Mengubah pemahaman radikal dengan pengetahuan agama yang benar

Mengubah pemahaman radikal dengan pengetahuan agama yang benar



WartaIslami ~ Pemahaman agama yang benar dapat mengubah pemikiran salah kelompok radikal. Mereka melakukan aksi bom bunuh diri dengan mengatasnamakan agama. Jelas itu kekeliruan karena agama tidak mengajarkan kekerasan.

Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) Siti Musdah Mulia mengatakan proses deradikalisasi dapat berjalan optimal terlebih di bulan suci ini. Setiap orang yang memiliki pemikiran salah dapat memperbaikinya

"Seharusnya puasa itu intinya adalah upaya-upaya transformasi, deradikalisasi bagaimana mentransformasikan diri dari pemahaman yang radikal menjadi tidak radikal. Dan itu salah satunya seharusnya bisa dilakukan dengan puasa," kata Siti Musdah Mulia, Kamis (22/6).

Menurutnya, puasa untuk merenungkan kembali keberadaan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, Idul Fitri dimaknai sebagai kembali kepada kesucian diri seperti ketika kita baru diciptakan oleh Sang Pencipta.

Untuk itu wanita yang selama ini dikenal sebagai pemikir Islam dan Aktivis sosial ini berharap dalam konteks deradikalisasi ini satu bulan ramadhan ini

"Semoga umat manusia betul-betul bisa memperbaharui, melatih pikiran, perasaan dan juga mindset seseorang agar tidak menjadi radikal," tandasnya. [did]



Resource Berita : merdeka.com
Yang perlu diperhatikan saat halal bi halal

Yang perlu diperhatikan saat halal bi halal



WartaIslami ~ Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari. Seluruh umat Islam bergembira menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Menampakkan kegembiraan pada hari raya termasuk syiar yang harus dilakukan setiap orang muslim.

Umat muslim diperbolehkan mengungkapkan kegembiraannya saat lebaran sepanjang kegembiraan itu tidak menyimpang dari syariat Islam. Selain itu, Idul Fitri juga diidentikkan dengan tradisi bermaaf-maafan. Bahkan ada yang menggelar acara halal bi halal atau kegiatan yang mengkhususkan bermaaf-maafan.

Padahal Rasulullah dan para sahabat sendiri tidak pernah melakukan kegiatan tersebut. Sebab, sebenarnya bermaaf-maafan tidak perlu dikhususkan di Lebaran. Ketika memiliki salah segera minta maaf tanpa harus menunggu Idul Fitri.

Oleh karena itu, mengistimewakan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan menambahkan syariat baru ke dalam Islam tanpa dasar landasan yang sahih.

Dikutip dari buku Majalah Pengusaha Muslim: Komersialisasi Idul Fitri, karya Muhammad Arifin Badri, Kholid Syamhudi, Muhammad Abduh Tuasikal, Abu Ahmad Zainal Abidin, menerangkan ada beberapa pelanggaran syariat dalam acara halal bi halal;

1. Mengakhirkan permintaan maaf hingga datangnya Idul Fitri. Padahal seharusnya maaf-memaafkan dilakukan sesegera mungkin. Tidak perlu menunggu datangnya lebaran. Usia manusia tidak ada yang tahu, kapan seorang hamba meninggal pun tetap misteri.

2. Campur baur dengan lawan jenis yang dalam istilah syariat adalah ikhtilath. Keadaan ini membawa kita pada perbuatan maksiat lain seperti pandangan haram yang bisa sampai ke perzinaan.

3. Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.

4. Wanita hadir dalam keadaan bersolek, menampakkan kecantikan dan auratnya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memanfaatkan Idul Fitri sebagai momen perbaikan diri dan kesempurnaan ibadah kepada Allah. [ded]



Resource Berita : merdeka.com
Memanas! Dituntut 15 Tahun Bui, Handang Berdalih Perintah Ipar Jokowi

Memanas! Dituntut 15 Tahun Bui, Handang Berdalih Perintah Ipar Jokowi



WartaIslami ~ Mantan Kepala Subdirektorat Bukti Permulaan Penegakan Hukum Direktorat Jenderal Pajak, Handang Soekarno, dituntut hukuman 15 tahun penjara dalam perkara suap permasalahan pajak PT EK Prima Ekspor Indonesia (EKP).

“Terdakwa membenarkan bahwa dirinya menerima uang dari Rajamohanan sebesar Rp 1,9 miliar. Sesuai dengan keterangan saksi, Yuli Kanestren dan Rajamohanan. Uang tersebut merupakan bantuan untuk mempercepat (pengurusan) persoalan di PT EKP, (sebagaimana) Mohan pernah menjanjikan Rp 6 miliar pada terdakwa. Jadi unsur menerima hadiah atau janji telah terbukti secara sah,” ujar tim jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta, hari ini.

JPU KPK memilih dakwaan alternatif sesuai dengan pasal 12 huruf a Undang-undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah kedalam UU Nomor 20 Tahun 2001. Dalam pertimbangannya Majelis hakim menilai perbuatan terdakwa tidak mendukung upaya pemerintah yang sedang giat-giatnya memberantas korupsi khusunya pada bidang perpajakan.

“(Selain itu) perbuatan terdakwa dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan penerimaan negara dari sektor perpajakan melalui program Tax Amnesty,” ujarnya

Sementara untuk hal yang meringankan menurut jaksa, Terdakwa mengakui perbuatannya dengan merasa bersalah dan menyesali perbuatannya.

Berdasarkan fakta dan keterangan saksi-saksi dipersidangan, jaksa memilih pasal 12 huruf a Undang-undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah kedalam UU Nomor 20 Tahun 2001 dengan tuntutan 15 Tahun penjara dengan dikurangi masa tahanan. Jaksa juga meminta Majelis hakim untuk menjatuhkan denda sebesar Rp 750 Juta subsidair 6 bulan.

“Menuntut supaya majelis hakim menyatakan menjatuhkan pidana penjara selama 15 tahun denda Rp 750 juta subsider selama 6 bulan kurungan dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan,” ujar jaksa.

Menanggapi tuntutan tersebut, Handangpun mengaku bingung dan kecewa terhadap tuntutan JPU KPK. Menurutnya sangat tidak adil lantaran dia sudah bertindak profesional saat pemeriksaan di KPK maupun di persidangan.

“Saya enggak tahu endingnya kenapa tuntutannta 15 tahun, karena saya bukan pelaku yang menggerakan, bukan juga pelaku yang melakukan, sebagai orang yang tidak memiliki kewenangan ke arah situ kenapa tuntutannya bisa 15 tahun,” keluhnya.

Menurutnya, sikap JPU KPK menuntut dirinya sangat berbeda saat menuntut orang lain. “Orang yang melakukan saja dan yang menyuruh melakukan tidak ada yang di atas 10 tahun kok (kenapa saya malah 15 Tahun),” ujarnya.

Handang membeberkan, dalam fakta persidangan JPU KPK sering melalukan pemotongan-pemotongan sehingga satuan konstruksinya tidak utuh.

“(Selain itu) yang paling penting adalah tugas saya kan banyak pak (saat masih menjabat kepala subdit bukber) jadi yang paling penting saya di kantor pusat setiap minggu saya (kerjanya) harus keliling daerah dan kalau itu bukan rekomendasi dari adik Iparnya Presiden, saya tidak akan mengurusinya,” ujarnya.

Menurutnya sebagai PNS eselon III dirinya tidak mungkin bisa menggerakan perintah tersebut dan tidak mengkin bisa menolak rekomendasi yang diberikan atasannya.

“Iya iya (yang menggerakan adik Iparnya Presiden), kita ini eselon tiga pak, diatasnya lagi ada eselon dua pak, kalau ada rekomendasi mana kita tahu,” ujarnya.



Resource Berita : [GR / rnc]
Alasan Keamanan, Habiburokhman: Nggak Sekalian Aja Ahok di Rumahnya Sendiri

Alasan Keamanan, Habiburokhman: Nggak Sekalian Aja Ahok di Rumahnya Sendiri



WartaIslami ~ Alasan keamanan sehingga terpidana kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dikembalikan ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, dikritik sangat tidak masuk akal.

“Kalau alasan keamanan Ahok di Mako Brimob, paling aman sekalian di rumahnya sendiri saja,” cetus Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), Habiburokhman kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu (Kamis, 22/6).

Habiburokhman menegaskan, Ahok seharusnya menempati lembaga pemasyarakatan, bukan lagi di Mako Brimob, karena sudah inkracht vonis dua tahun penjara.

“Kita tidak mengerti ini rezim sepertinya percaya diri sekali, bertindak seenaknya, mengistimewakan Ahok,” ucapnya.

Jelas menurutnya tidak logis jika alasan keamanan yang dikemukakan pihak Kementerian Hukum HAM dan Kejaksaan Agung. Sementara LP Cipinang merupakan lembaga formal.

“Terus apa kerjaan Kementerian Hukum dan HAM sampai tidak bisa menjaga keamanan lapas, terus bagaimana ribuan orang di sana dengan berbagai kasus dan latar belakang,” tanyanya.

Ditanya langkah selanjutnya dari ACTA, Habiburokhman menyerahkan kepada rakyat.

“Kita capek, saya kan pelapor pertama Ahok, dari mulai gugatan sampai persidangan segala macam kita lihat, sekarang sudah berkekuatan hukum tetap ya mestinya di Cipinang,” tukasnya.



Resource Berita : [GR / rmol]
Kisah Pastor Masuk Islam Setelah Gagal Bakar Qur’an

Kisah Pastor Masuk Islam Setelah Gagal Bakar Qur’an



WartaIslami ~ Kisah ini diabadikan Manshur Al Iwaji dalam bukunya Ajaa’ib Al Qashash, mengutip berita harian umum Tartiim yang terbit di Nigeria.

Pastor Woll Frost, namanya. Pemuka gereja di Angola itu memegang sebuah mushaf dan menghadap jema’atnya. Ia kemudian melemparkan mushaf itu ke lantai dan menyiramnya dengan bensin. Orang-orang memperhatikannya dengan serius, saat Woll Frost menyalakan korek api. Namun entah bagaimana, tiba-tiba tangannya tersulut api dari korek itu. Mungkin tadi tangan itu terciprat bensin saat menyiram mushaf. Tangannya pun terbakar. Sedangkan mushaf tidak jadi dibakar. Tersentuh api pun tidak.

Menyaksikan peristiwa itu, para jema’at tercengang keheranan. Tetapi yang lebih heran adalah Woll Frost sendiri. Ia memikirkan peristiwa itu, dan mulai menyadari betapa ajaibnya Al Qur’an. Ia yang ingin membakar Al Qur’an, justru tangannya sendiri yang terbakar. Ia yang ingin menghina dan memalukan kitab suci umat Islam, malah ia sendiri yang dipermalukan.

Woll Frost memikirkan peristiwa itu, keajaiban itu, dan mulai menyadari bahwa ia baru saja diselamatkan dari hal paling gila yang akan dilakukannya. Selama ini kebencian membuatnya tertutupi dari kebenaran Al Qur’an. Selama ini kebencian membuatnya gelap memandang kitab suci yang mulai diakuinya penuh keajaiban. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia kini menyadari bahwa Al Qur’an adalah kebenaran. Woll Frost pun kemudian mengikrarkan diri masuk Islam. Membaca syahadat.

Masuk Islamnya Woll Frost membuat lingkungannya gempar. Betapa tidak. Ia yang dulunya paling gencar memusuhi Al Qur’an, kini menjadi pengikutnya. Ia yang dulunya paling membenci Al Qur’an, kini mengakui kebenarannya. Ia yang dulu berniat membakar Al Qur’an, kini malah tunduk kepadaNya. Ia masuk Islam, menjadi mualaf, mengakui Al Qur’an sebagai wahyu Ilahi dan kitab suci.

Tak lama setelah keislaman Woll Frost, pemimpin gereka Angola Yaqoub Musa pun menyatakan masuk Islam. Keislaman keduanya diikuti oleh masuk Islamnya sekitar 200 orang lainnya.

Selain memimpin gereja, Yaqoub Musa adalah Sekretaris Jenderal Lembaga Misionaris di Angola. Ia memangku jabatan itu kurang lebih selama 22 tahun. Begitu masuk Islam, ia kemudian mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

Ketika pemimpin redaksi harian Tartiim mewawancarainya, Yaqoub Musa mengatakan bahwa saat ini (sewaktu buku Ajaa’ib Al Qashash ditulis) ia menghabiskan waktunya untuk menyebarkan Islam di Nigeria.

Masya Allah… demikianlah saat hidayah datang. Ia datang dengan kepada siapa yang dikehendakiNya dengan berbagai cara yang kadang tak pernah diduga. Saat hidayah datang, dan seseorang menyambutnya dengan sepenuh hati, Allah pun mengubahnya dengan segera. Ia yang tadinya membenci Islam menjadi sangat mencintainya. Ia yang tadinya memusuhi Islam, kini menjadi orang yang membelanya. Ia yang tadinya memprovokasi orang lain agar menjauhi Islam, kini berubah menjadi dai yang menyeru manusia untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



Resource Berita : [GR / khc]
Bikin Merinding! Panglima TNI Pidato di Bawah Guyuran Hujan dan Didoakan Ulama Jadi Presiden

Bikin Merinding! Panglima TNI Pidato di Bawah Guyuran Hujan dan Didoakan Ulama Jadi Presiden



WartaIslami ~ Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bertemu dengan para ulama dan santri di Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (21/6/2017).

Kedatangan Panglima TNI ke Tasik dalam rangka melakukan Safari Ramadan, tepatnya di Lapangan Brigif 13 Galuh Kostrad.

Jenderal Gatot bersama rombongannya datang ke lokasi sekitar pukul 17.30 didampingi Bupati Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum, Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya KH Aminudin Bustomi, Pangdivif 1 Kostrad Mayjen TNI Ainurrahman, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Herindra, Komandan Brigif 13/Galuh Kolonel Inf Dody Zulkarnaen, para perwira TNI dan ulama.

Mereka langsung ke lapangan. Di sana massa sudah menunggu.

Setelah masuk ke lapangan, Panglima langsung menyalami massa di barisan depan satu per satu hingga akhirnya duduk di samping Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda KH Abdul Aziz Affandi.

Setelah Adzan Magrib, Panglima TNI dengan massa pun bergegas berbuka dengan sajian yang sudah disediakan.

Sebelum melaksanakan salat Magrib, langit yang sebelumnya mendung langsung mengguyurkan hujan lagi.

Bukannya bubar, Panglima dengan jemaah lainnya langsung berdiri dan melaksanakan salat Maghrib di bawah guyuran hujan.

Selesai salat, Panglima langsung naik ke atas mimbar untuk memberikan sambutannya. Salah satu anggota TNI sempat menghampirinya sambil membuka sebuah payung, namun Jendral Gatot melarangnya.

Membuka, sambutannya, Jenderal Gatot menganggap hujan tersebut adalah berkah bagi penyelenggaraan Safari Ramadan tersebut. Ungkapannya itu langsung disambut dengan takbir oleh massa dan santri.

Jenderal Gatot mengatakan bahwa kedatangannya ke Tasikmalaya merupakan undangan dari Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi.

Usai memberi sambutan, sejumlah ulama pun mendoakan agar orang nomor satu di TNI itu terpilih menjadi presiden mendatang, dan diiringi takbir para jamaah dan santri yang hadir dalam acara itu.

Seperti apa aksi pidato Panglima TNI di bawah guyuran hujan, berikut penampakannya:




Resource Berita : [GR / tsc]
Usia Senja tak Surutkan Semangat Sudaryati Mengaji

Usia Senja tak Surutkan Semangat Sudaryati Mengaji



WartaIslami ~ Sudaryati, nenek yang berusia 62 tahun ini ternyata masih bisa dan lancar membaca Alquran. Mbah Yati sapaan akrabnya, ia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan di berbagai kajian dan istigoshah yang diadakan di Masjid Baitorrohim, Gunungpati.

Rumah Zakat Semarang berkunjung ke lokasi rumah Mbah Yati yang bertempat di Masjid Baitorrohim, Ngijo, Gunungpati, Kota Semarang pada Kamis, (15/6) lalu. Kunjungan tersebut bertujuan untuk penyaluran Alquran. Ketika tim relawan Rumah Zakat sampai di rumahnya, langsung disambut hangat dengan raut muka ceria oleh Mbah Yati.

“Alhamdulillah nak, nenek senang bisa mendapatkan quran bagus ini. Bukan hanya nenek yang menginginkannya, pasti warga lain juga ingin Alquran yang baru,” ujar Sudaryati.

Meskipun saat ini sudah masuk usia lansia, namun dalam urusan akhirat Mbah Yati masih tetap gigih dan rajin dalam beribadahnya. Mbah Yati juga mengucapkan banyak terima kasih kepada donatur dan Rumah Zakat atas bantuan yang diberikan.

“Terima kasih relawan dan donatur Rumah Zakat atas pemberian Alqurannya, semoga bisa saya manfaatkan dengan baik dan semua kebaikannya dibalas oleh Allah,” katanya.



Resource Berita : republika.co.id
Mencintai Sunah karena Cinta

Mencintai Sunah karena Cinta



WartaIslami ~ Dalam Kitab Fadhilah Amal karangan Maulana Zakariyya al-Kandahlawi diterangkan, seorang sahabat pernah mengikuti Nabi berjalan di sebuah lembah. Ketika itu, ada sebuah pohon dengan ranting yang sangat rendah. Nabi pun melewati pohon itu dengan membungkuk. Sang sahabat tersebut pun ikut membungkuk agar bisa lewat di jalan tersebut.

Tatkala Rasulullah SAW sudah tiada, sahabat tadi pada suatu kali kembali melewati jalan tersebut. Namun, pohon dengan ranting yang rendah dahulu sudah tidak ada lagi. Ia ingat betul, dahulu ketika bersama Nabi, mereka sama-sama membungkuk melewati jalan itu. Jadi, ia memutuskan untuk kembali membungkuk melewatinya kendati tidak ada lagi ranting yang menghalanginya.

Sungguh beruntung sahabat tadi. Musuh Islam yang sedari tadi mengintainya dengan panah ternyata tengah membidiknya. Tak disangka, begitu anak panah lepas dari busurnya, ternyata targetnya tiba-tiba saja membungkuk. Alhasil, target panah itu pun luput dari maut.

Apa yang membuat sahabat tadi ingin membungkuk melewati jalan tersebut? Bukankah perbuatan Rasulullah yang membungkuk itu disebabkan qarinah (alasan tertentu yang melatarbelakangi sunah Rasul). Jelas sekali, Rasulullah membungkuk karena menghindari ranting pohon yang menghalangi jalannya. Bukankah sunah seperti ini sebenarnya tak perlu untuk diikuti?

Sang sahabat yang luput dari maut tadi mempunyai alasan yang sederhana. Kecintaannya kepada Nabi lah yang membuatnya melakukan itu. Ia sejenak mengesampingkan kaidah fikih atau ushul fikih yang membahas hal itu mesti dilakukan atau tidak. Ia hanya melakukan itu karena kecintaannya kepada Nabinya. Ia ingin mengikuti seluruh sunah Rasulullah SAW tanpa peduli apa pun.

Sama halnya, ketika para fuqaha’ memperdebatkan hukum memakai surban. Ada yang mengatakan, surban hanya sunah ’adah (sunah karena adat istiadat setempat). Hal itu disebabkan budaya bangsa Arab ketika itu memakai surban. Memang benar, Rasulullah SAW beserban, tapi bukankah Abu Jahal dan Abu Lahab juga besurban? Banyak yang berpandangan memakai surban tidak mesti diikuti karena ia hanya sunah berdasarkan ’adah (adat setempat).

Banyak juga yang menyangkal perbuatan orang-orang yang ikut-ikutan besurban. Menurut mereka, besurban bukanlah sunah karena tidak ditemui satu hadis sahih pun yang menganjurkan untuk besurban. Pada kesimpulannya, besurban bukanlah sunah yang mesti diikuti.

Namun, salah seorang yang beserban mempunyai alasan sederhana ketika ditanya apa alasannya mengenakan surban. Jawabannya sederhana, karena kecintaannya kepada Nabi. Nabinya besurban maka ia ingin seperti Nabinya pula. Apa yang salah dengan seseorang yang ingin berpakaian seperti Nabinya?

Sama halnya, ketika seorang mencintai dan mengidolakan seorang pemain bola. Ia dengan bangga mengenakan kostum pemain bola favoritnya. Kendati kostum itu tidaklah ia pakai ketika bermain bola. Demikian pula halnya orang yang besurban itu, ia menyandarkan tindakannya pada hukum besurban dalam tinjauan fikih seperti apa, ia hanya ingin berpenampilan seperti orang yang ia kasihi, Rasulullah SAW.

Salahkah ia? Lalu, argumen apalagi yang bisa mematahkannya? Ketika seseorang sudah berbicara soal cinta, tak ada lagi alasan yang bisa mengkritiknya. Seorang yang mencintai, tak butuh alasan apa pun untuk bertindak. Ia tak akan pernah bisa memberikan dalil apa alasannya ia mencintai.

Bukti cinta kepada seseorang, ia bisa mencintai apa yang dicintai kekasihnya. Ia membenci apa yang dibenci kekasihnya. Seorang pecinta menjadi budak dari apa yang dicintainya. Ia akan mengikuti apa pun yang diinginkan kekasihnya. Ia akan melakukan apa pun untuk kekasihnya. Tujuannya hanya satu, agar yang dicintainya bisa bahagia. Syukur pula jika ia mendapat bonus, yakni cinta yang berbalas. Ia juga dicintai oleh kekasihnya.

Begitulah perumpamaannya seseorang yang cinta kepada Rasulullah SAW. Ia mampu mencintai apa yang dicintai Rasul, membenci apa yang dibenci Rasul, mengikuti seluruh gaya hidup Rasul, dan tunduk patuh dengan perintah maupun larangannya. Ia tak peduli, apakah sunah Rasulnya tersebut merupakan wajib, sunah, atau makruh. Baginya apa pun yang berasal dari Rasul merupakan kemestian untuk ia ikuti pula.

Kecintaan inilah yang menyelamatkan pecinta Rasulullah SAW dari ancaman di dunia hingga akhirat. Seperti kisah sahabat yang membungkuk tadi diselamatkan dari bidikan panah. Sebagaimana pesan Maulana Zakariyya al-Kandahlawi, “Di dalam sunah ada kejayaan.”


Resource Berita : republika.co.id
Benarkah Tuhan itu ada??

Benarkah Tuhan itu ada??


WartaIslami ~  “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”,,,,,,,,!!

Al kisah  pada suatu hari seorang pelanggan datang ke tempat tukang cukur untuk merapikan rambut dan mencukur kumisnya. Si tukang cukur mulai bekerja dan seperti biasa memulai pembicaraan sehingga suasana menghangat. Mereka berbicara tentang berbagai topik pembicaraan, sehingga sampailah diskusi tentang Tuhan.

Si tukang cukur berkata: “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”

Si pelanggan berkata: “Kenapa anda berkata seperti itu?”

Si tukang cukur berkata: “ Coba bapak perhatikan keadaan di jalanan di depan sana, itu sudah cukup membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika Tuhan itu memang ada, tentu tidak ada orang yang sakit, tidak ada anak yang terlantar, dan tidak akan ada kemiskinan atau kesusahan.”

Si pelanggan terdiam dan tidak menjawab pertanyaan si tukang cukur, pikirnya tidak ada gunanya berdebat bila tidak ada dalil dan bukti yang kuat sehingga hanya akan menjadi debat kusir saja.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya. Setelah si pelanggan membayar dan beranjak meninggalkan tempat si tukang cukur, tepat di balik pintu keluar ia melihat seseorang dengan rambut panjang acak-acakan, kotor, dan janggut tidak terawat. Orang itu terlihat kotor dan jorok.

Si pelanggan menghampiri si tukang cukur lalu berkata, “Maaf pak, menurut saya, tukang cukur itu juga tidak ada!”

Si tukang cukur membalas: “Bagaimana anda bisa berkata seperti itu, sedangkan saya di sini dan baru saja selesai mencukur anda?”

Si pelanggan menyahut: “Tukang cukur itu tidak ada! Kalau tukang cukur itu memang benar-benar ada, tentu tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan janggut acak-acakan seperti pria di luar sana itu.”

Tukang cukur menoleh ke arah jalan dan menyaksikan orang yang dimaksud kemudian berkata, “Tukang cukur tetap saja ada! Jika anda melihat orang seperti itu, itu adalah salah mereka sendiri.

Kenapa mereka tidak datang ke saya? Tidak minta saya cukur?.”

Si pelanggan menjawab. “Itulah yang saya maksud, saya setuju dengan bapak. Sesungguhnya Allah itu ada, akan tetapi kebanyakan orang tidak mau mendatangi-Nya, tidak mau mencari-Nya, tidak mau meminta tolong kepada-Nya. Oleh karena itu, banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

(Diambil dari buku Jurus-Jurus Takwa buah karya mulia Al-Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ar-Raudhah Surakarta)
Resource Berita : muslimoderat.net
Gus Mus dan Quraish Shihab, Ulama Hebat yang Dituduh Liberal Karena Tak Pernah Demo

Gus Mus dan Quraish Shihab, Ulama Hebat yang Dituduh Liberal Karena Tak Pernah Demo


WartaIslami ~  Melihat acara mata Najwa yang menampilkan kedua tokoh, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Quraish Shihab bagaikan obat di tengah tengah umat yang sedang 'mabok agama'. Semua permasalahan dikaitan dengan agama mulai dari Pilkada sampai kasus Kriminal agama di bawa bawa seakan akan Indonesia dalam terancam, terutama Islam. Padahal tak ada yang perlu ditakuti, Islam menjadi mayoritas Muslim dan dilayani dengan baik.

Gus Mus dan Quraish Shihab telah bersahabat 50 tahun, semenjak mereka sama sama di Mesir untuk menuntut ilmu, membuat mereka berdua sering bertukar pikiran mengenai agama dan umat. Terkadang, pendapat yang berbeda mereka sikapi dengan arif dan bijaksana.

Gus Mus mengatakan, bahwa para sufi terkadang setelah mengucapkan Allahu Akbar langsung pingsan, karena mereka mengerti, bahwa kalimat takbir ialah kalimat suci yang mana kita harus merendahkan diri dan mengecilkan diri ketika mengucapkan takbir. Bukan petantang petenteng merasa paling benar, setiap orang disalahkan hanya karena berbeda, apalagi takbir untuk demo. Allah ko di ajak kampanye.

Pak Quraish Shihab pun memberikan komentar mengenai kata kafir. Kata kafir banyak artinya, jangan mudah mengucapkan kata kafir kepada saudaranya. Apabila salah maka kekafirannya balik ke dirinya sendiri.
Dua Ulama ini yang seharusnya di tampilkan di publik. Ulama itu seharusnya menjadi air di tengah api, bukan menjadi bensin di tengah api atau jangan menjadi api. Ulama tak pernah berkata kasar, keji dan kotor. Ulama adalah pewaris Nabi, lantas apakah ada Nabi dari Adam sejak Nabi Muhammad yang berkata kasar?

Pak Quraish Shihab sudah tidak diragukan lagi keilmuwannya tentang Al Quran. Beliau mendirikan pusat studi Al Quran, menulis tafsir Al Misbah, dan buku buku lain mengenai tafsir Al Quran. Tapi tidak satupun beliau menyuruh orang untuk membunuh atau membenci orang. Jika Pak Quraish Shihab tidak dianggap ahli tafsir, lantas siapakah lagi yang harus dipercaya? Atau kita percaya dengan Ulama yang sama sekali tidak menulis kitab tafsir langsung disebut Ulama hanya karena teriak Allahu Akbar?

Betapa miris, pemuda jauh dari dua Ulama ini karena Ulama ini sering di tuduh liberal, kafir, Syiah, munafik dll. Memang kekurangan mereka berdua, mereka tidak bisa teriak takbir di jalan, tidak bisa mengumpulkan masa untuk turun ke jalan, yang mereka lakukan adalah menulis, mendidik, dan mengajarkan kepada manusia bahwa kita adalah manusia maka pandanglah orang dari kacamata manusia.

Semoga Allah panjangkan umur kedua Ulama ini.
Disahre dari Ardiyansyah



Resource Berita : muslimoderat.net
Inilah Pesan Menyejukan Maulana Habib Lutfi Di Istana Negara

Inilah Pesan Menyejukan Maulana Habib Lutfi Di Istana Negara




WartaIslami ~  Santruonline-Rais Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Yahya menegaskan bahwa kadar bobot cinta seseorang kepada bangsanya tergantung kecintaannya kepada tanah airnya. Dan sebaliknya kadar bobot cinta seseorang terhadap tanah airnya tergantung kecintaannya terhadap bangsanya.

Hal ini disampaikan Habib Luthfi saat menyampaikan mauidzatul Hasanah yang bertemakan Harmoni Al Quran dalam Kebhinekaan pada Peringatan Nuzulul Quran yang dilaksanakan di Istana Negara di Jakarta, Senin (12/6) malam.

"Semoga kita tidak mudah terprovokasi segala bentuk yang akan memecah belah umat dan bangsa," harapnya pada Acara yang dihadiri Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini.

Habib Luthfi juga berharap Bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya tidak akan menjadi bangsa dan umat yang mengecewakan serta memalukan para leluhur, ulama dan para pejuang yang ikut andil besar dalam memerdekaan bangsa Indonesia dihadapan Allah SWT.

Ulama kharismatik ini mengatakan juga bahwa ia kadang bertanya kepada diri sendiri tentang sejauh mana pernah ikut andil dalam memerdekakan atau mengisi kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia ini.

"Seharusnya kita mensyukuri apa yang diberi Allah SWT didalam menjaga keutuhan dan melestarikan sehingga melahirkan regenerasi siap untuk menjawab tantangan ummat dan bangsa yang telah dicontohi oleh terutama Wali Sembilan yang ada di Indonesia ini," tegasnya.

Walaupun para Wali Songo telah meninggal dunia, lanjut Habib Luthfi, namun ada hal yang tidak bisa dipungkiri sampai sekarang bahwa mereka masih mampu menjaga persatuan dan kesatuan serta menjaga ukhuwah umat.

"Yang datang, yang kumpul bisa diajak dekat dengan Allah SWT membaca Al Quran, tahlil dan bisa membuat ekonomi kerakyatan di lingkungannya. Padahal beliau sudah meninggal 500 tahun yang lalu," katanya.

Menurutnya, semua itu merupakan perjuangan para Wali Songo yang telah meninggalkan tapak tilas dan jejak yang mempunyai kandungan-kandungan mutiara yang tiada tara harganya.

"Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para pemimpin kita, ulama kita, tokoh kita dalam mengemban amanat bangsa ini untuk menuju Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur sehingga dijauhkan cobaan dari Allah SWT," pungkasnya.


Resource Berita : Nu online
Menggendong Nabi Khidzir

Menggendong Nabi Khidzir


WartaIslami ~ Hujan turun dengan begitu deras di Kabupaten Bangkalan saat itu, khususnya di Demangan, pondok pesantren asuhan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. Meski hujan mengguyur dengan derasnya, ada saja orang yang bertamu kepada beliau.

Terlihat di antara rerintik hujan yang semakin deras, seorang tua lumpuh dengan susah payah hendak berkunjung menemui Syaikhona Kholil. Syaikhona segera tanggap, beliau lalu memerintahkan santrinya untuk menyusul.

“Adakah di antara kalian yang mau menggendong dan membawa tamuku di luar sana itu?”

“Biar saya saja, Yai,” jawab seorang santri muda mendahului teman-temannya.

Santri muda itu bergegas meloncat menembus rerintik hujan yang semakin deras, menghampiri orang tua itu. Tanpa pikir panjang, ia menggendongnya untuk menemui Syaikhona Kholil.

Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya, dan di antara keduanya terjadi dialog empat mata. Tidak beberapa lama, rupanya percakapan mereka telah usai. Syaikhona Kholil mendatangi santri-santrinya untuk meminta bantuan lagi, “Siapakah di antara kalian yang mau membantu orang tua ini untuk kembali pulang?”

“Biar saya Yai,” sahut santri yang tadi menggendong orang tua tersebut. lalu santri muda itu dengan penuh rasa takzim menggendongnya keluar pondok pesantren dengan hati-hati sesuai perintah Syaikhona Kholil.
Setelah santri dan tamu tua itu keluar dari kawasan pesantren, Syaikhona Kholil berkata kepada santri-santrinya yang lain, “Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu.”

Dan ternyata yang digendong oleh santri tersebut adalah Nabiyullah Khidir ‘alahis salam yang bersilaturahmi kepada Syaikhona Kholil dan santri yang menggendongnya adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari muda (Pediri Nahdlatul Ulama), yang kemudian mewarisi keilmuan Syaikhona Kholil al-Bangkalani.


**Cerita di atas disadur dari buku "Ngopi di Pesantren, Renungan dan Kisah Inspiratif Kiai dan Santri".



Resource Berita : santrionline.net
Kisah Mbah Kholil Bangkalan dan Kuda dari Bima

Kisah Mbah Kholil Bangkalan dan Kuda dari Bima


WartaIslami ~ Siapa yang tidak kenal dengan sang maha guru para kiai nusantara ini? Beliau adalah al-‘alim al-‘allamah KH.Muhammad Kholil bin Abdul Lathif atau lebih dikenal dengan sebutan Syaikhona Kholil.  Beliau adalah guru dari Hadlratus Syaikh KH.Hasyim Asy’ari Tebuireng-Jombang, KH.Abdul Karim Lirboyo-Kediri, KH.Abdul Wahab Hasbullah Tambakberas-Jombang, KH.Bisyri Syansuri Denanyar-Jombang, KH.As’ad Syamsul Arifin Asembagus-Situbondo, KH.Ma’shum Lasem-Rembang, KH.Munawwir Krapyak-Yogyakarta dan sejumlah ulama besar lainnya.

Di tangan Mbah Kholil Bangkalan, lahir para tokoh ulama dan pejuang bangsa. Menurut cerita Habib Luthfi bin Yahya, beliau bersama Habib Hasyim bin Yahya Pekalongan adalah dua tokoh penting yang memiliki andil dan jasa besar berdirinya ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU).

Salah satu akhlak terpuji yang tampak pada pribadi Syaikhona Kholil adalah menghormati dan memuliakan gurunya. Tidak hanya kepada gurunya secara langsung beliau memuliakan, tapi beliau juga memuliakan hal-hal yang berhubungan dengan gurunya, bahkan kepada kuda yang satu daerah dengan gurunya. Betul-betul sosok ulama yang mulia dan memuliakan gurunya.

Berikut ini cerita yang diriwayatkan dari KH.Ahmad Ghazali dari ayahnya, KH.Muhammad Fathullah, dari gurunya, KH.Syamsuddin, salah satu murid KH.Kholil Bangkalan. Cerita ini menunjukan begitu besarnya penghormatan Kiai Kholil terhadap gurunya.

Suatu ketika Mbah Kholil bepergian menuju suatu tempat dengan mengendarai dokar. Saat hendak menaikinya, Kiai Kholil terus memandangi kuda yang dikendarainya. Seakan ada sesuatu yang mengganjal dari jenis kuda tersebut. Beliau bertanya kepada kusir dokar. “Dari mana kuda ini berasal?” tanya Kiai Kholil. Kusir dokar menjawab, “Dari Bima (salah satu daerah di Indonesia), Kiai”.  Bima sendiri dikenal dengan daerah yang terkenal dengan stok kudanya yang mahal dan bagus.

Setelah mendengar jawaban si kusir, seketika Kiai Kholil turun dari dokar dan enggan menaikinya kembali. Sontak si kusir dokar heran dan bingung. “Kenapa tuan tidak mau menaiki kuda ini?” tanyanya kepada Kiai Kholil. “Karena salah satu guruku berasal dari Bima.

Aku sungguh sangat keberatan akan hal tersebut. Bisa jadi kuda ini termasuk keturunan kuda yang pernah dinaiki guruku atau putera-puteranya”, jawab Kiai Kholil menjelaskan ihwal ketakbersediaan beliau mengendarai kuda dari Bima tersebut.

Dalam khazanah ilmu akhlak sendiri diterangkan bahwa seorang murid hendaknya menghormati gurunya dengan sebenar-benarnya menghormati. Di antara menghormati guru adalah menghormati putera-puteranya dan segala hal yang berkaitan dengannya. Memuliakan guru dalam perspektif ulama tasawuf merupakan salah satu kunci mendapat ilmu yang bermanfaat. Rida Allah berkaitan dengan rida guru. Murka Allah berkaitan dengan murka guru. Demikianlah etika yang diajarkan para ulama kita.

Apa yang diajarkan oleh para ulama sungguh benar-benar diamalkan Kiai Kholil dalam kehidupan nyata. Sungguh luar biasa akhlak beliau. Tidak heran dari tangan beliau lahir sosok-sosok ulama yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, bahkan internasional. Sulit kiranya mencari ulama yang sangat mengagungkan gurunya sebagaimana Syaikhona Kholil. Kepada para kiai dan guru-guru kita, semoga kita bisa meneladani apa yang dilakukan beliau kepada guru-gurunya, meski hanya beberapa persennya saja.


*) Penulis adalah Pegiat Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri

Resource Berita : al-Jauhar al-Farid, KH.Ahmad Ghazali Muhammad Fathullah Madura.
Tarif Spesial Bagi Pemudik yang Naik Kereta, Baca Nih!

Tarif Spesial Bagi Pemudik yang Naik Kereta, Baca Nih!



WartaIslami ~ Demi meningkatkan minat masyarakat menggunakan transportasi kereta api (KA), PT KAI Daop 1 Jakarta menerapkan tarif khusus pada KA Tambahan atau fakultatif tertentu dengan relasi Gambir-Cirebon pulang-pergi.

Ketentuan khusus ini berlaku untuk periode Lebaran 2017 mulai tanggal 20 Juni-11 Juli 2017. "Dalam program ini pengguna jasa KA dapat menikmati tarif spesial yang lebih murah," kata Senior Manajer Humas PT KAI DAOP 1 Jakarta Suprapto, Rabu (21/6).

Berikut adalah daftar KA Fakultatif atau KA Tambahan yang memberlakukan tarif khusus yakni;

1. Argo Lawu Fakultatif  Kelas Eksekutif seharga Rp155.000.

2. Argo Muria Lebaran Kelas Eksekutif Rp155.000 .

3. Argo Sindoro Lebaran Kelas Eksekutif  Rp.155.000

4. Gajayana Lebaran Kelas Eksekutif Rp. 155.000.

5. Sembrani Lebaran kelas Eksekutif Rp155.000

6. Taksaka Lebaran Kelas Eksekutif Rp.155.000

7. Purwojaya Lebaran Kelas Eksekutif Rp155.000, sedangkan kelas Bisnis Rp125.000.

Menurut Suprapto, tarif khusus ini bisa diperoleh di loket pembelian Iangsung di stasiun yang melayani penjualan tiket KA jarak jauh atau menengah, minimal dua jam sebelum keberangkatan dengan memperhatikan ketersediaan tempat duduk yang ada.

"Diharapkan akan dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi KA sehingga dapat mengurangi kemacetan dan polusi di jalan raya karena "Lebih Aman dan Nyaman Nalk Kereta Api," papar dia. (elf/JPG)


Resource Berita : jawapos.com
Jokowi Belum Kecam Serangan Teroris ke Warga Muslim London, Ada Apa?

Jokowi Belum Kecam Serangan Teroris ke Warga Muslim London, Ada Apa?



WartaIslami ~  Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum memberikan pernyataan sikap serangan teroris terhadap muslim London setelah melaksanakan Shalat Tarawih di luar Masjid Finsbury Park, London, Inggris, Ahad (18/6) malam waktu setempat.

“Harusnya Presiden Jokowi langsung mengecam serangan teroris ke warga Muslim di luar Masjid Finsbury Park, London, Inggris, Minggu (18/6). Sampai sekarang belum mengecam,” kata pengamat politik Achsin Ibnu Maksum kepada suaranasional, Rabu (21/6).

Menurut Achsin, publik bisa menilai buruk ke Presiden Jokowi yang belum mengecam serangan teror ke warga Muslim di London.

“Ketika korbannya non muslim, Jokowi langsung bereaksi. Semua sepakat mengecam dan memerangi terorisme tetapi harus adil dan proporsional serta tidak berat sebelah,” ungkap Achsin.

Achsin mengatakan, jika Presiden Jokowi cepat mengecam serangan terhadap Muslim di London, umat Islam Indonesia makin mendukung mantan Wali Kota Solo itu.

“Padahal jika kecaman itu cepat diutarakan Jokowi, bisa meredakan ketegangan umat Islam dengan Jokowi,” pungkas Achsin.

Lebih dari sepuluh orang menjadi korban penabrakan oleh van putih di luar Masjid Finsbury Park, London, Inggris, Minggu (18/6/2017) malam waktu setempat. Dilaporkan, mobil menabrakan diri ke kerumunan jamaah masjid yang baru saja selesai melaksakan shalat Tarawih.

Satu orang dilaporkan telah diamankan oleh seorang jamaah masjid, namun diyakini dua tersangka lain berhasil melarikan diri.

“Kami menyebutnya serangan teroris. Sama seperti Manchester, Wesminster dan London Bridge,” ujar Imam Masjid Finsbury Park, Mohammed Kozbar kepada SUN, seperti dilansir daily Mail, Senin (19/6/2017). “Siapapun pelakunya, yang ia lakukan sudah menyakiti orang lain dan ini adalah serangan teroris,” sambungnya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum memberikan pernyataan sikap serangan teroris terhadap muslim London setelah melaksanakan Shalat Tarawih di luar Masjid Finsbury Park, London, Inggris, Ahad (18/6) malam waktu setempat.

“Harusnya Presiden Jokowi langsung mengecam serangan teroris ke warga Muslim di luar Masjid Finsbury Park, London, Inggris, Minggu (18/6). Sampai sekarang belum mengecam,” kata pengamat politik Achsin Ibnu Maksum kepada suaranasional, Rabu (21/6).

Menurut Achsin, publik bisa menilai buruk ke Presiden Jokowi yang belum mengecam serangan teror ke warga Muslim di London.

“Ketika korbannya non muslim, Jokowi langsung bereaksi. Semua sepakat mengecam dan memerangi terorisme tetapi harus adil dan proporsional serta tidak berat sebelah,” ungkap Achsin.

Achsin mengatakan, jika Presiden Jokowi cepat mengecam serangan terhadap Muslim di London, umat Islam Indonesia makin mendukung mantan Wali Kota Solo itu.

“Padahal jika kecaman itu cepat diutarakan Jokowi, bisa meredakan ketegangan umat Islam dengan Jokowi,” pungkas Achsin.

Lebih dari sepuluh orang menjadi korban penabrakan oleh van putih di luar Masjid Finsbury Park, London, Inggris, Minggu (18/6/2017) malam waktu setempat. Dilaporkan, mobil menabrakan diri ke kerumunan jamaah masjid yang baru saja selesai melaksakan shalat Tarawih.

Satu orang dilaporkan telah diamankan oleh seorang jamaah masjid, namun diyakini dua tersangka lain berhasil melarikan diri.

“Kami menyebutnya serangan teroris. Sama seperti Manchester, Wesminster dan London Bridge,” ujar Imam Masjid Finsbury Park, Mohammed Kozbar kepada SUN, seperti dilansir daily Mail, Senin (19/6/2017). “Siapapun pelakunya, yang ia lakukan sudah menyakiti orang lain dan ini adalah serangan teroris,” sambungnya.



Resource Berita : [sn]
Ngaku Profesor tapi Tak Beretika, Merokok di Tengah Orang Puasa

Ngaku Profesor tapi Tak Beretika, Merokok di Tengah Orang Puasa



WartaIslami ~ Seorang bule merokok di tengah orang puasa jadi perbincangan ramai di media sosial (medsos). Bule tersebut mengaku seorang profesor dan promotor Rinjani. Bule asal Jerman itu merokok di salah kantor pemerintahan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Prilaku bule Jerman tersebut dianggap menganggu dan tidak menghormati umat Islam yang sedang berpuasa.

Seorang wanita bernama Linggauni merekam aksi bule tersebut. Linggauni juga menegur dan meminta bule itu untuk tidak merokok di kantor pemerintahan.

Namun teguran Linggauni tidak dihiraukan. Si bule justru meminta Linggauni untuk bertanya kepada orang-orang di dalam kantor siapa dirinya sesungguhnya.

“Pergi ke dalam, tanya siapa aku,” ucap bule itu dengan suara agak keras, seperti yang terekam dalam video.

“Saya tidak perlu tahu siapa Anda. Yang jelas Anda sedang merokok di sini. Anda mencemari udara,” jawab wanita Linggauni.

Linggauni lantas mengunggah tiga potongan video di akun Instagram miliknya. Dalam video tersebut terlihat perdebatan sengit antara Linggauni dengan si bule.

“Seorang bule asal Jerman mengaku Promotor Rinjani. Dia mengaku seorang profesor tapi tidak punya etika sama sekali. Merokok di dalam kantor pemerintahan, dan merendahkan profesi jurnalis. Untungnya orang Indonesia baik-baik. Kalau kita di negaranya, mungkin kita sudah diseret sana sini,” tulis Linggauni di keterangan video, Selasa (20/6/2017).

“Dia mengusir saya, padahal dia sedang berada di negara saya. Semestinya dia mengikuti aturan dan sopan santun di negara saya. Sebaiknya anda segera pergi ke negara anda, sehingga anda bisa merokok saat orang lain sedang berpuasa, di kantor pemerintahan atau dimanapun anda suka,” tambahnya. Video tersebut dikomentari beberapa netizen. Ada yang membenarkan tindakan Linggauni, tapi ada pula yang terkesan menyalahkan.

“Maaf dia kan merokok di luar trus mba nya knp ga menjauh dari dia, klo dia di ruangan trus merokok itu baru salah hmmm,” komentar @michzefanya.

“@michzefanya mba, itu masih di dalam kantor. Konsep kantornya memang garden office. Itu posisinya di tengah kantor. Bukan soal di dalam atau di luar. Ini masih area kantor pemerintahan, itu yang pertama. Yang kedua, dia sedang berada di daerah dgn mayoritas muslim, Lombok, the best halal destination.
Sudah sepatutnya kami mengingatkan, agar dia tdk merokok di tempat umum selama Ramadhan. Karena bukan hanya dia saja wisatawan di daerah kami. Ketiga, asap rokoknya sangat mengganggu,” jawab Linggauni.

Berikut ini video bule merokok di tengah orang puasa di salah satu kantor pemerintahan di Lombok NTB:





Resource Berita : [GR / psi]
Di Saat Semua Bungkam, JK Rowling Justru Berani Terang-terangan Bela Muslim London

Di Saat Semua Bungkam, JK Rowling Justru Berani Terang-terangan Bela Muslim London



WartaIslami ~  Tak banyak selebriti dunia yang berani buka suara menentang aksi bejat seorang pembuat rusuh hingga menewaskan satu orang. Apalagi, yang menjadi korban adalah umat Islam, jelas ada rasa ketakutan yang menghantui selebriti tersebut. Namun, hal itu tak berlaku bagi JK Rowling yang justru terang-terangan membela umat Islam yang belakangan ini selalu disudutkan.

Adalah, serangan teror yang terjadi di Masjid Finsbury Park, London, pada Senin, 19 Juni 2017, menarik perhatian JK Rowling. Penulis buku Harry Potter itu mengutuk keras semua pihak yang antimuslim dan menyepelekan serangan tersebut.

Lewat akun Twitternya, Rowling mencurahkan segala kekesalannya pada pihak-pihak yang tak peduli dengan aksi teror di London itu.

Ia menulis, “Koran-koran yang menyalahkan korban itu menjijikkan. Masjid Finsbury Park memenangkan penghargaan karena memerangi ekstrimis.”

Alhasil, cewek berambut pirang ini mengajak para pengikut Twitternya untuk berdiskusi mengapa aksi di Masjid itu masuk ke dalam tindakan radikalisme. Ia mengkritik sejumlah figur publik yang memojokkan Muslim.

“Mereka yang melakukan stereotip dan melupakan humanisme muslim tidak punya moral,” tulisnya, Selasa (20/6/2017).

Ia pun menjawab cuitan seseorang yang mengatakan bahwa ketika teror dilakukan Muslim, @POTUS akan langsung mencuit. Namun ketika teroris ini menyerang muslim, tak ada reaksi apa pun yang diberikan.

“Spoiler: Itu karena dia adalah bigot,” jawab Rowling.

Bigot merupakan sebutan untuk mereka yang tak punya toleransi, penuh prasangka, dan berpikiran sempit.

Dalam kesempatan itu, Rowling juga memuji aksi Imam Masjid Finsbury Park yang melindungi pelaku dari amukan massa. “Tindakan mulia tersebut membuatku berkaca-kaca pagi ini. Aku harap, imam ini mendapat pengakuan yang layak,” tambahnya.



Resource Berita :  [GR / htc]
Astagfirullah! Demi "Like" Facebook, Pria Ini Ancam Jatuhkan Anaknya dari Lantai 15

Astagfirullah! Demi "Like" Facebook, Pria Ini Ancam Jatuhkan Anaknya dari Lantai 15



WartaIslami ~ Hasrat  mendapatkan  " like" dalam jumlah besar untuk postingan di media sosial tak jarang membuat orang berbuat tak masuk akal, salah satunya dilakukan pria asal Aljazair ini.

Seorang pria mengunggah foto mengerikan yang memperlihatkan dia mengayun-ayunkan bayi laki-lakinya dari jendela apartemennya yang berada di lantai 15.

Dengan hanya satu tangan, pria ini mencengkeram baju anaknya itu di luar jendela senentara 15 lantai di bawahnya sebuah jalan raya yang sibuk terlihat.

"Beri 1.000 like atau saya jatuhkan dia," demikian kalimat yang menyertai foto itu.

Sementara itu, si bocah terlihat sangat ketakutan melihat jalan raya yang membentang di bawahnya.

Setelah foto itu viral di media sosial, para netizen yang gerah menyaksikan aksi tak bertanggung jawab itu mendesak pihak berwajib bertindak.

Baca: Beri "Like" Foto Kekasih Anak Mafia, Remaja Italia Tewas Ditembak

Netizen meminta agar pria tersebut dijerat dakwaan melakukan kekerasan terhadap anak-anak.

Kepolisian nampaknya mendengar "teriakan" para netizen itu dan kemudian menahan ayah yang tak bertanggung jawab itu.

Di pengadilan, pria tersebut berusaha membela diri dengan mengatakan dia tak berniat menjatuhkan anaknya dari lantai 15 gedung apartemen itu.

Dia mengaku perbuatannya itu hanya dilakukan demi mendapatkan perhatian dan " like" di media sosial.

Namun, para hakim pengadilan di kota Aligers tak menerima pembelaan itu dan pada Senin (19/6/2017) menjatuhkan hukuman dua tahun penjara untuk pria yang tak disebutkan identitasnya itu.


Resource Berita : kompas.com
Idul Fitri 1438 H akan Ditetapkan di Sidang Itsbat 24 Juni

Idul Fitri 1438 H akan Ditetapkan di Sidang Itsbat 24 Juni



WartaIslami ~ Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Islam akan menggelar sidang isbat (penetapan) awal Syawal 1438H. Sidang isbat ini diagendekan berlangsung Sabtu (24/6).

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dijadwalkan memimpin langsung sidang di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jl MH Thamrin No. 6, Jakarta Pusat itu didampingi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin, dan Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag Muhammad Thambrin dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (20/06), mengatakan sidang isbat akan dihadiri  para duta besar negara sahabat, perwakilan Mahkamah Agung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Turut diundang pula Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama; dan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.

"Sidang isbat wujud kebersamaan Kemenag dengan Ormas Islam dan instansi terkait dalam menetapkan awal bulan qamariyah, terutama Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah," ujarnya.

Sebagaimana isbat awal Ramadlan lalu, proses sidang akan dimulai pukul 17.00 WIB, diawali dengan pemaparan dari Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama tentang posisi hilal menjelang awal Syawal 1438H.

Adapun proses sidang isbatnya, dijadwalkan berlangsung selepas salat Magrib setelah adanya laporan hasil rukyat hilal dari lokasi pemantauan.

Mantan Kakanwil Kemenag Kalsel ini menambahkan, data hisab menunjukan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1438H jatuh pada Sabtu, 24 Juni 2017M sekitar pukul 09:32 WIB, bertepatan dengan 29 Ramadan 1438H.

“Pada saat rukyat, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuk, berkisar antara 2° sampai 4°,” tuturnya.

Muhammad Thambrin menambahkan, Kementerian Agama akan menurunkan sejumlah pemantau hilal Syawal 1438 H di seluruh provinsi di Indonesia. Mereka berasal dari petugas Kanwil Kementerian Agama dan Kemenag Kabupaten/Kota yang bekerjasama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam serta instansi terkait.




Resource Berita : republika.co.id
Respon Kritis atas Pernyataan Ketua PP Muhammadiyah "Madin Layaknya Kursus"

Respon Kritis atas Pernyataan Ketua PP Muhammadiyah "Madin Layaknya Kursus"



WartaIslami ~ Satu hari setelah Presiden Joko Widodo membatalkan kebijakan Lima Hari Sekolah (LHS) atau Full Day School (FDS) yang melahirkan polemik dan kegelisahan dikalangan masyarakat, publik kembali dibikin kaget dengan pernyataan Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tabligh, yang menilai bahwa Madrasah Dinniyah yang dimulai pada sore hari berstatus layaknya kursus. Pernyataannya tersebut dimuat di salah satu media online nasional.

Media tersebut mengungkap: Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tabligh, Yunahar Ilyas, menilai madrasah diniyah yang dimulai pada sore hari berstatus layaknya kursus. Artinya pemerintah tidak boleh mengesampingkan perombakan sistem pendidikan hanya karena madrasah tersebut.

"Sebenarnya statusnya, mohon maaf, madrasah diniyah sore itu hanya kursus saja. Nanti kursus bahasa Inggris, matematika, dan lainnya yang mulai jam 14.00 juga menolak juga gara-gara Mendikbud. Itu namanya enggak fair, enggak ilmiah itu penolakannya," kata Yunahar Ilyas.

Agak sulit dipahami pernyataan itu muncul dari seorang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pengurus MUI pusat, dan juga seorang guru besar. Bagi komunitas pendidikan keagamaan Islam khususnya Madrasah Diniyah itu sangat melukai perasaan kiai, ustadz dan santri yang selama ini eksis mengembangkan Madin sebagai lembaga pendidikan Islam strategis pembangun karakter dan akhlak, bukan lembaga kursus.

Keberadaan Madrasah Diniyah secara historis telah muncul sejak sebelum Indonesia merdeka. Tumbuh berkembang di kampung-kampung, rumah kiai, ustadz, pondok pesantren lalu melembaga dalam sebuah madrasah. Para sejarahwan telah mengakuinya melalui buku-buku sejarah pendidikan Islam. Penulis heran, seorang tokoh ormas terbesar kedua setelah Nahdlatul Ulama (NU) tidak memahami sejarah dengan baik.

Positioning Madrasah Diniyah sepanjang sejarah bangsa ini, yang telah menghubungkan antara tradisi keulamaan dan tradisi lokal Nusantara. Ideologi para santri terbangun dengan baik hasil dialektika antara Islam di satu sisi dan kepentingan bangsa di sisi lainnya. Bagi santri Madrasah Diniyah berjuang melawan penjajah mempertahankan NKRI adalah bagaian dari mengamalkan Islam. Apakah lembaga yang mendidik dan memompa semangat ber-Islam dan berkebangsaan hanya akan kita sebut layaknya lembaga kursus? Lagi-lagi hanya pas dialamatkan untuk mereka yang tidak memahami pendidikan dengan baik.  

Posisi Madrasah Diniyah sebagai lembaga pendidikan, bukan lembaga kursus juga telah diatur dalam seperangkat regulasi di negeri ini. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pada Bagian Kesembilan mengatur tentang Pendidikan Keagamaan. Pasal 30 ayat (2) berbunyi Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Ayat (3). Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dan ayat (4) menyebutkan Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

Turunan dari UU Sisitem Pendidikan Nasional No. 20/2003 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyonotelah secara detail mengatur pendidikan keagamaan Islam yaitu Madrasah Diniyah. Sejak saat itu muncul istilah Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang saat ini ada di 13 Pondok Pesantren dan Pendidikan Diniyah Nonformal yaitu Madrasah Diniyah Takmiliyah.

Posisi Madrasah Diniyah tambah kuat lagi setelah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidkan Keagamaan Islam. Eksistensi MDT dengan demikian semakin mendapat tempat sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam yang sekaligus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Ini argumen yang sangat kuat bahwa Madrasah Diniyah adalah bukan lembaga kursus layaknya kursus Bahasa Inggris, Matematika, Komputer dan lain-lain.

Penolakan yang dilakukan oleh kalangan pendidikan keagamaan Islam bukan tanpa dasar, bukan asal beda, dan bukan juga didasari akan kebencian. Penolakan itu berangkat dari kenyataan historis, ideologis dan sekaligus politik kebangsaan bahwa entititas MDT harus dilindungi karena telah secara nyata berkontribusi besar pada pembinaan akhlakul karimah, moral dan karakter anak bangsa.

Kenapa MDT bukan lembaga kursus dapat dilihat pada kelembagaan yang mapan, terstruktur, berjenjang dan berdimensi jangka panjang. Data EMIS Kementerian Agama 2016 menyebutkan jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Indonesia 76.566 buah, memiliki 6.000.062 santri dan 443.842 ustadz. Kalau MDT lembaga kursus apakah akan mempunyai kelembagaan yang begitu massif berada di kampung dan desa diseluruh Indonesia dan mempunyai kurikulum yang mapan?

Mendidik bukan melatih

Penulis bergembira Presiden Jokowi akan bertekad memperkuat Madrasah Diniyah guna mengembangkan pendidikan karakter, daripada sekadar FDS atau lima hari sekolah (LHS). Karena substansi MDT adalah mendidik agar anak bangsa mempunyai keimanan dan ketaqwaan kuat, tumbuh sebagai pribadi muslim yang taat dan komitmen pada nilai-nilai kebangsaan.

Sangat tidak bisa dipahami argumen yang mengatakan bahwa Madin adalah lembaga kursus. Karena lembaga kursus adalah transfer pengetahuan saja dan melatih peserta didik agar mempunyai ketrampilan pada bidang yang dikursuskan. Kursus Bahasa Inggris adalah transfer sejumlah pengetahuan kosakata dan bagaimana melatih agar peserta kursus mahir berbicara dengan Bahasa Inggris. Namun kalau lembaga pendidikan semacam Madin mempunyai tugas maha berat yaitu mendidik tidak sekadar belajar apalagi hanya berlatih. Ada transfer of knowledge (pengetahuan dan pengalaman) juga transfer of value(pemindahan nilai-nilai).

Karenanya seorang Pakar Pendidikan, Ahmad D. Marimba mendefinisikan pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik kepada peserta didik dengan tujuan membentuk kepribadian yang utama secara jasmani dan rohani. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 memberikan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Jangan sampai hanya karena Yunahar Ilyas membela kebijakan LHS Mendikbud lalu mengabaikan prinsip-prinsip substantif pendidikan nasional. Kita harus akui bahwa Mendikbud sedang gelisah sebagaimana komponen bangsa lain akan melemahnya karakter bangsa. Penolakan LHS sekali lagi bukan persoalan konflik antara NU dan Muhammdiyah tetapi merupakan persoalan bangsa yang tidak ingin akhlaknya tergerus, kebangsaannya hilang dan partisipasi anak bangsa dalam pendidikan hancur.

Sekali lagi dilihat dari perspektif sejarah bangsa, regulasi pendidikan, kelembagaan, orientasi pendidikan dan falsafah pendidikan, Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan bukan lembaga kursus. Madin telah tumbuh dan berkembang secara mandiri dari oleh dan untuk masyarakat tanpa membebani negara, karenanya menempatkan Madin ditempat yang mulia adalah keniscayaan dan bukan kesalahan.***

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.



Resource Berita : muslimoderat.net
Imam Syafi'i: Kenakanlah Pakaian yang Bagus, jangan yang Kusam

Imam Syafi'i: Kenakanlah Pakaian yang Bagus, jangan yang Kusam



WartaIslami ~ Imam Syafi'i RA berpesan agar berpakaian yang bagus.

حسن ثيابك ما استطعت فإنها # زين الرجال بها تعز وتكرم
Kenakanlah pakaian yang bagus sesuai dengan kemampuanmu, dengan pakaian itu kamu menjadi gagah dan terhormat.
ودع التواضع في الثياب تخشنا # فالله يعلم ما تسر وتكتم
Janganlah kamu tampil dengan pakaian yang kasar dengan dalih tawadhu', karena Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan dan sembunyikan.

فرثاث ثوبك ﻻ يزيدك رفعة # عند اﻹ له و انت عبد مجرم
Maka bajumu yang kusam itu tak akan menambah derajatmu di sisi Tuhanmu, selagi kamu masih menjadi seorang pendosa.
وجديد ثوبك ﻻ يضرك بعد ان # تخشى اﻹ له و تتقي ما يحرم
Dan bajumu yang baru tak membahayakan dirimu, selagi dirimu menjadi orang yg ber-taqwa dan menjauhi perkara yg haram.




Resource Berita : muslimoderat.net
[21 Juni] Tepat 47 Tahun lalu, Presiden Soekarno meninggal Dunia

[21 Juni] Tepat 47 Tahun lalu, Presiden Soekarno meninggal Dunia



WartaIslami ~ Pada 21 Juni 1970, Presiden Sukarno mengebuskan napas terakhirnya. Di pengujung hidupnya, dia jalani dengan memilukan. Setelah dijatuhkan pada Maret 1967 dengan naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, Sukarno menjadi tahanan rumah di Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (Sekarang Museum Satria Mandala).

Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), menyebut bahwa beberapa oknum dari intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang ingin membuktikan keterlibatan Sukarno dalam gerakan makar PKI (mungkin tanpa perintah Soeharto) menetapkan Bung Karno berstatus tahanan rumah, sementara penyelidikan berlangsung. “Laporan resmi pemeriksaan ini tidak pernah dikeluarkan,” katanya dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998.

Sukarno dikucilkan dari rakyatnya di Wisma Yaso sejak pengujung Desember 1967. “Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam Soekarno Arsitek Bangsa.

Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta dua periode (1966-1977), pernah menengok Sukarno di Wisma Yaso, mengungkapkan “keadaan tempat tinggal itu kotor, kotor sekali. Kebunnya tidak diurus. Di dalam ruangan di rumah itu debu di mana-mana. Padahal Bung Karno sangat menyukai kebersihan, sangat tidak senang dengan kekotoran. Jangankan pada kekotoran yang begitu tampak dan bertumpuk, debu sedikit pun tidak beliau senangi. Beliau sangat teliti, mencintai keindahan dan kebersihan.”


“Saya menjadi amat sedih. Pikiran saya, kok, mengapa tega-teganya orang terhadap beliau, sampai beliau –pemimpin bangsa itu– diperlakukan seperti itu. Saya yakin, beliau pasti menderita. Apakah itu disengaja? Masa’ ada yang sengaja berbuat begitu?” kata Ali dalam Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi karya Ramadhan KH.
Sesudah jatuh sakit selama waktu singkat dan tanpa perawatan yang baik, Sukarno meninggal pada pukul tujuh pagi, 21 Juni 1970. Dia dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, berwasiat agar dimakamkan “di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen.”

Selain itu, menurut sejarawan Asvi Warman Adam, sahabat Sukarno, Masagung dalam buku Wasiat Bung Karno (yang baru tebit tahun 1998) mengungkapkan bahwa Sukarno telah menulis semacam wasiat, masing-masing dua kali, kepada istrinya Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962). “Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor,” tulis Asvi dalam Bung Karno Dibunuh Tiga Kali.

Namun, Presiden Soeharto dalam otobiogrinya menyatakan bahwa sebelum memutuskan tempat pemakaman Sukarno, dia mengundang para pemimpin partai dan pelbagai tokoh masyarakat. “Jelas, Soeharto menganggap ini masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan oleh keluarga, tetapi melalui petimbangan elite politik,” tulis Asvi.

Soeharto pun memutuskan untuk memakamkan Sukarno di Blitar, di samping makam ibunya, pada 22 Juni 1970. Pemakaman di Blitar itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1970 tertanggal 21 Juni 1970.

Menurut Jusuf Wanandi, Soeharto mengingkari pesan akhir Sukarno yang ingin dikubur di bawah pohon yang rindang di Istana Bogor. Tapi itu akan menempatkan makamnya terlalu dekat dengan Jakarta dan dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya. “Sekali lagi kita menyaksikan kehebatan Soeharto dengan nalurinya untuk tetap berjaya,” kata Jusuf Wanandi.

Sanad Riwayat: Historia.id



Resource Berita : muslimoderat.net
Tanggapan PBNU atas Ucapan Ketua PP Muhammadiyah yang Sebut Madin Hanya Sekedar Kursus

Tanggapan PBNU atas Ucapan Ketua PP Muhammadiyah yang Sebut Madin Hanya Sekedar Kursus



WartaIslami ~ Sebelumnya Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas Mengatakan tidak tepat kalau penolakannya Permendikbud berdasarkan kekhawatiran Madrasah-Madrasah Diniyah yang belajarnya sore. “Sebenarnya statusnya Madrasah Diniyah itu hanya kursus-kursus saja,” ucapnya.

“Saya kira, janganlah lembaga-lembaga kursus tersebut menyandra pendidikan nasional kita,” tegas Yunahar.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Sulton Fatoni mengatakan madrasah diniyah (madin) yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia bukan sekadar program les seperti kursus bahasa asing.

"Tidak kaget dengan pernyataan yang mengatakan madrasah diniyah itu layaknya kursus sebagaimana kursus bahasa Inggris dan sejenisnya," kata Sulton di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan kegigihan Nahdlatul Ulama mempertahankan eksistensi madrasah diniyah dan pondok pesantren sudah terbukti membentuk karakter bangsa yang agamis. Dengan begitu, dia tidak sepakat jika madrasah diniyah dikecilkan perannya dalam mendidik anak bangsa.

Menurut dia, pihak-pihak yang mengecilkan peran madrasah diniyah itu kemungkinan tidak mengerti secara mendalam mengenai seluk beluk sekolah keagamaan yang khas tersebut.

Kemungkinan, kata dia, mereka hanya mengetahui sekolah-sekolah formal dan belum pernah mengenyam pendidikan madrasah diniyah sehingga memiliki pengalaman yang berbeda dalam memposisikan madin.



Resource Berita : muslimoderat.net
Astaga!! Ketua PP Muhammadiyah Sebut Madrasah Diniyah Hanya Kursus Biasa

Astaga!! Ketua PP Muhammadiyah Sebut Madrasah Diniyah Hanya Kursus Biasa



WartaIslami ~ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang sekolah 8 jam dan lima hari sekolah. Kebijakan bagi sebagian orang dianggap akan merugikan Pendidikan Diniyah.

Menaggapi hal tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas mengatakan Madrasah Diniyah tidak perlu mengkhawtirkan Permendikbud tersebut. Karena yang namanya Madrasah Diniyah itu dalam sistem pendidikan dikelola oleh Kementerian Agama, serta Madrasah Awaliyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, dan kegiatan Madrasah tersebut pun belajarnya pagi hingga siang, bukan sore.

“Orang tua tinggal memilih memasukkan anaknya, ke SD, SMP, SMA, atau Madarasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, atau Madrasah Aliyah,” ungkap Yunahar, Senin (19/6) saat Jumpa Pers di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Lanjut Yunahar, jadi tidak tepat kalau kemudian penolakannya Permendikbud tersebut berdasarkan kekhawatiran Madrasah-Madrasah Diniyah yang belajarnya sore. “Sebenarnya statusnya Madrasah Diniyah itu hanya kursus-kursus saja,” ucapnya.

“Saya kira, janganlah lembaga-lembaga kursus tersebut menyandra pendidikan nasional kita,” tegas Yunahar.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengatakan bahwa problem kita sebenarnya yaitu lemahnya pendidikan karakter, khususnya dalam bidang agama.

“Karena sumber pendidikan sekarang itu tidak hanya disekolah, tetapi di masyarakat,” ungkapnya.



Resource Berita : muslimoderat.net
Wow, Akhir Ramadan Ada 825 Pasangan Menikah di Kota Ini

Wow, Akhir Ramadan Ada 825 Pasangan Menikah di Kota Ini



WartaIslami ~  Ini bisa jadi sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat Bojonegoro, memilih pernikahan pada malam terakhir Ramadan. Kemenag Bojonegoro mencatat, pada Jumat malam, 825 warga akan melangsungkan pernikahan. Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Bojonegoro Masduki menjelaskan, masih banyaknya warga yang memilih untuk menikah di malam terakhir Ramadan disebabkan beberapa hal.

Di antaranya, hari itu adalah hari baik. Kebanyakan masyarakat tidak perlu berfikir panjang jika ingin menikah pada hari itu. Hal itu berbeda dengan hari lainnya yang harus ada banyak pertimbangan. ’’Kalau malam sembilan tanpa ada pertimbangan,’’ ungkapnya.

Selain itu, cara termudah warga perantauan . Mereka baru pulang ke Bojonegoro menjelang Lebaran. Sehingga, pernikahan baru bisa dilakukan pada hari itu. Selain itu, ada banyak alasan-alasan lainnya. ’’Tentunya saya juga tidak tahu. Sebab, kami juga tidak menanyakan alasan mereka,’’ jelasnya.

Jumlah pernikahan tersebut tersebar di 27 Kecamatan di Bojonegoro. Sebab, ada satu kecamatan yang tidak ada yang menikah hari itu, yaitu Sekar. Ada lima kecamatan yang angka pernikahannya tertinggi, yaitu Sumberrejo, Baureno, Kepohbaru, Kedungadem, dan Kanor. Dari jumlah angka pernikahan tersebut, semuanya dilakukan ijab kabul di rumah.

Sebagian besar memang karena pilihan. Namun, ada sebagian lagi yang karena terpaksa menikah di rumah. Sebab, Jumat besok sudah masuk cuti libur Lebaran. Sehingga, kantor urusan agama (KUA) di seluruh Indonesia tidak lagi buka. ’’Jadi, terpaksa menikah di rumah,’’jelasnya. Untuk melangsungkan pernikahan di rumah, calon pengantin harus melakukan beberapa persyaratan. Yaitu, membayar uang nikah melalui sistem e-billing di bank yang ditunjuk pemerintah.

Biaya yang dibutuhkan adalah Rp 600 ribu. Menurut Masduki, potensi pema sukan negara pada nikah malam sembilan itu sangat besar. Di Bojonegoro, nilainya sekitar Rp 495 juta. Itu hanya untuk pernikahan satu hari di Bojonegoro. Belum di seluruh provinsi di Indonesia. Masduki menjelaskan, akhir-akhir ini masyarakat memang lebih memilih menikah di rumah dibanding di KUA. Padahal, nikah di rumah dikenakan biaya. Me nge nai hal tersebut, KUA hanya melayani saja apa yang menjadi permintaan masyarakat. (zim/nas/JPG)


Resource Berita : jawapos.com
Soal Isu Gajah Mada, Ditjen Sejarah Kemendikbud Pastikan Hoax

Soal Isu Gajah Mada, Ditjen Sejarah Kemendikbud Pastikan Hoax



WartaIslami ~  Direktur Sejarah Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Triana Wulandari memastikan informasi yang menyebutkan bahwa Patih Kerajaan Majapahit Gajah Mada bernama Gaj Ahmada adalah hoax atau berita palsu. Selain itu, Triana memastikan pihaknya akan mengumpulkan para sejarawan untuk menelaah buku Fakta Mengejutkan: Majapahit Kerajaan Islam untuk memastikan isi buku tersebut sesuai dengan fakta sejarah atau tidak.

“Kami juga prihatin adanya media yang menyampaikan tentang berita tidak benar, termasuk soal Gaj Ahmada itu,” kata Triana kepada Tempo setelah meresmikan Pameran Hari Lahir Pancasila di Auditorium Universitas Mulawarman yang berlangsung pada 19-22 Juni, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Mengenai buku Fakta Mengejutkan: Majapahit Kerajaan Islam, Triana telah melakukan upaya klarifikasi untuk mengetahui apakah sejarah yang dipaparkan buku tulisan Herman Sinung Janutama sesuai dengan fakta atau tidak.

“(Buku) itu sudah lama sekali. Saya terus memberikan saran kepada teman-teman di Direktorat Sejarah, segera saja bikin klarifikasi bahwa berita itu kebenarannya atau sumbernya diragukan,” ujarnya.

Terkait dengan langkah verifikasi buku tersebut, Triana memastikan Direktorat Sejarah akan menelaahnya bersama para ahli sejarah. Dia berpesan agar masyarakat berhati-hati dan harus mengecek fakta-fakta sejarah sebenarnya.

Ia khawatir suatu peristiwa digunakan oleh orang tertentu untuk melegitimasi kepentingan sendiri. ”Sekarang kami sedang mengumpulkan sejarawan untuk mempelajari buku itu,” kata Triana.



Resource Berita : tempo.co
Gus Nur: Wabah Mubahalah Terjadi, Berlangsung dan sudah Menelan Korban

Gus Nur: Wabah Mubahalah Terjadi, Berlangsung dan sudah Menelan Korban



WartaIslami ~ Pendakwah Gus Nur menyatakan, aura atau energi atau wabah mubahalah sebenarnya sudah terjadi, sudah berjalan, sedang berlangsung, bahkan sudah menelan korban, baik secara berangsur atau secara kontan.

“Baik yang sakit mendadak, mengalami sakit dulu, dan ada yang langsung meninggal di tempat tanpa sakaratul maut. Di Jakarta ataupun di Indonesia secara umum,” kata Gus Nur di akun Facebook-nya Gusnur Ngaji Bareng.

Kata Gus Nur, terkait mubahalah ini, ada yang langsung takut lalu istighfar, ada yang serius menjadikan itu sebagai pembelajaran.

“Tapi ada juga yang justru menjadikan mubahalah sebagai bahan guyunan dan parodi bahkan ada juga yang masih nantang-nantang hukum alam yang bernama Mubahalah ini,” kata Gus Nur.

Ia mengatakan, di dalam AlQuran Allah menggambarkan manusia seperti ini adalah manusia yang hatinya sdh berkarat.

“Hatinya sudah dikunci mati, dan Allah menggambarkan orang seperti lebih rendah dari binatang, yang buta matanya tuli telinganya dan tidak berfungsi mata hatinya,” pungkas Gus Nur.


Resource Berita : [GR / snc]
Ketentuan dan Sunah Takbir pada Shalat Id

Ketentuan dan Sunah Takbir pada Shalat Id



WartaIslami ~ Sembahyang Idul Fithri terdiri atas dua rakaat. Pada rakaat pertama kita disunahkan bertakbir sebanyak tujuh kali setelah takbiratul ihram dan doa iftitah. Sementara pada rakaat kedua kita disunahkan untuk bertakbir lima kali.

Hal ini disinggung oleh Sayid Muhammad Sa‘id Ba’asyin dalam Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, halaman 355.

ويكبر في الركعة الأولى قبل القراءة سبعا يقينا مع رفع اليدين بين الاستفتاح والتعوذ وفي الثانية خمسا ولا يكبر المسبوق إلا ما أدرك

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya.”

Memang takbir pada shalat Id ini hanya sunah. Meninggalkan takbir ini tidak membatalkan puasa. Hanya saja menambah atau menguranginya bisa menjadi makruh.

ويكره ترك التكبيرات والزيادة والنقص منها وترك رفع اليدين والذكر بينهما

Artinya, “Meninggalkan takbir sunah shalat Id, menambahkan dan mengurangi jumlah takbir sunah itu, tidak mengangkat kedua tangan saat takbir, dan tidak membaca zikir di antara takbir, makruh hukumnya.”

Tetapi orang yang terlanjur membaca Surat Al-Fatihah karena lupa atas takbir sunah, lalu teringat takbir, tidak perlu meninggalkan bacaan Surat Al-Fatihahnya untuk kembali takbir atau membatalkan shalatnya. Karena tanpa takbir sunah, shalat Id-nya tetap sah. Demikian disebutkan di Busyral Karim. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini