Para Malaikat Kecil di Masjid Al-Haram

Para Malaikat Kecil di Masjid Al-Haram



WartaIslami ~ Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari waktu Saudi. Suhu cuaca cukup hangat pada waktu malam. Teriakan dan canda anak-anak, begitu riang. Terdengar di pelataran Masjid al-Haram, waktu malam jelang pagi. Mereka berlarian. Bercengkerama bersama saudara-saudaranya. Sebagian ada pula yang bermain petak-umpet. Sesekali terdengar tangisan, namun suara gelak tawa riang terindera jelas di telinga, lebih mendominasi.

Suasana malam hari di Masjid al-Haram, memang berbeda dengan masjid-masjid lainnya. Keramaian tidak hanya berpusat di pelataran Ka’bah, bagian dalam Masjid al-Haram, tetapi juga di halaman sekitar masjid. Pemandangan ‘kehidupan malam’ ini memang hal jamak di sebagian besar kawasan Timur Tengah. Tak jarang suasana malam negara-negara di wilayah ini, jauh lebih rame di malam hari, ketimbang siang. Apalagi di Makkah, cuaca siang hari bisa menembus 48 hingga 50 derajat celsius lebih.

Pilihan mengajak anak-anak bermain di Masjid al-Haram, adalah alternatif menggembirakan sekaligus opsi jalan-jalan yang edukatif bagi keluarga Sulaiman. Pria 45 tahun ini datang ke Makkah untuk melaksanakan umrah membawa serta keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Sudah beberapa hari dia berada di Makkah. Meski jarak antara Makkah dan Qasim kurang lebih 580 km, kurang lebih setara dengan jarak Jakarta-Surabaya.

Kepada Republika, Sulaiman mengatakan dia dan keluarganya menyempatkan umrah, di tengah-tengah kesibukannya menjalankan perniagaan. Kesempatan umrah sebelum puncak haji memang masih terbuka, hingga sepekan sebelum puncak ibadah ini dilakukan. Pemerintah akan melarang warga Saudi yang tinggal di luar Makkah, menunaikan umrah atau ibadah haji.

Raut muka ‘malaikat-malaikat’ kecil Sulaiman dan kegemberian terpancar jelas. Tak terlihat kesan kantuk di mata-mata lentik segenap buah hatinya. “Mereka sangat senang berumrah sekaligus berwisata di al-Haram,” kata dia. Bagi Sulaiman, kesempatan ini sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka terhadap Masjid al-Haram, tempat suci, kebanggaan umat Islam dunia. “Saya ingin anak-anak saya dekat dan mencintai masjid ini sejak dini,” tutur dia.

Pemandangan yang tak lazim, bila menengok tradisi yang berlaku di Tanah Air. Sebagian masyarakat, barangkali justru melarang anak-anak bermain di masjid. Beragam alasan mendasari pelarangan itu, tetapi yang paling jamak adalah, kehadiran para ‘malaikat kecil’ itu justru dianggap hanya menimbulkan kegaduhan, meski mereka cuma berkelakar di halaman.

“Saya menyadari memang masjid bukan taman bermain,” kata Muhammad Badar. Tetapi keputusan mengajak lima anaknya berumrah sekaligus mendekatkan mereka dengan suasana masjid juga dianggap sangat tepat oleh pria asal Jeddah ini. “Biarlah mereka bermain riang di pelataran masjid. Saya tetap jaga batasan kepatutannya,” kata dia.

Islam dan masjid tak pernah terpisahkan. Masjid menjadi fondasi utama Islam menorehkan sejarah gemilang. Para ‘malaikat’ kecil itu mengajarkan kepada kita tentang kecintaan kita terhadap masjid dan pentingnya menanamkan kecintaan tersebut kepada anak-anak kita sejak dini. Subtansi yang sama, saat Rasulullah SAW, mengajak kedua cucu tersayangnya turut serta, yaitu Hasan Husain, ke Masjid Nabawi, ketika itu. Terimakasih wahai para ‘malaikat kecil’.


Resource Berita : ihram.co.id
Cikal-bakal Lahirnya NU Berawal dari Langgar Ini

Cikal-bakal Lahirnya NU Berawal dari Langgar Ini



WartaIslami ~ Menurut informasi dari ceramah Kiai As’ad Syamsul Arifin, kira-kira di tahun 1920, terjadi pertemuan ulama dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlahnya 66 ulama. Menakjubkan, karena mereka datang secara bersamaan, mengunjungi Kiai Muntaha, menantu Syaikhana Khalil, di Jangkebuan, Bangkalan.

Adapun tujuan mereka tersampaikan oleh salah seorang ulama yang menyatakan, bahwa mereka ingin meminta bantuan Kiai Muntaha untuk menyampaikan aspirasi mereka sebab mereka tidak berani untuk menyampaikannya secara langsung kepada Kiai Kholil.

“Apa kepentingannya?” kata Kiai Muntaha

“Begini, sekarang sudah ada kelompok-kelompok yang sangat tidak suka terhadap ulama-ulama salaf, tak suka pada karangan kitab-kitab ulama salaf. Yang mau mereka ikuti hanya Al-Qur’an dan Hadits saja. Selain ini sudah tidak perlu diikuti. Lalu, bagaimana peninggalan pelopor-pelopor terutama Wali Songo kalau (pemahaman) seperti ini yang diterapkan di Indonesia? Sebab, rupanya, kelompok ini (melakukan gerakan) melalui (bantuan) kekuasaan pemerintah jajahan, pemerintah Hindia Belanda. Mari dimaturkan kepada Kiai Kholil!”

Sementara ulama-ulama itu bermusyawarah dan Kiai Muntaha belum juga berangkat untuk menjumpai Kiai Kholil demi menyampaikan pemikiran para ulama tersebut, Kiai Kholil justru lebih dulu menugaskan Kiai Nasib untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang belum diajukan tersebut.

Kiai As’ad—yang ketika itu memang sedang 'nyantri' di Bangkalan—menirukan perintah Kiai Kholil kepada Kiai Nasib sebagai berikut:

“Nasib, sini, kemari. Begini, kasih tahu, ya, sama Muntaha. Di dalam Al-Qur’an sudah ada keterangan, sudah cukup.

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ


“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (At-Taubat: 32). Sudah, ini kasih tahu. Cukup sudah. Jadi, kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, pasti terjadi kehendak Allah Ta'ala. Tak akan gagal. Kasih tahu, ya, sama Muntaha!”

* * *

Kira-kira, demikianlah gambaran musyawarah dan instruksi Kiai Kholil bin Abdul Lathif tatkala itu. Dari hasil musyawarah yang dilakukan oleh ulama-ulama di Bangkalan tersebut itulah lantas muncul gagasan didirikannya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) beberapa tahun kemudian.

Nah, langgar dalam foto ini adalah Langgar Kiai Muntaha, terletak di Jangkebuan. Lokasinya ini berada kira-kira 1 kilometer arah timur laut Mertajasa, Maqbarah Syaikhana Kholil bin Abdul Lathif, Bangkalan. Menurut penuturan Kiai Afif, tidak ada yang berubah dari langgar yang saat ini dirawat oleh KH Hamid Kholily tersebut. Secara keseluruhan, bangunan masih utuh. Hanya bagian ubin yang diperbaiki. Dan, di langgar inilah ke-66 ulama itu bertemu sebagaimana disampaikan.


Penulis adalah seniman dari Pesantren Annuqoyah, Guluk-Guluk via NU Online



Resource Berita : muslimoderat.net
Kenapa di Indonesia Banyak Kegiatan Selamatan? Ini Jawaban Agus Sunyoto

Kenapa di Indonesia Banyak Kegiatan Selamatan? Ini Jawaban Agus Sunyoto



WartaIslami ~ Sejarawan Nahdlatul Ulama KH Ng Agus Sunyoto menyatakan bahwa kata miskin dan fakir itu tidak ditemukan pada bahasa-bahasa lokal kuno; baik bahasa Jawa, Sunda, maupun Melayu kuno. Dua kata tersebut berasal dari Bahasa Arab.

“Bahasa sini tidak dikenal istilah miskin,” kata Kiai Agus saat pada acara silaturahmi kebudayaan di Lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (28/7).

Menurutnya, ketiadaan kosa kata atau yang maknanya serupa dengan miskin karena berkaitan dengan kepemilikan makanan. Sejak kuno, baik desa, dukuh, maupun setiap rumah mempunyai lumbung makanan. Indonesia oleh karenanya berlimpah makanan sehingga mudah berbagi makanan.

“Jadi tradisi tidak bisa dipahami orang Arab yang tidak ada makanan di sana,” katanya.

Ia menjelaskan, sejak lahir, orang Jawa itu sudah mengucapkan syukur kepada Allah, tuhan, ataupun dewa-dewa. Bentuk syukur dengan membagi makanan itu dinamakan brokohan. “Itu langsung, tetangga diundang. Ayo berdoa, makan-makan. Pulang bawa berkat,”katanya.

Selamatan itu, menurutnya, berlanjut sampai 7 hari setelah kelahiran dengan upacara lepas tali puser. Acara kenduri untuk khitan, nikah bahkan sampai meninggal, itu ada makanan.

“Kenapa? Karena kita itu lumbung makanan,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia sangat menyayangkan dengan cara pandang orang-orang yang tidak mengetahui sejarah Indonesia. Orang-orang yang yang menggunakan cara pandang Timur Tengah akan menganggap bahwa kegiatan berbagi makanan, atau selamatan itu dianggap bid‘ah dan mubadzir.

“Kalau kita tidak membagi makanan, salah. Wong kita lumbung makanan. Kenapa Indonesia ini beda Islamnya? Karena satu-satunya wilayah yang berlimpah makanan. Apa saja sampai kegiatan seperti ini, pengajian-pengajian. Tidak ada kegiatan yang tidak ada makanan,” terangnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Perintahkan Sholat, Guru Agama Dipidana!!

Perintahkan Sholat, Guru Agama Dipidana!!



WartaIslami ~ Kasus dipidananya seorang guru di Parepare, tetiba menjadi viral. Guru mata pelajaran agama itu divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Parepare, karena dituding memukul siswa yang engggan salat duhur.

Protes meluas. Solidaritas para pendidik diuji. Organisasi keguruan ditagih perannya. Namun yang pertama mengambil inisiatif adalah Gerakan Save bu Darma. Kemarin, telah duduk bersama para aktivis dari Pemuda Muhammadiyah, Kopera, IGI dan PGHI, serta Komunitas Parependen. Mereka menginisasi gerakan ini.

“Pemuda Muhammadiyah dan seluruh elemen yang ada disini, menegaskan diri mengawal kasus ini. Bu Darma tidak sendiri,” tegas Ketua Pemuda Muhammadiyah Parepare, Yadi Arodhiskara.

Senada, Ketua Kospera Muh Nasir Dollo yang sedari awal mengawal kasus ini, menyebut sejumlah kejanggalan dalam vonis guru bersahaja tersebut. Dosen FH Umpar itu akan menempuh seluruh jalan untuk mementahkan vonis bu Darma. “Citra Parepare sebagai kota peduli pendidikan makin tercoreng,” kritiknya.

Pegiat Parependen yang juga aktivis PM, Ahmad Kohawan menyebut, solidaritas para guru tengah diuji dengan adanya kasus ini. Dia mengajak para guru dan aktivis sosial mengawal bu Darma Jumat siang, saat akan mengambil salinan putusan di PN Parepare.

“Apalagi yurisprudensi MA jelas menyebutkan guru tidak bisa dipidana karena mendisiplinkan siswa. Disini, peran PGRI dan organisasi guru lainnya ditagih,” tegas kandidat doktor Universitas Hasanuddin itu.

* Disiplin

Bu Darma sendiri terharu dengan gerakan dukungan atas kasus yang menimpa dirinya. Dia tidak membantah telah memukul siswa. Namun itu bukan tanpa alasan. Darma juga bukan tipe guru ‘killer’. SMA ini memang mewajibkan salat duhur berjamaah.

“Nah siswa ini paling bandel dan banyak celoteh saat diingatkan salat. Namanya kita ingin agar siswa kita disiplin, jadi lengannya saya pukul. Tapi sama sekali tidak keras sehingga keliru jika disebut berbekas sampai dirawat di puskesmas,” urainya.

Dia juga mementahkan tudingan yang menyebut dia memukul siswa memakai sepatu berulang-ulang. Setelah kejadian itu, Darma mengaku didatangi oknum LSM. Dia marah-marah, lalu banting ID Card didepan para guru.

‘Tidak ada yang tidak kenal saya di Parepare. Walikota saja saya perintah. Kau siapa kau andalkan?,” kata Darma menirukan ucapan oknum tersebut.



Resource Berita : suarankri.net
Gara-gara Amalan Ini, Bilal Masuk Surga

Gara-gara Amalan Ini, Bilal Masuk Surga



WartaIslami ~ Usai shalat subuh, Bilal bin Rabah ditanya oleh Rasulullah SAW, ““Wahai Bilal, apa amalan yang paling sering kamu lakukan? Sebab aku mendengar suara langkah kakimu di surga.”

“Aku tidak melakukan amalan apapun melainkan aku membiasakan shalat sunah setelah berwudhu baik siang ataupun malam,” jawab Bilal.

Dialog Bilal dan Rasulullah ini banyak disebutkan dan diceritakan dalam kitab hadits. Di antara perawi yang meriwayatkan kisah ini adalah Al-Bukhari, Ishaq bin Rahaweh, dan lain-lain.

Amalan yang dilakukan sahabat yang dikenal dengan keindahan suaranya itu sekilas terlihat sederhana dan mudah dilakukan. Ia hanya membiasakan diri untuk shalat sunah setelah berwudhu. Meskipun terlihat sederhana, penekanannya sebenarnya tidak bergantung pada bentuk amalannya, tetapi keistiqamahan Bilal dalam melakukan amalan tersebut.

Amalan apapun yang dilakukan dengan istiqamah dan konsisten, selama ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah, akan dibalas oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, sepanjang hidup Rasulullah sangat jarang membebani sahabat dengan malan yang berat dan susah. Beliau meminta sahabatnya melakukan amalan sesuai dengan kemampuannya dan dilakukan secara konsisten.

Aisyah pernah ditanya oleh sahabat tentang amalan yang disukai Rasul, beliau menjawab,

كان أحب العمل إليه الدائم

Artinya, “Amalan yang paling disukainya adalah amalan yang dilakukan terus-menerus.”

Amalan yang disukai Nabi SAW adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun kecil dan ringan. Melakukan ibadah secara konsisten tidaklah mudah dan butuh usaha keras untuk mewujudkannya. Saking pentingnya istiqamah dalam ibadah, para ulama mengingatkan, “Jadilah kalian pencari istiqamah, bukan pencari karamah.” Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)



Resource Berita : nu.or.id
Hinalah Aku, Tapi Jangan Hina Islam

Hinalah Aku, Tapi Jangan Hina Islam



WartaIslami ~ Kepada semakin banyak saudara-saudaraku yang menghina Islam, kumohon: hinalah aku. Sebab aku lemah, tidak punya daya, maka hinaanmu akan efektif. Seandainya pun aku tersinggung dan ingin membalas, tak ada padaku kesanggupan untuk melaksanakannya. Selama hidup, tak kupunyai energi, kekuatan dan rasa tega, untuk menyakiti siapapun, meski seberat apapun ia menyakitiku, sedalam apapun ia melukaiku, bahkan membunuhku.

Tetapi tolong engkau ingat: aku ini sudah hina tanpa engkau hina. Jadi sebenarnya tidak bisa ditambah lagi hinanya hidupku oleh penghinaanmu. Mending kau traktir aku makan Ketoprak Betawi, Garang Asem Kudus atau Sate Lalak Bangkalan. Kalau itu, manfaatnya sangat jelas dunia akhirat, bagimu maupun bagiku.

Aku pernah menerima di markasku serombongan tamu teman-teman Pendeta dan kawan Tionghoa aktivis gereja pada pukul 02.00 dinihari. Nanti pagi akan ada acara pengobatan bagi jemaat oleh seorang Pendeta dari Kanada di sebuah stadion olahraga Yogya. Acara itu diancam dibubarkan oleh suatu kelompok teman lain yang identitasnya Muslim yang cara berpikirnya belum bisa aku pahami.

Dinihari ini juga aku hubungi pihak Kraton Yogya sebagai pengayom seluruh masyarakat DIY, kemudian kukontak pimpinan kelompok yang akan menyerbu Stadion. Nanti pagi hingga siang acara pengobatan berlangsung lancar. Dengan ongkos aku disebut “Pembela Kristen”, munafik, musyrik. Ada beberapa orang menyebutku pejuang anti destruksi, penengah siapapun yang bermusuhan, perawat silaturahmi dan toleransi, serta sejumlah rumusan lagi – tapi mereka tidak berani mengungkapkannya kepada publik.

Di saat lain aku kumpulkan lebih 40 ribu massa di halaman Pasar sebuah kota di utara Yogya, kubikinkan Deklarasi Kerjasama Kemanusiaan, dibacakan bersama oleh pemuka berbagai golongan yang sebelumnya saling dendam dan bermusuhan. Lebih 30 Laskar akan membakar toko-toko dan pusat-pusat perniagaan. Tapi mereka berakal sehat, sehingga mengemukakan kepadaku rencana itu. Kami berdialog sedemikian rupa. Keputusannya, aku minta mereka datang lagi menemuiku bersama pemuka kelompok-kelompok yang akan mereka serbu. Kalau mereka mau bunuh-membunuh dan saling memusnahkan, aku persilahkan dimulai di depanku. Tapi kalau mereka mau bebrayan yang baik sesama manusia, kuajak bikin desain ke hari depan untuk menyusun perjanjian kerjasama saling mengamankan dan menyelamatkan.

Perdamaian berlangsung. Sampai hari ini. Kalau situasi bergolak suatu waktu, karena hidup ini bergelombang, aku harus menentukan akan menganggukkan kepala, atau menggeleng, atau tidak menjawab. Kalau aku mengangguk, bisa jadi “karang abang”. Kalau aku menggeleng, harus dengan hujjah atau argumentasi yang bijaksana dan rasional. Kalau aku tak menjawab, berarti tidak juga menggeleng, berarti bisa “karang abang” juga.

Aku banyak dicampakkan ke dalam situasi konflik seperti itu yang tak mungkin kuceritakan satu per satu. Di Tulang Bawang, Mempawah, Rassau Jaya, Sidoarjo, Magetan, Tinambung dan Majene bersama Mara`dia Raja, pecinan Kelapa Gading dan lain-lain, dengan tema pertengkaran yang berbeda-beda. Perang Sampit Dayak-Madura membuatku harus menyisir 4 Kabupaten untuk mengupayakan api tidak melebar. Di sebuah lapangan di Sanggau aku mengumpulkan masyarakat Dayak dan Madura sekaligus.

Sebelumnya aku temui pemuka-pemuka mereka. Kepada Sesepuh pribumi Kalimantan dengan gemetar aku mendekat, merangkulnya dan berbisik: “Aku bertamu ke sini dengan hati persaudaraan, untuk mengetahui apakah bagi saudara-saudaraku di sini aku ini saudara atau musuh. Kalau aku saudara, aku mensyukuri sampai lubuk hati. Kalau aku musuh, aku perlu bersiap-siap, meskipun aku tidak pernah mengejar kemenangan…”

Sesepuh yang wajahnya bersih jernih itu membalas bisikanku: “Cak Nun saudara kami semua di sini yang sangat kami cintai…”. Maka acara sore harinya di lapangan berlangsung penuh kemesraan. Berikutnya, dari hari ke hari, malam demi malam, setiap individu manusia maupun lingkaran kebersamaan mereka, tidak boleh berhenti untuk rajin merawat kejernihan pikiran, kebersihan hati, kematangan jiwa dan kebijaksanaan sosial.

Sangat tidak mudah berdiri di tengah untuk menjaga organisme maupun organisasi penyelamatan dan pengamanan. Khatulistiwa dituduh kutub utara oleh kutub selatan, juga sebaliknya. Berdiri di tengah dimusuhi oleh timur karena dianggap barat, juga sebaliknya. Di tahun 2002 diagnosis radiologi RS utama Yogya menyatakan usiaku secara teori medis tinggal 3,5 bulan paling lama. Dari tenggorokan hingga perut hitam legam karena berisi logam-logam keras yang bisa diurai hanya oleh suhu 1.500 derajat Celsius. Ada unsur yang meledak tak perlu oleh api, cukup hangat saja. Seorang Doktor-dokter tidak percaya itu darahku, sehingga cek darah ulang tiga kali, karena seharusnya kalau itu darahku: maka aku lumpuh dan tidak sadar, bukan nyetir mobil sendiri untuk berobat.

Ketika situasi panas di Netherland oleh demam film “Fitna”, sampai Geert Wilders menyerukan pelarangan atas Islam -- bersama KiaiKanjeng selama 9 hari berturut-turut siang malam kami pentas di 19 gereja, masjid dan synagog. Kemudian berkumpul bersama semua pemeluk Agama-agama dan ragam bangsa-bangsa di Juliana Kerk Den Haag untuk deklarasi kerjasama antar mereka.

Aku dan KiaiKanjeng dikutuk oleh teman-teman Muslim karena memasukkan notasi solmisasi yang biasa terdengar di gereja dan synagog ke nomor medley global. Shalawat Global kami disebut Shalawat Gombal. Ternyata lagu, musik, nada, irama dan bunyi, memeluk Agama juga. Maka meskipun lirik yang kami lantunkan “Baina Katifaih” atau “Hubbu Ahmadin”, bagi teman-teman tetap saja itu Lagu Gereja. Aku belajar ternyata ada Lagu Masjid, ada Lagu Kuil. Batu bata yang dipakai membangun Masjid adalah batu Muslim. Batu Masjid bermusuhan dengan Batu Gereja. Lantai marmer, cat, kaca, AC, karpet dan semua perangkat itu, kalau dipakai di Masjid, berarti beragama Islam. Kalau dipakai di Synagog berarti AC Yahudi, Karpet Yahudi, Marmer Yahudi dan Kayu Jendela Yahudi.

Allah menyatakan “bertasbih kepada-Ku segala apa yang di langit dan bumi”. KiaiKanjeng tidak berani untuk tidak mengajak kayu dan logam gamelan, partikel-partikel udara, suhu hangat dan dingin, nada dan irama, solmisasi atau jiropatmo, susunan bunyi Qiro’ah Sab’ah, kain baju, tiang-tiang panggung, sound-system, semuanya, untuk “sabbaha lillah”, bertasbih menyatakan cinta dan kepatuhan kepada-Nya.

Bahkan sudah puluhan orang yang publik menyebutnya gila kunaikkan panggung, kupeluk, kubisiki dan secara bertahap menemukan dirinya kembali. Bahkan di panggung Kabupaten Bekasi wanita 27 tahun yang jam tiga sore tadi telanjang bagian atas badannya, kami temani dan bungkus pelan-pelan, di penghujung acara malamnya pukul 02.00 dia yang secara spontan merebut mikrofon dari tanganku dan memimpin “Yallah bihaaaa…yallah bihaaa…bihusnil khatimah”. Sebelumnya dia bernyanyi spontan “Alif difatha a alif didhomma u” dan KiaiKanjeng spontan mengiringinya menjadi pertunjukan musik seolah-olah mereka sudah sebulan berlatih bersama.

Sejumlah sahabat Muslim menyimpulkan aku sudah murtad karena mau menerima teman Kristen, Katolik, Budha, Budha, Hindu, Gatoloco, Darmogandhul dll sebagai bagian dari silaturahmiku. Tidak ringan menerapkan “lakum dinukum waliyadin” dalam formasi, koordinat dan pemetaan budaya kemanusiaan. Sahabat-sahabatku sangat mencintaiku, sehingga selalu mengkhawatirkanku. Mereka takut kalau aku masuk kandang kambing lantas aku menjadi kambing. Mereka cemas aku gampang masuk angin seperti mereka.

Kalau aku bernyanyi doremifasol aku menjadi Nasrani. Hanya saja sahabat-sahabat kurang teliti sehingga tidak tahu bahwa lagu “Khotmil Qur’an” atau “Shalawat Nariyah” 100% bersusunan nada doremifasol alias solmisasi Barat yang juga dipakai di Gereja. Bahkan shalawat popular berabad-abad di Pesantren dan Ummat Islam “Thalama asyqu gharami” lagunya persis “Uskudara” tradisi Yahudi. Orang Islam mengaku itu lagu Islam. Orang Israel mengaku itu lagu Yahudi. Orang Turki mengaku itu aslinya lagu Turki.

Tak apa. Tanah dan bumi ini milik kita semua. Atau tepatnya, milik Allah yang di-HGB-kan kepada para Khalifah-Nya. Pastur beli kain lurik di Pasar Beringhardjo dipakai memimpin Misa, tidak membuatnya menjadi pindah ke Kejawen. Umpama aku pinjam baju Pendeta kupakai jumatan, fiqih Islam tidak menyimpulkan aku berubah Kristen. Allah menganugerahkan mangga, para pemeluk keyakinan yang berbeda-beda gentian memakai pisau untuk menguliti dan menikmatinya. Pisau dan musik, hanyalah alat.

Aku menyayangi semua makhluk Allah, sehingga aku memafhumi pilihan pakaian mereka masing-masing. Pilihan cara berpikir, pilihan keyakinan, pilihan Presiden dan Lurah, serta apapun. Hal-hal yang berkait langsung dengan aqidah ketuhanan, bukan hakku untuk mencampuri, itu adalah transaksi perniagaan langsung mereka dengan Tuhan. Maka bahkan tidaklah akan pernah bisa mengurangi cintaku kepada semua makhluk Allah ketika aku disodori hal-hal serperti berikut ini dari medsos yang tersebar ke seluruh dunia:

“Allah itu apa sih? Batukah atau binatang? Islam Agama tai. Kok guwa gak pernah lihat Allah ya. Nabi cap itil”. “Waah anjingnya keren ya! Pakai sorban. Gak lama lagi anjingnya pakai hijab!”. “Apa elu gak salah milih Tuhan kok gak ada wujudnya? Apa elu gila kentut aja lu anggap Tuhan”. “Hey islam kontol….jangan main2 ama gue ya…”. “Kabah kandang babi! Allah swt anjingggggggggg!!”. “Alangkah lucunya Islam. Lu nyembah apaan nungging2 kagak jelas kayak orang lagi ngentot doggy, kagak berguna goblog!”

Dengan segala kebodohan kumohon ucapan-ucapan itu ditujukan atau dialihkan kepadaku. “Inni kuntu minadhdholimin”. Aku tergolong orang dholim. Tepat untuk menjadi sasaran kata-kata seperti itu. Please jangan kepada Islam. Tak perlu kujelaskan, toh kau tak percaya. Walhasil, jangan hina Islam. Syukur juga tak kau musuhi Ummat Islam, terutama yang di bawah-bawah. Sudahlah. Hina aku saja. Santetlah tenunglah aku. Bahkan bunuh aku. Cuma kalau aku mati, engkau kehilangan sasaran untuk kau hina.


Resource Berita : dutaislam.com
Simak, Cara Ampuh Menghadang Arus Ekstremisme di Sekolah

Simak, Cara Ampuh Menghadang Arus Ekstremisme di Sekolah



WartaIslami ~ Ekstremisme, istilah yang lebih senang saya pakai daripada radikalisme, kini telah menjadi problem nasional, bahkan internasional. Orang-orang mencemaskan banyak anak muda yang terpengaruh pemikiran ekstremisme dalam keagamaan. Bahkan sebagian telah menjurus ke praktik kekerasan untuk memenuhi harapan dan tujuannya: ekstremisme kekerasan.

Sudah banyak riset yang menunjukkan bagaimana sekolah umum kini telah menjadi wahana persebaran ekstremisme ini. Melalui kegiatan-kegiatan yang terbuka –bahkan didukung sekolah—maupun klandestin, para siswa menjadi subjek sekaligus objek penyebaran ekstremisme ini. Angka mereka yang terpapar paham ekstremisme ini bisa diperdebatkan, dan dalam banyak hal sulit dideteksi karena sifatnya yang dinamis dan fluktuatif, tapi diyakini jumlahnya sudah pada level yang mengkhawatirkan.

Situasi internal maupun eksternal sekolah hampir semuanya saling mendukung perkembangan ini. Sudah hampir tiga dekade ini sekolah menjadi ajang kontestasi dan kompetisi untuk mendapatkan nilai tertinggi dan kemudian siswa bisa masuk perguruan tinggi. Untuk itu siswa mengikuti sepenuh hari untuk belajar melalui program bimbingan. Bakat dan prestasi menjadi tunggal dan satu-satunya yang dianggap capaian hebat adalah berhasil meraih NEM tinggi. Pelajaran agama, meski tidak diujikan dalam ujian nasional, ditekankan sebagai suatu ideologi atau pelajaran surga-neraka, daripada suatu ‘code of cunduct’ atau ‘akhlak’ hidup bermasyarakat.

Mengkhawatirkan karena ini menyangkut masa depan kita sebagai bangsa. Sikap welas asih merosot. Prasangka, intoleransi dan diskriminasi meluas dan dianggap sebagai sikap yang wajar dan semestinya.  Merugikan karena siswa-siswa yang tadinya berbakat di bidang riset pengetahuan, olahraga, kesenian dan lain-lain, setelah terpapar paham ini kemudian memalingkan perhatiannya pada kegiatan keagamaan semata. Yang pertama dianggap sebagai duniawi, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada kehidupan kelak setelah mati. Dan hal ini dianggap lebih utama.


Tentu sudah banyak yang telah dilakukan untuk mencegat kecenderungan yang makin meluas ini. Salah satu di antaranya adalah memperkenalkan pemahaman agama yang toleran dan terbuka. Ini bagus dan menarik, kendati demikian, menurut pendapat saya, hal ini tidak terlalu efektif karena, pertama, kembali menempatkan ‘agama’ di sekolah sebagai suatu yang utama. Padahal menempatkan agama sebagai yang utama ini, bisa jadi merupakan sumber masalahnya. Terutama agama dalam pengertian ‘ideologi’ dan ajaran surga-neraka, bukan etika.

Kedua, menghadap-hadapkan suatu paham agama yang satu ‘yang dianggap eksklusif dan bertendensi kekerasan’ dengan yang lain ‘yang dianggap inklusif dan berorientasi damai.’ Kedua pilihan ini kemudian dipertarungkan, dan celakanya tak akan ada pemenangnya, karena masing-masing pilihan pada akhirnya dianggap benar ‘secara keagamaan.’

Dengan tetap menghormati ikhtiar teman-teman di bidang keagamaan, kini saatnya perlu memikirkan alternatif lain, misal:

1. Menggalakkan pelajaran ilmu sosial. Sudah tak perlu saya kemukakan lagi betapa pendidikan kita selama ini mengidap ‘bias eksak’ yang akut. Hal ini terlihat misal dari tidak diperhitungkan sebiji pun ilmu sosial dalam mata pelajaran yang diujikan, prinsip linearitas dalam menentukan kepegawaian dosen, dan lain-lain. Cukup sering kita dengar bagaimana siswa cerdas dibujuk oleh guru untuk masuk jurusan eksak, dan ketika sang anak memilih ilmu sosial, sang guru bilang: “eman-eman ya pinter milihnya ilmu sosial.” Sementara si orang tua yang terpengaruh guru kampret itu sedih seperti baru kebakaran rumah.

Ilmu sosial, terutama ilmu sosial kritis, penting untuk menganalisis dan memahami fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Masyarakat dengan segala dimensi di dalamnya, bukan mesin, yang hukum-hukum perkembangannya bisa dipahami secara mekanistis dan otomatis. Para ilmuwan menyebut ini sebagai positivisme. Mungkin karena kuatnya pengaruh positivime ini, maka agama pun dipandang dan diperlakukan secara eksak dan seperti ilmu pasti.

Kenyataannya, masyarakat itu ‘complicated’, tidak sederhana, tak beraturan dan tidak selalu tertib, perkembangannya beragam, tidak tunggal, dan lain-lain. Dengan kemampuan analisis sosial, fenomena masyarakat bisa dipahami. Ilmu sosial di sini bukan saja jadi ‘alat analisis,’ tapi ‘perspektif’ dalam memahami dunia dan kompleksitasnya ini.

2. Mengenalkan filsafat, terutama dalam hal ini cabangnya, yaitu logika. Logika penting untuk memahami kesesuaian yang masuk akal dan logis antara suatu sebab dan akibat, jawaban dan pertanyaan, yang khusus dan umum, dst. Logika adalah akal sehat. Jika ada pernyataan bahwa kita sekarang ini banyak kehilangan akal sehat, maka itu artinya makin kurang dan bahkan tidak ada tempatnya lagi apa yang namanya logika.

Hoax yang biasanya memuat di dalamnya prasangka, kebencian, dan teori konspirasi menggelinding dan diterima dengan mudah di antaranya karena tidak terbiasanya pemahaman terhadap kompleksitas masalah sosial dan miskinnya kemampuan logika.

3. Menggalakkan pembacaan sastra. Sastra penting karena dia mengajukan permasalahan hidup yang tidak hitam-putih dan salah-benar. Dunia sastra menampilkan suatu perspektif bahwa hidup itu tidak selalu berjalan linear. Yang baik tidak selalu memang, sementara yang jahat tidak senantiasa kalah. Di dalam dunia sastra, seorang tokoh yang disebut sebagai protagonis pun tak seluruhnya baik, sementara mereka yang disebut antagonis tak seluruhnya jahat.

Dilema-dilema dan pergumulan-pergumulan hidup di dalam dunia sastra meninggalkan perenungan yang mendalam, yang membuat orang tidak mudah dan tidak tergesa untuk menghukumi keadaan. Sudah barang tentu juga sastra membuat  imajinasi semakin kaya dan luas, dan memperhalus perasaan.

4. Memperbanyak menonton pertunjukan seni. Pertunjukan seni adalah kekayaan budaya yang luar biasa. Serupa seperti sastra, pertunjukan seni tidak mengenal salah-benar, bagus-jelek,  indah-buruk.

Kenyataan yang menarik, sebagian besar unsur seni –entah intrumennya, cara memainkannya, busananya, gerakannya, tujuannya— dan lain-lain terhubung dengan suatu agama, etnis, bangsa dan lain-lain. Di dalam kesenian, pinjam meminjam unsur ini sering sudah tidak disadari lagi. Kesenian adalah budaya hibrid. Menonton pertunjukan kesenian akan membiasakan orang untuk memberikan apresiasi, menghaturkan penghormatan pada orang lain.

Dengan usulan ini, maka beban para agamawan –terutama yang berada di jalur inklusif—untuk mencegat perkembangan ektremisme ini akan lebih ringan. Pada saat yang sama, perlu mengajak para seniman, sastrawan dan pekerja literasi, untuk terlibat dalam kegiatan pencegahan ini. Sebenarnya kegiatan-kegiatan peningkatan minat baca, penulisan karya sasta, pertunjukan seni, dan pelatihan ilmu sosial selama ini secara tidak langsung ikut berperan membendung perkembangan gerakan ekstremisme ini.

Sudah barang tentu usulan ini lebih bersifat umum, yang teknis pelaksanaannya pastilah tidak mudah. Ia membutuhkan kerjasama dan dukungan banyak kalangan, baik pihak sekolah maupun luar sekolah. Tapi ia tidak selalu harus terhubung dengan sekolah. Ia bisa mencuri waktu di luar sekolah, pada akhir pekan misal atau pada liburan panjang. Satu hal yang perlu diingat, sebisa mungkin semua ini dilaksanakan dalam ‘analogi permainan’ agar tidak menambah beban para siswa.


Resource Berita : dutaislam.com
Belajarlah dari Abdurahman bin Auf

Belajarlah dari Abdurahman bin Auf



WartaIslami ~  Nabi Muhammad SAW mempunyai banyak sahabat nabi yang patut diteladani. Atas keteladanan mereka, kisah-kisahnya pun tak habis ditelan waktu mes kipun telah berlangsung beratusratus tahun lamanya.

Abdurrah man bin Auf adalah salah satu sahabat nabi yang luar biasa. Ia lahir sepuluh tahun setelah tahun gajah dan meninggal pada usia 72 tahun. Ia juga salah satu orang dari delapan orang pertama yang menerima ajaran Islam, tepatnya dua hari setelah sahabat Abu Bakar.

Ustaz Salman Al Farisi meng ajak pemuda Muslim untuk me neladani dan mencontoh sosok dari Aburrahman bin Auf. Menurut dia, Abdurrahman bin Auf me rupakan sahabat nabi yang mempunyai akhlak luar biasa.

"Ada yang istimewa dari beliau, semua sahabatnya sebelum da tang Islam mengakui pemuda yang memiliki tata krama, moral yang baik. Abdurrahman bin Auf ke istimewaannya luar biasa, ya itu akhlak yang baik," ujar Ustaz Salman, dalam kajian Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), Ja karta, dengan tema Manusia Ber tangan Emas, Sirah Sahabat Nabi Abdur rahman bin Auf, Jumat (21/7).

Ustaz Salman pun mengajak agar pemuda Muslim harus membekali dirinya dengan akhlak yang baik. Mereka perlu memegang teguh sopan santun ketika berinteraksi kepada siapa pun. Ini ditekankan Ustaz Salman karena merasa khawatir dengan pemuda Muslim yang tidak memedulikan akhlak. Ustaz mencontohkan banyak pemuda Muslim yang enggan meminta maaf ketika mempunyai kesalahan.

Termasuk perilaku yang kerap ditemui, yaitu melawan arah saat mengendarai motor dan membuang sampah sembarangan. "Padahal, akhlak yang baik men jadi bahasan pokok Islam. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Berarti kalau beragama, tapi nggak berakhlak, palsu agamanya," kata ustaz Salman.

Keistimewaan lainnya dari Abdurrahman bin Auf yaitu seorang enterpreneur atau wiraswasta. Menurut Ustaz Salman, ke istimewaan ini juga perlu di contoh oleh pemuda Muslim masa kini. Dari Aburrahman bin Auf, tutur Ustaz Salman, mengajarkan agar umat Muslim selalu berusaha melihat menciptakan peluang.

Nabi Muhammad SAW juga seorang enterpreneur. Termasuk kebanyakan sahabat Nabi, seperti Umar bin Khattab, Usman bin Affan termasuk seorang enterpreneur. Untuk itu, Ustaz Salman menegaskan, tidak ada alasan umat Muslim tidak menjadi seorang enterpreneur. "Nabi memulai periode dakwahnya dari enterpreneur," ujar nya.

Kondisi di masa nabi dan sahabat, menurut Ustaz Salman, berbeda dengan pemuda Muslim saat ini. Ustaz Salman menilai, umat Muslim saat ini banyak tidak tertarik menjadi seorang enterpreneur. Itu sebabnya, bagi ustaz Salman, yang membuat Islam mengalami kemunduran. "Umat Islam mundur karena malas jadi enterpreneur. Umat Islam tidak punya mental enterpreneur," kata ustaz Salman menambahkan.

Ustaz Salman mengajak bersama-sama pemuda Muslim agar tidak malas menjadi seorang enterpreneur. Namun, sebelumnya perlu mempersiapkan ilmu agar perjalanan menjadi enterpreneur sukses. Nabi Muhammad dan sahabat lainnya, kata Ustaz Salman, bisa dijadikan contoh sebagai seorang enterpreneur. Selanjutnya, keistimewaan lainnya Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang pemurah.

Keistimewaan ini harus menjadi catatan penting bagi pemuda Muslim. Sifat pemurah, menurut Ustaz Salman, jarang dimiliki oleh orang lain saat ini. Abdur rahman bin Auf selalu bersedekah. Ia juga banyak investasi hartanya kepada hal-hal yang positif. Catatan lainnya dari sosok Abdurrahman bin Auf, ia senang bersilaturrahim. Ustaz Salman menilai, hal ini sangat penting bagi pemuda Muslim sebelum memulai menjadi enterpreneur. Sebab, dari silaturahim tersebut bisa belajar tentang cara menjadi seorang enterpreneur.

Meskipun seorang enterprenuer, lanjut ustaz Salman, Ab durrahman bin Auf juga tidak lupa untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia merupakan sahabat nabi yang ibadahnya sangat luar biasa. Ia selalu shalat tahajud dan membaca Alquran. "Jadi ini generasi gemilang dalam Islam, ibadahnya kepada Allah total," kata dia.

Generasi emas pada masa Abdurahman bin Auf tersebut, kata ustaz Salman, menjadi faktor dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW berhasil dengan tempo cepat. Mereka mem punyai kualitas akhlak yang baik serta ibadah yang kuat ke pada Allah SWT. Ustaz Salman mengajak pemuda Muslim untuk segera bergerak meningkatkan kualitas kehidupan diri sediri. Pemuda Muslim dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf. Dengan begitu, diyakini Islam yang akan datang akan lebih maju.


Resource Berita : republika.co.id
Ini Peninggalan Berharga Peradaban Islam di Indonesia

Ini Peninggalan Berharga Peradaban Islam di Indonesia



WartaIslami ~  Salah satu peninggalan yang sangat berharga dari peradaban Islam di Indonesia masa lampau adalah aksara Arab Jawi. Dalam istilah lain juga dikenal sebagai abjad Arab Melayu. Aksara tersebut adalah bentuk modifikasi dari abjad Arab yang disesuaikan dengan bahasa orang-orang Melayu di seluruh wilayah nusantara.

Ahmad Darmawi dalam artikelnya ber judul "Perihal Aksara Arab Melayu" meng ung kapkan, kemunculan abjad ini adalah akibat dari pengaruh budaya Islam yang lebih dulu masuk ke nusantara dibandingkan de ngan pengaruh budaya Eropa—yang datang belakangan pada zaman kolonialisme. Me nu rut dia, aksara Arab Melayu sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Samudera Pasai, Ke rajaan Malaka, hingga Riau.

Darmawi menjelaskan, tulisan Jawi mulai digunakan secara jamak oleh masya rakat Melayu sejak awal kedatangan Islam di Indonesia. Istilah Jawi sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu al-Jawah, nama untuk merujuk kepada bagian utara Pulau Sumatra sebagai daerah yang mula-mula menerima agama Islam.

"Aksara Jawi telah mengambil peran dan fungsi aksara Pallawa dan Kawi (dari India) yang sebelumnya dipakai oleh ma sya rakat nusantara untuk mengeja ba ha sa Melayu," ungkap sastrawan asal Riau itu.

Dia menuturkan, bangsa Melayu sendiri termasuk salah satu rumpun dari bangsa Austronesia. Bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya pun masih se rumpun de ngan rumpun bahasa Mi kro nesia, Melanesia, dan Polinesia.

Rumpun bahasa Austronesia boleh dise but kelompok bahasa yang memiliki jum lah bahasa terbanyak di dunia, yaitu sekitar 1.200 bahasa. Selain itu, rumpun bahasa Melayu juga mempunyai rentang wilayah sebaran geografis terluas di du nia, sebelum terjadinya ekspansi bang sa Eropa pada abad ke-15 silam.

Adapun unsur budaya yang paling menonjol dari bangsa Austronesia adalah bahasa Melayu. Luasnya penyebaran bahasa ini, kata Darmawi, menjadikannya sebagai salah satu lingua franca (bahasa pengatar—Red) di kalangan masyarakat Asia, khususnya Asia Tenggara.


Resource Berita : republika.co.id
Tradisi Baca Tulis Arab Melayu yang Hilang

Tradisi Baca Tulis Arab Melayu yang Hilang



WartaIslami ~ Ketika terjadi proses Islamisasi Kepulauan Melayu yang berlangsung dalam ge lombang besar pada paruh kedua abad ke-13, pengadopsian dan penggunaan kosa kata bahasa Arab di nusantara pun menemukan momentumnya. Hal itu di buktikan dengan banyaknya historiografi Islam yang ditemukan di kawasan ini.

"Hampir seluruh tulisan sejarah mengatakan bahwa tegaknya institusi politik Islam bermula dari konversi penguasa lokal menjadi penguasa Muslim (Sultan) yang diikuti oleh para elite istana dan selanjutnya disusul oleh seluruh rakyatnya," tutur akademikus dari Uni ver sitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau itu lagi.

Dia menambahkan, kedatangan Islam setelah runtuhnya kerajaan Hindu di Jawa telah mengubah semangat dan jiwa penduduk di pulau ini dengan sema ngat agama yang sarat akan nilai-nilai intelektual dan rasionalisme. Hal itu di tandai dengan beralihnya pandangan orang-orang Melayu dari dunia mitos kepada budaya ilmiah yang berdasarkan pada pandangan Islam.

Staf pengajar Pesantren Sumatera Tha walib Parabek, Bukittinggi, Fadhli Lukman, dalam satu tulisannya berjudul "Mari Ajarkan (kembali) Aksara Arab- Melayu" berpendapat, abjad Jawi adalah bagian dari identitas ma syarakat nusantara yang mesti dipertahan kan kelestariannya.

Di masa lalu, sekolah-sekolah di Sumatra pernah mengajarkan Baca Tulis Arab Melayu sebagai mata pelajaran muatan lokal bagi para siswanya. Namun sayang, tradisi pengajaran tersebut kini seakan-akan telah sirna ditelan zaman. Saat ini, kata Fadhli, tulisan Latin te lah menguasai dunia literasi Indonesia. Ukuran seseorang bisa disebut tunaaksara ataupun "melek huruf" diukur de ngan aksara Latin, bukan dengan aksara lain nya. Anak-anak sekolahan pun seka rang tidak lagi diajarkan materi Arab Melayu oleh gurunya.

"Sebagai dampaknya, anak-anak atau remaja kita kehilangan salah satu instrumen penting yang sebenarnya bisa mendekatkan mereka dengan huruf hijaiyah," ujar kandidat doktor di Univer sitas Albert Ludwigs di Freiburg, Jerman, itu.


Resource Berita : republika.co.id
Kejeniusan Empu, Penempaan Keris Padukan Fisika dan Kimia

Kejeniusan Empu, Penempaan Keris Padukan Fisika dan Kimia



WartaIslami ~ Pada tahun 2008, UNESCO mengakui keris sebagai warisan budaya dunia yang harus dilestarikan untuk kategori tak benda, Intangible Cultural Heritage (ICH).

Koordinator Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, Donny Satryowibowo, keris tidak hanya dilihat dari segi wujudnya sebagai senjata. Namun, dalam proses penempaannya memerlukan teknik-teknik khusus serta sarat nilai yang mengandung unsur-unsur budaya. Termasuk estetika dan filosofis.

Menurutnya, penempaan keris oleh para empu sejak zaman dulu menggunakan teknik metalurgi yang melibatkan ilmu fisika-kimia.

"Keris ini kan ada proses teknik metalurgi. Kaitannya dengan ilmu fisika dan kimia. Jadi bagaimana cara pengolahannya itu masuk ilmu fisika. Dan apa bahan-bahannya itu masuk ilmu kimia," ujar Donny yang ditemui pada Silaturahim Kebudayaan yang digelar Lesbumi di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7).

Keris sebagai tosan aji, yaitu besi yang dimuliakan, memiliki sisi estetika yang menawan. Berbeda dengan senjata logam lain seperti pedang samurai yang berbentuk lurus dan mengkilap, keris relatif berukuran lebih pendek, ada yang bilahnya berkelok-kelok seperti naga, serta dihiasi beragam motif yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan tampilan keris tampak indah dan berkarakter.

Donny menuturkan bahwa leluhur bangsa Indonesia telah berhasil membuat keris dengan cara yang pintar. Proses pembuatan keris tidak hanya berakhir ketika logam besi selesai ditempa. Namun, melalui proses finishing dengan melapisi permukaan keris menggunakan warangan.

"Keris terdiri dari tiga macam logam, yaitu baja, besi, dan pamor. Nah, kemudian oleh leluhur kita, mereka mempunyai cara pengolahan kimia untuk coating atau membuat layer dengan cara diwarangi atau dijamasi. Jamas ini Bahasa Jawa yang artinya keramas. Keris ini dijamasi dengan warangan yang dicampur dengan asam sitrat atau air jeruk nipis," ujar Donny yang juga pendiri komunitas Jayakarta -komunitas yang aktif melakukan kegiatan untuk melestarikan tosan aji.

Warangan terbuat dari batu tambang yang kebanyakan didatangkan dari Cina atau Mongol, dan mengandung senyawa arsenik yang bersifat racun. Inilah yang membuat keris memiliki efek mematikan paling kuat apabila mengenai darah manusia.

"Ketika terkena darah, arsenik yang terdapat pada bilah keris akan berpindah ke darah sehingga darah menjadi menggumpal. Tapi kalau hanya menyentuh saja tidak apa-apa. Jadi, sudah sepintar itu leluhur kita untuk urusan kimia-fisika," terang pria yang mengaku memiliki banyak koleksi keris itu.

Warangan yang digunakan untuk melapisi keris, tidak hanya berfungsi untuk menyematkan racun. Menurut Donny, pengaplikasian warangan juga untuk memunculkan nilai estetika pada keris.

"Dengan diberi warangan tadi itu akan muncul nilai keindahan berupa tiga warna pada keris. Baja menjadi warna keabu-abuan, kehijauan atau kebiruan, besi menjadi hitam legam, sedangkan pamor tetap berwarna putih metalik seperti warna sendok makan," terang Donny.

Pada acara Silaturahim Kebudayaan itu, digelar juga pameran keris koleksi komunitas Jayakarta. Menurut Donny, yang juga menjadi panitia, maksud diadakannya pameran keris tersebut adalah untuk memulangkan kembali kesadaran masyarakat tentang keIndonesiaan dan kenusantaraan. "Jangan sampai orang luar negeri yang justru lebih peduli pada budaya kita, dibanding kita sendiri," ujar pria yang mengajar kesenian di Institut Kesenian Jakarta itu. (Alika Rukhan/Abdullah Alawi)



Resource Berita : nu.or.id
Peran Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dalam Kemerdekaan RI

Peran Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dalam Kemerdekaan RI



WartaIslami ~ Turut ayahnya, Abdul Lathif, berhaji saat umur 11 tahun, Syaikh Khatib Minangkabau meneruskan mukim di tanah suci untuk mengaji.Di sana, ualma kelahiran Koto Tuo, Agam, Sumatera Barat pada tanggal 6 Zulhijjah 1276 H (26 Juni 1860) itu tinggal bersama paman dan bibinya.Begitulah Ahmad Ginanjar Sya’ban mengawali Kajian Turats Ulama Nusantara Seri 13 yang digelar di Islam Nusantara Center, Sabtu (29/7).

Dalam paparannya pada diskusi bertema Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Kemilau Nusantara di Makkah itu, Ginanjar tidak menjelaskan peran strategis yang dimainkan menantu Syekh Muhammad Salih al-Kurdi itu dalam perjuangan kemerdekaan tanah airnya sendiri. Ini yang kemudian menggelitik salah satu peserta untuk menanyakannya.

Perjuangan ulama yang halaqahnya dihadiri ratusan pelajar dari berbagai negara, untuk Indonesia bermula dari permintannya kepada santri untuk meneruskan studinya ke Mesir. Zainul Milal Bizawi sebagai pembanding narasumber mengatakan, bahwa usulan Syaikh Ahmad Khatib tersebut bukan tanpa alasan. Tujuannya agar para santrinya itu dapat menimba semangat nasionalisme dari negara tersebut untuk kemudian diterapkan di tanah air.

“Motif Syekh Ahmad Khatib mengirim santri-santrinya ke Mesir, saya pikir untuk menimba semangat nasionalisme di sana untuk diterapkan di Indonesia,” ujarnya menanggapi pertanyaan tersebut.

Senada dengan Gus Milal, Ginanjar menambahkan, bahwa hal tersebut dilakukan karena Makkah adalah kota spiritual, sedangkan Mesir saat itu sudah tumbuh menjadi kota pergerakan.

“Makkah saat itu kota spiritual, sedangkan Mesir kota pergerakan,” ujarnya menanggapi pertanyaan yang sama.

Dosen STAINU Jakarta itu menyatakan, bahwa perang tidak saja dengan memegang senjata. Tetapi, perlu juga lobi-lobi internasional. Dari Mesirlah, lobi internasional itubermula. Para santri bergerak bersama pelajar Nusantara lain di luar negeri.

“Mesir menjadi pusat gerakan pelajar yang menggelorakan kemerdekaan dan perjuangan bumiputra,” ungkapnya.

Muhammad Rasyidi, salah satu mahasiswa Indonesia diKairo, melakukan komunikasi dengan Perdana Menteri Mesir saat itu Ahmad Naqrasyi Pasha. Ia menyampaikan, bahwa ada negara muslim terbesar di India Timur bernama Indonesia sedang bergolak guna meraih kemerdekaannya.

“Untuk memberitakan ada negara muslim terbesar di India Timur namanya Indonesia. Karena dulu nama Indonesia majhul, enggak diketahui. Yang diketahui adalah Jawah,” jelasnya.

Naqrasyi membawa berita itu ke Sidang Liga Arab. Indonesia menjadi pembahasan penting dan diwartakan melalui koran-koran. Sampai akhirnya, Liga Arab menghasilkan keputusan melalui sekjennya yang pertama Abdul Rahman Hassan Azzam untuk mendesak PBB agar mengingatkan Belanda agar menghentikan agresi militernya.

Selain lobi, Alumni Universitas Al-Azhar itu juga mengemukakan bahwa para santri Syekh Khatib Minangkabau itu mengelola Majalah Seruan Al-Azhar (1925-1927) sebagai corong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Majalah ini diterbitkan oleh Tohir Jalaluddin, Mahmud Yunus, Idris Marbawi, Fathurrahman Kafrawi, dan Jinan Tayib dengan bahasa Melayu dan beraksara Arab itu menjadi corong gelora.

Selain Seruan Al-Azhar, ada pula Majalah Merdeka. Dua majalah itu berkorespondensi dengan majalah Bintang Timur yang dikelola persatuan pelajar yang ada di Belanda.Jinan Tayib, pemimpin redaksi Seruan Al-Azhar pergi ke Belanda guna merumuskan cara memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Akhirnya, Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia bersama negara-negara Arab lainnya. Dalam satu pertemuannya, Liga Arab juga menghasilkan keputusan mendesak PBB untuk menindak Belanda agar segera pergi dari tanah Indonesia. Pada tahun 1949, berkat perjuangan diplomasi internasional para santri ulama Nusantara dan pewartaannya, Indonesia merdeka secara penuh. (Syakirnf/Fathoni)



Resource Berita : nu.or.id
Mbah Ngis dan Resep Berdagang yang Mendatangkan Berkah

Mbah Ngis dan Resep Berdagang yang Mendatangkan Berkah



WartaIslami ~ Sebagai pedagang kecil yang menjual makanan kecil di pondok, Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)–biasa dipanggil Mbah Ngis–memiliki cara sendiri dalam berdagang yang sulit dipahami orang lain. Pak Udin, salah seorang anak Mbah Ngis, merasa sulit memahami mengapa Mbah Ngis sering tidak mau pusing dengan persoalan untung dan rugi. Mbah Ngis memilih cara hati-hati dalam berdagang sehingga tidak asal mendapatkan untung.

Suatu hari, Pak Udin menyampaikan usul kepada Mbah Ngis agar barang-barang atau makanan konsinyasi yang tidak laku terjual supaya dikembalikan kepada pemasoknya sesuai kesepakatan agar tidak merugi. Mbah Ngis tidak setuju dengan usul tersebut, tetapi malahan lebih suka menyedekahkannya kepada anak-anak santri putra di pondok yang notabene mereka bukan pelanggan warungnya karena Mbah Ngis hanya melayani santri putri.

Mbah Ngis memiliki beberapa alasan terkait dengan sikapnya tersebut. Pertama, Mbah Ngis merasa kasihan kepada pemasoknya kalau harus menerima kembalian barang-barang yang tak laku. Kedua, Mbah Ngis merasa kasihan kepada beberapa santri putra yang merasa lapar sehabis belajar malam sementara uang sudah tak punya.

Selain itu, Pak Udin juga pernah usul agar uang hasil penjualan barang-barang konsinyasi yang sudah laku terjual supaya diputar dulu untuk tambahan modal dengan harapan dapat meningkatkan omzet penjualan dan keuntungan. Alasan Pak Udin adalah orang yang menitipkan dagangan itu baru datang menagih pada hari berikutnya atau dua hari kemudian.

Terhadap usulan Pak Udin di atas, Mbah Ngis menjawab, "Aku hanya berani mengambil labanya saja dari barang-barang titipan orang. Sedang uang setoran milik pemasok, aku tidak berani memutarnya. Aku khawatir kalau uang itu aku putar, maka tidak akan mbarokahi karena menggunakan uang yang bukan miliknya.”

Biasanya, uang setoran itu oleh Mbah Ngis digulung, lalu diikat dengan karet untuk memastikan agar tidak tercecer atau terpakai untuk keperluan lain. Selain alasan takut tidak mbarokahi, Mbah Ngis juga merasa khawatir akan mengecewakan pemasok. Misalnya, ketika pemasok datang menagih uang setoran, Mbah Ngis tidak bisa memberikannya karena, misalnya, uang yang diputar itu belum kembali menjadi uang tunai karena barang yang didapat dengan “modal ghashaban” itu belum laku terjual.

Meski mendapat pendidikan hingga perguruan tinggi, Pak Udin mengaku sulit memahami cara berpikir ibunya dalam berdagang. “Apakah seperti itu yang disebut berdagang dengan Tuhan?” Tanya Pak Udin pada diri sendiri.

Hal yang membuat Pak Udin heran tetapi sekaligus mensyukurinya adalah meskipun Mbah Ngis kurang memikirkan keuntungan dalam berdagang, nyatanya Mbah Ngis dapat menghidupi keluarganya dan mampu membiayai sekolah anak-anaknya hingga pendidikan tinggi. Pak Udin menduga kuat cara Mbah Ngis berdagang dengan hati-hati atau wara’ itu mbarokahi sehingga menghasilkan rezeki yang walaupun tidak berlimpah tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Resource Berita : nu.or.id
Hukum Sunah Memanah dan Berkuda?

Hukum Sunah Memanah dan Berkuda?



WartaIslami ~Akhir-akhir ini banyak orang yang berlomba-lomba mengamalkan hal-hal yang dianggap sebagai sunah Rasulullah SAW. Semua hal yang mereka baca dari hadits-hadits Rasul seketika langsung diamalkan dengan anggapan bahwa hal tersebut merupakan sunah Rasul SAW.

Sebut saja memanah dan berkuda. Dua hal ini menjadi hal yang sering digaungkan lewat medsos-medsos terkait dengan anjuran dan kesunahan memanah. Tentu hal ini menjadi pertanyaan besar di benak kita. Benarkah memanah atau berkuda itu sunah? Sehingga sangat dianjurkan untuk dipelajari bahkan sampai dilakukan di dalam masjid.

Beberapa literatur hadits yang menunjukkan keutamaan memanah adalah hanya ada beberapa hadits. Salah satunya yang diriwayatkan merupakan tafsir Rasulullah atas surat Al-Anfal ayat 60.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya, “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”

Setelah mengucapkan ayat itu kemudian nabi mengulang-ulang sebuah kalimat sebanyak tiga kali untuk menafsirkan ayat dari Al-Anfal yang dibacanya.

ألا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya yang dimaksud dengan kekuatan itu adalah memanah.”

Dalam hadits lain sebagaimana ditulis Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya juga dijelaskan terkait keutamaan seorang pemanah yang masuk surga karena anak panahnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir. Juga ada satu hadis lagi yang menjelaskan kerugian bagi orang yang mampu memanah tapi tidak mengamalkan kemampuannya, bahkan dalam riwayat Ibnu Majah orang yang tidak mengamalkan kemampuannya dalam memanah dikatakan sebagai orang yang durhaka kepada Rasul (maksiat dan berdosa).

Tampaknya, hadits-hadits tersebutlah yang dijadikan landasan kesunahan memanah sehingga sebagian dari kita gencar sekali mengampanyekan memanah hingga menjadikan masjid sebagai tempat memanah.

Tentunya, masyarakat harus mengetahui bagaimana kategori sebuah tindakan rasul itu sebagai sunah atau tidak. Atau dalam bahasa Kiai Ali Mustafa Yaqub, kita harus membedakan antara sunah atau agama dan budaya dalam membaca hadits.

Membaca hadits di atas, pensyarah Sunan Abu Dawud, Abdul Muhsin bin Hammad Al-Abbad mengatakan, hadits di atas diungkapkan kepada para sahabat pada masa perang kekurangan pasukan sehingga senjata yang paling efektif untuk menunjang peperangan saat itu adalah panah mengingat panah adalah satu-satunya senjata yang ada saat itu.

Ibnu Hajar juga menekankan bahwa poin penting dalam hadits-hadits di atas adalah kemampuan untuk mengalahkan musuh yang lebih efektif. Maka Rasul pada saat itu melihat bahwa panah adalah senjata yang paling efektif. Rasul akan sangat kesal sekali pada saat itu jika ada seorang pemanah jitu tapi menyia-siakan kemampuannya.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan senjata sekarang yang sudah semakin berkembang dan dinamis. Bahkan saat ini juga bukan masa-masa perang sebagaimana anjuran menguasai memanah yang dikatakan Rasul pada saat itu.

Dalam metode memahami hadits, kita diharuskan untuk bisa membedakan antara sarana yang berubah dan tujuan yang tetap. Dalam hal ini, panah adalah sebuah sarana, bukan tujuan. Sedangkan tujuannya adalah mampu mengalahkan lawan.

Sehingga dari penjelasan beberapa ahli di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa panah adalah hanya sarana yang bisa digunakan pada saat itu. Jika pada masa sekarang, ketika musuh menyerang kita dari berbagai hal mulai persenjataan, siber, kecerdasan dan keilmuan yang lain, maka sunahnya adalah menguasai sarana-sarana yang digunakan oleh pihak lawan itu, tentunya bukan hanya memanah.

Jika berlatih memanah dan ingin ahli menjadi pemanah, hukumnya hanya mubah. Tetapi menganggap pemanah menjadi sebuah kesunahan yang akhirnya menimbulkan perilaku tidak etis seperti berlatih di masjid dan sebagainya apalagi sampai menyalahkan orang yang tidak mampu memanah adalah sebuah kesalahan. Wallahu alam. (M Alvin Nur Choironi)


Resource Berita : nu.or.id
Singgung Yahudi dalam Khutbah, Pemimpin Muslim California Minta Maaf

Singgung Yahudi dalam Khutbah, Pemimpin Muslim California Minta Maaf



WartaIslami ~ Ketegangan di kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem belakangan ini menimbulkan banyak kecaman dan aksi protes terhadap Israel dari berbagai umat Islam di dunia. Israel dinilai tak hanya membatasi umat Islam masuk ke tempat suci itu tapi juga melakukan tindak kekerasan di sana.

Protes itu salah satunya datang dari seorang pemuka umat Islam di kota Davis, California, Ammar Shahin. Hanya saja, ia dinilai berlebihan ketika dalam sebuah khutbah memaklumkan adanya pemusnahan orang-orang Yahudi dan mereka yang membatasi akses ke Masjid al-Aqsa.

Seperti dilansir AP, khutbah Shahin menuai badai kritik dari masyarakat usai kutipan kata-katanya tersebut terekam dan didistribusikan secara luas. Khutbah itu ia sampaikan di depan jamaah shalat Jumat, 21 Juli, di Islamic Center Kota Davis, California.

Karena merasa bersalah, Shahin menggelar konferensi pers Jumat (28/7) di Davis, dan meminta maaf kepada publik. Ia mengaku lepas kontrol dan membiarkan emosinya memperkeruh penilaiannya.

"Saya mengatakan hal-hal yang menyakitkan orang Yahudi. Ini tidak bisa diterima," kata Shahin, diapit tokoh agama dan masyarakat selama sebuah konferensi pers yang merupakan bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan.

"Saya berharap bisa tumbuh dan berkembang sebagai pemimpin yang lebih layak di masyarakat," tambahnya.

Rabbi Yahudi setempat, Seth Castleman mengucapkan terima kasih kepada Shahin atas permintaan maaf ini. "Permintaan maaf selayaknya berlanjut dengan tindakan, jadi saya menyeru Anda. Saya mohon Anda untuk mengikuti kata-kata (maaf) itu dengan tindakan," kata Castleman.

Konflik Palestina dan Israel memang sering disalahartikan oleh sebagian orang sebagai konflik antara Islam dan Yahudi. Padahal, faktanya sebagaian orang Yahudi di Israel dan Palestina, juga di sejumlah negara, menolak tindakan sewenang-wenang Israel. (Red: Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
HIKMAH REZEKI

HIKMAH REZEKI



WartaIslami ~ Suatu hari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pergi ke masjid dengan menunggang kudanya. Sesampainya disana ia menitipkan kuda pada seorang laki-laki yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan masjid itu.
Laki-laki itu setuju dan Sayyidina Ali pun masuk kedalam masjid.
Nah, begitu melihat Sayyidina Ali memasuki masjid, laki-laki itu segera melepas tali kekang kuda, mencurinya dan meninggalkan kuda titipan itu begitu saja.

Sekeluarnya Sayyidina Ali dari masjid, beliau mengeluarkan uang 2 dirham untuk membayar upah kepada laki-laki yang telah ia titipi kuda.
Namun sesampainya Sayyidina Ali menemukan kudanya tanpa penjagaan dan tanpa tali kekang, beliau segera memahami apa yang telah terjadi, lalu pergilah beliau ke pasar untuk membeli tali kekang kuda yang baru.

Sesampainya di pasar Sayyidina Ali menemukan tali kekang kudanya yang dicuri sudah dipampang untuk dijual disana.
Setelah membelinya kepada pedagang beliau bertanya :

"Berapa tadi engkau membeli tali kekang ini?"

Pedagangnya menjawab :

"Aku membelinya dari seorang laki-laki seharga 2 dirham."

Sayyidina Ali berkata :

"Sungguh dengan tidak bersabar  seorang hamba telah mengharamkan untuk dirinya sendiri rezeki yang halal, padahal rezeki yang ia peroleh ( dengan cara haram ) itu pun tidak pernah lebih dari apa-apa yang telah ditentukan ALLAH bagi dirinya."


Resource Berita : santrionline.net
Keteladanan Kiai Maimoen tentang Amplop Bisyaroh

Keteladanan Kiai Maimoen tentang Amplop Bisyaroh



WartaIslami ~ Pagi itu saya ngobrol santai dengan Mbah Ummi--panggilan akrab Mbah Nun, ibunda Kiai Ajib, Genuk--yang walaupun sudah sepuh, tapi masih sangat energik.

Beliau banyak bercerita tentang ketauladanan para kiai Jawa nan bijak. Di antara yang beliau ceritakan adalah tentang gurunya, Kiai Maemoen Zubair, Sarang.

Kiai Haris Shodaqoh--Mbah Ummi mengawali berkisah-- bercerita kepadaku kalau dulu setiap akan menambah bangunan baru untuk pondok, beliau selalu sowan ke Mbah Moen, Sarang, untuk sekedar minta pangestu dan berkah doa. Namun setiap hendak pamit pulang dan akan ngaturke bisyarah, ternyata Mbah Moen lebih dahulu memberikan sebuah amplop tebal kepada Kiai Haris sambil berkata: "Yoh, tak dongakke. Iki kanggo pondoke sampean."
Kejadian serupa ternyata tidak hanya sekali dua kali, bahkan berkali-kali. Dan hampir setiap kali sowan ke Mbah Moen, Kiai Haris akan mendapat amplop dari beliau. Saking seringnya, sampai Kiai Haris sendiri merasa tidak enak kalau setiap sowan dan sekaligus diberi bisyarah oleh Mbah Moen. Mau sowan takut diberi bisyaroh, tidak sowan pun tidak enak. Bingung deh.

Saya sendiri pun pernah sekali melihat langsung bagaimana Mbah Moen mengembalikan amplop bisyarah kepada kiai madrasah yang mengundang beliau ngisi pengajian. Mbah Moen dawuh: "Iki tak tompo, tapi tak wehke pean maneh kanggo pembangunane madrasah iki yo."


Subhanallah. Semoga menjadi ‘ibrah bagi kita semua.



Resource Berita : muslimoderat.net
Kopi, Warisan Dunia Islam untuk Dunia

Kopi, Warisan Dunia Islam untuk Dunia



WartaIslami ~ Berbicara tentang kopi, apa yang terlintas dalam benak Anda? Anda mungkin berpikir tentang espresso ala Italia, cafe au lait yang kental citarasa Prancis-nya, atau double grande latte dengan taburan bubuk kayu manis seperti yang disajikan kedai kopi ternama asal Amerika Serikat. Atau malah menembatkannya sebagai simbol globalisasi; tak "gaul" kalau belum pernah ngopi-ngopi di warung kopi berkelas dunia.

Entah bagaimana awalnya, kopi seperti 'disabotase' sebagai produk Barat. Padahal, kopi hanya bisa dibudidayakan di wilayah dengan iklim tropis seperti Amerika Latin, sub-Sahara Afrika, Vietnam, dan Indonesia. Kopi juga baru dipopuler di Eropa pada kurang lebih abad ke-16 dan 17, baru kemudian di Amerika Serikat.

Kopi sejatinya adalah warisan dunia Islam bagi dunia. Sejarah kopi setidaknya bermula pada abad ke-9; dari Afrika Timur, kopi menyebar ke Mesir dan Yaman. Bukti kredibel awal muncul pada pertengahan abad ke-15, dimana di padepokan Sufi di Yaman, kopi biasa dipanggang dan diseduh, dalam cara yang mirip dengan bagaimana kopi kini disiapkan.

Pada abad ke-16, kopi sudah menyebar ke Timur Tengah, Persia, Turki, dan Afrika utara. Dari wilayah kekuasaan Muslim, kopi kemudian menyebar ke Italia, dan seluruh Eropa, ke Indonesia, baru kemudian ke  benua Amerika.

Orang pertama yang diketahui menulis tentang kopi adalah seorang filsuf yang juga dokter dari Persia bernama Rhazes atau Al-Razi (850-922), yang memanfaatkannya sebagai obat. Dia menggambarkan minuman yang disebut bunchum yang dibuat dari buah bunna, bahasa Ethiopia untuk menyebut kopi.

Tulisan-tulisan awal lainnya menyebut Yaman, di bagian selatan Semenanjung Arab tepat di seberang Laut Merah dari Ethiopia, sebagai wilayah perkebunan kopi pertama pada awal abad ke-15. Semua tanaman kopi di wilayah ini dibawa dari Ethiopia.

Di Yaman, para sufi Muslim lah yang mengenalkan tradisi minum ini: menyulapnya menjadi minuman agar tetap terjaga saat berdoa sepanjang malam. Situs sejarah Islam Muslim Heritage menyebut, pertama kali tradisi memanggang dan menggiling kopi mungkin terjadi di sini.

Namun ada versi lain cerita penggunaan kopi di kalangan kaum sufi di Yaman. Dalam salah satu tulisannya, cendekiawan Muslim Fakhr al-Din Abu Bakr Ibn Abi Yazid Al-Makki menyebut kelompok sufi Shadhilya sebelumnya menggunakan daun Al-Gat, tanaman merangsang yang terkenal di jazirah Arab, untuk mencegah kantung. Entah karena apa, tiba-tiba daun ini sulit ditemukan.

Syekh al-Dhabhani (1470-1471), salah satu pemimpin sufi, kemudian memerintahkan para pengikutnya untuk menggunakan bunna, biji kopi dalam bahasa Ethiopia. Namun, banyak sejarawan menyebut hal ini tidak bisa dijadikan patokan bahwa kopi pertama dikenal di Yaman pada masa itu; tanaman ini mungkin telah ada, hanya sebelumnya tak termanfaatkan.

Bagaimanapun, banyak versi tentang sejarah kopi. Dalam Kitab Kahvaler dituliskan penemuan pertama kopi pertama kali adalah tahun 1258. Ceritanya mengacu pada seorang syekh bernama Omar yang menemukannya secara tidak sengaja. Ia tengah kelaparan, kemudian mengulum biji-biji kopi yang berwarna merah ranum. Beberapa catatan juga menunjukkan kopi sudah dikenal umat Islam jauh sebelum abad ke-15.


Resource Berita : republika.co.id
Ini Motif-motif Terlarang dalam Menikah

Ini Motif-motif Terlarang dalam Menikah



WartaIslami ~ Menikah adalah sunah Nabi. Barang siapa tidak mengikuti sunnah Nabi maka Ia bukan termasuk ummatnya. Tetapi dalam mengambil keputusan untuk menikah, Seseorang harus menata niat agar apa yang dilakukannya benar-benar akan bernilai ibadah.

Demikian dijelaskan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam saat memberikan mauizhatul hasanah pada walimatul arasy pernikahan putri Mustasyar PWNU Lampung yang juga Rektor UIN Lampung Muhammad Mukri di GSG UIN Bandarlampung, Sabtu (29/7).

Mantan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya ini memberikan rumus khusus bagi siapapun yang akan menjalin ikatan suci dan sakral ini. "Agar menikah tidak salah arah rumusnya adalah 3 (tiga) J 2 (dua) M," katanya.

J yang pertama adalah jangan memiliki niatan menikah karena fisik semata. Fisik akan mengalami penuaan. Ketika memiliki niatan karena fisik, maka seseorang akan kecewa karena tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan kekal.

J yang kedua adalah Jangan menikah karena status sosial. "Jabatan status sosial juga tidak akan abadi dimiliki seseorang. Sebagai contoh jangan ada sampai niatan mempelai putra menikahi mempelai putri karena ia anak Rektor UIN Lampung," ingatnya.

J yang ketiga adalah jangan menikah karena faktor harta. Karena menurutnya harta pada hakikatnya bukanlah milik kita. Semua adalah titipan yang akan kembali diambil oleh yang punya.

Nur Syam mengajak semua orang yang akan menikah untuk memegang erat prinsip 2 M yaitu M yang pertama adalah menikahlah karena cinta dan kasih sayang. "Ini sesuai dengan tujuan menikah dalam Al-Quran, yaitu sakinah mawaddah warahmah. Jangan diplesetkan buat rumah satu untuk si Sakinah, satu untuk si Rahmah, dan satu untuk si Mawadah ya?" candanya disambut tawa semua yang hadir.

M yang kedua yaitu menikahlah karena Allah. "Menikahlah lillah. Karena ibadah ini adalah sunah rasul yang akan membawa keberkahan hidup. Semoga abadi sampai akhir hayat. Memiliki rumah tangga yang berkah penuh kebahagiaan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Polisi Israel Periksa Acak Pengunjung al-Aqsa secara Manual

Polisi Israel Periksa Acak Pengunjung al-Aqsa secara Manual



WartaIslami ~ Sejak Kamis (27/7) dini hari, kompleks Masjid al-Aqsa memang telah bersih dari detektor logam yang sebelumnya dipasang Israel. Namun, hal itu tidak secara otomatis menghentikan Israel untuk tetap memantau situasi di kompleks suci tersebut.

Koresponden kantor berita Palestina WAFA melaporkan, polisi Israel melakukan pemeriksaan manual secara acak terhadap warga Palestina yang memasuki Masjid Al-Aqsa pada Sabtu (29/7).

Menurutnya, polisi tampak menghentikan beberapa orang memasuki kompleks suci umat Islam dan memeriksa mereka menggunakan mesin pendeteksi logam manual. Mereka menggeledah tas dan dompet pria dan wanita yang berkunjung ke Masjid al-Aqsa.

Seperti diketahui, instalasi detektor logam Israel di luar Masjid Al-Aqsa dua minggu yang lalu telah memicu demonstrasi berskala luas oleh penduduk Palestina di Yerusalem, hingga memaksa Israel untuk memindahkan peralatan itu.

Sejak protes keras itu Israel melunak dengan mengizinkan semua umur bebas memasuki Masjid al-Aqsa pada Jumat sore. Padahal, sebelumnya Israel membatasinya hanya untuk orang-orang berusia di atas 50 tahun pada Jumat siang.

Kala itu, sekelompok ekstremis Yahudi mengadakan tarian dan ritual keagamaan yang provokatif di luar Gerbang Singa, salah satu gerbang utama menuju ke Masjid Al-Aqsa, tempat umat Islam bertahan selama dua minggu terakhir karena memprotes ulah Israel menjaga ketat masjid tersebut.

Polisi Israel yang menyaksikan para ekstremis itu menari dan berdoa di luar kompleks tidak melakukan tindakan apa-apa, sementara di saat bersamaan mereka memaksa orang-orang Palestina di luar gerbang untuk meninggalkan daerah tersebut. (Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an


WartaIslami ~ Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, di dalam Al-Qur’an hanya ada satu profesi yang menjadi nama surat yaitu As-Syu’ara, artinya para penyair. Jadi, para seniman (penyair) itu mendapat kedudukan istimewa.

“Yang lainnya tidak ada, semisal surat kuli, surat pengacara, anggota DPR,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7) bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.

Ia menambahkan, ditegaskan di dalam surat itu, para penyair adalah orang yang luas pandangannya, sangat cerdas, dan pengembara.

Maka, lanjutnya, ditegaskan Syekh Dzu Nun Al-Mishri, seni adalah suara kebenaran yang menggugah, dan mengangkat kita pada kepada Allah. Pada kesmepatan lain, Kiai Said juga menjelaskan bahwa seni yang dibarengi syahwat akan mendekatkan pelakunya kepada zindiq.

“Maka seni ini jalan yang tepat untuk menuju Allah. Itu yang ngomong sufi besar, bukan Ketua Umum PBNU,” tegasnya.

Silaturahim Kebudayaan tersebut dihadiri Ketua Lesbumi PBNU KH Agus  Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawiran Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, budayawan KGPH Puger, dan pemerhati budaya Harry Tjan Silalahi.

Ragam seni ditampilkan pada kesempatan tersebut mulai keroncong jaipong grup Jaya Buana, yang dipadu alat musik modern, pencak silat Pagar Nusa, seni pantun Sunda yang diiringi karinding dan celempung, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat, Indonesia Raya, penampilan puisi, pameran keris.

Para hadirin juga bisa mencicipi ragam makanan tradisional seperti berbagai jenis tumpeng, umbi-umbian, dan minuman sadapan mayang enau atau nira (legen). (Abdullah Alawi)  


Resource Berita : nu.or.id
Pesan Kiai Hasyim Asy’ari saat Menolak Bintang Jasa dari Belanda

Pesan Kiai Hasyim Asy’ari saat Menolak Bintang Jasa dari Belanda



WartaIslami ~ Lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pondok pesantren, selain sebagai tempat menimba ilmu agama, juga sebagai tempat menempa akhlak dan basis perjuangan rakyat dalam melawan serta mengusir penjajah. Bahkan seluruh rentetan perjuangan di setiap era pergerakan nasional tidak lepas dari peran utama para ulama pesantren.

Hal itu ditunjukkan ketika Soekarno dan Jenderal Soedirman kerap meminta pandangan para kiai ketika ingin mengadakan perlawanan terhadap penjajah. Melihat potensi pondok pesantren dengan kuatnya jiwa keagamaan dan nasionalismenya itu, penjajah secara khusus menyoroti pergerakan pesantren dan para kiai.

Bahkan strategi politik dalam bentuk segala cara dilakukan penjajah agar para kiai tunduk. Dengan tunduknya kiai yang dinilai mempunyai pengaruh kuat di tengah masyarakat, penjajah dengan sendirinya akan mudah menguasai mereka.

Pengabdian pada agama, bangsa dan negara berpadu menjadi satu pada diri KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947). Karena sikap dan sifat kepahlawanan serta keulamannya yang begitu kental itulah tidak henti-hentinya pemerintah kolonial berusaha membujuknya untuk bergabung.

Pada tahun 1937 mislanya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang amtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa Bintang Jasa yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985)

Sikap ayah Kiai Wahid Hasyim itu tidak lepas dari pandangan bahwa apa yang dilakukan Belanda hanya intrik politik semata untuk menundukkan sikap kritis dan perjuangan para kiai pesantren dalam melawan penjajah. Lalu, Hadlratussyekh pun bergegas mengumpulkan santrinya lalu berkata:

Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh ahli riwayat, pada suatu ketika dipanggillah Nabi Muhammad SAW oleh kakeknya Abdul Muthalib dan diberitahu bahwasanya pemerintah jahiliyah di Mekkah telah mengambil keputusan menawarkan tiga hal untuk Nabi Muhammad: 1) kedudukan yang tinggi; 2) harta benda yang berlimpah; dan 3) gadis yang cantik. Akan tetapi Baginda Nabi Muhammad menolak ketiga-tiganya itu dan berkata di hdapan kakeknya, Abdul Muthalib: “Demi Allah umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tak akan mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya Islam merata ke mana-mana, atau aku gugur lebur menjadi korban.” Maka, kamu sekalian anakku, hendaknya dapat meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi segala pesoalan.

Nampak perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari tidak terlepas dari tuntunan Nabi Muhammad. Bahkan konsep agama dan nasionalisme beliau yang masyhur yakni hubbul wathoni minal iman, merupakan ajaran Nabi Muhammad ketika membangun Negara Madinah dengan prinsip kecintaan pada tanah air yang diwujudkan melalui kesepakatan bersama (konsensus) Piagam Madinah antar sejumlah agama, suku, etnis, dan ras. (Fathoni)


Resource Berita : nu.or.id
Tips Agar Mata Hati Terbuka dari Syaikhina Maimoen Zubair

Tips Agar Mata Hati Terbuka dari Syaikhina Maimoen Zubair


WartaIslami ~ KH. Thoifur Ali Wafa Al Madury dalam kitabnya, Habailus Syawarid, bercerita bahwa pernah dalam satu kesempatan berkumpul bersama KH. Maimun Zubair (Mbah Mun) di Makkah Al Mukarromah ketika menunaikan ibadah haji. Beliau diberi ijazah oleh Mbah Mun:

"Kalau ingin ke-futuh (terbuka mata hatinya), maka bacalah Surat Al Kahfi di pagi hari Jum'at dengan tartil dan penuh penghayatan. Lalu selesai membaca, minumlah air zamzam, kemudian berdo'alah dan ber-tawassul-lah dengan Surat Al Kahfi dan Para Nabi - Rosul yang disebut di dalam Surat itu serta dengan Jaahi (pangkat) Sayyidina Muhammad SAW."

-Habailus Syawarid, hal. 102-
(Riwayat Ust. Ahmad Atho')

Semoga KH. Maimoen Zubair senantiasa diberikan kesehatan, panjang umur dan keselamatan fiddunya wal akhiroh, serta keberkahannya untuk kita sekalian fiddunya wal akhiroh...aamiin...al Faatihah



Resource Berita : muslimoderat.net
Mengapa Serangan Rudal ke Makkah Selalu Gagal?

Mengapa Serangan Rudal ke Makkah Selalu Gagal?


WartaIslami ~  Syiah Houthi kembali menuai kecaman umat Islam internasional. Pasalnya, kelompok pemberontak di Yaman itu meluncurkan rudal balistik ke arah Makkah Al Mukarramah. Untungnya, rudal itu berhasil dicegat rudal pertahanan udara Thaif.

Bukan kali ini saja Syiah Houthi berusaha menyerang Makkah, kota suci yang di dalamnya terdapat Masjidil Haram dan Ka’bah. Pada Oktober 2016, Syiah Houthi juga meluncurkan sejumlah rudal balistik ke Makkah. Saat itu, rudal balistik Houthi bisa dihancurkan setelah melesat dan tinggal 40 dari Makkah.

BACA : Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU

Mengapa serangan rudal Syiah Houthi ke Makkah selalu gagal? Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala sang pemilik Ka’bah-lah yang melindunginya.

Jauh sebelum Syiah Houthi meluncurkan rudal dari Yaman, Raja Yaman Abrahah juga pernah berusaha menghancurkan ka’bah.

Abrahah mengerahkan pasukan bergajah untuk menghancurkan ka’bah. Namun ketika berada di padang pasir menuju Makkah, pasukan gajah yang sangat besar itu dihancurkan Allah dengan burung ababil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan kisah itu dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al Fil: 1-5)

Pernah juga, seorang tokoh Syiah Houthi menyatakan ingin menghancurkan ka’bah. Abdul Karim al-Khiwani sesumbar akan menyerang Ka’bah. “Kami akan mengelilingi ka’bah pada musim haji mendatang sebagai para penakluk,” katanya pada saat itu.

Tak sampai setahun, sebelum musim haji itu datang, Abdul Karim al-Khiwani tewas ditembak oleh dua orang pengendara motor di ibukota Yaman. Serangan itu terjadi satu pekan sebelum operasi “Storm of Resolve” dilancarkan Arab Saudi dan Koalisi Teluk.


Resource Berita : tarbiyah.net
SUBHANALLAH.. Aktor Laga “The Raid” Suara Mirip Imam Masjid Haram, Videonya Viral Ditonton 5 Juta Lebih

SUBHANALLAH.. Aktor Laga “The Raid” Suara Mirip Imam Masjid Haram, Videonya Viral Ditonton 5 Juta Lebih



WartaIslami ~  Penampilan aktor film laga Cupink Topan, bisa disebut urakan. Ia membiarkan rambut gondrong plus gimbalnya terurai sehingga terkesan sangar.

Namun, saat menjadi imam shalat berjamaah di Hotel Bidakara, Jakarta, aktor laga pemeran film “The Raid” ini membuat banyak orang kagum dan keheranan.

Tak disangka, pria asal Tidore Maluku Utara yang bernama asli Sofyan Alop punya suara indah saat melantunkan ayat suci Alquran, mirip Imam Masjidil Haram. Bacaan Alquran-nya membuat meleleh.

Video yang merekam Cupink Topan jadi imam salat kini menjadi viral di sosial media. Bahkan pada akun Facebook Iqchalcedony Obi yang pertama mengunggah video tersebut pada 28 Juli 2017 sudah ditonton 5 juta kali.

Gubernur Maluku Utara, Abdulgani Kasuba sampai merasa terkesima saat mendengar suaranya.

“Subhanallah…Sahabatku ini Cupink Topan Putra Tidore yg juga Aktor di film Laga. Qiraah nya luara biasa. Beliau menjadi imam di Hotel Bidakara. Gubernur Maluku Utara KH. Abdulgani Kasuba. Lc. sampai terkesima. Mendengarkan suaranya,” ujar Iqchalcedony Obi dalam keterangan di video yang

diunggahnya di akun fbnya pada 28 Juli.
Sahabatnya yang lain, Ochan Sangadji menambahkan:

“Pria gondrong yang menjadi imam ini adalah seorang aktor. Dia asal Tidore, Maluku Utara. Namanya Topan, begitu ketika saya berkenalan dengannya di kantor Raja Sapta Oktohari di Jakarta. Dia adalah pemain film The Raid dan beberapa film laga lainnya.

Perkenalan dengannya, saya hanya menyangka dia hanyalah seorang artis yang hanya bisa berakting di layar lebar. Tapi ternyata, tak disangka suaranya begitu merdu saat menjadi imam. Tilawahnya mirip imam Masjidil Haram, Syekh Abdul Rahman Al’ausy. Saya tau ini nanti setelah menonton video yang dikirim adikku Iqchalcedony Obi di wallnya.

Innallaha la yandzuru ila suwarikum wala yandzuru ila ajsamikum walakin yandzuru ila qulubikum…. (Sesungguhnya Allah tidak menilai seseorang dari tampang dan pakaiannya, tapi yang dinilai adalah hatinya). Barakallah, maju dan sukses terus,” tulis Ochan Sangadji di akun fb-nya.



Resource Berita : [pi]
NU itu Organisasi Paling Aneh di Dunia

NU itu Organisasi Paling Aneh di Dunia



WartaIslami ~ Banyak yang akan menghacurkan NU, tapi akhirnya hancur sendiri.
Itulah sekelumit ulasan" prof Alan Nielsen , seorang pengamat inteljen barat

Bagaimana tidak, sejak kelahirannya pada tanggal 31 Januari 1926 Masehi atau 16 Rajab 1344 Hijriyah di Kota Surabaya, NU selalu di fitnah dan di intimidasi dan ingin di habisi keberadaannya , mulai tahun 1955-1998 , Pergerakan da'wah dan politiknya di awasi super ketat oleh penguasa, sehingga ingin mengadakan pengajian minta ijin sulitnya minta ampun, dan NU tak di beri ruang sedikitpun untuk menghidupkan " strukturalnya" .

Baca : Habib Luthfi: Banser Jangan Setengah-setengah Menjaga NKRI

Ia mengibaratkan " NU itu ibarat manusia yg di potong lehernya tapi ia masih bisa berlari dan hidup " padahal jika organisasi apapun akan hancur jika di habisi kepalanya ( strukturnya ) .

Nazi, NII, NI ,Masyumi, PKI, HTI dan banyak lagi , semua tinggal nama,,
Tapi tidak dg NU yg masih tetep eksis dan berkembang pesat hingga sekarang, yang terjadi malah sebaliknya " siapa yg memusuhi NU akan hancur dengan sendirinya.

Sejarah membuktikan, organisasi- organisasi terdahulu yg hancur itu karna mereka selalu memusuhi NU, mulai dari PKI, Masyumi, DII, TII, NII, HTI bahkan orde baru yang mengintimidasi NU selama 32 tahun pun kini hanya tinggal nama.

Sekarang era 2017,  NUGL, FP*, PK*, GNP* dkk mencoba bermain nggembosi NU, lihat saja nanti.

Maka sesungguhnya Andai NU ini sebagai organisasi yg bukan di dirikan oleh para ulama/Aulia dan bukan organisasi yang di ridoi allah tentu NU sudah hancur sejak dari dulu. ,,,,

Baca : Usia Senja tak Surutkan Semangat Sudaryati Mengaji

Saudi dan sekutunya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun untk meluluh lantakkan irak ,libya ,suriah , Afganistan , tapi ia tak mampu menguasai indonesia meski telah menghabiskn milyaran dollar ,, karna di NKRI masih ada sebuah organisasi yg bernama NU "

NU ibarat air, dia mengalir dengan gelolmbang yang indah dan tenang, menyejukkan serta memberi kemanfaatan, tapi ketika diusik bisa berubah menjadi gelombang sunami yang dahsyat untuk menjaga keamanan Negara dimna NU berada.


"NU tak butuh kita, tapi kita yang butuh "NU".



Resource Berita : muslimoderat.net
Ini Penjelasan Ketum PBNU tentang Negara yang Dibangun Nabi Muhammad

Ini Penjelasan Ketum PBNU tentang Negara yang Dibangun Nabi Muhammad



WartaIslami ~ Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa Islam bukan hanya teologi, ritual saj, tapi menekankan pentingnya kemajuan di bidang moral dan ilmu pengetahuan. Dalam bahasa Arab, jika hal itu tercapai disebut tsaqofah.

Namun, menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selaran, Islam juga tidak hanya menekankan kemajuan dalam bidung tsaqofah, melainkan pada bidang kesejahteraan, ekonomi. Dalam bahasa Arab, jika bidang itu tercapai disebut hadlarah.

“Kalau dua-duanya maju, dicapai, disebut tamaddun, madaniyah. Maka negaranya Madinah,” jelasnya pada Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7) bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.

Jadi, lanjut kia yang pernah mengenyam pendidikan di Arab Saudi selama 13 tahun itu, Nabi Muhammad semasa hidupnya itu tidak membangun negara agama, bukan membangun negara Arab, tapi Madinah.

Madinah, kata kiai jebolan Pesantren Kempek, Lirboyo, dan Krapyak tersebut, adalah negara yang masyarakatya bermoral, berbudaya dan sejahtera berkeadilan. Bukan berdasarkan agama (Islam) dan bukan berdasarkan ras (Arab).

“Jadi, tidak benar ada negara Islam, yang ada negara Madinah, negara yang masyarakatnya maju agamanya, moralnya, ilmu pengetahuannya, dan sejahtera, baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur,” tegasnya. (Abdullah Alawi)



Resource Berita : nu.or.id
Kiai Kantong Bolong

Kiai Kantong Bolong



WartaIslami ~ Petruk, kata Emha Ainun Nadjib, adalah lambang dari sikap dingin dan kelenturan. Itu sebabnya, dia disebut Kiai Kantong Bolong. Nama itu menjelaskan falsafah kekosongan. Jiwa tanpa dinding sehingga tak bisa digedor. Mental tanpa tembok hingga tak bisa dirobohkan. Kekosongan tak bisa dipukul, tak luka dipisau, dan tak ada kekuatan apapun yang membuatnya berkeping-keping.

Kekosongan itu tak bisa diisi. Namanya saja kekosongan. Persis seperti air. Semua air itu murni dan bersih. Tak ada air kotor, yang ada hanya air murni ditambah kekotoran. Kotoran itu kotoran, dan air murni tetap air murni. Karena itu, orang tetap bisa minum dari comberan atau air sampah yang diolah sebab air murni tetap ada dan tetap abadi. Demikian Cak Nun menjelaskan sekelumit falsafah Kantong Bolong dalam karyanya, “Arus Bawah”. Falsafah ini dia jelaskan pula dalam “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai”, karyanya yang lain.

Lantas, apa yang hendak saya sampaikan di sini? Sakho’ alias kedermawanan, nyah-nyoh, yang dimiliki oleh manusia yang punya kelapangan jiwa dan kekayaan hati. Seseorang yang punya sifat ini tidak pernah memperhitungkan konsekwensi tindakan dermawannya. Dia tahu apabila perbuatannya ini tidak akan membuatnya kere, miskin, justru malah menaburkan benih-benih kesuburan hartanya dan melembutkan sensifitas perasaannya. Dan, lucunya, dia biasanya cuek dengan timbal baliknya. Sebab, yang dia tuju cuma dua, membantu sesama dan meraih ridla Sang Mahakaya. Itu saja.

Dalam Risalah Qusyairiyah, dijelaskan apabila sakho’ menjadi tahapan termudah seorang sufi menapak tangga ruhaniah. Sakho’ adalah tahapan awal menuju jud (murah hati), dan yang terakhir adalah itsar. Jika sakho’ berarti memberi sebagian sekaligus menyimpan sebagian lain, jud berarti memberi porsi yang lebih besar sekalgus menyisakan sedikit untuk diri sendiri, maka itsar bermakna mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. memberikan semua yang dimiiki tanpa memperhitungkan diri sendiri.


Kalau saya menyodorkan sifat itsar yang dimiliki oleh mertua Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq, dan Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu anhuma, di mana dalam salah satu cerita saling berkompetisi dalam hal kedermawanan, tentu pembaca akan menyentil, “Ya iyyalah, beliau berdua kan generasi emas era Rasulullah, nggak heran.” Demikian pula saat saya kutip realisasi itsar-nya Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, dan generasi salaf yang saleh. Mereka adalah generasi terbaik didikan Rasulullah yang masing-masing sangat kuat sifat “Kantong Bolong”-nya.

Kalau terlampau jauh mencari contoh, baiklah, saya ambil yang dekat saja. Ibu Ny. Halimah Abdurrahim, adik KH. Maimoen Zubair, adalah seorang perempuan salehah yang terkenal dengan sifat kedermawanannya. Para santri, kerabat dan para sahabat mengenangnya sebagai perempuan yang kuat sifat sakho’-nya. Siapapun yang berkunjung ke kediamannya, bisa dipastikan diwajibkan makan, dan apabila pulang biasanya dikasih buah tangan. Beliau tak pernah berpikir kalau perbuatannya bakal merugikan dirinya. Sebab harta benda di matanya adalah salah satu metode menyenangkan orang lain dan memperoleh ridla-Nya.

Kiai Hamid, Pasuruan, yang terkenal sebagai waliyullah, adalah salah satu contoh tepat realisasi Kiai Kantong Bolong ini. Seringkali beliau menerima salam tempel dari para tamunya. Amplop diterima, dimasukkan sakunya. Lantas, ketika ada tamu lain datang dan mengeluhkan kondisi ekonominya yang mepet, ataun kebutuhannya yang berjibun tapi tak punya fulus, Kiai Hamid langsung mengambil amplop di sakunya dan memberikannya kepada tamunya tersebut. Kadang satu amplop, seringkali malah lebih, yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Kiai Hamid menyediakan dirinya sebagai “pipa” yang menjadi lantaran rizki orang lain. Beliau menjadikan dirinya wasilah kebutuhan orang lain: yaitu mereka yang butuh memberi dan butuh menerima pemberian. Kantongnya bolong, blong, oleh karena itu tidak ada harta yang nyantol di sakunya, apalagi di hatinya. Tidak ada rasa takut miskin, tak ada kekhawatiran menjadi fakir. Semua mengalir.

Kiai Kantong Bolong dalam kemasan jenaka hadir dalam diri Gus Dur. Sebagai Ketua Umum PBNU, bisa saja beliau menjual nama NU untuk kepentingan pribadi. Sebagai Presiden RI-4, beliau sangat bisa selintutan menerima upeti dari mereka yang berkepentingan, maupun menerima pos-pos jabatan kosong agar ditempati kerabat dekatnya, sebagai direksi perusahaan ini-itu, dan sebagainya. Atau, posisinya sebagai “bapak Tionghoa” memungkinkannya menjaring upeti dari koneksinya dengan berbagai pengusaha Tionghoa. Tapi tidak, Gus Dur tidak melakukannya.

Dalam kesederhanaan dia menghidupi keluarganya dengan menulis di media massa, maupun mengisi seminar. Lantas di mana letak kantong bolongnya? Letak Tarekat Petruk-iyahnya? Semangat ini ada ketika beliau berada di pusat-pusat “kemakmuran” tapi tidak memanfaatkan untuk memperkaya dirinya. Dia sudah mengosongkan dirinya dari hal-hal semacam itu.

Salah seorang pendereknya melihat, ketika lebaran tiba, Gus Dur banyak disowani berbagai kalangan. Nyaris semua memberi salam tempel kepadanya. Gus Dur menerimanya dan menaruhnya di samping kaki kursi tempat duduknya. Menumpuk di situ. Apabila ada tamu datang yang mengeluhkan kebutuhan ekonominya, biaya sekolah anak, beras habis, biaya persalinan istri, Gus Dur langsung mengambil beberapa amplop di kakinya dan menyodorkannya.

Dalam buku “Sang Zahid”, Kiai Husein Muhammad menuturkan bagaimana Gus Dur secara reaktif dan cepat membantu kebutuhan orang lain, meskipun di saat yang sama sebenarnya beliau juga membutuhkannya.

Dalam salah satu hadits, Rasulullah mengqiyaskan apabila Sakho’ diumpamakan pepohonan surga, sedangkan cabang-cabangnya menjulur berjuntai ke dunia, barangsiapa yang berpegangan dengan cabang satu dari pohon itu, maka cabang itu akan mengantarkan ke surga. Sebaliknya, sifat bakhil akan mengantarkan jalan ke neraka.

Namun sakho’ itu harus tepat. Sebab, kalau tidak tepat, malah menyalahi sifat mulia ini. Para politisi bagi-bagi proyek bukan manifestasi dari sifat sakho’, melainkan tamak. Sebab, secara kurang ajar mereka menghamburkan uang rakyat untuk kepentingan politik pribadi, untuk memperkuat jaringan, serta sebar uang untuk sogok ini itu. Megakorupsi Bank Century, Hambalang, dan  saat ini proyek e-KTP adalah buktinya.

Menutup tulisan ini, cara mudah memahami falsafah kantong bolong adalah dengan mengutipnya dari ungkapan filsuf Jawa, RM. Soskrokartono, yang menuliskannya pada 12 Nopember 1932: Nulung Pepadane, ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong. Yen ono isi lumuntur marang sesami (menolong sesama tanpa peduli waktu, perut, kantong. Bila ada sesuatu, diperuntukkan kepada sesama manusia). [dutaislam.com/gg]

Rijal Mumazziq Z,
Pengajar STAI Al-Falah Assunniyyah Kencong Jember


Resource Berita : dutaislam.com
close
Banner iklan disini