Ustaz Yusuf Mansur Bangun Paytren dengan Pendekatan Ibadah

Ustaz Yusuf Mansur Bangun Paytren dengan Pendekatan Ibadah



WartaIslami ~ Ustaz Yusuf Mansur membangun Paytren dengan pendekatan ibadah. Hal ini membuat aneka tantangan jadi tak terasa berat.

Melalui teleconfrence singkat dari Paris, Prancis, Komisaris Paytren Ustaz Yusuf Mansur mengaku dia tidak merasa sedang berbisnis an sich. Yang ia dan tim manajemen Paytren lakukan adalah bagian ibadah kepada Allah SWT. "Jadi prinsip ibadah dan dakwah juga harus melekat pada model bisnisnya," kata Ustaz Yusuf kepada peserta serial seminar Islamic Fintech di Kompleks STEI Tazkia, Sentul, Kabupaten Bogor Jawa Barat, Sabtu (30/9).

Kalau soal kesulitan, ia mengaku tidak ada. Sebab semua dilakukan memakai prinsip Allah dulu, Allah lagi, Allah terus sehingga banyak mengingat Allah SWT. "Jangan sampai bisnis tapi lupa dengan Allah, lupa sedekah," kata Ustaz Yusuf.

Alquran, lanjut Ustaz Yusuf, juga sudah menyatakan agar meminta pertolongan Allah SWT dengan sabar dan shalat. Yang dilakukan tim Paytren adalah shalat dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. "Kalau kalau minta kepada Allah, tidak ada yang sulit," ungkap pendiri Pesantren Tahfiz Daarul Quran itu.

Ustaz Yusuf juga menjelaskan tujuannya pergi ke Paris adalah dalam rangka membeli saham sebuah perusahaan teknologi informasi. Hal itu juga dalam rangka mengukuhkan Indonesia menjadi bangsa investor.



Resource Berita : republika.co.id
Zikir Itu Obat Hati

Zikir Itu Obat Hati



WartaIslami ~ Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Subhanallah,  dosa itu membuat kamu gelisah, zikir itulah "dawaauhu", obatnya.

Simaklah Kalam Allah ini dengan iman:  "Dan orang orang beriman itu tenteram hati mereka dengan berzikir, ketahuilah hanya dg berdzikir hati itu akan tenteram." (QS Ar Ro'du 28).

“…Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS Ali Imran 41).

"Barang siapa yang tidak mau mengingat Aku,  dia akan mendapat kehidupan yang sulit dan di akhirat akan dikumpulkan sebagai orang buta." (QS Thaha 124).

"Maka ingatlah kamu kepada-Ku supaya Aku ingat pula kepadamu dan syukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu menjadi orang yang kufur." (QS Al baqarah 152).

Rasulullah bersabda, "Maukah kuberitahukan kepadamu suatu amalan yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhanmu, dan paling menaikkan derajatmu, dan lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagimu daripada berjuang melawan musuh, kamu membunuh musuh atau musuh membunuhmu?", para sahabat menjawab, “ya”. Sabda beliau, "zikrullah” (HR Ahmad, Tarmidzi, Ibnu Majah).

Insya Allah Ahad,  besok  Ahad, 11 Muharam 1439H / 1 Oktober 2017, Majelis Az-Zikra akan kembali menggelar Tausiyah Zikir Akbar di Masjid Az-Zikra Sentul,  Bogor, Jawa Barat. Acara dimulai pukul  07.00.

Ba’da Zhuhur, tepatnya pukul 12.30, akan dilanjutkan dengan siaran langsung Damai Indonesiaku TVOne dengan tema, "Urgensi Nikah". Acara tersebut akan menampilkan nara sumber Habib Jindan bin Novel, Ustaz Arifin Ilham dan Muhammad Alvin Faiz.

Allahumma ya Allah berkahi majlis zikir, persahabatan dan harakah da'wah kami. Aamiin


Resource Berita : republika.co.id
Gara-gara Ceramah Kebencian, Swiss Cabut Suaka Muslim Libya

Gara-gara Ceramah Kebencian, Swiss Cabut Suaka Muslim Libya



WartaIslami ~ Seorang Muslim Libya, Jumat (29/9), terpaksa kehilangan hak suakanya di Swiss setelah berkotbah yang memuat ujaran kebencian di sebuah masjid di kota Biel.

Pengadilan Administratif Federal di St. Gallen secara resmi mencabut suaka seorang penceramah bernama Abu Ramadan lantaran pidatonya yang dinilai kontoversial.

Menurut pengadilan itu, keputusan ini final dan Ramadan tidak dapat mengajukan banding atas keputusan tersebut, lapor media Swiss seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Ramadan yang berkhotbah di masjid Ar'Rahman di Biel, di kaki pegunungan Jura, diduga telah menyerukan penghancuran terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, Rusia, dan Muslim Syiah.

Pria 64 tahun itu menyangkal telah menyampaikan pidato kebencian. Ramadan merasa pidatonya yang berbahasa Arab diterjemahkan secara tidak akurat.

Ramadan saat ini tinggal di Nidau, kanton Bern dan merupakan pemegang paspor Libya. Dia memperoleh suaka di Swiss pada tahun 1998 dan secara reguler menerima manfaat jaminan sosial selama 13 tahun terakhir. (Red: Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
Subhanallah! Berkat Didikan Kyai NU, anak PKI ini Jadi Kyai

Subhanallah! Berkat Didikan Kyai NU, anak PKI ini Jadi Kyai



WartaIslami ~ Terlahir dari keluarga PKI, Setiono akhirnya disuruh ibunya mondok ketika beliau masih belia. Kematian paman yang mengasuhnya sejak kecil adalah spirit yg menguatkannya mondok. Maklum, pamannya mati karena disembelih Banser karena terlibat PKI pada tahun 1966 atas instruksi Jenderal Soeharto.

Pilihan ibunya adalah memondokkan Setiono berguru ke Kyai Muchtar (panggilan ayah saya KH. Achmad Muchtar Ghozali) yang baru pulang mondok di Ketapang Kepanjen di bawah asuhan Romo Kyai Mohamad Said pada tahun 1967.

Kyai Said adalah ulama kharismatik dari Malang, santri Kyai Khozin Siwalan Panji dan Kyai Hasyim Asyari. Beliau dikenal sebagai waliyullah dan ulama nasionalis karena ilmu laduni dan 'kejadugannya' menggembleng para santri dalam melawan penjajah belanda, jepang hingga pemberontak PKI.

Selain karena alasan paling dekat rumah, PPAI Darun Najah yang diasuh Kyai Muchtar memang pondok satu satunya yang ada dan berdiri di Tlogosari (nama desa saya sebelum diganti dengan Ngijo). Maklum, Tlogosari sebelum '66 adalah desa basis PKI terbesar untuk wilayah Malang utara.

Maka untuk menutup masa lalu yang kelam dan 'ngabang' (abangan), kyai Muchtar pun mengganti nama Setiono menjadi Burhan. Bahkan tahun '70an setelah banyak santri yang mondok dan banyak musholla berdiri di Tlogosari, kepala desa pun mengganti desa Tlogosari menjadi Ngijo agar bercorak NU untuk menghilangkan kesan abangan yang selama ini melekat pada Tlogosari.
Sebab, sebelum tahun '65 memang hanya ada satu masjid dan satu musholla berdiri di dusun Tlogosari yakni masjid al Qurba di kidul embong yang asalnya musholla yang didirikan mbah Ahmad, kakek Kyai Muchtar dan musholla lor embong yang didirikan ayah beliau, mbah Ghozali.

Sreeeeet ___________
Dua tahun mondok, Burhan pun dikenal banyak orang karena kepiawaiannya berceramah dan berdakwah. Bahkan tahun '70 Burhan menjuarai lomba pidato santri se Karangploso Singosari hingga membuat dia sering dapat job undangan ceramah.
Namun Danramil Karangploso ketika itu tahu, Burhan adalah anak PKI. Sehingga dengan pressure ala ABRI jaman orba dan alasan waspada terhadap bahaya laten PKI, Burhan pun dibredel. Kyai Muchtar pun dipaksa membubarkan pondok yang sudah diasuh selama 4 tahun dengan alasan telah melindungi PKI hingga semua santri dipaksa pulang.

Namun selang hampir satu bulan setelah melalui proses negosiasi spiritual dan sosial politik yang dilakukan kyai Muchtar, Burhan dan kawan kawan pun akhirnya bisa kembali ke pondok. Kyai Muchtar pun melanjutkan tugas mendidik para santri, meski Burhan tidak bisa lagi ceramah sebebas sebelumnya.

Sreeeeet ___________
Tahun 1972 adalah tahun ujian bagi Burhan. Jiwa muda dan pubertas memang kadang membuat santri tidak menurut. Hal itu membuat Burhan ditakzir (dihukum) sang guru akibat pelanggaran pasal 'genda'an' yang dilakukan. Burhan pun dititipkan Kyai Muchtar ke Gus Pud (Kyai Mahfud Tasikmadu santri mbah Sahlan Krian) agar tirakat puasa.
Setahun pun berlalu, Burhan yang ikhlas menjalani hukuman itupun didawuhi sang guru; "Awakmu muleh opo mbalik nang pondok, bur? Yen muleh kudu mulang. Yen mbalik mondok kudu ngaji".

Burhan yang sudah cukup dewasa akhirnya memohon izin pulang dengan izin dan restu sang guru. Dan kini Burhan yang bernama asli Setiono anak PKI itu telah menjelma menjadi sang kyai di kampungnya dan memiliki lembaga pendidikan bernama PPAI as Saidiyah di Ngenep Karangploso.
Kisah ini bukan saja diceritakan abah saya, tapi juga diceritakan cak Burhan langsung kepada saya sambil terisak tangis terharu ketika berada Makah sewaktu menjalankan ibadah haji tahun 2004 dan bertemu saya. Bahkan beliau kini sudah menjalankan haji dan umroh beberapa kali secara gratis sebagai keberkahan menjadi Kyai.

Sreeeeet _____________
Kisah kampung saya bernama Tlogosari yang sebelum '66 'ngabang' (merah karena PKI) namun kini berubah Ngijo (hijau karena NU) serta kisah Kyai Burhan yang berasal dari keluarga PKI namun menjelma menjadi Kyai hanyalah satu cerita dari puluhan cerita yang saya punya.
Maka bagi siapapun yang terobsesi 'hunting' PKI di Indonesia akibat kekenyangan makan 'gorengan menjes' PKI; bagi para pengikut bumi datar yg selalu dihinggapi rasa phobia, dendam dan benci akibat terhipnotis orasi politisi 'busuk' yang suka menakut nakuti dengan mengatakan bahwa ada 60 juta PKI yang bangkit mengancam negeri ini..

Saya mengundang anda ke kampung saya karena saya masih memiliki puluhan cerita dan bukti lain selain Kyai Burhan yang kini telah menjadi orang manfaat bagi umat agar mengerti bahwa rekonsiliasi itu jauh lebih baik daripada menakuti nakuti. Dan mengubur pahitnya masa lalu itu jauh lebih mulia daripada membangkitkan kepedihan masa lalu.
Tapi bagi mereka yang cerdas, memiliki hati luas dipenuhi cinta kasih dan pemaaf pada sesama, serta optimis dengan kemajuan NKRI, Kyai Burhan adalah satu diantara tanda kebesaran Allah dalam memberikan rahmat kepada orang yang dikehendaki.

Bagaimana orang yang dulu dianggap nista sebagian orang karena PKI kini menjadi makhluk mulia karena kemuliaan akhlak yang dimiliki. Justru orang yang merasa paling benar dan paling suci karena tidak pernah berurusan dengan PKI itu kini menistakan diri dengan keburukan moral akibat termakan fitnah keji.

Sreeeeet ___________
Dan bagi para politisi busuk negeri ini, jika berambisi meraih tampuk kekuasaan atas negeri ini, tidak adakah cara yang lebih elegan dan bermoral selain dengan mengobok obok kedamaian dengan membuat opini sesat yang bisa memecah belah persatuan bangsa ini?

Masa lalu sejarah memang tidak bisa dipungkiri. Tapi optimis dengan masa depan adalah modal untuk membangun negeri. Karena persatuan dan kesatuan bangsa adalah pondasi untuk membangun kejayaan bangsa yang berdiri kokoh diatas tetesan darah para pahlawan negeri ini.

Salam pancasila sakti ..
Jaga persatuan dan NKRI..


Resource Berita : muslimoderat.net
Kiai Jahari dan Penjudi

Kiai Jahari dan Penjudi



WartaIslami ~ Suatu ketika setelah shalat Isya, seorang laki-laki mendatangi rumah Kiai Jahari. Laki-laki itu terkenal sebagai seorang penjudi. Semua orang mengetahuinya, termasuk Kiai Jahari.

“Silahkan masuk,” kata Kiai Jahari setelah melihatnya berada di pintu.

Laki-laki paruh baya itu menghampiri Kiai Jahari dan menyalaminya. Ia duduk di samping Kiai Jahari setelah dipersilahkan.

“Lama kita tak berjumpa,” ujar Kiai Jahari.

“Iya, Kiai,” katanya singkat. “Begini Kiai, saya hendak bertanya sesuatu.”

“Silakan,” ucap kiai asal Susukan, Cirebon, yang hidup di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 itu.

“Anak dan isteri saya menolak nafkah pemberian dari saya. Katanya uang hasil judi itu haram. Benarkah demikian, kiai?”

Kiai Jahari tersenyum, kemudian berkata: “Tidak juga, selama tuan tidak pernah kalah sekalipun.”

Laki-laki itu sedikit tercengang. Ujarnya: “Tidak mungkin, kiai. Ketika berjudi, tidak ada seorang pun yang belum pernah kalah. Semua penjudi pernah mengalaminya.”

“Jika tuan sudah tahu jawabannya, kenapa tuan masih melakukannya?”

Laki-laki itu terdiam, dengan wajah menunduk.

“Tak ada keuntungan dalam berjudi. Menang atau kalah, sama-sama merugikan. Ketika tuan menang, tuan merugikan orang yang kalah. Ketika tuan kalah, tuan lah yang dirugikan. Itulah alasan kenapa uang hasil judi dihukumi haram, karena didapatkan dengan merugikan orang lain.”

“Tapi sukar menghentikannya, kiai.”

“Ya, memang sukar. Jika mudah, tuan tidak akan datang kemari,” ujar Kiai Jahari tersenyum lebar.

****

Pendekatan Kiai Jahari ini sangat memanusiakan. Beliau tidak mengusir penjudi itu dan menerimanya dengan ramah, meski orang itu telah terkenal sebagai penjudi dan pemabuk. Jawaban yang diberikannya pun menarik, tidak seketika mengharamkan dan menyalahkan. Beliau memberikan jawaban yang memancing perenungan, sehingga tanpa sadar sang penjudi mengatakan: “Tidak mungkin, kiai. Ketika berjudi, tidak ada seorang pun yang belum pernah kalah. Semua penjudi pernah mengalaminya.”

Andai ditarik ke ranah teoritis, pendekatan Kiai Jahar dalam menjawab bisa—mungkin—diskemakan seperti ini. Pertama, mengajukan argumentasi logis dengan mengatakan: “Tidak juga, selama tuan tidak pernah kalah sekalipun.” Argumentasi logis ini yang kemudian dipahami oleh penjudi sebagai bentuk ketidak-mungkinan. Artinya, Kiai Jahari sengaja menggunakan pengalaman berjudi orang tersebut untuk membangun landasan argumentatifnya.

Kedua, setelah landasan argumentatifnya terbangun, yaitu perkataan: “Jika tuan sudah tahu jawabannya, kenapa tuan masih melakukannya?” Kiai Jahari masuk ke dalam wilayah influence (mempengaruhi) dan membangun impression (kesan), dengan cara membiarkannya menggali kesimpulannya sendiri, yang pada akhirnya membuka pikirannya untuk menerima masukan baru.

Ketiga, setelah kesan kuat berada di benaknya, artinya Ia telah siap menerima masukan yang bersifat hukum. Kemudian Kiai Jahari memberikan konklusi argumentasi logis dibalik keharaman berjudi dengan mengatakan: “Tak ada keuntungan dalam berjudi. Menang atau kalah, sama-sama merugikan. Ketika tuan menang, tuan merugikan orang yang kalah. Ketika tuan kalah, tuan lah yang dirugikan. Itulah alasan kenapa uang hasil judi dihukumi haram, karena didapatkan dengan merugikan orang lain.”

Dan keempat, pemahamannya terhadap sukarnya menghentikan perbuatan dosa bagi yang terbiasa melakukannya, tidak membuat Kiai Jahari memberikan wejangan-wejangan hukum yang akan membuatnya lari dan keberatan, tapi dengan pernyataan sederhana yang tidak menakutkan: “Ya, memang sukar. Jika mudah, tuan tidak akan datang kemari.”

Kiai Jahari memahami betul bahwa tidak mudah menjauhi perbuatan yang dilarang Allah, khususnya bagi orang-orang yang terbiasa melakukannya. Banyak orang sering menganggap para pendosa sebagai orang bodoh yang tidak berdaya mengendalikan hawa nafsunya. Hal itu memang benar, tapi Kiai Jahari merasa tidak perlu membawa hal tersebut dalam proses dakwah.

Dengan kata lain, da’wah bi al-hikmah (mengajak dengan kebijaksanaan) harus dikedepankan, bukan dakwah dengan laknatisasi kekufuran. Beliau menyadari bahwa peluang berubah selalu ada, bagi siapa saja. Jika Allah mengampuni orang yang telah membunuh 100 orang, tanpa pernah beribadah kepadaNya, sekedar merasakan penyesalan dan hasrat bertaubat yang tinggi, apalagi hanya seorang penjudi dan pemabuk kampung.

Semoga kita bisa mengambil teladan dan manfaatnya, serta melanjutkan perintah luhur agama, yaitu berdakwah menggunakan kebijaksanaan. Wa Allahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Resource Berita : nu.or.id
Mengapa Syiah Mencambuk Diri di Hari Asyura? Buya Yahya Bongkar Rahasianya

Mengapa Syiah Mencambuk Diri di Hari Asyura? Buya Yahya Bongkar Rahasianya



WartaIslami ~ Salah satu ritual syiah adalah melakukan tathbir, melukai diri sendiri di hari asyura. Sebagian besarnya berbentuk aktifitas mencambuk diri menggunakan rantai besi atau pedang berantai.

Mengapa mereka berbuat demikian? Benarkah sekedar bentuk duka cita atas kematian Husein? Ternyata bukan. Mungkin Syiah mengklaim demikian, tetapi Buya Yahya memiliki penjelasan yang lebih dahsyat.

Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah Cirebon itu mengungkapkan bahwa hal itu sebenarnya adalah azab atas tindakan keji mereka telah menuduh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai pelacur.

“Kelompok tersebut (Syiah, red) biasanya mencaci maki Siti Aisyah. Subhanallah. Siti Aisyah dibilang pelacur. Dan Allah Mahaadil. Allah Mahaadil. Kalau di dalam hukum Islam, coba. Di dalam hukum Islam, jika ada orang mengatakan/menuduh orang lain berzina, maka dicambuk 80 kali. Yang mencambuk adalah hakim. Kalau Anda berkata, e kamu zina, ngadukan ke mahkamah “Pak Hakim, saya dituduh orang ini berzina” dicambuk orang ini 80 kali, menuduh orang lain berzina. Dicambuk.” Terang ulama kondang tersebut.

“Yang dituduh siapa? Siti Aisyah. Tapi Allah Mahaadil, mahkamah mereka tidak mencambuk tapi mereka punya keyakinan setiap tahun mencambuk diri sampai berdarah-darah. Dan itu setiap tahun, rumah sakit mereka penuh dengan orang-orang sakit dan bahkan mati karena korban mencambuk diri sampai berdarah. Itu hukuman karena kurang ajar dengan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha,” tambahnya.

Berikut ini video lengkap penjelasan Buya Yahya:





Resource Berita : gemarakyat.id  /  tarbiyah.net
Menjadi Muslimah itu Nikmat, Anugerah, dan Amanah

Menjadi Muslimah itu Nikmat, Anugerah, dan Amanah



WartaIslami ~ Setiap Muslimah memiliki kisah dan tantangan yang harus dihadapi ketika berhijrah dan memutuskan berjilbab. Salah satunya  dengan Amalia Dian Ramadhini, Ketua Solidaritas Peduli Jilbab. Ia sangat bersyukur, sebab  Allah memberikan hidayah kepadanya sehingga di 2005 mantap berjilbab. Baginya terlahir sebagai seorang muslimah adalah sebuah nikmat, anugerah, dan amanah.

Jilbab dalam Islam dimaknai sebagai pakaian yang menutup seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tidak tipis atau transparan, tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, tidak berwarna mencolok dan terlihat sederhana.

Allah memerintahkan kewajiban muslimah memakai jilbab dalam Surat al-Ahzab 59 berbunyi : ”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hal ini diperjelas lagi dalam Surat an-Nur: 31, yaitu “ .... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.”

Perempuan yang akrab disapa Amal ini sebelumnya tak pernah tahu mengenai perintah Allah di surat al-Ahzab ayat 59 maupun surat an-Nur ayat 31. Baginya kala itu, ia ingin berubah menjadi lebih baik.

“Saya hanya tahu bahwa muslimah yang baik adalah berjilbab. Saya pakai jilbab aja waktu itu, walau tanpa ilmu. Tapi setelah berjilbab, saya belajar dan ikut ngaji sana sini,” katanya, Kamis (28/9).

Menjadi  seorang Muslimah adalah sebuah nikmat. Salah satunya nikmat dalam mengenakan jilbab. Menurut Amal, ketika berjilbab ada sesuatu hal yang ia rasakan, ia tak lagi memusingkan apa yang orang lain pikirkan terhadap penampilannya. Hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslimah dan membebaskan diri sendiri dari penghambaan terhadap manusia.

“Sebelum berjilbab rambut berantakan dikit itu masalah, aduh gimana ya kata orang. Setelah berjilbab ya.. sudah ini apa yang Allah minta. Jadi kita nggak ribet lagi dari pandangan orang lain dan itu adalah kenimatan tersendiri,”  ucapnya.

Selain nikmat, menjadi muslimah adalah sebuah anugerah. Allah perintahkan berjilbab sebagai bentuk rasa sayang-Nya kepada muslimah. Salah satunya dalam segi kesehatan, jilbab melindungi perempuan dari kanker kulit dan pelecehan seksual

Maka, menurutny,a jika jilbab itu mengekang dan ketinggalan jaman, sangatlah salah. Sebab, banyak fakta-fakta yang menunjukkan bahwa jilbab memiliki banyak manfaat.

“Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa ozon yang melindungi bumi dari sinar ultraviolet bocor, sehingga manusia rentan terkena kanker kulit. Insya Allah, berjilbab salah satu cara untuk menghindarinya. Selain itu laki-laki hidung belang sungkan untuk mengganggu.”

Menjadi muslimah adalah amanah. Bagaimana menjadi muslimah yang lebih shalihah. Tak sekedar tampilannya saja namun perilaku, adab, akhlak sehari-hari yang mencerminkan dari jilbab itu sendiri. “Salah kalau ada yang bilang berjilbab pasti sudah baik. Sebab jilbab itu langkah awal ke sana (kebaikan) karean ada amanah dalam berjilbab. Bagaimana kita menjadi muslimah yang lebih shalilah,” ujarnya.
 
Berjilbablah tanpa tapi...

Mengenakan jilbab adalah suatu kewajiban yang Allah perintahkan kepada perempuan. Namun pada kenyataan, banyak perempuang yang belum mengenakannya, dengan berbagai alasan. Sementara banyak pula yang tak menyerah pada alasan untuk mengenakan jilbab, seperti Amalia Dian Ramadhini (Ketua Solidaritas Peduli jilbab) dan Rahma Nuzula Putri (Mantan Inong Banda Aceh 2013).

Amalia mengisahkan, bahwa perjuangannya untuk berjilbab tidaklah mudah. Sebelum berjilbab, ia mengaku, kerap melakukan kenakalan-kenakalan remaja. Hingga akhirnya, ia mantap berjilbab di 2005 ketika duduk di kelas 1 SMA. Saat itu ia tidak tahu jilbab adalah sebuah kewajiban yang Allah perintahkan di surat Surat al-Ahzab (59) dan Surat an-Nur (31).

“Awal saya memutuskan berjilbab karena bermimpi malaikat maut, saya takut. Entah kenapa saya mikirnya perubahan pertama menjadi Muslimah adalah berjilbab. Saya pakai jilbab aja waktu itu, walau tanpa ilmu,” katanya.

Tantangan terberat yang ia hadapi berasal dari keluarga. Ia mengatakan sang ayah sempat memusuhinya selama satu setengah tahun karena keputusannya tersebut. Apalagi keputusannya saat itu berdekatan dengan peristiwa bom bali dua. Fenomena yang salah di masyarakat mengenai teroris adalah islam fanatik, membuat dirinya dimata sang ayah salah.

“Satu setengah tahun saya  berjuang di dalam kelaurga. Saya dicuekin, didiamkan, gak diajak ngobrol terutama sama ayah. Selain itu saya dikatakan seperti istrinya para teroris,” katanya.

Keputusannya bahwa berjilbab adalah  hal yang benar, ia buktikan dengan menjadi teladan yang baik. Ia menjalaninya dengan sabar hingga akhirnya ia menjadi juara kelas.

“Jadi saya buktikan sama ayah bahwa setelah pakai jilbab saya  akan lebih baik lagi. Akhirnya satu setengah tahun saya bayar dengan mendapatkan rengking kelas dan ayah akhirnya menerima saya berjilbab,” ujarnya.

Bagi Amal sudah seharunya muslimah melaksankan kewajiban yang Allah perintahkan. Jilbab bukan sekedar pilihan dan keinginan, karena itu adalah sebuah keharusan. Tak perlu menjadi baik terlebih dahulu untuk berjilbab.

Perjuangan berjilbab juga dirasakan oleh Rahma Nuzula putri. Berbeda dengan Amel yang memiliki tantangan di keluarga, Ula panggilan akrabnya mengisahkan bahwa tantangan terberatnya justru hadir dalam dirinya sendiri. “Saya bercita-cita menjadi artis, dan sejak kecil saya sudah terjun di dunia modeling untuk merah cita-cita saya itu,” katanya, Kamis (28/9).

Gadis kelahiran Aceh ini, memutuskan merantau ke Jakarta setelah lulus SMA. Berkat presatasinya di dunia modeling dan seni, ia mendapatkan beasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta. Alasan utamanya ke Jakarta selain kuliah adalah ingin meniti karirnya sebagai seorang public figur. Berbagai ajang ia ikuti, hingga lolos ke semi final. Pengalaman-pengamalanya itu menghantarkanya untuk bertemu dengan salah satu agensi ternama.

“Saya mencoba berbagai ajang, banyak kenalan dan ketemulah sama agensi. Ditawari kerjaan untuk iklan, film, dan FTV,” katanya.

Ia berdoa kepada Allah agar cita-citanya segera tercapai. Awalnya ia sangat bersyukur dengan banyaknya job yang datang kepadanya.  Baginya langkah untuk meraih cita-citanya tinggal sedikit lagi.

“Saya semakin terlena dengan hidup saya  yang duniawi. Kuliah nggak pernah masuk, pakai pakaian-pakain yang terbuka bahkan saya jarang shalat lima waktu. Jadi Allah berikan nikmat dan kesenangan sampai hambanya merasa putus asa, ” ujarnya.

Ditengah-tengah karirnya yang semakin naik, ia merasakan kesedihan dan ke kosongan dalam dirinya. Hingga akhirnya Allah memberikan hidayah beserta taufik kepadanya melalui kegelisahan-kegelisahan yang ia hadapi. Ia mantap berjilbab di tahun ini, dengan ikhlas meninggalkan segala keinginan duniawinya.

Bagi Ula, untuk berjilbab janganlah pernah menyerah pada keadaan. Banyak alasan yang dapat menghalangi seorang perempuan dalam berjilbab. Namun, bagaimana caranya kita harus dapat melaksankan kewajiban yang Allah perintahkan.


Resource Berita : republika.co.id
Ketika Nasab tak Menjamin Surga

Ketika Nasab tak Menjamin Surga



WartaIslami ~ Allah SWT memandang seorang hamba dari kualitas iman dan ketakwaannya. Garis keturunan seseorang tak akan menyelamatkannya kelak pada hari kiamat. Kisah yang termaktub dalam buku Mereka adalah Tabiin ini menegaskan tentang fakta tersebut.

Seperti diteladankan oleh Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau yang dikenal dengan sebutan Zainul Abidin (hiasan para ahli ibadah), cicit Rasulullah SAW. Perasaan masih banyak kekurangan dalam mengerjakan ibadah membuat orang yang berilmu, seperti Ali bin Husain takut bila kelak Allah SWT tidak menerima ibadahnya.

Terutama, ibadah shalat. Dia khawatir, bahkan bila shalat yang dia kerjakan justru menjadikannya termasuk pada golongan orang-orang yang munafik karena lalai saat mengerjakan shalat. "Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat." (QS al-Maa'uun : 4) .

Padahal, menurut Ibnu Abbas RA, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik karena mereka selalu memamerkan shalat mereka di hadapan orang-orang mukmin secara ria, sewaktu orang-orang mukmin berada di antara mereka. Tetapi, jika orang-orang mukmin tidak ada, mereka meninggalkan shalat, juga mereka tidak mau memberikan pinjaman barang-barang miliknya kepada orang-orang mukmin.

Namun, karena penghayatan yang mendalam dan rasa takut terhadap Allah, Zainul Abidin tetap tawadhu dan mengambil pesan tersirat dari ayat itu. Suatu hari, Thawus bin Kaisan pernah melihat Ali bin Husain berdiri di bawah bayang-bayang Ka'bah, gelagapan seperti orang tenggelam, menangis seperti ratapan seorang penderita sakit, dan berdoa terus-menerus. Dia menyadari bahwa kualitas ibadahnya masih perlu perbaikan yang menyeluruh.

 Setelah Ali bin Husain selesai berdoa, Thawus bin Kaisan mendekat dan berkata, "Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian, padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut," katanya. 

Mendengarkan perkataan Thawus Zainul Abidin meminta penjelasan. "Apakah itu wahai Thawus?"

Thawus dengan sigap menjelaskan, "Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah. Kedua, Anda akan mendapatkan syafaat dari kakek Anda dan ketiga, rahmat Allah bagi Anda."


Resource Berita : republika.co.id
Simak, Ini Hikmah di Balik Irit Bicara

Simak, Ini Hikmah di Balik Irit Bicara



WartaIslami ~  Lalu, apakah hikmah di balik tuntunan yang diserukan Rasulullah untuk berdiam kecuali dalam hal kebaikan? Riwayat lain yang dinukil dari sahabat Abu Dzar mengungkapkan maksud dan manfaat yang bisa diambil dari etika ini. Sikap diam dan berbicara hanya terkait dengan perkara yang baik bisa membantu seseorang menghindari godaan setan dan membantu menjaga agamanya.

Selain itu, diam dengan pengecualian seperti ini merupakan bentuk dari kebijaksanaan. Karena itu, Rasulullah menyebutkan di Hadis Riwayat Abu Hurairah bahwa kebijaksanaan itu terdiri atas 10 bagian. "(Sebanyak) sembilan darinya berasal dari mengasingkan diri ('uzlah).

Sedangkan, satu lagi terdapat di sikap diam. Merasa penasaran, seorang salaf yang bernama Wahib bin al-Ward pernah mempraktikkannya. Ia sudah mencoba diam dan tidak banyak berbicara, tapi masih saja gagal. Ternyata, diam saja tak cukup. Sikap itu harus ditopang dengan beruzlah. Akhirnya, usahanya pun berhasil.

Tuntunan untuk diam dan menjaga lisan ini pun disebarluaskan oleh para sahabat. Mereka saling berwasiat agar tidak sembarangan bicara. Seorang laki-laki pernah meminta wasiat kepada Sa'id al-Khudri. Permintaan itu pun akhirnya dikabulkan. Said al-Khudri berkata, "Berdiamlah kecuali tentang kebenaran. Dengan sikap itu, engkau akan mengalahkan setan."

Tetapi, sayang, keutamaan diam ini tidak dilakukan oleh kebanyakan orang. Padahal, di balik sikap diam yang proporsional--berbicara ketika dibutuhkan soal kebaikan--terdapat segudang hikmah. "Hanya sedikit pelakunya," demikian sabda Rasulullah dalam Hadis Riwayat Anas bin Malik yang dinukil oleh Ibn 'Addi, Baihaqi, dan Qudha'i.

Inilah salah satu alasan mengapa Rasulullah SAW menganjurkan agar diam dan menjaga lisan yang proporsional disosialisasikan dan ditradisikan di tengah masyarakat. Seseorang--dalam riwayat Abdullah bin Mas'ud--mendatangi Rasulullah dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang paling ditaati di kaumku, perintah apa yang layak aku serukan ke mereka?" Rasulullah menjawab, "Serukan mereka menebar salam dan sedikit bicara kecuali berkaitan dengan perkara yang bermanfaat."


Resource Berita : republika.co.id
Subhanallah, Ini Kunci Pembuka Pintu Rezeki

Subhanallah, Ini Kunci Pembuka Pintu Rezeki



WartaIslami ~ Ada salah persepsi kala kita mendengar kata tawakal. Tawakal kadang identik dengan menyerahkan segala sesuatunya tanpa adanya usaha sedikitpun.

Padahal tawakal adalah sesuatu yang proses awalnya dimulai dengan sebuah ikhtiar. Tak sebatas ikhtiar biasa, namun sebenar-benarnya ikhtiar.Jika tawakal telah melalui proses yang benar, maka tawakal akan memiliki fadilah sebagai sebab diturunkannya rezeki.

Para ulama telah menjelaskan makna tawakal secara jelas. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali. Ia berkata , "Tawakal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakali) semata". (Ihya' Ulumid Din, 4/259)

Sementara Al-Allamah Al-Manawi dalam Faidhul Qadir berpendapat jika tawakal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakali.

Berkomentar soal tawakal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata,"Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rezeki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah". (Murqatul Mafatih, 9/156)

Jika orang beriman melakukan tawakal dengan sebenar-benar tawakal maka ia akan menjadi jalan bagi terbukanya pintu rezeki. Dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang." (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kita lihat tawakal erat kaitannya dengan kayakinan yang utuh dan sangat kuat hanya kepada Allah SWT. Tidak ada yang bisa menggaransi burung yang terbang pagi hari jika ia pasti akan mendapatkan rezeki kecuali hanya Allah saja. Maka ia keluar dari sarangnya tanpa perasaan khawatir dan pulang dalam keadaan kenyang.


Resource Berita : republika.co.id
Agar Terhindar dari Fitnah Lisan

Agar Terhindar dari Fitnah Lisan



WartaIslami ~ Di tengah kondisi sosial masyarakat yang terpuruk, keberadaan ulama bak pelita yang memendarkan cahaya. Mereka hadir menawarkan solusi dan obat bagi 'penyakit' yang mengendap. Hal ini pula yang dilakukan oleh para salaf, salah satunya Ibnu Abi ad-Dunya.

Tokoh bernama lengkap Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid Ibnu Abi ad-Dunya ini dikenal sebagai guru sekaligus pendidik yang mempertahankan etika-etika mulia. Sosok kelahiran Baghdad pada 210 H itu hidup pada masa Pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang cukup heterogen, utamanya dalam hal ideologi pemikiran.

Kala itu, sekte-sekte keagamaan muncul dan berkembang dengan subur. Dinamika pemikiran berkembang pesat. Bahkan, nyaris kebablasan. Ada sekte Muktazilah, Qaramithah, Ismai'iliyyah, dan aliran-aliran keagamaan lainnya. Dimensi ketuhanan yang kerap disentuh, antara lain, soal eksistensi agama, Tuhan, dan konsep kenabian.

Pro dan kontra antarkelompok pun bermunculan. Di titik tertentu bahkan sampai pada kesimpulan saling mengafirkan. Kondisi ini, dinilai Ibnu Abi ad-Dunya, sangat memprihatinkan. Menurut penulis karya monumental berjudul Makarim al-Akhlak ini diperlukan solusi agar komunitas awam tak terjebak dalam diskursus dan polemik tersebut. Maka, sosok yang dikenal produktif menulis ini mengarang sebuah kitab berisikan etika-etika Islami.

Ia berharap, melalui karyanya itu tercipta kondisi dan tabiat umat yang saleh serta berpegang teguh pada prinsip-prinsip keislaman yang lurus. Dengan demikian, mereka tidak mudah terjebak dengan perselisihan pendapat yang tak berujung. Kitab yang terdiri atas 25 bab itu ia beri judul as-Shumtu wa Adab al-Lisan. Referensinya merujuk pada Alquran dan hadis serta kisah-kisah yang dinukil dari para sahabat.


Resource Berita : republika.co.id
Astaghfirallah, Bom Bunuh Diri Serang Shalat Jumat di Afganistan

Astaghfirallah, Bom Bunuh Diri Serang Shalat Jumat di Afganistan



WartaIslami ~ Sebuah bom bunuh diri meledak ketika prosesi shalat Jumat berlangsung di masjid Hussainia di Kabul, Afganistan. Sontak, sembahyang pun terhenti dan jamaah lari kocar-kacir. Korban meninggal dunia dilaporkan mencapai enam orang, sedangkan korban luka-luka sebanyak 20 orang.

Jenderal Salim Almas, direktur investigasi kriminal Kabul, seperti dilansir AFP, mengungkapkan bahwa pengebom adalah seorang penggembala yang saat itu sedang bersama sekawanan domba.

Si penggembala meledakkan diri sejauh 140 meter dari Masjid Hussainia, tempat yang diduga menjadi sasaran utamanya. Ia tak menjangkau masjid karena terkendala penjaga keamanan setempat.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Najib Dansih mengatakan di Facebook bahwa lima warga sipil terbunuh dan 20 lainnya luka-luka. Tiga tersangka dalam kasus ini telah ditahan. Sementara di Twitter, Rumah Sakit Darurat Kabul mengumumkan bahwa mereka telah menerima 19 orang yang terluka termasuk empat anak.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas tragedi bom bunuh diri ini. Kelompok Taliban pun segera membantah bahwa serangan mematikan itu berasal dari anggotanya.

Pejabat Afghanistan mengutuk serangan sektarian besar pertama pada kelompok Pakistan Lashkar-e-Jhangvi di hari agung umat Islam. (Red: Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
Lingkaran di Kalender Kiai

Lingkaran di Kalender Kiai



WartaIslami ~ Beda zaman dan berbeda era, berbeda pula cara seseorang mengondisikan kesibukannya setiap hari. Di zaman digital, seseorang dengan mudahnya dapat mencatat berbagai agenda di smartphone. Lengkap dengan tanggal, jam, dan keterangan dari agendanya tersebut. Bila perlu dibunyikan alarm agenda sebagai penegas dan pengingat.

Namun, berbeda dengan zaman di mana internet dan teknologi digital masih jauh dari jangkauan manusia, terutama masyarakat di kampung, tak terkecuali para kiai pemimpin pondok pesantren yang mempunyai agenda cukup padat menghadiri undangan memimpin pengajian, tahlil, dzikir, ziarah, slametan, dan lain-lain.

Sebetulnya smartphone bisa diganti dengan buku catatan khusus, namun tidak dilakukan seorang kiai. Jadi, sudah menjadi kebiasaan para kiai pesantren tidak menuliskan agenda dalam buku khusus. Tetapi mereka hanya membuat lingkaran di kalender yang terpampang di ruang tamunya.

Semakin banyak lingkaran, semakin sibuklah sang kiai. Sejurus dengan itu, semakin kebingungan juga sang kiai, agenda mana yang harus ia kunjungi.

Tulisan di kalender tidak nampak jelas, ditambah lagi dengan tulisan campuran huruf latin kearab-araban atau huruf Arab yang sulit dibedakan dengan sandi rumput.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya sang kiai hanya akan menunggu telepon dari panitia atau shohibul bait.

”Kriiiing.....”

“Ya halo, dengan siapa ini?” tanya sang kiai.

Maka terdengarlah jawaban dari pihak panitia. “Saya sendirian kiai, tidak sedang dengan siap-siapa.” (Fathoni)


Resource Berita : nu.or.id
Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan

Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan



WartaIslami ~ Beberapa referensi utama di bidang sirah memberikan kesaksian, saat Umar menjabat sebagai khalifah, rakyatnya kerap kali melihat dirinya tengah membawa sejinjing air di atas pundaknya, juga sekarung tepung dan gandum, sekantung minyak, beberapa sha’ kurma, untuk ia sampaikan ke rumah janda-janda dan anak-anak yatim. Dan Umar melakukan itu sendirian, seorang diri saja.

Sahabat Umar benar-benar melihat jabatan yang tengah diembannya sebagai amanat dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Umar sadar betul, jika jabatan kenegaraan yang tengah ia sandang adalah sebuah amanat yang besar, sangat besar. Tak lebih.

Karena itulah, tidak mengherankan jika Umar sepenuh hati melayani umatnya, sepenuh jiwa mengabdi kepada rakyat yang tengah dipimpin dan diurusnya. Dan bagi sahabat Umar, tidak ada bekal terbaik bagi seorang manusia, dalam keadaan apapun ia, saat ia menjadi khalifah atau pun menjadi kaisar, kecuali takwa. Karena tentu hanya ketakwaan bekal utama perjalanan hidup manusia untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Umar adalah sosok teladan dan gambaran bagi para pemimpin negara, dan bagi pemimpin apapun. Dalam dirinya terdapat sebuah perpaduan yang benar-benar langka. Umar adalah seorang sosok negarawan, politikus, cendikiawan, filsuf, panglima perang, ulama, sekaligus sosok yang takwa dan taat kepada Rabb-nya.

Melihat Umar, seseorang sejatinya digambarkan secara nyata tentang tipikal ideal kepemimpinan yang sepatutnya dijadikan salah satu barometer utama, selain tentu kepemimpinan sang manusia agung, Nabi Muhammad SAW.

Atas kesinambungan ideal Umar ini, Montesquieu, negarawan Prancis yang juga inspirator gerakan Renaissance di Prancis dan Eropa dalam sebuah literatur banyak memuji tipikal kepemimpinan Umar serta penguasa-penguasa dan ulama Islam lainnya. Dikatakan Montesquieu tentang Umar dalam Bahasa Prancis:

Je suis un fou de Omar, jusqu'à ce que, j'ai décidé de faire, un site pour lui, j'aimerai tant partager, avec vous, des conaisance, et tout ce, qu'on peut trouve(r) sur Omar.

“Saya adalah orang yang menggilai Omar (Umar), sampai saya memutuskan untuk membuat sebuah situs untuknya, saya sangat ingin berbagi dengan Anda, tentang pencerahan dan semua yang bisa ditemukan pada Omar.” (Fathoni)



Resource Berita : nu.or.id
Cara Jitu Gus Dur Taklukan Lawan HinggaTidak Berdaya

Cara Jitu Gus Dur Taklukan Lawan HinggaTidak Berdaya



WartaIslami ~ Oleh: Rijal Mumazziq Z

Kelompok Katolik binaan Pater Beek banyak bertebaran di berbagai lini vital: dari organisasi think tank Orde Baru hingga militer. CSIS disebut sebagai kantong terkuat, sedangkan di struktur militer jaringan binaan Beek terpusat di tangan LB. Moerdani. CSIS tersambung kuat dengan Pak Harto karena di dalamnya ada Ali Moertopo dan Benny Moerdani. Matarantainya adalah Beek>CSIS>Benny>Ali>Pak Harto.

Yang paling cemerlang adalah langkah Gus Dur. Dalam strategi perang, menaklukkan musuh dengan menjadikannya sahabat adalah pencapaian paling cerdas dan strategis. Taktik lain Gus Dur "mengetahui kekuatan lawan bukan dari desas-desus, melainkan langsung masuk ke sarangnya."

Gus Dur menaklukkan jenderal paling ditakuti, Leonardus Benny Moerdani. Bukan dengan melawannya secara frontal, tapi menggandeng tangannya, menggiringnya masuk ke pesantren-pesantren, sambil menjelaskan, "Ini lho kaum muslimin Indonesia itu, damai. Bukan yang mau memberontak pakai label DI/TII maupun yang terlibat dalam kasus Woyla, Komji, dll."

Jenderal katolik itu dipertemukan dengan Kiai As'ad Syamsul Arifin dan Kiai Mahrus Ali Lirboyo, dua pejuang 45. Kita tahu, jenderal model Benny itu agak sungkan kalau berhadapan dengan eksponen 45. Di hadapan Benny, Kiai Mahrus Ali ceplas-ceplos berkata: "Pak Jenderal, kami ini jangan disuruh KB. InsyaAllah keturunan kami ini baik-baik. Maling dan penjahat itu saja yang disuruh KB." Kiai Mahrus terkekeh. Benny manggut-manggut.

Gus Dur satu langkah berhasil merangkul Jenderal Benny, hingga Pak Harto mulai cemas. Bayangkan, di pertengahan 1980-an itu Ketua Umum PBNU dengan jutaan pengikut luntang lantung mesra dengan Panglima Angkatan Bersenjata. Apa jadinya jika dua kekuatan hijau ini bersatu? Tak berselang lama, Pak Harto mulai mempreteli kekuatan Benny dengan memberhentikannya sebagai Pangab medio 1987.

Strategi menaklukkan lawan dengan cara merangkul dan menjadikannya sahabat ini saya kira yang membuat Gus Dur punya informasi unlimited dari sumber A1. Dari mulut Benny, tampaknya, Gus Dur banyak memperoleh info soal jaringan katolik, peta kekuatan internal militer dan kompetisi jenderal hijau vs merah putih. Soal tragedi pembantaian guru ngaji di Banyuwangi, 1998-1999, Gus Dur dengan lantang menyebutnya sebagai operasi Nagahijau. Kemungkinan besar infonya datang dari Benny atau jaringannya.

Karena telah mengetahui jerohan militer melalui Benny, maka ketika Gus Dur menjadi presiden beliau dengan taktis mendorong supremasi sipil dengan mengembalikan militer ke barak dan merealisasi tahap pemisahan TNI dan Polri. Di era presiden Gus Dur pula, beliau berusaha menghentikan kompetisi jenderal merah putih vs jenderal hijau dengan mengangkat jenderal bersih dan netral bernama Agus Wirahadikusumah sebagai Pangkostrad, meski akhirnya jenderal ini meninggal di Makkah, menyusuh kematian Jaksa Agung bersih bernama Baharuddin Lopa di kota yang sama.

Bagaimana langkah Gus Dur bermain di badan intelijen? Pertama merombak tatanannya dan namanya, kedua, menyingkirkan pengaruh intelijen didikan dan titipan Orde Baru serta menempatkan Brigjend Arie J. Kumaat, sosok yang lumayan bersih, sebagai pimpinan lembaga intelijen yang baru.
Hanya Polri yang ruwet ditata. Silahkan cek riyawat bagaimana alotnya Gus Dur merombak pucuk pimpinan Polri hingga dimainkan oleh DPR sebagai dayatawar politik dengan pion bernama S. Bimantara.

Strategi menaklukkan lawan dengan cara menjadikannya sahabat sebelumnya juga dilakukan Gus Dur dengan membawa Mbak Tutut keliling Jawa, 1996-an. Ini langkah taktis memomong anak untuk menaklukkan hati bapak. Pak Harto yang pada Muktamar Cipasung, 1994, ingin menyingkirkan Gus Dur dan menjinakkan NU tapi gagal kemudian mulai melunak dan mau menerima kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Dur.

Yang luar biasa, di saat yang lain mencaci maki Pak Harto manakala ia jatuh, dan semua penjilatnya menjauhinya, Gus Dur lah yang menemani hari-hari pilu tersebut. Gus Dur bukan menghibur, Gus Dur hanya berusaha menegakkan kepercayaan diri Pak Harto sebagai manusia Jawa, manusia Indonesia.

Lalu bagaimana dengan strategi "mengetahui kekuatan lawan bukan dari desas-desus, melainkan langsung masuk ke sarangnya." Coba, silahkan lihat keterlibatan Gus Dur sebagai anggota Shimon Peres Institute, Israel. Anggota lembaga ini banyak: dari cendekiawan, anggota Knesset (parlemen Israel), jenderal, hingga mereka yang punya jaringan di AIPAC (itu lhooo, komite lobi Zionis di AS).

Lha, dalam hal ini, saya malah membayangkan Gus Dur masuk ke benteng musuh dengan santai, disambut jabat tangan lawan, dan dengan santai Gus Dur sibuk memetakan kekuatan lawan sambil menyeruput kopi. Kabarnya, saat berkunjung ke Israel, Gus Dur ditemui Ehud Barak, PM Israel. Jagal rakyat Palestina selain Ariel Sharon dan Ben Netanyahu itu bertanya, "Bagaimana cara ampuh menghentikan perlawanan rakyat Palestina.
Tuan punya saran?"

"Gampang, Tuan Barak. Kembalikan kemerdekaan mereka. Selesai sudah!" jawab Gus Dur santai.


Resource Berita : dutaislam.com
Ponpes Al Muhajirin Peringati Harlah Ansor Ke 83

Ponpes Al Muhajirin Peringati Harlah Ansor Ke 83



WartaIslami ~ Pondok Pesantren Hidayatullah Al Muhajirin Arosbaya Bangkalan menggelar peringatan Harlah GP Ansor ke 83. Organisasi ini lahir pada tanggal 10 Muharrom 1353 Hijriyah atau 24 April 1934.

Peringatan Harlah ini dilakukan dengan rangkaian acara yang dimulai dengan acara bakti sosial yang dikemas khitan masal pada 23 September 2017. Dan dilanjutkan pada 27 September 2017 pembacaan tahlil akbar untuk para pendiri NU, GP Ansor, dan pesantren Al Muhajirin.

Sedangkan, pada tanggal 28 September dilakukan apel akbar yang diikuti 750 Banser.

Apel akbar ini dihadiri oleh Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Rudi Tri Wahid, Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim Khoirul Huda, Kapolres Bangkalan AKBP Anissullah M Ridha SIK, Dandim 0829/Bangkalan Letkol Inf Sunardi Ustanto SH.

Dalam kesempatan tersebut, Rudi yang menjadi instruktur upacara mengatakan bahwa lahirnya GP Ansor merupakan Ikhtiar untuk memperbaiki diri secara kelembagaan dan penguatan SDM kader. "Juga upaya memberikan pelayanan yang lebih baik pada masyarakat secara berkelanjutan," katanya.

"Sampai kapanpun Ansor akan terus menjadi benteng Ahlusunnah Wal Jamaah, NKRI, Pacasila, dan pengawal Ulama," tegasnya.

Sementara itu, menurut Ketua Panitia Harlah GP Ansor ke 83 Anang Sudarto mengatakan peringatan ini sebagai wujud hadirnya Ansor di tengah masyarakat. "Salah satu yang menjadi rangkaian kegiatan harlah adalah adanya khitan masal," katanya.

Sedangkan, lanjut Anang, untuk apel 750 Banser ini sebagai bukti bahwa di pelosok desa sekalipun masih banyak masyarakat yang siap membela bangsa dan agama. "Mencintai tanah air adalah sebagian dari Iman," tegas Anang.

Sedangkan sebagai acara puncak kegiatan Harlah GP Ansor ke 83 ini ditutup dengan pengajian umum yang digelar pada Jumat tanggal 29 September yang dipimpin oleh Pengasuh Ponpes Hidayatullah Al Muhajirin KH Lainul Qolbih Hamzah.


Resource Berita : dutaislam.com
Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan



WartaIslami ~ Langkah Arab Saudi untuk melakukan reformasi kebijakan dan menerabas konservatisme terus bergulir. Yang terbaru, perempuan di negara monarki ini diizinkan mengeluarkan fatwa.

Keputusan bersejarah tersebut merupakan hasil pemungutan suara di Dewan Syura atau badan penasihat resmi Arab Saudi. Sebanyak 107 suara mendukung adanya mufti perempuan.

Dengan demikian, aspirasi ini mengakhiri monopoli mufti laki-laki yang bertahan selama 45 tahun. Seperti dipaparkan Arab News, Jumat (29/9), para mufti perempuan dipilih oleh dekret Kerajaan.

Aspirasi tersebut semula muncul dari salah satu anggota Dewan Syura dalam pertemuan ke-49, yang meminta Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, untuk membuka bagian independen untuk perempuan.

Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa merupakan satu-satunya badan pemerintah yang berwenang menerbitkan fatwa di Kerajaan Arab Saudi.

Ini bukan kali pertama Arab Saudi mulai terbuka bagi perempuan. Sebelumnya, Raja Salam bin Abdul Aziz mengeluarkan dektrit langka dengan memperbolehkan perempuan menyetir. Keputusan tersebut secara resmi berlaku pada Juni 2018.

Pada perayaan hari nasional 23 September 2017, pemerintah Arab Saudi juga secara perdana memperbolehkan perempuan memasuki stadion lalu menikmati kemeriahan konser musik dan tarian tradional. (Red: Mahbib)



Resource Berita : nu.or.id
Penting! Perhatian Ibu Dapat Mencegah Anak Terlibat Terorisme

Penting! Perhatian Ibu Dapat Mencegah Anak Terlibat Terorisme



WartaIslami ~ Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Dr. Hj. Andi Intang Dulung, M.H.I., menyebut keharmonisan rumah tangga sebagai kunci pencegahan terorisme di lingkungan keluarga. Perhatian seorang Ibu memiliki daya cegah keterlibatan seorang anak ke dalam jaringan pelaku terorisme.

Hal ini disampaikan Andi Intang dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan Rembuk Kebangsaan: Perempuan Pelopor Perdamaian yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Yogyakarta di Kota Yogyakarta, Kamis (28/9/2017). Dalam sambutannya Andi mencontohkan kasus Syarif, pelaku peledakan bom bunuh diri di Mapolres Cirebon, Jawa Barat, yang terjadi karena ketiadaan perhatian dari orang tua.

"Ketika di luar rumah Syarif ketemu pelaku terorisme, dia dibujuk untuk melakukan aksi. Alasannya ketika dia mati karena bom, dia terbebas dari kemiskinan, dia jihad dan akan bertemu bidadari, sehingga mendapatkan perhatian yang diinginkannya," ungkap Andi Intang.

Pada kasus berbeda, yaitu seorang pemuda yang melakukan penyerangan dan percobaan peledakan bom di sebuah gereja di Medan, Sumatera Itara, juga terjadi karena ketiadaan perhatian keluarga.

"Ivan Armadi yang meledakkan bom di gereja di Medan, dia belajar dan merakit bom di kamarnya tanpa sepengetahuan orangtua. Anaknya diam di kamar dianggap baik, tidak dikontrol,  padahal dia belajar terorisme dan merakit bom," kata Andi Intang.

Perhatian orang tua, khususnya ibu, menurut Andi Intang penting dilakukan kepada anak-anaknya. Terlebih di era kemajuan teknologi saat ini, di mana berbagai informasi dapat diperoleh anak-anak melalui gawainya. "Secara berkala ibu-ibu harus mengontrol apa yang dilihat dan dicari anak-anak kita melalui internet, jangan dilepas tanpa ada pengawasan," tegasnya.

Rembuk Kebangsaan: Perempuan Pelopor Perdamaian merupakan salah satu metode yang dilaksanakan di kegiatan Pelibatan Pemuda dan Perempuan dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah Workshop BNPT Video Festival, rangkaian dari lomba video pendek BNPT 2017, di mana peserta dari kalangan pelajar diberikan pembekalan berupa teknis pembuatan video.


Resource Berita : dutaislam.com
Gus Dur : Politik itu Seni Tipu-tipu

Gus Dur : Politik itu Seni Tipu-tipu



WartaIslami ~ POLITIK ITU SENI. ADA SENIMAN HEBAT, ADA SENIMAN CÊKÈTHÈR
Ini sudah pernah saya tulis di Terong Gosong duluuu sekali. Saat ini kayaknya ada momentum yang sesuai, tapi rasanya malas mendukiri timbunan terong gosong yang sudah menggunung gitu. Enakan saya tulis ulang saja.

Otto Eduard Leopold, Pangeran Bismarck, Bangsawan dari Lauenburg, belakangan terkenal sebagai Otto von Bismarck, seorang negarawan Prussia (Jerman lama), mengatakan bahwa politik adalah seni tentang apa yang mungkin (dicapai), "Politics is the art of the possible".

Suatu hari kondisi kesehatan Gus Dur anjlog. Dokter-dokter ribut hendak membawanya ke rumah sakit, tapi beliau ngotot nggak mau. Dibujuk, dirayu, digrênjik-grênjik, beliau malah tambah keras menolak. Sampai kemudian fisiknya sendiri yang menyerah dan beliau pun pingsan. Barulah orang-orang bisa menggotongnya kedalam ambulan untuk dilarikan ke rumah sakit.

Setelah beberapa hari, kondisi kesehatan beliau berhasil dipulihkan. Dokter bilang, beliau sudah boleh pulang. Tapi saat orang-orang hendak berkemas, Gus Dur melarang.

"Aku mau di sini saja!" katanya.

Nyai Sholihah Yusuf, sepupu beliau yang adalah ibundanya Saifullah Yusuf, jadi bingung,
"Yak apa sé, Dik? Sampeyan kemaren sakit nggak mau dibawa ke rumah sakit. Sekarang di rumah sakit sudah sembuh, malah nggak mau pulang".

"Wingi iko aku loro api-api waras. Saiki aku waras api-api loro", kemaren dulu itu aku sakit pura-pura sehat, sekarang aku sehat pura-pura sakit.

Sebelum itu, di Istana Negara, dalam satu pertemuan empat mata dengan Ketua Umum Partai Golkar --waktu itu, Akbar Tanjung-- Presiden Abdurrahman Wahid berkata,
"Politics is the art of deception", politik itu seni tipu-tipu.



Resource Berita : muslimoderat.net
Tarik-tarikan Agama

Tarik-tarikan Agama



WartaIslami ~ Oleh Aswab Mahasin

Orang hidup di dunia kalau tidak bijaksana, kurang bijaksana. Anehnya, ketidakbijaksaan itu terjadi di elemen lingkungan yang seharusnya bijaksana. Seperti agama, kitatahu sendiri, agama selalu menyerukan agar pemeluknya berprilaku bijaksana, tapi tidak sedikit yang berlaku tidak bijaksana, bukan begitu? Selain itu juga, di Al-Qur’an menyiratkan, agar dakwah para ustadz bijaksana dan berseru dengan bijaksana. Berarti, tidak ada paksaan dalam hal ini. Kalau ada yang maksa, berarti tidak bijaksana.

Itulah bedanya hidup “di masa kini” dengan “demi masa kini”. Hidup di masa kini seharusnya saya, Andadan kamibisa menerima perbedaan, karena tidak mungkin, orang seantero dunia itu harus sama dengan kitasemua. Andatahu bukan, dunia ini cuma satu, masa orangnya mau jadi satu juga, padahal setiap orang pasti berbeda suku, budaya, ras, agama, dan pola pemikiran. Sepertinya kita “ngigau” kalau semuanya harus diseragamkan.

Kata kiai saya, Tuhan juga merestui perbedaan, Tuhan tidak menghendaki umat yang satu, seperti di Al-Qur’an sudah jelas, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka berselisih pendapat.” (Lihat: QS. Hud [11]: 118)Sudah jelas bukan? Apalagi yang diributkan.

Ayoo lah, kita memikirkan hidup yang lebih damai lagi, jangan hanya berpandangan pada hidup “demi masa kini” semata. Memang kita semua punya kepentingan pada hidup ini, entah itu kepentingan kelompok kita sebagai anak ideologis dari sebuah organisasi atau aliran, atau mungkin kepentingan diri kita sendiri. Tidak ada yang salah memperjuangkan itu semua. Namun, penyampainnya harus dilenturkan.

Susahnya lagi, saya kemaren dapat informasi, sekarang ini fenomena “otoritas baru” sedang merebak di masyarakat, berkaitan dengan sikap keagamaan seseorang dalam menanggapi fatwa-fatwa/seruan-seruan yang disampaikan oleh ustadz/ustadzah (di Televisi, Medsos, dan Youtube)—seperti Mamah Dedeh, pernah menyampaikan/menyerukan seorang muslim tidak diperbolehkan menjadi dokter hewan.

Seruan Mamah Dedeh tersebut sempat menjadi sorotan ramai di kalangan umat Islam Indonesia, termasuk dokter hewan yang beragama Islam. Karena sama sekali tidak dilandasi dengan dasar yang kuat. Walaupun akhirnya diklarifikasi oleh yang bersangkutan.

Ada lagi, dalam siaran Youtube, seorang Ustadz mengatakan, “membunuh adalah bagian dari rahmatan lil ‘alamin, jika pembunuhan itu didasari karena orang tersebut sudah mengganggu”, ada juga yang mengatakan, “nafsu bermaksiat lebih baik daripada nafsu dalam beragama, karena nafsu maksiat hanya merusak secara personal, sedangkannafsu beragama mempunyai potensi merusak agama, seperti sholawatan/menyanjung Nabi Muhammad, berdzikir yang berlebihan (tahlilan).”

Melihat dari unsur kultural dan sosial serta kemanusiaan, jelas keliru.Membunuh dan berlaku asusila jelas bertentangan dengan martabat manusia yang hidup sebagai makhluk spiritual, makhluk sosial, makhluk politik, dan makhluk-makhluk lainnya. Dari hukum Islam sendiri silakan para pakar menilainya, saya tidak mau terjebak menjadi new otoritas. Pandangan dalam tulisan ini lebih pada agama yang bersanding dengan budaya dan masyarakat.

Pertanyaanya, apakah otoritas seruan keagamaan menjadi milik pribadi seorang pendakwah, atau menjadi milik ideologi golongan tertentu? Apakah bijak ungkapan-ungkapan tersebut bagian dari “otoritas baru” yang dianut di masyarakat, dengan ujaran yang memojokkan, yang pada ujungnya merontokkan sendi-sendi kebudayaan kita? Tidak lain dan tidak bukan, fatwa-fatwa yang tidak menyejukkan akan mengakibatkan “ketegangan”. Secara sosial dan kultural, jelas bertentangan, bukan sikap yang bijak.

Model-model dakwah tersebut kadangkala menjadi penyampaian “tidak ramah lingkungan”. Apalagi kalau hal tersebut diterima oleh basis masyarakat awam (seperti saya), dengan pemahaman agama masih terbatas. Ingat, hirarki rasionalitas itu masih terjadi dikalangan kita. Dengan itu, bisa menyebabkan kebingungan dari masyarakat luas, mana yang benar.

Beranjak dari itu semua, saya selalu kaget, setiap berselancar di dunia maya, kebiasaan saling menjatuhkan lumrah sekali, walaupun sekarang sudah terungkap salah satu dari kegiatan itu dilakukan oleh “saracen”. Tapi, itu masih salah satu. Mungkin, salah dua, salah tiga, dan salah empat didalangi oleh golongan tertentu. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai gerakan radikalisme.

Tahu kan radikalisme? Kalau bahasa sederhananya, seperti saya yang tidak anti tahlilan, radikalisme diidentikan dengan kelompok yang suka membid’ahkandan mengkafirkan. Enteng rasanya itu bibir ngomong kafir dan bid’ah. Masa segala-galanya disalahkan, aneh bukan? Tahlilan, salah—sholawatan, salah—wayang, salah—kenduren, salah—sedekah alam, salah, dan salah-salah yang lainnya.

Apalagi kelompok yang baru dibubarkan kemaren (HTI). Sayadulu pernah masuk group Facebookmereka, tapi saya keluar lagi. Kenapa? Aneh rasanya. Masa NKRI disingkatnya Negara Kafir Repulik Indonesia, kalau memang demikian—katanya umat Islam mayoritas di Indonesia, hoakssemata, ternyata Islam di Indonesia cuma 0,1% hanya kelompok mereka saja, yang lainnya kafir. Hebat sekali mereka. Mengambil alih daerah kekuasaan Tuhan. Kalau kata Gus Mus, “dianggapnya Tuhan itu sama seperti mereka, ketika mereka marah, Tuhan pun akan marah, ketika mereka bilang kafir, Tuhan pun akan merestui kalau itu kafir.” Masya Allah.

Saya coba korek-korek sejarah, ternyata pertentangan golongan kaku dan golongan elastis dimulai sudah lama, khususnya setelah perang Jawa berakhir tahun 1830, banyak golongan-golongan bermunculan dengan agenda memurnikan Islam. Dianggapnya Islam di Indonesia, atau yang kita kenal sekarang dengan Islam Nusantara itu keliru dan salah total, meminjam bahasanya Mark Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif dan Kebatinan. Menurutnya, kedua komponen model Islam itu susah untuk disenyawakan. Bertolak belakang.

Namun, karakter budaya Indonesia lebih merestui Islam Nusantara yang hadir dan berkembang, karena sesuai dengan norma, etika, karakter, dan kebiasaan masyarakat Indonesia itu sendiri. Senada dengan apa yang dikatakan Arnold Toynbee dengan teori radiasi budaya, “Aspek budaya yang di tanah asalnya tidak berbahaya akan menjadi berbahaya di tempat yang baru didatangi.”

Kalau kita lihat sekarang, bagi saya, sungguh miris. Seakan-akan terjadi klasifikasi kelas ketaatan, “kelas surga” dan “kelas neraka”. Kasihan sekali orang-orang seperti saya ini yang katanya menternak bid’ah dan akidahnya tidak murni, lantas vonisnya adalah neraka. Gimana jadinya ini. Kalau sayaterserah Tuhan saja, surga dan neraka sama-sama ciptaan Tuhan, masuk disalah satunya adalah restu Tuhan. Tapi mendingsepertiAbu Nawas saja, “Tuhan, aku tidak pantas masuk surga, tapi kalau mau dimasukin neraka, please, jangan dong.”

Gara-gara perbedaan pendapat yang meruncing, tidak sedikit pertentangan dan konflik yang terjadi di dunia ini, dan itu mengatasnamakan agama. Mungkin ini yang dinamakan “tarik-tarikan agama”. Dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Islam saja, mengutip catatan dari Karen Armstrong, yang menyatakan, fundamentalisme/radikalisme itu terjadi di semua agama, seperti; Hindu radikal mempertahankan sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi Barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab di Tanah Suci mereka; Moral Majority yang di pimpin Jerry Falwell dan Christian Right, yang menganggap Uni Soviet sebagai Kerajaan Setan, mencapai kekuatan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an, dan masih banyak lagi.

Itu lah permasalahannya, api konflik dengan basis radikalisme mudah punya potensi. Karena sering sekali tidak terima kalau tidak sama seperti dirinya. Maunya mereka, kita semua manut sama mereka, tapi bagaimana mau manut orang kita semua ini punya latar belakang ide dan ideologi masing-masing, boleh saja sesumbar dalil sampai meteran, tapi tolong, jangan tuduh dan paksa kami, kafirkah kami?

Allah memberikan bingkisan kepada setiap golongan dan manusia berupa agama, sekaligus ruang dakwahnya. Dan ruang dakwah itu yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik oleh kita semua, dengan cara santun dan bijaksana. Kondisi sosial dan psikologi sosial dari zaman ke zaman berbeda.

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, Islam cenderung meluas.

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Muhammad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi. Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya.

Sistem berketuhanan kita yang harus dibenahi, karena selama ini sistem berketuhanan kita belum mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Kita hanya sibuk dengan kebenaran kita masing-masing. Sistem berketuhanan yang sehat, akan melahirkan cerminan spiritual yang sehat pula, seperti agama yang mempunyai misi; cinta kasih, perdamaian, persahabatan, dan saling menghormati.

Selain itu, pada wilayah desa, kecamatan, kota, dan negara, menjaga kuat manusia-manusianya supaya tidak tersusupi paham-paham aneh, yang bisa memecah belah (apalagi hoaks-hoaks murahan berharga mahal itu). Dan ini tanggung jawab kita semua, bukan hanya tokoh masyarakat, ulama, presiden/pemerintah, melainkan bersama untuk mencapai pada persatuan Indonesia. Jangan menunggu datangnya “keajaiban” untuk hidup berdampingan rukun, minimal belajar rukun secara fisik saja, tidak pukul-pukulan dan tidak jotos-jotosan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa’ tashimu bi habli allaihi jami’an wa la tafarraqu” (Dan bepeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpisah belah) (QS. Ali Imran [3]: 103). Menurut Gus Dur, ayat ini menunjukan kepada kita, yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lainnya. Hal ini diperkuat sebuah ayat lain (QS. Al-Maidah [5]: 3), “ta’wanu ‘ala al-birri wa al-taqwa”.

Ada sebuah adagium menarik yang dipopulerkan Gus Dur, dan ini akan menjadi akhir dari tulisan ini, “tak ada agama tanpa kelompok, tak ada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tak ada kepimpinan tanpa sang pemimpin” (la dina illa bi jama’atin wa la jamata illa bi imamatin wala imamata illa bi imamin).

Adagiumnya memang benar, walaupun sekelompok kecil pernah mengajukan klaim kepemimpinan itu dan minta diterima sebagai pemimpin. Namun sikap mereka yang memandang rendah kelompok lain, justru menggagalkan niatan tersebut, sedangkan kelompok-kelompok lain tidaklah memiliki kepemimpinan kohensif seperti itu.

Herankah kita, jika wajah berbagai gerakan Islam di Tanah Air kita saat ini tampak tidak memiliki kepemimpinan yang jelas? Di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan” umat (ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan? (Abdurrahman Wahid: 2011). Apalagi tarik-tarikan agama terus mendominasi untuk saling berebut kebenaran bukan?

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.


Resource Berita : nu.or.id
Ma'unah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU

Ma'unah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU



WartaIslami ~ Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengggambarkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai “kiai unta”. Maksudnya ialah kiai yang tahan bepergian jauh ke desa terpencil, kota kecil atau kota besar, bahkan lintas negara.

KH Abdul Mun’im DZ pada tulisan Gus Dur Mengabdi mendeskripsikan cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu begini: 

“Suatau hari, di tahun 1985, Gus Dur mengunjungi sahabatnya, KH Muhammad Jinan di gunung Balak, Lampung. Setelah naik bus Jakarta-Lampung, lalu naik angkot, ia meneruskan dengan berjalan kaki sepanjang empat kilo meter. Jalan menuju pesantren memang hanya setapak. Coba bayangkan, Gus Dur jalan kaki dengan badan tambun, kacamata tebal, sementara jalan berbatu. Tapi Gus Dur menjalaninya dengan enteng, bahkan ceria.”

Begitu juga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Menurut sekretaris pribadinya, Kiai Said memiliki tiga kamar, yaitu kamar di rumah, di mobil, dan di pesawat terbang. Acara yang dihadiri pun bervariasi, mulai dari pelantikan pengurus NU dari tingkat cabang hingga wilayah, pengajian, seminar, sampai acara pernikahan atau silaturahim. Dalam satu hari Kiai Said bisa menghadiri acara di beberapa tempat. Bahkan, sehari pernah melakukan lima kali perjalanan pesawat.

Bagaimana dengan aktivitas tokoh NU awal-awal organiasi didirikan? Sepertinya sama saja. Malah lebih harus ekstra keras. Dengan alat transportasi dan komunikasi yang tentu saja masih sulit, juga ongkos perjalanan, waktu itu para tokoh NU harus berjuang keras mengkonsolidasi kiai-kiai NU dan pesantren di daerah-daerah dengan jarak berjauhan.

Bukti kesibukan dari konsolidasi mereka, pada Muktamar NU keempat di Semarang, Jawa Tengah pada 1929, NU telah memiliki 67 Cabang, terbentang dari Madura hingga ujung Banten, Menes.

Keberhasilan itulah yang membuat KH Wahid Hasyim berdecak kagum, dan memantapkan diri turut serta di NU. Menurut dia, NU memang didirikan para orang tua, tapi dalam waktu sepuluh tahun mampu membentuk ratusan cabang dan tak hanya di pulau Jawa. NU memiliki gerak cepat daripada organisasi pemuda waktu itu, yang dalam rentang waktu yang sama hanya bisa membentuk beberapa cabang di beberapa keresidenan yang berdekatan. NU memang didirikan orang tua, tapi geraknya melebihi anak muda. Begitu kesimpulan Kiai Wahid setelah mengamati selama empat tahun. 

Sepak terjang pada masa itu, tentu kita ingat akan konsolidasi Kiai Wahab Chasbullah, yang menurut Choirul Anam, bisa dikatakan tak pernah tidur, saking padat aktivitasnya. Kiai Wahab sibuk mengkader anak muda, mengajar, berdebat, konsolidasi NU, sowan kepada kiai yang lebih tua, bersilaturahim dengan sesama temannya. Di samping itu, menurut KH Saifuddin Zuhri, Kiai Wahab tidak lupa memberikan oleh-oleh perjalanan untuk keluarganya, termasuk membetulkan petromaks yang rusak. 

Di samping risiko-risiko lain, paling tidak, risiko kesibukan itulah yang selalu dialami Ketua Umum PBNU di periode mana pun. Termasuk periode 2000-2010 dengan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi. Kesibukannya didokumentasikan dengan apik pada Uang Koin; Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi yang ditulis sekretaris pribadinya, Muhammad Ghozi Alfatih.

Ketahanan fisik adalah maunah 
Setahu saya, tidak pernah ada agenda senam kebugaran khusus untuk tokoh-tokoh NU, misalnya Ketua Umum PBNU sekarang, KH Said Aqil Siroj, Kiai Idham Chalid, Gus Dur, termasuk KH Hasyim Muzadi. 

Saat menjadi Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim menjalani rutinitas yang tidak normal. Pagi hari, sebelum jam kantor dimulai, ia biasanya menerima tamu di rumah. Lalu berangkat ke kantor PBNU untuk mengurusi tugas-tugas organisasi yang sering kali berakhir saat larut malam. Itu pun kerap diselingi acara-cara di luar kantor yang mengharuskan Kiai Hasyim menyampaikan ceramah di lebih dari satu tempat dengan topik pembicaraan yang berbeda-beda. Umumnya sampai rumah pukul sebelas malam. Itu pun belum langsung istirahat karena sudah ada tamu yang menunggu. (hal.65)

Barulah sekitar jam satu malam, Kiai Hasyim bisa istirahat. Tiga jam kemudian, ia sudah harus berangkat ke bandara, ke luar kota atau luar negeri untuk menghadiri acara.

Mendapati rutinitas semacam itu, malah sang sekretaris Kiai Hasyim yang meminta istirahat di hari berikutnya. Sementara dia tetap menjalankan aktivitas sesuai yang dijadwalkan. Padahal aktivitas itu bukan urusan bisnis atau dinas yang sudah jelas ongkosnya. Kiai Hasyim malah harus mengeluarkan kocek sendiri.

“Bukan saya orang hebat. Tuhan yang memberi ma’unah (pertolongan). Badan saya biasa saja, sama seperti orang lain. Bisa kuat karena Tuhan yang menguatkan,” jelas Kiai Hasyim menjelaskan kekuatan fisiknya.

“Bagaimana mungkin saya bisa menjaga lisik? lstirahat hanya sebentar. Olahraga tidak pernah. Makan juga sembarangan dan tidak teratur. Tanpa ma’unah Allah, saya tidak akan bisa apa-apa.”

“Mungkin karena dipakai keliling untuk ngurusi umat, ngurusi persoalan masyarakat, akhirnya Allah memberi kemampuan fisik lebih kepada saya."

“Seandainya badan cuma dipakai jalan-jalan, pelesiran, mungkin jadinya malah gampang masuk angin."

“Saya ini kalau berhari-hari tidak ke mana-mana kadang justru mudah sakit," kelakar beliau. (hal. 67)

Aktivitas semacam itu memang tidak selamanya membuat Kiai Hasyim sehat-sehat saja. Karena menjalani aktivitas padat yang mengharuskannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak puluhan hingga ratusan kilometer, sebagai manusia biasa, ia harus dilarikan ke rumah sakit. Lantaran benar-benar kelelahan usai menghadiri acara atau menyampaikan ceramah yang sambung menyambung di berbagai daerah, ia harus istirahat total sehari dua.

Risiko ke rumah sakit dan risiko-risiko lain tentu selalu ada. Bahkan risiko kematian akibat kecelakaan atau lainnya. Ambil contoh KH Wahid Hasyim, ia wafat di perjalanan ketika akan menuju Sumedang pada 1953. Salah satu agenda ke tempat itu, ia mensosialiasikan NU yang telah menjadi partai, hasil Muktamar NU Palembang tahun 1952.

Tentu tidak hanya melulu soal kesibukan Kiai Hasyim di buku itu. Ada humor, catatan masa muda yang penuh teladan, pengalaman spiritual, serta pandangan-pandangan keislamaan dan kebangsaan jam’iyyah NU yang diwakilinya. Semuanya disajikan dengan cara yang ringan dan sederhana sehingga mudah dicerna.

Buku semacam ini harus diperbanyak, untuk cermin keteladanan generasi muda NU, umat Islam dan bangsa Indonesia.


Judul : Uang Koin; Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi
Penulis : Muhammad Ghozi Alfatih
Penerbit         : Kompas
Cetakan : Pertama, 2017
ISBN : 978-602-412-299-7
Peresensi : Abdullah Alawi



Resource Berita : nu.or.id
Innalillahi, Sesepuh NU dari Pesantren Benda Kerep Wafat

Innalillahi, Sesepuh NU dari Pesantren Benda Kerep Wafat



WartaIslami ~ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga NU Jawa Barat, khususnya Cirebon, kehilangan salah seorang kiainya. Sesepuh Pesantren Benda Kerep, Cirebon KH Hasan Abu Bakar wafat pada Jumat 29 September 2017 pada pukul 08:20.

“Beliau kiai sufi, panutan kiai NU Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka. Kuningan),” ungkap Nasrullah Affandi, salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ketika dikonfirmasi NU Online tentang sosok Kiai Hasan.

Menurut dia, para tokoh nasional pernah bersilaturahim kepada Kiai Hasan, di antaranya Wakil Presiden JUsuf Kalla, dan pejabat lain seperti menteri dan gubernur.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُلَه، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه، وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ،
(Abdullah Alawi)
Sesepuh NU dari Pesantren Benda Kerep Wafat
Jakarta, NU Online
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga NU Jawa Barat, khususnya Cirebon, kehilangan salah seorang kiainya. Sesepuh Pesantren Benda Kerep, Cirebon KH Hasan Abu Bakar wafat pada Jumat 29 September 2017 pada pukul 08:20.

“Beliau kiai sufi, panutan kiai NU Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka. Kuningan),” ungkap Nasrullah Affandi, salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ketika dikonfirmasi NU Online tentang sosok Kiai Hasan.

Menurut dia, para tokoh nasional pernah bersilaturahim kepada Kiai Hasan, di antaranya Wakil Presiden JUsuf Kalla, dan pejabat lain seperti menteri dan gubernur.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُلَه، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه، وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ،
(Abdullah Alawi)



Resource Berita : nu.or.id
Kepada Myanmar, Sekjen PBB: Pulangkan Pengungsi secara Bermartabat!

Kepada Myanmar, Sekjen PBB: Pulangkan Pengungsi secara Bermartabat!



WartaIslami ~ Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya. Ia juga menuntut pemerintah Myanmar untuk menghentikan operasi militer dan bersedia membuka akses kemanusiaan di wilayah barat.

Ia menyebut perubahan situasi ke arah darurat pengungsi dan krisis kemanusiaan di Myanmar itu sebagai yang paling cepat di dunia.

PBB menilai kekerasan mengerikan telah berlangsung di Myamnmar, antara lain dengan adanya kasus penembakan secara serampangan, serta penggunaan ranjau darat dan kekerasan seksual terhadap warga sipil. Di mata PBB, tindakan tersebut adalah pelanggaran HAM berat.

"Ini tak bisa diterima dan harus segera berakhir," tambah Guterres, Kamis, sebagaimana dilaporkan AFP, Jumat (29/9).

PBB memberikan label bagi tragedi ini sebagai praktik "pembersihan etnis". Guterres menyeru kepada pemerintah Myanmar untuk mengizinkan para relawan kemanusiaan masuk serta mengembalikan para pengungsi secara aman, bermartabat, sukarela, dan berkelanjutan di tempat asal.

"Kenyataan di lapangan menuntut tindakan cepat untuk melindungi rakyat, mengurangi penderitaan, mencegah ketidakstabilan lebih lanjut, menunjukkan akar masalah, pada terakhir solusi yang tahan lama," katanya.

Kini lebih dari 500 ribu Muslim Rohingya memadati kamp-kamp pengungsian di wilayah perbatasan Bangladesh. Jumlah ini berasal dari eksodus yang terjadi sejak 25 Agustus lalu ketika militan Rohingya melancarkan serangan ke pos-pos keamanan perbatasan Myanmar. (Red: Mahbib)


Resource Berita : nu.or.id
Alhamdulillah, Zikir dan Asmaul Husna Menggema di Gedung DPR dan MPR

Alhamdulillah, Zikir dan Asmaul Husna Menggema di Gedung DPR dan MPR



WartaIslami ~ Suara menggema dari 299 personil polisi dari satuan Brimob yang melantunkan Asmaul Husna di pintu utama gedung DPR/MPR, Jumat (29/9). Pasukan ini dibentuk untuk meredam demonstran yang anarkis.

Sebelum memulai membacakan Asmaul Husna secara serentak, pimpinan zikir membukanya dengan ucapan: "Pasukan Asmaul Husna".  Ucapan itu dijawab serentak dengan "Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Lahaulawalakuata Ilabilahilaliy adzim".

"Ayo terus semangat suaranya yang keras," kata Kombes Pol Arif Rahman sebagai pembina pasukan Asmaul Husna ketika menggelar latihan melantukan Asmaul Husna.

Kapolres Bandara ini menyerukan kepada setiap pasukan Asmaul Husna ketika melantunkan 99 nama Allah harus khusus dan ikhlas. "Jangan hanya dibibir, percuma. Kalau mau khusus tutup mata angkat tangannya, percaya sama saya Insya Allah tidak akan ada apa-apa," katanya.

Arif mengatakan, senjata pasukan Asmaul Husna bukan tameng, maupun senapan tapi suara-suara dan hati yang khusus ketika menghadapi aksi demonstrasi. Untuk itu kekhusuan setiap Kapold diperlukan ketika melantunkan Asmaul Husna. "Bapak Kapolda dan Kapolri sangat berharap kepada pasukan kita ini," katanya.

Dari pantau Republika.co.id, Arif menegur langsung setiap personilnya yang tidak serius melantukan Asmaul Husna. Ia juga berkali-kali mengulangi takbir dan tahmid sebelum memulai melantunkan Asmaul Husna.

Setelah latihan, pasukan Asmaul Husna dibagi kopian dan sorban putih. Setelqh itu mereka diminta balik kanan bubar untuk persiapan Jumatan. "Setelah itu kita kembali kesini depan pintu utama gedung DPR/MPR," katanya dijawab siap serentak oleh setiap pasukan.

Arif memastikan kepada personilnya jika aksi hari akan berjalan lancar. Namun, setiap pasukannya tetap waspada dan ikhtiar agar aksi berjalan lancar. " Untuk itu ketika membacakan Asmaul Husna harus khusu," katanya

Seperti diketahui Polda Metro Jaya Menerjunkan personelnya sekitar 20 ribu untuk menjaga aksi 299. Aksi ini menolak kebangkitan PKI di Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Resource Berita : republika.co.id
Ini Tiga Hal Utama Setelah Perempuan Berhijrah

Ini Tiga Hal Utama Setelah Perempuan Berhijrah



WartaIslami ~  Menjadi Muslimah shalehah adalah dambaan setiap perempuan, menaati setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun, ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika seorang perempuan telah berhijrah menjadi Muslimah.

Ketua Solidaritas Peduli jilbab, Amalia Dian Ramadhini, mengungkapkan, bahwa tiga hal yang perlu diperhatikan bagi muslimah yang telah berhijrah adalah perbaiki diri, ajak orang lain, dan jangan menghakimi. Menurut dia, manakala seorang perempuan berhijrah maka tantangan selanjunya adalah memperbaiki diri.

"Sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik. Setelah muslimah melakukan perubahan-perubahan dalam hal positif, berlanjut pada tahap istiqamah. Bagaimana hal-hal baik tersebut tetap dilaksanakan dan berlanjut," katanya, kemarin.

Dalam Quran Surat Shaff ayat 2 dan 3 Allah Swt berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

“Jadi perbaiki diri kita dulu, kemudian mengajak orang-orang di sekeliling kita untuk berhijrah. Bentengi dulu diri kita,” katanya.

Setelah berusaha untuk istiqamah dan dirasa kuat, maka muslimah dapat menjagak keluarga, teman-teman, tetangga untuk berhijrah. Namun jangan sampai menghakimi. Ini karena, setiap orang memiliki proses yang berbeda-beda. “Ketika orang lain berubahnya tidak sesaui dengan yang kita harapkan, maka jangan menghakimi,” ujarnya.

Ia mengatakan, tugas seorang manusia hanyalah menyampaikan bukan memaksakan. Tidak ada yang tahu seseorang dapat berubah kapan, entah dua atau satu tahun lagi. Semua ada ditangan Allah SWT. “Namun ketika mereka sudah terketuk, Insya Allah itu menjadi amal jariyah bagi kita yang mengajaknya,” imbuhnya.


Resource Berita : republika.co.id
Ini Keutamaan Puasa Asyura Menurut Nabi SAW

Ini Keutamaan Puasa Asyura Menurut Nabi SAW



WartaIslami ~ Di bulan Maharram ini, ada dua puasa sunah yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dilaksanakan. Keduannya yakni puasa Asyura dan puasa Tasu’a. Karenanya, Ketua Komisi Dakwah MUI Ustaz Mohammad Zaitun Rasmin mengingatkan, agar umat Islam tidak lupa untuk melasanakan kedua puasa tersebut hari ini dan esok.

Kata dia, tak ada ruginya mengerjakan amalan puasa tersebut. Bahkan, hal itu menguntungkan bagi seorang Muslim sebab dengan berpuasa Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.

"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah salat malam." (HR. Muslim)

"Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Diceritakan Rasmin, awal mula Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa Asyura dan Tasu’a ketika ia menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah sedang berpuasa. Lantas, Rasulullah bertanya kepada orang-orang Yahudi untuk apa mereka berpuasa. Maka, mereka mengatakan alasan mereka berpuasa karena selamat dari kejaran Firaun.

Mendengar perkataan mereka, Rasulullah berkata, “Wah kalau begitu yang pantas mensyukuri Musa itu aku.”

Atas dasar itu kemudian Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berpuasa di tanggal 10 maharam atau disebut dengan puasa asyuro. Kemudian Beliau mengatakan, bahwa di tahun berikutnya ia akan berpuasa di tanggal 9 muharam atau disebut dengan puasa tasu’a.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma dia berkata : "Rasulullah shallallah 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila (usia) ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan." (HR. Muslim).

“Jadi asalnya tanggal 10 kemudian Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk melakukan puasa di tanggal 9 supaya tidak menyerupai orang Yahudi. Sebab Nabi selalu ingin kaum Muslimin jangan menyerupai yahudi dalam hal apapun, terutama dalam hal ibadah,” kata Rasmin.

Berpuasa asyuro dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, maksudnya adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar dapat terhapus dengan cara bertobat dan tidak mengulanginya lagi. “Perbedaannya biasanya dosa-dosa besar itu ada hukuman atau ancaman yang sangat pedih di hari kiamat nanti. Seperti meninggalkan shalat, zina, minum-minuman keras, menipu, mencuri, dan durhaka kepada orang tua, itu semua dosa besar,” ujarnya.


Resource Berita : republika.co.id
close
Banner iklan disini