Surat Lebaran H. Mahbub Djunaidi dari Penjara

Surat Lebaran H. Mahbub Djunaidi dari Penjara



WartaIslami ~ Pada tahun 1977, tokoh pers nasional dari NU, H. Mahbub Djunaidi, pernah dipenjara rezim Orde Baru tanpa pengadilan. Disinyalir pada tahun itu, selain melalui tulisannya, Mahbub termasuk orang yang menginginkan suksesi pada kepemimpinan nasional. Isu suksesi makin marak memasuki tahun 1978, tahun bersidangnya MPR hasil Pemilu 1977.

Pada tahun-tahun itu, sebagai salah seorang politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia aktif keluar-masuk kampus memenuhi undangan mahasiswa untuk memberikan ceramah dan menyampaikan makalah.

Mungkin akibat kegiatannya itu, Mahbub ditahan yang berwajib selama hampir setahun. Di dalam penjara di Nirbaya, ia menyelesaikan sebuah novel, Angin Musim, yang membidik politik Indonesia dari sudut pandang seekor kucing.

Said Budairy, sejawat Mahbubd Djunaidi di Duta Masyarakat dan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), bersaksi bahwa sejumlah tokoh waktu itu mau menjadi penjamin bagi penahanan Mahbub di luar. Tapi pihak yang berkuasa tidak mau beringsut dari sikapnya sehingga usaha tersebut gagal.

Karena kesehatannya menurun, setelah lama “disimpan” di Rumah Tahanan Nirbaya, penulis novel dari Hari ke Hari, Angin Musim, dan penerjemah beberapa buku tersebut dipindahkan ke Rumah Sakit Gatot Subroto.

Pada lebaran tahun itu, penulis berjuluk yang dijuluki "pendekar pena" tidak bersama keluarganya karena masih dalam penjara. Ia berkirim surat kepada kelaurganya. Surat itu dibacakan salah seorang anaknya, Fairus, ketika Mahbub wafat tahun 1995 di pemakaman Assalam, Bandung.

Berikut petikan surat tersebut:

Alangkah bahagianya papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlapan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun iuga. Papa orang yang sudah banyak makan garam hidup. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bisa memikat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebih-lebihan.

(Abdullah Alawi)



Resource Berita : nu.or.id
Demi Mempertahankan Jilbab, Muslimah ini Rela Mundur sebagai Karyawan Bank dan Bayar Denda 10 Juta

Demi Mempertahankan Jilbab, Muslimah ini Rela Mundur sebagai Karyawan Bank dan Bayar Denda 10 Juta


WartaIslami ~ Hidayah bagi hamba Allah bisa datang kapan saja dan melalui peristiwa yang tidak diduga-duga. Itulah yang terjadi pada diri Suryani Wahyu Lestari, perempuan ini mendadak memutuskan menutup seluruh auratnya (memakai jilbab), setelah dirawat beberapa hari di salah satu rumah sakit swasta di Pekanbaru.

“Saya memutuskan memakai jilbab sekitar dua minggu setelah keluar dari rumah sakit. Sebelumnya saya terus didukung abang kandung saya dan sahabat-sahabat saya menggunakan jilbab, namun jujur saja ketika itu hati saya belum tergerak ke sana (memakai jilbab). Saya waktu itu masih berfikir, kalau ibadahnya belum mantap, jangan dulu pakai jilbab. Anehnya, dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, Bulan Ramadan lalu, saya merasa tidak pantas lagi dan merasa malu memakai rok pendek. Saya berfikir, bagaimana kalau sedetik lagi nyawa saya dicabut malaikat, sementara saya dalam keadaan tidak menutup aurat,” cerita gadis yang akrab dipanggil Ayi tersebut, Minggu (31/8/2014).

“Saya jadi malu, karena ketika memakai rok pendek, kemana pun saya pergi saya merasa laki-laki selalu memperhatikan bagian tubuh saya yang tidak tertutup. Di tempat kerja, karena harus memakai rok agak pendek saya juga merasa tubuh saya selalu jadi sasaran mata laki-laki, sehingga saya merasa malu dan tidak nyaman,” sambungnya.

Setelah memakai jilbab, Suryani mengaku merasa hidupnya lebih nyaman dan lebih terhormat sebagai perempuan. Ibadahnya juga lebih baik dibanding sebelumnya. “Rasanya ibadah saya juga lebih khusyuk. Mungkin jilbab yang saya pakai sekarang belum termasuk kategori jilbab syar’i, tapi saya yakin Allah akan mengarahkan saya ke sana (hijab syar’i),” harapnya.

Ada beberapa konsekuensi yang harus diterima Ayi terkait keputusannya menggunakan jilbab, salah satu di antaranya dia harus mengundurkan diri sebagai karyawati salah satu bank swasta, sebab karyawati bank tersebut tidak dibolehkan menggunakan jilbab. “Banyak orang bilang saya bodoh karena mundur sebagai pegawai bank hanya gara-gara jilbab. Biar saja orang bilang saya bodoh, karena saya sangat yakin, keputusan yang saya ambil adalah yang terbaik bagi saya,” ucapnya dengan mantap.

Suryani tidak hanya harus mundur, namun juga membayar denda Rp10 juta kepada bank bersangkutan, sebab mundur sebelum masa kontrak kerja berakhir. “Meskipun harus mundur dan membayar denda, tapi saya tetap bersyukur pernah bekerja di bank tersebut, karena di sana saya berkesempatan belajar dengan orang-orang hebat,” ungkapnya.

Gadis yang lahir di Kota Pekanbaru tahun 1995 ini mengaku, ibunya termasuk orang yang kaget ketika dia menyatakan ingin memakai jilbab. “Namun setelah saya menjelaskan alasannya, ibu saya akhirnya bisa memahaminya dan mendukung keputusan saya,” jelasnya.

Ayi melanjutkan, masalah lain yang dihadapinya ketika awal memutuskan berjilbab adalah pakaian yang dimilikinya sedikit sekali yang bisa dipadukan dengan jilbab. “Karena dulu saya sering shooting dan ikut modeling, jadi pakaian saya itu umumnya seksi,” ujarnya.

Kini, setelah berjilbab, dia juga harus menolak tawaran pekerjaan dari dunia entertain. “Padahal dulu, shooting itu termasuk hobi terbesar saya, tapi setelah berjilbab saya tak mau lagi menggunakan pakaian pendek. Jadi saya juga harus kehilangan dunia keartisan, padahal dulu cita-cita besar saya tu menjadi artis,” urainya.

“Tapi saya tak menyesal. Selagi saya selalu berusaha berada di jalan Allah, saya yakin Allah selalu bersama saya. Innallaha ma’ashobirin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,” kata Ayi dengan mantap.

Dengan telah memutuskan menggunakan jilbab, gadis manis ini berharap dia bisa terus memperbaiki dirinya sesuai tuntunan Agama Islam, sehingga nantinya benar-benar menjadi wanita shaleha. “Mudah-mudahan jadi bidadari surga. Amin,” ucapnya.

Ayi berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan yang baik, yang tidak menghalanginya mematuhi ajaran agama yang diyakininya. “Mudah-mudahan saya bisa bekerja di bank syariah nantinya,” harap Ayi.

“Dan yang lebih penting, mudah-mudahan dengan berjilbab, Allah akan memilihkan lelaki yang sangat saleh dan bertanggung jawab sebagai jodoh saya. Amin,” harapnya lagi.

Semoga Allah SWT mengijabah doa Suryani Wahyu Lestari. Amin.


Resource Berita : [GR / dc]
Allahu Akbar!!! Bikin Haru! Suami Istri Rupawan dan Anaknya yang Buta Tuli

Allahu Akbar!!! Bikin Haru! Suami Istri Rupawan dan Anaknya yang Buta Tuli


WartaIslami ~ Mata saya mengembun, dan kemudian jadi kabur oleh air mata, berkali-kali, setiap menjelajah isi Instagram ini

Sepasang suami istri yang rupawan, mapan, tinggal di Amerika, dan kemudian dianugerahi si unyu Bella, yang lahir dengan Pfeiffer Syndrom type 2 (low chance to “live” menurut dokter ).

Dilahirkan dalam kondisi BUTA dan TULI, dengan kondisi langit2 mulut yang langka, terbelah berbentuk hati. Dia tak bisa menelan apapun, makan nya hanya bisa susu khusus dan disalurkan melalui selang yang disambungkan ke perutnya. Bella punya daun telinga yg normal, tapi tak memiliki lubang.

Tapi, Bella punya orangtua luarrrr biasa, yang tak kenal lelah berjuang, bedoa dan berikhtiar maksimal.

Sekitar umur 1 tahun, tiba2 ia bisa melihat sekitarnya. Inipun tak bisa dijelaskan oleh tim dokter yang menanganinya. Ini mukjizat, kata bunda Bella

Sekitar umur 2 tahun, Bella dipasang alat khusus yang bisa membuat dia ” berbicara”. Alat yg harusnya tdk bisa ia gunakan, karena secara medis itu tdk mungkin, karena tak ada udara yg bisa keluar masuk dari tenggorokannya

Meski divonis tuli, tapi bella bisa ikut shalawatan mengikuti lagu Maher Zein yang diputar di tape.. How come  ?? Lagi-lagi, jawabannya cuma 1, kebesaran Allah..

Selain terkena Pfeiffer Syindrom, Bella juga didiagnosa Sleep Apnea apaaaa gitu(rumit istilah nya). Jadi saat tidur, otak kecil Bella lupa memerintahkan paru-paru nya untuk bernapas. Bella hanya bernapas 2-3x dalam semenit, bahkan pernah juga selama 70 detik, bella tidak bernapas sama sekali. Karena itulah, saat tidur bella pake ventilator.

Dan masih banyak lagi yang lainnya

Kalau kita sering kesal sama tingkah laku anak kita, ga sabaran, kurang qonaah sama kekurangan anak kita, bisa sesekali berkunjung ke instagram beliau. Seketika kita akan langsung malu sekali

Malu pada rasa syukur dari kedua orangtua Bella atas putri mereka, memaksimalkan ikhtiar pengobatan dan tetap bangga dengan putri cantik mereka..

Seperti yang sering saya katakan

“Setiap Keluarga Punya Air Mata nya sendiri”

Dari: Pondok Al Fatin


Resource Berita :gemarakyat.id
Kisah Gus Kelik Wafat Saat Kewaliannya Diketahui Khalayak

Kisah Gus Kelik Wafat Saat Kewaliannya Diketahui Khalayak


WartaIslami ~ Kabar duka menyebar ke seluruh penjuru negeri ketika KH. Agus Rifqi Ali bin KH. Ali Maksum bin KH. Maksum (Lasem) Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, wafat. Gus Kelik, sapaan akrabnya meninggal dunia pada Selasa (2/8/2016), pukul 22.10. Innalillahi wa inna ilahi rajiun.

Dalam pandangan saya, Gus Kelik adalah termasuk golongan para wali Allah. Hal ini terbukti sejak lahir, ia telah memperlihatkan keanehan yang tidak dilakukan kebanyakan kalangan, bahkan cenderung dianggap sebagai di luar nalar.

Seingat saya, KH. R. Hafidz Abdul Qodir bercerita bahwa Mbah Ali Maksum pernah meminta doa kepada  KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk Gus Kelik agar bisa hidup layaknya orang normal. Ternyata Mbah Hamid justru memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak harus diambil pusing. “Tidak apa-apa, tambah aku yang jaluk (minta) doa neng Gus Rifqi,” kata Mbah hamid kala itu.

Semenjak itulah KH. Ali  Maksum sayang kepada Gus Kelik, bahkan sampai berwasiat kepada keluarga “Jaga Rifqi, insya Allah masuk surga alias dialah yang merawatnya.”

Penulis pernah dipanggil Gus Kelik ketika hendak membeli rokok di Kopontren Al-Munawwir. Dengan mendekat, ia berkata: “Kang, ada uang seribu rupiah?” Saya jawab ada.  Dan hampir setiap santri di Krapyak  pernah dimintai uang yang nominalnya berbeda.

Dalam keseharian, Gus Kelik memiliki kebiasaan mencari kardus di toko sekitar pesantren. Ia juga menyewakan alat katering.  Anehnya, setiap tahun hasil dari usahanya ini digunakan memberangkatkan jamaah ziarah Wali Songo. Santri yang ikut diminta membayar semampunya, bahkan tidak sedikit yang gratis.

Keanehan yang tidak lumrah terhadap Gus Kelik, ketika kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Gur) di Pondok Krapyak. Kala itu Gus Dur tidak mau duduk kecuali berdampingan dengan Gus Kelik. Tidak hanya itu, justru Gus Dur lah yang mencium tangannya.

Gus Kelik dikatakan wali karena setelah menikah, ternyata memiliki pengetahuan dan pemahaman  kitab kuning yang mumpuni. Ia juga bisa mengaji kitab dan memimpin shalawat. Padahal, semenjak kecil sampai dewasa tidak pernah menyentuh kitab apa pun.

“Nasib” para wali Allah apabila telah diketahui keunggulan dan kelebihannya justru berakibat usia yang singkat. Sehingga ketika sebagian kalangan sudah melihat derajat atau maqam kewalian yang dimiliki, ajal akhirnya menjemput yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah sosok Gus Kelik.
Ia wafat di RS Panembahan Senopati Bantul  dalam usia 58 Tahun. Selamat jalan dan menemui Rabb-mu, dan kami mengiringi dengan untaian doa.

Catatan dari Ifdlolul Maghfur, santri Pesantren Madrasah Hufadz Krapyak  (1999-2008) dan Pengurus PW LTN NU Jatim.
(Halaqoh.net/Abdul Wahab)


Resource Berita :santrionline.net
Jarang Ada Yang Faham, Inilah Kyai Penggagas Halal Bi Halal

Jarang Ada Yang Faham, Inilah Kyai Penggagas Halal Bi Halal


WartaIslami ~ Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah *'halal bi halal'"*, jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah *"halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh* KH. Wahab Chasbullah dengan *analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl)* adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan *analisis kedua (halâl "yujza'u" bi halâl)* adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.


Resource Berita : Nuonline
Kiai Chalwani: Pancasila Upaya Laksanakan Syariat Islam di Indonesia

Kiai Chalwani: Pancasila Upaya Laksanakan Syariat Islam di Indonesia


WartaIslami ~ Purworejo, NU Online
Dasar negara Pancasila merupakan upaya final untuk melaksanakan syariat Islam di Indonesia. Dengan demikian, sudah tidak ada lagi pertentangan antara Pancasila dan syariat Islam.

Hal itu ditegaskan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Achmad Chalwani saat ditemui di kediamannya Berjan, Gebang, Purworejo, baru-baru ini. Dikatakannya, perdebatan tentang Pancasila dan syariat Islam telah selesai saat para pendiri negara duduk bersama merumuskan dasar negara.

"Pendiri bangsa ini yang di dalamnya juga ada beberapa tokoh Islam sudah sepakat dan berjanji bersama bikin Pancasila sebagai dasar negara. Untuk itu generasi penerus wajib turut serta mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara," katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi ini menambahkan, sebagai warga NU harus berpegangan pada hasil Musyawarah Nasional (Munas) NU di Situbondo yang sudah memutuskan Pancasila final. Dasarnya adalah ayat Al-Qur’an yang artinya orang Islam itu gerakannya harus sesuai janjinya.

"Tokoh-tokoh kita telah berjanji dan meyepakati bersama dasar negara Pancasila. Salah satu tujuannya adalah untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan antara umat Islam dengan non-Muslim di Indonesia," katanya.

Kiai Chalwani menambahkan agar umat melihat realita kehidupan beragama dan bernegara ketika masa Nabi Muhammad SAW. Saat Nabi Muhammad bikin negara Madinah dasar negara yang digunakan adalah Sulhul Hudaibiyah atau Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian tersebut, Nabi bersama orang-orang kafir membuat klausul-klausul yang kemudian dipedomani bersama oleh seluruh rakyat Madinah.

"Sama dengan Pancasila yang dulu di rumuskan oleh tokoh-tokoh bangsa. Tidak hanya muslim. Akhirnya menyepakati bersama sebuah rumusan Pancasila sebagai dasar negara," tambahnya.

Menyikapi kondisi saat ini, Kiai Chalwani juga meminta agar generasi muda senantiasa tidak melupakan sejarah. Apa yang baik dari sosok Soekarno maupun Soeharto diambil untuk dijadikan sebagai pelajaran. Jangan justru membenturkan antara keduanya.

"Pasca-Reformasi ini umat seringkali dibentur-benturkan untuk kepentingan sesaat. Ini harus dihindari agar cita-cita bangsa dapat segera tercapai," katanya. (Lukman Khakim, Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)


Resource Berita :nu.or.id
Jenderal Moeldoko: Posisi NU Jelas, Kawal NKRI

Jenderal Moeldoko: Posisi NU Jelas, Kawal NKRI


WartaIslami ~ Sidoarjo, NU Online
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko menyatakan bahwa pihaknya akan ada di antara warga NU dalam menjaga NKRI bersama Ansor dan Banser. Pernyataan tersebut ia sampaikan di sela-sela kunjungannya ke rumah dinas Bupati Sidoarjo, H. Saiful Ilah, Rabu (28/6).

Menurut Moeldoko, posisi NU sudah jelas dan tegas dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu ditunjukkan dengan peran NU sebelum Indonesia merdeka sampai saat ini.

"Saya berada di antara NU dalam menjaga NKRI. Jika NU goyah, negara ini bisa saja ikut goyah," katanya.

Ia berharap, NU bisa menjadi penyeimbang yang dinamis. Artinya, mengikuti perkembangan zaman demi menjaga kestabilan negara. "NU harus mengikuti perkembangan waktu demi waktu menjaga kestabilan tanpa memunculkan ketidakstabilan," harapnya di depan para anggota Ansor dan Banser yang hadir.

Ia mengatakan, meski sudah pensiun, tetapi hati dan pikirannya dalam mengawal NKRI tidak akan pernah mati.

Hadir di acara Safari Idul Fitri Pengurus Cabang GP Ansor dan Banser Kabupaten Sidoarjo sekitar 250 orang perwakilan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor dan Banser dari 18 kecamatan yang ada di Sidoarjo. (Moh Kholidun/Alhafiz K)



Resource Berita :nu.or.id
Tuntunan Al-Qur’an Tentang Pernikahan

Tuntunan Al-Qur’an Tentang Pernikahan


WartaIslami ~ Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah menciptakan makhluk berpasang-pasangan, tak terkecuali manusia sebagai makhluk termulia ciptaan Allah. Dengan kata lain, berpasangan merupakan fitrah seluruh makhluk di muka bumi untuk memastikan lestarinya keturunan guna memerankan diri sebagai pengelola bumi (khalifah).

Bahkan dorongan berpasangan sudah lahir sejak kecil. Hal ini karena mendambakan pasangan merupakan fitrah manusia sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Karena itu, agama mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita dalam ikatan suci yang dinamakan pernikahan. Hal ini untuk menghindari dorongan ke arah hubungan terlarang antara pria dan wanita.

Dorongan tersebut diarahkan dalam sebuah pertemuan sehingga terlaksananya "perkawinan". Beralihlah kerisauan pria dan wanita menjadi ketenteraman atau sakinah dalam istilah Al-Qur’an Surat Ar-Rum (30) ayat 21. Sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergejolak.

Itulah sebabnya mengapa pisau dinamai sikkin karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya ia meronta. Sakinah --karena perkawinan-- adalah ketenangan yang dinamis  dan aktif, tidak seperti kematian binatang.

Al-Qur’an antara lain menekankan perlunya kesiapan fisik, mental, dan ekonomi bagi yang ingin menikah. Walaupun para wali diminta untuk tidak menjadikan kelemahan di bidang ekonomi sebagai alasan menolak peminang.

"Kalau mereka (calon-calon menantu) miskin, maka Allah akan menjadikan mereka kaya (berkecukupan) berkat Anugerah-Nya." (QS An-Nur [24]: 31)

Yang tidak memiliki kemampuan ekonomi dianjurkan untuk menahan diri dan memelihara kesuciannya. "Hendaklah mereka yang belum mampu (kawin) menahan diri, hingga Allah menganugerahkan mereka kemampuan." (QS An-Nur [24]: 33)

Di sisi lain perlu juga dicatat, walaupun Al-Qur’an menegaskan bahwa berpasangan atau kawin merupakan ketetapan Ilahi bagi makhluk-Nya, dan walaupun Rasulullah menegaskan bahwa "nikah adalah sunnahnya", tetapi dalam saat yang sama Al-Qur’an dan Sunnah menetapkan ketentuan-ketentuan yang harus diindahkan. Lebih-lebih karena masyarakat yang ditemuinya melakukan praktik-praktik yang amat berbahaya serta melanggar nilai-nilai kemanusiaan, seperti misalnya mewarisi secara paksa istri mendiang ayah (ibu tiri). (QS Al-Nisa' [4]: 19)

Bahkan menurut Al-Qurthubi ketika larangan di atas turun, masih  ada yang mengawini mereka  atas dasar suka sama suka sampai dengan turunnya surat Al-Nisa' [4]: 22 yang secara tegas menyatakan.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu tetapi apa yang telah lalu (dimaafkan oleh Allah).”

Imam Bukhari meriwayatkan melalui istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa pada masa jahiliah, dikenal empat macam pernikahan. Pertama, pernikahan sebagaimana berlaku kini, dimulai dengan pinangan kepada orang tua atau wali, membayar mahar dan menikah.

Kedua, adalah seorang suami yang memerintahkan kepada istrinya apabila telah suci dari haid untuk menikah (berhubungan seks) dengan seseorang, dan bila ia telah hamil, maka ia kembali untuk digauli suaminya; ini dilakukan guna mendapat keturunan yang baik.

Ketiga, sekelompok lelaki kurang dari sepuluh orang, kesemuanya menggauli seorang wanita, dan bila ia hamil kemudian melahirkan, ia memanggil seluruh anggota kelompok tersebut --tidak dapat absen-- kemudian ia menunjuk salah seorang yang dikehendakinya untuk dinisbahkan kepadanya nama anak itu, dan yang bersangkutan tidak boleh mengelak.
 
Keempat, hubungan seks yang dilakukan oleh wanita tunasusila, yang memasang bendera atau tanda di pintu-pintu kediaman mereka dan "bercampur" dengan siapa pun yang suka kepadanya. Kemudian Islam datang melarang cara  perkawinan tersebut kecuali cara yang pertama. (Fathoni)

Disunting dari M. Quraish Shihab dalam buku karyanya “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat” (Mizan, 2000).


Resource Berita :nu.or.id
Kisah Tukang Roti Bakar Jadi Chef KBRI Roma

Kisah Tukang Roti Bakar Jadi Chef KBRI Roma


WartaIslami ~ Roma, NU Online
Satu kali makan sahur di Roma, Italia, saya merasakan masakan sederhana ala Indonesia yang lezat sekali. Akrab di lidah. Saya tak keliru, masakan itu memang oseng-oseng pare dicampur potongan cabai merah, ditambah tiga potong tahu goreng buatan orang Indonesia di Roma. Terobatilah rasa kangen saya akan masakan di rumah.

Saya tidak tahu, apakah selera saya kala itu yang terlalu Indonesia atau memang makanan ala Italia-nya yang terlalu istimewa. Tetapi begitu tahu siapa yang memasaknya, saya jadi paham, memang masakan ala Indonesia-lah yang dinihari itu saya nikmati.

Suliah namanya. Terdengar seperti nama lokal, tetapi nasibnya sudah internasional. Jarang-jarang, bukan orang bisa pergi ke luar negeri, mencari rejeki yang halal, bebas beribadah tanpa tekanan, dan bisa sekalian jalan-jalan menambah pengalaman? Ini merupakan nikmat yang harus disyukuri  Suliah. Dari penjual roti bakar di Indonesia, sekarang ia menjadi chef di KBRI Roma.

Menjadi chef, atau termasuk Lokal Staff di KBRI, bukan kali pertama bagi Suliah. Sebelumnya ia pernah juga menjadi Lokal Staff di Ukraina. Pernah juga di Den Haag, Belanda sebagai asisten rumah tangga. Banyak pengalaman luar negeri Suliah dan dia ceritakan kepada saya.

Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti yang Suliah alami, apalagi luar negerinya adalah Eropa, yang terkenal ketat sekali keimigrasiannya dan mahal biaya hidupnya. Semua itu bagi Suliah tidak ada masalah. Gaji yang didapatkan setiap bulannya bisa dikatakan utuh.

“Alhamdulillah, kalau masalah makan mah di sini melimpah ruah. Kulkas saja penuh terus. Pokoknya tidak akan kelaparan,” ungkap Suliah.

Ia juga menceritakan kedatangannya di Roma termasuk, sekitar satu bulan satengah, tepatnya awal Mei.

“Karena tugas utama saya adalah membantu membuat masakan kesukaan Bu Esti,” katanya lagi.

Bu Esti yang dimaksud adalah Esti Andayani, Dubes RI untuk Italia yang baru dilantik pada pertengahan Maret di Istana Negara, Jakarta.

Sebagai Duta Besar, banyak sekali pekerjaan negara yang diemban Bu Esti, berkaitan dengan diplomatik, politik, hukum, sosial, budaya, pertahanan, keagamaan, dan lain-lain. Tidak kalah pentingnya, urusan pribadi, seperti makanan, pekerjaan rumah tangga, termasuk juga sekretaris.

Selain Suliah yang membantu di bagian konsumsi dengan menjadi chef KBRI Roma, ada juga bagian yang mengurus administrasi wisma. Namanya Rahmadi, bertugas menjadi kepala rumah tangga. Lalu ada Priska, sebagai sekeretaris pribadi yang mengatur jadwal acara. Mereka inilah orang-orang di belakang layar yang membantu kesuksesan Bu Esti sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia.

Saya teringat akan sebuah pepatah yang menyebutkan, di balik orang hebat ada istri yang hebat. Di belakang orang sukses ada orangtua yang ikhlas. Seperti pohon menjulang tinggi ke atas, di bawahnya ada akar yang kuat menopang. Intinya adalah kerjasama dan saling menghargai bahwa di balik kesuksesan seseorang jangan remehkan orang-orang di belakang yang telah membantu meringankan beban pekerjaan.

Kembali soal makanan yang saat sahur itu saya nikmati, Suliah menceritakan sayangnya, tahu dan tempe di sini tidak dijual bebas di pasar. Harus dipesan dulu, baru dibuatkan tempe dan tahu. Mungkin karena belum familiar atau belum berani modal. (H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Italia)


Resource Berita :nu.or.id
Subhannallah! Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

Subhannallah! Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua


WartaIslami ~ Sebagaimana tercatat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah pernah berkisah tentang tiga orang pria pada masa pra-Islam yang terjebak dalam sebuah gua. Cerita dimulai ketika hujan turun dan mereka berteduh dalam gua di suatu gunung.

“Bleg!” Tiba-tiba saja sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung ketiga laki-laki tersebut. Mereka tak cukup tenaga untuk menggeser batu raksasa itu. Yang paling bisa mereka lakukan hanyalah berdoa.

“Coba ingat-ingat amal baik kalian yang betul-betul tulus karena Allah, lalu berdoalah lewat perantara amal tersebut. Semoga Allah memberi jalan keluar,” kata salah seorang dari mereka.

Sesaat kemudian temannya mengadu kepada Allah dan mulai menyebutkan amal perbuatan baiknya.

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia, juga seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Aku menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, aku pun segera memerah susu dan aku dahulukan untuk kedua orang tuaku. Lalu aku berikan air susu tersebut kepada kedua orang tuaku sebelum aku berikan kepada anak-anakku. Pada suatu ketika, tempat penggembalaanku jauh, hingga aku pun baru pulang pada sore hari. Kemudian aku dapati kedua orang tuaku sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, aku segera memerah susu dan setelah itu aku membawanya ke kamar kedua orang tuaku.

Aku berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, aku juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anakku sebelum diminum oleh kedua orang tuaku, meskipun mereka, anak-anakku, telah berkerumun di telapak kakiku untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut aku dan anak-anakku jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya aku melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridla-Mu, maka bukakanlah suatu celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit!”

Doa tersebut terkabulkan. Allah subhanahu wa Ta'ala membuka celah lubang gua tersebut. Namun, satu pun dari mereka bertiga belum ada yang bisa keluar dari celah tersebut.

Salah seorang dari mereka berdiri sambil berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, kepada putri pamanku aku pernah jatuh cinta layaknya seorang pria yang begitu menggebu-gebu menyukai wanita. Suatu ketika aku pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga aku dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya aku pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika aku berada di antara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; 'Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu.'

Lalu aku bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa aku melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!”

Allah pun membukakan sedikit celah lagi untuk mereka bertiga. Tapi lagi-lagi mereka masih belum bisa keluar dari gua. Giliran seorang teman lagi yang berdiri lalu memanjatkan doa:

“Ya Allah ya Tuhanku, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawahku dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata, 'Berikanlah hakku!' Namun aku tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel.

Setelah itu, aku pun menanami sawahku sendiri hingga hasilnya dapat aku kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak aku berikan datang kepadaku dan berkata; 'Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain!' Lalu aku berkata kepada orang tersebut, 'Pergilah ke sapi-sapi dan para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu!' Orang tersebut menjawab, 'Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku!' Kemudian aku katakan lagi kepadanya, 'Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!’ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka!'

Akhirnya Allah pun membukakan sisanya hingga mereka dapat keluar dari dalam gua yang terhalang batu besar tersebut.

Hadits tersebut mengungkap pesan bahwa doa yang disertai tawasul melalui amal saleh memiliki faedah yang nyata. Memprioritaskan berbakti kepada kedua orang tua dibanding yang lain, keberanian untuk keluar dari godaan berat berbuat zina, dan kewajiban memenuhi hak buruh, sebagaimana dipaparkan dalam kisah tersebut adalah contoh dari sekian banyak kebajikan lain yang mampu menjadi “solusi” tatkala kita dalam situasi terdesak. Hanya saja, amal-amal baik apa pun tentu tak berarti apa-apa kecuali tujuan pokoknya hanya untuk mencari ridha Allah. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)


Resource Berita :nu.or.id
Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani


WartaIslami ~ Semua orang memaknai Idul Fitri dengan cara dan daya pikirnya sendiri. Ada yang memaknainya dari segi etimologis, historis, filosofis, dan juga realis. Itu sah-sah saja. Demikian halnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla fil Akhlaq, wat Tashawwuf, wal Adabil Islamiyah, Syekh Abdul Qadir memaknai hari Id sebagai berikut.

ليس العيد بلبس الناعمات وأكل الطيبات ومعانقة المستحسنات والتمتع باللذات والشهوات. ولكن العيد بظهوره علامة القبول للطاعات وتكفير الذنوب والخطيئات وتبديل السيئات بالحسنات والبشارة بارتفاع الدرجات والخلع والطرف والهبات والكرامات وانشراح الصدر بنور الإيمان وسكون القلب بقوة اليقين وما ظهر عليه من العلامات وانفجار بحور العلوم من القلوب على الألسنة وأنواع الحكم والفصاحة والبلاغة

Artinya, “Idul Fitri itu bukan mengenakan pakaian bagus, mengonsumsi makanan enak, memeluk orang-orang tercinta, dan menikmati segala kelezatan duniawi. Idul Fitri adalah kemunculan tanda penerimaan amal ibadah; pengampunan dosa dan kesalahan; penghapusan dosa oleh pahala; kabar baik atas kenaikan derajat di sisi Allah, ‘pakaian’ pemberian, ‘harta benda’ baru, aneka pemberian, dan kemuliaan; kelapangan batin karena cahaya keimanan; ketenteraman hati karena kekuatan keyakinan; tanda-tanda Ilahi lain yang tampak; pancaran lautan ilmu dari dalam sanubari melalui ucapan; pelbagai kebijaksanaan, kafasihan, dan kekuatan retoris,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla, Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1997 M/1417 H, juz II, halaman 34).

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak menolak hal-hal yang bersifat lahiriyah-material. Tetapi ada yang tidak kalah dari unsur material, yaitu aspek non-material. Baginya, ketakwaan dan penerimaan amal-ibadah jauh lebih penting dari semua yang bersifat lahiriyah.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengutip riwayat Sayydidina Ali RA yang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri. Betapa terkejutnya seorang sahabat yang mendapati Sayyidina Ali RA sedang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri.

“Bukankah ini hari raya wahai Amirul Mukminin? Kenapa baginda memakan roti seperti itu?”

“Hari raya Id itu bagi mereka yang puasanya diterima, amal ibadahnya diterima, dan dosanya diampuni. Bagiku, hari ini hari raya Id. Begitu juga esok hari. Setiap hari aku tidak bermaksiat kepada Allah, dan itu artinya setiap hari adalah hari raya Id bagiku,” jawab Sayyidina Ali RA.

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa hari raya Idul Fitri bukan soal mudik atau tidak mudik, bukan masalah pakaian baru-tidak baru, bukan perkara pakai dresscode atau tidak, bukan perihal berbagi uang receh-atau tidak. Hari raya Id adalah ketakwaan, kebijaksanaan, dan perbaikan hidup beragama ke depan di bawah cahaya iman dan kekuatan keyakinan kepada Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita :nu.or.id
Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri


WartaIslami ~ Ramadhan sudah berlalu. Umat Islam merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1438 H. Selama masa hari raya ini ucapan selamat (tahniah) yang paling populer yang sering disampaikan oleh banyak orang adalah minal ‘aaidiin wal faaiziin dan mohon maaf lahir batin. Media massa baik cetak maupun elektronik pun berperan besar mengampanyekan ucapan selamat ini.

Saya penasaran fenomena itu, sehingga tertarik untuk melakukan survey sederhana. Setiap ada murid yang mengucapkan minal ‘aaidiin wal faaiziin kepada saya, saya pun bertanya, “Apa maksudnya?”. Mereka pun menjawab, ”Mohon maaf lahir batin, Pak!”. Saya pun menyimpulkan bahwa selama ini ungkapan minal ‘aaidiin wal faaiziin dikira bermakna mohon maaf lahir batin.

Bagi orang yang mengerti bahasa Arab, walaupun hanya sedikit, pasti akan mengatakan bahwa ini adalah tidak tepat. Dalam hal ini saya menganalogikannya seperti anak-anak SD yang baru saja belajar bahasa Inggris yang tahunya ada tulisan welcome di keset (alas yang difungsikan untuk membersihkan kotoran pada alas kaki), maka hal itu melekat dalam ingatan mereka bahwa bahasa Inggris keset adalah welcome. Karena kesalahan ini dilakukan secara massif, maka inilah yang dinamakan salah kaprah, salah tapi dilakukan banyak orang sehingga dianggap sebagai suatu kebenaran.

Bagaimana seharusnya yang ucapan tahni’ah yang tepat? Jika kita membaca literature, memang kita menemukan tradisi di kalangan para sahabat Nabi, yakni mengucapkan selamat (tahni’ah) kepada sesama umat Islam yang telah berhasil menyelesaikan puasa Ramadlan. Bunyi bacaan selamatnya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, namun ada pula yang menambahnya “taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Ada pula yang masih menambahnya “wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair”.

Jika ucapan selamat itu dirangkai memang menjadi sangat panjang, “taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair” Artinya adalah “semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadlan) kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu senantia dalam kebaikan.”

Dari ucapan selamat yang panjang inilah, kita bisa lacak asal-usul ucapan minal “aaidiin wal faaiziin” yang artinya termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Dari sini pula kita sudah tahu kan bahwa ucapan tahniah ini tidak ada sangkut pautnya dengan mohon maaf lahir batin.

Sayangnya, ucapan tahniah yang panjang itu, yang juga bisa bermakna do’a itu, sampai pada kita mengalami penyusutan atau sengaja diringkas. Lebih parahnya meringkasnya juga kurang pas. Ibaratnya kita menyampaikan informasi tentang kuda, namun yang kita jelaskan adalah ekornya. Kita potong ekor kuda itu, lalu kita bawa potongan ekor itu kemudian kita sampaikan kepada semua orang bahwa ini adalah kuda. Kita merasa bahwa apa yang telah kita sampaikan adalah benar, sedangkan orang telah mengetahui kuda pasti akan tertawa dengan penjelasan kita tentang kuda itu.

Secara sederhana, kita tahu bahwa “aaidiin wal faaiziin” bukanlah kalimat yang sempurna (al-jumlatul mufiidah). Pasti mucul di benak kita lho kok tiba-tiba muncul “termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang (minal ‘aaidin wal faizin). Pasti ia tidak berdiri sendiri. Bacaan ini pasti terikat atau berhubungan dengan bacaan sebelumnya.

Dengan agak sedikit "memaksa" kita sebenarnya bisa berdalih bahwa bacaan itu bermakna do’a, sehingga boleh diucapkan dengan ungkapan singkat atau ada sesuatu yang disembunyikan (mahdzuf), namun untuk menterjemahkannya kita perlu memunculkan makna yang disembunyikan bacaannya itu, agar mudah dipahami. Dengan alasan ini kita bisa menterjemahkan “minal ‘aaidin wal faizin” dengan “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang.

Kalau kita mau meniru apa yang dilakukan sahabat Nabi, sebenarnya yang paling tepat kita ucapkan adalah bacaan selamat panjang itu. Kalaupun itu telalu panjang, kita bisa menyingkatnya dengan bacaan yang paling populer di kalangan mereka, yaitu “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, bukan mengucapkan minal ‘aaidin wal faizin."

Alasannya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum” adalah bacaan yang telah sempurna struktur  kalimatnya. Selain itu, bacaan ini adalah paling populer di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, dibadingkan bacaan “minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Bahkan, saya menduga bacaan “minal ‘aaidiin wal faaiziin” tidak populer, untuk tidak mengatakan tidak pernah ada, di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa kita lacak pada kitab Fathul Bari karya Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau mengatakan dalam kitabnya itu, “Telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika Para sahabat Rasulullah saling bertemu di hari raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minkum.” (Fathul Bari, juz II, halaman 446).

Bagaimana fakta di Indonesia? Ternyata yang populer adalah “minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Inilah uniknya orang Islam di Indonesia. Mereka tidak menerima tradisi pengucapan tahniah ini apa adanya. Mereka malah mengkreasi tradisi baru ala Indonesia, walaupun kemudian menjadi salah kaprah.

Buktinya, “minal ‘aaidiin wal faaiziin” lebih populer dan dikira bermakna mohon maaf lahir batin. Selain itu mereka mengkreasi tradisi Halal Bi Halal yang tidak ada rujukannya secara khusus dari Islam atau dari tradisi Arab.

Inilah masalah budaya. Selama ia mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syari’at, marilah bersikap moderat. Sikap moderat ternyata juga ditampilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah saat ditanya tentang ucapan selamat di hari raya. Beliau menjawab, “Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan, taqabbalallaahu minnaa wa minkum dan a’aadahullaahu ‘alaika serta ucapan sejenisnya, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad, dan lain lain. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmuu’ Fatawa (XXIV/253)

Meskipun saya lebih sependapat ucapan tahni’ah dengan “taqabbalallahu minnaa wa minkum daripada “minal ‘aaidiin wal faaiziin”, namun saya tidak bisa memaksakan kecenderungan saya ini kepada siapa pun, karena memang ini adalah masalah budaya. Dilakukan boleh tidak dilakukan pun juga boleh. Namun, jika anda lebih suka dengan “minal ‘aaidiin wal faaiziin”, kemudian mengartikannya dengan mohon maaf lahir batin, maka jelas saya tidak setuju. Ini jelas salah. Kalau tidak dibetulkan akan menjadi kaprah. Oleh karena itu, saya harus memaksa Anda untuk tidak mengartikan demikian agar tidak salah kaprah.

*) Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk, Megaluh, Kabupaten Jombang.



Oleh Nine Adien Maulana

Resource Berita :nu.or.id
Ini Orang Yang Tangannya Layak Dicium ketika Lebaran

Ini Orang Yang Tangannya Layak Dicium ketika Lebaran


WartaIslami ~ Pada masa lebaran masyarakat biasa mengunjungi sesamanya. Mereka melakukan ramah-tamah satu sama lain. Mereka juga saling berjabat tangan sebagai tanda kelapangan dada mereka untuk menerima kekurangan sesama. Malah sebagian orang mencium bolak-balik tangan kiai.

Islam menganjurkan umatnya untuk mencium tangan orang-orang saleh, orang berilmu, dan tentu saja orang tua. Mereka semua itu adalah orang-orang mulia di hadapan Allah SWT.

ويسن تقبيل يد الحي لصلاح أو نحوه من الامور الدينية، كعلم وزهد، ويكره ذلك لغني أو نحوه من الامور الدنيوية، كشوكة ووجاهة، ويسن القيام لاهل الفضل إكراما، لا رياء وتفخيما.

Artinya, “Dianjurkan mengecup tangan orang lain karena kesalehannya dari aspek keagamaan seperti karena ilmu agamanya, kezuhudannya. Dan makruh mencium tangan orang kaya atau faktor duniawi lainnya seperti kekuasaannya atau jabatannya.

Kita juga dianjurkan berdiri untuk menghormati orang-orang berakhlak mulia atau memiliki keutamaan lainnya secara agama, tanpa niat riya atau niat mengagungkannya,” (Lihat Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, juz 3, halaman 305).

Kalau kepada orang tua yang membesarkan raga kita dianjurkan untuk mencium tangan, apalagi terhadap para kiai, guru agama, dan orang-orang saleh yang mendidik akhlak kita kepada Allah dan makhluk-Nya. Para kiai adalah pembimbing rohani. Hal ini disinggung oleh Syekh Rasyidi dalam Syarah Sittin Masalah-nya Syekh Ramli dalam dua larik berikut ini.

فذاك مربى الروح والروح جوهر
وذاك مربى الجسم والجسم كالصدف

Artinya, “Dialah pembimbing rohani # rohani adalah mutiara
             Dialah pembimbing jasmani # jasmani layaknya cangkang kerang.”

Mencium tangan para kiai dan orang-orang saleh dianjurkan kapan saja, terlebih di masa lebaran seperti ini. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita :wartaislami.com
subhannallah! Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya

subhannallah! Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya


WartaIslami ~ Pekalongan, NU Online
Ribuan umat Islam asal Pekalongan dan sekitarnya sejak pagi memadati Gedung Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan dr Wahidin Pekalongan, Senin (26/6). Mereka menghadiri kegiatan open house Habib Muhammad luthfy bin Yahya yang digelar setiap tanggal 2 Syawwal.

Pada agenda rutin tahunan itu Habib Luthfy memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin bertemu dengan beliau. Pasalnya, di tengah jadwal yang sangat padat, tanggal 2 Syawwal menjadi agenda khusus Habib Luthfy untuk bertemu dengan masyarakat secara luas.

Kesempatan ini tidak disia-siakan ribuan anggota masyarakat. Mereka yang hadir dari berbagai daerah sejak pagi mendengarkan pengajian dan taushiyah Habib Luthfy dan diteruskan bersalaman yang baru berakhir jam 12.30 wib.

Selain masyarakat, tampak hadir di Kanzus Sholawat beberapa kiai NU, Bupati Pekalongan H Asif Qolbihi, Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan, serta jajaran TNI dan Polri. Mereka memanfaatkan open house ini untuk bertemu secara langsung dengan Habib Luthfy bin Yahya, kiai kharismatik yang kini diamanahi sebagai Rais Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Khoiruman asal Kudus menuturkan kepada NU Online bahwa dirinya bersama keluarga hadir secara khusus memanfaatkan lebaran di hari kedua untuk bertemu dengan Habib Luthfy. Ia sudah beberapa kali hadir bersama keluarga dengan menyewa kendaraan roda empat. Bahkan pada tahun sebelumnya ia bersama teman-teman yang lain selalu hadir di acara open house yang digelar Habib Luthfy.

Hal yang sama disampaikan Abdurroman asal Bojong Kabupaten Pekalongan. Ia bersama keluarganya tidak pernah absen pada acara open house Habib Luthfy. Menurutnya, ada perasaan bangga dan gembira serta perasaan nyaman setelah bisa bersalaman dengan Habib Luthfy.

Untuk kali ini ia hadir di samping untuk meminta maaf juga meminta obat dengan membawa sebotol air mineral untuk dimintakan doa kepada Habib Luthfy. Ia meminta doa melalui air ini untuk obat bagi kakaknya yang saat ini sedang sakit. (Iz/Alhafiz K)
Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya
Pekalongan, NU Online
Ribuan umat Islam asal Pekalongan dan sekitarnya sejak pagi memadati Gedung Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan dr Wahidin Pekalongan, Senin (26/6). Mereka menghadiri kegiatan open house Habib Muhammad luthfy bin Yahya yang digelar setiap tanggal 2 Syawwal.

Pada agenda rutin tahunan itu Habib Luthfy memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin bertemu dengan beliau. Pasalnya, di tengah jadwal yang sangat padat, tanggal 2 Syawwal menjadi agenda khusus Habib Luthfy untuk bertemu dengan masyarakat secara luas.

Kesempatan ini tidak disia-siakan ribuan anggota masyarakat. Mereka yang hadir dari berbagai daerah sejak pagi mendengarkan pengajian dan taushiyah Habib Luthfy dan diteruskan bersalaman yang baru berakhir jam 12.30 wib.

Selain masyarakat, tampak hadir di Kanzus Sholawat beberapa kiai NU, Bupati Pekalongan H Asif Qolbihi, Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan, serta jajaran TNI dan Polri. Mereka memanfaatkan open house ini untuk bertemu secara langsung dengan Habib Luthfy bin Yahya, kiai kharismatik yang kini diamanahi sebagai Rais Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Khoiruman asal Kudus menuturkan kepada NU Online bahwa dirinya bersama keluarga hadir secara khusus memanfaatkan lebaran di hari kedua untuk bertemu dengan Habib Luthfy. Ia sudah beberapa kali hadir bersama keluarga dengan menyewa kendaraan roda empat. Bahkan pada tahun sebelumnya ia bersama teman-teman yang lain selalu hadir di acara open house yang digelar Habib Luthfy.

Hal yang sama disampaikan Abdurroman asal Bojong Kabupaten Pekalongan. Ia bersama keluarganya tidak pernah absen pada acara open house Habib Luthfy. Menurutnya, ada perasaan bangga dan gembira serta perasaan nyaman setelah bisa bersalaman dengan Habib Luthfy.

Untuk kali ini ia hadir di samping untuk meminta maaf juga meminta obat dengan membawa sebotol air mineral untuk dimintakan doa kepada Habib Luthfy. Ia meminta doa melalui air ini untuk obat bagi kakaknya yang saat ini sedang sakit. (Iz/Alhafiz K)



Resource Berita :nu.or.id
Kisah Pengemis dan Mimpi Buruk Imam Junaid al-Baghdadi

Kisah Pengemis dan Mimpi Buruk Imam Junaid al-Baghdadi


WartaIslami ~ Suatu hari Imam Junaid al-Baghdadi duduk-duduk di Masjid asy-Syuniziyyah. Bersama penduduk Bagdad lainnya ia menunggu beberapa jenazah yang hendak mereka shalati. Di depan mata Imam Junaid, seseorang yang tampaknya ahli ibadah terlihat sedang meminta-minta.

"Andai saja orang ini mau bekerja hingga terhindar dari perbuatan meminta-minta tentu lebih bagus," kata Imam Junaid dalam hati.

Kondisi aneh terasa ketika Imam Junaid pulang dari masjid itu. Ia punya rutinitas shalat dan munajat sampai menangis tiap malam. Tapi, kali ini ia benar-benar sangat berat melaksanakan semua wiridnya. Ulama yang juga biasa disapa Abul Qasim ini hanya bisa begadang sambil duduk hingga rasa kantuk menaklukannya. Dalam gelisah, Imam Junaid pun terlelap.

Tiba-tiba saja orang fakir yang ia jumpai di Masjid asy-Syuniziyyah itu hadir dalam mimpinya. Anehnya, si pengemis digotong para penduduk Bagdad lalu menaruhnya di atas meja makan yang panjang.

Orang-orang berkata kepada Imam Junaid, "Makanlah daging orang fakir ini. Sungguh kau telah mengumpatnya."

Imam Junaid terperangah. Ia merasa tidak pernah mengumpat pengemis itu. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ia pernah menggunjingnya dalam hati soal etos kerja.

Dalam mimpi itu Imam Junaid didesak untuk meminta maaf atas perbuatannya tersebut.

Sejak saat itu Imam Junaid berusaha keras mencari si fakir semua penjuru. Berulang kali ia gagal menjumpainya, hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang memunguti dedaunan  di atas sungai untuk dimakan. Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.

Segera Imam Junaid menyapanya dan tanpa disangka keluar ungkapan balasan, "Apakah kau akan mengulanginya lagi wahai Abul Qasim?"

"Tidak."

"Semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu."

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Junaid sendiri sebagaimana terekam dalam Raudlatur Rayâhîn karya 'Abdul As'ad al-Yafi'i.

Imam Junaid beruntung, peringatan untuk kesalahan “kecilnya" datang lewat mimpi sehingga bisa berbenah diri. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang gemar mengumpat, mencela orang lain, bukan saja dalam hati, tapi juga terang-terangan lewat lisan atau tulisan?

Wallahu a'lam. (Mahbib)


Resource Berita :nu.or.id
Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Mustasyar PCNU Jepara KH Ali Irfan Mukhtar Tutup Usia

Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Mustasyar PCNU Jepara KH Ali Irfan Mukhtar Tutup Usia


WartaIslami ~ Jepara, NU Online

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi NU/UNISNU Jepara KH Ali Irfan Mukhtar pada Rabu (28/6) pukul 01.30 dinihari.

Almarhum berusia 75 tahun, memiliki empat orang anak.

Kiai Ali Irfan saat ini merupakan Mustasyar PCNU Jepara. Ia juga pernah diamanahi sebagai Sekretaris LP Maarif NU Jepara, Wakil Bupati Jepara, Ketua BAZNAS Kabupaten Jepara, dan salah satu pendiri UNISNU Jepara.

Jenazah dijadwalkan dimakamkan pada pukul 09.00 hari ini. Semoga almarhum khusnul khotimah. Amin ya Mujiibas sailin. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)



Resource Berita :nu.or.id
Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah


WartaIslami ~ Yogyakarta, NU Online
Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Yogyakarta KH R Irfai Nachrawi Naqsyabadandy menyerukan jamaahnya yang tersebar di seluruh Indonesia untuk merayakan Idul Fitri 1438 H atau 2017 M sesuai dengan waktu yang ditetapkan pemerintah.

Demikian disampaikan KHR Irfai Nachrawi ini di hadapan sedikitnya 100 jamaah pada acara syuhbah, shalat malam, dan zikir malam ganjilan di Pondok Pesantren Qoshrul Arifin Plosokuning, Yogyakarta, Jumat (23/6).

Menurutnya, putusan NU dan pemerintah RI merupakan kesepakatan ulama dari berbagai unsur umat Islam dan pemerintah. Tentu semuanya didasari oleh ilmu yang mumpuni dari berbagai ahli ilmu sehingga bisa menentukan waktu tersebut. Selain itu juga meningkatkan pada cinta tanah air dan persatuan.

Menurut Abah (panggilan KH Irfai Nachrowi), kehadiran agama adalah untuk mengatur kehidupan pemeluknya lahir dan batin sehingga tercapai rasa aman dan tenteram dalam hidup ini. Diharapkan dengan itu memperoleh kebahagiaan dunia akhirat untuk mencapai surga dan ridha Allah hingga kehidupan setelah dunia ini. Begitu juga adanya peraturan, aturan, dan hukum adalah untuk mengatur kehidupan manusia baik secara individu maupun bermasyarakat dan bersosial.

Kehadiran negara yang mempunyai berbagai aturan hukum yang berlaku dan harus ditegakkan, tidak lain untuk menjamin rasa aman nyaman dan tentram warga negaranya baik secara pribadi, kelompok, maupun secara lebih luas. Selama itu tidak bertentangan dengan syariat agama ataupun hukum dan aturan yang berlaku, maka harus didukung.

"Apalagi kita tahu sendiri negara Indonesia banyak berbagai suku agama, dan lain lain. Tanpa aturan pasti akan terjadi keributan yang tak kunjung selesai terutama SARA. Apalagi antargolongan, satu suku saja bisa ribut terus kalau tidak adanya aturan," kata Abah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin Kabupaten Ciamis.

Kegiatan syuhbah, shalat malam, dan zikir bersama merupakan kegiatan rutin jamaah Thariqah Naqsyabandiyah ini terutama pada malam malam ganjil setelah tanggal 15 Ramadhan atau pertengahan puasa. Selain di Yogyakarta, kegiatan ini juga dilakukan di berbagai zawiyah ataupun cabang dari perguruan ini yang tersebar di seluruh Indonesia terutama di Jawa, yaitu di Jakarta, Depok, Karawang, Semarang, Cilacap, Temanggung, dan daerah lain. Kegiatan ini dilakukan setelah ada arahan dan intruksi dari abah atau KH R irfai Nachrowi sebagai Mursyid Thariqahnya yang sekarang bermukim di Ciamis. (Red Alhafiz K)


Resource Berita :nu.or.id
Rasulullah Bangunkan Keluarganya untuk Shalat Malam

Rasulullah Bangunkan Keluarganya untuk Shalat Malam


WartaIslami ~ Keutamaan waktu malam sebagai momentum pendekatan diri kepada Sang Kholiq sudah tidak diragukan lagi. Momentum tersebut, bagi hamba Allah diisi dengan qiyamul lail atau shalat malam.

Selain sebagai sarana taqarrub (mendekatkn diri kepada Allah), malam juga menjadi sarana memohon ampunan dan memohon kecukupan kebutuhan hidup dengan limpahan rahmat dari Sang Maha Rohman dan Rahim. Shalat lail telah dianggap memiliki keutamaan di bawah keutamaan shalat fardu.

Sebagaimana penjelasan dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah qiyamul lail (shalat lail)” (HR. Muslim).

Spirit shalat lail menguatkan ketauhidan, hablumminallah dan hablumminannaas. Dengan kata lain, kasalehan kepada Allah selalu sejalan dengan kesalehan kepada makhluk atau manusia. Seruan tersebut jelas tersampaikan dalam firman Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidur dan mereka selalu berdoa kepada Robb mereka dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka.” (QS. AS-Sajadah:16). 

Kerendah-hatian dalam beribadah sebagai perwujudan khouf dan roja’, serta tindakan mengentaskan harta pribadi dari hak orang lain menjadi catatan penting bagi karakter pegiat shalat malam. Sebagaimana ayat lain mengisyaratkan, ”Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampun di waktu sahur (menjelang fajar)” (QS. Adz-Dzriyat: 17-18).

Nabi Muhammad memberikan kesempatan siapa pun memperoleh gelar ni’mar rajul (lelaki terbaik) sebagaimana diterangkan dalam riwayat Khafsah ra,  Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik laki-laki adalah hamba Allah andaikata ia melaksanakan shalat malam.” (HR. Bukhari). 

Asbabul wurud atau konteks hadits di atas, menurut riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata, ”Dahulu pada masa Nabi hidup, apabila seorang bermimpi, ia selalu menceritakannya kepada Rasulullah. Maka aku pun berharap melihat sesuatu di dalam mimpi lalu kuceritakan kepada Rasulullah. Saat itu aku masih remaja belia. Dan pada masa Rasulullah aku suka tidur di masjid. Lalu aku bermimpi seolah–olah aku dibawa oleh dua orang malaikat menuju neraka. Teryata, neraka itu dalam seperti sumur dan memiliki sepasang tanduk. Dan di dalamnya ada orang-orang yang kukenal. Maka akupun berucap: ‘Aku berlindung kepada Allah dari neraka’. Lalu kami bertemu dengan seorang malaikat lain yang kemudian bertanya, mengapa kamu tidak takut?” Kemudian aku menceritakan mimpi itu kepada Hafsah ra, lalu Hafsah ra menceritakan kepada Rasulullah.

Rasulullah pun bersabda; diceritakan bahwa, “Ali bin Abi Thalib ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah membangunkan dirinya dan Fatimah ra, putri Nabi SAW di malam hari.

Lalu beliau bertanya : “Tidakkah kalian shalat?” Lantas aku (Ali) menjawab: Ya Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia berkehendak membangunkan kami, Dia akan membangunkan kami”.

Ali ra berkata, “ketika aku mengatakan hal itu beliau langsung pergi dan tidak mengatakan sesuatu kepadaku. Kemudian aku mendengar beliau berpaling sambil memukul pahanya seraya membaca firman Alla SWT : “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah” (QS. Al-Kahfi: 54) (HR. Bukhari)

Menurut Ibnu Baththol, “hadits ini menerangkan keutamaan shalat malam dan anjuran untuk membangunkan keluarga dan kerabat yang tidur” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008). 

Lebih lanjut Ath-Thobari mengatakan, “Andai Nabi SAW tidak mengetahui betapa besarnya keutamaan shalat malam, niscaya beliau tidak akan mengganggu puterinya dan anak pamannya pada waktu yang dijadikan oleh Allah sebagai saat istirahat. Akan tetapi beliau memilih mereka untuk mendapatkan keutamaan tersebut”.

Dari hal-hal di atas kita dapat mengetahui bahwa kita dianjurkan untuk meningkatkan hubungan kita dengan Allah dan manusia secara seimbang. Salah satu contoh yang diberikan oleh Rasulullah dan keluarganya adalah dengan melaksanakan shalat malam dan membangunkan keluarga yang lain untuk shalat malam pula. Ini dilakukan sebagai cara mengajak keluarga untuk mendekatkan diri kepada Allah secara lebih intens. (Ali Makhrus)


Resource Berita :wartaislami.com
Hukum Kirim Kartu Lebaran dan Ucapkan Selamat Hari Raya Id via Medsos

Hukum Kirim Kartu Lebaran dan Ucapkan Selamat Hari Raya Id via Medsos



WartaIslami ~ Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang saya hormati, sebagian kecil orang masih mempertahankan tradisi pengiriman kartu berisi ucapan selamat hari raya, sementara sebagian besar mereka menggunakan media baru untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri via fesbuk, whatsapp, twitter, dan seterusnya. Pertanyaannya, apa hukum pengucapan selamat hari raya itu sendiri? Karena meskipun sepele, ada sebagian orang yang mempermasalahkan ini dari segi agama. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Fattah/Pangkal Pinang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Hari raya agama merupakan hari istimewa bagi pemeluknya. Hari raya ini dilewati penuh makna dan sarat dengan kebahagiaan. Meskipun tidak memerlukan ucapan selamat itu, mereka tetap saling mengucapkannya saking bahagianya.

Sepengetahuan kami, dalil agama tidak berbicara terlalu jauh soal pengucapan hari raya ini. Islam tidak memerintah dan juga tidak melarang pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”, “Selamat Hari Raya Idul Adha”, “Minal Aidin wal Faizin” atau pengucapan lainnya yang semakna dengan itu.

Masalah pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” dan ucapan selamat lainnya mendorong diskusi di kalangan ulama. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan masalah ini dalam kumpulan fatwanya berikut ini.

قال القمولي في الجواهر : لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين ، والأعوام ، والأشهر كما يفعله الناس ، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى ، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه .

Artinya, “Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan, ‘Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan Al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah.’ Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf Al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 83).

Dari keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa pengucapan “Selamat hari raya Idul Fitri” atau ucapan selamat lainnya sampai kapanpun akan terus menjadi perbedaan pendapat. Tetapi Imam As-Suyuthi mengikuti ulama yang membolehkannya. Menurutnya, pengucapan ini tidak bermasalah secara syar’i karena tidak ada dalil yang melarangnya.

Sementara penggunaan aneka media hanya bersifat sarana penyampaian. Media yang digunakan masyarakat hanya berkaitan dengan tren di zamannya seperti penggunaan kartu lebaran, spanduk, akun media sosial, atau lainnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)


Resource Berita : nu.or.id
Ini Cara Minta Maaf Kepada Orang Yang Dikafirkan dan Dimunafikkan

Ini Cara Minta Maaf Kepada Orang Yang Dikafirkan dan Dimunafikkan



WartaIslami ~ Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kita dilarang oleh Rasulullah SAW mengafirkan dan menuduh orang lain fasik, munafiq, atau sebutan buruk lain di dalam agama. Sementara banyak orang terutama pada pergantian tahun 2016-2017 di sepanjang rangkaian aksi bela Islam dan aksi bela ulama melakukan dengan ringan apa yang dilarang Rasulullah. Pertanyaan saya, bagaimana caranya meminta maaf kepada orang-orang yang dianiaya dengan tuduhan-tuduhan bernuansa agama seperti itu? Mohon dijelaskan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Siti Aminah/Jakarta Utara)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Rasulullah SAW melarang umatnya untuk mengafirkan, menuduh orang lain munafik, fasik, ahli bidah terhadap sesamanya. Larangan ini berlaku di mana saja, kapan saja, dan berlaku untuk siapa saja.

Dengan kata lain, dalam momentum apa saja umat Nabi Muhammad SAW dilarang mengafirkan atau memunafikkan satu sama lain. Larangan ini juga berlaku umum. Siapa saja, baik orang awam, para dai, penceramah, maupun para khatib dilarang oleh agama untuk melakukan dosa besar ini.

Imam Al-Ghazali memberikan tuntunan pertobatan bagi mereka yang terlanjur melemparkan sebutan kafir, munafiq, fasik, zindik, atau sebutan hina lain dalam agama.

وَأَمَّا فِي الدِّينِ فَإِنْ كَفَّرْتَهُ أَوْ بَدَّعْتَهُ أَوْ ضَلَّلْتَهُ فَهُوَ أَصْعَبُ الْأُمُورِ فَتَحْتَاجُ إلَى تَكْذِيبِ نَفْسِكَ عِنْدَ مَنْ قُلْتَ لَهُ ذَلِكَ ، وَأَنْ تَسْتَحِلَّ مِنْ صَاحِبِكَ إنْ أَمْكَنَكَ ، وَإِلَّا فَالِابْتِهَالُ إلَى اللهِ تعالى جِدًّا والتَّنَدُّمُ عَلَى ذَلِكَ لِيُرْضِيَهُ عَنْكَ

Artinya, “Sedangkan dalam hal agama, kau mengafirkan, membid‘ahkan, atau menyesatkan orang lain. Penebusan dosa seperti ini paling sulit dibanding penebusan dosa lainnya. Kau wajib mengakui kesalahanmu di hadapan yang bersangkutan dan kau wajib meminta ia merelakan perbuatanmu jika itu memungkinkan. Tetapi jika hal itu tidak memungkinkan bagimu, maka mintalah dengan segenap daya dan kemampuanmu kepada Allah; dan sesalilah perbuatanmu agar Allah melunakan hatinya untuk merelakan kesalahanmu,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin ila Jannati Rabbil Alamin, Beirut, Mu’assasastur Risalah, cetakan pertama, 1409 H/1989 M, halaman 77).

Permohonan maaf kepada orang yang dianiaya dengan cara seperti ini merupakan bagian dari hak adami (kewajiban yang berkaitan dengan sesama manusia) yang harus diselesaikan sebagai langkah menuju jalan Allah SWT. Permohonan maaf ini merupakan satu tahap pertobatan tempat bergantungnya amal ibadah seseorang. Sejauh pelaku belum menyelesaikan hak adami seperti ini, semua ibadahnya belum diterima Allah SWT.

Tuntunan pertobatan bagi mereka yang menganiaya orang lain tampaknya memang berat. Hal ini sangat wajar mengingat tuduhan kafir, munafik, fasik, zindik, dan tuduhan lainnya adalah tuduhan berat dan dosa besar.

Saran kami, marilah kita menjaga lisan dan tangan kita dari penganiayaan terhadap orang lain dengan menuduhnya sebagai kafir, munafik, fasik, atau zindik, secara lisan dan tulisan, apapun medianya, apapun forum dan mimbarnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)


Resource Berita : nu.or.id
Ini Lafal Niat Puasa Syawwal dan Keutamaannya

Ini Lafal Niat Puasa Syawwal dan Keutamaannya



WartaIslami ~ Puasa Syawwal sebanyak enam hari dianjurkan sekali oleh agama. Siapa saja yang berpuasa sunah Syawwal sebanyak enam hari setelah puasa wajib Ramadhan sebulan penuh, maka ia seakan berpuasa setahun. Hal ini disinggung oleh Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain.

و) الرابع صوم (ستة من شوال) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر  ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها

Artinya, “(Keempat) adalah puasa sunah enam hari di bulan Syawwal sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seakan berpuasa sebulan penuh,’ dan sabdanya, ‘Puasa Ramadhan dinilai sepuluh bulan. Puasa enam hari dinilai puasa dua bulan, maka genaplah puasa setahun,’ maksudnya pahala puasa wajib setahun.

Keutamaan sunah puasa Syawwal dianggap memadai dengan mengerjakannya berurutan maupun tidak berurutan. Tetapi mengerjakannya beriringan dengan hari Id tentu lebih utama. Keutamaan puasa sunah Syawwal dianggap lupt seiring berlalunya bulan Syawwal. Tetapi kita disunahkan mengqadhanya.”

Adapun pelafalan niat puasa sunah Syawwal adalah sebagai berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَةِ سِتَةٍ مِنْ شَوَالٍ للَه تَعَالَي

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati sittatin min syawwâlin lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku niat puasa sunah Syawwal di esok hari karena Allah SWT.” Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Habib Luthfi Keluarkan Zakat 130 Ton Beras

Habib Luthfi Keluarkan Zakat 130 Ton Beras



WartaIslami ~ Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) KH Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengeluarkan zakat sebanyak 130 ton beras pada malam Idul Fitri 1438 H.

Pengeluaran zakat Habib Luthfi tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan, yaitu sebanyak 68 ton beras dari tahun sebelumnya.

Dari zakat yang dikeluarkan, Habib Luthfi menyalurkan kepada panti panti asuhan yatim piatu di wilayah Pekalongan dan sekitarnya dengan dibantu puluhan santri, armada 6 truk dari Brigif 407 dan Brimob Pekalongan sebanyak 2 truk serta puluhan armada kecil.

Penanggung jawab penyaluran zakat, Fatkhurrohman, kepada NU Online mengatakan, untuk tahun ini memang ada peningkatan yang cukup banyak bila dibanding tahun lalu dan semuanya berasal dari pribadi Habib Luthfi bin Yahya.

"Apa yang telah dilakukan Habib Luthfi merupakan kegiatan rutin setiap malam Idul Fitri dan itu dilakukan sudah berjalan cukup lama," ujar Fatkhurrahman.

Dikatakan, disamping didistribusikan kepada panti panti asuhan yatim piatu dan pondok pesantren, Habib Luthfi juga secara rutin mengirimkan zakatnya ke polsek-polsek di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.

Pendistribusian zakat dimulai sejak usai shalat maghrib dan ditargetkan rampung sekitar jam 3 pagi disaksikan langsung oleh Habib Luthfi di kediamannya di Jalan dr Wahidin Gang Noyontaan 7 Pekalongan Jawa Tengah. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)



Resource Berita : nu.or.id
Idul Fitri di Suriname

Idul Fitri di Suriname



WartaIslami ~ Oleh Ismail Hasan
Di Suriname shalat Idul Fitri berlangsung Ahad (25/6) jam delapan pagi atau jam 18 petang Waktu Indonesia Barat. Saya hadir di lokasi shalat, yaitu di aula Kedutaan Besar Indonesia untuk Suriname. Ada sekitar 100 WNI yang mengikuti shalat.

Setelah mengimami shalat, saya  berkesempatan mengisi ceramah Idul Fitri. Saya sampaikan mengenai karakteristik penghuni surga ada lima. Yaitu orang yang mau menafkahkan hartanya baik dalam kondisi lapang ataupun kesusahan; orang yang mampu menahan amarah.

Karakteristik berikutnya adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain; orang yang pernah berbuat zalim kemudian bertobat kepada Allah; dan orang yang menganiaya dirinya kemudian bertobat kepada Allah.

Saya katakan juga bahwa bukanlah hari raya bagi orang yang bajunya baru. Tetapi tapi hari raya adalah orang yang ketaatannya kepada Allah selalu bertambah.

Pada khutbah kedua saya isi dengan doa dalam berbahasa Indonesia. Saya ajak jamaah untuk memohon ampun atas segala dosa-dosa yang kita lakukan dan dosa orangtua kita. Saya mengingatkan bahwa masa lalu kita dipenuhi rasa cinta kedua orangtua. Kita harus ingat jasa-jasa kedua orangtua, kebaikan-kebaikan kedua orangtua yang belum mampu kita balas.

Acara juga diisi sambutan oleh Kedutaan Besar yang diwakili oleh Bibid Kuslandinu. Kemudian bersalaman dengan para jamaah dan berfoto bersama.

Suasana penuh haru terlihat selama berlangsungnya kegiatan. Hal ini wajar karena mereka pasti teringat keluarga yang ada di Indonesia.

Sementara warga setempat setelah shalat Id di lapangan berkumpul di masjid yang biasa mereka gunakan shalat tarawih. Warga mengadakan ramah tamah yang diisi dengan makan bersama dan bersalam-salaman sampai siang hari.

Mereka membawa buah-buahan dari rumah, seperti nanas, kedondong, mangga, rambutan. Beberapa buah disajikan dalam bentuk jus. Selain itu di antara mereka juga ada yang membawa roti dan coklat.

Untuk makanan ada butrowali atau antruwach, nasi gurih, bakmie, macroni, kentang goreng, ayam dibumbui ‘masala’ (penyedap rasa). Ada pula jus sirsak dan es degan.

Mereka lalu bersilaturahmi ke tempat saudara, walau lokasinya berjauhan. Libur Idul Fitri di Suriname selama dua hari, yakni Ahad dan Senin.


*) Ismail Hasan, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 untuk negara Suriname.


Resource Berita : nu.or.id
Ini Langkah Bagi Mereka Yang Telat Zakat Fitrah

Ini Langkah Bagi Mereka Yang Telat Zakat Fitrah



WartaIslami ~ Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kita diwajibkan membayar zakat fitrah untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka yang berhak menerimanya di hari bahagia, hari Id. Lalu bagaimana dengan wajib zakat yang telat membayar zakat? Mohon dijelaskan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Maimunah/Tangerang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Zakat fitrah bagi puasa Ramadhan itu seperti sujud sahwi di dalam shalat orang yang lupa atau salah. Oleh karenanya, puasa Ramadhan tanpa zakat fitrah oleh wajib zakat kurang sempurna.

Kewajiban zakat fitrah berlaku sesaat setelah orang memasuki bulan Syawwal. Tetapi orang boleh membayar zakat fitrah di awal Ramadhan. Sunahnya zakat fitrah diserahkan sebelum hari raya Id. Akhir masa pembayaran zakat fitrah terhitung sejak matahari tenggelam di hari Idul fitri.

Lalu bagaimana dengan wajib zakat yang belum juga membayarkan kewajibannya hingga hari Id berakhir? Pengabaian kewajiban zakat fitrah tanpa uzur jelas diharamkan. Orang yang sengaja mengabaikannya akan menerima catatan dosa.

فَمَنْ أَخَّرَهَا عَنْهُ أَثِمَ وَقَضَى وُجُوبًا فَوْرًا إنْ أَخَّرَهَا بِلَا عُذْرٍ خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ كَالْأَذْرَعِيِّ حَيْثُ اعْتَمَدَا وُجُوبَ الْفَوْرِيَّةِ مُطْلَقًا نَظَرًا إلَى تَعَلُّقِ حَقِّ الْآدَمِيِّ

Artinya, “Siapa saja yang menunda pembayaran zakat fitrah hingga hari Id selesai, maka ia berdosa dan wajib menunaikannya segera bila ia menundanya tanpa uzur. Lain halnya dengan Imam Zarkasyi yang berpandangan serupa Al-Adzrai di mana keduanya mewajibkan qadha zakat fitrah segera secara mutlak (karena uzur atau tanpa uzur) dengan memandang pada kaitan zakat fitrah dan hak adami,” (Lihat Muhammad Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan ketiga, 2003 M/1424 H, juz III, halaman 111-112).

Keterangan ini menunjukkan bahwa orang yang belum menunaikan kewajiban zakat fitrahnya diharapkan segera membayarkannya. Pasalnya, zakat fitrah berkaitan dengan kewajiban wajib zakat terhadap sesama manusia untuk semestinya berbahagia bersama di hari Id.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)


Resource Berita : nu.or.id
Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani



WartaIslami ~ Semua orang memaknai Idul Fitri dengan cara dan daya pikirnya sendiri. Ada yang memaknainya dari segi etimologis, historis, filosofis, dan juga realis. Itu sah-sah saja. Demikian halnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla fil Akhlaq, wat Tashawwuf, wal Adabil Islamiyah, Syekh Abdul Qadir memaknai hari Id sebagai berikut.

ليس العيد بلبس الناعمات وأكل الطيبات ومعانقة المستحسنات والتمتع باللذات والشهوات. ولكن العيد بظهوره علامة القبول للطاعات وتكفير الذنوب والخطيئات وتبديل السيئات بالحسنات والبشارة بارتفاع الدرجات والخلع والطرف والهبات والكرامات وانشراح الصدر بنور الإيمان وسكون القلب بقوة اليقين وما ظهر عليه من العلامات وانفجار بحور العلوم من القلوب على الألسنة وأنواع الحكم والفصاحة والبلاغة

Artinya, “Idul Fitri itu bukan mengenakan pakaian bagus, mengonsumsi makanan enak, memeluk orang-orang tercinta, dan menikmati segala kelezatan duniawi. Idul Fitri adalah kemunculan tanda penerimaan amal ibadah; pengampunan dosa dan kesalahan; penghapusan dosa oleh pahala; kabar baik atas kenaikan derajat di sisi Allah, ‘pakaian’ pemberian, ‘harta benda’ baru, aneka pemberian, dan kemuliaan; kelapangan batin karena cahaya keimanan; ketenteraman hati karena kekuatan keyakinan; tanda-tanda Ilahi lain yang tampak; pancaran lautan ilmu dari dalam sanubari melalui ucapan; pelbagai kebijaksanaan, kafasihan, dan kekuatan retoris,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla, Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1997 M/1417 H, juz II, halaman 34).

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak menolak hal-hal yang bersifat lahiriyah-material. Tetapi ada yang tidak kalah dari unsur material, yaitu aspek non-material. Baginya, ketakwaan dan penerimaan amal-ibadah jauh lebih penting dari semua yang bersifat lahiriyah.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengutip riwayat Sayydidina Ali RA yang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri. Betapa terkejutnya seorang sahabat yang mendapati Sayyidina Ali RA sedang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri.

“Bukankah ini hari raya wahai Amirul Mukminin? Kenapa baginda memakan roti seperti itu?”

“Hari raya Id itu bagi mereka yang puasanya diterima, amal ibadahnya diterima, dan dosanya diampuni. Bagiku, hari ini hari raya Id. Begitu juga esok hari. Setiap hari aku tidak bermaksiat kepada Allah, dan itu artinya setiap hari adalah hari raya Id bagiku,” jawab Sayyidina Ali RA.

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa hari raya Idul Fitri bukan soal mudik atau tidak mudik, bukan masalah pakaian baru-tidak baru, bukan perkara pakai dresscode atau tidak, bukan perihal berbagi uang receh-atau tidak. Hari raya Id adalah ketakwaan, kebijaksanaan, dan perbaikan hidup beragama ke depan di bawah cahaya iman dan kekuatan keyakinan kepada Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Mengapa Menggunakan Istilah Halal bi Halal?

Mengapa Menggunakan Istilah Halal bi Halal?



WartaIslami ~ Salah satu ciri khas Idul Fitri di Indonesia adalah tradisi anjang sana ke sanak saudara atau biasa dijuluki dengan istilah “halal bi halal”. Namun, tahukah anda mengapa masyarakat pada umumnya menggunakan istilah tersebut. Padahal, inti dari tradisi tersebut adalah saling memohon maaf? Mengapa tidak memakai padanan kata maaf berbahasa Arab: Al-'afwu bil afwi atau maghfirotan bi maghfirotin, misalnya?

Terkait hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Kabupaten Gobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan, ulama terdahulu memilih istilah halal bi halal karena kalimat tersebut lebih pas dan fleksibel.

Menurutnya, kalimat halal bi halal tidak hanya terkhusus pada urusan maaf memaafkan. Melainkan juga saling menghalalkan. Artinya, benar-benar memaafkan baik secara lahiriah maupun batiniah.

"Ibarat najis kalau pakai kata al 'afwu bil 'afwi itu masih najis, tapi di-ma'fu (dimaafkan). Tapi kalau pakai istilah halal bi halal itu ibarat najis, sudah benar-benar disucikan. Thahirun muthahhirun," tuturnya, Ahad (25/6).

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berpendapat, penggagas istilah "halal bi halal" adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. Kisahnya dimulai ketika Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara pada pertengahan bulan Ramadhan, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, di antaranya DI/TII, PKI Madiun.

Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturrahim sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri. Namun Bung Karno ingin istilah berbeda dari silaturahim yang menurutnya sudah biasa. Kiai Wahab pun mencetuskan halal bi halal. (Ulin Nuha Karim/Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya

Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya



WartaIslami ~ Ribuan umat Islam asal Pekalongan dan sekitarnya sejak pagi memadati Gedung Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan dr Wahidin Pekalongan, Senin (26/6). Mereka menghadiri kegiatan open house Habib Muhammad luthfy bin Yahya yang digelar setiap tanggal 2 Syawwal.

Pada agenda rutin tahunan itu Habib Luthfy memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin bertemu dengan beliau. Pasalnya, di tengah jadwal yang sangat padat, tanggal 2 Syawwal menjadi agenda khusus Habib Luthfy untuk bertemu dengan masyarakat secara luas.

Kesempatan ini tidak disia-siakan ribuan anggota masyarakat. Mereka yang hadir dari berbagai daerah sejak pagi mendengarkan pengajian dan taushiyah Habib Luthfy dan diteruskan bersalaman yang baru berakhir jam 12.30 wib.

Selain masyarakat, tampak hadir di Kanzus Sholawat beberapa kiai NU, Bupati Pekalongan H Asif Qolbihi, Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan, serta jajaran TNI dan Polri. Mereka memanfaatkan open house ini untuk bertemu secara langsung dengan Habib Luthfy bin Yahya, kiai kharismatik yang kini diamanahi sebagai Rais Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Khoiruman asal Kudus menuturkan kepada NU Online bahwa dirinya bersama keluarga hadir secara khusus memanfaatkan lebaran di hari kedua untuk bertemu dengan Habib Luthfy. Ia sudah beberapa kali hadir bersama keluarga dengan menyewa kendaraan roda empat. Bahkan pada tahun sebelumnya ia bersama teman-teman yang lain selalu hadir di acara open house yang digelar Habib Luthfy.

Hal yang sama disampaikan Abdurroman asal Bojong Kabupaten Pekalongan. Ia bersama keluarganya tidak pernah absen pada acara open house Habib Luthfy. Menurutnya, ada perasaan bangga dan gembira serta perasaan nyaman setelah bisa bersalaman dengan Habib Luthfy.

Untuk kali ini ia hadir di samping untuk meminta maaf juga meminta obat dengan membawa sebotol air mineral untuk dimintakan doa kepada Habib Luthfy. Ia meminta doa melalui air ini untuk obat bagi kakaknya yang saat ini sedang sakit. (Iz/Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini