Menanti akhir kisah pelarian sang khalifah



WartaIslami ~  Nasib pemimpin kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi kini berada di ujung tanduk. 'Dua ibu kota' ISIS, Raqqa di Suriah dan Mosul di Irak, kini tinggal menunggu kejatuhannya. Meski Baghdadi masih dalam pelarian, sejumlah pengamat dan pejabat militer mengatakan masih butuh bertahun-tahun untuk menangkap atau membunuhnya.

Pasukan ISIS di Mosul dan Raqqa di ambang kekalahan tapi Baghdadi kini masih bersembunyi di hamparan ribuan kilometer persegi gurun di antara Irak dan Suriah.

"Pada akhirnya dia akan tewas dibunuh atau ditangkap, dia tidak bisa selamanya bersembunyi," ujar Lahur Talabny, kepala kontra-terorisme Pemerintahan Regional Kurdi di sebelah utara Irak kepada kantor berita Reuters, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Senin (12/6). "Tapi masih butuh beberapa tahun lagi."

Salah satu hal yang penting bagi Baghdadi, kata Hisham al-Hashimi, penasihat Timur Tengah pemerintah AS, yaitu menjaga orang-orang terdekatnya tidak mengkhianatinya karena tergiur imbalan USD 25 juta yang ditawarkan pemerintah AS untuk menghabisinya.

"Tanpa wilayah yang dikuasai, dia tidak bisa lagi mengklaim sebagai khalifah," kata Hashimi. "Dia kini jadi buron dan jumlah para pendukungnya terus menyusut seiring wilayah kekuasaan mereka berkurang."


                                       Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi ©Al Arabiya

Pasukan Irak sudah merebut kembali sebagian besar Kota Mosul, yang dikuasai ISIS sejak Juni 2014, kota tempat Baghdadi mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah atau pemimpin muslim. Kota Raqqa di Suriah kini dikepung oleh pasukan koalisi Kurdi Suriah dan milisi Arab.

Baghdadi yang terlahir sebagai Ibrahim al-Sammarrai, 46 tahun, keluar dari Al Qaidah pada 2013, dua tahun setelah Usamah Bin Ladin ditangkap dan dibunuh.

Baghdadi tumbuh dewasa di tengah keluargnya yang religius. Dia kemudian berlajar teologi di Baghdad dan bergabung dengan kelompok pemberontak jihadis Salafi pada 2003, ketika AS menginvasi Irak. Dia sempat ditangkap pasukan Amerika tapi kemudian dilepaskan setahun kemudian karena dia dianggap hanya seorang warga sipil, bukan target militer.

"Imbalan AS itu memicu kekhawatiran dan ketegangan serta membuat pergerakannya terbatas dan dia juga membatasi jumlah para pengawalnya," kata Fadhel Abu Ragheef, pengamat ekstremisme asal Baghdad. "Dia tidak bisa beradad di suatu tempat lebih dari 72 jam."

Kata Hashimi, Baghdadi tidak menggunakan telepon apa pun dan punya segelintir utusan untuk berkomunikasi dengan dia lewat dua ajudan utamanya, Iyad al-Obaidi, sang menteri pertahanan, dan Ayad al-Jumaili, penanggung jawab keamanan.

Baghdadi kerap berpindah lokasi memakai mobil biasa, semacam truk pikap yang biasa dipakai petani di sepanjang perbatasan Irak-Suriah hanya ditemani sopir dan dua pengawalnya.

Saat ini diperkirakan hanya tersisa 8.000 pasukan ISIS, 2.000 di antaranya pasukan asing dan dari negara Arab, Eropa, Rusia, Asia Tengah.

"Dia masih dianggap pemimpin ISIS dan anggotanya masih banyak yang mau berjuang buat dia. Warisannya akan terus bertahan kecuali ekstremis radikal ditumpas," kata Ragheef.


Resource Berita : merdeka.com
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Menanti akhir kisah pelarian sang khalifah"

Post a Comment

close
Banner iklan disini