Beragam Sikap Menyambut Berakhirnya Ramadhan



WartaIslami ~ Oleh Muhammad Ishom
Beberapa hari lagi insya Allah kita akan sampai pada hari berakhirnya Ramadhan tahun ini. Sikap orang, khususnya kaum Muslimin, berbeda-beda menyambut berakhirnya Ramadhan.

Secara garis besar kaum Muslimin, terbagi dalam dua kelompok menyikapi berakhirnya bulan suci ini, yakni 1) Kelompok orang yang senang atau gembira; dan 2) Kelompok orang yang merasa sedih atau prihatin.

Setiap kelompok itu menunjukkan tingkat kemapanan masing-masing baik secara spiritual maupun material. Pertanyaannya kemudian, siapa sajakah kelompok yang senang menyambut berakhirnya Ramadhan?

Sedikitnya ada tiga kelompok orang yang masuk dalam kategori ini. Pertama, mereka yang tidak suka berpuasa. Adalah wajar apabila anak-anak tidak atau belum suka berpuasa sehingga berakhirnya Ramadhan selalu mereka sambut dengan gembira ria. Tidak saja karena mereka tidak lagi harus berlatih menahan lapar dan dahaga, tetapi berkhirnya Ramadhan berarti datangnya hari bahagia yang selalu mereka tunggu.

Pada hari itu mereka mengenakan pakaian serba baru. Banyak orang memberi mereka sedekah berupa  makanan dan minuman yang enak-enak, dan bahkan berupa uang yang kalau seluruhnya dihitung bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu rupiah. Maka sangat bisa dimengerti apabila anak-anak adalah kelompok orang dari kaum Muslimin yang senang sekali menyambut berakhirnya Ramadhan.

Tetapi apabila ada orang-orang dewasa merasa senang dengan berakhirnya Ramadhan karena merasa tidak suka berpuasa, sejatinya mereka itu kekanak-kanakan.

Kedua, mereka yang telah sukses dalam hidupnya. Orang-orang dewasa dari kaum Muslimin yang telah sukses hidupnya merasa senang dengan berakhirnya Ramadhan karena pada hari Lebaran mereka akan bertemu dengan sanak saudara dan kawan-kawan di mana mereka dapat menunjukkan bahwa mereka telah berhasil dalam hidupnya.

Apalagi mereka yang tinggal di perantauan, mereka selalu menuggu hari-hari di mana mereka dapat mudik. Perjalanan mudik yang banyak risiko dan selalu sulit karena memakan waktu yang jauh lebih lama daripada hari-hari biasa tidak menyurutkan niat mereka untuk mudik. Mudik tidak saja berarti melepas kerinduan pada sanak keluarga dan handai taulan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah menunjukkan cinta dan bakti kepada orang tua dalam rangka birrul walidain.

Kelompok orang yang telah berhasil ini tentu saja harus menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Untuk itu mereka harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya khususnya mengeluarkan zakat. Perintah mengeluarkan zakat terdapat di dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah, ayat 103.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيم

Artinya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ketiga, mereka yang mendapat keuntungan besar dengan datangnya hari Lebaran. Kelompok ini terutama terdiri atas mereka yang memiliki usaha berupa produk atau jasa pakaian di mana permintaan pakaian terkait hari Lebaran mengalami peningkatan tajam. Kelompok ini seharusnya memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya bahwa pada hari Lebaran ada sekelompok orang dari kalangan fakir dan miskin, terutama anak-anak, yang membutuhkan baju baru atau pantas pakai untuk sekadar ikut bergembira menyambut Idul Fitri sebagaimana teman-teman sebaya dari kelompok orang-orang mampu.

Orang-orang dari kelompok ini sebaiknya atau seharusnya memperhatikan anak-anak dari kalangan fakir dan miksin dengan memberinya baju atau keringanan ongkos jahit jika mereka membutuhkan baju khusus sesuai kebutuhannya agar mereka berbesar hati dan ikut bersyukur.  Memang memakai baju baru dalam merayakan Lebaran tidak wajib, tetapi anak-anak dari kalangan fakir miskin perlu dibesarkan hatinya agar kecemburuan sosal tidak menguat. (bersambung…).


*) Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.



Resource Berita : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Beragam Sikap Menyambut Berakhirnya Ramadhan"

Post a Comment

close
Banner iklan disini