Kiai Ma'ruf Ungkap Sosok Teladan Syekh Nawawi Al Bantani

Kiai Ma'ruf Ungkap Sosok Teladan Syekh Nawawi Al Bantani



WartaIslami ~ Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus pengasuh Pendok Pesantren An Nawawi, KH Ma'ruf Main menjelaskan sosok Syekh Nawawi Al Bantani yang patut diteladani umat Islam saat ini. Menurut dia, Syekh Nawawi merupakan ulama besar Indonesia yang mempunyai keilmuan tinggi dan pemikirannya sangat moderat.

“Syekh Nawawi Al Banteni itu seorang tokoh Indonesia yang punya reputasi Internasional, seorang ulama yang keilmuannya diakuai di dunia, di akui di tempat ilmudi Tmur Tengah, di Mesir, itu diakui beliau sebagai seorang ulama besar abad ke-14 hijriah,” ujar Kiai Ma'ruf saat ditemui Republika.co.id, di kediamannya, Pondok Pesantren An Nawawi, Tanara, Serang, Banten, Sabtu (22/7) dini hari.

Hal ini disampaikan Kiai Ma'ruf dalam rangka Haul Syekh Nawawi Al Bantani ke-124. Menurut Kiai Ma'ruf, kitab karangan Kiai Ma'ruf sendiri sudah ada ratusan lebih yang dijadikan rujukan para ulama di dunia. Karena itu, tak heran muridnya banyak yang menjadi ulama besar, pimpinan pondok pesantren, dan para pendiri ulama besar.

Termasuk, lanjut dia, salah satu muridnya adalah Syekh Kholil Bangkalan dan juga pendiri Nahdlatul Ulama Kiai Hasyim Asy'ari, serta pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan. Menurut Kiai Ma'ruf, Kiai Ahamd Dahlan merupakan murid dari KH Saleh Darat, sedangkan Saleh Darat adalah muridnya Syekh Nawawi.

“Karangannya kan ratusan ada tafsir hadis dan lain-lain, yang murid-muridnyanya itu semua jadi ulama, pimpinan pondok pesantren, bahkan para pendiri organisasi Islam,” ucapnnya.

Karena itu, Kiai Ma'ruf mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang patut diteladani dari sosok Syekh Nawawi, termasuk cara berpikirnya yang sangat moderat, sehingga ajaran Islam di Indonesia dapat menyebar ke seluruh nusantara.

“Yang harus menjadi teladan itu pandangannya sangat moderat, dan akomodatif terhadap berbagai hal, misalnya kebiasaan-kebiasan lokal, tradisi yang tidak bertentangan dengan syariah, itu diakui dan diadopsi, dijadikan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan,” kata Kiai Ma'ruf.



Resource Berita : republika.co.id
Hizib, Pelengkap Keilmuan Islam di Pesantren

Hizib, Pelengkap Keilmuan Islam di Pesantren



WartaIslami ~ Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ulil Abshar Hadrawi menjelaskan, hizib adalah bagian dari ilmu hikmah. Sementara keberadaan ilmu hikmah di pesantren sebagai pelengkap dari pengetahuan Islam.

"Hizib itu termasuk bagian dari ilmu hikmah. Ilmu hikmah itu ada di pesantren sebagai pelengkap dari ilmu pengetahuan keislaman," kata Ulil saat memaparkan makalah Ilmu Hikmah dan Tradisi Hizib di Pesantren, Jumat (21/7) di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan.

Lebih lanjut, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menceritakan, pembawa Islam ke Nusantara seperti Wali Songo menguasai ilmu magis yang bisa menyembuhkan dan juga ilmu-ilmu kesaktian. Selain dengan ilmu keislaman, Wali Songo juga menggunakan ilmu-ilmu tersebut untuk berdakwah.

"Jadi para penyebarnya pasti memiliki ilmu magis yang disebut ilmu hikmah. Ilmu hikmah ini bersumber dari padepokan-padepokan yang sekarang disebut pesantren," jelas mantan ketua Keluarga Mathli'ul Falah (KMF) Jakarta itu.

Menurutnya, adalah sebuah kesalahan jika menganggap hizib hanya ada di Nusantara. "Karena para sufi agung seperti Al-Ghazali juga menggunakannya sesuai fungsi-fungsi tertentu," tuturnya.

Namun demikian, ada perbedaan antara hizib yang dipraktikkan di Nusantara dengan yang lainnya, terutama bahan bacaan dan cara atau tirakatnya.

"Hizib khas Nusantara dilakukan dengan beberapa ibadah ritual seperti puasa, mutih, dan lain-lain," urainya.

Ulil Hadrawi meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia usai mempertahankan disertasinya berjudul Makna dan Fungsi Hizib di Pesantren, Analisis Teks dan Konteks Atas Hizib Karya Asy-Sadzili. (Muchlishon Rochmat/Zunus)


Resource Berita : nu.or.id
Kiai Nggathilut dan Kiai Lèlès

Kiai Nggathilut dan Kiai Lèlès



WartaIslami ~ Lèlès (vokal e dibaca seperti pada "Menteng") artinya memunguti apa-apa yang tercecer untuk diambil manfaatnya atau dirawat.

Nggathilut artinya kenyamanan yang diperoleh tanpa susah-payah.

Saya ini kiai nggathilut. Begitu ayah saya meninggal, orang langsung mengkiaikan saya tanpa fit and proper test. Gus Dur mencomot dan menggelandang saya ke Jakarta hanya karena saya ini keponakan temannya dan teman keponakannya. Kemudian hanya karena reputasi saya sebagai mantannya Gus Dur (mantan jubir, mantan ini dan mantan itu) pemimpin NU memasukkan saya dalam jajaran kepengurusan begitu saja.

Saya menikmati kedudukan, otoritas, previlege dan pengaruh publik secara instan tanpa ikhtiar, bahkan tanpa terlebih dahulu berusaha menjadi pintar ataupun terampil. Saya pun tak perlu mencari-cari pengikut, karena dimana-mana ada saja orang yang siap menjadi pengikut saya, atas nama Gus Dur, NU atau status kekiaian saya. Bikinlah panggung dan biarkan saya naik keatasnya. Begitu sound system dihidupkan, orang-orang siap menyimak apa saja yang saya omong-kosongkan. Yang begitu itu, apa namanya kalau bukan Nggathilut?

Tapi ada kiai seperti almarhum Mbah Sungeb di Kragan. Beliau telah menginvestasikan seluruh masa muda lunas-tuntas tanpa sisa untuk ngaji dan tirakat. Seandainya beliau mau, bisa saja beliau menyuwuk atau mengikuk madu dengan hasil produk yang pasti jauh lebih berkualitas ketimbang yang sekarang ini diperdagangkan. Seandainya beliau mau membuka kitab di rumahnya sendiri dan membacanya dengan mengeraskan suara walaupun tanpa panggung dan tanpa sound system, pasti orang-orang yang ngebet pada ilmu akan berduyun-duyun datang bersimpuh dibawah dulinya.

Tapi Mbah Sungeb memilih keluyuran di lokalisasi pelacuran di pinggiran Rembang. Nongkrong berjam-jam di warung-warung mesum. Bergaul dengan orang-orang yang tidak tahu dan tidak perduli dengan keluhuran maqomnya.

Mbah Sungeb memilih mendatangi orang-orang yang tak akan mau mendatangi ataupun mendengarkan kiai mana pun dan kiai mana pun akan merasa tak pantas mendatangi mereka karena kehinaan maqom mereka. Orang-orang yang tersingkir dari terangnya sinar lampu-lampu, dari leganya jalan lapang, dari harumnya taman-taman.

Mbah Sungeb memilih melèlès sampah-sampah untuk siapa tahu bisa didaur-ulang menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Kenyataannya, komplek pelacuran itu bubar tak lama sesudah Mbah Sungeb wafat. Saya beriman bahwa secara ruhaniyah Mbah Sungeb punya andil atas kebubaran itu.

Untuk menjadi kiai nggathilut nyaris tak perlu investasi maupun usaha. Tinggal nangkring saja. Untuk menjadi kiai lèlès yang sukses, dituntut keteguhan jiwa dan mental wiraswasta yang dhukdhèng.

"Kiai Muhammad Ainun Najib", begitu saya menyebut namanya ditengah walimah pengantin sepupu saya, Bisri Mustova bin Mustofa Bisri dan Ines, isterinya.

Dan saya katakan dihadapan hadirin bahwa, "Entah Cak Nun itu kiai beneran atau tidak, dia sudah biasa ngelakoni pekerjaannya kiai".

Saya memang dari dulu mengkategorikan Cak Nun sebagi kiai lèlès. Dan dia mungkin punya ambisi dan vitalitas bisnis yang lebih besar dari Mbah Sungeb. Itu sebabnya Cak Nun mau melakukan sofistikasi gaya, metode dan teknologi dalam usaha lèlèsnya.

Terkait dengan kontroversi yang dibikin Cak Nun terhadap NU dan Ansor belakangan ini, saya menduga dia cuma sedang mencoba melèlès HTI dan kalangan Islam gagap lainnya.

Penulis adalah Katib Aam PBNU


Resource Berita : nu.or.id
Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub

Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub



WartaIslami ~ Dalam kitab Bidâyatul Hidâyah, Imam al-Ghazali menyebut ujub sebagai penyakit kronis (ad-dâu 'idlâl). Kepada diri sendiri, pengidap penyakit ini merasa mulia dan dan besar diri, sementara kepada orang lain ada kecenderungan untuk meremehkan dan merendahkan.

Biasanya buah dari sikap ini, kata al-Ghazali, adalah obral keakuan: gemar mengatakan aku begini, aku begitu. Seperti yang Iblis la'natullah katakan ketika menolak perintah Allah untuk hormat kepada Nabi Adam, "aku lebih baik dari Adam. Kau ciptakan aku dari api sementara Kau ciptakan dia dari tanah" (QS al-A'raf:12).

Dalam majelis-majelis, pengidap penyakit ujub juga suka meninggikan diri sendiri, serta ingin selalu menonjol dan terdepan. Saat bercakap-cakap atau berdialog umumnya orang seperti ini tak mau kalah dan dibantah.

Dalam kitab yang sama Imam al-Ghazali menerangkan takabbur dan ujub dengan definisi yang mirip. Katanya, orang yang takabur (mutakabbir) gusar ketika menerima nasihat tapi kasar saat memberi nasihat. Siapa saja yang menganggap dirinya lebih baik dari hamba Allah yang lain, itulah mutakabbir. Lantas bagaimana agar bisa keluar dari jeratan ini? Imam al-Ghazali memberikan tips dengan mengembalikannya pada manajemen pikiran.

بل ينبغي لك أن تعلم أن الخير من هو خير عند الله في دار الآخرة، وذلك غيب، وهو موقوف على الخاتمة؛ فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض، بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك

"Ketahuilah bahwa kebaikan adalah kebaikan menurut Allah di akhirat kelak. Itu perkara ghaib (tidak diketahui) dan karenanya menunggu peristiwa kematian. Keyakinan bahwa dirimu lebih baik dari selainmu adalah kebodohan belaka. Sepatutnya kau tidak memandang orang lain kecuali dengan pandangan bahwa ia lebih baik ketimbang dirimu dan memiliki keutamaan di atas dirimu."

Ujub dan takabur adalah tentang dua entitas antara diri sendiri dan orang lain. Yang ditekankan adalah bagaimana yang pertama menata pikiran agar terhindar dari perasaan lebih istimewa dari yang kedua. Secara praktis, kiat-kiat yang ditawarkan Imam al-Ghazali adalah sebagai berikut:

Pertama, bila yang disebut orang lain itu anak kecil maka sadarlah bahwa ia belum pernah bermaksiat kepada Allah, sementara dirimu yang lebih tua sebaliknya. Tak diragukan lagi, anak kecil itu lebih baik dari dirimu.

Kedua, bila orang lain itu lebih tua, beranggapanlah bahwa ia beribadah kepada Allah lebih dulu ketimbang dirimu, sehingga tentu orang tersebut lebih baik dari dirimu.

Ketiga, bila orang lain itu berilmu, beranggapanlah bahwa ia telah menerima anugerah yang tidak engkau peroleh, menjangkau apa yang belum kau capai, mengetahui apa yang tidak engkau ketahui. Jika sudah begini, bagiamana mungkin kau sepadan dengan dirinya, apalagi lebih unggul?

Keempat, bila orang lain itu bodoh, beranggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara dirimu berbuat maksiat justru dengan bekal ilmu. Ini yang menjadi alasan atau dasar (hujjah) pada pengadilan di akhirat kelak.

Kelima, bila orang lain itu kafir, beranggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu. Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia dengan amalan terbaik (husnul khâtimah). Jika demikian, ia keluar dari dosa-dosa masa lalu sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari adonan roti, mudah sekali. Sementara dirimu? Bisa jadi Allah sesatkan dirimu di ujung kehidupan, berubah haluan menjadi kafir, lalu menutup usiamu dengan amal terburuk (sûul khâtimah). Dengan demikian, muslim dan kafir sekarang masih sangat mungkin berbalik nasib di kemudian hari. Dirimu yang kini muslim mungkin di kemudian hari masuk kelompok orang yang jauh dari Allah dan dia yang sekarang kafir mungkin di kemudian hari masuk golongan orang yang dekat dengan Allah.

Tampak sekali Imam al-Ghazali hendak menutup peluang timbulnya ujub dan takabur dengan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam diri manusia. Seolah beliau ingin mengatakan bahwa sepatutnya seseorang menghabiskan energinya untuk introspeksi (muhâsabah) kepada diri sendiri ketimbang sibuk menghakimi kualitas diri orang lain. Sebab, hakim sejati hanyalah Allah dan keputusan final yang hakiki hanya ada di akhirat, bukan di dunia ini. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman

Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman



WartaIslami ~ Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku sangat menyesalkan insiden pembunuhan tiga orang Palestina sebagai akibat ketegangan yang meningkat setelah Israel memperketat penjagaan di kompleks al-Aqsa di Yerusalem.

Seperti dirilis laman Aljazeera, Guterres mengutuk pembunuhan tersebut dan menyerukan penyelidikan pada Sabtu pagi, beberapa jam setelah demonstrasi massa oleh rakyat Palestina di sekitar tempat suci itu.

Dia mendesak para pemimpin Israel dan Palestina untuk menahan diri dari tindakan yang dapat terus meningkatkan situasi yang mudah berubah di Kota Tua Yerusalem, dengan mengatakan bahwa situs keagamaan harus menjadi ruang untuk refleksi, bukan kekerasan.

Mengutip Guterres, juru bicara PBB Farhan Haq mengatakan bahwa pihaknya memahami "masalah keamanan yang sah, namun di sisi lain penting bahwa status quo di lokasi tetap dipertahankan".

Pasukan keamanan Israel pada Jumat secara keras menghadang demonstrasi, memuntahkan amunisi, gas air mata dan peluru karet di kerumunan warga Palestina yang menentang kebijakan baru tersebut, yakni melarang laki-laki Muslim di bawah usia 50 tahun memasuki Masjid al-Aqsa dan melewati instalasi detektor logam yang dipasang Israel.

Israel kian memperkuat cengkeramannya di kompleks tersebut pada 14 Juli setelah dua petugas keamanan Israel tewas dalam serangan yang diduga dilakukan oleh tiga warga Palestina. Tiga warga itu lantas dibunuh polisi Israel setelah terjadi kekerasan.

Korban berjatuhan

Dalam insiden fatal pertama seminggu kemudian pada hari Jumat, seorang pemukim Israel membunuh Muhammad Mahmoud Sharaf berusia 18 tahun di lingkungan Ras al-Amud di Yerusalem Timur yang diduduki.

Seorang warga Palestina berusia 20 tahun, Muhamad Hasan Abu Ghanam, terbunuh oleh tembakan langsung selama demonstrasi di Yerusalem. Dan pasukan Israel membunuh korban ketiga, Muhamad Mahmoud Khalaf, 17 tahun, dalam bentrokan di Tepi Barat.

Gerakan humanitarian Red Crescent menyebut ada 450 orang yang terluka oleh pasukan Israel selama demonstrasi di Yerusalem dan Tepi Barat, dengan jumlah sekurangnya 215 luka-luka akibat menghirup gas air mata.

Polisi mengatakan seorang penyerang Palestina juga membunuh tiga orang Israel di sebuah pemukiman di Tepi Barat.

Perkumpulan Tahanan Palestina mengatakan, setidaknya 21 orang Palestina ditangkap pada demonstrasi hari Jumat di Tepi Barat, termasuk setidaknya 10 dari Yerusalem.

Media Israel melaporkan bahwa empat petugas polisi Israel terluka dalam demonstrasi tersebut setelah orang-orang Palestina melemparkan batu dan api ke mereka. (Mahbib)



Resource Berita : nu.or.id
[Mari Ngakak] Ustadz Dengkul Ini Ngetwit Ngawur Soal Jubah Pahlawan

[Mari Ngakak] Ustadz Dengkul Ini Ngetwit Ngawur Soal Jubah Pahlawan


WartaIslami ~  Ustadz Tengku Zulkarnain lagi-lagi ngetwit ngawur. Kali ini ia komentar soal batik. Katanya, para pahlawan Nasional Indonesia dan seluruh pendiri ormas Islam Indonesia semuanya pakai jubah. Tidak ada yang pakai batik.

Gara-gara twit Zulkarnain itu, banyak komentar yang membantah Zulkarnain. Mereka membuktikan kalau para pahlawan Nasional banyak yang tidak pakai jubah, bahkan ada yang tidak berkerudung.

Akun @Nicolas_R123 mengomentari twit Zulkarnain dengan menyertakan foto para pahlawan yang menggunakan batik dan blangkon. "Saya yakin TengZul tidak kenal mereka. Makanya kalo bicara asal mangap," kata pemilik akun @Nicolas_R123.

Bantahan serupa juga ditulis oleh @mu_dhofar. Ia mengupload foto Cut Nyak Dien yang tidak pakai kerudung. "Ini pahlawan Nasional gak pakai jubah. Katanya semuanya pakai jubah. Waooow," tulis @mu_dhofar.

Yang bikin ngakak adalah komentar @Aryprasetyo85. Menurutnya, salah satu fungsi jubah adalah menutupi si otong klo bangun. "Betuul tidaak ustadz dengkul??," tanya @Aryprasetyo85 sambil mention @ustadtengkuzul dan mengupload video orang-orang berjubah di tengahnya ada cewek seksi sedang berjoged.

Selengkapnya Anda bisa melihat komentar twit ustadz Tengku Zulkarnain berikut:


Resource Berita :[dutaislam.com/gg]
Siapa Habib Rizieq? Ini Peran Kakeknya di Zaman Belanda Sehingga Digaji 100 Golden

Siapa Habib Rizieq? Ini Peran Kakeknya di Zaman Belanda Sehingga Digaji 100 Golden


WartaIslami ~  Siapakah kakek Habib Rizieq Shihab (HRS)? Pertanyaan itu tidak penting, namun jika dikaitkan dengan sejarah dan fakta, maka ada sesuatu yang harus diungkap. Seorang pengguna Facebook bernama W Eka Wahyudi yang menyitir pendapat Prof Azzyumardi Azra menulis, kakek HRS adalah seorang pembantu penjajah Belanda di zaman kolonial.

Status Eka yang ditulis pada 8 Juli 2017 itu menyebut nama kakek mertua HRS itu sebagai Sayyid Usman. Kata Eka, Sayyid Usman pernah memberitahukan kepada pemerintahan Belanda untuk hati-hati menghadapi dua kekuatan Islam.

"Pertama, paham dan gerakan pan-islamisme. Dua, gerakan tarekat. Karena menurut Sayyid Usman, dua kekuatan inilah yang secara signifikan mampu melakukan perlawanan serius dengan pihak penjajah," tulisnya, di akun Facebook W Eka Wahyudi.

Terkait masalah tarekat, Sayyid Usman dianggap pandangan yang kurang simpatik walau tidak anti tarekat. Bisa ditarik kesimpulan demikian karena tarekat dianggap mengeksploitasi jamaah dengan menarik uang.

"Karena pandangan inilah, menurut Prof Azra, Sayyid Usman pernah terlibat konflik dengan indegenous ulama Nusantara (kiai pribumi) seperti Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Khatib al-Minangkabawi," lanjuta Eka.

Bahkan kakek HRS itu, mendapat bayaran perbulan dari pemerintahan Belanda sebagai Honorair Adviseur (Penasehat Kehormatan) untuk urusan Arab pada 1899-1914 di kantor Voor Inlandsche Zaken.

Di sana, ia bertindak sebagai mufti yang menggantikan mufti sebelumnya, Syaikh Abdul Gani yang telah lanjut usia. Gajinya yang diperoleh Sayyid Usman dari Belanda sebesar 100 Gulden sebulan, atau sekitar sepertujuh dari gaji yang diperoleh Snouck Hurgronje al kurangajar.

"Sayyid Usman terlibat dalam politik sebagai penasehat pemerintah Belanda dan menjalani hubungan cukup baik dengan Snouck, L.W.C. Van den Berg dan K.F. Holle," demikian kata Eka. Jadi, jika kakek HRS adalah pembantu penjajah, lalu HRS membantu siapa yah selama pakai takbir? Wallahu a'lam.

Sumber: W Eka Wahyudi


Resource Berita : [dutaislam.com/ab]

NU, HTI, dan Pancasila

NU, HTI, dan Pancasila


WartaIslami ~  Salah satu ormas pendukung Perppu No Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU Organisasi Kemasyarakatan adalah Nahdlatul Ulama. Lewat perppu ini ormas yang menolak Pancasila harus dibubarkan. Salah satu korbannya ialah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sejak awal didirikannya tidak hanya mengusung sistem politik khilafah, tetapi juga pada saat bersamaan tidak mengakui Pancasila, menampik UUD 1945, juga mengharamkan demokrasi.

Di banyak negara malah di Turki sendiri, hal mana gagasan politik khilafah pernah diterapkan dan sering kali dijadikan rujukan (1299-1923), ternyata Hizbut Tahrir termasuk ormas yang dilarang sejak 2004. Demikian juga 20 negara mayoritas muslim melarang HT seperti Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Libia, Mesir, Tunisia, Yordania, Arab Saudi, dan Suriah.

Di Indonesia, baru di tangan Presiden Jokowi, ormas ini bisa 'ditertibkan'. Dalam kaidah ushul fiqih (epistemolgi hukum Islam) yang sangat terkenal di kalangan santri, berlaku ketentuan darul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih. Menolak/mencegah kerusakan harus didahulukan daripada melakukan kebaikan.

Pembubaran itu sesungguhnya sama sekali tidak bertentangan dengan roh demokrasi apalagi bagi kalangan yang sama sekali tidak setuju terhadap demokrasi itu sendiri. Namun, itu semata sebagai satu upaya untuk mengukuhkan sendi-sendi bernegara. Pancasila itu adalah kesepakatan para leluhur kita yang tidak boleh dilanggar siapa pun juga dan secara substansial tidak ada satu pasal pun yang bertolak belakang dengan agama.

Pancasila semacam Piagam Madinah dalam konteks kenabian yang menjadi titik temu semua kalangan yang berbeda, menjadi payung tempat bernaung mereka yang berlainan baik agama, suku, ras, ataupun budaya. Atau, dalam istilah Alquran, mitsaqan galidhza (perjanjian yang kukuh) dan siapa saja yang menolaknya dapat dipastikan dia telah mengkhianati perjanjian itu.

Sudah Final

Bagi ormas Nahdlatul Ulama yang akta kelahirannya (1926) jauh lebih tua daripada NKRI (1945), Pancasila dipandang sebagai dasar negara dan ideologi yang telah final, bukan titik antara untuk pada akhirnya hendak mendirikan negara Islam ketika ada sebuah kesempatan. Karena sudah final, menjadi mudah dipahami kalau dengan serta-merta Nahdlatul Ulama menyetujui perppu seperti itu.

Dalam ungkapan Abdurrahman Wahid, "Penerimaan atas Pancasila sebagai asas itu juga dilakukan secara keagamaan, dalam arti mendudukkan agama dan Pancasila pada tempat masing-masing tanpa harus dipertentangkan. Antara Pancasila sebagai landasan ideologis-konstitusional dan akidah Islam menurut paham ahlus sunnah waljamaah sebagai landasan keimanan, tidak dapat dipertentangkan.

Pada hakikatnya orang berasas Pancasila karena kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, itu mengambil salah satu dasar Pancasila, sedangkan berakidah ialah tindakan mengonkretkan Pancasila dalam salah satu bidang kehidupan bangsa, yaitu kehidupan beragama. Hubungan yang saling mendukung antara akidah dan asas, dus antara Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi, ialah hubungan saling mengisi yang kreatif, yang akan menyuburkan kedua-duanya.

Agama dan Negara

Belajar kepada Bung Karno lebih menukik lagi. Bagaimana Soekarno dengan sangat visioner menempatkan agama (Islam) dalam domain spiritualisme (api) dan negara dengan Pancasilanya adalah lain sisi yang tidak semestinya mengurus salah satu agama saja sebagaimana agama salah kaprah kalau melakukan intervensi terhadap urusan negara.

"... agama itu perlu dimerdekakan dari asuhannya supaya menjadi subur. Kalau Islam terancam bahaya pengaruhnya di atas rakyat Turki, itu bukanlah karena tidak diurus pemerintah tetapi justru diurus oleh pemerintah. Umat Islam terikat kaki-tangannya dengan rantai kepada politiknya pemerintahan. Hal ini adalah suatu halangan besar sekali buat kesuburan Islam di Turki dan bukan saja di Turki, tetapi di mana-mana saja karena pemerintah campur tangan di dalam urusan agama, di situ menjadikan ia satu halangan besar yang tak dapat dienyahkan." (Soekarno, 2005: 404-405).

Sebuah bacaan cerdik, sebab Soekarno mengalami sendiri dan melihat bangsa-bangsa lain yang cerai berai karena dipicu sengketa teologis kekanak-kanakan. Pemantiknya sering kali ialah metafisika kebencian karena salah kaprah dalam menafsirkan firman Tuhan dan sesat pikir ketika memaknai kebangsaan kaitannya dengan keagamaan. Soekarno mampu melampaui sentimen keagamaan dan menawarkan visi keagamaan dan kebangsaan yang lapang yang terumuskan dalam Pancasila. Soekarno seakan dibimbing 'wahyu' bahwa bangsanya yang baru saja keluar dari sekapan kaum kolonial dalam waktu sekejap akan berubah menjadi medan pertumpahan darah karena kontestasi keagamaan yang hendak dipaksakan menjadi bagian integral dari batang tubuh kenegaraan.

Sikap Lentur

Sikap NU yang lentur tersebut selaras dengan lima prinsip dasar yang dirumuskan pendirinya, Khadarutsy Syaikh KH Hasyim Asy'ari, yang meliputi: (1) tawasut (moderat, berada di tengah tidak tertarik pada ekstrem kiri juga bukan ekstrem kanan, (2) tawazun (seimbang dalam banyak hal termasuk dalam pemenuhan unsur akal dan wahyu), (3) iktidal (tegak lurus pada kebenaran), (4) tasamuh (toleran, terbuka, tidak memaksakan kehendak, lapang dada, dan menghargai keragaman pendapat), (5) amar marf nahi munkar (bijaksana dalam mengajak kepada kebaikan dan menolak segala bentuk keburukan yang dapat merusak kehidupan).

Maka menjadi bisa dipahami kalau lambang yang dipakai NU mencerminkan sikap politik inklusif dan watak keberagaman yang lapang seperti itu. Bola dunia menyimpulkan kehidupan yang harus dijalani dengan karya dan amal kebaikan dan gambar bumi menunjukkan tempat manusia berpijak dan menekankan kesadaran bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah.

Peta Indonesia menggambarkan semangat nasionalisme dengan tali bersimpul yang melingkari globe. Untaian tali berjumlah 99 (asmaul husna). Bintang besar metafora dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Empat bintang di atas garis khatulistiwa itu terhubung dengan empat Khulafaur Rasidin (Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib). Empat bintang di bawah garis khatulistiwa ialah mata rantai keilmuan imam mazhab yang juga berjumlah empat orang (Imam Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali). Sikap politik inklusif seperti ini yang seharusnya menjadi napas ormas keagamaan di Indonesia di tengah masyarakat yang plural.

Jum'at, 21 July 2017 00:02 WIB.

*Wakil Rektor bidang akademik IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat.

Resource Berita :[dutaislam.com/gg]

Sepuluh Adab Doa Menurut Syekh Muhammad bin Alwi Al-Maliki

Sepuluh Adab Doa Menurut Syekh Muhammad bin Alwi Al-Maliki



WartaIslami ~ Doa selalu dipanjatkan dalam berbagai keadaan, baik sebelum, saat, maupun selesai shalat, sebelum keluar rumah, sebelum belajar, hingga sebelum dan setelah makan maupun saat masuk ke kamar mandi. Doa menjadi hal yang begitu lekat dengan kita, terlebih banyak doa-doa sederhana yang sudah kita hapal sedari kecil.

Sebagaimana ibadah lain, berdoa pun perlu diketahui tatacaranya, etikanya, juga keutamaannya, supaya bertambah iman dan kedekatan seorang Muslim kepada Tuhannya. Allah telah banyak menyebutkan perintah untuk banyak berdoa kepada para hamba-Nya.

Ulama menjelaskan berbagai doa dan adabnya dalam pelbagai kitab. Doa dan tatacara itu tentu diambil dan disarikan dari pemahaman mereka dari sumber-sumber hadits maupun Al-Quran, serta amaliah ulama terdahulu. Salah satu penyusun kitab yang berisi kumpulan doa, wiridan, serta etika berdoa adalah Syekh Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam karyanya, Abwabul Faraj.

Sebagai kitab yang memang khusus disusun berisi doa-doa dan amalan-amalan yang bisa diterapkan sehari-hari, Syekh Muhammad Al-Maliki membuka penjelasan kitab ini dengan pentingnya memerhatikan etika berdoa. Doa yang diperhatikan adabnya akan semakin menambah kesempurnaan doa itu dan menambah nilai kebaikan. Menurutnya, setidaknya ada sepuluh hal yang patut diperhatikan saat seseorang berdoa. Sepuluh hal tersebut adalah

1. Berdoa pada waktu-waktu yang utama. Disebutkan bahwa doa pada momen istimewa seperti hari Arafah, hari Jumat, hari-hari di bulan Ramadhan, serta waktu sepertiga malam terakhir seusai shalat malam, adalah waktu yang mendapat keutamaan, sebagaimana banyak tercantum dalilnya dalam hadits Nabi.

2. Berdoa di keadaan-keadaan yang diutamakan. Keadaan ini bisa tiba di waktu apapun, seperti saat turun hujan, sebelum dan setelah shalat fardhu di masjid, jelang iqamat, di antara dua khutbah Jumat, atau di saat sujud. Jika adab yang pertama tadi menyebutkan tentang waktu-waktu yang memang sudah diistimewakan oleh nash, maka keadaan-keadaan ini adalah momen yang mudah ditemui sehari-hari.

3. Jika memungkinkan, berdoa menghadap kiblat, sembari mengangkat kedua tangan, kemudian mengusap muka setelah berdoa. Dalam hadits disebutkan yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas RA, bahwa saat berdoa Nabi mendongak ke langit, lalu mengangkat kedua tangan sampai lipatan ketiak beliau terangkat.

4. Melirihkan suara, tidak terlampau keras atau hanya digumamkan dalam hati. Membaca doa dengan lisan ini menambah kemuliaan dan kebaikan lisan kita.

5. Jangan terlalu berfokus pada keindahan bahasa dan sajak doa. Berdoa dengan doa yang mudah dan lumrah diamalkan, daripada terlalu bingung denga keindahan bahasa doa tetapi mengabaikan substansinya. Disarankan menggunakan doa-doa yang lebih mudah dihapal.

6. Merendahkan hati, bersikap tenang, disertai dengan rasa mengagungkan Allah disertai pengharapan kepada-Nya.

7. Hendaknya doa dilanggengkan sebagai sebuah rutinitas, lagi selalu meyakini akan diijabah oleh Allah.

8. Bersikap dengan sungguh-sungguh dalam memohon, jika perlu mengulangnya tiga kali. Kurang elok jika berdoa, tetapi malah minta untuk ditangguhkan.

9. Mengawali doa dengan menyebut nama Allah, baik dengan zikir, dilanjutkan syukur kepada Allah, kemudian membaca shalawat Nabi. Jangan terburu-terburu langsung memulai doa dengan permohonan.

10. Selalu bertobat, menjauhi kezaliman, serta menerima kehadiran Allah dengan tulus. Hal ini adalah kunci taqarrub, kedekatan seorang hamba kepada Allah dan menjadi hal yang pokok dalam terijabahnya sebuah doa.

Demikianlah sepuluh adab doa yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam Abwabul Faraj. Semoga etika doa ini bisa dengan mudah kita usahakan untuk diamalkan sehari-hari sehingga menjadi penyempurna ibadah kita, dan menjadi wasilah untuk mendekatkan kita kepada Allah. Wallahu a’lam.



Resource Berita : muslimoderat.net
Mengembangkan Dakwah Tasamuh

Mengembangkan Dakwah Tasamuh



WartaIslami ~ Islam mewajibkan kepada para pemeluknya untuk menyampaikan pesan-pesan Islam melalui dakwah, yaitu panggilan kepada kebenaran agar manusia yang bersangkutan dapat mencapai keselamatan dunia dan akhirat (Q.S. 16:125;22:67; 41:33). Karena dakwah merupakan ”panggilan”, maka konsekuensinya adalah bahwa ia harus tidak melibatkan pemaksaan – lâ ikrâha fid-dîn (Q.S.2:256). Dengan demikian jelas, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain; dan mempersilakan para pemeluk agama lain tersebut untuk menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing. Di sinilah letak dasar ajaran Islam mengenai toleransi antarumat beragama.

Kaitan dengan hal tersebut ada sebuah tesis yang ditulis oleh Fajriatul Mustakharah Mahasiswa UIN Walisongo dengan judul “pemikiran KH Abdurrahman Wahid tentang dakwah tanpa kekerasan” kesimpulan tesis tersebut menyatakan bahwa, dakwah tanpa kekerasan yang dikonsepkan oleh KH Abdurrahman Wahid adalah hidup bersama untuk saling menghargai paham dan pendapat orang lain, meliputi suku bangsa, keyakinan beragama, dan lain-lain.Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, apalagi dengan melihat kondisi Indonesia dengan berbagai macam etnik, suku, budaya, dan agama karena itu untuk menciptakan sebuah kerukunan ditengah pluralis bangsa, prinsip toleransi atau tasamuh mutlak dibutuhkan.

Dakwah Islam yaitu mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dakwah menjadikan perilaku muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnya melibatkan unsur: dai (subjek), maddah (materi), thariqah (metode), washilah (media), dan mad’u (objek) dalam mencapai maqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuan Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (Saputra, 2011: 3).

Istilah toleransi akan selalu berkaitan dengan nilai dan perilaku. toleransi berasal dari bahasa Inggris tolerance atau tolerantia dari bahasa Latin. Kurang lebih diartikan dengan “saling memahami, saling mengerti, dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan”. Dalam terminologi Islam, istilah yang dekat dengan toleransi adalah tasamuh meskipun tidak sepenuhnya sama maknanya, namun secara esensial mengandung tujuan yang diinginkan, yaitu saling memahami, saling menghormati, dan saling menghargai sebagai sesama manusia.

Kasih dan damai merupakan jantung ajaran agama, karena merupakan kebutuhan kemanusiaan. Al-Qur’an mencoba mengembangkan moralitas tertinggi dimana perdamaian merupakan komponen terpenting. Kata ’Islam’ diderivasi dari akar kata ’silm’ yang berarti ”kedamaian.” Visi kasih dalam Islam dibangun di atas dua pilar, yaitu individu dan masyarakat. Hubungan individu-individu yang saleh dan damai akan membentuk masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat yang berdasarkan pada tiga pilar: keadilan politik, yang disebut dengan demokrasi; keadilan ekonomi, yang disebut dengan kesejahteraan dan pemerataan; dan keadilan sosial, yang disebut dengan persamaan dan tersedianya akses politik.

Damai dan kasih adalah merupakan cita-cita agama dan bangsa yang sudah lama dinanti-nantikan oleh pendiri bangsa ini dan sekaligus oleh Islam sendiri. Namun kita tidak bisa menutup mata meskipun toleransi sering dikibarkan namun selalu ada problem dalam mengangkat cita-cita mulia itu. Setidaknya ada sejumlah faktor yang menghambat terwujudnya toleransi menurut Dr. Aceng Muchtar Ghazali sebagaimna yang dimuat di website UIN Sunan Gunung Jati Bandung dengan judul “Membangun Kerukunan Lewat Madrasah” faktor penghambat terwujudnya toleransi yaitu: pertama, pemahaman agama. Seringkali persoalan keagamaan yang muncul terletak pada penafsiran dan pemahaman. Dialog antar agama harus menjadi wacana sosiologis dengan menempatkan doktrin keagamaan sebagai pengembangan pemuliaan kemanusiaan. Kita bisa lihat akhir-akhir ini konflik antarumat beragama misalnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita sebagai masyarakat yang sudah matang dan dewasa pemikirannya seharusnya tidak melihat sebuah konflik dalam skala sempit namun juga harus dalam skala luas. Konflik terjadi tidak serta merta atas atau karena agama bisa jadi karena faktor politik, ekonomi, dll. Karena sejatinya agama itu hadir sebagai pemersatu umat manusia. Semakin matang dan dewasa pemahaman keagamaan seseorang maka akan semakin adil, damai, dan sejahteralah dalam memperlakukan orang lain, karena memang demikian sesensi dari beragama.

Kedua, klaim kebenaran (truth claim). Masing-masing bersikukuh dengan pendapat yang diyakininya bahkan tak segan-segan dengan tindakan anarkisme. Sikap takfiriah pun menjadi jargonnya, setiap yang berbeda dengan pemahaman dan cara pandangnya ia kafirkan dan tak segan-segan memvonisnya sebagai penduduk neraka. Sikap-sikap tersebut dalam konteks berbangsa dan bernegara tentu akan merusak persatuan dan kesatuan berbangsa apalagi dengan kondisi Indonesia yang heterogen dan multikultural akan menjadi tantangan berat untuk menciptakan sebuah peradaban bangsa yang berkeadilan dan berkemajuan.

Dakwah Rahmatan lil alamin

Dakwah yang mengedepankan toleransi dan kesantunan adalah mutlak dibutuhkan untuk membumikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Orientasi dakwah rahmatan lil’alamin adalah supaya Islam tidak dianggap sebagai lawan terhadap agama-agama selain Islam dan memberikan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang mendukung prinsip perdamaian, toleransi, dan mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan (humanitis), Islam melarang membunuh anak-anak, wanita-wanita, janda-janda tua, Islam melarang menghancurkan Gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Sejatinya warga dunia tidak lagi memandang Islam sebagai sebuah agama kekerasan yang mesti dijauhi dan dicurigai. Dalam sebuah tayangan di Youtube seorang pendeta ketika berpidato di sebuah gereja mengomentari salah seorang kawannya yang menjadi pendeta yang mengeluarkan pernyataan bahwa pasca-serangan 11/9 sebagai “hari pembakaran Al-Quran”, seorang Pendeta tersebut menyatakan bagaimana bisa seorang Pendeta yang menjaga tempat Tuhan mengeluarkan pernyataan seperti itu? Yesus pun kalau diminta pendapatnya tidak mungkin akan mengeluarkan pernyataan demikian, Yesus sangat menghargai kitab-kitab suci agama lain, karena kitab suci itu mebawa pesan-pesan perdamaian. Lantas Pendeta tersebut mempertanyakan siapa yang ia wakili mengeluarkan pernyataan seperti itu? Ia menyatakan serangan 11/9 tidak boleh kita menyalahkan Islam sebagai sebuah agama tetapi kalau memang benar terlibat bahwa dalang dari peristiwa 11/9 itu ada oknum yang beragama Islam yang disalahkan adalah secara personal. Karena Islam menurutnya tidak mengajarkan kekerasan, dari segi maknanya Islam berarti damai, tunduk, dan pasrah. Jadi, seorang pemeluk Islam yang taat adalah seseorang yang tunduk, patuh, dan pasrah kepada Allah, tentu Allah adalah Tuhan simbol kebaikan dan pemberi rahmat bagi umat manusia.

Memandang Islam sebagai sebuah agama yang damai sebenarnya sudah banyak diakui oleh agama-agama lain. Pelaku kekerasan, pengeboman, hingga salah faham makna jihad sudah sedikit demi sedikit mulai mereda, bahkan banyak tokoh-tokoh agama di luar Islam sudah memahami bahwa tindakan brutal tersebut di luar makna Islam yang sebenarnya. Mereka memahami bahwa golongan fundamental dalam Islam yang kemudian melegalkan pembunuhan masal atau bunuh diri serta pengrusakan adalah bukan dari Islam, mereka menyadari pelaku-pelaku kekerasan atau teroris tersebut adalah segelintir orang yang salah memahami teks kitab suci. Mereka-mereka itu adalah korban golongan fundamental yang diiming-imingin janji manis syurga dan bidadari-bidadari sehingga mampu merelakan dunianya demi janji kenikmatan yang jauh lebih abadi di akhirat. Karena itu dakwah yang orientasinya rahmatan lil’alamin harus semakin digencarkan oleh umat Islam menyentuh seluruh lapisan masyarakat. dakwah rahmatan lil’alamin itu harus meliputi; dakwah yang mencakup kehidupan realitas sosial umat, dakwah ingklusif, dakwah yang toleran terhadap agama-agama lain, dakwah yang berisi perdamaian, substansi dakwahnya lebih kepada pembangunan sosial dan kerukunan dari pada hanya sebuah doktrin yang berujung fanatisme.


Penulis adalah pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta



Resource Berita : nu.or.id
Kader NU Terima Penghargaan Motivator Bisnis Terbaik

Kader NU Terima Penghargaan Motivator Bisnis Terbaik


WartaIslami ~ Jakarta, NU Online
Kementerian Pemuda dan Olahrga (Kemenpora) bersama Association of South East Asian Nation (ASEAN) menggelar ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY) pada Senin hingga Jumat (17-21/7/2017) di Hotel Sultan, Jakarta.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pemuda perwakilan dari berbagai negara di Asia Tenggara. Tak terkecuali dari Indonesia yang sebagian diwakili oleh kader-kader terbaik Nahdlatul Ulama. Salah satunya Novi Setia Nurviat.

Wakil Sekretaris Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) Kota Bandung menerima penghargaan Bussiness Motivator Rating 1 Google Search langsung dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Kamis (20/7/2017) malam.

Bagi pendiri Yayasan Daarul Adzkar Nusantara itu, penghargaan tersebut sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya mengingat ia hanya fokus pada apa yang sedang ia jalani.

“Tidak pernah terfikirkan sebelumnya untuk masuk dalam nonminasi ajang penghargaan karena selama ini saya lebih fokus dengan apa yang saya kerjakan agar memberi dalampak manfaat bagi orang lain,” ujar pendiri Yayasan Rumah Bintang Nusantara itu.

Tentunya, pemuda yang dalam satu kesempatan pada agenda tersebut menyampaikan kewirausahaan di Indonesia itu, merasa bersyukur dan sangat bahagia.

“Alhamdulillah sebuah kebahagiaan bagi saya malam ini bisa memberikan kebanggaan untuk Indonesia sebagai penerima ASEAN Youth Award 2017,” kata pemilik PT. Inovindo Digital Media itu.

Selain itu, para kader NU dari berbagai organisasi badan otonom itu juga memperkenalkan budaya Indonesia di hadapan puluhan pemuda dari ASEAN. Mereka menampilkan tarian Gemu Famire yang berasal dari Nusa Tenggara Timur.

“Tarian ini gerakannya mudah dan musiknya asyik sehingga di tengah tarian, kami ajak seluruh delegasi untuk menari bersama,” ujar Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jakarta Pusat Muhammad Ammar.

Dalam kegiatan tersebut, para pemuda dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang penanganan Narkoba, terorisme dan radikalisme, serta isu-isu hangat lainnya yang sedang berkembang di wilayah Asean, khususnya pada usia remaja dan pemuda.

Selain Novi dan Ammar, kegiatan bertema Proliferating Youth Enterpreunership in Asean Community juga diikuti oleh Ketua Umum Pengurus Besar Korps PMII Putri (PB Kopri) Septi Rahmawati, Pengurus PB Kopri PMII Nurmanengsi, Ketua Departemen Bidang Sosial dan Politik PP IPNU Biky Uthbek Mubarok, dan Wakil Ketua PW IPNU DKI Jakarta Nasrul Ma’arif. (Syakirnf/Abdullah Alawi)


Resource Berita : nu.or.id
Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri


WartaIslami ~ Jakarta, NU Online
Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengingatkan kepada orang yang diikuti banyak orang awam, semestinya berhati-hati bertindak dan berbicara di hadapan publik. Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menyebutkan hal itu adalah sindirian untuk dirinya sendiri.

“Kataku, suatu ketika, menyindir diriku: ‘Mereka yang memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam), sudah semestinya lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berbicara di hadapan publik’,” ungkapnya melalui akun Facebook pribadinya, Jumat (21/7).

Status itu, ketika dibuka NU Online telah dikomentari sekitar 114 akun lain, 441 dibagikan dan 9 ribu yang menyukai.

Akun Timur Suprabana  mengomentari status tersebut: eyangKakung Ahmad Mustofa Bisri...mestinya sindiran panjenengan terhadap panjenengan menjadi PERINGATAN halus bagi siapapun... karena siapapun 'memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam)'. dan tentu saja juga menjadi PERINGATAN bagi saya...  maturNuwun... insyaallah TIDAK akan saya lupakan..

Akun Ernawaty mengomentari: Leres sanget, Gusyai.. ini peringatan halus bagi saya pribadi atau siapapun terutama publik figur agar tdk berbicara sembarangan.. Matur nuwun, Gus..

Serta komentar beragam dari akun-akun lain yang mendukung status kiai yang dikenal sebagai pelukis dan penyair kelahiran Rembang, Jawa Tengah tersebut. (Abdullah Alawi)


Resource Berita : nu.or.id
Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali

Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali


WartaIslami ~ Dalam sebuah majlis ilmu, Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali (1058-1111 M) ‘disidang’ para ulama Baghdad. Pasalnya,  Al-Ghazali seringkali mengutip sejumlah hadits yang dinilai dla’if (lemah). Bahkan memasukkan hadits-hadits maudhu’ (palsu) dalam beberapa karyanya.

“Kenapa anda berbuat demikian?” tanya seorang ulama menghakimi.

Al-Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam itu menjawab dengan tenang. “Para ulama yang mulia, saya menyeleksi hadits menggunakan cara yang berbeda dengan Anda semua. Cara saya hanya dengan mencium hadits tersebut. Jika tercium semerbak wangi, maka hadits itu shahih. Sebaliknya, jika tidak tercium harum, maka hadits itu dla’if atau maudhu’, Inilah yang disebut dengan thariqah al-mukasyafah (metode penyingkapan metafisika).” Para ulama yang ada di majelis itu pun terkagum.

Kisah tersebut termaktub dalam buku berjudul Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali yang ditulis Mukti Ali. Dalam buku setebal 404 halaman ini, penulis menghimpun 39 kisah ajaib yang dirujuk dari sejumlah kitab-kitab klasik, baik yang ditulis oleh Al-Ghazali sendiri ataupun dari literatur klasik lainnya seperti kitab Nashaaihul ‘ibad  karya Imam Nawawi Al-Bantani.

Di antara kisah ajaib lainnya adalah mengenai kesaksian seorang sufi bernama ‘Arif al-Kabir al-Yamani Ahmad Ash Shayyad yang melihat Imam Al-Ghazali dibawa Nabi Khidir dan para malaikat menuju langit ke tujuh. Ada pula kisah mengenai kemampuan Al-Ghazali yang mengundang para sufi melalui mimpi.

Sejumlah ulama percaya, Al-Ghazali merupakan seorang sufi yang mencapai derajat wali. Misalnya seperti yang dikisahkan Syaikh Al-‘Arif Abi Hasan Al-Syadzili. Mursyid sekaligus pendiri Thariqat Syadziliyah itu bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw berbincang dengan Nabi Musa AS dan Isa AS.

“Apakah ada di antara umat kalian berdua seorang alim seperti Imam Al-Ghazali ini?” tanya Rasulullah.

Keduanya menjawab serentak, “Tidak ada dari umat kami seorang alim seperti Imam Al-Ghazali.”

Mimpi yang diceritakan As-Syadzili kepada Ibnu as-Subuki itu menunjukkan bahwa kewalian Al-Ghazali diakui para Nabi.

Sebagai ulama besar, kehidupan Imam Al-Ghazali banyak ditulis oleh sejumlah akademisi dari Timur dan Barat. Sejumlah karya tulis itu umumnya membahas mengenai biografi Al-Ghazali serta pemikiran-pemikirannya dalam berbagai aspek. Sebagai contoh adalah buku berjudul Konsep Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan yang ditulis oleh Abu Muhammad Iqbal. Namun baru buku berjudul Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali  ini yang memberikan sudut pandang lain dan unik mengenai sosok yang bergelar Hujjatul Islam.

Peresensi, Ade Faizal Alami

Info Buku
Judul : Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali
Penulis : Mukti Ali
Penerbit : Mentari Media
Jumlah halaman : 404 halaman
Cetakan Pertama : Mei 2017


Resource Berita : nu.or.id
Para Pahlawan Nasional dan Dana Rp 1,5 Triliun

Para Pahlawan Nasional dan Dana Rp 1,5 Triliun


WartaIslami ~ Setelah Perppu tentang Ormas disahkan dan pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia, Saya dibanjiri bully tentang PBNU yang menerima dana Rp 1,5 Triliun. Apalagi bully terhadap PBNU itu juga datang dari Emha Ainun Nadjib yang populer dipanggil Cak Nun.

Negara telah menghormati perjuangan kiai-santri hingga mewujudkannya dalam simbol Pahlawan Nasional:

1. Pangeran Diponegoro
2. KH Hasyim Asyari Jombang
3. KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang
4. KH Zainul Arifin Tapanuli Selatan
5. KH Zainal Mustofa Tasikmalaya
6. KH Asad Syamsul Arifin Situbondo
7. KH Wahid Hasyim Jombang
8. KH. Idham Cholid Banjarmasin

Delapan pahlawan dari para kiai di atas telah menghadiahkan negara dalam bentuk sekarang ini. Bahkan mereka juga berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Delapan kiai di atas hanya simbol kehadiran kiai dalam perjuangan, di luar itu terdapat ribuan kiai terlibat dalam perjuangan. Kiai saya, Abdul Djalil, Sa'doellah Nawawi, Hasani Nawawi, dari Sidogiri, pun ikut berjuang dan berkorban.

Kiai-kiai generasi berikutnya menghormati kiai-kiai sebelumnya. Saat Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo, Pahlawan Nasional KH Asad Syamsul Arifin jadi tuan rumah penegasan bahwa Pancasila dan Islam itu tidak perlu dipertentangkan. Indonesia saat ini adalah final.

Muktamar Nahdlatul Ulama 1999 di Lirboyo para kiai menentang gerakan transnasional yang mulai berani muncul dengan aksinya yang tidak mensahkan ibadah Muslim Indonesia (saat itu sudah mulai banyak muncul orang yang secara demonstratif menunjukkan bahwa ibadah Muslim Indonesia harus ikut negara di Arab sana).

Para kiai kembali itba' kepada kiai-kiai pejuang saat Munas Alim Ulama NU 2015 yang tidak setuju terhadap gerakan kelompok atau perorangan di Indonesia yang mengusung khilafah (HTI). "Itu mau merobohkan Indonesia negeri kita." Kata para kiai.

Suara-suara para kiai di sepanjang tahun itu sebagai salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para kiai dan santri yang telah berjuang dengan jiwa harta merebut mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Lalu, sudah kewajiban NU untuk mendukung pemerintah yang membubarkan kelompok manapun--termasuk HTI--yang nyata mau merobohkan Indonesia, negeri warisan para kiai. Bagi NU, menjaga NKRI itu panggilan jiwa. Tak peduli dibully, dipojokkan, dicacimaki, dihina karena sesungguhnya dari masa ke masa pengurus NU itu tak sepi dari hinaan dan cercaan, ancaman fisik dan usaha pembunuhan. Ya, sampai kini.

Uang Rp. 1, 5 Triliun saat ini jadi mars membully NU. Penciptanya para aktivis perusak negeri, penyanyinya para pembenci NU dan pembenci pengurus NU, baik mereka yang genetiknya memang benci NU maupun orang-orang yang ngaku Nahdliyin namun tidak paham NU.

Selalu sejarahlah yang membuktikan ijtihad para kiai NU. Sejarahlah yang membuktikan bahwa para pencaci dan pengancam NU selalu mengalami kenistaan.

Penulis adalah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama


Resource Berita : nu.or.id
Ribuan Santri Minta Jokowi Batalkan Lima Hari Sekoah

Ribuan Santri Minta Jokowi Batalkan Lima Hari Sekoah


WartaIslami ~ Semarang, NU Online
Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) menolak pemberlakuan sekolah lima hari. KMPP memandang Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tentang jam sekolah telah meresahkan masyarakat. Karenanya, ribuan massa turun jalan untuk menuntut supaya Permendikbud yang mengatur lima hari sekolah dibatalkan.

”Kami menolak dengan tegas Permendikbud yang mengatur lima hari sekolah karena tidak sesuai dengan UUD 1945 serta UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Selain itu, Permendikbud itu telah meresahkan masyarakat,” tegas Koordinator Aksi Hudallah Ridwan di sela aksi, Jumat, (21/7) .

Gus Huda, sapaan akrab Hudallah Ridwan, menambahkan Pemprov Jateng dan Pemkab/kota se-Jateng telah sewenang-wenang memaksakan menerapkan lima hari sekolah di setiap satuan pendidikan. Hematnya, pemerintah tidak memperhatikan aspirasi dari masyarakat yang selama ini menolak.

”Kami juga menolak kebijakan Pemprov Jateng dan Pemkab/kota di Jateng yang telah sewenang-wenang menerapkan lima hari sekolah di setiap satuan pendidikan. Jelas pemerintah di Jateng tidak mengindahkan permintaan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat,” tukasnya.

Untuk itu, lanjut Gus Huda, pihaknya mewakili ribuan massa aksi meminta Presiden Joko Widodo untuk segera menerbitkan Peraturan Presiden tentang penguatan pendidikan karakter. Namun demikian, Presiden Jokowi juga harus memperhatikan eksistensi pendidikan keagamaan di seluruh Indonesia.

”Namun, dengan catatan eksistensi lembaga pendidikan yang sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka juga harus diperhatikan. Lembaga pendidikan keagamaan itu sudah terbukti mampu melahirkan generasi bangsa yang berkarakter. Tokoh-tokoh yang lahir dari lembaga pendidikan keagamaan itulah yang selama ini menjaga keberagaman dalam bingkai NKRI,” tandasnya. (Red: Abdullah Alawi)


Resource Berita :nu.or.id
Ini 6 Kriteria Sukses Sejati Menurut Alquran

Ini 6 Kriteria Sukses Sejati Menurut Alquran



WartaIslami ~ Setiap orang ingin sukses. Namun bagi seorang Muslim, bukan sukses biasa dalam arti hanya sukses secara materi. Sukses yang dikejar seorang Muslim adalah sukses sejati, yakni sukses dunia dan akhirat.

Apakah kriteria sukses sejati itu? “Paling tidak ada enam kriteria sukses sejati, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Alquran, Surat Al-Mu’minun (surat ke-23) ayat 1-11,” kata Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS saat mengisi pembukaan pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Bogor, Jumat (21/7).

Kriteria tersebut, kata Kiai Didin, bersifat universal. Artinya, berlaku bagi siapa saja yang sungguh-sungguh menjalakannya.

Pertama, orang yang beriman. “Iman adalah syarat pertama kata sukses sejati,” kata guru besar IPB Bogor itu.

Kedua, kata Kiai Didin,  sukses sejati bisa dicapai dengan cara shalat yang khusyu.

Ketiga, sukses sejati tercapai dengan cara mempunyai etos kerja yang tinggi/produktif. Orang yang ingin sukses sejati meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat. Tidak bermalas-malasan. “Tidak melakukan hal-hal yang tidak baik dan sia-sia, termasuk di antaranya merokok,” kata Didin yang juga direktur Sekolah Pasca Sarjana UIKA Bogor.

Keempat, orang yang suka mengeluarkan sebagian hartanya untuk berzakat dan berinfak. Dalam pendidikan, anak atau siswa harus diajarkan atau dibiasakan berinfak. Kalau anak sudah dibiasakan sejak kecil berinfak, maka akan ringan berzakat dan bersedekah.”Orang yang rajin berzakat dan berinfak, insya Allah akan meraih sukses sejati,” tutur mantan ketua Baznas itu.

Didin mencontohkan, seorang mualaf di Amerika Serikat yang mengeluarkan sedekah setara Rp 2 miliar per minggu. Ada yang bertanya kepadanya, apakah  dia tidak merasa  sayang, membagikan uang Rp 2 miliar setiap minggu. Dia menjawab, justru setelah mengeluarkan infak, semua proyek yang digarapnya  berjalan dengan lancar.

Kelima, menjaga pergaulan dengan beretika yang baik. Hal itu sangat penting, agar terhindar dari pergaulan yang tidak baik atau kemaksiatan sekecil apa pun.  “Keenam, orang yang ingin meraih sukses sejati, harus  menyampaikan amanah kepada yang berhak,” tegas Didin.

Inilah terjemah Surat Al-Mu’minun ayat 1-11:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1)  (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (2),  dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3), an orang-orang yang menunaikan zakat (4),  dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (5), kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa (6), Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas (7), dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (8), dan orang-orang yang memelihara shalatnya (9), mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi (10), yang akan mewarisi surga  Firdaus. mereka kekal di dalamnya.” (QS l-Mu’minun: 1-11)

Manajer Islamic Studies Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) Dr M Sudrajat MPd mengatakan, pengajian Jumat (21/7) ini adalah pembukaan pengajian awal tahun ajaran 2017/2018 untuk para guru dan karyawan SBBI.

“Diharapkan dengan pengajian ini, di samping meningkatkan  kedisiliplinan guru-guru, juga  menambah keilmuan,serta memperkuat silaturahim di antara para guru dan karyawan,” kata Sudrajat.

Sudrajat menambahkan, pengajian guru dan karyawan tersebut, diadakan setiap Jumat pagi, mulai pukul 05.45 sampai 07.00. Pengajian tesebut diawali dengan tadarus bersama, kemudian tausiyah, dan ditutup dengan mushafahah atau bersalam-salaman. “Nara sumber tetap adalah  Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, Ustaz Taufiqurrohman SQ, Ustadz Drs Asep Abdul Wadud, dan Ustaz Muhajir MSi,” papar Sudrajat.


Resource Berita : republika.co.id
Niat Jahat Abu Jahal

Niat Jahat Abu Jahal



WartaIslami ~ Di awal masa perkembangan Islam, ada segelintir orang yang masih belum mau mengikuti petunjuk yang diberikan Rasulullah SAW. Salah satunya adalah seorang pria yang berasal dari kaum Quraisy bernama Abu Jahal.

Bukan hanya tak mau percaya dengan Islam, ia juga sangat membenci Rasulullah. Segala upaya untuk menghapuskan jejak penyebaran Islam telah dilakukannya. Berbagai dusta dan kebohongan disebarkan, tapi selalu berujung pada kegagalan.

Kegagalan tersebut bukannya membuat ia jera untuk menjahati Rasulullah, ia justru terus menghalangi penyebaran Islam. Justru, kegagalan yang selalu ditemuinya membuat rasa benci pada Islam dan Rasulullah semakin memuncak. Bahkan, ia berniat untuk membunuh Rasulullah.

Ketika itu, kaum Quraisy sedang berkumpul. Di dalam rapat pertemuan tersebut, Abu Jahal pun berujar. "Kalian semua, janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ia telah menghina agama nenek moyang kita. Dia mencela apa yang selama ini kita sembah. Aku berjanji kepada kamu sekalian bahwa besok aku akan membawa batu untuk kulemparkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud. Selepas itu, terserah kepada kamu semua, mau menyerahkanku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya," ujarnya.

Niat untuk membunuh Rasulullah ini disambut sorak sorai kaum Quraisy. "Lanjutkan niatmu. Kami tidak akan sekali-kali menyerahkan engkau pada keluarga Muhammad," kata mereka.

Kaum Quraisy yang selama ini merasa resah karena ajaran yang dibawa Muhammad SAW ini merasa bangga salah satu kaumnya mau menghilangkan kesusahan mereka selama ini. Semangat dan dukungan pun diberikan mereka. Di antara mereka bahkan sudah merencanakan sebuah pesta besar jika rencana yang akan dilakukan Abu Jahal tersebut nantinya sudah berhasil terlaksana.

Dengan perasaan bangga karena terus dielu-elukan atas keberaniannya, keesokan paginya Abu Jahal pun pergi ke Ka'bah, tempat di mana setiap pagi Rasulullah sembahyang.  Dengan langkah tegap layaknya seorang ksatria, Abu Jahal dengan sebuah batu besar di tangannya pun mulai mendekati Ka'bah. Di belakangnya berderet-deret rombongan yang berisikan kaum Quraisy yang tadi malam ikut rapat bersamanya.

Abu Jahal dengan sengaja menyuruh mereka ikut agar bisa menyaksikan langsung langkah heroik yang akan dilakukannya. Ia ingin mereka melihat batu yang berada di tangannya bisa tepat dilemparkan di kepada Muhammad, kemudian melenyapkan nyawa Rasulullah.

Selama perjalanan, Abu Jahal sudah membayangkan betapa suksesnya rencana yang akan dijalankannya nanti. Ia membayangkan setelah batu dilemparkan, ia akan menyaksikan kepala Muhammad pecah dan tak bergerak lagi. Senyum mengembang kala ia membayangkan rencana jahatnya tersebut, yang kemudian ia akan disambut oleh kaum Quraisy bak pahlawan yang telah berhasil membunuh musuh nomor satu mereka.

Akhirnya, Abu Jahal dan rombongan pun tiba di halaman Ka'bah. Ia pun melihat Rasulullah sudah berada di tempat tersebut sedang bersiap dan hendak menunaikan shalat subuh. Saat itu, Nabi Muhammad SAW tidak menyadari kedatangan Abu Jahal dan kawan-kawannya. Ia tak pernah menyangka apa yang hendak dilakukan Abu Jahal terhadapnya.

Ketika Rasulullah sudah mulai shalat, Abu Jahal pun perlahan-lahan mendekatinya. Langkahnya sangat pelan dan hati-hati agar tak diketahui Rasulullah. Dari kejauhan, kawan-kawannya memperhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, "Kali ini Muhammad akan benar-benar musnah."

Ketika tinggal satu langkah lagi Abu Jahal berada di dekat Rasulullah dan telah mengayunkan batu yang berada di pegangnya, tiba-tiba ia justru berjalan mundur. Batu yang tadi dipegangnya pun jatuh ke tanah dan mukanya terlihat pucat. Kawan-kawannya pun tercengang melihat kejadian tersebut dan saling berpandangan karena bingung tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kaki Abu Jahal terasa kaku, seolah-olah terpaku ke bumi. Ia tak dapat melangkahkan kakinya meski hanya setapak. Melihat hal itu, kawan-kawannya kemudian menariknya perlahan-lahan agar tak diketahui Rasulullah.

Abu jahal masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Badannya kaku, mukanya pucat, matanya melotot dan terbelalak, mulutnya melongo, dan tak bisa berkata-kata. Kawan-kawannya pun bertanya, "Apa sebenarnya yang terjadi padamu Abu Jahal? Mengapa engkau tak melemparkan batu itu ke kepala Muhammad ketika ia sedang sujud tadi?" Abu jahal tetap membisu. Ia masih kaget dan trauma dengan apa yang terjadi. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.

Setelah lama, akhirnya Abu Jahal sadar dari kondisi kakunya tadi. Ia pun akhirnya mengatakan apa yang ia lihat saat ia mau melemparkan batu pada Muhammad. "Ketika aku hendak melemparkan batunya, tiba-tiba muncul seekor unta raksasa di hadapanku, dan hendak menendang aku. Aku sangat terkejut karena belum pernah melihat unta sebesar itu. Sebab itulah aku mundur. Karena, jika aku melangkah maju pasti aku ditendang unta tersebut dan mati," jelasnya.

Kawan-kawannya pun sangat kecewa melihat penjelasan tersebut. "Abu Jahal, kami memperhatikanmu dari jauh, dan tidak satupun dari kami yang melihat ada unta di depanmu, bahkan bayangannya pun tak ada," kata mereka.

Mereka pun kecewa dengan Abu Jahal. Selama ini, orang yang dianggap sebagai sosok yang gagah dan berani membunuh Muhammad ternyata hanyalah seorang pembohong. Mereka menyangsikan segala keterangan yang diutarakan Abu Jahal. Setelah kejadian ini, seluruh kaum Quraisy tak lagi percaya dengan Abu Jahal. Mereka kehilangan kepercayaan terhadapnya dan semua kata-kata Abu Jahal tak pernah diindahkan lagi.

Allah senantiasa melindungi Rasulullah dan semua umat Islam atas orang-orang kafir yang menjahati mereka. Balasan bagi orang kafir yang menjahati Islam, Allah SWT berfirman dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 15, "Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan."


Resource Berita : republika.co.id
Kekhawatiran Al-Ghazali dan Fenomena Tertutupnya Pintu Ijtihad

Kekhawatiran Al-Ghazali dan Fenomena Tertutupnya Pintu Ijtihad



WartaIslami ~ Jika melihat kembali sejarah pencapaian Islam di masa silam, maka kita akan dikejutkan dengan kenyataan bahwa Islam pernah berhasil mencapai masa keemasan (golden age of Islam) selama beberapa abad. Islam, bahkan berhasil menguasai tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa di bawah kerajaan Turki Utsmani. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan realita hari ini, di mana Islam menjadi kekuatan besar hanya dari segi kuantitas saja, sedangkan secara kualitas masih didominasi oleh agama lain.

Sebagian umat Islam bahkan kehilangan kebanggan terhadap agama ini karena dicap sebagai agama kekerasan. Umat Islam berada dalam keadaan seperti digambarkan Nabi dalam hadisnya yang banyak dari segi jumlah namun tidak ubahnya seperti buih di genangan air (ka ghutsâi al-sayl), tidak bisa berbuat apa-apa.

Berbicara tentang kemajuan Islam di masa lalu, tidak lebih dari sekadar "meninabobokan" jika tidak disertai kesadaran merajut kembali superioritas yang pernah diraihnya. Dengan demikian pertanyaan yang tepat bukanlah "siapa Islam di masa silam?", tetapi "bagaimana Islam di masa silam?". Pertanyaan semacam ini akan menggiring terhadap upaya revitalisasi hal yang pernah dilakukan umat Islam dahulu, seperti dari aspek keilmuan, umpamanya.

Tidak disangsikan bahwa pergesekan peradaban yang terjadi antara Islam karena hasil ekspedisi dengan peradaban lain yang lebih maju seperti Romawi, Yunani dan Persia, mau tidak mau telah membawa umat Islam terhadap kesadaran akan pentingnya pengetahuan. Umat Islam sudah tidak bisa lagi bersikap stagnan dengan hanya mempelajari ilmu lokal-dogmatik seputar tafsir, misalnya, tetapi juga mesti merambah terhadap ilmu rasional seperti filsafat yang notabene dari Yunani, guna mempertahankan eksistensinya.

Kesadaran akan semua itu dapat dilihat dengan upaya Harun al-Rasyid (w. 809), raja kelima Dinasti Abbasiyah dalam mendirikan Rumah Kebijaksanaan (Bayt al-Hikmah) yang berfungsi sebagai perpustakaan, lembaga penerjemahan dan pusat penelitian yang didirikan di Baghdad, Irak.

Sedemikian pentingnya ilmu filsafat ketika itu, sehingga Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111) juga belajar tentang ilmu tersebut. Tokoh yang di kalangan pesantren lebih familiar dengan gelar hujjat al-islâm ini adalah salah satu cendekiawan Muslim yang ahli dalam berbagai ilmu. Hal tersebut karena keberaniannya menyelami dalamnya ilmu yang --diakuinya sendiri-- seperti menyelami mutiara di dasar lautan, dan jika tidak mampu akan membahayakan dirinya sendiri. Al-Ghazali tidak hanya mengkomparasikan pendapat antar mazhab, tetapi lebih dari itu, ia bahkan mencari kebenaran sejati dari berbagai bidang pengetahuan tanpa terkecuali.

Dalam pengembaraannya itulah al-Ghazali tidak saja pernah mengkritik filsuf Yunani, ia juga mengkritik filsuf Muslim, ahli kalam, ta'lîmiyah bâthiniyyah dan para sufi yang menurutnya menjadi kelompok pencari kebenaran paling otoritatif ketika itu. Karen Armstrong, seorang pengkaji agama-agama mengatakan pada akhirnya kegelisahan intelektual al-Ghazali dalam mencari kebenaran sejati yang tak kunjung dijumpanya berujung pada kesakitan yang dialaminya dan hampir terjerumus ke dalam jurang kesesatan.

Al-Ghazali tidak lagi menekuni filsafat, karena dirasa tidak bisa mencapai kebenaran yang dicarinya. Ia mencari kebenaran dengan ilmu tasawuf yang orientasinya tidak lagi beradasarkan indera dan rasionalitas semata, namun lebih menggunakan intuisi dalam menentukan kebenaran. Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa di sinilah al-Ghazali menemukan jati dirinya. Ia berhasil mencapai kebenaran yang menyembuhkan kegelisahan intelektualnya ketika menekuni tentang tasawuf, dan al-Ghazali pun menjadi seorang sufi.

Dalam karyanya, Al-Munqidz min al-Dhalâl (Penyelamat dari Kesesatan), al-Ghazali menceritakan semua pengalamannya dalam berkelana mencari kebenaran. Dan barangkali khawatir bahwa orang lain akan mengalami kejadian yang sama seperti dialaminya, dan khawatir akan ketidakmampuan mereka melewati masa-masa sulit tersebut, ia mengatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup. Pernyataan yang oleh kaum konservatif diterima, namun dihujat oleh kaum progresif karena pernyataan ini sama saja dengan perintah untuk bertaklid.

Meskipun demikian, penting dicatat terkait tuduhan bahwa al-Ghazali menjadi penyebab hilangnya rasionalitas dan kekritisan berpikir dalam Islam, lebih kepada tuduhan yang mengada-ada. Sementara literatur memang sering mengutip pernyataan yang disandarkan pada al-Ghazali ini, tetapi dari karya al-Ghazali sendiri terutama dalam otobiografinya, al-Munqidz min al-Dhalâl, belum ditemukan bahwa ia mengumumkan tertutupnya pintu ijtihad.

Barangkali yang menjadikannya dituduh demikian karena al-Ghazali di dalam magnum opus-nya, Ihyâ' 'Ulûm al-Dîn, mengharamkan ilmu-ilmu rasional seperti logika, filsafat dan ilmu nujum, dan mengkafirkan filsuf Muslim sekaliber al-Farabi dan Ibn Sina. Tindakan al-Ghazali tersebut sama dengan menyatakan, meski secara implisit, bahwa pemikiran rasional tidak diperbolehkan dan karenanya pintu ijtihad sudah tertutup.

Sebenarnya, al-Ghazali tidak menghendaki hilangnya pemikiran progresif-liberal. Adalah pemahaman yang keliru jika dikatakan bahwa ia biang keladi kejumudan berpikir. Sebagaimana disinggung di awal, bahwa al-Ghazali hanya khawatir seseorang yang berusaha menyelami kedalaman ilmu juga akan mengalami kegelisahan seperti yang pernah dialaminya. Satu-satunya jalan menghindari hal tersebut adalah meniti jalan tasawuf yang intuitif.

Sebagai bagian dari tradisi pesantren, penulis memahami betul bagaimana al-Ghazali diposisikan di dalam lembaga pendidikan salaf tersebut. Ia dikenal sebagai "waliyyullâh", di mana segala perkataan serta tindakannya sudah pasti dianggap benar dan mesti diikuti. Persepsi demikian, diakui atau tidak, telah meruntuhkan kenyataan akan sisi kemanusiaan al-Ghazali di satu sisi, dan sama sekali melupakan perjuangan al-Ghazali dalam berkelana mencari kebenaran di sisi yang lain.

Demikian, hemat penulis, perbedaan penilaian terhadap al-Ghazali baik oleh berbagai kalangan, terutama kalangan pesantren, hanya melihat al-Ghazali dari wacana pemikirannya ketika sudah mencapai kebenaran dan sama sekali mengabaikan pemikirannya sebagai alat atau metode, bagaimana akhirnya ia mencapai kebenaran tersebut. Keadaan semacam ini berimplikasi terhadap konklusi bahwa rasionalitas tidak lagi dibutuhkan dalam Islam dan dianggap sebagai bid'ah bahkan kekafiran. Padahal, yang perlu dipahami adalah metode al-Ghazali dalam mencari kebenaran, yakni mencarinya dari titik keraguan terhadap kebenaran yang ada hingga sampai pada kebenaran yang hakiki.

Pemahaman demikian dapat dikukuhkan dari al-Ghazali sendiri ketika dalam kitabnya, Mîzan al-'Amal, mengatakan, "Keraguanlah yang dapat menyampaikan pada kebenaran. Seseorang yang tidak meragukan, berarti dia tidak bernalar. Seseorang yang tidak bernalar, dia sama sekali tidak akan dapat melihat. Seseorang yang tidak dapat melihat, dia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan."

Masalah akan berbeda ketika kekhawatiran al-Ghazali kepada kita disalahartikan. Tidak lagi sebagai langkah antisipasi karena tidak semua orang mampu melewati proses yang sulit seperti al-Ghazali, tetapi dipahami sebagai perintah dari seorang sufi waliyyullâh yang tidak boleh dilampaui dan perkataannya dianggap sebagai "absolute truth". Padahal seandainya dipahami sebagai antisipasi al-Ghazali saja dan langkah kehatian-hatian kita dalam proses mencari kebenaran, maka barangkali Islam tidak akan mengalami kejumudan berpikir seperti hari ini, demikian pula dengan stagnansi agama juga tidak akan terjadi.

Dengan kata lain, meniru al-Ghazali, kita dapat menggunakan epistemologi keraguan dalam maksud mencapai kebenaran sejati. Tetapi jika dirasa tidak mampu maka alternatif lain ialah dengan menempuh jalan sufisme. Sementara keyakinan akan kemampuan kita untuk melewati masa kritis saat proses pencarian kebenaran, telah menggugurkan kewajiban untuk tidak berpikir progresif-liberal dan berijtihad. Ijtihad selalu terbuka karena memang tidak ada yang menutupnya.

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata dan Mahasiswa IAT di STAIN Pamekasan.


Resource Berita : nu.or.id
Kudeta Gus Dur

Kudeta Gus Dur



WartaIslami ~ Saat terjadi kudeta Mesir, aktivis Ikhwanul Muslimin turun jalan. Mohamed Morsi, presiden dari kubu mereka, didongkel jenderalnya sendiri, Abdul Fatah al-Sisi. Mereka melawan. Tentara memberangus gerakan politik islamis ini. Para pemimpin IM tak mau menyerah, mereka menyuarakan perlawanan. Banyak aktivis menjadi martir.

Di Turki, Recep Tayyip Erdogan nyaris didongkel. Pelakunya? Faksi kecil militer. Dari tempat liburannya, sang presiden menyuarakan perlawanan. Pendukungnya bergerak. Arus bawah menguat. Kudeta akhirnya gagal.

Di Indonesia, 2001, Gus Dur versus parlemen. Dengan halus dan piawai, para politisi mempreteli kekuasaan Gus Dur. Mega dan Amien Rais melakukan manuver politik yang biasa disebut sebagai kudeta halus. Sebagian politisi NU menyuarakan perlawanan, sebagian kecil bahkan  membentuk front "perjuangan". Mereka siap mempertahankan Gus Dur di kursi kekuasaan dengan taruhan nyawanya. Pamswakarsa, milisi sipil tak bersenjata api yang disokong militer dan (kabarnya) didanai politisi, mulai terlibat bentrok dengan pendukung Gus Dur, setelah dua tahun sebelumnya baku hantam dengan mahasiswa.

Suara perlawanan terus dikumandangkan. Basis-basis Nahdliyin menggelegak, dibangkitkan dengan narasi terdzolimi. Di tengah kondisi yang memanas ini, bagaimana reaksi Gus Dur sebagai RI-1 yang didukung jutaan massanya? Apakah dia menggelorakan perlawanan dengan menggerakkan pendukungnya? Tidak.

Dengan berkaos dan bercelana pendek, di teras istana negara, ia menyapa para pendukungnya yang sudah siap mati untuknya. Ini penampilannya yang paling eksentrik. Presiden yang menanggalkan simbol kebesarannya dengan hanya mengenakan baju rakyat: kaos dan celana pendek. Bisa saja Gus Dur menggunakan pakaian kebesarannya dan simbol-simbol tertentu untuk menyentuh aspek sentimentil-emosional pendukungnya. Tapi tidak, dia tidak melakukannya. Dengan tertatih-tatih, Gus Dur mengangkat tangan, melambaikan telapak, dan meminta pendukungnya pulang. Pulang? Ya, pulang. Tak ada orasi perlawanan, tak ada narasi sebagai pihak yang dizalimi, juga tak ada glorifikasi jabatan melalui penggunaan jargon-jargon agama.

Para pendukungnya, yang datang dari berbagai daerah, menangis. Bukan karena melihat Gus Dur sebagai pihak yang dizalimi, tapi tangis haru melihat upaya sang tokoh menghindari bentrok sesama anak negeri. Bukankah ini cara Gus Dur mengimplementasikan Ukhuwah Wathaniyah alias persaudaraan tanah air? Elegan, bukan?

"Tak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian," kata Gus Dur suatu ketika. Karena sejak awal sudah memandang sebuah jabatan sebagai sesuatu yang tidak istimewa, maka Gus Dur pun tak lantas melakukan glorifikasi dan mistifikasi atas sebuah jabatan.

Tak percaya? Silahkan cermati komentar Gus Dur di sebuah perbincangan ini, "Saya jadi presiden itu cuma modal dengkul. Itupun dengkulnya Amien Rais."

Rijal Mumazziq Z adalah penulis buku Revitalisasi Humanisme Religius dan Kebangsaan KH. A. Wahid Hasyim


Resource Berita : nu.or.id
Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sesama Orang Beriman Menurut Gus Mus

Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sesama Orang Beriman Menurut Gus Mus



WartaIslami ~ Bangsa Indonesia berdasar atas Ketuhanan Yang Esa seperti tertuang dalam dasar negara Pancasila. Hal itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beriman sesuai ajaran agamanya masing-masing.

Terkait dengan orang-orang beriman ini, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan bahwa sudah sepatutnya seorang hamba yang beriman saling menghormati satu sama lain meski berbeda agama dan keyakinan.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengungkapkan tiga hal yang harus dilakukan sesama hamba beriman agar tercipta persatuan, kesatuan, dan suasana damai dalam kehidupan berbangsa.

“Sesama hamba beriman, kita mesti saling mengingatkan, saling memaafkan, dan saling mendoakan,” ujar Gus Mus yang diungkapkan melalui akun twitter pribadinya, @gusmusgusmu, Jumat (21/7).

Di tengah problematika agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang tak henti mendera bangsa ini, lewat pesan tersebut Gus Mus ingin mengajak seluruh masyarakat beriman di negeri ini untuk bahu-membahu menciptakan kondisi yang lebih baik di segala lini kehidupan.

Ungkapan tersebut juga Gus Mus sampaikan di tengah ironi masyarakat beriman di Indonesia yang justru kerap menumbuhsuburkan praktik-praktik kekerasan, kebencian, dan intoleransi atas nama agama.

Seperti biasanya, taushiyah singkat Gus Mus yang diberi tajuk #TweetJumat tersebut mendapat ribuan respon dari para pengikut (follower)-nya di twitter yang kini berjumlah 1.107.719 follower.

Beragam tanggapan atau balasan pun meluncur di akunnya, baik berupa doa, harapan, dan pesan balik yang ditujukan kepada Rais Aam PBNU 2014-2015 ini. Hingga berita ini ditulis, #TweetJumat Gus Mus tersebut mendapat 1302 suka, 1201 retweet, dan 70 balasan (reply). (Fathoni)



Resource Berita : nu.or.id
Kisah Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi

Kisah Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi


WartaIslami ~ Di dalam cerita sufi dikisahkan tentang adanya seorang yang berminat kepada tasawuf. Dari seorang temannya dia mendengar tentang adanya guru sufi yang agung. Karena itu, dia pergi ke sana dengan menyewa seekor unta dari seorang penggembala.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang berat dan lama, akhirnya sampailah dia ke rumah sang guru. Ternyata, orang yang akan dijadikan gurunya itu justru bersikap sangat hormat kepada si penggembala unta, sampai-sampai si penyewa unta itu terheran-heran.

“Saya datang untuk berguru kepada Anda, tetapi sikap Anda kepada penggembala unta layaknya kepada seorang guru saja,” kata si penyewa unta itu tanpa menutupi kekesalannya. Sang guru, yakni si tuan rumah itu, menjelaskan bahwa si penggembala unta itu memang tidak lain adalah gurunya sendiri.

Cerita seperti itu banyak sekali di dalam tasawuf. Tetapi sebetulnya bukan monopoli tradisi sufisme, sebab hampir semua budaya mengarah ke situ. Dalam pepatah Melayu, misalnya, dikatakan, “Makin berisi, padi makin merunduk.” Idenya ialah tentang sikap rendah hati, seperti ditampakkan oleh si penggembala unta dalam cerita di atas, yang ternyata adalah gurunya guru sufi.

Di kalangan ulama ada pandangan bahwa tidak ada yang tahu seorang wali kecuali wali. Maka kalau kita mengatakan bahwa seseorang itu wali, maka efeknya seolah- olah kita mengklaim diri kita sendiri sebagai wali (orang suci). Dalam hal ini, ungkapan Ali ibn Abi Thalib sangat bagus ketika menggambarkan kesucian, “Sebaikbaik kesucian adalah menyembunyikan kesucian itu.”

Dalam paham keagamaan sehari-hari, kita juga mengenal ada yang disebut sebagai orang-orang yang suci, tempat-tempat yang suci, dan waktu-waktu yang suci. Secara implisit, konsep kesucian itu juga sering kali dikaitkan dengan sejumlah ritual dalam Islam, misalnya zakat, sedekah, wudhu, dan lain-lain; konsep ini juga terkait dengan istilah-istilah seperti subh, quds, mash, dan lain-lain. (Red: Mahbib)


Dikutip dari Ensiklopedi Nurcholish Madjid (Jilid 3), 2012 (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi)


Resource Berita : nu.or.id
Subhanallah!!! Berkat Gadis 15 Tahun Ini, Emoji Wanita Berjilbab Hadir di Apple

Subhanallah!!! Berkat Gadis 15 Tahun Ini, Emoji Wanita Berjilbab Hadir di Apple


WartaIslami ~ Jakarta, NU Online
Perusahaan teknologi raksasa Amerika Apple telah meninjau emoji yang akan dikeluarkan mendatang, salah satu emojinya adalah wanita yang mengenakan jilbab. Saat merayakan hari emoji dunia pada Senin (17/7), perusahaan menampilkan lebih dari dua belas simbol animasi dan itu akan diluncurkan tahun ini di perangkat-perangkat Apple.

Di dalam sebuah pernyataannya, Apple mengungkapkan, emoji baru dimaksudkan untuk mempermudah para pengguna dalam mengekspresikan diri mereka dengan perbedaan yang ada di antara mereka.

Adalah Rayouf Alhumedhi, seorang gadis Arab Saudi yang tinggal di Jerman, yang mengusulkan emoji wanita berhjilbab tersebut ke sebuah konsorsium nirlaba internasional (A Not-Profit International Consortium), Unicode, pada Sebtember 2016. Lalu kemudian, Unicode mengabulkan proposal yang diajukan oleh gadis berusia lima belas tahun itu.

Di dalam kampanyenya, Rayouf menyatakan bahwa beberapa wanita Kristen, Yahudi, dan Islam mengenakan jilbab. Bahkan, ratusan juta muslimah mengenakan jilbab karena itu adalah bagian dari pada ajaran Islam.

Selain wanita berjilbab, simbol baru lainnya yang akan juga akan dirilis adalah orang yang berjenggot, juga orang yang sedang melaksanakan meditasi yoga, dan puluhan simbol lainnya.

Di antara negara terbesar yang menggunakan emoji adalah Amerika Serikat, Meksiko, Brazil, Indonesia, UK, Spanyol, Perancis, Italia dan Jerman. Dilaporkan bahwa setiap harinya ada lima milyar emoji yang dikirimkan di seluruh dunia menggunakan aplikasi Facebook Messenger. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
MUI Minta Ustadz Selebritas Hati-hati Berdakwah

MUI Minta Ustadz Selebritas Hati-hati Berdakwah



WartaIslami ~ Majelis Ulama Indonesia meminta para ustaz pendakwah baik yang aktif tampil di media-media nasional atau apapun hendaknya berhati-hati menyampaikan materi dakwahnya.

Imbauan ini menyusul kekeliruan penyampaian materi ‘pesta seks’ dalam  program “Islam itu Indah” di TransTV, pada Sabtu, (15/7) yang disampaikan oleh dai muda, Syamsuddin Nur.

Ketua MUI Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, mengingatkan publik agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga. “Berdakwaklah mengajak kebaikan dengan cara yang baik (mauidzah hasanah) tanpa menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain,” kata dia saat berbincang dengan Republika.co.id di Jakarta, Kamis (20/7).

Masduki menjelaskan, dalam pertemuan mediasi dan klarifikasi yang dihadiri langsung oleh Ustaz Syamsuddin Nur di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (18/7), pria yang populer dengan sebutan Ustaz Syam tersebut mengakui kekeliruannya dan meminta maaf ke MUI dan publik. Hadir dalam pertemuan tersebut, perwakilan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kementerian Agama.  

Masduki mengatakan, MUI menerima klarafikasi dan permintaan maaf Ustaz Syam dengan catatan agar di kemudian hari bisa lebih hati-hati. “Baik penceramah ataupun stasiun TV yang menyiarkannya,” tutur dia. MUI mengimbau kepada publik agar kekeliruan ucapan Ustadz Syam dianggap selesai dengan klarifikasi dan permohonan maaf tersebut.  


Resource Berita : republika.co.id
Muslim Indianapolis Kenalkan Islam dan Muhammad SAW

Muslim Indianapolis Kenalkan Islam dan Muhammad SAW



WartaIslami ~ Satu bulan setelah papan iklan besar berisi hinaan terhadap Nabi Muhammad dipajang di Indianapolis, komunitas Muslim setempat memberikan balasan. Balasan itu berisi persuasif yang mengajak masyarakat mengenal Islam dan Nabi Muhammad lebih dekat.

Papan raksasa tersebut berjudul  'Truthful Man' atau manusia yang penuh dengan kebenaran sebagai penggambaran Nabi Muhammad. Dalam papan itu juga dituliskan dengan huruf besar siapapun bisa memperoleh buku-buku tentang Islam dan Muhammad. “Dapatkan buku secara cuma-cuma. Hubungi 800-662-ISLAM,” demikian bunyi kalimat yang tertulis dalam bahasa Inggris dilansir dari lama USA TODAY, Kamis (20/7).

GainPeace adalah kelompok Muslim yang menggagas ide pemasangan billboard ini. Dipasangnya papan iklan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang Nabi Muhammad. Iklan berlatar belakang warna putih itu rencananya dipasang sampai 30 Juli mendatang.

Selain lewat pemasangan iklan, kampanye lain yang dilakukan adalah dengan mengirimkan 15 ribu kartu pos tentang Nabi Muhammad. Sebuah video berdurasi 30 detik juga akan dirilis di sosial media. Alasan kuat yang mendasari kampanye ini adalah keberadaan umat Muslim di AS yang mengalami diskriminasi dan menjadi korban pelecehan.

Penelitian dari California State University menemukan bahwa peristiwa kriminal yang melibatkan isu anti-Muslim naik 78 persen di AS sejak 2015. “Penyerangan terhadap kaum Muslim disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai Islam dan Nabi Muhammad,” kata Direktur Eksekutif GainPeace, Sabeel Ahmad.

Oleh karenanya GainPeace menawarkan kesempatan kepada warga non Muslim di AS untuk mengajarkan lebih dalam dari sumber utamanya yakni Alquran.

Sebuah papan besar bernada provokatif terpasang di Indianapolis Juni lalu.  Meski tidak secara eksplisit menghina Nabi Muhammad, namun kalimat baliho berjudul The Perfect Man diyakini menyindir Nabi Muhammad dan Islam. Tak lama baliho tersebut langsung menuai protes masyarakat Muslim.


Resource Berita :republika.co.id
Halal bihalal dengan ormas Islam, Kapolri datang bareng ketua MUI

Halal bihalal dengan ormas Islam, Kapolri datang bareng ketua MUI



WartaIslami ~  Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengadakan halal bihalal dengan Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam di gedung Small Medium Enterprise Cooperative (SMESCO), Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (20/7) malam. Acara tersebut turut dihadiri sejumlah ulama seperti Ketua MUI Ma'aruf Amin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Ketua PBNU Said Aqil Siradj.

Pantauan merdeka.com, Tito hadir di lokasi menggunakan batik berpadu celana warna hitam dan kopiah hitam. Ia datang sekira pukul 20.15 WIB, berbarengan dengan Ma'aruf Amin.


Sejumlah pejabat Polri turut hadir di antaranya Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Iriawan. Acara itu dimulai dengan pembacaan tilawah alquran sekira pukul 20.30 WIB.

Adapun beberapa ormas Islam yang hadir seperti PP GPII, HMI, PB PII, Komli Himpsi Jaya, FKPPI, Kammi, GP Ansor, DPP Syariat Islam, Parmusi, Dewan Masjid Indonesia, PB Putera Pembebas Bangsa, PP Muslimat NU, PP GPI Islam, PP GP Ansor, DPP LDII, PP GPI Islam, FPPI. [gil]


Resource Berita : merdeka.com
KH. Dimyati Ro'is: Kiai Sholeh Darat Pernah Menerjemahkan Fathul Wahab 29 Jilid

KH. Dimyati Ro'is: Kiai Sholeh Darat Pernah Menerjemahkan Fathul Wahab 29 Jilid



WartaIslami ~ Masih banyak sejarah ulama Nusantara yang belum terkuak. Salah satunya adalah mengenai sejarah Kiai Sholeh Darat. Berdasarkan penuturan KH. Dimyati Ro'is atau yang akrab dipanggil Mbah Dim, Kiai Sholeh Darat pernah menerjemahkan kitab Fathul Wahab sebanyak 29 jilid.

Sebelumnya, Mbah Dim mengatakan, RA Kartini pernah meminta kepada Kiai Sholeh Darat, supaya Kiai Sholeh Darat menerjemahkan al-Qur'an pakai bahasa Indonesia, tapi Kiai Sholeh Darat tidak mau. "Sebab orang Belanda tahu bahasa Indonesia. Maka dari itu, Kiai Sholeh Darat mau menerjemahkan al-Qur'an pakai bahasa Jawa Pegon," terang Mbah Dim.

Mbah Dim menjelaskan, orang Indonesia yang pertama kali menerjemah al-Qur'an pakai bahasa Jawa Pegon adalah Kiai Sholeh Darat. "Bahkan Kiai Sholeh Darat pernah menerjemah kitab Fathul Wahab sampai 29 jilid. Itu Kiai Sholeh Darat," jelasnya seusai memimpin Istighosah di Desa Bugel, Kedung, Jepara (15/07/2017).

Mbah Dim melanjutkan, ketika Kiai Sholeh Darat mondok di Makkah, itu bersama dengan Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Abdul Karim Kaliwungu, Kiai Anwar Batang, dan Kiai Nawawi Banten.

"Semuanya kembali ke Indonesia. Kiai Kholil Bangkalan pulang ke Bangkalan, Kiai Sholeh Darat pulang ke Semarang, aslinya Mayong, Kiai Abdul Karim Kaliwungu pulang ke Kaliwungu, Kiai Anwar Batang pulang ke Batang, yang tidak pulang Kiai Nawawi Banten," tambahnya.

"Itu pak.. kelima orang itu min ahlil karomah wal ma'unah. Maka dari itu saya ceritakan kepada anda sekalian, supaya anda dan kita semua mendapat berkahnya orang lima itu," kata Mbah Dim, seraya para jama'ah mengucapkan "Amin".


Resource Berita : dutaislam.com
close
Banner iklan disini