Sindiran Gus Mus kepada Para Pembaca Al-Qur’an

Sindiran Gus Mus kepada Para Pembaca Al-Qur’an


Wartaislami.com ~ Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri menerangkan bahwa Al-Qur’an itu memiliki kandungan sastra yang sangat tinggi, sehingga untuk memahaminya diperlukan berbagai ilmu, di antaranya seperti Ilmu al-Qur’an, ilmu tafsir al-Qur’an, ilmu asbabun nuzul al-Qur’an.

“Ini cuma lihat terjemahan Departemen Agama, berfatwa lagi. Ini luar biasa beraninya. Ini kacau, masyarakat jadi kacau. Kalau di atas langit ada langit lagi, maka di bawah ada yang lebih bumi lagi. Di bawah yang bodoh, masih banyak yang bodoh lagi,” terang Gus Mus beberapa waktu lalu saat mengisi pengajian yang diselenggarakan oleh LDNU Jawa Barat, di Masjid Raya Bandung.

Dia menuturkan kandungan Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menerangkan bagaimana ciri-ciri perilaku dan perbuatan orang mukmin, munafiq, dan kafir. “Saya sekarang kalau membaca Al-Qur’an itu merasa tersinggung terus, jadi agak malas membaca Al-Qur’an,” candanya disambut tawa oleh ribuan hadirin.

“Al-Qur’an kok suka menyinggung. Dalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan tentang kelakuan orang munafik, ini (ayat, red) untuk orang kafir kok mirip saya. Pada saat membaca ayat untuk orang mukmin, kok sama sekali tidak mirip aku, jadi aku tersinggung,” ungkap Gus Mus.

Pengasuh pesantren Raudhatut Thalibin Letah, Rembang itu mengutip sebuah ayat, Aandzartahum am lam tundzirhum la yu’minun, bilang nggak dibilangin ya begitu, ngotot, pokoknya begini, pokoknya begitu. Itu bukan untuk orang Islam, tapi untuk orang kafir. Tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta, tampaknya kompak tapi hatinya kemana-mana. Ini siapa? Bukan orang mukmin, tapi untuk orang-orang munafik.”

Di samping itu, Gus Mus juga menjelaskan tentang dua pembagian orang Islam, yakni mukmin dan munafik. Istilah munafik itu kebalikannya mukmin. Oleh karena itu, mukmin adalah orang yang imannya berada di luar dan dalam, sedangkan orang munafik imannya hanya di luar saja.

“Jadi, anda tidak bisa mengatakan seseorang munafik, kenapa? Karena anda tidak tahu dalamnya, kalau anda bisa berarti anda terlalu berani, mengaku seperti kanjeng Nabi Muhammad,” tegas Gus Mus. (M. Zidni Nafi’/Fathoni/NU Online)
Hukum Berpuasa di Bulan Rajab

Hukum Berpuasa di Bulan Rajab


Rajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam  untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab.

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Hukum Puasa Rajab
Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda "Puasalah pada bulan-bulan haram." (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa'i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya'ban. Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'"

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum  di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab dan  Muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Hadis Keutamaan Rajab
Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab:

• Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdoa:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

• "Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan."

• Riwayat al-Thabarani dari Sa'id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana  berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya....."

• "Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut".

• Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Rajab itu bulannya Allah, Sya'ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku."

• Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.

Sumber : nu.or.id
Kisah Yahudi yang Dapat Berkah dari Rasulullah

Kisah Yahudi yang Dapat Berkah dari Rasulullah


Betapa sering kita dapati upaya sebagian orang untuk melihat hubungan Muslim dan non-Muslim sebagai dua entitas yang saling memusuhi. Ditampilkanlah beberapa fakta sejarah atau dalil yang memperkuat relasi antagonistis tersebut: Rasulullah memusuhi atau dimusuhi, misalnya oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi.

Pandangan itu menjadi berbeda seandainya fakta dan dalil itu juga digandengkan dengan data lain yang justru menunjukkan hubungan harmonis Rasulullah dengan orang-orang yang belum secara total mengikuti risalah beliau. Salah satunya cerita tentang seorang Yahudi yang mendapatkan berkah dari doa Rasulullah.

Kisah itu dimulai ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merasa haus dan mencari air. Dalam kondisi tersebut, seorang Yahudi pun memberinya minum. Atas perbuatan baik si Yahudi, Rasulullah lantas membalasnya dengan doa: jammalakallâh (semoga Allah memperelok dirimu).

Ajaib. Lantaran doa itu hingga akhir hayat tak satu pun uban ditemukan di kepala orang Yahudi itu.

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik sebagaimana dikutip Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkâr. Sebagaimana banyak hadits-hadits lain yang tak menyebutkan nama secara jelas dalam alur kisah, begitu pula tentang nama orang Yahudi itu.

Riwayat tersebut lebih dari sekadar informasi tentang seseorang yang menerima pemberian berterima kasih kepada si pemberi. Doa Nabi kepada si Yahudi memberikan gambaran tentang bagaimana Rasulullah membangun hubungan positif dengan pihak-pihak di luar Islam.

Memang benar bahwa konflik sudah terjadi sejak zaman Nabi antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir. Namun, belajar dari cerita di atas, rasanya sangat picik bila meyakini bahwa permusuhan itu hanya soal perbedaan dikotomis antara Muslim dan non-Muslim. Ada sebab lain yang lebih substansial mengapa peperangan harus terjadi, seperti ketidakadilan, perampasan hak-hak dasar, dan sejenisnya.

Rasulullah sendiri diutus sebagai rahmat bagi seluruh ciptaan (rahmatan lil alamin). Beliau tidak pernah menganjurkan memusuhi perbedaan identitas. Yang pasti adalah Islam memerangi kezaliman, sebagaimana pesan Al-Qur’an: falâ ‘udwâna illâ ‘aladh dhâlimîn (maka tidak ada permusuhan, kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Lukisan Gus Mus Laku Dua Milyar, Uangnya Buat apa?

Lukisan Gus Mus Laku Dua Milyar, Uangnya Buat apa?


WartaIslami.com ~ Pameran lukisan yang digelar di daerah Bantul itu lesu. Pengunjung sepi. Tinggal beberapa jam lagi pemeran yang digelar oleh anak-anak muda LKIS ini harus segera diakhiri. Hanya ada satu dua pengunjung datang, namun tak satupun lukisan terjual.

Muhammad Jadul Maula yang sehari-hari dipanggil Jadul, sang panitia penyelenggara yang sudah beberapa hari menjadi tuan rumah, seperti orang kalah perang. Asanya sudah habis. Ia sudah bersiap untuk kukut (Bahasa Jawa: mengemasi barang) ketika sepasang suami istri sekonyong-konyong datang melihat-lihat lukisan.

Sama seperti pengunjung lainnya. Pengunjung ini tak tertarik pada lukisan-lukisan yang telah dipajang, hingga akhirnya berhenti pada sebuah lukisan. Sebuah goresan abstrak berupa sketsa dengan pigura kecil seukuran buku.
"Ini karya Gus Mus?"
Jadul mengiyakan dan menjawab seperlunya. Dalam goresan sketsa itu memang tertera tanda tangan Kyai Mustofa Bisri yang dikenal dengan sebutan Gus Mus.
"Kami sangat tak'zim sama Gus Mus. Kami akan beli lukisan ini".

Rupanya calon pembeli ini seorang pengusaha. Namun, Jadul tidak begitu bersemangat melayani. Ia hanya membatin, paling-paling orang ini akan menawar dengan harga yang tidak seberapa. Sebab, hanya sebuah lukisan kecil berisi sketsa yang tidak jelas maknanya.
Beberapa hari lalu, menjelang pameran, Jadul menelpon Gus Mus. Ia sudah lama kenal dekat kyai yang juga dikenal penyair itu. Ia biasa memanggil Gus Mus dengan sebutan Abah.
"Abah... masih punya stok lukisan?", tanyanya lewat telepon.
"Lukisanku wis entek. Ini tinggal ada satu saja. Sketsa, kalau mau", jawab Gus Mus.
Jadilah lukisan itu ikut meramaikan pameran. Jadul memajang lukisan karya Kyai Mustofa Bisri yang dikenal sebagai kyai sesepuh NU dari Rembang, Jawa Tengah, untuk melengkapi koleksi.
"Jadi bagaimana mas? Boleh saya beli lukisan ini?"
"Oh iya.... silahkan".
"Saya beli satu ya. Satu milyar..!"
Sontak Jadul terperanjat. Sungguh tidak percaya, lukisan goresan sketsa yang hanya seukuran buku itu ditawar satu miliar rupiah.
Tubuhnya gemetar. Kalaupun jika semua luksian yang dipajang di pameran itupun terjual, mungkin tidak akan sampai sebesar itu.

Jadul segera menghubungi Gus Mus. Ia tidak berani membuat keputuan sendiri.
"Ono opo Dul. Ojo suwi-suwi aku lagi ngajar kitab kuning ini", jawab Gus Mus di ujung sana.
"Gus... lukisannya ada yang mau beli".
"Yo..wis jual aja".
Gus Mus hanya menjawab singkat. Telepon terputus.
Padahal, Jadul belum selesai mengemukakan niatnya menyampaikan kabar bahwa lukisannya ditawar orang seharga satu miliar rupiah.

"Jadi apa kata Gus Mus?"
Pengusaha ini sepertinya tidak sabar dan ingin mendapat ketegasan. Namun, Jadul hanya diam tidak bisa menjawab karena sang pemilik lukisan sudah menutup telepon.
"Ya sudah... Dua ya? Dua milyar".

  ;
Di tengah kebengongannya, Jadul hanya bisa mengiyakan tawaran pembeli itu. Saat ditawar satu miliar saja sudah gugup. Ini malah tambah lagi menjadi dua miliar. Duh Gusti...!
Selanjutnya pembeli menanyakan pembayaran lewat cek atau cash. Jadul, minta cash saja dan uang diambil di rumah pembeli itu yang sudah dimasukkan dalam satu koper perjalanan.
Karena jumlah uang yang tidak sedikit, akhirnya uang dalam koper itu diantar ke kediaman Gus Mus di Rembang oleh Jadul bersama empat kawannya. Hal ini untuk keamanan kalau-kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan di perjalanan.

Sampailah mereka di kediaman Gus Mus.
"Kamu kok bawa koper segala ke sini buat apa Dul?"
"Ini uang lukisannya Abah".
"Wong duit saja kok dimasukkan koper?"
Jadul pun segera membuka koper itu.
"Walah... duitnya kok banyak sekali buat apa Dul?"
"Ya..ini Gus. Uang penjualan lukisan itu. Dua Milyar".
"Uang sebanyak ini buat apa. Bikin aku pusing saja".
"Terus gimaan Gus?"
"Gini aja... Aku ambil sepuluh juta. Buat biaya nambal ruang pondok yang bocor. Kalian berlima masing-masing lima juta," ujar Gus Mus.
Jadul dan empat kawannya ini hanya diam sambil memandang satu sama lainnya. Mereka tidak percaya, kalau Gus Mus hanya akan memberi mereka lima juta.
Mereka sudah terlanjut berharap bahwa, Gus Mus akan mengambil setengah dari uang itu dan setengahnya pasti akan diberikan mereka. Atau, kalau pun tidak sebesar itu, mereka masih akan dapat jatah yang cukup besar.

Jadi uang sebanyak dua miliar itu, praktis hanya diambil Rp 35 juta saja.
"Terus sisanya buat apa Gus?"
"Sisanya, gunakan untuk kepentingan umat". Jawab Gus Mus.
Dengan perasaan berat dan kecewa, mereka kembali ke Jogja dengan membwa uang sisa sebesar Rp 1,9 miliar yang bukan jatah mereka. Dalam perjalanan, mereka sempat tergoda oleh pikiran kotor. Bagaimana kalau uang yang mereka bawa itu dibagi saja berlima. Merekapun berdebat dan bersitegang.
"Sudah..sudah...sudah", sergah Jadul.
"Apa kalian tidak takut kualat? Kalau kita ambil uang ini, kita pasti akan susah di kemudian hari. Sebab makan uang yang bukan hak kita". Demikian Jadul.
Merekapun sadar. Akhirnya mereka sepakat dan memutuskan. Uang sisa penjualan lukisan sketsa karya Gus Mus dibelikan tanah tidak jauh dari terminal di kawasan ring road Jogja, yang diwakafkan untuk lokasi pembangunan sebuah lembaga pendidikan.
Saya tak bisa membayangkan, bila itu menimpa saya. Saya pasti akan mengambil dalam jumlah yang saya inginkan, untuk kepentingan saya sendiri mengingat itu adalah uang halal hasil penjualan karya saya.

Kok masih ada ya manusia seperti ini? Justru di tengah santernya saat ini kita lihat orang-orang yang seharusnya jadi panutan, ternyata banyak yang masih berebut materi bahkan dengan cara tidak wajar.

Cerita ini saya dengar dari sahabat saya Thowaf Zuharon, yang ikut menggarap buku Ayat-Ayat yang Disembelih. Peristiwa ini terjadi sekitar lima tahun lalu. Thowaf mendengar kisah ini dari Joni Ariadinata, seorang penulis yang juga sahabat Jadul.

Ditulis Oleh: Anab Afifi

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2015/12/lukisan-gus-mus-laku-dua-milyar-uangnya.html#ixzz4c83ecRlR
Gus Mus kecam Pendakwah yang Suka Melaknat

Gus Mus kecam Pendakwah yang Suka Melaknat


WartaIslami.com ~ Islam di Indonesia saat ini, lebih banyak terlihat wajah marah, daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini, karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah muslim di negeri ini. Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Selasa (23/8/2016).

Dalam agenda ini, Gus Mus didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. H. Ah. Rofi'uddin, M.Pd, dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta professor, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (ruh atau inti dakwah), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah dan segenap umat muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruh ad-dakwah," terang Gus Mus. Menurut beliau, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daa'iyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus menghimbau kepada umat muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab taubat. Beliau mengatakan, bahwa taubat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertaubat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam tausyiahnya, Gus Mus menghimbau agar umat muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.
"Yuriidu biqumul yusra, walaa yuriidu biqumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa, beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil 'alamin, tapi kayaknya malah jadi la'natan lil 'alamiin," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengkaji, tekun belajar dan memberi kontribusi pada NKRI. Gus Mus juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia (Munawir/KBAswaja).
Gus Mus, Kiai Yang Selalu Menolak Jabatan

Gus Mus, Kiai Yang Selalu Menolak Jabatan


WartaIslami.com ~ Menjadi pimpinan tertinggi sebuah lembaga atau organisasi mungkin menjadi impian dari sebagian besar umat manusia di dunia ini. Apalagi organisasi ‘sekelas’ Nahdlatul Ulama, lah wong orang yang bukan Nahdliyin saja selalu ingin mencicipi ‘kue’ di NU kok. Apalagi orang asli NU sendiri, lebih-lebih yang merasa paling ‘berhak’ menguasasi NU, pasti rebutan. Hal ini juga pernah di alami oleh KH Musthofa Bisri atau biasa dikenal dengan nama Gus Mus.

Begini ceritanya, tatkala prosesi Muktamar NU ke-30 di Lirboyo dan Muktamar ke-31 di Donohudan, banyak kiai dan tokoh ramai berkehendak ingin mencalonkan Gus Mus menjadi Ketua Tanfidziah PBNU kala itu. Gus Mus pun mulai tergoda sambil berkata, wah bila aku turuti kehendak mereka dan saya benar-benar menjadi ketua umum, bagaimana ya rasanya menjadi pemimpin berjuta umat? Saya bisa mengendalikan banyak orang. Pikiran-pikiran saya dapat disalurkan melalui program dan kegiatan organisasi. Saya bisa ini, bisa itu, ucapnya.

Namun anehnya, setiap kali pikiran ‘busuk’ itu muncul, ia selalu ingat dengan dhawuh Abahnya KH Bisri Musthofa yang sering disampaikan kepada anak-anak dan keluarganya. ”Maa halaka umru-un ‘arafa qadrahu”  (Tak akan rusak orang yang tahu batas kemampuannya). Rupanya, pesan ini sangat membekas di hati Gus Mus, sehingga dia berani menolak posisi bergensi dan prestise segabai Ketua Tanfidziah PBNU tahun 1999 di Lirboyo waktu itu.

Beda lagi ketika Muktamar NU di Donohudan,  sudah menjadi rahasia umum bahwa Muktamar saat itu adalah ‘pertarungan’ antara kubu Gus Dur dan KH Hasyim Muzadi. Ingat! kata ‘pertarungan’ ini jangan di artikan dengan konteks organisasi lain loh ya. Namun, penulis memberi kebebasan pembaca untuk menafsirkannya masing-masing. Secara kasatmata, dalam Muktamar ini Gus Dur didukung oleh sebagian ulama NU yang tergolong dalam barisan kultural dan Hasyim didukung oleh ulama serta para cendikiawan NU dalam barisan struktural. Kedua kubu memiliki pendukung yang kuat dan fanatik.

Pada saat itu, karena di anggap paling kompeten dan memiliki pengaruh, Gus Dur dengan dukungan Almaghfurlah KH Abdullah Faqih Langitan ingin mencalonkan Gus Mus sebagai ketua umum, tak pelak, komposisi ini sangat menguntungkan jika dilihat peta kekuatannya. Gus Mus yang pada saat itu sudah memiliki peluang besar untuk terpilih, tapi beberapa saat sebelum prosesi Muktamar, Gus Mus menyatakan sikap untuk mundur dari pencalonan. Ketika ditanya banyak kalangan, kenapa gus kok mengundurkan diri? Dengan entengnya Gus Mus menjawab, ”Tidak boleh sama ibu. Apapun yang diperintah sama ibu, tidak akan saya pikirk ulang, kudu manut,” ujarnya. Bahkan, tatkala disuruh untuk istikhoroh dulu, Gus Mus kembali menjawab,”Selama masih ada ibu, biar ibu saja yang istikhoroh, saya tidak mau istikhoroh sendiri.,” tambah Mutasyar PBNU ini. Alhasil sudah dua kali Gus Mus menolak tawaran jadi ketua tanfidziah PBNU.

  ;
Kemudian, mungkin masih ingat di benak kita, saat Muktamar NU ke-33 di Jombang, Gus Mus lagi-lagi menolak tawaran menjadi ketua, tidak tanggung-tanggung, yang dia tolak bukan lagi jabatan Ketua Tanfidziah tetapi Rois Am. Ibarat di pesantren, Ketua Tanfidziah itu hanya sekedar lurah pondok, sedangkan Rois Am adalah pengasuh. Tentu jabatan Rois Am jauh lebih prestise. Tapi dengan alasan ‘tidak mampu’, Gus Mus malah menulis surat terbuka kepada Panitia Muktamar NU yang berisi pernyataan tak bersedia menjabat posisi paling tinggi dan paling strategis dalam organisasi yang menaungi jutaan orang itu. Padahal kali ini keadaannya tentu berbeda dengan dua Muktamar sebelumnya, yang mana, Gus Mus masih sebagai ‘calon’, sedangkan pada Muktamar ke-33 itu Gus Mus sudah ditetapkan sebagai Rois Am oleh sembilan orang kiai sepuh yang sangat disegani di lingkungan NU.

Setelah ditelusuri, ternyata bukan hanya di lingkungan NU Gus Mus melakukan hal tersebut, Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Misalnya, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992 dan sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut.
Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat.

Dengan berbagai penolakan itu, tidak heran jika KH Ahmad Muzammil pernah menulis bahwa Gus Mus adalah sosok Sulthonul Ulama di era ini. Dalam tulisannya, Kiai Muzammil mengungkapkan bahwa setiap zaman memiliki tantangannya sendiri-sendiri, sehingga ketokohan seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menghadapinya. Tantangan pada masa Izzuddin bin Abdissalam, Imam Ghazali, Imam Syafi'i tidak sama dengan yang sekarang kita hadapi. Sehingga tidak bisa tokoh pada suatu kurun dan tempat kita figurkan pada kurun dan tempat yang berbeda.

Kiai Muzammil juga menyuruh kita untuk berpikir dan merenung, di zaman ini jangankan untuk menjadi Rais Am PBNU, untuk menjadi pimpinan tingkat kabupaten, bahkan kecamatan saja, ada sekian banyak orang yang ngaku ulama yang rebutan, bahkan menghalalkan segala cara untuk menggapainya. Menjadi Rais Am itu sangat bergengsi dan menjadi impian banyak orang yang merasa mampu dan pantas. Maka bagi Kiai Muzammil mau disebut apalagi kalau bukan Sulthanul Ulama. Sikap seperti ini tidak bisa dimiliki kecuali oleh orang yang benar-benar dekat dengan Gusti Allah, kuat keyakinan, dalam ilmunya dan benar-benar mengerti dunia dan akhirat.

Banyak orang yang berilmu tinggi tapi belum manusia atau baru menjadi manusia. Coba lihat kehidupan Gus Mus, aksesnya sudah tingkat internasional, tapi rumahnya sederhana, mobilnya hanyalah innova. Banyak orang yang ngaku ulama, aksesnya belum 1/4-nya beliau, tapi rumahnya megah, mobilnya mewah dan banyak, di tengah-tengah ummat Islam yang masih miskin dan melarat. Gus Mus pernah punya ipar menteri agama, tapi tidak pernah memanfaatkannya untuk kemegahan pondoknya. Sementara itu banyak kiai yang setiap saat mencari celah untuk bisa dekat pejabat dengan dalih membesarkan pondoknya.

Saat ini banyak kiai atau ngaku ulama yang terjebak, alasannya membesarkan pondok, meningkatkan pelayanan kepada santri, lalu terlibat praktik-praktik kotor bekerjasama dengan para koruptor atau berbagi keuntungan dengan sistem prosentase. Gus Mus juga bisa, tapi menjauhinya. Lalu mau disebut apalagi kalau bukan sebagai Sulthanul Ulama zaman ini.

Sebutan sebagai Sulthonul Ulama biarlah Kiai Muzammil yang meyakini, penulis tentu tidak makomnya untuk menilai hal tersebut. Namun, kesederhanaan Gus Mus tentunya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama Indonesia di zaman ini. (Muhammad Faishol)

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/10/gus-mus-kiai-yang-selalu-menolak-jabatan.html#ixzz4c7oPmb9f
KH Ma'ruf Amin: Ayat Perang Tak Relevan Dipakai di Indonesia

KH Ma'ruf Amin: Ayat Perang Tak Relevan Dipakai di Indonesia


WartaIslami.com ~ Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan bahwa masalah radikalisme sudah merupakan bahaya global. Radikalisme harus ditangkal melalui berbagai cara tak terkecuali di dunia maya yang saat ini sudah menjadi bagian hidup masyarakat khususnya generasi muda.

Ia mengajak kepada seluruh media online untuk bersatu dan serentak menyuarakan konten-konten damai kotra-radikalisme agar masyarakat paham serta dapat menerima konten yang benar dan yang seharusnya mereka terima.

"Radikalisme dan terorisme berasal dari pemahaman yang keliru khususnya memahami makna jihad," tegas Kiai Ma'ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia saat memberikan pengarahan pada peserta Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme didunia Maya Bersama OKP dan Ormas, Rabu (22/3) malam.

Kiai Ma'ruf menjelaskan, jihad bukan hanya perang namun jihad bisa bermakna perbaikan segala aspek seperti sosial, budaya, politik, dan sebagainya. "Banyak ayat Al-Qur’an tentang perang yang dipakai di daerah damai. Indonesia negara damai dan ayat itu tidak berlaku," jelasnya.

Apalagi di Indonesia, sebuah negara yang dibangun di atas kesepakatan dan perjanjian dari berbagai agama dan suku, radikalisme dan terorisme harus dilawan. "Indonesia merupakan darussalam, negara damai yang bukan dalam wilayah perang," tegasnya.

Ia menegaskan, non-Muslim yang sudah membuat kesepakatan dengan Muslim tidak boleh dimusuhi dan dibunuh. Menurutnya, siapa saja membunuh non-Muslim yang sudah sepakat hidup dalam perjanjian maka ia tidak akan mencium bau surga.

Oleh karenanya NU sebagai ormas keagamaan mengedepankan prinsip ukhuwah (kebersamaan) yang ia sebut sebagai tri ukhuwah, yaitu ukhuwah wathaniyyah (kebersamaan dalam bernegara), ukhuwah islamiyyah (kebersamaan dalam agama islam) dan ukhuwah insaniyyah (kebersamaan sesama manusia).(Muhammad Faizin/Mahbib/NU Online)
Habib Syech: Jangan Sebar Kebencian dengan Dalih Agama

Habib Syech: Jangan Sebar Kebencian dengan Dalih Agama


WartaIslami.com ~ Tindakan teror dan kekerasan yang meresahkan masyarakat dan bahkan terkadang berujung hilangnya nyawa, bagaimanapun bentuknya, tidak dapat ditoleransi. Pun bila aksi kejahatan tersebut menggunakan dalih agama sebagai kedok.

Hal tersebut disampaikan Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf, pada acara silaturahim warga di Gedung Bustanul Asyiqin Solo, Jumat (8/7) malam.

“Jangan menyebarkan kebencian dan ketakutan melalui kekerasan dan teror, dengan alasan ingin masuk surga,” ujar Habib Syech.

Sebaliknya, kata Habib Syech, sebagai penganut agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, kaum Muslim mestinya senantiasa menebarkan kasih sayang dan kedamaian.

“Jadilah umat Nabi Muhammad yang menebarkan kasih sayang, kedamaian dan kebaikan di tengah-tengah umat manusia. Sebagaimana Rasul di Hari Raya menyebarkan kegembiraan dan kebahagiaan di kalangan anak yatim, janda dan kaum dhuafa. Mari di mana pun kita berada bisa menyebarkan kebaikan,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech selaku pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa juga mengajak para jamaah yang berkunjung ke tempatnya, untuk memelihara kecintaan kepada orang shalih.

“Peliharalah kecintaan kepada orang shalih, agar anak cucu tidak terkena pikiran sesat dan husnudhan kepada Allah. Agar kita dikuatkan dan ditolong Allah,” tuturnya.

Selain itu, ia juga berpesan untuk mengenalkan Rasulullah kepada generasi penerus, serta menjadikan Al-Qur'an sebagai benteng dalam menghadapi pesona dunia yang melalaikan.(nu.or.id)
Para Kiai NU, Semakin Sepuh Semakin Ampuh

Para Kiai NU, Semakin Sepuh Semakin Ampuh


Tidak hanya Gus Dur, di NU semua kiyai sepuh terkadang melakukan tindakan yang membingungkan kalangan internal nahdliyyin, Dalam kesempatan kali ini, mari kita amati beberapa tindakan kiyai sepuh NU, untuk dijadikan bahan pelajaran bersama.

Dahulu pernah ada sidang pleno PBNU menyikapi aliran Ahmadiyah,Pada tahap sidang komisi, para anggota sepakat menilai bahwa aliran Ahmadiyah adalah “Aliran sesat dan menyesatkan”, Selain masalah isi ajarannya, secara historis aliran Ahmadiyah di duga dibentuk dan danai intelijen Inggris, Ahmadiyyah Sengaja dibentuk pada tahun 1888 M, karena situasi saat itu ada huru-hara di India, Ada gerakan bawah tanah untuk pemisahan diri dan membuat negara Islam bernama Pakistan.

Tapi, di level sidang pleno, yang dipimpin Ro’is ‘Aam PBNU secara langsung, dan didampingi beberapa kiyai sepuh lainnya, hasil sidang komisi tersebut diubah. KH. Sahal Mahfudz menasehati para anggota sidang komisi, “Jangan menggunakan bahasa caci-maki. Kita perhalus bahasanya.”

Kemudian KH. Sahal Mahfudz mendikte redaksi kata-katanya: Aliran Ahmadiyah adalah aliran agama Islam yang ditolak oleh umat Islam internasional.

Sepintas tidak ada beda, tapi kalau kita cermati maksud Mbah Sahal, ada ilmu hikmah yang bisa kita petik, Bahasa caci-maki menunjukkan aroma kebencian. Jika para elit PBNU menggunakan redaksi bahasa caci-maki, bisa “habis” orang-orang Ahmadiyah. Mbah Sahal adalah seorang alim ulama yang arif, jadi jarak pandangannya sudah jauh ke depan.

Bahasa caci-maki melahirkan kebencian, sedangkan kebencian melahirkan ketidakadilan. Orang yang sudah benci dari awal, tidak mungkin bisa bersikap adil. Niat awal hanya memberitahu warga NU bahwa aliran Ahmadiyah bukanlah termasuk Islam, jatuhnya nanti malah peristiwa penyerbuan dan pengrusakan. Maka dari itu, Mbah Sahal dan para kiyai sepuh lainnya sepakat untuk menggunakan redaksi bahasa yang halus. Sesuatu yang diawali bersinar akan berakhir dengan bersinar pula.

Untuk menjaga nahdliyyin dari aliran Ahmadiyah, Mbah Sahal menggunakan redaksi bahasa berupa “kalimat berita” Jelas maksudnya, tapi tidak keras. Kalimat berita berbeda dengan kalimat opini.

Kalau Anda belajar ilmu jurnalistik, anda bakal tahu bedanya, alimat opini pasti membawa kata sifat, Tidak mungkin aliran Ahmadiyah diberi kalimat opini bersifat positif, jadi Mbah Sahal memilih redaksi bahasa berupa kalimat berita saja.

Pendapat Mbah Yai Sahal Mahfudz diperkuat oleh pendapat kiyai sepuh NU lainnya. Mbah Yai Maimun Zubair menasehati agar nahdliyyin mendakwahi para pengikut Ahmadiyah. Jangan dikejar-kejar dan dipukuli, tapi didakwahi, Dakwah itu artinya mengajak,Tentunya dakwah ala Rasulullah SAW, yaitu dakwah yang dilandasi rasa kasih sayang dan penuh kelembutan
Mbah Maimun sama persis dengan Mbah Sahal, adalah alim ulama yang arif. Mbah Maimun menasehati demikian, karena pada dasarnya para penganut aliran Ahmadiyah adalah orang yang ikut-ikutan saja. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki kitab karangan Mirza Ghulam Ahmad.

Ibaratnya calo armada bus, kalau cara mengajaknya penuh keramahan dan kesabaran, pasti yang diajak mau menurut. Tapi, kalau cara mengajaknya seperti preman terminal, para penganut aliran Ahmadiyah justru lari dari cahaya NU Kata Mbah Yai Maimun, aliran Ahmadiyah sebenarnya hanya masalah beda nabi penutupnya siapa, jadi sangat mudah ditarik kembali, kalau betul caranya dakwah.
Untuk Mbah Yai Sahal dan Mbah Yai Maimun, Lahuma Alfaatihah.

Sumber : muslimoderat.net
KH Dimyati Rois: Silahkan Poligami, tapi Bakar dulu Pesantrenmu!

KH Dimyati Rois: Silahkan Poligami, tapi Bakar dulu Pesantrenmu!

     
                                                                                                                                                                         Foto ini adalah saat akad nikahnya Gus Sholah Khumaidullah di Kauman. Nampak para kiai sepuh Kaliwungu seperti KH. Aqib Umar, KH. Royani dan Abah KH. Dimyati Rois semasa mudanya.

Terkenang almarhum wal maghfurlah siMbah KH. Imam Romli, muassis Ponpes An-Nur Pandes Cepiring Kendal, adalah sosok yang sangat mencintai ilmu. Dibuktikan di era akhir tahun 70-an dan awal 80-an, walau beliau sudah menjadi pengasuh dan mengajar banyak kitab seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jam'ul Jawami' dlsb. yang diikuti para santri lintas Jawa, beliau tetap semangat mengaji (belajar kepada kiai lainnya).

Alkisah, saat itu Abah KH. Dimyati Rois masih di Kauman sedang mengajar dan membacakan kitab di pengajian bulan Ramadhan. Diantara yang ikut "ngaji pasaran" (ngaji di bulan Ramadhan) waktu itu adalah Kiai Romli disertai istri tercintanya, Ibu Nyai Sa'adah. Biasanya saat ngaji pasaran itu beliau kos di rumah KH. Thoha Al-Hafidz.

Menjelang wafat atau saat Kiai Romli sudah sakit-sakitan, beliau tetap isitiqomah mengajar kitab Ihya Ulumiddin pada para santrinya meski harus sambil tiduran di atas kasur.

Suatu saat setelah merenung dan bertafakur sekian lama tentang PP An-Nur Pandes Cepiring Kendal, karena beliau belum kunjung dianugerahi seorang putra maka berniat untuk poligami. Beliau kemudian sowan untuk bermusyawarah dan minta izin pada para kiai sepuh di Kendal. Meski Kiai Romli termasuk kiai sepuh tapi itulah adat kiai shaleh jaman dulu, mengutamakan musyawarah dengan para kiai yang lain.

Setelah sampai ke Kaliwungu Kiai Romli sowan kepada Mbah Ru'yat, Mbah Musyaffa' dll., dengan hasil mendapat restu dan izin dari para kiai. Menjadi mantaplah hati Kiai Romli untuk menikah lagi demi keturunan yang akan melanjutkan pesantrennya.

Namun kemudian Kiai Romli masih belum sreg/tenang hatinya sebelum dirinya sowan pada Abah Dim, meskipun saat itu Abah Dim statusnya masih sebagai santri Pesantren Kauman. Dan betul, Kiai Romli akhirnya sowan menghadap Abah Dim untuk minta saran dan ijin menikah lagi. Meskipun waktu itu usia keduanya terpaut jauh, Abah Dim masih muda dan Kiai Romli sudah cukup sepuh.
Setelah bertemu Abah Dim, jawaban yang ditunggu pun keluar, Kiai Romli diijinkan menikah lagi.

Abah Dim mengijinkan tapi dengan satu syarat, "Mbah Romli, Njenengan yen bade wayuh sumonggo. Tapi pondokipun dipun bakar." (Kiai Romli, kalau mau poligami silakan, tapi bakar dulu pesantrennya). Kiai Romli pun taat dan patuh dengan jawaban terakhir ini.

Karena kedekatan Abah Dim dengan Kiai Romli, beliau tahu bahwa sebelum berfikiran meneruskan perjuangan pesantrennya Kiai Romli sudah kesemsem (tertarik) dengan seorang wanita yang juga sering sowan kepada Abah Dim. Sehingga niat untuk mendapatkan keturunan itu tidak benar-benar ikhlas lillahi ta'ala. Karena maqam (derajat) semulia Kiai Romli sudah tentu harus lebih mampu untuk lillahi ta'ala, yakni menjaga nafsunya.

(Syaroni As-Samfuriy, diolah dari Fanspage: Pecinta Abah KH. Dimyati Rois).

Sumber : muslimoderat.net


Mengenang Buya Basith: Beberapa Kunci Sukses Gerakan Sedekah

Mengenang Buya Basith: Beberapa Kunci Sukses Gerakan Sedekah


Oleh Nur Rohman

Setelah bertahun-tahun warga NU mencari tahu bagaimana menggerakkan Nahdliyin untuk bersedekah secara berjamaah, akhirnya gairah untuk membangkitkan kemandirian umat itu ditemukan kembali di Sukabumi. Kebangkitan gerakan sedekah itu terasa nyata hasilnya lewat tangan Ajengan Abdul Basith, tokoh NU yang wafat di Dubai, Uni Emirat Arab pada 15 Maret 2017.

Tahun 1926 menjadi awal bangkitnya para ulama yang punya tugas mulia yaitu memberikan manfaat kepada umat dalam bersedekah berjamaah yang dipelopori oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Gerakan kemandirian umat itu telah lama tumbuh dan berkembang di kalangan santri di Pondok Pesantren. Mbah Hasyim telah memberikan contoh dan praktik di lapangan tentang bagaimana kemandirian itu dibangun secara berjamaah dalam pengelolaan zakat, Infak, dan Sedekah.

Dalam konteks pesantren, Mbah Hasyim mendidik umat, baik orang tua santri dan santri, untuk mandiri. Santri belajar mandiri dari pesantren. Dalam pengelolaannya, Mbah Hasyim tidak membebani orang tua santri untuk membayar iuran pesantren baik untuk belajar maupun untuk kebutuhan tinggal di pesantren (makan, tinggal, listrik, air, dan lain-lain). Dengan memberikan contoh seperti itu, para orang tua santri akhirnya berinisiatif untuk menyedekahkan barang yang ia mampu berikan untuk pesantren: yang punya ikan asin datang dengan ikan asin, yang punya kebun pisang datang membawa pisang, yang lagi panen padi ketika ke pesantren membawa beras, dan ada pula yang membawa amplop berisi uang. Dari gerakan berjamaah itu, kebutuhan pesantren untuk membiayai santri tercukupi.

Di zaman yang modern ini, manusia lebih banyak perhitungannya, segala sesuatau selalu diukur dengan untung dan rugi versinya sendiri. Masyarakat banyak yang lupa tentang konsep Allah yang maha kuasa, kuasa akan segala-galanya. Siapa yang berbisnnis dengan Allah tidak akan pernah rugi baik di dunia maupun di akhirat. Kekuatan sedekah itu hari ini tampak jelas di Cicurug Sukabumi yang dipelopori oleh Ajengan Abdul Basith atau biasa disapa pula Buya Basith. Beliau adalah sosok yang telah berjuang untuk kemandirian umat melalui gerakan sedekah berjamaah. Sepuluh tahun terakhir beliau berjuang untuk membangun Kabupaten Sukabumi. Melihat cerita beliau, subhanallah teladan yang sungguh menginspirasi, betapa susahnya menyakinkan bahwa gerakan ini akan bermanfaat bagi orang banyak. Tuduhan, cacian, dan hinaan datang bertubi-tubi. Ada yang beranggapan nanti uannya kalau terkumpul itu akan dipakai oleh Buya, untuk bangun pesantrennya dan sebagainya.

Bukan tidak ada dasar beliau dalam berdakwah bagi umat, seperti cerita seorang tokoh Luqman Hakim ketika berjalan bersama putra dan keledainya. Ketika Luqman dan anaknya naik berdua di atas keledai, masyarakat mencemooh bahwa mereka tidak kasihan dengan keledai—seekor keledai kok dinaikin dua orang. Begitu juga ketika Luqman turun dan meminta anaknya naik ke atas keledai sementara beliau menuntunya. Masyarakat pun mencela anaknya sebagai pribadi yang tidak sopan. Kemudian ketika Luqman melanjutkan perjalan dan meminta anaknya untuk menuntun keledai dan Luqman naik di atas keledai maka ketika keduanya berjalan melewati kerumunan, masyarakat pun berkomentar, “ayah kok tidak kasihan sama anak, anak disuruh nuntun dan dia enak-enakan kan di atas keledai.” Kemudian ketika Lukman melanjutkan perjalanannya beliau tuntun keledai itu berdua. Masyarakat lantas berkomentar, “Kok punya kendaraan tidak dimanfaatkan.”

Ini pelajaran dan prinsip yang inspiratif dari Buya Basith. Beliau paham betul tentang rintangan dan tantangan yang dihadapi. Rintangan dan tantangan itu tak meruntuhkan semangat Buya Basith untuk lurus dalam gerakan sedekah yang kelak mengubah hal yang sepele menjadi luar biasa besar manfaatnya bagi umat.

Prinsip Dasar dan Konsep Utama

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari dakwah zakat Buya Basith di Cicurug, Sukabumi ini. Beberapa prinsip dasar yang dipegang dan diterapkan adalah sebagai berikut:

Pertama, belajar zakat sebelum nishab. Mengeluarkan zakat, infak dan sedekah bukan perilaku yang bisa dibentuk satu dua hari, tetapi harus dilatih dan dibiasakan sedikit demi sedikit bahkan sejak usia dini. Mendidik masyarakat untuk berzakat tidak bisa dilakukan hanya dengan kata-kata saja dalam ceramah-ceramah Majelis Taklim, tetapi harus disampaikan melalui tindakan nyata. Amaliyah yang terus-menerus akan membentuk kesadaran umat yang akhirnya menjadi perilaku dan akhlak.

Kedua, anjuran “terima-kasih”. Pengurus ZIS dan ulama mengajarkan sebuah rumus sederhana untuk dilaksanakan, yaitu terima-kasih. Setiap menerima rezeki, sebagian harus dikasih. Ada hak orang lain dalam setiap rezeki yang Allah berikan. Setiap menerima upah, langsung diinfakkan 2,5 persen. Setiap menerima bonus atau hadiah langsung dikeluarkan lagi 2,5 persen.

Ketiga, keteladanan. Orang bilang satu contoh lebih baik dari seribu kata-kata. Itulah yang dilakukan oleh Buya Basit di Cicurug Sukabumi. Mereka memegang prinsip memberi sebelum mengajak orang lain berbagi. Keteladanan para penggerak ZIS ini merupakan salah satu kunci efektivitas dakwah ZIS di Sukabumi.

Keempat, hormati setiap orang. Prinsip sederhana ini sungguh luar biasa dan membuat dakwah sedekah didukung oleh banyak pihak baik tokoh agama, tokoh masyarakat dan juga pemerintah setempat bahkan sampai Bupati. Pengurus ZIS tahu betul bahwa setiap orang yang mendukung dakwah ZIS sangatlah berharga. Jadi, dalam setiap pertemuan dalam pidato nama-nama tokoh yang hadir selalu disebutkan namanya satu persatu sehingga semua merasa menjadi tamu istimewa. Pengurus ZIS harus luwes bergaul dengan kelompok masyarakat mana saja mulai dari buruh tani, buruh pabrik, ibu rumah tangga, majelis taklim, ketua RT/RW, ketua karang taruna, kepala desa, camat, bupati, Kapolres dan sebagainya.

Sementara konsep utama dakwah ZIS di Sukabumi yang dilakukan oleh pengurus ZIS adalah bottom up (mulai dari bawah) dan mengutamakan substansi daripada bungkus (aksi lebih baik dari pada seremoni).

Pertama, pelaksanaan ZIS harus bottom-up atau mulai dari bawah. Siapa pun yang akan melakukan dakwah ZIS harus memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Setiap program yang hendak dilakukan sebaiknya dimulai dengan musyawarah yang melibatkan masyarakat.

Seperti yang dilakukan pengurus ZIS Cicurug, mereka menganalisis sebagian besar mata pencaharian masyarakat setempat dan berapa pendapatan yang diterima. Dari sana kemudian diusulkan angka 500 rupiah sehari. Usulan itu ditanyakan ke masyarakat apakah jumlah itu memberatkan atau tidak. Sesudah tercapai kesepakatan barulah program itu dilaksanakan dan hasilnya nyata-nyata bermanfaat untuk masyarakat.

Kedua, dakwah ZIS mengutamakan substansi daripada bungkus. Setiap orang dari kelompok masyarakat manapun berhak mendengar dakwah ZIS bahkan non muslim sekalipun. Ajaran berbagi bukan hanya perintah agama Islam tetapi juga nilai universal sehingga siapapun pasti akan menerima. Sosialisasi ZIS memang dilakukan melalui pengajian dan forum-forum tahlilan tetapi materi sosialisasinya bukan hanya landasan agama, tetapi juga bagaimana sedekah yang dikeluarkan bisa digunakan untuk saling membantu antaranggota masyarakat juga untuk kepentingan umum. Karena manfaatnya sangat dirasakan, tak heran jika masyarakat non muslimpun ikut terlibat dalam kegiatan ZIS di Cicurug.

Semoga Tulisan ini akan menginspirasi kita semua. Berani mencoba di lingkungan Anda? Jadilah manusia yang terbaik di sisi Allah, yaitu manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Amiin.


Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care

Sumber : nu.or.id
Guyonan Jokowi di Depan Para Kader Ansor

Guyonan Jokowi di Depan Para Kader Ansor


Ribuan pemuda NU serentak membaca shalawat ketika Presiden Joko Widodo menuju panggung utama peringatan Maulid Nabi yang digelar Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor. Jokowi yang mengenakan sarung coklat cerah saat itu didampingi Mensesneg Pratikno dan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Seperti lazimnya orang berpidato, Jokowi pertama menyampaikan hormat kepada para kiai yang hadir dalam mukadimah sambutannya. Suasana pun sangat tenang. Lantas berlajut menyebut nama-nama pengurus Ansor.

“Yang saya hormati Ketua Umum GP Ansor Gus Yaqut.” Pembicaraan Jokowi pun jeda sejenak. “Tapi yang selalu saya ingat kalau hadir di Ansor itu Pak Sekjennya, Gus Adung (Adung Abdul Rochman).”

Kenapa?

“Karena sama-sama kurusnya,” kata Jokowi disambut gerrr seluruh kader Ansor yang duduk lesehan memenuhi kompleks kantor PP GP Ansor yang terletak di Jalan Kramat Raya, No 65A, Jakarta. Adung yang dipanggil namanya pun berdiri melambaikan tangan. Tawa hadirin tambah keras.

Jokowi dalam pidatonya memotivasi para kader Ansor agar memiliki jiwa patriotik yang tinggi. Ia percaya bahwa kemajuan sebuah bangsa ada di tangan pemuda, khususnya pemuda Ansor.

Sampai di sini, tiba-tiba Jokowi meneriakkan salam khas Ansor.

“Siapa kita?” serunya.

“Ansor NU…” sahut serempak seluruh pemuda Ansor.

“NKRI…!”

“Harga mati.”

“Pancasila...”

“Jaya…”

“Nusantara…”

“Milik kita…”

“Aswaja…”

“Aqidah kita…”

Mendengar Jokowi fasih mengumandangkan salam khas Ansor, hadirin seperti heran.

“Saya sedikit-sedikit juga ngapalin,” tutur Jokowi. Tawa kembali pecah. Rupanya diam-diam ia menghafal saat Gus Yaqut menyampaikan salam itu di sesi sebelumnya. “Jangan kalah sama Gus Yaqut,” pungkasnya yang lagi-lagi disambut gerrr pemuda NU. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Saat Santri Berhasil Mengocok Perut Sang Presiden

Saat Santri Berhasil Mengocok Perut Sang Presiden


Kemurnian seorang santri tak terelakkan. Bahkan saking polosnya, kehidupan mereka penuh dengan humor segar yang dapat membuat setiap orang terpingkal-pingkal.

Ceritanya, saat itu Presiden RI Joko Widodo berkesempatan hadir dalam acara peringatan Isra Mi'raj di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah asuhan KH M. Yusuf Chudlori pada Mei 2016 lalu. Kala itu, Jokowi juga lengkap mengenakan sarung dan peci, identitas khas santri.

Kegiatan tersebut tak hanya dihadiri oleh ribuan santri Tegalrejo, tetapi masyarakat sekitar yang sangat antusias dengan kehadiran sang Presiden.

Alakullihal, Jokowi mengakhiri sambutannya dengan membagikan 5 sepeda kepada santri. Sepeda itu diberikan kepada santri yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Presiden.

"Tadi saya bawa 5 sepeda, sepeda akan saya berikan kepada santri yang bisa jawab pertanyaan saya. Tunjuk jari, saya juga bingung mau tanya apa ke santri, suruh ngaji pintar semua. Ya sudah, tanya hal-hal yang umum saja," ucap Jokowi dengan senyum khasnya.

"Itu, ya..." ujar Jokowi menunjuk ke arah santri berbaju putih yang mengacungkan jari.

"Bismillahirohmanirrohim, nama saya Muhammad Azka Fikri dari Pekalongan," ujarnya mantap sambil pringisan dan menyapa hadirin dengan mengangkat kedua tangannya.

"Sebutkan tiga saja nama menteri gak apa-apa, nama pendeknya saja, gak apa-apa boleh," ujar Jokowi mengajukan pertanyaan.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, dia menjawab, "nomor satu, Bu Megawati.” Geeerrrrr..... Sontak jawaban pertama  itu membuat Jokowi dan ribuan hadirin terpingkal-pingkal.

“Nomor dua, Ahok,” jawabnya makin bikin Presiden dan hadirin mengocok perut.

“Nomor tiga, Prabowo," ucap dia dengan percaya diri seolah tak sadar dengan jawabannya itu sehingga volume ketawa Jokowi dan ribuan hadirin makin kencang mengocok perut.

"Sudah, ambil sepedanya," ujar Jokowi sambil terpingkal-pingkal tak mau ambil pusing.

Sebelum nyelonong ke arah sepeda, santri itu pun menyalami hadirin dengan gaya kiss bye sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Ternyata, dia lupa belum salim (cium tangan) dengan sang Presiden. Akhirnya dia balik lagi dan salim kepada Jokowi. Momen tersebut tak pelak membuat hadirin dan Presiden tak henti-hentinya mengocok perut.

(Fathoni Ahmad)

Sumber : nu.or.id
Kisah Perdebatan Dua Ulama Top NU soal Hakim Perempuan

Kisah Perdebatan Dua Ulama Top NU soal Hakim Perempuan


KH A Wahid Hasyim saat menjadi Menteri Agama telah membuka pintu secara administratif perempuan untuk bisa menjadi hakim, namun landasan fiqh-nya belum sempat dirumuskan. Di sana-sini masih banyak penolakan para alim ulama akan status dan kedudukan perempuan sebagai hakim di Pengadilan Agama.

Jumhur ulama dari mazhab Syafi'i, Hanbali dan Maliki tidak membolehkan. Imam Abu Hanifah membolehkan dalam kasus di luar hudud dan qisas. Ibn Jarir al-Thabari membolehkan secara mutlak. Pendapat mana yang mau dipilih?

Maka terjadilah Bahtsul Masail para ulama top di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pandangan para ulama NU mengerucut pada dua blok besar: mereka yang mengikuti pandangan KH Marus Ali dari Pesantren Lirboyo, dan mereka yang mengikuti pandangan Prof KH Ibrahim Hosen (Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat dan Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta). Kiai Mahrus tidak membolehkan dengan mengikuti jumhur sedangkan Abahku membolehkan dengan mengikuti pendapat Hanafi dan Thabari. Sebagai catatan, pendapat Hanafi dan Thabari bisa digabungkan karena yurisdiksi Peradilan Agama di Indonesia terbatas pada masalah akhwalus syakhsiyah dan tidak masuk wilayah jinayah.

Perdebatan kedua kubu sangat panas dengan masing-masing mengeluarkan argumentasi dan rujukannya. Akhirnya diskusi diskors untuk makan siang dan shalat zuhur. Di saat itulah Abah mendekati Kiai Mahrus Ali dan melancarkan jurus diplomasinya. Abah berkata: "Pak Kiai, sebelum saya berangkat sekolah ke al-Azhar Kairo, saya belajar khusus kepada Kiai Abbas di Buntet". Kiai Mahrus langsung bangun dari kursinya dan memeluk Abah, "Kiai Abbas itu Waliyullah, beliau paman saya!"

Setelah dialog tersebut sesi diskusi segera dibuka kembali. Kiai Mahrus mengangkat tangannya: "Diskusi tidak perlu dilanjutkan, sudah selesai, saya setuju perempuan boleh menjadi hakim", maka terdengarlah surat al-Fatihah dibacakan bersama. Para kiai yang lain keheranan apa yang terjadi mengapa perdebatan panas sebelumnya langsung hilang?

Abah saya belakangan menjelaskan kepada saya saat mengenang Kiai Mahrus Ali. Sambil berkaca-kaca Abah berkata: "Kiai Mahrus Ali itu ulama besar. Beliau paham perbedaan mazhab. Beliau hanya ingin diyakinkan bahwa Abah sudah menghitung dampak dari memilih mazhab Hanafi dan Thabari untuk masalah ini. Ketika disampaikan bahwa Abah santri kesayangan dari Kiai Abbas Buntet, Kiai Mahrus Ali seketika menjadi yakin bahwa seorang santri Buntet dibawah bimbingan langsung Kiai Abbas akan tahu bahwa fatwa itu tidak boleh sembarangan dikeluarkan. Kiai Abbas memang waliyullah."

Abah kemudian bercerita hubungan eratnya dengan Kiai Mahrus. Kiai Mahrus menanyakan perkembangan Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) bahkan meng-ijazahi shalawat untuk kelangsungannya. Belakangan saat Muktamar NU di Pesantren Lirboyo 1999 saya sowan ke rumah Kiai Kafabihi Mahrus, putra Kiai Mahrus. Beliau memeluk saya dan berkata, "Abah saya (Kiai Mahrus) pesan: Kiai yang alim soal ushul al-fiqh itu Prof KH Ibrahim Hosen".

Begitulah para Kiai NU. Mereka tahu argumen masing-masing. Mereka saling mencintai dan memghormati. Tinggal kita saja generasi berikutnya yang harus melanjutkan nilai-nilai yang para masyayikh sudah ajarkan kepada kita. Kalau sekarang anda melihat banyak perempuan yang menjadi hakim di Pengadilan Agama, ingatlah dengan kisah ini: semuanya dimulai dari diskusi para ulama kami.

Lahumul fatihah ....

Sumber : nu.or.id
Gus Mus: Berani Sekali Allah "Disuruh" Ngurusi Pilkada

Gus Mus: Berani Sekali Allah "Disuruh" Ngurusi Pilkada


Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri merasa perihatin saat ini banyak orang yang meneriakkan Allahu Akbar tidak hanya di dalam shalat, tetapi juga dibawa di jalan-jalan, bahkan sampai dibawa-bawa dalam urusan Pilkada. Lantas kiai yang akrab disapa Gus Mus itu mempertanyakan sebenarnya mereka mengetahui atau tidak maksud dari Allahu Akbar.

“Masak urusan Pilkada Gusti Allah diajak? Saya tanya, apa arti sampean mengucapkan Allahu Akbar? Apa, kok enggak ada yang jawab? Allah Maha Besar, sebesar apa Allah kok sampean mengatakan terbesar? Wong pengajian akbar, masjid akbar, dan imam besar juga ada, apa Tuhan sebesar itu?” tutur Gus Mus disambut tawa hadirin saat mengisi pengajian yang digelar oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Bandung, Senin (13/3) malam.

Gus Mus menceritakan bahwa dirinya pernah menggambar planet-planet, akhirnya ia menyimpulkan bumi itu sebesar biji kacang hijau. Suatu kita Gus Mus bertemu dengan ilmuan yang mengerti bidang tersebut mengatakan terlalu besar kalau digambarkan dengan kacang hijau, bahkan sebutir debu saja terlalu besar.

“Lha kalau sebesar debu, saya menerangkan kawan-kawan bagaimana. Makanya saya besarkan (gambar bumi) sekacang hijau. Sekarang pertanyaanya di manakah kita?” tutur pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang itu pada acara yang dihadiri Wali Kota Bandung dan Kapolda Jabar.

“Ketika Allahu Akbar, di kepala sampean ada siapa? Kalau mengucapkan Allahu Akbar, tapi di dalam kepada terpikir Haji Sulam Jualan Bubur. Jangan sembarangan Allahu Akbar dulu, bahwa banyak ulama pingsan karena tahu betapa kecil kita ini. Bersamaan dengan 7,5 miliar penghuni di kacang hijau yang sudah saya besar tadi,” sambung Gus Mus.

Gus Mus tertawa kalau ada orang yang sombong dalam kacang hijau. Ada yang merasa seperti Gusti Allah. Kalau dia marah dipikir Allah juga marah, kalau dia geram, dia pikir Allah juga geram. “Bandung saja tidak kelihatan, apalagi TPS-TPS. Allahu sebesar itu, tapi disuruh "ngurusi" Pilkada, berani sekali orang-orang Indonesia ini. Jangan mengatakan Allahu Akbar, tapi merasa dirinya lebih besar dengan yang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Mus mengutip pendapat kakaknya yakni Kiai Cholil Bisri, “Kalau tidak bisa mengetahui bagaimana besarnya Allah, sudahlah maknai Allahu Akbar, aku sangat kecil sekali.”

Gus Mus mengakui bahwa memang sukar apabila mengecilkan diri sendiri, apalagi bagi yang mempunyai jabatan. “Jadi kita itu bagaimana, mengecilkan diri sendiri tidak bisa, membesar Tuhan tidak mampu,” jelasnya disambut hening oleh hadirin yang juga memenuhi alun-alun kota Bandung. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
[Video Tausiah Habib Jindan] yang Suka Menuduh Munafik itu Dajjal

[Video Tausiah Habib Jindan] yang Suka Menuduh Munafik itu Dajjal


WartaIslami.com ~ Tausiah Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan dalam pengajian rutin malam jumat al fachriyah terkait hak muslim kepada muslim lain.

Habib Jindan merupakan murid dari guru mulia al habib Umar bin Hafidz Yaman. Beliau seangkatan dgn Allahu yarham habib Munzir al Musawa, Habib Quraisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas, dan lain-lain. Beliau belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadhramaut.

Saat itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa (tahun 1993). Jadi tidak perlu diragukan lagi sanad keilmuwan beliau sambung menyambung hingga kepada sayyidina Rasulullah saw.

Tausiah beliau berkaitan tentang fenomena pelarangan shalat jenazah bagi muslim yg berbeda pilihan politik.

Transkrip kurang lebih begini:

Ada 6 hak muslim terhadap muslim lain diantaranya mengurus jenazahnya saat wafat. Walaupun pezina, pendosa, pemabuk, tidak pernah shalat sekalipun hukumnya tetap wajib untuk mengurus jenazahnya. Dan tidak menshalati karena beda pilihan politik itu sangat dilarang, bahkan sampai memasang spanduk di rumah Allah itu merupakan penistaan kepada agama, penistaan kpd Alah, penistaan kpd alquran, penistaan kpd nabi Muhammad saw.

Tapi dia munafik???

Definisi munafik itu adalah dia secara lahir menunjukkan keislaman tapi dalam hati sebenarnya kufur. Sedangkan urusan hati itu merupakan urusan Allah swt. Tidak ada yg tahu menahu urusan hati manusia lain. Bahkan nabi Muhammad saw diutus bukan untuk mengetahui isi hati setiap manusia.

Jadi saat ada yg merasa tau urusan hati manusia lain, dia sudah melampaui kewenangan nabi dan dia sebenarnya sudah mengaku menjadi Tuhan. Siapa lagi yang akan mengaku menjadi Tuhan?? Dia adalah Dajjal.

Simak Videonya disini:




Sumber : http://www.muslimoderat.net/2017/03/video-tausiah-habib-jindan-yang-suka-menuduh-munafik-itu-dajjal.html#ixzz4bvZWcjRg
Setia pada Isteri, KH Masduqi Mahfudz menolak Poligami

Setia pada Isteri, KH Masduqi Mahfudz menolak Poligami


WartaIslami.com ~ Satu kisah tidak bosan-bosan untuk disimak yakni kisah yang dituliskan oleh putra beliau, Gus Shampton Masduqi. Melalui akaun facebook-nya, beliau mengkisahkan;

Saat dahar bersama Abah, biasanya cerita-cerita tentang masa lalu beliau. Suatu hari abah cerita, saat umi akan melahirkan anak ke 2, Mas Luthfillah. Umi ingin melahirkan di Rembang. Jadilah mas satu-satunya putra Abah yang lahir di Rembang. Karena abah pegawai negeri sipil yang ngajar di Tarakan Kalimantan, tentu tidak bisa menemani.

Jadilah Abah sendirian di Tarakan. Dimasa-masa sendiri itu, berkali-kali Abah didatangi seorang kaya yang ingin anaknya dinikahi Abah. Tidak masalah meski menjadi isteri kedua dan tidak butuh nafkah, karena sudah kaya dengan kebun yang luas.

Sebagai manusia normal, Abah tergoda juga. Tapi setiap akan mengiyakan, selalu saja nampak bayangan di depan Abah, bagaimana senyum Umi, pelayanan Umi, yang akhirnya Abah berkekuatan hati untuk menolak.

Abah kemudian mengomentari ceritanya, "itulah kekuatan doa Umimu, suami isteri tidak mungkin saling menjaga dua puluh empat jam, tetapi doa akan menjaga pasangannya setiap hembusan nafas"
Setiap terbangun jam 3 malam, Umi senantiasa mengeluh terlambat bangun, karena biasanya Umi sudah bersiap ibadah jam 1 malam hingga subuh, di saat semua sedang terlelap.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/05/setia-pada-isteri-kh-masduqi-mahfudz.html#ixzz4bvLIEaPa
Makam Guru Pendiri NU (Mbah Sholeh Darat) Ditemukan Habib Luthfi di Kendal

Makam Guru Pendiri NU (Mbah Sholeh Darat) Ditemukan Habib Luthfi di Kendal


Makam salah satu ulama berpengaruh dalam peradaban islam di Indonesia, ditemukan di kompleks permakaman Jabal, Kampung Jagalan, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

Ulama besar itu adalah Habib Ahmad bin Aqil Almunawar Ba’alwiy. Sosok ini merupakan guru KH Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani atau terkenal dengan nama Kiai Soleh Darat.

Nama yang belakangan disebut merupakan guru dari KH Hasyim Ashari (pendiri Nahdlatul Ulama), dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Tokoh emansipasi wanita, RA Kartini, juga disebut pernah berguru pada Kiai Soleh Darat.

Ditemukan Habib Lutfi

Lokasi makam Habib Ahmad bin Aqil Almunawar Ba’alwiy berada persis di belakang bangunan salah satu pondok Al Fadlu Wal Fadhila, asuhan KH Dimyati Rois (Mbah Dim) Kaliwungu.

Makam tersebut ditemukan oleh Ketua Jami’ah Ahlu Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdhyin, Habib Muhammad Lutfi bin Yahya, yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah.

"Habib Lutfi berkata, di makam ini ada 50 makam lebih ahli dan penghafal Quran yang sampai saat ini jasadnya masih utuh," ujar Kiai Basyarohman, pengasuh ponpes Manbaul Hikmah, saat Pengajian Akbar dalam rangka peresmian makam Ahmad bin Aqil Almunawar Ba’alwiy, di Kaliwungu, Rabu, 15 Maret 2017.

Gus Basyar menceritakan, penemuan makam bermula ketika Habib Lutfi berziarah ke makam KH Ahmad Badawi di Bukit Jabal, November 2016 lalu. Saat memasuki kompleks pemakaman dan berjalan menuju makam KH Ahmad Badawi, Habib Lutfi mendoakan semua makam yang di Jagalan.

Tiba-tiba Habib Lutfi berhenti di salah satu makam besar. Di situ, Habib Lutfi berdoa cukup lama. Dia bercerita bahwa di sini adalah makam ulama besar, yakni Habib Ahmad bin Aqil Almunawar Ba’alwiy yang merupakan guru dari Kiai Soleh Darat. "Kami diminta untuk merawat dan memugarkan makam," kata Gus Basyar. [dutaislam.com/ab]

Sumber :  MetroTV

Habib Luthfi Bin Yahya; Cara Ridha (Menerima) Qadha Allah Swt.

Habib Luthfi Bin Yahya; Cara Ridha (Menerima) Qadha Allah Swt.


Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam turut belajar menerima ridha apa yang dikehendaki Allah Swt. Tidak berarti ridha meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan ikhtiar. Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan dalam mencari rizki. Karena timbul sebab-musabbab orang bisa menerima bukan masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam segala kekurangannya untuk hari itu khususnya.

Protes selalu dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”, dari hitungan segi materiil. Karena keberadaan mencari sesuatu yang wajib untuk dijadikan nafkah keluarga maka pasang surut itu pasti ada. Surut terkadang sampai menipis (kritis), sehingga kita hampir saja mengeluh mendapatkan kesukaran ketika mencari rizki. Ini satu contoh, bukan sedang menceritakan tentang penyakit atau cobaan keluarga karena terlalu tinggi. Ini saja yang kaitannya dengan duniawi, hampir kita semuanya tidak ingin mengalami terkena gelombang tersebut.

Kita dididik untuk ‘menerima ridha’. Kalimat ‘menerima ridha’ sebetulnya untuk menjernihkan hati kita dahulu supaya setan tidak masuk ke hati kita, lebih-lebih nafsu. Terus akal kita juga berputar, “Padahal saya tadi demikian-demikian, kok hebat yah tidak laku, apa sih sebabnya?” Untuk beberapa hari, maaf-maaf saja yang akan saya ucapkan karena sebetulnya saya tidak ada niat untuk menyinggung, ‘karena tidak ada pengajian yang menyinggung’. Di kitab itu sudah ada garis-garisnya, ketentuan-ketentuannya. Tapi maklum saja kalau kaki atau tangan ada bengkaknya biasanya kalau kena obat perih, padahal itu obat.

Maksudnya, karena tidak didasari ridha maka yang muncul adalah suudzan, perasangka dulu yang akan muncul. Misal saya punya dagangan. Toko saya sudah dibuka dari tadi, anehnya beberapa hari ini orang kok lewat saja seolah-olah di situ tidak ada toko atau barang dagangan saya. Satu kali masih belum kena goyangan hatinya. Dua kali masih lumayan. Tiga kali mulai datang ke kiai. Kalau tidak datang ke kiai datangnya ke dukun. Kalau ke kiai masih Alhamdulillah. Kalau dukunnya benar masih baik, seumpanya benar.

Begitu datang ke kiai, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam, silakan. Dari mana Bapak?” jawab kiainya. “Dari sini…” jawab tamu. “Alhamdulillah,” kalau orang shaleh, “Hari ini saya gembira Pak. Berarti saya menambah persaudaraan ‘al-Mu’min akhu al-Mu’min al-Muslim akhu al-Muslim’. Kita punya kenalan baru saudara Muslim, Alhamdulillah. Semoga pertemuan perkenalan ini jangan sampai membawa mafsadat atau kerugian yang membawa dalam dunia ini sampai akhirat nanti. Semoga keukhuwahan kita terjalan sampai dunia-akhirat.”

“Kenapa begitu Kiai?” tanya tamu. “Iya, kan kelak di kubur ditanya setelah man Rabbuka waman Nabiyyuka wama qiblatuka sampai waman ikhwanuka. Kan kita ditanya sama Allah Swt. dengan melalui malaikatNya Munkar dan Nakir, ‘man ikhwanuka? siapa teman-temanmu?’. Pasti kita akan menjawab ‘ikhwaniy mu’minin wal mu’minat wal muslimina wal muslimat’.”

Cara Menggalang Persaudaraan dari Hidup sampai Mati

Orang yang tulus, dalam kubur adalah yang mampu untuk menjawabnya, pasti akan mudah menjawabnya. Tapi kalau di dunianya ini tidak menggalang keukhuawahan/persaudaraan, kita sama kita tidak akur karena sesuatu dan lain-lainnya, sehingga banyak dari teman-teman menjauhi diri kita. Maka dari sebab itu ketika kita ditanya “Man ikhwanuka”, muamalah (perbuatan) tadilah yang akan menjawab. Tidak mampu akan menjawabnya, sebab menjawabnya sesuai jawaban ketika hidup di dunianya. Tapi kalau orang yang lapang dada, banyak persaudaraan, banyak keukhuwahan, pasti akan menjawab ‘ikhwaniy’ dengan bangganya karena persaudaraan itu yang muncul. Dengan bangga dan senang akan menjawab, “Saudaraku adalah mu’min wal mu’minat, muslimin wal muslimat”.

Bahkan persaudaraan ini di dalam kematian, dimanapun saja, biasanya masih ada. Misal diantaranya dilontarkan oleh ahli waris, kalau tidak wakilnya, atau salah satu ulama untuk menyaksikan, “Ketahuilah para saudara-saudara, ini mayit baik ya?” Spontan dengan kelapangan hati akan menjawab, “Baik” karena merasa kehilangan saudara, merasa teman yang baik hilang, dan orang itu tidak pernah suudzan. Walaupun terkadang pernah menyakiti, tapi tidak pernah melihat kejelekannya, selalu melihat kebaikannya. Tapi jarang, insyaAllah ada.

Padahal ketika kita menyatakan “Baik”, logika bernalar, “Kita tahu perbuatan si A, kejelekannya kita tahu, sering melanggar apa yang dilarang oleh Allah Swt., seringkali kesurupan botol (isinya/miras), kita tahu bukan katanya. Tapi apapun beliau sudah meninggal, saudara kita ini, kita menyatakan baik.” Baik di sini artinya ‘ma’fu’, memaafkan. Dengan itu akan meringankan beban di alam kuburnya terhadap seseorang yang meninggal. Dan ketika kita sadari telah menyatakan baik, akan menutup semua buku-buku hitam yang dimiliki oleh yang meninggal. Tutup buku, selesai, finish. Kita hanya mengatakan, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”.

 Kalau mendengar orang yang meninggal tadi tidak baik, kita jawab, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”. Karena kita sudah menyatakan baik. Sudah tutup buku. Tapi terkadang kita kurang bijaksana ketika seseorang meninggalkan anaknya atau dalam majelis kita lupa menceritakan orang atau kebusukan orang yang sudah meninggal padahal sudah tutup buku kita menyatakan baik, tidak ada realisasinya. Kalau si A ini yang meninggal punya anak lelaki atau perempuan, paling tidak kalau kita sudah berani menyatakan baik, akan menolong regerenasi atau keturunannya.

Anaknya cantik atau ganteng, kebetulan ada yang mencintainya. Yang namanya orang lelaki atau perempuan yang normal ingin dibuai, disayang, disanjung, wajar namanya manusia normal. Ada seseorang yang mendengar, yang terkadang shahibul usil, datang dari rumah hanya ingin tahu. Tanya, “Nak, benar kamu atau bapaknya ini?” “Benar.” “Saya dengar katanya kamu mau meminang si A atau si Fulanah?” “Iya, doakan saja.” “Apa tidak ada perempuan lain!?” Nah inilah, padahal dia yang pernah menyatakan baik tapi tetap masih mengungkit alamarhum atau yang sudah meninggal, masih dibuka sehingga mengorbankan kepada anak perempuannya.

Tapi bagi orang yang bijaksana menjawabnya ketika datang, “Mas, saya dengar katanya kamu anak lelaki yang ingin meminang si A.” “Iya benar, kenapa?” “Alhamdulillah, syukur, tolong titip, dibina dan dididik. Udahlah itu saja. Terimakasih sekali kalau kamu sampai ke sana, berarti luar biasa. Hebat kalau begitu.” Hilanglah shahibul usil kalau bisa begitu.

Ada lagi anaknya terkadang di pesantren. Karena ibunya baik, ibunya tidak mau anaknya meniru bapaknya (yang sudah meninggal) maka dipesantrenkan sambil sekaloh. Eh datang ke tempat kasepuhan atau yang pantas dituakan, begitu datang dia ditanya, “Lho dari mana Nak, kamu kok lama tidak kelihatan?” “Njeh Pak, saya sekarang di pesantren dan sekolah.” “Bagus, luar biasa. Ini kampung memerlukan generasi muda seperti kalian untuk meneruskan. Bapak kan sudah tua, kan yang meneruskan nanti di pundak kalian. Jangan kayak Bapakmu!” Ini namanya sudah diangkat lalu dibanting. Padahal orang itu ketika itu (meninggalnya si bapak anak tadi) telah menyatakan baik.

Orang yang bijak jawabnya lain, “Di mana Nak? Saya dengar sekarang kamu di pesantren dan meneruskan sekolah di situ.” “Iya Pak betul, doanya.” “Jangan khawatir! Saya bangga, ingin mempunyai anak seperti kamu.” “Lho kenapa Pak?” “Karena kamu anak yang bisa mengangkat nama baik orangtua. Saya ingin kamu teruskan dan teruskan, sebab di kampung ini memerlukan orang-orang atau para pemuda seperti kalian.” Itulah hebatnya, jawabannya mantap.

Ulama Seharusnya Menjadi Penenang

Nah ulama-ulama ini harusnya bisa menjadi penenang. Maaf, jangan menjadi orang yang suka menakut-nakuti. Ada orang datang (membawa) masalah, perut anaknya yang sudah besar. Mending kalau hamil, ternyata bukan perempuan melainkan anak laki-laki. Matanya sudah coklat, ini liver, hepatitis. Begitu datang, “Kiai, minta barokahnya supaya Allah memberikan kesehatan kepada saya.” “Sakitnya apa kata dokter?” “Katanya liver, hepatitis A, B atau C.” “Maka dari itu kamu makannya yang benar. Jangan makan melulu. Ini nih akibtanya, kena luh liver! Udah ingat mati baru datang ke kiai!” La ilaha illallah, ini mau cari penenang malah dimarahi.

Tapi orang (ulama) yang bijak lain lagi, “Kenapa kamu kok perutnya besar?” “Kata dokter hepatitis, Kiai. Obatnya sulit.” “Siapa bilang? Obat itu bukan Tuhan, penyakit bukan Tuhan, sembuh pun bukan Tuhan. Obat mencari sarana Allah supaya memberi kesembuhan, sebagaimana orang makan mencari kenyang, orang minum mencari pelepas dahaga. Kalau seumpanya beri’tiqad penyakit itu mematikan, itu syirik. Karena penyakit itu bukan Tuhan.” Bisa menghibur, karena yang datang adalah saudara kami saudara mu’min-muslim.

Kalau tidak, secara manusiawi kalau bukan Muslim pun harus kita besarkan hatinya. Karena mereka menanggung istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang tidak berdosa. Pandangannya harus luas. Itu diantaranya. “Sudahlah, insyaAllah akan ada obatnya. Yang besar hati. Tawakkal kepada Allah Swt. Jangan tinggal ikhtiar. Saya doakan insyaAllah kamu sembuh.”

Meraup Hikmah dari Ujian yang Datang

Begitu juga seperti si pedagang yang datang kepada ulama atau orang yang shaleh. “Masa orang yang lewat tidak bisa lihat?” “Iya, kayak tidak wajar Kiai.” “Lha tidak wajarnya bagaimana, apa orang itu kalau lewat tidak punya mata?” “Ya punya mata, Kiai.” “Lha iya, jangan begitu, jangan suudzan dulu. Memang belum rizkinya, jangan berperasangka buruk. Saya doakan. Ini dibaca munajat kepada Allah, insyaAllah nanti Allah Swt. akan membuka yang besar usahanya. Terima kehendak Allah nanti kamu dibuka.” Bersih hatinya.

Tapi kalau datangnya (kepada orang yang) salah, “Menurut hitungan saya ada yang membuat. Wajar!” Ini datang husnudzannya untuk mengurangi dosa malah tambah dosa. Akhirnya si setan kulonuwun, tanpa salam masuk saja. Bayangannya muncul,‘khayaliyah’ yang dibawa nafsu dan setan.

Tapi kalau datangnya kepada orang yang shaleh maka jawabannya seperti di atas tadi, “Sudahlah, mesin kendaraan itu kalau jalan terus tidak pernah dikir atau turun mesin, lambat atau cepat akan rusak. Makanya harus turun mesin dulu supaya diperbaiki menjadi baik, olinya dan lain sebagainya terkontrol dengan baik lalu dipasangkan lagi mesinnya. Mungkin sudah mendapat hasil yang baik maka nanti jalannya akan baik. Mari kita sekarang ini masih turun mesin dalam bidang ekonomi, insyaAllah mesinnya akan baik. Amin.”

Ridha itu di situ. Kalau kita menerima ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha. Kalau para auliya, aduuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,” semoga kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan kekuatan. Amin.

(Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017).

Sumber :muslimedianews.com
Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon


Di kalangan Nahdlatul Ulama berlaku pameo, jika tidak ada guyonan atau ledekan, maka itu bukan pertemuannya NU. Demikiian lekat pameo itu melekat NU, sehingga bisa dipastikan setiap ada pertemuan ulama atau para kiai NU, pasti ada humor segar yang terlontar. Spontan dan tentu saja menggelikan.

Seperti terjadi di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, Kamis (16/3. Meski masalah yang dibahas para kiai khos (kiai sepuh) NU adalah masalah genting negara dan bangsa, tetap saja terjadi ger-geran karena adanya guyonan yang dilontarkan.

Bahkan guyonan itu juga terjadi ketika pembacaan naskah deklarasi hasil pertemuan yang dinamai Risalah Sarang. Di penghujung acara, ketika para kiai mendapuk Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri untuk membacakan naskah risalah, mantan Rais Am PBNU yang biasa dipanggil Gus Mus ini pun membacakan naskah dengan gaya pidatonya yang puitis.

Dengan nada sastra yang tartil, ia membacakan mukaddimah yang berisi ayat ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian ayat yang dikutip dari naskah Muqoddimah Qonun Asasi NU yang disusun Hadratusyekh KH Hasyim Asyari, dibacakan Gus Mus dengan penuh khidmat. Hadirin dan para wartawan pun seksama mendengarkan, seraya merekam suara atau merekam video dengan kamera profesional atau smarthphone masing masing.

Tiba tiba, pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin ini nyeletuk: "WAH, di sini gak ada Al Maidah ini...."

Spontan hadirin pun tertawa; "Gerrr... Hahahaa...."

Beberapa orang di barisan belakang menyeletuk: Wah, ini menohok ini... Hehehe....

Dan Gus Mus pun melanjutkan membaca poin-poin naskah risalah itu sambil sesekali melontarkan canda. Seperti ketika membacakan tentang komitmen terhadap NKRI, kiai yang pandai bersyair ini mencandai tuan rumah, Kiai Maimun Zubair.

Mbah Maimun itu suka menyebut saya orang NU nomor satu. Karena saya dinilai selalu menomorsatukan NU. Sedangkan bagi beliau, nomor satu itu Garuda Pancasila, nomor dua baru NU. Tapi saya kan selalu bilang bahwa NU itu selalu ada dan selalu berada di depan untuk NKRI. Jadi tetap saja Republik Indonesia adalah nomor satu.

"Gerrrr..." lagi lagi hadirin tertawa. Mbah Maimun yang persis berada di sampingnya ikut terkekeh meski tak sampai bersuara.

Wah...mbulet tenan iki, sahut seorang peserta Silatnas. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Kiai Hasyim Muzadi Dikerjain Penjual Lampu

Kiai Hasyim Muzadi Dikerjain Penjual Lampu


Kiai Hasyim Muzadi pernah kesal campur heran: mengapa di negari Muslim seperti Indonesia akhlak kadang tidak tampil sebagaimana seharusnya? Sementara di negeri-negeri non-Muslim di luar sana malah berlaku sebaliknya.

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya membeli lampu di Jalan Surabaya, Jakarta, yang memang terkenal sebagai pusatnya barang-barang antik. Semakin kuno barang, semakin mahal.

“Lampu yang kuno harganya Rp2,5 juta, nah kalau yang baru itu cuma seharga Rp 650 ribu,” kisahnya dalam sebuah momen ceramah.

“Saya bilang, saya minta yang kuno, Pak,” katanya kepada penjual lampu.

“Oh, iya, Pak Haji. Ini tinggal satu yang kuno.”

Begitu lampu diterima, Kiai Hasyim segera tahu bahwa ciri-ciri lampu yang di tangannya itu sama sekali tidak menunjukkan barang kuno alias antik.

“Lho ini kan baru, Pak, bukan kuno,” protes Kiai Hasyim.

Jawab penjual lampu, “Haduh sampean ini kok rewel, sampean biarkan saja, nanti lama-lama kuno sendiri.”

“Mati aku,” Kiai Hasyim terkejut.

Mantan anggota Wantimpres ini pun akhirnya membayar lampu itu sebagaimana layaknya barang baru: Rp650 ribu.

“Lho, Pak Haji, kurang ini uangnya,” kata pejual lampu.

“Ya nanti sisanya kalau sudah kuno,” sahut Kiai Hasyim santai.

Obrolan si penjual lampu tiba-tiba beralih seperti basa-basi.

“Bapak dari Sidoarjo ya?” Tanya si penjual lampu.

“Bukan, saya dari Malang.”

“Malang mana?”

“Itu kan di Malang ada Pondok Pesantren Al-Hikam, nah itu pondok saya,”

“Waduh, bapak ini Hasyim Muzadi toh? Kenapa bapak gak bilang, bisa kualat saya…”

“Haduh… haduh… Orang ini sebenarnya takut sama Allah atau sama Hasyim Muzadi?” Batin Kiai Hasyim.  (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Hal-hal yang Dapat Menyebabkan Fakir Miskin

Hal-hal yang Dapat Menyebabkan Fakir Miskin


Wartaislami.com ~ Perbuatan-perbuatan yang bisa menyebabkan kefakiran ;

1. mengusap sisa-sia air wudu’ pada anggota wudu’.
2. melakukan perbuatan dosa.
3. banyak tidur.
4. tidur telanjang (tanpa sehelai pakaian yang menutupi tubuhnya).
5. makan dalam keadaan junub.
6. menganggap remeh hidangan yang jatuh.
7. membakar kulitnya bawang merah.
8. membakar kulitnya bawang putih.
9. menyapu rumah pada waktu malam.
10. membiarkan sampah didalam rumah.
11. berjalan di depan masyaikh.
12. memanggil kedua orang tua dengan namanya.
13. membasuh kedua tangan dengan tanah liat.
14. menganggap enteng sholat.
15. menjahit baju yang ada di tubuhnya.
16. membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah.
17. tergesa gesa keluar dari dalam masjid (cepat-cepat keluar dari masjid).
18. berangkat kepasar pagi-pagi (berangkat awal).
19. pulang lambat dari pasar (pulang akhir).
20. tidak mencuci beberapa wadah.
21. membeli potongan roti dari orang faqir yang meminta minta.
22. memadamkan pelita dengan nafas.
23. menulis dengan menggunakan pena yang di ikatkan kepada sesuatu.
24. menyisir rambut dengan menggunakan sisir yang pecah.
25. tidak mendoakan kedua orang tua.
26. memakai sorban dalam keadaan duduk.
27. memakai celana dalam keadaan berdiri.
28. pelit.
29. terlalu hemat (dalam hal harta).
30. pemborosan (dalam hal harta).

wallahu a'lam
Sumber : kitab hasiyah syarwani
Jika Tiap Kafir Dihabisi, Yang Islam Hanya Nabi

Jika Tiap Kafir Dihabisi, Yang Islam Hanya Nabi


WartaIslami ~ Pria berpakaian gamis dan bersorban itu maju ke depan mewakili rombongan. "Meski di luar topik pembahasan, mumpung di sini ada Gus Mus, saya mau tanya apa betul Gus Mus dekat dengan Gus Dur?" ucapnya mengawali pertanyaan.

"Ya kata orang-orang sih begitu," jawab Gus Mus ringan.

"Kebetulan nih, tolong sampaikan kepada Gus Dur, kita ini yang di bawah capek-capek mau menghabisi orang-orang Nasrani, eeh dia malah datang ke Natalan."

  ;
"Nanti dulu, nanti dulu, kenapa kalian mau menghabisi orang-orang Nasrani itu?" ucap Gus Mus memberi tanggapan.

"Lho, Anda itu bagaimana? Mereka itu kan kafir!" ucap tegas pria bersorban.

"Jadi kalau kafir harus dihabisi?" jawab Gus Mus dengan pertanyaan.

"Iya dong! Yang kafir harus dihabisi!" tegasnya semakin meyakinkan.

"Wah, untung Kanjeng Nabi-nya bukan Anda. Kalau saja yang jadi Nabi Muhammad itu Anda, kita ini masih kafir semua. Dulu, yang Islam cuma Kanjeng Nabi saja. Kalau ada kafir, habisi! Ada kafir, habisi! Ya tinggal Nabi saja. Dan untung Wali Songo-nya tidak seperti Anda. Kalau seperti Anda, kita ini masih Hindu-Budha semua," pungkas Gus Mus memberi jawaban dalam salah satu forum kyai di Kebumen.

Sumber : Muslimoderat.net
Beda Pilkada dan Pil KB

Beda Pilkada dan Pil KB


Dalam beberapa momen ceramah KH Hasyim Muzadi menyindir kelakuan sejumlah politisi dengan sebuah guyonan yang mengontraskan antara pilkada dan pil KB.

“Hadirin tahu, apa bedanya pilkada dan pil KB?”

Jamaah diam. Agak bingung. Lalu menunggu Kiai Hasyim menjawab pertanyaannya sendiri.

“Pilkada, kalau jadi pasti lupa. Sedangkan Pil KB, kalau lupa pasti jadi,” guraunya disambut tawa hadirin. 

(Khoiron)

Sumber : nu.or.id
Hati-hati, Ini Meme “Hoax” Atasnamakan Gus Mus

Hati-hati, Ini Meme “Hoax” Atasnamakan Gus Mus


Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri mengklarifikasi meme yang mengatasnamakan dirinya melalui akun Facebook pada Jumat (10/3). Meme tersebut, menurut kiai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang yang akrab disapa Gus Mus itu, berisi pernyataan yang bukan berasal dari dirinya. Meme tersebut bohong alias "hoax".

Meme yang tersebar melalui media sosial yang dimaksud berbunyi: “Kalau diperhatikan dengan nalar, Habib RIziek ini bukan sekedar ingin merebut kekuasaan. Tetapi ingin menjadi TUHAN seperti halnya FIR’AUN yang ingin semua orang menyembanya.”

Gus Mus menyebut pembuat meme tersebut sebagai orang yang tidak percaya diri. “Mengapa ada orang yang suka menyatakan pikirannya tapi tidak pédé dan mengatasnamakan orang lain?” katanya.

“Aku lebih rela tulisanku diakui sebagai tulisannya, daripada tulisannya diakukan sebagai tulisanku. Ini beberapa contoh saja dari tulisan orang yang diakukan sebagai tulisanku, lengkap dengan fotoku,” tambah kiai yang penulis dan pelukis itu.

Akun Abdul Rohim mengomentari unggahan Gus Mus tersebut: “100% saya ndak percaya bahwa ini adalah omongan mbah mustofa.”

Ida Anida berkomentara: “Hoax....orang sesantun beliau bilang gitu...dosa lho yang buat2 jika nggak segera taubat.”

Sementara putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, melalui akun Facebook mengatakan “Ini loh guys... Abah (dan kami, anak2nya), sampe capek klarifikasi ke sana-kemari, dari sms, WA, fb, twitter dst. Seingat saya, kasus pertama dulu adalah saat seseorang bernama AR Baladewa menciptakan puisi yang mirip (dimirip2kan?) dengan puisi Abah yang paling populer: "Kau Ini Bagaimana, atawa Aku Harus Bagaimana". Tp kemudian memostingnya dengan menyematkan foto Abah. Namanya sendiri ditulis di paling bawah, dengan font kecil. Akibatnya, banyak orang yang kurang teliti menganggap itu beneran puisi karya Abah. Setelah meme itu berhasil mengelabui banyak orang, kasus2 lain menyusul... Gimana ya cara menghentikan hal ini?

Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU Sarmidi Husna mengatakan, seharusnya media sosial menjadi sarana sliaturahim dan perekat persatuan, bukan kebencian dan permusuhan, dan kebohongan atau hoax. Ia mengimbau semakin canggihnya teknologi informasi seharusnya dibarengi dengan kemampuan menyeleksi dan berita.

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kata dia, menyatakan haram perilaku membuat dan menyebarkan berita palsu, bohong, menipu atau dikenal dengan hoax. Pernyataan tersebut mengemuka pada forum bahtsul masail yang digelar di PBNU, Jakarta pada Kamis (1/12/2016). (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini