Ayo Tandatangani petisi Agar Mendikbud Batalkan "Fullday School" berkedok sekolah 5 hari


WartaIslami ~  Rencana pemberlakuan kebijakan baru sekolah 5 hari yang berimplikasi pada kegiatan belajar mengajar akan berlangsung selama 8 jam per hari mulai tahun ajaran baru 2017/2018 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, HARUS DIBATALKAN.

Pada tahun 2016 lalu beberapa waktu setelah dilantik, Menteri Muhajir sudah melontarkan gagasan Full Day School, respons sebagian besar stakeholder pendidikan maupun masyarakat umum sudah sangat jelas bahwa kebijakan tersebut tidak banyak membawa manfaat bahkan bisa menimbulkan banyak resiko. Hampir semua stakeholder menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak memiliki nilai startegis maupun nilai tambah yang signifikan dibandingkan dengan besaarnya resiko bagi sistem pendidikan nasional. Akan tetapi mengapa policy baru, yang akan membawa implikasi serupa, malah digulirkan untuk tahun ajaran baru 2017/2018, TANPA ADA DENGAR PENDAPAT PUBLIK yang memadai.

Alasan yang banyak dikemukakan kementerian adalah agar waktu interaksi dengan keluarga bisa lebih banyak di hari Sabtu dan Minggu serta akan berdampak pada peningkatan kunjungan wisata yang signifikan. Kedua alasan ini sangat tidak mengacu pada kepentingan strategis pendidikan dan terlalu beresiko mengorbankan tujuan pendidikan itu sendiri.

Berikut 9 alasan mengapa kebijakan tersebut WAJIB DIBATALKAN:
(diadopsi dari tribun news Jateng)

Pertama, aspek akademis.
Sejumlah pakar psikologi dari beberapa perguruan tingi menyatakan bahwa "anak usia SD setelah jam 13.00 daya serap belajarnya tidak maksimal, hanya 60 persen. Artinya, kalau kegiatan belajar mengajar sampai jam 16.00 maka keterserapan pelajaran pada anak besar kemungkinan tidak tercapai,".

Kedua, aspek sarana dan parasara (sarpras).
Bahwa harus diakui sarpras berupa musala, masjid maupun kantin di sekolah belum representatif. Bagaimana fasilitas sekolah yang tidak memadai tersebut akan digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah sholat ataupun makan siang siswa-siswanya nanti.

Ketiga, aspek ekonomi,
Jika kebijakan ini diterapkan, jam belajar yang panjang mengakibatkan beban orangtua untuk uang saku akan bertambah, bahkan bisa dua kali lipat dari hari biasanya. Pastinya akan ada kebutuhan untuk menambah uang untuk makan siswa. Jika sebelumnya makan siang bisa dirumah, maka kebijakan baru ini akan memaksa siswa makan disekolah.

Keempat, aspek keamananan,
ketika siswa pulang sore hari tentu akan bertaruh dengan para pekerja di jalan raya, belum lagi sebagian siswa yang rumahnya tergolong jauh dari sekolah. Untuk sekolah di daerah pelosok yang masih sulit terakses angkutan umum, dan infrastruktur jalan seperti PJU yang buruk hal ini banyak yang dikawatirkan masyarakat, terlebih untuk anak perempuan di malam hari.

Kelima, aspek sosial.
Jam sekolah yang panjang akan mengakibatkan semakin sedikitnya waktu untuk berinteraksi sosial dengan anggota keluarga serta tetangga di rumah. Saat pulang, anak didik pasti sudah merasa amat lelah dan ini akan merampas waktu bermain dan mengeksplorasi lingkungannya secara sehat.

Keenam, aspek kompetensi non akademik.
Konsep lima hari sekolah, akan mempersempit peluang anak dalam meraih kecakapan  non akademik. Semisal, anak yang memiliki keunggulan bidang seni, budaya, olahraga, yang biasanya mengembangkan bakatnya dengan les sore hari atau latihan rutin lainnya. dengan perubahan jam sekolah yang sangat panjang tentu tidak mungkin bisa mengikutinya.
Ketujuh aspek mental spiritual. Puluhan ribu madrasah diniyah (madin) dan TPQ, yang 90 persen siswanya adalah anak usia SD dan SMP. yang biasanya diselenggarakan pukul 14.00 atau 15:00 jika sekolah diberlakukan sampai sore maka praktis mereka tak bisa mengikutinya.

Kedelapan, aspek ketahanan ekonomi keluarga.
Siswa yang berasal dari keluarga tak mampu, biasanya usai pulang sekolah selalu membantu orangtua, ada yang menjadi buruh tani, berdagang, nelayan, dan sebagainya.

Kesembilan, aspek sistem pendidikan.
Secara lebih luas telah banyak dibuktikan para pakar pendidikan dunia bahwa jam pelajaran anak-anak Indonesia adalah salah satu yang terpanjang dibandiungkan dengan jam belajar anak sekolah lain di seluruh dunia, dengan hasil kompetensi yang relatif paling minim dibandingkan dengan hasil prestasi belajar di negara lain (cek benchmark PISA atau TIMMS).

Berdasarkan semua argumen di atas, maka kebijakan lima hari sekolah yang tak fundamental dan kurang strategis yang hendak diberlakukan oleh menteri pendidikan tersebut harus dibatalkan.

Petisi ini akan dikirim ke:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Presiden Joko Widodo

Untuk Tanda Tangani Petisi, Silahkan Klik Disini

Resource Berita :muslimoderat.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Ayo Tandatangani petisi Agar Mendikbud Batalkan "Fullday School" berkedok sekolah 5 hari "

Post a Comment

close
Banner iklan disini