Beragam Sikap Menyambut Berakhirnya Ramadhan



WartaIslami ~ Oleh Muhammad Ishom
Lalu siapakah yang  merasa sedih atau prihatin menghadapi berakhirnya Ramadhan? Setidaknya ada empat kelompok yang mungkin masuk dalam kategori ini.

Pertama, mereka orang-orang saleh yang suka berpuasa dan tahu betapa besar sebenarnya keutamaan bulan Ramadhan. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini menangis tersedu-sedu karena menyesali mengapa Ramadhan begitu cepat berlalu. Mereka ingin kalau bisa sepanjang tahun adalah bulan puasa karena dengan begitu mereka bisa mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Memang benar ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan mendapat balasan pahala yang berlipat-lipat. Ibadah puasa itu sendiri akan mendapat pahala yang tak terhingga banyaknya sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Bukhari.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Artinya, “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.”

Mereka orang-orang saleh ini karena menyadari bulan Ramadhan pasti akan berakhir karena sudah merupakan sunnatullah, maka pada akhirnya mereka merelakannya dengan membuat renacana-renacana ibadah di luar Ramadhan seperti puasa Syawwal selama enam hari, puasa Senin dan Kamis setiap pekan, bahkan ada yang berpuasa Dawud di mana setiap dua hari sekali berpuasa. Jika hari ini puasa, besok pagi tidak berpuasa. Jika hari ini tidak berpuasa, besok pagi berpuasa. Demikian seterusnya sepanjang tahun.

Orang-orang seperti ini bisa jadi adalah mereka yang mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar sehingga mereka memiliki semangat yang tinggi untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah bagi mereka tidak lagi dirasakan sebagai beban tetapi merupakan kenikmatan. Mereka telah mampu merasakan nikmatnya dekat dengan Allah SWT. Tentu saja mereka tidak hanya melakukan ibadah-ibadah yang menghasilkan kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial dan bahkan kesalehan ekologis.

Kedua, mereka yang mampu tetapi pelit. Termasuk dalam kategori ini adalah para pengusaha atau majikan yang kurang memikirkan kesejahteraan karyawan atau buruhnya sehingga berat hati  mengeluarkan THR. Juga mereka yang mampu tetapi kurang menyadari kalau zakat itu wajib. Mereka takut diminta zakatnya baik oleh lembaga-lembaga atau perorangan seperti para pengemis dan orang miskin lainnya. Lihatlah betapa banyak pintu-pintu gerbang orang-orang tertentu yang ketika hari-hari biasa terbuka lebar, tetapi menjelang berakhirnya Ramadhan pintu-pintu itu jarang terbuka. Ada yang mereka takutkan.

Ketiga, mereka yang belum berhasil. Masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang belum mendapatkan jodoh padahal usianya sudah lebih dari cukup untuk menikah. Mereka kadang takut atau setidaknya merasa khawatir ditanya saudara-saudaranya ketika bertemu, misalnya “Mana suamimu?” atau “Mana istrimu?” Berikutnya, mereka yang belum dikaruniai anak padahal usia perkawinannya sudah cukup lama. Mereka kadang  khawatir mendapat pertanyaan, “Mana anakmu?” Juga mereka  yang belum selesai kuliahnya padahal teman-temannya sudah pada bekerja. Ada lagi, mereka yang sudah lama menjadi sarjana tetapi masih menganggur. Mereka takut ditanya, “Dah  kerja di mana?” Lalu, mereka yang belum berhasil secara material. Mereka takut atau khawatir ditanya, “Dah punya rumah sendiri belum? Dah punya mobil belum? Jabatanmu di kantor sekarang apa, dah naik pangkat belum?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang-kadang bisa membuat mereka menghindar untuk bertemu dengan saudara atau teman di acara Halal Bihalal, misalnya. Maka doakanlah mereka yang baik-baik. Kalau kita mampu membantu mereka, kenapa kita tidak coba membantunya? Berakhirnya bulan Ramadhan bukanlah akhir untuk berbuat baik. Justru kita perlu meningkatkan amal baik kita setelah Ramadhan karena itu merupakan salah satu indikator bahwa puasa kita diterima Allah SWT.

Keempat, mereka yang termasuk kategori keluarga sangat miskin. Saya pernah mendengar  seorang janda dari keluarga miskin mengeluh dengan mengatakan, “Kalau bisa sepanjang tahun adalah bulan puasa dan lebaran tak pernah ada.”

Bagi janda miskin ini, lebaran akan mengembalikannya pada penderitaan sehari-hari karena ia harus kembali menyediakan makan tiga kali sehari untuk keluarganya. Dan yang paling membuat hatinya sedih adalah ketika anak-anaknya menangis minta dibelikan baju baru sebagaimana teman-teman sebaya, sementara ia tak mampu memenuhinya.

Ibadah puasa yang dilakukan dengan benar, akan menghasilkan kesalehan sosial. Maka orang-orang seperti janda miskin di atas, seharusnya menjadi perhatian orang-orang kaya di sekitarnya dan para pengusaha yang bergerak di bidang produk atau jasa pakaian. Jika di kiri kanan rumah kita ada keluarga yang semiskin itu, maka utamakanlah zakat kita untuk mereka. Tidak saja zakat fitrah tetapi yang tak kalah penting adalah zakat mal. Berikan zakat itu kepada mereka agar mereka bisa terus mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka, serta dapat membiayai sekolahnya.

Dalam kaitan itu, orang-orang kaya pasti di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang bagaimana mereka mengelola harta kekayaannya dalam hubungannya dengan orang-orang miskin di sekitarnya. Di dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin yang harus diberikan baik mereka itu meminta maupun menahan diri untuk tidak meminta sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, surah Adz- Dzdariat ayat 19.

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Artinya, “Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.”

Apa yang saya uraikan diatas semoga dapat kita hayati dan renungkan bersama untuk kemudian kita tindaklanjuti sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semoga Allah SWT selalu memberi kita kemudahan-kemudahan dan kekuatan dalam melaksanakan setiap amal baik yang telah kita rencanakan. Amin ya Rabbal alamin... (habis…).


*) Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Resource Berita : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Beragam Sikap Menyambut Berakhirnya Ramadhan"

Post a Comment

close
Banner iklan disini