Membaca Kisah Kejamnya Fir'aun dalam Keributan FDS



WartaIslami ~ Menanggapi kisah Firaun yang menetapkan kebijakan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir demi mencegah kemunculan Nabi Musa, sesuai dengan mimpinya yang berisi ancaman itu, sebagian ulama berkata, "kalau memang Firaun pintar, seharusnya ia tidak mengambil kebijakan tersebut. Tapi dengan menerapkan pencucian otak: lewatlah jalur pendidikan untuk menegaskan kebenaran ajaran ketuhanan dirinya kepada semua, sedari masih tunas!"

Ya, karena pendidikan adalah senjata terkuat. Jika memang sedari kecil seorang anak dicocoki dengan salah satu cara berpikir, maka ia pun akan berkembang dengan cara pikir tersebut. Dan sebagai contoh, Saudi yang sukses dengan penerapan pemikiran wahhabism-nya di segala lini pendidikan, bahkan dimulai semenjak dini.

Indonesia... Sebelum aku memulai, aku ingin bilang kalau ini adalah murni pendapat pribadiku sebagai seorang santri udik. Indonesia sejak sebelum merdeka sudah memiliki sejarah panjang tentang pondok pesantren dan madrasah, dan jujur saja, keduanya adalah problem terbesar yang selalu menjadi penghalang penjajah. Jebolan pesantren dan madrasah selalu menjadi pelaku perlawanan di garis depan. Diakui atau tak diakui.

Dan itu bukan cuma di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia Islam. Maka, menerapkan cara yang sama di negara lain: pendidikan berkarakter Islam adalah hal pertama yang harus dihancurkan demi melancarkan penjajahan. Dan di Indonesia: pesantren dan madrasah adalah dua hal yang harus dibumi-hanguskan.

Di sinilah perbedaannya. Jika kutaib-kutaib (madrasah karakter agama), zawiyah-zawiyah (semacam pesantren) di negara-negara lain berhasil dibumihanguskan, Indonesia dengan ajaibnya bisa mempertahankan keberadaan pesantren dan madrasahnya—tanpa menutup kenyataan bahwa ada sedikit keberhasilan dari penjajah dalam campur tangan untuk sedikit merusak metode dan kurikulum, hingga pesantren hanya diizinkan mengajarkan ilmu bahasa dan fiqih saja, bukan tafsir, hadits, sejarah (secara mendalam) dan ilmu lainnya yang berpengaruh kuat membentuk karakter muslim. Indonesia berhasil mempertahankan keberadaan pesantren dan madrasah hingga kemerdekaannya, bahkan hingga kini.

Hanya saja, meski Indonesia sudah merdeka, tapi usaha untuk menghanguskan keberadaan keduanya masih terus berlanjut. Keduanya sedari dulu selalu berusaha untuk dikesampingkan, dan aku rasa ini harus diakui. Karena mau tidak mau, masih saja jebolan keduanya selalu menelurkan orang-orang yang berkarakter untuk mau membela negara dan agama. Itu adalah hal paling menyusahkan penjajah (dengan artian umumnya) untuk menguasai Indonesia secara menyeluruh!

Dan, untukku, FDS (ataupun hanya sekadar efeknya) adalah kepanjangan tangan dari usaha tersebut, disadari ataupun tidak. Ada hal terselubung tentang perusakan karakter muslim secara khusus dan karalter bangsa Indonesia secara umum, dibaliknya.

Nah, sebagai santri, bukannya normal jika kami—para kaum sarungan—merasa harus menolak usaha untuk membunuh karakter pembela bangsa yang selalu diajarkan dan diproduksi di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah?

Menilik ke Sirah Nabawi, kita bisa melihat bahwa Rasulullah mendidik anak-anak dibawah umur baligh dengan kemampuan yang sesuai dan selaras dengan kemampuannya masing-masing. Bahkan ajaran beliau lebih kepada pembentukan karakter daripada 'mencekoki' pengetahuan secara berlebihan. Dengan kata lain: selain membiarkan seorang anak kecil bisa tumbuh kembang dengan senormal mungkin, Rasulullah pun menyuntikkan karakter Islam kepada mereka secara perilaku dan penerapan.

Selanjutnya, para ulama 'menyimpulkan' semua ajaran tersebut dalam bentuk kutaib sebagai sekolah untuk anak kecil. Rata-rata, karena demi menjaga hak anak kecil (yang diakui Islam) dalam bermain dan kebebasan menjalani kehidupannya sebagai anak kecil, kutaib dimulai dengan ayat Alquran untuk dihafalkan, dan pelajaran tentang sopan santun. 'Kurikulum' selanjutnya adalah sejarah Nabi sebagai pengenalan anak kepada sejarahnya agar mencintai agama dan negara, dan setelah itu baru ilmu yang berbobot lebih berat seperti tafsir, hadits, fikih dan selainnya.

"Siapapun yang memiliki anak, maka berperilakulah seperti anak kecil," dalam hadits riwayat Addailami dan Ibn Asakir. Dan itu adalah ajakan Nabi agar kita mendidik mereka dengan cara mengikuti jalan mereka berpikir dan merasakan dalam tingkatan anak kecil.

Nabi sendiri mencontohkan ini dalam kehidupannya dengan memberikan waktu untuk bermain dengan kedua cucu mulia, Sayyidina Alhasan dan Sayyidina Alhusain alaihimassalam dengan cara yang diinginkan kedua cucunya, dan itu adalah cara terbaik untuk mengungkap dan memperkaya karakter dan kemampuan anak kecil semenjak dini.

Beliau pernah merangkak dan kedua cucu mulia menaiki punggung beliau, dan beliau berkata, "unta terbaik adalah unta kalian, dan penunggang terbaik adalah kalian!" (HR. Atthabarani). Coba pikirkan bagaimana seorang anak kecil bisa menjadi percaya diri dengan kalimat itu, dan setelahnya mau menerima segala kebaikan yang nakal diajarkan selanjutnya.

Membahas ini sungguh panjang. Contoh sangat banyak tentang bagaimana Nabi mendidik anak kecil. Tapi, sebagai kaidah besar, aku ingin mengingatkan satu hadits riwayat Alhakim Atturmudzi dan Alkhathib Albaghdadi, yang beliau pernah mengingatkan kita, "'aramatusshabiy fi shigharih, ziyadatun fi 'aqlihi fi kibarih." Kesemangatan/banyak tingkah ketika bermain seorang anak kecil, adalah (tanda) bertambahnya (kecerdasan) akalnya ketika ia besar.

Dan untukku, daripada mempercayai FDS yang memerkosa hak anak meski lewat pendidikan, aku lebih memilih cara yang diajarkan Nabi.

Di sisi lain, aku ingin mengingatkan bahwa Nabiyullah Yusuf alaihissalam dahulu dibuang oleh saudara-saudaranya yang lebih dewasa, dengan berdalih: mengajaknya bersenang-senang dan bermain, dan Nabiyullah Ya'qub alaihissalam pun membolehkan. Saat itu, Nabiyullah Yusuf berusia 12 tahun, dan Nabiyullah Ya'qub mengiyakan dalih saudara-saudaranya, karena memang itu adalah hak dari anak berusia sebaya puteranya.

Dan dengan berdalih hal yang sama pula, sepuluh saudaranya itu 'menghabisi' hak Nabiyullah Yusuf dengan menjebak dan melemparnya ke dunia yang bukan dunianya. Kalau saja bukan karena beliau mendapat inayah Allah, bayangkan betapa hancurnya jiwa dan selanjutnya karakter anak-anak dengan cara seperti itu?

Apakah kita ingin menerapkan hal yang sama, membunuh karakter tunas bangsa ini dengan berdalih pendidikan? Sebagai santri, aku menolak!

Kembali pada hal yang berkali-kali aku sebutkan di banyak tulisanku. Boleh jika sebagian orang berbeda pendapat. Tapi membolak-balikkan fakta, mencampur adukkan keadaab, dan selanjutnya memperkeruh suasana, bukanlah hal yang diajarkan Islam.

Termasuk dalam 'kasus' FDS ini.

Beberapa kawan, hafidzahumullah wa yahdihim ila-sshirathil mustaqim, mencampur aduk masalah dengan membandingkan sikap para penolak FDS (terutama dari pihak NU) dengan sikap mereka dahulu saat ada demo mengatas namakan bela agama itu (atau juga dengan kasus lain jika memang ada, tak menutup kemungkinan). Dan untukku, itu sangat disayangkan. Apalagi jika mengatasnamakan ustadz, santri atau bahkan mengatasnamakan 'perilaku Islami'. Yuh. Asafii 'alaihum. Yazıklar olsun.

Aku hanya ingin mengingatkan, FDS menurut mereka yang menolak berefek negatif sangat berkepanjangan pada setiap individu tunas bangsa. Pada karakter dan kepribadian mereka. Apakah hal seperti ini pantas didiamkan? Kalau berakal, menurutku tak pantas. Berbeda jauh dengan 'efek negatif' tuduhan menodai agama yang hanya ditujukan pada satu orang, menolak pemimpin berbeda agama hanya pada satu lokasi. Dengan adanya catatan banyak dan macam-macam pendapat ulama tentang apakah itu dianggap penodaan, apakah pemimpin non muslim boleh.

Kamu, kawanku, boleh membela apa yang kamu anggap benar. Tapi, apa hakmu menuduh dan menebar fitnah terhadap orang yang tak kamu sukai? Siapa yang memberimu izin untuk membuat negara ini semakin runyam hanya karena tidak sejalan dengan otakmu? Bukannya Rasulullah sendiri—kalau memang kamu merasa Islami—melarang hal seperti itu? Beri aku dalil jika memang sikapmu benar.

Alhasil, membicarakan sikap sebagian orang yang terlalu terkungkung dengan pembenaran terhadap diri sendiri selalu membuat keruh hati, wa astaghfirullah min dzalik. Semoga Allah menjembarkan hati, menautkan kembali tali ukhuwwah, baik islamiyyah ataupun wathaniyyah. Dan memperbaiki lisan, pikiran dan sikap, tak membiarkannya kotor dan menjijikkan.

Mereka yang menolak FDS, silakan saja, tanpa harus memperkeruh suasana negara. Tetap dukunglah pemerintah dengan memberi kritik yang membangun, dan bertawakkallah pada Allah jika memang kritik (dengan segala cara yang diizinkan) tidak diterima oleh pemerintah.

Jangan menjadi orang yang berakal sempit dengan mengancam merusuh negara, tak usah mengumpat orang yang berbeda pendapat apalagi menuduh dan menebar fitnah, dan tak perlu mengajak revolusi atau mencongkel pemerintahan yang sah. Menjadi bijak untuk menghadapi permasalahan, jangan menjadi orang yang terburu emosi.

Akhir, semoga Allah memperbaiki semua niat. Dan semoga Allah memaaf kesalahan. Dan semoga Allah menjaga dan merawat Indonesia sebaik mungkin. Dan semoga Allah tetap menjaga Islam dengan pemahaman yang benar, yang moderat, di bumi Nusantara.


Resource Berita : dutaislam.com
1 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

1 Response to "Membaca Kisah Kejamnya Fir'aun dalam Keributan FDS"

  1. Selamat hari kemerdekaan INDONESIA 72th
    Dalam Merayakan Kemerdekaan
    agen bolavita menyediakan promo freechips di tanggal 16 sampai 18 agustus 2017 sebesar 100rb setiap hari untuk new member dan member setia kami.
    BolaVita. net / sabungayam.top / dewasabungayam. com
    whats up : 6281377055002
    BBM: D8C363CA (NEW)

    ReplyDelete

close
Banner iklan disini