Orang yang Mengaji Kitab Kuning tapi tidak Tahu Ruju’ Dhomir, berarti tidak punya Hati



WartaIslami ~ Meskipun usia KH. Maimoen Zubair sudah sangat sepuh, beliau masih dapat mengingat dengan jelas banyak kenangan-kenangan beliau ketika masih mondok di Ponpes Lirboyo.

Salah satu kenangan beliau yang sempat beliau ceritakan dalam haul dan haflah akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo Jumat (05/05) kemarin, adalah pengalaman mengaji dengan KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo. Memang, beliau yang sering dikenal dengan Mbah Moen merupakan salah satu alumni senior yang masih menangi (menjumpai) KH. Abdul Karim, dan sempat mengaji langsung dengan KH. Abdul Karim.

Beliau ketika mengaji dulu, memilih tempat duduk di belakang KH. Abdul Karim, atau lebih akrab dengan nama Mbah Manab. Sementara di depan beliau, Mbah Manab menghadap para santri dan membacakan kitab. Salah satu kekaguman Mbah Moen adalah tentang kitab Mbah Manab yang kosongan, tidak ada maknanya.  Namun dapat beliau baca dengan lancar.

“Kulo nek ngaji neng mburine Mbah Manab, ambek ndelok. Kulo gumun, Mbah Manab niku ora koyo kiai akeh. Ora ono kiai koyo Mbah Manab. Ora tau nggowo Munjid, ora tau nggowo qomus. Gak tau mikir makno.” (Saya kalau mengaji di belakang Mbah Manab. Sekalian melihat kitab beliau. Saya heran, Mbah Manab itu tidak seperti kebanyakan kiai lainnya. Tidak ada kiai yang seperti Mbah Manab. Beliau tidak pernah membawa Munjid, tidak pernah membawa kamus, tidak pernah memikirkan makna.) Kenang Mbah Moen.

“Tak delok sampek nek mburine, gak ono sah-sahane. Neng aku msuykil, kok gak tau gelem ngrujuki dhomir.” (Saya lihat kitab beliau sampai dibelakang beliau. Tidak ada maknanya. Tapi saya merasa janggal, kok beliau tidak pernah memberikan rujuk dhomir.) Lanjut Mbah Moen. Ruju’ dhomir merupakan bahasa khas pesantren,  yang maksudnya adalah kembalinya kata ganti orang kedua atau orang ketiga.

“Wahuwa, utawi iyo. Wa dzalika, utawi mengkono-mengkono.”Ungkap Mbah Moen menirukan gaya khas membaca kitab Mbah Manab, yang segera disambut tawa riuh hadirin.
Beliaupun akhirnya menanyakan hal tersebut kepada santri-santri senior lain. Ternyata dahulu Mbah
Manab pernah menjawab hal tersebut.

“Sampek tak takok-takok, jawabe Mbah Manab niku (Sampai saya bertanya-tanya, jawaban Mbah Manab adalah), ‘al-dhomir fi al-dhomir. Faman lam ya’rif marji’a al-dhomir, falaisa lahu dhomir.’” Kata Mbah Moen.

“Wong kok ngaji ora ruh rujuke dhomir, gak nduwe ati.” Tandas Mbah Moen menerjemahkan dawuh Mbah Manab yang berbahasa Arab tersebut. Dawuh singkat Mbah Manab tersebut beliau artikan sebagai, “Orang yang mengaji tapi tidak tahu ruju’ dhomir, berarti tidak punya hati.”.

Itu tadi sekelumit kisah-kisah unik kiai salaf dalam mendidik santri. “Di pesantren itu sudah biasa guru hanya mengaji saja, membaca saja, tidak diterangkan. Namun muridnya malah lebih alim, bisa menerangkan. Itu banyak sekali,” tutur KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam suatu kesempatan yang lain.



Resource Berita : muslimoderat.net
1 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

1 Response to "Orang yang Mengaji Kitab Kuning tapi tidak Tahu Ruju’ Dhomir, berarti tidak punya Hati "

  1. BONUS 100rb Di bulan AGUSTUS !
    Daftar dan Ambil BONUS nya
    dewasabungayam
    Perlayanan Cepat Dan Ramah
    Support Semua Bank Indonesia
    whats up : 6281377055002
    BBM: D8C363CA (NEW)

    ReplyDelete

close
Banner iklan disini