Kisah mualaf khalifah Umar bin Khattab sang 'Singa Padang Pasir'

Kisah mualaf khalifah Umar bin Khattab sang 'Singa Padang Pasir'



WartaIslami ~  Umar bin Khattab bin Nufain bin Abdul Uzza, dari suku Quraisy golongan Bani Adi merupakan salah satu orang yang sangat memusuhi Islam, khususnya kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Umar sempat berniat untuk membunuh kekasih Allah SWT itu.

Dalam ceramah KH Zainuddin MZ beberapa tahun lalu yang berjudul Kisah Masuk Islam Umar bin Khattab, pada suatu hari dengan pedang terhunus, Umar menuju Darul Arkom, tempat baginda Rasulullah berkumpul dengan para sahabat. Melihat mukanya yang beringas, mata yang nanar, orang lain sudah menyangka dan mengerti ini tentu akan menjadi pembunuhan.

Dalam perjalanan menuju Darul Arkom, Umar bertemu dengan Nuaim bin Abdullah.
Nuaim bertanya "Ya Umar, mau kemana?".

"Mau membunuh itu, si murtad itu," jawab Umar tegas.

"Si murtad yang mana?" kata Nuaim.

"Yang mana lagi? Itu. Yang memecah belah kita. Yang menghina berhala-berhala kita. Yang menjelek-jelekkan nenek moyang dan keturunan kita. Siapa lagi kalau bukan Muhammad," tegas Umar.

"Umar, apa tak salah? Apa kamu ngga malu? Kamu mau pergi membunuh Muhammad, sementara adik mu sendiri Fatimah, dia sudah termasuk salah seorang pengikut Muhammad," jabar Nuaim.

Mendengar omongan Nuaim, Umar makin geram. Langkah Umar berbelok dari Darul Arkom, dia menuju rumah adiknya, Fatimah. Di rumah, Fatimah sedang berkumpul dengan suaminya Said bin Zaid dan seorang sahabat bernama Habab Ibnul Arots membaca Alquran dalam lembar suhuf.

Mendengar kedatangan pria yang dijuluki 'Singa Padang Pasir' itu, Habab langsung kabur. Suhuf Alquran disembunyikan Fatimah di belakang bajunya. "Fatimah, benar kau telah masuk Islam dan jadi pengikut Muhammad?" tanya Umar geram.

"Iya!" kata Fatimah. Tamparan pun mendarat di muka Fatimah hingga keluar darah dari hidungnya.

Melihat istrinya disakiti, Said mencoba melawan Umar. Namun, Umar langsung meraih leher Said dan membantingnya. Dada Said diinjak Umar. Fatimah membentak Umar, "Umar! Apakah engkau memukul orang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah? Apakah engkau menganiaya seseorang yang terpanggil untuk mengikuti kebenaran? Manusia macam apa engkau Umar?!".

Tiba-tiba Umar melihat suhuf yang disembunyikan Fatimah. "Apa yang kau sembunyikan dibalik baju mu Fatimah?" tegas Umar.

"Suhuf Al-quran," kata Fatimah.

"Sini, saya mau lihat?" ujar Umar.

"Tak boleh. Kamu kotor, orang kotor tidak boleh memegang Al-quran. Kalau mau pegang, bersihkan dulu dirimu," tegas Fatimah. Diturutinya permintaan adiknya itu.

Usai membersihkan diri, Umar membaca suhuf tersebut ayat pertama dari surah Thaha.

"Bismillahi rahmani rahim. Thaha. Tidaklah Aku turunkan Al-quran ini untuk bikin sukar manusia. Melainkan merupakan pengingat bagi orang-orang yang takut kepada Allah." (Surah Thaha ayat 1-2)

Kemudian surah Thaha ayat 14-16,

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang, yang sengaja waktunya tidak Kami beritahukan kepada kamu semua untuk Kami balas segala setiap orang yang apa saja yang telah mereka lakukan dalam kehidupan dunia ini."

Usai membaca ayat tersebut, jiwa Umar bergetar. Dalam hatinya, kalimat tersebut pasti bukan dari manusia.

"Hai, Fatimah beritahu aku dimana keberadaan Muhammad?" tanya Umar.

"Saya tidak akan memberitahu jika kamu hanya akan menyakiti Rasulullah!" kata Fatimah.

"Sama sekali saya tidak akan mencelakakan dia, Fatimah. Kasih tahu saja dimana dia?!" ujar Umar. Akhirnya Fatimah memberitahu lokasinya.

Umar bergegas menuju Darul Arkom. Kedatangan Umar selalu dianggap bencana bagi sahabat Rasulullah. Tapi baginda Nabi Muhammad SAW menenangkan sahabat, "Tenang, mudah-mudahan ada hikmahnya."

Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib saat akan membukakan pintu berkata, "Kalau niatnya baik kita terima kalau niatnya tidak baik, saya paling depan,". Usai pintu dibuka, Umar langsung masuk dan merangkul Rasulullah.

Umar bersyahadat, "Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah."

Sahabat pun bertakbir. Allahu Akbar. Allahu Akbar.


Resource Berita : merdeka.com
Demi Ngaji ke Gus Mus, Ngontel Kediri-Rembang

Demi Ngaji ke Gus Mus, Ngontel Kediri-Rembang



WartaIslami ~ Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika seorang santri dari Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur bernama M Rizki Wahyudin (22) mulai mengayuh sepeda pancalnya menuju Rembang, pada Jumat 26 Mei 2017.

Berbekal uang saku Rp15.000, remaja bersapaan akrab Wahyu, memantapkan diri bertarung dengan terik matahari untuk mewujudkan kehendaknya, mengaji kepada sang idola, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh.

Bagi dia yang kelahiran Lampung Selatan pada 4 Juni 1995, bersepeda jauh, bukan hal baru. Namun cukup sejauh Kediri-Jombang. Sementara ngontel dengan jarak sekitar 227 kilometer ke Rembang, baru kali ini dilakoni. Terlebih dengan bekal seadanya.

“Saya ngefans dengan Gus Mus dan Mbah Moen (KH Maimoen Zubair, Sarang). Sulit mencari ulama seperti beliau dalam hal berdiri tegak di tengah kelompok kanan dan kiri,” kata Wahyu kepada mataairradio.com, setelah sampai di Leteh, Senin (29/5/2017) dini hari.

Ia yang Kelas II Tsanawiyah di Lirboyo sempat mengontak orang tuanya di Lampung Selatan, sebelum berangkat ke Rembang. Berpamitan dan meminta tambahan kiriman uang saku. Izin dikantongi, tapi permintaan keduanya tak langsung dipenuhi.

“Santri di Lirboyo bebas mengaji kemana ketika libur Tsanawiyah. Begitu mantap, saya sowan ke kiai bareng teman-teman. Sempat kontak juga orang tua. Pamit dan minta uang saku, tapi nggak langsung dikirim. Akhirnya tetap berangkat dengan bekal Rp15.000,” katanya.

Bagi remaja Kampung Merambung Kecamatan Penengahan ini, bekal utama di kehidupan ini adalah keyakinan. Yakin atas kuasa Allah. Maka dari itu, ia pun makin mantap menggenjot pedal sepedanya, hingga pukul 10.00 WIB, tiba dirinya di Tambakberas, Jombang.

“Jam 8 pagi saya berangkat dari Lirboyo. Dua jam perjalanan bersepeda secara santai, jam 10 sampai Jombang. Saya Salat Jumat di Masjid Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Sekitar jam 2 siang saya berangkat lagi ke arah Babat Lamongan,” tuturnya.

Hujan deras mengiringi kayuhan ontel sepeda Wahyu menuju Babat yang diarunginya dalam tujuh jam. Meski bermantel, ia menyatakan merasa kedinginan. Pukul 21.00 WIB, ia mampir di sebuah warung nasi di Babat untuk membungkus bekal makanan buat sahur.

“Tetapi akhirnya menginap di tempat teman komunitas sepeda. Dikasih makan. Saya bermalam hingga sahur. Pukul 08.00 WIB, saya baru mulai mengontel lagi meninggalkan Babat. Iya, dalam kondisi puasa,” tuturnya.
Setelah sekitar dua jam lebih perjalanan, ia sampai di Tuban. Ia beristirahat di Masjid Agung Tuban sebelum kemudian berziarah di Makam Sunan Bonang di Tuban. Wahyu mengaku baru melanjutkan lagi perjalanan dari Tuban menuju Rembang pada sekitar pukul 15.00 WIB.

“Saya lalu mengayuh lagi sepeda ontel ini menuju Sarang. Sempat istirahat di RM Simpang Raya untuk buka puasa. Tak disangka, alhamdulilLah diberi kemurahan setelah sang pemilik tahu sepeda saya dan tanya-tanya ke saya. Jam 7 malam saya bergerak lagi dan sampai Sarang jam 10 malam hari Sabtu,” terangnya.

Sesampainya di Sarang, ia bertemu dengan sesama teman santi dari Lirboyo. Hatinya saat itu mulai berbunga, setelah mendapat kabar bisa sowan ke Mbah Moen pada keesokan hari usai Salat Asar, dan akhirnya bisa bertemulah Wahyu dengan ulama sepuh tersebut.

“Mbah Moen ini dahulu mengaji, nyantri juga di Lirboyo. Mbah Moen bahkan pernah ketemu dengan generasi 1910, atau awal pendiri Lirboyo, Jadi secara sanat keilmuwan, dekat dengan para pendahulu. Namun pada Puasa tahun ini saya ingin mengaji kepada Gus Mus, yang juga alumnus Lirboyo,” katanya.

Selepas berbuka Puasa dan Salat Magrib, alumnus MAN Pandeglang Banten tahun 2013 ini kembali melanjutkan perjalanan ke Rembang, dalam guyuran hujan. Baru sampai di Lasem, ia sempat mengira sudah tiba di Rembang, lantaran sistem pemandu arah di genggamannya menunjukkan rujukan berbeda.

“Sempat bingung karena GPS di ponsel saya menunjukkan arah yang berbeda yaitu arah Blora. Tapi saya tanya sopir di dekat MAN Lasem dan diarahkan untuk menuju Alun-alun Rembang yang jaraknya sekitar 12-13 kilometer dari sini,” kata remaja yang baru tiga tahun ini mondok di Lirboyo.

Hingga akhirnya sekitar pukul 03.00 dini hari Senin, 29 Mei 2017, ia mencapai Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang. Di tasnya berisi beberapa potong pakaian, matras, kompor, dan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali yang diajarkan Gus Mus pada Ramadan 1438 Hijriah ini.

“Sepeda ontel ini milik teman, yang alhamdulillah boleh saya pinjam. Katanya, sepeda ini bikinan Swiss. Iya sengaja saya kasih bendera Lirboyo dan Merah Putih. Biar kelihatan kalau saya perjalanan jauh serta lambang cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus untuk mengenalkan Lirboyo,” katanya.

Di Rembang, ia berniat mengaji kitab tersebut kepada Gus Mus sampai hatam. Seusainya nanti, ia akan kembali pulang ke Lirboyo. Namun petualangannya ini belum kelar karena tekadnya mengaji juga kepada Habib Lutfi Pekalongan, Mbah Dim Kaliwungu, dan Mbah Moen Sarang, di kesempatan mendatang.

“InsyaAllah pulang juga akan bersepeda. Jika menurut survei orang bersepeda itu bahagia, maka survei itu benar. Saya merasakan. Soal mengaji, pesantren adalah pilihan terbaik. Sebab akan kita dapatkan ilmu agama yang murni. Dengan begitu, paham-paham radikal dan menyimpang, akan tertolak sendirinya,” pungkasnya.



Resource Berita : santrionline.net
Kisah Budak Batal Masuk Neraka Karena Sedekah

Kisah Budak Batal Masuk Neraka Karena Sedekah



WartaIslami ~ Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa suatu saat ia telah membeli seorang jariyah, seorang budak wanita. Sesaat kemudian, Malaikat Jibril turun ke bumi dan berkata kepada Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasalam,

يا محمد أخرج هذه الجارية من بيتك فإنها من اهل النار

"Wahai Muhammad, keluarkanlah budak itu dari rumahmu! karena sesungguhnya ia adalah ahli neraka" perintah Jibril.

Syahdan, Nabi pun mengutarakannya kepada Aisyah. Lalu Aisyah pun dengan perasaan iba, melepas kepergian sang budak.

Bagaimana Aisyah tidak bersedih, jika tiba-tiba saja turun wahyu bahwa budak tersebut harus dikeluarkan dan tercatat sebagai ahli neraka pula. Padahal, Aisyah tanpa tahu-menahu sebab musabab mengapa ia ditakdirkan menjadi ahli neraka.

Dengan wajah penuh kasih, Aisyah pun melepas kepergiannya dengan memberi beberapa kurma sebagai bekal.

Di tengah jalan, sang budak merasa kelelahan. Teringat ia akan bekal yang dibawakan oleh majikannya, Aisyah. Dimakannya dengan lahap kurma itu. Namun disaat ia menikmati bekal kurma, datanglah kepadanya seorang faqir meminta-minta.

Meskipun lapar, dan sesungguhnya ia juga masih membutuhkan bekal kurma, sang budak memberikan sebagian kurma yang tersisa kepada faqir tersebut.

Ia merasa iba, hingga tak ada satu kurma pun tersisa untuknya. Ia berikan seluruh sisa kurma pemberian Aisyah kepada faqir tersebut.

Betapa dahsyat kekuatan sedekah. Tak lama kemudian setelah sang budak memberikan kurma kepada seorang faqir tadi. Malaikat Jibril kembali turun ke bumi dan mewahyukan kepada Nabi Muhammad bahwa ia diperintah untuk kembali mebiarkan sang budak di rumahnya.

Karena sungguh, akibat sedekah sang budak, rahmat Allah turun dan ia pun "batal" masuk neraka. (Ulin Nuha Karim)

-Sumber: Kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi



Resource Berita : nu.or.id
Ini Sejarah dan Waktu Kesunahan Itikaf

Ini Sejarah dan Waktu Kesunahan Itikaf



WartaIslami ~ mengatakan bahwa itikaf merupakan syar’u man qablana, yakni syariat dari umat-umat terdahulu. Itikaf merupakan bagian dari syariat Nabi Ibrahim sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 125.

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang rukuk, dan yang sujud.’"

Dalam Al-Baqarah ayat 187 juga dijelaskan bahwa Rasul pernah ditegur oleh Allah agar tidak menyentuh istrinya ketika itikaf di masjid.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid.”

Nabi Muhammad SAW pernah menjalankan itikaf dalam beberapa waktu.

Pertama, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah RA dalam Sahih Bukhari:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.”

Kedua, sepuluh hari kedua bulan Ramadhan sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Said Al-Khudri dalam Sahih Bukhari:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأوسط من رمضان

Artinya, “Dari Abu Said Al-Khudri RA. bahwa Rasulullah SAW itikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan.”

Dengan adanya dua hadis di atas bahwa Nabi Muhammad pernah menjalankan itikaf 20 hari selama satu tahun. Hal ini dibuktikan dengan hadits Abu Hurairah.

عن أبي هريرة قال : - كان النبي صلى الله عليه و سلم يعتكف كل عام عشرة أيام . فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad Saw beritikaf dalam satu tahun sepuluh hari. Pada tahun wafatnya, beliau beritikaf selama dua puluh hari.”

Mengenai waktu menjalankan itikaf, Al-Bujairimi mengatakan bahwa kapanpun bisa melaksanakan itikaf bahkan pada waktu-waktu yang dimakruhkan (waktul karahah). Termasuk dalam keadaan puasa atau pada waktu sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.

Hal ini diungkapkan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Muin-nya.

يسن اعتكاف كل وقت، وهو لبث فوق قدر طمأنينة الصلاة

Artinya, “Disunahkan i’tikaf setiap waktu. Yakni dengan berdiam lebih dari waktu tuma’ninahnya sholat.” Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi/Alhafiz K)

Ini Sejarah dan Waktu Kesunahan ItikafFoto: Ilustrasi
Itikaf dalam bahasa berarti “al-lubtsu”, yakni berdiam diri. Al-Bujairimi dalam Hasiyyah ala Syarhil Minhaj-nya mengatakan bahwa itikaf merupakan syar’u man qablana, yakni syariat dari umat-umat terdahulu. Itikaf merupakan bagian dari syariat Nabi Ibrahim sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 125.

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang rukuk, dan yang sujud.’"

Dalam Al-Baqarah ayat 187 juga dijelaskan bahwa Rasul pernah ditegur oleh Allah agar tidak menyentuh istrinya ketika itikaf di masjid.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid.”

Nabi Muhammad SAW pernah menjalankan itikaf dalam beberapa waktu.

Pertama, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah RA dalam Sahih Bukhari:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.”

Kedua, sepuluh hari kedua bulan Ramadhan sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Said Al-Khudri dalam Sahih Bukhari:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأوسط من رمضان

Artinya, “Dari Abu Said Al-Khudri RA. bahwa Rasulullah SAW itikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan.”

Dengan adanya dua hadis di atas bahwa Nabi Muhammad pernah menjalankan itikaf 20 hari selama satu tahun. Hal ini dibuktikan dengan hadits Abu Hurairah.

عن أبي هريرة قال : - كان النبي صلى الله عليه و سلم يعتكف كل عام عشرة أيام . فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad Saw beritikaf dalam satu tahun sepuluh hari. Pada tahun wafatnya, beliau beritikaf selama dua puluh hari.”

Mengenai waktu menjalankan itikaf, Al-Bujairimi mengatakan bahwa kapanpun bisa melaksanakan itikaf bahkan pada waktu-waktu yang dimakruhkan (waktul karahah). Termasuk dalam keadaan puasa atau pada waktu sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.

Hal ini diungkapkan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Muin-nya.

يسن اعتكاف كل وقت، وهو لبث فوق قدر طمأنينة الصلاة

Artinya, “Disunahkan i’tikaf setiap waktu. Yakni dengan berdiam lebih dari waktu tuma’ninahnya sholat.” Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?



WartaIslami ~ “Imsaak...! Imsaak...!”

Di beberapa daerah di Indonesia suara keras kata-kata tersebut hingga kini masih terdengar beberapa saat sebelum azan subuh dari masjid-masjid dan mushala-mushala sebagai pengingat telah datang waktunya imsak, waktu menahan diri dari berbagai hal yang bisa membatalkan puasa, khususnya makan dan minum. Dan masyarakat maklum, bila telah terdengar kata “imsak” dikumandangkan mereka serta merta menghentikan aktivitas makan dan minum yang terangkai dalam kegiatan sahur.

Memang demikian adanya. Sebagian masyarakat Muslim memahami bahwa datangnya waktu imsak adalah awal dimulainya ibadah puasa. Pada saat itu segala kegiatan makan minum dan lainnya yang membatalkan puasa harus disudahi hingga datangnya waktu maghrib di sore hari. Namun demikian sebagian masyarakat Muslim juga bertanya-tanya, benarkah waktu imsak sebagai tanda dimulainya puasa?

Lalu bagaimana sesungguhnya fiqih mengatur awal dimulainya ibadah yang termasuk salah satu rukun Islam ini? Benarkah imsak menjadi waktu awal dimulainya seseorang menahan lapar dan dahaga?

Bila mencermati beberapa penjelasan para ulama dalam berbagai kitabnya akan bisa dengan mudah diambil satu kesimpulan kapan sesungguhnya ibadah puasa itu dimulai dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan waktu imsak.

Imam Al-Mawardi di dalam kitab Iqna’-nya menuturkan:

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا لامساكمَا بَينهمَا

“Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.” (lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74)

Dr. Musthafa al-Khin dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji menyebutkan:

والصيام شرعاً: إمساك عن المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس مع النية.

“Puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari disertai dengan niat.” Musthafa al-Khin dkk, Al-Fiqh Al-Manhaji fil Fiqh As-Syafi’i [Damaskus: Darul Qalam, 1992], juz 2, hal. 73)

Sedangkan Sirojudin Al-Bulqini menyampaikan:

السابعُ: استغراق الإمساكِ عما ذُكرَ لجميع اليومِ مِن طُلوعِ الفجرِ إلى غُروبِ الشمسِ.

“Yang ketujuh (dari hal-hal yang perlu diperhatikan) adalah menahan diri secara menyeluruh dari apa-apa (yang membatalkan puasa) yang telah disebut sepanjang hari dari tebitnya fajar sampai tenggelamnya matahari..” (Sirojudin al-Bulqini, Al-Tadrib [Riyad: Darul Qiblatain, 2012], juz 1, hal. 343)

Dari keterangan-keterangan di atas secara jelas dapat diambil kesimpulan bahwa awal dimulainya puasa adalah ketika terbit fajar yang merupakan tanda masuknya waktu shalat subuh, bukan pada waktu imsak. Adapun berimsak (mulai menahan diri) lebih awal sebelum terbitnya fajar sebagaimana disebutkan oleh Imam Mawardi hanyalah sebagai anjuran agar lebih sempurna masa puasanya.

Lalu bagaimana dengan waktu imsak yang ada?

Waktu imsak yang sering kita lihat di jadwal-jadwal imsakiyah adalah waktu yang dibuat oleh para ulama untuk kehatian-hatian. Dengan adanya waktu imsak yang biasanya ditetapkan sepuluh menit sebelum subuh maka orang yang akan berpuasa akan lebih berhati-hati ketika mendekati waktu subuh. Di waktu sepuluh menit itu ia akan segera menghentikan aktivitas sahurnya, menggosok gigi untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang bisa jadi membatalkan puasa, dan juga mandi serta persiapan lainnya untuk melaksanakan shalat subuh.

Dapat dibayangkan bila para ulama kita tidak menetapkan waktu imsak. Seorang yang sedang menikmati makan sahurnya, karena tidak tahu jam berapa waktu subuh tiba, dia akan kebingungan saat tiba-tiba terdengar kumandng azan subuh sementara di mulutnya masih ada makanan yang siap ditelan.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa waktu imsak hanya ada di Indonesia. Fenomena masjid-masjid dan musholla-musholla menyuarakan waktu imsak tak ditemui di negara manapun sebagaimana bisa ditemui di beberapa daerah di Indonesia.

Inilah kreatifitas ulama kita, ulama Nusantara. Adanya waktu imsak adalah bagian dari sikap khas para ulama yang “memperhatikan umat dengan perhatian kasih sayang” atau dalam bahasa Arab sering disebut yandhuruunal ummah bi ‘ainir rahmah. Karena sayangnya ulama negeri ini kepada umat mereka menetapkan waktu imsak demi lebih sempurnanya puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam bangsa ini. Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Kisah Nabi Idris as yang bikin merinding tentang neraka dan kematian

Kisah Nabi Idris as yang bikin merinding tentang neraka dan kematian



WartaIslami ~ Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam as. Dia adalah putra dari Qabil dan Iqlima (putra dan putri Nabi Adam as).

Saat itu, Allah memerintahkan Nabi Idris untuk mengajak seluruh manusia agar berjalan pada kebenaran. Saat itu dia adalah manusia pertama yang menerima wahyu lewat Malaikat Jibril ketika dirinya berusia 82 tahun.

Sebagai seorang nabi, dia memiliki mukjizat atau kelebihan, yaitu:

1. Manusia pertama yang pandai baca tulis dengan pena.
2. Nabi Idris diberi macam-macam pengetahuan mulai dari merawat kuda, ilmu perbintangan (falaq), hingga ilmu berhitung yang sekarang dikenal dengan matematika.
3. Nama Idris berasal dari kata Darasa yang artinya belajar. Nabi Idris pun kenal sangat senang belajar, dan tekun mengkaji fenomena alam semesta.
4. Nabi Idris adalah orang pertama yang pandai memotong dan menjahit pakaiannya. Orang-orang sebelumnya konon hanya mengenakan kulit binatang sebagai penutup aurat.

Nabi Idris mendapat gelar sebagai 'Asadul Usud' yang artinya Singa, karena ia tidak pernah putus asa ketika menjalankan tugasnya sebagai seorang Nabi. Ia tidak pernah takut menghadapi umatnya yang kafir. Namun ia tidak pernah sombong, ia juga memiliki sifat pemaaf.

Nah, untuk melihat bagaimana kisah-kisah menarik dari nabi Idris, simak ulasannya berikut ini.

1. Nabi pertama yang melihat surga dan neraka

Suatu hari ketika Nabi Idris dan Malaikat Izroil beribadah bersama, kemudian Nabi Idris mengajukan permintaan unik.

"Bisakah Engkau membawa Saya melihat surga dan neraka, wahai Malaikat Izroil?" tanya nabi Idris as.

Malaikat Izroil pun menjawab, "Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaan darimu sungguh aneh. Mengapa Engkau meminta hal itu? Bahkan para malaikat pun takut melihat neraka, wahai Nabi Allah."

Nabi Idris menjawab, "Terus terang, Saya takut sekali dengan azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan iman Saya menjadi tebal setelah melihatnya."

Kemudian Malaikat Izroil meminta izin kepada Allah dan mendapatkan restu. Keduanya pun pergi untuk melihat neraka. Saat hampir dekat, Nabi Idris as langsung pingsan. Malaikat penjaga neraka merupakan sosok yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris as tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang sangat mengerikan itu. Tidak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan neraka. Api berkobar dahsyat, bunyi yang bermuruh menakutkan dan hal-hal yang mengerikan lainnya. Nabi idris meninggalkan neraka dengan tubuh yang lemas.

Tujuan kedua, Malaikat Izroil mengantarkan Nabi Idris ke surga. Di sana, reaksi Nabi Idris pun sama, nyaris pingsan! Tapi bukan karena takut, melainkan takjub dengan psona dan keindahan semua yang ada di surga.

Dilihatnya sunga-sungai yang airnya begitu bening seperi kaca. Sementara itu di pingir sungai terdapat pohon-pohon yang bagian batangnya terbuat dari peak dan emas. Lalu ada juga istana-istaina untuk para penghuni surga. Di setiap penjuru ada pohon yang menghasilkan buah-buahan, buahnya pun begit segar, ranum dan harum.

Setelah puas berkeliling, Malaikat Izroil mengajak Nabi Idris as pulang ke bumi. Namun Nabi Idris enggan pulang dan ingin tetap berada di surga.


"Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah dihisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang beriman lainnya," ujar Malaikat Izroil.

Kemudian Nabi Idris as menjawab, "saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kimata nanti,".

2. Mengerikannya sakaratul maut

Suatu ketika, Malaikat maut Izroil yang sudah bersahabat lama dengan Nabi Idris meminta izin kepada Allah untuk turun ke bumi untuk bertamu Nabi Idris. Dia merasa sangat rindu untuk bertemu dengan Nabi Idris. Dan Allah mengizinkan.

Malam itu, Nabi Idris kedatangan seorang pria yang membawa banyak sekali buah-buahan. Tentu saja dia adalah Malaikat Izroil yang menyamar. Nabi Idris tidak mengetahuinya.

Nabi Idris menawarkan makanan itu kepada Izroil namun ditolaknya. Akhirnya mereka berbincang-bincang dan keluar berjalan-jalan melihat pemandangan sekitar. Tak terasa sudah empat hari mereka bersama. Karena sudah akrab, Nabi Idris mulai curiga dengan gerak gerik Sang Tamu. Dengan rasa penasaran yang tinggi akhirnya Nabi Idris pun bertanya.

Nabi Idris: Ya Tuanku. Siapa sebenarnya Anda?

Malaikat Izroil: Maaf Ya Nabi Allah, Saya sebenarnya adalah Izroil.

Nabi Idris: Malaikat Izroil? Kau kah itu? Sang Pencabut Nyawa?

Malaikat Izroil: Benar, ya Idris.

Nabi Idris: Sudah empat hari Engkau bersama denganku. apakah Engkau juga menunaikan tugasmu dalam mencabut nyawa makhluk-makhluk di dunia ini?

Malaikat Izroil: Wahai Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.

Nabi Idris: Wahai Malaikat Izroil. Lantas apa maksud kedatangan Engaku kemari? Adakah Engaku ingin mencabut nyawaku?

Malaikat Izroil: Tidak Idris. Saya datang memang utuk mengunjungimu, karena Saya rindu dan Allah mengizinkan Saya.

Nabi Idris: Wahai Izroil. Saya punya satu permintaan dan tolong kabulkan. Tolong cabut nyawa Saya. Dan minta izin ke Allah untuk mengembalikan nyawa Saya. Saya hanya ingin merasakan sakaratul maut yang banyak orang katakan sangat dahsyat.

Malaikat Izroil: Sesungguhnya Saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainakn hanya dengan izin Allah.

Kemudian Allah mengabulkan permintaan Sang Nabi. Dan Malaikat Izroil pun mencabut nyawa Nabi Idris saat itu juga. Malaikat Izroil menangis melihat sahabatnya merasakan kesakitan. Setelah mati, Allah menghidupkan kembali Idris.

Setelah hidup nabi Idris menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa membayangkan jika manusia-manusia lain mengalami sakaratul maut dengan kedahsyatan yang sama. Nabi Idris tidak tega jika ada umatnya harus sengsara di ujung hidup dan mati. Sejak saat itu, Nabi Idris makin giat mengajak umatnya untuk senantiasa berbuat kebaikan dan jujur untuk hal-hal kebenaran.

3. Nasehat dari Nabi Idris as

Nabi Idris memiliki banyak sekali ajaran yang diturunkan kepada umatnya. Tentu saja untuk dilakukan agar hidup lebih baik.

Ada beberapa pesan yang disampaikan oleh Nabi Idris as semasa hidupnya kepada para umat. Pesan atau nasehat itu antara lain:
1. Salat jenazah lebih sebagai penghormatan, karena pemberi syafaat hanya Tuhan sesuai ukuran amal kebajikan.

2. Besarnya rasa syukur yang diucapkan, tetap tidak akan mampu mengalahkan besarnya nikmat Tuhan yang diberikan.

3. Sambutlah seruan Tuhan secara ikhlas, untuk shalat, puasa, maupun menaati semua perintah-Nya.

4. Hindari hasad alias dengki kepada sasama yang mendapat rezki, karena hakikat jumlahnya tidak seberapa.

5. Menumpuk numpuk harta tidak ada manfaat bagi dirinya. Keenam, kehidupan handaknya diisi hikmah kebijakan (Maal anbiya fil Quranil Karim:78).



Resource Berita : merdeka.com
Hakikat Hamba Allah

Hakikat Hamba Allah



WartaIslami ~  Allah SWT adalah Tuhan pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Tidak akan pernah ada alam semesta, manusia, dan kehidupan jika Allah tidak menciptakannya. Tiadalah Allah menciptakan segala di dunia, kecuali memiliki tujuan yang jelas.  Visi penghambaan adalah tujuan utama segala penciptaan di dunia ini.

Karena itu, kedudukan segala makhluk ciptaan Allah adalah sebagai hamba Allah, lebih khusus lagi adalah penciptaan jin dan manusia. Allah telah dengan jelas berfirman dalam surah adz-Dzariyat ayat 56, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".
           
Visi penghambaan sebagai tujuan utama penciptaan manusia setidaknya mengandung empat hikmah. Hal ini bisa ditegaskan melalui firman Allah dalam surah al-Fatihah ayat 5, "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan".

Istilah na'budu diambil dari kata 'ibaadat yang memiliki makna kepatuhan dan ketundukan, yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. Sementara istilah nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah, yang maknanya mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan, yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Hikmah pertama dari surah al-Fatihah ayat 5 adalah sebuah penegasan hanya Allahlah yang wajib disembah oleh manusia dan haram menyembah selain kepada Allah. Menjadikan selain Allah sebagai tuhan yang disembah adalah bentuk kemaksiatan besar yang disebuat sebagai perilaku musyrik. Begitu juga, hanya kepada Allah-lah seharusnya manusia meminta pertolongan. Dengan kata lain, Allahlah Tuhan Yang Maha Penolong, bukan yang lain.

Hikmah kedua dari surah al-Fatihah ayat 5 adalah bahwa kata na`budu bermakna kewajiban dan nasta`in bermakna hak. Artinya, kewajiban yang terlebih dahulu dilakukan baru akan mendapatkan haknya. Islam tidaklah mengajarkan tuntutan atas hak sebelum menjalankan kewajiban. Manusia berkewajiban menyembah Allah, setelah itu manusia baru boleh meminta kepada Allah berupa hak pertolongan Allah.

Hikmah ketiga dari surah al-Fatihah ayat 5 adalah keharusan totalitas penyembahan kepada Allah. Dengan menggunakan dhomir nahnu (kami) dalam kata na`budu dan nasta`in memberikan makna bahwa dalam upaya menyembah Allah harus totalitas dari seluruh diri manusia, baik akal, fisik, maupun hatinya. Sebab, dalam shalat kadang-kadang fisiknya hadir di masjid tapi pikirannya hadir di luar masjid. Di sinilah pentingnya shalat dilaksanakan secara khusyuk.

Hikmah keempat dari surah al-Fatihah ayat 5 adalah adanya hukum sebab akibat dalam kehidupan manusia di dunia. Pertolongan Allah akibat yang hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya, yang menjalankan sebab berupa penyembahan kepada Allah. Begitupun, Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang mau menolong agama Allah. Dalam hubungan sebab akibat ini, Allah tegaskan dalam surah Muhammad ayat 7, "Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu".

Dengan demikian, predikat hamba Allah adalah saat manusia memurnikan keimanan. Hanya Allah sebagai tujuan ibadah yang dilakukan secara totalitas ketundukan dalam rangka menggapai pertolongan-Nya.


Resource Berita : republika.co.id
Maafkan Aku Ya Ramadhan

Maafkan Aku Ya Ramadhan



WartaIslami ~ Ramadhan telah tiba. Kita selalu menantinya karena bulan ini amat istimewa. Berkah bertabur setiap harinya. Waktu demi waktunya menawarkan harapan tak terperikan.

Sepanjang siang dan malamnya terdapat pembebasan dari api neraka dan doa yang akan dikabulkan. Belum lagi ada Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia daripada seribu bulan. Pada malam itu maghfirah turun melimpah dan pahala amal dilipatgandakan tercurah ruah.

Kita lantas menyambutnya dengan ucapan yang terus berulang: "Marhaban Ya Ramadhan". Bahkan, jauh hari sebelumnya kita pun memanjatkan doa: "Ya Allah pertemukanlah aku dengan Ramadhan. Jadikan amal ibadahku pada bulan ini diterima di sisi-Mu."

Namun, benarkah kita sungguh siap menyambut Ramadhan? Nyatanya, setiap kali ia hadir terkadang kita masih ribet dengan urusan sana-sini. Sibuk dengan berbagai rutinitas seolah tiada beda dengan bulan-bulan yang lain. Ribut dengan sesama sampai lupa bahwa kita perlu berjeda. Sampai titik ini, kita sesungguhnya mengucapkan, "Maafkan aku Ya Ramadhan. Aku tak sempat menyambutmu."

Kalaupun ada penyesuaian kegiatan bernuansa Ramadhan, tetap saja miskin dari orientasi ukhrawi. Silaturahim rajin dilaksanakan lebih demi menjaga relasi. Buka puasa bersama digelar untuk ajang berbincang duniawi. Shalat Tarawih hanya dijalankan dalam bilangan hari. Selebihnya, tenggelam dalam hiruk pikuk menyongsong Idul Fitri.

Begitu Ramadhan pergi, tak kunjung tampak perbaikan diri. Lagi-lagi, terpaksa keluar kata, "Maafkan aku wahai Ramadhan. Kehadiranmu tak kusadari."

Padahal, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki diri. Allah SWT mewajibkan kaum beriman untuk berpuasa agar mereka dapat berubah jadi lebih baik. Tersirat dari makna surah al-Baqarah 183-186, setidaknya ada tiga kinerja kaum beriman yang dapat dicapai melalui puasa. Yaitu, menjadi orang yang bertakwa, hidup penuh rasa syukur, dan tetap setia dalam kebenaran.

Ramadhan adalah bulan introspeksi. Saat tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama 11 bulan yang dijalani. Marilah kita mulai hal itu dengan sederet pertanyaan. Sudahkah kita beragama dengan baik dan benar? Baik dalam arti menjadikan agama sebagai jalan meniti kebaikan serta menabur kebajikan. Benar dalam arti tidak menyimpang dari sumber-sumber pokok ajaran agama. Atau kita menyelewengkan simbol agama untuk tujuan tak mulia?

Sepanjang tahun, esensi agama—yakni memanusiakan manusia—mungkin sering kita lupakan. Maka, pada momen ini kita kembali bertanya pada diri sendiri. Apakah dalam menjalankan ajaran Islam, kita telah benar-benar dalam rangka menebarkan rahmat bagi alam semesta?

Apakah kita telah dan akan terus berupaya melindungi dan menjaga harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan sesama kita dalam beragama? Ataukah dalam berislam, kita justru telah merendahkan atau bahkan meniadakan sisi-sisi kemanusiaan kita sendiri. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan sampai mana kita mampu kembali ke jati diri kemanusiaan yang suci. Sejauh mana kita mampu meneladani Sang Nabi, sosok paling manusiawi di muka bumi.

Ramadhan kali ini kita memang perlu lebih banyak bertanya agar tak salah langkah dalam berpuasa. Puasa kita bakal sia-sia jika hanya menahan mulut dari makan dan minum semata. Puasa harus pula mencegah diri dari perbuatan maksiat dan perkataan hina. Sembari membersihkan diri, marilah kita hindari informasi hoaks, kebohongan, fitnah, caci maki, provokasi, dan sejenisnya yang dapat menodai kemuliaan bulan suci.

Sebaliknya, marilah kita memperkuat iman disertai kesadaran tentang makna kemanusiaan. Marilah merajut kembali persaudaraan dan persahabatan agar sadar bahwa kita tidak sendirian hidup di dunia. Semoga dengan cara ini, dosa-dosa kita diampuni dan negeri ini diberkahi.

Selamat bermuhasabah dan beribadah di bulan yang penuh maghfirah. Jangan sampai ketika ia telanjur pergi, kita lagi-lagi tak sanggup membendung kata, "Maafkan aku Ya Ramadhan".


Resource Berita : republika.co.id
Cegah Radikalisme, Emil Minta Isi Ceramah Masjid Lebih Ramah

Cegah Radikalisme, Emil Minta Isi Ceramah Masjid Lebih Ramah



WartaIslami ~ Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menggandeng MUI Kota Bandung untuk mencegah radikalisme di Kota Bandung. Menurut Ridwan Kamil, Ia telah meminta semua ustaz di masjid-masjid di Bandung untuk berceramah dengan ramah. Ridwan Kamil meminta, penceramah untuk menghindari ceramah yang menyebarkan kebencian.

"Kami sudah bekerjasama dengan MUI untuk mengimbau dan menjadikan masjid sebagai tempat ramah dakwah," ujar pria yang akrab disapa Emil saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Selasa (30/5).

Emil mengatakan, dakwah di masjid sifatnya harus ramah, bisa merangkul, dan menghindari dakwah terlalu keras. Definisi dakwah yang ramah itu sendiri adalah dakwah yang tidak menyebarkan kebencian.

"Dakwah yang lebih merangkul bukan memukul, menebar rasa cinta bukan rasa benci, kemudian mengisi muamalahnya dengan berbaik sangka, bukan berburuk sangka," katanya.

Menurut Emil, beberapa waktu lalu sempat ada masjid di Bandung yang diduga berdakwah dengan cara yang tidak ramah. Tapi, kekhawatiran yang ada sudah bisa diantisipasi. Karena, RT/RW cukup proaktif kepada MUI.

"Sempat ada masjid yang tak ramah di daerah Cibiru dan Ujungberung," katanya.

Namun, Emil mengaku mengaku sekarang lebih tenang karena program Subuh Berjamaah dan Magrib Mengaji yang dicetuskan Pemkot Bandung berjalan efektif di masyarakat.

"Kami tenang subuh berjamaah dan Maghrib mengaji menjadi instrumen mendekatkan diri kepada religiusitas. Ujungnya menekan radikalisme," katanya.



Resource Berita : republika.co.id
Tahun 2025 akan Lahir 3.500 Penghafal Alquran di Nuu Waar

Tahun 2025 akan Lahir 3.500 Penghafal Alquran di Nuu Waar



WartaIslami ~  Untuk membangun dakwah di Irian dan kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimulai dengan memancarkan cahaya Alquran dari Timur Indonesia. Presiden Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara, Ustaz Fadhlan Gharamatan mengatakan, AFKN pada 2025 bercita-cita melahirkan anak-anak Irian 3.500 jadi penghafal Alquran.

"Untuk itu kami meminta perhatian dan dukungan umat Islam untuk membantu terwujudnya cita-cita tersebut," kata dia, seperti dilansir Salingsapa, Selasa (30/5).

Dengan Alquran, kata dia, kita akan mencerdaskan. Dengan Alquran, kita membangun peradaban dan menjaga NKRI dari Irian. "Perhatian ini menjadi perjalanan dakwah Indonesia," kata dia.

Ustaz mengatakan, kepada setiap santri AFKN selalu ditekankan Alquran akan membawa perubahan yang dashyat. Perubahan yang akan membawa kemajuan, membawa kedamaian, dan persatuan yang kokoh.

"Milikilah Alquran, dan cintailah Alquran,"kata Ustaz.

Untuk itu, Ustaz berharap perhatian dan dukungan yang diberikan akan membuat masa depan Indonesia lebih bermartabat. "Dan itu dimulai dari Timur Indonesia," kata dia.

Dikatakan Ustaz, wilayah Irian merupakan yang pertama kali menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dilanjutkan dengan kumandang Azan Subuh. Yang berlanjut di seluruh wilayah Indonesia lainnya hingga Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.




Resource Berita : republika.co.id
Ini Cara Memastikan Air Zamzam Asli

Ini Cara Memastikan Air Zamzam Asli



WartaIslami ~ Air Zamzam memiliki banyak karakteristik yang berbeda dengan air biasa. Jelas, karena air Zamzam adalah keajaiban dari Allah SWT sehingga tidak ada manusia yang bisa menambahkan karakteristik lain ke dalam air ini.

Seperti dilansir dari Arabmedia.com, Selasa (30/5), secara kasat mata, air Zamzam tampak sama dengan jenis air lain, seperti air mineral dalam kemasan. Namun, ada cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah air Zamzam itu asli atau palsu. Bagaimana? Berikut ini penjelasannya:

Kemasan air Zamzam asli berisi 10 liter dalam botol dengan tercetak kata "Zam Zam" dan terdapat cap pada tutup dan botol itu sendiri. Botol yang asli memiliki kemasan berlabel biru dan tanggal kemasan di Makkah.

Untuk mengetes apakah air Zamzam asli atau tidak, tuang cairan antiseptik yang mengandung povidone iodine sebanyak tiga tetes pada air dalam gelas kecil, kemudian aduk rata. Air Zamzam yang asli akan tetap jernih, sementara yang palsu berubah menjadi kuning pekat.

Air Zamzam yang asli terasa lebih anta dan tawar dibanding air mineral biasa. Bagi orang yang sudah pernah atau terbiasa minum air Zamzam, tentu lebih peka dan mengetahui perbedaan tersebut.

Jika disimpan dalam jangka waktu lebih dari setahun, air Zamzam yang asli tidak akan berlumut atau berlendir. Sementara yang palsu, lumut atau lendir akan muncul dalam waktu tiga bulan atau lebih pendek dari itu.



Resource Berita : ihram.co.id
Rajin Shalat Berjamaah akan Dijauhkan dari Kefakiran

Rajin Shalat Berjamaah akan Dijauhkan dari Kefakiran



WartaIslami ~ Datangnya Bulan Ramadhan membuat sejumlah masjid dipenuhi jamaah. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Manan Ghani menilai. kondisi psikolologis umat pada bulan Ramadhan memang untuk melaksanakan ibadah.

Apalagi, menurut dia, orang yang rajin melakukan shalat berjamaah di masjid akan dijauhkan oleh Allah dari kafakiran. Menurut dia, secara ekonomi orang yang berusaha keras dan didukung dengan shalat berjamaah maka akan lebih makmur dibandingkan yang tidak shalat berjamaah.

"Karena hadisnya shalat berjamaah itu, siapa yang berjamaah terus menerus gak bakal ketimpa fakir," ujar Kiai Manan kepada Republika.co.id di Jakarta, Selasa (30/5).

Jika tidak percaya, Kiai Manan pun menganjurkan agar melakukan penelitian terkait hadis tersebut. Hasilnya, kata dia, pasti usahanya yang sering melakukan shalat berjamaah akan lebih baik. "Maka coba diteliti. Orang yang berusaha dengan jamaahnya baik, maka pasti usaha ekonominya akan lebih baik," ucapnya.

Ia menambahkan, pada Bulan Ramadhan kali ini umat Islam memang banyak yang berjamaah di masjid. Menurut dia, hal ini karena kegiatan di Bulan Suci Ramadhan sangat banyak sekali.

"Dzuhur berjamaah karena memang tidak ada jam makan siang sehingga mereka memilih lebih baik ke masjid dan di masjid banyak program-program Ramadhan, takjil, shalat tarawih, kultum, kemudian subuh juga," jelasnya.


Resource Berita : republika.co.id
Hadang Paham Terorisme, Lembaga Dakwah dan HIDMAT Muslimat NU Latih Da'i-Da'iyah

Hadang Paham Terorisme, Lembaga Dakwah dan HIDMAT Muslimat NU Latih Da'i-Da'iyah



WartaIslami ~ Hadang Paham Terorisme, Lembaga Dakwah dan HIDMAT Muslimat NU Latih Da'i-Da'iyah

Jakarta.Santrionline- Dalam rangka menangkal penyebaran paham, ideologi serta gerakan terorisme & lradikalisme, Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) bekerjasama dengan Himpunan Da’iyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat NU menggelar Pelatihan Da’i dan Da’iyah Kader NU 2017.

Pelatihan dipusatkan di gedung PBNU Lantai 8, Jl. Keramat Raya No. 164, Jakarta Pusat, mulai tanggal 29 Mei sampai dengan 01 Juni 2017.

Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH. Maman Imanulhaq, menegaskan pelatihan bertujuan untuk memperluas wawasan dan cakarawala pemikiran para Da’i-Da’iyah NU dalam menyampaikan materi dakwah yang "Rahmatan lil Alamin".

Dakwah dimaksud, kata KH.Maman, adalah dakwah damai dan sejuk yang mengukuhkan komitmen kebangsaan, nasionalisme dan keutuhan NKRI.

Terlebih, saat ini tengah marak dakwah saling menghujat dan menjelekkan yang  berpotensi memecah belah NKRI.
Lebih jauh disebutkan, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka Jawa Barat itu, NU akan tetap komitmen dengan dakwah "Amar Ma'ruf" - "Nahi Munkar" dalam koridor syiar Islam untuk kemaslahatan dan Perdamaian.
"Islam bukan agama perusak, tapi penebar kebaikan yang membawa Rahmah bagi semua, bukan agama teror",  papar KH.Maman.

KH.Maman berharap dari pelatihan ini akan lahir kader-kader Da'i & Da'iyah NU militan yang siap menghadang segala bentuk doktrinisasi paham, ideologis serta gerakan terorisme &  yang tengah mengancam umat dan masyarakat.

Sementara itu, Ketua HIDMAT Muslimah NU, Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubed, menegaskan bahwa tugas utama para Da'i-Da'iyah adalah memberi contoh yang baik bagaimana melaksanakan Islam yang moderat dan ramah.

"Dakwah NU harus dimulai dari diri kita,  keluarga dan masyarkat yang nanti diwujudkan dengan komitment kebangsaan yang kuat", tegas Hj. Machfudhoh

Adapun sebagai Narasumber dalam Pelatihan Da'i Dan Da'iyah tersebut, adalah : Rais Aam PBNU Prof. Dr. (HC) KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sanjojo.

Selanjutnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala BNN Komjen Budi Waseso, Ketua KPK Agus Rahardjo, Menkominfo Rudiantara dan Ketua OJK Muliaman D. Hadad.


Resource Berita : santrionline.net
Menggendong Nabi Khidzir

Menggendong Nabi Khidzir



WartaIslami ~ Hujan turun dengan begitu deras di Kabupaten Bangkalan saat itu, khususnya di Demangan, pondok pesantren asuhan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. Meski hujan mengguyur dengan derasnya, ada saja orang yang bertamu kepada beliau.

Terlihat di antara rerintik hujan yang semakin deras, seorang tua lumpuh dengan susah payah hendak berkunjung menemui Syaikhona Kholil. Syaikhona segera tanggap, beliau lalu memerintahkan santrinya untuk menyusul.

“Adakah di antara kalian yang mau menggendong dan membawa tamuku di luar sana itu?”

“Biar saya saja, Yai,” jawab seorang santri muda mendahului teman-temannya.

Santri muda itu bergegas meloncat menembus rerintik hujan yang semakin deras, menghampiri orang tua itu. Tanpa pikir panjang, ia menggendongnya untuk menemui Syaikhona Kholil.

Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya, dan di antara keduanya terjadi dialog empat mata. Tidak beberapa lama, rupanya percakapan mereka telah usai. Syaikhona Kholil mendatangi santri-santrinya untuk meminta bantuan lagi, “Siapakah di antara kalian yang mau membantu orang tua ini untuk kembali pulang?”
“Biar saya Yai,” sahut santri yang tadi menggendong orang tua tersebut. lalu santri muda itu dengan penuh rasa takzim menggendongnya keluar pondok pesantren dengan hati-hati sesuai perintah Syaikhona Kholil.

Setelah santri dan tamu tua itu keluar dari kawasan pesantren, Syaikhona Kholil berkata kepada santri-santrinya yang lain, “Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu.”

Dan ternyata yang digendong oleh santri tersebut adalah Nabiyullah Khidir ‘alahis salam yang bersilaturahmi kepada Syaikhona Kholil dan santri yang menggendongnya adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari muda (Pediri Nahdlatul Ulama), yang kemudian mewarisi keilmuan Syaikhona Kholil al-Bangkalani.

**Cerita di atas disadur dari buku "Ngopi di Pesantren, Renungan dan Kisah Inspiratif Kiai dan Santri".


Resource Berita : santrionline.net
Mengenang Almarhum KH Mahfudz Ridwan

Mengenang Almarhum KH Mahfudz Ridwan



WartaIslami ~ Sepertinya belum kering betul pusara almarhum KH Mahmad Baidhawi (Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran) yang meninggal 22 Mei 2017 pukul 05.30 WIB itu. Kini, keluarga besar Nahdlatul Ulama kembali berduka. Pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang KH Mahfudz Ridwan meninggal dunia, Ahad 28 Mei 2017 pukul 14.45. Keduanya, selain sangat dihormati masyarakat, juga terpaut ikatan batin yang kuat dengan almarhum Gus Dur.

Almarhum KH Mahmad Baidhawi sama seperti Gus Dur; salah satu cucu KH. Hasyim Asy’ari, sementara almarhum KH Mahfudz Ridwan adalah karib sejak kuliah di Baghadad dan sahabat setia Gus Dur. Keduanya punya cerita yang selalu enak didengar. Ketika saya hendak menulis biografi Gus Dur dan kisah asmaranya dengan Nyai Sinta. Pernah saya bertanya kepada Gus Mus kepada siapa kira-kira saya mendapatkan saksi, kisah-kasih itu, tak ragu, beliau langsung menunjuk pada almarhum KH Mahfudz Ridwan.

Itulah awal mula saya berkenalan dan berjumpa dengan almarhum. Kesan pertama, beliau orang yang sangat teduh dan respek pada anak NU yang bergiat pada literasi. Disela obrolan "memorial" yang segar, tentang kenangan bagaimana Gus Dur dilanda asmara berat pada Nyai Sinta yang jauh disana, dengan surat-menyurat, hingga cerita malam pertama yang saling berjauhan, antara Baghdad-Jombang, beliau masih menyelipkan wejangan kasih yang bisa langsung menembus ruang batin saya. "Hargai manusia sebagai manusia, apapun keyakinanya. Jika, misalnya ada 99 perbedaan dan masih ditemukan 1 kesamaan, maka jadikan 1 kesamaan itu alasan untuk mengasihi."

Lebih dari itu, mengenang almarhum KH Mahfudz Ridwan, itu juga mengenang "Tragedi Kedong Ombo"; seonggok sejarah Indonesia dalam miniatur yang padat, juga berwarna-warni. Saat itu, almarhum bersama Romo Mangun tampil paling depan untuk melawan kekuasaan yang sewenang-wenang atas hak-hak masyarakat korban penggenangan waduk Kedung Ombo yang terabaikan dan tak terpenuhi. Bertahun-tahun almarhum menemani masayarakat yang terintimidasi dan kena "teror" karena tak mau menerima ganti rugi yang tak sepadan, sehingga mereka dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Begitulah almarhum KH Mahfudz Ridwan terlahir, darah almarhum mengalir darah pejuang ala ulama-ulama pesantren masa lalu, yang anti kolonisasi apapun bentuknya! Tetapi "nasibnya," seperti mereka, elemen yang penting itu, sering tak diingat oleh sejarah, padahal selain pelaku, juga saksi penting dari riwayat Indonesia— dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah perjalanan kebangsaan. Selamat jalan kiai, semoga Allah menempatkan engkau yang terbaik disisi-Nya. Amin


Resource Berita : santrionline.net
Ketum MUI: Penetapan Tersangka Habib Rizieq Bukan Kriminalisasi Ulama

Ketum MUI: Penetapan Tersangka Habib Rizieq Bukan Kriminalisasi Ulama



WartaIslami ~ Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kyai Ma'ruf Amin mengatakan, penetapan Habib Rizieq sebagai tersangka dalam kasus obrolan porografi melalui pesan singkat bukan berarti terjadi kriminalisasi ulama. Penetapan tersebut tidak ada hubungannya dengan kriminalisasi dan merupakan persoalan hukum seperti biasa.

"Jadi ikuti saja proses hukum yan berlangsung, yang berjalan. Nanti di pengadilan akan dibuktikan apakah seseorang bersalah atau tidak bersalah," ujar Kyai Ma'ruf Amin di Istana Kepresidenan, Senin (29/5).

Kyai Ma'aruf menuturkan, persoalan kasus H Rizieq yang dianggap menghina ulama seharusnya tidak ditempatkan dalam hal tersebut. Ditakutkannya nantinya jika ditafsirkan seperti itu akan ada saling menekan dan mengintimidasi antar sejumlah pihak. Intimidasi tersebut justru bisa bermasalah dengan hukum karena bisa mengandung unsur SARA.

Masyarakat diharap bisa memahami persoalan ini secara benar. Masyarakat harus paham terkait dengan proses hukum, karena semua persoalan bisa diselesaikan dengan jalur tersebut. Hukumlah yang akan menyelesaikan perselisihan antara manusia. Dan cara menyelesaikan proses hukum ini ada di pengadilan.

"Maka kita tunggu saja bagaimana proses pengadilan itu. Karena bagaimanapun juga kebenaran itu akan muncul di pengadilan. Para hakim itu dengan pengalamannya, dengan kompetensinya, tentu akan memenuhi keadilan masyarakat," ujarnya.



Resource Berita : muslimoderat.net
Jalan Kaki Indonesia-Mekkah, Kisah Pemuda Pekalongan ini Bikin Haru Warga Dunia

Jalan Kaki Indonesia-Mekkah, Kisah Pemuda Pekalongan ini Bikin Haru Warga Dunia



WartaIslami ~ Mochammad Khamim Setiawan (28) bukan siapa-siapa. Bukan orang kaya atau orang penting di negeri ini. Dia hanyalah pemuda biasa asal Pekalongan. Tapi keberanian dan semangatnya, sampai membuat orang luar negeri terbengong-bengong.

Ya, nama Mochammad Khamim Setiawan tiba-tiba nongol di media yang berbasis di Dubai, Khaleejtimes.

Luar biasa dan mengharukan.

Dia bertekad naik haji dengan jalan kaki, dari Pekalongan ke Arab Saudi! Khamim memulai perjalanannya dari Pekalongan pada 28 Agustus 2016 lalu.

Ia melewati berbagai negara dengan berjalan kaki. Jalan Kaki Indonesia-Mekkah, Kisah Pemuda Pekalongan ini Bikin Haru Warga Timur Tengah.

Tentu saja, terkecuali menyeberangi lautan atau selat, yang tak mungkin dilakukannya tanpa naik ferry atau kapal.

Istirahat di masjid, menumpang di rumah orang yang bermurah hati, sampai bermalam di hutan sudah biasa ia lakukan.

Tak disangka, usahanya yang terkesan mustahil itu, tak lama lagi membuahkan hasil. Pada 19 Mei 2017, ia telah tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat arab. Kepada Khaleej Times, Khamim menceritakan perjalanannya. Khamim meyakini bahwa berjalan kaki adalah keutamaan dalam menunaikan ibadah haji.

Ini yang menjadikan alasan baginya untuk melakukan perjalanan dahsyat ini.

Menguji kekuatan fisik dan spiritual merupakan alasan utamanya untuk berjalan kaki.

Yang luar biasa lagi, selama perjalanan, Khamim menjalankan ibadah puasa setiap hari. Kebiasaan berpuasa setiap hari, kecuali di hari besar agama Islam, telah ia lakukan selama lima tahun terakhir.

Kondisinya yang berpuasa, membuatnya hanya berjalan di malam hari. Dalam kondisi fisik yang baik, ia dapat menempuh perjalanan sepanjang 50 kilometer dalam semalam. Bila ia lelah, ia 'hanya' bisa menempuh 15 kilometer. Tuhan seakan melindungi Khamim.

Selama perjalanan ini, ia hanya dua kali mengalami sakit yaitu ketika ia di Malaysia dan India. Khamim tak membawa banyak uang. Tapi nyatanya, ia kerap mendapat bantuan tak terduga di jalanan. Yang mengharukan, ia juga kerap mendapat bantuan dari orang yang berbeda agama.

"Saya tak pernah meminta-minta, namun saya selalu bertemu orang yang memberi makanan dan bekal lain," jelasnya.

"Saya disambut di kuil Budha di Thailand, diberi makanan oleh warga desa di Myanmar, bertemu dan belajar dengan ilmuwan muslim berbagai negara di sebuah masjid di India, dan berteman dengan pasangan Kristen asal Irlandia yang bersepeda di Yangon," kisahnya, sebagaimana dikutip dari Good News From Indonesia.

Khamim meyakini, berhaji bukan melulu beribadah dengan Tuhan. Tapi berinteraksi dengan manusia dari berbagai keyakinan berbeda. Menumbuhkan rasa toleransi, menurutnya juga merupakan bentuk kepatuhan kepada Tuhan.

Doping Khamim sederhana saja, campuran air dan madu untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Dua potong kaos dan celana, dua pasang sepatu, sejumlah kaos kaki, sejumlah pakaian dalam, sebuah kantung tidur dan tenda, sebuah lampu, telepon pintar dan GPS, adalah seluruh barang yang ia bawa. Hanya itu.

Seluruh perlengkapan dimasukkan dalam sebuah tas punggung yang di luarnya terpasang sebuah bendera Indonesia berukuran kecil. Ia pun membuat tulisan : "I'm on my way to Mecca by foot" atau "Aku dalam perjalanan ke Mekkah berjalan kaki".

Bila sesuai rencana, perjalanan panjang Khamim ini akan berakhir di Mekkah pada 30 Agustus 2017, atau sehari sebelum Idul Adha, tepat setahun perjalanannya. Menurut media yang berbasis di Uni Emirat Arab, Khaleej Times, Konjen Indonesia yang berada di Dubai, Murdi Primbani telah menyambut kedatangan Khamim. Murdi mengatakan, Khamim adalah teladan bagi orang muslim Indonesia, yang mengajarkan kesederhanaan, spritualitas, dan bertekad kuat.

Kisah Khamim memang membuat banyak orang tak percaya. Jalan Kaki Indonesia-Mekkah, Kisah Pemuda Pekalongan ini Bikin Haru Warga Timur Tengah.




Resource Berita : muslimoderat.net
Kisah Kewaspadaan Nabi Akan Kematian

Kisah Kewaspadaan Nabi Akan Kematian



WartaIslami ~ Suatu ketika Rasulullah SAW batal dari wudhu, beliau pun langsung bergegas melakukan tayamum. Hal itu dilakukan demi menjaga tradisi daimul wudhu’, melanggengkan wudhu.

Hanya saja, para sahabat merasa heran terhadap apa yang dilakukan sang rasul. Bagaimana tidak, mengapa rasul bertayamum? Sedang tempat wudhu yang penuh akan air, yang seharusnya dituju sangatlah dekat jaraknya. Malah yang beliau lakukan adalah tayamum. Padahal secara ilmu fiqih, tayamum boleh dilakukan ketika memang tidak ada air atau sakit yang membahayakan ketika bersentuhan dengan air.

Karena penasaran yang tak tertahan, salah seorang sahabat lantas memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Rasul, mengapa anda bertayamum? Sedang tempat wudhu yang penuh air berada tak jauh di samping anda?”

Memang, tempat wudhu yang seharusnya dituju kira-kira sejauh 6 meter dari tempat duduk rasul.

Lantas dengan rendah hati rasul menjawab,

“Ya, memang sahabatku. Tempat wudhu, sangatlah dekat.  Namun adakah yang berani menjamin, bahwa umurku sanggup untuk memenuhi langkahku ke tempat wudhu?” tanya nabi seraya tertatih melangkah ke tempat wudhu diikuti decak kagum sekaligus malu oleh sahabat.

Kagum akan kerendahan hati dan kewaspadaan rasul. Malu bahwa seorang rasul saja begitu khawatir akan kehidupan dunia yang lamanya hanya seperti singgah bertamu. Lalu, bagaimana dengan kita? Subhanallah.


Resource Berita : nu.or.id
Ini Tujuh Manfaat Puasa Menurut Hadis Nabi

Ini Tujuh Manfaat Puasa Menurut Hadis Nabi



WartaIslami ~ Setiap perintah dan larangan Tuhan tidak ada yang sia-sia. Seluruhnya memiliki hikmah dan kemaslahatan. Kemaslahatan ini tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga dirasakan kelak di akhirat. Demikian pula ibadah puasa, ada banyak hikmah dan manfaat mengerjakannya. Hikmah puasa itu tidak hanya didapat dari penjelasan Rasulullah SAW, tetapi juga dari pengalaman orang yang mengerjakannya.

Izzuddin bin Abdis Salam dalam kitab Maqashidus Shaum mengumpulkan banyak riwayat terkait manfaat dan hikmah ibadah puasa. Dari sekian banyak riwayat tersebut, ia menyimpulkan ada delapan manfaat puasa yang perlu kita perhatikan. Ia  mengatakan.

للصوم فوائد: رفع الدرجات، وتكفير الخطيئات، وكسر الشهوات، وتكثير الصدقات، وتوفير الطاعات، وشكر عالم الخفيات، والانزجار عن خواطر المعاصي والمخالفات

Artinya, “Puasa memiliki beberapa faidah: meningkatkan kualitas (iman), menghapus kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, menyempurnakan ketaatan, meningkatkan rasa syukur, dan mencegah diri dari perbuatan maksiat.”

Bulan Ramadhan merupakan wadah untuk memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan. Pada bulan ini dibuka pintu ampunan dan kebaikan seluas-luasnya. Dalam hadis, Rasulullah mengatakan, “Bila bulan Ramadhan telah datang, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu,” (HR Bukhari).

Selain ajang peningkatan iman dan takwa, puasa juga dapat menghapus dosa manusia. Rasulullah SAW berkata, “Siapa yang puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosanya diampuni,” (HR Bukhari). Puasa juga dapat difungsikan sebagai latihan mengendalikan syahwat, sebab syahwat sangat mudah dikendalikan dalam kondisi lapar. Pada saat lapar, pikiran manusia hanya tertuju pada makan dan minum. Dalam situasi seperti ini, hasrat untuk melakukan aktivitas lain atau maksiat dapat diminimalisasi.

Dalam kondisi lapar juga, manusia biasanya ingat dan sadar begitu berharganya nikmat Tuhan, walaupun sekilas terlihat sedikit. Melalui ibadah puasa, manusia bisa merasakan kelaparan dan rasa haus yang dirasakan oleh orang-orang miskin. Sehingga dengan perasaan tersebut mereka terdorong untuk memperbanyak sedekah.

Semoga kita dapat merasakan dan mewujudkan beberapa hikmah puasa yang disebutkan di atas, supaya puasa yang kita lakukan tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi juga bisa meraih hikmah dan merasakan tujuan puasa itu sendiri. Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Tafsir Ayat-ayat tentang Puasa Ramadhan

Tafsir Ayat-ayat tentang Puasa Ramadhan



WartaIslami ~ Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan ditemukan dalam surat Al-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw tiba di Madinah, karena ulama Al-Qur’an sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para Sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya'ban tahun kedua Hijrah.

Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Qur’an selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Qur’an yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahnya, maka agaknya kewajiban berpuasa pun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman ma'dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya Al-Baqarah ayat 185:

“Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.”

Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, salah seorang Mufassir Indonesia M. Quraish Shihab (2000) mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Qur’an mewajibkannya tanpa penahapan.

Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Qur’an, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat Islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalan pun.

Perhatikan surat Al-Baqarah: 185. Ia dimulai dengan panggilan mesra, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa." Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, "sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu." Jika  demikian, maka wajar pula jika umat Islam  melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri yakni "agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa)."

Kemudian Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah: 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu  bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya "beberapa hari tertentu," itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga "barang siapa sakit atau dalam  perjalanan," maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain.

"Sedang yang merasa sangat berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa "berpuasa adalah baik."

Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya.

Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan, "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu bukan kesulitan," lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Qur’an tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri.

Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa, "Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa."

Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Banyak informasi dan tuntunan yang dapat ditarik  dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan puasa.



Resource Berita : nu.or.id
Doa Nabi Ibrahim yang Mengubah Kota Mekkah

Doa Nabi Ibrahim yang Mengubah Kota Mekkah



WartaIslami ~ Agak mustahil, bagaimana mungkin di gurun batu, tak ada tumbuh-tumbuhan, bisa ada kehidupan. Itulah Mekkah yang dulu disebut Bakkah.

Di kelilingi banyak bukit, tapi bukit batu. Kering kerontang, panas menyengat. Tekstur tanahnya tak menarik. Tapi, setiap tahun, puluhan juta orang dari negeri-negeri yang jauh bahkan sangat jauh datang menyesaki kota ini, dengan berjalan kaki, berkendara, dan sebagainya.

Itulah Mekkah yang dahulu didoakan Nabi Ibrahim agar menjadi kota yang berkah dan memberkahi; menjadi negeri yang selalu dirindukan banyak orang. Walau kering kerontang, tapi tak kekurangan.

Alkisah, pulang ke Palestina, setelah mengantar anak (Ismail) dan isrtinya (Hajar) ke Mekkah, Nabi Ibrahim menengadahkan tangan ke langit, sambil berdoa:

“Ya Allah sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah tandus, dekat rumah-Mu, agar mereka mendirikan shalat. Jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan limpahkanlah rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Dengan modal doa itu, Nabi Ibrahim berani meninggalkan sang istri dan anaknya yang masih bayi di lembah tandus itu. Dikisahkan, Ibrahim sangat jarang menengok anak dan istrinya ini. Mungkin hanya tiga kali.

Namun, Allah mengabulkan seluruh item doa Nabi Ibrahim. Anak dan istrinya sehat, tak kekurangan suatu apa. Pertama-tama Allah hanya membukakan sumur zamzam buat mereka, lalu berduyun-duyun orang dari daerah lain mendatangi Mekkah, membawa binatang ternak, gandum, dan lain-lain.

Orang luar membawa barang berniagaan, sumur zamzam menyediakan minuman. Ajaib, air yang muncul dari sela-sela bukit batu itu tak pernah letih mengeluarkan air. Sumur zamzam terus membasahi kerongkongan jamaah haji dan umrah yang kehausan, dari masa ke masa, sejak zaman Nabi Ibrahim hingga kita sekarang.

Mekkah pun tak pernah kekurangan pangan. Jamaah haji dan umrah yang datang silih berganti terus berdampak secara ekonomi. Mereka datang bukan hanya untuk beribadah melainkan juga berniaga.

Suka atau tidak, Mekah akhirnya bukan hanya menjadi pusat aktivitas keberagamaan, melainkan menjadi area yang menarik secara bisnis-perniagaan. Itulah sebabnya, Mekah selalu hidup, siang dan malam.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini? Doa adalah senjata kaum beriman. Doa bisa mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin. Nabi Ibrahim sudah meneladankan, kita saja yang perlu istiqomah mengamalkan. Apalagi berdoa di bulan Ramadan; bulan penuh berkah dan ampunan.



Resource Berita : nu.or.id
Peredaran Narkoba Semakin Canggih, BNN: Tugas Dai Semakin Berat

Peredaran Narkoba Semakin Canggih, BNN: Tugas Dai Semakin Berat



WartaIslami ~ Deputi Pencegahan Badan Nasional Narkotika (BNN) Ali Johardi mengungkapkan, saat ini banyak narkotika jenis baru ditemukan. Narkotika jenis baru ini bukan narkotika asli seperti sabu, kokai, putau, dan lainnya, tetapi ia diracik dari berbagai macam bahan termasuk memasukan unsur narkotika asli tersebut. Setidaknya, ada 67 jenis narkotika yang ditemukan oleh BNN hingga saat ini.

“Baru 67 jenis narkotika baru ditemukan di Indonesia. Di dunia, sudah tersebar 800 jenis narkotika baru,” kata Ali saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Selasa (30/5).

Saat ini, lanjut dia, orang lebih suka menggunakan narkotika jenis baru karena narkotika jenis tersebut memiliki efek yang lebih ampuh dari pada yang konvensional. Selain itu, kata Ali, dari 67 yang sudah ditemukan, hanya 43 jenis yang baru ada Undang-undangnya.

“Sisanya 24 belum diundang-undangkan. Berarti masih bebas. Narkotika konvensional itu sudah mulai ditinggalkan,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, pengguna narkotika dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tahun 2010, ada sekitar 1,5  juta, sementara tahun 2015 ada sekitar 6 juta pengguna narkotika.

“Menurut BNN, pengguna mencapai 6 juta,” ucapnya.

Selain itu, ia menambahkan, para pengguna tersebut bukanlah orang yang tidak mengerti akan bahaya narkoba. “Penelitian Bappenas menunjukkan, 90 persen anak-anak kita yang menggunakan narkotika tahu bahaya narkotika,” katanya.

Maka dari itu, tugas bangsa Indonesia, terutama dai, semakin berat karena permasalahan narkotika sudah sampai pada generasi muda.

“Makanya, tugasnya dai semakin berat. Mulai dari mana mencegah penggunaan narkoba, lha anak-anak kita sudah tahu bahanya tapi masih menggunakan,” tuturnya.

Ali menegaskan, ada dua hal yang dilakukan oleh BNN. Pertama, memutus mata rantai peredearan dan penyelundupan narkotika. Kedua, melakukan pencegahan sejak dini dan rehabilitasi bagi yang sudah menggunakan narkotika.


Resource Berita : nu.or.id
Puasa dan Kejujuran

Puasa dan Kejujuran



WartaIslami ~ Salah satu hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah menumbuhkan sikap jujur, rajin menegakkan keadilan dan kebenaran. Ibadah puasa pada dasarnya memerlukan kejujuran dari setiap orang yang melaksanakannya, baik jujur terhadap dirinya atau terhadap orang lain. Tanpa kejujuran tidak mungkin ada ibadah puasa, karena ibadah itu dilakukan dengan keinsyafan dan tidak ada pengawasan dari manusia lain.

Allah SWT memerintahkan kepada kita agar menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Maidah, 5:8).

Ayat tersebut memerintahkan kepada kita agar: (1) Selalu menegakkan kejujuran serta kebenaran karena Allah semata. Maksudnya kita berlaku jujur dan menegakkan kebenaran itu, tidak mengharapkan pamrih materi atau kemewahan dunia lainnya, tetapi hanya mengharap keridhaan Allah SWT (2) Menjadi saksi yang adil, apabila kita diperlukan untuk memberikan kesaksian, dalam rangka mencari kejelasan suatu perkara hendaknya bersedia menjadi saksi yang adil. Kita harus selalu terpanggil untuk ikut andil dalam melahirkan keputusan-keputusan yang benar dan jujur. (3) Jangan¬lah kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kita untuk berbuat tidak adil. Menetapkan suatu hukum harus selalu berdasarkan keadilan, baik terhadap orang yang dicintai ataupun yang dibenci.

Yang dimaksud dengan jujur pada kajian ini adalah sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik berupa harta ataupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanat dijuluki dengan sebutan “al-Amin” artinya orang yang terper¬caya, jujur dan setia. Dinamai demikian karena segala sesua¬tu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan dan rongrongan, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terper¬caya merupakan sesuatu yang sangat dipentingkan dalam segala kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perniagaan, perusahaan, hidup bermasyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam kehidupan rumah tangga, kejujuran harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga itu, demi ketentraman dan kebaha¬giaan yang sama-sama didambakan. Sekiranya tidak ada kejujuran dalam kehidupan suatu keluarga, maka tatanan keluarga itu menjadi porak-poranda. Bayangkan, sekiranya anggota keluarga saling tidak jujur, suami terhadap istri demikian pula sebaliknya, anak terhadap orangtua, demikian juga orang tua terhadap anak, pasti rumah tangga itu akan menjadi berantakan.

Dunia perdagangan dan perniagaan juga memerlukan kejujuran, dengan kejujuran perniagaan itu akan memperoleh kemajuan yang tinggi, karena tidak ada orang yang dirugikan. Penjual ataupun pembeli sama-sama memperoleh keuntungan yang bermanfaat bagi kelompoknya masing-masing. Perdagangan yang tidak disertai dengan kejujuran, pasti akan menimbulkan penipuan-penipuan, dengan jalan memalsu barang, mengurangi takaran, yang kesemuanya itu akan mengakibatkan kerugian dan perdagangannya akan bangkrut.

Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga memerlukan kejujuran semua pihak, jika tidak ada kejujuran nis¬caya akan menimbulkan kegoncangan dan kekacauan di tengah-tengah kehidupan dari masyarakat atau bangsa tersebut. Di antara faktor yang menyebabkan Rasulullah Muhammad SAW berhasil dalam membangun masyarakat Islam adalah karena sifat-sifatnya dan akhlaknya yang terpuji. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayatnya, sehingga beliau mendapat gelar “al-Amin” (orang yang terpercaya atau orang yang jujur).

Dalam mempertahankan dan menegakkan keadilan haruslah dilakukan sejujur mungkin dan seobyektif mungkin, kepada siapa saja dengan tidak memandang bulu. Kita harus bersikap adil meski¬pun terhadap orang-orang yang tidak kita sukai, keadilan harus ditegakkan kepada seluruh lapisan masyarakat, tidak boleh melaku¬kan diskriminasi. Mengenai hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak(mu) dan kaum kerabat(mu). Jika ia (yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan memberi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Nisa, 4:135).

Ibadah puasa yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah akan membentuk para pelakunya menjadi orang-orang yang bersikap adil, menegakkan kebenaran dan berlaku jujur dalam segala aspek kehidupannya.



Resource Berita : nu.or.id
Kaidah Menandai Lailatul Qadar Menurut Al-Ghazali

Kaidah Menandai Lailatul Qadar Menurut Al-Ghazali



WartaIslami ~ Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah teladan kita dalam melaksanakan ibadah. Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhan, antara lain dengan memperbayak sedekah, membaca Al-Quran, dan i’tikaf.

Hal ini karena di antara keutamaan waktu di bulan Ramadhan adalah adanya pelipatgandaan pahala, dan termudahkannya beramal kebaikan. Anjuran banyak melakukan ibadah ini lebih ditekankan lagi ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mengharap dianugerahi Lailatul Qadar pada bulan yang sepuluh pertamanya adalah rahmat, sepuluh keduanya adalah ampunan, dan sepuluh akhirnya adalah bebas dari neraka ini. Walaupun, hakikatnya memang tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar kecuali Allah ‘azza wajalla. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:

تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. ” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha)

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah radliyallahu anha, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ {هذا لفظ البخاري}

“Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Demikian menurut lafadz Al-Bukhari.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu anha:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

Dalam shahihain disebutkan, dari Aisyah radliyallahu 'anha:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله

“Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.”

Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha)

Dan lebih khusus lagi adalah malam-malam ganjil pada rentang tujuh hari terakhir dari bulan tersebut. Beberapa shahabat Nabi pernah bermimpi bahwa Lailatul Qadar tiba di tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah bersabda:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan. ” (HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma)

Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi tentang Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

“(Dia adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma, dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Sahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu menegaskan:

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

Dengan demikian dapat dibuat kesimpulan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, terutama pada malam tanggal ganjil.

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan:

أَنَّهُ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ، وَذَكَرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ خَاصَّةً

“Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak salat keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27).”

Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan Lailatul Qadar. Menurut keterangan Fathul Qarib, Hasyiah Al-Bajury, dan Fathul Muin beserta Ianatut Thalibin, Imam Syafii menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, lebih-lebih pada malam ganjilnya, dan yang paling diharapkan adalah pada malam 21, atau 23 Ramadhan.

Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah atau formula untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuai dengan kaidah ini.

Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر
 فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين
أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين
أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين
أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين
قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

1. Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29

2. Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21

3. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27

4. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25

5. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata:

“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut."

Kaidah ini sesuai dengan keterangan dalam Hasyiah al-Jamal, hal. 480:

كما اختاره الغزالي وغيره وقالوا إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو يوم الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين.

Berbeda, kitab penulis Ianatut Thalibin dalam halaman 258, dan Hasyiah al-Bajury dalam juz pertama halaman 304, mencantumkan kaidah lain:

وإناجميعا إن نصم يوم جمعة # ففى تاسع العشرين خذ ليلة القدر
وإن كان يوم السبت أول صومنا#فحادي وعشرين إعتمده بلاعذر
وإن هلّ يوم الصوم فى أحد # ففى سابع العشرين مارمت فاستقر
وإن هلّ بالإثنين فاعلم بأنّه # يوافيك نيل الوصل فى تاسع العشرى
ويوم الثلاثاإن بدا الشهرفاعتمد # على خامس العشرين تحظ بها القدر
وفى الأربعاء إن هلّ يامن يرومها # فدونك فاطلب وصلها سابع العشي
ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد # توافيك بعد العشر فى ليلة الوتر

(Jika awal puasanya Jumat, maka pada malam 29, jika Sabtu maka pada malam 21, jika Ahad maka pada malam 27, jika pada Senin, maka pada malam 29, jika Selasa maka pada malam 25, jika Rabu maka pada malam 27, jika Kamis maka pada sepuluh akhir malam-malam ganjil).

Menyetujui kaidah ini, berarti menurut formula atau patokan tersebut, malam Lailatul Qadar pada 1438 Hijriah atau 2017 Masehi ini sesuai dengan keterangan dalam kitab Hasyiah al-Bajury halaman 304, jika awal puasa itu hari Sabtu (27 Mei 2017), insyaAllah Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21 (Kamis malam Jumat/15 Juni 2017 malam). Adapun menurut kitab Hasyiah Jamal dan Ianatut Thalibin halaman 257, maka Lailatul Qadar insyaAllah jatuh pada malam ke-23 (malam Ahad/17 Juni 2017 malam).

Kaidah ini tercantum dalam kitab-kitab para ulama termasuk dalam kitab-kitab fiqih bermadzhab Syafi’i (fiqh Syafi’iyyah). Rumus ini teruji dari kebiasaan para ulama’ yang telah menemui Lailatul Qadar. Demikianlah ijtihad Imam Al-Ghazali dan disetujui oleh banyak ulama sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab fiqih. Tentang hakikat kepastian kebenarannya, jawaban terbaiknya adalah wallahu ‘a’lam (hanya Allah yang paling tahu). Karena itu, walaupun titik pusat konsentrasi qiyam ramadhan dan ibadah kita boleh diarahkan sesuai dengan kaidah tersebut, hendaknya kita terus mencari malam yang penuh kemuliaan itu di malam atau tanggal apa dan mana pun, dan terutama pada malam ganjil, dan terutama pada malam-malam sepuluh akhir, dan terutama lagi pada malam ganjil di sepuluh akhir.



Resource Berita : nu.or.id
Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017

Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017



WartaIslami ~ konsisten melayani warganya saat pulang kampung tiba melalui program mudik gratis. Tahun 2017 ini, panitia menyediakan total 2400 kursi atau sekitar 40 bus menuju ke sejumlah kota di Indonesia.

Wakil Ketua LTM PBNU Ali Shobirin menjelaskan, tahun ini pihaknya mengambil tema mudik berkah bareng NU. Menurutnya, konsistensi program ini menunjukkan bahwa NU hadir untuk warganya di tengah biaya mudik yang makin mahal dan kurang terjangkau.

“Kami akan senantiasa hadir mendukung warga NU yang ingin pulang kampung bersilaturrahim dengan keluarga dan saudara,” ujar Ali Shobirin, Selasa (30/5) saat dimintai keterangan di Kantor LTM.

Ia menerangkan, ada tiga tahap terkait mekanisme mudik gratis ini. Pertama, pengambilan formulir pendaftaran dilakukan pada Sabtu, 3 Juni 2017 pukul 09.00 WIB di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Peserta terlebih dahulu mengambil nomor antrian.
2. Menyerahkan fotokopi KTP dan kartu keluarga (KK).
3. Satu formulir berlaku untuk satu kursi/seat.
4. Formulir diisi dengan mencantumkan: nama, nomor kontak, NIK KTP/KK, dan kota tujuan.
5. Calon peserta akan mendapatkan potongan resi formulir kepesrtaan untuk pengambilan tiket asli.

Kedua, penukaran/pengambilan tiket dilakukan pada Sabtu, 10 Juni 2017 mulai pukul 09.00-20.00 WIB bertempat di masjid An-Nahdlah Gedung PBNU Jakarta dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Menyerahkan resi formulir calon peserta+kupon infaq dari LAZISNU sebesar 30.000 per kursi/seat untuk ditukar dengan tiket asli.

2. Dalam tiket tertera nama, nomor kontak, tujuan, dan nomor kursi/seat.

3. Apabila penukran tiket tidak dilakukan sampai pukul 20.00 WIB, maka haknya sebagai peserta mudik gugur, kecuali ada pemberitahuan kepada panitia.

4. Tiket mudik tidak bisa dipindahtangankan. Jika peserta mudik membatalkan keberangkatannya, maka tiket tersebut wajib dikembalikan kepada panitian.

Ketiga, keberangkatkan seluruh pemudik/bus dipusatkan di halaman gedung PBNU Jalan Kramat Raya Nomor 164 Jakarta Pusat dibarengi dengan acara seremonial pelepasan oleh Pengurus PBNU.

Selain ketiga tahapan di atas, Ali Shobirin juga menerangkan tahap cadangan. Dalam tahapan ini, peserta yang tidak mendapat formulir pada Sabtu, 3 Juni 2017, maka boleh mendaftarkan diri sebagai calon Peserta Cadangan.

“Kepastian ketersediaan kursi untuk calon peserta cadangan akan diberitahukan pada Selasa, 13 Juni 2017 melalui WA atau SMS,” tandas Ali Shobirin. (Fathoni)

Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017Pelepasan mudik bareng NU 2016 lalu.
Jakarta, NU Online
Sejak tahun 2010, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Takmir Masjid (LTM) konsisten melayani warganya saat pulang kampung tiba melalui program mudik gratis. Tahun 2017 ini, panitia menyediakan total 2400 kursi atau sekitar 40 bus menuju ke sejumlah kota di Indonesia.

Wakil Ketua LTM PBNU Ali Shobirin menjelaskan, tahun ini pihaknya mengambil tema mudik berkah bareng NU. Menurutnya, konsistensi program ini menunjukkan bahwa NU hadir untuk warganya di tengah biaya mudik yang makin mahal dan kurang terjangkau.

“Kami akan senantiasa hadir mendukung warga NU yang ingin pulang kampung bersilaturrahim dengan keluarga dan saudara,” ujar Ali Shobirin, Selasa (30/5) saat dimintai keterangan di Kantor LTM.

Ia menerangkan, ada tiga tahap terkait mekanisme mudik gratis ini. Pertama, pengambilan formulir pendaftaran dilakukan pada Sabtu, 3 Juni 2017 pukul 09.00 WIB di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Peserta terlebih dahulu mengambil nomor antrian.
2. Menyerahkan fotokopi KTP dan kartu keluarga (KK).
3. Satu formulir berlaku untuk satu kursi/seat.
4. Formulir diisi dengan mencantumkan: nama, nomor kontak, NIK KTP/KK, dan kota tujuan.
5. Calon peserta akan mendapatkan potongan resi formulir kepesrtaan untuk pengambilan tiket asli.

Kedua, penukaran/pengambilan tiket dilakukan pada Sabtu, 10 Juni 2017 mulai pukul 09.00-20.00 WIB bertempat di masjid An-Nahdlah Gedung PBNU Jakarta dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Menyerahkan resi formulir calon peserta+kupon infaq dari LAZISNU sebesar 30.000 per kursi/seat untuk ditukar dengan tiket asli.

2. Dalam tiket tertera nama, nomor kontak, tujuan, dan nomor kursi/seat.

3. Apabila penukran tiket tidak dilakukan sampai pukul 20.00 WIB, maka haknya sebagai peserta mudik gugur, kecuali ada pemberitahuan kepada panitia.

4. Tiket mudik tidak bisa dipindahtangankan. Jika peserta mudik membatalkan keberangkatannya, maka tiket tersebut wajib dikembalikan kepada panitian.

Ketiga, keberangkatkan seluruh pemudik/bus dipusatkan di halaman gedung PBNU Jalan Kramat Raya Nomor 164 Jakarta Pusat dibarengi dengan acara seremonial pelepasan oleh Pengurus PBNU.

Selain ketiga tahapan di atas, Ali Shobirin juga menerangkan tahap cadangan. Dalam tahapan ini, peserta yang tidak mendapat formulir pada Sabtu, 3 Juni 2017, maka boleh mendaftarkan diri sebagai calon Peserta Cadangan.

“Kepastian ketersediaan kursi untuk calon peserta cadangan akan diberitahukan pada Selasa, 13 Juni 2017 melalui WA atau SMS,” tandas Ali Shobirin. (Fathoni)


Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini