Melepas Ikatan Dunia yang Fana



WartaIslami ~ Sesungguhnya hati ini sedang sakit. Sakit karena hati ini tak pernah merasa dekat dengan Sang Pemiliknya, Allah. Selalu lupa terhadap-Nya, tak lagi mengindahkan nama-Nya, dan selalu bergeming, seakan kita tak lagi membutuhkan-Nya dan tak ingin lagi mencari-Nya. Sungguh ini adalah sakitnya hati yang luar biasa yang sewaktu-waktu bisa membunuh keimanan kita pada Tuhan telah menciptakan kita.

Hati yang sakit akan mudah sekali untuk menentang sesuatu yang selama ini telah berbaik hati pada kita. Hati yang sakit akan memunculkan beragam sifat buruk dan perilaku yang tercela. Hati yang sakit akan menyebabkan sakitnya jasmani kita. Hati yang sakit akan selalu haus akan keserakahan dunia. Hati yang sakit akan sulit menyerap perkatan bijak, kecuali dengan hidayah Allah. Dan hati yang sakit akan merusak dimensi keimanan dalam qalbu seseorang. Oleh karena itu, hati yang sakit lebih berbahaya ketimbang sakit hati karena dikecewakan suatu hal.
Lalu, apa penyebab hati bisa sakit? Tak lain dan tak bukan, karena kita menggantungkan hati pada sesuatu yang fana (yang rusak), selalu berharap pada sesuatu yang fana, dan mencintai dengan kadar cinta yang tinggi terhadap yang fana pula.

Tatkala hati ini digantungkan pada sesuatu yang fana, maka hati akan mudah gelisah, cemas, penuh gejolak, dan ketakutan, sebab sesuatu yang fana itu takut terlepas dari kita, padahal yang fana tetaplah fana, akan hancur dan binasa, hanya tinggal menunggu waktu saja. Maka, semestinya hati ini kita gantungkan pada sesuatu yang kekal abadi, kepada Allah semata, agar hati ini senantiasa teguh, pantang menyerah, dan penuh dengan harapan yang cemerlang, sebab hati kita telah digantungkan pada sesuatu yang kekal, yang selamanya akan tetap ada, dan tidak pernah termakan masa.
Kita tak akan menemukan kemantapan dan kedamaian yang kekal, sampai ketergantungan kita disandarkan pada sesuatu yang kekal pula. Bagaimana bisa kita menemukan sesuatu yang kekal, jika kita terus menerus bersandar pada yang fana? Kita yang fana diciptakan untuk mencari, mencintai, dan bergantung pada yang kekal, sebab secara logika dasar, kita yang lemah ini akan sangat rugi jika bergantung pada yang lemah pula.

Bukankah dalam Al-Quran, Allah telah berfirman yang demikian,
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl [16]: 96)
Allah selalu memberikan kita anugerah yang tiada terbatas. Tapi, apa yang terjadi dengan kita tatkala mendapat anugerah tersebut? Justru kita berbalik arah dari Sang Pemberi anugerah, kita lebih memilih untuk bergantung pada anugerah itu, bukan pada pemberi anugerahnya. Padahal anugerah itu sifatnya fana, namun kita telah terhipnotis untuk mencintai anugerah tersebut secara berlebihan.

Ketika Allah menganugerahi kita kekayaan, maka kita lupa kepada-Nya. Ketika Allah memberikan kita jabatan atau pangkat tinggi, kita malah bergantung pada jabatan itu, bukan kepada-Nya. Ketika kita dianugerahi anak-anak dan keluarga, maka kita terhalangi untuk mencintai-Nya. Dan ketika Allah mengambil semua anugerah itu, tanpa berpikir mendalam lagi, maka kita semakin meninggalkan-Nya. Padahal, semua yang kita miliki adalah anugerah dari Allah, dan tatkala Allah menarik kembali anugerah itu, maka sepantasnya kita berpasrah pada-Nya, bukan mengingkari-Nya.

Selama ini, ketika anugerah itu datang, kita terlalu berlebihan untuk menerimanya, seakan itu adalah ciptaan kita, seakan itu adalah buah manis dari usaha kita, padahal semua itu hanyalah semata-mata karena kecintaan Allah pada kita. Seandainya saja manusia berpikir bahwa yang kita miliki hanyalah hadiah dari Allah, mugkin manusia tidak akan menyekutukan Allah dengan hadiah (anugerah) yang Dia berikan pada manusia.

Kesalahan kita selama ini hanya pintar menikmati anugerah tersebut, tanpa berpikir siapa pemberi anugerah itu. Sehingga manusia lebih banyak berharap pada anugerah, bahkan tidak bisa hidup tanpa adanya anugerah tadi, ketimbang berharap kepada Sang Pemberi Anugerah.
Anugerah yang Allah berikan kepada kita hendaknya, janganlah sekali-kali kita menyakiti ‘perasaan’ Allah dengan menyekutukan-Nya dengan anugerah yang Dia berikan. Sebab anugerah yang kita miliki adalah milik Allah, yang kapanpun Dia berhak mengambilnya kembali. Namun, disaat kita senantiasa bergantung pada Allah, Sang Pemberi Anugerah, disaat anugerah itu Dia ambil kembali, maka yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dengan susuatu yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Artinya, semua yang diberikan dan dianugerahkan oleh Allah kepada kita, namun, kita selalu bergantung pada Allah, bukan bergantung pada anugerah itu, maka yakinlah, disaat Allah mengambil anugerahnya untuk memastikan posisi hati kita, maka pasti dan pasti bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Cobalah kita bayangkan. Seandainya kita seorang pejabat tinggi, entah itu menteri atau bahkan presiden, suatu saat kita berada di tengah gurun, kita kehausan yang sangat luar biasa, dan tak lama kemudian datanglah seorang yang membawa segelas air. Segelas air itu ditawarkan kepada kita asalkan jabatan kita diberikan kepadanya. Lalu, apa yang akan kita lakukan?

Pastilah kita memilih untuk mendapatkan segelas air itu. Demi memenuhi maslahah kehidupan dasar. Jika pilihanmu demikian, maka buat apa kita mengejar-ngejar jabatan jika jabatan itu tidak lebih dari sekedar segelas air? Malah lebih berharga segelas air itu ketimbang jabatanmu.
Oleh sebab itu, sungguh rugi orang-orang yang terus mengejar duniawi, yang terpesona dengan keduniaan, sehingga nafsu meguasai dirinya. Padahal duniawi tak pernah membuatmu lepas dari dahaga, dunia tak akan pernah memberimu kepuasan. Maka, Allah adalah yang mempunyai telaga yang airnya tak akan pernah kering, disanalah kita akan terus mendapatkan kenyang, dan bebas dari dahaga.

Untuk itu, jangan biarkan hati ini menjadi sakit dan sakit-sakitan karena duniawi, karena sesuatu yang fana. Jangan biarkan hati ini bergantung pada segala sesuatu selain Allah. Jangan biarkan harta, tahta, wanita, dan bencana menjadikan kita berpaling dan lupa kepada-Nya. Jangan biarkan hablun minallah terputus oleh fatamorgana dunia yang berupaya menghipnotis kita. Kelak, ketika kita tersadar dari hipnotis tersebut, maka kita akan menyesal dengan penyesalan mendalam, sebab tubuh yang fana ini dengan batas usia yang sekejap saja harus disia-siakan demi sesuatu yang fana pula.

Dengan kata lain, dunia seharusnya menjadi alat agar kita lebih dekat dengan Allah, Sang Pencipta. Bukan sebaliknya, menjadikan dunia sebagai sekutu bagi Allah. Sebab, tiada yang pantas untuk disekutukan dengan Allah, termasuk dunia sekalipun. Dengan ber-tadabbur dan menikmati dunia yang telah diberikan-Nya kepada kita, hendaknya menjadikan hati ini semakin kagum dan bersyukur, bukan menjadi kufur.



Resource Berita : muslimoderat.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Melepas Ikatan Dunia yang Fana"

Post a Comment

close
Banner iklan disini