Diharapkan Kafir Quraisy sebagai Musuh Muhammad, Laki-Laki Ini Justru Beriman

Diharapkan Kafir Quraisy sebagai Musuh Muhammad, Laki-Laki Ini Justru Beriman



WartaIslami ~ Ketika Muhammad bin Abdullah menerima wahyu di Gua Hira dan resmi dinyatakan sebagai Nabi terakhir dan pemimpin para Utusan Allah, laki-laki yang amat dihormati oleh kaum kafir Quraisy ini sedang berada di Yaman.

Sesampainya di Makkah, Abu Lahab dan Abu Jahal yang merupakan petinggi kafir Quraisy lekas mendatangi laki-laki ini. Keduanya hendak mengadu dan berharap agar si laki-laki ini bisa menghentikan da’wah yang dilakukan suami Khadijah binti Khuwailid ini.

“Wahai Abu Bakar, orang ramai membicarakan peristiwa penting. Muhammad, anak yatim yang diasuh Abu Thalib, menyatakan bahwa dirinya adalah Nabi.” ujar keduanya.

“Jika bukan karena menghormati engkau,” lanjut mereka, “sungguh kami sudah menyelesaikan persoalan ini dengan mudah.”

Keduanya pun meminta kepada Abu Bakar untuk menghentikan da’wah Muhammad.

“Karena engkau sudah kembali, engkaulah yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.”

Laki-laki yang tak pernah menyembah berhala ini, akhirnya mencari tahu keberadaan Muhammad.

Abu Bakar juga penasaran dengan ‘ramalan’ orang sepuh yang ia temui di Yaman. Lelaki sepuh yang banyak mempelajarai kitab-kitab terdahulu ini berkata kepada Abu Bakar, “Jangan pernah berpaling dari kebenaran! Berpegang teguhlah pada jalan yang benar dan lurus. Takutlah kepada Allah dalam segala hal yang Dia anugerahkan kepadamu.”

Laki-laki tua juga menyampaikan bahwa saat-saat ini telah tiba waktunya turun seorang Nabi di Makkah yang berasal dari suku Quraisy. Selain menitipkan syair untuk diberikan kepada Rasul terpilih di Makkah, lelaki sepuh yang berasal dari kabilah Azd ini juga menyatakan bahwa Abu Bakar, kelak akan menjadi pengikut Nabi akhir zaman tersebut.

Setelah bertemu dengan Abu Bakar, Muhammad bin Abdullah langsung berkata, “Wahai Abu Bakar, aku adalah utusan Allah kepadamu dan kepada seluruh manusia. Maka berimanlah kepada Allah.”

“Bukti apa yang kau miliki?” jawab Abu Bakar

“Lelaki tua yang kau temui di Yaman.”

“Lelaki tua yang mana?”

“Lelaki tua yang menitipkan beberapa syair kepadaku.”

“Siapa yang memberitahumu tentang hal itu?”

“Malaikat yang mendatangi Nabi-Nabi sebelumku,” jawab Rasulullah yang mulia.

Mendengar keajaiban itu, Abu Bakar langsung bersyahadat. Kafir Quraisy kian kecewa. Orang penting dan terhormat yang diharapkan menghentikan da’wah Muhammad, kini justru masuk Islam dan menjadi pembelanya yang utama.


Resource Berita : kisahikmah.com
Inilah Orang Pertama yang Diberi Pakaian pada Hari Kiamat

Inilah Orang Pertama yang Diberi Pakaian pada Hari Kiamat



WartaIslami ~ Iman kepada Hari Kiamat merupakan salah satu rukun yang wajib dipercayai oleh orang Islam. Meski misterius terkait waktu kejadiannya, kita wajib meyakini bahwa Hari Kiamat merupakan kepastian janji dari Allah Ta’ala yang tiada pernah mengingkari janji-Nya. Pasti. Hanya, kita tidak diberi tahu kapan kejadiannya.

Selain dari sumber al-Qur’an yang tak terdapat kebengkokan di dalamnya, Sunnah Rasulullah juga menjadi sumber yang terpercaya terkait huru-hara akhir zaman ini. Satu di antara banyaknya riwayat itu, kami nukilkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Abbas terkait manusia pertama yang diberi pakaian oleh Allah Ta’ala di Hari Kiamat.

“Wahai manusia,” nasihat Nabi kepada sahabat-sahabatnya kala itu, “kalian akan dikumpulkan kepada Allah Ta’ala dalam keadaan tidak beralas kaki, tanpa busana, dan tidak berkhitan.”

Beliau pun membaca Firman Allah Ta’ala dalam surat al-Anbiya’ [21] ayat 104, “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya.”

Setelahnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melanjutkan sabdanya sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, “Sesungguhnya, manusia yang pertama kali diberi pakaian di Hari Kiamat,” beber Nabi yang mulia, “adalah (Nabi) Ibrahim.”

Beliaulah yang dijuluki Khalilullah dan bapak dari para Nabi dan Utusan Allah Ta’ala. Dari beliaulah terlahir Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, lalu berlanjut kepada Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, dan terus bersambung hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penutup para Nabi dan utusan Allah Ta’ala.

Dalam kelanjutan riwayat ini, ada yang patut menjadi perhatian kita tentang para sahabat (pengikut) Nabi yang digiring ke sebelah kiri. Pasalnya, mereka ini tidak istiqamah. Mereka kembali kepada kekafiran sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

“Ketahuilah,” lanjut ayah Fathimah az-Zahra ini, “akan didatangkan beberapa orang dari umatku, lalu mereka digiring ke sebelah kiri.”

“Mereka,” kata Rasulullah menjelaskan, “adalah para sahabatku.”

Lalu, dikatakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Hari Kiamat kelak, “Kamu tidak tahu apa yang telah mereka kerjakan sepeninggalmu.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun membaca surat al-Maidah [5] ayat 117-118.

Pungkas Rasulullah memberitahukan perkataan yang kelak disampaikan kepada beliau di Hari Kiamat, “Mereka senantiasa murtad sejak engkau meninggalkannya.”

Semoga Allah Ta’ala wafatkan kita dalam kondisi istiqamah, dalam iman dan Islam. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Dalam Tiga Keadaan Ini, Anda Bisa Melihat Wujud Setan

Dalam Tiga Keadaan Ini, Anda Bisa Melihat Wujud Setan



WartaIslami ~ Suatu ketika, Nabi Musa ‘Alaihis salam bertemu dengan iblis. Kepada sosok yang diutus untuk Bani Israil ini, iblis membeberkan sebuah rahasia. Katanya, manusia akan bisa melihat wujud iblis dalam tiga kondisi yang dialami oleh manusia.

Apa saja tiga kondisi itu? Bagaimana wujudnya? Apakah berupa bentuk, atau hanya akibat saja?

Saat Marah

Disebutkan oleh Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam bukunya Agar Tidak Diperdaya Setan, setan berkata, “Ketika seseorang marah, wajahku ada di wajahnya, mataku ada di matanya.” Pungkas setan, “Saat itu, aku mengalir di dalam aliran darahnya.”

Saksikanlah. Dan ingatlah wahai diri. Ketika marah, wajahmu yang memerah adalah atas ulah dan wujud setan. Mata yang melotot sebab emosi memuncak adalah ulah dan perlambang setan. Pun ketika tekanan darah naik saat melampiaskan marah, sejatinya itu menjadi wujud setan yang ada di dalam diri seorang manusia.

Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampaikan nasihat, bahwa marah dari setan, dan api (asal usul setan) akan padam dengan air wudhu.

Ketika Berperang

Wujud setan dalam peristiwa ini senantiasa ada di banyak kondisi; saat baru berniat, ketika mulai mengumpulkan bekal, tatkala menuju medan jihad, hingga perang berkecamuk. Bentuknya, setan menggoda dengan bayangan-bayangan keraguan tentang harta dan keluarga yang ditinggalkan.

“Aku,” tutur setan kepada Nabiyullah Musa ‘Alaihis salam, “mengingatkannya kepada hartanya, anaknya, dan istrinya hingga ia pulang ke rumahnya.”

Alhasil, perang di jalan Allah Ta’ala hanya bisa diikuti oleh mereka yang nyata keikhlasannya dan besar cintanya kepada Allah Ta’ala. Yang ada di benaknya hanyalah akhirat dan surga yang abadi. Ganjaran atas iman dan taqwanya.

Tatkala Laki-laki Berdua dengan Wanita bukan Mahram

Kondisi ini menjadi amat massif di zaman ini. Apalagi di kota-kota besar. Berduaan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram menjadi fenomena lazim bahkan aneh jika tidak ada teman untuk berdua. Inilah di antara tanda akhir zaman yang kian nyata.

Padahal, “Jangan pernah duduk dengan wanita bukan mahram,” kata setan, “karena aku menjadi utusannya (perempuan) kepadamu (laki-laki), dan utusanmu (laki-laki) kepadanya (perempuan).”

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk dan terlaknat. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Dahsyatnya Pertarungan Rasulullah dengan Iblis

Dahsyatnya Pertarungan Rasulullah dengan Iblis



WartaIslami ~ Pada suatu malam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat bersama sahabat-sahabatnya. Saat membaca surat, ternyata beliau keliru. Di antara yang menjadi makmum beliau adalah Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu.

Kelar shalat, Nabi bersabda sebagaimana dituturkan oleh Abu Sa’id, “Kamu tidak menyaksikan pertarunganku dengan iblis?” Nabi yang mulia akhlaknya pun melanjutkan, “Aku menjatuhkannya. Kedua tanganku mencekiknya. Aku merasakan dinginnya air liurnya di antara ibu jari dan telunjukku.”

Hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafizh Dhiyauddin ini menjadi salah satu bukti bahwa setan senantiasa menggoda umat manusia. Bahkan sekelas Nabi, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala telah menciptakan bagi para Nabi itu musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia. Musuh-musuh itu senantiasa menggoda para Nabi, dan Allah Ta’ala senantiasa memenangkan para Nabi dan utusan-utusan-Nya.

Dalam pertarungan nan sengit di malam itu, setan kalah telak. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits yang berderajat hasan ini, “Jika bukan karena doa saudaraku, Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam, besok pagi (pastilah) dia (iblis) itu sudah terikat di salah satu tiang masjid dan dijadikan mainan oleh anak-anak Madinah.”

Riwayat ini juga menjadi satu di antara sekian hujjah, bahwa umat Nabi Muhammad tidak diberi kewenangan sebagaimana yang Allah Ta’ala berikan kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam yang sangat mengetahui detail perkara ghaib tentang bangsa jin. Kita hanya diberi sedikit ilmu, hingga tidak ada satu pun alasan sok tahu dengan mengatakan ini dan itu tanpa adanya hujjah yang nyata. Cukuplah memahami berita ghaib tentang setan dan bala tentaranya dari riwayat shahih yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak perlu menambahi atau mengurangi.

Di akhir riwayat yang dikutip oleh Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam bukunya Agar Tidak Diperdaya Setan ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan, “Karenanya, siapa saja di antara kalian yang mampu menghadap kiblat, hendaklah melakukannya.”

Senada dengan riwayat ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengatakan hadits semakna yang disampaikan dari Abu Hurairah, “Semalam, ifrit dari bangsa jin mendatangiku untuk merusak shalatku.” Pungkas Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, “Tetapi, Allah Ta’ala memenangkanku dan aku bisa mendorongnya.”

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Mengapa Setan Berlari Saat Adzan Berkumandang?

Mengapa Setan Berlari Saat Adzan Berkumandang?



WartaIslami ~ Diriwayatkan secara Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa setan melarikan diri ketika adzan shalat berkumandang. Selesai adzan, setan kembali menggoda manusia sampai berkumandangnya iqamah, kemudian kembali mengganggu saat shalat hendak didirikan. Setan kemudian berperan menggoda manusia hingga banyak orang shalat yang lupa telah mendirikan rakaat ke berapa.

Dalam riwayat lain dari Imam Muslim, disebutkan bahwa setan melarikan diri sembari mengeluarkan kentut. Sedangkan dalam Musnad-nya, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa setan melarikan diri hingga sampai ke Rauha yang jaraknya sekitar 64 mil dari kota Madinah.

Lantas, mengapa setan berlari sambil mengeluarkan kentut sejauh bilangan 64 mil saat adzan berkumandang?

“Yang menjadi alasan larinya setan,” tutur Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi, “karena mereka tidak mau mendengarkan adzan berkumandang.” Bagi setan, mendengar adzan bukanlah hal yang sederhana. Pasalnya, ketika mendengar seruan kebaikan, maka ia dibebani kewajiban untuk meyakini dan menjalankan kandungan seruan kebaikan tersebut.

“Apalagi,” lanjut Syeikh Ibnu Muflih dalam bukunya Agar Tidak Diperdaya Setan, “setan mengetahui sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Setan, jin, dan manusia atau siapa pun yang mendengar adzan, pasti akan mempersaksikannya di Hari Kiamat.’”

Masih dari buku yang sama, Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi mengemukakan sebuah pendapat bahwa yang menjadi sebab larinya setan saat adzan berkumandang adalah keputusasaan mereka lantaran gagal membisiki manusia untuk tidak mengesakan Allah Ta’ala.

Dari riwayat ini, kita bisa mengetahui bahwa setan akan senantiasa menggoda manusia untuk lupa hingga urung mengumandangkan adzan di masjid-masjid saat waktu shalat tiba. Termasuk di dalamnya, upaya-upaya yang dilakukan oleh sekelompok oknum yang berupaya membatasi kumandang adzan dengan dalih yang dipaksakan.

Sebaliknya, orang-orang beriman akan terus berusaha agar adzan tetap berkumandang, di mana pun mereka menetap. Kemudian menjadi contoh untuk bergegas dirikan shalat, lalu mendakwahkannya sesuai kemampuan terbaiknya.

Bahkan, orang-orang beriman ini menjadi sosok yang pertama kali merasa kehilangan jika suatu ketika tidak mendengar adzan sehingga tertinggal dari mendirikan shalat berjamaah bersama kaum Muslimin di masjid-masjid yang mulia.


Resource Berita : kisahikmah.com
Dipalak Orang Badui dengan Kasar, Inilah Respons Rasulullah

Dipalak Orang Badui dengan Kasar, Inilah Respons Rasulullah



WartaIslami ~ Apakah Anda muak dengan kelakuan oknum pemimpin yang kasar dengan lontaran kalimat buruknya? Apakah Anda hidup di lingkungan tanpa batas sehingga keburukan-keburukan dalam bentuk tulisan dan ucapan membanjiri keseharian tanpa ampun?

Jika demikian, mungkin ada yang hilang dari diri kita sebagai muslim. Pasalnya, jika melihat kehidupan para pendahulu umat ini, mereka adalah sosok-sosok inspiratif yang jauh dari makna kasar dan buruk.

Dikisahkan oleh banyak imam hadits dengan derajat muttafaq ‘alaih, sahabat mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan sebuah episode mencengangkan dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

“Aku menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam sebuah perjalanan. Beliau mengenakan jubah  buatan Najran yang ujung-ujungnya tebal. Tiba-tiba, seorang badui mendekatinya seraya menarik jubbah itu keras sekali. Aku sempat melihat kulit pundak Nabi tergores oleh ujung jubah yang ditarik dengan sangat keras itu.”

Sebelum membaca kelengkapan hadits ini, mari membayangkan respons seorang pemimpin Negara yang mengalami kejadian seperti ini. Ia tengah melakukan perjalanan. Kunjungan kerja. Di tengah perjalanan, ada rakyat biasa-bahkan terbelakang-yang menarik pakaian sang pemimpin dengan amat keras hingga terluka.

Apa kira-kira respons seorang pemimpin selain Nabi jika mengalami hal itu? Marah? Langsung memerintahkan stafnya untuk menangkap? Memuntahkan sumpah serapah sampai membuat peraturan pemerintah terkait hukuman untuk orang itu? Atau tindakan lainnya?

Belum kelar, laki-laki pedalaman Badui ini bertutur dengan nada yang kasar, “Wahai Muhammad, perintahkanlah orang-orangmu untuk memberikan harta Allah Ta’ala yang ada di tanganmu kepadaku!”

Sudah tidak sopan, kasar, laki-laki udik ini juga memalak. Bukan meminta, tapi memaksa agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam memberikan harta kepadanya.

“Mendengar itu,” tutur sahabat mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang menyaksikan kejadian itu, “Nabi Shallallahu ‘AlaihI Wa sallam hanya melirik kepadanya dan tersenyum.”

Setelah itu, “Beliau pun menyuruh sahabatnya memberikan harta yang diminta oleh laki-laki Badui itu.”

Allahumma Shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.

Sungguh, ini teladan amat nyata yang makin langka bahkan mungkin tiada di zaman ini.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Mintalah, Meski untuk Garam yang Anda Butuhkan

Mintalah, Meski untuk Garam yang Anda Butuhkan



WartaIslami ~ Doa adalah senjatanya orang yang beriman, doa bukan sekedar pelengkap usaha, bukan juga pilihan terakhir dalam memecahkan masalah. Lewat doa, sesungguhnya seorang hamba sedang berkomunikasi dengan Rabbnya, doa adalah media bermanja dengan Allah Ta’ala. Lewat doa, kita bisa curhat apa saja kepada-Nya, tenang kesulitan hidup, usaha, kerja, jodoh, rezeki, dan lain sebagainya. Kita bisa ungkapkan itu semua pada saat kita berdoa, bermunajat kepada Allah Ta’ala.

Sungguh sangat disayangkan, bila kita jarang sekali berdoa kepada-Nya. Padahal Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada hamba-Nya, “Mintalah, niscaya akan Ku-kabulkan permintaanmu.” Allah Ta’ala menawarkan janji yang tak mungkin Dia ingkari. Sayangnya, masih saja ada di antara kita yang mengabaikan-Nya, tidak yakin dengan janji-Nya; bahkan mungkin sampai enggan berdoa kepada-Nya, menganggap dirinya sendiri adalah yang terhebat, dan menafikan kekuasaan-Nya. Padahal semua yang terjadi di dunia ini, pun pada diri dan kehidupan kita, tak lepas dari peranan-Nya.

Berdoalah kepada Allah Ta’ala dalam setiap sujud shalat di hamparan sajadah. Mintalah pada-Nya dengan penuh permohonan, dengan keikhlasan sebagai seorang hamba. Buanglah sikap sombong yang bercokol dalam diri. Pasrahkan semuanya hanya pada Allah Ta’ala. Yakinlah, Allah Ta’ala akan mengabulkan doa kita.

Berdoalah dengan khusuk, jangan tergesa-gesa. Pasalnya, doa yang tergesa-gesa, kecil kemungkinannya akan dikabulkan, bahkan tergesa-gesa bisa termasuk kategori meremehkan doa.

Seorang tabi’in bernama Urwah bin Zubeir pernah menegur seseorang yang tergesa-gesa ketika shalat. Selesai shalat, Urwah bin Zubeir pun mendekatinya seraya berkata, “Wahai saudaraku, tidakakah engkau mengutarakan hajatmu kepada Allah selama shalat ?”

“Sungguh,” lanjutnya, “Aku senantiasa meminta kepada Allah ketika sedang shalat.” Pungkasnya, “Bahkan garam pun, aku meminta dari-Nya.”

Kita bisa minta apa saja kepada Allah Ta’ala, karena Dialah Pemilik segalanya. Tak ada yang tak bisa, jika Dia berkehendak. Kehendak-Nya mampu memupuskan kemustahilan.

Mulai saat ini, mari senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala. Mintalah kepada-Nya untuk semua yang menjadi hajat kita. Doakan pula kaum muslimin di seluruh belahan bumi ini, serta doa untuk negeri ini; agar terbebas dari bencana dan diberikan keberkahan tiada tara.


Resource Berita : kisahikmah.com
Siapakah Nama Istri Iblis?

Siapakah Nama Istri Iblis?



WartaIslami ~ Imam asy-Sya’bi sedang berjalan bersama istrinya. Keduanya terlihat sumringah sembari bercengkerama. Tak lama kemudian, datanglah seseorang menghampiri keduanya. Sebagai seorang alim, imam yang faqih dan banyak menghabiskan masa kecilnya di Madinah ini sudah terbiasa mendapati pertanyaan dari kaum Muslimin.

Akan tetapi, laki-laki yang tak disebut namanya ini menyampaikan sebuah pertanyaan yang tak biasa. Katanya, “Wahai Imam, siapakah nama istri iblis?”

Andai bukan karena kedalaman pemahan, jernihnya akal, bersihnya ruhani, dan mulianya akhlak, bisa saja beliau menyampaikan jawaban kemarahan. Apalagi, selain kesan aneh dari pertanyaan tersebut, si penanya terlihat seperti menguji kemampuan sosok imam yang sempat bertemu dan berguru kepada 50-an sahabat utama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Karenanya, kepada laki-laki penanya ini, Imam asy-Sya’bi sampaikan jawaban amat jenaka, tapi tak bisa disela. Kata beliau sembari menyiramkan senyum, “Wah, kami tidak diundang untuk menghadiri walimahnya.”

Sama seperti kita, barangkali penanya mengalami kesan serupa bahwa Sang Imam akan menyampaikan jawaban yang sama sekali tidak pernah kita pikirkan, tapi ‘mematikan’.

Bukan hanya sekali, beliau yang berguru langsung dan amat mengidolakan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhuma ini, memang terkenal jenaka intelektual.

Ceritanya, ada seseorang yang menyampaikan pertanyaan, “Jika saya mandi di sungai, ke manakah harus menghadap? Bolehkah menghadap atau membelakangi kiblat? Atau ke arah mana?” Lanjut si penanya, “Nah, jika saya tidak mengetahui arah kiblat, ke arah mana sebaiknya menghadap saat mandi di sungai?”

Dengan tanpa menelisik maksud si penanya, benar-benar ingin tahu atau hanya berusaha menguji kemampuan Sang Imam, jawaban seperti apakah yang akan disampaikan oleh Sang Imam kepadanya?

“Hadapkanlah pandangan ke arah pakaianmu.” Pungkasnya menyampaikan alasan, “Jangan sampai pakaian itu diambil orang atau hanyut bersama arus air.”

Cerdas dan tak terbantahkan. Itulah pribadi shalih yang lisan dan perbuatannya terjaga. Mereka memiliki kedalaman pemahaman sehingga mampu berpikir cepat, menelaah secara jernih, dan mentransformasikannya ke dalam santunnya akhlak kepada sesama.

Kepada Imam asy-Sya’bi dan generasi beliaulah seharusnya kita belajar tentang akhlak yang santun kepada sesama.


Resource Berita : kisahikmah.com
Banyak Dosa Tapi Susah Menangis? Baca Kisah Ini

Banyak Dosa Tapi Susah Menangis? Baca Kisah Ini



WartaIslami ~ Tersebutlah seorang tabi’in yang sering menangis, amat mudah mengalir air matanya. Ialah Imam Yazid bin Martsad. Kepada sang tabi’in, salah satu muridnya yang bernama Abdurrahman bin Yazid bin Jabir menyampaikan pertanyaan, “Mengapa aku melihat air matamu tidak pernah berhenti mengalir?”

Ini merupakan wujud rasa heran yang amat mendalam dari sosok murid kepada gurunya. Tiada waktu yang dijumpai oleh sang murid, kecuali gurunya itu tengah menangis. Menangisi dosa. Menangis karena berharap kepada Allah Ta’ala. Menangis karena takut tidak mendapatkan surga, ampunan, dan ridha-Nya Ta’ala.

“Mengapa air matamu tidak pernah berhenti menangis?” tanya sang murid kepada guru spiritualnya.

Barangkali, sebelum mengetahui jawaban sang ulama’, tanya ini perlu kita ubah dan sampaikan ke dalam diri sendiri. “Kapan terakhir kali kita menangis?” “Atas alasan apa kita meneteskan air mata?” “Apakah lantaran dosa yang kian menggunung dan ampunan yang belum didapatkan, atau karena persoalan duniawi yang kita rasakan amat menyesakkan dada?”

Lantas kepada Abdurrahman bin Yazid, Imam Yazid bin Martsad justru menyampaikan pertanyaan balik. “Untuk apa engkau menanyakan hal itu kepadaku?”

Sang murid menjawab dengan mantap, “Aku berharap, semoga Allah Ta’ala memberikan aku manfaat dari jawaban yang engkau sampaikan.”

Lantas kepada Abdurrahman yang masih keponakannya ini, Imam Yazid berkata, “Wahai keponakanku, Allah Ta’ala telah mengancamku. Jika aku bermaksiat kepada-Nya, pastilah Dia menjebloskan aku ke dalam neraka.”

“Demi Allah Ta’ala,” lanjut Yazid, “seandainya Allah Ta’ala hanya mengancam untuk memenjarakanku di jamban, barulah aku heran jika air mataku tidak berhenti mengalir.”

Sebagai salah satu generasi terbaik tabi’in, Imam Yazid bin Martsad bukanlah pribadi biasa. Seorang ahli ibadah, ahli ilmu, sufi, pakar di banyak bidang keilmuan, dan kelebihan lainnya. Namun saksikanlah, beliau menangis sepanjang waktu karena khawatir dijebloskan ke dalam siksa neraka yang menyala-nyala.

Beliau menangis karena takut jika tak bisa lolos dari siksa dan seluruh jeratnya. Beliau benar-benar khawatir jika kelak meninggalkan dunia, lantas dimasukkan ke dalam lembah yang dipenuhi api dengan malaikat yang siap menyiksa sebagaimana titah Rabb Ta’ala.

Allahumma, ya Allah, ajirna, jauhkan kami, minannar, dari siksa neraka. Aamiin.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah Pemabuk yang Bertaubat Setelah Ditolong Abu Hanifah

Kisah Pemabuk yang Bertaubat Setelah Ditolong Abu Hanifah



WartaIslami ~ Di Kufah, Imam Abu Hanifah punya tetangga seorang pemuda. Sepanjang hari, pemuda ini bekerja sebagai tukang sepatu. Malamnya, ia pulang dengan membawa daging atau ikan untuk dipanggang. Sambil menyantap daging atau ikan panggang, ia minum khamr hingga mabuk.

Hampir bersamaan dengan waktu Imam Abu Hanifah shalat malam, pemuda itu melantunkan syairnya:
Mereka menyia-nyiakan aku
dan semua orang yang disia-siakan sepertiku
O, siapakah yang telah menyia-nyiakan
Hari yang tak menyenangkan
dan hari terkuncinya lisan

Hampir setiap malam ulama yang dikenal dengan nama Imam Hanafi mendengar ocehan pemuda tersebut. Hingga pada suatu hari, suara ocehan itu tak terdengar lagi.

Imam Abu Hanifah pun mendatangi rumah pemuda itu dan mencari tahu apa yang terjadi. “Kemarin malam ia ditangkap polisi. Ia kini sedang dipenjara” kata orang-orang memberitahukannya.

Segera, pagi itu juga, Imam Abu Hanifah mengendarai bighalnya menuju kediaman Gubernur. Melihat kedatangan ulama agung itu, Gubernur menyambutnya dengan penuh hormat. Ia menyuruh para pejabat menyambutnya. Ia juga memerintahkan anak buahnya membentangkan karpet untuk dilalui imam besar itu begitu turun dari bighalnya. “Merupakan kehormatan bagi kami, Imam mau berkunjung ke sini. Adakah keperluan yang bisa kami bantu?” sambut Gubernur.

“Aku punya seorang tetangga. Ia ditangkap kemarin malam. Bisakah engkau melepaskannya?”

“Tentu saja. Kami akan melepaskannya dan semua orang yang ditangkap sejak kemarin malam.”

Setelah dilepaskan, pemuda itu berjalan mengikuti Imam Abu Hanifah.
“Wahai pemuda, apakah kami menyia-nyiakan engkau?” tanya Imam Abu Hanifah kepadanya.
“Tidak. Kini aku tahu bahwa engkau telah menjaga dan memperhatikan kami. Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau telah memuliakan tetanggamu”

Tak lama kemudian, pemuda itu pun bertaubat. Ia tak lagi minum khamr, ia juga tak lagi mengoceh tersia-siakan. Lingkungan Imam Abu Hanifah kini lebih tenang, dan hati pemuda itupun kini lebih damai.

Demikianlah ulama yang disebut Rasulullah sebagai pewaris para Nabi. Mereka peduli kepada tetangga dan masyarakatnya sebagaimana para Nabi peduli kepada umatnya. Dan demikianlah seharusnya sikap para dai, yang menjadi penerus para ulama. Dakwah dengan tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian, jauh lebih efektif daripada dakwah melalui kata-kata dan tulisan.

Banyak pemuda lain seperti pemuda itu. Mereka merasa jauh dari Islam, mereka merasa hidupnya gersang. Namun pada saat yang sama, mereka merasa tak diperhatikan. Mereka merasa tidak dipedulikan. Jadilah mereka makin jauh dari kebenaran. Hingga… ketika dakwah menghampirinya dengan penuh kepedulian. Ketika dakwah merangkulnya dengan perhatian. Ketika dakwah meraih tangannya dengan pertolongan. Ketika dakwah memeluknya erat dalam kehangatan, “maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fussilat : 34). 


Resource Berita : kisahikmah.com
Lelaki Buta Huruf al-Qur’an yang Wafat Saat Sujud Tilawah

Lelaki Buta Huruf al-Qur’an yang Wafat Saat Sujud Tilawah



WartaIslami ~ Perjalanan hidup manusia adalah misteri yang tak bisa dipecahkan oleh makhluk secerdas apa pun. Ada begitu banyak kisah kehidupan yang membuat kita tercengang, sebab di luar nalar. Di tahap inilah, kita harus merasa butuh dengan prediksi pasti dan ajaran yang tak pernah dusta; al-Qur’an dan hadits Nabi. Hanya dengan keduanya, misteri kehidupan bisa kita akhiri dengan senyum manis berlimpah bahagia.

Amal manusia tergantung akhirnya. Pelaku bahkan pemimpin kejahatan, bisa masuk surga jika meninggal dunia dalam keadaaan taubat nasuha seraya melafal kalimat tauhid secara tulus dari dalam hatinya. Sedangkan pendukung kebaikan, jika imannya lepas sesaat sebelum ajal, kemudian ia menghadap Allah Ta’ala dalam keadaan syirik, maka siksa telah menantinya di kubur dan neraka.

Kedua kondisi ini adalah pengecualian. Sedangkan kebanyakannya, manusia akan diwafatkan sebagaimana kebiasaannya dalam menjalani proses hidup yang sementara ini. Maka dibutuhkan kesungguhan dan kegigihan dalam mendidik diri. Agar di sepanjang perjalanan kehidupan bisa dijalani sesuai dengan aturan al-Qur’an dan menjalankan sunnah-sunnah Nabi yang amat mulia hingga ajal menjemput.

Di Madinah, sebagaimana dituturkan oleh Kiyai Haji Bachtiar Nasir Lc dalam salah satu ceramahnya, ada kisah seorang Muslim yang amat beruntung. Lepas menemukan Islam, ia berniat mengkhidmatkan diri untuk al-Qur’an. Masalahnya, dirinya buta huruf. Sementara untuk belajar, nampaknya sudah amat susah. Lalu, apakah jalan yang ditempuhnya sehingga di akhir kisah, lelaki ini wafat saat melakukan Sujud Tilawah.

Dengan senyum mengembang, lelaki ini beralih dari satu jamaah ke jamaah lain di masjid Nabawi. Ia menghampiri, mengucap salam, melempar senyum, mengulurkan jabat tangan, dan menyapa seperlunya. Hampir semua jamaah disambanginya, khususnya yang terlihat santai dalam rehatnya.

Ia memahami, di masjid suci itu, kaum Muslimin sibuk dalam munajat kepada Allah Ta’ala dalam banyak jenis ibadah yang disunnahkan. Maka, ia benar-benar menyeleksi dan hanya menyambangi yang terlihat tidak sedang sibuk dalam munajatnya kepada Allah Ta’ala.

Kepada setiap lelaki yang disambanginya, lelaki baik hati ini meminta tolong, “Tuan, tolong bacakan al-Qur’an untukku.” Selalu seperti itu. Meminta dibacakan, lalu dirinya khusyuk mendengarkan. Meski tak bisa baca-tulis al-Qur’an, lelaki ini terlihat menikmati Kalam Allah Ta’ala yang terdiri dari tiga puluh juz itu.

Terus seperti itu, setiap hari. Hingga, ia bertemu dengan seorang lelaki yang kala itu membacakan surat as-Sajdah untuknya. Di dalam surat ketiga puluh dua dalam al-Qur’an itu, tepatnya di ayat lima belas terdapat ayat Sajdah. Dimana kaum Muslimin disunnahkan untuk melakukan Sujud Tilawah baik ketika membaca maupun mendengarkan pembacaan ayat tersebut.

Lelaki yang membacakan pun menunduk dalam sujud yang diriwayatkan bisa membuat setan berlari sambil menangis, kemudian diikuti oleh lelaki buta huruf yang minta dibacakan al-Qur’an. Dalam jenak, lelaki yang membacakan pun bangun. Selesai dari sujudnya.

Tetapi, lelaki yang minta dibacakan ayat-ayat Allah Ta’ala tersebut tetap dalam sujudnya. Hingga lama dan membuat lelaki yang membacakan al-Qur’an bertanya penasaran. Rupanya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Atas perintah Allah Ta’ala, malaikat Izrail mencabut nyawa lelaki ini, tepat saat melakukan Sujud Tilawah.

Ya Allah… anugerahkanlah kepada kami husnul khatimah. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah Hakim Pemberani dan Pertaubatan Sultan Bayezid

Kisah Hakim Pemberani dan Pertaubatan Sultan Bayezid



WartaIslami ~ “Kesaksianmu tidak diterima,” perkataan hakim itu mengejutkan semua orang yang hadir di pengadilan. Bagaimana tidak, saksi yang ditolak itu adalah Sultan Bayezid. Pemimpin Turki Utsmani bergelar Al Fatih Al Kabir (penakluk besar) karena berhasil mengalahkan pasukan salibis pimpinan Baba Bunega Giush dan juga berhasil menaklukkan Bulgaria, Albania dan Bosnia Herzegovina.

Alasannya, “karena engkau tidak mengerjakan shalat lima waktu berjama’ah. Dan orang yang tidak shalat berjama’ah tanpa udzur syar’i lebih rentan untuk memberikan kesaksian palsu.”

Di antara orang-orang yang menghadiri persidangan itu ada yang bergidik. Tak bisa membayangkan seandainya tiba-tiba kepala hakim terpisah dari badannya hanya dengan satu kerdipan mata atau isyarat tangan Sang Sultan. Sebab apa yang dikatakan hakim itu menurut sebagian orang sudah masuk daam kategori pelecehan terhadap kepala negara.

Tetapi Sultan Bayezid hanya diam. Lelaki gagah itu kemudian membalikkan badan dan keluar dari ruang persidangan dengan tenang. Ia tidak membela diri, tidak juga menghukum hakim tersebut karena memang benar adanya. Ia sendiri yang menginformasikan ketika ditanya oleh hakim sebelum diambil sumpah. Dengan jujur ia mengatakan bahwa dirinya sering tidak shalat jama’ah.

Hari itu juga, Sultan Bayezid memerintahkan pembangunan masjid raya di dekat istana. Dan begitu masjid itu selesai dibangun, Sultan Bayezid selalu shalat jamaah di sana.

Kisah yang disarikan dari Hadiqah As Salatin karya sejarawan Turki Utsman Nazzar ini memberi banyak inspirasi kepada kita. Secara jama’i, inilah sebagian sebab mengapa kekhilafahan Islam kuat dan dicintai umat. Yakni ketika para pemimpinnya berorientasi akhirat dan mengedepankan taqarrub ilallah daripada pertimbangan-pertimbangan dunia. Dan hukumnya pun adil tanpa pandang bulu. Meskipun yang ada di pengadilan adalah Sultan, bukan berarti ia diistimewakan. Persis seperti kisah hakim yang memenangkan Yahudi atas Khalifah Ali dalam kasus baju besi.

Kisah ini juga menjadi inspirasi bagi setiap pribadi muslim. Tak perlu marah ketika ada orang menunjukkan aib atau mencela kesalahan kita. Tak perlu membabi buta ketika ada orang yang melontarkan kritik kepada kita. Justru itu adalah cermin, agar kita memperbaiki diri. Tak perlu mencari alasan untuk membela diri karena itu justru menutupi sensitifitas kita untuk bertumbuh. Sebaliknya, jadikan kritik dan cela sebagai pendorong kemajuan kita. Jika memang ada yang keliru dari laku kita, saatnya memperbaiki diri. Jika memang ada yang salah dari masa lalu kita, saatnya bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih bertaqwa.


Resource Berita : kisahikmah.com
Pemimpin Dunia yang Tetap Mencium Kaki Ibunya

Pemimpin Dunia yang Tetap Mencium Kaki Ibunya



WartaIslami ~ Di negeri ini, ada hikayat Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu lantaran durhaka kepada orang tuanya, ibu. Merantau sebagai sosok miskin papa, berupaya keras mengubah takdir, hingga menikah dengan wanita kaya dan usahanya berhasil menjadi kaya. Malangnya, memiliki harta dunia justru membuat dirinya miskin nurani. Tak akui ibunya, hingga terkutuk menjadi batu.

Sudah menjadi sunnatullah, berbakti kepada kedua orang tua adalah kunci kesuksesan hidup di dunia dan kebahagiaan abadi di surga-Nya. Hal ini pula yang menjadi inspirasi amat berharga bagi banyak tokoh di dunia.

Satu di antaranya adalah sosok sederhana yang kini menjadi salah satu pemimpin terbaik di zaman ini. Pemimpin negeri kaum Muslimin yang berani menyampaikan kritik kepada pemimpin Yahudi karena ulahnya membunuhi anak-anak dan orang tak berdosa di bumi Gaza, Palestina.

Mulanya, beliau adalah seorang tukang adzan di sebuah masjid di ibu kota negaranya, Istanbul Turki. Bagi sebagian kita, barangkali tukang adzan bukanlah predikat yang membanggakan. Padahal, amat banyak pahala yang disediakan oleh Allah Ta’ala bagi sosok yang mengingatkan kaum Muslimin bahwa waktu shalat telah tiba.

Sosok ini juga sempat bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional pada salah satu klub ternama di negerinya. Karenanya, dalam sebuah pertandingan persahabatan yang tersebar di banyak media sosial, beliau terlihat piawai dalam mengolah si kulit bundar. Bahkan, sosok dengan senyum inspiratif ini mencetak tiga gol cantik nan spektakuler dalam laga tersebut untuk membawa timnya menuju kemenangan.

Ketika beliau mengunjungi Madinah dan bertemu dengan nenek-nenek asal negerinya, beliau tak sungkan untuk menyalami si wanita layaknya hormatnya kepada ibunya. Tulus. Tak ada sedikit pun kesan dibuat-buat apalagi pencitraan yang memuakkan.

Rupanya, beliau memang sangat hormat kepada orang tuanya. Dan, salah satu kejadian di hari raya Idul Fithri menjadi bukti betapa beliau adalah sosok yang berusaha mengamalkan ajaran al-Qur’an dan Sunnah terkait birrul walidain.

Sebagaimana biasa, beliau mengunjungi orang tuanya. Seketika setelah sampai, sosok yang terdepan dalam membantu pengungsi Suriah ini langsung mencium kaki ibunya. Hening. Syahdu. Penuh hormat.

Dalam jenak, sang ibu berkata, “Nak, kamu itu sudah jadi Presiden. Tak perlu lagi mencium kaki ibumu.”

Lalu, sosok yang dua kali menjabat Perdana Menteri Turki dan kini menjadi orang nomor satu di negeri itu berkata dengan amat lembut, “Bu, sejak kapan seorang Presiden tidak boleh masuk surga?”

Semoga Allah Ta’ala melindungi Anda hingga akhir hayat, Recep Tayyip Erdogan.


Resource Berita : kisahikmah.com
Rahasia Sukses Haji Agus Salim saat Anak-anak

Rahasia Sukses Haji Agus Salim saat Anak-anak



WartaIslami ~ Haji Agus Salim merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau terlahir pada 8 Oktober 1884 dari seorang ayah bernama Sutan Muhammad Salim dan seorang Ibu bernama Zainab. Sosok yang bernama asli Masyhudul Haq ini merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara.

Sejak kecil, beliau memang gila belajar. Sifat ini pulalah yang berhasil mengantarkannya menjuarai sekolah ELS (setingkat Sekolah Dasar) se Kota Gadang dan menjadikannya layak mendapatkan beasiswa melanjutkan ke sekolah setingkat SMA di Batavia kala itu.

Tentunya, ada kebiasaan-kebiasaan positif yang senantiasa beliau lakukan sejak kecil hingga mengantarkannya menjadi tokoh nasional yang mendunia. Berikut kami rangkumkan beberapa di antara kebiasaan tersebut sebagaimana dituturkan oleh Haidar Musyafa dalam Cahaya dari Koto Gadang, sebuah novel biografi sosok pemimpin negeri yang menguasai sembilan bahasa asing ini.

Mengulang Pelajaran

Hal ini dilakukan pada siang hari sepulang sekolah. Setelah mengulang pelajaran, Agus Salim kecil juga belajar untuk pelajaran esok hari. Saking getolnya mengulang pejaran, beliau pun menggunakan plavon rumahnya yang gelap sebagai tempat belajar yang mengasyikkan.

Lantaran kebiasaan ini, beliau berhasil menjadi juara umum di sekolah Belanda se-kota Gadang. Dan menjadi idaman para guru-guru di sekolah itu. Padahal, beliau hanya satu dari beberapa anak pribumi yang berhasil bergabung dengan banyak anak-anak Belanda di sekolah itu.

Tak Lalai dengan Tugas Rumah

Sejak kecil, Ibu Zainab sudah memberikan amanah pekerjaan rumah kepada anaknya ini. Padahal di rumah sang Ayah ada pembantu rumah tangga, si Emak, yang asal Jawa dan sudah dianggap keluarga sendiri.

Hikmahnya, Ibu Zainab menginginkan agar anaknya menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan kelak berguna bagi kehidupan dewasanya, khususnya setelah menjadi seorang suami. Meski sempat menolak, Agus Salim kecil berhasil menjalankan amanah ini dengan tidak melupakan jadwal belajarnya. Beliau ditugasi membersihkan halaman dan menyirami tanaman (bunga).

Tidak Asyik Bermain

Sebagaimana anak kecil lainnya, beliau pernah alami proses asyik bermain. Tetapi, keasyikan bermain menyita sebagian besar waktunya. Karenanya, nilai sekolahnya pun turun drastis. Hingga, Ayah dan Ibunya marah. Pun dengan guru-guru yang menyayangi beliau karena kecerdasannya. Sejak penurunan nilai itulah, beliau ‘bertaubat’ dari asyik bermain dan kembali mengencangkan ikat pinggang untuk getol belajar.


Resource Berita : kisahikmah.com
Amalkan Ini, Manusia Biasa Disetarakan dengan Nabi di Dalam al-Qur’an

Amalkan Ini, Manusia Biasa Disetarakan dengan Nabi di Dalam al-Qur’an



WartaIslami ~ Laki-laki ini, sebagaimana disepakati oleh ulama, bukan merupakan seorang Nabi. Ia hanyalah manusia biasa. Disebutkan oleh Amr bin Qais, “Ia berkulit hitam, bibirnya tebal, dan kakinya besar.” Tidak ada bagian tubuh seperti tinggi badan atau kulit putih yang membuat ia terlihat penuh kesan bagi orang yang melihatnya.

Ia bukan pula berasal dari keturunan yang terhormat, berharta, atau memiliki jabatan yang tinggi. Bahkan, ia tercatat sebagai seorang penggembala di masanya. Tiada gengsi sedikit pun.

Namun, nama laki-laki ini abadi di dalam al-Qur’an. Ia dijuluki sebagai pemilik hikmah, ialah pemahaman, akal, dan perkataan yang benar. Majlisnya sesak oleh orang-orang yang haus akan nasihat kebaikan di masanya. Kini, saat ia telah lama meninggal dunia, namanya harum denga ajaran-ajaran hikmah yang dia sampaikan dan direkam dengan sangat baik di dalam al-Qur’an al-karim.

Lantas, apa rahasianya? Apa yang membuat laki-laki biasa ini begitu memesona? Apakah amalan yang dilakukan oleh laki-laki biasa ini hingga ada yang menganggapnya sebagai Nabi? Apakah sebenarnya amalan sang penggembala yang hitam kulitnya, tebal bibirnya, dan besar kakinya ini?

Dalam penuturan Amr bin Qais, saat laki-laki ini tengah dikerumuni oleh banyak orang di majlisnya, datanglah laki-laki tak dikenal. Dia langsung mendatangi laki-laki pemimpin majlis seraya bertanya, “Bukankah engkau orang yang pernah menggemabala domba bersamaku di tempat ini dan itu?”

Laki-laki penuh hikmah menjawab santai, “Benar.”

“Lantas,” uber laki-laki tak dikenal, “apa rahasianya hingga keadaanmu sedemikian rupa (dihormati dan didengarkan ucapannya)?”

“Benar dalam perkataan,” lanjut si laki-laki beberkan rahasia, “dan senantiasa diam terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat.”

Disebutkan dalam riwayat lain oleh Imam Ibnu katsir yang mengutip keterangan Imam Ibnu Abi Hatim dari sahabat mulia Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, “Laki-laki pemilik hikmah ini merupakan sosok pendiam, sedikit berbicara, suka merenung, berpandangan tajam, tidak pernah tidur siang, tidak pernah terlihat oleh orang lain saat meludah, membuang dahak, buang air kecil dan besar, mandi, tidak menyia-nyiakan waktu, dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.”

Disebabkan semua amalan itulah, laki-laki yang tak lain bernama Luqman berjuluk al-Hakim ini mendapat keutamaan hingga namanya dibadikan dalam al-Qur’an al-Karim sebagai nama surat ke-31.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Jika Kau Mendahuluiku, Aku Takut akan Diazab atau Ditenggelamkan ke Bumi

Jika Kau Mendahuluiku, Aku Takut akan Diazab atau Ditenggelamkan ke Bumi



WartaIslami ~ Datanglah Nabi Isa ‘alaihis salam kepada saudaranya, Nabi Yahya bin Zakariya ‘alaihimus salam. Beliau hendak mengingatkan lima hal yang diperintahkan kepadanya dan supaya disampaikan kepada Bani Israil agar mereka mengamalkannya. Nabi Isa mengingatkan sebab Nabi Yahya hampir saja lamban (lupa) untuk menyampaikan nasihat tersebut.

Kata Nabi Isa, “Apakah kau sendiri yang akan menyampaikannya, atau aku yang harus melakukannya?” Serta merta, Nabi Yahya menyahut, “Jika kau mendahuluiku, wahai saudaraku,” lanjutnya menyampaikan, “Aku takut akan diazab atau ditenggelamkan ke dalam bumi.”

Maka Nabi Yahya pun mengumpulkan kaum Bani Israil di Baitul Maqdis. Setelah mereka memenuhi tempat suci tersebut, beliau mencari tempat yang paling tinggi untuk menyampaikan lima hal yang diperintahkan kepadanya dan kaum Bani Israil.

Beribadahlah dan Jangan Mempersekutukan-Nya

Beliau menjelaskan, perumpamaan hal itu seperti seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan dengan harta emas dan peraknya. Kemudian budak itu bekerja dengan rajin, namun ia memberikan upahnya (hasilnya) kepada selain tuannya. Tanya Nabi Yahya, “Siapakah di antara kalian yang menginginkan budaknya berbuat demikian?”

Lanjut Nabi Yahya, maka Allah Ta’ala yang telah memberikan rezeki kepada kalian, wajib untuk disembah dan haram menjadikan bagi-Nya sekutu dari jenis makhluk apa pun.

Dirikanlah Shalat

Dijelaskan oleh beliau, “Allah Ta’ala menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba yang menghadapkan wajah kepada-Nya.” Maka, lanjut beliau, “Jangan palingkan wajahmu saat mendirikan shalat.”

Kerjakanlah Puasa

Puasa, sebagaimana penjelasan beliau, diibaratkan seperti orang yang membawa minyak kesturi ke tengah-tengah perkumpulan orang, dan semua yang hadir mencium bau minyak kesturi tersebut. Sesungguhnya, lanjut Nabi Yahya, “Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari bau kesturi.”

Berikanlah Sedekah

Allah Ta’ala memerintahkan bagi Nabi Yahya dan Bani Israil agar mereka bersedekah. Sabda Nabi Yahya, “Sedekah ibarat seseorang yang ditawan oleh musuh, diikat kedua tangannya dan hendak dipenggal lehernya. Kemudian, dia berkata, ‘Apakah kalian mengizinkan aku untuk menebus diriku?'”

Lanjut Nabi Yahya, “Maka orang itu menebus dirinya dengan semua harta yang dimiliki, dan ia berhasil membebaskan dirinya.”

Perbanyaklah Dzikir

Perumpamaan dzikir, tulis Ibnu Katsir mengutip hadits ini dalam Tafsirnya, “Seperti orang yang dikejar musuh dengan melacak jejak kakinya. Lalu, orang itu mendatangi sebuah benteng yang terjaga ketat, dan berlindung di dalamnya.”

Tutup Nabi Yahya mengakhiri lima nasihatnya, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terlindungi dari syaitan jika senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala.”


Resource Berita : kisahikmah.com
Dua Orang dan Dua Keluarga Pilihan Allah atas Semesta Alam

Dua Orang dan Dua Keluarga Pilihan Allah atas Semesta Alam



WartaIslami ~ Allah Ta’ala memilih siapa saja yang Dikehendaki-Nya dari kalangan umat manusia untuk dijadikan kekasih dan hamba-hamba pilihan-Nya. Di antara milyaran bahkan triliunan manusia di muka bumi ini sejak zaman Nabi Adam, Allah telah memilih dua sosok dan dua keluarga sebagai generasi terbaik. Siapakah mereka?

Nabi Adam

Ialah manusia pertama yang menjadi bapak dari semua manusia di muka bumi ini. Allah Ta’ala memilih Nabi Adam dan istrinya sebagai Nabi yang pertama. Bahkan Allah Ta’ala memilihnya untuk dijadikan Khalifah di bumi, diberikan pengetahuan tentang nama-nama makhluk-Nya, juga diberikan keutamaan atas malaikat dan golongan jin.

Bahkan di dalam takdir diturunkannya Adam dan istrinya ke bumi, di dalamnya terdapat kebaikan yang amat banyak dan menjadi cikal bakal kehidupan manusia hingga akhir zaman.

Nabi Nuh

Inilah Rasul pertama. Setelah terhenti beberapa ratus tahun dari wafatnya Nabi Adam, Allah Ta’ala menurunkan Nabi Nuh untuk kembali memurnikan tauhid umat manusia.

Nabi Nuh berdakwah siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dengan beragam cara untuk mengajak manusia menyembah Allah Ta’ala. Sayangnya, kaumnya mendustakan. Bahkan istri dan anaknya turut dalam barisan kafirin yang terlaknat.

Maka Allah Ta’ala membinasakan kaum tersebut dan menyelematkan Nabi Nuh dan para pengikutnya dalam sebuah bahtera yang kisahnya abadi. Nuh adalah salah satu teladan terbaik dalam dakwah, “Tak kan surut walau selangkah, tak kan henti walau sejenak.”

Keluarga Nabi Ibrahim

Jika dua sosok sebelumnya disebut secara individu, maka maknanya adalah: sebelum mempersiapkan orang lain, siapkan diri terlebih dahulu. Ketika individu telah siap mengemban amanah dakwah, maka keluarga adalah sasaran pertamanya sebelum dan ketika berdakwah di luar.

Keluarga Ibrahim adalah parade keluarga Nabi. Beliau melahirkan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Dari dua keturunan Nabi itu, lahirlah Nabi terakhir dan Imam para Rasul. Ialah Muhammad bin Abdullah yang risalahnya berlaku hingga akhir zaman.

Betapa mulianya Ibrahim dan Muhammad; nama keduanya seringkali disandingkan dengan nama Allah Ta’ala yang amat mulia.

Keluarga ‘Imran

Selain dari golongan Nabi dan Rasul, Allah Ta’ala memilih dari golongan yang bukan keduanya. ‘Imran adalah orang shaleh yang darinya terlahir Siti Maryam. Maryam adalah wanita penghulu surga yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk melahirkan seorang anak bernama ‘Isa tanpa melalui proses peretubuhan dengan seorang laki-laki.

Kelak, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits shahih, Nabi ‘Isa ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman untuk menghapuskan pajak dan mengalahkan Dajjal. Dan, beliau mengikuti syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan salam dan shalawat kepada Nabi Adam, Nabi Nuh, keluarga Nabi Ibrahim, dan juga keluarga ‘Imran. Dan, semoga kita bisa meneladani mereka dalam dakwah. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Siapakah Nama Nenek Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam?

Siapakah Nama Nenek Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam?



WartaIslami ~ Allah Ta’ala memilih keluarga ‘Imran atas seluruh alam. Mereka dipilih bersamaan dengan keluarga Nabi Ibrahim, Nabi Adam dan Nabi Nuh ‘alaihimus salam. Dari keluarga ‘Imranlah Nabi ‘Isa dilahirkan melalui Maryam. Lalu, siapakah ibunya Maryam atau nenek Nabi ‘Isa ‘alaihis salam?

Dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya bahwa istri ‘Imran adalah wanita yang belum pernah hamil. Suatu ketika, ia melihat induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Wanita itu pun berkeinginan memiliki anak.

Ibnu Katsir mengatakan, “Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, ia pun hamil.” Dan, setelah pasti kehamilannya, wanita ini bernadzar akan menjadikan anaknya kelak untuk berkhidmat di Masjidil Aqsha.

Qadarullah, yang terlahir adalah seorang wanita yang diberi nama Maryam. Guna menunaikan nadzarnya, Maryam pun ditempatkan di salah satu mihrab Masjidil Aqsha. Di empat itulah Maryam senantiasa berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Sebab keshalehannya itu pula, Allah Ta’ala memilih Maryam sebagai wanita yang kelak melahirkan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Dan, hal itu merupakan ujian yang berat baginya.

Pasalnya, Maryam yang tak pernah tersentuh oleh laki-laki dan terkenal sebagai wanita ahli ibadah, tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang bayi. Bukankah hal itu mengundang buruk sangka dan kedengkian orang-orang kafir yang membenci Allah Ta’ala?

Setelahnya, Maryam menjalani hari-hari yang berat dalam masa mengandung hingga lahirlah anak yang langsung dikaruniakan oleh Allah Ta’ala tanpa melalui persetubuhan dengan seorang laki-laki. Dan hal itulah yang dijadikan alasan oleh orang Nasrani bahwa ‘Isa adalah anak-Nya. Padahal, Dia Mahasuci dari beranak dan diperanakkan.

Lagi pula, jauh sebelum itu, ada Nabi Adam ‘alaihis salam dan istrinya yang lahir tanpa ayah dan ibu. Maka Allah Ta’ala Mahakuasa untuk melakukan apa pun sesuai Kehendak-Nya.

Lantas, siapakah nama nenek Nabi ‘Isa ‘alahis salam? Siapakah ibu yang telah melahirkan Siti Maryam yang terpilih menjadi penghulu wanita di surga? Atau, siapakah istri dari ‘Imran yang namanya abadi dalam al-Qur’an?

Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam Tafsirnya, “Istri ‘Imran adalah ibunya Maryam, yaitu Hannah binti Faqudz.”


Resource Berita : kisahikmah.com
Mukjizat Nabi ‘Isa dalam Surat Ali ‘Imran dan al-Maidah

Mukjizat Nabi ‘Isa dalam Surat Ali ‘Imran dan al-Maidah



WartaIslami ~ Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam merupakan Nabi dan Rasul Allah Ta’ala yang dilahirkan tanpa adanya seorang ayah. Beliau merupakan salah satu Nabi Ulul ‘Azmi bersama Nabi Nuh, Musa, Ibrahim, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sebagai mukjizat kepada Nabi ‘Isa, Allah Ta’ala menurunkan kepada anak Maryam ini kitab Injil dan beberapa mukjizat lainnya yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun kaumnya kala itu. Berikut kami nukilkan mukjizat-mukjizat Nabi ‘Isa yang terdapat di dalam surat Ali ‘Imran dan al-Maidah.

Menghidupkan Burung

Allah Ta’ala berfirman, “Aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya. Maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 49)

“Dan ingatlah,” firman Allah Ta’ala, “di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku.” (Qs. al-Maidah [5]: 110)

Menjelaskan makna ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Demikianlah ‘Isa menciptakan bentuk sebuah burung yang terbuat dari tanah liat, lalu meniupnya. Kemudian burung itu, dengan disaksikan banyak orang, terbang dengan sebenar-benarnya atas izin Allah Ta’ala.”

Pungkas beliau menerangkan, “Allah Ta’ala menjadikan hal itu sebagai mukjizat baginya yang menunjukkan bahwa Dia benar-benar mengutusnya.”

Menyembuhkan Penyakit Buta dan Kusta

“Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, dan orang yang berpenyakit kusta.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 49)

“Dan ingatlah, ketika kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibunya , dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku.” (Qs. al-Maidah [5]: 110)

Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Demikian juga dengan orang yang memiliki penyakit kusta. Di antara hikmah atas mukjizat ini, Ibnu Katsir mengatakan, “Karena yang demikian itu merupakan mukjizat yang amat hebat dan sangat menantang.”

Menghidupkan Orang Mati

“Dan aku hidupkan orang yang mati dengan izin Allah.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 49)

“Dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang yang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku.” (Qs. al-Maidah [5]: 110)

“Engkau (Nabi ‘Isa),” tulis Imam Ibnu Katsir, “memanggil mereka. Lalu mereka pun bangkit dari kuburnya dengan izin Allah Ta’ala, dan berdasarkan kekuasaan, kehendak, dan keinginan-Nya.”

Berbicara Saat Bayi

“Kamu mampu bericara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan sebelum dewasa.” (Qs. al-Maidah [5]: 110)

Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam sudah diberi kemampuan oleh Allah Ta’ala untuk menyeru manusia kepada-Nya sejak balita hingga masa dewasanya.


Resource Berita : kisahikmah.com
Nabi yang Hunus Pedang dan Hendak Membelah Bayi menjadi Dua Bagian

Nabi yang Hunus Pedang dan Hendak Membelah Bayi menjadi Dua Bagian



WartaIslami ~ Seorang ibu muda dan ibu yang lebih tua sedang ada keperluan di padang rumput. Masing-masing memiliki bayi yang hampir mirip, dari ukuran badan, rupa, dan usianya. Kedua bayi itu diletakkan di atas batu besar, berdekatan. Dua wanita ini pun bergegas, menyelesaikan urusannya di padang rumput.

Sang ibu muda berfirasat tidak enak. Jikalau anaknya dimangsa oleh binatang buas. Maka dia pun meninggalkan urusannya, segera mendatangi anaknya. Bersamaan dengan itu, ibu yang usianya lebih tua pun berada di lokasi tersebut. Heran, bayinya hilang satu. Salah satu di antaranya dimangsa binatang buas.

Keduanya bertengkar. Adu mulut. Dalam waktu yang agak lama, kedua wanita ini akhirnya sepakat mendatangi raja. Untuk meminta keputusan yang paling adil.

Di hadapan raja yang sekaligus Nabi, Daud ‘Alaihis salam, keduanya menyampaikan kisah secara lengkap. Keduanya tak bisa menahan diri, hingga bertengkar di depan raja, menteri dan pembesar-pembesar lainnya.

Ibu yang lebih tua bersikukuh, bayi itu anaknya. Dia pun memberikan beragam argumen tentang ciri-ciri anaknya, dan sebagainya. Pun dengan ibu muda. Dia tak mau kalah. Akhirnya, Nabi Daud bingung, tak menemukan solusi.

“Ayah,” ujar Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam yang kala itu sudah mendampingi ayahnya memimpin, “izinkan aku menjadi hakim bagi mereka berdua.”

Nabi Daud mengangguk. Nabi Sulaiman mendapatkan izin. Dia pun menghunuskan pedangnya. Tajam. Berkilat-kilat. Seluruh yang hadir, dan dua wanita tersebut terbelalak. Tak bisa mengedipkan mata. “Letakkan bayi itu di atas meja,” perintah Nabi Sulaiman, “aku akan membaginya menjadi dua untuk kalian berdua. Sama rata.”

“Jangan!” seru ibu muda. “Biarkan anak itu menjadi anaknya (ibu yang lebih tua). Aku tidak rela jika dia harus mati di usianya yang masih sangat belia.”

Mendengar jeritan itu, Nabi Sulaiman yang adil dan cerdas menyarungkan pedangnya. Dengan menggunakan pendekatan perasaan seperti itu, bisa diketahui bahwa ibu muda adalah ibu dari bayi anak tersebut. Seorang ibu kandung yang sejati tidak akan pernah rela melihat anaknya tersakiti, apalagi dibunuh di hadapannya.

Setelah bayi diserahkan kepada ibu muda, hukuman diberikan kepada ibu tua karena kebohongan yang dia lakukan. “Sulaiman,” puji Nabi Daud ‘Alaihis salam, “kau benar-benar hebat.”

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
40 Kali Berhaji, Doa Imam Ini Selalu Dikabulkan

40 Kali Berhaji, Doa Imam Ini Selalu Dikabulkan



WartaIslami ~ Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada laki-laki surgawi yang lahir di tahun 33 Hijriyah ini. Ialah Imam Abu Abdurrahman Thawus bin Kaisan al-Yamani al-Janadi. Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah mengatakan, Imam Thawus merupakan tabi’in yang paling dalam pengetahuannya tentang syariat, paling sering dirujuk dalam periwayatan hadits, paling teguh mengikuti sunnah, paling kuat ibadahnya, paling zahid, paling serbakekurangan, paling utama perilakunya, dan paling berani menasihati para penguasa.

Imam Thawus lahir di daerah Janad Yaman dan wafat pada tahun 106 Hijriyah. Berikut ini beberapa komentar imam-imam besar tentang Imam Thawus yang merupakan salah satu sosok terberkahi dari negeri Yaman.

“Thawus senantiasa menuturkan hadits secara huruf perhuruf.” ungkap Imam Laits bin Abi Sulaim.

Imam Ibnu Hibban Rahimahullah berkata, “Imam Thawus merupakan ahli ibadah dari negeri Yaman dan salah satu tabi’in terkemuka. Dia telah berhaji sebanyak empat puluh kali dan doanya selalu dikabulkan.”

“Sungguh aku menduga, Thawus akan masuk dalam golongan ahli surga.” tutur sahabat mulia Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu.

Salah seorang pemuka dari Yaman lainnya, Imam Qais bin Sa’ad mengatakan, “Kedudukan beliau bagi negeri Yaman tak ubahnya kedudukan Ibnu Sirrin bagi penduduk Bashrah.”

Selain berilmu, Imam Thawus juga sosok yag rendah hati. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibrahim bin Maisarah. Menurut beliau, tak ada orang yang melebihi kerendah-hatian Imam Thawus.

Sedangkan salah satu faqihnya umat ini, Imam Sufyan bin Uyainah memasukkan Imam Thawus ke dalam tiga generasi terbaik yang senantiasa menjauhi kekuasaan. Beliau disejajarkan dengan sahabat Abu Dzar al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu, dan Imam Sufyan ats-Tsauri.

Saking utamanya sosok ini, ribuan kaum Muslimin berkumpul di hari wafatnya. Semua pentakziah mengaku tidak bisa berdiri dengan benar saat mendirikan shalat jenazah, saking banyaknya yang hadir. Pimpinan kota Makkah pun mengerahkan pasukan khusus untuk menjaga jenazahnya.

Melengkapi deretan kemuliaan itu, beliau wafat sehari sebelum hari Tarwiyah di Makkah al-Mukarramah dalam keadaan berhaji, saat para jamaah hendak berangkat ke kota Mina.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan keberkahan untuk Imam Thawus. Aamiin.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Terbongkar! Inilah Rahasia Kuatnya Hafalan Imam asy-Syafi’i dan Gurunya

Terbongkar! Inilah Rahasia Kuatnya Hafalan Imam asy-Syafi’i dan Gurunya



WartaIslami ~ Nama besar Imam asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala tidak asing lagi di kalangan kaum Muslimin. Ialah seorang imam, ‘alim, ahli fiqih, teladan dalam zuhud, dan juga penolong sunnah yang amat monumental.

Imam asy-Syafi’i memiliki banyak kelebihan. Salah satunya dalam hal hafalan yang sangat bagus. Hafal al-Qur’an di usia tujuh tahun. Kelar membaca al-Muwatha’ di hadapan penulisnya yang juga menjadi gurunya di kisaran usia sepuluh tahun. Dalam usia lima belas tahun, beliau sudah diberi otoritas untuk menyampaikan fatwa.

Maknanya, di usia itu, beliau sudah menguasai berbagai cabang ilmu, baik yang terkait al-Qur’an dan ilmu pendukungnya, hadits dan penopangnya, serta berbagai cabang ilmu-ilmu lainnya, termasuk ilmu waris, kaidah ushul fiqih, dan seterusnya.

Jika Imam asy-Syafi’i saja sedemikian hebat, bagaimana lagi dengan gurunya? Bukankah kehebatan seorang murid, salah satu penopang utamanya adalah kualitas guru?

Imam asy-Syafi’i memiliki banyak guru. Selain Imam Malik bin Anas Rahimahullahu Ta’ala, sosok Imam Waki’ bin Jarrah al-Kufi Rahimahullahu Ta’ala juga tercatat sebagai guru beliau yang amat masyhur.

Terkait Imam Waki’ bin Jarrah al-Kufi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyampaikan pengakuan, “Ia salah seorang ulama besar terkemuka yang memiliki daya hafal yang sangat kuat. Jika orang lain menghafal dengan susah payah, dia menghafal lancar-lancar saja.”

Imam Waki’ ini tidak pernah membawa buku. Jarang mencatat. Semuanya beliau hafalkan.

Terkait rahasia kuatnya hafalan, suatu hari Ali bin Khasyram bertanya kepada beliau, “Apakah resepnya sehingga hafalanmu begitu kuat?”

Sosok alim nan tawadhu’ ini menjawab, “Resepnya adalah meninggalkan maksiat. Aku melakukannya (meninggalkan maksiat) demi menghafal.”

Imam Waki’ ini pulalah yang pernah disebut oleh Imam asy-Syafi’i dalam salah satu syair yang sangat terkenal.

Kuadukan pada Waki’ hafalanku nan jahat

dia berpesan agar kutinggalkan maksiat

Katanya pula, ilmu itu terang bak kilat

cahaya Allah bukanlah  untuk pelaku maksiat

Mari menunduk dalam-dalam. Tak usah melihat kanan-kiri dan sekeliling. Lihatlah hati kita masing-masing. Jika selama ini kita merasa amat susah menghafal al-Qur’an, serasa bebal menghafal hadits dan banyak ilmu-ilmu lainnya, inilah solusi yang mesti kita tempuh.

Jangan abaikan. Resep ini terbukti manjur. Diamalkan oleh Imam asy-Syafi’i dan gurunya-Imam Waki’ bin Jarrah-Rahimahumallahu Ta’ala.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Didatangi Wanita Tua Adukan Kekerasan Hatinya, Ini Jawaban ‘Aisyah

Didatangi Wanita Tua Adukan Kekerasan Hatinya, Ini Jawaban ‘Aisyah



WartaIslami ~ Saling menasihati adalah salah satu ajaran mulia Islam sebagai agama terbaik di muka bumi yang masih terjaga keasliannya. Dalam Islam, nasihat memiliki kedudukan yang amat penting, bahkan menjadi salah satu sendi kemuliaan Islam itu sendiri.

Meminta nasihat bisa dilakukan kepada siapa saja. Tidak selalu harus kepada alim ulama’, kiyai, ustadz atau pemuka agama Islam lainnya. Bahkan, ketika nasihat itu baik muatannya, meskipun berasal dari anak kecil, maka sebagai orang Islam harus mau menerima dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hari itu, sebagaimana diriwayatkan Shafiyyah Ra, datanglah seorang wanita tua kepada ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shidiq. Wanita tua itu mengeluhkan kekerasan hati yang dirasakannya. Sebelum berpamit, ‘Aisyah istri Rasulullah Saw ini menyampaikan petuah bijaknya, “Sering-seringlah mengingat kematian,” tujuannya,”agar hatimu menjadi lembut.”

Wanita tua itu pun pulang dengan hati bungah. Ia mendapatkan solusi atas permasalahan yang menimpa dirinya. Dalam perjalanan itu, ia berkomitmen untuk melakukan seoptimal mungkin nasihat istri Rasulullah Saw itu.

Berbilang waktu kemudian, wanita tua itu datang kembali. Rupanya, ia hendak haturkan ucapan terimakasih. Sebab ia benar-benar merasakan kelembutan hatinya setelah memperbanyak mengingat kematian.

Demikianlah salah satu manfaat nasihat yang diberikan oleh orang shaleh yang telah melaksanakannya. Meski terkesan singkat dan mudah, efeknya akan melekat dan susah untuk ditanggalkan. Selain itu, ada daya tarik yang membuat penerima nasihat bersemangat untuk menjalankan nasihat itu. Nasihat di tangan orang shaleh selaiknya bahan bakar yang mampu menggerakkan mesin kehidupan seseorang untuk berjalan dan berubah.

Mengingat mati. Itulah salah satu kunci kelembutan hati. Rasulullah Saw sering mengingatkan sahabat dan umatnya agar memperbanyak melakukan amalan ini. Dengannya, kesombongan atau kepongahan akan sirna dengan sendirinya. Mengingat mati, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain, dapat membuat seseorang sedikit tertawa dan banyak meneteskan air mata tangisan karena sesali dosa.

Nabi Daud As diriwayatkan langsung lemas ketika mengingat mati. Saking lemasnya, tulang belulang beliau seperti lepas dari sendinya. Kemudian, tatkala mengingat ampunan Allah Swt, beliau kembali segar seperti sedia kala.

Di kalangan orang-orang shaleh lainnya, bahkan ada yang menyiapkan liang lahad untuk dirinya sendiri. Tatkala hasratnya terhadap dunia bertambah, ia akan masuk ke dalam liang kubur yang digalinya sendiri itu untuk mengingat mati.

Semoga Allah Swt memudahkan kematian kita, mengampuni dosa kita dan memberikan rezeki khusnul khatimah kepada kita semua. Aamiin


Resource Berita : kisahikmah.com
Istri-Istri Salehah yang Tidak Doyan Harta

Istri-Istri Salehah yang Tidak Doyan Harta



WartaIslami ~ Istri-istri salehah ini pernah berkumpul. Mereka sepakat dengan satu tuntutan yang sama kepada suami mereka; kenaikan uang belanja. Kepada mereka, sang suami nan santun dan baik hati ini berkata, “Silakan pilih; tetap bersamaku atau aku ceraikan.” Rupanya, sebab pesona dunia akhirat sang suami, kesemua istrinya sepakat untuk hentikan tuntutan dan kembali menjalani kehidupan harmonis-romantis bersama suami terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Mereka itulah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sosok-sosok Muslimah salehah yang harum dibincang sejarah sebab pesona kebaikan yang ada di dalam dirinya. Disebutkan dalam banyak riwayat, sejak bersama Nabi dan sewafatnya beliau, mereka sejatinya adalah wanita-wanita yang tak tertarik sedikit pun dengan recehan harta dan hal-hal lain terkait dunia.

Kepada Zainab binti Jahsy, diberikanlah uang dari Baitul Maal sebanyak dua belas ribu dirham. Jumlah yang banyak jika untuk keperluan hidup sehari-hari sebagai janda, seorang diri. Rupanya, dari uang sebanyak itu, beliau hanya mengambil sedikit untuk keperluan selama setahun.

Selebihnya dibagikan kepada kaum Muslimin yang membutuhkan. Seketika itu juga, tak menunggu hari berikutnya. Hingga, berita pembagian harta itu sampai kepada ‘Umar bin Khaththab. Maka, ‘Umar pun bertamu. “Telah sampai kabar kepadaku bahwa kamu membagi-bagikan harta yang sudah menjadi hakmu,” tutur ‘Umar santun.

‘Umar hanya ingin memastikan bahwa para Ummul Mukminin itu tercukupi kebutuhannya, terpenuhi haknya. Sehingga mereka terhindar dari meminta-meminta atau melakukan pekerjaan fisik berlebihan hanya untuk mencukupi kebutuhan perut.

Maka, sebelum pergi, ‘Umar memberikan uang tunai sebagai jatah untuk Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy sebesar seribu dirham. Jika dikurskan dengan rupiah saat ini, jumlahnya sekitar 10.000.000 (1 dirham sekitar Rp 40.000,-).

Rupanya, setelah ‘Umar berpamit, semua uang yang diberikan kembali dibagikan kepada kaum Muslimin yang membutuhkan hingga tak tersisa sepeser pun.

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, ketika Ibnu Zubair mengirimkan harta kepada ‘Aisyah binti Abu Bakar dalam dua angkutan yang ditaksir sejumlah 1180 (Ummu Dzarrah tidak menyebutkan satuannya-dirham atau dinar). Tak berselang lama, semua harta itu dibagikan hingga tak menyisakan sedikit pun untuknya. Pun, untuk berbuka puasa di malam harinya.

Betul jika kita butuh harta untuk hidup di dunia. Tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk bermewah-mewah apalagi bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dan, generasi terbaik umat ini telah mencontohkannya dengan amat gemilang nan memesona.


Resource Berita : kisahikmah.com
Khutbah Nabi yang Monumental tentang Pencurian

Khutbah Nabi yang Monumental tentang Pencurian



WartaIslami ~ Seorang wanita membuat gempar kaum Quraisy. Ia yang berasal dari Bani Makhzum ini mencuri. Bukan di hari biasa, ia melakukan aksinya saat peristiwa monumental Fathul Makkah. Kaum Quriasy pun saling bertanya, “Siapakah yang berani melaporkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

“Tidak ada yang berani melaporkannya,” jawab sebagian yang lain, “kecuali Usamah bin Zaid.” Menurut mereka, Usamah bin Zaid adalah salah satu sahabat kesayangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Usamah pun membawa wanita tersebut kepada Nabi. Lepas mendengar penuturan sahabatnya itu, wajah Nabi memerah. “Apakah kamu hendak memintakan syafaat atas salah satu dari had (hukuman) Allah?” tanya Nabi kepada Usamah yang dijawab dengan menunduk, “Mohonkanlah ampunan untukku, ya Rasulullah.”

Sore harinya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menyampaikan khutbah terkait wanita yang mencuri tersebut. Khutbah ini sangat monumental. Sebab maknanya amat mendalam dan patut dijadikan contoh oleh pemimpin Negeri mana pun hingga akhir zaman. Sebuah khutbah tentang keadilan yang semestinya ditegakkan oleh para pengampu kekuasaan.

“‘AMMA BA’DU. SESUNGGUHNYA BINASANYA ORANG-ORANG SEBELUM KALIAN KARENA JIKA ADA ORANG TERHORMAT DI ANTARA MEREKA YANG MENCURI, MEREKA MEMBIARKANNYA. TETAPI JIKA ADA ORANG LEMAH YANG MENCURI, MEREKA SEGERA MEMBERLAKUKAN HUKUMAN HAD ATASNYA. DEMI ZAT YANG JIWAKU BERADA DI TANGAN-NYA, SESUNGGUHNYA JIKA FATHIMAH BINTI MUHAMMAD MENCURI, PASTILAH KUPOTONG TANGANNYA.”

Setelahnya, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan hukuman potong tangan kepada wanita tersebut. Kemudian, sebagaimana dituturkan oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, “Setelah peristiwa itu, wanita tersebut bertaubat dan menikah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dan dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.

Dalam riwayat lain juga disebutkan seorang wanita yang mencuri perhiasan. Atas perintah Nabi, tangannya pun dipotong. Kemudian, wanita itu bertaubat. Rasulullah pun bersabda, “Hari ini engkau terbebas dari dosamu seperti hari ketika engkau dilahirkan oleh ibumu.”

 Wallahu a’lam bish shawwab.


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah Sahabat yang Mabuk dalam Shalat

Kisah Sahabat yang Mabuk dalam Shalat



WartaIslami ~ Semoga Allah Ta’ala meridhai para sahabat yang telah berjuang dengan jiwa dan raganya di jalan-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan tempat terbaik untuk mereka, dan menjadikan kita penerusnya yang berupaya segigih-gigihnya dalam meneladani.

Sebelum kedatangan Islam, para sahabat adalah kaum jahiliyah yang terbiasa meminum arak. Maka Islam datang mengantarkan cahaya ke dalam relung jiwa. Setelah masuk Islam, tak ada satu pun kejahiliyahan yang dilanjutkan sebab Allah Ta’ala telah melarangnya melalui al-Qur’an al-Karim.

Mula-mula, sahabat bertanya tentang khamr dan judi. Lalu, Allah Ta’ala menurunkan jawaban, “Di dalamnya ada dosa dan manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar (tinggi) dari manfaatnya.”

Kemudian, Allah Ta’ala melarang kaum muslimin untuk mendekati khamr ketika hendak mendirikan shalat. Sebab turunnya ayat, adalah jamuan makan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib.

‘Ali menuturkan, “’Abdurrahman bin ‘Auf membuat makanan untuk kami, lalu mengundang dan menuangkan khamr untuk kami. Sebab itu, sebagian dari kami mabuk. Lalu datanglah waktu shalat.” Satu di antara sahabat itu pun menjadi imamnya.

Sebab mabuk, bacaan sang sahabat yang menjadi imam pun kacau. Ia membaca, “Qul ya ayyuhal kafirun. Ma a’budu ma ta’budun. Wa nahnu na’budu ma ta’budun. (Katakanlah, ‘Wahai orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kami menyembah apa yang kamu sembah’).”

Lantaran kejadian itu, Allah Ta’ala menurunkan surat an-Nisa’ [4]: 43,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (Jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

Selanjutnya, ketika ayat ini dibacakan kepada ‘Umar bin Khaththab, dan ia berdoa agar diberikan hukum yang paling jelas terkait khamr, Allah Ta’ala pun menurunkan surat al-Maidah [5]: 90 yang menyatakan bahwa khamr adalah perbuatan kotor dan merupakan amalan setan yang terlaknat.


Resource Berita : kisahikmah.com
Inilah Orang Pertama yang Masuk Surga di antara Umat Nabi Muhammad

Inilah Orang Pertama yang Masuk Surga di antara Umat Nabi Muhammad



WartaIslami ~ Melalui hadits shahih, kita mengetahui secara pasti bahwa orang pertama yang masuk surga adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu siapa orang yang pertama masuk surga dari umat beliau?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa dirinya adalah orang pertama yang masuk surga. Beliau bersabda:

أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Aku adalah manusia pertama yang akan mengetuk pintu surga” (HR. Muslim)

آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta dibukakan, maka penjaganya berkata, “Siapakah Anda?” Aku menjawab, “Muhammad.” Ia berkata, “Untukmu aku diperintah agar tidak membubakannya kepada siapapun sebelummu.” (HR. Muslim)

Jika Rasulullah adalah orang pertama yang masuk surga, maka umat beliau adalah umat pertama yang masuk surga dibandingkan umat-umat lainnya.

نَحْنُ الآخِرُونَ الأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَحْنُ أَوَّلُ النَّاسِ دُخُولاً الْجَنَّةَ

“Kita adalah umat terakhir yang pertama pada hari kiamat; kita adalah manusia pertama yang akan memasuki surga.” (HR. Ahmad)

Sedangkan orang pertama dari kalangan umat Nabi Muhammad yang akan masuk surga adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

أَمَا إِنَّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى

“Engkau wahai Abu Bakar, adalah orang yang pertama masuk surga di antara umatku” (HR. Abu Dawud)

Masya Allah… sungguh pantas Abu Bakar menjadi orang pertama yang masuk surga di antara umat Nabi Muhammad. Beliaulah laki-laki dewasa yang pertama kali beriman kepada Rasulullah. Beliaulah yang senantiasa membenarkan Rasulullah sehingga digelari Ash Shiddiq. Beliaulah yang senantiasa menemani Rasulullah mulai dari dakwah di Makkah, hijrah hingga periode Madaniyah. Beliaulah yang menginfakkan banyak hartanya untuk dakwah. Saat hijrah beliau membawa seluruh hartanya guna menemani Rasulullah dan pada saat perang Tabuk beliau menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad fi sabilillah. Beliaulah mertua Rasulullah dan orang yang paling dicintainya. Beliau pula orang yang menjadi imam saat Rasulullah sakit dan kemudian menjadi khalifah saat Rasulullah wafat.


Resource Berita : kisahikmah.com
Masha Allah… Inilah Sahabat Nabi yang Dimutilasi oleh Nabi Palsu Musailamah

Masha Allah… Inilah Sahabat Nabi yang Dimutilasi oleh Nabi Palsu Musailamah



WartaIslami ~ Akan diberikan ujian yang amat berat hingga terlihatlah siapa yang bersungguh-sungguh atau bermain santai dalam dakwah di jalan Alah Ta’ala. Sebagaimana dialami oleh generasi awal dakwah, penyiksaan hingga pembunuhan jiwa bukanlah hal aneh. Sudah biasa. Bahkan, banyak di antara sahabat Nabi yang menghendaki kematian sebagai syahid di jalan Allah Ta’ala.

Maka mulialah Nabi dan sahabat-sahabatnya yang mulia. Meski dibunuh dengan cara yang tak manusiawi, nama mereka senantiasa harum dalam perbincangan manusia dan makhluk-makhluk langit. Namanya harum dalam lintasan sejarah hingga Hari Kiamat.

Mari sejenak menepi, untuk mengenal satu di antara mereka. Ialah sahabat mulia yang menjemput syahid saat dimutilasi oleh nabi palsu Musailamah si pembohong.

Al-Kadzdzab dan rombongannya dari Bani Hanifah menuju kota Madinah. Hendak mengenalkan dan mempromosikan dirinya sebagai nabi. Padahal, palsu. Si pembohong ini tak mau turun dari tunggangannya. Sedangkan para pengikutnya berkelilng ke sudut-dudut Madinah untuk mencari pengikut. Sedihnya, tak ada yang mengikuti, justru mereka yang didakwahi. Alhasil, banyak pengikut yang justru bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan mengimani kerasulan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Si pembohong dan pengikutnya yang tersisa pun kembali dengan tangan hampa ke Nejd. Meski ada beberapa kaum fanatik kesukuan yang tetap mendukung dan mempercayainya sebagai nabi palsu. Menyedihkan.

Tak lama kemudian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memilih seorang sahabatnya. Sahabat yang penuh kemuliaan ini diutus untuk mendakwahi Musailamah berjuluk al-Kadzdzab (Pembohong). Dengan gagah, sosok mulia dari keluarga terhormat ini pun mendatangi singgasana si pembohong.

Kepada sang sahabat mulia, si pembohong bertanya, “Apakah kamu mengakui Muhammad sebagai utusan Allah?”

Jawab laki-laki surga ini penuh kemantapan, “Ya.”

Si pembohong pun melanjutkan pertanyaannya, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”

Seraya menunjukkan pengingkaran karena iman di dalam sanubarinya, lelaki gagah iman ini menjawab, “Aku tidak mendengar perkataanmu.”

Demi mendengar perkataan sahabat utusan Nabi ini, si pembohong marah. Pasalnya, semakin sering diulang, sang sahabat semakin tegas menyampaikan jawaban serupa. “Maka,” tulis Syeikh Mahmud al-Mishri dalam Shirah Shahabiyah, “Musailamah pun memotong anggota tubuhnya satu persatu hingga mati sebagai syuhada’.”

Sahabat yang mulia ini, tiada lain adalah salah satu anak dari Ummu Umarah  dan Zaid bin ‘Ashim. Ialah saudara ‘Abdullah yang bernama Habib bin Zaid. Semoga Allah Ta’ala memberikan ridha-Nya kepada Habib bin Zaid, dan kekuatan kepada kita untuk meneladaninya dalam mempertahankan keimanan hingga ajal menjemput. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Yang Dilakukan Abu Dzar al-Ghifari hingga Kenyang dan Gemuk, Padahal Tidak Makan Selama 30 Hari

Yang Dilakukan Abu Dzar al-Ghifari hingga Kenyang dan Gemuk, Padahal Tidak Makan Selama 30 Hari



WartaIslami ~ Ini sebuah kisah nyata yang dialami oleh Abu Dzarr al-Ghifari. Ketika awal masuk Islam, beliau berada di Makkah al-Mukarramah selama tiga puluh hari. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, Abu Dzarr tidak merasakan lapar atau haus. Padahal, selama itu pula sahabat yang merupakan pimpinan suku al-Ghifari ini tidak makan apa pun.

Inilah rahasianya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya tentang jenis makanan sang sahabat. Katanya jujur, “Tiada yang kumakan, selain air zam-zam.”

Meski hanya meminum air yang dikeluarkan dari sumur yang digali oleh Malaikat Jibril ini, kata Abu Dzarr sampaikan kesaksian, “Aku menjadi gemuk.” Lanjutnya sebagaimana dikisahkan oleh Salim A. Fillah dalam Lapis-lapis Keberkahan, “Sampai-sampai lipatan di perutku terlihat jelas. Dan aku sama sekali tak merasakan lapar di dalam lambungku.”

Masih banyak mukjizat air zam-zam yang pertama kali Allah Ta’ala rezekikan kepada Nabi Ismail di masa bayinya dengan Ummu Hajar. Di antaranya, masih merujuk dari buku yang sama, air zam-zam bisa berfungsi sebagaimana niat orang yang meminumnya.

“Manfaat air zam-zam tergantung kepada niat yang meminumnya. Jika kalian meminumnya karena menginginkan kesembuhan, niscaya Allah Ta’ala akan berikan kesehatan. Andai kalian meneguknya lantaran haus, maka Allah Ta’ala akan menghilangkan dahaga dengan kesegaran. Jika kalian mengonsumsinya untuk hilangkan lapar, maka Allah Ta’ala akan kurniakan rasa kenyang kepada kalian. Ini adalah galiannya Malaikat Jibril, dan merupakan minuman yang Allah Ta’ala turunkan bagi Ummu Hajar dan Nabi Ismail ‘Alaihis salam.”

Riwayat ini merupakan hadits shahih dari sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

Inilah di antara mukjizat yang akan dirasakan oleh umat manusia hingga akhir zaman, khususnya bagi mereka yang bermukim atau berziarah ke Tanah Haram. Dengan izin Allah Ta’ala, sumur zam-zam senantiasa mengeluarkan air dalam jumlah yang melimpah.

Fenomena ini juga menjadi salah satu bukti Mahakuasa-Nya Allah Ta’ala. Apa saja yang Dia Kehendaki bisa terjadi. Hendaknya pula kita memahami, air zam-zam merupakan bukti adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada siapa pun yang ikhlas dalam berdakwah di jalan-Nya.


Resource Berita : kisahikmah.com
Rahasia Kecemerlangan Sahabat Nabi yang Banyak Dilupakan Kaum Muslimin

Rahasia Kecemerlangan Sahabat Nabi yang Banyak Dilupakan Kaum Muslimin



WartaIslami ~ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan para sahabat yang mulia adalah generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Tiada satu pun generasi yang sejarahnya dibahas dan senantiasa aplikatif untuk diterapkan hingga akhir zaman, kecuali generasi ini.

Apa rahasianya?

Riwayat berikut ini hendaknya membuat kita memahami kemudian meniti jalan yang telah ditempuh oleh para sahabat hingga berhak memenangkan piala peradaban.

Sahabat mulia ‘Utbah bin Ghazwan Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Pernah suatu ketika, saya bertujuh bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Kami tidak mendapatkan makanan, kecuali dedaunan. Kami mengonsumsi daun-daun itu hingga sudut mulut kami terluka.”

Itulah episode yang pernah dialami generasi terbaik kaum Muslimin. Episode ini hendaknya tidak dilewatkan begitu saja, tapi dicermati sebagai sebuah pembelajaran.

“Aku bangkit ke arah kain sarungku,” lanjut sahabat ‘Utbah bin Ghazwan sebagaimana dikutip oleh Dr ‘Abdullah ‘Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah, “dan aku merobeknya menjadi dua bagian.”

Satu bagian diberikan kepada sahabat mulia Sa’ad bin Malik, dalam riwayat lain disebutkan Sa’ad bin Abi Waqqash. Sedangkan yang satu bagian digunakan sendiri oleh ‘Utbah bin Ghazwan. Keduanya mengenakan kain tersebut sebagai penutup badan.

“Kini,” ujar ‘Utbah bin Ghazwan, “kami berdua telah menjadi Gubernur kaum Muslimin.” Saat tengah memegang tampuk kepemimpinan kaum Muslimin itu, sahabat mulia ‘Utbah bin Ghazwan Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Allah Ta’ala; jangan sampai aku terlihat besar dalam pandangan manusia, tapi kecil dalam penilaian Allah Ta’ala.”

***

Kalimat terakhir inilah rahasia kecemerlangan generasi sahabat yang mulia. Kalimat yang lahir dari sucinya ruhani dan cemerlangnya otak. Kalimat yang tidak bisa diucapkan oleh sembarangan orang. Pun jika terucap, banyak orang miskin iman yang tak mampu mengaplikasinnya dalam kehidupan sehari-hari.

Hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri; adakah kita lebih sibuk terlihat mulia di hadapan makhluk dibanding kesibukan memperbaiki diri agar ternilai baik oleh Allah Ta’ala?

Apakah kita lebih suka mendapatkan pujian di sisi manusia dan mengabaikan pujian dari Yang Maha Terpuji?

Jika demikian, pantas saja kita belum mampu merebut piala peradaban. Sebab kesibukan kita pada makhluk, bukan kesibukan beribadah kepada Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
close
Banner iklan disini