Menyegarkan Kembali Semangat Ber-NU

Menyegarkan Kembali Semangat Ber-NU



WartaIslami ~ Mulai 2010, pengaderan menjadi salah satu program prioritas NU mengingat adanya tantangan baru yang dihadapi terkait dengan situasi yang berubah. Hingga kini, proses pengaderan terus berjalan dengan massif. Pada era awal 2010 lalu itu, pengaderan bersifat nasional dengan peserta dari perwakilan tingkat provinsi. Para kader terlatih di tingkat provinsi ini kemudian menjadi instruktur yang bertugas melakukan pengaderan di tingkat bawahnya.

Dengan demikian pengaderan bisa dilakukan secara berjenjang dan terstruktur secara rapi. Di Jawa Timur dan beberapa daerah di Jawa Tengah, pengaderan tersebut sudah mencapai level MWCNU atau badan otonom di level cabang. Program ini terus diperluas bagi pengurus atau warga yang belum sempat mengikutinya, mengingat terbatasnya kuota dalam satu kali pengaderan dan besarnya minat untuk mengikuti proses tersebut.

Disiplin dan kemandirian menjadi penekanan program ini. Selama proses pengaderan yang berlangsung sekitar tiga hari, seluruh peserta harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Jika tidak memenuhi unsur kehadiran, mereka dianggap gugur atau tidak lulus dalam pengaderan ini. Kemandirian berarti bahwa penyelenggaraan kegiatan ini sepenuhnya ditanggung oleh peserta sendiri. Karena itu, mereka harus membayar biaya tertentu agar bisa mengikuti kegiatan ini. Hal ini sekaligus untuk menguji, seberapa jauh mereka berani berkorban untuk kepentingan organisasi sebelum meminta orang lain untuk berkorban. Hal ini sekaligus menunjukkan, komitmen mereka bagi NU bukan sekedar wacana, tetapi juga terbukti dengan aksi nyata.

Setelah kegiatan pengaderan selesai di kelas, dilanjutkan dengan program lanjutan yang disesuaikan dengan masing-masing daerah. Salah satu program yang paling massif dan cukup berhasil adalah penggalangan dana Koin NU untuk mendorong kemandirian operasional organisasi. Kesuksesan program penggalangan dana ini menjadikan banyak daerah ingin mengetahui cara-cara mengorganisir warga NU dengan lebih baik.

Urgensi pengaderan dalam era kekinian adalah semakin beragamnya gerakan keagamaan di Indonesia. Zaman dahulu, identitas Islam di Indonesia dengan mudah dapat dipilah-pilah dengan tegas antara satu kelompok dengan kelompok lain. Kini, banyak sekali varian gerakannya. Mereka yang mengklaim sebagai gerakan aswaja juga berjibun. Bahkan ada kelompok-kelompok kecil merasa sebagai pemilik sah kebenaran tafsir agama. Warga NU perlu tahu apa membedakan antara NU dengan organisasi lainnya atau apa beda Aswaja an Nahdliyah dengan klaim aswaja lainnya. Dari sini mulai dikenalkan apa itu NU yang sebenarnya, ajaran keagamaannya, ciri khususnya, pandangannya terhadap nasionalisme, dan hal-hal lainnya. Semuanya dikupas secara tuntas.

Para peserta merasa mendapat pencerahan setelah mengikuti pengaderan ini. Dari obrolan dengan NU Online, mereka mendapat pemahaman baru tentang NU dan merasa dikuatkan ideologi ke-NU-annya. Selama ini sebagian besar mereka mengenal NU karena menjalankan amaliyah NU. Kini mereka dikenalkan mengapa harus mengikuti NU bukan hanya secara amaliyah saja, tetapi juga harus meningkat dalam gerakan organisasi.

Mereka yang ikut pengaderan ini bukan hanya remaja atau pemuda, tetapi juga warga NU dengan kategori senior, termasuk para syuriyah NU di beberapa daerah. Mereka rela meninggalkan kesibukannya selama bebeapa hari untuk mendapatkan penyegaran tentang ke-NU-an setelah selama ini disibukkan mengajar mengajar mengaji atau mencari nafkah. Ini secara jelas menunjukkan ghirah untuk ber-NU sangat besar.

Tentu saja, keberhasilan pengaderan yang terlihat dari antusiame warga NU di berbagai level untuk mengikuti karena metode kesesuaian materi yang dibutuhkan, metode pengajaran yang pas dan terutama dampak yang dihasilkan setelah pengaderan berupa aktivitas NU yang lebih hidup di daerah-daerah yang yang pengurusnya sudah dilakukan penyegaran. Promosi dengan cara getok tular menjadi saran yang efektif di lingkungan NU.

Keberhasilan proses pengaderan di kantong-kantong NU harus dilanjutkan di daerah-daerah lain di mana komunitas NU masih perlu diperkuat dan dikembangkan. Daerah-daerah di luar Jawa yang amaliyah ibadahnya berciri khas NU tetapi belum mengidentifikasi diri secara kuat sebagai warga NU bisa menjadi prioritas. Tantangan yang ada kini adalah, menjalankan amaliyah saja tidak cukup jika tidak disertai dengan jamiyah yang kuat. Kata-kata bijak yang sudah dipahami secara luas, mereka yang bisa mengorganisir diri dengan kuat akan menjadi pemenang.

Melalui pengaderan ini, penguatan jamiyah NU akan terus berlangsung, menyesuaikan diri dengan zaman baru dengan tantangan barunya. Karakter generasi millennial yang terlahir di zaman internet ini tentu sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Merekalah yang akan menjadi pemimpin NU pada era 20-30 mendatang. Kemampuan untuk meader dan menanamkan ideologi NU hari ini akan menentukan masa depan NU. (Ahmad Mukafi Niam)


Resource Berita : nu.or.id
Doa, Tatakrama, dan Cara Bersuci saat Buang Air

Doa, Tatakrama, dan Cara Bersuci saat Buang Air



WartaIslami ~ Selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang yang buang air, yakni:

  1. Tidak buang air sembarangan, khususnya di tempat berteduh, tempat berkumpul manusia, di bawah pohon yang sedang berbuah, di jalanan, di lubang hewan, dan lainnya. Karena hal tersebut berpotensi merugikan manusia dan makhluk lainnya, sedangkan Islam mengajarkan untuk tidak merugikan siapa pun.
  2. Haram hukumnya menghadap atau membelakangi arah kiblat apabila buang air di tempat terbuka. Adapun bila dilakukan di tempat tertutup yang disediakan khusus untuk buang air semisal toilet, maka hukumnya makruh.
  3. Menggunakan tangan kiri saat bersuci (cebok)


Adapun praktik buang air dan bersuci sesudahnya sesuai tuntunan Rasulullah ialah:

1) Saat hendak masuk toilet berdoa:

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Bismillâhi Allâhumma innî a’ûdzu bika minal khubutsi wal khabâitsi

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan iblis jantan dan betina.”

Hikmah doa ini adalah meminta perlindungan dari Allah agar kita terhindar dari Iblis betina dan jantan yang sering membuat kita was-was dalam bersuci, menggoda kita dengan khayalan yang tidak baik saat masuk toilet, dan agar Allah menjaga alat kelamin kita dari perbuatan keji lagi hina, yakni zina.

Doa ini diucapkan saat kita hendak masuk tolet, namun posisi kita masih berada di luar toilet, karena begitu kita sudah masuk toilet, maka kita tidak boleh lagi mengucapkan ucapan-ucapan agung seperti nama Allah, nama Rasul, ayat Al-Qur’an, dan doa-doa.

Perlu diingat bahwa toilet merupakan tempat manusia membuang kotoran, sehingga tidak layak dijadikan tempat mengucapkan ucapan-ucapan yang agung. Ketidaklayakan ini berlaku pula di tempat tidak baik lainnya seperti di penampungan kotoran hewan dan lain-lain.

2) Masuk toilet dengan mendahulukan kaki kiri.

3) Membuang kotoran kita pada lubang kakus, bukan di dinding atau di lantai toilet.

4) Duduk saat buang air kecil, apalagi buang air besar.

5) Mentuntaskan keluarnya kotoran. Ada kalanya dengan berdehem-dehem, atau dengan mengelus alat kelamin atau perut kita dengan tujuan melancarkan dan menuntaskan keluarnya kotoran.

Di antara hikmah melakukan hal ini adalah agar kita terhindar dari penyakit akibat masih adanya sisa kotoran dalam tubuh kita yang belum terbuang, dan agar kita terhindar dari rasa was-was. Seringkali pasca buang air kita merasa was-was seolah kotoran keluar lagi dari tubuh kita.

Tindakan ”menuntaskan” ini merupakan bagian dari upaya kita untuk menghindari was-was tersebut.

6) Melakukan istinja’ (cebok) menggunakan tangan kiri. Ada tiga macam cara melakukan istinja, yakni:


  • Dengan menggunakan tiga buah batu atau bisa diganti dengan tiga lembar tisu. Namun apabila masih belum bersih, maka ditambah lagi hingga ganjil, lima atau tujuh dan seterusnya.
  • Ini dilakukan apabila tidak ada air, atau ada air yang tersedia, namun disediakan untuk minum.
  • Dengan menggunakan air
  • Menggunakan tiga lembar tisu terlebih dahulu, dan diakhiri dengan menggunakan air. Cara istinja yang ketiga ini adalah yang terbaik.


7) Keluar toilet membaca doa:

غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلهِ الذي أَذْهَبَ عَنِّيْ الْأَذَى وَعَافَانِيْ اللهم اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ

Guhfroonaka alhamdulillahi alladzi adzhaba ‘anni al-adza wa ‘aafaani. Allahumma ij’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathohhiriin. Allahumma thohhir qolbi minan nifaaqi wa hashshin farji minal fawaahisyi

“Dengan mengharap ampunanmu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari tubuhku, dan mensehatkan aku. Ya Allah, jadikanlah aku sebagian dari orang yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagian dari orang yang suci. Ya Allah, bersihkan hatiku dari kemunafikan, dan jaga kelaminku dari perbuatan keji (zina).”

Ketika berada di kamar mandi, barangkali ada kesalahan yang kita perbuat semisal tidak sengaja menghayalkan hal yang tidak-tidak dan lain sebagainya, oleh karenanya saat keluar kita meminta ampunan pada Allah, dilanjutkan dengan bersyukur pada Allah yang telah menghilangkan penyakit dan kotoran dari diri kita, sambil tidak lupa memohon agara Allah menjadikan kita sebagai orang yang baik dan menjaga kita dari perbuatan tercela.

Disarikan dari:
Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 51
As-Suyuthi, Jami'ul Ahadits, juz 33, hal. 220

(Muhammad Ibnu Sahroji)


Resource Berita : nu.or.id
Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil

Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil



WartaIslami ~ Penduduk Mesir pribumi banyak dikenal sebagai orang cerdik dalam bersiasat. Diperkirakan karena di antara mereka banyak yang mempunyai garis keturunan Bani Israil. Di antara kecerdikannya ini dirasakan pula oleh Prof. Nizar Ali yang sekarang menjabat sebagai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag.

Dahulu, dalam salah satu kunjungannya ke Mesir, Prof Nizar ingin berziarah ke makam Syekh Zaki Ibrahim. Seorang penganut ajaran tasawuf, pemuka tarekat Syadziliyyah yang sangat disegani.

Karena belum tahu lokasi makam, Prof Nizar bertanya kepada salah satu anak kecil.

"Dik, makam Syekh Zaki Ibrahim terletak di mana ya?" tanyanya dengan bahasa Arab.

Tak segera menjawab, si anak kecil ini berlagak seperti simsar (makelar). Ia mengajukan satu syarat. Untuk menunjukkan arah yang diminta Prof Nizar, anak kecil ini meminta uang sejumlah 10 pounds atau setara sekitar Rp.25.000,-.

Khawatir dibohongi, Nizar memberikan pertanyaan untuk memastikan bahwa ia tidak akan ditipu anak-anak?

"Benar ya kau tunjukkan mana makamnya?

Anak kecil ini pun mengiyakan dengan serius, namun ia meminta uang segera dibayar di depan terlebih dahulu.

Setelah diterimakan dengan baik, si anak memandu para orang tua dari luar negeri Mesir ini. Ia berjalan di bagian depan.

Yang mengagetkan bagi Nizar adalah ternyata ketika anak itu baru berjalan beberapa langkah ke depan dengan menapaki jalan yang menurun, anak itu pun dengan enteng menunjuk makam yang dimaksud oleh Prof Nizar.

"Itu," katanya ringan sambil melempar senyum indahnya, tanda bahagia mendapat upah lumayan.

Sangat jauh dari angan. Bayangan Prof Nizar, dengan uang 10 pounds mereka akan ditunjukkan di lokasi yang cukup jauh. Tapi ternyata hanya beberapa langkah ke depan saja. Perasaanya geli. Bukan menyesali uang yang telah ia berikan, tapi kecerdikan orang Mesir ini memang cukup jitu. Ia seolah diakali oleh anak-anak, meskipun cara mereka mengakali dengan model demikian itu sah-sah saja. (Ahmad Mundzir)


Resource Berita : nu.or.id
Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks



WartaIslami ~ Ujian dan cobaan bisa mimpa siapa saja bahkan ulama hebat sekalipun, bahkan Nabi sudah terbiasa dengan berbagai macam teror, ejekan, dan tuduhan-tuduhan hoaks. Nah, hoaks itu pun pernah dialami oleh ulama kelas top dunia, Imam Syafii rahimahullah. Hal naas tersebut hampir saja menghilangkan nyawa sang cucu Idris.

Imam Syafii atau Abu Abdillah Muhamad bin Idris (150 H / 767 M) merupakan sosok ulama yang baik budi pekertinya. Pun demikian, akhlak yang baik tidak selamannya memperoleh respon yang baik pula. Peristiwa tersebut dialami Imam Syafii saat berada di Yaman. Sudah jadi kebiasaan Imam Syafii, diamanpun selalu berusaha memberikan banyak wawasan keilmuan. Agenda perubahan tersebut terus memperoleh tanggapan positif dari banyak masyarakat dan akademisi, bahkan penguasa Yaman kala itu.

Terang saja, capaian dan prestasi selalu tidak melegakan dan membuat sebagian oknum tidak terima atas penghormatan yang diperoleh guru Imam Ahmad bin Hambal ini. Orang-orang yang tidak suka tersebut mengatur siasat dengan membuat laporan yang tidak benar kepada kholifah Harun ar-Rosyid. Mereka mengadukan, bahwa “murid Imam Malik ini sebagai pendukung Abdullah bin al-Mahdli al Mutsanna bin Husein putra Ali kw dan Fatimah ra, cucu rasulullah SAW (alawiyyin)”.

Nah, berita hoaks tersebut berhasil mendorong Harun ar-Rosyid mengeluarkan surat perintah pengamanan dari segala sesuatu yang disinyalir sebagai gerakan separatis kepada pemimpin Yaman. Agar wali Yaman menyerahkan dan memboyoh kelopok alawiyin ke Bagdad. Karena di bawah kekuasaan kholifah, para sindikat separatis dan pemberontak tersebut ditangkap serta diborgol dan digiring ke istana Harun ar-Rasyid, termasuk murid dari murid Abu Hanifah ini pula alias Imam Syafii.

Setelah tiba di hadapan sang Kholifah, gerombolan yang yang didakwa pemberontak satu persatu dimasukkan di sebuah ruangan tertutup dan dipenggal kepalanya. Semua yang sudah terdata sebagai kelompok perongrong kekuasaan diekseskusi jagal istana. Melihat itu, Imam Syafii diselimuti rasa cemas dan khawatir atas nasib dirinya. Lantas Imam Syafii berdoa dengan membaca:

“اللهم يالطيف اسألك اللطف فيما جرت به المقادير “ dan doa ini dibaca berulang-ulang sampai tiba giliran pelopor madzhab Syafiiyah ini.

Dengan keadaan terbelenggu Imam Syafii diminta menghadap ke kholifah, lantas dengan tenang terjadi obrolan:

Imam Syafii: “Assalamu alaika Ya Amirol Mukminin ...wabarokatuh “ (tanpa warahmatullah).

Harun ar-Rasyid: “Wa alaikas salam warohmatullahi wa barokatuh ! kamu memulai sesuatu sunnah yang tidak ada perintahnya, sementara saya menjawab salam sebagaimana seharusnya. Dan heran, beraninya engkau mengatakan sesuatu tanpa perintah dariku?! (sergah Kholifah)”

Imam Syafii: “Sesungguhnya Allah telah berkata dalam kitabnya,

“وعد الله الذين امنوا منك وعملواالصالحات ليستخلفنهم في الارض كمااستخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم امنا “ (An-Nur: 55).

Dan Dialah Dzat saat telah berjanji, pasti menepati, dan Dialah pula yang telah menempatkan (memberikan kedudukan) engkau di buminya, dan telah memberikan keamanan kepadaku saat aku khawatir, pada saat engaku menjawab salam  dengan “wa alaika wa rohmatullah (dan atasmu keselamatan dan rohmat Allah)”, dan tentu Rahmat Allah telah menanungiku melalui anugerahmu (garansimu) wahai Amirul Mukminin ?”

Harun Ar-Rosyid: “Ok, Lantas apa alasanmu perihal telah nampak bahwa temanmu (Abdullah bin Hasan) telah sewenang-wenang (berontak) begitupun para pengikutnya, sementara engkau jadi pemimpinnya?!”

Imam Syafii: “Oh, begini! kalau maksud engkau hendak menginterogasi (mengkonfrmasi) saya, dan tentu saya akan bersikap adil dan jujur apa adanya,akan tetapi kalau keadaan saya terborgol dan terbelenggu begini, njjih susah untuk berbicara wahai Amirul Mukminin, pripun ? dan sampon khawatir kalau saja akan bersikap tidak fair dengan anda, So, saya akan bersikap tunduk dengan duduk sambil berlutut dihadapanmu!”

Mendengar permintaan tersebut Harun ar-Rasyid menoleh dan meminta putranya untuk melaksanakan permohonan yang diajukan oleh Imam Syafii. Dalam kondis berlutut, Imam Syafii berucap,

“ياايهاالذين امنوا ان جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا “ (Al-Hujurat: 6)

Hanya Allah, bahwa apa yang telah orang tersebut (pendengki) telah memprovokasi anda dengan berita yang anda terima, ketahuliah bahwa kehormatanku ialah kehormatan islam dan keturunan (orang) biasa, cukup itu yang jadi perantara saya selama ini, sementara engkau lebih berhak mengambil adab-adab dalam kitab Allah. Karena anda adalah putra dari paman Rasulullah SAW yang pembela agama dan penjaga ajaran-ajaranya.

Pengakuan Imam Syafii membuat Harun ar-Rasyid bertepuk tangan seraya berkata : “agar supaya deritamu berkurang dan longgar jiwamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang akan merawat kerabatmu dengan hak-haknya begitupun ilmu yang kamu miliki. Sang Kholifah meminta Imam Syafii untuk duduk dengan nyaman. Lantas Harun ar-Rasyid bertanya:

Harun ar-Rasyid: Bagaimana Ilmumu (wawasanmu) wahai Syafii, terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, keduanya sesuatu hal yang pertama dan utama untuk dimengerti?”

Imam Syafii: “Kitab yang mana yang anda maksudkan wahai amirul mukminin, sementara banyak kitab yang telah diturunan oleh-Nya?” (timpal Syafii pede) (olahan penterjemah)

Harun ar-Rasyid: “Bagus! tentu saja, yang saya maksudkan adalah kitab yang telah diturunan kepada putra pamanku Muhammad SAW, wahai Syafii?” (jelas Harun)

Imam Syafii: “Ohh, begitu ya! Ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an sungguh banyak, apakah anda hendak tahu muhkam, mutasyabih, taqdim, ta’khir atau tentang nasikh, mansukh, dan lain-lain.  Tanpa banyak basa-basi, Imam Syafii menerangkan dengan seksama wawasan tentang Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, hingga seluruh yang hadir takjub dan terpesona (heboh).

Kemudian, Harun ar-Rasyid merubah ke pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai disiplin ilmu: falak, kedokteran, dan ilmu psigonomi (firasat) dan semacamnya. Dan pertanyaan apapun yang ditujukan padanya berhasil dijawab dengan baik dan maksimal oleh Imam Syafii hingga membuat Harun ar Rasyid (Kholifah) gembira dan bahagia.

Lantas, kholifah meminta nasehat untuknya. Imam Syafii pun memberikan nasihat kepada Harun ar-Rasyid, hingga membuat hati kholifah gemetar dan menangis tersedu-sedu. Meskipun para sebagian punggawa istana masih kurang terima, namun Imam Syafii tetap melanjtkan permohonan nasehat oleh Kholifah. Dan akhirnya, Imam Syafii terbebas dari segala tuduhan hoax dan fitnah dari orang-orang yang tidak suka kepadanya dan selamatlah dari eksekusi. ( والله اعلم بالصواب ). Al-fatihah.

Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hdayatullah Jakarta.


Resource Berita : nu.or.id
Khusus Pemuda Muslim, KH Ma’ruf Amin Ingin Kalian Ikut Banser. Mengapa?

Khusus Pemuda Muslim, KH Ma’ruf Amin Ingin Kalian Ikut Banser. Mengapa?



WartaIslami ~ Rais Aam PBNU KH Maruf Amin menganjurkan anak-anak muda Muslim untuk tidak berdiam diri di tengah gerakan-gerakan keislaman. Kiai Ma’ruf menyindir anak-anak muda yang tidak terlibat dalam gerakan-gerakan positif manapun.

Kata Kiai Ma’ruf, pemuda NU harus terus bergerak. Pemuda Islam tidak boleh menganggur tanpa terlibat dalam gerakan ke-NUan. Meminjam i‘rab, pemuda harus membongkar bongkar kasus kalimat dalam khazanah ilmu Nahwu.

“Anak muda tidak boleh mabniyyun alas sukun la mahalla lahu minal i'rab (tidak boleh kokoh dalam diam sehingga tidak mengambil posisi di tengah pergerakan),” katanya.

Imbauan sesepuh NU ini disampaikan selepas mengikuti Diklatsar Banser di Garut. Melihat kehebatan Banser Garut, Kiai Ma’ruf berharap pemuda NU juga aktif di Banser.

“Kemarin lalu saya ke Garut, menyaksikan Diklatsar Banser. Anggota mereka sudah 3000. Hebat GP Ansor Garut. Mereka meminta doa kepada saya karena sedang membangun aula untuk beraktivitas,” kata Kiai Maruf pada peluncuran Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Gedung PBNU, Jumat (22/9) malam.

Mereka, kata Kiai Maruf, menargetkan anggota Banser hingga berjumlah minimal 5000 orang.

“Luar biasa saya katakan. Mereka sudah menggarap pemuda hingga tingkat ranting atau desa. Mereka kini sedang bergerak untuk kembali merekrut anggota dan membangun basis di tingkat anak ranting atau tingkat rw.”

Kiai Maruf Amin mengapresiasi para pemuda Ansor dan Banser. “Saya datang mereka minta doa, bukan minta duit. Minta doa, bukan minta duit. Masya Allah,” kata Kiai Maruf.



Resource Berita : dutaislam.com
Makmum Wajib Baca Fatihah di Setiap Rakaat dalam Sholat

Makmum Wajib Baca Fatihah di Setiap Rakaat dalam Sholat



WartaIslami ~ Dalam Madzhab Syafiiyah yang kita ikuti, bagi makmum tetap wajib membaca Fatihah setiap rakaat dan tidak cukup dengan bacaan imamnya. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

 ﻋﻦ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﺑﻦ اﻟﺼﺎﻣﺖ، ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺎ ﺧﻠﻒ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ اﻟﻔﺠﺮ ﻓﻘﺮﺃ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﺜﻘﻠﺖ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻘﺮاءﺓ، ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻗﺎﻝ: «ﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﻘﺮءﻭﻥ ﺧﻠﻒ ﺇﻣﺎﻣﻜﻢ» ﻗﻠﻨﺎ: ﻧﻌﻢ ﻫﺬا ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻗﺎﻝ: «ﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮا ﺇﻻ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﺻﻼﺓ ﻟﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻬﺎ» رواه ابو داود

Kami salat Subuh bermakmum pada Nabi. Lalu Rasulullah  membaca Al-Quran dan bacaan tersebut memberatkan kepada beliau. Setelah selesai, Nabi bertanya: "Apakah kalian juga ikut membaca di belakang imam?" Sahabat menjawab: "Ya wahai Rasul Allah". Nabi bersabda: "Jangan kalian melakukannya kecuali membaca Surat Fatihah. Sebab tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca Fatihah" (HR Abu Dawud).

Dalam Syarah Sunan Abi Dawud yang bernama Aun Al-Ma'bud, Syekh Syamsul Adzim Al-Haq mengutip dari para ulama sebagai berikut:

 ﻗﺎﻝ اﻟﺨﻄﺎﺑﻲ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺻﺮﻳﺢ ﺑﺄﻥ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭاﺟﺒﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺧﻠﻒ اﻹﻣﺎﻡ ﺳﻮاء ﺟﻬﺮ اﻹﻣﺎﻡ ﺑﺎﻟﻘﺮاءﺓ ﺃﻭ ﺧﺎﻓﺖ ﺑﻬﺎ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺟﻴﺪ ﻻ ﻃﻌﻦ ﻓﻴﻪ

Al-Khattabi berkata: "Hadis ini menjelaskan bahwa membaca Fatihah adalah wajib bagi makmum. Baik imam mengeraskan bacaan Fatihah atau melirihkan. Sanadnya bagus, tidak ada cacat di dalamnya"

ﻗﻠﺖ اﻟﻘﺮاءﺓ ﺧﻠﻒ اﻹﻣﺎﻡ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﺳﺮ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺟﻬﺮ ﻫﺬا ﻫﻮ اﻟﺤﻖ ﻭﺇﻟﻴﻪ ﺫﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﻭاﻷﻭﺯاﻋﻲ ﻭاﻟﻠﻴﺚ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻭﺃﺑﻮ ﺛﻮﺭ ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﻋﺮﻭﺓ ﺑﻦ اﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻭاﻟﺤﺴﻦ اﻟﺒﺼﺮﻱ ﻭﻣﻜﺤﻮﻝ

"Saya katakan bahwa membaca Fatihah bagi makmum dalam salat yang imamnya mengeraskan bacaannya atau melirihkan, adalah pendapat yang benar. Inilah pendapat Syafi'i, Ishaq bin Rahuwaih, Auza'i, Laits bin Sa'd, Abu Tsaur. Juga disampaikan oleh (para Tabi'in) Urwah bin Zubair, Said bin Jubair, Hasan al-Bashri dan Makhul".

ﻗﺎﻝ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﺟﺰء اﻟﻘﺮاءﺓ ﻗﺎﻝ اﻟﺤﺴﻦ ﻭﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻭﻣﻴﻤﻮﻥ ﺑﻦ ﻣﻬﺮاﻥ ﻭﻣﺎ ﻻ ﺃﺣﺼﻲ ﻣﻦ اﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﺇﻧﻪ ﻳﻘﺮﺃ ﺧﻠﻒ اﻹﻣﺎﻡ ﻭﺇﻥ ﺟﻬﺮ اﻧﺘﻬﻰ

Al-Bukhari berkata dalam kitabnya "Al-Qira'ah" bahwa Hasan al-Bashri, Said bin Jubair, Maimun bin Mihran dan Tabi'in lainnya yang tak dapat saya hitung dan para ulama, bahwa makmum membacat Fatihah meskipun imam mengeraskan bacaannya".


Resource Berita : dutaislam.com
Ketika Ada Orang Bertamu Minta Nomor Togel Kepada Kiai Hamid Pasuruan

Ketika Ada Orang Bertamu Minta Nomor Togel Kepada Kiai Hamid Pasuruan



WartaIslami ~ Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kiai Hamid. Oleh Kiai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kiai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kiai Hamid dan menang.

Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kiai Hamid. Oleh kiai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kiai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.

Setiap pergi ke manapun Kiai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke Makkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kiai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.

Pada saat Orde Baru, ada orang ingin mengajak Kiai Hamid masuk partai pemerintah. Kiai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kiai Hamid menerimanya dan menandatanganinya.

Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kiai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kiai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.



Resource Berita : dutaislam.com
Gara-Gara Shalawat, Puluhan Santri di Jepara “Masuk” Rutan

Gara-Gara Shalawat, Puluhan Santri di Jepara “Masuk” Rutan



WartaIslami ~ Sudah sekitar sebulan lebih sejumlah santri di Jepara masuk ke Rutan Kelas II B Jepara. Bukan karena mereka melanggar hukum mereka masuk ke rumah para tahanan. Mereka ikut berbagi kebahagiaan bersama para napi dengan melantunkan shalawat dan berbagi pengalaman.

”Sudah menjadi rutinitas setiap Jumat pagi kami berbagi pengalaman di Rutan Jepara,” ujar Ketua Kelompok Santri Pemandu Hadrah Muhammad Miqdad Sya’roni saat sharing di dutaislam#01, Sabtu (23/09/2017.

Selain sharing, kelompoknya bersama para Napi juga shalawatan bersama. ”Mereka penuh semangat walau terkurung dalam deruji besi. Mereka gembira seakan tak punya beban. Semuanya berkumpul bersama untuk sesuatu yang mulia yaitu "Shalawatan",” katanya.

Mikdad mengatakan, manusia tak harus selalu berprasangka buruk. Prasangka buruk menurutnya akan berdampak buruk. Sebaliknya, lanjutnya, berprasangka baik akan berdampak baik kepada dirinya.

”Napi di Rutan jangan lantas kita abaikan. Napi juga manusia seperti kita. Mungkin saat itu mereka sedang khilaf dan melakukan kesalahan sehingga harus dihukum. Biar bagaimanapun mereka adalah saudara kita yang mungkin perlu kita rangkul untuk diajak bertaubat kembali menuju ke jalan Allah,” katanya.


Resource Berita : dutaislam.com
Cara Kiai Mahrus Ali Lirboyo Menghadang Golkarisasi Rezim Orde Baru

Cara Kiai Mahrus Ali Lirboyo Menghadang Golkarisasi Rezim Orde Baru



WartaIslami ~ Mesin politik Orde Baru untuk mengokohkan kekuasaannya adalah Golkar. Dan NU adalah partai terbesar (1971) yang diangap sebagai penghalang utamanaya. Apapun caranya, Golkar harus menjadi partai besar, tiada tandingan. Dan oleh karena itu, NU harus dikerdilkan, apapun caranya. Seluruh aparat pemerintah baik sipil maupun militer berusaha menggolkarkan apa saja, utamanya NU.

Adalah Kiai Mahrus Ali, Rais Syuriah NU Jawa Timur dan pimpinan pesantren Lirboyo Kediri, yang diincar Golkar. Para pejabat tinggi negara berdatangan ke pesantren itu. Laksamana Sudomo termasuk pejabat yang awal-awal datang, dan tidak baen-baen, dia ke Lirboyo membawa mobil baru, untuk dihadiahkan Kiai Mahrus.

Sang kiai mau menerima mobil itu, asal tanpa syarat. Mobil diberikan tanpa syarat apapun.
Tapi suatu ketika pejabat setempat mulai neko-neko ngajak sang kiai masuk Golkar. Maka kiai Lirboyo asal Cirebon itu mengancam akan mengembalikan mobil pemberian Sudomo. Akhirnya Kiai Mahrus tak dipaksa masuk Golkar.

Golkar ngotot. Dicari cara lain dan kasar. Suatu ketika pemerintah memberikan sumbangan aliran listrik untuk penerangan pesantren dan jalan ke Lirboyo. Tapi, menjelang peresmian instalasi listrik itu dipasanglah bendera Golkar sepanjang jalan menuju pesantren. Tentu saja Kiai Mahrus protes mendatangi Kamtib setempat dengan mengatakan:

“Pemasangan listrik ini merupakan sumbangan dari pemerintah bukan Golkar, karena itu bendera Golkar harus dicopot. Kalau pimpinan Golkar tidak mau mencopot, biar para santri yang mencabuti.”

Pihak Kamtib menjawab, “Kalau begitu ya sudah Kiai, bisa-bisa nanti listriknya tidak jadi disambung.”
“Kalau listriknya tidak jadi dipasang, silahkan pohon-pohon yang sudah ditebang sepanjang jalan itu dihidupkan kembali,” blas Kiai Mahrus.

“Wah! Susah bagaimana bisa menghidupkan pohon. Ya kiai, listrik akan tetap disambung dan tetap akan diresmikan oleh para pejabat,“ jawab Kamtib.

Penolakan para kiai terhadap Golkar bukan sikap yang apriori, tapi berdasarkan pengalaman banyak kiai dan warga NU yang diintimidasi, disiksa, dimasukkan penjara bahkan ada yang dibunuh. Ketika Golkar makin agresif dalam menggolkarkan kiai, beberapa Kiai NU seperti Kiai Mustain Ramli Jombang sudah masuk Golkar, juga ada beberapa Kiai NU di jawa Tengah sudah masuk Golkar.

Di Indramayu, Jawa Barat, tokoh NU disiksa, beberapa rumah dan masjid dirusak Angkatan Muda Siliwangi. Intimidasi terjadi merata di kantong-kantong santri, dari Brebes Jawa Tengah hingga Situbondo, Jawa Timur, dari Bekasi hingga Banten.

Untuk menghadapi agresivitas Golkar itu, Kiai Mahrus saat itu berpesan, “Ojo sampek anak turunku mlebu Golkar sampe pitung turunan, nek sampek ning Golkar maka tidak akan panjang umur (jangan sampai keturunanku masuk Golkar sampai tujuh turunan, kalau sampai masuk Golkar maka tidak akan panjang umur).”

Kemudian kiai Lirboyo yang lain juga berpesan, “Poro santriku tak pesen ojo melu-melu Golkar” (para santriku jangan ikut-ikutan Golkar). Peringatan diberikan karena saat itu sedang galak-galaknya Golkar mengintimidasi para tokoh dan warga NU.

Namun demikian Kiai Mahrus menasehatkan pada para santrinya agar tetap mengetahui arah politik sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaidah campuran Jawa Arab, “Man lam ya’rif politik akalaahul politik (barang siapa tidak mengetahui politik, maka akan dimakan politik).”

Memang kebanyakan para kiai menjadi politisi NU. Dengan prinsip yang ditanamkan kiai seperti itu maka pesantren pada umumnya menjadi benteng NU dan benteng ajaran ahlussunnah yang sangat kokoh. (Abdul Mun’im DZ, disadur dari buku Biografi Para Kiai Lirboyo, dan beberapa sumber lainnya)



Resource Berita : muslimoderat.net
Tanpa Pembunuhan, Para Kyai NU ini Mengislamkan Kampung PKI

Tanpa Pembunuhan, Para Kyai NU ini Mengislamkan Kampung PKI



WartaIslami ~ Tahun 1959, KH. Muslim Rifai Imampuro alias Mbah Liem menetap di sebuah kampung ‘abangan’ di daerah Klaten. Selama bertahun-tahun, ia adalah satu-satunya orang di desa itu yang melaksanakan shalat. Maklum, mayoritas penduduk adalah orang awam, sebagian besar simpatisan PKI yang suka menyaksikan pertunjukan drama parodikal dan wayang tentang “kematian Tuhan”.

Yang ia lakukan tidak menentang drama tradisional yang menghina agama tersebut, melainkan mendirikan masjid sederhana. Anak-anak kecil ia ajari Islam. Target antaranya ialah menyiapkan anak-anak itu menjadi generasi Islam masa depan. Sedangkan target utamanya adalah melunakkan hati orangtua mereka dan membuat kampung itu menjadi desa santri.

Maka, tatkala pembantaian kaum komunis terjadi, ia pasang badan melindungi penduduk desa sembari mengatakan dengan lantang di hadapan pasukan pembunuh: “Lho, siapa yang nanti akan shalat di masjidku jika kalian membunuh mereka?”

Setelah berhasil melindungi penduduk desa dari pembantaian massal, Mbah Liem masih harus menghadapi gempuran kekuatan hitam dari alam lain. Alhamdulillah, dengan riyadlohnya, Mbah Liem berhasil menetralisir kekuatan negatif tersebut.

Kisah tersebut saya nukil dari “Urban Sufism”, yang ditulis oleh Martin Van Bruinessen dkk., (hal. 184).

Cara Mbah Liem melindungi umatnya dengan cara yang khas saya kira juga saya dengan yang dilakukan Mbah Kakung saya. Kiai Syafawi, mbah kakung saya, kabarnya, menjadi target bunuh PKI. Bahkan, pusat aktivitas Gerwani lokasinya tidak jauh dari pesantren yang dirintis kakek saya.

Ketika tentara datang ke desa “melakukan pembersihan” di akhir 1966, ibu ibu yang pernah terlibat dalam kegiatan Gerwani merapat ketakutan dan meminta perlindungan ke kakek. Oleh mbah putri saya, ibu ibu ini langsung diminta memakai kerudung (meminjam santriwati) dan diminta mengaku sebagai anggota Muslimat NU agar lolos dari target tangkap TNI AD. Para pemuda dan pengurus PNI juga merapat ke simbah kakung karena khawatir ditangkap karena disangka PKI. Aksi penyelamatan ini kemudian memiliki efek: anak-anak dari perempuan yang disangka Gerwani dan PKI dipondokkan di pesantren simbah. Pakde saya, Pak Matrai, yang pernah aktif di Hizbullah kemudian berdinas di TNI AD bahkan pernah menyebutkan nama-nama mata-mata KNIL di desa kami sekaligus membisikkan nama-nama eks “Anggota Pe-Ka-I” yang anak-anaknya dipondokkan di pesantren simbah.

Selain Mbah Liem dan Kiai Syafawi, kiai pesantren lain juga banyak yang melakukan hal yang sama. Melakukan “penyelamatan” dengan caranya masing-masing. Mereka sadar betul, kalaupun orangtua bersalah, menghukum dan menstigma anaknya bukan tindakan tepat.

####

Mesin skrining Orde Baru sangat kejam. Litsus bergerak mencari anggota PKI maupun yang terlibat kegiatan PKI, sebagaimana Gestapo-nya Nazi mencari jejak-jejak Yahudi untuk dimusnahkan, sebagaimana polisi rahasia Stalin mencari pengikut Trotski untuk dieksekusi. Di era Orde Baru, Sukarnois dan simpatisan PNI juga ikut digulung, sengaja maupun tidak, berdasarkan data maupun hanya berdasarkan asumsi dan fitnah belaka. Sedangkan stigma “anak Pe-Ka-I” dengan kejam menempel kepada siapapun yang ayah, pakde, paklik, bude, kakak, atau siapapun kerabat yang digilas mesin politik Orba. Stigma sosial-kultural ini sangat menyiksa dan menghambat perkembangan psikis dan karier sebagian dari mereka yang dituduh “anak Pe-Ka-I”. Stigma ini telah mengharamkan mereka menjadi birokrat, tentara, hingga politisi.

Dari sekian banyak anak yang terstigma, tersebutlah Okky Asokawati. AKBP Anwas Tanuamijaya, ayah Okky, adalah perwira polisi yang didakwa terlibat G-30S/PKI. Okky masih balita saat ayahnya dipenjara. Ketika masih SD hingga SMA dia kerap dirisak karena status ayahnya. Tapi dia tetap berusaha tegar dan bisa melepaskan masalah tersebut dengan cara fokus pengembangan dirinya pada aspek modelling. Kelak, dia dikenal sebagai model papan atas dan pasca reformasi dia menjadi anggota DPR dari Fraksi PPP, hingga saat ini.

Okky memang tidak sefrontal gaya Ribka Tjiptaning Proletariati, sesama anggota dewan (dari PDI-P), yang dengan berani memilih judul bukunya, “Aku Bangga Jadi Anak PKI”. Namun, kalau boleh dipertautkan, keduanya berjuang melawan stigma masa lalu.

Keduanya masih kecil saat peristiwa G30-S/PKI terjadi, sebagaimana Prabowo Subianto masih menjelang akil balig saat ayahnya didakwa terlibat PRRI/Permesta, sebagaimana pula saat Danu Muhammad Hasan, ayah Hilmi Aminuddin (eks Majelis Syuro PKS), ditengarai sebagai Panglima DI/TII, maupun Andi Muzakkar alias Andi Cakka dan Aziz Qahar Muzakkar berhasil menjadi pejabat di Luwu dan anggota DPD RI meskipun keduanya adalah putra Kahar Muzakkar.

Mereka adalah anak-anak yang belum memahami sepenuhnya peristiwa yang menimpa ayahnya, dan belum mengerti stigma sebagai “anak pemberontak” saat ayahnya terlibat dalam peristiwa dan intrik politik yang membuat keluarganya terstigma negatif.

Mereka bertahan dan bangkit dengan caranya masing-masing sembari tetap berusaha menjadi warga negara yang baik dan tidak mengulang “kesalahan” ayahnya.

Wallahu A’lam Bisshawab

Dishare dari  Rijal Mumazziq Z, aktivis muda NU Surabaya



Resource Berita : muslimoderat.net
Ingin Selamat Badai Fitnah Akhir Zaman? Berpeganglah Ajaran Ulama Ahlil Bait

Ingin Selamat Badai Fitnah Akhir Zaman? Berpeganglah Ajaran Ulama Ahlil Bait



WartaIslami ~ Shaikhuna KH Maimun Zubair mengkhatamkan kitab Risālatul Mu'āwanah karya Sayyid Abdullah AlawiAl-hadad.

Hari selasa sengaja beliau pilih karena bertepatan dengan wafatnya mu'allif kitab.
Disela-sela keterangan ngaji tadi Syaikhina berkata : "Mbah-mbahku, buyut-buyutku iku akeh seg wafat dino seloso(Banyak dari nenek-nenek moyang saya yang diwafatkan dihari selasa.)
Mungkin oleh sebab itu disarang ini setiap malam selasa ngajinya diliburkan.
Dihari selasa pula Allah menciptakan gunung-gunung sebagai pencakar bumi agar menjadi kokoh.

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
(dan gunung-gunung sebagai pasak bumi. [QS : Annaba 07].

Hingga sebagian ahli hikmah mengatakan bahwa kedudukan Ulama' itu diumpamakan seperti halnya Gunung yang mengikat bumi agar tidak goyah dari segala bentuk kemaksiatan.

Sedikit biografi tentang Mu'allif kitab : Beliau adalah Sayyid Abdullah bin Alawi bin muhammad Al-Haddad. Ulama' Mujaddid pada kurun abad ke sebelas, sekaligus Mujaddid pertama dari golongan Ahlil bait yang lahir di daerah Subair, kota Tarim Hadromaut tepatnya bulan Sofar tahun 1044-1132 H.

Syaikhina pernah dawuh :
"Saben satus tahun. Gusti Alloh iku mesti ngirim mujaddid kanggo ngapik i umat"(Setiap seratus tahun Allah mengirim Ulama' Mujaddid untuk memperbaiki ummat)
"Mujaddid awwal iku Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz"(Mujaddid pertama itu Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz)
" Trus disambung dumateng Imam Syafi'i"(Kemudian dilanjutkan imam Syafi'i)
"Sampe sewu tahun mujaddid iku ora ono songko ahlil bait."(Hingga seratus tahun kemudian Ulama Mujaddid itu enggak ada yang dari keturunan Ahlil bait).
"Tapi mulai tahun sewu satus muncul Sayyid Habib Abdulloh Al Haddad."(Namun setelah seribu tahun muncul Mujaddid dari ahlil bait yaitu Sayyid Habib Abdulloh bin Haddad.)
"Sak uwise iku poro mujaddid asale songko ahlil bait."(Dan setelah itu Ulama' Mujaddid setelahnya berasal dari golongan ahlil bait.)
"Sayyid Muratdlo kang ngarang إتحاف السادات المتقين syarah kitab إحياء علوم الدين للإمام الغزالي"(Mulai dari Sayyid Murtadlo pengarang kitab iitihāfu Al-Sadah, Syarah kitab Ikhya' Ulumiddin.)
"Sayyid Zaini Dahlan."(Kemudian Sayyid Zaini dahlan.)
"Sampe panjenenganipun as Sayyid Muhammad ibn 'Alwi ibn 'Abbas Al Maliky Al Hasany."(Hingga datang masanya Sayyid Muhammad ibn Alawi Almaliki Alhasani.)
Beliau juga sering berpesan kepada para santri untuk berpegang teguh pada ajaran Ulama-ulama hususnya dari keturunan Ahlil bait, yang di sebagian hadis Nabi, Ulama' ahlil bait itu diumpamakan seperti halnya Perahu nabi Nuh(Perahu Penyelamat)

إن مثل أهل بيتي فيكم مثل سفينة نوح من ركب نجا ومن تخلف عنها هلك (رواه الحاكم)
Barang siapa yang menaikinya maka ia akan selamat dari badai fitnah di akhir zaman ini.
Semoga Alloh selalu memberi berkah pada guru kita Romo KH Maimoen Zubair.


Resource Berita : muslimoderat.net
Ideologi-ideologi Ekstrem yang ada di Dunia

Ideologi-ideologi Ekstrem yang ada di Dunia



WartaIslami ~  Ada beberapa ideologi ekstrem di dunia ini yang sempat menciptakan berbagai kekacauan dan peperangan di dunia yaitu :

1. Nazisme : paham yang memisahkan dan mempertentangkan manusia ke dalam polaritas ras Arya Jerman & ras non Arya. Paham ini membawa dunia pada Perang Dunia II dan melakukan genosida terhadap 6 juta kaum Yahudi.
2. Zionisme : paham yang memisahkan dan mempertentangkan manusia ke dalam polaritas Yahudi & Goyim (non Yahudi). Paham ini kemudian mengambil alih dan menduduki paksa tanah Palestina melalui campur tangan Inggris dan Amerika dan mengakibatkan banyak warga Palestina yang terusir dan menderita.
3. Komunisme : paham yang memisahkan dan mempertentangkan manusia ke dalam polaritas kelas buruh & kaum pemilik modal yang kemudian membawa dunia pada ketegangan dan konflik di berbagai negara di dunia yang hampir membawa pada Perang Dunia III.
4. Wahabisme : paham yang memisahkan dan mempertentangkan manusia ke dalam polaritas Islam & kafir (non muslim) yang kemudian menciptakan radikalisme dan terorisme global yang juga berpeluang membawa dunia pada ancaman Perang Dunia III.

Komunisme dulu pernah mengacaukan negeri ini pada tahun 1948 dan 1965. Namun setelah komunisme runtuh pada 1989 maka dunia memasuki era baru “Clash of Civilization” (menurut Prof. Samuel Huntington, pakar politik Univ. Harvard Amerika) dimana dunia Barat menemukan rival baru pasca era Perang Dingin yaitu ideologi Islam garis keras yang mengacu pada paham Wahabisme. Nah Wahabisme inilah yang saat ini sedang mengancam dunia dengan munculnya jaringan terorisme global Al Qaeda, ISIS dan yang sejenisnya.

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang menjadi lahan subur bagi tumbuh berkembangnya Wahabisme. Bahkan kaum Wahabi sudah menjadikan Indonesia sebagai target utamanya untuk menguasai dunia. Untunglah Indonesia masih memiliki NU sebagai ormas Islam terbesar sekaligus yang paling toleran dan moderat saat ini. Tanpa NU maka mungkin Indonesia sudah berubah dan berganti nama menjadi Indonistan dan memiliki nasib yang sama seperti Afghanistan, Pakistan dan negara-negara yang dilanda konflik sektarian lainnya.



Resource Berita : muslimoderat.net
Kepiawaian Gus Dur Menyetir NU yang Nyaris Dibubarkan Orde Baru

Kepiawaian Gus Dur Menyetir NU yang Nyaris Dibubarkan Orde Baru



WartaIslami ~ Jika ada orang non-NU membenci NU dengan cara meng-character assasination Gus Dur, saya bisa maklum, karena memang dari sononya mereka anti NU yang secara otomatis ya anti Gus Dur. Namun yang saya tidak habis pikir itu ada orang NU benci Gus Dur. "Ketemu pirang perkoro" kok bisa-bisanya ada orang NU benci Gus Dur.

Jika kita amati Gus Dur itu begitu sederhana, bersahaja dan zuhud. Dari cara berpakaian saja cukup sederhana, batik yang murah, celana biasa dan tidak punya dompet. Kopyahnya pun pakai kopyah/peci model pesantren (bludru hitam) dan kadang kopyah model Gorontalo. Cukup sederhana khan. Jarang beliau pakai jubah dan sorban apalagi berjenggot, kesana kemari padahal tingkat keilmuan dan keintelektualannya sangat-sangat mumpuni.

Sekali lagi saya tak habis pikir. Ada orang NU, alumni pesantren NU lagi, kok bisa-bisanya sampai benci Gus Dur. Ada yang menuduh Gus Dur liberal lah, Gus Dur Syiah lah dan sebagainya. Biasanya orang NU yang benci Gus Dur itu tingkat keilmuannya cuma "FIKIH ANSICH" (berorientasi hanya pendekatan fikih, pendekatan hukum, ingat pendekatan hukum itu kaku) dan kurang piknik.

Lihat jasa Gus Dur terhadap NU, terbukti "sempurna". Hal ini bisa dilihat dengan jelas bagaimana Gus Dur membawa NU "berakrobat" menghadapi gencetan Orde Baru. Bagaimana Gus Dur membawa NU dengan kepiawaiannya dan kecerdasannya membawa NU yang nyaris dibubarkan Orde Baru. Ketika itu NU digebuk kiri kanan, atas bawah, depan belakang, namun dengan izin Allah SWT, karamah wali, doa ulama serta kepiwaian Gus Dur maka NU selamat dari masa kritis dimasa Orba.

Seperti inilah (Gus Dur) ulama yang sebenarnya. Ulama yang berpandangan luas, sikap yang multi talenta dan ilmu yang mendalam. Ulama sejati itu tidak hanya pakar agama saja, apalagi cuma fikih. Jika semua didekati dengan pendekatan fikih (fiqh ansich) maka pola pikir dan perilaku cenderung kaku. Untuk itu perlu dibarengi denga ilmu tasawuf, tsaqafah, peradaban, sejarah, politik, humanisme, sosiologi antropologi dan sebagainya. Gus Dur melahap semua itu. Jika ulama cuma bisanya fikih saja maka bisa dipastikan akan salah paham dengan Gus Dur. Ini menunjukkan bahwa ilmunya belum mampu mencerna langkah Gus Dur. Kiai saja ada yang salah paham terhadap Gus Dur, apalagi cuma santri.

Keberhasilan menyelamatkan NU dari Orde baru yang nyaris dihabisi adalah diantara jasa Gus Dur terhadap NU tak tak mungkin bisa dilupakan. Oknum warga NU yang benci Gus Dur, bisakah membawa NU selamat dari Orde Baru, kok selalu koar-koar hanya dirinyalah sebagai NU yang benar, NU lurus, NU nya KH Hasyim Asyari. Sepertinya dia lupa bahwa Gus Dur itu cucunya KH Hasyim Asyari. Tentu cucunya lebih berhak secara ilmu dan nasab dibanding yang lain.

Jika ada santri NU yang benci Gus Dur, apalagi ilmunya cuma diperoleh dari satu pesantren, dan ditambah kuliah S1, S2, S3 dan tidak pernah aktif atau bergaul dengan pemikiran kontemporer dunia, maka dia seharusnya malu dengan prestasi Gus Dur, diantara (sekelumit) prestasi Gus Dur:
1. Cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asyarie, Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Majlis Syura Masyumi
2. Putra KH Wahid Hasyim, (diantara) Perumus Pancasila (dasar negara), Menteri Agama tahun 1949, Ketua I Masyumi
3. Keturunan Raden Patah, Raja Kerajaan Islam Demak
4. Keturunan Jaka Tingkir
5. Keturunan Sunan Giri
6. Pesantren Tebuireng, Jombang (Guru)
7. Pesantren Tambakberas, Jombang (Guru)
8. Pesantren Denanyar, Jombang (Guru)
9. Pesantren Krapyak, Yogyakarta (Santri)
10. Pesantren Tegalrejo, Magelang (Santri))
11. Universitas Al-Azhar, Mesir (Mahasiswa)
12. Universitas Bagdad, Irak (Mahasiswa)
13. Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum)
14. Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan)
15. Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (Doktor 16. Kehormatan bidang Ilmu Hukum, Politik, Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Ilmu Humaniora)
17. Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan)
18. Universitas Twente, Belanda (Doktor Kehormatan)
19. Universitas Jawaharlal Nehru, India (Doktor Kehormatan)
20. Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (Doktor Kehormatan)
21. Universitas Netanya, Israel (Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan)
22. Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (Doktor Kehormatan bidang Hukum)
23. Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (Doktor Kehormatan)
24. Presiden Republik Indonesia1999-2001
25. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI1989-1993
26. Ketua Majelis Ulama Indonesia1987-1992
27. Ketua PBNU1984-2000
28. Katib PBNU1980-1984
29. Universitas Hasyim Ashari, Jombang (Dekan dan Dosen Fakultas Ushuludin)
30. Universitas Darul Ulum, Jombang (Rektor dan Dosen)
31. Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta (Penghargaan)
32. The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia (Penghargaan)
33. Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat (Penghargaan)
34. World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan (Penghargaan)
35. Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris “Dare to Fail”, Kuala Lumpur, Malaysia (Penghargaan)
36. Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta (Penghargaan)
37. Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta (Penghargaan)
38. Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat (Penghargaan)
39. Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (Penghargaan)
40. Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International (Penghargaan)
41. Man of The Year, Majalah REM (Penghargaan)
42. Magsaysay Award, Manila, Filipina (Penghargaan)
43. Islamic Missionary Award, Pemerintah Mesir (Penghargaan)
44. Tokoh 1990, Majalah Editor (Penghargaan)
45. Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan (Presiden)
46. International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel
47. Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt (Anggota)
48. International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris (Presiden Kehormatan)
49. International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (Anggota Dewan Penasehat Internasional)
50. Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat (presiden)
51. Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel (Pendiri dan Anggota)
52. World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat (Presiden)
53. International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda (Penasehat)
54. The Aga Khan Award for Islamic Architecture (Anggota dan Dewan Juri)
55. Partai Kebangkitan Bangsa (Pendiri dan Ketua Dewan Syura)
56. The WAHID Institute, Indonesia (Pendiri)

Alasan apalagi, yang menyebabkan kalian benci Gus Dur, wahai (oknum) ulama/warga NU?
Jika kalian sudah mampu menyamai atau mengungguli prestasi Gus Dur di atas maka kalian boleh melawan Gus Dur.

Semua elemen NU besatulah, jangan sampai kalian diadu oleh kelompok garis keras yang memang dari sononya benci NU/Gus Dur. Mereka tidak mampu melawan NU secara face to face sehingga dengan cara "membrain washing" oknum ulama/warga NU untuk melawan NU yang "asli", PBNU dan kepengurusan NU dibawahnya.
(hanyalah sebuah kritik untuk "oknum" warga NU yang masih benci Gus Dur)


Resource Berita : muslimoderat.net
'Konser' Batuk di Masjid Nabawi

'Konser' Batuk di Masjid Nabawi



WartaIslami ~ Ada keriuhan berbeda di Masjid Nabawi satu pekan belakangan. Bukan soal kajian agama yang selalu digelar bakda shalat Subuh. Bukan pula soal anak-anak yang kerap menangis ketika ibu mereka khusyuk menunaikan shalat.

Kali ini sebuah konser tersaji tiap shalat Subuh. Konser batuk tepatnya. Suara batuk terdengar bersahut-sahutan. Suara jamaah yang terbatuk-batuk berpadu kompak dengan suara hidung yang berusaha sekuat tenaga menjaga lendir tidak jatuh layaknya sebuah kor. Suara itu makin jelas terdengar ketika ruku dan sujud.

Jamaah embarkasi BDJ 12 Kafsah (47 tahun) menjadi salah satu pelaku paduan suara itu. Jamaah gelombang dua ini mengalami batuk dan pilek sejak berada di Makkah.

Flu, batuk dan pilek jamak ditemukan pada jamaah haji gelombang dua. Penyakit ini bahkan sudah biasa hinggap pada jamaah, terutama setelah puncak haji selesai. "Ini (batuk) sejak dari Mina," kata jamaah asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah tersebut kepada Republika.co.id di halaman Masjid Nabawi, Jumat siang (22/9).

Agar tak berlarut-larut, Kafsah telah memeriksakan diri kepada dokter kloter. Dokter memberinya obat batuk sirup, obat pilek dan obat radang dalam bentuk tablet.

Kafsah tak ambil pusing dengan penyakitnya. Baginya batuk dan flu adalah penyakit biasa. "Biar cepat sembuh saya usahakan cukup istirahat, cukup makan dan banyak minum, makanya selalu bawa air minum kemana pun," ujar dia.

Kafsah juga mengenakan masker setiap saat. Dia selalu mengganti maskernya tiap waktu shalat.

Dokter Penghubung Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah Nafi Mahfudz mengatakan rata-rata jamaah haji gelombang dua mengalami flu dan pilek. Kelelahan, makanan dan lingkungan adalah di antara faktor risiko yang menjadi pemicu munculnya batuk dan pilek. Apalagi pada jamaah dengan usia di atas 60 tahun. "Faktor risiko ini menurunkan status kekebalan tubuh atau imunitas sehingga jamaah mudah sakit dan lama sembuhnya," katanya.

Jamaah yang sudah letih karena melaksanakan puncak haji, setelah tiba di Madinah masih melaksanakan shalat Arbain dan ziarah ke berbagai tempat. Kerumunan orang di hotel, di masjid, debu jalanan dan kebiasaan merokok pada sebagian jamaah turut memperberat status imunitas tersebut. "Ketika sudah mau sembuh tapi lingkungannya sakit, jadi seperti lingkaran setan. Banyak yang tertular dan sakit," katanya.

Nafi mengimbau jamaah menghindari faktor risiko tersebut. Jamaah sebaiknya menggunakan masker, menutup mulut saat batuk, tidak meludah sembarangan, makan bergizi, istirahat cukup dan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dia mengatakan biasanya dokter memberikan obat antiradang, antibiotik sesuai penyakitnya dan obat batuk. Namun, Nafi meminta jamaah tidak hanya mengandalkan obat dokter.

Jamaah harus menghindari gorengan, es dan makanan manis karena secara tidak langsung memicu radang di tenggorokan. Pendingin udara di ruangan juga jangan terlalu dingin dan anginnya jangan langsung terkena tubuh.

Jamaah juga diminta banyak minum agar dahak mudah keluar. Dengan menjalankan gaya hidup sehat dan minum obat teratur, penyakit akan membaik dalam tiga sampai empat hari.


Resource Berita : ihram.co.id
Seorang Muslim Menjadi Komunis, Bolehkah?

Seorang Muslim Menjadi Komunis, Bolehkah?



WartaIslami ~ Komunisme menjadi isu yang kerap diperbincangkan ketika September mulai memasuki masa akhir. Di negeri ini, paham komunis melalui Partai Komunis Indonesia (PKI) menjejak catatan panjang sejarah republik. Noktah merah yang dicatat kaum komunis pada peristiwa 1948 dan 1965 membuktikan jika paham tersebut sungguh berbahaya dan mengancam jiwa umat manusia.

Ajaran komunisme bersumber dari Karl Marx. Ideologi ini tidak mengakui adanya penciptaan dan prinsip ketuhanan. Karl Marx secara nyata mendiskreditkan agama. Kutipan terkenal dari Marx tercatat dalam salah satu karyanya, A Contribution to The Critique of Hegels Philosophy Right. Dia menyatakan, Die Religion ... ist das Opium des Volkes. Artinya, agama adalah opium bagi masyarakat.

Ayat-ayat Alquran pun sudah sedari awal menyindir tentang prinsip-prinsip komunisme. "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya, mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (QS at-Thur: 35-36).

Lewat Tafsir Fizhilalil Quran, Said Quthb menjelaskan, keberadaan manusia tanpa sesuatu merupakan perkara yang diingkari sejak dini oleh penalaran dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Kalaulah keberadaan mereka sebagai pencipta diri sendiri, hal itu tidak pernah dilontarkan atau di klaim seorang pun. Jika kedua hipotesis ini tidak dapat diterima fitrah penalaran, tiada lagi kebenaran kecuali yang dikatakan Alquran.

Kebenaran itu ialah bahwa mereka semua merupakan makh luk Allah Yang Esa. Allah yang tidak bermitra dengan siapa pun dalam menciptakan dan menjadikan makhluk. Karena itu, tidak ada sesuatu pun dilibatkan dalam penghambaan dan peribadatan terhadap-Nya.

Alquran pun menghadapi mereka dengan keberadaan langit dan bumi. Apa kah mereka yang telah menciptakannya? Langit dan bumi tidak tercipta dengan sendirinya, sebagaimana mereka tidak menciptakan dirinya sendiri.

Mereka pun tidak dapat mengatakan bahwa langit dan bumi tercipta oleh diri sendiri atau tercipta tanpa ada yang mencipta kannya. Demikian, logika tidak memungkinkan untuk mengata kan bahwa mereka yang menciptakan langit dan bumi. Hal ini mengendap dalam benak mereka sebagai pertanyaan dinamis yang harus memiliki jawaban.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah menjelaskan, ayat tersebut seolah mempertanyakan apakah manusia diciptakan tanpa sesuatu yang hidup, sehingga mereka layaknya benda tak bernyawa. Dengan demikian, mereka tidak perlu menyembah Allah dan tidak juga akan diminta pertanggungjawaban?

Jawabannya tidak! Atau apakah mereka diciptakan tanpa tujuan dan hanya merupakan kesia-siaan, sehingga tidak akan diberi balasan dan ganjaran? Apa pun maknanya, yang jelas jawaban pertanyaan ini adalah tidak.

Sedangkan, firman-Nya pada ayat 36 dapat juga berarti: Apa kah mereka yang menciptakan alam raya ini dan dengan demi ki an mereka adalah tuhan-tuhan yang tidak perlu menyembah se suatu? Tidak! Bukan mereka yang menciptakannya dan mereka pun menyadari hal tersebut. Mereka enggan beriman karena memang mereka tidak mau percaya kepadamu, wahai Nabi Muhammad. Apa yang ada dalam ayat ini terasa relevan dengan prinsip komunisme sekarang.

Syekh Yusuf Qaradhawi dalam Fiqih Kontemporer menjelaskan, komunisme merupakan paham materialis yang tidak mengakui sesuatu kecuali bersifat kebendaan dan terjangkau bagi pancaindra. Komunisme juga tidak mengakui sesuatu yang ada di balik materi (immateri). Mereka tidak beriman kepada Allah, tidak percaya kepada akhirat, dan perkara gaib lainnya.

Syekh Qaradhawi pun berpendapat, seorang Muslim berpaham komunis adalah murtad atau keluar dari Islam. Meski, jika si komunis itu hanya mengambil sisi sosial dan ekonomi dari sisi komunisme, bukan dari sisi agama. Menurut Qaradhawi, yang demikian itu sudah cukup menjadikan orang tersebut murtad.

Syekh Qaradhawi beralasan, Islam memiliki ajaran-ajaran yang tegas dan jelas dalam mengatur kehidupan ekonomi. Prinsip ini ditentang oleh komunisme. Contohnya, kepemilikan pribadi, kewarisan, zakat, dan hubungan lelaki dengan perempuan. Hukum-hukum ini merupakan bagian dari prinsip agama di dalam Islam.

Ulama kenamaan Saudi Syekh Muhammad Salih Al Mu najjid men jelaskan, tidak mungkin seorang Muslim bisa menjadi komunis dalam waktu bersamaan. Dua paham ini saling bertentangan. Tidak bisa ada pada satu individu tanpa salah satunya dieliminasi. Barang siapa yang menjadi komunis maka dia bukanlah Muslim.

Menurut Syekh Muhammad Salih, komunisme termasuk bentuk kekafiran yang nyata karena seorang komunis tidak mengakui keberadaan Allah SWT. Mereka pun tidak mengakui adanya du nia yang tidak terlihat. Komunis me juga kerap melecehkan agama Allah dan mencemooh aturan dan nilai-nilai moral di dalamnya.

Akhirul kalam, mengutip dari pernyataan KH Salahuddin Wa hid, komunisme hanya bisa tum buh dan hidup dalam masyarakat yang subur untuk paham itu. Ma sya rakat yang penuh dengan ketidakadilan, kemunafikan, kemiskinan, kebodohan, keterbelakang an, dan berbagai penyakit sosial lainnya.

Untuk memberantas komunisme, kita harus menjawab tantangan itu dengan berjuang menghilangkan lahan yang subur untuk tumbuhnya paham tersebut. Karena itu, umat Islam harus berjihad menghilangkan ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan penyakit masyarakat lainnya. Wallahu'alam.


Resource Berita : republika.co.id
Saudi Cekal Ulama yang Katakan ‘Perempuan Cuma Punya Seperempat Akal’

Saudi Cekal Ulama yang Katakan ‘Perempuan Cuma Punya Seperempat Akal’



WartaIslami ~ Syekh Saad al-Hijri, anggota komite yurisprudensi Provinsi Asir, Arab Saudi, membuat geger warga di negara setempat usai mengatakan bahwa perempuan tak semestinya mengemudikan kendaraan karena tidak ada dalil agama yang mendukung tentang itu.

Lebih lanjut al-Hijri mengatakan, perempuan hanya memiliki seperempat akal sehingga ia tak bisa membuat keputusan saat berada di balik kemudi.

Al-Hijri melontarkan pernyataan tersebut dalam sebuah ceramah di depan khalayak di kota Khamis Mushait barat daya, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (22/9).

Ceramah al-Hijri pun mengundang kemarahan dari para pengguna media sosial di Arab Saudi. Mereka ramai-ramai menuntut agar pemerintah melarangnya berceramah dan menerbitkan fatwa. Reaksi ini direspon oleh Gubernur Asir Pangeran Faisal bin Khalid bin Abdulaziz dengan mencekal al-Hijri dari aktivitas ceramah.

Juru bicara gubernur Asir, Saad bin Abdullah al-Thabet, dalam sebuah siaran pers mengatakan, Pangeran Faisal telah mengeluarkan perintah untuk merespon pernyataan al-Hijri yang membuat gempar jagat media sosial dan mengecewakan banyak orang.

Thabet menambahkan, pembebas-tugasan al-Hijri dari kegiatan berceramah merupakan langkah yang bertujuan untuk membatasi pemanfaatan mimbar keagamaan sebagai ajang produksi statemen kontroversial dan merendahkan orang.

Ia bahkan mengingatkan, keputusan serupa akan diambil terhadap siapa pun yang mencoba memanfaatkan mimbar agama untuk menyuarakan pendapat yang merendahkan orang. (Red: Mahbib)



Resource Berita : nu.or.id
Daftar CPNS Aja Susah, Apalagi Tesnya: Naudzubillah!

Daftar CPNS Aja Susah, Apalagi Tesnya: Naudzubillah!



WartaIslami ~ Seorang sahabat, dosen muda yang SK-nya belum turun, sering datang ke rumah kontrakan saya. Diskusi tentang dunia pendidikan, politik, budaya, agama, perdukunan, perwalian, dll. Tentu sambil ngopi dan ngudud. Dia memberikan informasi lowongan CPNS di Kemdikbud agar saya coba-coba mendaftar.

Saya iseng diskusikan itu pada istri. “Gak apa-apa dicoba mas, buat pengalaman,” katanya. Sebelum jadi istri saya, waktu masih fresh graduate, dia pernah sekali ikut tes CPNS, dan alhamdulillah gagal.
Beberapa hari saya abaikan informasi dari kawan tersebut. Sampai dia datang lagi, menanyakan perkembangan saya mendaftar.

Akhirnya file-file pdf, termasuk formasi dan panduan pendaftaran CPNS saya unduh. Saya print juga. Tapi ya tidak pernah saya baca detil. Eh lha kok saya sebarkan informasi itu ke teman lain, dan dia antusias. Melihat dia antusias, kok saya ikut ketularan antusias mendaftar.

Saya baru pertama daftar model online begini. Apalagi untuk CPNS. Mendaftar CPNS lewat online perlu stok kesabaran yang berlimpah. Setelah mendaftar dengan menuliskan No. KTP, no. KK, dapatlah username. Saya langsung pakai username dan pasword untuk login. Lho, kok tidak bisa? Akhirnya saya ganti pasword. Dan muncul pemberitahuan kira-kira username bisa untuk login 24 jam lagi. Hahahaha. 

Saya tidak tahu kenapa sistem maintenance atau apa, yang membuat pendaftaran harus dilakukan berhari-hari. Sang sahabat menyarankan untuk mendaftar pada dini hari, asumsinya pengunjung website cpns.kemdikbud.go.id sangat sedikit. Ya sudah saya ikuti.

Pada dini hari pertama, berhasil membuat akun. Malam kedua mendapat surat keterangan lagi. Setelah itu saya abaikan. Sahabat menanyakan lagi perkembangan pendaftaran CPNS, saya jawab belum online lagi. 

Pengalaman dengan imel, misalnya dengan gmail, setiap mengunggah dokumen atau foto akan terlihat proses pengunggahannya. Berapa persen yang telah diunggah, hingga nama file yang dilampirkan jadi biru. Setelah itu klik kirim. Beres.

Di tahap terakhir, saya berhasil mendapat nomor pendaftaran. Tertera jumlah pendaftar untuk formasi yang pilih, 3 ribu sekian. Padahal yang dibutuhkan hanya 1. Hahaha. Tinggal mengunggah foto, tertera peringatan maksimum foto 500 kb. Ya sudah saya kecilkan ukuran foto jadi 54 KB. Lha kok selama dua dini hari belum berhasil. Selalu tertera “Tidak ada file yang dipilih.” Coba lagi. Coba lagi. Hasilnya masih sama. Hahaha. Owalah yo yo!

Persoalan seperti ini sudah saya dengar beberapa tahun lalu. Alasan pengunjungnya banyak sehingga menjadi lemot dan situs down. Tapi ya masak sistem jaringan di kementerian tidak mengantisipasi sejak awal? Bukankah kabar seperti itu sudah jadi santapan ketika musim pendaftaran CPNS atau lowongan yang potensi pendaftarnya naudzubillah? 

Mengapa tidak belajar dari situs-situs jual beli online, ketika down, mereka meminta maaf pada pelanggan. Atau provider yang mengirim sms ke nomor pelanggan, permintaan maaf mungkin dalam beberapa jam jaringan akan terganggu karena sistem sedang diperbaiki misalnya.

Ah, mungkin karena situs jual beli online dan provider itu dapat pemasukan dari pelanggan, maka mereka menjaga betul kepercayaan pelanggan. Jika pelanggan sudah tidak nyaman membuka situsnya, akan kabur dan pindah ke lain hati. Yang akan diikuti dengan penurunan pemasukan perusahaan.

Saya jadi berpikir, baru mendaftar CPNS saja susah, apalagi tesnya. Pasti lebih susah lagi. Oleh karena itu banyak yang tidak diterima daripada yang diterima. Ya begitu.


Resource Berita : dutaislam.com
Meski Kondisinya Kurang Sehat, Habib Munzir Rela Datang dari Jakarta ke Lirboyo Temui Romo Yai Idris

Meski Kondisinya Kurang Sehat, Habib Munzir Rela Datang dari Jakarta ke Lirboyo Temui Romo Yai Idris



WartaIslami ~  Suatu hari, Habib Munzir bin Fuad al-Musawa [Allohu Yarham] bersilaturrohim ke Syaikhina Al-Marhum Romo Yai Idris Marzuqi Lirboyo di aula komplek kediaman Al Muktamar. Kedatangan Habib Munzir untuk menyampaikan undangan Tabligh Akbar Majelis Rasulullah di Monas.

Habib pada kesempatan itu sebenarnya dalam kondisi kurang sehat. Undangan Tabligh Akbar sebetulnya bisa diamanatkan pada utusan atau dikirim via pos. Tapi demi ta’zhimnya pada mbah Idris, [demikian Habib Munzir biasa memanggil Al-Marhum Romo Yai Idris Marzuqi], dari Jakarta ke Lirboyo beliau memaksakan diri melakukan perjalanan darat. Kemudian diteruskan ke Langitan Tuban untuk menyampaikan undangan acara tersebut pada Mbah Yai Idris Lirboyo dan Mbah Yai Faqih Langitan.

Di halaman rumah, Romo Yai Idris Marzuqi dengan penuh tawadhu’ dan penghormatan menyambut kedatangan Al-Marhum Al-Habib Munzir Al-Musawa dengan tanpa menggunakan alas kaki. Dalam kacamata adab, melepaskan alas kaki adalah simbol ketawadhuan dan penghormatan.

Sebagamana Syaikh Ihsan Dahlan Jampes yang melepaskan sandal ketika mau sowan gurunya beberapa puluh meter sebelum sampai dalem Sang Guru. Seakan demi untuk menghormati kedatangan cucu Rosulullah SAW. Beliau Al-Marhum Romo Yai Idris melepaskan semua kebesaran sebagai kiai dari  ribuan santri dan alumni yang telah menjadi para Kyai di Nusantara.

Dalam gambar berikut tampak Habib Munzir berusaha bertabarruk mencium tangan Romo Yai Idris. Seakan beliau membuang semua kebesaran diri di hadapan ulama yang beliau anggap sebagai Guru. Padahal beliau adalah habib yang sangat alim dan mulia dengan jutaan muhibbin di Indonesia. Dengan penuh ketawadhu’annya Habib diterima di Lirboyo oleh Mbah Yai Idris. Terlihat jelas bahwa perjumpaan itu adalah bertemunya dua pribadi yang saling mencintai karena Allah.

Bukti tawadhu’ luar biasa, selaku tamu justru Habib Munzir menuangkan minuman untuk mbah Yai Idris. Setelah keperluan sowan dianggap cukup, Habib Munzir mohon pamit ke Mbah Yai Idris untuk melanjutkan perjalanan menuju Langitan Tuban. Dan mungkin tidak pernah terbayangkan, itu dilakukan setelah keduanya saling sungkem tangan. Habib Munzir berjalan mundur dari hadapan Mbah Yai Idris menuju pintu ndalem karena tidak ingin istidbar dan membelakangi Mbah Yai Idris.

Mbah Yai Idris kemudian dawuh, “Habib sing alim tur tawadhu’ niku medheni tur nyungkani.” (Habib yang alim nan tawadhu’ itu membuat segan dan sungkan),” ujar kiai Idris.

Rasanya adem-ayem dan tentrem kalau melihat habaib yang mengajarkan ta'zhim dan cinta terhadap ulama dan ulama mengajarkan cinta dan ta'zhim kepada Habaib. Mungkin keakraban antara Habaib dan Ulama inilah yang paling ditakuti oleh sekelompok golongan.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mencintai ulama dan habaib. Tidak hanya mencintai dengan rasa, namun semoga kita semua dapat meneladaninya.


Resource Berita : dutaislam.com
Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah



WartaIslami ~ Secara umum permintaan manusia terkait maksiat atau kekurangannya terbagi dua. Ada jenis permintaan manusia agar Allah melindunginya dari maksiat. Tetapi ada juga jenis permintaan manusia agar Allah menutupi perbuatan maksiat atau kekurangannya dari pandangan manusia lain. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

الستر على قسمين ستر عن المعصية وستر فيها فالعامة يطلبون من الله تعالى الستر فيها خشية سقوط مرتبتهم عند الخلق

Artinya, “Tirai itu terdiri atas dua jenis, satu tirai dari maksiat dan dua tirai di dalam maksiat. Orang awam meminta kepada Allah sebuah tirai di dalam maksiat karena takut jatuh wibawa mereka di mata umum.”

Hal ini bisa terjadi karena kaum awam memiliki kepentingan pribadi terhadap publik. Dengan demikian mereka harus menjaga nama baik, citra, wibawa, dan mempertahankan muka mereka di mata khalayak umum sebagaimana disinggung Syekh Syarqawi dalam syarah Al-Hikam-nya.

لعدم تحققهم بحقائق الإيمان يغلب عليهم شهود الخلق ويتوقعون منهم حصول المنافع ودفع المضار فيراءونهم ويتصنعون لهم ويتزينون ويطمعون فيهم ويتملقون بين أيديهم ويكرهون أن يطلعوا منهم على ما تسقط به منزلتهم من قلوبهم ولذا (يطلبون من الله تعالى الستر) لأن يستر عليهم (فيها) فى المعصية أى فى حال كونهم عاملين لها ومستخفين بها ومحبين لها

Artinya, “(Itu terjadi) karena mereka menghayati benar hakikat keimanan di mana mereka lebih tertekan oleh pandangan manusia dan mengharapkan kedatangan manfaat serta penolakan mudharat dari kalangan umum sehingga mereka beramal dengan riya, melakukan sesuatu yang dibuat-buat dan mengada-ada. Mereka menaruh harapan kepada khalayak dan mengambil muka di hadapan umum. Mereka tidak senang kalau khalayak umum melihat kekurangan mereka yang dapat menjatuhkan martabat mereka di muka public. Karena itu mereka meminta kepada Allah agar menutupi maksiat mereka di mana mereka masih aktif, mengecilkan dan menyukai maksiat tersebut,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Kutub Al-Arabiyah, juz I, halaman 99).

Gambaran kalangan awam di hadapan publik ini tampak jelas pada firman Allah berikut ini.

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ

Artinya, “Mereka bersembunyi dari (pandangan) manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Dia bersama mereka,” (An-Nisa ayat 108).

Syekh Ibnu Ajibah membawa riwayat hadits qudsi yang menyatakan kecaman Allah atas perilaku kaum awam seperti ini.

وفي بعض الأخبار يقول الله تبارك وتعالى يا عبادي إن كنتم تعتقدون أني لا أراكم فالخلل في إيمانكم وإن كنتم تعتقدون أني أراكم فلم جعلتموني أهون الناظرين إليكم اهـ

Artinya, “Pada sebagian riwayat, Allah berfirman, ‘Hai hamba-Ku, bila kamu sekalian yakin bahwa Aku tak melihatmu, maka imanmu lemah. Tetapi jika kamu yakin bahwa Aku melihatmu, mengapa kamu sekalian menjadikan-Ku sebagai pihak paling lemah dan hina yang memandangmu?’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz II, halaman 194).

Kalau harus menghindari maksiat, kalangan awam melakukannya semata karena melanggengkan citra mereka di muka umum agar mereka tidak kehilangan simpati. Hal ini yang diuraikan oleh Syekh Ahmad Zarruq berikut ini.

قلت: فهم لا يفرون منها أولا وابتداء ولا يرون الفضيحة آخرا وانتهاء ولذلك صح منهم الرياء والتصنع تسترا وتجملا وذلك من قصور همهم ونقص إيمانهم وإذا وجدوها دون فضيحة لم يرجعوا عنها، ثم إذا كان طلبهم للستر  فرارهم من ذلك شفقة على عباد الله من الوقيعة

Artinya, “Bagi saya, mereka sejak awal takkan menjauh dari maksiat. Sedangkan pada ujungnya mereka juga menganggap keburukan maksiatnya takkan terkuak. Karena itu wajar sekali mereka beramal dengan riya dan dibuat-buat sebagai upaya untuk menutup-tutupi dan memoles citra mereka. Hal ini terjadi karena kelemahan semangat dan kekurangan iman mereka. Bila mereka merasa kemaksiatan itu tidak terungkap publik, mereka tidak juga bertobat. Kalau pun mereka meminta kepada Allah agar terjaga dari maksiat, maka penjauhan mereka atas maksiat itu semata bertujuan untuk menarik simpati publik demi kepentingan-kepentingan pribadi mereka,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 118-119).

Semua uraian ini bukan alasan kita untuk berhenti ibadah. Uraian ini merupakan koreksi atas keseharian kita yang penuh kepura-puraan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)



Resource Berita : nu.or.id
Makna Hijrah

Makna Hijrah



WartaIslami ~ Beberapa waktu belakangan ini, kata 'hijrah' begitu populer di kalangan Muslim Tanah Air. Tidak sedikit warga dunia maya yang menyebarluaskan kata tersebut di laman media sosial untuk mengajak warga dunia maya lainnya untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Namun demikian, bagaimana sesungguhnya makna hijrah yang sesungguhnya? Lalu, apa saja yang mesti dilakukan seseorang yang hendak berhijrah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berusaha dijawab oleh Ustaz Nuzul Dzikri dalam kajian Islam yang diselenggarakan oleh ASIA (Alumni Sekolah Islam al- Azhar) dan the Rabbaanians di Masjid Agung al-Azhar, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dalam kesempatan tersebut, dia menuturkan, hijrah adalah sebuah kata yang sangat prestisius dalam Islam. Se bab, dengan berhijrah, seseorang akan mendapatkan banyak kemudahan dari Allah SWT untuk mengatasi berbagai persoalan hidupnya.

Allah SWT berfirman, "Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan jalan keluar yang banyak (atas urusan-urusan yang ia tinggalkan). Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah ke pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah ditetapkan pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang," (QS an-Nisa [4]: 100).

Melalui ayat di atas, kata Nuzul, Allah SWT telah menjanjikan solusi atau jalan keluar yang melimpah bagi mereka yang berhijrah di jalan-Nya. Ketika seorang perempuan kehilangan pekerjaan karena hijrahnya, Allah akan beri dia rezeki dari tempat-tempat lain yang tidak terduga. Atau ketika seorang lelaki memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan riba, Allah juga akan memberikan keberkahan dan kelapangan dalam hidupnya.

"Baik itu berupa kelapangan rezeki, kelapangan dalam beribadah, maupun kelapangan dalam membangun umah tangga," ucap Nuzul.

Dia mengatakan, dalam proses berhijrah, sebagian orang mungkin akan menghadapi ujian atau tantangan yang cukup berat. Ada yang harus jatuh dahulu se belum bangkit menuju episode kehi dupan selanjutnya. Ada pula yang harus melawan berbagai macam godaan duniawi yang bisa menjerumuskannya kem bali ke kubangan dosa. Bagi mereka yang beriman, di balik semua ujian itu selalu ada hikmah yang dapat mereka ambil


Resource Berita : republika.co.id
Soal Rohingya, Ini Permintaan Kiai Said pada Umat Buddha Indonesia

Soal Rohingya, Ini Permintaan Kiai Said pada Umat Buddha Indonesia



WartaIslami ~ Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta kepada umat Budha untuk menunjukkan aksi nyata dengan bantuan konkret, misalnya melalui Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM).

Ia juga meminta kepada tokoh Myanmar Aung San Suu Kyi, jika merasa bersalah, harus ditunjukkan dengan sekiap kemanusiaan untuk Rohingya.

“Kita umat Islam mengharapkan orang-orang Islam yang ada di sana itu hidup tentram,” katanya sesaat sebelum menyampaikan sikap Soliditas Lintas Agama untuk Myanmar (Salam) bertajuk “Mari Bersatu Menyelesaikan Tragedi Kemanusiaan Rohingya” di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (22/9).

Ia menambahkan, agama mana pun tidak ada yang mengajarkan perang, malah diajarkan untuk mengalah, berkorban untuk orang lain, meninggalkan kepentingan dirinya. Dalam agama Budah, hal itu dilakukan oleh Sidharta Gautama.

“Makanya saya heran ada yang mengaku Budha sekejam itu,” lanjutnya.

Di dalam Islam sendiri, lanjut Kiai Said, di dalam Al-Qur’an diajarkan kasih sayang, tulus, ikhlas, toleransi, tapi ada ayat yang disalahpahami sekelompok orang dengan penafsiran sempit dan ekstrem sehingga Al-Qur’an dijadikan alasan untuk kekerasan.

Ia menduga, hal itu dilakukan karena saat ini mendekati tahun politik. Sehingga, apa saja dijadikan digoreng untuk politik, untuk menyerang lawan politik.

Pada kesempatan itu, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Suhadi Sendjaya mengatakan, umat Budha Indonesia sudah melakukan permintaan Kiai Said. Misalnya memberikan bantuan untuk membangun rumah sakit di Rakhin.  (Abdullah Alawi)


Resource Berita : nu.or.id
Dianggap Membahayakan, India Akan Deportasi 40 Ribu Muslim Rohingya

Dianggap Membahayakan, India Akan Deportasi 40 Ribu Muslim Rohingya



WartaIslami ~ Pemerintah India berencana akan mendeportasi 40.000 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar menyusul kekerasan berdarah di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menyebut Rohingya yang kini menetap di India sebagai imigran gelap.

"Dari Myanmar, mereka masuk ke India. Kita harus paham kenyataan bahwa Rohingya bukan pengungsi," katanya dalam sebuah acara di ibukota New Delhi, Kamis (21/9), sebagaimana dikutip kantor berita Turki, Anadolu.

Singh mengatakan, tidak seorang pun dari komunitas Rohingya telah mengajukan suaka. Dengan demikian, India tidak akan melanggar hukum internasional bila nanti mendeportasi mereka.

Pemerintah menghadapi kritik atas rencana tersebut dari para aktivis. Namun, pemerintah India menilai Rohingya sebagai ancaman keamanan nasional lantaran hubungannya dengan organisasi teroris. Pernyataan tertulis terkait rencana ini juga diajukan pada 18 September ke Mahkamah Agung setempat.

Zafarul Islam Khan, seorang jurnalis dan pemimpin senior Muslim yang berbasis di New Delhi, mengecam rencana pemerintah India lantaran alasan kemanusiaan. "Ini bukan keputusan bagus," katanya.

"Ini adalah isu kemanusiaan dan beberapa negara menerima para pengungsi saat berbicara menentang kekejaman." (Red: Mahbib)



Resource Berita : nu.or.id
Pencitraan Diri dalam Adab Islami. Seperti Apa?

Pencitraan Diri dalam Adab Islami. Seperti Apa?



WartaIslami ~ Hakikatnya, tidak ada orang yang benar-benar suci dari dosa. Sabda Nabi SAW, "Setiap anak cucu Adam tidak lekang dari kesalahan. Dan sebaik-baiknya dari mereka yang salah adalah yang bertobat." (HR Ibnu Majah).

Az-Zamakhsyari dalam kitabnya al-Kassyaf (5/646) berpesan, soal kesucian dan ketakwaan hanya hak Allah untuk menilainya. Seseorang hanya diperintahkan untuk taat dan menjauhkan diri dari maksiat.

Pengkultusan calon kepala daerah sebagai orang saleh, orang suci, dan sebagainya adalah bentuk pelanggaran etika Islami. Cukup menyebutkan program-program kerja dan hasil kerja nyata yang telah diraihnya tanpa bermaksud sombong atau riya. Biarkan khalayak yang menilai, apakah benar dia orang saleh atau tidak.

Di samping itu, setiap pencapaian keberhasilan dan lahirnya suatu karya yang diraih hendaklah disandarkan kepada Allah SWT. Menyebut suatu keberhasilan karena kepintaran dan keuletan diri sendiri adalah bentuk angkuh kepada Allah SWT. Sejatinya, apa pun keberhasilan yang diraih manusia karena hidayah dan taufik dari Allah SWT.

Setiap pujian yang tertuju kepada calon kepala daerah yang diusung hendaklah ia kembalikan kepada Allah SWT. Adab Islami selalu menyandarkan kebaikan kepada Allah dan keburukan disebabkan dosanya sendiri. Firman Allah SWT, "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah. Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (QS an-Nisa [4]: 79).

Lantas bagaimana dengan pencitraan dalam bentuk perbuatan seperti blusukan ke masyarakat kelas bawah, menyantuni kaum dhuafa, melakukan kegiatan amal, dan sebagainya? Apakah pencitraan seperti ini boleh dilakukan? Hal ini kembali kepada niat orang yang melakukannya.

Sabda Nabi SAW, "Amal itu bergantung pada niatnya, bagi seseorang (yang beramal) mendapatkan apa yang ia niatkan." (HR Bukhari Muslim). Jika seluruh amal kebaikan hanya diniatkan untuk meningkatkan popularitas dan dikenal sebagai orang baik, tak ada nilai ibadahnya. Seluruh yang ia lakukan bernilai riya dan menjadi dosa di sisi Allah SWT.

Tetapi, jika amal yang dia lakukan tulus ikhlas mengharap ridha dari Allah SWT, tentu saja bernilai pahala di sisi Allah SWT. Orang lain tak bisa menilai apakah amal tersebut ikhlas atau tidak. Hanya hatinya dan Allah SWT yang lebih mengetahui.

pSyariat Islam mengharamkan seseorang melakukan amal saleh jika berorientasi untuk mendapatkan manfaat duniawi. Perilaku tersebut merupakan ciri dari kaum munafik. Al-Qadhi Ibnu Atiyyah dalam kitab Al-Muharrar al-Wajiz (5/205) menyebut bentuk pencitraan yang dilakukan calon pemimpin yang tengah berkampanye demi meraih simpati masyarakat. Tujuannya hanya untuk mendapatkan bangku kekuasaan.

Namun, jika amal kebaikan yang dilakukan tersebut berujung pada pencitraan dirinya oleh orang lain dan dijadikan sebagai teladan dan panutan dalam masyarakat, hal ini boleh-boleh saja. Merupakan perkara yang makruf jika masyarakat memiliki figur orang saleh dan bisa diteladani dari sosoknya. Hal yang terpenting adalah niat ikhlas dari pemilik figur itu sendiri.

Amal kebaikan yang hanya berorientasi pada popularitas duniawi akan bermuara pada kehinaan nasib di akhirat. Pesan Nabi SAW dalam sabdanya, "Siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia, niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari kiamat." (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Majah).

Jadi, pencitraan diri dalam adab Islami bukan tertuju untuk meraih popularitas duniawi, melainkan untuk meraih akhirat yang haki


Resource Berita : republika.co.id
Cara Rasulullah Menerima Tamu

Cara Rasulullah Menerima Tamu



WartaIslami ~  Rasulullah SAW begitu baik menerima tamunya. Beliau SAW benar-benar tulus menyambut tamu dan memuliakannya.

Suatu ketika, Rasulullah SAW kedatangan utusan dari Bani Abdul Qais. Beliau SAW bersabda kepada para utusan, "Selamat datang para utusan, yang datang tanpa akan kecewa dan tidak akan menyesal." (HR  Bukhari dan Muslim).

Saat menyambut kerabat keluarga pun, Rasulullah SAW begitu ceria. Suatu kali, putri kandungnya, Fatimah, datang mengunjungi Beliau SAW. Nabi pun bersabda, "Selamat datang wahai putriku." (HR Bukhari dan  Muslim).

Kita kadang lupa dengan kaidah ini. Sering saat anak-anak kita pulang atau datang mengunjungi, tak ada sapaan selamat datang. Seolah pulang ke rumah adalah sebuah kejadian yang biasa yang tak perlu diagung-agungkan.

Jika kita melakukan sapaan yang hangat kepada tamu atau keluarga yang datang, minimal kita mendapat dua hal. Pertama, sang tamu merasa dihormati. Kedua, ada nilai pahala dalam sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Selanjutnya, tempatkanlah tamu kita dalam sebuah tempat yang layak bagi mereka. Jika memang tak ada perabot mewah, tak perlu dipaksakan untuk diadakan. Cukup dengan memberikan fasilitas dengan apa yang  kita miliki.

Usahakan tempat duduk yang nyaman bagi sang tamu. Jangan sampai auratnya tersingkap karena tidak adanya tempat duduk yang baik. Lalu muliakan tamu dengan menempatkannya di tempat yang tak tercium aroma yang kurang baik.

Menghidangkan makanan atau minuman adalah bagian dari adab memuliakan tamu. Sekali lagi tak perlu memaksakan diri dengan membeli makanan dan minuman di luar kemampuan kita bahkan sampai berutang.


Resource Berita : republika.co.id
close
Banner iklan disini