumi" Nusantara hari ini. Tak hanya dalam negeri, ulama-ulama luar negeri pun mengakui. Beliaulah yang "menjaga" keberlangsungan ajaran Rasulullah, ditengah ulama-ulama 'alim yang sudah menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi.

Umpatan, celaan, hinaan dan nistaan itu sesungguhnya adalah bentuk ketidakmampuan memahami apa itu yang disebut kritikan dan apa itu hujatan. Kritikan, adalah koreksi atas perilaku, tindakan atau kebijakan seseorang dengan argumen yang ilmiah dan logis, dengan bahasa yang santun, konstruktif dan proporsional. Hal ini beda dengan umpatan, celaan, hinaan dan nistaan, yang menilai sesuatu atas dasar kebencian, kata-kata kasar dan tidak dengan argumen logis dan ilmiah. Umpatan dan sejenisnya itu merupakan ketidakmampuan seseorang melawan dengan terhormat, kecuali dalam keadaan yang genting dan menyakitkan menghadapi musuh, semisal dalam perang dan penindasan.

Kebebasan di alam demokrasi, selain membawa kita masyarakat Indonesia menuju kebebasan berpikir, bukan berarti tanpa ancaman. Kebebasan itu disalahpahami dengan hak untuk melakukan apa saja: bicara, menulis dan bertindak semau-maunya. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, kebebasan adalah kemampuan untuk memahami batasan. Seperti halnya mutiara kata Arab, yang sering disampaikan guru saya KH Achmad Chalwani: hurriyatul mar'i mahduudun bi hurriyati ghairih; kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Seiring dengan cepatnya arus informasi karena globalisasi, hampir tak ada sekat dan jarak di muka bumi ini. Semua orang dapat mengungkapkan apa saja di internet, khususnya media sosial. Hal ini bak pisau bermata dua: mengandung kemanfaatan disatu sisi, juga kemafsadatan di sisi lain. Informasi positif, konstruktif dan mencerahkan bisa menyebar dengan cepat. Namun demikian, hal-hal negatif, dari pornografi, fitnah, agitasi, propaganda, hasutan dan hujatan, tak bisa dibendung. Inilah sebuah zaman, yang meminjam istilah novelis Okky Madasari, membuat iri generasi sebelum kita. Meski demikian, hemat saya, bisa juga hal ini dimaknai sebuah kemuduran, yang membuat generasi dahulu menangis pedih melihatnya.

Seiring meningkatnya ilmu pengetahuan, dengan demokrasi yang kebablasan, orang kini tak lagi bisa membedakan mana roti mana kotoran. Semua manusia dianggap sama. Slogan dan terapan one man one fote dalam demokrasi kita, di satu sisi menegakkan hak setiap orang, namun di sisi lain menyamaratakan "kualitas" seseorang. Padahal tetap saja ada perbedaannya. Nabi Muhammad memang manusia seperti halnya kita, tetapi ia juga bukan manusia biasa. Ibarat ia adalah batu intan permata, dan kita batu kali biasa. Dan ulama adalah pewaris para nabi, yaitu ulama yang benar-benar mengikuti akhlak nabi.

Media adalah legitimasi yang ampuh di jaman demokrasi liberal. Siapa pun yang tampil di televisi dan bisa sedikit dalil atau motivasi, langsung dipanggil ulama atau minimal ustadz dan ustadzah. Untuk dianggap ustadz di media, mesti menjadi preman dulu, mesti non-muslim yang belakangan masuk Islam, baru kemudian publik memiliki ketakjuban dan perhatian. Sedangkan kiai-kiai dan ribuan orang alim yang lahir dari pergulatan kitab-kitab bertahun-tahun, dan lahir dari rahim masyarakat, karena tidak dilegitimasi televisi misalnya, tidak diakui sebagai ulama. Di media, kebenaran dianggap ucapan siapa pun yang sesuai dengan yang mereka suka. Bahkan, umpatan dan celaan bisa datang dari seorang anak ingusan kepada para pemimpin negeri dan ulama.

Di tengah kebenaran yang serba kabur ini, kita perlu kembali berpegang kepada akhlak nabi, yang sebagian tercermin pada akhlak para ulama – yang benar-benar ulama – meski ia jarang tampil di media. Kita perlu mengingat kembali, visi nabi diutus ke dunia: menyempurnakan akhlak manusia (liutammima makaarimal akhlak). Jika kita belum bisa jadi orang alim, minimal kita cinta dengan orang alim. Jika kita belum bisa menjadi orang yang shaleh, minimal kita cinta dengan orang shaleh. Jika kita belum mampu menjadi orang berakhlak, minimal kita cinta dengan orang yang berakhlak. Bukan justru menghujatnya, menghinanya, mencacinya, dengan kata-kata kasar yang melukai umatnya.

Kita boleh tak sepakat dengan siapapun, kepada tokoh, ulama, nabi, bahkan Allah pun boleh untuk tidak disepakati, dengan membebaskan manusia memilih agama sesuai kehendaknya. Namun ketidaksepakatan itu bukan berarti boleh untuk tidak menghormatinya, apalagi mencelanya. Semua manusia harus dihormati sebagai manusiannya, dan boleh tidak disukai perilakunya. Mengkritik seseorang, tokoh, ulama, perlu dengan argumen yang logis serta dengan santun agar tidak dosa, yaitu ketika melukai hatinya. Jika asal misuh, mengumpat, mencerca, itu bukan kritikan tetapi penghinaan. Padahal, Allah SWT, Sang Pencipta sendiri berfirman: Walaqad karramna baani Aadam; sungguh kami (Allah) memulyakan anak keturunan Adam (QS. Al-Isra:70). Jika Sang Penciptanya saja menghormati manusia – ciptaan-Nya – waraskah kita jika saling mencela sesama manusia?

Sumber: nu.or.id
Pria Ini Bersyahadat Karena Lihat Keramahan Seorang Tua Muslim

Pria Ini Bersyahadat Karena Lihat Keramahan Seorang Tua Muslim


Kepala Perpustakaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Syatiri menuntun seorang pria asal Manado membaca dua kalimat syahadat di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (11/16) siang. Menurut H Syatiri, pria ini ingin menemukan ketenangan dalam agama Islam.

Sehari-harinya pria ini menjalani kehidupan di jalan bersama anak-anak jalanan.

“Ia masuk Islam atas kesadaran sendiri. Berdasarkan perjalanan spiritualnya ia berjumpa dengan orang tua. Ia sangat kagum dengan akhlak orang tua  yang dijumpainya sehingga membuatnya nyaman dan tenang,” kata H Syatiri.

Sebelumnya pria ini merasa gelisah dan ingin menemukan ketenangan. Ketika bertemu dengan orang tua beragama Islam yang tidak dikenal namanya, ia mendapatkan ketenangan. Orang tua tersebut, lanjutnya, berpakaian putih, mengenakan sorban, dan bertutur lembut. Perilaku dan cara bicara orang tua itu menyentuh hatinya.

“Setelah masuk Islam, ia berharap mendapatkan gemblengan atau pengajaran Islam secara berkelanjutan. Ke depan, Ia ingin mendalami Islam dan mengamalkannya dengan baik,” sambung H Syatiri.

Ke depan ia akan dibina oleh pengurus Lembaga Takmir Masjid PBNU.

“Saya serahkan ke LTM PBNU yang mudah-mudahan akan memfasilitasi keinginannya. Bisa masuk pesantren,” pungkasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Sumber :nu.or.id
Ini Pesan KH Maimoen Zubair saat Disowani Banser

Ini Pesan KH Maimoen Zubair saat Disowani Banser


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair menuturkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan. Ia mengatakan bahwa Indonesia walaupun di dalamnya ada perbedaan agama, prinsip bhinneka tunggal ika harus tetap dijaga.

"Mari kita jaga bersama keadaan dan keutuhan Indonesia. Mari kita buat Indonesia ini menjadi lebih baik. Mari kita minta kepada Allah, agar Indonesia dikuatkan," ajaknya di hadapan puluhan kader Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Rembang saat sowan di kediamannya, Ahad (27/11) sore.

Ia mengatakan bahwa keberislaman di Indonesia sekarang sudah cukup ramai. Dulu, kisanya, ketika ia masih kecil, orang sembahyang hanya sepuluh persen. Baca syahadat hanya ketika akan kawin. Tapi sekarang anak kecil sudah bisa baca syahadat.

"Ini suatu hal yang harus disyukuri Indonesia," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersebut.

Mbah Moen, sapaan akrabnya menambahkan, bahwa Nabi diutus untuk mengurusi keseluruhan, bukan hanya terfokus pada suatu perkara saja.

"Indonesia ini di dalam perbedaan agama itu harus tetap bhinneka tunggal ika. Tidak hanya negara Islam, karena negara Islam sekarang sudah tidak ada. Khalifah itu sudah habis, yakni khalifah yang pertama Khulafaur Rasyidin, kedua Muawwiyah, Abbasiyah dan terakhir Khulafa' Usmaniyyah," tutur kiai kharismatik tersebut.

Ia berpesan kepada rakyat Indonesia agar tetap menjaga kondisi bangsa. Menjaga dari kesemrawutan bangsa. "Islam itu rahmatan lil 'alamin. Islam itu harus ada ulama, apalagi bangsa. NU juga harus bisa mengaji kitab, baca Qur’an, tahu artinya," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?

Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?


Salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang III KH Abdul Ghofur Maimoen menyesalkan hujatan murtad terhadap Banser dalam menjaga gereja, padahal fikih Islam, penghormatan terhadap warga nonmuslim sudah selesai.

"Siapa yang berani mengatakan Sayyidina Umar murtad?" ujar pria karib dipanggil Gus Ghofur itu, di Batam Kepulauan Riau, Ahad (27/11).

Doktor Ushuluddin  Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir itu menegaskan, Sayyidina Umar ketika memimpin kekhalifahan tidak membakar gereja karena dalam fiqih Islam, umat Islam juga menjaga warga negara yang nonmuslim.

"Sayyidina Umar bin Khotob tidak merusak tempat ibadah nonmuslim. Siapa yang berani mengatakan beliau murtad. Kalau ada Banser menjaga gereja itu mengikuti fikih Islam dan juga Sayyidina Umar," kata dia pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Gus Ghofur menambahkan, di media sosial (medsos) banyak yang mencibir  Ansor dan Banser. Bahkan ada yang menghujat ketika Banser Riyanto yang menjaga gereja mati karena bom, bukan bersimpati.

"Saya salah satu pimpinan Banser. Kalau ada apa-apa dengan Banser, saya ikut bertanggung jawab. Apa yang dilakukan Banser dalam kerangka menjaga NKRI. Kalau kita bangga dengan Indonesia, itu tidak menjadi soal karena nabi-nabi juga melakukan itu. Anak turun Nabi Ibrahim melahirkan bangsa-bangsa besar, dan mereka bangga dengan bangsanya," ujarnya didamping Ketua Bidang Kaderisasi PP GP Ansor Ruchman Basori.

Islam, demikian Gus Ghofur lagi, disampaikan melalui Nabi Muhammad karena nabi memang hebat dan tahu rumusan masalah.

"Banser tidak akan lagi menjaga gereja jika ada jaminan kelompok radikal tidak lagi meneror gereja. Tapi sebaliknya, kalau teror terhadap gereja masih ada, maka Banser akan tetap menjaga gereja karena dalam fikih Islam itu sudah clear," pungkasnya pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Hukum Shalat di Jalan Umum Menurut Imam al-Nawawi

Hukum Shalat di Jalan Umum Menurut Imam al-Nawawi


Hampir semua ibadah yang diperintahkan Allah SWT memiliki dampak positif dan kemaslahatan bagi manusia. Kemaslahatan tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakannya, tetapi juga berdampak pada orang lain. Ibadah shalat misalnya, di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS: al-‘Ankabut: 45). Apabila tujuan shalat ini terwujud nyata dalam perilaku orang Islam, tentu ini akan memberikan kenyamanan dan ketenangan terhadap orang lain.

Dikarenakan tujuan ibadah baik dan mulia, mestinya pelaksanaan ibadah juga mengindahkan kemaslahatan orang lain. Lakukanlah ibadah sebagaimana mestinya dan usahakan tidak mengusik kenyamanan orang lain. Jangan mentang-mentang kita ingin beribadah, tapi malah menganggu aktifitas orang lain. Misalnya, membaca al-Qur’an itu amalan yang baik, tapi akan lain cerintanya bila kita membacanya malam hari dengan suara keras dan menggunakan pengeras suara pula, ini tentu akan memancing hujatan dan makian banyak orang.

Begitu pula shalat, alangkah baiknya shalat dilakukan di tempat yang tidak menganggu aktivitas orang lain atau tempat yang sudah dikhususkan penggunaannya untuk shalat. Berdasarkan alasan ini, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab memakruhkan pelaksanaan shalat di jalan umum. Kemakruhan ini tentu tidak berdampak pada pembatalan shalat. Beliau mengatakan:  

ولا يصلي في قارعة الطريق لحديث عمر رضى الله عنه "سبع مواطن لاتجوز فيها الصلاة وذكر قارعة الطريق" ولأنه يمنع الناس من الممر وينقطع خشوعه بممر الناس فإن صلى فيها صحت صلاته لأن المنع لترك الخشوع أو لمنع الناس من الطريق
وذلك لا يوجب بطلان الصلاة

“Janganlah shalat di jalan umum karena hadis dari ‘Umar menyebut bahwa ada tujuh tempat yang dilarang malakukan shalat, salah satunya adalah jalan umum. Shalat di jalan umum dilarang karena menghalangi jalan orang lain dan kekhusyukan shalat terganggu lantaran orang lalu-lalang. Kendati demikian, shalat yang dilakukan di jalan umum tetap sah, karena larangan di sini disebabkan oleh hilangnya kekhusyukan dan menganggu jalan orang lain. Kedua hal ini tentu tidak berdampak pada pembatalan shalat”

Menurut Imam al-Nawawi, ada dua alasan dimakruhkan shalat di jalan umum: pertama, menghalangi perjalanan orang lain, terlebih lagi bila shalat diselenggarakan di jalan raya atau umum; kedua, menganggu kosentrasi dan kekhusyukan shalat. Laiknya jalan raya pada umumnya tidak pernah sepi dari kendaraan ataupun pejalan kaki. Hal ini tentu berakibat pada ketidakfokusan pikiran. Shalat di masjid saja susah khusyuknya, apalagi di jalan umum.

Beliau menambahkan, bila shalat dilakukan di jalan yang tidak dilewati banyak orang, seperti jalan di hutan ataupun padang sahara, maka shalat di sana diperbolehkan. Beliau mengatakan:

وذكر الأصحاب علة ثالثة وهي غلبة النجاسة فيها قالوا وعلى هذه العلة تكره الصلاة في قارعة الطريق في البراري وإن قلنا العلة فوات الخشوع فلا كراهة في البراري إذ لم يكن هناك طارقون

“Sebagian ulama  menambahkan bahwa bahwa ‘illah dilarang shalat di jalan adalah karena ada najis. Oleh sebab itu, mereka juga memakruhkan shalat di jalan yang terdapat di padang sahara (meskipun di sana tidak ada orang lewat). Namun bila kita mengatakan ‘illahnya karena hilangnya kekhusyukan, maka tidak dimakruhkan shalat di padang sahara, karena tidak ada (jarang) orang yang lewat.”

Dengan demikian, seyogyanya pelaksanaan shalat tidak menganggu kenyamanan orang lain. Terlebih lagi, dalam konteks Indonesia, masjid dan mushola masih banyak dan luas. Beda halnya bila masjid sudah tidak mampu menampung banyak jemaah atau tidak ada masjid sama sekali, sebagaimana muslim di daerah minoritas. Dalam kondisi ini tentu menggunakan jalan sebagai tempat shalat menjadi salah satu alternatif. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

Sumber : nu.or.id
Para Wali Menyatukan Umat, Kita Malah Memecah-Belah Umat

Para Wali Menyatukan Umat, Kita Malah Memecah-Belah Umat


Acara bertajuk “Dzikir Akbar dari Yogyakarta untuk Indonesia” bersama Maulana al-Habib Luthfi bin Ali bin Yahya (Senin, 21 November 2016) ini diselenggarakan oleh Madrasah Diniyah al-Quran Kraton Yogyakarta. Acara berlangsung dengan penuh khidmat, sejak pukul 20.00 WIB ba’da Isya hingga selesai dini hari. Turut hadir dalam acara tersebut para ulama, kiai, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, TNI, POLRI beserta keluarga Kraton Yogyakarta.

“Jangan terus-terusan mencari perbedaan, carilah persamaan agar kita bisa maju dan negara bisa makmur,” tutur Habib Luthfi mengawali ceramahnya. “Lihatlah bangsa lain sudah makmur dan mapan, kita malah masih mencari perbedaan. Membahasnya melulu beda tahlil, maulid, shalat, dlsb. Ayo berpikir,” lanjutnya.

Jika kita bersatu-padu menyongsong negri ini, niscaya akan makmur dan maju. “Ojo kakean ngurusi perbedaan lan nggolek salahe wong (Jangan banyak ngurusi perbedaan dan mencari-cari kesalahan orang)”, tegas Habib Luthfi. “Apa kita ndak malu sama para auliya? Mereka sudah sedo (wafat), tapi mampu menyatukan bangsa.”

Sunan Ampel, makamnya ramai diziarahi dari berbagai daerah. Itu menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Lihat Sunan Gunung Jati, makamnya selalu ramai bahkan dari berbagai belahan bumi sowan, ziarah. Beliau sudah sedo, tapi bisa menyatukan umat dalam satu wadah. Ada yang dzikirnya pelan, keras, panjang, pendek bahkan ada non-muslim. Tapi mereka khusyuk tanpa menganggu yang lain. “Ingat, kita merdeka karena bersatu. Jika kita bersatu, kita bisa membangun bangsa kita ini.”

Habib Luthfi kembali mengingatkan, “Sultan Agung Yogyakarta, makamnya ramai yang ziarah dari berbagai kalangan. Bukan aturan sebenarnya memakai blangkon atau kebaya dll. yang berhubungan dengan nuansa kraton, tapi untuk mengingatkan bahwa kita itu bangsa Indonesia yang punya budaya, kebetulan kita di tanah Jawa budayanya ya gitu.”

“Apa kita tidak malu kepada wali-wali Allah? Sudah wafat tetapi bisa menyatukan bangsa, mengingatkan sejarah bangsa, menyetarakan kaum. Jangan cari perbedaan. Panjenengan tau apa hasil yang saya bawa dari ziarah? Malu. Iya malu. Malu kepada yang sudah sedo. Mereka yang sudah wafat mampu menyatukan umat, kita yang masih hidup malah memecah-belah umat!” tukas Maulana Habib Luthfi bin Yahya menyayangkan

Source: metroislam.com
Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bid'ah Besar

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bid'ah Besar


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) merasa prihatin ketika ada rencana Shalat Jumat di Jalan Raya pada 2 Desember 2016 oleh kelompok yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini memberikan pernyataan melalui akun twitter pribadinya @gusmusgusmu, Rabu (23/11) sebanyak 7 cuitan.

"Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jumat-an di jalan raya. Mudah-mudahan tidak benar," cuit Gus Mus.

"Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada bid'ah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran," sambung Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 ini.

Gus Mus mempertanyakan apa dalil Al-Qur’an dan haditsnya melakukan shalat Jumat di jalanan. Dia juga mempertanyakan apakah Rasullullah SAW, para sahabat dan tabi'in pernah melakukan atau membolehkan salat Jumat di jalan raya.

"Kalau benar, apakah shalat tahiyyatal masjid diganti shalat tahiyyatat thariq atau tahiyyatasy syari?" tanyanya.

Jika shalat Jumat di jalan protokol Jakarta itu benar akan dilakukan, lanjut Gus Mus, dia mengimbau umat Islam yang percaya dirinya tidak punya kepentingan politik apapun agar memikirkan hal itu dengan jernih.

"Setelah itu silakan Anda bebas untuk melakukan pilihan Anda. Aku hanya merasa bertanggung jawab mengasihi saudaraku. In uriidu illal ishlãha mãs tatha'tu wamã taufiiqii illa biLlãhil 'Aliyyil 'Azhiim," tulisnya.

"Artinya kurang lebih: Aku hanya berniat (ber)baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung," imbuh Gus Mus menjelaskan artinya.

Sampai berita ini ditulis, tweet Gus Mus tersebut direspon oleh ribuan netizen jika diakumulasi, baik dalam bentuk retweet, like, mention, dan reply. Dalam pantauan NU Online, pernyataan Gus Mus ini juga dijadikan rujukan oleh berbagai media online nasional untuk diterbitkan. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Tiga Kiai di Balik Berdirinya Muslimat NU

Tiga Kiai di Balik Berdirinya Muslimat NU


Pendirian Muslimat Nahdlatul Ulama dilalui dengan proses yang tak mudah. Sebelum gagasan ini dilontarkan di forum resmi NU, keterlibatan praktis perempuan di dunia nondemoestik belum menonjol. Kepesertaan Muktamar ke-13 di Menes tahun 1938, forum pertama dimunculkannya ide pendirian organisasi perempuan NU, juga masih didominasi kaum laki-laki.

Tak menonjol bukan berarti tak ada. Sejumlah peran penting sudah dilakukan kaum hawa di lingkungan NU. Mulai dari aktif di dunia pendidikan, dakwah, menjadi tenaga perawat bagi para pejuang kemerdekaan, hingga berperan dalam pasukan gerilya sebagai kurir pesan-pesan rahasia. Hanya saja, “panggung” yang belum tersedia membuat kiprah para perempuan kala itu tak terlihat, bahkan belum terkonsolidasi dengan baik.

Para kiai NU pun zaman itu belum banyak yang memiliki fokus pada pentingnya peran perempuan dalam kancah perjuangan dan organisasi. Menurut buku "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa" (1996), hanya sebagian kecil di antara mereka yang memahami kebutuhan akan hadirnya gerakan kaum perempuan. Di antara sebagian kecil tersebut ada tiga nama kiai: KH Mohammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri.

Ketiga kiai yang terkenal dengan kealiman dan cara berpikirnya yang maju itu turut mendorong semangat kebangkitan perempuan di lingkungan NU. Ada cerita, Kiai Wahablah yang memberikan restu dan motivasi ketika para santri putri hendak membentuk grup drumband. Meskipun, semula inisiatif itu sempat ditolak karena khawatir drumband jadi ajang menampakkan aurat.

Kiai Saifuddin Zuhri juga termasuk ulama yang peduli dan apresiatif terhadap kiprah perempuan. Istrinya sendiri, Nyai Solechah, adalah juru kampanye NU (ketika menjadi partai politik) yang mesti terjun ke daerah-daerah dari satu podium ke podium lain. Nyai Solechah dipercaya sebagai salah seorang ketua Pucuk Pimpinan Muslimat NU (1956-1989) yang sebelumnya memimpin ketua Muslimat NU Jawa Tengah.

Senada dengan Kiai Saifuddin, Kiai Muhammad Dahlan juga menjadi pribadi yang nyaman buat istrinya untuk berperan banyak dalam organisasi. Nyai Chodijah Dahlan diberi amanat sebagai ketua pertama Muslimat NU kala resmi menjadi badan otonom NU pada tahun 1946, meski tak lama memimpin karena wafat pada tahun 1948. Kiai Dahlan yang juga ketua PBNU lebih dari sekadar pendorong berdirinya Muslimat. Ia juga merangkap sebagai guru organisasi bagi istrinya. Selepas ditinggal Nyai Chodijah, istri kedua Kiai Dahlan juga menerima keluasaan yang sama. Nyai Aisyah Dahlan aktif menjadi salah satu ketua Muslimat NU pada kongres di Semarang. Ia mempelopori berdirinya Himpunan Dakwah Muslimat Indonesia (Nadwah).

Kai Dahlan bersama A Azis Diyar merupakan penyusun Peraturan Khususi Nahdlatul Ulama Muslimat yang menjadi anggaran dasar pertama Muslimat NU. Peraturan Khususi ini disetujui dan ditandatangani oleh KH Muhammad Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Dokumen inilah yang diubah dan diperbaiki sesuai perkembangan dan menjadi AD/ART Muslimat NU hingga searang.

Tiga kiai ini menjadi oase bagi kebangkitan organisasi perempuan di NU. Namun, bukan berarti para perempuan bersikap pasif. Justru kebangkitan tersebut lahir dari inisiatif perempuan NU sendiri, terutama sejak Nyai Hajjah R Djuaesih secara berani dan tegas berpidato di atas mimbar Muktamar NU ke-13 soal signifikansi peran perempuan sebagaimana laki-laki di medan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah dan bangsa secara umum. Dari gagasan ini, bentuk formal Muslimat NU terus berkembang, dari diakuinya rumusan organisasinya hingga menjadi badan otonom dengan segenap keleluasaan untuk mengatur dirinya sendiri. Muslimat NU pun menjadi organisasi yang kian bersinar, dan memainkan peran-peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Empat Penyelamat Fitnah Dunia Menurut KH Sholeh Darat

Empat Penyelamat Fitnah Dunia Menurut KH Sholeh Darat


Suasana ingar-bingar dan keriuhan "kekuasaan" membuat orang lupa makna ukhuwah. Seakan kekuatan manusia hinggap melebihi kemampuan dan taqdir Tuhan. Lalu bagaimana para masyayikh memberikan wejangan bagi para santri?

KH Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani yang akrab dikenal dengan sebutan Mbah Sholeh Darat memberikan penjelasan yang menyejukkan agar hidup selamat di dunia dan terhindar dari fitnah kejahatan dunia.

Dalam kitab Minhajul Atqiya' fi Syarhi Ma'rifatil Adzkiya' ila Thariqatil Auliya halaman 99, Mbah Sholeh Darat menjelaskan dua bait nadzam karya Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al Malibari.

Kitab ini selesai ditulis oleh Mbah Sholeh Darat pada waktu ashar tanggal 11 Dzulqa'dah 1316 H (Kamis Pon, 23 Maret 1899 M). Isi kitabnya sangat luar biasa tentang ilmu tasawwuf dan kewalian.

Ada empat hal yang harus dilakukan oleh manusia dalam menghadapi fitnah kejahatan dunia dalam rangka membuat langkah selamat hidup di dunia. Ini semua dilakukan sebagai antisipasi agar selama hidup di dunia tetap dalam kondisi tenang dan tidak merasakan kesusahan.

Apa empat hal yang dimaksudkan oleh Mbah Sholeh Darat sebagaimana pendapat Syaikh Zainuddin Al Malibari?

Pertama, memberi maaf atas kebodohan manusia. Ketika ada orang bodoh yang tidak memberikan hormat pada manusia, maka tugas kita adalah memaafkan. Itu semua dalam rangka memahami bahwa kebodohan seringkali membuat orang lain menjadi susah. Jikalau mereka tidak bodoh, maka tidak akan membuat orang susah.

Kedua, jangan sampai menjadi orang bodoh terhadap hak-hak manusia. Kondisi bodoh akan membuat suasana hidup yang tidak nyaman. Bahkan kadang kebodohan yang dimilikinya akan menjadi alat untuk menghina orang lain (yang seharusnya lebih pandai).

Ketiga, harus konsisten dalam hidup dan jangan sekali-sekali berharap pemberian orang. Tampaknya ini jelas memberikan dorongan bahwa hidup dengan bergantung pada orang lain akan membuat tidak produktif.

Keempat, jadilah dermawan (ahli memberi kepada orang lain). Nasehat menjadi dermawan inilah yang membuat jatidiri manusia sejati itu muncul karena menghormati dirinya sendiri.

Bagi Mbah Sholeh Darat, empat hal ini penting untuk dijalani dengan baik. Sebab jika dilaksanakan dengan baik, maka kita akan mendapatkan kasih sayang dari manusia dan terselamatkan dari kebencian manusia.

"Barangsiapa yang tidak melaksanakan empat hal ini,  maka pasti terjadi konflik (padu tukar) yang menyebabkan lahirnya fitnatunnas (fitnah manusia)," demikian penegasan Mbah Sholeh Darat.

Sumber : nu.or.id
Kisah Ketulusan Si Miskin Bersedekah ke Orang Kaya

Kisah Ketulusan Si Miskin Bersedekah ke Orang Kaya


Saudagar kaya yang lagi sakit itu menangis tersedu-sedu sesaat setelah tetangganya yang miskin menengoknya di rumah sakit dan memberinya amplop. Amplop kecil itu berisi uang Rp 20.000. H. Mahmud, demikian ia biasa dipanggil, membuka amplop itu dengan penuh rasa haru.

“Bagaimana bisa orang semiskin Pak Manto itu menyumbang aku. Aku tahu Rp 20.000 adalah sebesar penghasilannya per hari,” kata H. Mahmud pada dirinya sendiri. “Dia memang orang baik dan selalu tulus dalam kebaikannya kepada siapa pun. Aku bahkan tahu seandainya uang itu aku tolak, pasti Pak Manto tidak tersinggung.”

Kebaikan dan ketulusan hati Pak Manto membuat H. Mahmud tidak keberatan menerima sumbangannya. Ia tidak merasa tersinggung dengan sumbangan sekecil itu.

“Uang ini akan aku simpan baik-baik. Pasti di dalamnya banyak barokah karena Pak Manto mendapatkan uang ini tentu dengan cucuran keringat dan susah payah. Akan aku gunakan pada saat yang tepat.”

Tiga hari kemudian, H. Mahmud diperbolehkan pulang. Hal pertama yang dia rencanakan setelah kondisinya pulih adalah mengunjungi Pak Manto di rumahnya yang sederhana.

“Assalamu’alaikum!” Demikian H. Mahmud beruluk salam ketika memasuki rumah Pak Manto. Pak Manto terkaget karena tak pernah membayangkan akan dikunjungi H. Mahmud.

“Pak Manto, saya sangat berterima kasih atas kunjungan Pak Manto kepada saya di rumah sakit seminggu yang lalu. Alhamdulillah berkat doa Pak Manto, saya bisa segera sembuh. Saya bersilaturrahim ke sini juga dalam rangka mensyukuri kesehatan saya yang sudah pulih kembali. Tapi maaf saya tak bisa lama-lama di sini.”

H. Mahmud segera berpamitan pada Pak Manto sambil memberikan amplop berisi Rp 2.000.000. Bagi H. Mahmud, uang sejumlah itu sebanding nilainya dengan Rp 20.000 dari Pak manto karena sama-sama sebesar penghasilan per hari mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian, dibukanya amplop itu oleh Pak Manto dan meledaklah tangisnya.

“Tuhan, mengapa secepat dan sebesar ini Engkau membalas sedekahku. Bagaimana aku merasa bangga sedang aku lebih mengharapkan balasan di akhirat, yakni berjumpa dengan-Mu. Tuhan, aku tak pernah berniat bisnis dengan-Mu dalam setiap sedekahku. Berhentilah membalas sedekahku di dunia ini. Ataukah, Engkau memang tidak mencintaiku?!” Pak Manto menangis tersedu-sedu. Air matanya bercucuran. Hatinya pilu.

Siang itu, Pak Manto bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya. Ia tahu pasti banyak pasien miskin yang tak bisa segera tinggalkan rumah sakit karena belum bisa menyelesaikan tagihannya. Diberikanlah uang dari H. Mahmud itu kepada seorang laki-laki muda yang tampak murung dan bingung karena uangnya belum cukup untuk menebus biaya istrinya yang melahirkan dengan operasi caesar.

"Terimalah uang ini. Ini sedekah dari seorang saudagar kaya di kota ini. Mas tidak usah bertanya siapa nama saudagar itu karena beliau belum tentu senang diketahui identitasnya," kata Pak Manto lirih.

Sumber : nu.or.id
Amalan saat Iman kepada Allah Terguncang Keraguan

Amalan saat Iman kepada Allah Terguncang Keraguan


Pikiran tidak bisa dibendung. Ia mengembara ke mana suka. Dalam pengembaraan ini setan ikut menemani perjalanan. Ia menggiring secara perlahan pengembaraan pikiran orang beriman sampai ke batas keraguan. Awalnya orang beriman diajari pertanyaan “siapa pencipta alam?”, sampai tidak terasa datang pertanyaan “siapa pencipta Allah?”

Kalau pengembaraan pikiran sudah sampai pertanyaan di atas, Rasulullah SAW menahan kita untuk berhenti di sini. Beliau meminta kita untuk membaca ta‘awudz agar Allah menyelematkan keimanan kita dari pelbagai sangkaan-sangkaan kosong belaka.

Karenanya Rasulullah SAW meminta kita untuk membaca doa berikut ini sebanyak tiga kali.

آمَنَّا بِاللهِ وَبِرُسُلِهِ

Âmannâ billâhi wa birusulihi

Artinya, “Kami beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Sementara sebagian ulama menganjurkan agar kita memperbanyak baca lafal tahlil ketika berwudhu, shalat, dan ibadah serupa keduanya. Selain itu kita dianjurkan untuk mencari aktivitas yang mendatangkan kegembiraan. Karena setan tidak suka dengan kegembiraan orang beriman. Anjuran ini dikutip Imam An-Nawawi dari Risalah Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi.

Ibnu Abbas RA dengan senyum berkomentar bahwa tiada satu orang pun yang lepas dari gangguan keraguan seperti ini. Ibnu Abbas RA menganjurkan kepada salah seorang sahabatnya yang mengalami guncangan keraguan seperti ini dengan membaca Surat Al-Hadid ayat tiga sebagai berikut.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya, “Dialah Allah yang awal dan akhir, yang lahir dan bathin. Dia mengetahui segala sesuatu.”

Menurut Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar, keraguan keimanan akibat gangguan setan seperti ini justru menghinggapi orang yang memiliki keimanan yang mantap. “Karena pencuri tidak akan memasuki rumah yang sudah runtuh.”

Di samping itu, kita juga perlu memperdalam tauhid. Kita perlu mencari majelis taklim yang membaca kitab-kitab tauhid seperti Fathul Majid, Tijanud Darari, Kifayatul Awam, dan Al-Iqtishad fil I’tiqad, dan kitab tauhid Ahlussunnah wal Jamaah lainnya. (Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
Kiai Asy’ari, Codot, dan Pelajaran Shalat

Kiai Asy’ari, Codot, dan Pelajaran Shalat


KH Achmad Al Asy’ari merupakan salah satu ulama besar dari Tegalsari, Laweyan, Solo, yang memiliki nama kecil Abdul Malik bin Mohd. Ishak Kartohudro. Namanya kemudian diganti Asy’ari karena konon ia mengidolakan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, pendiri mazhab Asy’ariyyah. Sumber lain menyebutkan, pergantian nama tersebut sebagai harapannya, agar ia menjadi seperti gurunya, Kiai Asy’ari Bawean, sebagai seorang ulama ahli falak.

Selain dikenal ahli falak, Kiai Asy’ari juga memiliki kepribadian yang santun. Dalam mendidik dan mengajarkan agama, ia memiliki metode tersendiri, yang membuat orang menjadi tertarik tanpa ada rasa keterpaksaan.

Metode yang ia pakai, masih diingat betul salah satu cucunya, Ustad Ali bin KH Naharussurur. Saat ditemui NU Online di Pesantren Ta'mirul Islam, Kamis (17/11), ia bercerita, ketika itu ia bersama cucu lainnya diajak untuk pergi masjid untuk sholat subuh.

“Mbah Asy'ari, tidak pernah mengajak kami untuk bangun sholat shubuh, tapi sebelum tidur, biasanya beliau bertutur : Le, ayo ndang turu! Tak kandani, sak durunge subuh, codot kui padha mangani pelem. Mula, sesuk tangi sak durunge subuh, ben ora kedhisikan codot. (Nak, ayo segera tidur! Saya kasih tahu, sebelum subuh, kelelawar keluar mencari mangga. Maka dari itu, besok mesti bangun sebelum subuh, agar tidak kalah cepat dengan kelelawar)," kata Ustad Ali, menirukan ucapan kakeknya.

Pada keesokan harinya, Ali pun ikut bangun. Bersama cucu yang lain, ia mengikuti Mbah Asy’ari mencari mangga di halaman rumah. Setelah menemukan beberapa, kemudian Mbah Asy’ari mengajak mereka untuk “bersembunyi”, menunggu agar para codot (kelelawar) kembali menjatuhkan buah mangga mereka.

“Kami diajak ndelik (bersembunyi), tapi sembunyinya ini, ternyata kita diajak ke masjid untuk ikut jamaah shalat shubuh,” kenangnya.

Setelah mengikuti jamaah shalat, anak-anak sudah tidak sabar untuk segera mencari mangga. Namun, Mbah Asyari kembali memberitahu agar mencarinya, saat suasana sudah agak terang, sehingga mangga yang dicari kelihatan jelas.

“Namun, yang tidak kami sadari, kami menunggu Simbah yang sedang wiridan, dengan kata lain kami juga diajari untuk wiridan,” ungkap pria yang akrab disapa Abah Ali itu.

Yang lebih ajaib lagi, adalah buah yang mereka temukan tidak hanya mangga, tapi juga rambutan, salak dan sebagainya, meskipun di halaman rumah Kiai Asy’ari tidak tumbuh pohon tersebut.

Setelah dewasa, barulah ia tahu, kalau buah yang mereka cari itu sudah disiapkan Mbah Asy’ari, agar mereka terbiasa untuk bangun pagi dan shalat shubuh berjamaah, tanpa dipaksa ataupun karena takut.

“Ternyata tanpa sepengetahuan kami, pada hari sebelumnya, Simbah sudah pesan kepada ibu saya, untuk membeli sejumlah buah dan menyebarkannya di halaman rumah,” kata Ustadz Ali.

KH Achmad Al Asy’ari wafat pada 26 April tahun 1975, dan dimakamkan di Pemakaman Pulo Laweyan Solo. Lahu al-fatihah! (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Kemesraan Zaid bin Tsabit dan Ibnu 'Abbas

Kemesraan Zaid bin Tsabit dan Ibnu 'Abbas


Selepas menshalati jenazah sang ibunda, Zaid bin Tsabit pulang dengan menaiki bighãl (bagal). Saat akan menunggangi hewan peranakan kuda dan keledai itu, sepupu Rasulullah, Ibnu 'Abbas, tiba-tiba menghampiri lalu memegang tali kendali tunggangan tersebut. Ibnu 'Abbas hendak menuntunnya sebagai bentuk penghormatan.

Keduanya adalah sahabat Rasulullah yang istimewa. Zaid merupakan sahabat cerdas yang pada zaman Rasulullah dipercaya sebagai penulis wahyu. Ia adalah sekretaris pribadi Nabi yang keulamaannya diakui di Madinah. Ibnu 'Abbas pun tak kalah hebat. Putra 'Abbas bin Abdul Muthallib ini memiliki wawasan luas. Banyak hadits yang keluar melalui jalur riwayatnya.

Namun demikian, kali ini atas sikap rendah hatinya, Ibnu 'Abbas rela melayani Zaid. Zaid bin Tsabit yang merasa sungkan diperlakukan demikian oleh Ibnu 'Abbas pun bertutur sopan, "Lepaskanlah, wahai anak paman Rasulullah!"

"Beginilah kami memperlakukan ulama," jawab Ibnu 'Abbas memuji keutamaan Zaid bin Tsabit. Bagi Ibnu 'Abbas, orang biasa seperti dirinya sudah sepantasnya menghormati sahabat selevel Zaid.

Sontak, Zaid mencium tangan Ibnu 'Abbas. "Beginilah kami diperintah dalam memperlakukan keluarga Nabi," katanya. Ini adalah sikap balasan atas ketawadukan Ibnu 'Abbas. Kerendahan hati dibalas kerendahan hati.

Zaid menunjukkan kualitas jiwa yang luar biasa justru ketika dirinya mendapatkan pujian dan kehormatan. Ia adalah contoh dari kenyataan bahwa kian tinggi mutu seseorang, makin terkubur rasa congkak yang mengotori pribadinya. Ibnu 'Abbas yang mendapat penghormatan serupa juga tak lantas tinggi hati. Baginya, Zaid tetaplah orang pintar yang patut dimuliakan. Karena itu, saat Zaid bin Tsabit wafat, Ibnu 'Abbas sambil berdiri di sebelah makamnya berujar, "Demikianlah apabila ilmu pergi." Ibnu 'Abbas memandang kepergian Zaid bin Tsabit bagaikan kepergian ilmu itu sendiri.

Kisah ini diceritakan dari asy-Sya'bi, sebagaimana dikutip Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari dalam Irsyâdul Mu'minîn ilâ Sîrati Sayyidil Mursalîn wa Man Tabi'ahu minas Shahâbah wat Tâbi'în yang terhimpun dalam Irsyâduls Sârî.

Sebagaimana para sahabat lain, Zaid bin Tsabit al-Anshari dan Ibnu 'Abbas bukanlah dua orang yang selalu sepakat dalam hal pemikiran. Keduanya yang memang ahli fiqih tercatat pernah berselisih pendapat seputar bab warisan (farâidl). Hanya saja, kearifan dan akhlak terpuji mereka menjadikan perbedaan itu sebagai sesuatu yang wajar. Boleh beda asal persaudaraan tetap terjalin mesra! (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Mbah Maimoen: Kalau Ingin Maju, Buat Bersatu Tapi Tetap Boleh Beda

Mbah Maimoen: Kalau Ingin Maju, Buat Bersatu Tapi Tetap Boleh Beda


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair merasa prihatin karena selama ini perbedaan justru dijadikan pemicu perseturuan di antara Umat Islam dan umat agama lain.

Menurutnya, perselisihan atau perseteruan adalah bawaan manusia. Melekatkan identitas agama dan etnis hanya akan menimbulkan konflik apalagi jika sudah dibumbui oleh kepentingan politik praktis.

“Selisih itu bawaan manusia. Oleh karena itu kalau ingin maju, buat bersatu tapi tetap boleh beda. Beda tapi satu. Hal itu sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menuturkan, jika hanya Islam, tidak akan mampu mempersatukan perbedaan di Indonesia. Menurutnya, nasional harus disinergikan dengan keislaman sehingga beda tapi sama, sama tapi beda.

Kiai kharismatik yang kini telah berusia 88 tahun ini juga memberikan penegasan bahwa agama mengajarkan, dalam perbedaan ada titik-titik kebersamaan. Semua agama mengajarkan kebaikan, sebab agama ada empat titik persamaan.

“Pertama menjaga jiwa. Jiwa itu ruh yang menjadi kehidupan. Semua agama melarang mendzolimi orang lain, apalagi membunuh,” ujar Mbah Maimoen.

Kedua, lanjutnya, adalah akal. Semua agama menjunjung akal. Sebab manusia dimuliakan oleh Allah SWT karena mempunyai akal. Tidak ada agama tanpa pendidikan. Ketiga, keturunan. Pernikahan itu bukan Islam saja.

“Semua penganut agama menikah dengan ajaran agamanya masing-masing sehingga anaknya menjadi keturunan yang sah,” jelasnya.

Keempat, tandasnya, manusia harus menjaga bahwa dirinya merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Berangkat dari poin ini, Mbah Maimoen memberikan pesan bahwa manusia jangan menghinakan diri dan agamanya dengan perilaku buruk dan tidak menghargai perbedaan. Karena hal itu hanya akan meruntuhkan persatuan. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu


Seorang pemuda asal Tegal berusia kira-kira 36 tahun, sebutlah namanya Udin (nama samaran), hari itu sedang dilanda kebingungan. Di saat usaha membuka warung sembako yang dirintis  bersama istrinya belum benar-benar stabil dan menunjukkan perkembangan yang berarti, tiba-tiba sejumlah uang yang selama ini mereka kumpulkan dari hasil berdagangnya itu hilang entah di mana. Padahal Udin belum punya rumah sendiri, melainkan masih ikut tinggal di rumah mertuanya di Cirebon.

Sebab utama kebingungan Udin sebenarnya bukan karena uangnya yang hilang. Tetapi lantaran dia masih tinggal seatap dengan mertuanya, tentu saja orang tua istrinya itu mempersoalkan dan menyayangkan atas kejadian hilangnya uang tersebut. Apalagi mertuanya juga menuntut kepada Udin bagaimana caranya supaya dapat menemukan uang yang raib itu. Ayah istrinya itu seakan menekan Udin yang merupakan santri alumni pesantren agar menunjukkan kemampuannya dalam soal ini. Merasa ditantang demikian, Udin akhirnya menyanggupi dan berjanji akan dapat menemukan uangnya dalam waktu seminggu.

Itulah pemantik kebingungan Udin, yaitu terpaksa menyanggupi dan menjanjikan kepada mertuanya akan dapat menemukan kembali uangnya. Padahal meski dia alumni pesantren tapi ia merasa tak memiliki kemampuan layaknya orang pintar yang diidentikkan mempunyai kemampuan supra natural. Kendati menyadari tak memiliki kecakapan demikian, tidak lantas Udin pergi ke dukun atau paranormal. Udin tetap berusaha berpikir dan mencari solusinya sendiri.          

Jauh sebelum Udin menikah dua tahunan lalu, dia yang juga menjadi guru honorer di sebuah sekolah formal ini merupakan seorang yang dikenal sangat gandrung (sangat menyukai) dengan kajian agama dalam kitab Ihya' Ulumudin karya Imam Al-Ghazali. Dia berusaha sebisa mungkin agar perilaku hidupnya, terutama dalam bidang muamalah bisa berkesesuaian dengan ajaran Imam Ghazali yang tertuang dalam Ihya' tersebut. Maka sebagai konsekuensinya Udin ketika menjalankan suatu pekerjaan atau usaha dirinya sangat berhati-hati, tidak asal mendapat untung dan penghasilan besar. Tapi diperhatikan betul apakah bisnis atau jual beli yang ia jalani misalnya, telah sesuai dengan ketentuan fiqih atau justru melanggar.

Akhirnya Udin bertawasul (berdoa dengan perantara, red) kepada Imam Ghazali. Lalu curhat kepada Imam Ghazali tentang problem yang sedang dialaminya. Sebagai orang yang telah memiliki bekal ilmu Tauhid yang memadai, tentu Udin sudah paham mana hal-hal yang dikategorikan perbuatan syirik dan mana perbuatan yang diperbolehkan syariat.  

Ajaibnya, beberapa waktu setelah tawassul dan curhat kepada Imam Ghazali (dengan caranya sendiri), uang yang sebelumnya hilang itu sudah berada kembali di tempat penyimpanannya semula. Tidak diketahui siapa yang mengembalikan uang itu di tempat asalnya. Setelah dihitung ternyata jumlahnya sama, tidak berkurang. Udin riang gembira, walau sebelumnya janji akan dapat menemukan kembali uangnya dalam jangka satu pekan sebetulnya karena terpaksa dan nekad saja—barangkali demi menjaga harga diri. Kini ucapanya itu benar-benar terbukti. Sejak itu Udin mulai diperhitungkan oleh mertuanya.      

Menurut pandangan Udin keajaiban yang dialaminya itu bukanlah jenis amalan klenik atau mistik, tetapi merupakan suatu kejadian biasa saja yang logis serta dapat dirasionalkan. Dia meyakini bahwa meski sudah wafat ratusan tahun lalu bahkan lebih lama lagi dari itu, arwah para "wali" termasuk Imam Al-Ghazali masih hidup dan dapat mendengar komunikasi orang yang masih hidup saat ini.

Tak hanya itu, lulusan dari salah satu pesantren di Babakan Cirebon ini meyakini ketika seseorang membaca kitab karya para wali tersebut, berarti pembaca sedang berdialog dengan "ruh" pengarang kitab itu dalam arti sesungguhnya.

Saat pembaca mengarungi samudera pemikiran ulama melalui kitabnya, hakikatnya dia tidak sedang berhadapan hanya dengan benda mati berupa kertas bertinta hitam yang berjilid, tapi juga berhadapan dengan "ruh" penulisnya. Kian intens dan seringnya pembaca dalam menelaah pemikiran ulama-auliya' sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam, maka makin akrab dan kian kenal pula dengan penulisnya. Dari situ terjalinlah hubungan sepritual melalui pengenalan yang intens saat mengkaji karangannya.

Pandangan Udin di atas  menurut penulis artikel ini sangat kompatibel jika dikaitkan dengan adab seorang pembelajar dalam tradisi pesantren yang begitu mengagungkan kitab karangan ulama seperti misalnya imbauan supaya dalam keadaan punya wudhu saat pelajar memegang kitab, tidak boleh ditaruh di tempat yang rendah sehingga terlangkahi, tidak boleh ditaruh di atas kitab sesuatu barang dan etika lainnya. Penghormatan yang tinggi demikian karena tulisan ulama-aulia' tidak sekadar berupa kumpulan kertas dan tinta, melainkan juga terdapat "jiwa" pengarangnya.    

Di samping itu dalam konteks hubungan buku dan pengarangnya pandangan Udin tersebut jauh lebih filosofis dibandingkan pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer misalnya yang pernah mengatakan bahwa semua buku hasil karanganya tak lain adalah anak-anak rohaninya yang mempunyai sejarahnya masing-masing.


Sumber : nu.or.id
Mbah Maimoen Ingatkan Pentingnya Menjunjung Bangsa dan Negara

Mbah Maimoen Ingatkan Pentingnya Menjunjung Bangsa dan Negara


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair (Mbah Maimoen) mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan pentingnya menjunjung dan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Hal ini mengingat kerap kali ditemukan orang atau kelompok orang yang terus berupaya memecah belah bangsa dan menganggu stabilitas negara dengan tindakan teror.

Ironisnya, sentimen SARA sering dihembuskan sebagai pemicu efektif terhadap kekacauan yang selama ini terjadi. Lain daripada itu, membawa-bawa agama dalam kepentingan politik juga menambah daftar kegagalpahaman sebagian kelompok dalam memaknai dasar negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan segala penguatnya.

“Pada masa sekarang ini, sudah tidak ada khalifah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional,” tegas Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menjelaskan, kalau dulu pada saat musim haji semua memakai bendera Islam, sekarang tidak. Mereka membawa bendera nasional, yakni bendera negara masing-masing.

“Misalnya di Amerika, tidak pakai simbol keislaman Amerika, yang ada simbol negara Amerika. Begitu juga dengan jemaah haji Indonesia, yang mereka bawa adalah bendera merah putih,” terang kiai yang kini telah berusia 88 tahun itu.

Pada era sekarang, menurut Mbah Maimoen, kalau bangsa dan negaranya tidak dijunjung, maka akan runtuh. Kebesaran Indonesia harus diiringi dan disesuaikan dengan ruh-ruh kebaikan agama yang mewarnai tradisi dan budaya sebagai identitas bangsa.

“Saat ini, kita harus menjunjung bangsa ini. Nabi Muhammad sendiri menjunjung bangsa Arab, karena Nabi berbangsa Arab sehingga Arab menjadi penguasa dan panutan bangsa-bangsa lain,” tutur Ulama kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 ini.

Menurut Mbah Maimoen, Tanah Air adalah pusat mempersatukan bangsa sekaligus kebesaran Islam. Ulama-ulama terdahulu sangat menjunjung tinggi bangsa ini. Sebelum NU berdiri, terlebih dahulu ulama pesantren mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), Syubbanul Wathan (Pemuda Cinta Tanah Air), Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Perdagangan).

“Kenapa perdagangan? Karena itu akan menjadi pusat ekonomi. Dulu Nabi mengubah Bangsa Arab menjadi kebangkitan perdagangan, bukan negara pertanian atau negara industri,” tandas Mbah Maimoen. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur

Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur


Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (H.R Muslim).

Kiranya, bukan hanya jalan ke surga yang dimudahkan oleh Allah. Percayalah, Allah juga akan memudahkan jalan kita saat akan berangkat menuju tempat mencari ilmu.

Kejadian menarik dikisahkan keponakan saya yang bernama Heru. Dia nyantri di salah satu pesantren di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Saat itu, dia bersama kedua teman kobongnya yang bernama Azis dan Jalal ingin sekali menghadiri pengajian di pesantren KH. Uci Turtusi, Cilongok, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Kebetulan di pengajian Ki Uci juga akan digelar haulan Syeh Abdul Qodir Jailani. Keinginan mereka bertiga pun kian membuncah. Namun apa daya, mereka hanya santri bale rombeng yang tidak punya banyak uang dan tidak punya kendaraan.

Namun, keterbatasan fasilitas dan biaya ternyata tidak menyurutkan langkah mereka. Ketiganya tetap nekat berangkat ke pengajian Ki Uci meski hanya bermodalkan uang Rp10 ribu. Uang itu tentu tidak cukup untuk sekadar ongkos. Apalagi jarak pesantren mereka dengan pesantren Ki Uci sangat jauh. Tapi begitulah, kekuatan hati mengalahkan segalanya. Bakda Isya, mereka pun berangkat.

Cukup jauh mereka berjalan kaki. Cucuran keringat sudah berkali-kali mereka seka dengan sarung. Tidak terasa 3 jam sudah mereka berjalan kaki. Salah satu dari mereka usul agar uang Rp 10 ribu dibelikan air minum. Wajar, berjalan kaki selama lebih kurang 3 jam pasti membuat dahaga.

Namun sayang seribu sayang, uang Rp 10 ribu hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat Heru berkali-kali menyeka keringat dengan sarung. Persoalannya, uang itu dia simpan di gulungan sarung. Alih-alih menghardik Heru, kedua temannya justru tertawa atas kejadian raibnya uang. Seketika itu haus mereka hilang. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Ujian dimulai, menjelang tengah malam, tiba-tiba turun hujan. Posisi mereka yang sudah berada di jalan raya menyulitkan mereka mencari tempat berlindung dari hujan. Kendaraan yang lalu lalang pun semakin jarang. Terpaksa, di bawah guyuran hujan, mereka terus melanjutkan perjalanan. Beruntung, beberapa saat kemudian mereka menemukan tempat berteduh.

Di sebuah bangunan tua tak berpenghuni mereka istirahat sambil menunggu hujan minggat. Rokok yang tinggal sebatang mereka nikmati bersama. Mereka mengisi waktu dengan membaca solawat. Tidak ada sedikit pun niat mereka menghentikan perjalanan. Meski diakui posisi yang sudah di tengah menjadi salah satu pertimbangan. "Mau gimana lagi? Balik lagi ke kobong juga sudah sangat jauh. Duit juga sudah hilang. Ya sudah pasrah saja sama Allah," kata Heru bercerita.

Setelah satu jam, hujan reda. Perjalanan kembali dimulai. Jalanan becek dan beberapa genangan air diakui membuat perjalanan mereka kian melelahkan. Apalagi angin kencang membuat mereka menggigil kedinginan. Sebab, baju mereka memang sudah kebasahan.

Tiba-tiba lewat mobil pikap warna hitam. Mobil itu berhenti di depan mereka. Sang sopir keluar lalu menghampiri ketiganya. Sopir bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka. Setelah diceritakan, sang sopir memberi mereka tumpangan. Sebelumnya sang sopir meminta maaf karena hanya bisa memberi tumpangan di bak barang. Karena di depan sudah ada beberapa karung kentang.

Meski duduk di belakang dan digabungkan dengan aneka sayuran, ketiga santri itu tetap bersyukur. Mereka yakin pertolongan Allah telah datang.

Tidak berapa lama, sopir menghentikan mobilnya di sebuah minimarket 24 jam. Sang sopir masuk ke minimarket dan belanja beberapa barang. Tidak disangka, ternyata sopir juga membelikan santri itu banyak makanan dan minuman. Bukan main senangnya santri-santri itu. Setelah dari minimarket sopir melanjutkan perjalanannya. Sementara ketiga santri menikmati perjalanan sambil menikmati makanan. Tidak lupa mereka tetap membaca solawat sepanjang perjalanan.

Tiba di persimpangan, sopir kembali menghentikan laju kendaraannya. Sopir turun dan menghampiri tukang ojek. Sedangkan ketiga santri hanya duduk di bak mobil menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi.

Setelah beberapa menit berbincang dengan tukang ojek, sopir menghampiri santri dan berkata "Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai tujuan. Pesantren Ki Uci belok ke sana. Sedangkan saya lurus mau ke Pasar Cikupa. Naik ojek saja ya. Tenang, ojek sudah saya bayar semua," kata sang sopir.

Ketiga santri pum hanya bisa bengong. Mereka kagum dengan kemurahan hati sopir itu. Hanya ucapan terimakasih yang bisa mereka katakan.

Sebelum berpisah, sopir itu kembali menunjukkan kebaikannya. Sang sopir memberi uang kepada ketiga santri itu sebesar Rp 600 ribu. " Nih, buat makan. Kalau ojek mah sudah saya bayar," kata sopir itu sambil menyerahkan uang dengan cara bersalaman.

Kemurahan hati sang sopir membuat hati ketiga santri itu tergetar. Ketiganya tidak kuasa menahan air mata. Mereka semakin yakin, Allah bersama orang-orang yang mencari ilmu.

Sebelum berpisah, salah satu santri bertanya kepada sopir itu. "Mang, mamang ini siapa? Orang mana?," tanya santri.

Sopir hanya menjawab "Saya hanya sopir tukang sayur," ujarnya singkat sambil berlalu pergi. Santri pun akhirnya bisa mengikuti pengajian Ki Uci.


Sumber : nu.or.id
Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur

Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur


Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (H.R Muslim).

Kiranya, bukan hanya jalan ke surga yang dimudahkan oleh Allah. Percayalah, Allah juga akan memudahkan jalan kita saat akan berangkat menuju tempat mencari ilmu.

Kejadian menarik dikisahkan keponakan saya yang bernama Heru. Dia nyantri di salah satu pesantren di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Saat itu, dia bersama kedua teman kobongnya yang bernama Azis dan Jalal ingin sekali menghadiri pengajian di pesantren KH. Uci Turtusi, Cilongok, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Kebetulan di pengajian Ki Uci juga akan digelar haulan Syeh Abdul Qodir Jailani. Keinginan mereka bertiga pun kian membuncah. Namun apa daya, mereka hanya santri bale rombeng yang tidak punya banyak uang dan tidak punya kendaraan.

Namun, keterbatasan fasilitas dan biaya ternyata tidak menyurutkan langkah mereka. Ketiganya tetap nekat berangkat ke pengajian Ki Uci meski hanya bermodalkan uang Rp10 ribu. Uang itu tentu tidak cukup untuk sekadar ongkos. Apalagi jarak pesantren mereka dengan pesantren Ki Uci sangat jauh. Tapi begitulah, kekuatan hati mengalahkan segalanya. Bakda Isya, mereka pun berangkat.

Cukup jauh mereka berjalan kaki. Cucuran keringat sudah berkali-kali mereka seka dengan sarung. Tidak terasa 3 jam sudah mereka berjalan kaki. Salah satu dari mereka usul agar uang Rp 10 ribu dibelikan air minum. Wajar, berjalan kaki selama lebih kurang 3 jam pasti membuat dahaga.

Namun sayang seribu sayang, uang Rp 10 ribu hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat Heru berkali-kali menyeka keringat dengan sarung. Persoalannya, uang itu dia simpan di gulungan sarung. Alih-alih menghardik Heru, kedua temannya justru tertawa atas kejadian raibnya uang. Seketika itu haus mereka hilang. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Ujian dimulai, menjelang tengah malam, tiba-tiba turun hujan. Posisi mereka yang sudah berada di jalan raya menyulitkan mereka mencari tempat berlindung dari hujan. Kendaraan yang lalu lalang pun semakin jarang. Terpaksa, di bawah guyuran hujan, mereka terus melanjutkan perjalanan. Beruntung, beberapa saat kemudian mereka menemukan tempat berteduh.

Di sebuah bangunan tua tak berpenghuni mereka istirahat sambil menunggu hujan minggat. Rokok yang tinggal sebatang mereka nikmati bersama. Mereka mengisi waktu dengan membaca solawat. Tidak ada sedikit pun niat mereka menghentikan perjalanan. Meski diakui posisi yang sudah di tengah menjadi salah satu pertimbangan. "Mau gimana lagi? Balik lagi ke kobong juga sudah sangat jauh. Duit juga sudah hilang. Ya sudah pasrah saja sama Allah," kata Heru bercerita.

Setelah satu jam, hujan reda. Perjalanan kembali dimulai. Jalanan becek dan beberapa genangan air diakui membuat perjalanan mereka kian melelahkan. Apalagi angin kencang membuat mereka menggigil kedinginan. Sebab, baju mereka memang sudah kebasahan.

Tiba-tiba lewat mobil pikap warna hitam. Mobil itu berhenti di depan mereka. Sang sopir keluar lalu menghampiri ketiganya. Sopir bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka. Setelah diceritakan, sang sopir memberi mereka tumpangan. Sebelumnya sang sopir meminta maaf karena hanya bisa memberi tumpangan di bak barang. Karena di depan sudah ada beberapa karung kentang.

Meski duduk di belakang dan digabungkan dengan aneka sayuran, ketiga santri itu tetap bersyukur. Mereka yakin pertolongan Allah telah datang.

Tidak berapa lama, sopir menghentikan mobilnya di sebuah minimarket 24 jam. Sang sopir masuk ke minimarket dan belanja beberapa barang. Tidak disangka, ternyata sopir juga membelikan santri itu banyak makanan dan minuman. Bukan main senangnya santri-santri itu. Setelah dari minimarket sopir melanjutkan perjalanannya. Sementara ketiga santri menikmati perjalanan sambil menikmati makanan. Tidak lupa mereka tetap membaca solawat sepanjang perjalanan.

Tiba di persimpangan, sopir kembali menghentikan laju kendaraannya. Sopir turun dan menghampiri tukang ojek. Sedangkan ketiga santri hanya duduk di bak mobil menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi.

Setelah beberapa menit berbincang dengan tukang ojek, sopir menghampiri santri dan berkata "Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai tujuan. Pesantren Ki Uci belok ke sana. Sedangkan saya lurus mau ke Pasar Cikupa. Naik ojek saja ya. Tenang, ojek sudah saya bayar semua," kata sang sopir.

Ketiga santri pum hanya bisa bengong. Mereka kagum dengan kemurahan hati sopir itu. Hanya ucapan terimakasih yang bisa mereka katakan.

Sebelum berpisah, sopir itu kembali menunjukkan kebaikannya. Sang sopir memberi uang kepada ketiga santri itu sebesar Rp 600 ribu. " Nih, buat makan. Kalau ojek mah sudah saya bayar," kata sopir itu sambil menyerahkan uang dengan cara bersalaman.

Kemurahan hati sang sopir membuat hati ketiga santri itu tergetar. Ketiganya tidak kuasa menahan air mata. Mereka semakin yakin, Allah bersama orang-orang yang mencari ilmu.

Sebelum berpisah, salah satu santri bertanya kepada sopir itu. "Mang, mamang ini siapa? Orang mana?," tanya santri.

Sopir hanya menjawab "Saya hanya sopir tukang sayur," ujarnya singkat sambil berlalu pergi. Santri pun akhirnya bisa mengikuti pengajian Ki Uci.


Sumber : nu.or.id
Yang Membuat Abu Hurairah Menangis Tersedu-sedu

Yang Membuat Abu Hurairah Menangis Tersedu-sedu


Di antara sekian sahabat Nabi, Abu Hurairahlah yang paling produktif meriwayatkan hadits. Padahal, dari segi waktu ia tidak termasuk as-sâbiqûnal awwalûn atau golongan pertama yang masuk Islam. Bahkan dalam sebuah riwayat ia hanya hidup bersama Nabi hanya sekitar empat tahun.

Fakta ini mengindikasikan betapa dekatnya pria bernama asli Abdurrahman bin Shakhr ini dengan Rasulullah. Dari ketekunannya mengikuti aktivitas Rasulullah di berbagai tempat, ia tak hanya mendengar, bertanya, tapi juga mencatat serta menghafal apa yang ia serap. Iniah yang menyebabkan Abu Hurairah masuk dalam deretan sahabat yang utama, dan namanya terus disebut hingga sekarang karena riwayat-riwayat haditsnya.

Dengan kadalaman wawasan mengenai perkataan, perilaku, dan kepribadian Rasulullah, rasanya mustahil membayangkan Abu Hurairah sebagai sahabat dengan kaulitas ibadah dan amal kebaikan hanya di level rata-rata. Apalagi, ia bukan cuma pendengar dan penghafal yang baik tapi juga peneladan Rasulullah yang ketat.

Meski demikian, seperti karakter generasi salaf pada umumnya, prestasi ibadah dan kualitas diri tak serta merta membuat Abu Hurairah angkuh dan lalai. Bak tanaman padi, makin berisi makin merunduk, demikian pula yang dialami Abu Hurairah. Semakin tinggi yang ia capai, semakin tampak baginya kekurangan dalam dirinya.

Seperti yang diceritakan Salim ibn Bisyr ibn Jahal. Suatu kali Abu Hurairah yang sedang sakit menangis. Apa yang membuat ia tersedu-sedu? Penyakit yang ia deritakah? Kehilangan benda yang ia sayangikah?

"Aku tidak sedang menangisi dunia kalian ini," jawabnya seperti dikisahkan dalam Raudlatuz Zâhdîn karya Abul Malik Ali al-Kalîb saat menerangkan bab taqwâ.

Abu Hurairah menjelaskan bahwa ia tengah menangisi nasib perjalannya di akhirat kelak. Ia merasa perbekalan hidupnya masih sedikit. Dengan kenyataan begini, Abu Hurairah membayangkan bakal naik turun antara surga dan neraka. "Aku tidak tahu, manakah tempat bersedia saya singgahi?"

Bila Abu Hurairah yang “lengket” dengan Nabi saja merasa tidak memiliki kepastian nasib di akhirat kelak, lantas bagaimana dengan orang-orang yang tak selevel beliau?

Di sinilah kita bisa menyerap pelajaran bahwa tak seorang pun bisa mengklaim sudah berada di zona nyaman kehidupan akhirat, sebagaimana tak bisa juga orang menuduh orang lain berada dalam masa depan buruk di hari kemudian. Bagaimana mungkin kita bisa memberi jaminan nasib akhirat sementara kekuasaan itu hanya Allah yang memiliki? Yang bisa dilakukan manusia sebatas ikhtiar menjadi sebaik mungkin, sembari terus mengoreksi kekurangan diri sendiri lalu berusaha memperbaikinya. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Kiai As’ad di Mata Mahbub Djunaidi

Kiai As’ad di Mata Mahbub Djunaidi


Penulis kesohor kelahiran Jakarta, H Mahbub Djunaidi (1933-1995) memiliki kedekatan khusus dengan KHR As’ad Syamsul Arifin. Dan sepertinya ada ketaatan yang khusus pula dari Mahbub kepadanya.

Dalam sebuah tulisannya di tahun 1985, karena ditelepon Kiai As’ad untuk menghadap ke Situbondo, Mahbub mengupayakan datang. Padahal dalam tulisan itu, ia yang telah hijrah dari Jakarta ke Bandung, mengaku ngantuk. Dan Situbondo bukanlah kota yang dekat. Dari Surabaya saja mesti naik bus menempuh perjalanan 200 km.

“Buat orang Bandung seperti saya, kota Situbondo itu jauhnya bukan alang-kepalang. Membayangkannya saja sudah ngos-ngosan,” katanya pada koran Eksponen 7 April 1985 yang berjudul Lagi-lagi Situbondo.

Penulis novel Dari Hari ke Hari dan Angin Musim ini, dalam tulisan lain mengungkap sosok Mustasyar Aam PBNU tersebut:

“Kepada saya, sang kiai ngobrol penuh jenaka tentang romantika masa mudanya. Kepada saya, kiai bicara perihal keadaan negara dan pikiran pemecahan masalah tingkat tinggi. Kepada saya, kiai mempersoalkan apa yang pernah ditulis Suzanne Keller dalam dia punya “Beyond the Rulling Class”-nya: pengelompokan elite golongan atas dengan segala akibatnya. Kepada saya, kiai menandaskan keblingeran Ayatullah Khomeini.”

Ungkapan Mahbub tersebut, menunjukkan horizon ilmu pengetahuan Kiai As’ad tidak hanya kitab kuning mellul, melainkan juga ilmu umum. Kiai As’ad mampu mengkritik tokoh-tokoh dunia waktu itu.

Lanjutan tulisan tersebut, dengan menunjukkan kehebatan Kiai As’ad, sekaligus mengkritik Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Seperti diketahui, STA menolak fondasi pendidikan nasional berdasrakan dari pesantren, tapi seharusnya dari Barat. Pendapat STA berlawanan dengan tokoh-tokoh senior seperti Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Sanusi Pane, dan Ki Hajar Dewantara. Silang pendapat mereka diabadikan dalam Polemik Kebudayaan yang didokumentasikan Achdiat Kartamihardja.

Di sisi lain, tulisan Mahbub yang dimuat Tempo, 27 Februari 1982 ketika Orde Baru sedang giat-giatnya menganggap agama sebagai residu. Agama dalam hal ini, adalah kalangan Nahdliyin (pesantren). Kalangan penghambat dan beban pembangunan.

Dengan tulisan itu pula, Mahbub sepertinya ingin menunjukkan kepada Orba bahwa kalangan pesantren itu pemahamannya tidak bisa dikatakan penghambat pembangunan. Lihatlah Kiai As’ad dengan pemikirannya. Mahbub menunjukkan bukti tersebut:

“Dan kepada saya, Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo ini memikirkan cara bagaimana menerapkan teknologi madya kaum nelayan sepanjang lor Jawa dan seantero Madura dengan pulau-pulau yang tak sanggup saya hafal namanya. Jika ada waktu luang, baik juga Prof. Sutan Takdir Alisyahbana bertukar pandangan dengan beliau seraya santap capcay di rumah makan turis Pasirputih,” ujar Mahbub pada tulisan ”Di Suatu Masa, Sebuah Persoalan” tersebut.

Hubungan Kiai As’ad dan Mahbub Djunaidi diakui Isfandiari, anak bungsu Mahbub. Kepada sebuah media online, Isfan menyampaikan kesaksian persentuhan ayahnya dengan kiai tersebut.

“Paling teringat saat bertemu kali pertama dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin di Situbondo, kiai kharismatik yang berselera humor tinggi, juga toleran. Ia pernah mengajak saya ke “gubuknya” di sudut pesantren yang saat itu sudah megah. Kediamannya hanya terdiri atas dipan dan perabot seadanya. Sangat sederhana. Saat itu saya saksi hidup persahabatan ayahnya dengan Kiai As’ad,” katanya. (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai


Seperti biasa, selepas salat subuh, Amri mengikuti pengajian kitab yang dilaksanakan di masjid pesantrennya. Suatu pagi ia sangat ngantuk hingga baru beberapa menit pengajian dimulai, ia tertidur lelap.

Amri terbangun ketika rekan-rekannya mulai beranjak dari tempat mereka mengaji, walau dengan mata yang masih terasa berat, akhirnya dia bergegas keluar dari masjid.

Sepulang dari masjid, Amri tidak langsung ke kamarnya, tetapi masih mencari makanan untuk sarapan. Dia merasa ada sesutu yang tidak beres saat tiba di depan kamar, karena di sana sudah ada salah seorang pengurus pondok yang sedang menunggunya.

Benar saja, ketika Amri berada tepat di hadapannya, sang pengurus langsung menyapanya.

“Amri..., sandalnya..” sambil menunjuk ke arah kaki Amri.

Amri tersentak, kemudian menatap sandal yang  ia pakai, lalu secara reflek melepaskan sandal itu sembari berucap,

“Astaghfirullah....., maaf Ustadz saya nggak sengaja ....”

Amri belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang pengurus,

“Ya..nggak apa-apa Amri, pak Kiai sudah mengikhlaskannya kok....”

“Haah.... sandal pak Kiai...,Ya Allah....Astaghfirullah..., maafkan Amri Kiai....”

Ketika itu pula keringat dingin terasa mengalir di sekujur tubuh Amri. Mungkin akibat kesadarannya yang masih belum sempurna, sehingga ketika turun dari masjid tadi, Amri tidak menyadari sandal siapa yang ia pakai, padahal sandalnya sendiri berada di samping masjid.

(Hosni Rahman)


Sumber :nu.or.id
Ini Tiga Momentum Kepahlawanan Kiai As’ad Syamsul Arifin

Ini Tiga Momentum Kepahlawanan Kiai As’ad Syamsul Arifin


Tokoh NU sekaligus pejuang kemerdekaan asal Situbondo, Jawa Timur, KHR. As’ad Syamsul Arifin dipastikan mendapat gelar pahlawan nasional. Kabar tersebut mengemuka di tengah persiapan perhelatan mengenang sejarah perjuangan salah seorang pendiri NU tersebut, yang dikemas dalam “Napak Tilas Nasional 2016, Sejarah Perjuangan Pengusiran Penjajah Jepang di Curah Damar”.

Copy Surat Keputusan (SK) Presiden Republik Indonesia mengenai pemberian gelar bagi Kiai As’ad diunggah di WA grup PCNU Jember oleh pengurus LP Maarif NU yang juga familinya, Robith Qashidi. Dalam  SK tertanggal 3 November 2016 dan diteken oleh Presiden Joko Widodo tersebut  disebutkan penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Kiai As’ad  sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa yang semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk  mencapai, merebut, memperthankan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sekretaris Napak Tilas Nasional 2016, H. Misbahus Salam membenarkan perihal penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi pendiri Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo tersebut.

Menurutnya, Kiai As’ad memang berhak dan sangat layak merengkuh gelar tersebut. Dikatakannaya, paling tidak ada 3 momentum peran dan perjuangan  Kiai As’ad yang sangat menonjol semasa hidupnya. Yaitu kegigihannya mengusir penjajah, keberaniannya melawan PKI dan keistiqamahannya mempertahankan khittah NU. “Ketiga peran itu, sangat signifikan bagi perjalanan bangsa Indonesia,” tukasnya kepada NU Online di Jember, Selasa (8/11).

Wakil Ketua PCNU Jember tersebut memaparkan betapa gigihnya Kiai As’ad saat berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang, baik di Jember maupun Bondowoso dan sebagainya. Begitupun saat Indonesia dirongrong oleh PKI, Kiai As’ad tampil di depan, dan habis-habisan melawan pengikut partai yang berbasis sosialis itu.

“Sedangkan mengenai khittah NU, Kiai As’ad bersama Kiai Ahmad Shiddiq mengawal tegaknya khittah, dan dari situ warga NU dipersatukan,” lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)


Sumber: nu.or.id
Pandangan Mbah Maimoen soal Fenomena Belajar Islam dari Terjemah dan Internet

Pandangan Mbah Maimoen soal Fenomena Belajar Islam dari Terjemah dan Internet


Tidak terpungkiri, saat ini tidak sedikit Muslim yang belajar Islam melalui karya terjemahan dan internet. Hal ini turut mempengaruhi karakter Muslim tersebut dalam memahami Islam sehingga menjadi perhatian tersendiri bagi Mustasyar PBNU, KH Maimoen Zubair.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menilai bahwa zaman sekarang memang sudah berubah. Banyak orang yang sudah masuk pada era terjemah. Banyak orang paham Islam lewat terjemah, malah terkadang orang yang hafal Al-Qur’an tidak tahu artinya.

“Dulu kalau ada orang hafal Al-Qur’an itu pasti orang alim,” ujar Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi 11/Tahun XXXVIII/November 2016, halaman 41.

Fenomena belajar dari terjemah dan internet menurut Mbah Maimoen memberikan pelajaran bahwa masyarakat harus tahu mana yang baik dan tidak. Jangan berkiblat dari terjemah Al-Qur’an atau terjemah kitab, apalagi pada internet yang tak jelas referensinya.

Kiai kelahiran Rembang 28 Oktober 1928 ini juga mengingatkan bahwa saat ini sudah memasuki akhir zaman. Orang Islam pintar-pintar karena pakai huruf latin atau terjemah. Menurutnya, jarang sekali bahkan tidak ada orang yang menulis skripsi dengan Bahasa Arab, andalannya selalu huruf latin.

“Semua itu sudah digambarkan sebelum manusia diciptakan. Jika tidak mengikuti segala aturan qadla Allah, maka cari Tuhan yang lain. Kita harus bisa menyesuaikan. Yang baru harus kita terima, tapi yang dulu harus kita pertahankan,” tandas kiai sepuh berumur 88 tahun ini. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
KHR As’ad Syamsul Arifin Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

KHR As’ad Syamsul Arifin Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional


Gelar Pahlawan Nasional tahun ini akan dianugerahkan kepada tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KHR As’ad Syamsul Arifin di Istana Negara hari ini, Rabu (9/11).

Keterangan yang diterima NU Online, KHR As’ad Syamsul Arifin dianugerahi Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 tanggal 3 November 2016 yang menetapkan Keputusan Presiden tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Negara menilai bahwa KHR As’ad Syamsul Arifin semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

KHR As'ad Syamsul Arifin lahir tahun 1897 di Mekkah dan wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur. Kiai As'ad merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo.

Kiai As'ad merupakan putera dari Raden Ibrahim dan Siti Maimunah. Kedua orang tuanya berasal dari Pamekasan, Madura. Ayah dari Kiai As'ad, yakni Raden Saleh lebih dikenal dengan sebutan KH Syamsul Arifin. Dia masih keturunan dari Sunan Ampel. Sedangkan ibunya, Siti Maimunah, masih keturunan dari Pangeran Ketandur yang merupakan cucu Sunan Kudus.

Kiai As’ad menduduki jabatan terkahir di PBNU sebagai Mustasyar (Dewan Penasihat). Beliau juga termasuk salah satu tokoh pendiri NU dan pernah menjadi Anggota Konstituante (1957-1959). (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud

Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud


Raja Kisra yang terkenal adil suatu kali harus menyelesaikan kasus “aneh” dua pria yang sedang bersengketa. Dikatakan aneh karena keduanya berselisih bukan karena sedang berebut kekayaan, melainkan sebaliknya: berebut saling menolak kekayaan.

Kisah persengketaan keduannya dimulai ketika seorang pria membeli rumah dari pria lainnya. Tanpa dinyana, di dalam rumah itu terdapat harta simpanan. Si pembeli yang merasa hanya membeli bangunan rumah (bukan sekaligus isinya) pun menemui penjual dan berniat mengembalikan harta yang ia nilai bukan haknya.

“Saya menjual rumah, dan tak tahu kalau ada harta simpanan di dalamnya. Harta ini berarti milikmu,” si penjual rumah menanggapi.

Si pembeli pun berontak, “Kamu harus mengambil harta ini karena memang di luar barang yang seharusnya saya beli (yakni rumah).”

Dari sini, perdebatan saling menolak klaim kepemilikan harta berlangsung panjang. Hingga akhirnya kasus sampai ke tangan Raja Kisra untuk mendapat penyelesaian hukum secara adil.

Setelah mendengarkan kronologi masalah, Kisra bertanya, “Apakah kalian memiliki anak?”

“Hamba punya anak laki-laki dewasa,” jawab si penjual rumah.

“Hamba punya anak perempuan dewasa,” tutur si pembeli rumah.

“Saya perintahkan kalian saling menjodohkan anak-anak kalian, sehingga terbangunlah hubungan kekerabatan. Selanjutnya, infakkan harta yang kalian perselisihkan itu kepada sepasang pengantin ini untuk kemaslahatan keluarga mereka,” instruksi Raja Kisra. Perintah ini dilaksanakan dan persengketaan aneh itu pun selesai tanpa menyisakan masalah.

Kisah ini termaktub dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi. Drama tersebut menampilkan campuran antara kezuhudan, infak, dan kecerdikan dalam memutuskan perkara.

Persengketaan dua pria tersebut seolah menyindir sikap orang kebanyakan yang lazimnya mencintai kekayaan. Dengan cara yang sama-sama mudah, sebetulnya salah satu dari kedua orang itu bisa mendapatkan sebuah keuntungan. Namun, sikap zuhud mereka mengubah perkara yang “semestinya sederhana” tampak kian runyam. Karena sangat berhati-hati, mereka berebut tidak mau mengklaim kekayaan yang bagi mereka masih abu-abu status hukumnya.

Meski bentuk kasus berbeda, persoalan yang mirip dengan cerita di atas kerap kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Namun, apakah seseorang bisa bersikap selayak kedua pria zuhud itu atau tidak, kembali kepada pribadi masing-masing dalam memaknai hakikat kekayaan dan hidup yang fana ini. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Habib Luthfi Bin Yahya: Bertikai Terus? Kita Malu pada Allah dan Rasulullah!

Habib Luthfi Bin Yahya: Bertikai Terus? Kita Malu pada Allah dan Rasulullah!


Sebagai kalimat penutup dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Konferensi Internasional Bela Negara hari pertama, Pekalongan 27 Juli 2016, beliau menyampaikan pesan inti dari maksud terselenggaranya konferensi tersebut. Dikatakannya bahwa strategi dakwah di setiap negeri-negeri Islam jelas berbeda. Terikat pada jenis madzhab yang dipegang oleh tiap negara tersebut. Tiap negara punya kekurangan dan kelebihan. Diantara negara itu sendiri terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa, adat-istiadat yang berbeda.

Peranan apa yang harus kita lakukan di dalam dakwah bagi negeri masing-masing? Apakah bisa kita mampu membangun intelektualitas, terutama berdasar al-Quran dan hadits yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan masa kekinian.

Kalau kita bicara tentang khilafiyah, tentu akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Kita melulu bertikai tentang Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sampai kapan? Kita berputar-putar dalam perdebatan sementara negeri lain sudah maju. Baik dalam ilmu kedokteran, pertanian, nuklir, teknologi, belum lain-lainnya. Padahal semua ilmu tersebut ada di dalam kitab suci kita sendiri, al-Quran.

Betapa lucunya, ketika kita minum obat, kita baca Basmalah. Sedangkan yang membuat obat tersebut mungkin tidak paham apa itu Basmalah. Apa upaya kita agar yang membuat obat tersebut mengucap dan memahami Basmalah. Bagaimana kita bisa demikian? Lalu sampai kapan kita akan terus-menerus bertengkar tentang perbedaan?

Saya berharap, fakultas terbesar dalam kedokteran harusnya ada di Indonesia, Suriah, atau dimanapun negara kaum Muslimin. Sampai kita harus paham ilmu atom, ilmu-ilmu sains lain, yang semuanya sebenarnya ada di dalam al-Quran. Saya selalu saja sedih jika mendengar pertikaian pendapat umat Islam atas hal-hal khilafiyah. Kita malu. Malu kepada siapa? Kepada Allah dan Rasulullah! Ini suatu pukulan yang harus kita sadari.

Maka kami harapkan Konferensi ini menghasilkan manfaat, berupa kesadaran dan gerakan tentang hal ini, yang bisa kita bawa kembali ke tempat masing-masing. Karena hal tersebut juga termasuk dalam Bela Negara.

Source: www.habiblutfi.net
Ketika Menteri Susi Bicara Islam Moderat dan Ekstremisme

Ketika Menteri Susi Bicara Islam Moderat dan Ekstremisme


Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti mengharapkan Islam yang moderat di Indonesia yang menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, perlu dijaga.

“Indonesia juga perlu konsiten menjaga sistem moderasi karena kalau sampai lengah dapat menyebabkan ekstremisme. Tidak ada yang menginginkan ini terjadi,” kata Susi dalam Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum/WPF) ke-6 di Jakarta, Kamis (3/11).
Dia menilai Indonesia, yang lebih dari 80 persen penduduknya beragama Islam, terbukti mengakomodasi perbedaan dengan baik.

“Ini adalah tugas kita bersama meyakinkan bahwa tidak ada yang menganggu, mengacaukan, memengaruhi atau memicu ancaman terhadap perdamaian dan kemoderatan. Ekstremisme tidak boleh tumbuh di negeri ini,” tegas Susi.

Indonesia juga wajib mempromosikan kemoderatan sekaligus mendukung setiap negara menjalankan kedaulatan dalam menyejahterakan rakyatnya, mengingat salah satu ancaman ekstremisme muncul akibat kondisi ekonomi yang buruk seperti pada negara yang gagal menyediakan kebutuhan dasar warganya.

Susi berpesan, setiap negara bangsa harus mampu menjaga komunikasi untuk bekerja sama mengentaskan kemiskinan dan membangun pondasi ekonomi dunia.

“Kalau saling menghargai dan toleransi terjadi, negara dapat menyejahterakan keluarga dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda untuk memahami perbedaan dan belajar toleransi,” kata Susi.

Source: www.nu.or.id
Belajar dari Ketawadhuan Mbah Dullah Kajen

Belajar dari Ketawadhuan Mbah Dullah Kajen


KH Abdullah Salam adalah seorang Ulama kharismatik asal Kajen, Pati, Jawa Tengah. Kharisma beliau membuat semua kalangan, mulai dari masyarakat bawah sampai dengan para pejabat dan pengusaha, menaruh hormat kepadanya. Bahkan sekelas Presiden Gus Dur yang ketika itu baru saja dilantik, harus menyempatkan diri secara khusus untuk sowan kepada Kiai yang oleh masyarakat Pati tersebut akrab disapa dengan panggilan Mbah Dullah.

KH Imam Aziz, salah satu Ketua PBNU yang juga santri beliau pernah bercerita. Dulu, karena mungkin ada suatu halangan, pernah Mbah Dullah datang terlambat di suatu acara resepsi. Sebagaimana lazimnya ketika seorang Kiai datang, tuan rumah akan menyambut dan mempersilakan sang Kiai untuk duduk di kursi paling depan. Hal itu semata-mata dilakukan sebagai bentuk penghormatan.

Waktu itu, suasana di lokasi resepsi sudah ramai dengan para tamu undangan. Seluruh tempat duduk telah penuh ditempati. Hanya beberapa barisan belakang dan barisan paling depan saja yang masih kosong. Barisan depan memang sengaja kosong karena biasanya diperuntukkan bagi Kiai dan orang-orang yang dituakan, termasuk Mbah Dullah ini.

Ketika Mbah Dullah "rawuh", tuan rumah pun menyambut, menggandeng dan mempersilakan beliau untuk menempati kursi bagian depan yang memang telah disediakan. Namun Mbah Dullah menolak. Beliau malah mengambil tempat duduk di belakang bersebelahan dengan para tamu biasa.

Hal itu kontan membuat tuan rumah kebingungan dan mencari berbagai cara untuk membujuk Mbah Dullah agar "kerso" menempati tempat duduk di depan. Namun tak ada satupun cara yang berhasil. Mbah Dullah memilih untuk tetap tidak beranjak dari tempat duduknya sampai akhir acara.

Dari sikap tersebut, nampaknya Mbah Dullah ingin mengajarkan kepada kita semua bahwa setinggi apapun derajat kita, tak usahlah merasa istimewa dan juga berharap untuk diperlakukan istimewa. Sejatinya semua manusia adalah sama, tak ada yang lebih unggul dari yang lainnya. Rasa lebih unggul adalah salah satu bentuk dari kesombongan. Dan satu sifat itulah yang amat sangat dikutuk oleh Allah SWT.

Kita bisa bercermin dari kisah iblis yang pada akhirnya mendapatkan laknat dari Allah SWT. Diriwayatkan bahwa pada awal mulanya Iblis adalah hamba yang sangat taat. Bahkan saking taatnya, tak ada satu jengkal tempat pun di alam semesta ini yang tidak pernah digunakan iblis untuk bersujud, semuanya pernah digunakan iblis untuk bersujud kepada Allah selama ribuan tahun. Namun ketaatan iblis sekian lama itu, tak ada artinya karena telah habis dilumat api kesombongan.

Semoga kita bisa meneladani sikap rendah hati Mbah Dullah, sembari terus berdoa agar Allah menghindarkan kita dari sifat sombong dan merasa unggul ataupun benar dibanding yang lain. (Syauqi)

Sumber : nu.or.id
Surat Terbuka Bagi Mereka yang Sedang Bersedih

Surat Terbuka Bagi Mereka yang Sedang Bersedih


Manusia tak pernah lepas dari ujian dan cobaan. Sekarang ini, mungkin diantara kita ada yang sedang kesusahan, merasakan sakit ataupun tertimpa musibah.

Jika kita termasuk diantara mereka yang bersedih, maka ingatlah hal ini :



1) Ingatlah firman Allah,



وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS.al-A’raf:156)



2) Ingatlah firman-Nya,



لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS.at-Taubah:40)



3) Ingatlah firman-Nya,



إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِين

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS.al-A’raf:56)



4) Ingatlah firman-Nya,



إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS.al-Baqarah:214)



5) Ingatlah firman-Nya,



وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS.at-Thalaq:2)



وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS.at-Thalaq:4)



6) Ingatlah firman-Nya,



إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.asy-Syarh:6)



7) Ingatlah firman-Nya,



وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS.asy-Syuara’:80)



Mintalah pertolongan dari-Nya dan jangan pernah putus asa. Letakkan keyakinan ini sebagai pegangan hidup kita,



لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

“Mungkin saja Allah mengadakan (menyiapkan) hal yang baru setelah itu.”(QS.at-Thalaq:1)



Semoga Allah menghapus kesedihan dan memudahkan masalah-masalah kita.

Source: www.khazanahalquran.com
close
Banner iklan disini