Makkah, Ka'bah, Arafah: Sejarah Haji Zaman Pra Islam Hngga Kini

Makkah, Ka'bah, Arafah: Sejarah Haji Zaman Pra Islam Hngga Kini



WartaIslami ~ Makkah selalu menjadi pusat spiritual bagi semua umat Islam.  di istu ada Ka;bah yang menjadi arah Muslim sedunia ketika melakukan sholat.

Setiap kali musim haji, Makkah menerima lebih dari 3 juta peziarah di seluruh dunia untuk melakukan haji yang meruoakan ukun Islam kelima. Haji bagi Muslim adalah ibadah yang wajib bagi mereka yang mampu dan setidaknya dilakukan sekali dalam seumur hidup.

Dalam Alquran, Allah berfirman haji dilakuan pada bulan tertentu (bulan Dzuhijah).  Dan siapa pun yang telah membuat haji wajib bagi dirinya sendiri di dalamnya (dengan memasuki keadaan ihram), maka mereka tak melakukan hal-hal yang terlarang, misalnya tidak ada hubungan seksual, tidak menumpahkan darah  atau melakukan  perselisihan, dan berbagai tindakan terlarang lainnya.

Seperti dikutip Saudigazette.com, haji adalah perjalanan seumur hidup dan bagi banyak orang, ini adalah titik balik dalam iman mereka dan hubungannya dengan Allah. Yang lain menganggap haji sebagai perjalanan yang terus berlanjut, Ketika mereka kembali ke rumah mereka mengajari keluarga, kerabat dan temannya sehingga apa yang telah mereka pelajari tentang kesabaran, merawat orang lain, dan penyerahan yang murni serta lengkap selama musim haji tetap dilestarikan dalam kehidupan keseharian.

Haji secara harfiah berarti 'berangkat ke suatu tempat'. Perjalanan haji berlangsung di Dhul-Hijjah pada bulan terakhir dalam sistem kalender Hijriyah. Ritual haji dimulai pada tanggal 9h Dhul-Hijjah dan berlangsung selama empat atau lima hari.

Alquran menjelaskan bahwa haji kembali ribuan tahun ke zaman Nabi Ibrahim. Allah memerintahkannya untuk meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail sendirian di padang pasir Makkah dengan sedikit makanan dan air.

Dan, ketika bekal air mulai habis, Hajar mulai mencari air  dengan putus asa dengan berlari tujuh kali di antara dua bukit Al-Safa dan Al-Marwah. Mamun meski sudah bolak-balik, air tetap tidak dapat ditemukan.

Tapi di ujung keputusasaan mencarikan air untuk pada Ismail, Hajar kemudian melihat bayi itu menendang tanah dengan kakinya dan  air pun kemudian muncul dari bawah kakinya.''Zamzam-Zamzam (berkumpu-berkumpul) air itu,'' kata Hajar ketika menjumpai ke luarnya mata air dari bawah kaki Ismail. Maka mata air yang muncul itu kemudian di namakan sumur Zamzam.

Selang bertahun-tahun kemudian, Ibrahim kemudian diperintahkan oleh Allah untuk membangun kembali Ka'bah. Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail kemudian mengangkat batu untuk membangun  Ka'bah.

Ulama Islam, Shibli Nomani, menyebutkan bahwa Ka’bah yang diangkat oleh Nabi Ibrahim setinggi 27 kaki, lebarnya 96 kaki, dan lebar 66 kaki. Dia meletakkan Batu Hitam (Hjar Aswad) di sudut timur Ka'bah. Pada saat itulah, Nabi Ibrahim kemudian menerima wahyu dimana Allah memberitahunya bahwa dia harus mewartakan ziarah ke Ka’bah kepada umat manusia.

(Dan (sebutkan, wahai Muhammad), ketika Kami menunjuk Ibrahim ke rumah tersebut, (katakanlah), "Janganlah kamu bergaul dengan Aku dan sucikan rumah-Ku untuk mereka yang melakukan Tawaf dan orang-orang yang berdiri (dalam doa) dan orang-orang Yang sujud dan sujud.) (Surat 22, Ayat 26)

Setelah membangun Ka'bah, Nabi Ibrahim akan datang ke Makkah untuk melakukan haji setiap tahun,. dan setelah kematiannya, anak keturunan Ibrahim pun melanjutkan ritual ini. Namun, sering perjalanan waktu lambat laun baik bentuk maupun tujuan ritual haji pun berubah.

Pada masa pra-Islam, Ka'bah dikelilingi oleh berbagai berhala yang dipasang oleh orang-orang Makkah maupun pendatang yang berasal  diari luar yang terbiasa mengunjungi Ka'bah selama musim ziarah tahunan ini.

Shibli Nomani menyebutkan bahwa orang-orang Arab sat itu tidak berjalan di antara perbukitan Al-Safa dan Al-Marwah atau berkumpul di Arafah. Tapi mereka biasa menghabiskan satu hari di daerah terpencil di luar Makkah dan kembali ke Makkah yang mengelilingi Ka'bah.

Selama periode pra-Islam, haji menjadi acara beberapa festival dan kegiatan seperti kompetisi puisi. Puisi-puisi yang paling terkenal yang digunakan dipajang di dinding Ka'bah. Kegiatan dan pertunjukan yang tidak dapat diterima lainnya juga berlangsung selama masa haji.

Keadaan menyedihkan ini berlanjut selama hampir dua setengah ribu tahun dan baru berubah setelah periode  Rasulullah  Muhammad saw.

Pada 630 M, Nabi Muhammad saw  dan orang-orang Muslim kembali dari Madinah ke Makkah serta membebaskan Ka’bah dari ritual kaum pagan dan penyembah berhala. mengklaim Mekah.  Saat embebaskan kota Makkah ini  Rasullah bersama kaum muslimin membersihkan Ka'bah dan menghancurkan semua berhala.

Tahun berikutnya, Abu Bakr, memimpin 300 Muslim untuk melakukan ibadah haji di Makkah. Ali ibn Abi Thalib berbicara kepada orang-orang, yang menentukan ritual haji yang baru. Dia menyatakan bahwa tidak ada orang kafir atau telanjang yang diizinkan untuk mengelilingi Ka'bah dari tahun berikutnya.

Pada tahun kesepuluh setelah Hijrah (632 M), Nabi Muhammad SAW melakukan haji terakhir dan terakhir dengan sejumlah besar umat Islam, dan dia mengajar mereka ritual haji dan tata krama untuk melakukan ibadah haji.

Di padagang gurun Arafah, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pidatonya yang terkenal (Pidato Haji Wada) kepada mereka yang hadir di sana. Di situlah nabi menyampaikan firman Alah: Pada hari ini saya (Allah) telah menyempurnakan agamamu dan melengkapi nikmat-Ku atasmu dan telah menyetujui Islam sebagai agamamu.


Resource Berita : ihram.co.id
Doa Kiai Subchi Parakan saat Menyepuh Bambu Runcing

Doa Kiai Subchi Parakan saat Menyepuh Bambu Runcing



WartaIslami ~ Perjuangan keras mengusir penjajah dengan taruhan jiwa dan raga terus dilakukan oleh rakyat Indonesia terutama peran kiai dan para santri yang turut menguatkan sugesti spiritual untuk berjihad melawan penjajah sekaligus menguatkan jiwa nasionlisme sebagai pondasi membebaskan tanah air dari belenggu kolonialisme. Berbagai langkah dan strategi dilakukan walaupun dengan menggunakan senjata tradisional, bambu runcing.

Karakternya yang tegak, kuat, gagah, dan tajam tidak lantas membuat para pejuang berhenti berikhtiar untuk mengisi bambu runcing dengan kekuatan doa dari seorang ulama sepuh dari daerah Parakan, Magelang, Jawa Tengah, Kiai Haji Subchi yang pada tahun 1945 telah berusia 87 tahun.

KH Subchi mempunyai nama lahir Mohamad Benjing. Setelah berumah tangga namanya berganti menjadi R. Somowardojo. Namanya mengalami perubahan lagi setelah menunaikan ibadah haji, yaitu Subchi. Ia lahir di Parakan, Temanggung, 31 Desember 1858, juga meninggal di tempat kelahirannya tersebut pada 6 April 1959 saat ia berusia 100 tahun.

Pada masa perang mengusir sekutu di Surabaya dan sejumlah daerah lainnya, ratusan bahkan ribuan tentara sabil, baik Hizbullah dan Sabilillah juga Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selalu membanjiri rumah Kiai Subchi untuk menyepuh bambu runcingnya dengan doa. Bahkan untuk keperluan menyemayamkan kekuatan spiritual ini, Jenderal Soedirman dan anak buahnya juga berkunjung ke rumah kiai yang dijuluki sebagai Kiai Bambu Runcing tersebut.

Doa yang diucapkan oleh Kiai Subchi untuk menyepuh ribuan bambu runcing adalah sebagai berikut (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010: 132):

Bismillahi
Ya hafidhu, Allahu Akbar
Dengan nama Allah
Ya Tuhan Maha Pelindung
Allah Maha Besar

Kisah penyepuhan bambu runcing yang dilakukan oleh Kiai Subchi ini dijelaskan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Guruku Orang-orang dari Pesantren. Dalam salah satu buku memoar sejarah tersebut, dijelaskan bahwa hampir bersamaan ketika terjadi perlawanan dahsyat dari laskar santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang mengadakan perlawanan yang sama ketika tentara Sekutu juga mendarat di Ibukota Jawa Tengah itu.

Dari peperangan tersebut, lahirlah pertempuran di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan Sekutu (Inggris). Kabar pecahnya peperangan di sejumlah daerah tersebut juga tersiar ke daerah Parakan. Dengan niat jihad fi sabilillah untuk memperoleh kemerdekaan dan menghentikan ketidakperikemanusiaan penjajah, Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan ikut bergabung bersama pasukan lain dari seluruh daerah Kedu.

Setelah berhasil bergabung dengan ribuan tentara lain, mereka berangkat ke medan pertempuran di Surabaya, Semarang, dan Ambarawa. Namun sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu mampir ke Kawedanan Parakan guna mengisi dan memperkuat diri dengan berbagai macam ilmu kekebalan dari seorang ulama tersohor di daerah Parakan, Kiai Haji Subchi.

Didorong semangat jihad yang digelorakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad NU serta kesadaran agar terlepas dari belenggu penjajahan untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucu di Indonesia, Kiai Subchi memberikan bekal berupa doa kepada barisan Hizbullah dan Sabilillah. Tentara Allah itu berbaris dengan bambu runcingnya dan masing-masing mereka ‘diberkahi’ oleh doa Kiai Subchi. (Fathoni Ahmad)


Resource Berita : nu.or.id
Cerita di Balik Keberhasilan Gus Dur Mengajak Para Kiai Keliling Eropa

Cerita di Balik Keberhasilan Gus Dur Mengajak Para Kiai Keliling Eropa



WartaIslami ~ Mengingat Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, masyarakat memahami betul setiap optimisme dan semangat dari Presiden ke-4 RI ini. Gus Dur tak jarang mempunyai keinginan besar yang kerap tidak dipikirkan oleh siapapun. Termasuk ketika dirinya yakin bakal menjadi Presiden RI namun ditanggapi pesimis oleh orang-orang terdekatnya. Nyatanya, cucu KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini mampu membuktikan diri.

Salah satu keinginan besar Gus Dur yakni ketika ia berkemauan besar mengajak para kiai keliling Eropa. Riwayat ini diceritakan oleh sahabat karib Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Dari sekian kehebatan Gus Dur, kata Gus Mus, hal lain yang hebat darinya yaitu ketika ia berkeinginan mengajak para kiai keliling Eropa. (Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Gus Dur sudah lama memendam keinginan ini. Namun belum bisa terwujud berhubung selalu saja tidak atau belum punya uang. Suatu saat kebetulan ada syembara menulis tentang kependudukan. Hadiahnya wisata ke luar negeri. Fahmi Dja’far Saifuddin yang mengabari Gus Dur soal ini dan dia mengusulkan agar Gus Dur mengkuti sayembara tersebut.

“Lah, bagaimana aku nulis soal yang aku tidak cukup mengerti,” seru Gus Dur kepada sahabatnya itu. “Kalau begitu aku ajari ya, tapi satu jam saja,” ujar Fahmi menanggapi respon Gus Dur. Lalu Gus Dur menyetujui tawaran salah seorang putra KH Saifuddin Zuhri tersebut.

Fahmi segera menjelaskan seluk-beluk kependudukan sambil membuat oret-oretan atau dalam bahasa popuernya blukonah (bulat-bulat, kotak-kotak, dan panah-panah). Fahmi memang ahli soal bikin cara ini secara dia adalah seorang fasilitator hebat.

Sementara ‘sang guru’ sedang asyik dan serius menjelaskan soal kependudukan sambil oret-oretan di papan tulis, hal itu justru direspon Gus Dur dengan tidur, seakan tak acuh. Melihat pemandangan tersebut, Fahmi juga tak acuh dengan terus menerangkan tanpa henti seperti orang yang sedang bicara sendiri.

Diceritakan Gus Mus, ketika Fahmi telah usai menjelaskan, segera ia bilang kepada Gus Dur waktu sudah mencapai satu jam sesuai ketentuan awal. “Sudah satu jam nih Gus,” kata Fahmi sambil mengarahkan pandangannya kepada Gus Dur yang masih terlihat lelap. Mendengar suara Fahmi, Gus Dur terbangun dan melihat blukonah di papan tulis. Lalu menanyakan hal ini dan itu yang sesungguhnya terkesan seolah-olah ingin melengkapi penjelasan Fahmi.

“Kok yang ini tidak ada, yang itu belum ada lanjutannya, yang dikotak itu mengapa begitu, kok panahnya ke situ,” sergah Gus Dur terhadap apa yang dia lihat dari hasil penjelasan Fahmi di papan tulis. Sang guru kependudukan itu nampak heran dan kewalahan. Boleh jadi dia menyimpan kagum, kok Gus Dur tibane (justru) ngerti ya? Lalu, dia mencoba mendiskusikannya secara mendalam dengan Gus Dur yang tadinya mengaku tidak cukup paham soal kependudukan tapi secepat kilat menjadi seperti pakar.

Begitu diskusi dan penjelasan selesai, Gus Dur menulis dengan menggunakan mesin ketik lama dengan metode dua jari. Setelah selesai menulis, Gus Dur segera mengirimkan ke panitia perlombaan. Tak disangka, beberapa lama kemudian, artikel kependudukan yang ditulis Gus Dur dinyatakan menang oleh penitia setelah melalui rangkaian seleksi ketat karena diikuti oleh sejumlah pakar di bidang kependudukan.

Kata Gus Mus, tentu saja saat itu Gus Dur sangat bergembira. Bukan sekadar persoalan menjuarai lomba menulis tersebut, tetapi keinginan dia mengajak beberapa kiai keliling Eropa dari hadiah lomba itu bakal segera terlaksana. (Fathoni Ahmad)


Resource Berita : nu.or.id
Hukum Jadi Imam Shalat Padahal Tidak Disukai Jamaah

Hukum Jadi Imam Shalat Padahal Tidak Disukai Jamaah



WartaIslami ~ Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pak ustadz yang kami hormati, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Di lingkungan sekitar saya ada satu masjid. Setidaknya ada tiga orang yang menjadi imam shalat fardhu. Tetapi dari tiga imam tersebut ada satu imam yang sok tahu, sok pintar dan terkesan merasa paling benar sendiri. Kalau mengingatkan orang lain bahasanya terkesan kurang halus. Selain itu ada beberapa hal yang menurut kami tidak perlu disebutkan. Akibatnya banyak orang yang tidak menyukainya.

Yang ingin kami tanyakan adalah bagaimana hukumnya orang yang menjadi imam shalat, padahal mayoritas jamaah tidak menyukainya? Lantas bagaimana hukum kita shalat dengannya? Mohon penjelasannya. Kami sampaikan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Jakarta Selatan)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kehidupan bermasyarakat persoalan suka atau tidak suka terhadap satu individu adalah hal yang lumrah. Ada orang yang kita sukai, adapula yang tidak kita sukai. Ada orang yang banyak disukai, adapula yang orang yang banyak dibenci.

Lantas bagaimana jika ada sosok atau orang yang tidak banyak disukai di lingkungannya karena berbagai sebab, di antaranya karena akhlaknya kurang baik atau seperti karena beberapa hal yang kurang berkenan seperti dijelaskan dalam pertanyaan di atas, menjadi imam shalat, padahal mayoritas jamaahnya kurang menyukainya?

Dalam literatur kitab fikih madzhab Syafi‘i dijelaskan bahwa jika ada seseorang yang tidak disukai orang banyak atau di lingkungan sekitar, maka ia dimakruh menjadi imam.

Sedangkan salah satu dalil yang dikemukakan untuk mendukung pendapat ini adalah riwayat Ibnu Abbas RA yang menyatakan bahwa Nabi SAW pernah mengatakan bahwa ada tiga orang di mana Allah tidak mengangkat shalat mereka ke atas kepalanya, salah satunya adalah seseorang yang menjadi imam shalat padahal jamaahnya tidak menyukainya.

وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلَّيِ الرَّجُلُ بِقَوْمٍ وَأَكْثَرُهُمْ لَهُ كَارِهُونَ لِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يَرْفَعُ اللهُ صَلَاتَهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ فَذَكَرَ فِيْهِمْ رُجُلًا أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Artinya, “Dimakruhkan seseorang shalat menjadi imam bagi suatu kaum, sedangkan mayoritas dari kaum itu tidak menyukainya. Pandangan ini didasarkan pada riwayat Ibnu Abbas RA yang menyatakan bahwa Nabi SAW pernah mengatakan bahwa ada tiga orang yang Allah tidak mengangkat shalat mereka ke atas kepalanya, salah satunya yang disebutkan dalam riwayat tersebut adalah seseorang yang mengimami suatu kaum padahal kaum tersebut tidak menyukainya,” (Lihat Abu Ishaq Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, Beirut, Darul Fikr, juz II, halaman 98).

Lain halnya apabila yang tidak menyukainya hanya sebagian kecil orang. Dalam konteks yang kedua ini, maka ia tidak makruh menjadi imam, sebab tidak ada seorang pun yang sama sekali disukai semua orang.

فَإِنْ كَانَ الَّذَي يَكْرَهُهُ الْأَقَلُّ لَمْ يُكْرَهْ أَنْ يَؤُمَّهُمْ لِاَنَّ أَحَدًا لَا يَخْلُو مِمَّنْ يَكْرُهُهُ

Artinya, “Karenanya apabila orang tersebut tidak disukai oleh sedikit orang maka ia tidak makruh menjadi imam mereka, karena tidak ada seorang pun yang semua orang menyukainya,” (Lihat, Abu Ishaq As-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, juz II, halaman 98).

Sampai di sini terlihat jelas kemakruhan menjadi imam bagi orang yang tidak disukai oleh kebanyakan orang atau lingkungan sekitar. Jika dikatakan bahwa orang yang tidak disukai kebanyakan orang makruh menjadi imam bagi mereka, lantas apakah mereka juga makruh bermakmum dengan orang tersebut?

Ketidaksukaan kebanyakan orang terhadap imam tersebut ternyata tidak dengan serta memakrukan mereka untuk bermakmun dengannya. Jadi yang terkena hukum makruh adalah seseorang yang menjadi imam padahal ia tidak disukai oleh mayoritas jamaahnya sehingga jamaah yang bermakmun kepadanya tidak terkena hukum makruh. Demikian sebagaimana yang dipahami dari penjelasan Sulaiman Al-Jamal berikut ini.

أَمَّا الْمُقْتَدُونَ اَلَّذِينَ يَكْرَهُونَهُ فَلَا تُكْرَهُ لَهُمُ الصَّلَاةُ خَلْفَهُ

Artinya, “Adapun orang-orang yang bermakmum kepada (imam) yang mereka tidak sukai maka tidak makruh bagi mereka untuk shalat di belakangnya,” (Lihat Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, Beirut, Darul Fikr, juz II, halaman 767).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)


Resource Berita : nu.or.id
Hukum Gunakan Tangan Kiri Dalam Aktivitas

Hukum Gunakan Tangan Kiri Dalam Aktivitas



WartaIslami ~ Assalamu 'alaikum
Kepada dewan redaksi Bahtsul Masail NU Online yang terhormat, izinkan saya yang awam ini bertanya. Bagaimana pandangan Islam dalam menilai orang-orang Kidal atau orang-orang yang punya kebiasaan memakai anggota badan yang sebelah kiri? Terima kasih, sebelum dan sesudahnya. (Zaenudin Jalil)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan kali ini kami berusaha untuk merumuskan jawaban pertanyaan tentang pandangan Islam terhadap fenomena orang kidal.

Penanya yang budiman dan para pembaca yang baik hati, Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Sifatnya yang rahmatan lil alamin menjadikan Islam sebagai agama yang peka terhadap realitas, termasuk realita orang kidal.

Pada dasarnya, semua hal tingkah, perilaku, watak, ataupun karakter manusia dipengaruhi oleh dua hal, yakni alamiah dan pola asuh. Demikian pula halnya dengan kidal.

Islam mengajarkan untuk lebih mendahulukan yang kanan dalam hal yang baik. Sebaliknya, mendahulukan yang kiri dalam hal yang buruk. Tetapi, bukan berarti manusia yang terlahir kidal lantas bisa kita vonis sebagai manusia yang buruk.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Artinya, “Nabi SAW suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir,bersuci, dan dalam semua urusannya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatian tertentu Nabi tentang menggunakan tangan kanan juga berlaku pada persoalan makan.

إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه، وإذا شرب فليشرب بيمينه، فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله

Artinya, "Apabila kalian makan, gunakan tangan kanan. Jika kalian minum, gunakanlah tangan kanan karena setan makan dan minum dengan tangan kiri,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad SAW pernah memberi nasihat kepada anak kecil (Umar bin Salamah) yang makan dengan tangan kiri. Rasulullah SAW menasihatinya.

كُل بيمينك وكل مما يليك

Artinya, "Makanlah dengan tangan kananmu dan makan yang ada di dekatmu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Meskipun demikian, hadits di atas tidak bisa kita pahami secara mentah-mentah karena menurut Imam An-Nawawi ada beberapa pengecualian dengan mempertimbangkan beberapa kondisi.

وهذا إذا لم يكن عذر، فإن كان عذر يمنع الأكل والشرب باليمين من مرض أو جراحة أو غير ذلك فلا كراهة

Artinya, “Ini berlaku jika tidak ada uzur. Jika ada uzur yang menyebabkan tidak bisa makan dan minum dengan tangan kanan karena sakit, luka, atau yang lainnya, maka hukumnya tidak makruh, (Lihat Muhyuddin bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj fi Syarhi Shahihi Muslim Al-Hajjaj, Beirut, Muassisah Al-Qurthubah, cetakan kedua, 1994 M, juz 13, halalaman 191).

Dengan demikian, hendaknya orang yang kidal berusaha melatih diri untuk menggunakan tangan kanan pada saat makan dan minum agar terhindar dari hukum makruh, demikian pula dalam hal-hal lainnya yang bersifat ibadah seperti memegang atau membawa mushaf dan sebagainya. Sedangkan untuk hal-hal lainnya seperti bekerja, mengambil barang-barang, dan sebagainya, tidak masalah jika menggunakan tangan kiri bagi orang yang kidal.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Muhammad Ibnu Sahroji)


Resource Berita : nu.or.id
Fenomena First Travel; Cermin Hilangnya Sikap Zuhud

Fenomena First Travel; Cermin Hilangnya Sikap Zuhud



WartaIslami ~ Islam menjadi agama yang mayoritas dianut oleh warga negara Indonesia. Hari ini, umat Islam dihadapkan pada sebuah adagium "Karena warga negara Indonesia mayoritas beragama Islam, maka terpidana korupsi pun paling banyak orang Islam". Sebagian kalangan, mungkin saja tertawa dengan adagium semacam ini. Saya sendiri lebih memilih menulis artikel ini sesudah mendengar candaan itu di sebuah warung kopi.

Menjadi mayoritas memang seringkali melahirkan beban berat, selain harus menjadi teladan, tingkah polah kita selalu menjadi sorotan. Terakhir, fenomena penggelapan dana umrah calon jemaah oleh biro perjalanan First Travel seolah menampar kita selaku umat. Spirit keikhlasan para calon jemaah dinodai oleh pemilik biro perjalanan itu, yang konon dananya diinvestasikan dalam bentuk lain. Namun kabar lain yang santer terdengar, dana itu malah digunakan untuk berfoya-foya.

Saya kira, dalam konteks ini, kita harus arif sejak dalam berpikir. Keafiran ini terlambang dari cara pandang kita, mari pisahkan antara syari'at dan keharusan agama yang lain dengan perilaku oknum umat beragama. Sebab kedua hal ini jelas memiliki perbedaan yang kentara.

Secara ajaran misalnya, dalam Islam terhadap sebuah sikap mental yang sudah seharusnya dilaksanakan oleh seluruh umat bernama zuhud. Menurut Imam Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin jilid IV : 211 (Penerbit : Karya Toha Putra, Semarang). Zuhud memiliki makna "ibaaratun 'an inshirafir raghbah 'anisy syai ilaa maa huwa khairun minhu" (sebuah kondisi tersingkirnya keinginan terhadap sesuatu, kepada sesuatu yang lain, yang lebih baik dari sesuatu yang diinginkan itu).

Definisi yang dihadirkan oleh Imam Ghazali ini sebenarnya memberikan pembeda kepada kita selaku umat, tentang sesuatu yang menjadi kebutuhan dan sesuatu yang menjadi keinginan. Hal yang terakhir ini, jika terus menerus hati dan seluruh anggota badan kita tertunduk, taat kepadanya, maka pada saat yang sama, keinginan menjadi tuhan baru yang mengatur seluruh gerak perilaku kita sendiri.

Adapun tempat bertumbuhnya keinginan itu adalah sesuatu bernama hawa nafsu. Secara terminologi, hawa memiliki makna sesuatu yang kosong. Sementara nafsu sejalan dengan napas, sesuatu yang tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan. Karena hakikatnya kosong, maka, tidak pernah akan sampai pada derajat berisi, apalagi penuh. Karena ia tidak terlihat, maka, dikejar sampai kematian menjelang pun tidak akan pernah terkejar.

Inilah hakikat kehidupan duniawi yang diwanti-wanti oleh para ulama sufi agar jangan terlalu diberikan prioritas.

Namun tentu saja, bukan berarti Islam mengajarkan kepada umatnya agar hidup dalam keadaan miskin. Karena dalam Islam diwajibkan untuk berhaji, sunah seumur hidup sekali untuk umrah, berzakat, bersedekah, berinfaq yang seluruhnya membutuhkan bekal materi. Kondisi yang dilarang ,ada dalam hati umat Islam yakni keterikatan hati oleh materi tersebut sehingga mencegah amal-amal yang tadi disebutkan. Inilah zuhud itu sendiri.

Kehilangan sikap zuhud akan menjadikan manusia selalu berada dalam perasaan serba kekurangan di tengah aneka kelebihan yang dia miliki. Akibatnya, ia selalu ingin menambah jumlah materi, lagi dan lagi tanpa memikirkan kembali sumber materi tersebut diperoleh dengan cara halal atau haram. Korupsi, hanya salah satu akibat dari kehilangan sikap zuhud ini.

Padahal, sahabat Rasulullah SAW, Salman al-Farisi dalam sebuah riwayat yang dikutip oleh Imam Ghazali dalam kitab Minhaajul 'Aabidiin jilid I : 193 mengatakan "Innal 'abda idzaa zahida fid dunya istanaara qalbuhu bil hikmah, wa ta'awanat a'dhaahu fil 'ibaadah" (sesungguhnya, ketika seorang hamba bersikap zuhud dalam dunia, maka hatinya akan tersinari oleh hikmah dan seluruh anggota tubuhnya akan ditolong dalam melakukan ibadah).

Penjelasan terhadap ucapan Salman al-Farisi ini kemudian disampaikan oleh Syaikh Ihsan al Kediri. Salah satu ulama Nusantara ini menyebutkan bahwa berbekal sikap zuhud, seseorang akan mendapat hikmah berupa ilmu yang bermanfaat, pengetahuan yang melahirkan amal dan rasa mawas diri terhadap hukum-hukum Allah. Tentu saja, diantaranya adalah keharaman mencuri (baca : korupsi).

Bahkan, penjelasan yang ia sampaikan dalam kitab Siraajuth Thalibin jilid I, syarah terhadap kitab Minhaajul 'Aabidiin karya Imam Ghazali diatas itu menyebutkan tidak akan pernah "kaya" seorang ahli ibadah dan seorang yang bahkan 'aarif billah (mengenal Allah), jika sikap mentalnya tidak dihiasi dengan zuhud.

Penjelasan ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa, terjatuhnya siapapun dalam dosa (ketiadaan sikap zuhud) tidaklah pandang bulu. Orang arif sekalipun dimungkinkan untuk terjerembab. Hemat saya, ini karena ketiadaan sifat ma'shum (terpelihara dari dosa) atas individu selain Nabi dan Rasul.

Maka, tidak perlu merasa aneh dan melakukan hujatan saat kita menemukan fenomena seperti kasus First Travel, korupsi pengadaan mushaf Al-Qur'an, Korupsi Dana Haji yang tempo hari mengemuka, bahkan soal chat mesum via layanan pesan singkat, yang pelakunya diduga adalah mereka yang kita anggap paham tentang syariat agama.

Lantas pantaskah berlindung dibalik garis ma'shum dan tidak ma'shum itu? Tentu saja tidak. Sebab sebagai mukallaf (pribadi yang terikat oleh syariat) melalui kriteria yang sudah disampaikan oleh para ulama ushuludin yakni "kullu baalighin 'aaqilin balaghathu da'wah (setiap orang yang sudah baligh dan berakal dan telah sampai padanya seruan Islam), tidak boleh lagi seorang muslim berlindung dibalik takdir Tuhan saat melakukan sebuah kesalahan (dosa).

Kepada para mukallaf itu sudah berlaku atas mereka hukum wajib, haram, sunnah, makruh, mubah, fasid dan shahih. Juga, kepada para mukallaf ini pula berlaku atasnya hukum negara. Wallahu muwwafiq !!!!.



Resource Berita : nu.or.id
Memandang Makhluk Allah dengan Kasih Sayang

Memandang Makhluk Allah dengan Kasih Sayang



WartaIslami ~ Anak-anak jin itu bermain di kolam wudlu hingga kolam yang telah diisi oleh kang-kang santri habis. Demikian selalu terjadi di sebuah pondok pesantren asuhan Kiai Rosyid rahimahulloh. Namun beliau tidak pernah bertindak apapun pada jin-jin kecil itu, hanya mesam-mesem dan menjelang subuh memerintahkan kembali santri-santri untuk mengisi kolam tersebut.

Berbulan-bulan kejadian di pondok pesantren di daerah Demak itu berlangsung. Sampai pada suatu saat di hari Jumat menjelang subuh beliau menjumpai air di kolam wudlu yang tetap utuh. Dalam hatinya bertanya: “Mengapa jin-jin kecil itu tidak bermain-main di kolam itu?”. Sebagai seorang yang dekat dengan Gusti Allah Ta’ala beliaupun diperlihatkan jin-jin kecil yang babak belur. Ternyata ditelisik anak-anak jin kecil itu dihajar oleh menantu beliau. Beliau menangis melihat makhluk jin yang kesakitan karena dihajar oleh Sanusi menantunya itu.

Kemudian Kiai Rasyid memanggil Sanusi dan berkata dengan keras: “Mondok bertahun-tahun dan kitabmu berpeti-peti tapi mengapa masih tega menyakiti makhluk Allah Ta’ala? Tidakkah engkau punya rasa belas kasihan pada jin yang masih anak-anak itu?”. Lalu Sanusi menantunya itu dihukum pindah ke suatu desa yang masih sepi untuk menjaga dan meramaikan sebuah masjid yang kosong pengasuhnya.

و اقتضت الحال عند ذوى العقول هم اشرف خلق الله النظر الى كافة الخلق بعين الرحمة و ترك المماراة
“Dan sudah menjadi ketentuan bagi orang-orang yang berakal dari ulama yang mereka adalah makhluk-makhluk Allah yang mulia untuk selalu melihat semua makhluk-Nya dengan rasa kasih sayang dan tidak serta merta menentang mereka.”

Demikian gambaran ulama dari Hujjatu al-Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali rahimahullah.

Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)


Resource Berita : santrionline.net
KH Sya’roni Ahmadi Buktikan Kesaktian Wirid “Yaa Syakuur”

KH Sya’roni Ahmadi Buktikan Kesaktian Wirid “Yaa Syakuur”



WartaIslami ~ Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafal “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”.  KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya ‘bekas murid’ yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm... apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas.

*) Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon/12 Muharrom 1436 H.



Resource Berita : muslimoderat.net
Imam Ghazali: Negara dan Agama adalah Saudara Kembar

Imam Ghazali: Negara dan Agama adalah Saudara Kembar



WartaIslami ~ Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:
وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ “
_
Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]
Sekilas, statement yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Aku Indonesia Padamu !



Resource Berita : muslimoderat.net
Jangan Nyinyir, Bercadar adalah Bagian dari Fiqih Madzhab Syafi'i

Jangan Nyinyir, Bercadar adalah Bagian dari Fiqih Madzhab Syafi'i



WartaIslami ~ Cukup banyak Pondok Pesantren Aswaja/NU yg mewajibkan santri putrinya bercadar ketika keluar rumah.

Demikian pula kebalikannya, tidak semua akhawat Wahhabi bercadar meski berada di luar rumah.

Untuk mengidentifakasi ke -wahhabi-an seseorang bukan dilihat dari cadarnya tapi dari aqidah dan struktur pemikirannya.

Cukup naif, jika setiap wanita bercadar langsung dianggap sebagai wahhabi atau teroris atau anti NKRI.
Coba cermati penjelasan para Ulama Madzhab Syafi'i dalam kitab2nya yg sangat familier di kalangan Pondok Pesantren Aswaja/ NU.

Cukup banyak kitab2 fiqh madzhab Syafi'i yg biasanya dikaji di Pesantren2 NU yg menjelaskan bahwa batas aurot perempuan.
Bagaiamana hukum bercadar bagi wanita muslimah ?
Di kalangan madzhab Syafi’i sendiri terjadi silang pendapat.
Pendapat pertama menyatakan bahwa memakai cadar bagi wanita adalah wajib. Pendapat kedua adalah sunah.

Sedang pendapat ketiga adalah khilaful awla, menyalahi yang utama karena utamanya tidak bercadar.
وَاخْتَلَفَ الشَّافِعِيَّةُ فِي تَنَقُّبِ الْمَرْأَةِ ، فَرَأْيٌ يُوجِبُ النِّقَابَ عَلَيْهَا ، وَقِيل : هُوَ سُنَّةٌ ، وَقِيل : هُوَ خِلاَفُ الأَوْلَى
“Madzhab Syafi’i berbeda pendapat mengenai hukum memakai cadar bagi perempuan. Satu pendapat menyatakan bahwa hukum mengenakan cadar bagi perempuan adalah wajib. Pendapat lain (qila) menyatakan hukumnya adalah sunah. Dan ada juga yang menyatakan khilaful awla,” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz, XLI, halaman 134).

Poin penting yang ingin kami katakan dalam tulisan ini adalah bahwa persoalan hukum memakai cadar bagi wanita ternyata merupakan persoalan khilafiyah. Bahkan dalam madzhab Syafi’i sendiri yang dianut mayoritas orang NU terjadi perbedaan dalam menyikapinya.

Meskipun harus diakui bahwa pendapat yang mu’tamad dalam dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa aurat perempuan dalam konteks yang berkaitan dengan pandangan pihak lain (al-ajanib) adalah semua badannya termasuk kedua telapak tangan dan wajah. Konsekuensinya adalah ia wajib menutupi kedua telapak tangan dan memakai cadar untuk menutupi wajahnya.
أَنَّ لَهَا ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاِة وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ، وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْاَجَانِبِ إِلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Bahwa perempuan memiliki tiga uarat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan. Kedua aurat yang terkait dengan pandangan orang lain kepadanya, yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad...” (Lihat Abdul Hamid asy-Syarwani, Hasyiyah asy-Syarwani, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 112)

Ibnul Mundzir mengutip Imam Asy Syafi’i dalam Al Awsath (5/70) :
على المرأة أن تخمر في الصلاة جميع بدنها سوى وجهها وكفيها
“Wajib bagi wanita menutup seluruh badannya dalam shalat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud al Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm adalah aurat wanita dalam shalat.
Al Imam An Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ (3/169) mengatakan,
ان المشهور من مذهبنا أن عورة الرجل ما بين سرته وركبته وكذلك الامة وعورة الحرة جميع بدنها الا الوجه والكفين وبهذا كله قال مالك وطائفة وهي رواية عن احمد
“Pendapat yang masyhur di madzhab kami (syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak wanita. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Imam Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”

Berkata Syaikh Sulayman Al Jamal tentang pernyataan Al Imam An Nawawi di atas:
غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن
“(maksud perkataan An Nawawi bahwa aurat wanita adalah) selain wajah dan telapak tangan, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan.” (Hasyiatul Jamal ‘Ala Syarh Al Minhaj, 411)

Syaikh Asy Syarwani berkata:
إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ
“Wanita memiliki tiga jenis aurat: (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha.” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qarib, berkata:
وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qarib, 19)

Ibn Qaasim Al Abadi berkata:
فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا
“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

Syaikh Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:
ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب
“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakainiqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab/tutup wajah.” (Kifaayatul Akhyaar, 181).

Wallahu A'lam Bish Shawab

Keterangan Foto :
Foto Upacara 17 Agustus dengan Paskibra bercadar : Pesantren Thariqah Idrisiyah di Cisayon Tasikmalaya.
Melihat latar belakang Pesantrennya tentu mereka punya semangat kebangsaan dan nasionalisme yg tinggi. Inilah yg perlu kita apresiasi.



Resource Berita : muslimoderat.net
Subhanallah, 30 Kepala Suku Papua Dapat Undangan Khusus dari Raja Saudi untuk Berhaji

Subhanallah, 30 Kepala Suku Papua Dapat Undangan Khusus dari Raja Saudi untuk Berhaji



WartaIslami ~ Sebanyak 30 orang Kepala Suku di Provinsi Papua dan Papua Barat berkesempatan menunaikan ibadah haji tahun 2017 ini. Kesempatan tersebut diberikan atas undangan khusus Kerajaan Arab Saudi.

Sebelum berangkat ke Tanah Suci, Senin (21/8) besok, para Kepala Suku tersebut menyambangi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bermaksud untuk pamit dan secara khusus hendak mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas kepeduliannya dalam membangun Papua dan Papua Barat.

"Kami dari Papua dan Papua Barat. Pertama adalah bersilaturahmi karena bapak-bapak Kepala Suku ini selain mewakili Papua juga mewakili Indonesia atas undangan kerajaan Saudi Arabia, melalui Syekh Salman," kata seorang perwakilan kepala suku, Ustadz Fadlan di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (18/8) dilansir Detik.

Ustadz Fadlan meyampaikan, Wapres JK merasa bahagia sekaligus berpesan agar bapak-bapak Kepala Suku tersebut pergi dan balik ke Tanah Air dengan selamat sehingga dapat kembali menjaga bangsa Indonesia dan juga Papua.

Nama-nama Kepala Suku ini telah diajukan beberapa tahun sebelumnya melalui Kedutaan Arab Saudi di Jakarta. Tahun ini merupakan jumlah terbanyak kepala suku yang berangkat haji.

"Kalau sudah pernah berangkat (haji), tidak boleh lagi," ucapnya.

Mengakhiri pertemuan tersebut, Wapres JK sempat mengajak para Kepala Suku itu untuk berfoto bersama di depan Kantor Wakil Presiden.



Resource Berita : muslimoderat.net
NU dan Khittah Proklamasi

NU dan Khittah Proklamasi



WartaIslami ~ Keterlibatan Nahdlatul Ulama’ (NU) dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaandan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak diragukan lagi dalam sejarah bangsa ini. Pandangan keagamaan yang moderat menjadi inspirasi bagi Nahdlatul Ulama’ dalam merumuskan azas, ideologi, kebijakan strategis dan gerakan taktis organisasi demi kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa.

Peran kiai-kiai NU menjadi faktor penentu dalam beberapa peristiwa heroik menjelang proklamasi kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus 1945. KH Muhammad Hasyim Asy’ari selaku pendiri Nahdlatul Ulama’ mampu mengorganisir para santri menjadi barisan pertahanan rakyat yang tergabung dalam pasukan Hizbullah (tentara Allah) dan Sabilillah (jalan Allah). Laskar Hizbullah yang merupakan golongan muda dengan pimpinan militernya KH Zaenul Arifin dan Sabilillah dari golongan tua dipimpin oleh KH Masykur.

Untuk mencapai kemerdekaan dan mempertahankannya, mutlak diperlukan pemuda-pemuda yang terampil berperang dengan menggunakan senjata. Kiai-kiai NU berusaha memasukkan pemuda-pemuda muslimdalam pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Bahkan menurut penelitian Agus Sunyoto, dari enam puluh bataliyon tentara PETA hampir separuh komandannya adalah kiai.

Menjelang proklamasi kemerdekaan, keterlibatan KH Abdul Wahid Hasyim dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memiliki arti penting dalam menjaga keragaman budaya, etnis bahkan agama. Perdebatan sengit tentang Piagam Jakarta dapat diselesaikan dengan baik karena pandangan keislamannya yang luas tanpa harus terjebak pada pada formalisasi ajaran agama.

Di samping itu, tantangan paska proklamasi datang silih berganti seiring dengan kalahnya Jepang pada Sekutu. Belanda kembali ingin merebut kedaulatan NKRI melalui pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Puncaknya, setelah bersidang di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa mengejutkan di tengah banyak keraguan dan ketidaktahuan banyak orang tentang proklamasi.

Substansi fatwa yang heroik itumenyatakanbahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 agustus 1945 adalah sah hukumya, Indonesia telah sah menjadi negara berdaulat sendiri yang terpisah dari Kerajaan Belanda. Sehingga wajib hukumnya melawan Belanda melalui NICA yang mencoba merebut kedaulatan NKRI.Fatwa pendiri NU ini mendapat respon positif rakyat, bahkan menyentuh hati pemuda Surabaya yang kemudian terjadi peristiwa 10 November 1945.

Tak hanya itu, Nahdlatul Ulama’ berperan sebagai garda bangsa dalam menjaga, memegang teguh serta menjunjung tinggi amanah proklamasi di atas kepentingan kelompok, etnis, agama maupun kepentingan politikyang berkonspirasi dengan luar negeri.Seperti Musi Manowaryang memproklamasikan kemerdekaan Republik Soviet Indonesia di Madiun (18 September 1948).Cristiaan Soumokil yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dengan memproklamasikan Republik Maluku Selatan di Ambon (25 April 1950).

Gerakan separatis di Sulawesi dan Sumatera (15 Februari 1958), Organiasi Papua Merdeka (1 Juli 1971) wilayah paling timur yang berkepentingan untuk menjadi negeri sendiri. Belum lagi gerakan membangun Negara Islam yang diproklamasikan oleh SM Kartosoewirjo di Jawa Barat dan di ikuti oleh Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.Bahkan sejarah yang tetap kontroversial hingga saat ini yaitu gerakan 30 September 1965 yang mencoba menggulingkan bahkan mengubah hari kemerdekaan agar sama dengan proklamasi China 1 Oktober 1949.

Keinginan sebagian golongan untuk memisahkan diri dan merubah pondasi dasar negara sejak kelahirannya 17 Agustus 1945 tak pernah usai. Nuansa ini juga terasa pada pertengahan tahun 1980-andan paska reformasi ketika ada semangat untuk mendirikan sebuah negara berdasarkan agama tertentu.

Bagi Nahdlatul Ulama’ tidak boleh ada bentuk negara apapun, termasuk negara berdasarkan Islam atau syariah di negeri ini. Sebagaimana diformulasikan dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984 dengan tegas menyatakan bahwa NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final perjuangan umat Islam.

Keragaman etnis, adat-istiadat, budaya dan agama cermin kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha Esa. Pancasila dan UUD 1945 adalah jawaban final terhadap tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjamin pluralitas rakyat Indonesia. Bukan negara agama, tetapi menjamin kebebasan beragama seluruh rakyatnya.

Indonesia adalah negara ke-Tuhanan yang memelihara budi pekerti, semangat kemanusian, persatuan, permusyawaratan dan keadilan sosial yang menjadi cita-cita luhur bangsa. Sehingga tugas warga NU dan warga Indonesia adalah tetap menjaga khittah proklamasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana amanah perjuangan para founding fathers yang telah bersusah payah memperjuangkan kedaulatan bangsa dan negara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.



Resource Berita :muslimoderat.net
Alquran Berkisah tentang Oksigen

Alquran Berkisah tentang Oksigen



WartaIslami ~ Setiap saat manusia senantiasa membutuhkan oksigen untuk bernapas. Oksigen merupakan unsur paling melimpah ketiga di alam semesta berdasarkan massa. Ia juga menjadi unsur paling melimpah di kerak Bumi. Mengingat kebutuhan makhluk hidup terhadap oksigen, tak mungkin eksistensinya yang luar biasa besar tersebut tak tercantum dalam Alquran.

Oksigen secara terpisah ditemukan Carl Wilhelm Scheele di Uppsala tahun 1773 dan Joseph Priestley di Wiltshire tahun 1774. Temuan Priestley lebih terkenal karena publikasinya merupakan yang pertama kali dicetak. Beberapa tahun setelahnya, istilah oksigen diciptakan Antoine Lavoisier tahun 1777 karena eksperimennya dengan oksigen berhasil meruntuhkan teori flogiston tentang pembakaran dan korosi yang terkenal.

Menurut massanya, oksigen merupakan unsur kimia paling melimpah di biosfer, udara, laut, dan tanah bumi. Namun, oksigen hanya melimpah di Bumi saja dan sangat jarang ditemui di planet lain. Matahari hanya mengandung 0,9 persen oksigen, Mars hanya memiliki 0,1 persen oksigen dan Venus bahkan memiliki kadar konsentrat yang lebih rendah.

Hal itu disebabkan oksigen yang berada di planet-planet selain Bumi hanya dihasilkan dari radiasi ultraviolet yang menimpa molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbon dioksida. Inilah alasannya mengapa membawa oksigen dalam perjalanan ke luar angkasa merupakan suatu kemestian.

Hal ini diterangkan dalam Alquran, “Siapa yang dikehendaki Allah menunjukinya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk Islam. Siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.” (QS al-An’am [6]: 125).

Alquran memberikan kiasan bagi orang-orang yang sesat dari jalan Allah seakan dada mereka sesak lagi sempit. Mengapa Allah mengibaratkan mereka dengan orang yang mendaki ke langit? Karena, tentu saja di luar angkasa kadar oksigen sangatlah kurang. Mereka tidak mampu bernapas dengan baik sehingga dada mereka menjadi sesak.

Bagaimanakah Alquran mengemukakan sebuah teori bahwa di luar angkasa kadar oksigen sangatlah kurang? Padahal dalam ilmu pengetahuan ilmiyah, istilah oksigen baru saja ditemukan tahun 1773. Tentu saja itu bukan suatu yang mustahil bagi orang yang mengimani bahwa Alquran merupakan kalamullah. Alquran adalah perkataan Rabb yang menciptakan oksigen, tata surya, dan alam semesta ini.

Lebih lanjut lagi, Alquran juga membahas bagaimana oksigen bisa terbentuk. Ilmu pengetahuan modern mengatakan, oksigen dihasilkan oleh fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Tanpa adanya tanaman yang berfotosintesis, oksigen akan lenyap dari bumi. Itu pulalah alasannya mengapa hutan-hutan di bumi disebut paru-paru dunia.

Dalam Alquran disebutkan, “Tidakkah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menjadikan pohon itu atau Kami yang menjadikannya?” (QS al-Waaqi'ah [56]: 71-72).

Dalam ayat ini, mengapa Allah SWT menyebutkan kata “pohon” (syajarah) bukan disebut kayu (khusyub)? Biasanya orang menyalakan api dari kayu, bukan pohon. Lalu, apa pula kaitannya antara menyalakan api dan pohon?

Alquran menyatakan sebuah rumus fisika yang saat ini dikenal dalam ilmu pengetahuan modern, “6CO2 + 6H2O + sinar matahari + klorofil = C6H12O6 + 6O2.” Alquran menjelaskan, terbentuknya oksigen berasal dari sinar matahari,  karbon dioksida, dan klorofil yang berasal dari pohon untuk melakukan fotosintesis. Salah satu unsur terbentuknya oksigen diperlukan kehadiran pohon yang hidup.

Tahapan selanjutnya, bisakah api menyala tanpa adanya oksigen? Jawabannya tentu saja tidak. Inilah dimaksudkan dalam ayat ini. “Tidakkah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan?” (QS al-Waaqi’ah [56]: 71).

Ayat ini langsung bersambung dengan pertanyaan Allah SWT, “Kamukah yang menjadikan pohon itu atau Kami yang menjadikannya?” (QS al-Waaqi’ah [56]: 71-72).

Allah SWT ingin menyampaikan bahwa oksigen sebagai unsur yang menjadikan terbentuknya api tersebut berasal dari pohon. Tanpa adanya fotosintesis dari pohon-pohonan, tak akan ada zat yang bernama oksigen. Siapakah yang menumbuhkan pohon tersebut? Tentu hanya Allah SWT yang bisa.

Lebih rinci lagi, Allah SWT juga menjelaskan proses terbentuknya oksigen secara lebih mendalam dalam surah Yasin [36]: 80. “Yaitu, Rabb yang menjadikan untukmu api dari pohon yang hijau. Maka, tiba-tiba kamu nyalakan daripadanya.”

Ayat ini bercerita tentang warna pohon, yaitu akhdar (hijau). Ilmu pengetahuan modern menyebut zat hijau daun dengan istilah klorofil, yaitu aktor yang melakukan fotosintesis pada tumbuhan. Tanpa klorifil, tumbuh-tumbuhan tak akan mampu berfotosintesis dan selanjutnya menghasilkan oksigen.

Istilah fotosintesis baru dikumandangkan oleh ilmuwan modern pada abad ke-18. Namun, cara kerja dan urgensi dari fotosintesis ini sudah diterangkan Alquran 15 abad yang lalu.


Resource Berita : republika.co.id
Aa Gym: Kemerdekaan Hakiki adalah La Ilaha Illallah

Aa Gym: Kemerdekaan Hakiki adalah La Ilaha Illallah



WartaIslami ~  Pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid Aa Gym menilai, makna kemerdekaan yang hakiki adalah La Ilaha Illallah, tidak punya Tuhan yang disembah selain Allah

"Selama ini kita tidak bahagia pasti karena ada Tuhan-Tuhan lain di hati kita," ujar Aa Ggym dalam rekaman yang dikirimkan ke Republika.co.id, Kamis (17/8) malam.

Apakah yang disebut Illah?, Aa Gym menjelaskan, yaitu suatu yang mendominasi hati siang dan malam. Setiap waktu ingin dekat dengannya takut jauh darinya, tumpah segala cinta untuknya mau berkorban apapun deminya dan sangat pilu jika tidak bersamanya.

"Siapakah 'nya' ini, jika Nya ini adalah Allah maka sah dia adalah orang yang merdeka dari perbudakan dunia dan seisinya," tutur Aa Gym.

Tapi kalau makna 'nya' ini adalah gelar harga pangkat jabatan, kedudukan popularitas, penilaian orang dan titik bengek lainnya maka dipastikan tak akan bahagia. Walaupun dunia melimpah ada padanya.   "Mengapa? karena Allah, Tuhan kita, mencipatkan untuk menjadi hambanya dan dunia berikut isinya adalah pelayan kita dalam mengabfi kepada Allah," katanya.

"Jika turun derajatnya jadi hamba dunia maka pasti  kita akan menjadi orang yang sengsara sangat hina karena diperbudak dunia yang semestinya jadi pelayan kita."

Inilah, kata Aa Gym, makna hari kemerdekaan kembali kepada Tauhid. "Bebaskan kita menuhankan siapapun, cukup jadi hamba Allah itulah kembagaian kemudlian  keselamatan yag sesunggunya, merdeka!."


Resource Berita : republika.co.id
Tips Agar Tenang Meninggalkan Anak Saat Berhaji

Tips Agar Tenang Meninggalkan Anak Saat Berhaji



WartaIslami ~ Orang tua baru atau mereka yang memiliki anak-anak kecil sering kali tidak tenang saat meninggalkan buah hati terlalu lama. Ada perasaan cemas dan khawatir kalau sesuatu yang di luar dugaan bisa terjadi.

Ini juga sering kali dialami para jamaah haji yang memiliki anak kecil. Mereka harus meninggalkan anak selama kurang lebih satu bulan, waktu yang cukup lama. Kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan malah bisa berakibat pada ibadah yang tidak khusuk. Pikiran terbang ke tempat lain padahal raga berada di Tanah Suci.

Muslim Village melansir sejumlah tips agar orang tua bisa tenang meski meninggalkan sang buah hati saat berhaji. Saran ini dikemukakan oleh para ibu berdasarkan pengalaman mereka, berikut diantaranya:

1. Percayakan anak-anak pada orang yang paling dekat, misal orang tua, saudara atau kerabat yang sama-sama menyayangi mereka mirip seperti Anda.

2. Selama berada di tanah suci, selalu doakan orang-orang tersebut dan anak-anak.

3. Saat menginjakkan kaki di tanah suci, biasanya para orang tua akan mulai merasa lebih tenang dan lega meski tanpa alasan. Ini bukan berarti orang tua melupakan anak-anak mereka, tapi karena ada dorongan perasaan untuk lebih berserah pada Allah.

4. Selalu ingat bahwa semakin menunda ibadah haji, maka kesempatan bisa semakin sulit, baik secara finansial maupun emosional.

5. Ingat selalu semangat dan tujuan utama berhaji sebagai salah satu pengorbanan. Anda meninggalkan semua yang bersifat keduniaan untuk berserah pada Allah. Anda akan menyadari bahwa pekerjaan, kekayaan, rutinitas bahkan anak-anak adalah sementara. Anda akan lebih bersyukur setelah pulang.

6. Nikmati perjalanan haji dengan rasa berserah pada Allah, banyak-banyak berdoa, gunakan kesempatan ini untuk mendekat pada Sang Pemilik Alam Semesta. Semoga dengan fokus ibadah, Anda bisa kembali menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk untuk anak-anak.


Resource Berita : ihram.co.id
Pesan Mbah Mun untuk Jamaah Haji Indonesia

Pesan Mbah Mun untuk Jamaah Haji Indonesia



WartaIslami ~ Ulama kharismatik dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Maimoen Zubair sudah tiba di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Ia tiba di Bandara Internasional King Abdul Azis, Jeddah, Kamis (17/8) pukul 16.00 WAS dengan pesawat Saudi Airlines.

Ulama yang akrab disapa Mbah Moen ini disambut oleh Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara Arsyad Hidayat begitu keluar dari gerbang kedatangan terminal haji.  Arsyad lantas mengajak Mbah Moen mampir ke kantor Daker untuk rehat sejenak sebelum berihram dan berangkat umrah ke Makkah.

Meski sudah sangat sepuh, Mbah Moen terlihat masih kuat melakukan perjalanan jauh. Cukup beristirahat, Mbah Moen kemudian mandi, berihram dan shalat sunah di Mushola yang terletak di plaza Bandara Jeddah.

Menurut Mbah Moen, ibadah haji tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab, kuota haji kembali normal. Lebih dari 200 ribu orang Indonesia berangkat haji tahun ini. Sementara tahun sebelumnya sekitar 166 ribu orang saja.

"Haji tahun ini lebih kondusif. Dipandang dari segi pelayanan maupun peribadatan dan lainnya. Saya yakin haji itu akan menjadi ukuran kemajuan bangsa Indonesia," ujar Mbah Moen saat ditemui usai shalat sunah.

Terkait waktu larangan lempar Jumrah bagi jemaah haji Indonesia yang dikeluarkan Pemerintah Saudi, Mbah Moen meminta jemaah haji Indonesia untuk mengikutinya.

Memang, kata dia, ada waktu-waktu afdhaliyah (baik) untuk melempar jumrah sesuai dengan pandangan berbagai mazhab dalam Islam. Namun, hendaknya umat mengikuti anjuran pemerintah sebagai rujukan secara umum.  "Jamaah haji hendaknya melaksanakan ibadah secara tulus dan ikhlas," pesan Mbah Moen.


Resource Berita : ihram.co.id
Didik Anak dengan Alquran, Pasangan Ini Keluarga Tersakinah

Didik Anak dengan Alquran, Pasangan Ini Keluarga Tersakinah



WartaIslami ~ Tidak gampang membangun sebuah mahligai rumah tangga di tengah kompeksitas persoalan dan beban hidup. Terbukti, tingkat perceraian pun semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun, pasangan dari Balikpapan, Kalimantan Timur ini, Abdul Hakim (60 tahun) dan Wahidah (54) mampu mempertahankan rumah tangganya selam 33 tahun dan mampu mendidik anak-anaknya dengan Alquran. Karena itu, pasangan ini pun dianugerahkan sebagai keluarga tersakinah oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam acara bertajuk Pemilihan dan Penganugerahan Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2017 di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta, Jumat (18/8).

Saat ditemui Republika.co.id, Abdul Hakim mengaku, sangat senang menerima penghargaan tersebut. Namun, ia juga merasa bertanggungjawab ke depannya karena harus tetap menjaga keteladan dalam membangun keluarga.

"Alhamdullilah kita bersyukur kepada Allah melalui hamba-hambanya. Dan innalillah juga kita memikirkan tanggung keteladan itu supaya bisa dijaga dan bisa bermanfaat bagi masyarakat umum," ujar pria berjenggot putih itu saat berbincang dengan Republika.co.id.

Abdul Hakim dan istrinya tersebut dipilih sebagai keluarga sakinah lantaran mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan keluarga lainnya, yaitu mampu mendidik anak-anaknya dengan Alquran. Sebelumnya, ia juga telah mengikuti tes tertulis maupun tes wawancara dari Kemenag.

Sementara, istrinya Wahidah berpesan kepada semua keluarga di Indonesia agar mengajarkan Alquran kepada anak-anaknya sejak dini. Karena, ia pun juga telah mendidik keempat anaknya dengan Alquran, sehingga semuanya saat ini bisa menghafal Alquran. Tidak hanya itu, ia juga memenuhi hak pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. "Didiklah anak-anak sedini mungkin dengan Alquran," ucapnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada pasangan yang baru akan berkeluarga agar mengikuti program bimbingan yang telah dilakukan oleh KUA, sehingga bisa membangun keluarga yang sakinah. "Kita memohon kepada Allah agar menjadi generasi yang diridhai Allah. Kurikulumnya adalah kurikulum Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya Alquran. Jadi didik lah keluarga bangsa Indonesia. Jadikan Alquran itu nomor satu," kata Wahidah.

Sementara, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menjelaskan bahwa pasangan keluarga sakinah yang terpilih tersebut telah mengikuti berbagai proses mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan juga provinsi. Menurut dia, pasangan Abdul Hakim dan Wahidah layak mendapat penghargaan itu.

"Jadi minimal usia perkwainannya itu 30 tahun ke atas. Kedua, keluarga itu memiliki kelibihan-kelebihan. Antara lain mislanya keluarganya berpendidikan semua. Pokoknya memiliki kekhususan, termasuk yang hafal Alquran itu," ujarnya.

Selain itu, tambah dia, ada juga keluarga yang hanya berpendidikan SD tapi mampu menyekolahkan anak-anaknya menjadi profesor dan juga dokter. Menurut dia, keluarga seperti itu layak mendapat pengharagaan dan menjadi teladan bagi setiap keluarga di Indonesia.


Resource Berita : republika.co.id
Mengenal Para Mufassir Indonesia

Mengenal Para Mufassir Indonesia



WartaIslami ~ Tersebutlah nama Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara. Gadis ini selalu berminat menyimak pengajian tafsir yang disampaikan KH. Muhammad Soleh bin Umar As-Samarani, guru para ulama di penghujung abad XIX. Bahkan, saking antusiasnya, Kartini mengikuti pengajian Kiai Soleh hingga ke Demak. Dalam suatu pengajian yang dihelat di bangsal pendopo Kabupaten Demak, Kartini merasa kurang puas dengan uraian Kiai Soleh tentang tafsir al-Fatihah. Seusai pengajian, Kartini yang terkenal kritis memberanikan diri menemui Kiai Soleh.

Ia meminta kepada guru kinasihnya agar bersedia menerjemahkan dan menafsirkan al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Kiai Soleh, yang rendah hati, awalnya keberatan karena diperlukan prasyarat keilmuan yang berat menjadi seorang mufassir alias ahli tafsir al-Qur’an.

"Tapi, bukankah Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka sekarang Ananda mohon sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya. Berupa kitab terjemahan dan tafsir al-Qur'an dalam bahasa Jawa. Sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan kudus dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan, Romo Guru akan besar sekali jasanya,"

Mendengar permintaan Kartini, raut wajah kiai tua asal Darat-Semarang itu berseri. Seketika itu pula air mata Kiai Soleh tumpah, menangis haru mendengar pinta perawan bangsawan itu.
Bermula dari dialog di pendopo kabupaten itulah, setahun berikutnya kitab yang diidam-idamkan Kartini terbit. Judulnya Faidh al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an. Kitab karya Kiai Soleh ini berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid, kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukin di tanah Melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini. Ditulis dengan aksara Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang. Kiai Soleh Darat wafat pada tanggal 28 Ramadan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903. Penulis produktif ini dimakamkan di komplek Pemakaman Umum Bergota Semarang.

Kiai Soleh, yang merupakan guru KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, menandai salah satu fase perkembangan tafsir al-Qur’an di Nusantara. Hampir sezaman dengan Kiai Soleh, terdapat nama Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1813-18970, seorang ulama Banten yang menjadi guru besar di Haramain. Syekh Nawawi menulis sebuah kitab berjudul Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil yang selesai ditulis pada hari rabu, 5 Rabiul Awal 1305 H, ketika ia tinggal di Makkah. Sebelumnya, naskah tafsir ini disodorkan kepada ulama Makkah dan Madinah untuk diteliti, lalu naskahnya dicetak di negeri itu. Atas reputasi keilmuannya yang luar biasa ini, para ulama menggelarinya sebagai “Sayyid ulama Hijaz”.

Kecemerlangan Kiai Soleh Darat dan Syaikh Nawawi sebagai mufassir ini kemudian dilanjutkan oleh beberapa ulama pada dekade berikutnya. Corak metodologinya pun beragam, demikian pula dengan bahasa yang digunakan. Pada era 1930-an, seorang ulama asal Sukabumi, KH. Ahmad Sanusi, menulis kitab tafsir lengkap 30 juz, Raudlatul Irfan fi Ma’rifat al-Qur’an menggunakan bahasa Sunda. Ia juga menulis karya lain seputar tafsir al-Qur’an dengan corak berbeda. Total terdapat 75 karya tulis dengan beragagam perspektif keilmuan yang dihasilkan oleh ulama yang sempat aktif di Sarekat Islam dan BPUPKI ini.

Sezaman dengan Kiai Ahmad Sanusi ini, terdapat nama Syekh Mahmud Yunus. Nama terakhir ini selain terkenal dengan kamus Arab-Melayu yang ia ciptakan, rupanya masih memiliki karya tafsir. Judulnya Tafsir Al-Qur’an al-Karim Bahasa Indonesia. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Mahmud Yunus sendiri dalam Kata Pengantar di buku tafsirnya, ia memulai penulisannya pada bulan Nopember 1922 dan selesai pada 1938. Di Indonesia, Syekh Mahmud Yunus merupakan di antara pelopor tafsir runtut 30 juz sesuai urutan mushaf.

Setelah Syek Mahmud Yunus, terdapat nama A. Hassan dengan al-Furqan: Tafsir al-Qur’an. Pendiri organisasi Persatuan Islam ini memulai menuliskan karyanya pada bulan Muharram 1347 H bertepatan dengan Juli 1928. Karena kesibukannya sebagai seorang aktivis organisasi dan dai, ia baru bisa merampungkan karyanya ini pada tahun 1956 M.

Selain itu, dari rahim tanah Sumatera, lahir pula kitab Tafsir al-Qur’an al-Karim yang ditulis oleh tiga serangkai, yaitu Ustadz A. Halim Hassan, Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahim Haitami. Penulisannya dimulai pada bulan Ramadan 1355 H di Langkat. Beberapa kali penulisannya sempat terhenti akibat Perang Dunia II dan langkanya stok kertas. Istimewanya, juz I dan II diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Arab untuk diajarkan di Sembilan kerajaan di Malaysia saat itu.

Setelah Indonesia merdeka, bangsa ini seolah tak pernah kekurangan stok mufassir. Di antara yang monumental ialah Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, yang mulai ia rintis melalui pengajian subuh di Masjid al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, 1958. Ketika Buya Hamka dipenjara di era Orde Lama, justru ia bisa lebuh fokus merampungkan karyanya ini. Hingga kemudian, pada 1967, karya ini terbit dengan judul Tafsir Al-Azhar.

Langkah ulama terkemuka dari Muhammadiyah ini juga hampir berbarengan dengan dirilisnya Tafsir Ibriz berbahasa Jawa yang ditulis oleh ulama NU, KH. Bisri Mustofa, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Adiknya, KH. Misbah Mustofa, Tuban, tak mau kalah. Ia menerbitkan pula Tafsir Iklil yang juga berbahasa Jawa.

Di Makassar, ada KH. Abdul Mu’in Yusuf yang menulis tafsir al-Qur’an berbahasa Bugis dan ditulis menggunakan aksara tradisional Bugis. Selain itu, ada juga Anregurutta Daud Ismail yang menerapkan bahasa daerah Bugis dalam proses penafsiran al-Qur’an. Di Minangkabau, tercatat sekitar lima ulama yang menyumbangkan karya tafsir al-Qur’an dengan bahasa Minangkabau. Pemilihan tafsir dalam bahasa lokal, urai Islah Gusmian dalam “Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika Hingga Ideologi” (2013), justru menunjukkan orientasi pragmatis, yaitu agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal tertentu sesuai dengan bahasa yang digunakan. Luar biasa, bukan?

Di sisi lain, karya tafsir ulama Indonesia semakin beragam dan ditulis dengan beragam corak dan varian metodologi yang berbeda satu sama lain. Hasbi Asshiedqy bahkan menulis dua karya, yaitu Tafsir al-Bayan dan Tafsir An-Nur. Karya pertama selesai ditulis tahun 1971. Karena kurang puas dengan terbitan pertama, ia lalu menulis karya kedua.

Pihak Departemen Agama RI juga tidak mau kalah. Lembaga plat merah ini meluncurkan al-Qur’an dan Tafsirnya yang setelah mengalami beberapa kali perbaikan bisa diterbitkan oleh Badan Wakaf UII Yogyakarta pada tahun 1995. Pakar tafsir al-Qur’an, Prof. Dr. Quraish Shihab kemudian menerbitkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al-Lubaab. Ada pula Prof. KH. Didin Hafiduddin dengan Tafsir al-Hijri-nya.

Yang pasti, jumlah tafsir al-Qur’an di Indonesia sendiri, semenjak dakwah Walisongo, bisa dipastikan berjumlah ratusan manakala kita juga memasukkan beberapa obyek tafsir seperti Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Al-Kahfi, Tafsir An-Nisa’, Tafsir Surat Ya-Sin, Tafsir Juz Amma dan lain sebagainya, maupun beberapa tafsir tematik (pendidikan, feminis, sufistik, hukum, dan sebagainya).

Meski tulisan kali ini terlalu singkat membedah khazanah tafsir Nusantara (Indonesia), namun mengutip periodesasi tafsir Indonesia yang dilakukan oleh Howard M. Federspiel, ada  beberapa fase perkembangan tafsir Indonesia yang menarik dicermati. Generasi pertama, kira-kira permulaan abad ke-20 hingga awal 1960-an, yang ditandai dengan adanya penerjemahan dan penafsiran yang masih didominasi oleh model tafsir terpisah-pisah dan cenderung pada surat tertentu sebagai obyek tafsir. Generasi kedua merupakan penyempurnaan atas generasi pertama, yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an.

Cirinya, biasanya memiliki catatan, catatan kaki, terjemahan per kata, dan kadang-kadang disertai indeks yang sederhana. Adapun tafsir generasi ketiga mulai muncul pada 1970-an yang telah berwujud penafsiran yang lengkap, dengan komentar-komentar yang luas terhadap teks yang disertai terjemahannya. Ini merupakan periodesasi tafsir di Indonesia yang dibuat oleh Howard M. Federspiel dalam “Kajian al-Qur’an di Indonesia” (1996).

Pelopor Tafsir di Nusantara
Siapakah yang mula-mula merintis tafsir di kawasan Nusantara? Tersebutkan seorang ulama besar asal Aceh, Syaikh Abdurrauf As-Sinkili (1615-1693). Azyumardi Azra, dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” (2004) menilai bahwa As-Sinkili adalah ulama terkemuka dengan reputasi internasional. Sebab, matarantai intelektual dan tarekat yang membentang antara Hijaz dan Nusantara di kawasan Asia Tenggara melalui bertaut pada dirinya. Dengan reputasinya yang jempolan ini, As-Sinkili bahkan mengkader beberapa ulama dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Malaysia, hingga Thailand Selatan.

Sebagai pelopor tafsir al-Qur’an di kawasan Nusantara, ia menulis Tarjuman al-Mustafid, sebuah kitab tafsir yang diulas menggunakan bahasa dan aksara Melayu-Jawi (Arab-Pegon). Bahasa yang dipilih ini merupakan lingua franca di zamannya karena menjadi bahasa pengantar dalam birokrasi pemerintahan, intelektual, hubungan diplomatik antar negara, hingga bahasa perniagaan.

Tarjuman al-Mustafid karya As-Sinkili ini sebenarnya telah didahului oleh Faraid al-Qur’an dan Tafsir Surah al-Kahfi. Namun sampai sekarang dua karya ini tiada diketahui siapa penulisnya. Dua karya ini ditengarai ditulis di era pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), atau bahkan di era sebelumnya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1537-1604). Dan, As-Sinkili yang telah menulis Tarjuman al-Mustafid 30 juz lengkap sampai sekarang dianggap sebagai pelopor tafsir di Nusantara.
Melalui pemaparan singkat ini, pembaca bisa menilai kualitas dan kapabilitas keilmuan para ulama Nusantara, bukan?



Resource Berita : dutaislam.com
Kesan Almaghfurlah KH. Abdul Aziz Mansyur Tentang Kakeknya KH. Abdul Karim

Kesan Almaghfurlah KH. Abdul Aziz Mansyur Tentang Kakeknya KH. Abdul Karim



WartaIslami ~ Saat masih kecil pada suatu hari saya diajak oleh ibu ke Lirboyo lantas biasanya saudara-saudara saya Kiai Idris, Kiai Anwar, Kiai Maksum dan lainnya berkumpul sambil bermain bersama hingga kami tertidur di tempat tidurnya Mbah Kiai Manab. Mbah Kiai Manab tidurnya di atas amben yang terbuat dari bambu dengan kasurnya yang jelek dan sangat tipis.

Saat semua tertidur di situ Mbah Kiai Manab sedang mengaji di masjid biasanya beliau baru pulang dari masjid jam 24.00 WIB. Saya teringat saat beliau masuk rumah menutup pintu sampai terdengar suara jegrek, begitu mendengar suara itu saya terbangun, Mbah Manab bertanya,

"lho le, kok durung turu" (lho nak kok belum tidur). "Nggih Mbah, kebribrenan jenengan ngilep lawang" (Iya Mbah, saya kaget mendengar pintu ditutup), jawab saya.
"wes, turu o maneh" (sudah tidur lagi), perintah Mbah Manab.

Sebelum memejamkan mata saya lihat ternyata beliau tidak langsung tidur melainkan pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Saya menyangka setelah itu beliau akan tidur, akan tetapi setelah saya bangun dari tidur ternyata beliau masih sholat malam. Lama sekali beliau sholat, saya tidur lagi lantas bangun lagi, saya lihat Mbah Kiai masih saja sholat malam hingga menjelang Subuh.

Lalu beliau ketiduran di tempat itu sambil duduk kira-kira 15 menit sampai setengah jam lamanya itu. Sudah menjadi kebiasaan beliau setiap harinya. Oleh karena itu seringkali saya bertanya kepada Ibu:

"Mak, mak, embah niku lak bengi kok mboten nate sare. Nopo mboten ngantuk?" (Bu, bu, kakek itu kalau malam kok tidak pernah tidur malam, apa tidak mengantuk).

Ibu saya menjawab: "Yo iku le, mbah mu rumongso dititipi anake wong pirang-pirang. Dunga neng Gusti Allah, njaluk supoyo anak seng dititipne dadi wong seng apik-apik", ( ya itulah Nak, kakekmu itu merasa dititipi putra-putranya orang lain beliau memohon kepada Allah agar santri yang dititipkan itu menjadi manusia yang berguna), hanya itu jawab ibu saya.



Resource Berita : dutaislam.com
Perkenalkan "IMNU" Banom NU Terbaru

Perkenalkan "IMNU" Banom NU Terbaru



WartaIslami ~ Sejarah dan Sekilas Tentang Internet Marketers NU (IMNU)
Tanggal 5 Agustus 2017 menjadi hari yang bersejarah bagi IMNU, sebab tangal tersebut merupakan hari lahirnya komunitas baru di lingkungan para Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah bernama Internet Marketers NU atau yang lebih dikenal dengan nama IMNU. Sesuai dengan namanya, Komunitas IMNU merupakan perkumpulan dari para pelaku dan pemain Internet Marketing yang menekuni bidang Blogger, Youtuber, Affiliate Marketer, Develop Android, dan beberapa bidang lainnya di Indonesia yang tentunya berfaham Aswaja An Nahdliyah.

Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, para pelaku Internet Marketing di Indonesia pun semakin lama semakin berkembang. Tak terkecuali dari para warga NU yang sudah melek teknologi dengan memanfaatkan media internet sebagai salah satu sumber penghasilan. Namun sayangnya belum ada wadah khusus untuk menampung atau sebagai tempat berkumpulnya para Internet Marketers NU ini.

Atas dasar inilah inisiator sekaligus Ketua Umum IMNU yaitu Cariban Gaban dan dua teman lainnya yaitu Fahmi Baihaqi dan Baldan Nur Baharuddin sepakat untuk membuat perkumpulan yang menjadi cikal bakal IMNU saat ini. Om Gaban dan kawan-kawan cukup menyadari bahwa para pemain Internet Marketing yang berfaham Aswaja An Nahdliyah di Indonesia sebenarnya cukup banyak.
Terlebih lagi hadirnya IMNU sebagai bentuk keprihatinan terhadap perkembangan sosial dan keagamaan di Indonesia yang semakin hari semakin semrawut akibat semakin lebatnya jiwa merasa paling benar dalam berpendapat sehingga dengan mudah menyalahkan kelompok lain yang tidak sependapat dengannya. Belum lagi perkembangan media sosial juga turut mempengaruhi perspektif masyarakat terhadap konten yang didapat tanpa memilah mana konten yang bernilai positif dan mana konten yang bernilai negatif.

Karena niat yang tulus mengabdi pada NU, Bangsa dan Negara, tanggal 11 Mei 2017 menjadi tonggak sejarah awal pergerakan Om Gaban dkk dalam mencari kader-kader NU yang berkecimpung di dunia Internet Marketing di Indonesia. Dan dengan ridha Allah SWT, hanya dalam kurun waktu dua bulan saja tiga tokoh pelopor berdirinya IMNU itu sudah mampu mengumpulkan lebih dari 50 kader NU pada saat itu.

Uniknya, mereka bertiga hanya berkomunikasi melalui dua platform social media yakni Facebook dan Whatsapp mengingat tempat tinggal dari ketiga pelopor IMNU ini cukup berjauhan. Om Gaban berasal dari Bogor, Kang Fahmi berasal dari Sumedang, dan Om Baldan berasal dari Makassar.
Dan karena niat yang tulus inilah, mereka seolah tidak menemukan hambatan dalam mengumpulkan para kader muda NU yang berkecimpung di dunia Internet Marketing Indonesia dari berbagai daerah. Mulai dari Pontianak, Makassar, Jogjakarta hingga Surabaya semuanya berkumpul di Gedung PBNU yang berada di Jakarta Pusat untuk meresmikan lahirnya komunitas baru bernama IMNU.

Berdirinya IMNU juga tak lepas dari bantuan Lembaga Dakwah NU (LDNU) yang sangat mendukung adanya komunitas ini. Menurut salah satu tokoh LDNU yaitu Ustadz Imaduddin, hadirnya IMNU sangat membantu tugas LDNU dalam melawan radikalisme di Indonesia sekaligus menyebar konten-konten positif baik di Social Media maupun di Google yang saat ini banyak dikuasai oleh kaum-kaum berfaham radikal.

“Mereka sebagai santri dan anak-anak muda NU merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Dimana banyak konten-konten radikal dan intoleransi di dunia maya. Apalagi sekarang ini NU seperti diserang habis-habisan. Baik para ulama maupun kiai-kiainya. Nah mereka terpanggil untuk melawan itu,” ujar Wakil Sekretaris LD-PBNU itu seperti dilansir dari laman NU.or.id
“Mereka datang dari seluruh Indonesia, ada yang dari Pontianak, Makassar, Palembang, dan berangkat atas inisiatif sendiri atau ongkos pribadi.” lanjutnya.
Selain sebagai salah satu fasilitator terbentuknya IMNU, di tanggal yang sama pihak LDNU juga menggelar workshop Dai Cyber Media dengan mengundang Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Rudiantara. Dalam workshop tersebut, Menkominfo menyampaikan bahwa NU sangat dibutuhkan dalam melawan radikalisme yang tak hanya di dunia nyata melainkan juga di dunia maya.

Sebab saat ini jumlah konten negatif yang ada di dunia maya dua kali lebih banyak dari konten positif. Atas hal inilah Kementrian Komunikasi dan Informatika cukup kewalahan dalam menahan derasnya arus konten negatif ini tanpa di bantu oleh masyarakat khususnya warga Nahdlatul Ulama yang sudah terbiasa berkecimpung di media internet.
Dan Menkominfo sendiri sangat mendukung terbentuknya komunitas IMNU ini sebagai salah satu bentuk perlawanan paham radikalisme yang sudah menyebar luas di dunia maya. Bahkan Menkominfo siap melakukan kerja sama secara personal kepada LDNU ataupun IMNU untuk mengatasi hal tersebut.
Di waktu lain, Ketua terpilih IMNU yakni Cariban Gaban yang akrab disapa Iban ini juga menyebutkan bahwa IMNU lahir dengan tujuan untuk memberikan kontribusi kepada warga Nahdliyin khususnya di bagian Internet Marketing guna menunjang perekonomian warga Nahdliyin itu sendiri.

”IMNU sebagai wadah para pemain Imers yang berlatar belakang NU mengemban misi untuk memberikan kontribusi kepada kaum Nahdliyin utamanya dan Indonesia pada umumnya sesuai keahlian kita masing-masing di bidang IM. Jadi misi kita adalah memberikan sesuatu ke NU untuk mengangkat harkat dan martabat kaum Nahdliyin yang terkesan tidak terdidik, ndeso dan miskin. Itu misi suci komunitas ini, bukan untuk tujuan politik atau kekuasaan sesaat meski kita tidak bisa mengelak dari masalah-masalah politik.” Ujar Iban kepada tim redaksi IMNU.or.id
Jadi, semoga dengan hadirnya IMNU di jagat dunia maya Indonesia mampu memberikan kontribusi yang signifikan kepada Indonesia secara umum dan warga NU secara khusus terkait berbagai permasalah sosial dan perkembangan teknologi internet hingga saat ini. Mohon doa dan dukungannya kepada IMNU, terimakasih.



Resource Berita : muslimoderat.net
Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali



WartaIslami ~ Al-Qur'an adalah kitab yang mengandung pesan (risalah) untuk manusia. Namun pensakralan (baca: proses chosifikasi/tasyyi') oleh umat Islam terhadap kitab petunjuk tersebut telah mengabaikan risalah yang dikandungnya. Di saat Islam mengalami kemandekan, Al-Qur'an sudah tidak lagi sebagai pedoman atau petunjuk hidup, tetapi sekadar "sesuatu" yang --meminjam istilah Nasr Hamid Abu Zayd-- menjadi perhiasan wanita, pengobatan bagi anak-anak dan hiasan yang digantungkan di tembok serta dipampang di samping benda-beda emas dan perak.

Al-Qur'an juga tidak didekati dengan kesadaran ilmiah namun terbatas pada seni musik dan seni lukis. Dalam kaitannya dengan seni musik, umpamanya, Al-Qur'an adalah serangkaian kata dan nada indah yang mendengarkannya saja sudah mendapat pahala dari Allah Swt. dan sambil mengikuti bacaan yang didengarkan akan mendapat dua kali pahala, yakni sebab mendengar dan membacanya. Praktis, pesan (risalah) yang dikandungnya pun sama sekali tersingkirkan.

Kesadaran untuk membaca dengan iming-iming pahala memiliki implikasi yang cukup penting, yaitu munculnya umat yang cenderung kompetitif membaca Al-Qur'an, di mana yang terbanyak membaca akan memperoleh pahala sesuai banyaknya bacaannya. Dalil yang dipakainya pun, di samping hadis Nabi bahwa "satu huruf Al-Qur'an dibalas sepuluh pahala" juga hadis lain bahwa qul huwallahu ahad (al-Ikhlas) adalah sepertiga Al-Qur'an.

Secara literer hadis tersebut mengungkapkan sisi kuantitas pahala dalam setiap haruf Al-Qur'an, seperti pada hadis pertama. Yang kedua menunjukkan bahwa membaca satu kali surah al-Ikhlash sama pahalanya dengan membaca sepertiga Al-Qur'an. Ini adalah pemahaman masyarakat mainstream yang jelas-jelas hanya memprioritaskan kuantitas bacaan, bukan kualitas pesan kandungannya.

Secara kualitas, hadis tersebut merupakan hadis sahih yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dalam bab Keutamaan Al-Qur'an. Redaksi lengkapnya:

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami al-A'masy, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan al-Dhahhak al-Masyriqi dari Abu Sa'id al-Khudri r.a, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al-Qur'an pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda: "Allahul Wahid ash-Shamad (maksudnya surat al-Ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al-Qur'an".

Jika al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an maka membaca tiga kali setara dengan mengkhatamkan Al-Qur'an. Kita telah melihat bagaimana orang-orang membaca surah ini sebanyak mungkin dengan harapan mendapat pahala khataman Al-Qur'an sebanyak-banyaknya. Tetapi benarkah demikian?

Seorang sufi masyhur Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya, Jawahir al-Qur'an, secara tegas menolak pemahaman tersebut. Menurutnya, Nabi Muhammad tidak mungkin mengatakan bahwa memperbanyak bacaan al-Ikhlash setara dengan mengkhatamkan Al-Qur'an. Al-Ghazali memahami maksud sabda Nabi di atas sebagai penegasan bahwa kuantitas ayat tidak menentukan kualitasnya. Dengan kata lain bahwa sebagian teks (ayat) meskipun sedikit terkadang memiliki keutamaan dari yang lainnya. Ia mengatakan:

Saya melihat engkau tidak memahami aspek ini (nilai al-Ikhlash sepertiga). Mungkin engkau mengatakan: hal ini disebutkan hanya untuk memberikan dorongan agar gemar membaca, maksudnya bukan ukuran nilai. Kedudukan kenabian sangat tidak mungkin melakukan hal itu. Mungkin engkau (juga) akan mengatakan: hal ini sulit untuk dipahami dan di-ta'wil, sementara ayat Al-Qur'an lebih dari 6000 ayat, bagaimana mungkin jumlah yang sedikit ini sebanding dengan sepertiganya? Hal ini muncul karena pengetahuan yang sedikit tentang hakikat Al-Qur'an, dan pandangan secara zahir terhadap kata-kata Al-Qur'an sehingga engkau beranggapan bahwa ayat-ayat itu banyak diukur dengan panjangnya kata, dan pendek diukur dengan pendeknya kata. Hal ini bagaikan anggapan orang memilih uang dirham yang banyak daripada satu permata, hanya karena melihat banyaknya (dirham). (h. 47)

Persepsi masyarakat bahwa "sepertiga" adalah indikasi kegemaran memperbanyak membaca al-Ikhlas bagi al-Ghazali jelas merupakan kekeliruan yang muncul akibat sedikitnya pengetahuan tentang hakikat Kitab Suci. Al-Qur'an sekadar dilihat dari segi banyak-sedikit, bukan dari hierarki maknanya.

Selain itu dalam pernyataan di atas, al-Ghazali juga mengkritik jika ada yang meragukan hierarki teks hanya karena melihat sedikitnya ayat, hal itu diibaratkan mengabaikan permata karena sedikit dan memilih dirham karena banyak, padahal dari segi "nilai" jelas pertama lebih unggul. Dengan demikian al-Ikhlas semestinya tidak dipahami sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an namun dengan sepertiga "kandungan" Al-Qur'an. Al-Ghazali melanjutkan:

Perhatikanlah kembali ketiga klasifikasi yang telah kami sebutkan mengenai hal-hal pokok Al-Qur'an, yaitu ma'rifatullah, pengetahuan akhirat dan pengetahuan mengenai shirat mustaqim. Ketiga klasifikasi ini merupakan hal pokok, sementara yang lainnya berada di belakangnya (tawabi'). Surah al-Ikhlas memuat satu dari ketiganya, yaitu ma'rifatullah, baik tentang ketauhidan-Nya dan kesucian-Nya dari yang menyekutui-Nya, baik jenis (genus) maupun spesiesnya... Memang benar dalam surah ini tidak ada ungkapan mengenai akhirat dan shirat mustaqim. Telah kami sebutkan bahwa dasar-dasar yang penting dari Al-Qur'an adalah ma'rifatullah, pengetahuan akhirat dan pengetahuan shirat mustaqim. Oleh karena itu, surah ini sebanding dengan sepertiga dasar-dasar (kandungan) Al-Qur'an sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. (h. 48)

Jika demikian, bahwa maksud sepertiga dalam hadis Nabi adalah sepertiga kandungannya bukan sepertiga bacaannya, maka dapat dipahami bahwa membaca tiga kali surah al-Ikhlas tidak bisa dianggap setara dengan mengkhatamkan Al-Qur'an. Al-Qur'an, sebagaimana dalam pandangan al-Ghazali memiliki tiga pokok kandungan, yaitu ma'rifatullah (seperti dalam kandungan surah al-Ikhlas), pengetahuan akhirat dan pengetahuan shirat mustaqim.

Membaca satu, dua atau tiga kali surah al-Ikhlas tetap saja hanya membaca sepertiga kandungan Al-Qur'an, yaitu ma'rifatullah, karena surah al-Ikhlas tidak memiliki dua kandungan pokok yang lain, yakni pengetahuan akhirat dan pengetahuan mengenai shirat mustaqim. Pemahaman ini secara otomatis meruntuhkan persepsi yang sudah menyebar di masyarakat bahwa pengkhataman Al-Qur'an dapat diringkas hanya dengan membaca tiga kali surah al-Ikhlas saja.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan. Pegiat di UKK Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita.


Resource Berita : nu.or.id
Hukum Shalat dengan Mengenakan Kaos Kaki

Hukum Shalat dengan Mengenakan Kaos Kaki



WartaIslami ~ Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kami menemukan sejumlah orang shalat di masjid dengan mengenakan kaos kaki. Hal ini dilakukan tidak hanya oleh perempuan, tetapi juga oleh kalangan laki-laki. Setahu kami, shalat seperti itu tidak sah. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Siti Jamilah/Tangsel).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kita semua sudah mengerti cara sujud seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dari sana ulama menyimpulkan bahwa orang yang sujud wajib meletakkan tujuh anggota tubuhnya.

Tujuh anggota tubuh yang wajib diletakkan saat sujud adalah dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua kaki. Pasalnya, tidak bisa disebut sujud tanpa meletakan kedua kaki. Sampai sini tidak ada masalah. Tentu kewajiban ini berlaku dalam kondisi normal tanpa uzur.

Lalu bagaimana dengan orang yang sujud dengan mengenakan kaos kaki atau sepatu boot sehingga kedua kakinya tertutup. Di sini para ulama berbeda pendapat. Mereka memisahkan peletakan kaki saat sujud dan menutup keduanya. Ada baiknya kita lihat ulasan Syekh Wahbah Az-Zuhayli berikut ini.

ولا خلاف في عدم وجوب كشف الركبتين، لئلا يفضي إلى كشف العورة، كما لا يجب كشف القدمين واليدين، لكن يسن كشفها، خروجاً من الخلاف...

والشافعية والحنابلة متفقون على وجوب السجود على جميع الأعضاء السبعة المذكورة في الحديث السابق، ويستحب وضع الأنف مع الجبهة عند الشافعية، لكن يجب عند الحنابلة وضع جزء من الأنف. واشترط الشافعية أن يكون السجود على بطون الكفين وبطون أصابع القدمين، أي أنه يكفي وضع جزء من كل واحد من هذه الأعضاء السبعة كالجبهة، والعبرة في اليدين ببطن الكف، سواء الأصابع والراحة، وفي الرجلين ببطن الأصابع، فلا يجزئ الظهر منها ولا الحرف.

Artinya, “Tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama perihal ketidakwajiban pembukaan dua lutut (saat sujud) agar tidak membawanya pada keterbukaan aurat. Keterbukaan kedua kaki dan kedua tangan tidak wajib, tetapi dianjurkan untuk keluar dari perbedaan pandangan di kalangan ulama…

Ulama Madzhab Syafi‘i dan Madzhab Hanbali sepakat atas kewajiban sujud dengan tujuh anggota tubuh seperti disebutkan pada hadits di atas. Bagi Syafi‘iyah, peletakan hidung bersama dahi dianjurkan. Sementara bagi Hanbaliyah, peletakan sebagian sisi hidung itu wajib. Syafi‘iyah mensyaratkan sujud dengan perut telapak tangan dan perut jari kedua kaki. Artinya peletakan satu sisi dari setiap tujuh anggota tubuh seperti dahi itu sudah memadai.

Hitungan (sujud) dengan kedua tangan terletak pada perut telapak tangan baik perut jari maupun telapak tangan. Sementara (sujud) dengan kedua kaki dihitung pada perut jarinya sehingga sujud dengan punggung kaki atau tepi kaki dianggap tidak memadai,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 1, halaman 661-662).

Kita mesti dengan jelas membedakan peletakan tujuh anggota tubuh saat sujud dan keterbukaan tujuh anggota itu saat sujud. Dua hal ini mesti dipahami dengan jelas. Untuk masalah pertama, semua ulama sepakat. Tetapi untuk masalah kedua, ulama berbeda pendapat.

قال ابن دقيق العيد : ولم يختلف في أن كشف الركبتين غير واجب لما يحذر فيه من كشف العورة وأما عدم وجوب كشف القدمين فلدليل لطيف وهو أن الشارع وقت المسح على الخف بمدة يقع فيها الصلاة بالخف فلو وجب كشف القدمين لوجب نزع الخف المقتضي لنقض الطهارة فتبطل الصلاة اه

Artinya, “Ibnu Daqiq Al-Ied (yang juga bermadzhab Syafi‘i) mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa keterbukaan kedua lutut (ketika sujud) tidak wajib karena dikhawatirkan tersingkap aurat. Sedangkan ketidakwajiban terbukanya kedua kaki didukung sebuah dalil halus di mana Nabi Muhammad SAW pada suatu ketika mengusap khuf (sejenis kaos kaki rapat dari kulit) tetap mengenakannya dalam shalat. Seandainya keterbukaan kedua kaki itu wajib, niscaya pencopotan khuf juga wajib yang menuntut pembatalan kesucian lalu membatalkan shalat,’” (Lihat Muhammad bin Ali As-Syaukani, Nailul Authar Syarah Muntaqal Akhbar, Beirut, Darul Fikr, cetakan pertama, 1982 M/1402 H, juz II, halaman 289).

Dari keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang shalat dengan mengenakan sepatu, sandal, kaos kaki, atau alas kaki lainnya jelas tidak sah menurut Madzhab Syafi‘i dan Hanbali karena kedunya mensyaratkan keterbukaan dua kaki saat sujud. Sementara ulama dari madzhab lain tidak mensyaratkan keterbukaan kedua kaki sehingga shalat orang yang mengenakan kaos kaki atau alas kaki lainnya tetap sah dengan dalil bahwa Rasulullah SAW pernah mengenakan khuf saat shalat.

Saran kami, kita sebaiknya berpegang pada pendirian madzhab masing-masing. Selain itu kita juga harus menghargai cara shalat orang lain sesuai yang didasarkan pada pandangan madzhab imam mereka masing-masing.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)


Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini