Enam Adab Majikan kepada Pembantu Menurut Imam al-Ghazali

Enam Adab Majikan kepada Pembantu Menurut Imam al-Ghazali



WartaIslami ~ Hubungan majikan dengan pembantu seringkali sangat jauh dari kesetaraan. Hal ini tidak jarang membuat majikan bertindak semena-mena terhadap pembantu. Islam bukanlah agama yang membenarkan penindasan terhadap sesama manusia. Oleh karena itu ada etika tertentu yang disebut adab bagi seorang majikan terhadap pembantunya.

Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) menyebut ada enam adab majikan kepada pembantu sebagai berikut:

لا يكلفه ما لا يطيق من خدمته، ويرفق به عند ضجره ولا يكثر ضربه، ولا يديم سبه فيجزأ عليه، ويفصح عن زلته، ويقبل معذرته، وإذا أصلح له طعامًا أجلسه معه على مائدته، أو أعطاه لقما من طعامه.

Artinya: “Tidak memaksanya bekerja melebihi kemampuannya; berbelas kasih ketika ia kelelahan dan tidak menyakitinya dengan memukul; tidak memakinya terus menerus sebab bisa membuatnya berani membalas; memaafkan kesalahannya; mau menerima permohonan maafnya; jika ingin memberinya makanan lezat, maka mengajaknya duduk bersama untuk memakannya, atau memberinya makan yang sama secukupnya.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan enam adab majikan kepada pembantu sebagai berikut:

Pertama, tidak memaksanya bekerja melebihi kemampuannya. Sebelum mulai bekerja, tentu ada kesepakatan-kesepakatan tertentu antara majikan dan pembantu berkenaan dengan hak dan kewajiban masing-masing. Seorang majikan tidak bisa secara sepihak melanggar kesepakatan, misalnya berkaitan dengan jam kerja, jenis pekerjaan, besar gaji, jam istirahat, hak libur atau cuti dan sebagainya. Hal-hal yang di luar kesepakatan tidak bisa dipaksakan sehingga harus ada pembicaraan terlebih dahulu hingga mencapai kata sepakat.

Kedua, berbelas kasih ketika ia kelelahan dan tidak menyakitinya dengan memukul. Seorang majikan harus memiliki rasa kemanusiaan kepada siapa pun termasuk pembantu. Beberapa kasus terjadi majikan memaksa pembantu bekerja melebihi kemampaunnya. Ketika ia menolak karena tak mampu melakukannya, majikan kemudian memukul dan bahkan menyiksanya. Hal seperti ini tidak dibenarkan di dalam Islam. Seorang pembantu secara sosial ekonomi termasuk kaum lemah (mustadh’afin) yang harus mendapat perlindungan secara moral maupun agama.

Ketiga, tidak memakinya terus menerus sebab bisa membuatnya berani membalas. Seorang pembantu terkadang kurang sempurna dalam pekerjaannya. Jika persoalannya ia kurang terbiasa dengan pekerjaan tertentu, maka majikan harus memberinya banyak kesempatan untuk berlatih hingga terampil. Tetapi ketika sudah dilatih tetap juga kurang terampil, mungkin hal itu memang kurang cocok baginya. Majikan tidak perlu memaki terus menerus karena hal itu bisa membuatnya tersinggung dan emosi. Orang emosi bisa kehilangan akal sehatnya sehingga bisa berbuat apa saja.

Keempat, memaafkan kesalahannya. Berbuat salah adalah manusiawi. Oleh karena itu tanpa pembantu meminta maaf, seorang majikan harus berjiwa besar memaafkannya sebab berapa pun besar gaji yang ia berikan kepada pembantu, sebenarnya masih tidak sebanding dengan jerih payahnya. Kesediaan dirinya menjadi seorang pembantu sebetulnya sudah merupakan pengorbanan harga diri yang luar biasa. Hal yang sangat mendasar dari persoalan ini adalah ia telah mengorbankan kebebasan hidupnya dalam banyak hal. Kebebasan seseorang sejatinya teramat mahal harganya yang oleh majikan nyaris tidak mendapat kompensasi apapun.

Kelima, mau menerima permohonan maafnya. Ketika seorang pembantu telah berbuat kesalahan dan memohon maaf kepada majikan, maka kesalahan-kesalahannya supaya dimaafkan. Dengan dimaafkan, perasaan takut dan bersalahnya bisa berkurang dan akhirnya dapat bekerja lagi dengan baik dan tenang. Sebelum memaafkan, seorang majikan tentu boleh meminta pembantu untuk berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Keenam, memberinya makanan yang lezat dan mengajaknya duduk bersama. Seorang majikan yang baik dan rendah hati, tentu tidak keberatan untuk sekali-kali duduk semeja untuk menikmati makanan yang enak bersama dengan pembantu. Seorang majikan haruslah memiliki keyakinan bahwa pada dasarnya derajat semua orang adalah sama di depan Allah SWT. Hal satu-satunya yang membedakan di antara mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada-Nya.

Demikianlah enam adab majikan kepada pembantu sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Keenam adab ini relevan dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 2 Tahun 2015 tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga yang dikeluarkan pada tanggal 16 Januari 2015. Peraturan itu berisi antara lain tentang hak dan kewajiban seorang pembantu yang disebut pembantu rumah tangga (PRT). Pelanggaran atas peraturan ini oleh majikan atau pengguna, misalnya, dapat dikenakan sanksi pidana.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Resource Berita : nu.or.id
Kisah Mbah Syifa’ Kacuk Membimbing Istri Istiqamah Shalat Malam

Kisah Mbah Syifa’ Kacuk Membimbing Istri Istiqamah Shalat Malam



WartaIslami ~ KH M Syifa’ Harun merupakan tokoh agama kenamaan di daerah Kacuk, Kebonsari, Kota Malang, Jawa Timur. Pengaruh beliau disegani masyarakat sekitar daerah tersebut. Sosok yang kerap disapa Mbah Syifa’ ini disebutkan pernah nyantri di Sidoarjo, serta berguru kepada banyak kiai kharismatik khususnya di daerah Malang Raya. Beliau wafat pada tahun 1955 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kebonsari.

Kisah ini disampaikan turun-temurun dalam berbagai kesempatan pengajian di Pondok Nurul Ulum, terutama untuk motivasi para santri. Tak jarang juga dibacakan sebagai manakib dalam pagelaran Haul. Mbah Syifa’ ini adalah istri pendiri pondok Kacuk, almarhumah Nyai Hj Rohmah Noor. Keduanya dikaruniai dua anak, Nyai Kholifatuz Zahro dan Gus Fauzi Syifa’, pengasuh Pesantren Nurul Ulum saat ini.

Pondok Nurul Ulum Malang saat ini berkembang pesat, tidak lepas dari perjuangan awal Nyai Rohmah Noor. Menurut Gus Fauzi, pengasuh Pondok Nurul Ulum yang merupakan putra beliau dalam berbagai kesempatan pengajian, salah satu amalan yang tak lepas dilakukan oleh Nyai Rohmah selama hidupnya adalah istiqamah dalam shalat tahajud dan qiyamul lail.

Keistiqamahan ini tak lepas dari bimbingan suami beliau, Mbah Syifa’, saat keduanya masih belum lama menikah. Pada masa dahulu, perbedaan usia yang jauh antarmempelai dalam pernikahan masih dipandang lumrah. Karena itulah Mbah Syifa’ yang sudah cukup berumur, terpaut cukup jauh dengan usia Mbah Nyai Rohmah yang beranjak dewasa.

Cara Mbah Syifa’ membimbing istri beliau untuk istiqamah qiyamul lail ini tidak dengan langsung menyuruh untuk melakukan shalat malam seperti beliau. Keluar malam hari di daerah Malang masa itu, adalah salah satu tantangan tersendiri untuk masyarakat. Selain belum ada lampu, serta jika bermaksud hendak berwudu, perlu pergi ke sungai terdekat. Agak seram tentunya. Dan Anda tahu, udara Malang masa itu masih tergolong dingin, terlebih di malam menjelang pagi.

Nyai Rohmah dibangunkan oleh Mbah Syifa’ untuk menemaninya pergi ke sungai pada dini hari, hitung-hitung membawa lampu cempluk. Hanya menemani saja, tidak lebih. Setelah kembali ke rumah, Mbah Rohmah diizinkan Mbah Syifa’ untuk tidur kembali. Dan hal ini terjadi sekian waktu lamanya.

Lambat laun karena nyaris setiap hari diajak menemani berwudhu ke sungai, Mbah Nyai juga merasa ingin ikut berwudhu juga. Hal ini tidak dipermasalahkan oleh suaminya. Akhirnya, Mbah Nyai ikut wudhu, sesekali mengikuti shalat sang suami.

Hal ini berjalan terus seiring waktu, hingga akhirnya Mbah Nyai Rohmah mengikuti amalan yang dilakukan Mbah Syifa’ setiap harinya. Shalat malam menjadi keistiqamahan beliau hingga akhir hayat. Amalan ini juga hingga saat ini menjadi rutinitas santri di Pondok Nurul Ulum.

Dari kisah di atas, perlu kita hikmahi bahwa cara mengajarkan agama pun tidak harus dengan cara yang memerintah, melainkan bisa dengan bertahap dan tanpa paksaan, bahkan dalam lingkup keluarga. Dengan demikian, ajaran agama yang ramah mampu menjadi pondasi keluarga,serta menebar kebaikan untuk masyarakat sekitarnya. Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Wali Qutub Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik

Wali Qutub Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik



WartaIslami ~ Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, beliau telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini beberapa komentar dari mereka.

Sayyidina Al-Imam Al-Quthubil wujud Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi; “Kelak akan ada seorang murid ku yang nanti memiliki kekeramatan sama dengan-ku namanya adalah Abu Bakar Assegaf.”

Ternyata beliau adalah Sayyidina Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf wali quthub gresik.

Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar berkata,
“Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya (leluhurnya)”.

Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Al-Haddad berkata,
“Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthub Al-Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT”.

Al -Arif billah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (kwitang) pernah berkata di rumah Al-Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan Al-Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu.

Beliau berkata: "Habib Abu Bakar ini adalah Raja Lebah (Rajanya para Wali dizamannya). Beliau adalah saudaraku dijalan Alloh. Pandanglah Beliau, karena memandang Beliau adalah Ibadah".

Al-Habib Husain bin Muhammad bin Thohir Al-Haddad berkata,
“Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, Beliau adalah Pemimpin Para Wali dimasanya, beliau telah berada pada Maqom as Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu."

Kemudian Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad membaca ayat Al-Qur'an, Beliau berhak untuk dikatakan “Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat)”. 



Resource Berita : dutaislam.com
Pitutur Luhur Jawa Penuh Makna yang Banyak Dilupakan

Pitutur Luhur Jawa Penuh Makna yang Banyak Dilupakan



WartaIslami ~  Banyak sekali kata-kata orang Jawa yang singkat dan padat namun penuh dengan makna. Semuanya dapat dijadikan pelajaran dan pedoman dalam hidup.

Pitutur itu mungkin sebagian besar banyak dilupakan. Oleh karena itu, untuk mengingatkan kembali, berikut kami paparakan beberapa pitutur Jawa tersebut:

Pitutur Luhur 
Wong yen Nerimo, uripe Dowo (Orang nerima, panjang umur)

Wong yen Sabar, rejekine Jembar(Orang yang sabar, rizkinya lapang)

Wong yen Ngalah, uripe bakal Berkah(Orang suka mengalah, hidupnya berkah)

Sopo sing Jujur, uripe yo Makmur(Siapa yang jujur, hidupnya makmur)

Sopo sing Suloyo, uripe yo Sangsoro(Siapa yang tidak suka kerja sama, hidupnya sengsara)

Sopo sing Sombong. amale bakal Kobong(Siapa yang sombong, amalnya hilang)

Sopo sing Telaten, bakal Panen(Siapa yang telaten akan memanen hasilnya)

Ojo podo Nggresulo, mundak gelis Tuwo(Jangan suka mengeluh, cepat tua)

Sing wis Lungo, Lalekno(Yang sudah berlalu, lupakan)

Sing durung Teko, Entenono(Yang belum datang, tunggulah)

Sing wis Ono, Syukurono(Suukurilah yang ada)

Iki pepiling wong jowo, eling-elingono lan
lakonono:
Sehat kuwi yen:

Awake waras,(Badan sehat)

Nduwe beras,(Punya sandang-pangan)

Utange lunas,(Tidak punya hutang)

Mangan enak.(Enak makan)

Turu kepenak(tidur enak)

Ngibadah jenak(Ibadah enak)

Tonggo semanak(tetangga rukun)

Keluarga cedhak(Keluarga dekat

Bondo cemepak(Modal cukup)

Suwargo mbukak(pintu surga terbuka)

Sedulur grapyak(Teman ramah)

Ono panganan ora Cluthak(Ada makanan tidak asal ambil-tanpa permisi)

Ketemu konco ngguyu ngakak(Ketemu teman tertawa)

Ora seneng nggethak-nggethak(Tidak suka menghasut)

Gaweane ora mung macak(Kerjaaanya tidak sekedar berdandan)

Opo maneh mung mencak-mencak(Apalagi cuma nyuruh-nyuruh)

Karo konco yo semanak(Sama teman guyub)

Omongane ora tau sengak(Kata-katanya tidak menyakitkan)

Di rungokke yo kepenak(didengar enak)

Diutangi yo
Ora manak
(Kalau meminjami uang tidak meminta bunga)

Demikian pitutur Jawa yang padat, singkat namun penuh makna. Semoga bisa mengambil pelajaran.



Resource Berita : dutaislam.com
Gus Mus: Gus Dur Tokoh Internasional yang Rajin Ziarah Kubur

Gus Mus: Gus Dur Tokoh Internasional yang Rajin Ziarah Kubur



WartaIslami ~ Haul Gus Dur dengan tema: “Semua Demi Bangsa dan Negara” digelar di Kediaman mantan Presiden RI tersebut, Ciganjur, Jakarta Selatan pada Jumat (22/12) malam.

Salah satu kiai yang didapuk mengisi ceramah adalah KH Ahmad Musthofa Bisri, atau yang biasa disapa Gus Mus, sahabat mensiang Gus Dur. Dalam ceramahnya, antara lain, Gus Mus mengungkap sosok Gus Dur yang hobi ziarah kubur.

“Ini ada orang, tokoh nasional, bahkan Internasional, pernah jadi presiden, tapi sering ziarah kubur. Gus Dur ini saya kira satu-satunya presiden yang saba kuburan,” terang Gus Mus. “Malah kadang diejek orang dengan mengakatakan: Sarkub, Sarjana Kuburan,” imbuhnya, diikuti gelak tawa hadirin yang ramai memadati acara.

Ketika ditanya mengapa sering berziarah dari satu makam ke makam lain, jawaban Gus Dur, menurut Gus Mus, mirip dengan syair dari Syekh Buhlul al-Majnun (Abu Wahb Buhlul bin Amr as-Shairafi al-Kufi). Syekh Buhlul merupakan seorang sufi yang hidup di masa Khalifah Harun ar-Rasyid.

“Entah ini kebetulan atau memang Gus Dur sudah baca sebelumnya,” tutur Gus Mus.

Ketika ditanya hobinya ke kuburan itu, karena: orangnya baik-baik. (Disana) tak ada ghibah, tak ada fitnah, dan lebih dari itu, mengingatkan pada akhirat.

Kemudian pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang tersebut menyayangkan orang-orang yang membid’ahkan hal-hal baik yang membawa ke arah positif.

“Maulid Nabi, dibidahkan, padahal di dalamnya mengupas manusia utama, Nabi Muhammad yang memiliki akhlak yang agung,” sesalnya.

Orang, kata Gus Mus, akan baik jika sering ziarah kubur dan mengingat kematian. Dengan mengingat mati, akan menyadari bahwa dunia ini sementara, harta, jabatan dan kedudukan tidaklah kekal.

Dalam pada itu, Mustasyar PBNU juga mengajak hadirin untuk belajar dari Gus Dur, yaitu memandang manusia lain dengan kacamata kemanusiaan dan menghargai orang lain.

“Manusia itu leluhurnya Nabi Adam. Nabi Adam dari tanah. Sifat tanah itu nenunduk ke bawah. Berbeda dengan Iblis yang terbuat dari api, yang memiliki sifat mendongak ke atas,” terangnya.

Acara Sewindu Haul Gus Dur ini juga disiarkan secara langsung (live streaming) oleh beberapa akun media sosial dan televisi, salah satunya adalah Aswaja TV. Banyak netizen yang tidak bisa hasir secara langsung, mengikuti acara tersebut via online.


Resource Berita : santrionline.net
Cara Mengukur Siapa Kita di Sisi Allah ala Ibnu Athaillah

Cara Mengukur Siapa Kita di Sisi Allah ala Ibnu Athaillah



WartaIslami ~ Manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk menyembah-Nya. Sejak kecil hingga kini kita berupaya untuk berbuat baik dalam rangka mengabdikan diri kepada-Nya. Tetapi kita tidak pernah tahu siapa kita sebenarnya di sisi Allah. Apakah kita hamba yang baik atau hamba yang buruk?

Pertanyaan ini penting dijawab agar kita dapat mengintrospeksi diri. Sebagai upaya menjawab pertanyaan ini, Syekh Ibnu Athaillah menawarkan sejenis resep dalam hikmah berikut ini:

إذا أردت أن تعرف قدرك عنده فانظر فيماذا يقيمك

Artinya, “Kalau mau tahu kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di mana Dia menempatkanmu.”

Kata “di mana” tidak menyarankan profesi atau tempat dalam arti fisik. Kata itu merujuk pada pengertian perilaku kita sehari-hari. Apakah keseharian kita berada dalam perilaku yang diridhai atau dimurkai-Nya?

Syekh Syarqawi menyatakan bahwa hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini bisa dipahami dalam dua konteks. Dalam konteks kalangan awam, derajat kita di sisi Allah bergantung pada ketaatan dan kemaksiatan yang mengisi hari-hari kita. Sedangkan dalam konteks kalangan tertentu (khawas), martabat sesorang di sisi Allah ditentukan pada sejauh mana seseorang menempati kedudukan muqarrabin atau abrar di mana sesuatu yang dianggap sudah baik oleh kalangan abrar belum tentu bernilai baik bagi kalangan muqarrabin sehingga masyhur di kalangan sufi bahwa hasanatul abrar sayyi’atul muqarrabin (kebaikan abrar adalah keburukan bagi muqarrabin). Simak penjelasan Syekh Syarqawi dalam redaksi berikut ini:

إذا أردت أن تعرف قدرك عنده) هل أنت من المقبولين السعداء أو من المردودين الأشقياء (فانظر فيماذا يقيمك) من طاعة أو ضدها فمن كان من أهل السعادة والقبول استعمله مولاه فيما يرضيه عنه من أنواع الطاعات ومن كان من أهل الشقاوة استعمله فيما يسخطه عليه من أنواع المخالفات وهذا يناسب العامة. وأما الخاصة فيقال فيه إن أردت أن تعرف قدرك أي منزلتك عنده هل أنت من المقربين أو لا فانظر فيماذا يقيمك أي يورده على قلبك من إدراك جلالته وعظمته قال عليه الصلاة والسلام "من أراد أن يعلم منزلته عند الله فليعلم منزلة الله من قلبه"

Artinya, “(Kalau mau tahu kedudukanmu di sisi Allah), apakah kau termasuk hamba yang diterima dan berbahagia atau hamba yang ditolak dan celaka, (lihatlah di mana Dia menempatkanmu), apakah perbuatan taat atau maksiat. Siapa saja yang diterima dan berbahagia, maka ia akan digerakkan oleh Allah pada ketaatan yang diridhai-Nya. Sedangkan orang yang celaka, maka ia akan digerakkan oleh Allah pada pelanggaran yang dimurka oleh-Nya. Ini berlaku dalam konteks orang awam. Dalam konteks kalangan tertentu (khawash), dapat dikatakan, (Kalau mau tahu kedudukanmu) derajatmu (di sisi Allah), apakah kau termasuk kalangan muqarrabin atau bukan, (lihatlah di mana Dia menempatkanmu) Dia memasukkan kebesaran dan keagungan-Nya ke dalam batinmu. Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang ingin mengetahui derajatnya di sisi Allah, perhatikan kedudukan-Nya di dalam hati,’” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Al-Haramain, 2012 M, juz I, halaman 62).

Penjelasan lebih rinci kita dapat temukan pada Syekh Ahmad Zarruq. Menurutnya, harkat seorang hamba di sisi Allah bergantung pada kondisi yang dihadapkan-Nya pada hamba tersebut. Bagaimana hamba itu melewati kondisi tersebut, maka begitulah derajatnya di sisi Allah sebagaimana keterangan Syekh Ahmad Zarruq berikut ini:

قلت لأن المنازل على قدر مراتب النازل. فإن وجّهك للدنيا فقد أهانك، وإن أشغلك بالخلق عنه فقد صرّفك، وإن وجّهك للعمل فقد أعانك وإن فتح لك باب العلم فقد أرادك، وإن فتح لك بابا إلى مناجاته فقد قرّبك، وإن واجهك بالبلاء فقد هداك، وإن صرّفك عن الأغراض فقد أدّبك، وإن رضيت به ورضيت عنه فقد فتح لك باب الرضا عنه وهو أعظم الأبواب وأتمّها وأكملها.

Artinya, “Menurut saya, kedudukan manusia di sisi Allah itu bergantung pada kadar derajat ilham dari-Nya. Jika kau dihadapkan pada dunia, Allah tengah menjatuhkanmu dalam kehinaan. Bila kau disibukkan oleh makhluk-Nya, Dia tengah memalingkanmu dari-Nya. Ketika kau diarahkan pada amal saleh, Dia tengah menolongmu. Saat kau dibukakan pintu ilmu, Dia memang menghendakimu. Jika kau dibukakan sebuah pintu untuk munajat kepada-Nya, Dia ingin mendekatkanmu. Bila kau dihadapkan pada sebuah bala, Dia ingin menunjukimu. Ketika kau dipalingkan dari rencana dan target-target dalam hidupmu, Dia ingin menjaga adab. Tetapi jika kau ridha pada Allah dan putusan-Nya, maka sungguh Dia membukakan pintu ridha untukmu. Yang disebut terakhir ini adalah pintu paling agung, sempurna, dan utama,” (Lihat Syekh Ahmad Zaruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman  81).

Penilaian semacam ini sebaiknya hanya dibatasi untuk mengukur diri sendiri, bukan untuk orang lain. Penilaian terhadap orang lain dapat membawa mafsadat untuk diri kita sendiri, minimal timbul ujub dan takabbur dalam diri, suatu larangan Allah yang seharusnya dihindari.

Hikmah ini yang jelas mendorong kita untuk terus memperbaiki diri dan tentu saja selalu memohon bimbingan Allah agar selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a‘lam.


Resource Berita : nu.or.id
Suami Istri di Usia Senja (Yang Baca Jangan Nangis ya)

Suami Istri di Usia Senja (Yang Baca Jangan Nangis ya)



WartaIslami ~ Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga. Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah, mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya disebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi.

Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra : “Kenapa Bu?”
Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pak”.

“Ya sudah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. Walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.

Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya. “Bagaimanapun usahaku untuk ber terima kasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya".

"Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang kerja, kaki yang telah mengantar anak-anak-ku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.

Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama…. Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan.

Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya. Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam :

“Terima kasih ya Bu ”.
“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu.

“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus.

Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri ......

“Bapak kok bicara begitu?
Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah sesuatu yang luar biasa.
Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.
Semuanya dapat kita hadapi bersama.”

Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi.

Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.

Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir. Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.

"Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji'uun"
“Subhanallah.... sungguh akhir perjalanan hidup yang indah” demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ternyata dia telah tiada di akhir shalat Jum'at.

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid. Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan "Selamat Tinggal". Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya.

Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak.

Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya. Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut.

“Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang.
Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia ini berakhir sekalipun.
Bapak selalu butuh Ibu.
Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”

Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata: “Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian.... Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."

Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

"Istrimu itu adalah 'Bajumu' dan Suami itu adalah 'Bajumu' pula" (QS Al-Baqarah: 187)

Semoga bisa mempererat cinta kasih yang sejati..karena Allah.


Resource Berita : dutaislam.com
Hujan Pun Segan dengan Mbah Hamid (Adik Mbah Wahab Chasbullah)

Hujan Pun Segan dengan Mbah Hamid (Adik Mbah Wahab Chasbullah)



WartaIslami ~ Mbah Yai Hamid (adik pendiri NU; KH Wahab Chasbulloh) adalah putra mbah Chasbulloh Said Tambak Beras yang wafat tahun 1956 M.

Dalam tutur tinular yang beredar, sepulang belajar dari Makkah, hidup beliau hanya ngglutek (fokus dan tinggal) di pondok untuk ngajar para santri atau ngaji di kampung kampung sekitar Tambakberas saja.

Jadi, bisa dikata, mbah Hamid yang mbengkoni (menunggui) pondok dengan dibantu mbah Yai Fattah, sedang mbah Wahab Chasbulloh bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU keluar kota dan propinsi. Kalau pulang saja mbah Wahab ngajar santri.

Karamah uniknya, kalau terjadi mendung di musim hujan, biasanya mbah Hamid akan keluar rumah ngawasi tukang yang sedang membuat bata merah (mbah Hamid berdagang bata merah), Ketika mbah Hamid keluar rumah, maka biasanya mendung tidak jadi menurunkan hujan.

Jadilah orang orang kampung Tambak Beras makmum Yai Hamid dalam membuat bata. Artinya, sekalipun musim hujan, kalau mbah Hamid masih membuat bata merah, maka masyarakat akan ikut buat bata karena tidak kawatir hujan.Kyai Wahab Chasbullah, Tokoh dan Diplomat Internasional

Suatu saat, KH. Wachid Hasyim pergi ke Tambakberas untuk sowan ke mbah Wahab Chasbulloh. Setelah bertemu mbah Wahab, Yai Wachid minta ditakwilkan mimpinya yang berupa kejebur atau kecemplung sumur.

Tahu Yai Wachid minta takwil mimpi, maka mbah Wahab menyuruh Yai Wachid untuk menemui adiknya, yakni mbah Hamid. Ketika Yai Wachid bertemu mbah Hamid dan bercerita tentang mimpinya, maka mbah Hamid hanya menangis.

Setelah Yai Wachid pulang, mbah Wahab bertanya, “Lapo mbok tangisi? (kenapa kamu menangisi Yai Wachid).

Jawab mbah Hamid, “Gus Wachid niku cepet drajatnya, tapi geh cepat pejahnya.” (Yai Wachid itu derajatnya cepat naik, tapi juga cepat wafatnya).

Terbukti KH. Wachid Hasyim masih muda sudah jadi menteri agama, dan masih muda pula wafatnya. (riwayat dari KH. Irfan Sholeh Tambakberas pada 16-8-2016).

Karamah unik lainnya beliau tidak bisa di foto. Beberapa santri dan Kiai memberi kesaksian tentang hal itu.

Mbah Hamid wafat pada 8 ramadhan. Setelah sahur, beliau terhuyung terus berbaring dan minta diambilkan Quran. Setelah quran di tangan mbah Hamid, beliau menutupi wajahnya dengan quran, dan innalillahi wainna ilayhi rajiun. Untuk mbah Hamid, alfatihah..


Resource Berita : dutaislam.com
Gus Dur dan Keberpihakan pada Kaum Perempuan

Gus Dur dan Keberpihakan pada Kaum Perempuan



WartaIslami ~ KH. Abudrrahman Wahid (Gus Dur) merupakan kiai yang semasa hidup dikenal nyentrik, namun pemikirannya sangat luas dalam segala hal. Sebagai perempuan, Saya sangat gembira Indonesia pernah memiliki sosok kiai seperti Gus Dur.

Pemikiran, pandangan, dan perilakunya, menjadi teladan masyarakat luas. Termasuk dalam isu perempuan. Dia berani mendobrak paradigma yang jelas-jelas salah, bahkan ketika para kiai atau intelek kenamaan sekalipun, belum tentu berani mendobrak paradigma di masyarakat yang telah mapan.

Terkait isu perempuan, Gus Dur berani mengatakan, bahwa poligami itu tidak boleh. Ketegasan sikap Gus Dur itu, dengan pertimbangan betapa berat syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh mereka yang menghendaki berpoligami.

Gus Dur, melalui istrinya, Sinta Nuriyah, menjelaskan, orang yang mengatakan bahwa poligami itu boleh, hanya menafsirkan ayat secara sepenggal-sepenggal tanpa mendalami syaratnya yang begitu berat. Utamanya soal keadilan.

Keberpihakan Gus Dur terhadap perempuan, dilakukan secara nyata. Tidak dengan koar-koar tanpa isi yang jelas. Hal lain yang menarik, semasa menjabat Presiden RI, dirinya mengganti nomenklatur Menteri Peranan Wanita menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Pilihan diksi tersebut, menurut para aktivis perempuan, dinilai sebagai wujud nyata keberpihakan Gus Dur atas hak-hak perempuan.

Melihat keberpihakan Gus Dur terhadap perempuan, tidak peduli di zaman apa perempuan hidup, perempuan seharusnya senantiasa berusaha untuk menjadi berdaya, memahami akan kelebihan dan kekurangannya. Gesit, tangguh, cekatan, mandiri, rajin, dan sifat-sifat mendasar lainnya.

Pepatah Barat mengatakan, “Beauty maybe dangerous. But intelligence is lethal”. Kecantikan mungkin berbahaya, tetapi kecerdasan itu mematikan. Pepatah tersebut menegaskan, bahwa selayaknya perempuan harus cerdas, berani, dan tentu saja tetap berakhlak terpuji sesuai tuntunan agama. Perempuan tidak seharusnya terjebak dalam gaya hidup hedonisme, dan menjadi korban kapitalisme.

Semoga ke depan, lahir tokoh-tokoh, utamanya dari kalangan santri, yang memiliki sikap, pemikiran dan keteladanan seperti Gus Dur. Sosok yang mampu ngemong kaum perempuan tanpa mendiktenya. Ia menjadi sosok humoris jika diperlukan, dan akan hadir menyelesaikan masalah-masalah sesuai porsinya, serta menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Wallahu a’lam.


Resource Berita : dutaislam.com
Ketika Rasulullah SAW Dikritik oleh Sahabat, Ini Sikapnya

Ketika Rasulullah SAW Dikritik oleh Sahabat, Ini Sikapnya



WartaIslami ~ Saat mendapati sesuatu yang kurang cocok dengan hati, muncul keinginan untuk mengkritik. Dalam muamalah, memberikan masukan berupa kritik adalah hal yang wajar untuk saling mengingatkan.  Tentu saja dengan kritik yang membangun bukan yang menyakiti perasaan orang yang dikritik.

Dikutip dari buku yang berjudul ’99 Resep Hidup Rasulullah’ karya Abdillah F. Hasan, sebagaimana Rasulullah SAW, Beliau bukanlah orang yang antikritik. Beliau adalah manusia biasa yang perlu masukan dari para sahabatnya. Saat terjadi perang Badar, pasukan Muslimin berhenti di sebuah sumur yang bernama Badar dan Beliau memerintahkan untuk menguasai sumber air tersebut sebelum dikuasai musuh.

Salah seorang sahabat yang pandai strategi perang, Khahab ibn Mundzir ra berdiri menghampiri Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah apakah penentuan posisi ini adalah wahyu dari Allah atau hanya strategi perang?”

Beliau menjawab, “Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan strategi perang.” Kemudian Khahab menjelaskan, “Wahai Rasulullah, jika demikian tempat ini tidak strategis. Lebih baik kita pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya.”

“Kita buat lubang-lubang dekat perkemahan dan kita isi dengan air sampai penuh, sehingga kita akan berperang dan mempunyai persediaan air yang cukup. Sedangkan musuh tidak mempunyai persediaan air minum,” kata Khahab.

Apakah Rasulullah SAW marah dikritik oleh Khahab? Tidak, beliau berpikir lalu menyetujui kritikannya sambil tersenyum. “Pendapatmu sungguh baik.” Malam itu juga, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan usulan dari Khahab tersebut. Dimana akhirnya kaum Muslimin memenangkan peperangan tersebut dengan telak.

Sejatinya kritik ibarat pedang, bisa berguna maupun jadi malapetaka, tergantung diri kita menyikapinya. Umumnya orang-orang yang berpikiran negatif akan menanggapi kritik sebagai senjata yang menghunus dirinya. Sebaliknya orang-orang yang berpikir positif selalu menjadikan kritik sebagai cermin yang memberi gambaran diri yang sebenarnya.


Resource Berita : republika.co.id
Habib Bin Zaid, Sang Pembawa Pesan Rasulullah

Habib Bin Zaid, Sang Pembawa Pesan Rasulullah



WartaIslami ~ Zaid bin Asim dan istrinya, Ummu Ammarah, menjalani kehidupan yang bahagia. Keduanya memiliki anak bernama Habib. Ketiga orang ini kelak dikenal sebagai pembela Islam yang gigih.Mereka pergi ke Makkah untuk bersyahadat, mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai utusan Ilahi.

Ikrar itu disampaikan di Agabah dalam kegelapan malam. Habib yang masih kecil mengulurkan tangan kecilnya dan berjanji setia kepada Rasulullah. Habib harus melaksanakan apa yang diperintahkan dan diarahkan sang Nabi.

Setelah berislam, Habib belum mengikuti Perang Badar, karena masih terlalu muda.Dia juga tidak memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam Pertempuran Uhud karena dianggap belum berkompeten memegang senjata.

Meski demikian, Habib selalu mengamati berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam.

Harta dan takhta selalu didermakan untuk kepentingan Islam. Bahkan nyawa dikorbankan demi tegaknya risalah Ilahiyah yang mengarahkan manusia kepada kebenaran.

Tantangan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dalam berislam. Habib menilai, berjuang demi Islam memang harus total, tidak setengah hati. Bukan hanya harta, tapi nyawa pun harus dikorbankan demi tegaknya Islam.


Resource Berita : republika.co.id
Hijab, Antara Fashion dan Kewajiban

Hijab, Antara Fashion dan Kewajiban



WartaIslami ~ Perbedaan paling mendasar dari muslimah dan wanita lainnya adalah standar hidupnya. Muslimah memiliki standar yang pasti dalam hidupnya, yaitu syari'at Allah Ta'ala. Oleh karena itu seharusnya kehidupan muslimah bisa menjadi lebih teratur dan mudah. Karena tidak berpatokan pada trend dunia yang bergonta-ganti dan sudah pasti mengorbankan banyak hal.

Salah satunya saja dalam dunia fashion. Jika seseorang selalu mengejar trend fashion yang ada, maka dia akan berjuang untuk mengejarnya, padahal suatu saat nanti akan terganti trend yang lain. Maka bisa dibayangkan, bagaimana betapa sia-sianya sebuah perjuangan jika hanya digunakan untuk mengejar kebanggaan yang sifatnya hanya sementara.

Sedangkan standart yang Allah beri itu, sifatnya everlasting, tidak berpatokan pada nafsu manusia yang selalu berubah-ubah setiap harinya. Dan sudah pasti, Allah memberi standart yang terbaik. Karena hanya Allah lah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh setiap hambanya.

Seperti contohnya saja dalam berhijab. Sangat banyak contoh-contoh diluar sana, tapi Allah memberi tutorialnya dalam Surah An-Nur ayat 31, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." Jika sudah begitu, apakah masih mau ikut standart dan tutorial dari manusia?

Alhamdulillah, saat ini dinamika perkembangan hijab syari di Indonesia sudah mulai banyak. Karena para muslimah sudah memahami kewajiban menutup aurat. Namun, banyak juga yang belum mengaplikasikan ketentuan-ketentuan hijab syari. Agar lebih mantap dan konsisten berhijab syari, kami ingatkan kembali seperti apa ketentuan berhijab syari di dalam kehidupan umum.

Yang pertama, gunakan mihnah atau pakaian rumah. Penjelasan tentang batasan aurat wanita telah dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang bersumber dari Aisyah r.a. Disebutkan bahwa Asma' binti Abu Bakar r.a pernah masuk ke ruangan Nabi saw. dengan menggunakan pakaian tipis, sehingga Rasulullah pun berpaling seraya bersabda kepadanya "wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu telah baligh tidak pantas untuk dilihat kecuali ini dan itu". (Beliau mengatakan demikian sambil memberikan isyarat pada wajah dan kedua telapak tangannya).

Yang kedua, gunakan jilbab/gamis yang tidak menunjukkan lekuk tubuh "Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya." (HR. Abu Daud).

Yang ketiga, gunakan khimar/kerudung yang menutupi bagian dada. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (QS. An-Nur ayat 31).

Yang keempat, gunakan kaos kaki. Karena aurat wanita yang boleh diperlihatkan hanya muka dan telapak tangan. Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi (asing) adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan (Syahr Mukhtashar Khalil, 176).

Sejatinya, style hijab seorang muslimah hanyalah sesuai syariat. Karena dengan begitu, keanggunan dan kehormatan wanita akan terjaga. Namun dengan perkembangan zaman, millenial menjadikan kreatifitas dalam berhijab terlihat absurd. Terlalu banyak ide mix and match atasan bawahan, outer, hijab, tas, kalung ala-ala hijabers masa kini -entah itu selebgram atau artis- membuat esensi dari hijab syari menjadi kehilangan makna utuhnya. Hal ini menimbulkan tujuan berhijab berbelok dari menuju taat menjadi hanya mengejar fashion semata. Apa-apa yang melanggar syariat memang pasti akan menggiring untuk tidak taat kepada Allah.

Berhijab bukan hanya sekedar fashion, tetapi juga ada ketentuannya. Pakaian wanita yang disyariatkan adalah baju yang tidak berpotongan dipadukan dengan kerudung. Simple. Kerudungnya juga disyariatkan yang sederhana, dengan begitu insyaAllah kita akan lebih ikhlas dan lebih anggun. Tidak akan pernah terlihat mati gaya karena mengejar trend fashion dunia. Karena pakaian yang dipakai merupakan busana yang disyariatkan kitabullah yang eksis sepanjang masa.

Hijab syari bukan hanya dipakai untuk mengaji, tapi itu adalah pakaian muslimah sehari-hari. Anggapan bahwa pakaian syari hanya dipakai mengaji sudah mengakar dalam benak kaum muslimah masa kini. Hal itu dikarenakan pakaian muslimah saat ini sudah tidak syari, dan aktifitas yang terlihat syari hanya mengaji. Padahal kenyataanya tidak begitu, ketika muslimah beraktivitas diluar rumah, baik itu kegiatan sosial, olahraga, bahkan berenang sekalipun juga tetap harus berhijab syari.

Mengikuti trend fashion berhikab syari hanya semata untuk mendapat pujian manusia tidaklah berarti apa-apa disisi Allah. Sistem hidup yang tidak islami, juga berpengaruh dalam hal ini. Gaya hidup hedonis di kalangan millenial, selebriti, dan publik figur menjadikan aturan islam tentang aurat temarjinalkan. Ini semua dikarenakan tidak diterapkannya islam secara sempurna dalam kehidupan.

Sudah saatnya mengganti fashion muslimah dengan hijab syari, syari disini tidak hanya dalam berpakaian, tetapi dalam keseluruhan penampilan. Kesederhanaan dan sifat malu seorang muslimah justru membuat iri para bidadari surga. Mengapa demikian? Karena itu termasuk ibadah. Kita melakukan apa yang Allah perintah.

"Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli?" Beliau menjawab "wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak." Saya bertanya, "Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?" Beliau menjawab, "Karena salat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah." (HR. At-Thabrani).

Sudah tahukah kita betapa indahnya surga? Penghuninya saja iri denganmu wahai muslimah, berarti betapa mulianya dirimu yang selalu menjaga niat untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Yuk mantapkan niat lagi untuk istiqamah berhijab syari.


Resource Berita : voa-islam.com
Bagaimana Hukum Sengaja Terlambat Supaya Tak Dapati Khutbah Jum'at ?

Bagaimana Hukum Sengaja Terlambat Supaya Tak Dapati Khutbah Jum'at ?



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Allah perintahkan orang-orang beriman agar semangat menjalankan ibadah. Bersegera kepada ampunan dan amal-amal yang membawa ke surga salah satu bentuk perintahnya dalam QS. Ali Imran: 133.

Besegera dan semangat menjalankan ibadah adalah bukti iman dalam hati dan kecintaan kepada Allah. Sebaliknya, bermalas-malasan dalam ibadah menjadi tanda kenifakan.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا 

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. Al-Nisa’: 142)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Ini adalah sifat orang munafikin dalam melaksanakan amal ibadah paling mulia, utama, dan terbaik; yaitu shalat. Apabila mereka mengerjakan shalat mereka berdiri dengan malas. Karena mereka tidak punya niatan (tulus), iman dan rasa takut dalam mengerjakanya. Mereka tidak menghayati makna-maknanya.”

Kemudian Ibnu Katsir menghadirkan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, “Seseorang dimakruhkan melaksanakan shalat dengan malas. Tetapi hendaknya mengerjakannya dengan wajah berbinar, penuh harap, penuh kegembiraan; karena ia bermunajat kepada Allah Ta’ala. Bahwa Allah ada di hadapannya yang akan mengampuni dosa-dosanya dan mengabulkan permintaannya apabila ia berdoa kepada-Nya. Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat ini,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى

 “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.” (QS. Al-Nisa’: 142)

Di antara ibadah yang diseru untuk diperhatikan dan bersemangat dan bersegera kepadanya adalah shalat Jum’at. Allah kaitkan perintahnya dengan kalimat “bersegeralah kepada dzikrullah”.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maksud bersegera di sini, adalah perhatian kepada shalat Jum’at. Yaitu agar bersegera, menyengaja, dan perhatian untuk ke sana.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di menjelaskan serupa,

والمراد بالسعي هنا: المبادرة إليها والاهتمام لها، وجعلها أهم الأشغال

“Dan maksud berjalan di sini: bersegera ke shalat Jum’at (masjid) dan perhatian terhadapnya; menjadikanya sebagai kesibukan paling penting.”

Siapa yang sengaja terlambat datang ke shalat Jum’at karena malas menyimak khutbah; ia datang hanya untuk mendapati shalatnya saja, ia berdosa. Sebabnya, karena menyimak khutbah adalah wajib. Walaupun shalat Jum’at tanpa menghadiri 2 khutbahnya tetap sah. Ia kehilangan kebaikan yang besar dan banyak.

Al-Imam al-Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah QS. Al-Jumu’ah: 9, di atas menjelaskan tentang makna dzikrullah adalah shalat. Pendapat lainnya, khutbah dan nasihat-nasihat; ini pendapat Sa’id bin Jubair.

Dalil wajibnya menghadiri khutbah adalah diharamkannya jual beli setelah kumandang adzan; kalau menghadiri khutbah tidak wajib, jual beli tidak akan diharamkan. Karena perkara sunnah tidak menyebabkan haramnya perkara mubah.

Selayaknya, setiap mukmin lebih awal ke masjid untuk menghadiri shalat Jum’at supaya dirinya mendapatkan pahala besar. Jangan sampai masuk masjid setelah imam naik mimbar.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Muttafaq 'alaih)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلَائِكَةُ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Apabila hari Jum'at tiba, pada pintu-pintu masjid terdapat para Malaikat yang mencatat urutanorang datang, yang pertama dicatat pertama. Jika imam duduk, merekapun menutup buku catatan,dan ikut mendengarkan khutbah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan mayoritas ulama bahwa waktu pergi shalat Jum’at dimulai sejak awal hari (pagi-pagi setelah terbit matahari). Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Larangan Menghormati Orang Kaya karena Kekayaannya

Larangan Menghormati Orang Kaya karena Kekayaannya



WartaIslami ~ Dalam masyarakat modern yang materialistik dan kapitalistik harga diri atau kehormatan seseorang seringkali dilihat dari harta kekayaan yang dimilikinya. Artinya semakin seseorang kaya raya, ia akan semakin dikagumi dan dihormati banyak orang. Sementara orang-orang miskim semakin tersingkir dan sering dilecehkan. Penghormatan kepada orang kaya yang semata-mata karena kekayaannya tidak dibenarkan di dalam Islam berdasarkan hadits marfu’ yang dirwayatkan Al-Baihaqi sebagai berikut:

وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

Artinya: “Dan barangsiapa merasa rendah di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh orang itu telah lenyap atau hilang dua pertiga agamanya.”

Merasa rendah atau menghormat kepada orang kaya semata-mata karena kekayaannya bukanlah akhlak terpuji. Orang-orang kaya dihormati seharusnya bukan karena hartanya yang berlimpah tetapi karena amal-amal kebaikannya, seperti bertakwa kepada Allah SWT, ramah kepada sesama, suka bersedekah, suka menolong fakir miskin, sangat peduli terhadap kepentingan umum, mewakafkan ini dan itu dan sebagainya.

Barangkali kita bertanya, mengapa Islam melarang penghormatan kepada seseorang karena kekayaannya? Jawabnya, banyak alasan bisa kita temukan, di antaranya adalah:

Pertama, karena manusia lebih mulia daripada harta benda.

Manusia adalah makhluk terbaik dan paling mulia yang diciptakan Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Isra’ ayat 70, yang berbunyi:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang sempurna.”

Seseorang yang menghormati orang kaya semata-mata karena kekayaannya, sesunguhnya ia telah merugikan keimanan dan keislamannya sendiri. Kesalahan bukan pada orang kaya yang dihormati tetapi pada dirinya sendiri karena telah menempatkan nilai kemanusian beserta seluruh potensi spiritualnya dibawah harta benda duniawi. Oleh Rasulullah SAW orang tersebut dikatakan telah lenyap dua pertiga agamanya.

Kedua, karena keekayaan berupa harta benda bukanlah kekayaan yang sebenarnya.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: “Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kayanya jiwa.”

Hal-hal spiritual seperti: keimanan, ketakwaan, kesabaran, sikap tawakal, kesalehan, keramahan, kedermawanan dan sebagainya, itu jauh lebih berharga daripada hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta benda atau kekayaan. Di hadapan Allah SWT harta manusia tidak ada artinya hingga harta itu benar-benar dikonversi menjadi harta spiritual berupa amal-amal kebaikan.

Ketiga, karena mengakibatkan orang-orang miskin tidak dihargai dalam masyarakat.

Jika sikap menghormati orang kaya karena kekayaannya dibenarkan, maka akan timbul sikap sebaliknya yakni orang-orang yang tidak kaya atau miskin tidak dihargai. Dan inilah yang terjadi di masyarakat banyak orang miskin direndahkan dan dilecehkan. Ini masalah besar yang tidak pernah dipermasalahkan hingga seolah-olah telah diterima sebagai kebenaran.

Jika permasalahan itu dikaitkan dengan hadits Rasulullah SAW: “Barang siapa merasa rendah di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh orang itu telah lenyap atau hilang dua pertiga agamanya”, maka logika terbaliknya adalah barang siapa merasa lebih tinggi di hadapan orang miskin dalam bentuk merendahkannya karena kemiskinannya maka sungguh orang itu telah lenyap pula atau hilang dua pertiga agamanya.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Resource Berita : nu.or.id
Kisah Kiai Syafi'i Ahzami dan Tumpukan Amplop di Saku Bajunya

Kisah Kiai Syafi'i Ahzami dan Tumpukan Amplop di Saku Bajunya



WartaIslami ~ Kembali memutar ingatan pada waktu silam bersama almarhum abi saya tentang Muallim KH Syafi'i Ahzami (Jakarta Selatan).

Kala saya masih kuliah di UIN Jakarta, saya dan abi selalu hadir di beberapa majlis kajian kitab yang diasuh oleh beberapa ulama betawi terkemuka, KH Abdul Hamid Abdul Halim AdDaary, KH Zakwan Abdul Hamid, DR KH Abdul Muhith Abdul Fattah (semoga Allah memberikan kesehatan kepada keduanya) dan tak luput adalah, KH Syafi'i Ahzami.

Kisah menarik yang saya alami adalah dikala suatu sore di hari senin, di masjid (saya lupa namanya) yang berada di Jl Bacang, Limau dekat UHAMKA  yang mana kami biasa menghadiri kajian Kitab Ihya Ulumuddin karya Al Imam Al Ghozali.

Setelah seluruh jamaah yang cukup banyak usai shalat maghrib dan menuntaskan dzikir dan sunnahnya, bergegas ambil lekar kecil untuk kitab dan mengambil posisi terdepan. Oooh sungguh pemandangan bahkan fenomena yang sudah hilang dari ibukotaku sekarang.

Jamaah menanti kedatangan kiai yang datang dari kediaman beliau di Gandaria dan memang beliau selalu shalat maghrib di pesantrennya baru kemudian pergi ke majlis yang hanya jarak beberapa menit saja.

Ketika itu abi meminta kepada saya sambil berbisik.

"Iq, nanti klo kyai datang, kamu kan ikut ngantri salaman? Nah kamu jangan salaman duluan, tapi usahakan kamu menjadi orang yang salaman terakhir."

Sambil mengangguk tanda paham, saya lanjut bertanya kepada ayahandaku ini, "terus bi??"

Abi lanjut berujar: "Nanti kamu perhatikan kantong baju koko kiai, kira-kira ada apa?"

Tak lama, jamaah ramai bangun menyambut kedatangan kiai, ada yang sudah menunggu sejak kiai turun dari mobil tuanya (kijang super). Satu persatu murid dan jamaah pengajian menyalami sang kiai. Hampir sulit menggapai tangan kiaai karena beliau kerap menariknya untuk dicium.

Mata saya pun teliti melihat gerakan tangan kiai yang ternyata menerima amplop dari murid-muridnya.

Sampailah saya menjadi orang terakhir yang menyalami sang kiai betawi yang terkenal dengan ketawadhuannya itu. Dan mata saya langsung tertuju pada kantong baju koko semi safari yang dikenakan sang kiai. Subhanallah guman saya dalam hati, amplop yang tentunya berisi fulus telah penuh desal memadati kantong sang kyai.

Sesaat setelah saya kembali duduk di samping abi, beliau langsung bertanya: udah belum? Saya jawab: "udah bi!"

"Ada apaan?" Saya jawab sambil nyengir penasaran: “Amplop bi buanyak buangeett!”

Dengan wajah datar abi pun cuma menepuk ujuk dengkulku yang duduk bersila dekatnya. Dan berkata: "ya udah, nanti ada lagi".

Lanjut mengaji dan selesai ketika datangnya waktu Isya, sang kyai menutup dengan berdoa dan mengimami shalat isya berjamaah.

Setelah shalat, abi saya kembali membisiki: "Sekarang kalau orang-orang salaman, kamu lihat tangan kiai dan kamu salaman yang terkahir sebelum kiai masuk mobilnya, terus liat kantong baju kiai yang tadi penuh dengan amplop!" "siap bi!" jawab saya. 

Kulanjut berdiri melihat murid dan jamaah yang menyalami sang kiai dari sejak beliau beranjak dari mihrob masjid.

Saya perhatikan dan kagetnya saya ketika pak kiai mengambil setiap amlop dari kantong bajunya dan kembali gantian memberikan kepada para muridnya secara acak. Sampai beliau berada dekat mobil, saya yang salaman pun masih mendapatkan amplop tersebut dan terlihat kantong baju beliau tidak ada lagi amplop.

Saya sempat kaget, ketika kiai yang sudah sangat sepuh itu membuka jendela dan memanggil salah seorang marbot masjid terus memberikan sisa amplop kepada seorang yang dipanggil udin itu seraya berujar: “Din, ini buat beli kopi sama gula."

Dalam benak saya sambil melihat amplop yang di tangan, berkata: “Ini kiai kalau mau kaya bisa sebenarnya, tapi beliau tidak ingin kaya dari umatnya.”

Lantas ketika berbalik badan, ingin mendekati abi, saya melihat jamaah yang terima ampol dari sang kiai malah memasukkan amplop itu ke kotak amal masjid.

Lantas sekarang banyak ustadz artis yang memasang tarif melangit untuk hanya sekedar berbicara sekian menit saja? Itu pun kalau berilmu. Ini musibah. Musibah.


Resource Berita : dutaislam.com
Dalil-Dalil dan Penjelasan Tujuan Beramal, untuk Siapa?

Dalil-Dalil dan Penjelasan Tujuan Beramal, untuk Siapa?



WartaIslami ~ Orang yang beramal karena mengharap ketenaran dan kedudukan tentu akan bermalas-malasan atau merasa berat jika ada pertanda harapannya akan kandas. Orang yang beramal karena mencari muka di hadapan pemimpin atau penguasa tentu akan menghentikan amalnya jika pemimpin tersebut turun dari jabatannya.

Sedangkan orang yang beramal karena Allah SWT tidak akan memutuskan amalnya, tidak mundur, dan tidak malas-malasan sama sekali. Sebab, alasan yang melatarbelakangi amalnya tidak pernah sirna.

قُلْ اِنّيْۤ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدّيْنَ. وَ اُمِرْتُ ِلاَنْ اَكُوْنَ اَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”[QS. Az-Zumar : 11-12]

Berikut beberapa hadist tentang keikhlasan, smoga bisa menjadi cambuk bagi yang lalai, sebagai pengingat bagi yang lupa, dan sebagai ilmu bagi yang belum tahu

Dari Umar bin Khaththab RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رض. قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنّيَّاتِ وَ اِنَّمَا لِكُلّ امْرِئٍ مَّا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلىَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ. وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلىَ دُنْيَا يُصِيْبُهَا اَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلىَ مَا هَاجَرَ اِلَيْهَا. البخارى و مـسلم

“Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan diberi balasan menurut niatnya.

Dan barangsiapa yang berhijrah karena thaat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan diberi balasan hijrahnya karena thaat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dan barangsiapa yang berhijrah karena menginginkan keuntungan dunia yang akan didapatnya atau karena menginginkan wanita yang dia akan mengawininya, maka hijrahnya itu akan diberi balasan menurut niatnya dia berhijrah itu”[HR. Bukhari dan Muslim].

Dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

وَ رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ: لَوْ اَنَّ اَحَدُكُمْ يَعْمَلُ فىِ صَخْرَةٍ صَمَّاءَ لَيْسَ لَهَا بَابٌ وَ لاَ كَوَّةٌ لَخَرَجَ عَمَلُهُ كَائِنًا مَا كَانَ. متفق عليه

“Seandainya salah seorang di antara kamu melakukan suatu perbuatan di dalam gua yang tidak ada pintu dan lubangnya, maka amal itu tetap akan bisa keluar (tetap dicatat oleh Allah) menurut keadaannya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Asy-Syaikhooni (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang orang yang berperang dengan gigih dan penuh keberanian, orang yang berperang dengan semangat yang agak lemah dan orang yang berperang karena riya’ (ingin dippuji orang).

Siapa diantara mereka itu yang termasuk dijalan Allah? Maka Rasulullah SAW menjawab:

وَ اَخْرَجَ الشَّيْخَانِ ، سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَ يُقَاتِلُ رِيَاءً، اَيُّ ذٰلِكَ فِى سَبِيْلِ اللهِ ؟ فَقَالَ ص: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ اْلعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ. متفق عليه

“Barangsiapa yang berperang agar supaya kalimat Allah itu yang paling tinggi, maka dialah yang berperang dijalan Allah”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Demikian, semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar ikhlas dan semara-mata mengharap ridha Allah SWT


Resource Berita : dutaislam.com
Inilah Syair Bela Rakyat Pegangan Gus Dur

Inilah Syair Bela Rakyat Pegangan Gus Dur



WartaIslami ~ Sebagai tokoh yang juga memiliki konsen pada seni dan budaya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga mempelajari sastra dan syair-syair Arab, baik yang digubah oleh penyair masa Jahiliyyah maupun setelah adanya Islam. Hal itu diungkapkan Gus Dur saat orasi ilmiah dalam rangka Peresmian Kampus Universitas Yudharta, Senin, 23 Mei 2005 silam. (Videonya dapat disaksikan via Youtube).

“Ayah saya sukanya teori-teori kemasyarakatan dan kenegaraan Islam. Tanyakanlah (kepada beliau): Imam Syafi’i, Imam Hanafi soal beginian, kenyang jawabnya. Adiknya: Abdul Kholiq Hasyim, sukanya tauhid. Mbok sampai diare, tanya tauhid, (akan) dijawab,” ungkap Gus Dur.


Tapi adiknya, Abdul Karim Hasyim, lanjut Gus Dur, sukanya adab, sastra Arab. Di rumah beliau ada Hammas atau Abi Tammam, yang itu menunjukkan kesenangan beliau pada sastra Arab.

“Sastra itu sangat kaya dan sinis. Nabighah Dzubiyani, penyairnya mengatakan, dia diganggu terus oleh para politisi, akhirnya dia mengatakan: walasta bimustabiqin akhon la talumuhu, ala su’adin ayyurrijali muwadzahabu; kau bukan orang pertama yang menyakiti saudaranya (lho itu lho: politisi sukanya kan begitu, pasti menyakiti saudaranya itu lho). Kalau dipikir secara mendalam, memang, adakah orang yang sopan? Saking sinisnya (syair) ini,” papar Gus Dur di depan hadirin.

Tetapi, lanjut cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini, mengaku lebih senang pada syair milik penyair Tharafa Ibna Abd.

“Dia mengatakan: walastu bihallalittilangi makhofatan, walakin maata yastarfidil qaumu harfidzi; aku bukan orang yang sembunyi di balik gentong karena ketakutan. Gentong itu tempatnya di depan rumah apa belakang? Nah, biasanya di dapur. Lha, orang yang bersembunyi di balik gentong di dapur sudah habis-habisan takutnya. Ini katanya Tharafa, lho. Walakin mata yastarfidil qaumu harfidzi; tetapi kalau kaumku meminta pertolongan, akan kutolong. Lha ini, karena saya tidak berada di gentong, ya, kalau kaum saya minta tolong ya, saya tolong. Kalau perlu bertaruh nyawa. Ini Tharafa Ibna Abd sudah begitu. Ya itu pegangan saya dari dulu sampai sekarang. Tidak yang seperti Nabighah Dzubiyani yang sinis tadi itu,” pungkas Gus Dur.

Dengan demikian, wajarlah kalau Gus Dur mempunyai tekad yang kuat dalam membela masyarakat Indonesia baik di lapisan atas dan bawah. Ribuan tempat beliau datangi dengan tanpa tendensi, yang mungkin salah satunya adalah dorongan syair tersebut: jika kaumnya meminta tolong, meski bertaruh nyawa, ia akan datang dan bela.

Dalam cerahmah-ceramahnya pun, Gus Dur juga sering mendendangkan syair, shalawat atau puji-pujian. Selain syair di atas, salah satu yang dikenal komunitas Muslim tanah air adalah lantunan syair Gus Dur berjulul Tanpo Wathon yang menjadi hits pasca wafatnya. Syair itu kemudian populer dan menjadi pujian di masjid-masjid, acara keagamaan dan bahkan digubah kedalam versi dangdut.


Resource Berita : nu.or.id
Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis

Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis



WartaIslami ~ Malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjalankan tugas dengan baik, sebagaiaman dalam ayat:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“…tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Mereka ini senior bagi manusia yang bertugas dengan tingkat kegalan yang nyaris tidak ada, kecuali kisah Harut–Marut. Di antara 10 malaikat yang wajib diketahui oleh umat Islam adalah Malaikat Izrail. Dia adalah malaikat dengan tugas mengambil paksa nyawa; tidak diundur-undur dan tidak dimaju-majukan. Semuaanya sesuai dengan masa dan tempat tertentu, dan hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa kita semua kembali.

Tentang Malaikat Izrail dalam kitab Hikaya Shufiyah diceritakan, suatu kali Malaikat Izrail ‘alaihissalam ditanya:

هل ضحكت قط؟

“Apakau engkau juga pernah tertawa?”

قال : نعم، ضحكت مرة، وبكيت مرة

“Ya, aku pernah tertawa sekali, dan menangis sekali. Pertama, aku tertawa kepada laki-laki yang telah melakukan tawar-menawar harga sepatu yang tidak akan rusak sampai masa lima tahun, sementara aku mengambl nyawanya saat dia sedang melakukan transaksi. Hehehe,” tawa Malaikat.

Kedua, aku bersedih ketika saat itu ada perempuan yang memiliki dua anak yatim yang masih imut-imutnya. Perempuan itu menyeberangkan sungai anaknya satu-satu. Anak pertama sudah perempuan itu turunkan di tepi sungai, sementara saat hendak mengambil yang anak keduannya, kuasa Allah, tiba-tiba air menyeret menenggelamkan ibu dua anak yatim tersebut dan meninggal. Kejadian tersebut membuatku terharu, karena ada dua anak kecil yatim dan terpisahkan oleh keadaan, sementara ibunya telah meninggalkan mereka.

Hingga akhirnya, Allah SWT menampakkan kepada suatu masa depan bagi mereka berdua, bahwa anak pertama akan menjadi Raja Penjuru Timur, dan satunya akan jadi Raja penjuru Barat. Dan Allah, Maha Suci, Dialah Dzat pengelola segala sesuatu, tiada Tuhan selain-Nya.”

Hikayat ini menyiratkan pesan, antara lain, tentang terbatasnya waktu manusia dalam menikmati harta dunia. Manusia mungkin punya keinginan dan angan-angan panjang tentang masa depan kenikmatan. Tapi mesti dicatat bahwa Allah punya takdir sendiri terkait batas umur manusia di alam fana ini.

Kematian bisa terjadi kapan saja, baik pada momen suka maupun duka. Pada saat-saat “wajar” ataupun tak terduga dan tidak diharapkan sama sekali. Takdir ini pun tak bisa segera dihakimi mutlak sebagai keburukan. Karena di belakangnya ada takdir lain yang tidak diketahui hamba-Nya.


Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta


Resource Berita : nu.or.id
Macam-macam Doa Iftitah dan Syarat Kesunnahannya

Macam-macam Doa Iftitah dan Syarat Kesunnahannya



WartaIslami ~ Shalat adalah rutinitas dalam keseharian. Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa menegakan shalat, maka ia menegakan agama. Dan barangsiapa meninggalkan shalat, maka hakikatnya ia merobohkan agama.

Dalam pelaksanaan shalat diharapkan seseorang melaksanakannya dengan sesempurna mungkin. Tidak hanya mengerjakan kewajiban-kewajiban saja akan tetapi juga mengerjakan sunnah-sunnahnya. Di antara kesunnahan-kesunnahan shalat adalah doa iftitah.

Doa iftitah sunnah dilaksanakan setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz di dalam setiap shalat selain shalat jenazah. Sedangkan untuk shalat jenazah tidak disunnahkan karena shalat jenazah memang dianjurkan singkat. Syekh an-Nawawi Banten berkata:

وسنّ بعد تحرم وقبل تعوّذ افتتاح وذلك في غير صلاة الجنازة، أما فيها فلا يسنّ لبنائها على التخفيف

“Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz disunnahkan membaca doa iftitah di selain shalat jenazah. Sedangkan di dalam shalat jenazah tidak disunnahkan membaca doa iftitah karena shalat jenazah dianjurkan untuk singkat dalam pelaksanaannya.” (Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihâyatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62)

Bentuk-Bentuk Doa Iftitah

Doa iftitah memiliki banyak shighat (bentuk) berdasarkan riwayat-riwayat hadits. Selanjutnya, kitab Nihâyatuz Zain menyebutkan sebagian dari bentuk-bentuk doa iftitah itu:

Pertama,
 وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kedua,
 الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ

Ketiga,
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Keempat,
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ غَسِّلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

Kelima,
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعاً فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِيْ يَدَّيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Sudah dianggap cukup (sudah mendapatkan kesunnahan) dengan membaca salah satu dari doa-doa iftitah di atas, akan tetapi yang lebih utama adalah membaca semua sekaligus bagi orang yang shalat sendiri atau menjadi imamnya para jamaah yang rela shalatnya lama. Syekh Nawawi banten mengatakan:

وبأيها افتتح حصلت السنة. ويسنّ الجمع بينها لمنفرد وإمام قوم محصورين راضين بالتطويل

“Sudah mendapatkan kesunnahan dengan membaca salah satu doa (dari doa-doa iftitah di atas). Dan disunnahkan untuk membaca semua bagi orang yang shalat sendirian dan yang menjadi imamnya kaum yang terhitung jumlahnya rela shalatnya lama.” (Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihâyatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62)

Syarat-Syarat Sunnahnya Membaca Doa Iftitah

Kesunnahan membaca doa iftitah memiliki empat syarat. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka kesunnahan membaca doa iftitah menjadi gugur atau hilang.

1. Shalat yang dikerjakan selain shalat jenazah, walaupun shalat jenazahnya di atas kuburan atau shalat ghoib (mayatnya berada di daerah yang jauh dari daerahnya orang yang menshalati)

2. Waktunya cukup untuk mengerjakan shalat (beserta membaca doa iftitah). Jika waktunya sempit atau mepet, maka tidak boleh membaca doa iftitah bahkan harus melaksanakan yang wajib-wajib saja.

3. Saat menjadi makmum tidak khawatir ketinggalan sebagian surat al-Fatihah seandainya ia membaca doa iftitah.

4. Saat menjadi makmum, ia tidak menjumpai imam di selain posisi berdiri. Jika ia menjadi makmum masbuq dan menjumpai imam di selain posisi berdiri semisal ruku’, sujud dsb, maka tidak disunnahkan membaca doa iftitah, akan tetapi ia langsung menyusul ke posisi imam. (Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihâyatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62)

Di samping itu, yang perlu diperhatikan adalah, hendaknya seseorang setelah takbiratul ihram langsung membaca doa iftitah. Sebab, jika sebelum membaca doa iftitah, ia membaca bacaan-bacaan yang lain semisal ta’awudz, basmalah atau yang lainnya, baik sengaja ataupun lupa, maka kesunnahan membaca doa iftitah menjadi hilang sia-sia. Syekh an-Nawawi berkata,

ويفوت دعاء الافتتاح بالشروع فيما بعده عمداً أو سهواً

“Kesunnahan doa iftitah menjadi hilang sebab membaca perkara-perkara setelahnya (seperti ta’awudz dan basmalah).” (Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62)

Semoga shalat kita dijadikan oleh Allah Swt sebagai shalat yang sempurna amin ya rabbal alamin.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Gus Dur dan Seorang Kiai Syuriyah

Gus Dur dan Seorang Kiai Syuriyah



WartaIslami ~ Dalam cerita ke-5 saya menceritakan kisah Kiai Gunung di bagian timur Pulau Jawa. Pada cerita ke-6 kali ini saya bercerita tentang mereka yang mengalami ro’yu filmanâm, dari luar Jawa. Cerita dari luar Jawa dari cerita-cerita yang saya tulis tentang mereka yang mengalami ro’yu filmanâm ini, adalah cerita kedua, setelah yang pertama soal Gus Dur dan Dzikir surat al-Fatihah, yang berasal dari pulau luar Jawa bagian barat. Dan, kini dari luar Jawa, yang bagian wilayah baratnya pernah dikoyak oleh kekerasan etnis.

Saya mengenalnya waktu mahasiswa, sebagai seorang yang selalu ikut bersama para demonstran; dan ikut bersama kampanye PKB pertama di Bantul, dengan knalpot motor blombongannya, bersama laskarnya Cak Kowi. Cintanya kepada Gus Dur, dimulai bersama sahabat-sahabat yang ikut pergerakan; dan kemudian membeli buku-buku dan mengoleksi tulisan-tulisan Gus Dur, dan berdiskusi; kemudian di daerahnya ikut mengembangkan pemikiran Gus Dur dan berkhidmah di NU. Bahkan, kami satu angkatan dalam pengkaderan, dan bersama-sama di Parangtiritis pernah mengalami linglung dengan parade puisi kepada ombak-ombak yang berdebur tak berkesudahan.

Lama sekali tidak bertemu, 10-an tahun lebih. Dan, upaya untuk menemuinya, harus melewati pulau dengan pesawat, mobil, dan akhirnya speedboat. Itu pertemuan pertama, setelah 10-an tahun tidak bertemu, terdapat keharuan, diikat oleh satu kesamaan perjuangan hubbul waton minal iman, dan berkhidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dan, ketika pertemuan itu terjadi, sahabat kami ini, sudah duduk di jajaran Kiai Syuriyah di Jam'iyah NU wilayah; dan saya waktu itu masih di PP RMI NU.

Pada pertemuan pertama ini, kami mendiskusikan banyak hal tentang penetrasi gerakan Islam takfiri, lalu ketika sudah larut, mulai bercerita tentang Gus Dur. Kami bertukar pengalaman masing-masing, dan saya banyak mendengarkan. Kiai Syuriyah ini, sampailah pada kondisi menceritakan mimpinya tentang Gus Dur, dari sederet kerinduannya kepada Gus Dur. Mimpi ini sampai empat kali.

Mimpi pertama diceritakan begini:

“Ada seorang budayawan nasional terkenal yang tergopoh-gopoh menemuiku. Lalu serentetan intruksi dikucurkan bertubi-tubi tanpa sedetikpun kesempatan bagiku untuk sekedar bertanya. Komunikasinya monolog dan instruktif, seolah-olah kami telah saling kenal akrab satu sama lain selama ini. Anehnya, aku sendiri dalam mimpi itu tidak mempersoalkan itu. Jauh dalam sanubariku sudah ada sejenis pemahaman bahwa hal ini memang akan terjadi. Entah kenapa.”

Aku pun bertanya, setelah itu, budayawan itu kenapa, dan Kiai Syuriyah itu menjawab, bahwa Budayawan itu menginstruksikan begini dalam mimpinya:

“Sebentar lagi Gus Dur datang dengan rombongannya. Ndak usah repot-repot, yang penting ada nyamilan dan teles-telesan. Sembarang, kopi atau wedang jahe yang penting hangat-hangat panas…”

Setelah ada instruksi dari seorang budayawan nasional terkenal itu, katanya: “Aku ndomblong sebentar dan sesaat kemudian langsung ngacir sipat kuping menuju dapur. Semua penghuni rumah aku komando untuk cancut taliwondo mempersiapkan ubo rampe dan segala sesuatu yang diperlukan. Otomatis seisi rumah riuh dan mendadak kami telah menjadi panitia tiban, atas rawuhya Gus Dur, yang konon katanya tidak lama lagi.”

Kiai Suriyah meneruskan ceritanya begini: “Beberapa tokoh dan kyai kampung aku hubungi, jaringan anak muda, Pak Camat dan Pak Kades dengan seluruh perangkatnya tidak ketinggalan aku kabari, hingga beberapa waktu kemudian semuanya berjubel tidak rapi di dalam dan di luar rumahku. Saat itu aku merasa tidak dalam kapasitas untuk menyusun atau mengatur siapa yang boleh di dalam dan siapa yang harus di luar. Kesadaran diri menuntunku ke dapur, ikut sibuk mengurus jamuan bagi para tamu.”

“Ketika aku di dapur, sekonyong-konyong suasana berubah. Ada riuh gremengan seperti suara lebah kemudian menjadi lantunan shalawat yang nyendal jantungku. “Itu pasti Gus Dur,” gumamku. Semua pekerjaanku di dapur terhenti secara reflek. Nampan yang berisi minuman aku telantarkan begitu saja dan langsung lari ke depan. “Allohumma sholli 'alâ Sayyidinâ Muhammad”, aku teriak sekeras-kerasnya di tengah-tengah jubelan orang banyak. Tapi tak satupun suara keluar dari bibirku.”

“Di gawangan pintu pemisah antara ruang dalam dan ruang tamu aku terhenti. Sosok Gus Dur tampak jelas memasuki pelataran rumahku. Lututku menggigil, air mataku mengalir, seolah-olah belahan matahari baru saja dicelupkan ke dalam aliran darahku. Ada 9 orang yang menyertai Gus Dur. Satu di antaranya aku kenal betul sebagai budayawan nasional yang pernah aku baca puisi-puisinya. Tiga yang lain berbusana Kyai. Aku tidak mengenalnya, tapi hatiku merasa tidak asing dengan beliau bertiga. Selebihnya aku sama sekali tidak kenal, hanya saja 2 di antaranya berperawakan khas ala timur tengah.”

Karena ceritanya panjang, saya hanya mendengarkan, sementara tangan mengarahkan rokok ke mulutnya, lalu berkata lagi:

“Dikelilingi para tokoh lokal dan dipandu seorang budayawan nasional terkenal, para hadirin membentuk melodi obrolan yang sakral sekaligus gayeng. Aku tidak sepenuhnya mendengar apa yang mereka bicarakan kecuali tentang kode-kode tertentu yang lamat-lamat sempat aku curi dengar. Berkali-kali bapakku, memberi isyarat melalui mata dan tangannya agar aku terus melayani mereka. Tak ayal, aku harus mondar mandir ke depan ke belakang demi kelancaran suguhan, tanpa sempat menikmati dinamika komunikasi yang tengah berlangsung. Sesekali, sebagai cantrik aku menyempatkan diri mencucup tangan-tangan mereka pada saat menyuguhkan minuman. Ada kedamaian tersendiri yang menyusup ke dalam jantung. Pancuran-pancuran terbuka, sungai-sungai mengalir dan kesadaranku seperti dipenuhi nuansa laut yang tremendous dan agung.”

Kiai Syuriyah ini, mengakhiri ceritanya: “Aku masih meneteskan airmata ketika tiba-tiba majelis itu selesai. Semua orang berebut untuk salaman. Aku sendiri terjepit di antara banyak ketiak manusia dan kehilangan peluang bersalaman. Menyadari pagar betis manusia yang tidak mungkin aku tembus, maka jalur alternatif melalui pintu samping menjadi sasaranku berikutnya. Dan, Alhamdulillah, di pelataran rumahku akhirnya aku bisa menyalami Gus Dur, mencium tangan dan memeluk dengkulnya.”

Gus Dur berkata: “Ini siapa?” Beliau bertanya dan seketika lidahku tercekat. Aku tak mampu menyebutkan namaku sendiri.

Kiai Syuriyah menjawab: “Kulo santri Njenengan, Gus..”, dengan lirih.

Gus Dur terkekeh dengan tawanya yang khas dan berkata: “Hehehehehe… Ya seperti inilah orang Indonesia yang membumi…,” sambil semua orang yang hadir tersenyum dan memandangku utuh-utuh.”

Mimpi itu katanya terjadi menjelang shubuh. Dan ketika Gus Dur terkekeh dan bilang begitu, Kiai Syuriyah ini masih termangu mengiringi kepergian Gus Dur. Sejurus kemudian sayup-sayup adzan shubuh menyusup dalam kesadarannya.

Kata Kiai Syuriyah ini: “Seketika aku terbangun dan langsung sujud syukur. Seluruh emosi dan rindu berkumpul dalam lelehan airmata yang menggenang di lantai kamarku, hingga sawal-bantal yang basah kuyup tak sempat lagi aku rapikan.” Kyai Syuriyah ini pun merintih-rintih mengingat Gus Dur yang baru saja pergi.

Kiai yang masih terpaku dengan mimpinya itu, dikagetkan oleh pelukan halus sang istri dari belakang dan menepuk pundaknya, sambil berkata: “Ada apa ini, Abah?”

"Aku diam tak mampu menjawab, dan tak kuasa untuk bercerita. Hanya napas dan airmataku saja yang bicara. Istriku mengurut-urut punggungku hingga akhirnya aku mampu duduk dan bercerita.”

Lalu, kiai syuriyah pun berkata kepada istrinya: “Gus Dur barusan dari sini…”

Istri Sang Kyai menjawab: “Haa... milo? Kapan? Allôhumma sholli 'alâ Sayyidinâ Muhammad…” Istri Sang Kiai terperanjat, tak bisa menutupi kekagetannya.

“Barusan, dalam mimpiku…” Kemudian dengan terbata-bata Kyai Syuriyah menceritakan kronologinya. Istrinya khusyu’ mendengar sambil sesekali mengusap airmata. Jari-jarinya tak henti mengurut tanganku.

Istri Sang Kiai kemudian berucap: “Alhamdulillah.. mugo-mugo barokah, Abah...” Sang Istri Ialu memeluknya merasakan ombak yang masih berdebur di tepi laut dalam jantung Sang Kyai.

Lalu berkata lagi: “Ya sudah, sekarang kita sholat shubuh dulu, terus nanti kita kirim Fâtihah untuk Gus Dur…”

Aku kemudian menyela Kiai Syuriyah, di tengah malam yang terus larut itu: “Mimpi selanjutnya bagaimana kiai?”

Kiai Syuriyah menyadari keadaan malam yang larut, akhirnya merangkum mimpi-mimpi selanjutnya, katanya: “Mimpi yang kedua Gus Dur datang dan aku diberi wirid disuruh membaca Bismillah dan Surat al-Fatihah. Mimpi ketiga, bertemu Gus Dur dalam ruang Sholawatan bersama. Dan yang keempat, diperlihatkan/diajari untuk ikut merawat Nusantara dengan Gus Dur sebagai sumber inspirasi, dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat…”

Aku kemudian bertanya: “Wirid Fatihahnya berapa kali?”

Kiai Syuriyah menjawab: “Wirid ini kemudian saya konsultasikan kepada tokoh JATMAN, dan dipertegas agar membaca, 41 surat al-Fatihah, Bismillah 333 x; dan sholawat sebanyak-banyaknya, dengan tanpa melupakan istighfar.

Mimpi Kiai Syuriyah ini memberikan pelajaran, bahwa dalam rangka ikut merawat peradaban Nusantara ini, sebagaimana yang diajarkan Gus Dur melalui mimpi kepada Kiai Syuriyah ini, para santri harus membekali diri dengan wirid-wirid yang diistiqomahi; mengirim Fatihah kepada para guru; menghidupkan sholawatan dan terlibat dalam kegiatan sholawatan; dan tanpa melupakan terus menerus melakukan aktivitas keseharian untuk memberikan manfaat kepada orang lain, dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mempertinggi mutu martabat agama dan manusia di Nusantara ini.

Wirid-wirid itu akan berbuah dua arah: untuk menempa diri agar matang secara pribadi, sehingga artikulasi-artikulasi publik yang dilakukan sebagai bagian dari pengabdian seseorang, tidak didasarkan pada keserakahan nafsu: akan membuahkan keikhlasan. Peradaban Nusantara ini memperlukan paku-paku kultural santri di lokal masing-masing daerah dari para mukhlisin; pada saat yang sama mengetahui teori-teori sosial dan kitab kuning sekaligus.

Aspek kedua, peradaban itu juga mengandung di dalamnya aspek batin, di mana wirid-wirid dan doa-doa itu akan ikut memperkuat jalinan peradaban Nusantara yang bermartabat dari sudut batin peradaban Nusantara dan mereka yang diamanahi oleh Alloh untuk menjaganya di alam batin.

Hal ini, mengingatkan pada pelajaran tasawuf bahwa Nusantara ini, tanah dengan segala bentuk percampuran unsurnya; air dengan segala bentuk unsur dan coraknya; pohon dengan segala jenisnya; hewan dengan segala bentuknya; dan angin dengan segala bentukanya di Nusantara ini, terdiri dari yang fisik dan batin; demikian juga penghuni-penghuninya.

Dengan demikian, tatanan peradaban Nusantara itu juga akan bermartabat manakala juga disentuh dari sudut tatanan batin ini. Maka, kalau seseorang santri istiqomah dzikir yang berguna untuk tazkiyatun nafs bagi dirinya, juga ada baiknya memasukkan dalam dzikirnya itu doa-doa, untuk bangsa Nusantara dan penghuninya ini agar dirahmati Allah, dengan berbagai bentuk bahasa masing-masing: jangan sampai ditinggal misalnya “Allôhumaslih lana umurona, wa umûrol muslimîn, wa Indonesianâ”; dan kalau dia seorang NU ditambah “wa jam'iyatana, wa warhamna jami'ân”.

Jadi, kesadaran bagi mereka yang ingin ikut merawat dan terlibat dalam membangun peradaban Nusantara agar menjadi lebih bermartabat, bagi seorang santri, juga harus diimbangi dengan kesadaran adanya level batin Nusantara. Ditambah dengan kesadaran dalam doa-doa mereka untuk kebaikan negeri ini. Wallahu a’lam.



Resource Berita : nu.or.id
Ketika Mbah Hasyim Asy’ari Menangis

Ketika Mbah Hasyim Asy’ari Menangis



WartaIslami ~ “Aku ingin ketemu kyai Salam,” kata pendiri NU, mbah Hasyim Asy’ari. Kyai Nawawi pun mengantarkan.

Kyai Salam yang bernama lengkap Abdussalam adalah ayahanda dari Kyai Abdullah Salam dan kakek dari Kyai Sahal Mahfudh.

Sesampai di kediaman Kyai Salam, didapati tuan rumah sedang mengajar anak-anak kecil mengaji. Mbah Hasyim Asy’ari serta-merta menahan langkah, menyembunyikan diri dari pandangan Kyai Salam dan menunggu.

Setelah semua anak-anak kecil itu selesai ngajinya, barulah Mbah Hasyim mengucap salam, yang lantas disambut dengan suka-cita luar biasa.

Meninggalkan kediaman Kyai Salam, Kyai Hasyim kelihatan ngungun. Air matanya mengambang. “Ada apa, Yai?” tanya Kyai Nawawi keheranan.

Kyai Hasyim mengendalikan tangisnya, menghela napas dalam-dalam. “Aku punya cita-cita sudah sejak sangat lama tapi sampai sekarang belum mampu melaksanakan. Kyai Salam malah sudah istiqomah. Aku iri”

“Cita-cita apa, Yai?”

“Ta’limush shibyaan” (mengajar anak-anak kecil) jawab KH. Hasyim Asy’ari.


Resource Berita : santrionline.net
close
Banner iklan disini