Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi


Tidak ada yang mengelak bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling baik, bahkan sempurna. Satu bukti, ia digelari Al-Amin (seorang yang jujur) oleh kaum Quraisy di zaman pra Islam.

Namun demikian, seluruh keturunan yang mempunyai nasab langsung ke Nabi tidak menjamin bahwa akhlak orang tersebut baik. Alasan untuk persoalan tersebut dijelaskan secara lugas oleh Pimpinan Majelis Kanzus Sholawat Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya, Selasa (24/1) lalu saat menerima rombongan Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta di kediamannya.

Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini menerangkan, meskipun mempunyai nasab langsung ke Rasulullah, belum tentu akhlak orang itu baik karena ini persoalan ma’shum (dilindungi Allah dari dosa).

“Jangan heran jika (keturunan Nabi, red) ada yang berakhlak tidak baik, lah wong mereka tidak di-ma’shum kok,” tutur Habib Luhtfi dengan gaya bicaranya yang khas.

Dengan demikian, menurutnya, belajar dan memahami sejarah secara tuntas sebagai cerminan berpikir dan bertindak menjadi langkah penting, termasuk sejarah perjalanan Nabi Muhammad yang penuh dengan teladan baik dan akhlak yang mengesankan.

Sebutan Habib

Beberapa waktu lalu dalam kunjungannya ke ndalem Gus Mus, Prof HM. Quraish Shihab mengatakan bahwa sebutan Habib mempunyai makna orang yang dicintai sekaligus mencintai. Jadi menurut penulis Kitab Tafsir al-Misbah ini, seseorang dengan sebutan Habib tidak hanya ingin dincintai, tetapi juga harus mencintai.

Prof Quraish memberikan penekanan bahwa ada persoalan mendasar terkait sebutan Habib, yaitu akhlak. Terkait dengan akhlak ini, menjadi alasan fundamental bahwa tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

Dari beberapa literatur, keturunan Nabi dari Sayyidina Husein disebut sayyid, sedangkan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyidah Fatimah binti Muhammad dari hasil pernikahannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Selama ini, sebutan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Hal ini ditekankan oleh organisasi pencatat keturunan Nabi, Rabithah Alawiyah. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati, serta bertakwa kepada Allah.

Tak kalah pentingnya, Rabithah Alawiyah yang dipimpin oleh Habib Zen bin Smith (salah satu Mustasyar PBNU) menekankan bahwa akhlak yang baik menjadi salah satu alasan utama keturunan Nabi disebut Habib. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Inilah Dua Amanat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Inilah Dua Amanat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari


Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membuka Latihan Kader Utama (Lakut) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat, (27/1).

Dalam pidato arahannya, Kiai Said menitipkan dua amanat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari kepada seluruh kader IPNU, yakni Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja) dan kebangsaan.

“Jadi ada dua, amanat Ahlussunnah wal-Jamaah dan amanat kebangsaan,” tuturnya.

Kiai Said menjelaskan, Aswaja mengusung Islam yang toleran, Islam yang moderat. Islam ala ahlussunnah ini juga bercita-cita memperkuat persaudaraan antarumat Islam (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan antarumat manusia (ukhuwah insaniyah).

Hal ini, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, dicetuskan Mbah Hasyim pada tahun 1914. “Ini dicetuskan Mbah Hasyim tahun 1914,” katanya.

Pada kesempatan tersebut juga, hadir Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Anwar Sanusi, dan Direktur Heksa Eka Life Insurance Arry Basuseno. (Syakir Niamillah Fiza/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Dikunjungi Pimpinan MUI, Gus Mus Sampaikan Pesan KH Sahal Mahfudh

Dikunjungi Pimpinan MUI, Gus Mus Sampaikan Pesan KH Sahal Mahfudh


Sejumlah pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkunjung ke kediaman Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah, Jumat (27/01).

Ada tujuh pimpinan MUI yang datang dan bersilaturahim, yakni Wakil Ketua Umum MUI Pusat KH Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Pusat KH Masduki Baidlowi, Wakil Sekjen MUI Pusat KH Salahuddin Al Aiyubi, Ketua MUI Jateng KH Ahmad Daroji, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jateng KH Ali Mufiz, Sekretaris Umum MUI Jateng dan seorang sekretaris MUI Jateng Agus Fathuddin.

“Kami diterima Gus Mus tadi pagi pukul 10.00 WIB, usai pengajian rutin pagi setiap Jumat di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang,” kata Zainut Tauhid, Jumat sore, sebagaimana dilansir sites resmi MUI.

Menurut Zainut, Gus Mus menerima ketujuh pengurus MUI dengan ramah, sembari bercerita yang lucu-lucu tentang kehidupan masyarakat.

“Maksud kedatangan pengurus MUI tak lain untuk bersilaturahmi karena memang telah lama direncanakan,” katanya kepada Gus Mus sembari menyampaikan salam dari Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin.

Sambil menerima sejumlah tamu lain yang datang dari berbagai pelosok daerah, lanjut Zainut, Gus Mus memberi pesan agar para pengurus MUI lebih serius dan aktif mengurus organisasi, agar MUI tak mudah ditumpangi oleh kelompok radikal yang merusak citra Islam dan MUI sendiri.

“Beliau mengingatkan pesan Mbah Sahal (panggilan untuk almarhum KH MA Sahal Mahfudh, Ketua Umum MUI sejak 2003 sampai wafat 2014) agar MUI benar-benar menjaga predikat dan kompetensi ulama yang menjadi bagian dari tugas yang melekat pada MUI,” kata Zainut.

Gus Mus juga berpesan, jika MUI hendak menetapkan fatwa, banyaklah mempertimbangkan kondisi strategis bangsa, tepat konteks dan zaman, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

“Pemberi fatwa harus ‘alimun bizamanihi wa ‘alimun bimujtamaihi (paham kondisi faktual masyarakat). Fatwa selayaknya tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Kalau pemberi fatwa tidak mengetahui fatwanya meresahkan sedang semua orang memahami begitu, maka dia berada di menara gading,” kata Gus Mus seperti ditirukan Salahuddin Al Aiyubi.

Sementara itu kepada Gus Mus, KH Ahmad Daroji, Ketua MUI Provinsi Jawa Tengah menyampaikan banyak sisi positif yang diterima oleh masyarakat dari peran MUI selama ini dalam membimbing masyarakat yang telah berjalan dengan baik.

“Di Jateng, MUI telah banyak berkiprah antara lain dalam kegiatan penanggulangan bahaya narkoba, menangkal paham radikalisme, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan membangun kerukunan hidup dalam berbangsa dan bernegara,” katanya.

Di akhir pertemuan, Gus Mus juga menyampaikan salam untuk Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin.

Zainut Tauhid menambahkan, silaturahim seperti ini sangat penting untuk dilanjutkan khususnya dengan ulama ulama berpengaruh serta tokoh tokoh masyarakat lainnya. Tujuannya, untuk membangun kesepahaman untuk meningkatkan dukungan kepada MUI dalam ihtiarnya melaksanakan tugas tugas keumatan dan kebangsaan.

“Ini akan menjadi energi positif untuk langkah ke depan yang lebih baik,”  pungkasnya. (Red: Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya

Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya


Keluarga Khalifah Umar bin Khattab memiliki pola hidup sederhana. Saking sederhananya, konon kendati menjabat sebagai khalifah di Mekah, pakaian yang dikenakannya memiliki empat belas tambalan. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.

Suatu ketika usai pulang sekolah, Abdullah bin Umar menangis di hadapan ayahnya, Umar bin Khattab. Umar pun bertanya, “Kenapa engkau menangis, anakku?”

"Teman-teman di sekolah mengejek dan mengolok-olokku karena bajuku penuh dengan tambalan. Di antara mereka mengatakan, ‘Hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan putra Amirul Mukminin itu’," ungkap Ibnu Umar dengan nada sedih.

Setelah mendengar curhatan putranya, Amirul Mukminin langsung bergegas menuju baitul mal (kas negara) dengan maksud akan meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya. Karena tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia pun menitipkan surat kepada penjaga kas negara tersebut yang isinya sebagai berikut:

"Dengan surat ini, perkenankanlah aku meminjam uang kas negara sebanyak 4 dinar sampai akhir bulan, pada awal bulan nanti, gajiku langsung dibayarkan untuk melunasi utangku.”

Setelah pejabat kas negara membaca surat pengajuan utang itu, dikirimlah surat balasan:

”Dengan segala hormat, surat balasan kepada junjungan khalifah Umar Bin Khatab. Wahai Amirul Mukminin mantapkah keyakinanmu untuk hidup sebulan lagi, untuk melunasi utangmu, agar kamu tidak ragu meminjamkan uang kepadamu. Apa yang Khalifah lakukan terhadap uang kas negara, seandainya meninggal sebelum melunasinya?

Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Khalifah pun langsung menangis, dan berseru kepada anaknya:

“Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.” Anak itu pun menangis mendengar ujar ayahnya. (Ahmad Rosyidi)

Sumber : nu.or.id
Mbah Maimoen: Islam Nusantara Harus Menjaga Ukhuwah

Mbah Maimoen: Islam Nusantara Harus Menjaga Ukhuwah


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah KH Maimoen Zubair menegaskan bahwa keberadaan Islam Nusantara harus menjaga ukhuwah, baik ukhuwah Nahdliyah maupun ukhuwah Islamiyah.

Hal itu disampaikan kiai yang kini hampir menginjak usia 90 tahun itu saat menerima rombongan tim Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta, Rabu (25/1) di kediaman Komplek Pesantren Al-Anwar.

"Islam Nusantara, ini benar-benar harus menjaga ukhuwah seperti Islam yang dibawa Nabi Muhammad," tegas Mbah Maimoen sembari menerima kenang-kenangan berupa buku Ensiklopedi Islam Nusantara edisi Budaya dari rombongan Tim Anjangsana.

Namun, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini berpesan, setiap kemenangan dan kejayaan mesti ada orang-orang-orang munafik. Mereka tidak akan pernah senang dengan Islam yang begitu ramah, menjaga identitas budaya, serta dapat bekerja sama memperkuat negara di tengah kemajemukan.

"Dulu Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat juga sama. Di tengah kemenangan dan kekayaannya muncul tak sedikit orang-orang munafik di sekelilingnya," tutur kiai kharismatik di kalangan Nahdliyin dan para ulama tarekat ini.

Selain penegasan Islam Nusantara, Mbah Maimoen juga banyak membahas persoalan bangsa yang selama ini berkembang. Usianya yang sudah tergolong sepuh itu tak melewatkan sedikitpun apa yang sedang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam menjelaskan dan menganalisis peristiwa dan fakta sejarah masa lalu, Mbah Maimoen juga terlihat masih sangat lancar, bahkan memberikan sejumlah perspektif dalam membaca sejarah kepada rombongan.

Menurut Mbah Maimoen, sejarah adalah masa lalu, sedangkan saat ini zaman sudah berbeda. Dia ingin menegaskan, sejarah harus dikontekstualisasikan.

"Misal khilafah, itu (khilafah) sudah tidak ada. Saat ini yang ada hanya nasionalisme," terang Mbah Maimoen.

Dalam setiap kesempatan, Mbah Maimoen memang sering menegaskan bahwa sekarang ini yang ada adalah negara bangsa.

Dia mencontohkan ketika berbagai negara dari belahan dunia melaksanakan ibadah haji. Dulu bendera yang digunakan sama, sekarang setiap jemaah haji menunjukkan bendera dari negara masing-masing. Itulah praktik negara bangsa berdasarkan nasionalisme masing-masing.

Dalam pertemuan tersebut, Mbah Maimoen terlihat begitu telaten melayani sejumlah pertanyaan dari KH Moqsith Ghazali, Zastrouw Ngatawi, Rumadi, dan beberapa akademisi lain yang memimpin kegiatan Anjangsana Islam Nusantara. (Fathoni)


Sumber : nu.or.id
Jauhkan Takbir dan Sujudmu dari Keangkuhan

Jauhkan Takbir dan Sujudmu dari Keangkuhan



Oleh Ahmad Ishomuddin

Tugas utama dari diutusnya Nabi Muhammad shalla Allahu 'alaihi wa sallama hanyalah untuk menyempurnakan akhlak. Adapun ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji--misalnya--hanyalah syariat. Syariat artinya jalan yang lurus, sebagai sarana yang wajib ditempuh para hamba Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan Allah Yang Maha Suci itu hanya bisa didekati oleh jiwa-jiwa yang suci dari setiap akhlak yang tercela. Jadi, tujuan ditempuhnya syariat (jalan lurus agama) pada hakikatnya adalah tercapainya tujuan berupa akhlak yang mulia.

Penempuhan jalan lurus berupa berbagai ibadah yang tidak memetik buah akhlak mulia adalah perjalanan yang belum tuntas hingga tujuannya, yang jika tidak dilanjutkan atau hanya berhenti di tengah perjalanan itu berarti telah gagal mencapai tujuan beragama, yakni meraih kesempurnaan akhlak.

Membiasakan shalat wajib pada waktunya dan disempurnakan dengan beragam shalat sunnah harus terus menerus dilakukan hingga jiwa pelakunya selalu berzikir, mengingat Allah, mencecap ketenangan jiwa, mencegahnya dari segala bentuk perbuatan keji dan munkar. Tujuan tersebut jelaslah berupa pencapaian akhlak yang mulia. Mengerjakan puasa, baik fardlu atau sunnah, adalah untuk menahan diri dari segala yang semula mubah (boleh), apalagi dari segala yang diharamkan, karena penempuhan jalan puasanya adalah mengarah pada puncak kesadaran taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dan merasa selalu dalam pengawasan Allah, sehingga ia menjadi manusia yang bertaqwa kepada-Nya. Lagi-lagi tujuan hakiki dari puasa adalah pencapaian akhlak yang mulia. Ibadah kepada Allah yang tidak membuat pelakunya menjadi lebih baik akhlaknya di hadapan Allah dan keseluruhan makhluk-Nya adalah penempuhan jalan lurus yang tidak sempurna, hanyalah kelelahan fisik dan jiwa yang sia-sia, dan kegagalan secara total dalam beragama.

Apabila mengingat, memaknai dan memetik keseluruhan bacaan dan gerakan shalat sepanjang menunaikannya tidak mampu, maka minimal setiap orang yang shalat dapat mengerti makna takbiratul ihram di awal shalatnya, yakni bacaan "Allahu Akbar (Allah Maha Besar), " dan memahami gerakan sujud, yakni meletakkan kening dan anggota sujud yang lain di tempat sujud, suatu tempat terendah (tanah, bumi) saat berhadapan dengan Allah Yang Maha Agung.

Semua itu pada hakikatnya adalah penempuhan jalan menuju perendahan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah Sang Pencipta alam semesta. Sehingga buah dari takbir dan sujud dalam keseluruhan shalatnya adalah menorehkan sikap tawadlu' (rendah hati) sepanjang hayatnya, bukan justru menjadi manusia sombong, merasa hebat, paling suci, paling berpengaruh dan menjadi provokator dalam bekerja sama menebar fitnah, dosa dan saling permusuhan. Teriakan takbir kapan dan di mana saja sungguh tidak dimaksudkan agar para pengucapnya mengumbar syahwat kebencian kepada sesama makhluk-Nya, dan tidak pula bertujuan untuk merusak keharmonisan hidup manusia di muka bumi. Maka, jauhkan takbirmu dari setiap keangkuhan dalam jiwamu!

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU

Sumber : nu.or.id
Dari Ihya' Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia

Dari Ihya' Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia


Sore itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: "Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak seperti akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?

Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka kitab Ihya' di depannya, "Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu". Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:

‎كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ دَائِمَ السُّؤَالِ مِنَ الله تَعَالَى أَنْ يُزَيِّنَهُ بِمَحَاسِنِ الْآدَابِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللهمَّ حَسِّنْ خُلُقِي وَخَلْقِي وَيَقُولُ اللهمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ فَاسْتَجَابَ الله تَعَالَى دُعَاءَهُ وَفَاءً بِقَوْلِهِ عَزَّ وجل {ادعوني أستجب لكم} فأنزل عليه القرآن وأدبه به فكان خلقه القرآن
‎قال سعد بن هشام دخلت على عائشة رضي الله عنها وعن أبيها فسألتها عن أخلاق رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أما تقرأ القرآن قلت بلى قالت كان خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ

Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: "Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar," maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya "Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu" (QS al-Mu'min: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an.

Said bin Hisyam berkata, "Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw." Aisyah menjawab dan bertanya, "Apakah engkau membaca Al-Qur’an?" Aku menjawab, "Iya." Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an."

**
Haji Yunus berkata: "Ujang, kalau akhlak Nabi itu Al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW". Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya':

‎وَإِنَّمَا أَدَّبَهُ الْقُرْآنُ بِمِثْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} وَقَوْلِهِ {إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} وَقَوْلِهِ {وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ من عزم الأمور} وقوله {ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور} وَقَوْلِهِ {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ الله يُحِبُّ المحسنين} وقوله {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لكم} وَقَوْلِهِ {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم} وقوله {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَالله يُحِبُّ المحسنين} وَقَوْلِهِ {اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بعضاً} ولما كسرت رباعيته وشج يوم أحد فجعل الدم يسيل على وجهه وهو يمسح الدم ويقول كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم وهو يدعوهم إلى ربهم فأنزل الله تعالى {ليس لك من الأمر شيء} تأديباً له على ذلك

Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, "Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS al-A'raf: 199)

Di lain ayat, Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (QS al-Nah,: 90)

Dan firman Allah, "Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS Luqman:17)

Begitu juga dengan ayat "Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (QS Asy-Syura: 43) dan "Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik" (QS al-Maidah:13). Kemudian, "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS al-Nur:22).

Lanjut dengan ayat "Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS Ali Imran:134) dan "jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain" (QS al-Hujurat:12).

Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, "Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan" maka, Allah Swt menurunkan ayat, "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu" (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.

**
Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya':

‎وَأَمْثَالُ هَذِهِ التَّأْدِيبَاتِ فِي الْقُرْآنِ لَا تُحْصَرُ وهو صلى الله عليه وسلم الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ بِالتَّأْدِيبِ وَالتَّهْذِيبِ ثُمَّ مِنْهُ يُشْرِقُ النُّورُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ فَإِنَّهُ أُدِّبَ بِالْقُرْآنِ وَأَدَّبَ الْخَلْقَ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
‎ ثُمَّ رغب الخلق في محاسن الأخلاق بما أوردناه في كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق فلا نعيده ثُمَّ لَمَّا أَكْمَلَ الله تَعَالَى خُلُقَهُ أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia". Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" (QS al-Qalam:4).

**
Ujang mengangkat tangan, "Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?"

"Iya, ada..." Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

‎لما أتى بسبايا طيء وقفت جارية في السبي فقالت يا محمد إن رأيت أن تخلي عني ولا تشمت بي أحياء العرب فإني بنت سيد قومي وإن أبي كان يحمي الذمار ويفك العاني ويشبع الجائع ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط أنا ابنة حاتم الطائي
‎فقال صلى الله عليه وسلم يا جارية هذه صفة المؤمنين حقاً لو كان أبوك مسلماً لترحمنا عليه خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق وإن الله يحب مكارم الأخلاق فقام أبو بردة بن نيار فقال يا رسول الله الله يحب مكارم الأخلاق فقال والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا حسن الأخلاق

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, "Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Tha'i"

Rasulullah Saw berkata, "Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mu'min. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya." Nabi lalu memerintahkan, "Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia." Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : "Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!" Nabi Menjawab: "Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya"

**
"Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad," tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

‎عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ الله حَفَّ الْإِسْلَامَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ وَمِنْ ذَلِكَ حُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ وَكَرَمُ الصَّنِيعَةِ وَلِينُ الْجَانِبِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وعيادة المريض المسلم براً كان أو فاجراً وتشييع جنازة المسلم وَحُسْنُ الْجِوَارِ لِمَنْ جَاوَرْتَ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا وَتَوْقِيرُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَإِجَابَةُ الطَّعَامِ وَالدُّعَاءُ عَلَيْهِ وَالْعَفْوُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَالْجُودُ والكرم والسماحة والابتداء بالسلام وكظم الغيظ والعفو عن الناس

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: "Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik." Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang ma'ruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.

**
Haji Yunus menghela napas. "Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?"

Ujang mengangguk: "Intinya adalah akhlak Nabi itu Al-Qur’an."

Haji Yunus berkata: "Benar! Maka kalau kita bertekad membela Al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam Al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela Al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung."

Spontan Ujang berteriak: "takbiiirrrr!!!"

Sumber : nu.or.id
Akibat Tidak Mendapat Ridho Guru

Akibat Tidak Mendapat Ridho Guru


Habib Abdullah Asy Syathiri, Hadramaut, Yaman pernah mempunyai seorang murid yang cerdas, sajian ceramahnya indah. Setiap kali si murid ini akan menyampaikan ceramah di suatu tempat, ia pasti menghadap terlebih dahulu kepada Habib Abdullah untuk meminta izin dan restu.

"Iya, saya kasih izin, semoga engkau dilimpahi keberkahan," kata Habib Abdullah.

Berbagai majelis didatangi oleh murid ini. Namun tiba satu waktu yang dilematis. Ia mendapat undangan mengisi ceramah dalam satu tempat, namun berbenturan dengan jadwal mengaji yang diasuh gurunya, Habib Abdullah.

Timbul dalam hati si murid ini untuk membolos. "Ah, sesekaIi tak masalah lah kalau aku tidak masuk majelis taklim," pikirnya.

Namun tidak seperti biasa, dalam pengajian Ribath Tarim ini, tiba-tiba Sang Guru, Habib Abdullah Asy-Syathiri mengabsen satu persatu nama murid hingga sampai pada panggilan nama seorang murid yang bolos tadi.

"Fulan bin Fulan," Panggil Habib Salim.

"Maaf, dia tidak hadir Tuan Guru," kata salah satu murid yang duduk di majelis.

"Lho, ke mana dia?" tanya sang guru.

"Dia mengisi ceramah di suatu tempat."

"Kenapa dia tidak izin terlebih dahulu kepadaku? Aku tidak ridho dunia akhirat," tegas Habib Abdullah.

Tiba-tiba si murid yang sedang memulai ceramah itu mendadak ia hanya bisa menyampaikan "amma ba'du, amma ba'du, amma ba'du", begitu terus tidak bisa menyampaikan ceramah satu patah kata pun sebagaimana biasanya.

Setelah kejadian itu, si murid di kemudian hari hidupnya selalu terlunta-lunta, miskin dan tidak bisa cemerlang sebagaimana sebelumnya di mana ceramah agamanya nikmat dan ditunggu banyak orang. Ini hilang semua karena dia tidak mendapat ridho guru.

(Ahmad Mundzir)

Sumber : nu.or.id
Gus Mus: Jauhkan 'Allahu Akbar' dari Kesombongan!

Gus Mus: Jauhkan 'Allahu Akbar' dari Kesombongan!


KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan tentang pentingnya memaknai takbir "Allahu Akbar". Manusia amat kecil sekali di hadapan Allah karena itu tidak boleh sombong. Sebab itu, serunya, letakan takbir pada tempat yang suci dan jauh dari kesombongan.

Hal itu ia sampaikan saat memberi taushiyah dalam acara Maulid Akbar dan Istighotsah Qubro bertema "Mencintai Tanah Air Bagian dari Iman" yang diinisiasi oleh remaja Mushala ar-Ridho Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Selasa (17/1).

"Kenalilah dahulu Allah, jika ingin mengenal Allah," pesan Mustasyar PBNU ini kepada jamaah.

Gus Mus pun mengingatkan bahwa  Indonesia adalah rumah, tempat mencari makan, dan tempat di mana kita dikebumikan. Sebab itu, ia mengajak kepada jamaah membangun rasa kepedulian terhadap tanah air yang tidak cukup dengan hanya meneriakkan takbir “Allahu Akbar” melainkan
dengan cara mendengarkan nasihat para ulama salafus shalih, membangun kesejahteraan sosial, memperkuat perekonomian, meningkatkan pertanian, dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya ilmu pengetahuan umum dan agama.

Peringatan Maulid Nabi ini dihadiri para tokoh setempat antara lain KH Abdul Muthi (Rais Syuriyah NU Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), Bahruddin (Dosen STISNU Tangerang), H A. Zaini (anggota DPRD Banten), dan warga NU Kecamatan Sepatan.

A. Zaki Iskandar, Bupati Tangerang dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme ribuan jamaah yang hadir pada kegiatan tersebut. Ia mengingatkan jamaah agar senantiasa menjalankan tradisi dan kearifan lokal yang baik di masyarakat karena hal itulah yang menjadikan Indonesia makin kuat dan tidak akan terkontaminasi oleh ideologi yang dapat merusak NKRI.

"Mulai dari tahlilan, mauludan, rajaban, dan tradisi tradisi shaleh para ulama, kita tidak boleh meninggalkannya, akan tetapi harus kita amalkan dan tradisikan sebagai syiar. Insyaallah, generasi kita (anak muda) akan terhindar dari bahaya radikalisme," ujarnya. (Muhamad Qustulani/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Pertautan Hati Dua Kekasih Allah

Pertautan Hati Dua Kekasih Allah


Dikisahkan, terdapat seorang ulama bernama Habib Abdul Qadir bin Quthban Assegaf, seorang alim yang sangat gemar bersilaturrahim. Kegemarannya bersilaturahim bukan hanya terbatas di wilayah Hadramaut, Yaman saja. Tapi juga sampai mancanegara, bahkan ke pulau Jawa Indonesia.

Hingga suatu saat, ia berkesempatan silaturahim ke daerah Probolinggo, tepatnya di pesantren yang kala itu masih diasuh oleh KH Mohammad Hasan Sepuh Genggong.

Kedatangannya disambut dengan ramah oleh tuan rumah. Lalu terjadilah percakapan antara keduanya. Hingga pada akhirnya Kiai Hasan menanyakan tentang kabar seorang ulama dari Yaman.

“Habib, bagaimana kabarnya Habib Ali Habsyi Seiwun (muallif simtuddurar)?” tanya Kiai Hasan.

Agak terkejut, Habib Abdul Qadir, mendengar pertanyaan tersebut. Sebab ia tahu, Kiai Hasan belum pernah pergi ke Yaman, dan Habib Ali pun sama belum pernah pergi ke Indonesia.

Belum habis rasa terkejutnya, kembali ia mendapat pertanyaan dari Kiai Hasan: “Habib Ali Al Habsyi Seiwun itu kulitnya seperti ini … (menyebutkan), wajahnya begini… (menyebutkan), kalau duduk seperti ini… (disebutkan), jalannya seperti ini… (disebutkan), di kediaman Habib Ali rumahnya seperti ini… (menyebutkan), di depannya ada masjid bernama Masjid Riyadh dan tiangnya ada… (menyebutkan),” papar Kiai Hasan, seolah ia pernah berjumpa langsung dan berkunjung ke kediaman Habib Ali.

Lalu setelah cukup berbincang-bincang, tak lama kemudian, Habib Abdul Qadir bin Qithban pun berpamitan pulang. Sekembalinya dari tanah Jawa ke Yaman. Habib Abdul Qadir bin Quthban mengunjungi kota Seiwun, untuk bertemu dengan Habib Ali Al Habsyi.

Ketika sudah sampai di kediaman Habib Ali Habsyi dan berhadapan dengan beliau, di tengah-tengah perbincangan, Habib Ali Al Habsyi bertanya. “Wahai Sayyid Abdul Qadir, apakah di Jawa engkau bertemu dengan seorang syekh bernama Hasan Jawi?” tanya Habib Ali.

Lalu Habib Ali Al Habsyi berkata: “Syekh Hasan itu kulitnya seperti ini… (menyebutkan), wajahnya seperti ini… (menyebutkan), duduknya begini… (mencontohkan), jalannya seperti ini… (menceritakan), dan di rumahnya begini… (menjelaskan)”.

Hingga Habib Abdul Qadir takjub dengan detailnya penjelasan Habib Ali tentang Kiai Hasan seolah keduanya adalah sahabat karib yang akrab. Padahal Habib Ali tidak pernah ke Indonesia. Begitulah, para kekasih Allah, mereka meski tidak pernah bertemu secara lahir, tapi pertautan batin mereka sangatlah erat.

Tahun berganti tahun, Habib Ali dan Kiai Hasan telah tiada. Hingga, ketika diadakan peringatan Haul ke-105 Habib Ali Habsyi Seiwun di Kota Solo, salah satu dari cucu Kiai Hasan Sepuh Genggong sowan ke Habib Anis, cucu dari Habib Ali.

Saat Habib Anis tahu bahwa yang sowan adalah cucu Kiai Hasan Genggong. Habib Anis tersenyum sambil berkata. “Kakekku dan kakekmu mempunyai ta’aluq batin”.

Sumber : nu.or.id
Saat Bocah 8 Tahun Ini Merengek Ingin Jadi Ansor

Saat Bocah 8 Tahun Ini Merengek Ingin Jadi Ansor


Gelak tawa pecah saat Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar PCNU Kota Tasikmalaya, Jawa Barat di Masjid Agung, Ahad (15/1).

Anak usia delapan tahunan merengek ingin mengenakan seragam Ansor yang dikenakan salah satu peserta pengajian. Sontak saja sang ayah melarangnya karena selain seragam tersebut dikenakan orang lain, juga dijamin terlalu kebesaran.

"Atuh yah hoyong acuk eta (Ayah ingin baju itu)," kata anak tersebut yang diketahui bernama Masyika Anwari (8) ketika disebelah dia ada anggota Ansor yang sedang ngobrol bersama sahabat-sahabatnya.

Ayah sang anak yang juga putra bungsu dari Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Awipari Tasikmalaya itu, Aos Mahrus langsung tertawa lebar. Pasalnya baru pertama kali anaknya merengek keras ingin memakai Seragam Ansor.

"Hahaa... dieu (sini) atuh hab (hab panggilan kepada Abdul Wahab yang mengenakan seragam Ansor) nginjeum sakeudeung (pinjam sebentar)," ujar Aos sambil langsung memberikan seragam tersebut kepada anaknya.

Masyika Anwari pun dengan girangnya memakai seragam Ansor tersebut. Sambil senyum riang, sesekali melihat dan memegang logo dan pin Ansor yang menempel di baju mirip jas berwarna hijau itu.

"Yah hoyong jadi Ansor (Ayah ingin jadi Ansor)," ucapnya serius. Aos pun mengiyakan bahwa Masyika yang akrab dipanggil Akok akan langsung jadi Ansor. "Muhun, Akok mah Ansor Junior nyak (Iya, Akok Ansor junior ya)," ujar Aos.

Menurut Aos, tak menyangka anak semata wayangnya memendam rasa berkeinginan besar jadi Ansor. Pasalnya kalau dia ingin sesuatu pasti bilang. Dan keinginan itu dipendam sejak lama sejak melihat Ansor yang kerap berlalu lalang di Kantor PCNU Kota Tasikmalaya.

"Pantesan lamun saya kaluar sok nanya. Ayah mau kemana? Mau ke NU, ngopi (Pantas saja kalau saya mau keluar rumah suka bertanya mau ke mana), ucapnya. Dan Anaknya pun selalu ingin ikut karena nongkrong di NU, katanya, bakal mendapat berkah.

"Kan pernah nanya kenapa ayah suka ngopi di Kantor NU. Kata Akok biar dapat barokah ya yah," tuturnya.

Selesai pengajian, Akok tak mau melepas seragam ansor. Hingga pulang ke rumah, Akok tetap memakai baju itu dan ingin disimpan kemudian digantung dikamar dia.

"Hab eungke we dibikeun deui seragamna (Hab nanti dikembalikan lagi seragamnya)," kata Aos sambil berlalu meninggalkan Masjid Agung. (Nurjani/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Dua Teladan Akhlak Mbah Arwani Amin

Dua Teladan Akhlak Mbah Arwani Amin


KH Muhammad Arwani Amin, sosok ulama kharismatik yang lahir di Kudus, Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, bertepatan dengan 5 September 1905 M. Selain masyhur sebagai seorang ulama yang sangat mencintai Al-Qur’an, pendiri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an tersebut juga dikenal karena memiliki akhlak dan etiket yang sangat patut untuk dijadikan teladan.

MemuliakanTamu

Dalam keseharian KH Muhammad Arwani Amin, atau masyarakat sekitar biasa memanggil dengan sebutan Mbah Arwani, sangat memuliakan tetangga, para tamu, bahkan seorang pedagang yang menawarkan barang dagangan ke rumahnya. Semua kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, pengusaha, hingga masyarakat biasa mendapat penghormatan yang sama. Mbah Arwani memuliakan mereka tanpa memandang status sosialnya.

Pernah suatu ketika ada pedagang sarung yang datang ke rumah beliau dan menawarkan sebuah sarung biasa (murah) tetapi pedagang tersebut mematok harga yang sangat tinggi. Khadim beliau, yaitu KH Muhammad Manshur yang mengetahui hal tersebut lantas matur (bilang) kepada Mbah Arwani, “Sebenarnya harga sarung itu murah, Mbah. Jenengan sudah ditipu oleh pedagang itu.” Lantas Mbah Arwani menjawab, “Biarkan saja, harusnya kita tetap bersyukur. Syukurlah bukan kita yang dijadikan Allah sebagai penipu.”

Mbah Arwani juga sering melakukan hal-hal yang semestinya “tidak perlu” beliau lakukan. Dikisahkan dari pengalaman seorang yang pernah bertamu di rumah Mbah Arwani. Setiap lebaran saya sowan (silaturrahim) ke rumah Mbah Yai. Tamu-tamu yang datang tentu bukan hanya saya, banyak sekali. Ketika rombongan kami masuk ke ruang tamu, langsung disambut beliau dengan keramahan. Setelah kami duduk, beliau mohon pamit sebentar, lalu menuju pintu dari mana tadi kami masuk.  "Apa yang dilakukan beliau?" Batin saya. Saya terkejut ternyata beliau menata dan merapikan sandal-sandal kami.

Menyenangkan Orang Lain

Menurut KH Sya’roni Ahmadi yang juga merupakan salah satu santri Mbah Arwani berpendapat, setidak-tidaknya ada tiga hal yang sangat menonjol pada diri KH Muhammad Arwani Amin. Pertama, kedalaman ilmu pengetahuan agama (Islam), terutama pengetahuan terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Kedua, ketawadukannya. Sebagai seorang ulama besar yang sudah dikenal masyarakat luas, Mbah Arwani tetap rendah hati dan selalu hormat kepada setiap orang dengan tanpa melihat apakah ia orang terpandang atau hanya orang biasa. Ketika KH Raden Asnawi masih hidup, beliau pernah menganjurkan kepada KH Muhammad Arwani Amin agar mendirikan pondok, tapi beliau menolak dengan alasan di Kudus sudah banyak pondok. Beliau hanya akan urun mengajar saja. Hal ini sebenarnya menunjukkan ketawadukan dan kehalusan perasaannya.

Ketiga, salah satu prinsip hidup beliau adalah idkhalus surur artinya, beliau selalu berusaha untuk menyenangkan dan menggembirakan orang. Itulah sebabnya, dalam pergaulan beliau senantiasa berperilaku yang membuat orang senang karenanya. Sebaliknya, beliau paling tidak suka merepotkan orang lain.”

Di samping kealiman Mbah Arwani sebagai seorang ulama, beliau senantiasa menjunjung tinggi sikap rendah hati dan memuliakan orang lain. Ihwal akhlak dan etiket beliau yang telah dipaparkan di atas, sudah semestinya kita jadikan teladan dalam berperilaku bermasyarakat. Al-Fatihah.

Sumber : nu or.id
Doa Mbah Umar Tumbu untuk NU di Hadapan Kang Said

Doa Mbah Umar Tumbu untuk NU di Hadapan Kang Said


KH Umar Tumbu merupakan figur Kiai yang nasihatnya selalu menyejukkan. Kehadirannya selalu dirindukan oleh umat. Wajahnya yang penuh keteduhan menjadikan siapapun ingin selalu dekat berada di sampingnya.

Banyak ulama yang terkesan dengan kepribadian dan kharismatiknya Mbah Umar Tumbu. Di antara ulama yang memiliki kedekatan dengannya adalah Habib Luthfi bin Yahya dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said).

Kang Said memiliki kesan tersendiri terhadap kiai yang menjadi Mustasyar PCNU Pacitan ini. Tiap kali berkunjung ke Pacitan, pertama yang ditanyakan oleh Kiai Said adalah, di mana dan bagaimana kabar Mbah Umar.

"Mbah Umar pundi (Mbah Umar mana?) Mbah Umar sehat geh," tanya Kang Said tiap kali sampai di lokasi acara. Hal ini menunjukkan kerinduan dan penghormatan Kang Said terhadap ulama sepuh yang menjadi pelita bagi Nahdlatul Ulama itu.

Terakhir, dalam sebuah acara yang digelar oleh PAC GP Ansor NU Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Rabu 31 Agustus 2016, Kang Said berkesempatan bertemu dan bersilaturahmi kembali dengan Mbah Umar Tumbu, yang waktu itu kondisi kesehatannya sudah mulai menurun.

Pada kesempatan itu, Kang Said sempat meminta nasihat, doa, dan restu kepada Mbah Umar agar senantiasa istiqamah dalam memimpin Jamiyyah Nahdlatul Ulama.

Di situ Mbah Umar mendoakan agar Nahdlatul Ulama menjadi semakin besar dan bisa menjadi penuntun umat Islam. Selain itu, Mbah Umar berdoa agar umat Islam selalu dijaga persatuannya dan diberikan keselamatan dunia dan akhirat.

KH Umar Syahid biasa disapa dengan Mbah Umar Tumbu. Ia wafat pada Rabu (4/1) malam pukul 22.55 di RSUD Pacitan. Pada masa remajanya ia menjadi murid KH Dimyathi Abdullah di Pesantren Tremas Pacitan. Selama mondok, Mbah Umar tergolong santri yang kekurangan. Ia terbiasa  hidup prihatin, bahkan konon ia tidak memiliki bekal untuk nyantri. Namun hal itu tidak menyurutkan kegigihan dan ketekunannya untuk belajar.

Cintanya terhadap NU dan pesantren ditunjukkanya dengan tidak pernah absen menghadiri acara yang digelar oleh NU atau pesantren. Ia hadir di tengah para santri dan selalu menunggui acara hingga selesai. Tidak hanya di Pacitan, di tengah kondisi fisiknya yang sudah sepuh, Mbah Umar masih sering menghadiri kegiatan keagamaan di Solo, Wonogiri, Ponorogo, dan Madiun. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
Kisah KH As'ad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Kisah KH As'ad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat


Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. As'ad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai As'ad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai As'ad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai As'ad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai As'ad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Meski demikian, Kiai As'ad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai As'ad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai As'ad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai As'ad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai As'ad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai As'ad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai As'ad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai As'ad. Dengan tenang Kiai As'ad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai As'ad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai As'ad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai As'ad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai As'ad itulah, para preman mendapatkan hidayah.

(Barrur Rohim)

Sumber : nu.or.id
Kisah Jamuan Surga dari Kekasih Allah

Kisah Jamuan Surga dari Kekasih Allah


Puluhan tahun silam, orang Indonesia membutuhkan waktu beberapa bulan untuk melaksanakan ibadah haji. Selain itu, jumlah jemaah haji juga masih sedikit, jadi kesempatan untuk berkenalan dan merekam aneka kenangan dengan orang se-tanah air begitu leluasa.

Setelah mereka pulang ke kampung halaman masing-masing banyak terjalin silaturrahim secara berkelanjutan.

Kiai Ahmad Dalhar, Watucongol, Muntilan, Magelang suatu saat melakukan rangkaian ibadah haji. Ia bertemu dengan seorang lelaki yang sebelumnya belum pernah bertemu sama sekali. Di antara percakapan keduanya sebagai berikut:

“Nama anda siapa?” tanya Mbah Dalhar

“Nur Muhammad”

“Asli mana?”

“Magelang”

“Lho, lha saya ini juga asli Magelang. Anda mana?”

“Salaman”

“Salamannya mana?”

“Ngadiwongso”

Ngadiwongso adalah salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan kata lain, Kiai Dalhar dan Kiai Nur Muhammad satu kabupaten, tapi beda kecamatan.

Setelah berbicara panjang lebar, Kiai Nur Muhammad berpesan kepada Mbah Dalhar “Besok, kalau pulang, bila ada waktu silahkan mampir, pinarak ke rumah saya ya!”

Waktu bergulir hingga cukup lama, Mbah Dalhar tidak segera berkunjung. Begitu pula sebaliknya, Kiai Nur Muhammad juga belum pernah mendatangi rumah Mbah Dalhar sejak kali pertama bertemu saat musim haji kala itu.

Suatu saat, Mbah Dalhar mendapat undangan sebuah acara pada satu tempat, pada era di mana belum banyak masyarakat yang mempunyai kendaraan mewah seperti sekarang ini. Waktu itu Mbah Dalhar diantar oleh H Bukhari, hartawan asal Desa Tirto, Grabag, Magelang.

Selepas pulang dari acara, mobil yang ditumpangi Mbah Dalhar tiba-tiba mogok di tengah jalan. Antara Mbah Dalhar dan H Bukhari tidak tahu di desa mana tepatnya mereka berhenti sekarang ini. Keduanya hanya paham kalau mobil mereka sedang mogok di wilayah Kecamatan Salaman. Keduanya mencoba bertanya kepada warga sekitar.

"Maaf, Tuan, kalau boleh tahu, numpang nanya nih. Ini desa apa ya?"

"Oh, ini desa Ngadiwongso, Ndoro," begitu jawab penduduk setempat.

"Lho, kebetulan sekali. Kalau begitu kita mampir saja ke rumah KH Nur Muhammad. Dia itu kawan baik saat aku haji dulu, katanya ia bertempat tinggal di desa Ngadiwongso," kata Mbah Dalhar kepada H Bukhari sembari mengingat, menerawang beragam kenangan indah bersamanya.

Mbah Dalhar kembali mencoba bertanya kembali pada warga yang barusan ditanya itu, "Apakah Tuan tahu alamat KH Nur Muhammad?"

"Oh, iya, di sebelah sana, Ndoro," jawabnya sembari memberikan arah yang jelas, alamat tidak terlampau jauh dari lokasi.

Bersama H Bukhari, Mbah Dalhar menuju dan kemudian sampai di rumah tujuan, kediaman Kiai Nur Muhammad. Rumahnya persis di samping rumpun bambu nan asri. Dan di sana, layaknya tamu terhormat, keduanya dijamu istimewa. Saking istimewanya, jamuan makanan dan minuman yang disajikan oleh Kiai Nur Muhammad ini membuat H Bukhari tidak akan pernah lupa semasa hidupnya di dunia.

Bagaimana tidak? Setelah menyantap menu sajian Kiai Nur Muhammad, H Bukhari mengaku tak pernah merasa lapar dan dahaga sama sekali. Selain itu, ia menjadi tak punya ketertarikan dengan ragam makanan apapun setelah menikmati hidangan Kiai Nur. Baginya, selama hidup, kelezatan makanan apapun tidak ada yang sebanding dengan milik Kiai Nur Muhammad.

Sekitar sepuluh hari berselang, H Bukhari yang disebut masyarakat sekitar sebagai hartawan kaya raya mendapat undangan pada sebuah acara keluarganya di suatu daerah. Sampai saat itu pula, ia masih merasakan kenyang atas makanan sepuluh hari silam. Ia juga masih tak punya selera makan. Namun, ia kalah ketika tuan rumah sedikit menegurnya karena kurang melegakan hati penyedia makanan.

"Iya ya, kalau anda itu memang orang kaya, pasti tidak berkenan makanan orang miskin seperti kami ini," kata tuan rumah, memelas.

Merasa tidak enak hati, sekaligus iba, H Bukhari memaksa diri untuk menyantap sajian. Nahas, kenikmatan kenyang yang tidak kunjung hilang sejak sepuluh hari lalu itu lenyap, menghilang seketika. Ia kembali merasa lapar dan merasakan sebagaimana sebelum memakan pemberian Kiai Nur Muhammad.

H Bukhari pun kaget dan bertanya-tanya, "ada apa ini sebenarnya?". Setelah ia telisik mendalam, ia kemudian mendapati jawabnya. Ternyata Kiai Nur Muhammad sudah wafat beberapa waktu lalu. Sedangkan jenazahnya dimakamkan di pemakaman yang di sampingnya ada rumpun bambu persis dengan ciri-ciri sekitar perumahan di mana ia mendapat jamuan makan bersama Kiai Dalhar.

Ia menarik kesimpulan, bahwa ia sedang menerima jamuan dari orang yang sudah meninggal. Dan kisah ini menunjukkan tentang kebenaran sebuah ayat yang menyatakan, orang yang meninggal di jalan Allah itu tidaklah mati. Mereka hanya pernah merasakan mati sekali saja. Setelah itu mereka hidup kembali dan diberi rezeki oleh Allah Ta'ala.

ﻭﻻ ﺗﺤﺴﺒﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺃﺣﻴﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻬﻢ ﻳﺮﺯﻗﻮﻥ (ال عمران 169

Jangan engkau menyangka orang yang meninggal di jalan Allah itu mati, melainkan mereka hidup dihadapan Allah dan diberi rizqi. (Q.S: Ali Imron: 169)

Kisah ini disarikan dari mauidzah hasanah KH Thoifur Mawardi pada acara Haul Masyayikh dan Khotmil Qur’an Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah.

(Ahmad Mundzir)

Sumber : nu.or.id
Totalitas di NU Kiai As'ad Syamsul Arifin

Totalitas di NU Kiai As'ad Syamsul Arifin


Dalam sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU), peran KH Raden As'ad Syamsul Arifin demikian sentral. Isyarah KH Cholil Bangkalan yang menyerahkan tongkat, tasbih serta wiridan “ya qahhar” dan “ya jabbar” kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari adalah peran Kiai As'ad.

"Kendati peran Kiai As'ad demikian penting, namun dalam perjalanannya tidak pernah meminta jabatan di NU," kata KH Muhyiddin Abdusshomad, Kamis (12/1).

Kiai Muhyiddin, sapaan akrabnya, juga memaparkan bagaimana kiprah dari Kiai As'ad yang mengawal NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "Sehingga, gelar pahlawan yang disematkan kepada Kiai As'ad sangatlah tepat," kata Rais Syuriah PCNU Jember ini.

Namun demikian, gelar tersebut membawa konsekuensi. "Karena itu, para santri dan juga aktivis NU harus juga mengawal NKRI dan NU ke depan," jelasnya.

Dan yang sangat berbeda dari sosok Kiai As'ad adalah keteguhannya dalam memegang prinsip perjuangan. "Termasuk khidmah NU dengan mengawal para kiai yang terhimpun dalam kelompok Situbondo, berhadapan dengan kalangan Cipete," jelasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Jember tersebut juga menceritakan bagaimana NU kubu Situbondo mampu merangkul kalangan anak muda potensial.

"Ada KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Slamet Effendi Yusuf, Said Budairi, Masdar Farid Mas'udi dan sebagainya," ungkapnya.

Perpaduan para kiai kharismatik seperti KH Mahrus Aly, KH Ali Maksum, termasuk Kiai As'ad, dan kalangan muda, sangat berpengaruh bagi perubahan di NU, lanjutnya.

Dalam perjalanannya, Kiai As'ad juga pernah menyatakan mufarraqah terhadap kepemimpinan NU. "Akan tetapi, kendati melakukan mufarraqah, Kiai As'ad tidak pernah membuat kubu, apalagi NU tandingan," sergahnya.

Dalam pandangan Kiai Muhyiddin, kelebihan sikap tersebut terjadi lantaran pribadi tulus atau mukhlis, sederhana dan bersih dari Kiai As'ad.

Di akhir paparannya, Kiai As'ad juga sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan masyarakat sekitar.

"Termasuk memperhatikan kajian Aswaja baik saat ceramah, maupun mengenalkan ajaran akidah 50 di masyarakat," terangnya. Sehingga, gubahan syiir tersebut dijadikan sebagai pujian jelang shalat rawatib di sekitar Situbondo, pungkasnya.

Kiai Muhyiddin tampil sebagai narasumber pada Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU di aula Ma'had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Banyuputih, Situbondo. Kegiatan tersebut hasil kerjasama alumni ma'had setempat dengan TV9 NUsantara dan PW LTN NU Jatim. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso


Pasangan suami istri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibada umroh telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri itu berangkat umroh 6 Desember dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

“Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung," ujar pria lulusan SMP itu kepada NU Online di tempat bekerjanya, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1), ketika ditanya ongkos keberangkatan.

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang," jelasnya.

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

"Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat (umroh, red.). Ini buktinya saya bisa berangkat umroh," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Habib Luthfi, Sosok Ulama Pemersatu Bangsa dan Penjaga NKRI

Habib Luthfi, Sosok Ulama Pemersatu Bangsa dan Penjaga NKRI


Peringatan Maulid Nabi Agung Muhammad SAW di Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah pada Ahad (8/1) yang berlangsung meriah dan sukses dihadiri ratusan ribu jama’ah, dan Presiden Jokowi, itu semua tidak lepas dari sosok pemersatu umat dari segala lapisan masyarakat.

Dia adalah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN), juga sekaligus sebagai Khadimul Maulid yang dekat dengan siapa saja.

Dari 17 kali kegiatan Maulid Nabi dilaksanakan, sudah tidak terhitung jumlahnya para ulama, habaib, pejabat negara hingga tokoh tokoh non-muslim pimpinan gereja di Kota Pekalongan hingga rakyat jelata tidak pernah absen untuk hadir di acara rutin tahunan.

Habib Luthfi bin Yahya menjadi magnet bagi bangsa yang merindukan kedamaian dan ketenteraman. Simak saja beberapa agenda peringatan maulid selalu bernuansa kebangsaan dan ke Indonesiaan. Ada kegiatan kirab merah putih, apel ikrar kesetiaan NKRI, pawai panjang jimat hingga pentas musik samer.

Presiden Jokowi yang hadir di puncak acara peringatan Maulid Nabi di Kanzus Sholawat mengakui, baru kali ini ada peringatan maulid nabi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan teks Pancasila.

Dari tamu tamu VIP yang hadir selain Presiden Joko Widodo, ada Panglima TNI, Kapolri, jajaran menteri, politisi, Sekjen PBNU, hingga tamu tamu habaib dari luar negeri sebut saja Habib Zaed dari Yaman, Syekh Muhammad Rajab Dieb (Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Syria) dan Syech Mohammad Adnan Al-Afyuni, Mufti Damaskus.

Sekretaris Panitia Maulid, Sumarjo mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan dan isi kegiatan maulid merupakan ide dan gagasan Habib Luthfi selaku khodimul maulid, termasuk para tamu undangan yang hadir.

"Di acara maulid ini, bukan hanya dari umat Islam saja yang hadir, akan tetapi tokoh tokoh agama dari nonmuslim yang selama ini dekat dengan Habib Luthfi selalu hadir setiap tahun," ujar Sumarjo.

Dikatakannya, apa yang telah dilakukan oleh Habib Luthfi adalah bukti pengakuan kemajemukan dan keanekaragaman suku, bangsa dan agama yang ada di bumi pertiwi, apalagi Habib Luthfi tokoh ulama yang sudah mendunia.

Maka tidak heran jika even peringatan maulid maulid dan kegiatan berskala internasional termasuk konferensi ulama internasional yang berlangsung Juli 2016 lalu berlangsung sukses.

Tokoh politik tidak pernah absen di acara Maulid Nabi di Kanzus Sholawat, baik PKB, Golkar, Nasdem, PPP, PD, PAN dan lain lain baik yang dipusat dan di daerah juga menyatu menggemakan sholawat untuk kedamaian.

“Meski mereka beda politik, kalau sudah di Kanzus Sholawat rukun dan kompak,” terang Sumarjo.

Slogan NKRI harga mati yang selalu digelorakan oleh Habib Luthfi setiap saat dan di setiap kesempatan terus bergema dan Maulid Nabi yang berlangsung di Kanzus Sholawat kemarin bukan akhir dari seluruh kegiatan.

Akan tetapi sebuah awal kegiatan peringatan maulid yang terus akan bergulir ke berbagai daerah hari, minggu hingga berbulan-bulan sampai ramadhan tiba bahkan sambung hingga bulan Dzulhijjah.

Kumandang sholawat dan pekik "NKRI harga mati" akan terus bergema sepanjang masa selama kegiatan peringatan maulid yang dimotori Habib Luthfi terus berjalan dari waktu ke waktu untuk cinta Rasulullah dan cinta Indonesia. (Abdul Muiz/Fathoni)  

Sumber : nu.or.id
Habib Luthfy: Saya Dukung Sepenuhnya Presiden Jokowi

Habib Luthfy: Saya Dukung Sepenuhnya Presiden Jokowi


Rais Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfy bin Yahya mendukung sepenuhnya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) Ke-7. Presiden Jokowi, kata Habib Luthfy, adalah presiden terpilih yang sah dan legal.

Demikian disampaikan Habib Luthfy di hadapan ratusan ribu jama'ah yang menghadiri peringatan Maulid Nabi di Kanzus Sholawat Pekalongan, Ahad (8/1). Pasalnya, sebagaimana diketahui pada pilpres kemarin Habib Luthfy mendukung pencalonan Prabowo sebagai Presiden RI.

"Saya tegaskan di sini bahwa saya mendukung sepenuhnya beliau Bapak H Joko Widodo sebagai presiden RI ke-7 karena beliau terpilih secara sah dan demokratis," ujar Habib Luthfy.

Ia sudah mengenal dengan dekat sosok Presiden RI Ke-7. Pada beberapa kali kegiatan ia selalu bertemu dengan Jokowi dan selalu menyampaikan pesan jaga persatuan dan kesatuan untuk tegaknya NKRI.

"Kita tidak mau Indonesia terpecah-belah. Kita tidak mau Indonesia tercerai-berai. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan untuk tegaknya NKRI. Saya dekat dengan TNI dan Polri serta kepada seluruh elemen masyarakat dan bangsa semata-mata untuk keutuhan NKRI," ujar Habib sebelum memulai pembacaan maulid Simtud Duror.

Jokowi menyempatkan hadir secara khusus pada peringatan maulid nabi yang diadakan Habib Luthfy karena dirinya diundang. Kegiatan peringatan maulid nabi yang digelar setiap tahun ini baru bisa dihadiri pada tahun ketiga Jokowi menjabat sebagai presiden.

Sebelum hadir di acara maulid di Kanzus Sholawat, pagi harinya Jokowi menyempatkan hadir di Pondok Pesantren At-Taufiqy asuhan KH Taufiq Wonopringgo Kabupaten Pekalongan. Sedangkan sore harinya usai bertemu Habib Luthfy Jokowi menemui masyarakat Pekalongan di Gedung Juned untuk berbagi sembako.

Saat memberikan kata sambutan, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada khodimul maulid Habib Luthfy bin Yahya yang telah memulai acara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan teks Pancasila.

"Saya mengucapkan terima kasih di awal acara ada menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan teks Pancasila. Itu saya temukan di sini di acara maulid nabi di Pekalongan," ujar Jokowi sambil melirik Habib Luthfy yang berdiri di sampingnya.

Tampak hadir mendampingi Presiden, Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi, Panglima TNI Jend TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jend Polisi Tito Karnavian, Gubernur Jateng, Pangdam IV/Diponegoro, Kapolda Jateng, Bupati dan Walikota se-Jawa Tengah. (Iz/Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang


Riuh canda seperti tak ada habisnya ketika dua orang berkebangsaan Jepang bertamu di Lantai 3 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (6/1). Sore itu keduanya yang hendak menyatakan diri sebagai muallaf disambut hangat sejumlah pengurus harian PBNU.

Sebelum prosesi pembacaan dua kalimat syahadat, Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka, pria dan wanita berkebangsaan Jepang itu, berbincang dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Obrolan berlangsung santai dengan sesekali Kiai Said menyisipkan guyonan.

“Arigatou sasamasu…” sapa Ketua PBNU Marsudi Syuhud yang baru datang sambil membungkukkan badan. Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka tertawa. Seharusnya, arigatou gozaimasu. Di Jepang, ungkapan ini juga tak lazim untuk menyapa orang karena artinya terima kasih. Kiai Said pun ikut tertawa.

Menjadi muallaf atau berpindah agama adalah keputusan besar, bahkan menegangkan bagi sebagian orang. Namun, Kiai Said dalam kesempatan itu seolah hendak menghilangkan ketegangan tersebut dengan gaya komunikasi yang sangat rileks dan cair.

Gaya yang sama juga ditunjukkan Kiai Said ketika membimbing para muallaf lain, seperti Ketua DPD Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Kabupaten Belitung Fendi Haryono pada Juni 2016, atau dua pengusaha Jepang bernama Ogawa Hideo dan Suzuki Nobukazu pada Desember 2015, atau warga asal Jepang Terao Taketoshi pada Maret 2016, dan lain-lain.

(Baca juga: Kunjungi Jepang, Kiai Said Islamkan 12 Orang)

Pertama-tama Kiai Said biasanya bertanya kepada calon muallaf untuk memastikan bahwa pilihannya untuk masuk Islam bukan karena paksaan. Baru kemudian kiai asal Cirebon ini menjelaskan bahwa Islam membawa misi kasih sayang. Selain soal iman, Islam juga menekankan akhlak.

Karena itu, semakin teguh keyakinan seseorang, semakin terbuka ia terhadap perbedaan. Musuh sejati umat Islam bukan perbedaan, melainkan kezaliman dan kebiadaban. “Jika ada orang melakukan teror, aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam, berarti ia tak paham dengan Islam,” tuturnya.

Umumnya pandangan seperti ini pula yang menarik perhatian para calon muallaf memilih NU sebagai pintu untuk memasuki Islam yang moderat dan menjunjung tinggi perdamaian. Seperti Terao Taketoshi yang mengaku tertarik kepada NU karena konsisten menegakkan Islam rahmatan lil alamin.

Usai yakin bahwa perpindahan agama lahir dari kesadaran sendiri, Kiai Said lantas menuntun calon muallaf membaca dua kalimat syahadat kata demi kata. Prosesi pengucapan dua kalimat syahadat berlangsung khidmat meski ia tetap memberi toleransi jika calon muallaf tidak fasih dalam pelafalan rukun Islam pertama itu.

Soal nama baru sang muallaf, Kiai Said tak melakukan perubahan terhadap nama asli. Kalaupun ada perubahan, Kiai Said biasanya menambahkan nama Muhammad, Ahmad, Hasan, Ali, Sholehah, atau nama-nama lain yang akrab di lidah umat Islam kebanyakan.

Selanjutnya, mereka berfoto bersama, makan, atau berbincang lagi. Tak ada pembahasan seputar tema-tema berat tentang konsep ketuhanan, kenabian, atau lainnya. Islam dibahas prinsip-prinsipnya saja dan  yang sejauh diterima para pemeluk baru Islam. “Islam itu mudah. Yang paling penting adalah tidak berhenti belajar,” kata Kiai Said. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Astaghfirullah, Doa Sesudah Makan

Astaghfirullah, Doa Sesudah Makan


Saat guru TPQ (Taman Pendidikan al-Qur'an), sebut saja Kang Zaid mengajar santri-santrinya tentang etika sebelum dan sesudah makan.

"Anak-anak, kalau mau makan kita mengngucapkan apa?” tanya Kang Zaid.

Otong salah satu santri kang Zaid yang pemberani dan aktif, langsung mengacungkan tangan, "Bismillah," jawabnya.

Kang Zaid pun langsung memberi apresiasi, "Pintar kamu Tong, kalau habis makan kamu mengucapkan apa?” tanya balik kang Zaid.

"Astaghfirullah Pak Ustadz," jawab Otong dengan suara lantang dan mimik muka serius.

“lho? Kog gitu Tong?” tanya keheranan kang Zaid.

Otong pun menjelaskan dengan suara lantangnya, “Aku masih ingat waktu bapak Ustadz ngajak kami-kami makan di warung makan saat ziaroh kubur kemarin. Waktu sesudah makan, Pak Ustadz bilang astaghfirullah.”

“Haduuuuh Tong, Tong! Itu waktu pak Ustadz lihat totalan nota makan kita mahal," jelas kang Zaid.

(Ahmad Rosyidi)

Sumber : nu.or.id
Kenapa Jaringan Teroris Gencar Rekrut Perempuan? Ini Penjelasan Kiai Said

Kenapa Jaringan Teroris Gencar Rekrut Perempuan? Ini Penjelasan Kiai Said


Sel-sel jaringan terorisme yang digerakkan oleh Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) saat ini kecenderungannya gencar merekrut perempuan. Tidak hanya dijadikan sebagai sarana indoktrinasi dan distribusi logistik, tetapi juga dijadikan sebagai “pengantin” atau pelaku bom bunuh diri.

Terbukti dengan beberapa perempuan yang tertangkap oleh Densus 88 Polri yang hendak melakukan aksi bom bunuh diri. Kasus pertama penangkapan Dian yulia Novi di Bekasi yang hendak meledakkan diri dengan target Istana Negara.

Kedua, Ika Puspitasari alias Salsabila di Purworejo yang diduga kuat terlibat tindak pidana terorisme, dan ketiga penangkapan Jumiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima, istri Santoso, Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Mengapa gencar merekrut perempuan? Terkait dengan kecenderungan tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mempunyai analisis tersendiri. Penjelasan itu ia kemukakan dalam rubrik opini berjudul "Perempuan dan Terorisme" yang ditulisnya di Harian Kompas edisi Kamis, 5 Januari 2017.

Menurut penjelasan Kiai Said, ada 3 faktor yang menjadi kecenderungan sel jaringan terorisme NIIS gencar merekrut perempuan.

Pertama, katanya, sel NIIS di Indonesia sedang meniru strategi dan taktik NIIS internasional yang melibatkan perempuan dalam peran-peran kombatan yang selama ini didominasi laki-laki.

“Termasuk pasukan artileri dan pasukan bom bunuh diri,” tulis Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Menurut Guru Besar Ilmu Tasawuf itu, saat ini NIIS di Irak dan Suriah mengalami banyak kekalahan. Menjadikan perempuan pelaku bom bunuh diri atau pasukan artileri dianggap efektif untuk mengelabui lawan.

“Kedua, secara sosiologis perempuan, termasuk anak-anak adalah kelompok rentan,” jelasnya.

Dalam kasus Dian, menurut Kiai Said, betapa perempuan dan anak-anak sangat rentan saat  tercuci pikirannya ketika menemukan dan membaca doktrin-doktrin radikal di dunia maya dan di media sosial.

“Dian mengaku sering membuka status-status Facebook para ekstrem jihadis di Suriah dan sering mengonsumsi berita serta artikel keagamaan di situs millahibrahim.net yang berisi ajaran-ajaran radikal Aman Abdurrahman tanpa nalar kritis,” urai kiai asal Kempek, Cirebon ini.

Ketiga, imbuhnya, banyak studi menunjukkan perempuan yang menjadi TKW mengalami banyak kekerasan fisik dan psikis. Kekerasan ini, menurut Kiai Said melahirkan penyakit psikis berupa marah, gelisah, dan putus asa. Hal ini menjadikan mereka makin rentan terhadap pengaruh apapun.

“Butuh mekanisme pertahanan diri secara benar dalam diri setiap orang. Dalam kasus Dian, mekanisme pertahanan diri justru diperoleh dari jalan yang tidak benar,” terang Kiai Said. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Ini Pesan Terakhir Mbah Umar Syahid

Ini Pesan Terakhir Mbah Umar Syahid


Mbah Umar Syahid atau Mbah Umar Sumbu menitipkan sejumlah pesan kepada warga NU untuk menjaga persatuan, menjaga keimanan keluarga, menjaga nama baik NU. Semuanya itu harus dilakukan nahdliyin agar NU tetap menjadi panutan masyarakat.

Demikian pesan terakhir Mbah Umar kepada Wasekjen PBNU H Abdul Mun'im DZ beberapa saat sebelum meninggal di Pacitan.

Menurut H Mun‘im yang hadir di daerah Pacitan untuk pelatihan kader penggerak ranting NU beberapa waktu lalu, Mbah Umar adalah waliyullah yang selalu memikirkan NU dan bangsa Indonesia walaupun hidup dalam penderitaan.

“Karena itu, saat terjadi demo di Jakarta beliau mengajak keluarganya bermujahadah, karena dalam demo itu terdapat kelompok yang ingin melakukan makar. Beliau ulama waskito (makrifat). Walau tidak pernah lihat tv atau pakai hape, tapi ia tahu persis anatomi konflik politik nasional yang sedang terjadi,” kata H Abdul Mun’im DZ.

KH Umar Syahid, tokoh NU Pacitan, wafat dalam usia 123 tahun. Beliau adalah santri dan teman perjuangan KH Hasyim Asyari.  Waktu mudanya sesepuh Pacitan  itu hidup sebagai kiai kelana,  dengan jualan gerabah dan tumbuh. Hasil jualannya digunakan untuk membangun mushalla dan masjid di sekitar Pacitan, Ponorogo, dan Madiun. Karenanya beliau dikenal sebagai Mbah Tumbuh.

Saat peristiwa pemberontakan PKI 1948 di Madiun, beliau sedang jualan di sana. Ia menyaksikan langsung pembantaian para ulama. Ia selamat karena dikira sebagai orang biasa. Dia menjadi informan para kiai dalam menghadapi  PKI karena dia bisa berjalan ke mana saja tanpa dicurigai PKI, pungkas Mun‘im. (Red Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu

Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu


Oleh Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Manusia, lagi-lagi manusia itu membuat kekacauan. Kekacauan yang bagaimana? Kekacauan yang meresahkan esetoris kehidupan mereka, bahkan menjamah kepada ruang-ruang alam hayati yang seharusnya terpelihara. Atas dasar kerapuhan konstruksi dalam diri manusia seakan-akan ialah Tuhan. Lalu berhak berbuat segalanya, yang kadang melupakan bahwa keterbatasan-keterbatasan itu diterpa begitu saja. Karena manusia adalah makhluk sempurna dibanding makhluk hidup lainnya, kesempurnaan itu selalu diusahakan.

Indonesia memiliki keunikan-keunikan yang beragam. Mulai yang berasal dari Yang Maha Pencipta (tanaman, hewan, lautan, hutan, dan sebagainya), sampai yang berasal dari manusia (budaya, kesenian, kesusastraan, teknologi, adat kebiasaan, keberagaman keberagamaan, dan lain sebagainya).

Keunikan tersebut terawat dan tercipta atas dasar kesadaran rohani yang mendorong dan menuntun untuk selalu menenangkan hayati. Di sinilah keaktifan manusia merupakan upaya memelihara Indonesia, bukan sebaliknya menyuguhkan aroma kebisingan yang kacau pada negeri.

Proses pertaubatan pertama dan utama yang harus dilakukan adalah dari manusia itu sendiri. Sebagai makhluk sempurna, manusia seharusnya memiliki kesempurnaan tarian dalam berkolaborasi dengan siapa saja. Kekacauan terjadi jika manusia tidak lagi sempurna. Ketidaksempurnaan terjadi akibat ketidakseimbangan proses percumbuan dengan Tuhan, dan proses pergandengan tangan dengan manusia lainnya.

Dikenal proses horizontal (hablumminallah), dan secara vertikal (hablumminannas). Jika baik silaturrahim keduanya, baik pula tempat tinggalnya yang terucap sebagai negara. Hingga bersenandunglah laku yang terpuji, ilmu yang terdepan, dan kesyahduan perkencanan dengan Tuhan.

Terpuji dalam laku

Laku adalah perbuatan manusia. Perbuatan manusia adalah ciri yang membedakan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Laku terpuji tak akan luruh jika disenandungkan selalu. Adakalanya kondisi kekosongan itu menyelubungi manusia ditengah-tengah profannya dunia. Salah seorang manusia yang mampu mengolah keadaan dengan baik pernah bernada;

Anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli
Uninga sucining gandaning nabi

Sabda Sunan Kalijaga tersebut kurang lebih bermakna bahwa manusia harus memiliki kemampuan menyesuaian diri dengan berkembangnya zaman seperti air yang senantiasa mengalir. Tetapi jangan sampai terhanyut dalam arus. Manusia harus berpegang pada tongkat yang dimiliki. Sebagai makhluk yang beragama, kedua tongkat harus dimanfaatkan sebagai pegangan dalam hidup. Tongkat yang bersenandung hukum alam dan hukum Tuhan.

Dalam mengikuti arus kehidupan dengan perkembangan zaman yang modern, manusia harus selalu mengingat uninga sucining gandaning nabi, ingat akan aroma keharuman Baginda Nabi Muhammad SAW. Aroma itu berupa keluhuran budi Kanjeng Nabi yang menghargai udara-udara kenikmatan Allah SWT. Memiliki pegangan dalam hidup, serta memiliki figur suri tauladan menuntun terciptanya laku yang baik. Hingga manusia dihiasi dengan laku yang terpuji.

Terdepan dalam ilmu

Laku harus diperbaiki terlebih dahulu, sebelum mengisinya dengan ilmu. Ketika laku terpuji menghiasi manusia, manusia akan mudah menerima ilmu yang luhur. Ilmu yang merasuki manusia kemudian masuk dalam diri bersamaan cahaya dari sang Maha Pengasih. Ilmu ini akan menjadi ilmu saja ketika manusia melahap an sich.

Tanpa adanya laku yang menghiasinya. Keberhasilan keilmuan nampak pada keberlangsungan hidup yang sejahtera, kerukunan yang damai, tanpa kekacauan yang saling menjatuhkan. Jika ini tercapai maka alam pun akan bersorak ria menyaksikan dirinya yang diilmuni. Bukti dari diilmuninya yaitu keselarasan hayati.

Sebenarnya konsep “Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu” saya peroleh dari tempat saya mengais ilmu akibat kelaparan yang saya alami di Yayasan Tarbiyatul Banin yang tegak berdiri di atas pertanahan Bumi Mina Tani (Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Pati) yang selalu saya rindukan. Tempa pendidikan tersebut memiliki visi yang indah “Terdepan dalam Ilmu, Terpuji dalam Laku", terbalik dengan apa yang saya pikirkan. Namun itu tak masalah. Saya harus bersyukur dilahirkan dari lingkungan yang baik.

Hubungan vertikal yang baik, menyuguhkan kondisi yang segar di hadapan Tuhan. Manusia dengan rasa kasih sayang mampu merawat keharmonisan alam hayati dengan segala unsur di dalamnya. Laku baik dan ilmu mumpuni akan membuat hubungan horizontal semakin indah pula. Manusia akan semakin mengilmuni apapun yang dihadapannya, segala sesuatu yang diilmuni melahirkan menanamkan rasa cinta.

Cinta akan memberikan jalan untuk berkencan dengan Tuhan. Kasih sayang melekat dalam diri manusia menjauhi kekacauan. Alangkah indahnya Indonesia jika terdidik oleh manusia-manusia yang mempu mengolah dirinya sehingga berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Berkencan dengan Tuhan melalui jalan cinta segera diwujudkan.

Jalan Cinta

Cinta, aku memanggilmu cinta sebagai yang patut dicinta
Jalan, aku menyebut kau jalan sebagai tujuan
Cinta, aku mencintai engkau sebagai ungkapan kasih sayang
Jalan, aku membutuhkan jalan sebagai penenang
Cinta, aku memuji engkau sebagai sang Maha Segala
Jalan, aku membuka tabir sebagai pertaubatan
Cinta, aku merindukanmu sebagai keabadian kita
Jalan, aku mencarimu selalu sebagai kenikmatan

Semarang, Januari 2017

Sumber : nu.or.id
Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya

Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya


Semakin tinggi derajat seseorang, semakin pula ia dihormati. Tapi Rasulullah punya nilai lebih. Sebagai manusia yang maksum dan pembawa risalah suci, sudah sepantasnya Baginda Nabi Muhamad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat pemuliaan yang tinggi dari sahabat-sahabatnya. Namun nyatanya, justru Rasulullah-lah yang terdepan meneladankan sikap itu kepada mereka. Beliau yang enggan dihormati tampil sebagai sosok sangat menghormati orang lain.

Tentang hal ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani. Suatu kali Rasulullah menggelar sebuah pertemuan dengan para sahabatnya. Yang hadir cukup ramai, sehingga majelis itu terlihat sesak.

Di tengah padatnya peserta forum, Jarir bin Abdullah datang terlambat. Tentu ia tak mendapat jatah tempat duduk. Rasulullah yang mengetahui kondisi Jarir segera menggelar jubahnya lalu menyuruh Jabir duduk di atasnya.

Hati Jarir terenyuh menyaksikan akhlak luar biasa Rasulullah. Alih-laih mau duduk di atas pakaian Nabi, ia malah mengambil pakaian tersebut, mengangkatnya, lalu menciumnya sambil menangis tersedu-sedu. Batin Jarir, bisa-bisanya Rasulullah begitu menghormati dirinya di depan para sahabat yang lain padahal dia telat?

“Saya tak akan duduk di atas pakaianmu (ya Rasulullah). Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan diriku,” kata Jarir yang haru campur kagum dengan sifat Rasulullah.

Rasulullah adalah sosok yang tak gandrung dengan penghormatan. Beliau lebih sering melayani ketimbang dilayani. Nabi menjahit pakaiannya sendiri yang bolong. Menyelesaikan keperluannya tanpa merepotkan orang lain. Pribadinya yang tawaduk juga enggan bila tangannya dicium, meski bukan berarti mengharamkannya. Demikianlah Rasulullah, puncak kemuliaannya tampil sempurna justru dalam kerendahatiannya. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan


Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah, mukminin, muttaqin,
kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.
Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi "HAJI"
Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nya
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan
Memukul, mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

KH Ahmad Mustofa Bisri

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini