Mengembangkan Dakwah Tasamuh



WartaIslami ~ Islam mewajibkan kepada para pemeluknya untuk menyampaikan pesan-pesan Islam melalui dakwah, yaitu panggilan kepada kebenaran agar manusia yang bersangkutan dapat mencapai keselamatan dunia dan akhirat (Q.S. 16:125;22:67; 41:33). Karena dakwah merupakan ”panggilan”, maka konsekuensinya adalah bahwa ia harus tidak melibatkan pemaksaan – lâ ikrâha fid-dîn (Q.S.2:256). Dengan demikian jelas, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain; dan mempersilakan para pemeluk agama lain tersebut untuk menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing. Di sinilah letak dasar ajaran Islam mengenai toleransi antarumat beragama.

Kaitan dengan hal tersebut ada sebuah tesis yang ditulis oleh Fajriatul Mustakharah Mahasiswa UIN Walisongo dengan judul “pemikiran KH Abdurrahman Wahid tentang dakwah tanpa kekerasan” kesimpulan tesis tersebut menyatakan bahwa, dakwah tanpa kekerasan yang dikonsepkan oleh KH Abdurrahman Wahid adalah hidup bersama untuk saling menghargai paham dan pendapat orang lain, meliputi suku bangsa, keyakinan beragama, dan lain-lain.Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, apalagi dengan melihat kondisi Indonesia dengan berbagai macam etnik, suku, budaya, dan agama karena itu untuk menciptakan sebuah kerukunan ditengah pluralis bangsa, prinsip toleransi atau tasamuh mutlak dibutuhkan.

Dakwah Islam yaitu mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dakwah menjadikan perilaku muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnya melibatkan unsur: dai (subjek), maddah (materi), thariqah (metode), washilah (media), dan mad’u (objek) dalam mencapai maqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuan Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (Saputra, 2011: 3).

Istilah toleransi akan selalu berkaitan dengan nilai dan perilaku. toleransi berasal dari bahasa Inggris tolerance atau tolerantia dari bahasa Latin. Kurang lebih diartikan dengan “saling memahami, saling mengerti, dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan”. Dalam terminologi Islam, istilah yang dekat dengan toleransi adalah tasamuh meskipun tidak sepenuhnya sama maknanya, namun secara esensial mengandung tujuan yang diinginkan, yaitu saling memahami, saling menghormati, dan saling menghargai sebagai sesama manusia.

Kasih dan damai merupakan jantung ajaran agama, karena merupakan kebutuhan kemanusiaan. Al-Qur’an mencoba mengembangkan moralitas tertinggi dimana perdamaian merupakan komponen terpenting. Kata ’Islam’ diderivasi dari akar kata ’silm’ yang berarti ”kedamaian.” Visi kasih dalam Islam dibangun di atas dua pilar, yaitu individu dan masyarakat. Hubungan individu-individu yang saleh dan damai akan membentuk masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat yang berdasarkan pada tiga pilar: keadilan politik, yang disebut dengan demokrasi; keadilan ekonomi, yang disebut dengan kesejahteraan dan pemerataan; dan keadilan sosial, yang disebut dengan persamaan dan tersedianya akses politik.

Damai dan kasih adalah merupakan cita-cita agama dan bangsa yang sudah lama dinanti-nantikan oleh pendiri bangsa ini dan sekaligus oleh Islam sendiri. Namun kita tidak bisa menutup mata meskipun toleransi sering dikibarkan namun selalu ada problem dalam mengangkat cita-cita mulia itu. Setidaknya ada sejumlah faktor yang menghambat terwujudnya toleransi menurut Dr. Aceng Muchtar Ghazali sebagaimna yang dimuat di website UIN Sunan Gunung Jati Bandung dengan judul “Membangun Kerukunan Lewat Madrasah” faktor penghambat terwujudnya toleransi yaitu: pertama, pemahaman agama. Seringkali persoalan keagamaan yang muncul terletak pada penafsiran dan pemahaman. Dialog antar agama harus menjadi wacana sosiologis dengan menempatkan doktrin keagamaan sebagai pengembangan pemuliaan kemanusiaan. Kita bisa lihat akhir-akhir ini konflik antarumat beragama misalnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita sebagai masyarakat yang sudah matang dan dewasa pemikirannya seharusnya tidak melihat sebuah konflik dalam skala sempit namun juga harus dalam skala luas. Konflik terjadi tidak serta merta atas atau karena agama bisa jadi karena faktor politik, ekonomi, dll. Karena sejatinya agama itu hadir sebagai pemersatu umat manusia. Semakin matang dan dewasa pemahaman keagamaan seseorang maka akan semakin adil, damai, dan sejahteralah dalam memperlakukan orang lain, karena memang demikian sesensi dari beragama.

Kedua, klaim kebenaran (truth claim). Masing-masing bersikukuh dengan pendapat yang diyakininya bahkan tak segan-segan dengan tindakan anarkisme. Sikap takfiriah pun menjadi jargonnya, setiap yang berbeda dengan pemahaman dan cara pandangnya ia kafirkan dan tak segan-segan memvonisnya sebagai penduduk neraka. Sikap-sikap tersebut dalam konteks berbangsa dan bernegara tentu akan merusak persatuan dan kesatuan berbangsa apalagi dengan kondisi Indonesia yang heterogen dan multikultural akan menjadi tantangan berat untuk menciptakan sebuah peradaban bangsa yang berkeadilan dan berkemajuan.

Dakwah Rahmatan lil alamin

Dakwah yang mengedepankan toleransi dan kesantunan adalah mutlak dibutuhkan untuk membumikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Orientasi dakwah rahmatan lil’alamin adalah supaya Islam tidak dianggap sebagai lawan terhadap agama-agama selain Islam dan memberikan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang mendukung prinsip perdamaian, toleransi, dan mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan (humanitis), Islam melarang membunuh anak-anak, wanita-wanita, janda-janda tua, Islam melarang menghancurkan Gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Sejatinya warga dunia tidak lagi memandang Islam sebagai sebuah agama kekerasan yang mesti dijauhi dan dicurigai. Dalam sebuah tayangan di Youtube seorang pendeta ketika berpidato di sebuah gereja mengomentari salah seorang kawannya yang menjadi pendeta yang mengeluarkan pernyataan bahwa pasca-serangan 11/9 sebagai “hari pembakaran Al-Quran”, seorang Pendeta tersebut menyatakan bagaimana bisa seorang Pendeta yang menjaga tempat Tuhan mengeluarkan pernyataan seperti itu? Yesus pun kalau diminta pendapatnya tidak mungkin akan mengeluarkan pernyataan demikian, Yesus sangat menghargai kitab-kitab suci agama lain, karena kitab suci itu mebawa pesan-pesan perdamaian. Lantas Pendeta tersebut mempertanyakan siapa yang ia wakili mengeluarkan pernyataan seperti itu? Ia menyatakan serangan 11/9 tidak boleh kita menyalahkan Islam sebagai sebuah agama tetapi kalau memang benar terlibat bahwa dalang dari peristiwa 11/9 itu ada oknum yang beragama Islam yang disalahkan adalah secara personal. Karena Islam menurutnya tidak mengajarkan kekerasan, dari segi maknanya Islam berarti damai, tunduk, dan pasrah. Jadi, seorang pemeluk Islam yang taat adalah seseorang yang tunduk, patuh, dan pasrah kepada Allah, tentu Allah adalah Tuhan simbol kebaikan dan pemberi rahmat bagi umat manusia.

Memandang Islam sebagai sebuah agama yang damai sebenarnya sudah banyak diakui oleh agama-agama lain. Pelaku kekerasan, pengeboman, hingga salah faham makna jihad sudah sedikit demi sedikit mulai mereda, bahkan banyak tokoh-tokoh agama di luar Islam sudah memahami bahwa tindakan brutal tersebut di luar makna Islam yang sebenarnya. Mereka memahami bahwa golongan fundamental dalam Islam yang kemudian melegalkan pembunuhan masal atau bunuh diri serta pengrusakan adalah bukan dari Islam, mereka menyadari pelaku-pelaku kekerasan atau teroris tersebut adalah segelintir orang yang salah memahami teks kitab suci. Mereka-mereka itu adalah korban golongan fundamental yang diiming-imingin janji manis syurga dan bidadari-bidadari sehingga mampu merelakan dunianya demi janji kenikmatan yang jauh lebih abadi di akhirat. Karena itu dakwah yang orientasinya rahmatan lil’alamin harus semakin digencarkan oleh umat Islam menyentuh seluruh lapisan masyarakat. dakwah rahmatan lil’alamin itu harus meliputi; dakwah yang mencakup kehidupan realitas sosial umat, dakwah ingklusif, dakwah yang toleran terhadap agama-agama lain, dakwah yang berisi perdamaian, substansi dakwahnya lebih kepada pembangunan sosial dan kerukunan dari pada hanya sebuah doktrin yang berujung fanatisme.


Penulis adalah pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta



Resource Berita : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Mengembangkan Dakwah Tasamuh"

Post a Comment

close
Banner iklan disini