Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani Dirampok

Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani Dirampok


Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.

Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir.

“Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir.

Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah.

Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?”

“Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos.

“Di mana kamu meletakkannya?”

“Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”

Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu.

Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja.

Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya.

“Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu.

“Empat puluh dinar.”

“Di mana empat puluh dinar itu sekarang?”

“Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”

Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin.

“Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?”

“Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir.

Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.”

Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal.

Kisah ini diceritakan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, yang mengutip cerita dari al-Yafi’i, dari Abu Abdillah Muhammad bin Muqatil, dari Syekh abdul Qadir al-Jailani. (Mahbib)
Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani Dirampok
Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.

Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir.

“Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir.

Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah.

Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?”

“Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos.

“Di mana kamu meletakkannya?”

“Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”

Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu.

Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja.

Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya.

“Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu.

“Empat puluh dinar.”

“Di mana empat puluh dinar itu sekarang?”

“Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”

Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin.

“Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?”

“Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir.

Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.”

Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal.

Kisah ini diceritakan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, yang mengutip cerita dari al-Yafi’i, dari Abu Abdillah Muhammad bin Muqatil, dari Syekh abdul Qadir al-Jailani. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Habib Luthfi: Banser Jangan Setengah-setengah Menjaga NKRI

Habib Luthfi: Banser Jangan Setengah-setengah Menjaga NKRI


Ra’is ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an-Nahdiyah PB NU, Maulana Al Habib Muhammad Luthfi, memberi wejangan khusus untuk para kader Ansor dan Banser.

Habib Luthfi menuturkan, Ansor Banser harus bersungguh-sungguh dalam berorganisasi. Tidak Boleh main-main atau guyonan dalam berorganisasi. Karena saat ini Ansor dan Banser adalah garda terdepan dalam menjaga NKRI dan menjaga paham Aswaja annahdliyah.

“Ansor Banser harus sungguh-sungguh berorganisasi, tidak boleh main-main, tidak boleh setengah-setengah, karena Ansor dan Banser garda terdepan menjaga NKRI, menjaga paham Aswaja an-nahdliyah,” tutur Habib Luthfi melalui Kasatkorwil Banser Jawa Tengah, DR Hasyim Asyari, di sela rangkaian kegiatan Kemah Bakti II 2017 PW GP Ansor Jateng.

Dalam kemah bakti dalam rangka Harlah GP Ansor ke 83 diikuti 3.000 kader dari seluruh penjuru Jawa Tengah. Selama tiga hari para kader Ansor Banser mengikuti serangkaian acara, antara lain, lomba film layanan masyarakat, profil cabang, PBB, Proposal Bisnis, Cerdas Cermat, dan mengikuti pagelaran Ansor Bersholawat.

Sebagai puncaknya, dilakukan apel kesetiaan NKRI dan Pancasila.
“Ansor lahir tahun 1934 atau sebelum republic ini berdiri. Maka Maka konsekuensinya Ansor Banser memiliki tanggungjawab untuk menjaga perjuangan ulama yang susah payah mendirikan dan memperjuangkan kemerdekaan republik ini,” kata Kasatkorwil Banser Jateng, DR Hasyim Asyari saat menjadi Inspektur Apel Kesetiaan NKRI Senin (24/4/2017).

Ia menjelaskan, Kemah Bakti ini merupakan yang kedua setelah yang pertama digelar di Kabupaten Semarang 2016 lalu. Kegiatan ini selain ajang silaturahmi antar kader, juga sebagai ajan untuk konsolidasi.

Di dalamnya terdapat kegiatan lomba-lomba untuk memeriksa keterampilan dan keahlian para kader.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang hadir dalam pembukaan Kemah Bakti Harlah GP Ansor, mengapresiasi semangat kebangsaan Pemuda Ansor.

”Perang sekarang ini sudah berubah dengan gadget, narkoba, pornografi dan hoax yang fitnahnya luar biasa. Setelah kegiatan ini harus ada yang direnungkan bersama dan dilaksanakan. Terlibat dalam pengawal persoalan kebangsaan,”kata Ganjar.

Dalam acara pembukaan, Sabtu (22/4/2017) juga dihadiri Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Quomas, Anggota DPD RI Achmad Muqowam, dan Ketua PWNU Jateng Dr Abu Hapsin.

Dalam acara tersebut, Abu Hapsin mengatakan “An-Nahdliyah itu penting karena sekarang banyak Ormas yang mengku Sunni bahkan ISIS saja mengaku Aswaja. Maka jangan sampai keliru, maka ini perlu ditambah an-Nahdliyah sebagai penanda bahwa ini telah menyelamatkan Nahdliyin dan bangsa Indonsia dari perpecahan,” tuturnya.(Sho/Hud/ansorjateng.net)

Sumber : muslimoderat.net
Majikan Dungu Sakit Gigi

Majikan Dungu Sakit Gigi


Seorang majikan dungu sudah dua hari sakit gigi keras. Ia sebentar-sebentar memegang rahang. Sementara tangan satunya memijit kepala. Rebahan, salah. Duduk, tidak betah. Berdiri, gelisah.

Ketimbang bicara, ia lebih sering marah-marah tanpa sebab yang jelas. Marah pun tak jelas siapa yang dituju. Pokoknya nyeri gigi, hebat luar biasa.

“Kalau ketemu dokter, aku akan sampaikan semua keluhan sakit gigiku yang tak tertahankan ini agar ia dapat memberi obat yang manjur,” kata si dungu.

“Kalau sakit gigi tuan sudah parah begitu, mana sanggup tuan banyak bicara,” jawab babunya yang lebih sehat baik lahir maupun mental. (Alhafiz K)


Sumber : nu.or.id
Pendosa yang Diampuni Sebab Menolong Anjing

Pendosa yang Diampuni Sebab Menolong Anjing


Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a yang mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah bercerita:
Dahulu ada seorang yang tengah melakukan perjalanan, di tengah jalan dia merasa sangat haus sekali, kemudian ia mendapati sumur, lalu cepat cepat dirinya turun lantas meminum airnya. Kemudian setelah dahaganya hilang, ia keluar. Ternyata ia mendapati ada seekor anjing yang sedang menjilat-jilat, memakan rerumputan di sekitar sumur karena kehausan, orang itu pun berkata, “Anjing ini telah kehausan sama seperti ketika tadi aku merasa dahaga sekali.”

Kemudian orang tersebut turun kembali ke sumur itu lagi, lalu mengambil air dengan sepatunya. Lantas keluar sambil menggigit sepatu tadi dengan mulutnya. Setelah keluar kemudian air itu diminumkan kepada anjing tadi. Maka Allah swt berterimakasih kepadanya, dengan mengampuni dosa-dosanya.


Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah saw, apakah dengan mengurus binatang kami bisa memperoleh ganjaran?”
Beliau menjawab, “Setiap bibir yang basah ada pahalanya.”

( Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim )

Sumber :muslimoderat.net


Orang Gila yang Menasehati Penguasa

Orang Gila yang Menasehati Penguasa


Bahlul adalah seorang laki-laki gila yang hidup di masa khalifah Harun ar-Rasyid.  Suatu hari khalifah berjalan di depannya sementara ia sedang duduk di atas batu nisan pekuburan.

“Hai Bahlul, orang gila! kapan kamu waras?” seloroh khalifah Harun ar-Rasyid penuh kemarahan.
Bahlul bangkit dari tempat duduk, kemudian mendekati sebuah pohon yang menjulang tinggi.
“Hai Harun, si gila! Kapan kamu waras?” balas Bahlul berteriak.

Khalifah Harun ar-Rasyid pun mendekati pohon itu. “Aku yang gila atau kamu yang menduduki batu nisan pekuburan?” tantang khalifah kepada si Bahlul.

“Tentu aku yang waras,” jawab Bahlul.
“Bagaimana bisa seperti itu?” selidik khalifah Harun.

“Karena aku tahu kalau istana yang kau tempati itu pasti hancur, sementara kuburan ini akan tetap selamanya,” jawab Bahlul sambil menuding ke batu nisan.

“Kamu hidup sebelum batu nisan ini ada. Dan kamu ada di istana ini kemudian keluar menuju batu nisan ini. Kamu sendiri tidak ingin istanamu runtuh padahal kamu sudah tahu kalau kuburan ini akan menjadi tempat kembali,” imbuh Bahlul.

“Katakan padaku! Mana yang sebenarnya gila?” tantang Bahlul kembali pada khalifah Harun.
“Maha benar Engkau, ya Allah,” ucap khalifah Harun.

“Kamu semestinya berpegang pada kitab Allah,” nasehat Bahlul.

Khalifah Harun ar-Rasyid gemetar. Ia sesenggukan menahan tangis. Bibirnya peluh tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Diam seribu bahasa. [mff/tasamuh.id]

Sumber : muslimoderat.net
Hasyim Muzadi, Kolesterol dan Kiai Madura

Hasyim Muzadi, Kolesterol dan Kiai Madura


KH Hasyim Muzadi termasuk di antara kiai-kiai NU yang punya selera humor tinggi. Humor Kiai Hasyim berserakan kepada orang-orang yang pernah dekat dengannya. Staf Khusus Menteri Sosial RI Mas’ud Said termasuk orang yang terkesan dengan humor Kiai Hasyim.

Menurut Mas’ud Said, saat Kiai Hasyim menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim pernah diundang oleh kiai dari Madura.

Orang Madura, katanya, kalau menyambut kiai besar apalagi Ketua Umum PBNU, sudah pasti penghormatannya luar biasa. Semua mobil yang bagus datang, makanan yang enak dihidangkan.

“Mari Kiai Hasyim ini udang, mari Kiai Hasyim ini kepiting yang enak ini,” kata Kiai Madura mengajak Kiai Hasyim untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Pak Haji, gak boleh saya makan gini-gini karena kolesterol,” kata Kiai Hasyim menolak dengan diikuti penjelasan kesehatannya. Tapi kiai Madura itu tidak putus asa agar Kiai Hasyim tetap memakannya.

Ia berujar kepada Kiai Hasyim, “Jangan dimakan kolesterolnya kiai, dagingnya saja (yang dimakan),” timpal si kiai asal Madura itu dengan logat khas Maduranya.

Kisah ini diceritakan Prof Mas’ud Said saat menghadiri 40 hari Almaghfurlah KH Hasyim Muzadi di Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat, Ahad (23/4). (Husni Sahal)

Sumber : nu.or.id
Ketika Seorang Kiai Mengalahkan Mukidi

Ketika Seorang Kiai Mengalahkan Mukidi


Seorang Kyai pulang dari mengumpulkan ranting² pohon di gunung daerah benda Sirampog brebes,
ditengah perjalanan pulang berjumpa seorang Pemuda bernama mukidi yang baru saja menangkap seekor Kupu² digenggaman tangannya.
Mukidi berkata kepada Kyai
"Wahai Kyai, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan??
Bagaimana tebak2an nya ? tanya sang kyai.
Coba tebak, kupu² dalam genggamanku ini hidup atau mati ?
Kalau anda salah tebak, sepikul ranting itu jadi milikku. jawab mukidi
Sang Kyai setuju, lalu menebak, " Kupu² didalam genggamanmu itu mati"
Mukidi tertawa ngakak hahahaha, kyai anda Salah, sambil membuka genggamnya, kupu² itu pun terbang pergi.
Sang Kyai berkata, "Baiklah, ranting ini milikmu". habis itu sang Kyai menaruh pikulan rantingnya dan pergi dengan gembira.
Mukidi tidak mengerti kenapa sang Kyai begitu gembira,,,,, ckckck aneh pikir mukidi
Sejurus kemudian mukidi yg mendapat sepikul ranting pohon, dia dengan gembira membawanya pulang.
Di rumah, Ayah mukidi bertanya soal asal muasal sepikul ranting pohon itu.
Lalu mukidi dengan bangga menceritakan kisah sesungguhnya.
Ayahnya marah setelah mendengar cerita mukidi, sambil berkata, "Kamu mengira kamu benar² menang !!?
Kamu salah ... Sebenarnya kamu salah , tapi tidak mengetahui bagaimana salahnya.
Mukidi bingung 360 keliling,

Si ayah memerintahkan anaknya memikul rantingnya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke tempat sang Kyai itu dan meminta maaf kepada Kyai.
Sang Kyai hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum tanpa bilang apapun
Dalam perjalanan pulang, mukidi bertanya soal ketidak mengertiannya kepada Ayahnya.
Si Ayah menarik napas panjang dan menerangkannya,
Kyai itu sengaja bilang kalau kupu² itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu² itu, sehingga kamu menang.
Kalau Kyai itu bilang kupu² itu hidup, kamu pasti meremas kupu² dalam genggamanmu hingga mati, juga kamu yang menang.
Kamu mengira Kyai itu tidak mengetahui kelicikanmu ?
Beliau merelakan sepikul ranting pohon, tapi memenangkan CINTA KASIH
----Inti Cerita----
Kebiasaan manusia berlaku SERAKAH / MAU UNTUNG untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain, Maka dengan cara apapun akan dia lakukan , karena Tidak memiliki CINTA KASIH dalam Hatinya ...
Ranting² Pohon bisa di dapat dan dicari kembali.
Namun. Kehidupan/Nyawa jika sudah Hilang ... tidak bisa Kembali lagi.
Belajarlah Memiliki CINTA KASIH Pada Hatimu Yang Paling Dalam ...
karena AJARAN TERTINGGI SEMUA AGAMA ADALAH CINTA. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Sumber : muslimoderat.net
Walau Ditolak Takmir Masjid Sunan Ampel, Habib Rizieq Tetap Hadir

Walau Ditolak Takmir Masjid Sunan Ampel, Habib Rizieq Tetap Hadir


Habib Rizieq Shihab telah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, Selasa (11/4/2017) siang.

Menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 310 dari Jakarta, Habib Rizieq tiba sekitar pukul 11.45 WIB.
Dia datang untuk menghadiri acara pengajian akbar yang akan digelar di Masjid Ampel, Surabaya, mulai pukul  19.00 WIB.
Kedatangan Habib Rizieq disambut oleh para pengikutnya dari Front Pembela Islam (FPI) saat keluar dari pintu kedatangan pukul 12.15 WIB.
Beberapa satgas dikerahkan untuk mengamankan datangnya Habib Rizieq.
Saat keluar dari pintu kedatangan domestik, beberapa orang mengerumuninya.
Ia dikawal oleh rombongan dari FPI mulai turun dari pesawat hingga masuk ke mobil.
Takbir dan sholawat disuarakan para rombongan FPI saat mengantar Habib Rizieq menuju mobil.
Menggunakan mobil berwarna merah, Habib Rizieq meninggalkan Terminal Dua Bandara Juanda diikuti beberapa mobil FPI.
Kedatangan Rizieq ini menjawab teka-teki jadi tidaknya tabligh akbar tersebut.
Pasalnya, sehari sebelum pelaksanaan, takmir masjid Agung Sunan Ampel memastikan tidak memberikan izin kegiatan tersebut.
Pernyataan tersebut diungkapkan Ketua Takmir Masjid Ampel KH Mohammad Azmi Nawawi saat bertemu dengan Kapolres Tanjung Perak AKBP Ronny Suseno, Senin (10/4/2017).
Kedatangan Azmi ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak diakui merupakan bentuk adanya desakan dari masyarakat pecinta Masjid dan Makam Sunan Ampel terkait pengajian yang bakal dihadiri Habib Rizieq.
"Masyarakat pecinta Masjid dan Makam Sunan Ampel mendesak kami berbuat sesuatu. Ini sekiranya bisa menjawab keinginan mereka," terang Azmi.
Saat bertemu Kapolres Ronny, Azmi juga membawa lembaran pemberitahuan sikap Takmir Masjid Sunan Ampel terhadap kegiatan yang disebutnya tabligh akbar tersebut.
Inilah keputusan Takmir Masjid Sunan Ampel terkait rencana pengajian yang kabarnya dihadiri Habib Rizieq.
1. Takmir Masjid Agung Sunan Ampel menyatakan tidak terlibat dalam penyelenggaraan acara tabligh akbar tersebut.
2. Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak penah mengizinkan dan memberi izin dalam bentuk apapun baik lisan maupun tertulis kepada kelompok yang mengatasnamakan panitia tabligh akbar tersebut.
3. Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak terlibat dan melibatkan diri pada acara tabligh akbar tersebut.
4. Karena adanya desakan masyarakat yang menyatakan peduli terhadap Masjid Agung Sunan Ampel dan Makam Sunan Ampel agar acara tersebut, kami selaku Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak bertanggung jawab jika terjadi gesekan dengan masyarakat yang pro dan kontra.
5. Segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan acara tabligh akbar di Masjid Agung Sunan Ampel tanggal 11 April 2017 sebelum dan sesudahnya, kami selaku Takmir Masjid Agung Sunan Ampel menyatakan tidak ikut bertanggung jawab.
Surat pemberitahuan itu ditandatangani jajaran Takmir Masjid Agung Sunan Ampel yakni KH Mohammad Azmi Nawawi, KH Dzulhilmi Ghozali, KH Mohammad Amin Iman, dan H Wahyudin.

Sumber : muslimoderat.net
Tanpa Embel-embel Bela Agama dan Isu Politik, Kenapa Jamaah Istighosah Meluber

Tanpa Embel-embel Bela Agama dan Isu Politik, Kenapa Jamaah Istighosah Meluber


Saya merasakan pada awalnya agak pesimis jamaah nahdliyin yang hadir demikian besar di GOR Delta Sidoarjo. Apalagi update info dari kawan2 panitia khususnya koordinator daerah, sampai H-2 dalam hitung-hitungan masih jauh dari harapan memenuhi dan meluberi GOR tersebut. Saya yakin, teman2 panitia lain juga demikian yang dirasakan. Kekhawatiran itu muncul, sebab apa sih menariknya acara Istighotsah? Berkumpul, berdo'a bersama, tanpa orasi politik, tanpa target politik apapun? Bagi media-media mainstream, angle dan frame apa yang bisa menarik? Apalagi para kyai (syuriah) mewantiwanti untuk tetap menjaga niat dari awal, hanya istighotsah!!!

Kami dari bidang media, demikian kesulitan mencari frame, angle dan isu untuk diangkat agar bisa menarik warga NU hadir. Pada akhirnya kepasrahan itu menjadi sandaran, pasrah untuk mewujudkan niat berkhidmah kepada Jam'iyah, para kyai, yang benar-benar hendak mengharap ridla Allah. Soal isu dan angle akhirnya berusaha untuk mewujudkan niat tulus itu, bukan untuk mencari sensasi. Mengenang akan kesejarahan Sidoarjo pada masa pasca proklamasi, sejarah awal para muasis NU, jaringan intelektual para kyai yang bersimpul di Sidoarjo. Kesemuanya untuk mengajak dan menggugah bahwa Istighotsah adalah tradisi NU di saat melalui masa-masa sulit seperti sekarang ini.

Ringkasnya, bahwa kehadiran jamaah dalam Istighotsah Kubro kemarin benar-benar atas berkah rahmat Allah swt, tidak lain dari itu. Ikhtiar dari panitia dan semua yang terlibat adalah sebuah posisi dan prosesi menempatkan pada jalur rahmat Allah tersebut. Gampangnya "menepakkan diri" saja, dan kok diberi pas.
Smoga tradisi Istighotsah ini tetap terjaga, demikian pula gerak batin di dalamnya, membangkitkan nurullah yang bisa jadi terkubur terlalu dalam pada jiwa-jiwa kita. Harapnnya kemudian memancar ke sekeliling, membawa rahmat bagi sekitarnya.

Sumber : muslimoderat.net
[Resmi] Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak Beri Izin Pengajian Habib Rizieq

[Resmi] Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak Beri Izin Pengajian Habib Rizieq


 Habib Rizieq Shihab direncanakan hadir dalam pengajian yang digelar di Masjid Ampel, Selasa (11/4/2017) besok. Meski digelar di Masjid Ampel, namun takmir Masjid Ampel menyatakan tidak terlibat dalam penyelenggaraan pengajian tersebut.

Pernyataan itu dikemukakan Ketua Takmir Masjid Ampel KH Mohammad Azmi Nawawi saat bertemu dengan Kapolres Tanjung Perak AKBP Ronny Suseno. Pernyataan itu merupakan salah satu kesepakatan yang menjadi keputusan takmir Masjid Agung Sunan Ampel.

"Kami silaturahmi ke kapolres, untuk menyalurkan dan memberitahu bahwa kami sebagai takmir Masjid Sunan Ampel sudah melakukan sesuatu," ujar Azmi, Senin (10/4/2017).


Sesuatu yang dimaksud Azmi adalah tentang pengajian yang Habib Rizieq direncanakan akan datang. Kedatangan Azmi ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak dikarenakan adanya desakan dari masyarakat pecinta Masjid dan Makam Sunan Ampel terkait kegiatan tersebut.

"Masyarakat pecinta Masjid dan Makam Sunan Ampel mendesak kami berbuat sesuatu. Ini sekiranya bisa menjawab keinginan mereka. Kami salurkan ini secara resmi," kata Azmi.

Azmi sendiri membawa lembaran pemberitahuan tentang sikap takmir Masjid Sunan Ampel terhadap kegiatan yang disebutnya tabligh akbar tersebut. Lembaran pemberitahuan itu diterima oleh Ronny.

Berikut adalah keputusan takmir Masjid Sunan Ampel terkait kegiatan tabligh akbar yang rencananya digelar pada Selasa besok. Keputusan itu merupakan hasil dari rapat koordinasi jajaran takmir yang digelar pada Jumat, 7 April 2017 pukul 19.30 WIB di Ampel Magepur.

1. Takmir Masjid Agung Sunan Ampel menyatakan tidak terlibat dalam penyelenggaraan acara tabligh akbar tersebut.

2. Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak penah mengizinkan dan memberi izin dalam bentuk apapun baik lisan maupun tertulis kepada kelompok yang mengatasnamakan panitia tabligh akbar tersebut.

3. Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak terlibat dan melibatkan diri pada acara tabligh akbar tersebut.

4. Karena adanya desakan masyarakat yang menyatakan peduli terhadap Masjid Agung Sunan Ampel dan Makam Sunan Ampel agar acara tersebut, kami selaku Takmir Masjid Agung Sunan Ampel tidak bertanggung jawab jika terjadi gesekan dengan masyarakat yang pro dan kontra.

5. Segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan acara tabligh akbar di Masjid Agung Sunan Ampel tanggal 11 April 2017 sebelum dan sesudahnya, kami selaku Takmir Masjid Agung Sunan Ampel menyatakan tidak ikut bertanggung jawab.

Surat pemberitahuan itu berstempel dan ditandatangani oleh jajaran Takmir Masjid Agung Sunan Ampel yakni KH Mohammad Azmi Nawawi, KH Dzulhilmi Ghozali, KH Mohammad Amin Iman, dan H Wahyudin.
(iwd/bdh/detikcom)

Sumber : muslimoderat.com
Kesan Mendalam Khofifah saat Hadir di Istighotsah Kubro NU

Kesan Mendalam Khofifah saat Hadir di Istighotsah Kubro NU


Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Hj Khofifah Indar Parawansa ikut bergabung dalam istighotsah kubro dengan ratusan ribu Nahdliyin di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (9/4).

Menteri Sosial Ri ini mengungkapkan kesan mendalamnya ketika ikut larut dalam dzikir, wirid, dan lagu-lagu kebangsaan dikumandangkan oleh sekitar 500.000 warga NU yang kompak mengenakan dress code putih-putih itu.

“Saya bersyukur dan terkesan saat menghadiri Istighotsah Kubro memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-94 bersama lebih dari 500.000 warga NU dari seluruh Jawa Timur yang memadati stadion Delta Sidoarjo,” jelas Khofifah.

“Sejuk sekali batin ini menyimak setiap lantunan doa. Betapa cintanya kita pada Allah, pada bangsa ini sehingga semua dapat hadir dengan ikhlas memohon kepada Sang Pencipta agar bangsa ini aman, damai dan rakyatnya selalu dalam lindungan Allah SWT,” imbuhnya.

Acara yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengangkat tema 'Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurullah (Cahaya Ilahi)’.

Di tengah kondisi bangsa Indonesia saat ini yang penuh tantangan dan baik dari dalam maupun dari luar negeri, kegiatan ini tentunya sangat relevan dengan tugas-tugas di Kementerian Sosial dalam harmonisasi sosial dan keserasian sosial dalam masyatakat.

“Jika saling bersaudara akan terwujud harmoni dan jika ada harmoni akan teguh NKRI. Maka terwujudlah keadilan ekonomi, keadilan hukum dan keadilan politik demi kemaslahatan umat,” tandas perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini. (Red: Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Inilah Maklumat PWNU Jatim dalam Istighotsah Kubro

Inilah Maklumat PWNU Jatim dalam Istighotsah Kubro


Istighotsah Kubro PWNU Jatim yang diselenggarakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo Jawa Timur salah satunya mengeluarkan maklumat  yang dibacakan oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Iskandar. Berikut makmulat yang terdiri dari lima poin.

Pertama, menjaga agama dari hal-hal yang bisa merusak baik dari agama sebagaimana ulama zaman dahulu menyebarkan Islam yang damai dan teduh.

Kedua, menjaga NKRI dari segala hal yang bisa merusak dari sisi manapun.

Ketiga, menjaga amanah seraya menegakkan keadilan sosial pemimpin agama, politik, masyarakat dan lain-lain, agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang semakin parah sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Keempat, menjaga umat dari kebangkrutan rakyat dan masalah sosial, dan agama agar berharga di mata masyarakat dan Allah SWT.

Kelima, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dengan cara menjaga kedamain ketentraman dan keamanan, tidak cepat emosi dengan bermuhasabah atau introspeksi diri dan kesadaran kalau selalu dilihat Allah dan selalu bermunajat.

KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa maklumat tersebut hendaknya dilaksanakan oleh seluruh warga NU di Jatim agar kondisi basis warga NU ini tetap kondusif.

"Maklumat ini adalah renungan dari para kyai NU atas keadaan masyarakat dan umat di Jatim dan Indonesia saat ini," ujar KH Anwar Iskandar, Ahad (9/4). Red: Mukafi Niam

Sumber : nu.or.id
Innalillahi, Kader FPI Sumenep Sebut Istighosah NU sebagai Konser Tahlil

Innalillahi, Kader FPI Sumenep Sebut Istighosah NU sebagai Konser Tahlil


Sumenep-Salah satu kader Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Sumenep, Farid, menyebut istighosah NU di GOR Sidoarjo sebagai konser tahlil, Ahad (9/4). Pernyataan yang dilontarkan Ketua LSM Gugus Anti Korupsi Indonesia (Gaki) tersebut menggunakan nama akun Gaki Farid.

Bahkan, Farid memplesetkan nama GP Ansor menjadi ancor. Ancor merupakan bahasa Madura yang berarti rusak atau hancur.

Kontan saja, pernyataan fans berat Habib Rizieq tersebut menuai protes keras dari warga nahdliyin dan umat Islam Madura.

Pakar hukum Abdul Majid menegaskan, pernyataan Farid tersebut bisa masuk delik aduan. Pernyataan pemuda yang sering menghina NU ini bisa diperkarakan, sesuai dengan pasal 27 ayat (3) UU ITE.

“Dalam pasal tersebut dijelaskan, bahwa masuk katagori delik aduan bila setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik,” paparnya.

Sementara itu, salah satu kader GP Ansor Sumenep, Herman Pratama, mengaku tidak heran dengan perilaku Farid. Pasalnya, dia memang sudab dikenal bicara ngawur.
“Saya pernah satu forum dengan orang yang namanya Gaki Farid ini di Aula Kapolres Sumenep. Dia bicaranya saja tidak sistematis, ngawur sana sini, tidak punya landasan pembicaraan. Jadi dengan adanya komentar dia yang selalu menjelekkan NU, saya tidak kaget lagi. Sudah tabiat dia merasa benar sendiri, yang lain salah,” tukasnya. (Zainal Arifin/mediajatim.com)

Sumber : muslimoderat.net


Hina Kiai Said Gila, Habib Husni Ba'abud Ketakutan, Minta Maaf dan Tutup Facebook

Hina Kiai Said Gila, Habib Husni Ba'abud Ketakutan, Minta Maaf dan Tutup Facebook


Di Jawa Tengah, jamaah Facebook sudah tidak asing dengan nama provokator, yakni Muhammad Husni Sadikin Ba'abud.Oknum Habaib  Alumnus IAIN Walisongo Semarang tersebut kerap melempar penghinaan dan ucapan nyinyir kepada NU, nahdliyyin, kiai dan santri yang tidak sependapat dengannya.

Pria asli Wonosobo yang selalu membenarkan Tuan Habib Rizieq Shihab, pada Kamis (06/04/2017) kamarin terpaksa harus meminta maaf kepada publik setelah tersandung status penghinaan kepada Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj.

Dalam sebuah komentar, Husni menyamakan Kiai Said dengan Yazid Jawas (wahabi) dengan KH Said Aqil Siraj sebagai orang yang sama-sama gila. Bahkan ia menyebut Kiai Ishomudin lebih gila lagi dari keduanya?

Selama ini, Husni dikenal publik tidak pernah dan pantang menyerah untuk meminta maaf, laiknya Tuan Habib Imam Besar Laskar Petamburan tersebut. Namun, atas alasan yang entah, ia akhirnya mau membubuhkan tanda tangan dalam surat pernyataan meminta maaf kepada nahdliyyin dan juga Banser seluruh Indonesia.

Ini screenshoot permintaan maaf Husni Ba'abud yang sempat didokumentasikan tim Dutaislam.com sebelum akun Facbooknya ditutup.


Jika Anda masing ingin menyapanya, silakan langsung ke link Facebook lamanya. Muhammad Husni Ba'bud. Anda masih bisa menemukan foto sampul akun Husni Ba'abud yang bergambar wow masyaallah cintanya! [dutaislam.com/ab]

Sumber : muslimoderat.net
Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir

Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir


Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri mengatakan, doa adalah tiang agama, penerang langit dan bumi. Jika umat ini mempunyai khazanah spiritual yang diwujudkan dengan doa, insyaallah solusi dari Allah akan turun, bencana akan diangkat. Karena senjata orang mukmin adalah doa.

Apabila seseorang mau berdoa, lanjut kiai yang akrab disapa Gus Ali ini, hal itu menunjukkan bahwa tiang-tiang agama yang di ada hati orang tersebut masih berdiri tegak. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin kuat istiqamah dalam berdoa. Itulah kekayaan bangsa Indonesia yang sulit ditandingi bangsa-bangsa lain.

"Kita banyak mengalami ketimpangan, bencana melanda di mana-mana, tapi di sisi lain, manusia mempunyai hubungan vertikal yang kuat kepada Allah, sehingga di sana banyak rentetan jalan keluar dan keberkahan senantiasa diberikan kepada manusia," kata Gus Ali saat memberikan keterangan kepada awak media usai istighotsah kubro, di stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (9/4).

Gus Ali berharap, melalui momen istighotsah ini mampu menjadi sebuah langkah cerdas dan positif bagi siapa pun yang hadir dan menyaksikan bahwa kekuatan doa dan kekuatan umat Islam tidak bisa dipandang sebelah mata. Jaya dan tidaknya Republik Indonesia, katanya, sangat ditentukan dengan jaya dan tidaknya Islam di Indonesia. Jaya dan tidaknya Islam di Indonesia sangat ditentukan dengan jaya atau tidaknya Nahdlatul Ulama.

"Kalau di Indonesia ini saya contohkan seperti bus, penumpang terbesar adalah umat Islam. Bila bus ini berjalan lancar dan aman, yang menikmati adalah umat Islam. Apabila bus ini jalannya oleng sampai nabrak dan terbakar, korban terbesar adalah umat Islam dan korban kedua adalah jamiyah Nahdlatul Ulama," katanya.

Gus Ali menyatakan bahwa kegiatan istighotsah ini jangan dipandang sekadar wirid dan dzikir. Akan tetapi sebuah upaya merangkul umat, menyatukan umat dalam satu barisan mengawal NKRI agar tetap utuh, mengawal ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), nahdlyiyah (persaudaraan ke-NU-an), dan Islamiyah (persaudaraan keislaman). Semuanya itu tetap dikawal dengan semangat, gairah dan kesadaran baru. (Moh Kholidun/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Rais 'Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

Rais 'Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim


Rais ‘Aam PBNU KH Ma'ruf Amin menyatakan, Istighotsah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di Stadion Gelora Delta Sidoarjo itu merupakan keinginan para ulama agar bermunajat kepada Allah SWT dalam rangka menjaga umat, bangsa, dan negara dari berbagai malapetaka.

"Kita bersyukur dan bangga bahwa ulama tidak hanya sibuk di pesantren mencetak santri menjadi ulama. Tapi ulama mempunyai perhatian yang besar terhadap kehidupan bangsa dan negara. Oleh karena itu, para ulama mengajak untuk berkumpul mengetuk ‘pintu langit’ memohon nurullah, cahaya di atas segala cahaya," kata Kiai Ma'ruf Amin saat memberikan pengarahan pada acara istighotsah kubro, Ahad (9/4).

Kiai Ma'ruf menceritakan, minggu lalu pihaknya bertemu Presiden Joko Widodo. Kiai Ma'ruf mengatakan kepada Presiden bahwa warga NU dan seluruh warga Nahdliyin di Jawa Timur akan mengadakan Istighotsah Kubro mendoakan negara agar aman, tenteram, sejahtera, dan damai. “Dan beliau (Presiden Jokowi) terharu sekali,” katanya.

Lebih lanjut Kiai Ma'ruf menegaskan, upaya lahiriah yang dilakukan oleh pemerintah dari atas sampai ke bawah harus didukung melalui upaya batiniah. Bahkan kalau semua manusia memperoleh rahmat Allah, upaya betatapun kecil yang dilakukan akan berdampak besar.

"Dan itu sudah pernah diakui ketika bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari Belanda, meski menggunakan peralatan seadanya, bangsa Indonesia bisa merdeka," tegas Ketua MUI pusat itu. (Moh Kholidun/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Bantahan Habib Munzir atas Pernyataan Bin Baz yang Menuduh Syirik Istighatsah

Bantahan Habib Munzir atas Pernyataan Bin Baz yang Menuduh Syirik Istighatsah


Pernyataan Ulama Wahabi  Abdullah Bin Baz bahwa Istighatsah itu  syirik:

Dan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Saw ditanya “Dosa apakah yang paling besar?”, beliau menjawab
“(Dosa yang paling besar) ialah kamu menjadikan (Tuhan) tandingan bagi Allah, padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu”.

Maka setiap orang yang menyeru selain Allah atau beristighatsah, bernadzar, menyembelih dan memberikan sesuatu dari jenis ibadah kepada selain Allah berarti ia telah menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah, baik ia seorang Nabi, Wali, Malaikat, Jin, Berhala maupun makhluk–makhluk lainnya.

Adapun meminta tolong kepada seseorang yang masih hidup serta hadir untuk melakukan seseuatu yang dalam batas kemampuannya, tidaklah termasuk perbuatan syirik. Akan tetapi itu merupakan hal–hal biasa yang boleh dilakukan sesama kaum muslimin, sebagaimana yang diabadikan Allah dalam kisah Nabi Musa.

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya” QS. Al Qashash : 15.
Dan dalam ayat lain tentang Musa, Allah berfirman: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu–nunggu dengan khawatir” QS. Al Qashash: 21.

Atau sebagaimana seseorang meminta bantuan teman– temannya dalam peperangan atau dalam situasi–situasi sulit lainnya, dimana sebagian orang membutuhkan bantuan sebagian yang lain.
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan Nabi-Nya SWT untuk memaklumkan kepada umat manusia bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat. Allah berfirman :
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan” QS. Al Jin: 20-21.

Dan dalam surat Al A’raaf, Allah berfirman “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak–banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang–orang yang beriman” QS. Al A’raaf: 188. Dan banyak lagi ayat– ayat yang semakna dengannya.

Nabi Saw tidak berdoa kecuali kepada Tuhannya dan tidak meminta pertolongan melainkan kepada-Nya. ketika perang Badr, beliau (saw) memohon bantuan (istighatsah) dan pertolongan untuk mengalahkan musuhnya kepada Allah. Tidak henti–hentinya beliau (saw) memohon dan bermunajat kepada Allah seraya berkata “Wahai Tuhanku! Tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku!”, sampai–sampai AbuBakar As-Shiddiq merasa belas kasihan kepadanya dan berkata “Cukuplah sudah, wahai Rasulullah engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Allah pasti akan menepati janji-Nya kepadamu” lalu Allah menurunkan firman-Nya:
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut–turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentetam karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” QS. Anfaal: 9-10.

Di dalam ayat–ayat ini Allah mengingatkan mereka saat mereka memohon bantuan kepada-Nya. Kemudian Allah mengabarkan bahwa Dia telah mengabulkan permintaan mereka dengan mengirim bala bantuan malaikat–malaikat. Kemudian Dia menjelaskan bahwa kemenangan yang mereka raih itu bukan karena bantuan malaikat itu, akan tetapi hanya sekedar untuk menentramkan hati mereka dengan kemenangan itu datangnya dari sisi Allah. dan di dalam surat Ali Imran, Allah berfirman “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr, padahal kamu adalah (ketika itu) orang– orang yang lemah. Karena itu bertawakkal kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” QS. Ali Imran: 123.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Dia-lah Sang Penolong mereka pada hari peperangan Badr. dengan demikian, diketahui bahwa apa yang diberikan-Nya kepada mereka berupa keselamatan, kekuatan dan bala bantuan malaikat, semua itu hanyalah sebagai sebab (sarana yang diberikan Allah) untuk mendapatkan kemenangan, kegembiraan dan ketentraman. Dan pada hakikatnya kemenangan itu bukan karena sebab–sebab itu, akan tetapi berasal dari Allah semata.
Oleh sebab itu, bagaimana mungkin penulis wanita ini dan selainnya menunjukkan permohonan bantuan dan pertolongan kepada Nabi Saw dan berpaling dari Tuhan semesta alam, Yang Maha Memiliki dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu?! Tidak diragukan lagi, ini adalah kebodohan yang nista bahkan merupakan syirik besar.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa:
Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam,
Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yang nyata, karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.
Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yang bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yang telah mati daripada yang masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori–teori lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yang mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabin kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw: “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka beristighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits No.194, shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist–hadits shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia beristighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusia.. dst.. dst…
Dan Adam as berkata: “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka berIstighatsah memanggil–manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

Maka hadits ini jelas-jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan bahwa orang- orang beristighatsah kepada manusia, dan Rasul saw tidak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.
Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra: “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang mengajari hal ini.
Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka–mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

Kesimpulannya:
mereka yang lari berlindung pada hamba–hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid–masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang–orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat.
Pertanyaannya adalah: kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt? kenapa bukan orang yang hidup? kenapa bukan gunung? kenapa bukan perumahan?.
Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin. (Walillahittaufiq)

Sumber : muslimoderat.net
Akhlak Warga NU, Jamaah Istighotsah dengan Tertib Sambil Shalawatan Tinggalkan GOR Delta

Akhlak Warga NU, Jamaah Istighotsah dengan Tertib Sambil Shalawatan Tinggalkan GOR Delta


Istighotsah Kubro dalam rangka hari lahir ke-94 Nahdlatul Ulama, yang diselenggarakan PWNU Jawa Timur di GOR Delta Sidoarjo berlangsung khusyuk. Usai ditutup dengan doa oleh sembilan kiai khos, ratusan ribu jamaah Nahdliyin secara tertib meninggalkan lokasi Istighotsah.

Dari pantauan NU Online, Ahad (9/4) sekitar pukul 09.10, jamaah yang sebagian besar mengenakan busana putih berjalan kaki menuju kendaraan mereka sembari mengumandangkan shalawat nabi dan lagu Ya Ahlal Wathan.

Selain membaca shalawat, jamaah juga memekikkan yel-yel, seperti “Siapa Kita?” "NU" , “Pancasila!” “Jaya!”, dan “NKRI!” “Harga Mati!”.

Untuk sampai ke lokasi parkir kendaraan, jamaah harus berjalan kaki sepanjang tiga kilometer dari GOR Delta."Walaupun berjalan kaki cukup jauh dan berdesakan seperti ini, tapi tidak capek," ujar Mustaqim, santri asal Trenggalek.

Satuan keamanan dari Polres Sidoarjo dan anggota Banser tampak sibuk menertibkan kendaraan yang melintas. Mereka terpaksa melakukan sistem buka tutup kendaraan pada jalur yang dilalui jamaah. Kendaraan milik tamu VIP juga meninggalkan lokasi dengan antrie

Hingga pukul 10.30 WIB, jalan raya kembali lancar. Kompleks GOR Delta berangsur-angsur sepi. Hanya tampak petugas kebersihan yang sedang memunguti sisa sampah.

Seperti diketahui, Istighotsah Kubro yang mengusung tema "Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurullah" itu dihadiri para kiai sepuh Nahdltul Ulama, para pejabat tinggi negara dan daerah setempat, serta masyarakat secara umum. (Zaenal Faizin/Mahbib/NU Online)

Sumber : muslimoderat.net
Jutaan Warga NU Jatim Berkumpul untuk Istighosah, bukan untuk Demo SARA

Jutaan Warga NU Jatim Berkumpul untuk Istighosah, bukan untuk Demo SARA


Jutaan warga nahdliyin mengikuti istighosah kubro di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu (9/4/2017). Istighosah sendiri digelar dalam rangka HUT NU ke 94 berdasarkan kalender hijriah. Acara istighosah bertemakan 'Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh'.

Dalam istighosah kubro tersebut dihadiri Rais Am Pengurus Besar NU KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, kiai sepuh disusul dan juga Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah. Tampak hadir pula Ketua Umum Muslimat NU yang juga Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Disusul Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Istighosah kubro tersebut dimulai sekira pukul 06 00 WIB, dan hingga pukul 08.40 WIB masih berlangsung.

"350 ribu dari PCNU-PCNU. Lalu ditambah badan otonom seperti Muslimat NU, Fatayat, Ansor dan lainnya. Kemudian ditambah warga umum Sidoarjo dan Surabaya. Bila ditotal jamaah istighosah kubro mencapai jutaan peserta," terang Ketua Panitia Achsanul Haq.

Pelaksanaan istighosah kubro tersebut mendapat pengamanan ketat dari Polda Jatim dan Polresta Sidoarjo. Dimana sebanyak 8000 personel diterjunkan.

Dan yang perlu diketahui, kumpulan massa NU ini hanya untuk bermunajat kepada Allah, tidak untuk mencela pemerintah, mengkafirkan kelompok lain dan lain sebagainya, karena inilah NU.[hm]

Sumber : muslimoderat.net
Luar Biasa! Bukti NU Tidak Tidur, Jutaan Nahdliyin Jatim โ€˜Mengetuk Langitโ€™ demi Negara

Luar Biasa! Bukti NU Tidak Tidur, Jutaan Nahdliyin Jatim ‘Mengetuk Langit’ demi Negara


Allahu Akbar! Ini bukti Nahdlatul Ulama (NU) tidak tidur. Mencermati dinamika politik serta ancaman terhadap NKRI, NU hadir tepat pada waktunya. Jutaan nahdliyin Ahad (9/4/2017) tumplek blek di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Didukung dengan cuaca yang begitu sejuk, mereka dengan khusyuk meng-amini doa-doa para masyayikh.

“Ini tidak lepas dari peristiwa di Tanah Air yang terjadi belakangan ini, dan menimbulkan wacana dunia bahwa Islam moderat di Indonesia telah mati. Maka NU siap menjawabnya. Bahwa mayoritas muslim di Indonesia yang selama ini menjadi silent majority masih memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan pola beragama dan berbangsa yang tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), i’tidal(adil) dan menjalankan visi rahmatan lil alamin,” demikian disampaikan pengurus PWNU Jatim yang sampai kepada duta.co, Ahad (9/4/2017).

Seluruh jamaah istighotsah dengan ikhlas menengadahkan tangan dan melangitkan doa dalam rangka Istighotsah Kubro menyambut Harlah NU ke-94 agar Allah yang Maha Kuasa berkenan senantiasa menerangi bumi khatulistiwa ini dengan NURULLAH (cahaya Allah).

“Anda saksikan sendiri betapa wajah-wajah ikhlas untuk Indonesia, bersimpuh tanpa pamrih memohon kepada Allah swt. agar negeri ini diberikan ketentraman. Mereka berangkat dengan bekal sendiri, bersih-bersih sendiri untuk menggapai ridho-Nya,” tambahnya.

Istighotsah ini memang dijauhkan dari kepentingan politik. Meski para pejabat hadir, tetapi mereka tidak diberi waktu untuk menyampaikan sambutan. Ini semata-mata demi bersihnya niat, semata-mata  karena Allah swt.

Tampak hadir dalam acara itu, para pejabat, ulama dan kiai. Dalam pantauan duta.co  hampir semua pejabat teras Jatim dan para kiai serta ulama hadir di acara ini. Mereka memberikan apresiasi  tema yang diangkat PWNU, “Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurullah.”

Di atas podium utama terlihat Gubernur Jatim Soekarwo, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, Wakapolda Jatim Brigjen Pol Gatot Subroto, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah serta sejumlah Bupati dan Wali Kota di Jatim yang dari kalangan nahdliyin. Mereka menggunakan baju putih-putih. Ada juga Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan pengurus teras Muslimat NU lainnya.

Selain para pejabat, tentu, tokoh-tokoh NU mendominasi acara. Ketika berita ini diturunkan, Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin, memberikan sambutannya. Tampak juga Wakil Rais Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar, Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah, serta kiai berpengaruh NU, antara lain KH Anwar Iskandar dan para kiai lainnya. Tidak sedikit dari jamaah yang meneteskan air mata. (yan/duta.co)

Sumber : muslimoderat.net
Keramat Kiai Said Aqil Siroj

Keramat Kiai Said Aqil Siroj


Tidak sekali, duakali, saya menghadiri ceramah Kang Said (Prof. DR. KH. Said Aqiel Siroj) di Cirebon. Seperti biasa kalau ada kabar, informasi, bahwa beliau akan datang mengisi pengajian di cirebon, entah itu berupa Maulidan, Haul, Tasyakur Khatmil pesantren, saya selalu mengajak teman2 breng2 berangkat untuk menghadirinya.

Satu hal yang saya merasa ada keanehan selama mengikuti pengajian2 yang diisi oleh beliau di Cirebon adalah tentang keadaan cuaca. Saya merasa bahwa jika cuaca terang ini adalah sebuah tanda beliau pasti "rawuh" diacara tersebut, walaupun langit dalam keadaan mendung.
Beberapa pengalaman yg saya alami adalah ketika ada kabar bahwa beliau akan mengisi acara pengajian di salah satu Masjid Agung di Kota Cirebon bersama Habib Luthfi bin Yahya. Pada saat tiba acara tsb cuaca dlm keadaan hujan dan badan saya agak kurang enak, tapi ada teman yang datang menghampiri untuk menghadirinya, dengan modal nekat kami berangkt sambil hujan2an.
Sesampai di sana ternyata bliau dan habib luthfi berhalangan hadir.

Kemudian pernah juga saya dan teman2 menghadiri pengajian beliau di salahsatu pesantren si Babakan Ciwaringin cirebon, cuaca malam itu dlm keadaan mendung pekat dan semriwing hembusan angin bau "ampo" (tanah basah yang terguyur air hujan), ini menandakan bahwa disuatu wilayah di cirebon sedang hujan, tapi kami tetap berangkat sebab jarak antara kampung kami dengan Babakan tidak terlalu jauh, sesampainya di sana ternyata langit dalam keadaan terang, tidak seperti dikampung yang mendung. Dan ternyata benar beliau hadir pada acara tersbut, padahal saya mendapat kabar bahwa di Plered hujan besar dan sedang berlangsung juga acara pengajian. Kejadian semacam ini tidak sekali dua kali, tapi saya sering mengalaminya, sehingga kalau ada acara pengajian beliau, saya selalu bilang sama temen2, "nggak hujan,kang said pasti hadir". Hehee...
Semoga beliau senantiasa dlm naungan Rahmat Allah SWT.

Sumber : muslimoderat.net
Gus Ali: Istighatsah adalah Cara Kiai NU Berdemo, bukan turun di Jalan

Gus Ali: Istighatsah adalah Cara Kiai NU Berdemo, bukan turun di Jalan


PWNU Jatim akan menggelar Istighosah kubro di Stadion GOR Delta Sidoarjo dan beberapa daerah di Jatim pada Minggu, 9 April 2017. Untuk acara di Sidoarjo, diperkirakan dihadiri satu juta warga Nahdliyyin.

Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim Gus Ali Masyhuri, mengatakan istighotsah kubro digelar sebagai respons atas kondisi bangsa saat ini yang tidak menentu. Menurutnya, itu terjadi karena krisis keteladanan.

"Krisis keteladanan ini lebih berbahaya dari krisis ekonomi dan politik. Maka para kiai NU berijtihad untuk menjawab masalah itu," katanya kepada wartawan di kantor PWNU Jatim.

Para kiai NU, lanjut Gus Ali, meyakini bahwa kekuatan doa sangat besar. Banyak hal yang seakan tidak bisa diselesaikan secara rasional tapi mampu ditembus dengan kekuatan berdoa kepada Allah.

"Istighotsah ini juga jadi edukasi. Seperti inilah cara kiai NU demo, bukan turun ke jalan-jalan," tandasnya.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Mutawakil Alallah, mengatakan istighotsah kubro digelar bertepatan dengan hari lahir NU ke-94 berdasarkan kalender hijriyah.

"Istighotsah dilaksanakan atas dasar permintaan para kiai sepuh NU, para syuriah PWNU dan PCNU, serta kiai pesantren," ujarnya.

Seluruh kader NU se-Jatim, baik di tingkat struktur maupun kultur, diundang ke Stadion Gelora Delta Sidoarjo, dari tingkat ranting sampai wilayah.

"Warga NU di Jawa Timur sekitar 25 juta orang, tapi karena berkaitan dengan akomodasi dan kapasitas stadion, istighotsah juga digelar di daerah, di PCNU-PCNU," imbuhnya.

Dia menjelaskan, tema istighotsah kubro ialah 'Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurullah'. Rais Am Pengurus Besar NU, KH Makruf Amien, dan Ketua Umum NU, KH Said Aqil Siradj, dijadwalkan hadir memberikan taushiyah.

"Hanya dua kiai kita di NU itu yang diberi kesempatan naik podium menyampaikan amanah dan taushiyah," pungkasnya.[beritajatim]

Sumber : muslimoderat.net
9 Kiai Khos NU Jatim akan Pimpin Istighosah Kubro PWNU Jatim

9 Kiai Khos NU Jatim akan Pimpin Istighosah Kubro PWNU Jatim


Sembilan kyai khos Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bakal meminpin doa untuk bangsa di Jawa Timur. Doa tersebut akan digelar pada 9 April pada istighosah kubro bertema “Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh”.

Sembilan Kiai Khos tersebut, diantaranya yaitu Rois Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso, Kediri, KH Anwar Manshur, Pesantren Lirboyo Kediri, serta KH Nawawi Abdul Jalil Sidogiri, Pasuruan. Selain kyai Khos juga akan ada ratusan ribu santri.

“Ada ratusan ribu yang nanti diperkirakan akan hadir, selain itu juga ada ribuan kiai pengasuh pesantren yang juga hadir ikut berdoa.” kata Ketua PWNU Jatim, KH. Moh Hasan Mutawakkil Alallah, Selasa (4/4).

Lebih jauh ia mengatakan, selain ratusan ribu jamaah yang hadir, ribuan kiai pengasuh pesantren juga akan ikut memimpin doa. Dan Istighosah ini dilakukan, sebagai bentuk kepedulian NU terhadap persoalan kebangsaan.

Istighosah yang akan dimulai sejak pagi atau setelah sholat subuh dan digelar hingga malam hari. Sementara untuk menjaga kemurnian istighosah, dalam acara tersebut para pejabat yang hadir tidak akan diberikan panggung sambutan. Sehingga sambutan hanya akan disampaikan oleh Ketua Panitia serta Mauidhoh Hasanah dari Rois Aam PBNU.

Sumber : muslimoderat.net
Cinta Sebiji Atom Allah

Cinta Sebiji Atom Allah


Suatu ketika Nabi Isa berjalan melewati sebuah perkebunan di sebuah desa. Di perkebunan itu beliau bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyirami tanaman.

Melihat orang yang datang adalah seorang nabi, pemuda itu berkata, “Ya Nabi Allah, kumohon sudilaah kiranya engkau memohon kepada Allah agar Ia berkenan memberikan cinta-Nya kepadaku, meski hanya sebiji atom.”

Nabi Isa menjawab, “Wahai pemuda, engkau tak akan dapat memikul cinta Allah, meski hanya sebesar biji atom.”

Namun pemuda itu tetap berkeinginan untuk didoakan oleh Nabi Isa. Hingga akhirnya ia berkata, “Kalau memang aku tak akan kuat memikul cinta Allah sebiji atom, maka mohonkanlah agar Allah memberiku setengah biji atom saja dari cinta-Nya.” Demikian pemuda itu memohon.

Karena kuat keinginannya maka Nabi Isa mengabulkan dan mendoakannya. Seraya mengangkat kedua tangannya beliau berdoa, “Ya Allah berikanlah setengah biji atom dari cinta-Mu kepada hamba-Mu ini.” Kemudian beliau pergi meninggalkannya.

Setelah sekian lamanya Nabi Isa meninggalkan perkebunan tersebut, beliau datang lagi ke desa itu. Kepada masyarakat desa beliau menanyakan perihal pemuda yang dahulu pernah didoakannya.

“Di manakah pemuda yang bekerja menyirami kebun ini?”

Orang-orang desa menjawab, “Pemuda itu telah bertingkah layaknya orang gila, sehingga kami mengusirnya dari desa ini.”

“Di mana ia berada sekarang?”

“Ia berada di antara dua bukit itu,” kata mereka sambil menunjuk ke arah bukit yang dimaksud.

Maka Nabi Isa segera menuju ke tempat yang ditunjuk oleh penduduk desa. Setibanya di sana beliau melihat pemuda itu sedang bersembahyang. Ia berdiri di atas sebuah batu besar.

“Assalamu’alaikum,” kata Nabi Isa menyapa. Pemuda itu tak menjawab dan tidak pula menoleh kepada Nabi Isa. Ia tetap dalam sembahyangnya. Untuk kedua dan ketiga kalinya Nabi Isa berucap salam. Namun pemuda itu tetap diam di tempatnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba dari arah langit Allah berfirman, “Wahai Isa, demikianlah orang yang menerima separo biji atom dari cinta-Ku. Ia tak akan dapat mendengar ucapan manusia. Andai saja engkau potong tubuhnya dengan gergaji, ia tak akan merasakannya karena kecintaannya kepada-Ku.” (Yazid Muttaqin)

Sumber : nu.or.id
Simak ! Ini Alasan Nabi Mendirikan Madinah, Bukan Negara Islam

Simak ! Ini Alasan Nabi Mendirikan Madinah, Bukan Negara Islam


WartaIslami ~ Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menjelaskan, makna kata tsaqofah adalah kemajuan di bidang intelektual. Sementara, kemajuan di bidang kehidupan disebut dengan hadloroh. Sedangkan, kemajuan di bidang intelektual dan juga di bidang kehidupan disebut dengan istilah mutamaddin atau madinah.

“Jadi madinah itu artinya negara yang masyarakatnya modern, sejahtera, intelek, berbudaya, bermartabat, dan bergengsi. Itu namanya madinah,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara Sarasehan Pengembangan Ekonomi Umat dan Kemaritiman Indonesia yang diselenggarakan HPN dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Jakarta, Kamis (6/4).

Lanjut Kiai Said, itulah alasan kenapa Nabi Muhammad membangun sebuah kota dan menyebutkan dengan nama Negara Madinah. “Bukan negara Islam, bukan negara Arab, bukan negara agama,” tegasnya.

Di dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Kiai Said selalu mengkritik dengan tegas kelompok-kelompok yang ingin mengganti ideologi negara Indonesia dengan ideologi agama tertentu.

Menurutnya, Pancasila adalah bentuk final dari kesepakatan yang ditelah dibuat oleh para pendiri bangsa ini dan berfungsi sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang beragam. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi/NU Online)

Indonesia Negara Teristimewa Setelah Mekah, Madinah dan Syam, Ini Alasannya

Indonesia Negara Teristimewa Setelah Mekah, Madinah dan Syam, Ini Alasannya


WartaIslami.com ~ Shuhba Maulana Syaikh Hisyam Kabbani: Kalian di Indonesia adalah manusia yang beriman dan jika tanpa iman di dalam hati kalian, maka tidak ada yang akan datang ke majelis kita(dzikir). Dan iman adalah seperti disebut dalam Al-Quran, "Athi Allah athi ur-Rasul wa ulil amri minkum". Taati Allah, taati Rasul-Nya dan orang yang diberi otoritas atas kalian (Mursyid/Guru/Wali Allah). Tanpa iman, mereka tidak akan datang ke majelis ini. Dan di sini banyak yang memiliki iman yang baik dan akidah yang baik. Semua sangat rendah hati, hingga saya katakan bahwa bumi Indonesia bagaikan surga di bumi. Setelah kota Mekah, Madinah dan Syam.

Alhamdulillah Indonesia adalah negara yeng memiliki perayaan Maulid Nabi (s) dan majelis Selawat Nabi (s) setiap malam selama setahun penuh. Jika kalian pergi ke seluruh dunia, maka tidak setiap negara memiliki hal ini, bahkan meskipun itu di Syam sekalipun. Di negara ini setiap malam orang memuji Nabi (s) dan berzikir kepada Allah (swt), maka Allah akan memberikan dukungan kepada orang yang melakukan zikir kepada Allah (swt) dan selawat kepada Nabi (s).

Kami harus mengatakan bahwa di Pakistan dan India ketika mereka melakukan Maulid Nabi (s), maka bisa dua juta orang berkumpul bersama, di Pakistan mereka mengumpulkan 500 ribu manusia hingga dua juta ketika perayaan Maulid Nabi (s) dan ketika ulama bicara, paling hanya berkumpul 50 ribu manusia. Dan itu tidak bisa dibandingkan, di India mungkin ada 2 juta orang berkumpul untuk
Maulid Nabi (s). Tetapi rahmat dan kasih sayang Allah adalah di mana kalian menemukan tempat-tempat orang berkumpul untuk berzikir meskipun kecil tetapi tersebar di setiap tempat di Indonesia.

Dan di setiap majelis Nabi (s) di mana kita berselawat bersama, itu merupakan penghapus dosa yang menghapuskan dosa kita dalam 70 kali pertemuan yang membicarakan hal-hal duniawi.

SubhanAllah di Indonesia kalian bisa menemukan di setiap jalan, di setiap tempat, kalian akan menemukan berbagai Majelis Zikir dan Selawat Nabi (s), dengan demikian rahmat akan melingkupi seluruh negeri ini. Hal ini tidak terjadi di India yang memilki 2 juta orang yang berkumpul hanya dalam satu acara dan tidak tersebar ke segala penjuru. Boleh saja mereka berjumlah 2 juta manusia yang datang berselawat dan mengikuti Maulid Nabi (s) tetapi hal ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang ada di Indonesia.

Sayyidina Muhammad (s) mengatakan, “Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkelana (roaming) di jalan-jalan, mencari majelis-majelis zikir, meskipun kecil, ketika mereka melaluinya dan melihat manusia sedang berzikir, mereka akan berhenti dan ikut berzikir bersama. Dan bayangkan majelis ini bukan hanya di satu tempat saja tetapi di berbagai tempat di Indonesia ini sehingga setiap orang akan mendapat keuntungan di setiap daerah di Indonesia.

Dalam bahasa Inggris para malaikat roaming, mencari dan menemukan majelis zikir, di mana kalian pergi maka mereka tahu di mana kalian berada, karena malaikat pergi dengan kalian ke setiap tempat, dari satu majelis zikir ke majelis lainnya dan dengan kekuatan surgawi Allah (swt) mengirimkan malaikat untuk bersama dengan kalian ke mana pun kalian pergi. Maka jika kalian menghadiri majlis zikir maka Allah (swt) akan memberikan mereka pahala dan mencatat apa yang kalian lakukan ke manapun kalian pergi sehingga akan ada berkah untuk setiap manusia yang mengikutinya sebagai pelindung kalian di Shirat al-mustaqim nanti. Itulah sebabnya Allah (swt) mengirimkan malaikat-Nya ke setiap mejelis zikir, dan di mana ada zikir maka mereka akan berhenti dan mencatat siapa saja yang duduk di sana.

Masya Allah di setiap jalan, di setiap kota di Indonesia selama saya berada di Indonesia di sana kami melihat begitu banyak banner besar di masjid ini dan masjid itu. Kalian tidak akan menemukan yang seperti ini di negara-negara Muslim lain yang pernah kami kunjungi. Karena mereka mengatakan bahwa majelis zikir adalah bid'ah dan syirik. Dan hanya di negeri ini kalian dapat mengiklankan dan menempatkan banner yang besar di setiap jalan, maka Allah (swt) memberikan kalian iman yang kuat. Nabi (s) bertanya pada para Sahabat, "Siapakah orang yang memiliki iman yang paling tinggi?”

Para Sahabat menjawab, “Para Nabi, Yaa Rasulullah", Nabi (s) menjawab, "Bagaimana mereka tidak memilki iman yang kuat, karena wahyu diturunkan kepada mereka.” Kemudian mereka menjawab lagi, “Para syuhada, para syahid dan Sahabat ya Rasulullah.” Dan Nabi (s) berkata, “Bagaimana kalian tidak memiliki iman yang kuat karena kalian telah berjumpa denganku dan aku berjumpa dengan kalian.” Kemudian Nabi (s) melanjutkan, “Orang-orang yang imannya tinggi adalah adalah orang-orang di akhir zaman. Mereka mempercayaiku padahal mereka belum pernah melihatku, maka merekalah yang memilki iman terbaik.”

Kalian berada di sini saat ini, dan di manapun Muslim berada di Indonesia ini, mereka semua penuh dengan iman, jangan katakan kalian tidak memilki iman, karena kalian bahkan memiliki ekstra ekstra ekstra iman yang besar karena kalian datang ke majelis zikir dan kalian percaya kepad Nabi Muhammad (s), ini adalah tanda iman yang kuat. Dan iman yang besar adalah ketika kalian datang dan kalian mendengarkan zikir dan memuji Allah dan berselawat kepada Nabi (s), maka ini adalah tanda orang yang memiliki iman terbaik.

Kalian hanya memilki satu masalah saja di negeri ini, di mana setiap Habib dan Ulama yang membuka pesantren, mereka hanya mengajarkan Syariat, Fiqih dan Hadits. Tidak ada pesantren yang berpikir untuk mengajarkan Tasawuf dan tidak ada yang membawa nama para Sufi Besar di dunia setelah zaman Nabi (s) sampai hari ini. Apa yang diajarkan oleh para Sufi Besar kepada kalian sampai saat ini. Tidak ada yang berbicara mengenai Syah Bahaudin an-Naqshbandi (q), Syekh Abdul Qadir al-Jailani (q), Syekh Junaid al-Bagdadi (q), Syekh Bayazid Bistami (q), Imam Jazuli (q), tidak ada yang berbicara hari ini tentang para Sufi besar ini, nol. Hal inilah yang membuat kalian tidak berkembang.

Masya Allah kalian telah belajar syariat dengan sangat baik, tetapi tasawuf hanya sedikit sekali dibahas dan tidak ada sekolah yang memberikan kurikulum tasawuf dan mengapa tidak ada pesantren yang mengajarkan sampai selesai Bab tentang Ihya Ulumuddin, ajaran Imam al-Ghazali (q). Kami tidak melihat ini di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia tetapi di setiap Negara Muslim di dunia. Tetapi lihatlah di Amerika dan Eropa, mereka mengajarkan tasawuf, tetapi mereka tidak mengajarkan syariat (tersenyum). Tasawuf menyempurnakan Islam, Iman dan Ihsan. Inilah kesalahan terbesar yang terjadi di negeri ini.

Akhir kata, setiap majelis mempunyai awal dan akhir dan sekarang kita hampir mencapai akhir, maka berpeganglah kita semua kepada tali-tali Allah dan janganlah kalian terpisah dan bercerai berai. Tali Allah adalah cinta kepada Nabi Muhammad (s) dan cinta itu akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Setiap orang yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk (karena tempatnya terbatas), lebih banyak malaikat bersama mereka. (hadirin yang berdiri merasa senang).

Sumber : www.muslimoderat.net
KH Maimun Zubair: Jika Bulan April Punya Uang, Pertanda Setahun akan Punya Uang

KH Maimun Zubair: Jika Bulan April Punya Uang, Pertanda Setahun akan Punya Uang


Mbah Maimoen Zubair dawuh “Titeni yo cung, angger wulan april kok nyekel duwit, alamat setahun nggowo duwit, iki ora ono kitabe tapi keno gawe titenan”

Ketika ALLOH menghendaki untuk menampakkan hakikatnya yang terpuji, dan memunculkannya
sebagai jasmani dan ruhani dalam bentuk dan pengertiannya, ALLOH memindahkan nur Muhammad dari punggung Sayyid Abdulloh ke kandungan Sayyidah Aminah Az-Zuhriyyah, dan kejadian ini terjadi pada tanggal 10 Rojab.

Diserukan di langit dan di bumi bahwa Aminah mengandungnya.
Dan berembuslah angin sepoi-sepoi basah di pagi hari, angin dari arah selatan arab, yaitu Yaman ke arah utara, yaitu Kota Madinah dan Kota Makkah.
Seperti diketahui, bahwa Yaman adalah daerah di sebelah selatan Saudi Arabia dan merupakan daerah yang dekat dengan pantai seperti Hadlro Maut.

Seperti diisyaratkan:
ูˆุตุจุง ูƒู„ ุตุจ ู„ู‡ุจูˆุจ ู†ุณูŠู… ุตุจุงู‡
Mengapa ada angin laut selatan berhembus ke daratan utara?,
Hal itu karena sudah memasuki bulan oktober yang mengandung hujan. Hujan itu kemudian menumbuhkan hijaunya tumbuhan dan bumi diberi pakaian berupa sutra tebal dari tumbuh-tumbuhan setelah lama gersang.
Seperti diisyaratkan:
ูˆูƒุณูŠุช ุงู„ุฃุฑุถ ุจุนุฏ ุทูˆู„ ุฌุฏุจู‡ุง ู…ู† ุงู„ู†ุจุงุช ุญู„ู„ุง ุณู†ุฏุณูŠุฉ
Musim hujan dimulai pada saat rasi bintang Libra (ุงู„ู…ูŠุฒุงู†) yaitu 23 September sampai 22 Oktober, dan berakhir pada rasi bintang pisces (ุงู„ุญูˆุช) yaitu 20 februari sampai 20 Maret.
Hal ini diisyaratkan Al-Qur’an dengan kata ุดุชุงุก yang bermakna penghujan, pada firman ALLOH:
ู„ุฅูŠู„ุงู ู‚ุฑูŠุด ุฅูŠู„ุงูู‡ู… ุฑุญู„ุฉ ุงู„ุดุชุงุก ูˆุงู„ุตูŠู
Kata syita’ didahulukan dalam penyebutannya dari pada kata ุตูŠู shoif yang bermakna kemarau menunjukkan bahwa tahun itu sejatinya dimulai pada resi bintang Libra yaitu Awwal oktober. Hal ini dikuatkan dengan Firman ALLOH:
ู„ู…ุณุฌุฏ ุฃุณุณ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู‚ูˆู‰ ู…ู† ุฃูˆู„ ูŠูˆู… ุฃุญู‚ ุฃู† ุชู‚ูˆู… ููŠู‡
Sesungguhnya masjid yang dibangun atas dasar taqwa dari Permulaan hari, itu lebih berhaq kamu mendirikan padanya.
Permulaan hari disini adalah permulaan hari pada resi bintang libra.
Kata syita kalau dilihat berjumlah titik lima di atas, yaitu tiga titik pada huruf syin ุด dan dua titik pada huruf ta ุช. Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan-bulan itu terdapat banyak hujan.
 ;
Dan Musim kemarau dimulai Aries (ุงู„ุญู…ู„) Yaitu 21 Maret sampai 20 April, dan berakhir pada resi bintang Virgo (ุงู„ุณู†ุจู„ุฉ) yaitu 22 Agustus – 22 september, dan pada saat musim kemarau inilah bumi gersang selama enam bulan. Hal ini diisyaratkan dengan kata ุตูŠู shoif yang bermakna kemarau.
Kata ุตูŠู pada huruf awwal tidak terdapat titik diatas sama sekali, menunjukkan bahwa hujan tidak lagi turun, sehingga kehidupan tergantung pada air yang ada di bawah yaitu sumber mata air, sumur, atau danau.

Hal ini diisyaratkan dengan huruf ya’ yang mempunyai titik dibawah. Baru setelah mendekati musim penghujan, yaitu dua bulan terakhir musim kemarau, bulan agustus september mulai sedikit ada hujan yang turun, hal ini diisyaratkan dengan titik satu diatas pada huruf fa’.
Setelah Nabi berada dalam kandungan, tidak lama kemudian muncullah musim hujan yang dimulai pada bulan oktober. Di negeri arab banyak pohon kurma, dan pohon ini tidak akan bisa menumbuhkan hasil berupa buah-buahan apabila tidak ada perkawinan antara putik dan sari dan hal ini harus dibantu oleh petani.
Proses perkawinan sampai menghasilkan buah memakan waktu enam bulan. Seperti diisyaratkan Al-Qur’an:
ุชุคุชูŠ ุฃูƒู„ู‡ุง ูƒู„ ุญูŠู†
Apabila perkawinan ini dimulai pada awwal rasi Libra (oktober) maka akan menghasilkan panen buah kurma pada saat rasi pisces (maret). Seperti diisayaratkan
ูˆุฃูŠู†ุนุช ุงู„ุซู…ุงุฑ ูˆุฃุฏู†ู‰ ุงู„ุดุฌุฑ ู„ู„ุฌุงู†ูŠ ุฌู†ุงู‡
Maka dapat diketahui bahwa panen kurma terjadi pada bulan maret. Dan Nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 20 April 570 M, yang berarti telah adanya panen raya.
Hal inilah yang sering disampaikan Hadlrotusy Syaikh Maimoen Zubair: “Titeni yo cung, angger wulan april kok nyekel duwit, alamat setahun nggowo duwit, iki ora ono kitabe tapi keno gawe titenan”. (ingatlah nak, apabila bulan april mempunyai uang, alamat satu tahun mempunyai uang, hal ini memang tidak terdapat dalam kitab, akan tetapi bisa untuk pengingat).
Mengapa bulan April mempunyai uang?
Hal itu karena telah terjadi panen pada bulan maret, dan pada bulan april telah mendapatkan keuntungan panen sehingga mempunyai pemasukan untuk tahun berikutnya.
Karena itu, apabila pada bulan april usahakan tidak ada hutang, karena sudah ada hasil dari panen tersebut.

Dapat diketahui bahwa umur kandungan nabi didominasi oleh musim penghujan (sekitar enam bulan), Yaitu Akhir september, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret. Sedangkan Awwal bulan September dan Awwal bulan april merupakan musim yang kurang adanya hujan.
Hal ini menunjukkan bahwa Nabi membawa risalah yang berpokok pada ilmu yang diisaratkan sebagai air yang menumbuhkan seperti tersirat dalam ayat:
ุฃู„ู… ุชุฑ ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุฃู†ุฒู„ ู…ู† ุงู„ุณู…ุงุก ู…ุงุก ูุฃุฎุฑุฌู†ุง ุจู‡ ุซู…ุฑุงุช
dan sumber kehidupan:
ูˆุฌุนู„ู†ุง ู…ู† ุงู„ู…ุงุก ูƒู„ ุดูŠุก ุญูŠ
Bahkan ayat pertama yang diturunkan merupakan ayat yang menunjukkan kemulyaan ilmu:
ุงู„ุฐูŠ ุนู„ู… ุจุงู„ู‚ู„ู… ุนู„ู… ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู…ุง ู„ู… ูŠุนู„ู…
Karena itu, marilah kita pelajari ilmu agama yang merupakan salah satu tiang dalam agama, karena ilmu agama merupakan satu-satunya tiang yang masih kokoh, sedangkan jihad pada waktu sekarang sudah sangat sulit untuk dilakukan. Dua hal ini seperti dikatakan dalam satu ayat:
ูˆู…ุง ูƒุงู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู† ู„ูŠู†ูุฑูˆุง ูƒุงูุฉ ูู„ูˆู„ุง ู†ูุฑ ู…ู† ูƒู„ ูุฑู‚ุฉ ู…ู†ู‡ู… ุทุงุฆูุฉ ู„ูŠุชูู‚ู‡ูˆุง ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูˆู„ูŠู†ุฐุฑูˆุง ู‚ูˆู…ู‡ู… ุฅุฐุง ุฑุฌุนูˆุง ุฅู„ูŠู‡ู… ู„ุนู„ู‡ู… ูŠุญุฐุฑูˆู†.
Semoga bermanfaat.

Sumber : muslimoderat.net
Pengemis dan Si Kikir

Pengemis dan Si Kikir


Seorang pengemis suatu hari berdiri di muka pintu rumah orang yang terkenal kikir.

“Ada perlu apa?” tanya si kikir.

“Tolong, barangkali ada roti atau nasi,” jawab pengemis.

“Nggak punya,” sahut si kikir.

“Atau makanan apa saja, Pak,” kata pengemis.

“Juga nggak ada,” jawab si kikir.

“Baiklah, saya minta air saja.”

“Air juga nggak punya, mengerti!” bentak si kikir.

“Lalu apa perlunya bapak tinggal di rumah sebaik ini, kan lebih baik ikut saya, Pak!” kata pengemis.

“Ikut ke mana?” tanya si kikir heran.

“Tentu saja ikut mengemis. Daripada bapak sudah enggak punya apa-apa, bahkan air saja tidak punya,” kata pengemis sambil terus pergi.

“Sialan,” gumam si kikir. (Red Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
Gus Mus dan Lukisan Tanpa Judul

Gus Mus dan Lukisan Tanpa Judul


Lukisan KH Ahmad Mustofa Bisri berjudul Berdzikir Bersama Inul sempat dipajang di lokasi pameran Pekan Muharram 1424 H, tepatnya awal Maret 2003 di Masjid Agung Al Akbar, Surabaya. Lukisan kontroversi yang memperlihatkan perempuan sedang berjoget di tengah para kiai bersurban itu, sempat dihargai Rp 75 juta.

"Lukisan itu tergantung yang melihat, negeri kita itu banyak semuanya serba daging, orang terlalu memuja daging berlebihan sampai lupa kepada jiwa," kata Gus Mus, sapaan akrab pria kelahiran 1945 itu.

Pada September 2014, beberapa lukisan karya Gus Mus seperti Hanya Lafal, Mulut-mulut, Pencitraan, O, Islamku, Potret Diri, Sujud, Tuhan yang Akan Menolongku, Bismillah, Alif, dan lainnya dipamerkan di Balairung Universitas PGRI Semaran, Jawa Tengah. Pameran itu digelar untuk menandakan 70 tahun usianya.

Kecintaan Mustasyar PBNU ini terhadap seni lukis dimulai ketika ia masih muda. Sebagaimana dilansir dari beritagar.id, Gus Mus kerap menemani orang cacat berkursi roda di sudut Kota Rembang. Dia bukan pengemis, tapi merupakan pelukis wajah. Dari orang itu dirinya tahu bagaimana cara gambar dan mengarsir wajah dengan pensil.

Bakat lukisnya makin terasah saat kuliah. Ia belajar dari Affandi ketika bertemu di Mesir. Saat itu sang maestro sedang dikirim Pemerintah Jepang keliling dunia untuk melukis, termasuk ke Kairo, Mesir, kota tempat sekolahnya.

Sebagai mahasiswa, Gus Mus menawarkan diri jadi pemandu Affandi selama di sana. Hal itu disetujui Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI). Jadilah ia menemani Affandi melukis di Mesir beberapa kali.

Ia melihat sendiri Afandi melukis dengan beberapa asistennya. Menurut Gus Mus, Affandi melukis seperti budayawan Zawawi Imron saat menulis puisi. "Kayak kesurupan, apa yang ada di kepala spontan saja dituangkan dalam karya," tuturnya kepada beritagar.id.

Sabtu (1/4) lalu, Gus Mus melalui akun Facebooknya mengunggah lukisan baru. Lukisan dengan bentuk seperti gelombang itu, tidak diberi judul. Sebaliknya, ia justru minta pengguna media sosial untuk memberi saran.

"Kalau seniman sungguhan saja ada yang bingung menjuduli lukisannya; apa lagi aku yang pelukis dadรจn-dadรจn. Jadi aku minta saran juga, menurut Anda lukisanku ini baiknya dijuduli apa?" tanya Gus Mus kepada netizen.

Sontak saja, hanya dalam hitungan menit, para netizen nimbrung di laman komentar dengan menulis beragam judul.  Di antara 1.024 komentar, ada yang menulis, Rindu Menderu, Riuh Heningku, Tabuhan Ombak, Menepi, juga Jejak Badai serta beragam judul lainnya.

Di hari dan tanggal yang sama, Gus Mus kembali mengunggah foto lukisannya. Tetap saja, tidak ada judul atau keterangan pasti, ini lukisan apa. Hanya sebuah keterangan singkat.

“Entah mengapa saat banyak orang serius dengan urusan pilkada dan dukung-mendukung, aku malah tertarik untuk melukis dan melukis ...” (Zunus Muhammad)

Sumber: nu.or.id
Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas


Kasus mati karena binatang buas sudah banyak dijumpai. Cerita selamat dari keganasan binatang  berbahaya juga kerap kita dengar. Namun, bagaimana dengan kasus lepas dari maut justru karena pertolongan binatang mematikan? Yang terakhir ini kedengarannya aneh tapi betul-betul dialami Abu Hamzah al-Khurasani, ulama sufi pada abad pertengahan.

Dalam sebuah perjalanan ibadah haji, entah bagaimana, ia tiba-tiba terperosok ke lubang sumur. Tentu saja ia kewalahan kembali ke atas. Di tengah ancaman keselamatan jiwanya itu, Abu Hamzah al-Khurasani sempat akan berteriak minta tolong tapi urung. "Tidak. Demi Allah aku tak akan berteriak minta tolong."

Belum habis gumam batinnya itu berujar, tiba-tiba ada dua orang melintas di bibir sumur. Tahu ada lubang di dekat mereka, salah seorang di antara keduanya bertutur, "Mari kita tutup bibir sumur ini agar tak ada orang jatuh ke dalamnya."

Bibir sumur pun ditutupi rerimbunan pohon tebu hingga penuh. Ingin sekali Al-Khurasani berteriak. Namun lagi-lagi hatinya melarang. "Aku akan berteriak kepada yang lebih dekat ketimbang mereka berdua (yakni Allah)," gumamnya.

Al-Khurasani akhirnya cuma bisa diam. Tak disangka, beberapa saat kemudian bibir sumur terbuka kembali. Lalu ada yang menurunkan kakinya dan seperti menyuruh al-Khurasani untuk memegangnya. Al-Khurasani pun bergelayutan dengan kaki itu dan keluar dari sumur dengan selamat.

Ia baru sadar bahwa kaki yang menolongnya itu adalah kaki seekor binatang buas (sabu'). Sabu' juga bisa berarti singa. Kemudian terdengarlah suara, "Wahai Abu Hamzah, bukankah ini lebih baik? Kami selamatkan kami dari kematian dengan hewan mematikan."

Kisah ini bisa kita baca dalam kitab an-Nawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi. Cerita tersebut menggambarkan betapa kuatnya keyakinan al-Khurasani terhadap pertolongan Allah. Ia tak berteriak minta tolong karena sedang membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya, bukan lantaran menolak ikhtiar, apalagi bermalas-malasan. Ia sedang menampilkan sikap tawakal yang total, di saat bersamaan meyakini bulat-bulat akan kehadiran Allah setiap saat.

Kasus pertolongan oleh binatang buas yang tak lazim tersebut bisa dilihat sebagai kemuliaan (karomah) dari Tuhan atas kesungguhan Abu Hamzah al-Khurasani dalam bersabar dan berpasrah diri secara penuh kepada-Nya. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini