Mengenang Buya Basith: Beberapa Kunci Sukses Gerakan Sedekah


Oleh Nur Rohman

Setelah bertahun-tahun warga NU mencari tahu bagaimana menggerakkan Nahdliyin untuk bersedekah secara berjamaah, akhirnya gairah untuk membangkitkan kemandirian umat itu ditemukan kembali di Sukabumi. Kebangkitan gerakan sedekah itu terasa nyata hasilnya lewat tangan Ajengan Abdul Basith, tokoh NU yang wafat di Dubai, Uni Emirat Arab pada 15 Maret 2017.

Tahun 1926 menjadi awal bangkitnya para ulama yang punya tugas mulia yaitu memberikan manfaat kepada umat dalam bersedekah berjamaah yang dipelopori oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Gerakan kemandirian umat itu telah lama tumbuh dan berkembang di kalangan santri di Pondok Pesantren. Mbah Hasyim telah memberikan contoh dan praktik di lapangan tentang bagaimana kemandirian itu dibangun secara berjamaah dalam pengelolaan zakat, Infak, dan Sedekah.

Dalam konteks pesantren, Mbah Hasyim mendidik umat, baik orang tua santri dan santri, untuk mandiri. Santri belajar mandiri dari pesantren. Dalam pengelolaannya, Mbah Hasyim tidak membebani orang tua santri untuk membayar iuran pesantren baik untuk belajar maupun untuk kebutuhan tinggal di pesantren (makan, tinggal, listrik, air, dan lain-lain). Dengan memberikan contoh seperti itu, para orang tua santri akhirnya berinisiatif untuk menyedekahkan barang yang ia mampu berikan untuk pesantren: yang punya ikan asin datang dengan ikan asin, yang punya kebun pisang datang membawa pisang, yang lagi panen padi ketika ke pesantren membawa beras, dan ada pula yang membawa amplop berisi uang. Dari gerakan berjamaah itu, kebutuhan pesantren untuk membiayai santri tercukupi.

Di zaman yang modern ini, manusia lebih banyak perhitungannya, segala sesuatau selalu diukur dengan untung dan rugi versinya sendiri. Masyarakat banyak yang lupa tentang konsep Allah yang maha kuasa, kuasa akan segala-galanya. Siapa yang berbisnnis dengan Allah tidak akan pernah rugi baik di dunia maupun di akhirat. Kekuatan sedekah itu hari ini tampak jelas di Cicurug Sukabumi yang dipelopori oleh Ajengan Abdul Basith atau biasa disapa pula Buya Basith. Beliau adalah sosok yang telah berjuang untuk kemandirian umat melalui gerakan sedekah berjamaah. Sepuluh tahun terakhir beliau berjuang untuk membangun Kabupaten Sukabumi. Melihat cerita beliau, subhanallah teladan yang sungguh menginspirasi, betapa susahnya menyakinkan bahwa gerakan ini akan bermanfaat bagi orang banyak. Tuduhan, cacian, dan hinaan datang bertubi-tubi. Ada yang beranggapan nanti uannya kalau terkumpul itu akan dipakai oleh Buya, untuk bangun pesantrennya dan sebagainya.

Bukan tidak ada dasar beliau dalam berdakwah bagi umat, seperti cerita seorang tokoh Luqman Hakim ketika berjalan bersama putra dan keledainya. Ketika Luqman dan anaknya naik berdua di atas keledai, masyarakat mencemooh bahwa mereka tidak kasihan dengan keledai—seekor keledai kok dinaikin dua orang. Begitu juga ketika Luqman turun dan meminta anaknya naik ke atas keledai sementara beliau menuntunya. Masyarakat pun mencela anaknya sebagai pribadi yang tidak sopan. Kemudian ketika Luqman melanjutkan perjalan dan meminta anaknya untuk menuntun keledai dan Luqman naik di atas keledai maka ketika keduanya berjalan melewati kerumunan, masyarakat pun berkomentar, “ayah kok tidak kasihan sama anak, anak disuruh nuntun dan dia enak-enakan kan di atas keledai.” Kemudian ketika Lukman melanjutkan perjalanannya beliau tuntun keledai itu berdua. Masyarakat lantas berkomentar, “Kok punya kendaraan tidak dimanfaatkan.”

Ini pelajaran dan prinsip yang inspiratif dari Buya Basith. Beliau paham betul tentang rintangan dan tantangan yang dihadapi. Rintangan dan tantangan itu tak meruntuhkan semangat Buya Basith untuk lurus dalam gerakan sedekah yang kelak mengubah hal yang sepele menjadi luar biasa besar manfaatnya bagi umat.

Prinsip Dasar dan Konsep Utama

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari dakwah zakat Buya Basith di Cicurug, Sukabumi ini. Beberapa prinsip dasar yang dipegang dan diterapkan adalah sebagai berikut:

Pertama, belajar zakat sebelum nishab. Mengeluarkan zakat, infak dan sedekah bukan perilaku yang bisa dibentuk satu dua hari, tetapi harus dilatih dan dibiasakan sedikit demi sedikit bahkan sejak usia dini. Mendidik masyarakat untuk berzakat tidak bisa dilakukan hanya dengan kata-kata saja dalam ceramah-ceramah Majelis Taklim, tetapi harus disampaikan melalui tindakan nyata. Amaliyah yang terus-menerus akan membentuk kesadaran umat yang akhirnya menjadi perilaku dan akhlak.

Kedua, anjuran “terima-kasih”. Pengurus ZIS dan ulama mengajarkan sebuah rumus sederhana untuk dilaksanakan, yaitu terima-kasih. Setiap menerima rezeki, sebagian harus dikasih. Ada hak orang lain dalam setiap rezeki yang Allah berikan. Setiap menerima upah, langsung diinfakkan 2,5 persen. Setiap menerima bonus atau hadiah langsung dikeluarkan lagi 2,5 persen.

Ketiga, keteladanan. Orang bilang satu contoh lebih baik dari seribu kata-kata. Itulah yang dilakukan oleh Buya Basit di Cicurug Sukabumi. Mereka memegang prinsip memberi sebelum mengajak orang lain berbagi. Keteladanan para penggerak ZIS ini merupakan salah satu kunci efektivitas dakwah ZIS di Sukabumi.

Keempat, hormati setiap orang. Prinsip sederhana ini sungguh luar biasa dan membuat dakwah sedekah didukung oleh banyak pihak baik tokoh agama, tokoh masyarakat dan juga pemerintah setempat bahkan sampai Bupati. Pengurus ZIS tahu betul bahwa setiap orang yang mendukung dakwah ZIS sangatlah berharga. Jadi, dalam setiap pertemuan dalam pidato nama-nama tokoh yang hadir selalu disebutkan namanya satu persatu sehingga semua merasa menjadi tamu istimewa. Pengurus ZIS harus luwes bergaul dengan kelompok masyarakat mana saja mulai dari buruh tani, buruh pabrik, ibu rumah tangga, majelis taklim, ketua RT/RW, ketua karang taruna, kepala desa, camat, bupati, Kapolres dan sebagainya.

Sementara konsep utama dakwah ZIS di Sukabumi yang dilakukan oleh pengurus ZIS adalah bottom up (mulai dari bawah) dan mengutamakan substansi daripada bungkus (aksi lebih baik dari pada seremoni).

Pertama, pelaksanaan ZIS harus bottom-up atau mulai dari bawah. Siapa pun yang akan melakukan dakwah ZIS harus memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Setiap program yang hendak dilakukan sebaiknya dimulai dengan musyawarah yang melibatkan masyarakat.

Seperti yang dilakukan pengurus ZIS Cicurug, mereka menganalisis sebagian besar mata pencaharian masyarakat setempat dan berapa pendapatan yang diterima. Dari sana kemudian diusulkan angka 500 rupiah sehari. Usulan itu ditanyakan ke masyarakat apakah jumlah itu memberatkan atau tidak. Sesudah tercapai kesepakatan barulah program itu dilaksanakan dan hasilnya nyata-nyata bermanfaat untuk masyarakat.

Kedua, dakwah ZIS mengutamakan substansi daripada bungkus. Setiap orang dari kelompok masyarakat manapun berhak mendengar dakwah ZIS bahkan non muslim sekalipun. Ajaran berbagi bukan hanya perintah agama Islam tetapi juga nilai universal sehingga siapapun pasti akan menerima. Sosialisasi ZIS memang dilakukan melalui pengajian dan forum-forum tahlilan tetapi materi sosialisasinya bukan hanya landasan agama, tetapi juga bagaimana sedekah yang dikeluarkan bisa digunakan untuk saling membantu antaranggota masyarakat juga untuk kepentingan umum. Karena manfaatnya sangat dirasakan, tak heran jika masyarakat non muslimpun ikut terlibat dalam kegiatan ZIS di Cicurug.

Semoga Tulisan ini akan menginspirasi kita semua. Berani mencoba di lingkungan Anda? Jadilah manusia yang terbaik di sisi Allah, yaitu manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Amiin.


Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care

Sumber : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Mengenang Buya Basith: Beberapa Kunci Sukses Gerakan Sedekah"

Post a Comment

close
Banner iklan disini