Innalillah !! Tentara Myanmar Kejam dan Menggila, Bunuhi Bayi-bayi Rohingya, Bakar Masjid

Innalillah !! Tentara Myanmar Kejam dan Menggila, Bunuhi Bayi-bayi Rohingya, Bakar Masjid



WartaIslami ~ Ribuan warga Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh setelah desa-desa mereka dibakar oleh tentara Myanmar menyusul serangan militan ke pos-pos militer. Militer Myanmar menggila, menghanguskan desa-desa dan membunuhi warga Rohingya, tidak peduli wanita atau bayi sekalipun.

Pemerintah Myanmar mengatakan sedikitnya 109 orang tewas dalam serbuan militer, termasuk militan, polisi dan warga sipil. Namun para aktivis pembela Rohingya mengatakan korban tewas jauh lebih banyak dari itu, sedikitnya 800 orang Rohingya dibunuh. Jumlah ini tidak bisa dikonfirmasi.

Seorang warga Rohingya di Maungdaw, negara bagian Rakhine, mengatakan desanya diserbu tentara pada Jumat pagi pekan lalu. Para tentara yang seharusnya melindungi mereka itu malah melepaskan tembakan membabi buta ke arah warga.

"Tentara pemerintah dan polisi perbatasan setidaknya membunuh 11 orang di desa saya. Ketika mereka tiba, mereka mulai menembak semua yang bergerak. Beberapa tentara melakukan pembakaran," ujar Aziz Khan seperti dikutip media Al-Jazeera.

Peluru tentara Myanmar seakan buta, tidak peduli yang siapa yang diterjangnya. Wanita dan anak-anak Rohingya, bahkan yang masih bayi, meregang nyawa.

"Wanita dan anak-anak di antara mereka yang tewas. Bahkan tidak ada ampun untuk bayi," lanjut Aziz lagi.

Pemerintah Aung San Suu Kyi mengirim tentara menyerbu desa-desa itu dengan dalih memberantas terorisme. Pekan lalu, sembilan tentara tewas setelah militan pemberontak Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (Arsa) menyerang pos-pos mereka.

Tentara Myanmar kini mengepung wilayah Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung, rumah dari 800 ribu orang dan menerapkan jam malam dari pukul 6 sore hingga 6 pagi.

Pemerintah Suu Kyi justru menyalahkan teroris yang telah membakar rumah-rumah warga Rohingya. Namun kesaksian di lapangan justru sebaliknya, tentara Myanmar membunuhi warga.

Rezim Suu Kyi juga menutup akses masuk bagi jurnalis ke Rakhine untuk melaporkan keadaan di sana. Pengawas internasional juga dilarang memantau kondisi Rohingya.

Aktivis Rohingya di Eropa, Ro Nay San Lwin, mengatakan antara 5.000 hingga 10 ribu orang Rohingya terusir dari rumah mereka. Dia mengatakan, masjid-masjid dan madrasah milik Rohingya dibakar.

"Paman saya terpaksa kabur dari pemerintah dan militer. Tidak ada bantuan dari pemerintah, malah rumah mereka dihancurkan dan barang-barang mereka dijarah," kata San Lwin.

Mengutip media Arakan Times, situs berita komunitas Rohingya, tentara Myanmar telah membakar sedikitnya 1.000 rumah sejak Sabtu hingga Senin lalu.

Saat ini sekitar 6.000 warga Rohingya tertahan di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Pemerintah Bangladesh menolak mereka masuk, bahkan mengembalikan ke Myanmar, untuk menemui ajal.

Situasi yang memburuk di Myanmar membuat Muslim Rohingya dihinggapi ketakutan, apalagi banyak gambar-gambar korban pembantaian tersebar di WhatsApp.

"Orang-orang membagikan video pembunuhan di WhatsApp. Video anak-anak dan perempuan dibunuh. Orang tidak berdosa ditembak mati. Anda tidak bisa bayangkan betapa ketakutannya kami," kata seorang warga di Buthidaung, Myint Lwin.

"Tidak ada yang ingin meninggalkan rumah. Muslim takut keluar, ke rumah sakit, ke pasar, kemana-mana. Situasinya sangat berbahaya," lanjut dia.









Resource Berita : muslimoderat.net
Lahir 17 Agustus 2017, Bayi ini Diberi Nama "Indonesia"

Lahir 17 Agustus 2017, Bayi ini Diberi Nama "Indonesia"



WartaIslami ~ Nama adalah doa dan harapan. Orangtua memberi nama anaknya dengan penuh arti. Seperti juga dilakukan oleh pasangan Kuncora Bambang Nugraho dan Lilis Setiawati asal Sawit, Boyolali, Jawa Tengah yang menamai anak keduanya dengan nama Indonesia.

Indonesia lahir di tanggal istimewa pada Kamis, 17 Agustus 2017, yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-72 RI. Bayi lelaki ini lahir di RSUD Pandan Arang, Boyolali, Jawa Tengah pada pukul 08.20 WIB. Bobot tubuhnya saat lahir terbilang tak biasa, yaitu 4 kg dan panjang 50 cm.

Kuncora, sang ayah menuturkan penamaan anak kedua itu bukan tanpa alasan. Ia sudah memiliki mimpi untuk menamai anaknya dengan nama Indonesia sejak kelas 3 SD. Saat masih kecil, setiap 17 Agustus, ia selalu mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI.

"Indonesia itu besar, setiap tanggal 17 selalu diperingati, " kata Kuncora yang saat ini menjadi staf Disperindag UPT Nogosari di Boyolali, Rabu, 30 Agustus 2017.

Keinginan itu tertanam terus pada dirinya. Tapi keinginan itu belum terealisasi mengingat ia tak kunjung menikah. Sebelum menjadi staf di Disperindag, Kuncora melakoni tugas PNS sebagai Sekretaris Desa Kateguhan, Sawit, Boyolali yang terbiasa mengurusi surat menyurat di kelurahan.

"Karena sering mengurus surat-surat itu saya niteni, anak yang lahir bulan Januari-Februari senang baju. Kalau lahir bulan Agustus, biasanya anaknya itu memiliki pendirian kuat dan tangguh. Makanya saya kalau punya anak, harus lahir bulan Agustus. Tapi kok saya belum nikah-nikah, " kata Kuncora dengan tertawa.

Akhirnya yang dinanti pun tiba. Pada 2012 saat dirinya berusia 44 tahun, ia menikahi gadis bernama Lilis Setiawati yang berusia 23 tahun. Selepas menikah, Kuncora pun mencoba merealisasikan mimpinya, memiliki anak yang lahir pada 17 Agustus.

"Anak pertama lahir bulan Agustus tapi tanggal 5. Mau saya kasih nama Indonesia kok nggak cocok. Akhirnya saya kasih nama Naufal Indra Nugraha," tutur Kuncora.

Kuncora bersama istri kemudian merencanakan anak yang kedua. Setiap malam, dia selalu memanjatkan doa agar anaknya bisa lahir pada 17 Agustus. "Saya cinta sama Indonesia, saya ingin punya anak dinamai Indonesia, " kata dia.
Doa membuahkan hasil. Sang istri yang sedang hamil, masa Hari Perkiraan Hamil (HPL) dinyatakan antara 17-20 Agustus 2017. Kegembiraannya membuncah saat mendengar hal itu. Ia pun gerak cepat dengan mendaftarkan proses persalinan pada tanggal 17 Agustus lewat proses caesar di salah satu rumah sakit swasta di Klaten. "Yang anak pertama juga caesar, " ucap dia.

Namun karena proses persalinan pada tanggal itu merupakan tanggal merah, ia tidak bisa memakai BPJS. Ia pun harus merogoh kocek Rp 8,5 juta.
Tak kehilangan akal, ia mengajukan bantuan kepada Bupati Boyolali, Seno Samodra agar proses persalinan digratiskan. Permintaan itu dikabulkan tetapi dengan syarat mereka harus pindah ke rumah sakit milik Pemerintah Daerah Boyolali.

"Istri saya ditelepon untuk masuk ke RSUD Pandan Arang pada 16 Agustus pukul 10.20 WIB. Dan anak kedua saya lahir dengan nama Indonesia pada Kamis, 17 Agustus sekitar pukul 08.00 WIB, " ungkap Kuncora.

Nama Indonesia sengaja disematkan kepada anak keduanya. Baginya Indonesia adalah merupakan sebuah berkah, di mana semua kepulauan bisa dirangkul bersama dalam NKRI. Selain kecintaannya
pada Indonesia, Kuncora selebihnya menggunakan ilmu gotak-gatuk (otak-atik).

"Kalau tanggal istimewa 17-8-2017 dengan awalan akhiran 17 maka itu akan terjadi lagi 1.000 tahun kemudian alias 17-8-3017," kata Kuncora.



Resource Berita : muslimoderat.net
Ini Bacaan Doa di Antara Takbir Shalat Ied

Ini Bacaan Doa di Antara Takbir Shalat Ied



WartaIslami ~ Kita dianjurkan bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama sembahyang Id setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, sebelum membaca Surat Al-Fatihah. Sementara pada rakaat kedua kita dianjurkan bertakbir sebanyak lima kali.

Adapun jeda di antara satu ke lain takbir kita dianjurkan untuk membaca zikir berikut ini.
سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Subhânallâh, walhamdulillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar, wa lâ haula walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil azhîm.

Artinya, “Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Dia, Allah mahabesar, dan tiada daya serta upaya selain berkat pertolongan Allah yang mahatinggi lagi mahaagung.”

Bacaan ini disarikan dari Busyral Karim halaman 355 karya Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin. Wallahu a‘lam.



Resource Berita : muslimoderat.net
Bersama Pemerintah dan 11 Ormas, NU Bentuk Aliansi Kemanusiaan untuk Rohingya

Bersama Pemerintah dan 11 Ormas, NU Bentuk Aliansi Kemanusiaan untuk Rohingya



WartaIslami ~ Komitmen kemanusiaan untuk minoritas di Rohingya terus dilakukan melalui beberapa langkah serius oleh Nahdlatul Ulama. Salah satu langkah yang dilakukan NU dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri bersama 11 ormas lainnya Membentuk Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Rohingya.

Bersama pemerintah, aliansi ini menggalang bantuan kemanusiaan yang meliputi bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan.

Ormas-ormas tersebut berdiskusi dan merumuskan langkah kongkrit dengan Kemenlu untuk membantu menyelesaikan tragedi kemanusiaan yang menimpa minoritas di Rohingya.

Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini mengatakan, apa yang menimpa kaum minoritas di Rohingya harus mendapatkan perhatian serius dan juga langkah kongkret dari berbagai pihak.

"Saya memandang harus ada upaya serius untuk meresolusi konflik dan tragedi kemanusiaan yang ada di Rohingya.
Hari ini kita berkumpul di Kemenlu ini dalam rangka merumuskan langkah, strategi, serta kebijakan apa yang harus diambil dalam meredam dan menyelesaikan Tragedi kemanusiaan di Rohingya itu,” ujar Helmy, Kamis (31/8) usai berdiskusi dengan Menlu Retno LP. Marsudi.

Helmy menambahkan bahwa apa yang menimpa minoritas di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan yang nyata. "Ini bencana kemanusiaan. Maka tidak bisa kita hanya memakai sudut pandang sempit serta mensimplifikasinya hanya soal urusan agama dan keyakinan," terangnya.

Oleh karena yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan, lanjut Helmy, maka semua harus ikut bertanggung jawab atas nama kemanusiaan.

Selain NU, di antara ormas yang hadir ialah Muhammadiyah, Darul Da’wah wal-Irsyad (DDII), Al-Irsyad, Mathlaul Anwar, Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), Ikadi, dan ormas lainnya.



Resource Berita : muslimoderat.net
Hilangnya Siksa Kubur Karena Maulid

Hilangnya Siksa Kubur Karena Maulid



WartaIslami ~ Kejadian ini di zaman Habib Atthas al Habsyi. Beliau punya murid yang sudah meninggal. Murid itu punya anak yang nakal, setiap minggu anak itu mengajak teman-temannya melihat film porno di rumah peninggalan ayahnya.

Suatu malam anak itu bermimpikan hendak ziarah ke makam ayahnya. Sebelum ia sampai di makam ayahnya ia mencium bau busuk lagi menyakitkan, dan anak itu melihat bentuk ayahnya sangat mengerikan:

"Sungguh anak durhaka, aku ditidurkan dalam keadaan tenang tapi setiap hari minggu kau berkumpul menonton film porno, datang dua malaikat menumpahkan api dan air berbau busuk pd tubuhku, aku dibangunkan untuk itu sampai kau selesai berbuat itu".

Maka ia bangun dari tidurnya dan langsung menemui guru ayahnya (Habib Atthas al Habsyi) dengan menangis seraya berkata "bagaimana aku menyelamatkan ayahku? Ayahku dalam siksa kubur".

Habib Atthas menjawab: "Dikamar biasa kau menonton film porno dan segala kehinaan itu, dikamar itu bacalah maulid Shallallahu alaihi wa sallam. Ajak teman-temanmu baca maulid ditempat itu".

Setelah baca maulid, anak itu bermimpikan hendak ziarah makam ayahnya, namun belum sampai dimakam ayahnya ia sudah mencium bau yang sangat harum dan ia berjumpa dengan ayahnya.

Ayahnya berkata "Allah melimpahkan berkah padamu wahai anakku" Ayahnya memakai jubah dari emas dan perak, dilehernya (kerah baju) bertuliskan "MUHAMMAD RASULULLAH".

"Ayah apa yang terjadi?" tanya anak itu.

Ayahnya menjawab: "Saat kau baca maulid, aku dibangunkan, aku mengira aku akan disiksa lagi, namun kulihat kuburku meluas, kulihat iringan ribuan malaikat dengan membawa kereta kencana bertuliskan "MUHAMMAD RASULULLAH", dan keluarlah Rasulullah dari kereta itu dengan wajah yang terang benderang, maka ia memelukku dan memberikan jubahnya padaku".


Resource Berita : dutaislam.com
Kenapa Wukuf di Arafah? Bukan Tempat Lain, ini Hikmahnya

Kenapa Wukuf di Arafah? Bukan Tempat Lain, ini Hikmahnya



WartaIslami ~ Mengapa Wuquf di 'Arafah?

Mengapa tidak di Mina?
Mengapa tidak di Muzdalifah?
Mengapa tidak di depan Ka'bah?

Ini bukan sekedar persoalan tanah lapang untuk menghimpun jutaan orang.
Ini falsafah agung mengenai kesadaran
Wuquf itu berhenti sejenak; Ia sebuah jeda dalam rangkaian empat bulan yang dimuliakan (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab)
'Arafah itu tempat mengenal untuk menjemput kesadaran diri
Wuquf di 'Arafah itu sebuah ikhtiyar memaknai jeda dalam kehidupan agar dapat menjemput ma'rifah. Ma'rifat adalah maqam tertinggi dalam perjalanan mengenal Tuhan.

Karena itu Wuquf mensyaratkan sikap i'tirâf. I'tirâf adalah sebuah pengakuan akan kesalahan-kesalahan, pembangkangan atas perintah, pengkhianatan atas peran kehambaan dan kekhalifahan, pemakluman atas kejumawaan, pelanggaran atas spirit kemanusiaan.

'Arafah menghimpun jutaan orang. Itu artinya ada jutaan keragaman yang harus dikenali. Pemahaman akan perbedaan harus dimulai dari Ta'arruf. Ta'arruf adalah ikhtiyar saling mengenali, bukan kesombongan minta dikenal. Ta'arruf adalah mutualisme peran yang saling aktif memperkenalkan agar tidak ada klaim yang memunculkan ego merasa paling benar.

Proses Wuquf di 'Arafah itu merupakan suluk (perjalanan mencari) paling sublim dalam mengenal Tuhan. Sebuah ibadah personal di tengah-tengah perkumpulan manusia sejagat. Suluk ini disebut proses 'Irfâni. 'Irfân adalah puncak pengetahuan, di mana peran manusia sepenuhnya tunduk dalam kemahakuasaan Tuhan. Dia yang memilih siapa hamba yang diizinkan menerima "wahyu" kesadaran. Bahkan Musa 'alaihissalam harus menjalani pembelajaran kepada hamba yang Shâlih yang terlebih dahulu diberikan 'Irfân; dialah Khidir yang disembunyikan.

Seseorang yang berhasil menjemput kesadaran di 'Arafah disebut al-'Arif billâh; ia telah mengenal Tuhan. Al-'Arif billâh adalah maqam paling tinggi dalam tasawwuf, yaitu orang yang sudah Ma'rifat. Cirinya, ia merasakan dua sifat utama; keberanian dan ketenangan, lâ khaifun 'alaihim wa lâ hum yahzanûn.

Perilaku al-'Arif billâh itu diliputi samudera kebajikan, penuh ketulusan dalam melayani kehidupan, tanpa pamrih dalam beramal, sarat dengan karya kebermanfaa'tan. Agama menyebut perilaku ini dengan Ma'rûf; sebuah perilaku yang pantas dan mudah dikenali. Lisannya bertutur santun, karyanya menabur kemaslahatan, akhir hidupnya selalu dikenang.

'Arafah itu sebuah proses i'tirâf yang berta'arruf dalam medium 'Irfân yang mengantarkannya pada maqam al'Ârif billâh yang menghasilkan perilaku ma'rûf dalam kehidupan yang dijalaninya.

Tapi, selesaikah proses itu hingga di sini?
Sama sekali belum. Berwuquf itu seperti berislam. Ia belum selesai hanya dengan menyempurnakan rukun Islam. Berislam itu sikap hidup penuh keberserahan, kelembutan, kedamaian dan keselamatan yang harus dipelihara hingga kematian datang menjelang.

Pelakunya disebut Muslim. Artinya orang yang beragama Islam juga dapat dimaknai pelaku kedamaian. Huruf sin, lam, mim (salima) sebuah akar kata yang membentuk kata salâm (damai), islam (kedamaian), istislâm (pembawa kedamaian), dan taslîm (ketundukan, kepasrahan, dan ketenangan). Salâm adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian lebih umum. Islâm adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma. Istislâm adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigid dan sempurna.

Seharusnya seorang muslim (orang yang beragama islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan dan pada akhirnya merasakan ketenangan lahir dan batin.
Tentu menjadi kontradiktif jika panji-panji islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang menyebabkan lahirnya kekacauan, kebencian dan ketidaknyamanan. Apa lagi jika atas nama islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa, sangat tidak sepadan dengan kata islam tu sendiri.

Saya kira kita harus lebih memaknai islam dalam sifatnya yang inklusif-substantif, sehingga seruan kedamaian yang kerap kita suarakan akan lebih mudah kita wujudkan. Dan Insyâ Allah semua gagasan luhur ini sudah dimulai oleh kita yang merindukan kedamaian, baik yang sedang berhaji ataupun tidak. Terutama untuk saudaraku yang sebentar lagi berwuquf di 'Arafah oleh karena seusai Wuquf perilaku ma'rûf akan menginisiasi lingkungan mereka untuk berlomba-lomba dalam kebajikan.

Fastabiqul khairât 😇
QS 2/148: "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."



Resource Berita : muslimoderat.net
Kapolri Tito Temui Kepala Kepolisian Arab Saudi, Ada apa Gerangan?

Kapolri Tito Temui Kepala Kepolisian Arab Saudi, Ada apa Gerangan?



WartaIslami ~ Kapori Jenderal Muhammad Tito Karnavian menemui Kepala Kepolisian Arab Saudi Jenderal Said Abdullah Alqahtani di Mekkah, Arab Saudi, Selasa (30/8/2017).

Melalui siaran pers yang diterima Kriminalitas.com, pertemuan itu dilakukan di sela rangkaian ibadah Haji yang dilakukan Kapolri dan istri serta Asisten SDM Kapolri Irjen Aris Sulistiyanto dan Wakil Kepala BIK Irjen Luki Hermawan.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh seluruh pejabat kepolisian Arab Saudi yang bertanggung jawab terhadap keamanan Pelaksanaan Tahun Haji 2017, Kapolri diberikan kesempatan memantau command centre.

Di command centre itu tempat polisi memantau kegiatan haji dari 5.000 CCTV yang tersebar di sejumlah titik di Masjidil Haram serta 550 CCTV untuk memantau situasi keamanan di Arafah.

Kapolri menyampaikan rasa gembira terhadap sistem keamanan maksimal yang diterapkan kepolisian Arab Saudi. Teknologi seperti CCTV dinilai bisa menyokong kerja petugas di lapangan yang jumlahnya mencapai 70.000 personel.

Kepada Jenderal Said yang merupakan penanggung jawab keamanan haji, Jenderal Tito menitipkan warga negara Indonesia yang sedang berhaji.

Diketahui, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi. Keduanya tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Senin (28/8/2017).

Kapolri bersama rombongan langsung menunaikan ibadah umrah sesampainya di Arab Saudi, sementara Panglima TNI dan rombongan langsung berziarah ke makam Nabi Muhammad di Madinah.


Resource Berita : muslimoderat.net
Subhanallah! Tangisan Rasulullah SAW Mendengar Keyakinan Umatnya

Subhanallah! Tangisan Rasulullah SAW Mendengar Keyakinan Umatnya



WartaIslami ~  Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah SAW sedang asyik bertawaf di Kabah beliau mendengar ada seseorang di hadapannya bertawaf dan berzikir penuh kekhusuaan. Ia tidak memperhatikan orang-orang sekitarnya yang saling besenggolan orang itu tetap khusus berzikir dengan mengucapkan “Ya Karim… Ya Karim.

Di saat bersamaan baginda Rasulullah SAW sedang melakukan ibadah haji juga. Beliau terkesan dengan seseorang yang fokus dengan zikirnya di depan Ka’bah dan Rasulullah SAW menirunya mengucapkan “Ya Karim! Ya Karim!”.

Mendengarkan ucapannya ditiru, seseorang yang sedang khusus berzikir itu Ialu berhenti dan menaat ke salah satu Kabah. Ketika itu ia masih mengacuhkannya dan melanjutkan zikirnya lagi dengan khusus dengan masih membaca  “Ya Karim… Ya Karim…”

Rasulullah SAW yang mengetahui bawah orang yang sedang diikuti zikirnya itu sedikit mengusiknya namun Rasulullah tetap melanjutkan zikirnya yang sama dengan seorang Arab Badwi tadi yang membaca “Ya Karim..Ya Karim…”

Karena merasa seperti diolok-olokkan akhirnya seseorang itu menoleh ke belakang untuk yang kedua kalinya, kali ini ia menegurnya dan menyampaikan kenapa mesti mengikuti zikir yang dibacanya. Ia ingin mempermasalahkan lebih jauh terhadap orang itu atas tindakannya karena melihat seseorang dibelakangnya itu memiliki penmpilan yang berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya akhirnya ia tidak mempermasalahkannya dan hanya cukup mengatakan.

“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku,karena aku ini adalah orang Arab Badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum, lalu bertanya. “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”.

“Belum,” jawab orang itu.

Lanjut Rasulullah kepada orang Arab Badwi itu.  “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?” tanya Rasulullah.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemudengannya,” kata orang Arab Badwi itu lagi.

Mendengar perkataan yang penuh ke imanan dari mulut orang Arab Badwi itu Rasulullah SAW pun berkata lagi kepadanya. “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat,”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.“Tuan ini Nabi Muhammad?”

“Ya” jawab baginda Rasululla . lalu orang itu segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah. Melihat hal itu, Rasulullah menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya. “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.


Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi .

Maka orang Arab itu pula berkata: “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu.

“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullahbertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, makahamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,” jawab orang itu.

“Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!”

Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rasulullah  pun menangismengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab Badui itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda.

“Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurgananti!”. Betapa senangnya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangiskarena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Kisah pertemuan antara seorang Arab Badwi dengan Rasulullah SAW itu memberikan pelajaran bahwa ampunan Allah begitu besar. Dan selalu yakin bahwa sebesar apapun dosa yang kita lakukan Allah pasti mengampuninya asal kita mau minta ampun kepada Allah dengan tidak mengulangi perbuat yang dilarangnya. Mengenai hal ini telah Allah SWT sampaikan Surat Al-Hikmah  Ayat 29 yang artinya “Janganlah membesarkan dosa (dengan suatu) kebesaran (tertentu) di sisimu, (sedemikian rupa sehingga) menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah Ta’ala; karena sesungguhnya barangsiapa mengenal Rabb-nya, maka ia akan menganggap kecil dosanya di sisi kemuliaan-Nya.”

Manusia adalah tempat salah dan khilaf dalam arti yang sesungguhnya, yang dipasangkan dengan sifat Allah yang hadir dengan sifat Cinta Kasih dan Penuh Pemaafan. Allah Ta’ala hadir dengan sifat Cinta Kasih, lagi Maha Pengampun. Itu adalah pasangannya. Manusia sebagai tempat berbuat salah, dan Allah dengan sifat Cinta Kasih-Nya. Allah Ta’ala adalah Dzat yang mencintai kepemaafan. Di antara kita, wajib saling berwasiat. Jika Allah Maha Pemaaf, maka kita sebagai insan pun mesti pemaaf juga.

“Hai Anak Adam, selama kalian berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepada kalian atas semua dosa yang kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai Anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai ketinggian langit, kemudian kalian memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang telah kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai Anak Adam, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kalian datang kepada-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” — H.R. At-Tirmidzi


Resource Berita : republika.co.id
Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asy'ari

Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asy'ari



WartaIslami ~  Hujan turun dengan begitu deras di Kabupaten Bangkalan saat itu, khususnya di Demangan, pondok pesantren asuhan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. Meski hujan mengguyur dengan derasnya, ada saja orang yang bertamu kepada beliau.

Terlihat di antara rerintik hujan yang semakin deras, seorang tua lumpuh dengan susah payah hendak berkunjung menemui Syaikhona Kholil. Syaikhona segera tanggap, beliau lalu memerintahkan santrinya untuk menyusul.

“Adakah di antara kalian yang mau menggendong dan membawa tamuku di luar sana itu?”

“Biar saya saja, Yai,” jawab seorang santri muda mendahului teman-temannya.

Santri muda itu bergegas meloncat menembus rerintik hujan yang semakin deras, menghampiri orang tua itu. Tanpa pikir panjang, ia menggendongnya untuk menemui Syaikhona Kholil.

Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya, dan di antara keduanya terjadi dialog empat mata. Tidak beberapa lama, rupanya percakapan mereka telah usai. Syaikhona Kholil mendatangi santri-santrinya untuk meminta bantuan lagi, “Siapakah di antara kalian yang mau membantu orang tua ini untuk kembali pulang?”

“Biar saya Yai,” sahut santri yang tadi menggendong orang tua tersebut. lalu santri muda itu dengan penuh rasa takzim menggendongnya keluar pondok pesantren dengan hati-hati sesuai perintah Syaikhona Kholil.

Setelah santri dan tamu tua itu keluar dari kawasan pesantren, Syaikhona Kholil berkata kepada santri-santrinya yang lain, “Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu.”

Dan ternyata yang digendong oleh santri tersebut adalah Nabiyullah Khidir ‘alahis salam yang bersilaturahmi kepada Syaikhona Kholil dan santri yang menggendongnya adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari muda (Pediri Nahdlatul Ulama), yang kemudian mewarisi keilmuan Syaikhona Kholil al-Bangkalani.



Resource Berita : dutaislam.com
Saat Habib Luthfi Didatangi Ulama Jin dan Setan Nganggur

Saat Habib Luthfi Didatangi Ulama Jin dan Setan Nganggur



WartaIslami ~  Risalah Nabi Muhammad Saw. bukan diperuntukkan bagi manusia saja melainkan juga jin. Di dunia manusia ada para ulama dan wali Allah, maka di dunia jin juga sama. Tapi sehalus-halusnya jin masih jauh lebih kasar dibanding manusia yang paling kasar sekalipun. Hal demikian karena berbeda dimensinya.

Suatu waktu Habib Luthfi bin Yahya didatangi oleh sekelompok kiai atau ulama jin. Nampak di wajah mereka bersinar terang meskipun rupa kaki mereka berbeda-beda menyerupai kaki hewan-hewan. Dalam dunia jin mereka pun punya santri dan murid yang banyak. Kedatangan mereka kala itu meminta sang habib memberikan ijazah atau amalan.

"Habib, kedatangan kami di sini minta ijazah amalan khusus."

"Lho kalian kan ulama, kiai, kenapa perlu memintanya kepada saya?" Jawab Habib Luthfi.

"Karena kami tak bisa menanganinya, banyak dari kami (kaum jin) yang kesurupan manusia."

Di waktu yang lain Habib Luthfi didatangi sekelompok setan yang jumlahnya cukup banyak. Mereka melakukan demo kepada habib menuntut supaya diberikan pekerjaan. "Banyak dari kami yang jadi pengangguran!" Protes mereka.

"Memangnya kenapa kalian jadi pengangguran?" Tanya Habib Luthfi.

"Kami protes kepada Habib, karena pekerjaan-pekerjaan yang selama ini kami jalankan sekarang sudah dirampas/dilakukan oleh kaummu (manusia)."



Resource Berita : dutaislam.com
Yang Pertama Kali Masuk Surga Siapa?

Yang Pertama Kali Masuk Surga Siapa?



WartaIslami ~ Dalam sebuah forum pengajian, seorang ustadz berkhotbah seperti ini:

Hadirin yang dimuliakan Allah, pada saatnya nanti, manusia berjalan untuk masuk surga. Di antara yang berdiri pada barisan dua adalah golongan ulama, kyai, ustadz, pengajar, dosen dan guru.

Golongan ulama, kyai, ustadz memprotes kepada malaikat: "Mengapa kami tidak diizinkan masuk surga di barisan pertama, padahal kami sudah berdakwah dan berbuat kebaikan?"

Malaikat menjawab: "Karena dakwah kalian tidak berhasil membuat orang takut berbuat dosa. Dakwah kalian hanya demi uang dan  popularitas."

Kemudian kalangan dosen dan guru juga protes: "Mengapa kami tidak diizinkan yang pertama masuk surga, padahal kami sudah memberi mahasiswa/siswa berbagai disiplin ilmu pengetahuan?"

Malaikat menjawab: "Karena ilmu yang kalian ajarkan belum membuat mereka takut kepada Allah"

Tanpa dikomando, para ulama, kyai, dosen, dan guru bertanya: "Lalu, siapa yang kamu izinkan pertama kali masuk Surga, wahai malaikat?"

Malaikat menjawab: "Sopir Bis Sumber Kencono! Karena mereka berhasil membuat semua  penumpang ketakutan dan tak henti-henti menyebut asma Allah..."

Para ulama, guru dan dosen terbengong-bengong garuk-garuk kepala. Tidak menyangka sama sekali.

Jangan serius" banget membacanya



Resource Berita : dutaislam.com

Cara Menghilangkan Sakit Gigi ala Gus Dur

Cara Menghilangkan Sakit Gigi ala Gus Dur



WartaIslami ~  Konon ketika Dahlan Iskan (Jawa Pos) sakit gigi kebetulan duduk dekat Gus Dur, datang mendekat minta disuwuk.

Dahlan: "Gus, tolong disuwuk gigi saya sakit."
Gus Dur: "Oh ya, tapi ada syaratnya."
Dahlan: "Apa Gus syaratnya"
Gus Dur: "Ada 3 pertanyaan, tapi hanya ada 1 jawaban. Klo kamu bisa njawab, baru saya akan suwuk."
Dahlan: "Apa Gus pertanyaannya?."

Sambil menahan rasa sakit, Dahlan Iskan masih penasaran.

Gus Dur:
"(1).Mengapa orang bisa sakit gigi?"
"(2).Mengapa rumput bisa lebih tinggi dari tanaman padi?."
"(3).Mengapa wanita kok bisa hamil?."

Dahlan: "Wah...jawabnya sulit, Gus...!"

Gus Dur: "Ketiga tiganya, hanya sepele jawabnya, yaitu, karena terlambat nyabutnya."
Dahlan dengar jawaban itu, tertawa ngakak dan sakit giginya langsung sembuh.



Resource Berita : dutaislam.com
Ini Guyon ala Rasulullah dengan Sayyidina Ali dan Santri yang Menjaili Mbah Hasyim Asyari

Ini Guyon ala Rasulullah dengan Sayyidina Ali dan Santri yang Menjaili Mbah Hasyim Asyari



WartaIslami ~ Akibat kelakuan kaum sumbu pendek yang mudah menuduh bid'ah, kafir dan sesat terhadap sesama muslim, pengikut Rasulullah, yakni umat Islam, akhirnya dicitrakan negatif. Seakan-akan, kalau menjadi umat Islam itu harus serius, tegas, dikit-dikit marah dan ngeprukan. Padahal, Rasulullah sendiri tidak demikian. Beliau adalah sosok yang menurut KH Ahmad Muwafiq, tidak rewel, seperti umat Islam sebelah itu.

Bahkan Rasulullah itu digambarkan banyak riwayat sangat mudah tersenyum dan suka guyon. Ini yang menurut Gus Muwafiq, panggilan KH Ahmad Muwafiq, diwarisi para santri hingga sekarang, yang kalau guyon, masyaallah kaya cerita.

Suatu kali. Rasulullah disuguhi kacang oleh para sahabat dalam sebuah pertemuan. Bersama Sayyidina Ali, jamuan kacang itu dihidangkan bersama tamu lainnya. Keduanya, Rasulullah dan Sayyidina Ali nampak menikmati hidangan tersebut.

Terbesit usil sedikit dari Sayyidina Ali. Dengan sembunyi, ia menaruh kulit kacangnya di depan Rasulullah, yang juga ada kulit kacang bekas dimakan Rasul. Sementara, di depan tempat Sayyidina Ali makan tadi, kulit kacang itu habis karena memang sudah dipindah ke depan Rasulullah, yang juga banyak kulit kacangnya.

"Jenengan sudah berapa hari tidak makan kacang ya Rasul, kok banyak begitu bekas kulit kacangnya?" Tanya Sayyidina Ali "mengusili" Rasulullah.

"Sudah lama aku tidak makan kacang Li, Ali. Makanya aku sungguh menikmati hidangan kacang tadi, kamu juga sudah berapa lama tidak makan kacang?" Jawab Rasulullah datar sembari balik bertanya. Sayyidina Ali lumayan kaget dapat jawaban yang diikuti tanya Rasulullah begitu.

"Lumayan lama juga ya Rasul".

"Oh, makanya kamu kok makannya banyak sekali. Sampai kulit kacang saja kamu makan tak tersisa di depan bekas tempat makanmu tadi," jawaban Rasulullah bikin Sayyidina Ali "mati kutu". Ternyata Rasulullah kalau bercanda sangat bermutu dan tak terduga. Hahaha. Rasul tidak marah "dituduh" Sayyidina Ali banyak makan kacang. Malah membalas dengan guyon.

Guyon semacam itu juga pernah terjadi antara KH Hasyim Asyari dengan salah satu muridnya bernama Pak Sulam. Suatu kali, kata Gus Muwafiq, ketika santri Sulam itu banyak hutang di pondok, ia menyurati Mbah Hasyim atas nama orang tuanya. Surat memang ditujukan kepada pengasuh pesantren, kepada nya memang tertulis KH Hasyim Asyari.

Dalam surat tersebut, orang tua santri bernama Sulam tersebut mengabarkan kalau anaknya, Sulam, wafat, meninggal, di rumahnya. Karena surat itu ditujukan kepada pengasuh pesantren, Mbah Hasyim akhirnya mengajak para santri untuk melakukan shalat jenazah atas nama Sulam.

Setelah shalat ghaib kepada Sulam itu dilaksanakan, Mbah Hayim mengumpulkan para santri Tebuireng.

"Karena temanmu Sulam meninggal, mari kita doakan semoga almarhum mendapatkan maghfirah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Kalian harus memaafkan segala dosa-dosanya yang pernah diperbuat olehnya semasa di pondok. Dan jika ada kaitan hutang, mohon diikhlaskan," begitu nasihat Mbah Hasyim kepada para santri.

Begitu para santri mengikhlaskan para semua hutang Sulam, santri bernama Sulam tiba-tiba muncul dari belakang sambil tertawa dan mengucapkan terimakasih hutangnya sudah diikhlaskan. Hahaha. Bagaimana reaksi Mbah Hasyim, silakan tonton saja videonya yah. Ada linknya di bawah postingan ini!



Resource Berita : dutaislam.com
Berusia 92 Tahun, Abdul Jalil Tetap Semangat Menjadi Banser

Berusia 92 Tahun, Abdul Jalil Tetap Semangat Menjadi Banser



WartaIslami ~ Abdul Jalil, kakek usia 92 tahun ini masih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Banser Satkoryon Kabupaten Rembang. Warga Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sarang ini aktif berjuang sejak kecil.

Kepada NU Online, Rabu (30/8) mengatakan, perjuangannya sudah dimulai sejak zaman penjajahan. Mulai dari ikut PETA saat zaman Jepang, kemudian ikut di Vitra, hingga akhirnya bergabung bersama Banser.

Kakek kelahiran tahun 1924 M ini masih giat dan aktif dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan NU. Dalam kegiatan Istighosah dan Aksi Damai Tolak FDS yang diselenggaran di Kabupaten Rembang, ia juga hadir dalam pengamanan.

"Saya dulu pernah ditugaskan oleh Banser untuk pengamanan di Surabaya, waktu itu ada pak Presiden Jokowi. Kemudian di Jakarta, Solo dan Jogja," ungkap kakek tiga cucu tersebut.

Di kesempatan yang sama, Zaenal Arifin selaku Komandan Satkoryon Rembang mengatakan, kakek Abdul Jalil ini merupakan anggota Banser tertua di Kabupaten Rembang.

"Beliau aktif dalam setiap kegiatan bersama Banser. Baik di tingkat kabupaten maupun wilayah. Beliau giat dan badannya masih bugar. Saat perjalanan jauh, beliau masih bisa mengendarai motor," ujar Zaenal Arifin.



Resource Berita : muslimoderat.net
Amaliyah di Hari Arofah, Ijazah dari Guru Habib Luthfi bin yahya

Amaliyah di Hari Arofah, Ijazah dari Guru Habib Luthfi bin yahya



WartaIslami ~ Bacaan di Hari Arofah Ijazah dari Alimam AlQutb Alhabib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah rahimahullah ta'la anhu salah satu guru maulana Alhabib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.

Yaitu sebagai berikut:

1.Membaca Sholawat 1000 kali.

2. Barang siapa yang membaca Surat Al Ikhlas 1000x pada hari Arofah,maka sama baginya pahala seperti wukuf di Arofah,diampuni segala dosanya,serta dikabulkan segala hajat nya.

3. Selanjutnya membaca 1000 kali dzikir yg berbunyi :

لا َإِلٰهَ اِلّاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،لَهُ مُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحيِيْ وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍْ قَدِيْرٌ ١٠٠٠x

Hendaknya membaca bacaan tersebut di waktu ashar pada hari Arofah dan setelah selesai membaca doa berikut ini sebanyak tujuh kali.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْوَاقِفِيْنَ وَ الْمُتَضَرِّعِيْنَ فِي الْعَرَفَةِ ٧x

Artinya: Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang wukuf dan merendahkan diri di Arofah.



Resource Berita : muslimoderat.net
Jika Pagi Sudah Shalat Ied, Siangnya Tidak Wajib Shalat Jumat?

Jika Pagi Sudah Shalat Ied, Siangnya Tidak Wajib Shalat Jumat?



WartaIslami ~ Menjelang datangnya hari raya Idul Adha di tahun 1438 H atau 2017 M yang Insyaallah bertepatan dengan hari jumat, banyak beredar asumsi di tengah masyarakat, bahwa dengan melaksanakan shalat id maka gugurlah kewajiban melaksanakan shalat Jum’at. Masih menurut asumsi, hal ini merujuk pada hadits:

اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمٍ وَاحِد، فَصَلَّى الْعِيدَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبّ أَنْ يَشْهَدَ مَعَنَا الْجُمُعَةَ، فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْصَرِفَ، فَلْيَفْعَلْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْحَاكِمُ وَقَالَ: صَحِيحُ الْإِسْنَادِ)

“Telah berkumpul dua hari raya di masa Nabi Saw dalam sehari. Lalu Nabi Saw shalat Id di permulaan siang dan bersabda: “Wahai manusia, sungguh ini hari yang telah berkumpul pada kalian di dalamnya dua hari raya, maka barangsiapa yang suka untuk hadir shalat Jum’at bersama kami lakukanlah, dan barangsiapa yang suka untuk pulang lakukanlah. (HR. Abu Dawud dan al-Hakim yan berkata: “Shahih sanadnya.”)

Pertanyaannya, benarkah asumsi seperti itu? Bagaimanakah prespektif ulama dalam menanggapinya?
Mazhab Syafi’i

Menjawab pertanyaan di atas, Imam al-Mawardi dalam karyanya al-Hawi al-Kabir (II/1140) menyatakan:

Mayoritas Fuqaha’ memaparkan kewajiban shalat Jumat tidak gugur bagi penduduk setempat (tempat dilaksanakannya shalat Jum’at), dan karena ibadah shalat Jum’at adalah wajib sedangkan shalat Id adalah sunnah, maka sunnah tidak bisa menggugurkan wajib. Sedangkan untuk penduduk pinggiran kota yang berat dan sulit bagi mereka untuk datang ibadah shalat Jumat karena jarak masjid jauh dari tempat tinggalnya—sebagaimana terjadi pada penduduk pinggiran Madinah di masa Nabi Saw dan Sahabat—, maka mereka dibolehkan memilih untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at atau  meninggalkanya. Sebagaimana atsar Sayyidina Utsman bin Affan:

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ خَطَبَ يَوْمَ عِيْدٍ، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيْهِ عِيْدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمْعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ. (رواه البخاري)

Dari Utsman bin Affan Ra, bahwasanya ia berkhutbah di hari raya, ia berkata: “Wahai manusia, sungguh ini adalah hari yang di dalamnya berkumpul bagimu dua hari raya, maka barangsiapa dari penduduk pingiran Madinah yang suka menunggu shalat Jum’at hendaklah menunggu; dan barangsiapa yang suka pulang maka izinkan.” (HR. al-Bukhari)

Pendapat inilah yang menjadi pendapat madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama sebagimana dituturkan Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (II/543).

Namun demikian, bagi penduduk yang dekat dengan masjid seperti kebanyakan masyarakat di Indonesia, masih tetap wajib mendatangi shalat Jum’at dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Karena, jarak masjid dengan rumahnya tidak jauh dan tidak ada kesulitan baginya untuk mendatangi shalat Jum’at.

Mazhab Hanbali

Berbeda dengan pendapat mayoritas ulama, menurut mazhab Hanbali kewajiban shalat Jum’at dianggap gugur, sebagaimana ketika terjadi uzur Jum’at seperti sakit dan lainnya yang dapat menggugurkan kewajiban shalat Jumat. Hal ini karena mengacu pada beberapa hadits di antaranya adalah hadits Zaid bin Arqam dan Abu Hurairah.

Sikap Terbaik

Melihat fakta perbedaan pendapat antarmazhab ini, sikap terbaik yang pantas diambil adalah khuruj ‘anil khilaf, yaitu keluar dari perbedaan pendapat ulama dengan tetap melaksanakan shalat Jum’at sebagaimana biasa.

Referensi:
Al-Hawi al-Kabir (II/1140):

فَصْلٌ: إِذَا كَانَ الْعِيدُ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ حكم صلاة الجمعة فَعَلَى أَهْلِ الْمِصْرِ أَنْ يُصَلُّوا الْجُمْعَةَ. وَلَا يَجُوزُ لَهُمْ تَرْكُهَا كَمَا قَالَ بِهِ أَكْثَرُ أَصْحَابِنَا وَالْفُقَهَاءُ كَافَّةً. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ الزُّبَيْرِ قَدْ سَقَطَ عَنْهُمْ فَرْضُ الْجُمْعَةِ. وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْجُمُعَةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وَلِأَنَّ الْعِيدَ سُنَّةٌ وَالْجُمْعَةَ فَرْضٌ، وَلَا يَجُوزُ تَرْكُ الْفَرْضِ بِالسُّنَّةِ. فَأَمَّا أَهْلُ السَّوَادِ فَفِي سُقُوطِ الْجُمْعَةِ عَنْهُمْ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا وَاجِبَةٌ عَلَيْهِمْ كَأَهْلِ الْمِصْرِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ نَصُّ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا سَقَطَتْ عَنْهُمْ، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ لِأَهْلِ الْعَوَالِي: فِي مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلَيَنْصَرِفْ فَإِنَّا مُجَمِّعُونَ.
وَالْفَرْقُ بَيْنَ أَهْلِ الْمِصْرِ وَالسَّوَادِ: أَنَّ أَهْلَ السَّوَادِ إِذَا انْصَرَفُوا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ شَقَّ عَلَيْهِمُ الْعَوْدُ، لِبُعْدِ دَارِهِمْ وَلَا يَشُقُّ عَلَى أَهْلِ الْمِصْرِ لِقُرْبِ دَارِهِمْ .

Pasal: Ketika hari raya jatuh pada hari Jum’at maka hukum shalat Jum’at bagi penduduk setempat tetap wajib melaksanakannya dan tidak boleh bagi mereka meninggalkannya, sebagaimana pendapat mayoritas Ashab kami dan seluruh Fuqaha. Sementara Ibn Abbas dan Ibn Zubair berpendapat gugurlah kewajiban shalat Jumat dari mereka. Ini pendapat yang tidak benar berdasarkan keumuman sabda Nabi Saw: “Shalat Jum’at wajib bagi setiap muslim”, dan karena shalat Id adalah sunnah dan shalat Jum’at adalah wajib, sementara tidak boleh meninggalkan wajib karena sunnah. Adapun penduduk pinggiran maka tentang gugurnya kewajiban jum’at bagi mereka ada dua pendapat: pertama, shalat Jum’at tetap wajib bagi mereka sebagaimana penduduk setempat. Kedua dan ini adalah nash Imam as-Syafi’i, shalat Jum’at gugur bagi mereka berdasarkan riwayat dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda kepada penduduk pinggiran Madinah: “Pada semisal hari ini sungguh berkumpul di harimu ini dua hari raya, maka barangsiapa ingin pulang silahkan pulang. Sungguh kami tetap melaksanakan shalat Jumat.

Adapun perbedaan antara penduduk kota dan pinggiran (as-sawad): penduduk as sawadjika pulang setelah shalat Id maka berat bagi mereka kembali ke masjid, karena jauhnya rumah mereka; sedangkan penduduk kota tidak berat karena dekat.
Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (II/543):

سُقُوْطُ الْجُمْعَةِ عَمَّنْ حَضَرَ الْعِيْدَ إِلَّا الْإِمَامَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ:
 قَالَ الْحَنَابِلَةُ: كَمَا تَسْقُطُ الْجُمْعَةُ عَنْ ذَوِي الْأَعْذَارِ أَوِ الْأَشْغَالِ كَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ، تَسْقُطُ عَمَّنْ حَضَرَ الْعِيْدَ مَعَ الْإِمَامِ إِنِ اتَّفَقَ عِيْدٌ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ إِسْقَاطَ حُضُوْرٍ، لَا إِسْقَاطَ وُجُوْبٍ، إِلَّا الْإِمَامَ، فَإِنَّهَا لَا تَسْقُطُ عَنْهُ، إِلَّا أَنْ لَايَجْتَمِعَ لَهُ مَنْ يُصَلِّيَ بِهِ الْجُمُعَةَ، وَيَصِحُّ أَنْ يَؤُمَّ فِيْهَا، وَالْأَفْضَلُ حُضُوْرُهَا خُرُوْجاً مِنَ الْخِلَافِ.
وَدَلِيْلُهُمْ: حَدِيْثُ زَيْدٍ بْنِ أَرْقَمَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ وَحَدِيْثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ، وَلِأَنَّ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا زَادَتْ عَنِ الظُّهْرِ بِالْخُطْبَةِ، وَقَدْ حَصَلَ سِمَاعُهَا فِي الْعِيْدِ، فَأَجْزَأَهُ عَنْ سِمَاعِهَا ثَانِياً، وَلِأَنَّ وَقْتَهَا وَاحِدٌ، فَسَقَطَتْ إِحْدَاهُمَا بِالْأُخْرَى كَالْجُمُعَةِ مَعَ الظُّهْرِ.

Gugurnya shalat Jum’at bagi orang yang hadir shalat Id selain Imam menurut Hanabilah.

Ulama Hanabilah berpendapat: Sebagaimana gugur kewajiban shalat Jum’at bagi orang -orang yang uzur atau memiliki kesibukan, seperti orang sakit dan semisalnya, maka gugur pula bagi orang yang hadir shalat Id bersama imam jika hari raya bertepatan di hari Jumat. Gugur dari sisi kehadirannya, bukan gugur kewajibannya, kecuali imam. Karena shalat jum’at tidak gugur dari Imam kecuali jika tidak ada orang yang berkumpul untuk shalat Jum’at bersamanya, dan sah baginya mengimami shalat Jumat. Yang paling utama adalah hadir shalat Jum’at karena keluar dari khilaf.

Adapun dalil ulama Hanabilah adalah: hadits Zaid bin Arqam: “Barangsiapa yang berkenan shalat Jum’at hendaknya melaksanakanya”, dan hadits Abu Hurairah dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Telah bekumpul di harimu ini dua hari raya. Barangsiapa yang berkenan pulang, maka cukup baginya shalat Id dari shalat Jum’at, dan sungguh kami tetap melaksanakan shalat Jum’at.” Selain itu, juga karena shalat Jum’at melebihi shalat Zuhur dengan khotbahnya, dan khotbahnya telah terlaksana mendengarkan khotbah shalat Id. Karenanya ini telah mencukupinya dari mendengar khotbah kedua kalinya (khotbah Jum’at), dan juga karena waktunya satu, maka gugurlah salah satunya seperti shalat Jum’at an Zuhur.
Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (II/543):

وَقَالَ الْجُمْهُوْرُ (بَقِيَّةُ الْمَذَاهِبِ): تَجِبُ الْجُمُعَةُ لِعُمُوْمِ الْآيَةِ الآمِرَةِ بِهَا، وَالْأَخْبَاِر الدَّالَةِ عَلَى وُجُوْبِهَا؛ وَلِأَنَّهُمَا صَلَاتَانِ وَاجِبَتَانِ، فَلَمْ تَسْقُطْ إِحْدَاهُمَا بِالْأُخْرَى، كَالظُّهْرِ مَعَ الْعِيْدِ.

Mayoritas Ulama (seluruh mazhab selain Hanabilah) berpendapat: wajib shalat Jum’at karena (a) keumuman ayat yang memerintahkannya, (b) hadits-hadits yang menunjukan kewajibannya dan karena (c) keduanya adalah shalat yang wajib maka tidak gugur salah satunya sebab yang lain sebagaimana shalat dhuhur dan ied.



Resource Berita : muslimoderat.net
Apakah Haji Mabrur itu?

Apakah Haji Mabrur itu?



WartaIslami ~ Kosakata yang akrab di telinga kita saat menyebut haji adalah mabrur. Semoga menjadi haji mabrur, demikian doa yang kerap disampaikan kepada jamaah haji. Rasulullah dalam hadits mengatakan, haji mabrur tidak ada balasan, kecuali surga.

Lalu sebenarnya mabrur itu? Bagaimana mendapatkannya? Berikut penjelasan salah satu anggota Amirul Hajj sekaligus Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr. Asrorun Ni’am pada Media Center Haji, Rabu (30/8):

Dari sisi bahasa, al mabrur adalah isim maf’ul dari akar kata al birru. Al birru itu artinya kebaikan atau  kebajikan. Dengan demikian, al hajjul mabruru artinya haji yang diberikan kebaikan dan kebajikan.

Dari sisi istilah, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, kemudian berdampak pada kebaikan diri, serta bermanfaat bagi orang lain. Oleh karenanya, al hajjul mabrur sebagai impian dari orang yang melaksanakan jamaah haji itu melalui tahapan. Mabrur tidak datang tiba-tiba. Tetapi harus diusahakan, mulai dari sebelum, saat, dan setelah pelaksanaan ibadah haji.

Terkait dengan persiapan, ketika kita ingin mencapai haji mabrur, tentu kita harus melakukan aktivitas yang mendukung pencapaian haji mabrur. Persiapan itu antara lain:

Pertama, memahami ajaran agama Islam dengan baik, termasuk juga manasik hajinya. Karena amalan ibadah yang tidak disertai dengan ilmu, maka ia dapat sia-sia.

Kedua, harus dipastikan rejekinya halal. Jangan sampai berangkat ibadah haji menggunakan uang hasil curian. Ini tidak diterima. Tidak boleh menggunakan uang curian untuk kepentingan ibadah.

Ketiga, meningkatkan amal ibadah. Kita harus menyiapkan diri dengan meningkatkan dan menyempurnakan amal ibadah.

Pada saat pelaksanaan ibadah haji, kita memastikan terlaksananya syarat, rukun, wajib haji. Sunnah-sunnah haji juga harus dipahami. Termasuk, hal yang terlarang, untuk dijauhi. Pelaksanaan amal perbuatan yang sah secara syar’i, belum tentu diterima. Sesuatu itu sah atau tidak, dapat diukur dengan ketentuan fiqh haji. Persoalan apakah diterima atau tidak, itu otoritas Allah SWT. Nah, haji mabrur terkait denggan keterterimaan ibadah kita oleh Allah.

Kemabruran dapat dilihat dari aktivitas seseorang setelah melaksanakan ibadah haji. Setidaknya indikator pertama, meningkatnya pelaksanaan ibadah secara personal. Yang semula ibadahnya bolong, tidak lagi. Yang biasanya menggunjing, tidak menggunjing. Hubungan kita kepada Allah menjadi lebih intim.

Kedua, meningkatnya kualitas hubungan sosial atau horizontal. Salah satu yang dilarang ibadah haji adalah rafats, fusuq, jidal. Haji mabrur, begitu setelah selesai menunaikan ibadah haji, ia memiliki kemampuan untuk menjauhi yang dilarang dalam haji. Sehingga, akan terwujud, kohesi sosial. Kemudian, hubungan sosial akan menjadi positif.

Ketiga, melahirkan empati terhadap orang lain. Memiliki solidaritas sosial. Ada hadis yang menjelaskan beberapa perkara berikut:

1. Afsyussalam, artinya sebarkan kedamaian. Setiap bertemu orang lain, berilah salam, maka niscaya akan menebarkan kedamaian. Tetapi yang lebih substantif adalah kehadiran kita menjadi faktor pendamai di tengah masyarakat. Fi ayyi ardhin tatho’ anta mas’uulun ‘an islaamiha (dimana bumi dipijak, engkau bertanggungjawab atas kedamaian diatasnya)

2. Ath’imuth-tha’aam, artinya berikanlah makan orang yang membutuhkan makan. Artinya, kita harus memiliki solidaritas sosial.

3. Washilul arham, artinya sambung tali kekerabatan. Terminologi sambung itu artinya pernah terputus. Kalau sudah akrab, itu bukan silaturahmi, melainkan merawat kekerabatan. Kata sambung kasih sayang itu kepada yang memutus persahabatan dengan kita. Tidak mahal, tetapi butuh kelegaan hati

4. Berikutnya adalah hubungan kita secara personal vertical kepada Allah. Washallu bil laili wannasu niyaam. Shalat malam disaat semua orang sedang terlelap tidur. Itu adalah cerminan dari hubungan yang sangat privat kita dengan Allah. Tidak ada riya, kita bermuhasabah, kita mengadu kepada Allah.

Jika itu semua bisa dilakukan, tadkhulul jannata bis saalam. Maka engkau akan terhantarkan masuk surga dengan damai.

Dari penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa haji mabrur bukan sesuatu yang given, tetapi selalu diusahakan tanpa henti. Tidak hanya saat pelaksanaan ibadah haji, tetapi dari persiapan, saat, dan pasca-haji. Pelaksanaan ibadah akan sangat berpengaruh pada absah atau tidak absah haji. Kalau diterima atau tidaknya, itu urusan Allah.


Resource Berita : ihram.co.id
Nilai Kemanusiaan Agung dalam Rukun Haji

Nilai Kemanusiaan Agung dalam Rukun Haji



WartaIslami ~ Pakar Tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) menjelaskan bahwa ibadah haji pertama kali dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim sekitar 3.600 tahun yang lalu. Setelah era beliau, praktik-praktik ibadah haji beberapa telah mengalami perubahan. Namun perubahan tersebut telah diluruskan oleh Nabi Muhammad. Salah satu yang diluruskan Nabi SAW ialah praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 199 menegur sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama al-hummas) yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu bersama orang banyak dalam momen wuquf. Mereka wuquf di Muzdalifah sedangkan orang banyak melakukan wuquf di Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi superioritas itu dicegah oleh Al-Qur’an dan turunlah ayat 199 tersebut.

“Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 199)

Pada akhirnya, sejumlah rukun dalam ibadah haji yang dipraktikkan oleh jutaan umat Islam di dunia ini bermuara pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Terminologi kemanusiaan universal tidak hanya terdapat dalam esensi ibadah haji, tetapi juga harus melekat pada diri seorang yang telah melakukan ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari ketika sudah kembali ke tempat atau negaranya masing-masing.

Nilai-nilai kemanusiaan universal yang terdapat dalam setiap rukun ibadah haji yaitu, pertama, ibadah haji diawali dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Seperti diketahui bahwa fungsi pakaian antara lain sebagai pembeda antara satu orang dengan orang lain atau satu kelompok dengan kelompok lain dalam hal status sosial, ekonomi atau profesi.

Pakaian khusus ihram yang telah disyariatkan memungkinkan bersatunya seluruh umat Islam dalam status yang sama, yakni jemaah calon haji. Tidak ada perbedaan status sosial dan lain-lain karena perbedaan pakaian yang dikenakan. Hal ini menunjukkan juga bahwa seluruh manusia pada dasarnya sama di mata Allah kecuali atas dasar ketakwaannya.

Kedua, dengan memakai pakaian ihram, sejumlah larangan harus dihindari oleh jemaah haji. Ketika salah satu rukun haji tersebut dilaksanakan, Islam mensyariatkan bahwa jemaah haji dilarang menyakiti dan membunuh binatang, jangan menumpahkan darah, dan jangan mencabut pepohonan.

Laku syariat tersebut mengandung pesan bahwa manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Allah serta memberikan kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga memakai wangi-wangian, bercumbu atau kawin, serta berhias agar jemaah haji menyadari bahwa kehidupan manusia semata-mata materi dan nafsu birahi melainkan kondisi ruhani yang ada dalam posisi penghambaan yang kuat di sisi Allah.

Ketiga, Ka’bah yang dikunjungi dalam momen ibadah haji juga mengandung arti dari sisi kemanusiaan bahwa salah satunya terletak hijr Ismail yang berarti pengakuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim pembangun Ka’bah pernah berada dalam pengakuan ibunya yang bernama Hajar, seorang perempuan hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun berada di tempat itu.

Dengan latar belakang tersebut, namun peninggalan Hajar diabadikan Allah agar menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberikan kedudukan seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk berhijrah (hajar) dari kejahatan menuju kebaikan juga dari keterbelakangan menuju peradaban. (Quraish Shihab, 1999: 336)

Keempat, setelah selesai melakukan ritus thawaf, jemaah haji larut dan berbaur dalam kebersamaan dengan manusia-manusia lain. Rukun ibadah haji tersebut juga memberikan kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam hadirat Allah SWT. Begitu juga dengan ritual sa’i yang menggambarkan perjuangan Siti Hajar dalam upaya memperoleh penghidupan untuk anaknya Ismail yang kehausan luar biasa di tengah gurun pasir.

Usaha dan kerja Siti Hajar yang beberapa kali bolak-balik antara bukit shafa dan marwa menunjukkan bahwa kenikmatan yang diperoleh dari anugerah Allah harus didahului perjuangan dan kerja keras dari seorang manusia. Karena Allah tidak mungkin menurunkan anugerah dan rezekinya kepada manusia yang hanya berpangku tangan.

Kelima, ketika jemaah haji berkumpul di padang ‘Arafah. Tempat yang konon diriwayatkan menjadi lokasi pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Di tempat tersebut, seharusnya manusia menemukan ma’rifah pengetahuan tentang jati dirinya dan perjalanan hidupnya selama ini sehingga mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Di padang ‘Arafah itulah manusia diantarkan menuju laku yang ‘arif (sadar) dan mengetahui. Karena Nabi Muhammad pun menerangkan dalam sabdanya bahwa sesiapa yang mengenal dirinya, maka ia bakal mengenal Tuhannya.

Keenam, dari ‘Arafah jemaah haji menuju ke Muzdalifah kemudian ke Mina menuju rukun haji yaitu mabit dan melempar jumroh. Ritus ini dilakukan untuk memerangi perangai setan yang ada pada diri manusia.

Untuk tujuan tersebut, manusia harus mempersiapkan senjata dalam melawan setan dengan mengumpulkan batu di malam hari di Muzdalifah kemudian melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka kepada setan dengan melemparkan batu di Mina dalam ritual melempar jumroh. (Fathoni)


Resource Berita : nu.or.id
Kisah Pengamal Shalawat yang Dimudahkan Naik Haji

Kisah Pengamal Shalawat yang Dimudahkan Naik Haji



WartaIslami ~ Ada keinginan yang sangat kuat untuk menunaikan ibadah haji pada pasangan Yazid, salah seorang warga Todipan, Solo, Jawa Tengah. Untuk meraih mimpinya ini, Yazid berusaha menjual tanah yang ia miliki sebagai sarana untuk membayar ongkos naik haji (ONH).

Berbagai macam usaha telah ia tempuh, namun belum kunjung berhasil. Tanah yang ia tawarkan kesana kemari belum kunjung laku. Sehingga timbul inisiatif, ia berniat ingin menawarkan tanahnya kepada KH Abdul Muid Ahmad, Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo.

Sebetulnya, tanah yang ditawarkan Yazid tidak begitu mahal. Ia hanya butuh uang 70 juta. Sejumlah uang yang sekira cukup untuk membayar ONH dirinya sendiri bersama istri tercinta.

Meski hanya ditawarkan di angka 70 juta, karena Kiai Muid waktu itu sedang banyak kebutuhan, termasuk di antaranya juga ingin membayarkan biaya haji anaknya sendiri, Kiai Muid tidak bisa mengabulkan penawaran Yazid.

Karena keinginan Yazid yang tampak kuat untuk menunaikan ibadah haji, Kiai Muid kemudian memberikan amalan supaya Yazid dan istri mengamalkan bacaan shalawat yang telah diterima sanadnya dari KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, Brabo, Grobogan, dengan syarat shalawat ini dibaca satu kali setiap habis shalat Isya’ dan dibaca 40 kali setiap malam Jum’at.

Shalawat itu sebagai berikut:
 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلاَمِ، فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Sepulang Yazid dari Kiai Muid, ia lalu ditanya oleh sang Ibunda, “Dari mana tadi, Zid?”

“Ini Bu, dari sowan Mbah Muid, mau jual tanah tapi beliau nggak bisa bantu. Aku dikasih amalan shalawat haji,” begitu kira-kira sahut Yazid.

“Oh.... , lha apa coba aku ikut mengamalkan, barangkali bisa ikut membantu kamu?”

Yazid kemudia turut memberikan. Hingga, ijazah shalawat tersebut diamalkan oleh Yazid, istrinya beserta Sang Ibunda. Justru ibunya yang tidak langsung mendapat ijazah dari Kiai Muid langsung ini, malah yang paling rajin mengamalkan dari pada Yazid sendiri yang tak begitu rajin.

Tidak sampai jeda waktu yang lama, setelah mereka mengamalkan shalawat, Yazid ditakdirkan Allah bertemu dengan kakaknya yang berprofesi sebagai makelar tanah atau bisnis properti.

Ia meminta tolong kakaknya ini untuk dijualkan tanah dengan sebuah ikat janji bahwa yang dibutuhkan Yazid hanya uang 70 juta saja. Selebihnya ia tak mau tahu, silakan kalau mau ambil untung. Untung berapa pun di atas 70 juta, ia serahkan menjadi hak milik sang adik.

Tanah, yang semula ia tawarkan ke berbagai macam orang dengan patokan harga 70 juta tidak kunjung terjual itu sekarang berubah justru laku pada kisaran angka 100 juta melalui tangan kakaknya.

Sesuai dengan janji yang telah ia sampaikan, Yazid tidak berkenan menerima kelebihan dari harga yang ia butuhkan. Bagaimanapun pula, ia sudah mengikat janji. Begitu pula kakaknya, sebagai saudara, ia ikhlas tak menginginkan balasan apapun dalam hal ini. Ia hanya ingin membantu kelancaran cita-cita sang adik yaitu menunaikan rukun Islam ke-5 berupa ibadah haji.

Akhirnya uang sisa dari 70 juta yang ditolak masing-masing kedua belah pihak, oleh sang kakak  mengusulkan bagaimana kalau kelebihan uang 30 juta ini dibuat membiayai sang ibunda menunaikan ibadah haji sekalian. Sehingga akhirnya mereka telah mencapai kata sepakat.

Jadi, karena keberkahan shalawat itu setelah dibaca oleh orang tiga, ketiga orang itu pula dipanggil oleh Allah Ta'ala untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Semoga mereka mabrur, kita mendapatkan barakahnya, amin. Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)



Resource Berita : nu.or.id
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah



WartaIslami ~ Pada tanggal sembilan Dzulhijjah, umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang melakukan ibadah haji berkumpul di Arafah. Di padang Arafah semua jamaah haji dari berbagai bangsa dan suku, dengan berbagai macam status sosial, para pemimpin dan rakyat jelata, semua menyatu dengan alam dalam naungan keagungan Ilahi. Dengan berpakaian sangat sederhana, tidak lagi terdapat perbedaan, semua sama, semua melepaskan atributnya masing-masing. Mereka menyatu sebagai hamba-hamba Allah yang asli alami, tidak berhias, tidak bermake-up, tidak membanggakan diri, mereka larut dalam alam yang amat bersahaja, larut dalam keagungan Maha Pencipta untuk memenuhi panggilan-Nya dengan ikhlas dan pasrah. Bagi umat Islam yang tidak melakukan ibadah haji, menyambut hari itu dengan puasa Arafah, puasa sunnah dalam rangka beribadah dan ikut prihatin terhadap saudara-saudaranya yang sedang melakukan wukuf di sana.

Lebih empat belas abad yang lalu, di padang Arafah yang tandus itu, yang kini ditumbuhi pohon-pohon menghijau, Rasul Muhammad s.a.w. menyampaikan pesan kemanusiaan dan perdamaian. Dalam pidato perpisahannya di sana, juga dalam rangka ibadah haji, yang disebut sebagai haji wada’ atau haji perpisahan sebagai ibadah haji terakhir sebelum beliau wafat. Rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta itu menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang amat mengharukan, berkesan mendalam sampai ke lubuk hati:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ، وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

“Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu, kamu semua berasal dari Adam. sedangkan Adam berasal dari tanah. (HR. Ahmad, 23536).

Dalam hadis yang lain, persamaan kemanusiaan dan haknya diperinci lebih lengkap:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (puith) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya”. (HR. Ahmad, 22978).

Pidato perpisahan yang amat singkat ini membuat para sahabat Nabi terharu, sehingga pakaian ihram mereka yang putih bersih itu bersimbah air mata. Hal itu menandakan bahwa pesan ini sangat berkesan dan sangat berpengaruh pada perilaku mereka. Misi perdamaian dan persamaan hak inilah yang kemudian dikembangkan dan diperjuangkan para sahabat Nabi. Dalam waktu yang singkat, kemudian mereka menjadi umat yang besar dan berwibawa yang senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan.

Konsepsi kemanusiaan dalam Islam begitu luhur, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Kita semua adalah bersaudara, tidak ada perbedaaan antara satu dengan lainnya, kecuali dengan iman dan amal perbuatannya atau dengan takwanya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا  إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang pria dan wanita, dan menjadikanmu berbagai bangsa dan suku agar saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Tahu lagi waspada” (QS. al-Hujarat,49: 13).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu" (QS. al-Hujarat,49: 10).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kelompok mencela kelompok yang lain, karena boleh jadi mereka yang dicela lebih baik dari mereka yang mencela....” (QS. al-Hujarat,49: 11).

Beberapa ayat tersebut jelas sekali mengarahkan umat manusia agar senantiasa menjalin persaudaraan terhadap sesamanya, saling berbuat baik, saling berpesan mengenai kebenaran, ketabahan dan kesabaran. Dalam beberapa wasiat Nabi s.a.w. banyak sekali dipesankan, agar umat manusia senantiasa menjalin ukhuwah atau persaudaraan dan senantiasa menjalin hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesamanya dan hubungan dengan alam sekitarnya. Nabi bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Engkau dapati orang-orang yang beriman, dalam hal saling mengasihi, saling mencintai, dan beriba hati antara mereka bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka dirasakan sakit pula oleh seluruh tubuhnya sehingga sulit tidur dan demam”. (HR. Bukhari, 6011, Muslim, 2586).

مَنْ لاَ يَرْحَمُ النّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ

“Barangsiapa yang tidak bersikap kasih terhadap sesamanya maka Allah tidak mengasihinya”. (HR. Bukhari, 6013, Muslim, 2319).

Pesan Arafah yang mulia itu akan tetap abadi, yang dapat kita petik dari pesan itu kali ini, bagaimana kita dapat membangkitkan kembali semangat persaudaraan dan ukhuwah di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, pesan itu benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Peranan para dai dan tokoh masyarakat sangat penting dalam memasyarakatkan pesan kemanusiaan ini. Kita semua senantiasa berpegang kepada wasiat Nabi yang disampaikan kepada Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari, ketika keduanya dilantik sebagai gubernur di Yaman bagian Barat dan Timur:

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا ، وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا ، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا

“Permudahlah, jangan kamu persulit, gembirakanlah, jangan kamu takut-takuti, saling mentaatilah kamu berdua dan jangan bersilang sengketa”. (HR Muslim, 1732).

Selamat melaksanakan wukuf di Arafah, semoga menjadi haji yang mabrur.


Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU



Resource Berita : nu.or.id
Melawan Propaganda Belanda di Tanah Suci

Melawan Propaganda Belanda di Tanah Suci



WartaIslami ~ Pesan dari Presiden Soekarno untuk memberikan penerangan kepada warga negara Indonesia yang ada di Arab Saudi dan sekitarnya dilaksanakan oleh Rombongan Misi Haji I yang diketuai K.H.R. Mohammad Adnan.

Selain itu, dalam misi tersebut mereka juga berusaha untuk mencari dukungan diplomatik dari beberapa negara yang mereka kunjungi.

(http://www.nu.or.id/post/read/80685/pesan-bung-karno-kepada-rombongan-misi-haji-pertama)

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, pada tanggal 6 Oktober, sampailah rombongan di Pelabuhan Udara Farouk Kairo. Setibanya di Mesir, mereka dijemput sejumlah pegawai Perwakilan Indonesia di sana. Di Kairo, rombongan hanya singgah semalam untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Jeddah untuk menemui Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, di sana mereka diterima sebagai tamu negara.

Setelah urusan dengan Kemenlu Arab Saudi beres, mereka tak membuang-buang wantu dan langsung menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mengunjungi masyarakat Indonesia yang ada di sana.

Misi ini penting, mengingat pihak Belanda sebelumnya juga sudah mengirim orang-orang mereka dalam rombongan misi haji yang diketuai Ahmad Bahmid dan misi diplomatik yang dipimpin Hamid Al-Qodri.

Di Makkah, Belanda melakukan propaganda di kalangan masyarakat Indonesia di sana, dengan mengatakan Republik Indonesia sebagai “kaum ekstrimis” dan pemerintahannya tidak sah.

Rombongan misi haji RI kemudian mendatangi perkumpulan para pemuda Indonesia di Umuddud dan Jarwal. Mereka disambut dengan penuh semangat, disertai pekik “merdeka!” yang terus diucapkan, seakan mereka memuntahkan perasaan yang sudah lama dipendam.

Pada pertemuan tersebut, juga diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tak lupa mereka juga menemui beberapa tokoh ulama dari Indonesia yang telah bermukim di sana.

Hampir semua berpesan sama, yakni untuk menekankan perlunya agar mendukung kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamirkan, tidak hanya secara fisik akan tetapi juga secara rohani. Dan di Makkah, pada waktu musim haji itulah, dukungan rohani diyakini akan lebih kuat. (Ajie Najmuddin)



Resource Berita : nu.or.id
Bolehkah Menghidangkan Daging Kurban Kepada Non Muslim?

Bolehkah Menghidangkan Daging Kurban Kepada Non Muslim?



WartaIslami ~ Tak disangsikan, Hari Raya Idul Adha mendatang kegembiraan bukan saja bagi kaum muslimin, tapi juga bagi umat lainnya yang kebetulan tinggal berdampingan dengannya, seperti di Indonesia.

Namun demikian, kurban sebagai ibadah telah lengkap aturan serta tata cara pelaksanaannya, sehingga selayaknya diperhatikan, terlebih bagi muslim yang hendak berkurban.

Dalam kehidupan bermasyarakat majemuk, seringkali kita harus jeli dalam memahami hukum dari suatu amaliah sekaligus bijak dalam menerapkannya. Salah satunya terkait memberikan daging kurban kepada non muslim. Memang boleh?

Menghidangkan Daging Kurban Kepada Non Muslim
Merujuk penuturan Ibn al-Mundzir (242-319 H/856-931 M), pakar hadits dan fikih senior kota Makkah pada masanya, sebagaimana dikutip Imam an-Nawawi (631-676 H/1233-1277 M) pakar fikih dan hadits kota Halab/Aleppo Syiria dalam kitab al-Majmu’ (VIII/425), ulama berbeda pendapat terkait kebolehan menghidangkan daging kurban (memberi untuk dimakan, tanpa memberikan hak milik) kepada fakir miskin dari golongan non muslim. Imam al-Hasan al-Bashri, Abu Hanifah, dan Abu Tsaur membolehkannya, sementara Imam Malik memakruhkannya.

Selain itu, ada pula Imam al-Laits (94-175 H/713-791 M), pakar hadits dan fikih negeri Mesir pada masanya serta salah seorang guru terpenting Imam as-Syafi’i, yang menyatakan bila daging kurban telah dimasak maka boleh dihidangkan kepada non muslim dzimmi untuk memakannya bersama kaum muslimin.

Sementara dalam mazhab Syafi’i, sejauh penelusuran Imam an-Nawawi, belum ada Ashab as-Syafi’i yang membahasnya secara terang-terangan. Namun menurutnya, bila melihat standar prinsip-prinsip mazhab Syafi’i maka boleh menghidangkan daging kurban kepada non muslim dzimmi dari kurban yang bersifat sunnah, bukan dari kurban yang wajib. Demikian menurut an-Nawawi yang di kemudian hari membuat terheran-heran al-Adzra’i (708-783-1308-1381 M), pakar fikih Syafi’i kota Halab Syiria (al-Iqna’, II/244). Secara komprehensif an-Nawawi menuliskan (al-Majmu’, VIII/425):

(التَّاسِعَةُ) قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى جَوَازِ إطْعَامِ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْأُضْحِيَّةِ وَاخْتَلَفُوا فِي إطْعَامِ فُقَرَاءِ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَرَخَّصَ فِيهِ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو ثَوْرٍ. وَقَالَ مَالِكٌ غَيْرُهُمْ أَحَبُّ إلَيْنَا وَكَرِهَ مَالِكٌ أَيْضًا إعْطَاءَ النَّصْرَانِيِّ جِلْدَ الْأُضْحِيَّةِ أَوْ شَيْئًا مِنْ لَحْمِهَا وَكَرِهَهُ اللَّيْثُ قَالَ فَإِنْ طُبِخَ لَحْمُهَا فَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ الذِّمِّيِّ مَعَ الْمُسْلِمِينَ مِنْهُ هَذَا كَلَامُ ابْنِ الْمُنْذِرِ

“Permasalahan Kurban Kesembilan: Ibn al-Mundzir berkata: “Ulama bersepakat atas bolehnya menghidangkan daging kurban kepada orang-orang fakir dari kaum muslimin dan mereka berbeda pendapat dalam masalah menghidangkan daging kurban kepada orang-orang  fakir dari golongan ahli dzimmah (non muslim). Dalam hal ini al-Hasan al-Bashri, Abu Hanifah dan Abu Tsaur memberi keringanan (membolehkan); sementara Imam Malik berkata: ‘Selain mereka lebih Ku senangi.’ Imam Malik juga memakruhkan memberikan kulit  atau daging kurban, sedikit pun, kepada kaum Nasrani. Sedangkan Imam al-Laits berkata: ‘Bila daging kurban dimasak, maka tidak mengapa orang non muslim dzimmi memakannya bersama kaum muslimin.’ Demikian kata Ibn al-Mundzir.”

An-Nawawi lebih lanjut mengungkapkan (al-Majmu’, VIII/425):

وَلَمْ أَرَ لِأَصْحَابِنَا كَلَامًا فِيهِ وَمُقْتَضَى الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوزُ إطْعَامُهُمْ مِنْ ضَحِيَّةِ التَّطَوُّعِ دُونَ الْوَاجِبَةِ. وَالله أَعْلَمُ .

“Aku tidak menemukan pendapat sahabat-sahabat kami (Syafi’iyyah) dalam masalah ini. Menurut prinsip-prinsip madzhab ini, boleh menghidangkan daging kurban kepada mereka orang fakir dari non muslim dzimmi dari kurban sunnah, bukan kurban yang wajib. Wallahu a’lam.”

Selain an-Nawawi, di kalangan Syafi’iyyah adapula al-Muhib at-Thabari (615-694 H/1218-1295 M) pakar fikih Syafi’i kota Makkah yang berpendapat serupa, boleh menghidangkan daging kurban kepada orang fakir dari non muslim dzimmi, sebagaimana bolehnya bersedekah kepadanya.

Pendapat Ulama Syafi’iyah
Pendapat an-Nawawi yang membolehkan menghidangkan daging kurban kepada non muslim dzimmi diperselisikan maksudnya. Apakah maksudnya:

(a) yang memberikan adalah pekurban sendiri sebagai tangan pertama, sebagaimana yang dipahami al-Adzra’i; atau

(b) yang memberikannya adalah orang fakir atau orang yang dihadiahi daging kurban sebagai tangan kedua, kemudian baru diberikan kepada non muslim.

Opsi pertama menurut jelas tidak boleh sebagaimana dalam Syarh ar-Ramli, sedangkan opsi kedua inilah yang diperselisihkan. Tidak boleh menurut  pendapat kuat dalam mazhab as-Syafi’i dan boleh menurut pendapat an-Nawawi yang dianggap lemah oleh ulama setelahnya (Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khatib, V/251-252 H dan Hasyiyyah Tuhfah al-Muhtaj, IX/346).

Solusi Praktis
Namun demikian, bila kita mengikuti pendapat mazhab Syafi’i, masalah ini bukan tanpa jalan keluar. Ada solusi yang bisa dipertimbangkan, yaitu:

(a) Panitia menghimpun dana/patungan membeli daging sejumlah orang non muslim yang menerima. Daging inilah yang nanti dibagikan kepada non muslim di lingkungan sekitar. Namun cara ini membutuhkan dana lumayan besar bila jumlah orang non muslim yang akan diberi daging kurban cukup banyak.

(b) Mengikuti pendapat an-Nawawi dan al-Muhib at-Thabari (meskipun dianggap lemah oleh mainstream ulama Syafi’iyyah), yaitu dengan memberikan daging kurban (sunnah) kepada orang fakir yang muslim, lalu muslim inilah yang memberikannya kepada non muslim.

Demikian ini cara berbagi daging kurban kepada non muslim, tanpa keluar pakem dari mazhab Syafi’i yang dianut secara luas di Indonesia.

(c) Mengikuti pendapat ulama Hanabilah yang boleh menghadiahkan daging kurban sunnah kepada non muslim, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (IV/282):

وَأَجَازَ الْحَنَابِلَةُ إِهْدَاءُ الْكَافِرِ مِنْ أُضْحِيَةِ التَّطَوُّعِ، أَمَّا الْوَاجِبَةُ فَلَا يَجُوزُ إِهْدَاءُ الْكَافِرِ مِنْهَا شَيْئًا.

“Ulama Hanabilah membolehkan menghadiahkan kurban sunnah kepada non muslim, sedangkan kurban wajib maka tidak boleh diberikan kepadanya sedikit pun.”

Sebagaimana kebolehan ini ditegaskan oleh tokoh besar kalangan mazhab Hanbali berdarah Baitul Maqdis Palestina yang kemudian hijrah ke Damaskus Syiria, al-Muwaffiq Ibn Qudamah al-Maqdisi (541-620 H/1146-1223 M) dalam kitab al-Mughni (IX/109):

وَيَجُوزُ أَنْ يُطْعِمَ مِنْهَا كَافِرًا … وَلَنَا أَنَّهُ طَعَامٌ لَهُ أَكْلُهُ فَجَازَ إِطْعَامُهُ لِلذِّمِيِّ كَسَائِرِ طَعَامِهِ، وَلِأَنَّهُ صَدَقَةُ تَطَوُّعٍ فَجَازَ إِطْعَامُهَا الذِّمِيَّ وَالْأَسِيرَ كَسَائِرِ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ. فَأَمَّا الصَّدَقَةُ الْوَاجِبَةُ مِنْهَا فَلَا يُجْزِىءُ دَفْعُهَا إِلَى كَافِرٍ لِأَنَّهَا صَدَقَةٌ وَاجِبَةٌ، فَأَشْبَهَتِ الزَّكَاةَ وَكَفَارَةَ الْيَمِينِ.

“Dan boleh pekurban memberikan kurban sunnah kepada non muslim … Kita ulama Hanabilah mempunyai alasan: (a) bahwa kurban tersebut boleh dimakannya, sehingga boleh meghidangkannya kepada non muslim dzimmi sebagaimana makannya yang lain dan (b) karena kurban sunnah adalah sedekah sunnah, sehingga boleh menghidangkannya kepada non muslim dzimmi dan tawanan perang sebagaimana sedekah lainnya. Sedangkan sedekah wajib dari kurban maka tidak cukup (tidak sah) diberikan kepada non muslim, karena sedekah wajib menyerupai zakat dan kafarat (tebusan) melanggar sumpah.”

Kurban untuk Non Muslim Apakah Terbatas pada Dzimmi?
Lalu apakah kurban untuk non muslim apakah terbatas pada dzimmi sebagaimana mayoritas ungkapan ulama ketika membahasnya? Dalam kitab Hasyiyyah Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah (IXX/160) dijelaskan:

وَهَلْ بِتَقْيِيدِ مَا قَالَهُ بِفُقَرَاءِ الذِّمِّيِّينَ أَوْ يَجُوزُ عَلَيْهِ إطْعَامُ الْكُفَّارِ مُطْلَقًا وَلَوْ أَغْنِيَاءَ وَغَيْرَ ذِمِّيِّينَ؟ فِيهِ نَظَرٌ. وَقَضِيَّةُ الْمَعْنَى أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ الذِّمِّيِّينَ وَغَيْرِهِمْ.

Apakah dengan batasan yang dikatakan oleh an-Nawawi: ‘orang-orang fakir dari golongan non muslim dzimmi, atau bagi pekurban boleh menghidangkan kurbannya kepada non muslim secara mutlak, meskipun kaya dan tidak dzimmi? Di situ perlu dikaji lagi. Namun secara substansial tidak ada perbedaan antara golongan non muslim yang dzimmi dan selainnya.

Referensi lainnya:

تحفة الحبيب على شرح الخطيب – ج 5 / ص 251

قوله :(وتعجب منه الأذرعي الخ) أي مما وقع في المجموع أي لأن القصد منها إرفاق المسلمين بأكلها لأنها ضيافة من الله فلا يجوز تمكين غيرهم منها. وكلام الشارح يقتضي أن الذي في المجموع وتعجب منه الأذرعي هو إطعام المضحي لفقراء أهل الذمة والذي في شرح م ر امتناع ذلك منه، وأن ما في المجموع إنما هو في إعطاء الفقير أو المهدى له شيئاً منها للكافر. وعبارته: وخرج بالمضحي عن نفسه ما لو ضحى عن غيره فلا يجوز له الأكل منها، كما لا يجوز إطعام كافر منها مطلقاً فقيراً أو غنياً مندوبة أو واجبة ويؤخذ من ذلك امتناع إطعام الفقير والمهدى إليه شيئاً منها للكافر إذ القصد منها إرفاق المسلمين بأكلها ، لكن في المجموع أن مقتضي المذهب الجواز.  وفي ع ش على م ر . ودخل في الإطعام ما لو ضيف الفقير أو المهدى إليه الغني كافراً فلا يجوز نعم لو اضطر الكافر ولم يوجد ما يدفع ضرورته إلا لحم الأضحية فينبغي أن يدفع له منه ما يدفع ضرورته ويضمنه الكافر ببدله للفقراء، لو كان الدافع له غنياً كما لو أكل المضطر طعام غيره فإنه يضمنه بالبدل ولا تكون الضرورة مبيحة له إياه مجاناً اه .

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – ج 41 / ص 141

( قَوْلُهُ : وَيُؤْخَذُ مِنْهُ ) أَيْ مِنْ عَدَمِ جَوَازِ أَكْلِ الْكَافِرِ مِنْهَا مُطْلَقًا ( قَوْلُهُ : إنَّ الْفَقِيرَ ، وَالْمُهْدَى إلَيْهِ إلَخْ ) لَكِنْ فِي الْمَجْمُوعِ أَنَّ مُقْتَضَى الْمَذْهَبِ الْجَوَازُ نِهَايَةٌ أَيْ وَهُوَ ضَعِيفٌ كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا يَأْتِي فِي الشَّارِحِ ا هـ .

رَشِيدِيٌّ وَسَيَأْتِي تَضْعِيفُهُ أَيْ كَلَامُ الْمَجْمُوعِ عَنْ سم عَنْ الْإِيعَابُ أَيْضًا

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 41 / ص 146)

( قَوْلُهُ : وَلَا يُصْرَفُ شَيْءٌ مِنْهَا لِكَافِرٍ عَلَى النَّصِّ ) قَالَ فِي شَرْحِ الْعُبَابِ كَمَا نَقَلَهُ جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ وَرَدُّوا بِهِ قَوْلَ الْمَجْمُوعِ وَنَقَلَهُ الْقَمُولِيُّ عَنْ بَعْضِ الْأَصْحَابِ وَهُوَ وَجْهٌ مَالَ إلَيْهِ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ أَنَّهُ يَجُوزُ إطْعَامُ فُقَرَاءِ الذِّمِّيِّينَ مِنْ أُضْحِيَّةِ التَّطَوُّعِ دُونَ الْوَاجِبَةِ أَيْ كَمَا يَجُوزُ إعْطَاءُ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ لَهُ وَقَضِيَّةُ النَّصِّ أَنَّ الْمُضَحِّيَ لَوْ ارْتَدَّ لَمْ يَجُزْ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا وَبِهِ جَزَمَ بَعْضُهُمْ وَأَنَّهُ يَمْتَنِعُ التَّصَدُّقُ مِنْهَا عَلَى غَيْرِ الْمُسْلِمِ ، وَالْإِهْدَاءُ إلَيْهِ ا هـ .



Resource Berita : dutaislam.com
Alhamdulllah, Kapolri dan Panglima TNI Naik Haji Bersama

Alhamdulllah, Kapolri dan Panglima TNI Naik Haji Bersama



WartaIslami ~ Kapolri Jendral H Mohammad Tito Karnavian dan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo menunaikan rukun islam kelima yaitu naik haji. Kapolri bersama rombongan tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Senin (28/8).

“Alhamdulillah sudah tiba didampingi beberapa pejabat. Semoga diberi kelancaran dan menjadi haji yang mabrur,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto.

Kapolri tiba di bandara bersama rombongan mengenakan baju batik hijau muda keemasan.

Sedangkan Panglima TNI mengenakan baju koko putih. Saat tiba di bandara keduanya tampak sumrinfah tersenyum dan sempat berfoto.

Bersama jutaan ummat muslim dunia, Kapolri dan Panglima akan menjalankan ibadah haji sekaligus berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara indonesia.

Tercatat 203.065 jemaah haji indonesia dan 2.534 petugas kloter sudah berada di Arab Saudi. Ada pun jemaah wafat hingga saat ini berjumlah 112 orang.



Resource Berita : muslimoderat.net
NU Sangat Dicintai dan Makin Mendunia

NU Sangat Dicintai dan Makin Mendunia



WartaIslami ~ Meriahnya Silaturahmi Nahdatul Ulama sedunia ke-16 dengan tema "Konsistensi NU dalam Mengawal NKRI dan Perdamaian Dunia", menunjukan betapa NU makin dicintai oleh Muslim seluruh Dunia.

Acara tersebut diadakan di Hotel Arkan Bakah Mekah di hadiri Mentri Agama Lukman Hakim Saepudin, Dubes Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, Konjen Muhammad Heri Saepudin, Mbah Maemun Zubair, Gus Sholah dan para jamaah Haji Indonesia dll.

Sekitar 1000 orang yang hadir sampai sebagian duduk di lantai, saking banyak nya Nahdiyin ingin bersilaturahmi dengan para Ulama Nusantara. Luar biasa istimewa daya magnet Ulama Nusantara.

Keistiqomahan, kesungguhan dan keikhlasan para Masyayikh, Kiai Kiai NU dalam mengayomi dan melayani umat menjadi daya magnetis utama. Sehingga tanpa di suruh dan tanpa diajak, umat datang dengan sendirinya. Kita patut bangga dengan PBNU. Saya bangga jadi NU...Kamu?



Resource Berita : muslimoderat.net
KH Anwar Manshur Lirboyo: Putro Sampean Gelem Mondok niku Pitulunge Allah Engkang Ageng

KH Anwar Manshur Lirboyo: Putro Sampean Gelem Mondok niku Pitulunge Allah Engkang Ageng



WartaIslami ~ "Sampean kagungan putro gelem mondok niku masyallah, niku pitulung ageng. pitulunge Allah engkang ageng, mergo gelem ngaji niku berarti dikersak ne apik dining Allah...mergo tengere wong apik niku gelem ngaji

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
Seng cedek kyai cedek pondok gak gelem ngaji, seng adoh2 malah podo teko. mergo Allah ta'ala diobahno atine gelem budal ngaji"

KH. M. Anwar Manshur..



Resource Berita : muslimoderat.net
Doa agar Terhindar dari Penyakit Rihul Ahmar "Angin Merah yang Mematikan"

Doa agar Terhindar dari Penyakit Rihul Ahmar "Angin Merah yang Mematikan"



WartaIslami ~ Pada suatu ketika dimana Nabi Allah Sulaiman a.s duduk di singgahsananya,

Maka datang satu Angin yang cukup besar, maka bertanya Nabi Allah
Sulaiman siapakah engkau......?.

Maka dijawab oleh Angin tersebut : akulah Angin Rihul Ahmar....dan

Aku bila memasuki rongga anak Adam, maka lumpuh, keluar darah dari
rongga, dan apabila aku memasuki otak anak Adam, maka menjadi gilalah anak Adam.....
Maka diperintahkan oleh Nabi Sulaiman a.s supaya membakar angin
tersebut,maka berkatalah Rihul Ahmar kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa:
Aku kekal sampai hari Kiamat tiba,tiada sesiapa yang dapat membinasakan Aku melainkan Allah SW T.
Lalu Rihul Ahmar pun menghilang.
Diriwayatkan cucu Nabi Muhammad SAW terkena Rihul Ahmar
sehingga keluar darah dari rongga hidungnya.
Maka datang Malaikat Jibril kepada
Nabi SAW dan bertanya Nabi kepada Jibril.
Maka menghilang sebentar,lalu Malaikat Jibril kembali mengajari akan do'a Rihul Ahmar kepada Nabi SAW kemudian
dibaca do'a tersebut kepada cucu nya dan dengan sekejap cucu Rasulullah sembuh serta merta.
Lalu bersabda Nabi S AW : Bahwa barang siapa membaca do'a stroke/do'a Rihul Ahmar.....walau sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari penyakit ANGIN AHMAR atau
STROKE.
Do'a menjauhkan terhindar dari angin ahmar dan penyakit kronik :
اللهم إني أعوذبك من الريح الأحمر والدم الأسود والداء الأكبر
Allahumma inni a'uzubika minarrihil ahmar, waddamil aswad, waddail akbar....
Artinya :
Ya Allah Tuhanku lindungi aku dari angin merah dan lindungi aku dari darah hitam (stroke) dan dari penyakit berat.



Resource Berita : muslimoderat.net
close
Banner iklan disini